Your SlideShare is downloading. ×
Aset 3
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Introducing the official SlideShare app

Stunning, full-screen experience for iPhone and Android

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

Aset 3

2,273
views

Published on

Published in: Education

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
2,273
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
78
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. TUGAS TEORI AKUNTANSI ASET OLEH : KELOMPOK 9 YULIMEL SARI (13067/2009) FEGI SYAHPUTRA (13069/2009) IMAM ARIF PERMANA (98621/2009) AYU PURNAMA SARI (98635/2009) ROBERT DWI VANO (98637/2009) PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2012
  • 2. PERTEMUAN 8 ASET Pertemuan sebelumnya: A. Pengertian dan Karakteristik Aset B. Pengertian, Pengukuran, Pengakuan, Penyajian dan Pengungkapan : 1. Persediaan 2. Properti, Pabrik dan Peralatan 3. Penurunan Nilai 4. Biaya Pinjaman 5. Sewa Guna Usaha 6. Instrumen Keuangan Pertemuan 8 7. Investasi Pada Entitas Asosiasi (PSAK 15/ IAS 28) PSAK 15 vs IAS 28 Pengertian PSAK 15 Entitas asosiasi adalah suatu entitas termasuk entitas nonkorporasi seperti persekutuan, dimana investor mempunyai pengaruh signifikan dan bukan merupakan enitas anak ataupun bagian partisipasi dalam ventura bersama. Metode ekuitas adalah metode akuntansi dimana investasi pada awalnya diakui sebesar biaya perolehan dan selanjutnya disesuaikan unntuk perubahan pascaperolehan dalam bagian investor atas aset neto investee. Pengaruh signifikan adalah kekuasaan untuk berpartisipasi dalam keputusan kebijakan keuangan dan operasional investee, tetapii tidak mengendalikan bersama atass kebijakan tersebut. IAS 28 Asosiasi adalah entitas di mana investor mempunyai pengaruh yang signifikan, akan tetapi tidak mempunyai kendali bersama. Metode ekuitas adalah suatu metode akuntansi di mana investasi pada entitas asosiasi untuk pertama kali dibukukan menurut beban perolehannya dan selanjutnya disesuaikan untuk mencerminkan bagian investor dari aset bersih entitas asosiasi. Pengaruh yang signifikan adalah kekuatan untuk berpartisipasi di dalam proses pengambilan keputusan kebijakan operasi daripada suatu entitas, tetapi tanpa mempunyai kendali atau kendali bersama atas kebijakan kebijakan yang dimaksud. 2
  • 3. Metode Ekuitas Tidak terdapat perbedaan mengenai metode ekuitas ini pada IAS 28 ataupun PSAK 15. Metode ekuitas adalah metode akuntansi di mana investasi investasi pada pada awalnya awalnya diakui diakui sebesar sebesar biaya biaya perolehan. Ditambah atau dikurangi untuk mengakui bagian laba atau rugi investee setelah tanggal perolehan. Pengakuan atas pendapatan komprehensif investee diakui sebagai pendapatan komprehensif dan kenaikan investasi pada pembukuan investor. Distribusi dari investee mengurangi nilai tercatat investasi. Hak suara potensial tidak mempengaruhi bagian laba investor. Metode Pencatatan Pada metode pencatatan, antara IAS 28 dan PSAK 15 membahas hal yang sama. Kecuali pada pengecualian kondisi penggunaan metode ekuitas. PSAK 15 Investasi pada entitas asosiasi dicatat dengan menggunakan metode ekuitas, kecuali diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual sesuai dengan PSAK 58 yaitu mana yang lebih rendah antara nilai tercatat atau nilai wajar dikurangi biaya penjualan. Jika tidak lagi memenuhi untuk dicatat sesuai PSAK 58, kembali dicatat dengan metode ekuitas sejak tanggal diklasifikasi sebagai dimiliki untuk dijual. LKLK sejak periode klasifikasi disesuaikan. IAS 28 Seorang investor harus mempertanggungjawabkan investasi pada entitas asosiasi menurut metode ekuitas, kecuali menurut tiga kondisi berikut : 1. Inevstasi yang diklasifikasikan sebagai dipertahankan untuk dijual menurut IFRS 5, maka aset tak lancar yang dikuasai untuk dijualdan operasi yang dihentikan. 2. Entitas induk yang memiliki investasi pada entitas asosiasi dibebaskan menurut IAS 27, mengenai laporan keuangan konsolidasi dan laporan keuangan tersendiri dari penyusunan laporan keuangan konsolidasi. 3. Semua kondisi berikut dipenuhi oleh investor: a. Investor adalah entitas anak yang dimiliki secara keseluruhan atau sebagian dari entitas lainnya dan pemiliknya telah diinformasikan tentang dan bukan merupakan objek investor yang tidak menerapkan metode ekuitas. b. Hutang investor atau instrumen ekuitas tidak diperdagangkan didalam pasar publik atau bursa c. Investor tidak mengarsipkan dan tidak di dalam proses pengarsipan lapran keuangan dengan komisi surat berharga atau sekuritas atau badan regulator 3
  • 4. lainnya untuk tujuan penerbitan salah satu kelompok instrumen finansial atau keuangannya di dalam suatu pasar publik atau bursa. d. Entitas induk terakhir atau berikutnya dari investor menghasilakn laporan keuangan konsolidasi yang tersedia untuk publik dan sesuai dengan Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) Awal Penerapan Metode Ekuitas Investasi dicatat dengan dengan metode ekuitas sejak tanggal memenuhi definis entitas asosiasi (pengaruh signifikan). Selisih (positif atau negatif) antara biaya perolehan dengan bagian investor atas nilai wajar aset neto pada tanggal akuisisi: a. Goodwill disajikan sebagai bagian dari nilai tercatat investasi, tidak boleh diamortisasi. b. Selisih lebih nilai wajar netto aset dan liablilitas dengan biaya perolehan dimasukkan sebagai penghasilan pada saat investasi diperoleh. Penyesuaian dilakukan atas penyusutan aset berdasarkan nilai wajar dan penurunan goodwill yang diakui entitas asosiasi. Akhir Penerapan Metode Ekuitas Investor kehilan gan pengaruh signifikan dan mencatat sisa investasi dengan PSAK 55 yaitu Investor tidak menjadi venturer atau entitas induk. Nilai wajar investasi tersisa dan hasil lepasan jumlah tercatat investasi pada tanggal kehilangan pengaruh Laba Rugi.Nilai wajar investasi tersisa sebagai pengakuan awal aset keuangan sesuai PSAK 55 aset keuangan sesuai PSAK 55. Penerapan Metode Ekuitas Pendapatan komprehensif dalam pencatatan investor akan dihapus atau atau disesuikan apabila : a. jika aset terkait pendapatan komprehensif tersebut dilepaskan. b. Investor kehilangan pengaruh signifikan. c. Terdapat perubahan kepemilikan. Penerapan metode konsolidasi digunakan dalam metode ekuitas untuk transaksi antar investor dan investee : a. Laba rugi transaksi hulu (penjualan dari investor) atau hilir hanya diakui sebesar bagian dari investor lain dalam entitas asosiasi. b. Laba rugi entitas asosiasi dari transaksi tersebut dieliminasi Penyajian Neraca; Investasi pada entitas asosiasi disajikan dalam aset tidak lancar 4
  • 5. Laporan laba rugi Pengungkapan Pengungkapan berikut yang harus dipenuhi investor (IAS 28 dan PSAK 15) : 1. Nilai wajar investasi pada entitas asosiasi (jika tersedia kuotasi harga pasar) 2. Ringkasan informasi keuangan entitas asosiasi 3. Alasan punya kurang 20% punya pengaruh signifikan 4. Alasan punya lebih 20% tidak punya pengaruh signifikan 5. Akhir Akhir periode periode pelaporan pelaporan entitas entitas asosiasi asosiasi (jika (jika berbeda) berbeda) 6. Sifat dan tingkatan pembatasan signifikan 7. Bagian Bagian rugi rugi entitas entitas asosiasi asosiasi yang yang tidak tidak diakui diakui 8. Ringkasan informasi keuangan entitas asosiasi yang tidak menggunakan metode ekuitas 9. Bagian liabilitas kontijensi entitas asosiasi (jika ada) Menurut IAS 28, jika laporan keuangan tersendiri dari entitas asosiasi disusun, pengungkapan berikut diharuskan: a. Fakta bahwa laporan keuangan terpisah disusun dan alasan untuk penyusunan yang semacam.] b. Suatu daftar investasi yang signifikan pada entitas anak, entitas asosiasi, dan entitas yang dikendalikan secara bersama-sama dengan rincian nama entitas asosiasi, negara asal entitas proporsi kepemilikan,dan bagian kepemilikan (atau hak bersuara yang dimiliki, jika berbeda) c. Suatu deskripsi metode yang digunakan untuk memperhitungkan investasi yang disebutkan di atas. 8. Properti Investasi 5
  • 6. Properti investasi ini dibahas pada PSAK 13 dan IAS 40. PSAK 13 revisi 2007 ini sudah mulai mengadopsi IFRS, jadi hampir semua yang di bahas pada PSAK 13 ini juga terdapat di IAS 40. Pengertian Menurut PSAK 13, properti investasi adalah (tanah atau bangunan atau bagian dari suatu bangunan atau kedua-duanya) yang dikuasai (oleh pemilik atau lesse/penyewa melalui sewa pembiayaan) untuk menghasilkan rental atau untuk kenaikan nilai atau kedua- duanya dan tidak untuk : 1. Digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa atauuntuk tujuan administrative; atau 2. Dijual dalam kegiatan usaha sehari-hari Dalam PSAK 13 juga diberikan definisi mengenai properti yang digunakan sendiri yaitu property yang dikuasai untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa atau untuk tujuan administrative. Perbedaan utama antara property investasi dengan properti yang akan digunakan sendiri adalah property investasi menghasilkan arus kas yang sebagian besar independen dari asset lain yang dimiliki entitas. Property yang digunakan sendiri diperlakukan sebagai asset tetap. Berikut adalah beberapa contoh properti : 1. Tanah yang dikuasai dalam jangka panjang untuk kenaikan nilai dan bukan untuk dijual jangka pendek dalam kegiatan sehari-hari 2. Tanah yang dikuasai saat ini yang penggunaanya dimasa depan belum ditentukan 3. Bangunan yang dimilki oleh entitas dan disewakan kepada pihak lain melalui satu atau lebih sewa operasi 4. Bangunan yang belum terpakai tetapi tersedia untuk disewakan kepada pihak lain melalui satu atau lebih sewa operasi. Sedangkan contoh asset bukan merupakan property investasi adalah : 1. Property yang dimaksudkan untuk dijual dalam kegiatan sehari-hari atau sedang dalam proses pembangunan atau pengembangan untuk dijual 2. Properti dalam proses pembangunan atau pengembangan atas nama pihak ketiga 3. Property yang digunakan sendiri 4. Properti dalam proses konstruksi atau pengembangan yang dimasa depan digunakan sebagai property investasi 5. Propertiyang disewakan kepada entitas lain dengan cara sewa pembiayaan 6
  • 7. Pengakuan Biaya perolehan property investasi harus diakui sebagai asset jika dan hanya jika : 1. Besar kemungkinan manfaat ekonomis dimasa depan berkenaan dengan asset tersebut akan mengalir keentitas dan 2. Biaya perolehan asset dapat diukur secara andal Pengukuran Awal Pada saat pengukuran awal, property investasi yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai asset harus diakui sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan tersebut meliputi harga pembelian dan setiap pengeluaran yang dapat diatribusikan secara langsung (PSAK 13). Sedangkan menurut IAS 40, harga perolehan meliputi harga beli dan segala biaya yang diperlukan untuk menyiapkan aset yang dimaksud untuk digunakan termasuk, tetapi tidak terbatas kepada, biaya legal, dan pajak real estate. Jika entitas memperoleh property investasi dengan cara kredit dan pembayaran untuk aset melampaui jangka waktu kredit normal, maka perbedaan antara total pembayaran dengan nilai tunainya diakui sebagai beban bunga selama periode kredit (kecuali memenuhi criteria untukdikapitalisasi sesuai PSAK 26 biaya pinjaman) Perolehan property investasi juga dapat melalui pertukaran asset nonmoneter, atau kombinasi asset moneter dan nonmoneter jika diperoleh melalui pertukaran, maka biaya perolehan dapat diukur melalui nilai wajar kecuali: 1. transaksi pertukaran tidak memilki substansi komersial 2. nilai wajar dari asset yang diterima dan diserahkan tidak dapat diukur secara andal Jika asset yang diperoleh tidak dapat diukur dengan nilai wajar ,maka biaya perolehan investasi diukur denga jumlah tercatat dari asset yang diserahkan Pengukuran Setelah Perolehan 1. Model biaya Perlakuan akuntansi setelah perolehan dengan menggunakan model biaya sama seperti model biaya diaset tetap yaitu dicatat sebesar biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai asset. Pengaturan untuk penghitungan penyusutan juga sama dengan asset tetap 2. Model nilai wajar Setelah pengakuan awal, entitas yang memilih menggunakan model nilai wajar mengukur seluruh property investasi berdasarkan nilai wajar. Apabila hak atas property yang dimilki oleh lesse melalui melalui sewa operasi diklasifikasi sebagai property investasi maka entitas tidak mempunyai pilihan harus menerapkan model nilai wajar. 7
  • 8. Penghentian Pengakuan/ Pelepasan Property investasi dihentikan pengakuannya pada pelepasan atau ketika property inestasi tersebut tidak dapat digunakan lagi secara permanen dan tidak lagi memiliki manfaat ekonomis dimasa mendatang. Pelepasan property dapat dilakukan dengan cara dijual atau disewakan secara sewa pembiayaan. Apabila satu property investasi memiliki bagian dengan nilai yang signifikan, maka penuyusutan tiap bagian tersebut dilakukan secara terpisah.jika dilakukan penggantian untuk suatu bagian dari property tersebut, maka entitas mengakui biaya penggantian untuk bagian yang diganti tersebut, didalam jumlah yang tercatat suatu asset tersebut dan jumlah tercatat dari bagian asset yang diganti tidak diakui lagi. Namun jika bagian yang diganti tersebut bukan merupakan bagian yang disusutkan secara terpisah, maka biaya pengantian yang terjadi dapat digunakan sebagai indikasi untuk menetukan berapa jumlah biaya bagian yang diganti tersebut. Laba atau rugi yang timbul dari pelepasan property investasi merupakan selisih antara hasil neto dari pelepasan dengan jumlah tercatat asset, dan diakui dalam laporan laba rugi komprehensif dalam periode terjadinya penghentian.kecuali apabila pelepasan propert investasi dilakukan melalui jual sewa balik, maka pengakuan keuntungan atau kerugian yang timbul megikuti PSAK 30 sewa. Transfer PSAK 13 Transfer ke atau dari property investasi dilakukan jika, dan hanya jika, terdapat perubahan penggunaan yang ditunjukan sebagai berikut: 1. Dimulainya penggunaan oleh pemilik 2. Dimulainya pengembangan untuk dijual 3. Berakhirnya pemilikan oleh pemilik dan asset tersebut digunakan untuk tujuan rental atu kenaikan nilai atu keduanya. 4. Dimulainya sewa operasi kepihak lain dari sebelumnya digunakan untuk dijual, maka ditransfer dari persediaan menjadi property investasi. 5. Berakhirnya pembangunan atau pengembangan dan akan digunakan untuk tujuan property inestasi. IAS 40 IAS 40 mengizikan transfer dari properti investasi dari dan ke jenis aset lainnya. Jika pada situasi : 8
  • 9. 1. Dari properti investasi ke persedian bilamana maksud dan tujuan berubah menjadi untuk menjual aset tersebut. 2. Dari persediaan ke properti investasi ke properti investasi bilamana aset disewakan menurut perjanjian sewa operasi. 3. Dari properti investasi ke properti yang ditempati sendiri oleh pemilik bilamana perusahaan menempati properti tersebut. Penyajian Property investasi disajikan sebagai bagian dari asset tidak lancar didalam laporan posisi keuangan. 2010 Catatan 2009 Aset tidak lancar Property Investasi Bersih 2.752.700 2g, 12 17.643.758 Pengungkapan Entitas mengungkapkan antara lain sbb: 1. Apakah entitas tersebut menerapkan nilai wajar atau model biaya. 2. Jika meerapkan nilai wajar,apakah,dan dalam keadaan bagaimana, hak atasa property yang dikuasai dengan cara sewa operasi diklasifikasikan dan dicatat sebagai property investasi. 3. Apabila pengklasifikasian ini sulit dilakukan, kriteria yang digunakan untukmembedakan property investaasi dengan property yang digunakan sendiri dan dengan property yang dimiliki untuk dijual dalam kegiatan uasaha sehari-hari. 4. Metode dan asumsi signifikan yang diterapkan dalam menetukan nilai wajar dari property investas,yang mencakup pernyataan apakah penentuan nilai wajar tersebut didukungoleh bukti pasar ataulebih banyak berdasarkan factor lainkarena sifat property tersebut dan keterbatasan data pasar yang dapat diperbandingkan. 5. Sejauh mana penentuan nilai wajar property investasi didasarkan atas penilainan oleh penilai independen yang diakui dan memiliki kualifikasi professional yang relevan serta memiliki pengalaman mutkhir dilokasi dan kategori property investasi yang dinilai. Apabila ada tidak ada penilaian seperti ini, hal tersebut harus diungkapkan. 6. Jumlah yang diakui dalam laporan laba rugi komprehensif untuk : a) Penghasilan rental dari property investasi b) Beban operasilangsung yang timbul dari property investasi yang menghasilkan penghasilan rental selama periode tersebut. 9
  • 10. c) Beban operasi langsung yang timbuil dari property investasi yang tidak menghasilkan pendapatan rental selam periode tersebut. d) Perubhan komulatif dalam nilai wajar yang diakui dalam laporan laba rugi komprehensif atas penjualan property investasi dari sekelompok asset yang mana model biaya digunakan kekelompok yang menggunakan model nilai wajar. 7. Eksistensi dan jumlah pembatasan atas realisasi dari property investasi atatu pembayaran penghasilan dan hasil pelepasan. 8. Kewajiban kontraktual untuk membeli, membangun atau mengembangkan property investasi atau untukperbaikan , pemeliharaan atau peningkatan. Pengungkapan Pada Model Nilai Wajar Entitas yang menerapkan nilai wajar juga harus mengungkapkan rekonsiliasi antara jumlah tercatat property investasi pada awal dan akhir periode, yang menunjukan hal-hal berikut : 1. Penambahan , pengungkapan terpisah untuk penambhan yang dihasilkan dari akuisisi dan penambahan yang dihasilkan daripengeluaran setelah perolehan yang diakui dalam jumlah tercatat asset. 2. Penambahan yang dihasilkan dari akuisisi melalui penggabungan usaha 3. Asset yang diklasifikasikan sebagai dimilki untuk dijual atau masuk dalam kelompok asset yang akan dilepaskan yang dklasifikasikansebagai dimilki untuk dijual dan pelepasan lain. 4. Laba atau rugi neto dari penyesuaian terhadap nilai wajar. 5. Perbedaan nilai tukar neto yang timbil pada penjabaran laporan keuangan dari mata uang fungsional menjadi mata uang penyajian yang berbeda, termasuk penjabaran dari kegiatan usaha luar negeri menjadi mata uang penyajian dari entitas pelapor. 6. Transfer ke dan dari persediaan dan property investasi yang digunakan sendiri. Sebagai tambahan,entitas harus mengungkapkan : 1. Uraian mengenai property investasi tersebut 2. Penjelasan mengenai nilai wajar tidak dapat ditentukan secara andal 3. Apabila mungkin ,kisaran estimasi dimana nilai wajar kemungkinan besar berada 4. Untuk pelepasan property investasi yang tidak dicatat dengan nilai wajar : a) Fakta bhwa entitas tersebut telah melepaskan property investasi yang tidak dicatat dengan nilai wajar b) Jumlah tercatat property investasi pada saat dijual c) Jumlah laba atau rugi yang diakui 10
  • 11. Pengungkapan Pada Model Biaya Entitas yang menerapkan model biaya juga harus mengungkapkan 1. Metode penyusutan yang digunakan 2. Masa manfaat atau tariff penyusutan yang digunakan 3. Jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusustan pada awal dan akhir periode 4. Rekonsiliasi jumlah tercatat propertiinvestasi pada awal dan akhir periode, yang menunjukan : a) Penambahan, pengungkapan terpisah untuk peenambhaan yang dihasilkan dari akuisisi dan penambahan pengeluaran setelah perolehan yang diakui sebagai asset b) Penambahan yang dihasilkan dari akuisisi melalui penggabungan usaha c) Asset yang diklasifikasikan sebagai yang dimilki untuk dijual atau masuk dalam kelompok yang akan dilepaskan yang diklasifikasikan sebagai dimilki untukdijual yang dinilai dengan jumlah tercatat atau nilai jual dikurangi beban penjualan , aman yang lebih rendah,dan pelepasan lain. d) Penyusutan e) Jumlah dan rugi penurunan niali yang diakui dan jumlah pemulihan rugi penurunan nilai , selama satu periode sesuai PSAK 48 penurunan nilai asset f) Perbedaan nilai tukarneto yang tmbul pada penjabaran laporan keuangan dari mata uang fungsional menjadi mata uang penyajian yang berbeda, termasuk penjabaran dari kegiatan usaha luar negeri menjadi mata uang penyajian dari entitas pelapor g) Transfer ke dan dari persediaan dan property yang digunakan sendiri h) Perubahan lain. Jika entitas tidak dapat menetukan niali wajar propertiinvestasi secara andal, entitas mengungkapkan : 1. Uraian property investasi 2. Penjelasan mengapa nilai wajar tidak dapat ditentukan secara andal 3. Apabila mungkin, kisaran estimasi dimana nilai wjar kemungkinan besar berada 9. Aset Tidak Berwujud Aset tidak berwujud ini dibahas pada PSAK 19 dan IAS 38. PSAK 19 revisi 2010 ini sudah mulai mengadopsi IFRS, jadi hampir semua yang di bahas pada PSAK 19 ini juga terdapat di IAS 38. Defenisi Asset Tak Berwujud PSAK 19 revisi 2010 mendefinisikan asset tak berwujud sebagi asset non moneter yyang dapat di identifikasi tanpa ada fisik. 11
  • 12. Karakteristik utama dari asset tak berwujud 1. Dapat di identifikasi Suatu asset memenuhi criteria diidentifikasi jika a. Dapat dipisahkan atau dibedakan dari entitas dan dijual, dipindahkan, dilisensi,disewa atau ditukar baik secara tersendiri atau bersama sama dengan kontrak terkait atau liabilities teridentifikasi. b. Timbul dari kontrak atau hak legal lainnya. 2. Kendali manfaat ekonomis masa depan dapat mencakup pendapatan dari penjulan barang atau jasa penghematan biaya atau manfaat lain yang berasal dari penggunaan asset tersebut. Umumnya pengendalian timbul karena adanya hak legal yang memiliki kekuatan dalam suatu pengendalian. Akan tetapi hak legal tidak diperlukan jika entitas dapat melakukan pengendalian manfaat ekonomis masa depan tersebut dengan cara lain. 3. Tidak mempunyai wujud fisik. Apabila terdapat mesin yang di dalamnya terdapat perangkat lunak yang tidak dapat beroperasi tanpa perangkat lunak trsebut, maka mesin tersebut dipelakukan sebagai asset tetap (PSAK 16). Hlini berdasarkan pertimbangan bahwa perangkat lunak tersebut merupakan bagian integral dari mesin tersebut. Menurut IAS 38, atribut penting dari suatu aset tidak berwujud adalah : 1. Dapat diidentifikasi 2. Pengendalian 3. Manfaat ekonomis masa depan Pada PSAK 19, karakteristik no 2 dan 3 yang terdapat di IAS 38 digabung dalam 1 item saja. Pengakuan Awal Aset Tak Berwujud. Asset tak berwujud diakui sebagai asset jika: 1. Memenuhi defenisi asset tak berwujud. 2. Memenuhi kriteria pengakuan yaitu jika: a. Kemungkinan besar entitas akan memperoleh manfaat ekonomis masa depan dari asset terebut. 12
  • 13. b. Biaya perolehan asset tersebut dapat diukur secara andal Terdapat beberapa kemungkinan cara perolehan asset tak berwujud yaitu: a. Perolehan terpisah. b. Akuisisi sebagai bagian dari kombinasi bisnis. c. Akuisisi dengan hibah pemerintah. d. Pertukaran asset. e. Asset teak berwujud yang dihasilkan secara internal. Perolehan terpisah untuk perolehan terpisah maka pengukurannya sebagai berikut: 1. Harga pembelian termasuk bea impor dan pajak yang tidak dapat dikembalikan dikurangi diskon dan rabat. 2. Biaya yang secara langsung dapat diatribusikan yang terjaadi dalam menyiapkan asset tersebut sehingga siap untuk digunakan sesuai dengan tujuan. Akuisisi sebagai bagian dari kombinasi bisnis. Biaya perolehan asset tak berwujud yang diakusisi sebagai bagian dari kombinasi bisnis PSAK 22 adalah nilai wajarnya pada tanggal akusisi. Jika asset tak berwujud tidak mempunyai pasar aktif maka biay perolehan ditentukan berdasarkan jumlah yang akan dibayar dalam transaksi normal pada tanggal akuisisi. Asset tak berwujud yang timbul dari kombinasi bisnis harus diakui terpisah dari goodwill. Keculi jika biaya perolehan asset tak berwujud yang diakuisisi sebagai bagian dari kombinasi bisnis tidak dapat diukur secara andal maka asset tersebut tidak diakui secara terpisah tetapi dimasukan sebagai goodwill. Akuisisi dengan hibah pemerintah. Entitas yang memperoleh asset tak berwujud dengan hibah pemerintah mempunyai pilihan untuk pengakuan asset tak berwujud tersebut yaitu: 1. Mengakui sebesar nilai wajar 2. Mengakui asset tak berwujud dan hibah dengan nilai nominal ditambah dengan segala pengeluaran yang berhubungan secra lansung untuk menyiapkan asset tersebut agar dapat digunakan sesuaia dengan maksud penggunaannya. Pertukaran asset. 13
  • 14. Sama seperti pertukaran asset tetap, biya perolehan dari asset tak berwujud yang diperoleh dari pertukaran adalah diukur pada nilai wajar kecuali: 1. Transaksi pertukaran tersebut kurang memilki substansi komersial. 2. Nilai wajar asset baik yang diterima maupun yang dilepaskan tidak dapat diukur dengan andal. Entitas perlu mempertimbangkan sejauh mana arus kas masa depan diharapkan berubah sebgai akibat dari transaksi tersebut, dengan memperhatikan hal hal sebgai berikut: 1. Konfigurasi dari arus kas asset yang diterima berbeda dari konfigurasi kas asset yang ditukarkan. 2. Nilai spesifik entitas dari bagian operasi yang dipengaruhi entitas oleh perubahan trasaksi sebagai akibat dari pertukaran 3. Perbedaan point a atau point b signifikan jika dibandingkan dengan nilai wajar dari asset yang ditukarkan. Asset tak berwujud yang dihasilkan secara internal. Goodwill hanya boleh diakui sebagai akibat dari kombinasi bisnis. Goodwill yang timbul secara internal tidak diakui sebagai asset tak berwujud karena tidak memenuhi criteria pengakuan sebagai berikut: 1. Dasar biaya perolehan yang andal. 2. Identifikasi terpisah dari sumber daya yang lain. 3. Kendali oleh perusahaan. Untuk dapat menetukan apakah asset tak berwujud yang dihasilkan secara internal dapat diakui sebagai asset tak berwujud, maka perlu dibedakan antara tahap penelitian dan tahap pengembangan. 1. Tahap penelitian. Penelitian adalah penelitian original dan terencana yang dilaksanakan dengan harapan mmemperoleh pembauran pengetahuan dan pemahaman teknis atas ilmu yang baru. Seluruh biaya penelitian harus dibebankan pada periode bersangkutan. 2. Tahap pengembangan. Pengembangan adalah penerapan temuan penelitian atau penegtahuan lainnya pada suatu rencaa artau rancangan produksi bahan baku,alat, 14
  • 15. produk, sistem, atau jasa yang sifatnya baru atau yang mengalami perbaikan substansial, sebelum dimulainya produksi komersial atau pemakaian. Biaya dalam tahap pengembangan dapat dikapitalisasi jika manfaat ekonomi masa depan kemungkinan besar akan diterima oleh entitas yang bersangkutan. Terdapat 6 kriteria pengakuan spesifik yang harus dipenuhi seluruhnya agar biaya pengembangan dapat dikapitalisasi yaitu sbb: 1. Kelayakan teknis penyelesaian asset tak berwujud tersebut sehingga asset tersebut dapat digunakan atau dijual. 2. Niat untuk menyelesaikan asset tak berwujud tersebut dengan menggunakan atau menjualnya. 3. Kemampuan untuk menggunakan atau menjual asset tak berwujud tersebut. 4. Bagaimana asset tak berwujud akan menghasilkan kemingkinann besar manfaat ekonomis masa depan. Antara lain entitas harus mampu menunjukan adanya pasar bagi keluaran asset tak berwujud atau pasar atas asset tak berwujud itu sendiri. 5. Tersedianya sumber daya teknis, keuangan dan sumber daya lain untuk menyelesaikan pengembangan asset tak berwujud dan untuk menggunkan atau menjual asset tersebut. 6. Kemampuan untuk mengukur secara andal pengeluaran yang terkait dengan asset tidak berwujud selam pengembangannya. Aset tak berwujud dapat diperoleh melalui pertukaran dengan asset lain. Dalam kondisi ini, maka digunakan nilai wajar untuk mengukur harga perolehan asset yang diperoleh, apa bila transaksi tidak memilki substansi komersial maka hrga perolehan diukur berdasarkan nilai tercatat. Biaya pengembangan situs web. Pengeluaran untuk situs web langsung diakui sebagai beban. Pengeluaran setelah perolehan. Pengleuaran setelah perolehan diakui sebagai beban oada saat terjadinya, kecuali apabila kemungkinan besar biaya tersebut memungkinkan asset untuk menghasilkan manfaat ekonomi masa depan yang lebih tinggi. Pengukuran Awal 15
  • 16. Aset tidak berwujud awalnya diukur atas dasar biaya perolehan. Pengukuran Setelah Perolehan 2 dasar pengukuran asset tak berwujud. 1. Model biaya perolehan. Setelah pengukran awal dinilai berdasarkan biaya perolehannya dikurang dengan akumulasi amortisasi dan akumulasi rugi penurunan nilai. 2. Model revaluasi. Nilai asset setelah pengukuran awal dinilai berdasarkan nilai wajar dikurangi dengan akumulasi amortisasi dan akumulasi rugi penurunan nilai. Amortisasi Masa manfaat asset tak berwujud dibedakan menjadi masa manfaat terbatas dan tidak terbatas. Dalam penentuan tersebut semua faktor yang relevan harus dipertimbangkan diantaranya: 1. Haraapan mafaat asset bagi entitas dan apakah asset dapat dikelola secara efisien oleh tim manjemen lain. 2. Tipe siklus hidup produk bagi asset dan informasi umum mengenai estimasi masa manfaat dari asset serupa yang digunakan untuk keperluan yang serupa. 3. Jenis teknis, technology, komersial atau jenis lain dari keusangan. 4. Stabilitas industry dimana asset beroperasi dan perubahan permintaan pasar atas produk atau jasa yang dihasilkan asset. 5. Perkiraan atas tibdakan competitor atau kompetitior komersial. 6. Tingkat pengeluran perawatan yang dibutuhkan untuk menghasilkan manfaat ekonomi masa depan dari asset dan kemampuan enturas serta nilai entitas untuk mencapai tingkat tersebtu. 7. Periode pengendalian asset dan hukum atau batasan serupa dalam pemanfaatan asset seperti masa berlaku sewa yang berhubungan. 8. Apakah masa manfaat asset gtergantuk pada masa manfaat entitas lainnya. Masa manfaat terbatas. 16
  • 17. Asset tetap tak berwujud dengan masa manfaat terbatas harus diamortisasi. Jumlah yang diamortisasi adalah harga perolehan asset dikurang dengan nilai sisanya. Amortisasi dimulai pada saat asset tersebut siap untuk digunakan dan dihentikan pada saat asset tersebut dihentikan penggunaanya atau direklasifikasi menjadi asset tidak lancar dimiliki untuk dijual sesuai dengan PSAK 58. Masa manfaat tidak terbatas. Perusahaan tidak mengamortisasi asset tak berwujud dengan masa manfaat yang tidak terbatas. Perusahaan perlu melakukan pengujian penurunan nilai secara tahunan untuk mengetahui apakah nilai terpulihkan dari asset tak berwujud lebih rendah dari nilai tercatatnya. Penurunan nilai asset takb erwujud. Apabila terdapat indikasi penurunan nilai maka entitas harus membandingkan antara nilai tercatat asset tak berwujud dengan nilai terpulihkan. Penghentian Pengakuan 1. Dalam proses pelepasan. 2. Ketika tidak terdapat lagi manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan dari penggunaan atau pelepasannya. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari pnbghentian pengukuran asset dihitung sebagai perbedaan antara nilai tercatat asset dan nilai wajar dari imbalan yang diterima. Pada IAS 38 ada satu item lagi yang dijelaskan yaitu : Pengeluaran Setelah Pembelian Aset Tidak Berwujud Pengeluaran berikutnya atas aset tidak berwujud setelah pembeliannya, atau penyelesaiannya harus diakui sebagai beban pada saat terjadi, kecuali dimungkinkan bahwa pengeluaran ini akan menjadikan aset untuk menghasilkan manfaat ekonomis masa depan yang berkelebihan dari standar kinarja orisinil yang dinilai dan pengeluaran secara andal dapat diukur dan dapat diatribusikan kepada aset. Pengungkapan Asset Tak Berwujud Dan Akun Terkait. 1. Apakah masa manfaat tidak terbatas atau terbatas, jika masa manfaat terbatas diungkapkan tingkat amortisasi yang digunakan atau masa manfaatnyta. 17
  • 18. 2. Metode amortisasi yang dugunakan untuk asset tak berwujud dengan masa manfaat terbatas. 3. Junlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode. 4. Unsur unsur dalam laporan pendapatan komprehensif yang mana amortisasi asset tak berwujud termasuk di dalamnya. 5. Pengakuan atas jumlah yercatat pada awal dan akir periode menunjukan : a. Penambahan secara terpisah mengindikasikan asset tak berwujud dari pengembangan internal yang diperoleh secara terpisah dan diperoleh melalui kombinasi bisnis. b. Asset digolongkan sebagai asset yang dimilki untuk dijual atau termasuk dalam kelompok asset lepasan dan dikelompokan sebagai dimiliki untuk dijual sesuai dengan PSAK 58. c. Peningkatan atau penurunan selama periode tersebut yang berasal dari revaluasi sesuai dengan paragraph 75, 85, 86, dari pengakuan kerugian penurunan nilai atau pembalikan dari pendapatan komprehensif lain yang sesuai dengan PSAK 48 refisi 2009. d. Kerugian penurunan nilai yang diakui dalam laporan laba rugi selama periode sesuai dengan PSAK 48 revisi 2009 penurunan nilai asset. e. Kerugian penurunan nilai yang dibalik dalam laporan laba rugi selama periode sesuai dengan PSAK 48 revisi 2009 penurunan nilai asset. f. Setiap amortisasi yang diakui selama periode. g. Selisih kurs neto yang timbul dari nilai translasi laporan keuangan ke mata uang penyajian dan transaksi operasi luar negri dengan mata uang asing ke mata uang penyajian yang digunakan entitas. Pada IAS 38 ada beberapa item lagi yang harus diungkapkan, yaitu : 1. Akumulasi amortisasi dan rugi karena penurunan nilai. 18
  • 19. 2. Dasar untuk menetapkan bahwa suatu aset tidak berwujud mempunyai masa manfaat tidak terbatas. 3. Keterangan dan jumlah yang tercaatat dari aset tidak berwujud yang material secara individu. 4. Informasi mengenai aset tidak berwujud yang dimiliki hak dibatasi. 5. Komitmen untuk mwmbeli aset tidak berwujud. 10. Aset Tidak Lancar Yang Dimiliki Untuk Dijual Dan Operasi Yang Dihentikan Aset tidak lancar ini dibahas pada PSAK 58 dan IFRS 5. PSAK 58 revisi 2009 ini sudah mulai mengadopsi IFRS, jadi hampir semua yang di bahas pada PSAK 58 ini juga terdapat di IFRS 5. Pengertian Asset tidak lancar adalah asset yang tidak memenuhi defenisi asset lancar. Dimilki untuk dijual artinya nilai tercatat asset akan dipulihkan melalui penjualan bukan digunakan dalam kegitan usaha. Suatu aset yang dimilki untuk djual adalah ketika entitas beniat untuk tidak menggunakan asset tersebut dalam kegiatan operasinya namun beniat untuk menjualnya. Apabila penjualan tidak dapat diselesaikan dalam kurun waktu satu tahun, maka aset tersebut harus diklasifikasikan sebagai yang dikuasai untuk dijual jika persyaratan berikut terpenuhi : 1. Entitas berkomitmen menjual aset tidak lancar, tetapi kondisi dipaksakan oleh pihak lain yang menyebabkan penjualan tidak selesai hingga suatu komitmen pembelian entitas dilakukan dan komitmen ini sangat mungkin terjadi di dalam kurun waktu satu tahun. 2. Suatu komitmen pembelian entitas dilakukan, tetapi kondisi yang tidak diharapkan dipaksakan oleh pembeli aset tidak lancar tersebut. 3. Aset tidak dijual karena keadaan yang tidak memungkinkan muncul. Pengakuan Awal. PSAK 58 revisi 2009 mengatur bahwa suatu asset tidak lancar harus di klasifikasikan sebagai asset tidak lancar yang dimilki untuk dijual, ketika entitas tidak akan menggunakan asset dalam kegiatan operasi berkelanjutan namun berniat untuk menjualnya dan memulihkan nilai asset tesebut melalui penjualan. Untuk dapat dillasifikasikan sebagai dimilki untuk dijual asset harus memenuhi dua syarat: 19
  • 20. 1. Berada dalam keadaan dapat dijual. 2. Penjualnnya harus sangat mungkin terjadi. Kondisi yang harus tercapai agar termasuk kedalam kriteria penjualan yang sangat mungkin terjadi yaitu penjualan di harapkan terjadi dalam jangka waktu 1 tahun ke depan. kondisi yang diperbolehkan terjadi agar asset tersebut tetap diklasifikasikan sebagai tersedia untuk dijual walaupun kemungkianan realisasi penjulan lebih dari satu tahun yaitu 1. Penggunaan tersebut disebabkan oleh situasi dan kondisi yang berbeda diluar kendali entitas. 2. Terdapat cukup bukti bahwa entitas tetap berkomitmen untuk menjual asset tersebut. Asset tidak lancar diklasifikasikan sebagai dimilki untuk dijual pada tanggal perolehan jika terpenuhi kondisi: 1. Syarat penjualan terealisasi paling lambat dalam waktu satu tahun. 2. Penjualan bersifat sangat mungkin terjadi Operasi yang dihentikan Beberapa kelompok aset yang dilepaskan harus diklasifikasikan sebagai operasi yang dihentikan apabila memenuhi kriteria tertentu dan operasi entitas mengalami kerugian berulang ulang serta entitas berniat untuk keluar bersamaan dari lini bisnis atau lokasi geografis utama. Pengukuran Pada saat asset tersebut diklasifikasikan menjadi tidak lancar yang dimilki untuk dijual asset tersebut diukur pada nilai yang lebih rendah antara nilai tercatat dan nilai wajar netto. Jika pada saat awal pengukuran nilai wajar neto lebih rendah dari nilai tercatatnya maka entitas harus mengakui sebesar nilai wajar. Pengukuran asset tidak lancar dimilki untuk dijual sebesar mana yang lebih tendah antara nilai tercatat dengan nilai wajar neto sebenarnya tetap konsisten mengacu pada konsep penurunan nilai wajar yang diatur dalam PSAK 48 penurunan nilai. Pengukuran Selanjutnya. Dalam pengukuran selanjutnya entitas merifisi nilai tercatat asset dibandingkan dengan nilai netonya. Jika nilai wajar netto mengalami penurunan lagi maka enitas harus 20
  • 21. mengakui kembali rugi penurunan nilai tersebut. Naun jika pengukuran berikutnya nilai wajar neto mengalami kenaikan enitas dapat mengakui pemulihan penurunan nilai tersebut. Menurut IFRS 5 Pengukuran aset tidak lancar yang dikuasai untuk dijual atau kelompok aset yang dilepaskan • Suatu aset harus diukur sesuai dengan standar pelaporan keuangan internasional yang berlaku sebelum dikalsifikasi sebagai dikuasai untuk dijual • Aset tidak lancar diklasifikasikan sebagai kelompok aset yang dilepaskan atau dikuasi untuk dijual yang diukur atas dasar mana yang lebih rendah antara jumlah tercatat dengan nilai wajar dikurang biaya untuk menjual. • Biaya untuk menjual diukur pada nilai sekarang bila mana penjualan diharapkan terjadi setelah satu tahun. Kenaikan di dalam nilai sekarang dicerminkan sebagai biaya keuangan dalam laba atau rugi. • Kerugian karena penurunan nilai dicerminkan sebagai laba atau rugiatas penurunan awal atau berikut daripada aset yang dilepaskan terhadap nilai wajar dikurag dengan biaya untuk menjual • Kenaikan berikutnya didalam nilai wajar dikurang dengan biaya untuk menjual suatu aset di akui dalam laba atau rugi hingga sebatas tidak memiliki kerugian karena penurunan nilai kumulatif • Aset tidak lancar atau suatu kelompok aset yang dilepaskan sebagai dikuasai untuk dijual tidak boleh disusutkan Asset tidak lancar yang diukur dengan menggunakan model revaluasi Mode revalusi digunakan etika mengukur asset tidak lancar yang kemudian direklasifikasikan sebagai asset yang dimilki untuk dijual, maka asset tersebut harus direvaluasi ke nilai wajarnya sesaat sebelum di reklasifikasi. Setelah di reklasifikasi biya menjual dikurangkan dan diaku sebgai rugi penurunan nilai sebagai bagian laba rugi periode berjalan. Menurut IFRS 5 Manajemen dapat memutuskan untuk mengubah suatu aset yang dikuasai untuk dijual karena kondisi yang membuat manajemen merubah rencananya untuk menjual aset yang bersangkutan. Perubahan klasifikasi dari yang dikuasai untuk dijual terhadap aset tetap mengharuskan aset tersebut dibukukan pada yang lebih rendah antara jumlah yang dari 21
  • 22. aset sebelum klasifikasinya kepada yang dikuasai untuk dijual dengan jumlah neto yang dapat diklasifikasi daripada aset ketika manajemen memutuskan untuk tidak menjual. Penghentian Pengakuan Dan Perubahan Rencana. Asset tidak lancar yang dihentikan pengklasifikiasiannya sebagai dimilki untuk dijual maka selnjutnya harus diukur pada nilai yang lebih rendah antar: 1. Nilai tercatat asset tersebut sebelum asset diklasifikasikan. 2. Nilai terpulihkan pada saat tanggal keputusan untuk tidak menjual. Penyajian. Asset yang diklasifikasikan sebagai asset yang tidak lancar dimilki untuk dijual harus disajikan secara terpisah dengan kelompok asset lainnya pada laporan posisi keuangan. Di sajikan kedalam kelompok asset lancar karena akan direalisasi melalui penjualan dalam jangka waktu satu tahun. Ketika asset tersebut merupakan sekelompok asset, mak nilai liabilities terkait masing masing ahrus dipisah. Pengungkapan Pada periode dilakukan klasifikasi asset sebagai asset tidak lancar dimilki untuk dijual entitas mengungkapkan informasi berikut : 1. Uraian mengenai asset tersbut. 2. Uraian fakta dan keadaan tentang penjualan atau yang mengarah pada pelepassan yang diharapkan. 3. Keuntungan atau kerugian yang diakui. 4. Dalam hal terdapat perubahan rencana penjalan maka diungkapkan uraian fakta dan keadaan yang mendukung keputusan tersebut dan dampaknya terhadap hasil operasi untuk periode tersebut. Menurut IFRS 5 • Aset tidak lancar dan kelompok aset dan liabilitas yang dilepaskan harus diungkapkan secara terpisah pada laporan posisi keuangan • Pengugkapan juga harus meliputi keterangan aset tidak lancar dari suatu kelompok aset yang dilepaskan, keterangan mengenai fakta dan kondisi penjualan, dan harapan cara dan waktu pelepasan tersebut. 22
  • 23. • Setiap keuntungan atau kerugian yang ditimbulkan dari pengukuran kembali aset yang dikuasai untuk dijual atau sekelompok aset yang dilepaskan harus dilporkan didalam laporan pendapatan komprehensif di dalam laba atau rugi dari operasi yang berkelanjutan. • Setiapa keuntungan atau kerugian atas operasi yang dihentikan harus dilaporkan sebagai pos tunggal, bersih dari pajak, pada halaman muka laporan pendapatan komprehensif sebagai pos lini yang terpisah, selain itu catatan atas pengungkapan pendapatan dan beban timbul dari operasi yang dihentikan DAFTAR PUSTAKA Ankarath, Nandakumar et al, 2012, Memahami IFRS: Standar Pelaporan Keuangan Internasional, Alih Bahasa: Priyo Darmawan, S.E, Ak, MBA, Indeks, Jakarta Martani, Dwi et al, 2012, Akuntansi Keuangan Menengah:Berbasis PSAK, Buku I, Salemba Empat, Jakarta. IAI, 2009, Standar Akuntansi Keuangan. Edisi Revisi. 23