Your SlideShare is downloading. ×
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Volume2 nomor2
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Volume2 nomor2

5,468

Published on

j

j

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
5,468
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
28
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098EDITORIALSalam dari RedaksiSyukur Alhamdulillah penerbitan Volume II Nomor 2 ini dapat dilaksanakan tepat pada bulanApril 2011. Pada nomor ini diterbitkan hasil penelitian rekan-rekan peneliti dari Magetan,Madiun, Kediri, Jember, Yogyakarta, serta Banda Aceh.Artikel-artikel yang ditampilkan merupakan hasil penelitian dalam bidang kesehatanlingkungan, kesehatan masyarakat, kesehatan anak, keperawatan, kebidanan, sertapendidikan dalam bidang kesehatan.Seperti editorial-editorial terdahulu, kami senantiasa mengajak Para Pembaca untukmengunjungi jurnal ini dalam versi online di www.suaraforikes.webs.com. Selanjutnya kamiucapkan terimakasih kepada seluruh Pembaca dan selamat berjumpa pada Volume II Nomor3, Juli 2011.RedaksiJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes
  • 2. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098DAFTAR ISIPENYELIDIKAN KEJADIAN LUAR BIASA DEMAM BERDARAH DENGUE DI 66-74KOTA BANDA ACEH T. AlamsyahPENGARUH FAKTOR PETUGAS DIARE PUSKESMAS TERHADAP KUALITAS 75-81PENATALAKSANAAN DIARE PADA BALITA DI KABUPATEN MAGETAN MujiyonoHUBUNGAN ANTARA STATUS SOSIAL ORANG TUA DENGAN KEKERASAN 82-90FISIK PADA ANAK UMUR 3-6 TAHUN DI KABUPATEN JEMBER GumiartiPERBEDAAN KEJADIAN ABORTUS BERDASARKAN PARITAS DI RSIA AURA 91-96SYIFA KABUPATEN KEDIRI Koekoeh Hardjito, Temu Budiarti, Yuni Mada NurikaSTUDI TENTANG SANITASI RUMAH PENDERITA TB PARU DI WILAYAH 97-104PUSKESMAS KARANGREJO KABUPATEN MAGETAN TAHUN 2009 Mujiyono, Tiya RahmawatiHUBUNGAN ANTARA PARITAS DENGAN KEJADIAN KEHAMILAN POST TERM 105-108 Agung Suharto, Evi Nindyasari, Rahayu SumaningsihSTUDI TENTANG SANITASI RUMAH PENDERITA ISPA DI DESA PAKIS BARU 109-115KECAMATAN NAWANGAN KABUPATEN PACITAN Mujiyono, Farida Ririn AnggrainiHUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG KODE 116-121ETIK KEPERAWATAN DAN HUKUM KESEHATAN DENGAN KINERJA PERAWATDALAM MEMBERIKAN ASUHAN KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT PKUMUHAMMADIYAH YOGYAKARTA TAHUN 2009 Fitri Arofiati, WahyuniEFEKTIFITAS PELATIHAN KELAS IBU HAMIL UNTUK MENINGKATKAN 122-134PENGETAHUAN, SIKAP, KETERAMPILAN DAN KUNJUNGAN ANTENATALCARE Puji Sri Hastuti, Heru Santoso Wahito Nugroho, Nana UsnawatiDESKRIPSI KUALITAS INTERNET KAMPUS SECARA MULTI DIMENSI DI 135-138KAMPUS KEBIDANAN MAGETAN POLTEKKES KEMENKES SURABAYA Heru Santoso Wahito Nugroho, RumpiatiJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes
  • 3. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 PENYELIDIKAN KEJADIAN LUAR BIASA DEMAM BERDARAH DENGUE DI KOTA BANDA ACEH T. Alamsyah* ABSTRAK Demam berdarah hingga saat ini masih menjadi salah satu masalah kesehatanmasyarakat di Indonesia. Jangkitan demam berdarah dengue (DBD) mulai menyerangsejumlah daerah di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan meluas dan merambah kedaerah endemis baru. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran besarnya masalahKLB DBD di empat kecamatan (Kuta Alam, Syiah Kuala, Banda Raya, dan Baiturahman).yangmenjadi kecamatan endemis dalam Kota Banda Aceh. Metode penelitian meliputi penentuan wilayah cakupan (4 kecamatan di Kota BandaAceh), pemastian diagnosis (kriteria diagnosis DBD oleh WHO tahun 1997 dan uji IgM Elisa),pengumpulan data sekunder (rumah sakit, puskesmas, laboratorium, Dinkes Kota, dan datapenunjang lain), pengumpulan data primer (kuesioner penjaringan kasus DBD), penelitiankasus, dilanjutkan analisis data (deskriptif retrospektif dengan pengumpulan data secara activecase finding yaitu dengan melakukan Surveilans Aktif Rumah Sakit (SARS) untuk mengetahuijumlah pasien yang dirawat di rumah sakit akibat DBD dan dianalisa menggunakan statistikepidemiologi yaitu Attack Rate dan Case Fatality Rate). Simpulan penelitian adalah: telah terjadi KLB DBD di Kota Banda Aceh pada bulanNovember, dengan tipe propagated, Kecamatan Baiturahman memiliki jumlah kasusterbanyak, kasus terbanyak pada umur di atas 15 tahun, dampak gempa dan tsunamimerupakan salah satu faktor determinan, dan sistem surveilans oleh Dinkes Kota Banda Acehdan jajarannya belum optimal. Saran: perlu penyuluhan tentang pencegahan dan penangananDBD dan berprilaku hidup sehat, Perlu sistem surveilans yang lebih optimal dan terpadu agarpenanganan dan pencegahan KLB DBD dapat terdeteksi secara dini, perlu peningkatankerjasama secara lintas sektoral guna penanganan KLB DBD.Keyword: Surveilans, Malaria,* = Politeknik Kesehatan Kemenkes Banda AcehPENDAHULUANLatar Belakang Demam berdarah hingga saat ini masih menjadi salah satu masalah kesehatanmasyarakat di Indonesia. Jumlah penderita cenderung meningkat serta semakin meluas dariwaktu ke waktu baik di daerah perkotaan maupun daerah pedesaan. Jangkitan demamberdarah dengue (DBD) mulai menyerang sejumlah daerah di Propinsi Nanggroe AcehDarussalam sejak bulan oktober dan terus meluas dan merambah ke daerah endemis baru.Kasus pertama yang diduga sebagai kasus DBD muncul pada 27 september 2005 yangmenimpa seorang anak yang masih duduk di kelas II SD yang bernama Muhammad Arif Rifatyang meninggal dunia di RS Harapan Bunda Banda Aceh.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 66
  • 4. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Menurut keterangan dokter yang menangani pasien, pasien datang dengan gejalamuntah dengan cairan kehitaman dan dalam kondisi kritis sehingga dokter memperkirakanbahwa anak tersebut mengalami (DBD) namun sebelum pemastian diagnosa dengan ujilaboratorium dilakukan, anak tersebut telah meninggal dunia. Korban merupakan pendudukLorong gelatik Kampung Surabaya Banda Aceh. Berdasarkan laporan tersebut, DinasKesehatan Kota Banda Aceh mulai melakukan respon akan munculnya waban DBD di KotaBanda Aceh. Kasus kasus yang memiliki gejala penyakit DBD di anjurkan untuk dilakukanpemeriksaan laboratorium sehingga penegakan diagnosan dapat dilakukan dengan pasti. Angka insidensi DBD hingga bulan november 2005 telah mengalami peningkatan yaitu75 kasus dengan CFR 1,33% bila dibandingkan dengan tahun 2004 maka telah terjadipeningkatan jumlah kasus. Peningkatan kasus paling banyak terjadi pada bulan Novemberyaitu 48 kasus baru di bandingkan pada bulan November tahun lalu 10 kasus makapeningkatan kasus telah 4 kali. Hal ini dapat di kategorikan bahwa untuk bulan November KotaBanda Aceh telah mengalami KLB deman berdarah (DBD) untuk tahun 2005. Kecamatan yang menjadi daerah endemis di dalam kota Banda Aceh dalam tahun 2005meliputi Kecamatan Kuta Alam, Syiah Kuala, Banda Raya dan.Baiturahman. Jumlah desaendemis dalam Kota Banda Aceh untuk tahun 2005 adalah 10 desa. Kesepeluh desa endemisdalam wilayah Kota Banda Aceh antara lain adalah ; Desa Lamlagang, Setui, Sukadamai,Peuniti, Ateuk Pahlawan, Kuta Alam, Kampung Keramat, Banda Baru dan Kampung Pineung.Tujuan dan Hipotesis Secara umum tujuan penelitian adalah mengetahui gambaran besarnya masalah KLBDBD di empat kecamatan endemis DBD (Kuta Alam, Syiah Kuala, Banda Raya, danBaiturahman). Sedangkan tujuan secara khusus adalah: 1) memperoleh kepastian terjadinyaKLB DBD, 2) memperoleh gambaran deskripsi KLB DBD, 3) menetapkan sumber dan carapenularan KLB DBD, 4) evaluasi program penanggulangan KLB DBD, dan 5) merumuskansaran, cara penanggulangan, dan pengendalian KLB DBD. Hipotesis penelitian: Telah terjadi KLB DBD di Kota Banda Aceh tahun 2005.BAHAN DAN METODE PENELTIANBatasan Wialayah Pelacakan Wilayah cakupan penelitian ini adalah 4 kecamatan endemis di Kota Banda Aceh yaitu;Kecamatan Kuta Alam, Syiah Kuala, Banda Raya, dan Baiturahman.Pemastian Diagnosis Pemastian diagnosis DBD dilakukan dengan melihat gejala klinis dari pasien serta hasiluji laboratorium yang dilakukan. Penegakan diagnosis tersebut di dasarkan pada kriteiadiagnosis DBD yang dikeluarkan oleh WHO tahun 1997 dan didukung oleh uji IgM Elisa(Mac Elisa). Uji ini bertujuan untuk mengetahui kandungan Igmdalam serum pasien, dimanabiasanya pada hari ke 4-5 infeksi virus dengue maka akan timbul IgM dan diikuti oleh IgG.Pengumpulan Data SekunderUntuk menetapkan adanya kejadian KLB dan untuk mengetahui pelaksanaan sistemsurveilans yang telah berlangsung, dilakukan pengkajian terhadap data sekunder meliputi:1. Data Rumah SakitJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 67
  • 5. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Berupa data laporan bulanan rumah sakit (RL2a), data laporan kasus rawat inap penderita DBD di rumah sakit, meliputi tanggal masuk dan keluar dari rumah sakit serta keadaan pasien sehat atau meninggal setelah menjalani proses perawatan.2. Data Puskesmas Berupa data laporan Puskesmas yaitu laporan mingguan (W2), laporan bulanan DBD (W1), data kasus per desa. Di kumpulkan juga data tentang sarana puskesmas dan tenaga kesehatan di Puskesmas. Di Samping itu dilakukan juga wawancara dengan petugas DBD mengenai sistem pencatatan dan pelaporan, tindak lanjut penenmuankasus dan fogging.3. Data Laboratorium Data Laboratorium diambil dari catatan medik rumah sakit pada lembar hasil pemeriksaan Laboratorium berupa pemeriksaan hemoglobin (Hb), hematokrit (Ht) dan jumlah trombosit.4. Data Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh Data yang diambil adalah data kasus DBD mingguan, data bulanan selama satu tahun, per desa dalam wilayah pusksesmas di Kota Banda Aceh. Wawancara terhadap petugas P2 DBD tentang oencatatan, pelaporan dan umpan balik laporan rumah sakit dan puskesmas.5. Data penunjang Lain Data ini mengenai kependudukan, geografi dan demografi.Pengumpulan Data Primer Data primer dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang telah disusun ditujukanuntuk penjaringan kasus DBD dengan pewawancara dari Puskesmas dan karyasiswa.Penelitian Kasus1. Batasan Kasus Kasus adalah semua penderita yang dirawat dan didiagnosa oleh puskesmas dan rumah sakit sebagai penderita DBD yang ditemukan pada bulan November 2005 sampai dengan awal Desember 2005. Kriteria diagnosis sesuai dengan kriteria WHO 1997 (minimal 2 gejala klinis dan 2 gejala laboratoris), atau suspek bila tanpa disertai gejala laboratorium.2. Batasan Operasional Kasus DBD adalah semua penderita yang didiagnosis DBD oleh puskesmas dan rumah sakit berdasarkan kriteria WHO tahun 1997 dan bertempat tinggal di wilayah kecamatan endemis (Kuta Alam, Syiah Kuala, Banda Raya dan.Baiturahman) di Kota Banda Aceh.Cara Analisa Data Penyajian data dilakukan secara diskriptif retrospektif untuk mengetahui polaepidemiologi KLB DBD di Kecamatan Kuta Alam, Syiah Kuala, Banda Raya dan Baiturahmandengan pengumpulan data secara active case finding yaitu dengan melakukan Surveilans AktifRumah Sakit (SARS) untuk mengetahui jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit akibat DBDdan dianalisa menggunakan statistik epidemiologi (Attack Rate dan Case Fatality Rate).HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANPemastian Diagnosis Pemastian diagnosis pada KLB DBD didasarkan kepoada gejala klinis yang dialami olehkasus dan di pastikan dengan hasil uji laboratorium yang dilakukan di rumah sakit perawatan.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 68
  • 6. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098Pemeriksaan laboratorium ini dilakukan dengan pemeriksaan serologis dengan test DengueBlot Kit (Teknik Elisa) untuk mendeteksi IgM Dengue. Gejala klinis penderita DBD di 4kecamatan endemis yang diperoleh dari 30 orang penderita adalah sebagai berikut : Tabel 4. Distribusi Gejala Klinis Penderita KLB DBD di Kota Banda Aceh Tahun 2005 No Gejala Klinis Jumlah Penderita Persentase (n=30) 01. Demam 30 100.0 02. Pusing / Sakit Kepala 23 76.6 03. Sakit Perut 11 36.6 04. Muntah 30 100.0 05 Bercak Merah di Kulit 5 16.6Gejala klinis utama yang dialami oleh kasus adalah demam, muntah, pusing/sakit kepala, sakitperut dan bercak merah di kulit. Hasil pemeriksaan Laboratorium yang dilakukan oleh rumahsakit tempat perawatan menunjukkan bahwa seluruh penderita yang dirawat mendukungdiagnosa terkena DBD.Penetapan KLB Penetapan kejadian KLB dilakukan dengan melihat adanya peningkatan kasus yangterjadi untuk bulan November 2005 di Kota Banda Aceh khususnya di Kecamatan Kuta Alam,Syiah Kuala, Banda Raya dan Baitussalam. Jika di bandingkan dengan bulan November padatahun 2004 maka peningkatan kasus sudah mendekati angka 4 kali lipat. Gambar 1. Jumlah Kasus Penyakit DBD berdasarkan Bulan Kejadian Di Kota Banda Aceh Tahun 2004-2005 60 2004 50 2005 40 Jumlah 30 20 10 0 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des 2004 9 14 18 3 2 1 1 2 6 0 10 7 2005 0 0 1 0 1 3 4 5 6 7 48 5 BulanDeskripsi Kasus Menurut OrangJumlah kasus pada KLB DBD di empat kecamatan endemis dalam Kota Banda Aceh untukpriode bulan November 2005 ditemukan 30 kasus berdasarkan umur dan jenis kelamin yangterdistribusi dalam Tabel 5. Tabel ini menunjukkan bahwa golongan umur yang memilikifrekuensi tertinggi menderita DBD adalah ≥ 15 tahun yaitu 21 orang sedangkan golonganumur terendah adalah < 1 tahun yaitu 1 orang. Dari tabel diatas didapat informasi bahwa telahJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 69
  • 7. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098terjadi transisi golongan umur yang penderita DBD hal ini dimungkinkan bahwa golongan umur≥ 15 tahun memiliki mobilitas yang relatif tinggi. Tabel 5. Distribusi Umur dan Jenis Kelamin Penderita KLB DBD di Kota Banda Aceh Tahun 2005 Umur Jumlah Penderita Total Laki-Laki Perempuan 0 – 1 Tahun 0 1 1 1 – 4 Tahun 0 2 2 5 – 14 Tahun 4 2 6 ≥ 15 Tahun 10 11 21 Total 14 16 30Deskripsi Kasus Menurut Tempat Penemuan kasus dilakukan di empat kecamatan endemis, kasus pertama pada bulanNovember 2005 ditemukan di kecamatan Syiah Kuala yang menderita sakit pada tanggal 5November selanjutnya kasus kedua ditemukan di Kecamatan Baiturahman pada tanggal 6November. Letak kedua Kecamatan tersebut relatif cukup jauh sehingga menimbulkan asumsibahwa sumber penyebarannya adalah lebih dari satu. Tabel 6. Distribusi Jumlah Penderita Berdasarkan Kecamatan pada KLB DBD di Kota Banda Aceh Tahun 2005 Kecamatan Jumlah Persen Kuta Alam 7 23.3 Syiah Kuala 5 16.7 Banda Raya 7 23.3 Baiturahman 11 36.7 Total 30 100.0Dari tabel di atas menunjukkan bahwa persentase penderita terbanyak ditemukan diKecamatan Baiturahman yaitu 30 (36.7%) orang, sedangkan yang terendah pada kecamatanSyiah Kuala yaitu 5 (16.7%) orang. (spot map terlampir)Diskripsi Kasus Menurut Waktu Dari laporan W1 Puskesmas menunjukkan bahwa pada bulan November kasus pertamaterjadi pada tanggal 5 November. Untuk bulan November puncak kasus terjadi pada tanggal 7(minggu ke 1) dan 17 November (minggu ke 3) dengan jumlah kasus 4 orang. Kurva epidemik(Gambar 2) dengan interval satu hari menunjukkkan gambaran kurva type propagated, dimanakurva tersebut memiliki beberapa puncak. Hal ini dapat menggambarkan bahwa sumberpenular bukan merupakan vaktor tunggal dangan kata lain bahwa sumber penular lebih darisatu atau dari orang ke orang.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 70
  • 8. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Gambar 2. Kurva Epidemik KLB DBD di Kota Banda Aceh Tahun 2005Identifikasi Sumber dan Cara Penularan1. Sumber Penularan Sumber penularan diperkirakan tidak hanya satu tetapi ada beberapa sumber. Kasus pertama untuk bulan November ditemukan di Kecamatan Syiah Kuala yaitu pada tanggal 5 November 2005, kasus adalah seorang laki-laki yang berusia 45 tahun, sedangkan kasus kedua ditemukan di Kecamatan Baiturahman yang menimpa anak perempuan berusia 6 tahun. Kedua Kecamatan tersebut merupakan dua kecamatan yang relatif berjauhan. Berdasarkan hasil wawancara terhadap kasus pertama bahwa sebelum menderita sakit kasus pernah berkunjung ke luar kota yang merupakan daerah endemis berjangkitnya DBD. Kasus ke dua yang terjadi tanggal 6 November pada seorang anak berusia 6 tahun yang berasal dari Kecamatan Baiturahman merupakan sumber penular bagi kasus ke tiga yang merupakan orang tua dari kasus ke dua. Namun hal ini bisa dimungkinkan sebaliknya, karena daya tahan tubuh anak lebih rendah sehingga anak lebih dahulu terserang di bandingkan orang tuanya. Selanjutnya penyebaran kasus dimungkinkan terjadi hal ini dikarenakan keempat kecamatan ini merupakan kecamatan endemis yang ada di dalam Kota Banda Aceh.2. Faktor Kebiasaan dan Lingkungan Terdapat tiga faktor yang memegang peranan pada penularan infeksi virus dengue, yaitu manusia, virus dan Vektor perantara. Virus dengue ditularkan kepada manusia oleh nyamuk Aedes Aegypti. Cara penularan diperkirakan melalui gigitan nyamuk yang berada di lingkungan rumah penderita, atau di lingkungan sekitar rumah penderita. Berdasarkan hasil pengamatan, di lingkungan rumah penderita sangat memungkinkan menjadi tempat perindukan nyamuk dimana banyak ditemukan kaleng dan ember bekas di sekitar rumahJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 71
  • 9. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 yang digenangi air. Di samping itu kondisi lingkungan yang kurang sehat yaitu masih banyak sampah dan ilalang di sekitar rumah merupakan tempat yang disukai nyamuk . Hasil wawancara dengan responden dengan menggunakan alat bantu kuesioner ditemukan ada beberapa faktor yang mendukung terjadinya peningkatan vektor diantarannya kebiasaan-kebiasaan sebagai berikut: Tabel 7. Distribusi Hasil Wawancara dengan Kasus Penderita KLB DBD di Kota Banda Aceh Tahun 2005 No Wawancara Ya Tidak 01. Apakah tempat penempungan air di kuras tiap minggu ? 22 8 02. Apakah tempat penempungan air diberi Abate ? 0 30 03. Apakah ada timbunan sampah disekitar rumah ? 17 13 04. Apakah ada timbunan kaleng bekas / ban bekas ? 15 15 05. Apakah ada tonggak bambu patah disekitar rumah ? 10 20 06. Apakah disekitar rumah pernah dilakukan pengasapan (fogging)? 0 30 Tabel 7 di atas menunjukkan bahwa pemberian bubuk abate pada tempat penampungan air dan pelaksanaan pengasapan (fogging) tidak pernah dilakukan dilakukan selama 3 (tiga) bulan terakhir khususnya stelah tsunami. Hasil pengamatan terhadap lingkungan tempat tinggal responden dengan menggunakan alat bantu kuesioner juga ditemukan ada beberapa faktor yang mendukung terjadinya peningkatan vektor diantarannya sebagai berikut : Tabel 8. Distribusi Hasil Observasi Terhadap Lingkungan Penderita KLB DBD di Kota Banda Aceh Tahun 2005 No Observasi Ya Tidak 01. ada / tidak baju yang bergantungan 30 0 02. ada / tidak sampah di sekitar rumah 17 13 03. ada / tidak kaleng bekas / ban bekas 15 15 04. ada / tidak tonggak bambu patah 10 20 05. ada / tidak jentik / larva di bak penempungan air (gunakan senter) 18 12 Tabel 8 menunjukkan bahwa kebiasaan menggantung baju terutama di kamar tidur adalah kebiasaan yang sangat sering dilakukan berdasarkan hasil pengamatan 30 (100%) kasus. Hal ini merupakan kebiasaan yang seharusnya tidak dilakukan karenan bisa menjadi tempat perlindungan nyamuk, walaupun saat dilakukan penyemprotan anti nyamuk.3. Penelusuran Data sekunder Pengamatan penyakit DBD di Puskesmas meliputi kegiatan pencatatan dan pelaporan data. Data laboran mingguan (W2) biasanya tidak dilaporkan tiap minggu. Proses pelaporannya dilakukan setiap satu bulan sekali, ata pada desempatan tertentu bila ada orang puskesmas yang datang ke Dinas Kota. Hasil wawancara dengan petugas surveilans di Dinas Kota menyebutkan bahwa pelacakan kasus DBD umumnya di lakukan di Rumah Sakit perawatan, hasil pelacakan kasus tersebutJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 72
  • 10. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 baru di konfirmasi kembali ke Puskesmas dan di buatkan Laporan Kasus KLB (W1). Hal ini merupakan suatu kendala yang masih ditemukan di lapangan sehingga proses antisipasi terhadap peningkatan kasus sukar untuk dilakukan. Pelaksanaan pengasapan (fogging) hanya dilakukan pada saat ditemukan kasus, dan dilakukan hanya untuk 40 rumah di lingkungan sekitar rumah ditemukan kasus. Di samping pelaksaaan fogging, Dinas Kesehatan juga melakukan penyuluhan lingkungan dan melaksanakan gotong royong massal di lingkungan sekitar. Hasil wawancara dengan petugas di Dinas Kota Banda Aceh juga mengungkapkan bahwa dalam tahun ini kegiatan Pemantauan Jentik Berkala (PJB) tidak pernah dilakukan. Hal ini merupakan faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya KLB DBD untuk tahun 2005 di Kota Banda Aceh.Pembahasan Penyelidikan KLB yang dilakukan di Kota Banda Aceh ini masih banyak mempunyaikelemahan diantaranya adalah tidak dilakukan penelitian dengan menggunakan kasus-kontrolyang bertujuan untuk mengetahui factor resiko penyebab terjadinya KLB-DBD tersebut. Penegakan diagnosis pada kasus KLB DBD di Kota Banda Aceh dilakukan denganpemeriksaan serologis (Dengue Blot) untuk mengetahui IgM Dengue. Penggunaan metode inidengan alasan karena lebih cepat dan mudah dilakukan serta memiliki sensitifitas yang tinggi.Hasil pemeriksaan terhadap semua kasus menunjukkan bahwa semua kasus positif terkenaDBD. Hasil uji laboratorium ini merupakan hasis diagnosa pada Rumah sakit tempat pasienmendapatkan perawatan. Penetapan adanya KLB DBD untuk kota Banda Aceh dilakukan dengan membandingkandata jumlah kasus pada priode bulan November tahu 2004 dengan priode bulan yang samapada tahun 2005. Dibandingkan jumlah kasus bulan November 2004 dengan bulan Novembertahun 2005 jumlah adalah 4 kali lipat, peningkatan ini dapat dipakai sebagai indikatorterjadinya KLB DBD di Kota Banda Aceh. Gambaran kurva epidemik dengan interval satu hari menunjukkan kurva yang terbentuadalah type propagated, dimana menunjukkan beberapa puncak kasus dalam satu bulan.Sumber penularan KLB ini diperkirakan berasal lebih dari satu sumber dikarenakan lokasikejadian kasus pertama dan kedua berada terpisah relatif jauh. Hal ini berarti bahwapenyebaran kasus DBD adalah berasal dari orang ke orang. Hasil wawancara denganPelaksana Program DBD (P2DBD) didapat informasi bahwa Kota Banda Aceh merupakandaerah endemis DBD di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Dampak musibah gempa dan tsunami 26 Desember 2004 yang lalu menyebabkanrendahnya kualitas lingkungan masyarakat. Hasil investigasi yang dilakukan melaluiwawancara dan observasi terhadap lingkungan tempat tinggal kasus menunjukkan bahwakualitas lingkungan masih rendah. Hal ini ditandai dengan masih banyaknya sampah yangberserakan di lingkungan sekitar, yang memungkinkan menjadi tempat perindukan nyamukAedes aegypty yang merupakan nyamuk penular DBD. Faktor inilah yang menyebabkanterjadinya peningkatan jumlah kasus DBD dalam masyarakat. Di samping itu, terbatasnya dana dan sumberdaya untuk melakukan pemantauan jentik,pelaksanaan fogging dan sistem sulveilans yang belum optimal juga menjadi salah satu faktoryang penanganan KLB DBD sukar untuk diatasi.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 73
  • 11. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098SIMPULAN DAN SARANSimpulan1. Telah terjadi KLB DBD di empat kecamatan endemis (Kuta Alam, Syiah Kuala, Banda Raya , dan Baiturahman) dalam Kota Banda Aceh propinsi Nanggroe Aceh Darussalam.2. Kejadian KLB DBD di Kota Banda Aceh terjadi pada bulan November dengan pola KLB adalah type propagated, yaitu sumber penularan lebih dari satu.3. Kecamatan Baiturahman adalah kecamatan yang memiliki jumlah kasus terbanyak yaitu 11 kasus dari 30 kasus yang diinvestigasi.4. Kasus terbanyak adalah golongan umur diatas 15 tahun yaitu 21 orang.5. Dampak Gempa dan Tsunami merupakan salah satu factor determinan terjadinya KLB DBD di Kota Banda Aceh.6. Sistem surveilans yang dilakukan oleh Dinkes Kota Banda Aceh dan jajarannya masih belum optimal.Saran1. Perlunya dilakukan penyuluhan tentang pencegahan dan penanganan DBD serta selalu menjaga kebersihan lingkungan dan berprilaku hidup sehat.2. Perlunya dilakukan sistem surveilans yang lebih optimal dan terpadu sehingga proses penanganan dan pencegahan KLB DBD dapat terditeksi secara dini3. Perlunya melibatkan dan meningkatkan kerjasama secara lintas sektoral guna penaganan KLB DBD.DAFTAR PUSAKABadan Pusat Statistik. (2003). Banda Aceh Dalam Angka Angka 2003, Badan Pusat Statistik Kota Banda Aceh.Berkow. R, 1999, The Merck Manual, Bina Rupa Aksara, JakartaChin. J, 2000, Manual Pemberantasan Penyakit Menular, Center for Diseases Control adn Prevention, Atlanta USADepkes RI, 2000, Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Demam Dengus dan Demam Berdarah Dengue, WHO dan Depkes RIDinas Kesehatan Kota Banda Aceh. (2003). Profil Kesehatan Kota Banda Aceh Tahun 2003, Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh.Djallalluddin, dkk, Gambaran Penderita KLB DBD di Kabupaten Banjar dan Kota Banjar Baru Tahun 2001. http://dexa-medica.comRezeki. S, Tata Laksana Demam Berdarah Dengue di Indonesia, Depkes RI, JakartaJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 74
  • 12. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 PENGARUH FAKTOR PETUGAS DIARE PUSKESMAS TERHADAP KUALITAS PENATALAKSANAAN DIARE PADA BALITA DI KABUPATEN MAGETAN Mujiyono* ABSTRAK Penyakit diare merupakan salah satu masalah penyakit menular yang masih menjadimasalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Kebijaksanaan teknis dalampemberantasan diare adalah tatalaksana kasus diare yang tepat dan efektif. Tatalaksanakasus diare yang efektif dan efisien di sarana kesehatan mempunyai potensi besar untukmempercepat upaya penyembuhan dan mengurangi resiko kematian akibat diare. Penelitian ini bertujuan untuk untuk menganalisis kualitas tatalaksana diare pada balitadi Puskesmas. Jenis penelitian adalah penelitian penjelasan dan evaluatif karena dalampenelitian ini menekankan hubungan antar variabel penelitian dan menguji hipotesis yangtelah dirumuskan sebelumnya. Lokasi penelitian di wilayah Kabupaten Magetan dengansampel sebanyak 21 responden yang di ambil secara total sampling. Untuk mengetahuihubungan antar variabel digunakan uji statistik regresi ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas tatalaksana diare pada balita sebagianbesar 13 (62%) kualitas tatalaksanya dalam kategori baik, lama kerja sebagian besar 9 (43%)lama kerja antara 11- 21 tahun, pendidikan responden sebagian besar 12(57%) pendidikannyaSekolah Perawat Kesehatan, sikap terhadap tatalaksana diare pada balita sebagian besar 13(62%) sikapnya dalam kategori baik, tidak ada hubungan antara lama kerja petugas dengankualitas tatalaksana diare pada balita di Puskesmas, tidak ada hubungan antara pendidikanpetugas dengan kualitas tatalaksana diare pada balita di Puskesmas, tidak ada hubunganantara pengetahuan petugas dengan kualitas tatalaksana diare pada balita di Puskesmas,tidak ada hubungan sikap petugas dengan kualitas tatalaksana diare pada balita diPuskesmas.Kata kunci: Pendidikan, Lama kerja, Pengetahuan, Sikap dan Kualitas tatalaksana diare*= Poltekkes Kemenkes Surabaya, Jurusan Kesehatan Lingkungan, Kampus MadiunPENDAHULUANLatar Belakang Diare merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalahmasyarakat utama di Indonesia. Ini ditunjukkan dengan tingginya angka kesakitan dankematian yang disebabkan oleh diare, khususnya pada bayi dan anak balita. Berdasarkanhasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT 2004), angka kesakitan diare pada semuagolongan umur saat ini adalah 280/1000 penduduk, pada golongan balita episode diare adalah1,5 kali pertahun. Sedangkan angka kesakitan bila diproyeksikan pada penduduk Indonesiatiap tahunnya terdapat 112.000 kematian pada semua golongan umur (54/1000 penduduk)pada balita terjadi 55.000 kematian (2.5/1000 balita). Hal ini disebabkan antara lain masihJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 75
  • 13. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098rendahnya penduduk yang memanfaatkan jamban dan air bersih serta tatalaksana diare dirumah tangga dan masyarakat. Survey Morbiditas dan tatalaksana penderita diare dari 40 Puskesmas di 10 PropinsiSumatera Utara, Jogjakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, SulawesiSelatan, dan Sulawesi Utara dengan hasil antara lain angka kesakitan diare semua golonganumur meningkat dari 28/100 tahun 1996 menjadi 1,28 kali kali/balita/tahun. Banyak faktor yang mempengaruhi kejadian diare di antaranya faktor lingkungan, gizi,kependudukan, pendidikan, keadaan sosial ekonomi dan perilaku masyarakat. Penularanpenyakit diare terjadi melalui kontaminasi tangan, alat makan serta melalui makanan olehkuman penyebab yang terdapat dalam tinja penderita, kebiasaan hidup yang tidak mengikutikaidah kebersihan akan meningkatkan resiko kejadian penyakit diare. Sedangkan kesehatanlingkungan, penyediaan air bersih dan pemanfaatan jamban keluarga yang tidak saniter dapatberperan mendukung kehidupan dan penyebaran kuman penyebab diare. Kebijakan teknis dalam pemberantasan penyakit diare adalah tata laksana kasus diareyang tepat dan efektif melalui upaya rehidrasi oral dengan oralit dan cairan rumah tangga,meneruskan makanan sedikit demi sedikit tapi berulang-ulang selama diare dan makananekstra sesudah diare. ASI juga diteruskan, cairan intravena hanya untuk dehidrasi berat. Salahsatu prioritas utama pemerintah dalam pengembangan pemberantasan penyakit diare adalahmeningkatkan efektifitas penatalaksanaan diare pada anak balita, termasuk upaya rehidrasioral. Kematian akibat diare akut sering disebabkan oleh kehilangan banyak cairan dan garamyang sering disebut dehidrasi. Kebijakan program pemberantasan diare merupakantatalaksana kasus diare yang efektif dan efisien di sarana kesehatan dan mempunyai potensibesar untuk mempercepat penyembuhan. Oleh karena itu peranan petugas kesehatan dalampenatalaksanaan terhadap balita penderita diare akut sesuai standar sangat diharapkan. Berdasarkan urutan sepuluh penyakit terbanyak di Kabupaten Magetan tahun 2006penyakit diare menduduki peringkat ke-8 dari seluruh jumlah kunjungan puskesmas danurutan ke-2 untuk penyakit menular dan belum pernah dilukan evaluasi tentang kualitastatalaksana diare oleh petugas kesehatan Dengan melihat masih tingginya angka kesakitan diare yang terjadi pada bayi danbalita khususnya di Kabupaten Magetan, perlu dilakukan penelitian tentang penatalaksanaandiare akut yang dilakukan oleh petugas kesehatan Puskesmas di Kabupaten Magetan gunamendapatkan data dasar untuk evaluasi terhadap program pemberantasan diare yangdilaksanakan dan untuk menentukan intervensi program pemberantasan diare selanjutnya.Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana hubungan antara perilakupetugas ( Pendidikan, lama kerja, pengetahuan dan sikap ) dengan kualitas tatalaksana diareakut pada balita yang dilakukan oleh petugas kesehatan di Puskesmas di Kabupaten MagetanPropinsi Jawa Timur.Tujuan Penelitian1. Menganalisis hubungan tingkat pendidikan petugas dengan kualitas penatalaksanaan standar diare pada balita di PuskesmasJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 76
  • 14. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-30982. Menganalisis hubungan lama kerja petugas dengan kualitas penatalaksanaan standar diare pada balita di Puskesmas3. Menganalisis hubungan pengetahuan petugas dengan kualitas penatalaksanaan standar diare pada balita di Puskesmas4. Menganalisis hubungan sikap petugas dengan kualitas penatalaksanaan standar diare pada balita di Puskesmas5. Menganalisis kualitas tatalaksana standar diare pada Balita di Puskesmas meliputi ; ketepatan diagnosa, penetapan derajat dehidrasi, cara merawat penderita diare dengan dehidrasi ringan, sedang dan berat serta diare tanpa dehidrasiMETODE PENELITIAN Sesuai tujuan, jenis penelitian ini adalah penelitian penjelasan (explanatory) dan evaluatif.Variabel bebas penelitian adalah tingkat pendidikan, lama kerja, pengetahuan, sikap,sedangkan Kualitas penatalaksanaan standar diare akut di Puskesmas merupakan variabelterikat. Populasi penelitian adalah tenaga kesehatan yang bertugas di bagian pengobatanPuskesmas di seluruh wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan sejumlah 21 orang. Penelitian ini menerapkan analisis univariat berbentuk distribusi frekuensi untukmendeskripsikan semua variabel. Analisis bivariat digunakan untuk menguji hubungan antaravariabel bebas dan variabel terikat. Uji statistik yang digunakan adalah uji regresi gandadengan bantuan SPSS for Window versi 12.00, dengan tujuan untuk menguji hipotesispenelitian. Penerimaan H0 ditentukan jika signifikansi koefisien regresi dari konstanta danmasing-masing variabel dengan uji t lebih besar dari 0,05, sebaliknya penerimaan H 1ditentukan jika signifikansi koefisien regresi dari konstanta dan masing-masing variabel lebihkecil atau sama dengan 0,05 yang berarti kualitas tatalaksana diare pada balita berpengaruhterhadap masing masing variabel yaitu lama kerja, pendidikan, pengetahuan dan sikap.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANHasil Penelitian Skoring terhadap hasil observasi kualitas penatalaksanaan diare menunjukkan bahwaskor tertinggi dan terendah masing-masing 22 dan 10. Sedangkan skor rata-rata adalah 17.Ada 13 (62%) orang dengan skor di atas rata-rata, diklasifikasikan dalam kategori baik dalammelakukan penatalaksanaan diare terhadap balita yang datang ke Puskesmas. Data kualitaspenatalaksanaan diare menurut lama kerja, pendidikan, pengetahuan, dan sikap disajikansebagai berikut. Tabel 1. Kualitas Tatalaksana Diare Menurut Lama Kerja Kualitas Tatalaksana No. Lama kerja Baik % Kurang % Jumlah % 1. < 10 Th 4 19 3 14 7 33 2. 11 – 20 Th 6 29 3 14 9 43 3. 21 - 30 Th 3 14 2 10 5 24 Jumlah 13 62 8 38 21 100Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 77
  • 15. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Tabel 2. Kualitas Tatalaksana Diare Menurut Pendidikan Petugas Kualitas Tatalaksana No Pendidikan Baik % Kurang % Jml % 1. SPK 8 38 4 19 12 57 2. Bidan 1 5 3 14 4 19 3. Akper 4 19 1 5 5 24 Jumlah 13 62 8 38 21 100 Tabel 3. Kualitas Tatalaksana Diare Menurut Tingkat Pengetahuan Petugas No. Pengetahuan Kualitas Tatalaksana Jumlah % Baik % Kurang % 1. Baik 9 43 2 10 11 53 2. Kurang 4 19 6 28 10 47 Jumlah 13 62 8 38 21 100 Tabel 4. Kualitas Tatalaksana Diare Menurut Sikap Petugas No Sikap Kualitas Tatalaksana Jumlah % Baik % Kurang % 1. Tepat 8 38 4 19 12 57 2. Kurang Tepat 5 24 4 19 9 43 Jumlah 13 62 8 38 21 100 Tabel 5. Ringkasan Hasil Uji Regresi Ganda Indikator Nilai R 0,657 R Square 0,432 Adjusted R Square 0,290 Standard Error of the Estimate ( SEE ) 8,42833 Hasi uji F ( Anova ) 3,038 Durbin Watson 1.781 Koefisien regresi masing-masing prediktor - Konstanta -5,188( lambang : a ) - X1 = Prediktor I ( Lama kerja ) 0,314 ( lambang : b1) - X2 = Prediktor II ( Penddikan ) 0,290 ( lambang :b2) - X3 = Prediktor III ( Pengetahuan ) 0,659 ( lambang : b3) - X4 = Prediktor IV ( Sikap ) -0,159 ( lambang : b4) Hasil uji t untuk masing-masing prediktor - Konstanta -0,215 ( signifikansi : 0,832 ) - X1 = Prediktor I ( Lama kerja ) 1,390 ( signifikansi : 0,184 ) - X2 = Prediktor II ( Penddikan ) 1,258 ( signifikansi : 0,226 ) - X3 = Prediktor III ( Pengetahuan ) 3,356 ( signifikansi : 0,004 ) - X4 = Prediktor IV ( Sikap ) -0,779 ( signifikansi : 0,447 )Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 78
  • 16. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Hasil uji regresi ganda disajikan pada Tabel 5, dengan interpretasi sebagai berikut :1) Nilai R = 0,657 berarti sebenarnya ada korelasi antara lama kerja, pendidikan, pengetahuan dan sikap dengan kualitas tatalaksana diare2) Nilai Adjusted R Square 0,290 menunjukkan bahwa hanya 29% variasi dari kualitas tatalaksana diare disebabkan oleh variasi lama kerja, pendidikan, pengetahuan dan sikap3) Nilai uji anova adalah 3,038 dengan signifikansi 0,048 (< 0,05) sehingga model regresi dapat digunakan untuk prediksi.PembahasanPengaruh Lama Kerja Petugas terhadap Kualitas Tatalaksana Diare di Puskesmas Lama kerja seseorang petugas dalam suatu bidang berhubungan dengan tingkatpengetahuan dan ketrampilan dalam bidang yang ditangani, lama kerja ikut menentukan hasilkerja seseorang dan juga akan menambah pengalaman seseorang dalam menjalankanpekerjaan sehari hari. Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa tidak ada pengaruh lamakerja terhadap kualitas tatalaksana diare. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tidakterdapat perbedaan antara responden yang lama kerjanya lebih dari 10 tahun dengan yangkerjanya kurang dari 10 tahun. Hal ini terjadi karena pada umumnya responden dalamtatalaksana diare menggunakan buku pedoman yang sama dan mendapat pelatihantatalaksana dengan materi yang sama dan dituntut untuk menangani secara profesional dalammenangani kasus diare karena program tatalaksana diare merupakan program utama DinasKesehatan seluruh Indonesia. Adanya responden yang mempunyai masa kerja lebih dari 20 tahun namun kualitastatalaksanya dalam kategori kurang, barangkali disebabkan oleh adanya kejenuhan dalamkerja, sehingga mereka bekerja tidak sesuai prosedur yang ada. Untuk itu diperlukan suatupenyegaran agar mereka dapat bekerja lebih baik.Pengaruh Tingkat Pendidikan Petugas terhadap Kualitas Tatalaksana Diare Latar belakang yang dimiliki seseorang akan berpengaruh terhadap cara berfikir,merencanakan dan melaksanakan suatu kegiatan serta dalam menghadapi suatupermasalahan, demikian juga halnya dengan latar belakang pendidikan petugas kesehatandalam penatalaksanaan diare pada balita di puskesmas. Dapat diasumsikan bahwa tingkatpendidikan merupakan salah satu pendukung dalam pelaksanaan tugas dengan baik. Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa tidak ada pengaruh pendidikan petugasterhadap kualitas tatalaksana diare. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tidak terdapatperbedaan antara responden yang yang berpendidikan SPK, Bidan maupun Akper. Menurut Ardhana, pengetahuan seseorang yang akan membentuk tindakan dalamsuatu kegiatan tidak hanya didapat dari pendidikan formal saja, pengetahuan ini bisa sajadidapat dari berbagai sumber seperti media masa, buku petunjuk, media poster atau darimedia elektronik. Dengan demikian, responden yang berpendidikan SPK mungkin sajamempunyai pengetahuan yang relatif sama bahkan lebih dengan yang berpendidikan Bidanmaupun Akper. Di samping itu, motivasi responden untuk melakukan penanganan yang baikpada penderita diare merupakan keharusan yang dilaksanakan sesuai petunjuk pedomanJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 79
  • 17. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098tatalaksana diare yang di terbitkan oleh Departemen Kesehatan. Di samping itu, respondenjuga mendapat pelatihan dalam tatalaksana dengan materi yang sama dan selalu adasupervisi dari Dinas Kesehatan Kabupaten maupun Provinsi untuk mengurangi angkakematian akibat diare.Pengaruh Tingkat Pengetahuan Petugas terhadap Kualitas Tatalaksana Diare Pengetahuan merupakan salah satu dari komponen pikiran dan perasaan yang dapatmenetukan apakah seseorang akan bertindak. Pengetahuan merupakan bagian dari faktorpredisposing atau faktor dari diri sendiri yang merupakan pemacu motivasi untuk berperilakudan bertingkah laku. Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa tidak ada pengaruh pengetahuan petugasterhadap kualitas tatalaksana diare. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapatperbedaan antara responden yang yang berpengetahuan baik maupun yang berpengetahuankurang. Hal ini mungkin karena tatalaksana diare merupakan program yang sudah ditetapkanoleh Departemen Kesehatan, dengan pedoman yang harus diikuti oleh petugas kesehatandalam penanganan kasus diare dan setiap tahunnya selalu ada pelatihan dan supervisi dariDinas Kesehatan.Pengaruh Sikap Petugas terhadap Kualitas Tatalaksana Diare Sikap merupakan respon evaluatif yang dapat berbentuk positif maupun negatif. Hal iniberarti bahwa dalam sikap terkandung adanya preferensi atau rasa suka dan tak sukaterhadap sesuatu sebagi obyek sikap. Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa tidak ada pengaruh sikap petugasterhadap kualitas tatalaksana diare di Puskesmas. Dengan demikian dapat dikatakan bahwatidak terdapat perbedaan antara responden yang yang bersikap tepat maupun yang bersikapkurang tepat dalam tatalaksana diare.SIMPULAN DAN SARANSimpulan Simpulan penelitian adalah:1. Sebagian besar petugas memiliki kualitas tatalaksana diare dalam kategori baik2. Sebagian besar petugas memiliki lama kerjanya 11–21 tahun3. Sebagian besar petugas berpendidikan Sekolah Perawat Kesehatan4. Sebagian besar petugas memiliki pengetahuan dalam kategori baik5. Sebagian besar petusa memiliki sikap dalam kategori baik6. Tidak ada pengaruh lama kerja petugas terhadap kualitas tatalaksana diare7. Tidak ada pengaruh pendidikan petugas terhadap kualitas tatalaksana diare8. Ada pengaruh pengetahuan petugas terhadap kualitas tatalaksana diare9. Tidak ada pengaruh sikap petugas terhadap kualitas tatalaksana diareSaran1. Perlu meningkatkan bimbingan teknis, motivasi, pemantauan, dan umpan balik kepada petugas kesehatan di Puskesmas tentang kualitas tatalaksana diare pada saat pertemuan rutin atau secara tertulisJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 80
  • 18. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-30982. Perlu dilakukan penyegaran kembali atau pelatihan terhadap petugas kesehatan di Puskesmas dalam hal tatalaksana diareDAFTAR PUSTAKAAncok, J, 1989, Teknik Penyusunan Skala Pengukuran, Pusat Penelitian Kependudukan UGM, JogjakartaBadan Pusat Statistik, 2005, Magetan Dalam Angka, BPS Magetan, MagetanDepkes RI, 1993, Buku Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare Dalam Pelita V , Ditjen PPM & PLP, JakartaDepkes RI, 1989, Kebijaksanaan Teknis Pemberantasan Penyakit Diare Dalam Pelita V , Ditjen PPM & PLP, JakartaDepkes RI, 2000, Buku Pedoman Pelaksanaan Program P2 Diare di Puskesmas, Ditjen PPM & PLP, Depkes RI, JakartaDepkes RI, 2001, Survey Morbiditas dan Tatalaksana Penderita Diare, Ditjen PPM &PLP Depkes RI, JakartaDinas Kesehatan Kabupaten Magetan, 2005, Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan Tahun 2005, MagetanDinas Kesehatan Kab. Magetan, 2005, Laporan Tahunan Penyakit Diare Tahun 2005Gurendro Putro, 2005, Hubungan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Ibu dan Penggunaan Sarana Air Bersih Terhadap Kejadian Diare Pada Balita, Buletin Penelitian RSU Dr. Soetomo Vol 7 no. 2, Bidang Penelitian dan Pengembangan RSU Dr. Soetomo, SurabayaGunawan, 2002, Studi Tentang Evaluasi Tatalaksana Diare di Puskesmas Kabupaten Sragen Jawa Tengah, Skripsi, Prodi Kesling Madiun.Gibson et.all, 1990 Organisasi Jilid I, Erlangga, JakartaJoko Irianto,dkk, 1996, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Diare Pada Anak Balita, Buletin Penelitian Kesehatan 24( 2&3) : 92 -95Karno, 2002, Etika Profesi dan Perilaku, Prodi Kesling Madiun.Mar’at, 1981, Sikap Manusia Perubahan Serta Pengukurannya, Gholia Indonesia, BandungMuhammad Nasir, 1999, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta.Masri Singarimbun dan sofyan Effendi, 1997, Metodologi Penelitian survey, LP3ES, JakartaPetrus Andrianto, 1992, Penatalaksanaan dan Pencegahan Diare Akut, Edisi 2 ECG, JakartaRaharjo Marwati, 1984, Pendidikan dan Masyarakat Pendidikan sebagai Sarana Pendapatan, CSIS, Jakarta.Santoso Singgih, 2001, Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik, Elex Media Komputindo, JakartaSutanto dan Indriyono, 1993, Strategi dan Pengembangan Pemberantasan Diare di Indonesia, Medika 6 : 62 – 67,Sukijo Notoatmodjo, 1993, Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan, Andi Offset, Jogjakarta.Sukijo Notoatmodjo, 2003, Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta.Sugiyono, 2000, Statistika Untuk Penelitian, CV Alfabeta, BandungJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 81
  • 19. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 HUBUNGAN ANTARA STATUS SOSIAL ORANG TUADENGAN KEKERASAN FISIK PADA ANAK UMUR 3-6 TAHUN DI KABUPATEN JEMBER The Relationship Between Parents’ Social Status And Child Abuse Among Children 3-6 Years Of Age In Jember District Gumiarti * ABSTRACT Child abuse is defined as any intentional act or series of acts by a parent or othercaregivers that results in harm or threat of harm to a child. Under-three children are prone toreceive any form of abuses due to the fact that they are entering periods of temper tantrumand egocentrics. In these periods, children usually gets angry easily and cannot control theiremotion as well as pose destructive behavior when what they want cannot be fulfilled by theirparents. Consequently, this can become a trigger for parents to do physical abuse to theirchildren. In addition, child abuse brings about hazardous effects such as physical injuries andpsycopathology. This was an observational study with a cross-sectional study design. Samples were 164persons. The independent variable was parents’ social status, the dependent variable waschild physical abuse, and the extraneous variables were age, marital status, history ofreceiving abuses from parents, and child’s status. Data were collected through questionnaireand in-depth interview towards four mothers. The data were then analyzed with univariateanalysis using statistic descriptive test, bivariate analysis using chi-square test, andmultivariate analysis using logistic regression. There was a significant relationship between parents’ education and child physical abuse(RP=1.3 and CI=1.08-1.57), meaning that the prevalence of child abuse was 1.3 greater inparents with lower educational level than with the higher one. Parents’ occupation was alsosignificantly related with child physical abuse (RP=1.61 and CI=1.04-2.48), meaning that theprevalence of child abuse was greater in children who had parents with lower occupationallevel than with higher one. Meanwhile, there was no significant relationship between parents’income and child abuse (RP=1.08 CI=0.92-1.27). The extraneous variables having riskstoward child abuse were parents’ marital status and history of receiving abuses from parents.Parents’ social statuses that were significantly related with child physical abuse wereeducation and occupation. Forms of abuses received by children were being pinched, beingbeaten, being hit or being tweaked.Keywords: Parents’ social status, child abuse* = Poltekkes Kemenkes Malang, Jurusan Kebidanan, Kampus JemberPENDAHULUAN Kekerasan pada anak/ child abuse/ child maltreatment adalah tindakan yang sengajadilakukan oleh orang tua atau pengasuh anak, bentuk kekerasan pada anak bisa berupaJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 82
  • 20. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098kekerasan fisik, seksual, emosional, dan penelantaran anak. Setiap orang tua sekali waktupasti pernah marah dalam menghadapi sikap dan perilaku anak yang menyulitkan tersebut.Banyak orang tua yang lepas kendali sehingga melakukan tindakan kekerasan fisik ataumengatakan sesuatu yang menyakiti serta membahayakan anak tersebut. Pelaku dan korban child abuse kebanyakan berasal dari kelompok sosial ekonomi yangrendah, faktor kemiskinan, tekanan hidup yang meningkat, kemarahan pada pasangan danketidak berdayaan dalam mengatasi masalah ekonomi menyebabkan orang mengalami stressyang berkepanjangan, menjadi sangat sensitif, mudah marah karena kelelahan fisik, sehinggamudah meluapkan emosinya pada anak-anak. Di Indonesia belum banyak data yang menggambarkan kekerasan yang terjadi padaanak. Kekerasan pada anak di Jawa Timur, menurut Lembaga Perlindungan Anak JawaTimur, mengalami peningkatan, pada tahun 2002 terdapat 81 kasus kekerasan seksual, 47kasus berkaitan dengan hukum dan kenakalan remaja, 38 kasus kekerasan fisik, 11 kasuskekerasa psikis, 4 kasus anak dibuang orang tuanya dan 2 kasus perdagangan perempuan.Data tersebut hanya merupakan puncak dari gunung es, faktanya bisa sepuluh kali bahkanseribu kalinya. Di Kabupaten Jember terjadi peningkatan kejadian, tercatat mulai tahun 2004sampai tahun 2007 tercatat 170 kasus, dengan berbagai tindak kekerasan pada anak. Penganiayaan fisik merupakan kategori paling umum yang terjadi di masyarakat,walaupun kebanyakan bukan hal yang serius. Beberapa penelitian menunjukkan adanyadampak negatif terhadap pertumbuhan anak..Penganiayaan fisik secara dini memprediksipermasalahan tingkah laku anak remaja, karena semua tindakan yang diterima anak-anakakan direkam dan terus sepanjang hidupnya. Dampak kekerasan fisik tidak hanyamenimbulkan bekas fisik, namun juga psikologis dan sosial, yang disebut post traumatic stressdisorder (PTSD). Keparahan dampak yang terjadi tergantung dari mulainya dan lamanyamendapat kekerasan. Semakin kecil usia mulainya, semakin parah dampak yang ditimbulkan. Studi pendahuluan melalui wawancara di Kecamatan Patrang, menunjukkan bahwa lebihdari 80% ibu-ibu mencubit, memukul dengan tangan kosong bila anak-anak dianggap nakalatau tidak mau menuruti perintah orang tuanya.METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik observasional dengan rancangan crosssectional, dilengkapi dengan pendekatan kualitatif untuk mengetahui alasan orang tuamelakukan tindakan kekerasan pada anaknya. Populasi penelitian adalah ibu-ibu yangmempunyai anak umur 3-6 tahun di Kecamatan Patrang. Pemilihan subyek penelitian secarapurposif, dengan teknik pengambilan sampel incidental sampling. Variabel bebas penelitian adalah status sosial orang tua pada pendidikan, pekerjaan,penghasilan, variabel luar adalah usia orang tua, status perkawinan orang tua, riwayatmendapat kekerasan pada orang tua, dan status anak dalam keluarga, sedangkan variabelterikat adalah kekerasan fisik pada anak. Analisa data dilakukan secara univariat, bivariatdengan Chi Square Test, dan multivariat dengan Uji Regresi Logistik dengan convidenceinterval 95% dan tingkat kemaknaan ρ<0,05..Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 83
  • 21. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANHasil Penelitian Analisa secara univariat disajikan pada Tabel 1 dan Tabel 2. Tabel 1.Karakteristik Responden Karakteristik N=164 % Pendidikan orang tua: - Tinggi 59 35,98 - Rendah 105 64,02 Pekerjaan: - Tinggi 19 11,59 - Rendah 145 88,41 Penghasilan: - 640.000 atau lebih 65 39,63 - 640.000 atau lebih 99 60,37 Umur ibu: - < 35 th 68 41.46 - ≥ 36 th 96 58.54 Status Perkawinan: - Kawin 113 68.90 - Janda/ duda 51 31.10 Riwayat mendapat kekerasan: -Tidak 46 28.05 -Ya 118 71.95 Status anak dalam keluarga: -Kandung 161 98.17 -Angkat 3 1.83 Anak yang mendapat kekerasan fisik: -Tidak 31 18,90 -Ya 133 81,10 Tabel 2. Jenis Kekerasan Fisik yang Diterima oleh Anak Jenis kekerasan N=164 % Dicubit Tidak 40 24.39 Ya 124 75.61 Dipukul dengan tangan kosong Tidak 52 31.71 Ya 112 68.29 Dipukul dengan alat (ikat pinggang,sapu) Tidak 142 86.59 Ya 22 13.41 Diguyur/disiram dengan air Tidak 146 89.02 Ya 18 10.98 Dikunci didalam kamar mandi Tidak 160 97.56 Ya 4 2.44 Dijewer Tidak 75 45.73 Ya 89 54.27 Ditampar Tidak 159 96.95 Ya 5 3.05 Ditendang Tidak 162 98.78 Ya 2 1.22 Disundut dengan rokok, benar kena Tidak 160 97.56 Ya 4 2.44 -Sekedar ditakut-takuti Tidak 156 95.12 Ya 8 4.88 Digigit Tidak 160 97.56 Ya 4 2.44Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 84
  • 22. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Analisis secara bivariat disajikan pada Tabel 3 sampai Tabel 7 (Catatan: Keterangan:RP= rasio prevalensi, CI= interval kepercayaan, dan P= p value, signifikan p<0,05).Tabel 3. Hubungan Antara Status Sosial Orang Tua dengan Kekerasan Fisik Pada Anak Variabel Kekerasan Pada Anak X2(df) RP CI P Tidak (%) Ya (%) Pendidikan -tinggi 19 (32,20) 40 (67,80) 10,64(1) 1,3 1,08-1,57 0,001 -rendah 12 (11,43) 93 (88,57) Pekerjaan -tinggi 9 (47,37) 10 (52,63) 11,36(1) 1,61 1,04-2,48 0,000 -rendah 22 (15,17) 123 (84,83) Penghasilan ->=640.000 15 (23,08) 50 (76,92) 1,22 (1) 1,08 0,92-1,27 0,268 -< 640.000. 16 (16,16) 83 (83,84)Tabel 3 menunjukkan bahwa variabel status sosial yang berhubungan dengan kekerasan fisikpada anak adalah pendidikan dan pekerjaan. Tabel 4. Hubungan Antara Usia Orang Tua, Status Perkawinan, Riwayat Mendapat Kekerasan, dan Status Anak dengan Pendidikan Orang Tua Variabel Pendidikan Orang Tua X2(df) RP CI P Tinggi Rendah Umur -≤35 th 27 (39,71) 41 (60,29) 0,70(1) 0,10 0,87-1,40 0,40 -≥36 th 32 (33,33) 64 (66,67) Status perkawinan orang tua -Kawin 40 (35,40) 73 (64,60) 3,31(1) 0,97 0,75-1,24 0,81 -Janda/duda 19(37,25) 32 (62,75) Riwayat mendapat kekerasan -Tidak 21 (45,65) 25 (54,35) 2,60(1) 1,24 0,93-1,67 0,10 -Ya 38 (32,20) 80(67,80) Status anak dalam keluarga -Kandung 57 (35,40) 104(64,60) 1,25(1) 0,51 0,10-2,56 0,26 -Angkat 2 (66,67) 1(33,33)Tabel 4 menunjukkan bahwa umur ibu, status perkawinan orang tua, riwayat mendapatkekerasan dan status anak dalam keluarga tidak berhubungan dengan pendidikan orang tua.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 85
  • 23. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Tabel 5. Hubungan Antara Usia Orang Tua, Status Perkawinan, Riwayat Mendapat Kekerasan, dan Status Anak dengan Pekerjaan Orang Tua Variabel Pekerjaan Orang Tua X2(df) RP CI P Tinggi RendahUmur -≤35 th 10 (14,71) 58 (85,29) 1,10(1) 1,06 0,94-1,19 0,29 -≥36 th 9 (9,38) 87 (90,63)Status perkawinan orangtua -Kawin 14 (12,39) 99 (87,61) 0,23(1) 1,02 0,91-1,15 0,63 -Janda/duda 5(9,80) 46 (90.20)Riwayat kekerasan -Tidak 6 (13,04) 40 (86,96) 0,13(1) 1,02 0,89-1,16 0,71 -Ya 13 (11,02) 105(88,98)Status anak dalam keluarga-kandung 17 (10,56) 144 (89,44) 9,05(1) 0,37 0,07-1,84 0,20-angkat 2 (66,67) 1 (33,33)Tabel 5 menunjukkan bahwa umur, status perkawinan orang tua, riwayat mendapat kekerasandan status anak dalam keluarga tidak berhubungan dengan pekerjaan orang tua. Tabel 6. Hubungan Antara Usia Orang Tua, Status Perkawainan, Riwayat Mendapat Kekerasan, dan Status Anak dengan Penghasilan Orang Tua Variabel Penghasilan Orang Tua X2(df) RP CI P Tinggi RendahUmur -≤35 th 24 (35,29) 44 (64,71) 0,91(1) 0,88 0,69-1,13 0,33 -≥36 th 41 (42,71) 55 (57,29)Status perkawinan orangtua -Kawin 44 (38,94) 69 (61,06) 0,07(1) 0,96 0,73-1,26 0,78 -Janda/duda 21(41,18) 30 (58,82)Riwayat kekerasan -Tidak 18 (39,13) 28 (60,87) 0,01(1) 0,98 0,75-1,30 0,93 -Ya 47 (39,83) 71(60,17)Status anak dalam keluarga-kandung 63 (39,13) 98(60,87) 0,93(1) 0,54 0,11-2,72 0,33-angkat 2 (66,67) 1(33,33)Tabel 6 menunjukkan bahwa umur, status perkawinan orang tua, riwayat mendapatkekerasan, dan status anak dalam keluarga tidak berhubungan dengan penghasilan orang tua.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 86
  • 24. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Tabel 7. Hubungan Antara Usia Orang Tua, Status Perkawinan, Riwayat Mendapat Kekerasan, dan Status Anak dengan Kekerasan Fisik Pada Anak Variabel Kekerasan pada Anak X2(df) RP CI P Ya TidakUmur -≤35 th 11(16,18) 57(83,82) 0,56(1) 0,94 0,81-1,09 0,45 -≥36 th 20(20,83) 76(79,17)Status perkawinan -Kawin 26(23,01) 87(76,99) 4,00(1) 1,17 1,02-1,34 0,04 -Janda/duda 5(9,80) 46(90,20)Riwayat kekerasan -Tidak 15(32,61) 31(67,39) 7,83(1) 1,28 1,03-1,58 0,005 -Ya 16(13,56) 102(86,44)Status anak-kandung 30(18,63) 131(81,37) 0,42(1) 0,81 0,36-1,82 0,51-angkat 1(33,33) 2(66,67)Tabel 7 menunjukkan bahwa status perkawinan orangtua dan riwayat mendapat kekerasanfisik pada orang tua berhubungan secara bermakna dengan kekerasan fisik pada anak. Analisis multivariat (Tabel 8) memilih model terbaik dalam menentukan hubungan statussosial orang tua dengan kekerasan fisik pada anak dengan memasukkan variabel luar. Hasiluji regresi logistik menunjukkan bahwa dari keempat model, model yang baik adalah model 4,disebabkan dengan memasukkan seluruh variabel tersebut dapat diketahui perubahan nilaibesarnya rasio prevalensi dan nilai R2 tertinggi, sehingga bisa memprediksi dengan tepatseberapa besar pengaruh variabel tersebut terhadap prevalensi kekerasan fisik pada anak. Tabel 8. Hasil Uji Regresi Logistik Status Sosial Orang Tua dengan Kekerasan Fisik pada Anak, Status Perkawinan Orang Tua, Riwayat Mendapat Kekerasan Variabel Model 1 Model 2 Model 3 Model 4 RP (95%CI) RP (95%CI) RP (95%CI) RP (95%CI) Status Sosial OrangTua: Pendidikan 3,3 3,3 2,8 3,0 (1,32-8,27) (1,35-8,51) (1,13-7,29) (1,18-7,71) Pekerjaan 4,7 4,4 4,9 4,6 (1,32-16,98) (1,22-16,44) (1,33-18,20) (1,22-17,30) Penghasilah 0,5 0,5 0,5 0,6 (0,17-1,55) (0,19-1,67) (0,19-1,73) (0,21-1,88) Status perkawinan 2,8 2,9 (0,98-8,40) (0,96-8,78) Riwayat kekerasan 2,8 2,8 (1,20-6,86) (1,18-6,88) R2 0,10 0,12 0,13 0,16 Devian 142,84 138,54 137,23 133,13 N 164 164 164 164 Dalam analisa secara kualitatif, hasil wawancara terhadap 4 ibu dengan status sosialberbeda, alasan melakukan tindakan kekerasan fisik pada anak adalah: ingin agar anakJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 87
  • 25. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098menuruti kemauan orangtua, lebih disiplin, tidak nakal, tidak mengulangi tindakan yang salahmenurut orang tua. Kutipan hasil wawancara tersebut antara lain sebagai berikut : ” Ya gimanalah Bu..., abis nakalnya minta ampun, kalau udah di cubit gitu dia kan ngerti, nanti kalau dia nakal lagi, kalau tangan saya udah kuangkat gini (ibu memperagakan mengangkat tangannya) dia akan ngerti kalau itu tidak boleh dilakukan, biasanya dia bilang gini Bu.. ma.. gak boleh ya ma..., iya adik gak boleh nakal” (Ny.If). ”Anak Saya itu kalau dikasih tahu Bu... mbantah terus, ndak ngerti-ngerti, sekali-kali kalau tindakannya salah, dia nakal ya diberi peringatan yang jelas dan tegas, kalau dipukul kan sakit, biar ndak mengulang lagi, biar disiplin Bu” (Ny.WS).Kutipan hasil jawaban apa pendapat ibu bila melakukan hal tersebut di atas, sebagai berikut : ” Ya ndak apa-apa kan hanya sekali aja, tapi akhirnya dia ngerti kalau dia ndak boleh nakal” (Ny.If). ” Kan masih dalam batas kewajaran Bu”(Ny.WS).Pembahasan Analisa bivariat membuktikan bahwa status sosial orang tua khususnya pendidikanberhubungan secara bermakna dengan kejadian kekerasan fisik pada anak. Prevalensikekerasan fisik pada anak lebih tinggi pada pendidikan orang tua yang rendah. Orang tuadengan tingkat pendidikan tertentu akan mempengaruhi pola pengasuhan kepada anak-anaknya. Pendidikan orang tua menentukan mudah tidaknya seseorang dalam menyerap danmemahami pengetahuan tentang pengasuhan anak, pendidikan orang tua juga sangatberpengaruh dalam memberikan kebutuhan psikologis anak-anaknya. Bila pengetahuan orangtua rendah mengenai kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan serta cara pengasuhanyang benar, orang tua akan mudah mengalami mispersepsi dalam menerima masukan ataupengetahuan tentang kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan anak selama masa tumbuhkembangnya, atau akan mudah terjadi miskomunikasi karena keterbatasan pengetahuandalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak, sehingga orang tua mudah memperlakukansalah dan menelantarkan anak-anaknya. Hasil di atas hampir sama dengan penelitianShojaeizadeh (2001), orang tua lebih mudah melakukan tindak kekerasan fisik pada anak ataumengurung anak-anak di dalam rumah, tidak mengijinkan anak bermain diluar rumah bilaorang tua sedang marah, tindakan ini disebabkan karena pendidikan orang tua yang rendah. Pekerjaan orang tua dengan kekerasan fisik pada anak juga berhubungan secarabermakna. Pekerjaan dan penghasilan yang rendah akan memberikan stressor tersendiri bagiorang tua. Orang tua yang sudah bekerja seharian di luar rumah berdampak pada kelelahanfisik, bila harus menghadapi tingkah laku anak-anaknya yang dinilai nakal, orang tua menjaditidak sabar, mereka tidak lagi menggunakan kata-kata dalam memberi tahu anak-anaknya,mudah meluapkan emosi kepada anak-anaknya dengan langsung menggunakan kekerasanfisik. Penelitian ini hampir sama dengan penelitian Lancford.. Orang tua dengan pekerjaan yang tinggi mengajarkan anak-anaknya bersemangatbelajar, mencintai dan terbuka pada orang tua, gembira serta bekerja sama, orang tua lebihmemperhatikan dinamika diri si anak, bila anak berbuat kesalahan bukan hukuman fisik yangdiberikan oleh orang tuanya. Berbeda dengan orang tua dengan status sosial yang rendah,dalam mendidik anaknya lebih cenderung untuk mematuhi aturan-aturan yang diberikan dariJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 88
  • 26. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098luar/berdasarkan norma-norma yang berlaku di masyarakat, orang tua takut kalau anak-anaknya dinilai salah oleh orang lain, bila anak salah orang tua langsung menghukum anaktanpa melihat sebab-sebabnya dan hukuman yang diberikan sering berbentuk hukuman fisik. Variabel luar yang berhubungan secara bermakna dengan kekerasan fisik pada anakadalah status perkawinan orang tua. Status orang tua tunggal atau anak-anak dirawat olehayah atau ibu tiri, mudah memberikan stimulus emosi orang tua yang akan dilampiaskankepada anak-anaknya. Orang tua tunggal memiliki peluang tinggi untuk melakukan tindakankekerasan fisik pada anak-anaknya. Keadaan ini sesuai dengan teori Mann et al. Riwayat mendapat kekerasan pada orang tua juga berhubungan secara bermaknadengan kekerasan fisik pada anak. Orang tua yang mempunyai pengalaman disakiti ataumengalami kekerasan pada masa kecilnya akan tumbuh menjadi seseorang yang mempunyaikecenderungan untuk melakukan hal-hal yang pernah dilakukan terhadap dirinya kepadaorang lain, yaitu anak-anaknya. Semua tindakan kekerasan yang diterima pada masa kanak-kanaknya akan direkam dalam alam bawah sadar dan akan dibawa sampai pada masadewasa, dan terus sepanjang hidupnya. Anak-anak yang mendapat kekerasan dari orangtuanya akan menjadi sangat agresif dan ketika menjadi orang tua, akan menjadi orang tuayang kasar pula kepada anak-anaknya. Seperti hasil penelitian Coohey, orang tua denganriwayat mendapat kekerasan/paparan agresi dari orang tuanya, akan menjadikan pengalamanmasalalunya model dalam mendidik anak-anaknya. Umur ibu tidak berhubungan dengan tindakan kekerasan fisik pada anak. Hasil inibertolak belakang dengan teori Bethea, bahwa orang tua yang masih muda, belum matangsecara emosi, belum mempunyai pengalaman dalam merawat anak, tidak memahami akankebutuhan tumbuh kembang anaknya dan kemungkinan akan menolak perannya sebagaiorang tua, yang berakibat pada penolakan kehadiran anaknya, sehingga menimbulkantindakan perlakuan salah dan penelantaran anak-anaknya. Status anak dalam keluarga juga tidak berhubungan secara bermakna dengankekerasan fisik. Status anak dalam keluarga seperti anak anak angkat atau anak yang tidakada hubungan secara biologis dengan orang tua, akan cenderung diperlakukan sama dengananak yang hidup dengan ayah atau ibu tiri. Kondisi ini mudah memicu tindak kekerasan fisikdan psikis. Bila stress, orang tua mudah menghardik, memukul, melecehkan anak. Orang tuaakan susah memberikan kehangatan kepada anak dengan sekedar bercanda, memeluk anakpada saat gelisah dan membutuhkan ketentraman batinnya, apalagi jika orang tua berfikirbahwa anak bukan darah dagingnya, sehingga anak menjadi tempat pelampiasan stress. Hasil wawancara tentang alasan orang tua melakukan tindakan kekerasan fisik padaanaknya adalah agar anak-anaknya lebih disiplin, tidak nakal, menuruti perintah orang tuanya.Orang tua tak menyadari bahwa larangan itu tak hanya membatasi kebebasan anak, tetapijuga berdampak secara psikologis, anak menjadi ragu dan takut untuk melakukan sesuatu,rasa ingin tahunya ditekan karena takut mendapat hukuman fisik. Inisiatif dan kreasinyamenjadi tumpul karena harus menunggu persetujuan orang tua bila ingin melakukan sesuatu.SIMPULAN DAN SARAN Simpulan penelitian adalah: 1) Prevalensi kekerasan fisik pada anak lebih tinggi padapendidikan dan pekerjaan orang tua yang rendah, 2) Tidak ada hubungan bermakna antaraJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 89
  • 27. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098penghasilan orang tua dengan kekerasan fisik pada anak, 3) Kekerasan fisik yang banyakditerima anak adalah: dicubit, dipukul dengan tangan kosong, dijewer, dipukul dengan alat adasebagian kecil disundut dengan rokok, 4) Faktor luar yang berhubungan dengan kekerasanfisik pada anak adalah status perkawinan orang tua dan riwayat mendapat kekerasan padaorang tua, 5) Alasan orang tua melakukan tindakan kekerasan fisik pada anak adalahmenegakkan disiplin, agar tidak nakal, dan mau menuruti perintah. Saran berdasarkan hasil penelitian adalah: 1. Bagi Pusat Perlindungan Perempuan danAnak agar meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kekerasan fisik pada anak, baikbentuk kekerasan, risiko terhadap kekerasan, dampak dari kekerasan, bisa melaluipenyuluhan lewat media cetak, elektronik maupun penyuluhan kelompok, 2) Bagi guru,lembaga pemerhati kesejahteraan dan perlindungan anak, agar peka terhadap tanda-tandaanak mengalami tindak kekerasan fisik, sehingga dapat dicegah sedini mungkin, 3) BagiPemerintah Daerah dan Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak lebih menggalakkansosialisasi Undang-Undang Perlindungan Anak, sehingga masyarakat paham bahwa anakmereka terlindungi secara hukum dari bentuk kekerasan apapun dan oleh siapapun.DAFTAR PUSTAKAMcDonald KC. Child Abuse: Approach and Management, American Academy of Family Physicians. 2007. www.aafp/afp (15 Januari 2007)Littell JH, Girvin H. Correlate of problem recognition and intentions to change among caregivers of abused and neglected children, Child Abuse & Neglect; 2006; 30:1381-1399.Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (2007) Kekerasan pada Anak Dilakukan Terselubung. 2007. (11 September 2007)Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak. 2007.Gibbons J, Galagher B, Bell C, Gordon D. Medicine and books Development after Physical Abuse in Early Childhood. BMJ, 1995;311:1175 .Lanncford JE. A 12-Year Prospective Study of Early Child Physical Maltreatment on Psychological, Behavioral, and Academic Problem in Adolescence. Arch Pediatric Aolescent Med. 2002; 156:824-830.Tell SJ, Pavkov T, Hecker L, Fontaine KL. Adult Survivors of Child Abuse: An Application of John gottman’s Sound Marital House Theory, Contemp Fam Ther, 2006;28:225-238.Su’adah. Sosiologi Keluarga. Malang; 2005.Mann D, Corell AP, Dobson CL, Perry BD. Physical abuse of children, Encyclopedia, Child Trouma Academy; 2001.Coohey C, Braun N. Toward an Integrated Framework for Understanding Child Physical Abuse, Child Abuse & Neglect. 1997; 21 (11): 1081-1094.Bethea L. Primary Prevention of Child Abuse. American Family Phisicion. 1999.Shojaeizadeh D. Child Abuse in the Family: An Analytical Study. Dept. of Public Health Administration, School of Public Health and Institute of Public Healh Researchs, Tehran University of Medical Sciences. 2001Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 90
  • 28. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 PERBEDAAN KEJADIAN ABORTUS BERDASARKAN PARITAS DI RSIA AURA SYIFA KABUPATEN KEDIRI Koekoeh Hardjito*, Temu Budiarti*, Yuni Mada Nurika* ABSTRACT Mortality and morbidity at pregnant woman and birthing is a big problem in developingcountries. Sometime pregnancy end ahead of schedule and sometimes exceed the normaltime. Abortus off the cuff is abortus that happened naturally without external intervention(brand) to terminate the pregnancy. There are some the factors of the happening of abortus,for example mother age and parity factor, have the major effect. As for intention of thisresearch is to know difference of occurence abortus pursuant to parity in RSIA Aura SyifaKabupaten Kediri in January up to December 2009. This research of the survey having thecharacter of analytic (analytical) with retrospective study that trying look backward to.Population is all data record the natural pregnant patient sis abortus in RSIA Aura SyifaKabupaten Kediri at period of 1 January up to 31 December 2009 counted 177 cases. Sampelis some of data record the natural mother sis abortus in RSIA Aura Syifa Kabupaten Kediri atperiod of 1 January up to 31 December 2009 equal to 123 cases. And result off natural motherparity abortus at most happened at nullipara, sequence hereinafter primipara, multipara, andgrandemultipara. Type Abortus a lot happened at parity zero (nullipara) come up with the parity≥ 4 (Grandemultipara) are abortus incomplete. With result analyse x2 count bigger than x2 thetables of so that is difference of occurence abortus pursuant to parity.Keyword: Abortus, Parity* = Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang, Jurusan Kebidanan, Kampus KediriPENDAHULUANLatar belakang masalah Kematian ibu adalah masalah yang kompleks (Saifudin, dkk. 2002). Menurut WHO, dinegara-negara miskin dan sedang berkembang, kematian ibu antara 750-1.000 per 100.000kelahiran hidup. Sedangkan di negara-negara maju, angka kematian maternal berkisar 5-10per 100.000 kelahiran hidup (Widyastuti & Dina, 2008). Angka Kematian Ibu di Indonesiamasih menempati posisi tertinggi di negara ASEAN. AKI di Indonesia (2002) sebesar 307 per100.000 kelahiran. Berdasarkan hasil berbagai survei, di Provinsi Jawa Timur, pada tahun2003 tercatat sekitar 446 kasus kematian maternal dan jumlah ini turun menjadi 326 kasuspada tahun 2008 (Badan Pusat Statistik Jawa Timur 2008). AKI di Indonesia masih didominasi oleh sebab perdarahan (42%), eklamsi (13%) dan infeksi (10%) (BKKBN 2005). Masalah abortus dikemukakan kaitannya dengan tingginya angka kematian ibumelahirkan (Supriyanto Khafid, 2007). Menurut data WHO persentase kemungkinan terjadinyaabortus cukup tinggi. Sekitar 15–40%, diketahui pada ibu yang sudah dinyatakan positif hamil,dan 60–75% abortus terjadi sebelum usia kehamilan mencapai 12 minggu (LestariningsihJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 91
  • 29. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-30982008). Menurut Siswanto, lebih dari 90% abortus di negara-negara sedang berkembangdilakukan tidak aman, sehingga berkontribusi 11-13% terhadap kematian maternal di dunia. Di Indonesia, diperkirakan 2 – 2,5 % juga mengalami keguguran setiap tahun, sehinggasecara nyata dapat menurunkan angka kelahiran menjadi 1,7 pertahunnya (Manuaba, 2001).Menurut Pangkahila, abortus di Indonesia masih cukup tinggi dibanding dengan negara-negara maju di dunia, yakni 2,3 juta abortus per tahun. Sulit untuk mengidentifikasi dengantepat seberapa sering keguguran terjadi (Henderson, 2005). Hal ini diperkirakan merupakanbagian kecil dari kejadian yang sebenarnya, sebagai akibat ketidakterjangkauan pelayanankedokteran modern yang ditandai oleh kesenjangan informasi (Widyastuti & Dina, 2008). Menurut Cunningham (2000) ada beberapa faktor predisposisi terjadinya abortus,misalnya faktor paritas dan usia ibu, mempunyai pengaruh besar. Frekuensi meningkatbersamaan dengan meningkatnya angka graviditas, 6% kehamilan pertama atau keduaberakhir dengan abortus, angka ini meningkat menjadi 16% pada kehamilan ketiga danseterusnya (Llewellyn-Jones, Derek 2001). Menurut Warburton Frases & Wilson, resikoabortus kelihatannya semakin meningkat dengan bertambahnya paritas disamping dengansemakin lanjutnya usia ibu serta ayah (Cunningham 2005). Dari studi pendahuluan di RSIA Aura Syifa Kediri tanggal 23 November sampai dengan12 Desember 2009, terdapat 16 kasus abortus, 6 kasus di antaranya terjadi pada primigravida(37,5%), 7 kasus pada multipara (43,75) dan 3 (18,75%) pada grandemultipara.Tujuan penelitian Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbedaan kejadian abortus berdasarkanparitas di RSIA Aura Syifa Kabupaten Kediri.BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian survei analitik dengan rancangan studi retrospektif.Penelitian dilaksanakan di RSIA Aura Syifa pada bulan Mei 2010. Populasi penelitian adalahseluruh data rekam medik pasien ibu hamil yang mengalami abortus di RSIA Aura SyifaKabupaten Kediri pada periode 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2009 sebanyak 177kasus, dengan sampel sebesar 123. Teknik sampling yang digunakan adalah simple randomsampling. Data diperoleh dengan cara studi dokumentasi dari catatan medik. Analisismenggunakan Uji Chi Kuadrat satu sampel untuk mengestimasi atau mengevaluasi frekuensiyang diselidiki atau menganalisa hasil observasi untuk mengetahui apakah terdapatperbedaan yang signifikan pada penelitian yang menggunakan data nominal.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANHasil penelitian Tabel 1 menunjukkan bahwa mayoritas abortus terjadi pada nullipara. Tabel 2menyajikan perbedaan kejadian abortus berdasarkan paritas. Hasil Uji Chi Kuadratmenunjukkan X2 hitung 43,14, dengan taraf kesalahan 5% dan dk=3. Nilai tersebut > X 2 Tabel(7,815). Dengan demikian Ho ditolak yang berarti terdapat perbedaan kejadian abortusberdasarkan paritas di RSIA Aura Syifa Kabupaten Kediri .Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 92
  • 30. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Tabel 1. Distribusi frekuensi kejadian abortus berdasarkan paritas ibu No. Paritas Frekuensi Persentase 1. Nullipara 50 40,65 2. Primipara 42 34,15 3. Multipara 29 23,56 4. Grandemultipara 2 1,63 Jumlah 123 100 Tabel. 2 Jenis Abortus Berdasarkan Paritas No Jenis Abortus Nullipara Primipara Multipara Grandemultipara f % f % f % f % 1 Abortus Imminens 12 24 10 23,81 4 13,79 0 0 2 Abortus Insipiens 6 12 2 4,76 1 3,44 1 50 3 Abortus Inkomplit 31 62 29 69,04 23 79,32 1 50 4 Abortus Komplit 0 0 0 0 0 0 0 0 5 Abortus Habitualis 0 0 0 0 0 0 0 0 6 Missed Abortion 1 2 1 2,38 1 3,44 0 0 Jumlah 50 100 42 100 29 100 2 100Pembahasan Banyaknya kasus abortus yang dirawat di RSIA Aura Syifa Kabupaten Kediri sesuaidengan dengan pernyataan Pangkahila bahwa abortus di Indonesia masih cukup tinggidibanding dengan negara-negara maju di dunia, yakni mencapai 2,3 juta abortus per tahun(Widyastuti & Dina 2008). Menurut WHO 15-50% kematian ibu disebabkan oleh abortus.Komplikasi abortus berupa perdarahan atau infeksi dapat menyebabkan kematian. Itulahsebabnya mengapa kematian ibu yang disebabkan abortus sering tidak muncul dalam laporankematian, tapi dilaporkan sebagai perdarahan atau sepsis (Azhari, 2002 dalam Nisa, 2009). Pada Tabel 1 disebutkan frekuensi tertinggi abortus terjadi pada Nullipara (paritas 0)yaitu sebesar 50 kasus (40,65%) dan yang terendah pada Grandemultipara (paritas ≥ 4)sejumlah 2 kasus (1,63%). Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakanbahwa risiko abortus semakin besar dengan bertambahnya paritas dan semakin besar denganbertambahnya usia ibu dan ayah. Menurut Cunningham (2000) ada beberapa faktor yangmerupakan predisposisi terjadinya abortus, misalnya faktor paritas dan usia ibu, mempunyaipengaruh besar. Teori lain menyebutkan bahwa frekuensi abortus meningkat bersamaan denganmeningkatnya angka graviditas, 6% kehamilan pertama atau kedua berakhir dengan abortus,angka ini meningkat menjadi 16% pada kehamilan ketiga dan seterusnya (Llewellyn-Jones,Derek 2001). Menurut Warburton Frases & Wilson, resiko abortus nampaknya semakinmeningkat dengan bertambahnya paritas di samping dengan semakin lanjutnya usia ibu danayah (Cunningham 2005). Dalam kenyataan di RSIA Aura Syifa Kediri, frekuensi abortus kecenderungannya palingbanyak terjadi pada Nullipara. Faktor paritas memang bukan satu-satunya predisposisiJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 93
  • 31. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098terjadinya abortus karena abortus disebabkan oleh faktor yang kompleks. Jadi, meskipunseorang wanita hamil berada pada paritas yang menguntungkan atau berada pada kondisiparitas yang baik (resiko rendah), kemungkinan bisa juga terjadi abortus karena faktor lain. Faktor paritas mungkin tidak begitu berpengaruh sebagai pencetus terjadinya abortus diRSIA Aura Syifa Kabupaten Kediri karena dari hasil yang didapat menyatakan bahwa tertinggiinsidennya pada Nullipara. Banyaknya Nullipara dibandingkan dengan Grandemultipara, dapatdipahami sebagai fenomena yang bisa kita temui pada zaman sekarang. Pada zaman dulusering dijumpai banyak ibu-ibu dengan anak banyak, namun pada saat ini kesadaran ibu akanprogram Keluarga Berencana sudah baik dan prinsip banyak anak banyak rezeki sudah mulailuntur, karena biaya hidup juga semakin tinggi. Maka dari itu, ibu berpikir untuk membatasijumlah anak sehingga jumlah ibu dengan banyak anak sekarangpun mulai berkurang. Olehsebab itu, bisa dimengerti jika kejadian abortus tertinggi pada Nullipara karena kuantitasGrandemultipara yang masih produktif untuk hamil pada zaman sekarang ini jarang ditemui. Menurut hasil penelitian lain, wanita primigravida akan mengalami gugurnya kehamilansebesar 5,6 % dan wanita yang telah memiliki anak akan terjadi abortus sebesar 2,2% padakehamilan berikutnya (Darmayanti 2009 dalam Nisa 2009). Dari penelitian tersebut, terdapatkesamaan dengan hasil penelitian di RSIA Aura Syifa Kabupaten Kediri yang menyatakanbahwa kejadian abortus paling banyak terjadi pada wanita Nullipara. Dari Tabel 2 didapatkan hasil yang menyatakan bahwa klasifikasi atau jenis abortusyang frekuensinya paling banyak pada nullipara sampai pada grandemultipara adalah abortusinkomplit (pada grandemultipara seimbang dengan abortus insipiens). Kebanyakan abortusyang terjadi mengarah pada gejala abortus inkomplit dengan salah satu tanda bahwa buahkehamilan tidak dikeluarkan seutuhnya. Jaringan janin di dalam rahim yang tidak keluarsempurna itulah yang membahayakan nyawa ibu karena potensi perdarahannya lebih besarsehingga resiko kematian maternalnya juga lebih besar. Kebanyakan abortus spontan terjadi segera setelah kematian janin, diikuti denganperdarahan ke dalam desidua basalis, lalu terjadi perubahan-perubahan nekrotik pada daerahimplantasi, infiltrasi sel-sel peradangan akut, dan akhirnya perdarahan pervaginam. Buahkehamilan terlepas seluruhnya atau sebagian yang diinterpretasikan sebagai benda asingdalam rongga rahim. Hal ini menyebabkan kontraksi uterus dimulai, dan segera setelah itu,terjadi pendorongan benda asing itu keluar rahim (ekspulsi) (Sastrawinata, 2004). Pada banyak kasus, jaringan plasenta yang tertinggal sekedar menempel di kanalisservikalis dan dapat dikeluarkan dari os eksterna yang terpapar dengan forceps cincin atauovum. Wanita dengan tahap kehamilan lebih lanjut, atau yang mengalami perdarahan besarharus dirawat inap dan jaringan yang tertinggal segera dikeluarkan (Darmayanti, 2009 dalamNisa, 2009). Sebelum minggu ke-10, hasil konsepsi biasanya dikeluarkan dengan lengkap. Hal inidisebabkan sebelum minggu ke-10 vili korialis belum menanamkan diri dengan erat ke dalamdesidua hingga telur mudah terlepas keseluruhannya. Antara minggu ke-10-12 korio tumbuhdengan cepat dan hubungan vili korialis dengan desidua makin erat hingga mulai saat tersebutsering sisa-sisa korion (plasenta) tertinggal jika terjadi abortus (Sulaiman Sastrawinata 2004).Abortus 80% terjadi pada kehamilan trimester pertama dan insiden menurun sejalan denganmeningkatnya umur kehamilan (Cunningham 2005 dalam Nisa 2009).Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 94
  • 32. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Hasil uji Chi Kuadrat satu sampel menunjukkan bahwa ada perbedaan kejadian abortusberdasarkan paritas. Karakteristik yang dimiliki Nullipara (wanita yang pertama kali hamil ataubelum pernah melahirkan bayi aterm) umumnya belum memiliki pengalaman yang matangterhadap kehamilannya. Untuk wanita yang baru pertama kali mengandung, pengalamanlangsung terhadap kehamilannya sama sekali belum dimiliki karena wanita tersebut barumenjalani kehamilannya yang pertama. Sedangkan wanita yang pernah hamil tetapi ditengahpertumbuhan kehamilannya mengalami gangguan sehingga belum pernah melahirkan bayiaterm, setidaknya telah memiliki satu pengalaman langsung. Akan tetapi, pengalamankehamilan itu tidak mempunyai manfaat yang berarti jika wanita hamil tidak mempunyai cukupwawasan tentang segala sesuatu terkait dengan kehamilan yang sehat. Sehingga bisamenyebabkan kecerobohan yang merugikan kehamilannya sendiri. Salah satu contoh adalahaktivitas berhubungan seksual ibu hamil yang dilakukan pada Trimester I. Pada saatberhubungan seksual, sel sperma mengandung hormone prostaglandin yang merangsangkontraksi uterus sehingga bisa mengancam gugurnya buah kehamilan. Selain itu, faktorpekerjaan, tempat tinggal dan paparan zat-zat berbahaya juga berpengaruh terhadapterjadinya abortus pada nullipara. Dari hasil penelitian, diketahui bahwa frekuensi terendah kejadian abortus terjadi padaGrandemultipara dimana secara teori justru paritas ≥ 4 ini mempunyai prognosis burukterhadap kehamilannya. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Purwanti, Grandemultiparitas memiliki risiko kematian ibu maupun janin yang lebih tinggi, sehingga sedapatmungkin angka kejadian grande multiparitas harus ditekan. Karakteristik ibu terutama paritasberpengaruh terhadap pemilihan jenis persalinan dan luaran bayinya. Hasil penelitiannyamenunjukkan bahwa paritas tinggi meningkatkan kejadian SC sebesar 33%, forseps 27%, danvakum 22%. Hasil ini diperkuat oleh Oxorn dalam penelitiannya pada tahun 2006 memperolehbahwa grande multiparitas meningkatkan angka kejadian seksio sesarea sebesar 3,2 kali lipat.Tingginya kejadian grande multiparitas dipengaruhi pula oleh faktor sosial. Asumsi masyarakatatau anggapan masyarakat terhadap banyak anak banyak rezeki akan sangat mempengaruhiterhadap keinginan suami istri mengenai pengaturan jumlah anak, sehingga seringkalikehamilan dianggap hal yang mudah, biasa saja, dan umum, terutama di daerah pedesaanakan dianggap tidak lumrah bila sebuah keluarga memiliki anak sedikit (Armawan. 2008).SIMPULAN DAN SARAN Simpulan penelitian adalah: 1) Terdapat perbedaan kejadian abortus berdasarkanparitas, 2) Kejadian abortus berdasarkan paritas di RSIA Aura Syifa Kabupaten Kedirifrekuensi tertinggi terdapat pada Nullipara (paritas 0), frekuensi tertinggi kedua adalahPrimipara, urutan berikutnya Multipara, dan angka kejadian paling rendah Grandemultipara. Saran yang diajukan adalah: 1) Diharapkan setelah mengetahui fenomena di atas, pihakrumah sakit dapat lebih waspada dan meningkatkan pelayanan kesehatannya terutamaterhadap penanganan abortus, mengingat angka kejadian abortus masih tinggi dan banyakfaktor yang menjadi penyebabnya, 2) Diharapkan peneliti selanjutnya yang melakukanpenelitian mampu menggunakan variabel lebih luas untuk menjangkau faktor-faktorpredisposisi kejadian abortus.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 95
  • 33. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098DAFTAR PUSTAKAAbdul Bari Saifudin, dkk. (2006) Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.A. Aziz Alimul Hidayat. (2007) Metode Penelitian Kebidanan & Teknik Analisis Data. Jakarta: Penerbit Salemba Medika.Bobak, Lowdermilk, Jensen. (2001) Maternity Nursing, Mari A. Wijayarini & Peter I. Anugerah. (2004) (Alih Bahasa), Jakarta: EGC.Budiman Chandra. (2008) Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: EGC.Cunningham, F. Garry. (2005) Obstetri William (vol2). Jakarta: EGC.Dorland. (2002) Kamus Kedokteran. Jakarta: EGC.Edwin Armawan. “Gambaran Jenis Persalinan Dan Hasil Luaran Bayi pada Grandemultipara.” 2008.Ema Wahyu Ningrum, dkk. “Hasil Luaran Janin pada Ibu Pasca Abortus di Rumah Sakit dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2004“. 24 Januari 2008.<http://rofiqahmad.wordpress.com> diakses tanggal 7 Pebruari 2010 pukul 14.30 WIB.Hacker & Moore. (2001) Essentials of Obstetrics and Gynecology, Edy Nugroho. (2001) (Alih Bahasa), Jakarta: Hipokrates.James, D.K. (2001) High Risk Pregnancy .United Kingdom: W.B.Saunders.LKI FK UB. “Banyak Anak: Musibah atau Anugerah? Multipara Ditinjau dari Segi Kesehatan dan Agama Islam.” 23 Maret 2008.<http://redtea4u.multiply.com/journal/item/57> diakses tanggal 31 Juni 2010 pukul 18.12 WIB.Llewellyn-Jones, Derek. (2001) Fundamentals of Obstetrics and Gynecology, Hadyanto. (2001) (Alih Bahasa), Jakarta: Hipokrates.Manuaba. (2001) Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan KB. Jakarta: EGC.Nisa. “Gambaran Karakteristik Ibu yang Mengalami Abortus di RSUD Pandan Arang Boyolali”. 26 Juli 2009<http://nisa.wordpress.com> diakses tanggal 31 Mei 2010 pukul 18.07 WIB.Nursalam. (2008) Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan (Edisi 2). Jakarta: Salemba Medika.Sarwono Prawirohardjo. (2006) Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka-Sarwono Prawirohardjo.Soekidjo Notoatmodjo. (2005) Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.Sulaiman Sastrawinata. (2004) Ilmu Kesehatan Reproduksi: Obstetri Patologi. Jakarta: EGC.Varney, Helen. (2007) Varney’s Midwifery (4th ed.), Laily Mahmudah & Gita Trisetyati. (2001) (Alih Bahasa), Jakarta: EGC.Walsh, Linda V. (2001) Midwifery Community–Based Care During the Childbearing Year. United States of America: W.B Saunders Company.Widyastuti & Dina, “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Abortus”. (2008).<http://images.arikbliz.multiply.multiplycontent.com/attachment>, diakses tanggal 07 Februari 2010 pukul 21.00 WIB.Yuni Kusmiyati, dkk. (2008) Perawatan Ibu Hamil. Yogyakarta: FitramayaJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 96
  • 34. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 STUDI TENTANG SANITASI RUMAH PENDERITA TB PARU DI WILAYAH PUSKESMAS KARANGREJO KABUPATEN MAGETAN TAHUN 2009 Mujiyono*, Tiya Rahmawati* ABSTRAK Rumah merupakan sarana untuk bakteri berkembang biak dan sarana penyebaranpenyakit, oleh karena itu sanitasi rumah perlu dijaga dengan baik. Sanitasi rumah yang tidakmemenuhi syarat dapat menunjang penyebaran penyakit TB Paru. Oleh karena itu penelitianini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keadaan sanitasi rumah penderita TB Paruditinjau dari parameter fisik di wilayah Puskesmas Karangrejo Kabupaten Magetan. Penelitian ini merupakan penelitian desktriptif. Metode penelitian adalah total populasiyaitu semua rumah penderita TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Karangrejo sebanyak 26rumah. Analisa data menggunakan metode scoring dan analisa tabel secara proporsional.Hasil penelitian dibagi menjadi dua kategori yaitu memenuhi syarat dan tidak memenuhisyarat. Berdasarkan hasil pengukuran pencahayaan sebagian besar tidak memenuhi syarat(77%), sinar matahari yang masuk dalam rumah sebagian besar ada (65%), suhu sebagianbesar memenuhi syarat (62%), kelembaban semua memenuhi syarat (100%), kepadatanpenghuni rumah sebagian besar memenuhi syarat (73%), kecepatan angin sebagian besarmemenuhi syarat (54%), ventilasi sebagian besar tidak memenuhi syarat (69%), dankebersihan lingkungan rumah sebagian besar tidak memenuhi syarat (85%). Berdasarkanhasil penilaian keadaan sanitasi rumah penderita TB Paru di wilayah Puskesmas Karangrejosebagian besar tidak memenuhi syarat (81%). Berdasarkan hasil penilaian sebaiknyamasyarakat Karangrejo melakukan perbaikan sanitasi rumah lebih giat untuk mencegahpenyebaran penyakit TB ParuKata Kunci: TB Paru, sanitasi*= Poltekkes Kemenkes Surabaya, Jurusan Kesehatan Lingkungan, Kampus MadiunPENDAHULUANLatar Belakang Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacteriumtuberculosis, bakteri aerob, berbentuk batang, yang tidak membentuk spora. Walaupun tidakmudah diwarnai, jika telah diwarnai bakteri ini tahan terhadap pelunturan warna (dekolarisasi)asam atau alkohol, oleh karena itu dinamakan bakteri tahan asam atau basil tahan asam.Sebagian besar kuman Tuberculosis menyerang paru, tetapi juga dapat menyerang organ laindi dalam tubuh. Secara khas kuman membentuk granuloma, dalam paru menimbulkannekrosis atau kerusakan jaringan (Achmadi, 2005 : 274). Sampai dengan saat ini penyakit tuberkulosis masih menjadi masalah prioritas yangharus ditangani dengan serius. Karena penyakit tuberkulosis merupakan penyebab kematianJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 97
  • 35. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098nomor tiga setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan. Menurut WHOtahun 1999, di Indonesia diperkirakan setiap tahun terjadi 583.000 kasus baru tuberkulosisdengan kematian sekitar 140.000 orang (Depkes RI, 2002 : 2). Penyakit tuberkulosis sebagianbesar menyerang kelompok usia kerja produktif, kelompok ekonomi lemah dan berpendidikanrendah. Selain itu penyakit tuberkulosis erat kaitannya dengan sanitasi rumah dan lingkungan. Kondisi sanitasi rumah dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatanmerupakan faktor risiko sumber penularan penyakit tuberkulosis. Hasil penelitian yangdilakukan di luar negeri menyatakan bahwa masyarakat yang tinggal di perumahan substandart angka kesakitan penyakit TB Paru delapan kali lebih tinggi. Dan suatu penelitian diSulawesi Selatan menunjukkan adanya hubungan erat antara penghawaan atau ventilasi dankepadatan penghuni rumah dengan angka kesakitan penyakit TB Paru (Depkes RI, 1995). Kondisi sanitasi rumah yang tidak memenuhi syarat yang berkaitan dengan penyebaranpenyakit TB Paru antara lain pencahayaan alami yang kurang memenuhi syarat, maka rumahmenjadi gelap dan lembab, oleh sebab itu Mycobacterium tuberculosis akan mudahberkembang biak di dalam rumah. Pencahayaan alami yang kurang memenuhi syarat dapatdisebabkan oleh beberapa hal antara lain di rumah tersebut ada jendela tetapi tidak pernahdibuka atau tidak ada jendela sama sekali. Rumah yang lembab selain karena pencahayaanalami yang kurang memenuhi syarat juga dipengaruhi oleh ventilasi dan cahaya atau sinarmatahari yang masuk dalam rumah. Ventilasi yang tidak memenuhi syarat akanmengakibatkan sirkulasi udara di dalam rumah tidak lancar dan sinar matahari tidak dapatmasuk dalam rumah sehingga rumah menjadi lembab. Sinar matahari sangat penting karenadapat membunuh bakteri penyebab tuberkulosis. Oleh karena itu kondisi sanitasi rumahsangat berperan penting dalam penularan penyakit TB Paru. Kecamatan Karangrejo Magetan termasuk wilayah pedesaan dengan cakupan rumahsehat/rumah yang sudah memenuhi persyaratan kesehatan sebanyak 3.865 rumah (64,90%)dari jumlah rumah keseluruhan yaitu 5.955 rumah. Dari data tersebut dapat diketahui bahwamasih banyak rumah di Kecamatan Karangrejo yang belum memenuhi persyaratan kesehatanatau belum memenuhi kriteria rumah sehat yaitu sekitar 2.090 rumah (sebesar 35,09%). Berdasarkan data P2M (Pemberantasan Penyakit Menular) TB Paru Dinas KesehatanKabupaten Magetan angka kesakitan TB Paru pada tahun 2008 di wilayah PuskesmasKarangrejo adalah tertinggi di seluruh wilayah Kabupaten Magetan yaitu sebanyak 31penderita dengan BTA positif. Sedangkan menurut data dari Puskesmas Karangrejo padatahun 2008 terdapat 20 penderita TB Paru dengan BTA positif dan pada tahun 2009 dari bulanJanuari sampai dengan April telah diketahui terdapat 6 kasus baru dengan BTA positif.Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian Rumusan masalah penelitian ini adalah: “Bagaimana keadaan sanitasi rumah penderitaTB Paru di wilayah Puskesmas Karangrejo Kabupaten Magetan tahun 2009?” Sedangkan tujuan penelitian adalah menilai keadaan sanitasi rumah penderita TB Paruditinjau dari parameter fisik yaitu: pencahayaan, sinar matahari yang masuk dalam rumah,suhu, kelembaban, kepadatan penghuni rumah, kecepatan angin, ventilasi, dan kebersihanlingkungan rumah.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 98
  • 36. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098BAHAN DAN METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah deskriptif untuk memperoleh gambaran keadaan sanitasirumah penderita TB Paru ditinjau dari parameter fisik. Variabel penelitian adalah penderita dankeadaan sanitasi rumah ditinjau dari parameter fisik yaitu: sinar matahari yang masuk ke dalamrumah, suhu, kelembaban, kepadatan penghuni rumah, kecepatan angin, ventilasi, kebersihanlingkungan rumah. Populasi penelitian adalah seluruh rumah penderita TB Paru di wilayahPuskesmas Karangrejo Kabupaten Magetan sebanyak 26 rumah, dan seluruhnya diteliti (totalpopulasi). Pengolahan dan analisa data dengan cara scoring, untuk memperoleh hasilpenelitian keadaan sanitasi rumah penderita TB Paru dengan menggunakan sistem scoringdengan menentukan :1. Bobot Diberikan untuk setiap variabel berdasarkan kritikal point yang dianggap berpengaruh terhadap sanitasi rumah, jumlah bobot yang ditetapkan antara 2 – 3: a) Bobot 2, apabila kurang berpengaruh terhadap kesehatan manusia (penyakit TB Paru) dan sanitasi rumah. b) Bobot 3, apabila sangat berpengaruh terhadap kesehatan manusia (penyakit TB Paru) dan sanitasi rumah.2. Nilai Nilai didapatkan berdasarkan indikator apabila beberapa item dari indikator tersebut berpengaruh maka mendapat nilai 1, 3, 5: a) Nilai 1 apabila kurang berpengaruh terhadap kesehatan manusia (penyakit TB Paru) dan sanitasi rumah. b) Nilai 3 apabila cukup berpengaruh terhadap kesehatan manusia (penyakit TB Paru) dan sanitasi rumah. c) Nilai 5 apabila sangat berpengaruh terhadap kesehatan manusia (penyakit TB Paru) dan sanitasi rumah.3. Skor Diperoleh dari hasil penilaian antara bobot dengan nilai. Skor maksimal = ∑ bobot x ∑ nilai tertinggi Skor minimal = ∑ bobot x ∑ nilai terendah4. Penentuan kategori Memberikan kriteria memenuhi syarat dan tidak memenuhi syarat. Penentuan kategori penilaian memenuhi syarat dan tidak memenuhi syarat dengan menggunakan rumus sebagai berikut : S X = x 100% S max Keterangan : X= Hasil penilaian, S= Skor yang didapat, S max= Skor tertinggi Kategori : Memenuhi syarat= 80–100%, Tidak memenuhi syarat= < 80%Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 99
  • 37. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANHasil Penelitian1. Hasil Pengukuran Parameter Fisik Rumah Penderita TB Paru Tabel 1 : Hasil Pengukuran Parameter Fisik Rumah Penderita TB Paru di Wilayah Puskesmas Karangrejo Kabupaten Magetan Tahun 2009 No Parameter Fisik Memenuhi Syarat Tidak Memenuhi Syarat 1 Pencahayaan 6 (23%) 20 (77%) 2 Matahari Masuk Dalam Rumah 17 (65% ) 9 (35%) 3 Suhu 16 (62%) 10 (38%) 4 Kelembaban 26 (100%) - 5 Kepadatan Penghuni 19 (73%) 7(27%) 6 Ventilasi 8(31%) 18(69%) 7 Kecepatan angin 14(54%) 12(46%) 8 Kebersihan dalam rumah 4(15%) 22(85%)2. Gambaran Keadaan Sanitasi Rumah Penderita TB Paru Ditinjau dari Parameter Fisik Tabel 2. Hasil Penilaian Keadaan Sanitasi Rumah Penderita TB Paru Ditinjau dari Parameter Fisik di Wilayah Puskesmas Karangrejo Kabupaten Magetan Tahun 2009 No Parameter Fisik Sanitasi Rumah Penderita TB Paru Hasil Persentase 1. Memenuhi Syarat 5 19% 2. Tidak Memenuhi Syarat 21 81% Jumlah 26 100%Pembahasan1. Hasil Pengukuran Parameter Fisik Rumah Penderita TB Paru di Wilayah Puskesmas Karangrejo Kabupaten Magetan Tahun 2009 a. Pencahayaan di rumah penderita TB Paru di wilayah Puskesmas Karangrejo sebagian besar tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 20 rumah (77%), karena berdasarkan hasil pengukuran pencahayaan di rumah penderita TB Paru di wilayah Puskesmas Karangrejo tidak sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 829/MENKES/SK/VII/1999 yaitu > 60 lux. Keadaan tersebut dapat dipengaruhi oleh lingkungan rumah penderita TB Paru di wilayah Puskesmas Karangrejo yang masih banyak terdapat kebun yang luas dan sebagian besar kebun ditanami dengan pohon- pohon yang besar, sehingga cahaya yang masuk ke dalam rumah terhalang oleh pohon-pohon tersebut. Pencahayaan yang dikategorikan baik adalah keadaan di dalam rumah pada waktu pagi terlihat terang walaupun lampu tidak dinyalakan. Cahaya yang cukup untuk penerangan ruang di dalam rumah merupakan kebutuhan kesehatan manusia. Pencahayan atau penerangan yang baik untuk kesehatan adalahJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 100
  • 38. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 pencahayaan alami. Pencahayaan alami sangat ditentukan oleh letak dan lebar jendela. Pencahayaan yang baik adalah cahaya yang tidak menyilaukan. Pencahayaan alami sangat penting bagi kesehatan karena dapat mencegah perkembangbiakan bakteri penyebab penyakit, khususnya TB Paru. b. Sinar Matahari yang Masuk Dalam Rumah penderita TB Paru di wilayah Puskesmas Karangrejo adalah: ada sinar matahari yang masuk dalam rumah yaitu sebanyak 17 rumah (65%) akan tetapi sinar matahari yang masuk dalam rumah kurang maksimal. Karena rumah penderita TB Paru di wilayah Puskesmas Karangrejo sebagian besar tidak ada jendela hanya ada pintu-pintu dan setiap harinya hanya satu pintu yang dibuka yaitu pintu utama. Di rumah penderita TB Paru di wilayah Puskesmas Karangrejo sebagian besar sudah terdapat genting kaca sebagai cara lain agar sinar matahari dapat masuk ke dalam rumah, akan tetapi jumlah genting kaca yang dipasang tidak sesuai dengan luas rumah sehingga sinar matahari yang masuk rumah tidak maksimal serta banyaknya pohon-pohon di sekitar rumah juga merupakan faktor penghalang masuknya sinar matahari dalam rumah. Untuk mendapatkan sinar matahari yang masuk dalam rumah yang cukup maka perlu memperhatikan letak dan lebar jendela. Sinar matahari yang masuk dalam rumah sangat penting karena sinar matahari berguna selain untuk penerangan juga dapat mengurangi kelembaban ruangan, mengusir nyamuk, membunuh kuman-kuman penyebab penyakit tertentu seperti TBC, Influenza, penyakit mata dan lain-lain (Djasio Sanropie, 1989 : 11). Sinar matahari dapat membunuh kuman penyebab penyakit TB Paru, hal tersebut terbukti dari kurangnya sinar matahari yang masuk didalam rumah berisiko 2,5 kali terkena TB paru-paru dibanding rumah yang mendapat sinar matahari cukup (Achmadi, 2005 : 286). c. Suhu rumah penderita TB Paru di wilayah Puskesmas Karangrejo sebagian besar memenuhi syarat yaitu 16 rumah (62%), karena berdasarkan hasil pengukuran suhu di rumah penderita TB Paru sebagian besar sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 829/MENKES/SK/VI/1999 yaitu 18oC – 30oC sehingga kondisi udara terasa nyaman dan segar. Suhu udara di rumah penderita TB Paru di wilayah Puskesmas Karangrejo terasa nyaman dan segar, karena lingkungan rumah banyak pohon-pohon besar dan pada waktu diadakan pengukuran keadaan banyak angin (angin cukup besar atau kencang), sehingga apabila pintu rumah dibuka maka angin akan banyak masuk ke dalam rumah. Suhu udara yang nyaman dan segar atau suhu udara yang sesuai dengan Kepmenkes RI No. 829/MENKES/SK/VII/1999 adalah salah satu syarat rumah sehat. Rumah sehat merupakan faktor pendukung kesehatan dan faktor pencegah terjadinya penyakit, khususnya penyakit TB Paru. d. Kelembaban di rumah penderita TB Paru di wilayah Puskesmas Karangrejo sebagian besar memenuhi syarat yaitu sebanyak 26 rumah (100%), karena berdasarkan hasil pengukuran kelembaban di rumah penderita TB Paru di wilayah Puskesmas Karangrejo seluruhnya sesuai dengan Kepmenkes RI No. 829/MENKES/SK/VII/1999 yaitu 40% - 70%. Kelembaban di dalam sebaiknya dijaga agar rumah tetap dalam kelembaban yang optimum atau kelembaban yang memenuhi syarat, karena kelembaban merupakan media yang baik untuk bakteri penyebab penyakitJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 101
  • 39. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 berkembangbiak. Kuman tuberculosis cepat berkembang dalam keadaan lembab dan bertahan hidup di tempat yang gelap dan lembab (Achamdi, 2005 : 272). e. Kepadatan penghuni rumah penderita TB Paru di wilayah Puskesmas Karangrejo sebagian besar memenuhi syarat yaitu sebanyak 19 rumah (73%), karena luas ruangan atau rumah penderita TB Paru di wilayah Puskesmas Karangrejo sesuai dengan jumlah penghuni rumah. Menurut Kepmenkes RI No.29/MENKES/SK/VII/1999 kepadatan penghuni rumah yang sesuai atau memenuhi syarat adalah 9 m 2/jiwa. Rumah penderita TB Paru di wilayah Puskesmas Karangrejo sebagian besar luas- luas dan dihuni oleh kurang lebih 4 sampai 5 anggota keluarga setiap rumah. Dengan kepadatan penghuni rumah yang memenuhi syarat maka kemungkinan terjadinya penularan penyakit khususnya TB paru kecil. Penyakit TB paru dapat menular melalui udara oleh karena itu kepadatan penghuni rumah sangat berperan penting dalam penularan penyakit TB paru karena semakin padat penghuni maka penyakit TB Paru dapat menular semakin cepat dan mudah (Achamdi, 2005 : 285). f. Kecepatan angin di rumah penderita TB Paru di wilayah Puskesmas Karangrejo sebagian besar memenuhi syarat yaitu 14 rumah (54%), karena berdasarkan hasil pengukuran kecepatan angin di rumah penderita TB paru di wilayah Pukesmas Karangrejo sebagian besar sesuai dengan Kepmenkes RI No. 829/MENKES/SK/ VII/1999 yaitu 0,05 – 0,20 m/s atau 5 – 20 cm/s. Kecepatan angin diperlukan untuk menjaga sirkulasi udara di dalam rumah tetap ada agar keadaan di dalam rumah tetap segar dan keseimbangannya O2 yang diperlukan oleh penghuni rumah tetap terjaga. Keadaan sirkulasi udara yan baik di dalam rumah dapat membebaskan udara di rumah dari bakteri-bakteri penyabab penyakit. Apabila tidak ada aliran udara, orang yang tinggal bersama penderita TB Paru tuberculosis, jika penderita batuk-batuk dapat menularkan atau dapat menyebarkan bakeri tuberculosis ke udara. Orang yang menghirup udara yang mengandung bakteri tersebut juga dapat terkena TB paru. g. Ventilasi di rumah penderita TB paru di wilayah Pukesmas Karangrejo sebagian besar tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 18 rumah (69%), karena sebagian besar rumah penderita TB paru di wilayah Pukesmas Karangrejo memiliki ventilasi yang luasnya kurang dari syarat minimal yang sesuai dengan Kepmenkes RI No.829/MENKES/SK/VII/1999 yaitu 10% dari luas rumah. Ini terkait dengan kebutuhan udara bagi penghuninya karena dengan ventilasi kurang, sirkulasi udara terganggu dan udara dalam rumah menjadi pengap dan tidak nyaman, sehingga dapat menimbulkan penyakit TB paru dan penyakit lain. Selain itu ventilasi sangat penting, karena merupakan salah satu jalan masuknya sinar matahari dalam rumah, sehingga bakteri penyebab penyakit TB paru dapat mati (Achmadi, 2005 : 275). h. Kebersihan Lingkungan Rumah penderita TB Paru di wilayah Puskesmas Karangrejo sebagian besar tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 22 rumah (85%), karena sebagian besar rumah penderita TB Paru di wilayah Puskesmas Karangrejo memiliki lantai yang kedap air, kebersihan di dalam rumah banyak debu tetapi teratur, halaman rumah agak kotor dan kurang teratur, masih ditemukan beberapa binatang pengganggu di dalam rumah, air kotor di buang ke belakang rumah tetapi tidak dibiarkan menggenang, sampah dikumpulkan di belakang rumah kemudian ditimbun,Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 102
  • 40. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 keadaan dinding kedap air dan tidak kuat, kamar mandi dan WC ada tetapi di luar rumah dan kondisinya kotor serta berbau, tidak mempunyai langit-langit, dapur lantai dari tanah dan kotor, serta terdapat kandang tetapi jarang dibersihkan. Kebersihan lingkungan sangat perlu dijaga karena lingkungan rumah yang bersih merupakan syarat rumah sehat sehingga akan mewujudkan kehidupan yang sehat, bebas dari penyakit khususnya TB Paru. Rumah adalah sarana perberkembangbiakan bakteri dan penyebaran penyakit, maka kebersihan lingkungan rumah harus dijaga.2. Gambaran Keadaan Sanitasi Rumah Penderita TB Paru Ditinjau dari Parameter Fisik di Wilayah Puskesmas Karangrejo Kabupaten Magetan Tahun 2009 Berdasarkan Tabel 2 keadaan sanitasi rumah penderita TB Paru ditinjau dari parameter fisik di wilayah Puskesmas Karangrejo sebagian besar tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 21 rumah (81%). Sebagian besar rumah penderita TB Paru pada pagi hari dan siang hari kelihatan gelap dan remang-remang karena tidak ada jendela, jendela jarang dibuka, ventilasi tidak memenuhi syarat dan tidak ada genteng kaca sehingga sinar matahari tidak dapat masuk rumah secara maksimal. Karena ventilasi tidak memenuhi syarat maka selain sinar matahari tidak dapat masuk secara maksimal sirkulasi udara di dalam rumah juga tidak lancar. Kebersihan lingkungan rumah penderita TB Paru sebagian besar tidak memenuhi syarat. Keadaan sanitasi rumah yang tidak memenuhi syarat dapat menunjang penyebaran penyakit TB Paru. Oleh karena itu, sanitasi rumah perlu ditingkatkan guna mencegah penyebaran penyakit TB Paru dan dapat membantu proses penyembuhan penderita TB Paru. Hal tersebut di atas bertujuan agar setiap anggota masyarakat dapat mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.SIMPULAN DAN SARAN Simpulan penelitian adalah: Pertama, hasil pengukuran parameter fisik di wilayahPuskesmas Karangrejo Kabupaten Magetan dapat disimpulkan sebagai berikut: a.Pencahayaan sebagian besar tidak memenuhi syarat sebesar 77%, b) Sinar matahari yangmasuk dalam rumah sebagian besar ada sebesar 65%, c) Suhu sebagian besar memenuhisyarat sebesar 62%, d) Kelembaban semuanya memenuhi syarat sebesar 100%, e)Kepadatan penguhi rumah sebagian besar memenuhi syarat sebesar 73%, f) Kecepatan anginsebagian besar memenuhi syarat sebesar 54%, g) Ventilasi sebagian besar tidak memenuhisyarat sebesar 69%, h) Kebersihan lingkungan rumah sebagian besar tidak memenuhi syaratsebesar 85%. Kedua, sanitasi rumah penderita TB Paru ditinjau dari parameter fisik di wilayahPuskesmas Karangrejo Kabupaten Magetan sebagian besar tidak memenuhi syarat (81%). Saran yang diajukan antara lain:1. Untuk Penderita TB Paru di Wilayah Puskesmas Karangrejo a. Membuka jendela setiap pagi hari agar sirkulasi udara di dalam rumah lancar dan menambah genteng kaca agar sinar matahari dapat masuk, sehingga ruangan tidak lembab dengan sendiri kuman Tuberculosis bisa mati. b. Sebaiknya penderita TB Paru perlu lebih memperhatikan keadaan sanitasi rumah misalnya membersihkan rumah 2 kali sehari (menyapu rumah, mengepel, menata rumah, dll), memperbaiki rumah, mengadakan kerja bakti dll, serta untuk selalu berperilaku hidup bersih dan sehat.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 103
  • 41. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-30982. Untuk Puskesmas Karangrejo Kabupaten Magetan a. Petugas perlu melaksanakan pengawasan dan pemantaun lingkungan pemukiman khususnya bagi penderita TB Paru dan masyarakat pada umumnya agar penyakit yang berbasis lingkungan khususnya pada penyakit TB Paru tidak menjadi masalah utama. b. Petugas perlu memberikan penyuluhan kepada penderita TB Paru dan masyarakat tentang bahaya penyakit TB Paru serta pengetahuan-pengetahuan lain tentang penyakit TB Paru agar penderita maupun masyarakat dapat lebih berhati-hati. c. Petugas perlu memberikan penyuluhan kepada penderita TB Paru dan masyarakat agar berperilaku dan membiasakan diri untuk selalu hidup bersih dan sehat.DAFTAR PUSTAKAAchmadi, Umar Fahmi, 2005, Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah, Jakarta, Buku KompasAkademi Kesehatan Lingkungan, 2005, Pedoman Penulisan Karya Tulis, Akademi Kesehatan Lingkungan MadiunAnonymous, 1992, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Cetakan ke 7; Jakarta, Depkes RIAnonymous, 1992, Undang-Undang RI Nomor : 23 TH 1992 tentang Kesehatan, Jakarta, DepKes RIAnonymous, 2000, Panduan Pengawas Menelan Obat TBC, Jakarta, Depkes RIAnonymous, 2000, Tiga Belas Keadaan yang Perlu Dikenali dan Diatasi Dalam Keluarga, Jakarta, DepKes RIAnonymous, 2005, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Cetakan ke 9, Jakarta, DepKes RIAnonymous, 2008, Kecamatan Karangrejo Dalam Angka 2008, Magetan, Kecamatan KarengrejoAnonymous, Penanganan ISPA dan Anak di Rumah Sakit Kecil Negara Berkembang, WHO, EGCAnonymous, Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan PerumahanAnonymous, Rumah Sehat Dalam Lingkungan Sehat, Depkes RIAnonymous, Undang-Undang No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan PemukimanDPU Cipta Karya, Rumah Sehat, MagetanEntjang, Indah, 2000, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Bandung, PT. Cipta Aditya BaktiHeru S, Adi, 1995, Kader Kesehatan Masyarakat Kedokteran, WHOHttp://Jarumsuntik.com/category/keperawatan/asuhan keperawatan dengan TB Paru, 2009, Asuhan Keperawatan Dengan TB ParuHttp://Masdanang.Co.cc,2009, TB ParuNotoatmodjo, Soekidjo, 2005, Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta, Rineka CiptaSanropie Djasio, dkk, 1989, Pengawasan Penyehatan Lingkungan Pemukiman, Jakarta, DepKes RISyahrurachman, Agus dkk, 1994, Mikrobiologi Kedokteran, Jakarta, Bina Rupa Aksara.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 104
  • 42. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 HUBUNGAN ANTARA PARITAS DENGAN KEJADIAN KEHAMILAN POST TERM Agung Suharto*, Evi Nindyasar**, Rahayu Sumaningsih* ABSTRAK Kejadian kehamilan post term kira-kira 10% (3,5-14%). Paritas ibu adalah salah satufaktor yang mempengaruhi kejadian kehamilan post term. Data rekam medik pada tahun 2009menunjukkan 222 kejadian kehamilan post term dari 790 persalinan (28,1%). Dari tingginyakejadian kehamilan post term dan faktor yang mempengaruhinya serta banyaknya komplikasipada kehamilan post term baik medis maupun obstetrik, peneliti tertarik meneliti hubunganantara paritas dengan kejadian kehamilan post term di RSUD dr. Harjono Ponorogo. Populasi penelitian ex post facto ini adalah seluruh ibu bersalin mulai tanggal 1 Januari-31 Desember 2009 berjumlah 790 orang, semua anggota populasi dijadikan subyek penelitian(total populasi). Variabel independent adalah paritas ibu, variabel dependent adalah kejadiankehamilan post term. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah LembarObservasi, selanjutnya dianalisa dengan uji statistik Chi-Square dengan bantuan komputer. Hasil uji X2 lebih besar dari X2 tabel yaitu 17,882 dan tingkat kesalahan 0,00 (α=0,05),maka Ho ditolak dan H1 diterima. Dari hasil analisis menggunakan Chi-Square disimpulkan adahubungan antara paritas dengan kejadian kehamilan post term. Berdasarkan uraian di atasdapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara paritas dengan kejadian kehamilan post term.Sehingga disarankan kepada calon ibu untuk mencatat tanggal saat dia haid setiap bulan agarmengetahui secara dini hari pertama haid terakhir. Ibu hamil diharapkan rutin melakukanpemeriksaan kehamilan sehingga terhindar dari komplikasi yang tidak diharapkan.Kata Kunci : paritas, kehamilan post term* = Poltekkes Kemenkes Surabaya, Jurusan Kebidanan, Kampus Magetan** = Alumnus Poltekkes Kemenkes Surabaya, Jurusan Kebidanan, Kampus MagetanPENDAHULUANLatar Belakang Kehamilan yang melewati 294 hari atau lebih dari 42 minggu disebut sebagai post term.Angka kejadian kehamilan post term kira-kira 10%, bervariasi antara 3,5-14%. Paritas ibumerupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian kehamilan post term. Berdasarkanrekapitulasi rekam medik pada tahun 2009 didapatkan 222 kejadian kehamilan post term dari790 persalinan (28,1%). Dari tingginya angka kejadian kehamilan post term dan faktor yangmempengaruhinya serta banyaknya komplikasi pada kehamilan post term baik medis maupunobstetrik, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang hubungan antara paritas dengankejadian kehamilan post term di RSUD dr. Harjono Ponorogo.Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian Rumusan masalah: “Adakah hubungan antara paritas dengan kejadian kehamilan postterm di RSUD dr. Harjono S Ponorogo?” Tujuan penelitian adalah menganalisis hubungan antara paritas ibu dengan kejadiankehamilan post term di RSUD dr. Harjono S Ponorogo.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 105
  • 43. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian ex post facto ini mengambil lokasi di RSUD dr. Harjono S Ponorogo, selamaMaret sampai Juli tahun 2010. Populasi penelitian adalah data seluruh ibu bersalin mulaitanggal 1 Januari-31 Desember 2009 sejumlah 790 orang, dan semua diteliti (total populasi).Variabel bebas penelitian paritas ibu, dan variabel terikat adalah kejadian kehamilan post term.Paritas ibu adalah jumlah berapa kali wanita melahirkan, dengan kategori primipara (pernahmelahirkan anak pertama), multipara(pernah melahirkan anak 2-4) dan grandemultipara(pernah melahirkan anak ≥5). Kehamilan post term adalah usia kehamilan ≥42 minggu dariHPHT, dengan kategori post term (usia kehamilan ≥42 minggu) dan tidak post term (usiakehamilan <42 minggu). Pengumpulan data menggunakan lembar observasi kemudianmelakukan editing, coding dan tabulating. Analisa data menggunakan uji Chi-Square.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANHasil Penelitian Dari 790 persalinan terdapat sejumlah 222 (28,10%) persalinan dengan kehamilan postterm sedangkan sejumlah 568 (71,90%) merupakan persalinan tidak post term. Ibu yangmengalami kehamilan post term dengan paritas primipara yaitu sebanyak 125, sedangkanparitas multipara sebanyak 93 dan paritas grandemultipara sebanyak 4. Ibu yang tidak postterm dengan paritas primipara sebanyak 234, sedangkan paritas multipara sebanyak 299 danparitas grandemultipara sebanyak 35. Tabel 1. Distribusi Kejadian Kehamilan Post Term Menurut Paritas di RSUD dr. Harjono S Ponorogo tahun 2009 Paritas Post Term Tidak Post Term Primipara 125 (34,8%) 234 (65,2%) 359 (100%) Multipara 93 (23,7%) 299 (76,3%) 392 (100%) Grandemultipara 4 (10,3%) 35 (89,7%) 39 (100%) Total 222 (28,1%) 568 (71,9%) 790 (100%) Hasil perhitungan X2 =17,882 dan X2 tabel =5,991 dengan tingkat kesalahan 0,00(α=0,05). Karena X2 hitung > X2 tabel, maka Ho ditolak, artinya ada hubungan antara paritasdengan kejadian kehamilan post term. Perhitungan komputer diketahui nilai koefisienkontingensi yaitu 0,149. Interpretasi nilai koefisien kontingensi menurut Sugiyono (2007:231),tingkat hubungan antara 0,000 sampai dengan 0,199 tingkat hubungannya adalah sangatrendah. Sehingga pada penelitian ini dapat disimpulkan ada hubungan antara paritas dengankejadian kehamilan post term dengan tingkat hubungan sangat rendah.Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang mengalami kehamilan post term sebanyak28,10% dari seluruh jumlah persalinan sedangkan sejumlah 71,90% merupakan persalinantidak post term. Dalam hal ini mayoritas ibu bersalin dengan usia kehamilan kurang dari 42Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 106
  • 44. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098minggu. Sesuai dengan pendapat Wiknjosastro (2007:317-318), yaitu kehamilan umumnyaberlangsung 40 minggu atau 280 hari dari hari pertama haid terakhir. Ibu dengan kehamilan post term paritas primipara sebanyak 125, paritas multiparasebanyak 93 dan paritas grandemultipara sebanyak 4. Hasil tersebut menunjukkan bahwamayoritas ibu bersalin dengan kehamilan post term adalah paritas primipara. Hal ini sesuaidengan pendapat Sastrawinata (2004:12) bahwa kehamilan post term lebih sering terjadi padaprimigravida muda dan primigravida tua atau pada grandemultiparitas. Menurut Supinah(2009), dari faktor paritas semua ibu hamil baik primigravida/multigravida beresiko post term. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara paritas dengan kejadian kehamilanpost term, dengan nilai koefisien kontingensi 0,149. Tingkat hubungan antara paritas dengankejadian kehamilan post term dengan tingkat hubungan sangat rendah. Hal ini bisadisebabkan ada faktor lain yang mempengaruhi kejadian kehamilan post term. Menjelang persalinan, ibu hamil aterm mengalami penurunan hormon progesteron,peningkatan oksitosin, dan reseptor oksitosin sehingga otot rahim semakin sensitif terhadaprangsangan. Pada kehamilan post term terjadi sebaliknya, otot rahim tidak sensitif terhadaprangsangan, karena ketegangan psikologis atau kelainan pada rahim. Seorang wanita yangtelah mengalami kehamilan sebanyak 5 kali atau lebih, lebih mungkin mengalami kontraksiyang lemah pada saat persalinan atau karena otot rahimnya lemah (Manuaba, 1998:224). Pada usia kehamilan 40 minggu, wanita mengalami stressor tinggi yang mempengaruhipenurunan hormon prostaglandin sehingga menyebabkan ketidakmatangan serviks dan tidaktimbul kontraksi, menyebabkan kehamilan post term. Kematangan serviks berhubungandengan kesiapan jalan lahir setelah timbul tanda persalinan. Serviks multipara lebih cepatmatang dibanding nulipara, dan pemahaman tentang paritas penting dalam menentukan saatyang tepat untuk melakukan pemeriksaan serviks kehamilan post term (Varney, 2006:660). Pada ibu dengan kehamilan pertama sebanyak 95%, otot polos miometriumnya dibuattidak responsif terhadap rangsangan alami. Hal ini menyebabkan tidak tejadinya kontraksiuntuk mulainya persalinan sehingga persalinan menjadi mundur, yang disebut dengankehamilan post term. Pada kehamilan post term terjadi penundaan peningkatan reseptoroksitosin di miometrium (Cunningham, 2005:289-290).SIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut: ibu bersalin diRSUD dr. Harjono S Ponorogo yang post term yaitu 28,10% dari seluruh jumlah persalinansedangkan sejumlah 71,90% merupakan persalinan tidak post term, mayoritas ibu bersalindengan kehamilan post term di RSUD dr. Harjono S Ponorogo adalah paritas primipara danada hubungan tingkat sangat rendah antara paritas ibu dengan kejadian kehamilan post term. Disarankan perlunya peran aktif dari tenaga kesehatan dalam memberikan asuhankebidanan ibu hamil, utamanya tentang ANC rutin.DAFTAR PUSTAKAAnonim. 2009. Landasan Teori Serotinus,http://www.bayubiru.blogspot.com (diakses 16 Maret 2010).Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 107
  • 45. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 . 2010. Karakteristik Ibu Bersalin dengan Kehamilan Lewat Waktu (post date) di Puskesmas Sukadamai Kecamatan Natar Lampung Selatan pada tahun 2008. http://askep-askeb.cz.cc/2010/02/karakteristik-ibu-bersalin-dengan_19.html#ixz z0hkHJPsGP (diakses 16 Maret 2010).Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.BKKBN, 2010. Capaian MDGs Terkendala Kasus Kematian Ibu, http://www.prov.bkkbn.go.id (diakses 31 Maret 2010).Budiarto, Eko. 2002. Biostatistik untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta:EGC.Bungin, Burhan. 2005. Metodologi Penelitian Kuantitatif Edisi 1. Jakarta:Prenanda Media.Cunningham, F. Gary. 2005. Obstetri Williams Edisi 21. Jakarta:EGC.Emzir. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta:Raja Grafindo Persada.Husnoto. 2010. Asuhan Kebidanan pada Kehamilan Lewat Waktu. http://situskebidanan.blogspot.com/2010/02/asuhan-kebidanan-pada-kehamilan- lewat.html (diakses 23 Februari 2010).Maimunah, Siti. 2005. Kamus Istilah Kebidanan. Jakarta:EGC.Manuaba, Ida Bagus Gde. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta:EGC.Manuaba, Ida Ayu Chandranita. 2008. Gawat-Darurat Obstetri-Ginekologi dan Obstetri- Ginekologi Sosial untuk Profesi Bidan. Jakarta:EGC.Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta:Rineka Cipta.Nursalam dan S. Pariani. 2001. Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta: Rineka Cipta. . 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Edisi 1. Jakarta:Salemba Medika.Saifuddin, Abdul Bari. 2007. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.Sastrawinata S,dkk. 2004. Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi. Jakarta: EGC.Sikhan. 2010. Non Stress Test (Fetal Activity Determination), http://askep.blogspot.com (diakses tanggal 17 Maret 2010).Sugiyono. 2007. Statistika untuk Penelitian. Bandung:CV. Alfabeta.Supinah. 2009. Gambaran Faktor Resiko Penyebab Post Date Pasien yang Dirujuk ke RSD Nganjuk Tahun 2007. Karya Tulis Ilmiah. Magetan: Prodi Kebidanan Magetan Poltekkes Depkes Surabaya.Susanto, Cornelius Eko. 2010. Capaian MDGs Terkendala Kasus Kematian Ibu, http://www.mediaindonesia.com (diakses 23 Februari 2010).Tiran, Denise. 2005. Kamus Saku Bidan Edisi 10. Jakarta:EGC.Varney, Helen. 2006. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Volume 1 Edisi 4. Jakarta:EGC.Wijono, Wibisono. 2006. Standar Pelayanan Kebidanan. Jakarta: Pengurus Pusat IBI.Wiknjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.Yenni. 2008. Kehamilan lewat waktu jangan Abaikan!, http://www.tanyadokteranda.com (diakses 16 Maret 2010).Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 108
  • 46. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 STUDI TENTANG SANITASI RUMAH PENDERITA ISPA DI DESA PAKIS BARU KECAMATAN NAWANGAN KABUPATEN PACITAN Mujiyono*, Farida Ririn Anggraini* ABSTRAK Rumah sehat adalah salah satu sarana mencapai derajat kesehatan yang optimum.Untuk memperoleh rumah yang sehat ditentukan oleh tersedianya sarana sanitasi perumahan.Gangguan kondisi rumah dan lingkungan yang kurang memenuhi syarat kesehatan / fisikmemungkinkan menyebabkan penyakit ISPA. Seperti halnya yang terjadi di Desa Pakis BaruKec.Nawangan Kab.Pacitan Tahun 2010, berdasarkan data dari puskesmas diketahui bahwapenyakit ISPA berada diurutan petama. Oleh karena itu, perlu diketahui kondisi sanitasi rumahpenderita ISPA di Desa Pakis Baru Kecamatan Nawangan Kabupaten Pacitan. Penelitian ini merupakan penelitian dekriptif yaitu metode penelitian yang dilakukandengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secaraobyektif. Metode penelitian deskriptif digunakan untuk memecahkan atau menjawabpermasalahan yang sedang dihadapi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 52 responden di Desa Pakis BaruKecamatan Nawangan Kabupaten Pacitan didapatkan hasil bahwa sanitasi rumah penderitaISPA masih kurang. Lubang asap dapur kurang (50%), hunian kamar tidur kurang (55,9%),ventilasi baik (59,6%), suhu memenuhi syarat (100%), sedangkan kelembaban tidakmemenuhi syarat (100%). Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan para penderita ISPAdan keluarganya tentang sanitasi rumah yang baik, sehingga kondisi rumah yang baik bagipenderita ISPA kurang diperhatikan. Oleh karena itu, perlu adanya penyuluhan oleh kader-kader kesehatan mengenai penyakit ISPA dan kondisi rumah yang baik bagi penderita ISPA.Kata kunci : Sanitasi Rumah, Penderita ISPA*=Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes SurabayaPENDAHULUANLatar Belakang Masalah Rumah sehat adalah salah satu sarana mencapai derajat kesehatan yang optimum.Untuk memperoleh rumah yang sehat ditentukan oleh tersedianya sarana sanitasi perumahan.Sanitasi rumah adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada pengawasanterhadap struktur fisik dimana orang menggunakannya untuk tempat tinggal berlindung yangmempengaruhi derajat kesehatan manusia. Sarana sanitasi tersebut antara lain ventilasi,suhu, kelembaban, kepadatan hunian, konstruksi bangunan, sarana pembuangan sampah,sarana pembuangan kotoran manusia dan penyediaan air bersih (Azwar, 1990). Persyaratan rumah sehat yaitu memenuhi kebutuhan fisiologis (cahaya, ventilasi,gangguan suara, dan cukup tempat bermain anak), memenuhi kebutuhan psikologis (amandan nyaman bagi penghuni, ruang duduk dapat dipakai sekaligus sebagai ruang makankeluarga, dan sebagainya), mencegah penularan penyakit (penyediaan air, bebas kehidupanserangga dan tikus, pembuangan sampah, pembuangan air limbah, pembuangan tinja, danbebas pencemaran makanan dan minuman) dan mencegah kecelakaan (Depkes RI, 1989).Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 109
  • 47. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Gangguan kondisi rumah dan lingkungan yang kurang memenuhi syarat kesehatan/ fisikmemungkinkan menyebabkan ISPA. Mengingat perumahan digunakan sebagai tempat untukberlindung, bernaung, agar penghuninya merasakan ketenangan, kenyamanan serta dapatuntuk menghindar dari gangguan terhadap penderita ISPA yang tentunya mengandungkuman. Lingkungan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan apabilakesehatan lingkungan yang kurang baik akan menyebabkan angka kesakitan dan angkakematian yang tinggi serta penyebaran sumber penderita-penderita menular sangat luas. Kualitas udara dipengaruhi oleh bahan polutan di udara. Polutan di dalam rumahkadarnya berbeda dengan bahan polutan di luar rumah. Peningkatan bahan polutan di dalamruangan dapat berasal dari sumber polutan di dalam ruangan seperti asap rokok, asap dapur,obat nyamuk bakar, pada waktu batuk dan bersin tidak menutup mulut, maka akan mudahsekali menularkan penyakit tersebut. (Mukono, 1997). Penyakit infeksi saluran pernafasanakut (ISPA) masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama. Bagi masyarakat desa ada dua masalah yang timbul dari perumahan sehat, pertamaadalah rendahnya pendidikan dan pengetahuan serta ketrampilan masyarakat desa tentangrumah sehat, baik konstruksi rumah, tata ruang, agar rumah tidak mudah menjadi sarangtikus, serangga, dan lain-lain. Masalah kedua adalah adat istiadat dan sosial budayamasyarakat desayang masih kuat sehingga tidak jarang rumah yang dibuat kurang memenuhisyarat kesehatan.( Suharmadi, 1985 ). ISPA tahun 2009 di Desa Pakis Baru berada di urutan pertama dari 12 penyakit berbasislingkungan dengan 53 penderita. Urutan penderita terbanyak menderita penyakit berbasislingkungan di Desa Pakis Baru Kecamatan Nawangan Kabupaten Pacitan: ISPA, typhus,diare, TBC, malaria, hepatitis, kulit, mata, DHF, cacing, polio, dan filariasis. Di PuskesmasPakis Baru sendiri tidak ada data sanitasi rumah yang terutama mencakup ventilasi,kepadatan hunian, dan lubang asap dapur, selain itu belum pernah dilakukan penelitian.Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang, masalah dapat dirumuskan ”Bagaimana sanitasi rumahpenderita ISPA di Desa Pakis Baru Kecamatan Nawangan Kabupaten Pacitan?” Tujuanpenelitian ini adalah: 1) mengidentifikasi masalah lingkungan, 2) menilai fasilitas sanitasi.BAHAN DAN METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan obyek sanitasi rumah penderita ISPA diDesa Pakis Baru. Penilaian perilaku adalah: Jawaban “a” berbobot 3, “b” berbobot 2, dan “c”berbobot 1. Penilaian terhadap identifikasi masalah lingkungan adalah: R= Nilai yang diperoleh X 100% Nilai maksimalKriteria penilaian: Baik (skor yang 75%), Cukup (skor 50-74%), dan Kurang (skor < 50%) Variabel penelitian ini adalah ventilasi, lubang asap dapur, bahan bakar yang digunakan,kepadatan penghuni, suhu, kelembaban, sarana sanitasi dasar, kandang, dan pekarangan.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 110
  • 48. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANHasil Penelitian1. Masalah Lingkungan Tabel 1. Masalah Lingkungan Rumah Penderita ISPA di Desa Pakis Baru Kecamatan Nawangan Kabupaten Pacitan Tahun 2010 No. Variabel ∑ Hasil Survey Baik % Cukup % Kurang % 1. Luas lubang ventilasi 52 39 75,0% 13 25,0% 0 0 2. Ventilasi berfungsi baik 31 59,6 % 19 36,6 % 2 3,8 % 3. Lubang asap dapur 12 23,1 % 14 26,9 % 26 50,0 % 4. Bahan Bakar 26 50,0 % 3 5,7 % 23 44,3 % 5. Luas rumah per jiwa dan 30 57,6 % 22 42,4 % 0 0 kepadatan hunian rumah 6. Luas kamar tidur 0 0 52 100 % 0 0 7. Jumlah penghuni kamar tidur 7 13,4 % 16 30,7 % 29 55,9 % Tabel 2. Fasilitas Sanitasi Rumah Penderita ISPA di Desa Pakis Baru Kecamatan Nawangan Kabupaten Pacitan Tahun 2010 Hasil Survei Variabel M % TM % A. Sarana Sanitasi Dasar 1. Air bersih a. Sumber air 52 100% - - b. Jumlah / Kuantitas 52 100% - - c. Pengolahan 52 100% - - 2. Pembuangan sampah a. Pengelolaan sampah 39 75% 13 25% b. Tempat sampah 11 21,1% 41 78,9% 3. Pembuangan kotoran manusia a. Pengelolaan pembuangan/ jamban 29 55,8% 23 42,2% b. Syarat jamban 20 38,4% 32 61,6% 4. Sarana Pembuangan air limbah (SPAL) a. Aliran pembuangan 7 13,4% 45 86,6% B. Kandang a. Letak kandang 41 78,9% 11 21,1% C. Pekarangan a. Dimanfaatkan 17 32,7% 35 67,3% b. Keadaan pekarangan 48 92,3% 4 7,7%Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 111
  • 49. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098PembahasanSARANA SANITASI RUMAHa. Luas ventilasi rumah penderita ISPA, 39 (75%) memenuhi syarat yang berarti terdapat pertukaran udara dalam ruangan, sesuai dengan Kepmenkes RI No. 829/ MenKes/ SK/ VII/ 1999 Tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan yaitu luas ventilasi alamiah atau permanen minimal 10% dari luas lantai dan berfungsi dengan baik. Pada penilaian ventilasi secara alami sebagian besar kurang memenuhi syarat. Menurut Djasio Sanropie, udara segar diperlukan untuk mengganti udara ruangan yang sudah terpakai, menjaga temperatur, dan kelembaban udara di ruangan. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar ventilasi yang ada tidak cross ventilation, luasnya < 10% dari luas lantai serta keberadaannya tidak dapat berfungsi dengan baik. Hal tersebut dikarenakan rumah di daerah Pakis Baru sebagian besar terhalang oleh pepohonan dan tebing sehingga meskipun mempunyai ventilasi tidak dapat berfungsi dengan baik dan keadaan ventilasi kotor/ berdebu. Padahal fungsi dari ventilasi yaitu sebagai sirkulasi udara sehingga udara dalam ruangan menjadi segar dan tidak pengap. Jika udara dalam ruangan dalam keadaani kotor dan pengap maka dapat mengakibatkan terserang penyakit saluran pernafasan seperti ISPA dan TBC.b. Lubang asap dapur rumah penderita ISPA 26 (50%) yang tidak tersedia. Hal tersebut dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat di daerah tersebut akan pentingnya lubang asap dapur yang memenuhi syarat. Dimana fungsi dari lubang asap sapur tersebut agar asap dari aktifitas memasak dapat keluar dengan segera sehingga tidak mengganggu pernafasan baik bagi yang memasak maupun anggota keluarga lainnya, khususnya bagi bayi dan penderita ISPA dan TBC. Selain itu dapat memberikan rasa nyaman bagi pengguna dapur dikarenakan ruangan tidak pengab.c. Bahan Bakar Memasak rumah penderita ISPA 26 (50%) adalah gas, 3 (5,7%) adalah minyak tanah, dan 23 (44,3%) adalah arang atau kayu. Hal ini dikarenakan banyaknya masyarakat yang takut menggunakan gas dan sulitnya mendapatkan minyak tanah. Selain itu, di Desa Pakis Baru tidak sulit untuk mendapatkan kayu bakar. Akan tetapi kayu bakar dapat menyebabkan timbulnya asap sehingga dapat dengan mudah terserang ISPA.d. Luas rumah per jiwa dan kepadatan hunian rumah penderita ISPA 30 (57,6%) tidak padat penghuni dan 22 (42,4%) cukup dengan luas rumah 5–10 m² per jiwa. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa kepadatan hunian di wilayah tersebut tidak padat penghuni. Hal tersebut berdasarkan jumlah KK dan jumlah anggota keluarga yang tinggal di dalam rumah tersebut dibandingkan dengan jumlah kamar dan luas rumah. Hampir semua responden rumahnya dalam keadaan tidak padat hunian karena sebagian besar rumah di daerah tersebut sangat luas. Menurut Permenkes RI No. 829/ MenKes/ SK/ VII/ 1999 Tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan, Luas rumah dibagi jumlah penghuni, bila luas seluruh rumah termasuk kamar mandi dan jamban dibagi jumlah penghuni lebih besar atau sama dengan 10 m² per jiwa maka tidak padat penghuni dan memenuhi syarat. Keadaan rumah yang padat hunian akan mengakibatkan keadaan rumah menjadi tidak nyaman dan penularan penyakit menular lebih mudah terjadi.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 112
  • 50. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098e. Luas Kamar Tidur rumah penderita ISPA adalah 52 (100%) cukup dengan luas 4–8 m². Menurut Kepmenkes RI No. 829 /MenKes/SK/VII/1999 Tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan, luas kamar tidur minimal 8 m². Luas kamar di Desa Pakis Baru terbilang luas, di dalam kamar tak ada barang lain selain lemari baju sehingga kamar tidak pengap.f. Kepadatan Hunian Kamar Tidur rumah penderita ISPA adalah 29 (55,9%) digunakan 2 orang dan anak umur >2 tahun. Hal ini tidak sesuai dengan Kepmenkes No. 829/ MenKes/ SK/ VII/ 1999 Tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan yaitu luas ruang tidur minimal 8 m² dan tidak dianjurkan digunakan 2 orang dan anak umur > 2 tahun dalam satu kamar, kecuali anak dibawah umur. Hal ini disebabkan anak-anak yang tidak mau tidur sendiri, keterbatasan ruang tidur, dan anak yang ikut tinggal bersama nenek kakeknya karena ditinggal orang tuanya bekerja diluar kota. Padahal dengan kondisi ini akan menyebabkan ruangan menjadi pengap dan sumpek. Jadi dari hasil penelitian aspek yang mempengaruhi terjadinya penyakit ISPA dilihat darisarana sanitasi rumah adalah lubang asap dapur yaitu 26 (50%) rumah yang tidak memenuhisyarat dan kepadatan hunian kamar dengan jumlah 29 (55,9%) rumah yang tidak memenuhisyarat. Hal ini tidak sesuai dengan KepMenKes No. 829/ MenKes/ SK/ VII/ 1999 TentangPersyaratan Kesehatan Perumahan yaitu luas ruang tidur minimal 8 m² dan tidak dianjurkandigunakan > 2 orang dalam satu kamar, kecuali anak dibawah umur. Dari data identifikasi masalah lingkungan secara umum dapat diketahui terdapat 28(53,8%) rumah yang sudah baik karena memenuhi dari beberapa item dalam Tabel III.10.Dan terdapat 24 (46,2%) rumah yang dikatakan cukup.SARANA SANITASI DASARa. Sumber air, jumlah/ kuantitas, pengolahan, sudah memenuhi syarat. Menurut perhitungan WHO, di negara-negara maju tiap orang memerlukan air 60–120 liter per hari sedangkan di negara-negara berkembang, tiap orang memerlukan 30-60 liter per hari.b. Pembuangan sampah (pengelolaan dan tempat sampah) sudah memenuhi syarat, sesuai dengan Kepmenkes RI Nomor 829/MenKes/SK/VII/1999 Tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan yaitu pengumpulan, pengangkutan, pemusnahan, dan pengelolaagn sampah.c. Pembuangan Kotoran Manusia 1) Terdapat 29 (55,8%) rumah yang memiliki jamban yang memenuhi syarat sesuai dengan Kepmenkes RI Nomor 829/MenKes/SK/VII/1999, yaitu tidak mengotori permukaan tanah di sekeliling jamban, tidak mengotori air permukaan di sekitarnya, tidak mengotori air tanah, tidak dapat di jangkau oleh serangga terutama lalat, kecoa dan binatang-binatang lainnya, tidak menimbulkan bau, mudah digunakan dan dipelihara. Terdapat 23 (42,2%) rumah yang memiliki jamban tetapi tidak memenuhi syarat, karena jamban kotor, bau, dan dapat mengotori air permukaan di sekitarnya. 2) Terdapat 20 (38,4%) rumah yang jambannya memenuhi syarat sesuai dengan Kepmenkes RI Nomor 829/MenKes/SK/VII/1999 yaitu tidak mengotori permukaan tanah di sekeliling jamban, tidak mengotori air permukaan di sekitarnya, tidak mengotori air tanah, tidak dapat di jangkau oleh serangga terutama lalat, kecoa dan binatang- binatang lainnya, tidak menimbulkan bau, mudah digunakan dan dipelihara. TerdapatJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 113
  • 51. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 32 (61,6%) rumah yang jambannya tidak memenuhi syarat. Hal ini dikarenakan lantai pada bangunan jamban tidak kuat, masih ada yang tidak memiliki rumah jamban, tidak tertutup, dan tidak ada bak penampung air atau tissue pembersih.d. Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL) Terdapat 7 (13,4%) rumah yang memiliki SPAL yang memenuhi syarat sesuai dengan Kepmenkes RI Nomor 829/MenKes/SK/VII/1999 yaitu saluran pembuangan tertutup sehingga tidak menimbulkan bau, penutup saluran terbuat dari bahan yang kuat, tidak mencemari sumber air dan lingkungan, Tidak menimbulkan sarang nyamuk. Serta terdapat 45 (86,6%) rumah yang memiliki SPAL. Hal ini disebabkan saluran limbah tidak tertutup, limbah menggenang yang dapat menimbulkan sarang nyamuk, dan dapat mencemari lingkungan.e. Kandang Terdapat 41 (78,9%) kandang yang memenuhi syarat konstruksi, letak dan arah kandang, lokasi, dan ukuran kandang. Serta terdapat 11 (21,1%) rumah yang kandangnya tidak memenuhi syarat. Hal ini dikarenakan lokasi kandang yang <10 m dari rumah warga.f. Pekarangan 1) Terdapat 17 (32,7%) rumah dimanfaatkan dengan menanami pekarangan dengan sayuran dan tanaman hias. Terdapat 35 (67,3%) rumah yang tidak memanfaatkan pekarangannya. Manfaat dari pemanfaatan pekarangan untuk ditanami tanaman adalah selain untuk menyejukan, menyuplai oksigen ke dalam rumah, mengurangi polusi udara yang masuk ke dalam rumah, memperindah pemandangan serta turut serta dalam pemeliharaan lingkungan sehingga penghuni rumah merasa nyaman di dalam rumah. 2) Terdapat 48 (92,3%) pekarangan rumah dibersihkan setiap hari. Terdapat 4 (7,7%) rumah yang keadaan pekarangan atau halamannya kotor dan tidak tertata rapi.SIMPULAN DAN SARAN Simpulan penelitian adalah:1. Dari hasil survey lubang asap dapur didapatkan hasil bahwa terdapat 26 rumah (50%) yang tidak memiliki lubang asap dapur. Hal ini dapat mempengaruhi terjadinya penyakit ISPA.2. Dari hasil penilaian keadaan rumah dapat disimpulkan bahwa terdapat 31 (59,6%) rumah yang memiliki ventilasi dan memenuhi syarat.3. Dari hasil penilaian kepadatan hunian terdapat 30 (57,6%) rumah yang tidak padat penghuni dan dari hasil penilaian kepadatan hunian kamar tidur terdapat 29 (55,9%) rumah yang kamar tidurnya digunakan > 2 orang dalam hal ini berarti kamar tidur padat hunian.4. Dari data identifikasi masalah lingkungan secara umum dapat diketahui terdapat 28 (53,8%) rumah yang sudah baik.5. Dari hasil penilaian sarana sanitasi dasar Memenuhi syarat.6. Dari pengukuran fisik terdapat 52 (100%) rumah suhunya memenuhi syarat dan terdapat 52 (100%) rumah kelembabannya tidak memenuhi syarat. Saran yang diajukan antara lain:1. Bagi Desa Pakis Baru Bagi para Kader untuk melakukan penyuluhan tentang kesehatan perumahan dan pengawasan sarana sanitasi rumah pada penderita ISPA.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 114
  • 52. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-30982. Bagi Masyarakat a. Lebih memperhatikan lubang asap dapur, harus diperbaiki dan membuat bagi rumah yang belum memiliki lubang asap dapur. b. Lebih memperhatikan jumlah hunian kamar tidur, sebaiknya satu kamar tidur tidak digunakan > 2 orang kecuali anak di bawah umur, agar tidak pengap dan sumpek. c. Harus memperhatikan saluran pembuangan air limbah agar air dapat mengalir dengan lancar, tidak menimbulkan sarang nyamuk, bau dan tidak mencemari lingkungan sekitar.DAFTAR PUSTAKA(2008).ISPA,PenangananDanPengobatannya. http://www.benih.net/news/ISPA-Infeksi-Saluran-Pernapasan-Akut.(29 Pebruari 2010)Allafa.(2008).AirBersih. http://www.nesmd.com/shtml/22122.shtml.(4 Maret 2010)Arif Firmansyah, Joniansyah.(2004).CaraPenularanDanGejalaISPA. http//:majalahtempointeraktif.com/id.(21 Pebruari 2010)Dirjen PPM & PLP DepKes RI dengan UNICEF Indonesia. 1990. Buku Petunjuk Survei Tentang Perumahan Dan Lingkungannya Serta Penggunaan Kartu Rumah.Dirjen PPM dan PLP 1990 Kumpulan Perundang-undangan yang berhubungan dengan kesehatan lingkungan. Depkes RI Jakarta.El-Shalih.(2010).LembarObservasi. http://www.El-Shalih.blogspot.com/ 2010/ 03/ contoh lembar observasi.(10 April 2010)G.J ebrahim, Prof. 1990. Perawatan anak. Yayasan Essencra Child. Jakarta.http://www.adln.lib.unair.ac.id/go.php.(2 Maret 2010)http://www.one.indoskripsi.com/node/6062.(15 Maret 2010)KepMenkes RI No. 829/MENKES/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan.Lubis, Pandapotan, Dr, M.Sc. 1985. Perumahan Sehat. Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Depkes RI. Jakarta.Mukono H.J (1997). Pencemaran Udara dan Pengaruhnya Terhadap Gangguan Saluran Penapasan. Surabaya : AirlanggaNotoatmodjo, Soekidjo.1993. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta.Notoatmodjo, Soekidjo. 1997. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Rineka Cipta. Jakarta.PengertianISPA.http//:www.rajawana.com/artikel/kesehatan/ISPA.(26 Desember 2009)Prodi Kesehatan Lingkungan Madiun (2009). Buku Pedoman Penyusunan Proposal dan Karya Tulis Ilmiah Program Studi Kesehatan Linkungan Madiun. Magetan.Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Depkes RI 1985. Menanggulangi Infeksi Saluran Pernafasan Akut. Depkes RI. Jakarta.Ridwan.(2010).PersyaratanKandang. http://www.KambingAkikah.com/persyaratan/teknis-kandang.(25 Maret 2010)Sanropie, Djasio. 1989. Pengawasan Penyehatan Lingkungan Pemukiman. Jakarta : Posdiknakes Depkes RI.Surjadi, Charles; Soedarno, Tina R; dan Baare, Anton. 1996. Majalah Kesehatan Perkotaan : Kepadatan Pemukiman dan Kesehatan, Studi Kualitatif. http://www.pdf-search- engine.com/crowding-%28kesesakan%29-dan-density-%28kepadatan%29-html- library.usu.ac.id/download/fk/psikologi-hasnida2.html. (14 April 2010)Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 115
  • 53. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG KODE ETIK KEPERAWATAN DAN HUKUM KESEHATAN DENGAN KINERJA PERAWAT DALAM MEMBERIKAN ASUHAN KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA TAHUN 2009 Fitri Arofiati*, Wahyuni* ABSTRACT The level of knowledge about nursing ethic code and health of law impact to the performance nurses in providing nursing care plan to clients. This research aim to know correlation between level knowledge about nursing ethic code and health law to nurses’ performance in providing nursing care plan in PKU Muhammadiyah Yogyakarta Hospital. This research used of descriptive observational study with cross sectional design, on October 2008 - March 2009 used purposive sampling with total sample or respondents are 15 nurses. Data analysis used chi square analysis. The result of this research showed that nurses level of knowledge about nursing ethic code and health law ( 86,7%) in the good category, and nurse performance in giving nursing care plan ( 73,3%) in the good category. The Correlation between level knowledge and performance have meaning with ( p < 0,05), and result of chi square analysis is p = 0,012 The conclusion of this research showed that there were correlations between level knowledge about nursing ethic code and health law with a nurse performance in giving nursing care plan in PKU Muhammadiyah Yogyakarta Hospital. Key Word: Nursing Ethic Code, Health Law, Nursing Care Plan * = Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ** = Alumni PSIK Universitas Muhammadiyah YogyakartaPENDAHULUAN Sikap etis profesional yang kokoh dari setiap perawat akan tercermin dalam setiaplangkahnya, termasuk penampilan diri serta keputusan yang diambil dalam merespon situasiyang muncul. Pemahaman yang mendalam tentang etika dan moral serta penerapannyamenjadi bagian yang sangat penting dan mendasar dalam memberikan asuhan keperawatan,dimana nilai-nilai pasien selalu menjadi pertimbangan dan dihormati3. Profesionalisme keperawatan merupakan kontrak sosial antara profesi keperawatandengan masyarakat. Masyarakat telah memberikan kepercayaan kepada perawat, makaperawat harus menjawab dengan memberikan standar kompetensi yang tinggi ,dantanggungjawab moral yang baik. Profesi keperawatan harus selalu berfokus pada klien /pasien (client oriented), dengan selalu mengedepankan sifat mementingkan klien dan merasalebih bertanggungjawab dalam pelayanan keperawatan. Perawat dalam bekerja tidak hanyauntuk mempertahankan eksistensi, hak-hak dan kepentingan kelompok perawat tetapi lebihmengutamakan kepentingan klien. Profesi perawat memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan dan keamanan pasienselama berada di rumah sakit. Perawat membutuhkan aturan hukum yang lebih tinggi yangmengatur tentang kualitas dan pelayanan, termasuk juga sanksi bagi perawat yang tidakJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 116
  • 54. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098melaksanakan tugasnya dengan baik4. Perawat dalam melaksanakan praktik keperawatanberkewajiban untuk memberikan pelayanan keperawatan sesuai dengan standar profesi,standar praktek keperawatan, kode etik, dan Standart Operasional Prosedur (SOP) sertakebutuhan klien atau pasien yang ditetapkan oleh organisasi profesi dan merupakan pedomanyang harus diikuti oleh setiap tenaga keperawatan. Tenaga keperawatan yang merupakan “The caring profession” mempunyai kedudukanpenting dalam menghasilkan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit, karena pelayananyang diberikannya berdasarkan pendekatan bio-psiko-sosial-spiritual merupakan pelayananyang unik dilaksanakan selama 24 jam dan berkesinambungan merupakan kelebihantersendiri dibanding pelayanan lainnya dan wewenang tugas seorang perawat adalahmelaksanakan Asuhan Keperawatan5 . Dari uraian diatas dapat dirumuskan sebuah masalah bagaimana hubungan antaratingkat pengetahuan perawat tentang Kode Etik Keperawatan dan Hukum Kesehatan terhadapkinerja perawat dalam memberikan Asuhan Keperawatan di Rumah Sakit PKUMuhammadiyah Yogyakarta tahun 2009. Kontribusi penelitian ini terhadap perkembanganilmu/praktek keperawatan yaitu sebagai pertimbangan bagi Rumah Sakit PKU MuhammadiyahYogyakarta dan Program Studi Ilmu Keperawatan dalam rangka untuk meningkatkanpengetahuan perawat tentang Kode Etik Keperawatan dan Hukum Kesehatan serta untukmeningkatkan kinerja perawat dalam melaksanakan Asuhan keperawatan.BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental atau disebut juga studi analitikdengan menggunakan pendekatan cross sectional study. Diperoleh data primer denganmenggunakan kuesioner untuk memperoleh data-data karakteristik responden dan sampel,Besar sampel dalam penelitian ini sebanyak 15 responden. Kemudian pengambilan sampeldengan menggunakan metode purposive samplin. Variabel independent dalam penelitian iniadalah tingkat pengetahuan perawat tentang Kode Etik Keperawatan dan Hukum Kesehatan.Variabel dependent dalam penelitian ini adalah kinerja perawat dalam melaksanakan AsuhanKeperawatan. Analisa data dilakukan dengan menggunakan analisa chi square, untukmengetahui hubungan antara dua variabel independent dan variabel dependent yaitu: tingkatpengetahuan tentang kode etik keperawatan dan hukum kesehatan Penelitian ini dimulai dari penyusunan profosal penelitian beserta kuisioner yang akandigunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan, dan untuk mengukur kinerja respondenpeneliti menggunakan checklist observasi dari buku panduan Nursalam (2003), Sebelumkusioner digunakan, terlebih dahulu kuisioner diuji kevalidatannya sehingga mampu mengukurtingkat pengetahuan responden. Uji valid dan reliabilitas dilakukan di Rumah Sakit Wirosabanpada tanggal 17 Januari 2009. Setelah uji valid dan reliabilitas selesai, kemudian penelitimembagikan kuisioner kepada responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Untukobservasi peneliti meminta bantuan kepada para observer yaitu dari kakak-kakak angkatanyang sedang menjalani kegiatan profesi. Setelah data terkumpul, dilanjutkan dengan tahappengolahan data atau analisa data. Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakankomputerisasi dengan menggunakan program SPSS for windows 14.0Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 117
  • 55. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANHasil Penelitian Gambaran tingkat pengetahuan perawat tentang kode etik keperawatan dan hukumkesehatan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta disajikan pada Tabel 1, yangmenunjukkan bahwa 13 perawat (86,7%) mempunyai tingkat pengetahuan yang baik tentangkode etik dan hukum kesehatan. Tabel 1. Tingkat Pengetahuan Perawat Tentang Kode Etik Keperawatan dan Hukum Kesehatan No Tingkat Pengetahuan Jumlah Persentase 1. Baik 13 86,7% 2. Cukup baik 2 13,3% Total 15 100% Distribusi kinerja perawat yang melaksanakan asuhan keperawatan di Rumah sakit PKUMuhammadiyah Yogyakarta ditampilkan pada Tabel 2. Ada 11 perawat (73,3%) yangmempunyai kinerja baik dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Tabel 2. Kinerja Perawat yang Melaksanakan Asuhan Keperawatan No Kinerja Perawat Jumlah Persentase 1. Baik 11 73,3% 2. Cukup baik 4 26,7% Total 15 100% Melalui Tabel 3 diketahui kecenderungan bahwa semakin baik tingkat pengetahuanmengenai kode etik dan hukum kesehatan, maka semakin baik juga kinerja perawat dalammelaksanakan asuhan keperawatan. Untuk menjawab hipotesis, digunakan Chi Square Testyang hasilnya ditampilkan pada Tabel 4. Tabel 3. Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dengan Kinerja Perawat Kinerja Tingkat Pengetahuan Cukup Baik Total Cukup 2 (100%) 0 (0%) 2 (100%) Baik 2 (15,38%) 11 (84,62) 13 (100%) Total 4 (26,67%) 11 (73,33) 15 (100%) Tabel 4. Hasil Chi Square Test X2 p-value Sig Keterangan Pengetahuan 6.346 0,012 p< 0,050 Signifikan dan SikapJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 118
  • 56. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, diperolah nilai X2 hitung > X2 tabel (6,346 >3,841),dengan hasil p 0,012, berarti p < 0,050 sehingga Ho ditolak, mempunyai makna bahwa adahubungan antara tingkat pengetahuan tentang kode etik keperawatan dan hukum kesehatandengan kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan di Rumah Sakit PKUMuhammadiyah Yogyakarta tahun 2009.Pembahasan Proses untuk memperoleh pengetahuan disebabkan karena perawat pernahmendapatkan pengetahuan sebelumnya, sehingga perawat tahu dan pengalaman perawatmempengaruhi pengetahuannya. Kemudian dari proses tahu perawat memahamipengetahuannya dan menganalisa serta mengevaluasi pengetahuannya, sehingga berkaitandengan kemampuan perawat untuk melakukan justifikasi atau memberikan penilaian terhadapsuatu materi atau objek mengenai kode etik keperawatan dan hukum kesehatan(Natoatmodjo, 2007). Upaya perawat untuk meningkatkan profesionalisme berarti perawat dituntut untuk terusmeningkatkan ilmu pengetahuannya, mengikuti perkembangan profesi keperawatan danmengikuti standar profesi dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Dalam penelitian inikemampuan perawat untuk meningkatkan pengetahuannya mengenai kode etik keperawatandan hukum kesehatan adalah dengan cara membaca buku-buku mengenai kode etikkeperawatan dan hukum kesehatan, serta melalui teknologi internet, dan melalui temanseprofesi. Peneliti menarik kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan bahwa adakecenderungan kemampuan untuk meningkatkan pengetahuan yang dilakukan olehresponden untuk menambah pengetahuannya dengan cara mambaca buku, melalui internetdan melalui teman seprofesi. Kinerja perawat S1 Ners dalam melaksanakan asuhan keperawatan di penelitian inirelatif baik yaitu (73,3%). Kinerja perawat sangat dipengaruhi oleh faktor balas jasa yang adildan layak, penempatan yang sesesuai dengan keahliannya, berat ringannya pekerjaan, sifatpekerjaan yang monoton, suasana dan lingkungan pekerjaan, peralatan yang menunjang,serta sikap pimpinan atau supervisor dalam memberikan bimbingan dan pembinaan. Sikapetis profesional yang kokoh dari setiap perawat akan tercermin dalam setiap langkahnya,termasuk penampilan diri serta keputusan yang diambil dalam merespon situasi yang muncul.Pemahaman perawat mengenai etika dan hukum kesehatan menjadi bagian yang sangatpenting dan mendasar dalam memberikan asuhan keperawatan, ketika nilai-nilai pasienselalu menjadi pertimbangan dan dihormati (Suratun, 2006). Menurut Mathis dan Jackson (2001), faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja yaitu:kemampuan, motivasi, dukungan yang diterima, keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan,dan hubungan mereka dengan organisasi. Berdasarkan pengertian di atas, peneliti menarikkesimpulan bahwa kinerja merupakan kualitas dan kuantitas dari suatu hasil kerja (output)individu maupun kelompok dalam suatu aktifitas tertentu yang diakibatkan oleh kemampuanalami atau kemampuan yang diperoleh dari proses belajar serta keinginan untuk berprestasi. Sampai sekarang tenaga keperawatan belum memiliki landasan hukum yang jelas danpasti dalam memberikan pelayanan kesehatan. Menurut Peraturan Pemerintah No 32 Tahun1996 tentang Tenaga Kesehatan, hubungan perawat dan klien merupakan subjek hukum.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 119
  • 57. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098Pemahaman perawat mengenai hukum kesehatan memberikan keyakinan kepada perawatdan menjaga klien untuk selalu berada dijalur yang aman dengan mengikuti Standing orderyang telah ditetapkan oleh profesi keperawatan dari pihak rumah sakit yang bersangkutan.Standing order adalah pendelegasian kepada tenaga keperawatan dalam memberikan asuhankeperawatan/pelayanan kesehatan. Hukum kesehatan untuk tenaga keperawatan mengikutiUU No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan bahwa “Tenaga Kesehatan adalah setiap orangyang mengabdikan dirinya dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan atauketerampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan sehingga diberikan kewenangan untukmelakukan upaya kesehatan”. Berdasarkan data hubungan antara pengetahuan dan kinerja, didapatkan 2 respondendari semua responden memiliki pengetahuan yang cukup dengan kinerja yang cukup inidisebabkan oleh pengetahuan dipengaruhi oleh informasi yang didapatkannya. Seseorangyang mempunyai sumber informasi yang lebih banyak akan memberikan pengaruh terhadappemahamanya tentang suatu materi yang sebelumnya pernah didapatkannya (Natoatmodjo,2007), kemudian kinerja perawat yang cukup dapat dipengaruhi oleh faktor kemampuan.Secara psikologis, kemampuan pegawai terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuanrealita (pendidikan). Oleh karena itu pegawai perlu ditempatkan pada pekerjaan yang sesuaidengan keahlihannya. Kinerja juga dapat dipengaruhi oleh faktor motivasi yang terbentuk darisikap (attiude) seorang pegawai dalam menghadapi situasi kerja. Motivasi merupakan kondisiyang menggerakkan diri pegawai terarah untuk mencapai tujuan kerja dan memiliki sikapmental yang baik, sikap mental merupakan kondisi mental yang mendorong seseorang untukberusaha mencapai potensi kerja secara maksimal (Mangkunegara, 2000). Berdasarkan hasil uji hipotesis, disimpulkan adanya hubungan antara tingkatpengetahuan perawat mengenai kode etik keperawatan dan hukum kesehatan dengan kinerjaperawat dalam melaksankan asuhan keperawatan. Dengan demikian, pengetahuan yangdimiliki perawat mengenai kode etik dan hukum kesehatan akan mempengaruhi kinerjaperawat terhadap pengambilan keputusan dalam melaksanakan asuhan keperawatan,sehingga semakin baik pengetahuan perawat tentang kode etik keperawatan dan hukumkesehatan, maka kinerja perawat dalam memberikan asuhan keperawatan juga semakin baik.SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, dapat ditarik simpulan sebagai berikut:1. Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan perawat tentang kode etik keperawatan dan hukum kesehatan terhadap kinerja perawat yang melaksanakan asuhan keperawatan.2. Tingkat pengetahuan perawat tentang kode etik keperawatan dan hukum kesehatan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah relatif baik.3. Kinerja yang tunjukan oleh perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan di Rumah Sakit PKU muhammadiyah Yogyakarta relatif baik. Saran yang dapat diberikan oleh peneliti sehubungan dengan penelitian ini:1. Bagi praktek keperawatan: Dapat dijadikan sebagai masukan kepada praktek keperawatan dalam memberikan pelayan kesahatan dengan mengutamakan kepentingan klien dari segi etik dan kepastian hukum melalui proses pemberian asuhan keperawatanJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 120
  • 58. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-30982. Bagi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta: Dapat dilakukan pelatihan atau pemberian pendidikan kepada perawat di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah sehubungan dengan pentingnya pengetahuan tentang kode etik keperawatan dan hukum kesehatan terhadapa kinerja perawat dan sebagai masukkan untuk meningkatkan mutu pelayan yang baik dengan terus mengikuti standar prosedur berdasarkan kode etik keperawatan dan hukum kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan, dan untuk menghindari tingkat kejadian dugaan malpraktek oleh tenaga keperawatan.3. Bagi penelitian lain: Dijadikan sebagai data dasar penelitian selanjutnya, sebagai masukan dan pertimbangan diharapkan untuk peneliti berikutnya dapat menggali lebih dalam mengenai pengetahuan perawat tentang kode etik keperawatan dan hukum kesehatan, serta dapat menyempurnakan metode dan instrument yang diteliti, sehingga dapat mengembangkan penelitian dengan variable yang berbeda.DAFTAR PUSTAKA1. -----------. (2005). Perawat juga bisa melakukan malpraktek. Humas Universitas Indonesia. Halaman 24, kolom 1-2 : Jakarta . 26/03/2009/ http://www.pdf-search- engine.com/kurikulum-sekolah-perawat-pdf.html2. Dahlan, Muhamad Sopiyudin.(2008). Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan: Deskritif, Bivariat dan Multivarat. Jakarta: Salemba Medika3. Depkes RI. (1994). Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Keperawatan Dasar di Rumah Sakit. Jakarta. Cetakan Kedua. PPNI.4. Erlin Natsir, SKM dan Joeharno, SKM. (2008).Thesis. Kineja Perawat Dalam melaksanakan Asuhan Keperawatan di Rumah sakit dan Faktor yang Mempengaruhinya. http:blogjoeharno.blogspot.com a.n. Rhano5. H. Bambang Tutuko, SH., S.Kep., Ns. (2007). Praktek Keperawatan Sebagai Bentuk Pelayanan Kepada Masyarakat, suatu Tinjauan Etik dan Hukum6. Heru Subekti (2008). Etika dan Moral Dalam Praktek Keperawatan. http://subektiheru.blogspot.com/2008/03/etik-dan-moral-dalam-praktek.html7. Ismani, Nila, Hj.(2001). Etika Keperawatan: Widya Medika8. Nursalam. (2003). Konsep dan Penerapan Metode Penelitian Ilmu Keperawatan; Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Edisi pertama. Jakarta: Salemba Medica.9. Potter, Patricia A. (2005). Buku ajar fundamental keperawatan : konsep, proses, dan praktik. Edisi 4. Jakarta : EGC10. Praftianingsih, Sri. (2006). Kedudukan hukum perawat dalam upaya pelayanan kesehatan di rumah sakit. PT Rajagrafindo Persada : Jakarta11. Suhaimi, Mimin Emi, Hj.(2003). Etika Keperawatan. Jakarta: EGC.12. Suharsimi, A. (1998). Prosedur Penelitian. Jakarta: PT.Rineka Cipta.13. Tammami (2008). Kode Etik Keperawatan. Posted 10 Oktober 2008 http://tammami.wordpress.com/2008/10/10/kode-etik-keperawatanJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 121
  • 59. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 EFEKTIFITAS PELATIHAN KELAS IBU HAMIL UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN, SIKAP, KETERAMPILAN DAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE Puji Sri Hastuti*, Heru Santoso Wahito Nugroho**, Nana Usnawati** ABSTRAK Masalah utama penelitian ini adalah rendahnya cakupan K4 di Desa Tladan, yaitu 46,2%dari target yang diharapkan sebesar 67,5% pada bulan September 2010, dan hanya 55% diantaranya melakukan kunjungan ANC secara ideal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuiefektifitas pelatihan kelas ibu hamil terhadap peningkatan pengetahuan, sikap, keterampilan,dan kunjungan ANC. Jenis penelitian analitik dengan rancangan pra eksperimen berupa OneGroup Pre-post Test Design, populasi 15 ibu hamil berusia 20-30 minggu, besar sampel 15menggunakan simple random sampling. Variabel independent kelas ibu hamil, variabeldependent pengetahuan, sikap, keterampilan dan kunjungan ANC. Uji hipotesis variabel pengetahuan menggunakan Paired Samples T-Test dengan nilaip=0,000<0,05, sikap dan keterampilan menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test masing-masing diperoleh nilai p=0,002<0,05 dan p=0,000<0,05, kunjungan antenatal caremenggunakan McNemar Test menghasilkan nilai p=0,008<0,05. Karena uji hipotesis semuavariabel menghasilkan nilai probabilitas (p)<0,05 sehingga pengetahuan, sikap, keterampilan,kunjungan antenatal care sesudah pelatihan kelas ibu hamil lebih tinggi secara bermaknadibanding sebelum pelatihan kelas ibu hamil. Disimpulkan bahwa pelatihan kelas ibu hamil efektif untuk meningkatkan pengetahuan,sikap, keterampilan, dan kunjungan ANC, sehingga disarankan untuk mengembangkanprogram kelas ibu hamil khususnya di wilayah Kabupaten Magetan, Jawa Timur sebagai salahsatu upaya untuk menekan morbiditas dan mortalitas pada ibu maupun bayi.Kata kunci: pengetahuan, sikap, keterampilan, antenatal care, kelas ibu hamil* = Dinas Kesehatan kabupaten Magetan, Puskesmas Tladan** = Poltekkes Kemenkes Surabaya, Jurusan Kebidanan, Kampus MagetanPENDAHULUANLatar Belakang Antenatal care (ANC) dilakukan untuk mencapai kesehatan fisik dan mental secaraoptimal dengan harapan kehamilan, persalinan dan nifas dapat berlangsung dengan aman,laktasi lancar dan kesehatan reproduksi kembali normal, deteksi dini dan penanganan adekuatpenyulit/komplikasi, mengenal dan menangani penyakit penyerta serta mendapat petunjuklaktasi dan KB sehingga dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas pada ibu maupunperinatal (Manuaba, 1998: 129). Hasil studi pendahuluan (September) di Dinas Kesehatan Kabupaten Magetanmenunjukkan bahwa cakupan ANC minimal (K4) baru mencapai 64,40% dan di PuskesmasTladan mencapai 63,7% dari target yang diharapkan 67,5%. Cakupan terendah di DesaTladan sejumlah 46,2%. Hasil studi pendahuluan lanjutan (Oktober) di Desa Tladan, dari 24Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 122
  • 60. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098ibu hamil 83,33% di antaranya melakukan pemeriksaan kehamilan, dan hanya 55% yangmelakukan ANC secara ideal. Idealnya kunjungan ANC dilakukan sedini mungkin ketika terlambat haid 1 bulan, periksaulang tiap bulan sampai kehamilan 28 minggu, setiap 2 minggu pada kehamilan 28 sampai 36minggu dan setiap minggu pada akhir kehamilan (Mochtar, 1998: 48).Rumusan Masalah “Adakah perbedaan pengetahuan, sikap dan keterampilan dan kunjungan antenatal careantara sebelum dan sesudah pelatihan kelas ibu hamil di Desa Tladan?”Tujuan Penelitian1. Mengidentifikasi pengetahuan, sikap, keterampilan dan kunjungan antenatal care antara sebelum dan sesudah pelatihan kelas ibu hamil.2. Menganalisa perbedaan pengetahuan, sikap, keterampilan dan kunjungan antenatal care antara sebelum dan sesudah pelatihan kelas ibu hamil.BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian pra eksperimental dengan rancangan pre test-posttest tanpa kelompok kontrol, di Desa Tladan, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan.Waktu penelitian 6 November 2010 sampai dengan 10 Januari 2011. Populasi penelitian ibuhamil usia kehamilan 20-32 minggu sejumlah 15 orang. Besar sampel 15 ibu hamil yangdiambil dengan teknik simple random sampling. Variabel bebas penelitian adalah kelas ibuhamil dan variabel terikat meliputi pengetahuan, sikap, keterampilan dan kunjungan ANC.Pengumpulan data menggunakan instrumen soal pre-post test, kuesioner sikap, check listketerampilan, dan buku KIA. Analisis data menggunakan metode statistik deskriptif danmetode statistik analitik.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANHasil Penelitian1. Perbedaan Pengetahuan Ibu Hamil Antara Sebelum dan Sesudah Pelatihan Kelas Ibu Hamil Tabel 1. Pengetahuan Ibu Hamil Sebelum dan Sesudah Pelatihan Kelas Ibu Hamil Unsur Statistik Sebelum Sesudah N 15 15 Modus 70 76,94 Median 70 81,94 Rerata 68,98 81,96 Nilai maksimum 86,67 96,92 Nilai minimum 45,28 60,83 Rentang 41,39 36,08 Varians 166,58 162,62 Simpangan baku 12,91 12,75Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 123
  • 61. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 One Sample Kolmogorov-Smirnov Test menunjukkan data terdistribusi normal. HasilPaired Samples T-Test memperoleh nilai t hitung -8,643 dengan nilai signifikansi 0,000(p<0,05) sehingga Ho ditolak, artinya rerata pengetahuan sesudah pelatihan kelas ibu hamillebih tinggi secara signifikan dibanding sebelum pelatihan kelas ibu hamil.2. Perbedaan Sikap Antara Sebelum dan Sesudah Pelatihan Kelas Ibu Hamil Gambar 1. Sikap Ibu Hamil Sebelum dan Sesudah Pelatihan Kelas Ibu Hamil Wilcoxon Signed Rank Test diperoleh nilai z hitung -3,125 dengan nilai signifikansi 0,002(p<0,05) sehingga Ho ditolak, artinya mean rank sikap sesudah pelatihan kelas ibu hamil lebihtinggi secara bermakna dibanding sebelum pelatihan kelas ibu hamil.3. Perbedaan Keterampilan Ibu Hamil Sebelum dan Sesudah Pelatihan Kelas Ibu Hamil Tabel 2. Keterampilan Ibu Hamil Sebelum dan Sesudah Pelatihan Kelas Ibu Hamil Unsur statistik Sebelum Sesudah N 15 15 Modus 20 70 Median 20 70 Rerata 22 70 Nilai maksimum 40 80 Nilai minimum 10 60 Rentang 30 20 Varians 74,29 42,86 Simpangan baku 8,62 6,55 One Sample Kolmogorov-Smirnov Test menunjukkan data tidak terdistribusi normalsehingga tak bisa dilakukan T-Test. Wilcoxon Signed Rank Test memperoleh z hitung -3,571dengan p=0,000 (p<0,05) sehingga Ho ditolak, artinya sesudah pelatihan kelas ibu hamil meanrank keterampilan lebih tinggi secara bermakna dibanding sebelum pelatihan.4. Perbedaan Kunjungan ANC Sebelum dan Sesudah Pelatihan Kelas Ibu Hamil Hasil McNemar Test diperoleh nilai signifikansi 0,008 (p<0,05) sehingga Ho ditolak,artinya setelah pelatihan kelas ibu hamil kunjungan antenatal care ideal lebih tinggi secarasignifikan dibanding sebelum pelatihan kelas ibu hamil.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 124
  • 62. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Gambar 2. Kunjungan ANC Ibu Hamil Sebelum dan Sesudah Pelatihan Kelas Ibu HamilPembahasan5.1 Perbedaan Pengetahuan Antara Sebelum dan Sesudah Pelatihan Kelas Ibu Hamil Secara deskriptif diketahui hasil pemusatan data (rerata, median, dan modus), nilaiminimum dan maksimum sesudah pelatihan kelas ibu hamil jauh lebih tinggi dibandingsebelum pelatihan kelas ibu hamil, sedangkan hasil penyebaran data yaitu rentang, variansdan simpangan baku cenderung menurun. Hasil Paired Samples T-test diketahui reratapengetahuan sesudah pelatihan kelas ibu hamil secara signifikan lebih tinggi dibandingsebelum pelatihan kelas ibu hamil. Artinya pelatihan kelas ibu hamil di Desa Tladan efektifuntuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil mengenai perawatan seputar kehamilan,persalinan dan nifas, perawatan bayi baru lahir, KB pasca persalinan, termasuk penyakitmenular dan akte kelahiran. Hal ini terjadi mungkin karena selama mengikuti pelatihan kelas ibu hamil respondentelah mendapatkan informasi, saling berinteraksi dan berbagi pengalaman antar peserta (ibuhamil dengan ibu hamil) maupun dengan tutor/bidan tentang kehamilan, perubahan dankeluhan selama kehamilan, perawatan kehamilan, persalinan, perawatan nifas, KB pascapersalinan, perawatan bayi baru lahir, mitos/kepercayaan/adat istiadat setempat, penyakitmenular dan akte kelahiran. Bagi responden yang mendapatkan nilai di bawah reratakemungkinan disebabkan kurang mendapatkan informasi dan kesalahan dalammengintepretasikan informasi yang diperolehnya selama mengikuti kelas ibu hamil. Ini sesuaidengan pendapat Nanda (2005) bahwa yang mempengaruhi responden mendapatkan nilaiterendah terkait dengan kurangnya pengetahuan (deficient knowledge) terutama disebabkanoleh kurang terpapar informasi dan kesalahan dalam mengintepretasikan informasi, selainfaktor lain seperti kurang daya ingat, keterbatasan kognitif, kurang minat untuk belajar dantidak familiar terhadap sumber informasi. Peningkatan pengetahuan pada penelitian ini merupakan salah satu tolok ukurkeberhasilan pelatihan kelas ibu hamil, yang di dalamnya terdapat kegiatan belajar mengajar(learning) dari segi kognitif, melalui transformasi informasi yang berurutan pada diri responden.Hal ini sejalan dengan pandangan Winkel (2007) dalam bukunya Psikologi Pengajaran yangmenyatakan bahwa proses belajar merupakan suatu rangkaian peristiwa/kejadian di dalam dirisubyek yang berlangsung secara berurutan yang dimulai dengan adanya rangsangan/stimulusJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 125
  • 63. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098dan berakhir dengan umpan balik (dalam hal ini pre-post test). Sedangkan subyek sendirimerasakan efek dari adanya stimulus tersebut berupa prestasi belajar, dengan demikiansubyek mendapat konfirmasi bahwa keseluruhan proses belajar telah berjalan dengan tepatdan benar. Atkinson dan Shiffrin dalam Winkel (2007) berpendapat bahwa model pemrosesaninformasi dalam diri seseorang secara berurutan dimulai dari adanya receptor, sensoryregister, short-term memory (STM), long-term memory (LTM), response generator daneffector. Bila dikaitkan dengan pendapat Bloom (1908) dalam Notoatmodjo (2003)berdasarkan ciri-ciri proses terjadinya receptor, sensory register, STM dan LTM identik denganaspek kognisi, response generator identik dengan aspek afektif, dan effector identik denganaspek psikomotor yang akan dijelaskan selanjutnya pada bagian lain di pembahasan terkaitdengan hasil penelitian ini. Pada tahap receptor, subyek menerima rangsangan-rangsangan dari lingkungan disekitarnya lalu ditampung oleh alat-alat indera (receptors) yang mengolah konstelasirangsangan itu, sehingga menjadi rangsangan neural (Atkinson dan Shiffrin dalam Winkel,2007). Supaya responden dapat melalui tahap ini dengan sukses, dalam kelas ibu hamildigunakan media pembelajaran untuk mempermudah pemahaman responden, seperti AVAberupa proyektor LCD dan microfon untuk penyampaian materi inti dan keterampilan senamnifas serta latihan pernafasan. Alat bantu yang digunakan di antaranya berupa video CD,leaflet, lembar balik, buku KIA, model berbagai alat kontrasepsi, boneka bayi dan model bajukanguru. Teori dari Atkinson dan Shiffrin ini sejalan dengan penjelasan Notoatmodjo (2003)bahwa pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukanpenginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca inderamanusia yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besarpengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pada tahap sensory register, informasi masuk ke tingkat sensory register (pusatpenampung kesan-kesan sensoris) dalam waktu singkat. Di tingkat ini terjadi pengolahanpersepsi selektif (attending, selective perception), yaitu hanya kesan-kesan yang membentukpola yang serasi atau masuk akal serta membentuk kebulatan perseptual yang diambilsedangkan yang tidak relevan akan menghilang dan tidak berpengaruh (Atkinson dan Shiffrindalam Winkel, 2007). Menurut Winkel (2007: 347) tekanan pada beberapa rangsangantertentu membantu untuk mengadakan persepsi yang selektif, sehingga dalam proses belajarhanya unsur yang benar-benar relevan saja yang diperhatikan oleh subyek, misalnya kata-kata yang dicetak miring atau dengan huruf tebal menyalurkan sub proses persepsi, demikianpenggunaan simbol seperti tanda panah, lingkaran, garis penghubung dan sebagainya.Sejalan dengan pendapat Winkel di atas, mungkin hanya media tertentu saja yang membuatresponden lebih cepat merespon informasi yang diperoleh selama mengikuti kelas ibu hamil,artinya tidak semua media pembelajaran menghasilkan persepsi yang sama kuatnya. Dibagian lain Winkel (2007) menyampaikan bahwa rangsangan yang lebih kuat atau tidakterduga, membuat alat-alat indera lebih siap untuk mengamati apa yang terjadi (alertness),misalnya suara yang keras atau warna yang mencolok menarik perhatian orang, lampu yangtiba-tiba dimatikan atau dihidupkan menyiapkan orang untuk mengamati apa yang selanjutnyaterjadi, demikian pula suara atau bunyi yang tiba-tiba diperbesar atau diperkecil.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 126
  • 64. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Tahap ketiga adalah ingatan jangka waktu pendek (Short-term memory). Pada tahap inihasil pengolahan perseptual ditampung dan disimpan, selanjutnya informasi tertentu disimpanlebih lama dan diolah untuk menemukan maknanya. Hasil pengolahan perseptual yangdibentuk pada tahap sebelumnya masuk ke dalam STM selama lebih kurang 20 detiksehingga informasi perseptual menjadi bermakna dalam bentuk berbagai macam organisasiseperti tanggapan, konsep, skema, tabel, grafik, perumusan verbal dan sebagainya. Tahap selanjutnya adalah ingatan jangka waktu lama (long-term memory) yaitumenampung hasil pengolahan informasi yang berada di STM dan menyimpannya sebagaiinformasi yang siap pakai pada saat dibutuhkan. Informasi dapat dikembalikan ke STM ataulangsung diteruskan ke pusat perencanaan reaksi/jawaban. LTM memiliki daya tampung takterbatas baik dari segi informasi yang disimpan maupun lama waktu penyimpanan.Penyimpanan informasi dalam LTM disebut storage. Di tahap ini sudah diperoleh hasil belajardan tersedia untuk digali kembali bila dibutuhkan yang disebut retrieval. Ada kalanya informasidi LTM dikombinasikan dengan informasi baru yang masuk di STM melalui proses belajaryang berkesinambungan yang disebut working memory (pengolahan materi) danmenghasilkan suatu persepsi baru. Berdasarkan mekanisme pemrosesan informasi di tingkatSTM dan LTM, mungkin pengetahuan yang diperoleh responden dalam penelitian terutamadiawali dari respon akibat rangsang visual dan auditorius, selain respon sentuhan yang terjadipada diri responden yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti melalui proses pembelajaransebelum akhirnya masuk ke tahap-tahap berikutnya, yaitu mengingat informasi, memahamiinformasi dan menginterpretasikannya, mengaplikasikan informasi sesuai denganpemahaman, menggabungkan antar informasi yang satu dengan yang lainnya,mengembangkan informasi tersebut sesuai dengan informasi yang dipilih dengan caramembaca, diskusi sesama ibu hamil/petugas kesehatan, belajar di rumah dan sebagainyayang menunjukkan akan ketertarikan terhadap sesuatu informasi, yang terakhir adalahkeputusan akan informasi yang diperoleh untuk digunakan ataupun tidak sesuai pertimbanganinternal dan eksternal pada diri responden. Hal ini senada dengan pendapat Bloom dalamWinkel (2007) yang membagi pengetahuan dalam 6 ranah atau domain, yaitu tahu,memahami, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kesimpulannya, baik pendapat Atkinson dan Shiffrin, Bloom, Winkel, Notoatmodjo,dalam aspek kognitif terbukti saling berkaitan dalam membentuk persepsi seseorang terhadapinformasi yang diterima sebagai dasar terbentuknya perilaku baru. Hal ini dipertegas olehNotoatmodjo (2003) yang menyatakan bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akanlebih langgeng dibanding perilaku tanpa didasari pengetahuan.5.2 Perbedaan Sikap Antara Sebelum dan Sesudah Pelatihan Kelas Ibu Hamil Berdasarkan hasil pre-test dan post-test diketahui bahwa sikap responden dengankategori menerima meningkat hampir 5 kali lipat setelah mengikuti kelas ibu hamil jikadibandingkan sebelumnya, sedangkan dari hasil Wilcoxon Signed Rank Test diketahui meanrank sikap positif responden sesudah mengikuti pelatihan kelas ibu hamil secara signifikanlebih tinggi dibanding sebelum mengikuti pelatihan kelas ibu hamil. Hal ini membuktikanbahwa pelatihan kelas ibu hamil efektif untuk meningkatkan sikap positif responden terhadapKesehatan Ibu dan Anak.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 127
  • 65. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Hal ini sesuai dengan pendapat Azwar (2008: 30-38) bahwa pembentukan sikapterutama terjadi karena pendidikan/pelatihan di samping adanya pengalaman pribadi,pengaruh, kebudayaan, media massa, dan emosional seseorang. Faktor yang memegang peranan penting dalam perubahan sikap responden padapenelitian ini kemungkinan adalah reaksi/respon terhadap pelatihan kelas ibu hamil, selainkarena keterlibatan faktor perasaan dan emosi. Reaksi tersebut terdiri atas suka dan tidaksuka terhadap materi yang disampaikan dalam kurikulum kelas ibu hamil. Bila dikaitkandengan pendapat Atkinson dan Shiffrin dalam Winkel (2007) pada pembahasan sebelumnya,berdasarkan ciri adanya reaksi terhadap stimulus berupa informasi, maka hal ini masuk padalevel response generator, yaitu menampung informasi yang tersimpan dalam LTM danmengubahnya menjadi reaksi atau jawaban dalam bentuk reaksi verbal maupun berbagaigerakan motorik. Jadi intinya pada tahap ini pusat perencana reaksi/jawaban menentukanbentuk dan pola dari reaksi/jawaban yang diberikan, yang kelak dituangkan dalam suatutindakan atau perbuatan. Hal ini senada batasan sikap menurut Ellis dalam Purwanto (2010)sebagai berikut: “Attitude involve some knowledge of situation. However, the essential aspectof the attitude is found in the fact that some characteristic feeling or emotion is exsperienced,and as we would accordingly exspect, some definite tendency to action is associated” dandapat diartikan bahwa yang sangat memegang peranan penting di dalam sikap adalah faktorperasaan dan emosi, dan faktor kedua adalah reaksi/respon, atau kecenderungan untukbereaksi. Dalam beberapa hal, sikap merupakan penentu yang penting dalam tingkah lakumanusia. Sebagai reaksi, maka sikap selalu berhubungan dengan 2 alternatif, yaitu like(senang) atau dislike (tidak senang), menurut dan melaksanakannya ataumenjauhi/menghindari sesuatu. Sedangkan Sukmadinata (2010) menyatakan bahwakecenderungan sikap manusia terhadap obyek dapat menolak, netral dan menerima.Perbedaan sikap tersebut dipengaruhi oleh komponen-komponen tertentu. Peningkatan sikap positif/menerima hampir 5 kali lipat setelah mengikuti kelas ibu hamilmerupakan respon tertutup dari responden yang menggembirakan terhadap evaluasipelaksanaan kelas ibu hamil, mengingat program tersebut baru diadakan pertama kalinya diwilayah Puskesmas Tladan. Menurut Notoatmodjo (2003: 124) sikap merupakan reaksi yangmasih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, responden yang memiliki sikap positif/menerima,juga memiliki komponen afeksi, kognisi, dan konasi yang baik dan selaras selama mengikutikelas ibu hamil. Hal ini selaras dengan 3 komponen pokok dalam terbentuknya sikap yangditegaskan Alport dalam Notoatmodjo (2003), yaitu perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi), danpredisposisi tindakan (konasi). Ketiga komponen ini secara selaras dan konsisten bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Apabila salah satu saja di antara ketigakomponen tersebut tidak konsisten dengan yang lain, maka akan terjadi ketidakselarasanyang menyebabkan timbulnya mekanisme perubahan sikap seseorang. Secara teoritis hasil penelitian ini juga sesuai dengan penjelasan Krathwohl, Bloom dkkdalam Winkel (2007), bahwa sikap merupakan bentuk overt behavior dari seseorang terhadapsuatu stimulus atau obyek. Sikap terdiri dari beberapa tingkatan, yaitu: receiving (menerima),responding (partisipasi), valuing (penilaian), organization (organisasi), characterization by avalue complex (pembentukan pola hidup).Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 128
  • 66. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Hasil penelitian menunjukkan peningkatan sikap positif/menerima, hal ini mungkinkarena responden sudah memperoleh pengetahuan yang baik maupun cukup setelahmengikuti kelas ibu hamil. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Robinson dalamMarzuki (1992: 28), bahwa salah satu manfaat dari suatu pelatihan adalah untuk memperbaikisikap individu terhadap suatu pekerjaan atau kegiatan.5.3 Perbedaan Keterampilan Antara Sebelum dan Sesudah Pelatihan Kelas Ibu Hamil Berdasarkan hasil pre-test dan post-test diketahui hasil pemusatan data (rerata, median,modus), nilai maksimum dan minimum sesudah pelaksanaan kelas ibu hamil jauh meningkatdibanding sebelum mengikuti kelas ibu hamil, sedangkan hasil penyebaran data yaitu rentang,varians dan simpangan baku cenderung menurun. Hasil Wilcoxon Signed Rank Testmenunjukkan mean rank keterampilan responden secara signifikan lebih tinggi dibandingsebelum mengikuti pelatihan kelas ibu hamil. Dengan demikian pelatihan kelas ibu hamilefektif untuk meningkatkan keterampilan ibu hamil. Meningkatnya keterampilan responden pada penelitian ini kemungkinan sebagai akibatdari adanya pengalaman belajar dalam kelas ibu hamil, sekaligus sebagai tolok ukur pertamaevaluasi pelaksanaan program pelatihan kelas ibu hamil, yang selanjutnya diikuti adanyaperubahan perilaku berupa kunjungan antenatal care sesuai jadual berdasarkan standar ideal.Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh tutor, tampak bahwa hasil belajar dalamkelas ibu hamil dalam bentuk gerakan motorik atau tindakan telah tercapai. Bila dikaitkandengan proses belajar menurut Atkinson dan Shiffrin dalam Winkel (2007), proses belajartelah sampai pada tahap effector. Pada tahap ini terjadi proses penampungan hasilperencanaan dan pelaksanaan rencana dalam bentuk tindakan atau perbuatan, diberikanprestasi yang menampakkan hasil belajar dan subyek mendapat umpan balik melaluiobservasi terhadap efek tindakannya atau melalui komentar orang lain. Peningkatan keterampilan responden setelah mengikuti kelas ibu hamil pada penelitianini hanya sebatas penilaian yang dilakukan sesaat diakhir pelatihan sebagai bagian darievalusasi akhir hasil belajar di dalam kelas. Belum diketahui apakah responden benar-benarmau dan mampu mempraktekkan keterampilan yang diperolehnya sebagai salah satu upayauntuk meningkatkan kesejahteraan ibu hamil dan bayi yang dikandungnya dalam kehidupansehari-hari. Keadaan yang diharapkan, tentunya responden dapat mempraktekkanketerampilan tersebut secara teratur dengan gerakan yang tepat sesuai video CD yang telahdibagikan oleh peneliti kepada masing-masing responden di akhir pertemuan kelas ibu hamil.Bila dikaitkan dengan tingkatan dari ranah psikomotor menurut Simpson dalam Winkel (2007),hasil belajar keterampilan motorik di dalam kelas berada pada tahap complex response(gerakan kompleks), yaitu kemampuan untuk melaksanakan suatu keterampilan yang terdiriatas beberapa komponen dengan lancar, tepat dan efisien, misalnya rangkaian gerakansenam hamil secara berurutan yang merupakan gabungkan beberapa sub keterampilanmenjadi suatu keseluruhan gerakan yang sinergis. Bila dapat mempraktekkan keterampilandalam kehidupan sehari-hari, berada pada tahap adjustment (penyesuaian pola gerakan),yaitu kemampuan untuk mengadakan perubahan dan menyesuaikan pola gerakan dengankondisi setempat, misalnya seorang ibu melakukan senam hamil menyesuaikan pola gerakansenam dengan situasi dan kondisi tertentu.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 129
  • 67. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Perubahan yang terjadi pada aspek kognitif, afektif dan psikomotor pada penelitian inimasih berada pada tahap evaluasi sesaat setelah pelaksanaan kelas ibu hamil yang belumdiketahui apakah perubahan pada ketiga aspek tersebut akan berlanjut, sebelum sampai padatujuan-tujuan akhir dari pelatihan kelas ibu hamil, terutama perubahan perilaku berupakunjungan antenatal care yang ideal pada diri responden. Kondisi ini didukung olehpernyataan Hamalik (2007), bahwa keberhasilan suatu proses belajar dari aspek kognitif,afektif dan psikomotor pada dasarnya baru mencapai tahap terminal performances (perilakuterminal), yang selanjutnya penting untuk mewujudkan behavior objectives (tujuan-tujuanperilaku) dari suatu program pembelajaran.5.4 Perbedaan Kunjungan ANC Antara Sebelum dan Sesudah Kelas Ibu Hamil. Dari hasil studi dokumentasi menggunakan buku KIA diketahui setelah respondenmengikuti pelatihan kelas ibu hamil kunjungan antenatal care berdasarkan standar idealmeningkat 3 kali dibanding sebelum mengikuti pelatihan kelas ibu hamil, sedangkan hasilMcNemar Test menunjukkan setelah responden mengikuti pelatihan kelas ibu hamil kunjunganantenatal care yang mencapai ideal secara signifikan lebih tinggi dibanding sebelum mengikutipelatihan kelas ibu hamil. Dengan demikian pelatihan kelas ibu hamil di Desa Tladan efektifuntuk meningkatkan kunjungan ANC berdasarkan standar ideal. Jika dikaitkan dengan peningkatan aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilanresponden sesudah pelatihan kelas ibu hamil, yang selanjutnya diikuti adanya peningkatankunjungan antenatal care setelah 2 bulan pasca pelatihan, tampak bahwa pelatihan kelas ibuhamil telah mencapai keberhasilan secara utuh. Hal di atas relevan dengan uraian yangdikemukakan Siagian (1994) bahwa isi program pelatihan (the training program content)adalah keahlian (keterampilan), pengetahuan dan sikap yang merupakan pengalaman belajardari suatu pelatihan diharapkan dapat menciptakan perubahan perilaku. Hal senada jugadisampaikan oleh Gomes (2003: 204) yang menyatakan bahwa pelaksanaan suatu programpelatihan dikatakan berhasil apabila dalam diri peserta pelatihan terjadi suatu prosestransformasi pengalaman belajar, proses transformasi tersebut dinyatakan berlangsungdengan baik apabila terjadi minimal 2 hal, yaitu peningkatan keterampilan dan perubahanperilaku yang tercermin pada sikap, disiplin dan etos kerja. Evaluasi perubahan kunjungan antenatal care pada penelitian ini dilakukan setelahresponden menerima pengetahuan seputar kesehatan ibu dan anak pada kelas ibu hamil, dandiharapkan perubahan yang terjadi tetap dipertahankan hingga akhir kehamilan. Dalam hal iniNotoatmodjo (2003) secara teoritis menyatakan bahwa perilaku yang didasari olehpengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.Menurut Skiner (1938) dalam Notoatmodjo (2003: 115), kunjungan antenatal care merupakansalah satu bentuk perilaku terbuka (overt behavior), yang merupakan suatu manifestasi tingkatlanjut dari sikap atau perilaku tertutup (covert behavior). Bloom (1908) dalam Notoatmodjo(2003) menjelaskan bahwa penilaian terhadap perilaku kesehatan berdasarkan 3 faktor, yaituknowledge, attitude dan practice. Berdasarkan pembagian tingkat domain kognitif Bloom dalam Winkel (2007), perilakuyang dinilai pada penelitian ini hanya terbatas pada tingkat aplikasi yang merupakan bentukkonkrit dari penguasaan suatu konsep, teori dan abstraksi lainnya dengan bentangan waktuyang pendek. Pada hasil penelitian ini diketahui tingkat pemahaman responden selamaJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 130
  • 68. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098mengikuti kelas ibu hamil, dan pada akhirnya mempraktekkannya dalam situasi yangkonkrit/nyata tentang apa yang diperoleh selama mengikuti kelas ibu hamil dalam bentukperilaku berupa kunjungan antenatal care secara ideal. Pada penelitian ini evaluasi hasil pelatihan kelas ibu hamil dari aspek perilakumemerlukan waktu relatif lama dan sulit diperkirakan kapan waktu terjadinya walaupun adakesempatan. Hal ini sangat tergantung pada faktor internal dan eksternal yang tidak samapada diri responden, selain memerlukan adanya kriteria yang lebih rumit dan akurat untukmenilai perilaku yang diharapkan. Kondisi tersebut sesuai dengan pernyataan Kirkpatrickdalam Hary (2010), bahwa evaluasi hasil pelatihan pada jenjang ketiga, yaitu behavior lebihrumit bila dibanding jenjang sebelumnya (reaction dan learning) karena beberapa hal:1. Peserta pelatihan tidak dapat mengubah perilakunya sampai mereka mendapat kesempatan untuk mempraktekkan hal yang sudah diajarkan dalam pelatihan.2. Sulit untuk melakukan prediksi kapan perubahan perilaku akan terjadi. Walaupun mereka memiliki kesempatan untuk mengaplikasikannya, namun perubahan perilaku belum tentu terjadi secara langsung.3. Reward untuk melakukan perubahan perilaku sangat berpengaruh dan diperlukan untuk membantu agar terjadi perubahan perilaku ketika peserta selesai mengikuti pelatihan.4. Untuk dapat mengevaluasi pelatihan harus dibuat keputusan mengenai: kapan, seberapa sering, dan dengan cara apa perubahan perilaku akan diukur. Dengan pengetahuan, sikap positif, dan keterampilan yang telah diperoleh selamamengikuti kelas ibu hamil, paling tidak pada penelitian ini responden telah mengetahuibagaimana kunjungan antenatal care yang ideal sebagai salah satu bentuk perilaku kesehatanyang merupakan bagian dari kurikulum kelas ibu hamil. Selanjutnya diharapkan respondendapat mengadopsi perilaku antenatal care ideal dalam kehidupan sehari-hari dengan penuhkesadaran akan kebutuhan dirinya sebagai tahap akhir proses perubahan perilaku. Hal inisejalan dengan hasil penelitian Rogers (1997) dalam Notoatmodjo (2003) mengungkap bahwasebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadiproses yang berurutan yakni: awareness, interest, evaluation, trial, dan adaption. Merril (1971:10) dalam Gafur (1986:22) menjelaskan bahwa pengajaran adalah suatukegiatan di mana seseorang diubah atau dikontrol, dengan maksud ia dapat bertingkah lakuatau bereaksi terhadap kondisi tertentu. Jelaslah bahwa pelatihan sebagai salah satu bentukdari pembelajaran bertujuan untuk mengubah perilaku peserta. Jika obyek pembelajaran yangdigarap adalah pelatihan kelas ibu hamil, maka diharapkan peserta berperilaku menerapkankunjungan antenatal care secara ideal. Adanya perbedaan kunjungan antenatal care antarasebelum dan sesudah pelatihan menunjukkan bahwa pelatihan efektif untuk mengubahperilaku ibu hamil, sebagaimana disampaikan oleh Gomes (1995) bahwa evaluasi perilakudilakukan dengan membandingkan perilaku peserta sebelum dan sesudah pelatihan. Bila dilihat hasil pelatihan secara keseluruhan terhadap evaluasi keempat aspek padapenelitian ini masing-masing individu menunjukkan hasil yang berbeda, mungkin hal ini jugaterkait dengan motivasi dari peserta pelatihan kelas ibu hamil yang belum dikupas di dalampenelitian ini, karena proses belajar pada responden, walaupun sama-sama belajar namunada kemungkinan responden yang satu belajar secara lebih efisien, lebih fleksibel, lebih kreatifdan dengan semangat yang lebih tinggi dibanding dengan responden yang lain. Variasi iniJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 131
  • 69. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098menurut Winkel (2007: 344) disebabkan yang satu lebih baik dalam persepsi selektif, dalammengambil makna dari materi pelajaran yang diolah, dalam menemukan bentuk organisasiinformasi dan dalam menggali informasi yang tersimpan dalam ingatannya, lebih-lebih di LTM,dan gambaran tentang proses belajar sebagai rangkaian dari subproses belum lengkap, masihada 2 faktor yang berperan dan merupakan sub proses tersendiri, yaitu proses mengontrol diridan proses motivasi diri. Zainul dan Nasution (2005) menjelaskan bahwa perbedaan antara pre test dan post testberhubungan dengan kualitas proses belajar dan mengajar. Jika proses belajar mengajar baik,maka terdapat perbedaan yang besar antara hasil post test dengan hasil pre test.Keberhasilan tes dapat menjadi motivasi mempertahankan dan meningkatkan hasilnya. Di sisilain Purwanto (2010), menyatakan bahwa faktor internal dan eksternal mempengaruhi selamaproses belajar mengajar. Faktor tersebut adalah: 1) faktor lingkungan baik alam maupunsosial, 2) faktor instrumen meliputi kurikulum, tutor, fasilitas dan sarana, serta manajemen, 3)faktor fisiologi yaitu kondisi fisik dan pancaindera dari masing-masing responden, 4) faktorpsikologi meliputi minat, kecerdasan, motivasi dan kemampuan kognitif responden.SIMPULAN DAN SARANSimpulan1. Setelah mengikuti pelatihan kelas ibu hamil, nilai rerata pengetahuan dan keterampilan, sikap positif serta kunjungan antenatal care berdasarkan standar ideal meningkat dibanding sebelum mengikuti pelatihan kelas ibu hamil.2. Setelah mengikuti pelatihan kelas ibu hamil, nilai rerata pengetahuan, mean rank sikap positif dan keterampilan serta kunjungan antenatal care berdasarkan standar ideal secara signifikan lebih tinggi dibanding sebelum mengikuti pelatihan kelas ibu hamil.Saran1. Diharapkan pihak pemerintahan desa senantiasa memberikan dukungan, baik secara material maupun financial pada kegiatan kesehatan yang ada di desa, utamanya kelas ibu hamil dengan dilanjutkan dibukanya kelas ibu balita.2. Bagi ibu hamil diharapkan berusaha meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang sudah diperoleh melalui kelas ibu hamil dan mempertahankan sikap serta perilaku yang positif, yaitu dengan tetap mengikuti kelas ibu hamil, melakukan kunjungan antenatal care secara teratur sesuai standar ideal, melahirkan ke tenaga kesehatan dan dilanjutkan dengan mengikuti kelas ibu balita setelah melahirkan secara swadana.3. Diharapkan program kelas ibu hamil tetap dilanjutkan di puskesmas sebagai wadah untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan dan perilaku ibu hamil dan dikembangkan secara lebih luas, tidak hanya di desa Tladan tetapi di desa lain sebagai upaya untuk meningkatkan kemandirian dan kesadaran ibu hamil dan keluarga.4. Untuk bidan diharapkan dapat melaksanakan dan mengembangkan kelas ibu hamil di desa binaannya masing-masing serta senantiasa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas kepada masyarakat.5. Diharapkan dilaksanakan penelitian lanjutan tentang kelas ibu hamil yang lebih berkualitas, misalnya dengan menggunakan desain yang lebih baik berupa true exsperiment design,Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 132
  • 70. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 menggunakan populasi yang lebih luas dan sampel yang lebih representatif, dan faktor- faktor lain yang belum sempat diteliti karena keterbatasan peneliti, mengingat kelas ibu hamil merupakan salah satu program pemerintah terbaru di bidang kesehatan yang terbukti efektif dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan dan kunjungan antenatal care secara ideal dalam upaya menekan morbiditas dan mortalitas pada ibu dan bayi.DAFTAR PUSTAKAArikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.Azwar, S. 2008. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Salemba Medika.Cunningham. 2005. Obstetri Williams. Jakarta: EGC.Dahlan, M.S. 2009. Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan. Seri Evidence Based medicine 1. Jakarta: Salemba Medika.Fuadadman. 2010. Konsep Pelatihan. http://fuadadman.com (diakses 5 Oktober 2010).Gafur A. 1986. Desain Instruksional (Suatu Langkah Sistematis Penyusunan Pola Dasar Kegiatan Belajar dan Mengajar). Solo: Tiga Serangkai.Gomes, F.C. 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Andi Offset.Hadi dan Haryono. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.Hamalik, O. 2007. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru AlgensindoHary. 2010 Empat Jenjang Evaluasi Pelatihan Menurut Kirpatrick http:// leapinstitute.com/articles/empat-jenjang-evaluasi-pelatihan (diakses 6 Oktober pukul 22.15).Manuaba, I.B.G.1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.Marzuki, M.S. 1992. Strategi dan Model Pelatihan. Malang: IKIP Malang.Metode Pelatihan. Kajian Pedesaan secara Partisipatif. www.deliveri.orgMochtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri. Jilid 1. Jakarta: EGCMoekijat. 1990. Pengembangan dan Motivasi. Bandung: Pionir JayaNanda. 2005. Nursing diagnoses: definitions and classification 2005-2006. Nanda International, Philadelpia.Notoatmodjo, S. 2003a. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta.______. 2003b. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.______. 2005c. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.Nugroho, H.S.W, A.Suharto, dan N.Usnawati. 2009. Evaluasi Pelatihan PAUD dalam Pemantauan Perkembangan Anak Pra sekolah. Jurnal Penelitian Politeknik Kesehatan. Volume VII, nomor 2: 1693-3753.Nursalam dan S. Pariani. 2001. Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta: Info Media.Nursalam. 2001a. Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta: CV. Inti Media.______. 2003b. Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.Osninelli. 2009. Pengaruh Pendidikan Prenatal Melalui Kelas Ibu Hamil Dengan Persalinan Tenaga Kesehatan di Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. Tesis, Program PascaJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 133
  • 71. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Sarjana FK UGM, Yogyakarta http://arc.ugm.ac.id/files/Abst_(3892-H-2007).pdf. (diakses 1 Oktober 2010 pukul 08.25).Purwanto, H. 1998. Pengantar Perilaku Manusia untuk Keperawatan. Jakarta : EGCPurwanto, N. 2010. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja RosdakaryaR.I., Departemen Kesehatan. 2009a. Pedoman Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil. Jakarta: Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat dan JICA.______. 2009b. Pedoman Umum Manajemen Kelas Ibu Hamil. Jakarta: Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat dan JICA.______. 2009c. Pegangan Fasilitator Kelas Ibu Hamil. Jakarta: Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat dan JICA.______. 2009d. Pelatihan Kelas Ibu Hamil. Jakarta: Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat dan JICA.Saifuddin, A.B. 2006. Buku Acuan Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal.Siagian, SP. 1996. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Bumi AksaraSimamora, B. 2008. Panduan Riset Perilaku Konsumen. Jakarta: GramediaSimamora, H. 1997. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Bagian Penerbit STIE.Sugiyono. 2007. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: AlfabetaSukmadinata, N.S. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.Sumantri, S. 2000. Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Bandung: Fakultas Psikologi Unpad.Suparyanto. 2010. Konsep Kelas Ibu Hamil. http://dr-suparyanto.blogspot.com/ 2010/07/konsep-kelas-ibu-hamil.html. (diakses 29 September pukul 18.37).Tjiptono, F dan Diana, A. 1998. Total Quality , Management. Yogyakarta : Andi Offset.Veithzal, Rivai. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.Widayatun, T.R. 2009. Ilmu Perilaku M.A.104. Jakarta: Sagung SetoWiknjosastro, H. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBP. SP.Winkel, W.S. 2007. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Media AbadiZainul A dan Nasution N. 2005. Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Direktorat Jendral PendidikanTinggi Departemen Pendidikan Nasional.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 134
  • 72. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 DESKRIPSI KUALITAS INTERNET KAMPUS SECARA MULTI DIMENSI DI KAMPUS KEBIDANAN MAGETAN POLTEKKES KEMENKES SURABAYA Heru Santoso Wahito Nugroho*, Rumpiati** ABSTRAK Layanan Internet Kampus Kebidanan Magetan Poltekkes Kemenkes Surabaya telahberjalan sejak tahun 2008. Hasil penelitian terakhir mengenai kualitas internet kampussetempat telah dilakukan pada bulan Mei 2010. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwamahasiswa sangat tidak puas terhadap atribut sarana, tempat, kecepatan dan keandalan.Sedangkan kategori tidak puas tertuju pada atribut waktu, keterjangkauan biaya, fungsiinformasi, fungsi komunikasi, fungsi hiburan dan kontinuitas internet kampus. Secarakeseluruhan, mahasiswa tidak puas terhadap sistem internet kampus. Berdasarkan strategiperbaikan menggunakan Diagram Kartesius, upaya pengembangan atribut kualitas internetkampus menurut urutan proritas adalah: 1) Kuadran I: sarana dan tempat, 2) Kuadran III:kecepatan dan keandalan, 3) Kuadran II: waktu, fungsi sebagai sumber informasi, dankontinuitas, 4) Kuadran IV: keterjangkauan biaya, fungsi sebagai sarana komunikasi, danfungsi sebagai sarana hiburan. Untuk memperkuat keyakinan tentang strategi pengembangan di atas, diperlukanpenelitian lanjutan. Untuk itulah penelitian ini dilakukan, berupa studi deskriptif sebagaipembanding, menggunakan data sekunder yang telah diperoleh pada penelitian terdahulupada Bulan Mei 2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh dimensi kualitas masihberada dalam kategori buruk.Kata Kunci: kualitas, internet kampus* = Poltekkes Kemenkes Surabaya, Jurusan Kebidanan Kampus Magetan** = Akademi Kebidanan Muhammadiyah MadiunPENDAHULUANLatar Belakang Proses pendidikan kesehatan di era global sangat ditentukan oleh tingkat penguasaan TIoleh para peserta didik, sehingga diperlukan pergeseran paradigma pembelajaran, sepertidisampaikan oleh Suganda (1997) yaitu dari pembelajaran tradisional menuju pembelajaranera informasi. Untuk itulah Kampus Kebidanan Magetan Poltekkes Kemenkes Surabaya telahmenyediakan internet kampus sejak tahun 2008. Hasil penelitian terakhir mengenai kualitasinternet kampus setempat telah dilakukan pada bulan Mei 2010. Hasil penelitian tersebutmenunjukkan bahwa mahasiswa sangat tidak puas terhadap atribut sarana, tempat, kecepatandan keandalan. Sedangkan kategori tidak puas tertuju pada atribut waktu, keterjangkauanbiaya, fungsi informasi, fungsi komunikasi, fungsi hiburan dan kontinuitas internet kampus.Secara keseluruhan, mahasiswa tidak puas terhadap sistem internet kampus. Berdasarkanstrategi perbaikan menggunakan Diagram Kartesius, upaya pengembangan atribut kualitasinternet kampus menurut urutan proritas adalah: 1) Kuadran I: sarana dan tempat, 2) KuadranIII: kecepatan dan keandalan, 3) Kuadran II: waktu, fungsi sebagai sumber informasi, danJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 135
  • 73. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098kontinuitas, 4) Kuadran IV: keterjangkauan biaya, fungsi sebagai sarana komunikasi, danfungsi sebagai sarana hiburan.Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan:1. Mendeskripsikan kualitas masing-masing dimensi (waktu, sarana, tempat yang tersedia, keterjangkauan biaya, kecepatan, keandalan, fungsi sebagai sumber informasi, fungsi sebagai sarana komunikasi, fungsi sebagai sarana hiburan, dan kontinuitas sistem) pada sistem internet Kampus Kebidanan Magetan Poltekkes Kemenkes Surabaya.2. Mendeskripsikan kualitas internet kampus secara keseluruhan pada sistem internet Kampus Kebidanan Magetan Poltekkes Kemenkes Surabaya.3. Menganalisis korelasi antara kualitas masing-masing dimensi internet kampus dengan kualitas internet kampus secara keseluruhan.BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian deskriptif ini dilaksanakan di Kampus Magetan Jurusan Kebidanan PoltekkesKemenkes Surabaya pada bulan November 2010. Ada 11 variabel penelitian yaitu: 1) kualitasdimensi waktu, 2) kualitas dimensi sarana, 3) kualitas dimensi tempat yang tersedia, 4)kualitas dimensi keterjangkauan biaya, 5) kualitas dimensi kecepatan, 6) kualitas dimensikeandalan, 7) kualitas dimensi fungsi sebagai sumber informasi, 8) kualitas dimensi fungsisebagai sarana komunikasi, 9) kualitas dimensi fungsi sebagai sarana hiburan, 10) kualitasdimensi kontinuitas sistem pada sistem internet kampus, dan 11) kualitas internet kampussecara keseluruhan. Kualitas internet kampus diukur dengan selisih kinerja internet kampus dengan tingkatkepentingan internet kampus menurut persepsi pengguna, yakni mahasiswa tingkat I sejumlah40 orang. Data penelitian adalah data sekunder berupa hasil pengisian kuesioner daripenelitian sebelumnya oleh Tumirah dan Nugroho pada bulan Mei 2010. Analisis data secara deskriptif dilakukan untuk menggambarkan kualitas dimensi-dimesikualitas internet kampus, serta kualitas internet kampus secara keseluruhan, yang disajikandengan tabel distribusi frekuensi. Kategori kualitas ditentukan sebagai berikut: buruk (-4,00 s/d< 0,00) dan baik (0,00 s/d 4,00).HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANHasil Penelitian Distribusi kualitas internet kampus disajikan pada Tabel 1. Dari tabel tersebut tampakbahwa semua dimensi kualitas internet kampus mayoritas dinilai buruk oleh pengguna. Hanyasedikit penilaian kualitas baik pada masing-masing dimensi, bahkan tak seorangpun yangmemberikan penilaian baik terhadap kualitas internet kampus secara keseluruhan.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 136
  • 74. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Tabel 1. Kualitas Internet Kampus Kebidanan Magetan pada Bulan November 2010 Kualitas No Dimensi Baik Buruk Jumlah Persen Jumlah Persen 1 Waktu yang tersedia 9 22,5 31 77,5 2 Sarana yang tersedia 4 10,0 36 90,0 3 Tempat yang tersedia 4 10,0 36 90,0 4 Keterjangkauan biaya 16 40,0 24 60,0 5 Kecepatan 7 17,5 33 82,5 6 Keandalan 4 10,0 36 90,0 7 Fungsi sebagai sumber informasi 9 22,5 31 77,5 8 Fungsi sebagai sarana komunikasi 12 30,0 28 70,0 9 Fungsi sebagai sarana hiburan 12 30,0 28 70,0 10 Kontinuitas 11 27,5 29 72,5 11 Overall (keseluruhan) 0 0,0 40 100,0Pembahasan Dari kesepuluh atribut yang ada, secara umum semuanya mendapat penilaianberkualitas buruk oleh mahasiswa Kampus Kebidanan Magetan Poltekkes KemenkesSurabaya. Bahkan seluruh mahasiswa menilai bahwa kualitas internet kampus secarakeseluruhan adalah buruk. Empat dimensi dinilai buruk oleh hampir semua mahasiswa, yaitudimensi sarana, tempat, kecepatan dan keandalan internet kampus. Hasil analisis tersebut sesuai dengan hasil analisis penelitian terdahulu oleh Tumirahdan Nugroho (2010) yang menunjukkan dengan jelas bahwa para mahasiswa sebagaipengguna sangat tidak puas terhadap atribut sarana, tempat, kecepatan dan keandalaninternet kampus Kebidanan Magetan. Keadaan ini semakin memperjelas bahwa internetkampus belum dapat memenuhi harapan mahasiswa sebagai pelanggan layanan pendidikan.Hal ini didasarkan atas pernyataan Kotler (2008) bahwa puas atau tidak puasnya pembelisetelah melakukan pembelian (termasuk pembelian jasa internet kampus), tergantung kepadakinerja tawaran dalam pemenuhan harapan pembeli. Secara umum, kepuasan adalahperasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan kinerja atauhasil produk yang dipikirkan terhadap kinerja atau hasil yang diharapkan. Jika kinerja beradadi bawah harapan, maka pelanggan tidak puas. Jika kinerja melebih harapan, maka pelangganamat puas atau senang. Berdasarkan penemuan di atas, perbaikan kualitas sistem internet kampus jelas menjadikebutuhan dengan nilai urgensi tinggi, karena jika konsumen merasa tidak puas, umumnyamereka akan melampiaskan kekecewaannya dengan cara menceritakan pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan kepada banyak orang. Simamora (2001) menyatakanbahwa konsumen yang puas akan bercerita kepada dua orang lainnya mengenaikepuasannya, sedangkan konsumen yang kecewa akan bercerita kepada sepuluh oranglainnya tentang kekecewaannya. Orang sangat tanggap terhadap kekecewaan orang lain.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 137
  • 75. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Pada penelitian terdahulu oleh Tumirah dan Nugroho (2010) telah ditentukan bahwastrategi perbaikan kualitas adalah menggunakan metode Diagram Kartesius TingkatKepentingan dan Kinerja, dengan urutan prioritas sebagai berikut:1) sarana dan tempat,2) kecepatan dan keandalan,3) waktu, fungsi sebagai sumber informasi, dan kontinuitas,4) keterjangkauan biaya, fungsi sebagai sarana komunikasi, dan fungsi sebagai sarana hiburan.SIMPULAN DAN SARAN Secara umum, kualitas internet kampus Kebidanan Magetan masih buruk. Dengandemikian disarankan agar segera dilakukan pembenahan agar dapat berfungsi sebagai mediapembelajaran yang betul-betul bermanfaat bagi sivitas akademika.DAFTAR PUSTAKAKotler Philip and Keller Kevin Lane. 2008. Manajemen Pemasaran. Jilid 1. Penerjemah: Benyamin Molan. Jakarta: PT Indeks.Kotler Philip and Keller Kevin Lane. 2008. Manajemen Pemasaran. Jilid 2. Penerjemah: Benyamin Molan. Jakarta: PT Indeks.Pohan Imbalo S. 2007. Jaminan Mutu Layanan Kesehatan, Dasar-Dasar, Pengertian dan Penerapan. Jakarta: EGC.Rangkuti Freddy. 2003. Measuring Customer Satisfaction: Gaining Customer Relationship Strategy, Teknik Mengukur dan Strategi Meningkatkan Kepuasan Pelanggan dan Analisis Kasus PLN-JP. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.Simamora Bilson. 2001. Remarketing For Business Recovery, Sebuah Pendekatan Riset. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.Simamora Bilson. 2002. Panduan Riset perilaku Konsumen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.Tjiptono Fandy. 2005. Prinsip-Prinsip Total Quality Service. Yogyakarta: Andi Offset.Tjiptono Fandy. 2006. Manajemen Jasa. Yogyakarta: Andi OffsetJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 138

×