H. konservasi laut & problem iuuf 0813
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

H. konservasi laut & problem iuuf 0813

on

  • 660 views

 

Statistics

Views

Total Views
660
Views on SlideShare
660
Embed Views
0

Actions

Likes
1
Downloads
27
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    H. konservasi laut & problem iuuf 0813 H. konservasi laut & problem iuuf 0813 Presentation Transcript

    • Konservasi Pesisir dan Laut Wahyu Yun Santosa
    • Permasalahan dan Konsep Dasar
    • The coastal zone:An endangered environment Over exploitation and destruction Unplanned development and natural disasters Increasing pollution Resource use conflicts Unclear and weak institutional arrangements
    • Major issues in the coastal areas of Indian Ocean Overfishing/too much capacity Illegal and destructive fishing Habitat loss (reefs, mangroves, estuaries, beaches) Uncontrolled development in shoreline areas Poverty in coastal areas/weak tenure procedures Poor institutional coordination/cooperation Low awareness of the problems and solutions No integrated approach to management
    • “Best Practices” and zoning municipal waters use o p e n w a te r C o r a l r e e f c o n s e r v a t io n z o n e s S t r ic t p r o t e c t io n z o n e Is la n d M u n ic ip a l w a t e r b ou ndary M a r in e r e s e r v e s S u s t a in a b le u s e z o n e s M a n g r o v e fo r e s t c o n s e r v a t io n z o n e s B u ff e r z o n e P ie r C o a s t a l t o u r is m z o n e S h o r e lin e se tb a ck U rb an areas a n d s e t t le m e n t s
    • Definition of Coral Triangle (CT) area. Indonesia (Central and Eastern), East Timor, the Philippines, Malaysia (Sabah), Papua New Guinea and the Solomon Islands. Coral Triangle: richest marine life on the planet. The CT, sometimes referred to as the “Amazon of the Seas”, is the epicenter of marine life abundance and diversity on the planet. In some areas, it has more than 600 coral species (more than 75% of all known coral species), 53% of the world’s coral reefs, 3,000 fish species, and the greatest extent of mangrove forests of any region in the world. In addition, the CT serves as the spawning and juvenile growth areas for what is the largest tuna fishery in the world.
    • Masalah Kelautan Nasional 1. Penangkapan ikan ilegal (illegal fishing)  penangkapan ikan oleh kapal kapal asing di wilayah Indonesia oleh kapalkapal pukat harimau dan jaring lebar di wilayah perairan sekitar pantai.  Beberapa data menyitir bahwa kerugian sebesar US $ 4,5 juta akibat kegiatan pencurian ikan.  Pendapatan ekspor perikanan Indonesia setiap tahunnya sebesar US $ 2,2 juta.  Ditengarai sekitar 300 pabrik pengolahan ikan Thailand mendapatkan pasokan dari perairan Indonesia.  Pusat Data Statistik dan Informasi Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) 2007: kerugian negara dikarenakan pencurian ikan ini mencapai US $ 3 Milyar/ tahun,  pencurian terjadi di lima wilayah : pencurian ikan di lima daerah yaitu Batam, Pontianak, Medan, Jakarta dan Tual.  Kerugian itu terdiri atas penangkapan ikan di ZEEI dan ekspor yang tidak termonitor, sebesar US$ 1.200 juta, Kapal-kapal ilegal yang melanggar daerah penagkapan sebesar US $ 574 juta.
    • Masalah utama dari pencurian ikan adalah akibat kurang sempurnanya sistem dan mekanisme perizinan untuk menangkap ikan. Ternyata dari sekitar 7000 kapal penangkap ikan berbendera Indonesia yang memperoleh izin menangkap ikan di perairan ZEEI, sekitar 70% dimiliki oleh pihak asing seperti Thailand Filiphina, Taiwan dan RRC. 2. Pemanfaatan berlebih (over exploitation) sumber daya laut, sehingga sumber daya laut tersebut tidak menjadi sustainable (berkelanjutan) 3. Sistim pertahanan laut, 4. Minimnya moda transportasi laut di dalam negeri 5. Rendahnya tingkat kesejahteraan nelayan di Indonesia
    • Seputar Illegal Fishing
    • Illegal Fishing (IUUF) • Illegal, Unregulated, Unreported Fishing • Dalam memanfaatkan sumberdaya kelautan dan perikanan sering kali terjadi eksploitasi secara besarbesaran namun tidak mempertimbangkan aspek kelestarian lingkungan. • Cara-cara yang dilakukan selama ini seringkali bertentangan dengan prinsip-prinsip tata laksana perikanan yang bertanggungjawab (Code of Conduct for Responsible Fisheries - CCRF)
    • Destructive fishing • Kegiatan mall praktek dalam penangkapan ikan atau pemanfaatan sumberdaya perikanan yang secara yuridis menjadi pelanggaran hukum. • Beberapa faktor penyebab secara umum:  Rentang kendali dan luasnya wilayah pengawasan tidak seimbang dengan kemampuan tenaga pengawas yang ada saat ini  Terbatasnya sarana dan armada pengawasan di laut  Lemahnya kemampuan SDM Nelayan Indonesia dan banyaknya kalangan pengusaha bermental pemburu rente ekonomi  Masih lemahnya penegakan hukum  Lemahnya koordinasi dan komitmen antar aparat penegak hukum.
    • Bentuk-bentuk Destructive Fishing 1. Menggunakan bahan peledak dan bahan kimia seperti : bom (dengan bahan berupa pupuk (cap matahari, beruang,obor), bius (kalium cianida – KCn) dan Tuba (akar tuba).
    • Bahan Berbahaya Beracun (B3) yang sering digunakan  Potasium Cianida digunakan untuk penangkapan ikan di daerah karang, bahan ini biasa digunakan tukang mas.  Racun hama pertanian seperti merek Dexon, Diazino, Basudin, Acodan digunakan untuk penangkapan ikan air tawar di sungai atau perairan umum, bahan ini sering digunakan di daerah transmigrasi dan masyarakat lain disekitar perairan umum.  Deterjen digunakan untuk penangkapan ikan didaerah karang.  Akar Tuba digunakan untuk penangkapan ikan didaerah karang.  Tembakau digunakan untuk penangkapan ikan didaerah karang.
    • 2. Penangkapan ikan dengan trawl (pukat harimau).
    • • Pukat harimau (trawl) yang merupakan salah satu alat penangkap ikan saat ini telah dilarang di wilayah perairan Indonesia sesuai Keputusan Presiden RI No.39 Tahun 1980 tentang Penghapusan Jaring Trawl. • Namun pada kenyataannya masih banyak nelayan yang melanggar dan mengoperasikan alat tersebut untuk menangkap ikan. Indikatornya adalah karang mati, atau sulit bertahan hidup di daerah dimana nelayannya sering menggunakan pukat harimau untuk menangkap ikan. • Cases: perairan Bagan Siapi-Api Provinsi Sumatera Utara, Selat Tiworo Kab. Bombana Provinsi Sulawesi.
    • Pencemaran Laut
    • 1. Def Penc Lingk Laut : (Art. 1(4) LOS-1982) “pollution of the marine env’t” means the introduction by man, directly, or indirectly, of substances or energy into the marine env’t, including estuaries, which results or is likely to result in such deleterious effects as harm to living resources and marine life, hazards to human health, hindrance to marine activities, including fishing and other legitimate uses of the sea, impairment of quality for use of sea water and reduction of amenities; 2. Perkembangan arti ‘pencemaran’ (pollution): a. any alteration of the environment; b. the right of the territorial sovereign; c. damage; d. interference with other uses of the env’t; dan e. exceeding the assimilative capacity of the env’t.
    • Macamnya: 1. Dumping 1. Pengertian: (Art. 1(5)(a) KHL-1982) “dumping” means : i. any deliberate disposal of wastes or other matter from vessels, aircraft, platforms or other man-made structures at sea; ii. any deliberate disposal of vessels, aircraft, platforms or other man-made structures at sea; 2. Kerangka Pengaturan a. KHL-1982, Arts. 210 & 216 b. The 1972 London IMCO-Conv on the Prev’n of Mar Pol by Dumping of Wastes & Other Matter (DUMPING-72) - larangan men-dumping limbah-limbah tertentu - diperlukan ijin khusus untuk men-dumping limbah tertentu - diperlukan ijin umum untuk limbah lainnya c. 1977 --- IAEA m’tapkan mekanisme multilateral ttg konsultasi dan monitoring dumping limbah radioaktif
    • 2. Vesel-Source Pollution 1. Pengertian; (Art. 2(4) MARPOL-1973) “Ship” means a vessel of any type whatsoever operating in the marine environment and includes hydrofoil boats, air-cushion vehicles, submersibles, floating craft and fixed or floating platforms 2. Terjadinya pencemaran : a. dumping b. pembuangan (discharge) bbg macam zat, termasuk minyak c. pencucian (rinsing) kontainer kapal d. ballast e. kecelakaan --- tabrakan atau kandasnya kapal/tanker
    • 3. Via Udara 1. Terjadinya Pencemaran a. buangan yg berasal dr & / mel udara dr kendaraan air atau pesawat udara b. emisi dari bangunan buatan manusia di darat c. pembakaran limbah (incineration of wastes) di kapal 2. Kerangka Pengaturan a. KHL-1982, Art. 212 & 222 b. The 1986 IAEA Conv on early Notification of a Nuclear Accident c. The 1986 IAEA Conv in the Case of a Nuclear Accident or Radiological Emergency d. The 1979 Conv on Long-Range Transboundary Air Pollution, beserta Prot2-nya tahun 1984, 1985, 1988, dan 1991 e. The 1985 Convention for the Protection of the Ozone Layer; beserta Protokolnya tahun 1987 f. The 1992 Rio Convention on Climate Change
    • 4. Eksplorasi & Eksploitasi Laut Dalam 1. Dibedakan antara: di wilayah yurisdiksi nasional di “AREA” --- the sea-bed and ocean floor and subsoil thereof, beyond the limits of nat’l jurisdiction; (Art. 1(1) KHL-1982) 2. Terjadinya Pencemaran pengeboran, pengerukan, penggalian, pembuangan limbah, pembangunan, pengoperasian dan perawatan instalasi, pipa-pipa dan peralatan lainnya. 3 Kerangka Pengaturan a. KHL-1982: umum: 194 (3)(c); di wil nas: 208 & 214; dan di “Area”: 209 & 215. b. The 1969 Int’l Conv on Civil Liability for Oil Pollution Damage c. The 1977 London Conv on Civil Liability for Oil Pollution Damage Resulting from Exploration for and Exploitation of Seabed Mineral Resources
    • 5. Oleh Limbah Dari Darat (PLSD) 1. Pengertian: ‘land-based sources’ means: (i) municipal, industrial or agricultural sources, both fixed and mobile, on land, discharges from which reach the marine environment, in particular: from the coast, including from outfalls discharging directly into the marine environment and through run-off; through river, canals or other watercourses, including underground watercourses; and via the atmosphere; (ii) sources of marine pollution from activities conducted on offshore fixed or mobile facilities within the limits of national jurisdiction, save to the extent that these sources are governed by appropriate international agreement
    • Submarine Tailing Disposal
    • • Tailing merupakan limbah berbentuk lumpur hasil penggerusan /penghancuran batuan tambang untuk memisahkan emas dan atau logam logam berharga lainnya dari batuan. Pada tailing masih terdapat berbagai jenis logam, termasuk logam berbahaya (Merkuri, Arsen, Mangan, dan lainnya) yang secara lamiah terkandung pada batuan tersebut. Logam ini sebenarnya aman ketika berada di perut bumi,namun berbahaya jika masuk dalam kehidupan manusia.
    • • Pembuangan tailing ke laut (STD) menjadi kekhawatiran karena pipa tailing diletakkan pada perairan yang dangkal dan subur sehingga tailing yang keluar dari pipa dapat dipermainkan oleh arus, pasang surut dan turbulence.Tidak benar bahwa pembuangan tailing berada di bawah lapisan thermoklin dan akan menetap stabil di dasar laut. Hal penting lain yang tidak diperhitungkan adalah peristiwa Up-welling, yakni naiknya massa air yang ada di dasar laut ke permukaan. Up-welling dipastikan akan mengangkat limbah tailing ke permukaan dan menyebar
    • • • • • • • Pembuangan tailing ke dasar laut merusak ekosistem pesisir yang rawan karena: Menimbun organisme hidup dengan endapan lumpur atau mengusir organisme tersebut dari habitat. Menyebabkan degradasi habitat laut dan air tawar Mengurangi keanekaragaman hayati dan mengancam keseimbangan ekologi. Menyebabkan masuknya logam-logam berat dan polutan lain ke dalam rantai makanan. Pembuangan tailing ke dasar laut berdampak seketika dan jangka panjang, serta tidak ramah lingkungan. Pemulihan daerah-daerah yang terkena dampak pembuangan tailing ke dasar laut tak mungkin dilakukan.