Volume2 nomor2

5,973 views

Published on

j

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
5,973
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
31
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Volume2 nomor2

  1. 1. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098EDITORIALSalam dari RedaksiSyukur Alhamdulillah penerbitan Volume II Nomor 2 ini dapat dilaksanakan tepat pada bulanApril 2011. Pada nomor ini diterbitkan hasil penelitian rekan-rekan peneliti dari Magetan,Madiun, Kediri, Jember, Yogyakarta, serta Banda Aceh.Artikel-artikel yang ditampilkan merupakan hasil penelitian dalam bidang kesehatanlingkungan, kesehatan masyarakat, kesehatan anak, keperawatan, kebidanan, sertapendidikan dalam bidang kesehatan.Seperti editorial-editorial terdahulu, kami senantiasa mengajak Para Pembaca untukmengunjungi jurnal ini dalam versi online di www.suaraforikes.webs.com. Selanjutnya kamiucapkan terimakasih kepada seluruh Pembaca dan selamat berjumpa pada Volume II Nomor3, Juli 2011.RedaksiJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes
  2. 2. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098DAFTAR ISIPENYELIDIKAN KEJADIAN LUAR BIASA DEMAM BERDARAH DENGUE DI 66-74KOTA BANDA ACEH T. AlamsyahPENGARUH FAKTOR PETUGAS DIARE PUSKESMAS TERHADAP KUALITAS 75-81PENATALAKSANAAN DIARE PADA BALITA DI KABUPATEN MAGETAN MujiyonoHUBUNGAN ANTARA STATUS SOSIAL ORANG TUA DENGAN KEKERASAN 82-90FISIK PADA ANAK UMUR 3-6 TAHUN DI KABUPATEN JEMBER GumiartiPERBEDAAN KEJADIAN ABORTUS BERDASARKAN PARITAS DI RSIA AURA 91-96SYIFA KABUPATEN KEDIRI Koekoeh Hardjito, Temu Budiarti, Yuni Mada NurikaSTUDI TENTANG SANITASI RUMAH PENDERITA TB PARU DI WILAYAH 97-104PUSKESMAS KARANGREJO KABUPATEN MAGETAN TAHUN 2009 Mujiyono, Tiya RahmawatiHUBUNGAN ANTARA PARITAS DENGAN KEJADIAN KEHAMILAN POST TERM 105-108 Agung Suharto, Evi Nindyasari, Rahayu SumaningsihSTUDI TENTANG SANITASI RUMAH PENDERITA ISPA DI DESA PAKIS BARU 109-115KECAMATAN NAWANGAN KABUPATEN PACITAN Mujiyono, Farida Ririn AnggrainiHUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG KODE 116-121ETIK KEPERAWATAN DAN HUKUM KESEHATAN DENGAN KINERJA PERAWATDALAM MEMBERIKAN ASUHAN KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT PKUMUHAMMADIYAH YOGYAKARTA TAHUN 2009 Fitri Arofiati, WahyuniEFEKTIFITAS PELATIHAN KELAS IBU HAMIL UNTUK MENINGKATKAN 122-134PENGETAHUAN, SIKAP, KETERAMPILAN DAN KUNJUNGAN ANTENATALCARE Puji Sri Hastuti, Heru Santoso Wahito Nugroho, Nana UsnawatiDESKRIPSI KUALITAS INTERNET KAMPUS SECARA MULTI DIMENSI DI 135-138KAMPUS KEBIDANAN MAGETAN POLTEKKES KEMENKES SURABAYA Heru Santoso Wahito Nugroho, RumpiatiJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes
  3. 3. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 PENYELIDIKAN KEJADIAN LUAR BIASA DEMAM BERDARAH DENGUE DI KOTA BANDA ACEH T. Alamsyah* ABSTRAK Demam berdarah hingga saat ini masih menjadi salah satu masalah kesehatanmasyarakat di Indonesia. Jangkitan demam berdarah dengue (DBD) mulai menyerangsejumlah daerah di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan meluas dan merambah kedaerah endemis baru. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran besarnya masalahKLB DBD di empat kecamatan (Kuta Alam, Syiah Kuala, Banda Raya, dan Baiturahman).yangmenjadi kecamatan endemis dalam Kota Banda Aceh. Metode penelitian meliputi penentuan wilayah cakupan (4 kecamatan di Kota BandaAceh), pemastian diagnosis (kriteria diagnosis DBD oleh WHO tahun 1997 dan uji IgM Elisa),pengumpulan data sekunder (rumah sakit, puskesmas, laboratorium, Dinkes Kota, dan datapenunjang lain), pengumpulan data primer (kuesioner penjaringan kasus DBD), penelitiankasus, dilanjutkan analisis data (deskriptif retrospektif dengan pengumpulan data secara activecase finding yaitu dengan melakukan Surveilans Aktif Rumah Sakit (SARS) untuk mengetahuijumlah pasien yang dirawat di rumah sakit akibat DBD dan dianalisa menggunakan statistikepidemiologi yaitu Attack Rate dan Case Fatality Rate). Simpulan penelitian adalah: telah terjadi KLB DBD di Kota Banda Aceh pada bulanNovember, dengan tipe propagated, Kecamatan Baiturahman memiliki jumlah kasusterbanyak, kasus terbanyak pada umur di atas 15 tahun, dampak gempa dan tsunamimerupakan salah satu faktor determinan, dan sistem surveilans oleh Dinkes Kota Banda Acehdan jajarannya belum optimal. Saran: perlu penyuluhan tentang pencegahan dan penangananDBD dan berprilaku hidup sehat, Perlu sistem surveilans yang lebih optimal dan terpadu agarpenanganan dan pencegahan KLB DBD dapat terdeteksi secara dini, perlu peningkatankerjasama secara lintas sektoral guna penanganan KLB DBD.Keyword: Surveilans, Malaria,* = Politeknik Kesehatan Kemenkes Banda AcehPENDAHULUANLatar Belakang Demam berdarah hingga saat ini masih menjadi salah satu masalah kesehatanmasyarakat di Indonesia. Jumlah penderita cenderung meningkat serta semakin meluas dariwaktu ke waktu baik di daerah perkotaan maupun daerah pedesaan. Jangkitan demamberdarah dengue (DBD) mulai menyerang sejumlah daerah di Propinsi Nanggroe AcehDarussalam sejak bulan oktober dan terus meluas dan merambah ke daerah endemis baru.Kasus pertama yang diduga sebagai kasus DBD muncul pada 27 september 2005 yangmenimpa seorang anak yang masih duduk di kelas II SD yang bernama Muhammad Arif Rifatyang meninggal dunia di RS Harapan Bunda Banda Aceh.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 66
  4. 4. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Menurut keterangan dokter yang menangani pasien, pasien datang dengan gejalamuntah dengan cairan kehitaman dan dalam kondisi kritis sehingga dokter memperkirakanbahwa anak tersebut mengalami (DBD) namun sebelum pemastian diagnosa dengan ujilaboratorium dilakukan, anak tersebut telah meninggal dunia. Korban merupakan pendudukLorong gelatik Kampung Surabaya Banda Aceh. Berdasarkan laporan tersebut, DinasKesehatan Kota Banda Aceh mulai melakukan respon akan munculnya waban DBD di KotaBanda Aceh. Kasus kasus yang memiliki gejala penyakit DBD di anjurkan untuk dilakukanpemeriksaan laboratorium sehingga penegakan diagnosan dapat dilakukan dengan pasti. Angka insidensi DBD hingga bulan november 2005 telah mengalami peningkatan yaitu75 kasus dengan CFR 1,33% bila dibandingkan dengan tahun 2004 maka telah terjadipeningkatan jumlah kasus. Peningkatan kasus paling banyak terjadi pada bulan Novemberyaitu 48 kasus baru di bandingkan pada bulan November tahun lalu 10 kasus makapeningkatan kasus telah 4 kali. Hal ini dapat di kategorikan bahwa untuk bulan November KotaBanda Aceh telah mengalami KLB deman berdarah (DBD) untuk tahun 2005. Kecamatan yang menjadi daerah endemis di dalam kota Banda Aceh dalam tahun 2005meliputi Kecamatan Kuta Alam, Syiah Kuala, Banda Raya dan.Baiturahman. Jumlah desaendemis dalam Kota Banda Aceh untuk tahun 2005 adalah 10 desa. Kesepeluh desa endemisdalam wilayah Kota Banda Aceh antara lain adalah ; Desa Lamlagang, Setui, Sukadamai,Peuniti, Ateuk Pahlawan, Kuta Alam, Kampung Keramat, Banda Baru dan Kampung Pineung.Tujuan dan Hipotesis Secara umum tujuan penelitian adalah mengetahui gambaran besarnya masalah KLBDBD di empat kecamatan endemis DBD (Kuta Alam, Syiah Kuala, Banda Raya, danBaiturahman). Sedangkan tujuan secara khusus adalah: 1) memperoleh kepastian terjadinyaKLB DBD, 2) memperoleh gambaran deskripsi KLB DBD, 3) menetapkan sumber dan carapenularan KLB DBD, 4) evaluasi program penanggulangan KLB DBD, dan 5) merumuskansaran, cara penanggulangan, dan pengendalian KLB DBD. Hipotesis penelitian: Telah terjadi KLB DBD di Kota Banda Aceh tahun 2005.BAHAN DAN METODE PENELTIANBatasan Wialayah Pelacakan Wilayah cakupan penelitian ini adalah 4 kecamatan endemis di Kota Banda Aceh yaitu;Kecamatan Kuta Alam, Syiah Kuala, Banda Raya, dan Baiturahman.Pemastian Diagnosis Pemastian diagnosis DBD dilakukan dengan melihat gejala klinis dari pasien serta hasiluji laboratorium yang dilakukan. Penegakan diagnosis tersebut di dasarkan pada kriteiadiagnosis DBD yang dikeluarkan oleh WHO tahun 1997 dan didukung oleh uji IgM Elisa(Mac Elisa). Uji ini bertujuan untuk mengetahui kandungan Igmdalam serum pasien, dimanabiasanya pada hari ke 4-5 infeksi virus dengue maka akan timbul IgM dan diikuti oleh IgG.Pengumpulan Data SekunderUntuk menetapkan adanya kejadian KLB dan untuk mengetahui pelaksanaan sistemsurveilans yang telah berlangsung, dilakukan pengkajian terhadap data sekunder meliputi:1. Data Rumah SakitJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 67
  5. 5. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Berupa data laporan bulanan rumah sakit (RL2a), data laporan kasus rawat inap penderita DBD di rumah sakit, meliputi tanggal masuk dan keluar dari rumah sakit serta keadaan pasien sehat atau meninggal setelah menjalani proses perawatan.2. Data Puskesmas Berupa data laporan Puskesmas yaitu laporan mingguan (W2), laporan bulanan DBD (W1), data kasus per desa. Di kumpulkan juga data tentang sarana puskesmas dan tenaga kesehatan di Puskesmas. Di Samping itu dilakukan juga wawancara dengan petugas DBD mengenai sistem pencatatan dan pelaporan, tindak lanjut penenmuankasus dan fogging.3. Data Laboratorium Data Laboratorium diambil dari catatan medik rumah sakit pada lembar hasil pemeriksaan Laboratorium berupa pemeriksaan hemoglobin (Hb), hematokrit (Ht) dan jumlah trombosit.4. Data Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh Data yang diambil adalah data kasus DBD mingguan, data bulanan selama satu tahun, per desa dalam wilayah pusksesmas di Kota Banda Aceh. Wawancara terhadap petugas P2 DBD tentang oencatatan, pelaporan dan umpan balik laporan rumah sakit dan puskesmas.5. Data penunjang Lain Data ini mengenai kependudukan, geografi dan demografi.Pengumpulan Data Primer Data primer dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang telah disusun ditujukanuntuk penjaringan kasus DBD dengan pewawancara dari Puskesmas dan karyasiswa.Penelitian Kasus1. Batasan Kasus Kasus adalah semua penderita yang dirawat dan didiagnosa oleh puskesmas dan rumah sakit sebagai penderita DBD yang ditemukan pada bulan November 2005 sampai dengan awal Desember 2005. Kriteria diagnosis sesuai dengan kriteria WHO 1997 (minimal 2 gejala klinis dan 2 gejala laboratoris), atau suspek bila tanpa disertai gejala laboratorium.2. Batasan Operasional Kasus DBD adalah semua penderita yang didiagnosis DBD oleh puskesmas dan rumah sakit berdasarkan kriteria WHO tahun 1997 dan bertempat tinggal di wilayah kecamatan endemis (Kuta Alam, Syiah Kuala, Banda Raya dan.Baiturahman) di Kota Banda Aceh.Cara Analisa Data Penyajian data dilakukan secara diskriptif retrospektif untuk mengetahui polaepidemiologi KLB DBD di Kecamatan Kuta Alam, Syiah Kuala, Banda Raya dan Baiturahmandengan pengumpulan data secara active case finding yaitu dengan melakukan Surveilans AktifRumah Sakit (SARS) untuk mengetahui jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit akibat DBDdan dianalisa menggunakan statistik epidemiologi (Attack Rate dan Case Fatality Rate).HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANPemastian Diagnosis Pemastian diagnosis pada KLB DBD didasarkan kepoada gejala klinis yang dialami olehkasus dan di pastikan dengan hasil uji laboratorium yang dilakukan di rumah sakit perawatan.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 68
  6. 6. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098Pemeriksaan laboratorium ini dilakukan dengan pemeriksaan serologis dengan test DengueBlot Kit (Teknik Elisa) untuk mendeteksi IgM Dengue. Gejala klinis penderita DBD di 4kecamatan endemis yang diperoleh dari 30 orang penderita adalah sebagai berikut : Tabel 4. Distribusi Gejala Klinis Penderita KLB DBD di Kota Banda Aceh Tahun 2005 No Gejala Klinis Jumlah Penderita Persentase (n=30) 01. Demam 30 100.0 02. Pusing / Sakit Kepala 23 76.6 03. Sakit Perut 11 36.6 04. Muntah 30 100.0 05 Bercak Merah di Kulit 5 16.6Gejala klinis utama yang dialami oleh kasus adalah demam, muntah, pusing/sakit kepala, sakitperut dan bercak merah di kulit. Hasil pemeriksaan Laboratorium yang dilakukan oleh rumahsakit tempat perawatan menunjukkan bahwa seluruh penderita yang dirawat mendukungdiagnosa terkena DBD.Penetapan KLB Penetapan kejadian KLB dilakukan dengan melihat adanya peningkatan kasus yangterjadi untuk bulan November 2005 di Kota Banda Aceh khususnya di Kecamatan Kuta Alam,Syiah Kuala, Banda Raya dan Baitussalam. Jika di bandingkan dengan bulan November padatahun 2004 maka peningkatan kasus sudah mendekati angka 4 kali lipat. Gambar 1. Jumlah Kasus Penyakit DBD berdasarkan Bulan Kejadian Di Kota Banda Aceh Tahun 2004-2005 60 2004 50 2005 40 Jumlah 30 20 10 0 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des 2004 9 14 18 3 2 1 1 2 6 0 10 7 2005 0 0 1 0 1 3 4 5 6 7 48 5 BulanDeskripsi Kasus Menurut OrangJumlah kasus pada KLB DBD di empat kecamatan endemis dalam Kota Banda Aceh untukpriode bulan November 2005 ditemukan 30 kasus berdasarkan umur dan jenis kelamin yangterdistribusi dalam Tabel 5. Tabel ini menunjukkan bahwa golongan umur yang memilikifrekuensi tertinggi menderita DBD adalah ≥ 15 tahun yaitu 21 orang sedangkan golonganumur terendah adalah < 1 tahun yaitu 1 orang. Dari tabel diatas didapat informasi bahwa telahJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 69
  7. 7. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098terjadi transisi golongan umur yang penderita DBD hal ini dimungkinkan bahwa golongan umur≥ 15 tahun memiliki mobilitas yang relatif tinggi. Tabel 5. Distribusi Umur dan Jenis Kelamin Penderita KLB DBD di Kota Banda Aceh Tahun 2005 Umur Jumlah Penderita Total Laki-Laki Perempuan 0 – 1 Tahun 0 1 1 1 – 4 Tahun 0 2 2 5 – 14 Tahun 4 2 6 ≥ 15 Tahun 10 11 21 Total 14 16 30Deskripsi Kasus Menurut Tempat Penemuan kasus dilakukan di empat kecamatan endemis, kasus pertama pada bulanNovember 2005 ditemukan di kecamatan Syiah Kuala yang menderita sakit pada tanggal 5November selanjutnya kasus kedua ditemukan di Kecamatan Baiturahman pada tanggal 6November. Letak kedua Kecamatan tersebut relatif cukup jauh sehingga menimbulkan asumsibahwa sumber penyebarannya adalah lebih dari satu. Tabel 6. Distribusi Jumlah Penderita Berdasarkan Kecamatan pada KLB DBD di Kota Banda Aceh Tahun 2005 Kecamatan Jumlah Persen Kuta Alam 7 23.3 Syiah Kuala 5 16.7 Banda Raya 7 23.3 Baiturahman 11 36.7 Total 30 100.0Dari tabel di atas menunjukkan bahwa persentase penderita terbanyak ditemukan diKecamatan Baiturahman yaitu 30 (36.7%) orang, sedangkan yang terendah pada kecamatanSyiah Kuala yaitu 5 (16.7%) orang. (spot map terlampir)Diskripsi Kasus Menurut Waktu Dari laporan W1 Puskesmas menunjukkan bahwa pada bulan November kasus pertamaterjadi pada tanggal 5 November. Untuk bulan November puncak kasus terjadi pada tanggal 7(minggu ke 1) dan 17 November (minggu ke 3) dengan jumlah kasus 4 orang. Kurva epidemik(Gambar 2) dengan interval satu hari menunjukkkan gambaran kurva type propagated, dimanakurva tersebut memiliki beberapa puncak. Hal ini dapat menggambarkan bahwa sumberpenular bukan merupakan vaktor tunggal dangan kata lain bahwa sumber penular lebih darisatu atau dari orang ke orang.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 70
  8. 8. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Gambar 2. Kurva Epidemik KLB DBD di Kota Banda Aceh Tahun 2005Identifikasi Sumber dan Cara Penularan1. Sumber Penularan Sumber penularan diperkirakan tidak hanya satu tetapi ada beberapa sumber. Kasus pertama untuk bulan November ditemukan di Kecamatan Syiah Kuala yaitu pada tanggal 5 November 2005, kasus adalah seorang laki-laki yang berusia 45 tahun, sedangkan kasus kedua ditemukan di Kecamatan Baiturahman yang menimpa anak perempuan berusia 6 tahun. Kedua Kecamatan tersebut merupakan dua kecamatan yang relatif berjauhan. Berdasarkan hasil wawancara terhadap kasus pertama bahwa sebelum menderita sakit kasus pernah berkunjung ke luar kota yang merupakan daerah endemis berjangkitnya DBD. Kasus ke dua yang terjadi tanggal 6 November pada seorang anak berusia 6 tahun yang berasal dari Kecamatan Baiturahman merupakan sumber penular bagi kasus ke tiga yang merupakan orang tua dari kasus ke dua. Namun hal ini bisa dimungkinkan sebaliknya, karena daya tahan tubuh anak lebih rendah sehingga anak lebih dahulu terserang di bandingkan orang tuanya. Selanjutnya penyebaran kasus dimungkinkan terjadi hal ini dikarenakan keempat kecamatan ini merupakan kecamatan endemis yang ada di dalam Kota Banda Aceh.2. Faktor Kebiasaan dan Lingkungan Terdapat tiga faktor yang memegang peranan pada penularan infeksi virus dengue, yaitu manusia, virus dan Vektor perantara. Virus dengue ditularkan kepada manusia oleh nyamuk Aedes Aegypti. Cara penularan diperkirakan melalui gigitan nyamuk yang berada di lingkungan rumah penderita, atau di lingkungan sekitar rumah penderita. Berdasarkan hasil pengamatan, di lingkungan rumah penderita sangat memungkinkan menjadi tempat perindukan nyamuk dimana banyak ditemukan kaleng dan ember bekas di sekitar rumahJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 71
  9. 9. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 yang digenangi air. Di samping itu kondisi lingkungan yang kurang sehat yaitu masih banyak sampah dan ilalang di sekitar rumah merupakan tempat yang disukai nyamuk . Hasil wawancara dengan responden dengan menggunakan alat bantu kuesioner ditemukan ada beberapa faktor yang mendukung terjadinya peningkatan vektor diantarannya kebiasaan-kebiasaan sebagai berikut: Tabel 7. Distribusi Hasil Wawancara dengan Kasus Penderita KLB DBD di Kota Banda Aceh Tahun 2005 No Wawancara Ya Tidak 01. Apakah tempat penempungan air di kuras tiap minggu ? 22 8 02. Apakah tempat penempungan air diberi Abate ? 0 30 03. Apakah ada timbunan sampah disekitar rumah ? 17 13 04. Apakah ada timbunan kaleng bekas / ban bekas ? 15 15 05. Apakah ada tonggak bambu patah disekitar rumah ? 10 20 06. Apakah disekitar rumah pernah dilakukan pengasapan (fogging)? 0 30 Tabel 7 di atas menunjukkan bahwa pemberian bubuk abate pada tempat penampungan air dan pelaksanaan pengasapan (fogging) tidak pernah dilakukan dilakukan selama 3 (tiga) bulan terakhir khususnya stelah tsunami. Hasil pengamatan terhadap lingkungan tempat tinggal responden dengan menggunakan alat bantu kuesioner juga ditemukan ada beberapa faktor yang mendukung terjadinya peningkatan vektor diantarannya sebagai berikut : Tabel 8. Distribusi Hasil Observasi Terhadap Lingkungan Penderita KLB DBD di Kota Banda Aceh Tahun 2005 No Observasi Ya Tidak 01. ada / tidak baju yang bergantungan 30 0 02. ada / tidak sampah di sekitar rumah 17 13 03. ada / tidak kaleng bekas / ban bekas 15 15 04. ada / tidak tonggak bambu patah 10 20 05. ada / tidak jentik / larva di bak penempungan air (gunakan senter) 18 12 Tabel 8 menunjukkan bahwa kebiasaan menggantung baju terutama di kamar tidur adalah kebiasaan yang sangat sering dilakukan berdasarkan hasil pengamatan 30 (100%) kasus. Hal ini merupakan kebiasaan yang seharusnya tidak dilakukan karenan bisa menjadi tempat perlindungan nyamuk, walaupun saat dilakukan penyemprotan anti nyamuk.3. Penelusuran Data sekunder Pengamatan penyakit DBD di Puskesmas meliputi kegiatan pencatatan dan pelaporan data. Data laboran mingguan (W2) biasanya tidak dilaporkan tiap minggu. Proses pelaporannya dilakukan setiap satu bulan sekali, ata pada desempatan tertentu bila ada orang puskesmas yang datang ke Dinas Kota. Hasil wawancara dengan petugas surveilans di Dinas Kota menyebutkan bahwa pelacakan kasus DBD umumnya di lakukan di Rumah Sakit perawatan, hasil pelacakan kasus tersebutJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 72
  10. 10. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 baru di konfirmasi kembali ke Puskesmas dan di buatkan Laporan Kasus KLB (W1). Hal ini merupakan suatu kendala yang masih ditemukan di lapangan sehingga proses antisipasi terhadap peningkatan kasus sukar untuk dilakukan. Pelaksanaan pengasapan (fogging) hanya dilakukan pada saat ditemukan kasus, dan dilakukan hanya untuk 40 rumah di lingkungan sekitar rumah ditemukan kasus. Di samping pelaksaaan fogging, Dinas Kesehatan juga melakukan penyuluhan lingkungan dan melaksanakan gotong royong massal di lingkungan sekitar. Hasil wawancara dengan petugas di Dinas Kota Banda Aceh juga mengungkapkan bahwa dalam tahun ini kegiatan Pemantauan Jentik Berkala (PJB) tidak pernah dilakukan. Hal ini merupakan faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya KLB DBD untuk tahun 2005 di Kota Banda Aceh.Pembahasan Penyelidikan KLB yang dilakukan di Kota Banda Aceh ini masih banyak mempunyaikelemahan diantaranya adalah tidak dilakukan penelitian dengan menggunakan kasus-kontrolyang bertujuan untuk mengetahui factor resiko penyebab terjadinya KLB-DBD tersebut. Penegakan diagnosis pada kasus KLB DBD di Kota Banda Aceh dilakukan denganpemeriksaan serologis (Dengue Blot) untuk mengetahui IgM Dengue. Penggunaan metode inidengan alasan karena lebih cepat dan mudah dilakukan serta memiliki sensitifitas yang tinggi.Hasil pemeriksaan terhadap semua kasus menunjukkan bahwa semua kasus positif terkenaDBD. Hasil uji laboratorium ini merupakan hasis diagnosa pada Rumah sakit tempat pasienmendapatkan perawatan. Penetapan adanya KLB DBD untuk kota Banda Aceh dilakukan dengan membandingkandata jumlah kasus pada priode bulan November tahu 2004 dengan priode bulan yang samapada tahun 2005. Dibandingkan jumlah kasus bulan November 2004 dengan bulan Novembertahun 2005 jumlah adalah 4 kali lipat, peningkatan ini dapat dipakai sebagai indikatorterjadinya KLB DBD di Kota Banda Aceh. Gambaran kurva epidemik dengan interval satu hari menunjukkan kurva yang terbentuadalah type propagated, dimana menunjukkan beberapa puncak kasus dalam satu bulan.Sumber penularan KLB ini diperkirakan berasal lebih dari satu sumber dikarenakan lokasikejadian kasus pertama dan kedua berada terpisah relatif jauh. Hal ini berarti bahwapenyebaran kasus DBD adalah berasal dari orang ke orang. Hasil wawancara denganPelaksana Program DBD (P2DBD) didapat informasi bahwa Kota Banda Aceh merupakandaerah endemis DBD di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Dampak musibah gempa dan tsunami 26 Desember 2004 yang lalu menyebabkanrendahnya kualitas lingkungan masyarakat. Hasil investigasi yang dilakukan melaluiwawancara dan observasi terhadap lingkungan tempat tinggal kasus menunjukkan bahwakualitas lingkungan masih rendah. Hal ini ditandai dengan masih banyaknya sampah yangberserakan di lingkungan sekitar, yang memungkinkan menjadi tempat perindukan nyamukAedes aegypty yang merupakan nyamuk penular DBD. Faktor inilah yang menyebabkanterjadinya peningkatan jumlah kasus DBD dalam masyarakat. Di samping itu, terbatasnya dana dan sumberdaya untuk melakukan pemantauan jentik,pelaksanaan fogging dan sistem sulveilans yang belum optimal juga menjadi salah satu faktoryang penanganan KLB DBD sukar untuk diatasi.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 73
  11. 11. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098SIMPULAN DAN SARANSimpulan1. Telah terjadi KLB DBD di empat kecamatan endemis (Kuta Alam, Syiah Kuala, Banda Raya , dan Baiturahman) dalam Kota Banda Aceh propinsi Nanggroe Aceh Darussalam.2. Kejadian KLB DBD di Kota Banda Aceh terjadi pada bulan November dengan pola KLB adalah type propagated, yaitu sumber penularan lebih dari satu.3. Kecamatan Baiturahman adalah kecamatan yang memiliki jumlah kasus terbanyak yaitu 11 kasus dari 30 kasus yang diinvestigasi.4. Kasus terbanyak adalah golongan umur diatas 15 tahun yaitu 21 orang.5. Dampak Gempa dan Tsunami merupakan salah satu factor determinan terjadinya KLB DBD di Kota Banda Aceh.6. Sistem surveilans yang dilakukan oleh Dinkes Kota Banda Aceh dan jajarannya masih belum optimal.Saran1. Perlunya dilakukan penyuluhan tentang pencegahan dan penanganan DBD serta selalu menjaga kebersihan lingkungan dan berprilaku hidup sehat.2. Perlunya dilakukan sistem surveilans yang lebih optimal dan terpadu sehingga proses penanganan dan pencegahan KLB DBD dapat terditeksi secara dini3. Perlunya melibatkan dan meningkatkan kerjasama secara lintas sektoral guna penaganan KLB DBD.DAFTAR PUSAKABadan Pusat Statistik. (2003). Banda Aceh Dalam Angka Angka 2003, Badan Pusat Statistik Kota Banda Aceh.Berkow. R, 1999, The Merck Manual, Bina Rupa Aksara, JakartaChin. J, 2000, Manual Pemberantasan Penyakit Menular, Center for Diseases Control adn Prevention, Atlanta USADepkes RI, 2000, Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Demam Dengus dan Demam Berdarah Dengue, WHO dan Depkes RIDinas Kesehatan Kota Banda Aceh. (2003). Profil Kesehatan Kota Banda Aceh Tahun 2003, Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh.Djallalluddin, dkk, Gambaran Penderita KLB DBD di Kabupaten Banjar dan Kota Banjar Baru Tahun 2001. http://dexa-medica.comRezeki. S, Tata Laksana Demam Berdarah Dengue di Indonesia, Depkes RI, JakartaJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 74
  12. 12. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 PENGARUH FAKTOR PETUGAS DIARE PUSKESMAS TERHADAP KUALITAS PENATALAKSANAAN DIARE PADA BALITA DI KABUPATEN MAGETAN Mujiyono* ABSTRAK Penyakit diare merupakan salah satu masalah penyakit menular yang masih menjadimasalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Kebijaksanaan teknis dalampemberantasan diare adalah tatalaksana kasus diare yang tepat dan efektif. Tatalaksanakasus diare yang efektif dan efisien di sarana kesehatan mempunyai potensi besar untukmempercepat upaya penyembuhan dan mengurangi resiko kematian akibat diare. Penelitian ini bertujuan untuk untuk menganalisis kualitas tatalaksana diare pada balitadi Puskesmas. Jenis penelitian adalah penelitian penjelasan dan evaluatif karena dalampenelitian ini menekankan hubungan antar variabel penelitian dan menguji hipotesis yangtelah dirumuskan sebelumnya. Lokasi penelitian di wilayah Kabupaten Magetan dengansampel sebanyak 21 responden yang di ambil secara total sampling. Untuk mengetahuihubungan antar variabel digunakan uji statistik regresi ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas tatalaksana diare pada balita sebagianbesar 13 (62%) kualitas tatalaksanya dalam kategori baik, lama kerja sebagian besar 9 (43%)lama kerja antara 11- 21 tahun, pendidikan responden sebagian besar 12(57%) pendidikannyaSekolah Perawat Kesehatan, sikap terhadap tatalaksana diare pada balita sebagian besar 13(62%) sikapnya dalam kategori baik, tidak ada hubungan antara lama kerja petugas dengankualitas tatalaksana diare pada balita di Puskesmas, tidak ada hubungan antara pendidikanpetugas dengan kualitas tatalaksana diare pada balita di Puskesmas, tidak ada hubunganantara pengetahuan petugas dengan kualitas tatalaksana diare pada balita di Puskesmas,tidak ada hubungan sikap petugas dengan kualitas tatalaksana diare pada balita diPuskesmas.Kata kunci: Pendidikan, Lama kerja, Pengetahuan, Sikap dan Kualitas tatalaksana diare*= Poltekkes Kemenkes Surabaya, Jurusan Kesehatan Lingkungan, Kampus MadiunPENDAHULUANLatar Belakang Diare merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalahmasyarakat utama di Indonesia. Ini ditunjukkan dengan tingginya angka kesakitan dankematian yang disebabkan oleh diare, khususnya pada bayi dan anak balita. Berdasarkanhasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT 2004), angka kesakitan diare pada semuagolongan umur saat ini adalah 280/1000 penduduk, pada golongan balita episode diare adalah1,5 kali pertahun. Sedangkan angka kesakitan bila diproyeksikan pada penduduk Indonesiatiap tahunnya terdapat 112.000 kematian pada semua golongan umur (54/1000 penduduk)pada balita terjadi 55.000 kematian (2.5/1000 balita). Hal ini disebabkan antara lain masihJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 75
  13. 13. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098rendahnya penduduk yang memanfaatkan jamban dan air bersih serta tatalaksana diare dirumah tangga dan masyarakat. Survey Morbiditas dan tatalaksana penderita diare dari 40 Puskesmas di 10 PropinsiSumatera Utara, Jogjakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, SulawesiSelatan, dan Sulawesi Utara dengan hasil antara lain angka kesakitan diare semua golonganumur meningkat dari 28/100 tahun 1996 menjadi 1,28 kali kali/balita/tahun. Banyak faktor yang mempengaruhi kejadian diare di antaranya faktor lingkungan, gizi,kependudukan, pendidikan, keadaan sosial ekonomi dan perilaku masyarakat. Penularanpenyakit diare terjadi melalui kontaminasi tangan, alat makan serta melalui makanan olehkuman penyebab yang terdapat dalam tinja penderita, kebiasaan hidup yang tidak mengikutikaidah kebersihan akan meningkatkan resiko kejadian penyakit diare. Sedangkan kesehatanlingkungan, penyediaan air bersih dan pemanfaatan jamban keluarga yang tidak saniter dapatberperan mendukung kehidupan dan penyebaran kuman penyebab diare. Kebijakan teknis dalam pemberantasan penyakit diare adalah tata laksana kasus diareyang tepat dan efektif melalui upaya rehidrasi oral dengan oralit dan cairan rumah tangga,meneruskan makanan sedikit demi sedikit tapi berulang-ulang selama diare dan makananekstra sesudah diare. ASI juga diteruskan, cairan intravena hanya untuk dehidrasi berat. Salahsatu prioritas utama pemerintah dalam pengembangan pemberantasan penyakit diare adalahmeningkatkan efektifitas penatalaksanaan diare pada anak balita, termasuk upaya rehidrasioral. Kematian akibat diare akut sering disebabkan oleh kehilangan banyak cairan dan garamyang sering disebut dehidrasi. Kebijakan program pemberantasan diare merupakantatalaksana kasus diare yang efektif dan efisien di sarana kesehatan dan mempunyai potensibesar untuk mempercepat penyembuhan. Oleh karena itu peranan petugas kesehatan dalampenatalaksanaan terhadap balita penderita diare akut sesuai standar sangat diharapkan. Berdasarkan urutan sepuluh penyakit terbanyak di Kabupaten Magetan tahun 2006penyakit diare menduduki peringkat ke-8 dari seluruh jumlah kunjungan puskesmas danurutan ke-2 untuk penyakit menular dan belum pernah dilukan evaluasi tentang kualitastatalaksana diare oleh petugas kesehatan Dengan melihat masih tingginya angka kesakitan diare yang terjadi pada bayi danbalita khususnya di Kabupaten Magetan, perlu dilakukan penelitian tentang penatalaksanaandiare akut yang dilakukan oleh petugas kesehatan Puskesmas di Kabupaten Magetan gunamendapatkan data dasar untuk evaluasi terhadap program pemberantasan diare yangdilaksanakan dan untuk menentukan intervensi program pemberantasan diare selanjutnya.Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana hubungan antara perilakupetugas ( Pendidikan, lama kerja, pengetahuan dan sikap ) dengan kualitas tatalaksana diareakut pada balita yang dilakukan oleh petugas kesehatan di Puskesmas di Kabupaten MagetanPropinsi Jawa Timur.Tujuan Penelitian1. Menganalisis hubungan tingkat pendidikan petugas dengan kualitas penatalaksanaan standar diare pada balita di PuskesmasJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 76
  14. 14. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-30982. Menganalisis hubungan lama kerja petugas dengan kualitas penatalaksanaan standar diare pada balita di Puskesmas3. Menganalisis hubungan pengetahuan petugas dengan kualitas penatalaksanaan standar diare pada balita di Puskesmas4. Menganalisis hubungan sikap petugas dengan kualitas penatalaksanaan standar diare pada balita di Puskesmas5. Menganalisis kualitas tatalaksana standar diare pada Balita di Puskesmas meliputi ; ketepatan diagnosa, penetapan derajat dehidrasi, cara merawat penderita diare dengan dehidrasi ringan, sedang dan berat serta diare tanpa dehidrasiMETODE PENELITIAN Sesuai tujuan, jenis penelitian ini adalah penelitian penjelasan (explanatory) dan evaluatif.Variabel bebas penelitian adalah tingkat pendidikan, lama kerja, pengetahuan, sikap,sedangkan Kualitas penatalaksanaan standar diare akut di Puskesmas merupakan variabelterikat. Populasi penelitian adalah tenaga kesehatan yang bertugas di bagian pengobatanPuskesmas di seluruh wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan sejumlah 21 orang. Penelitian ini menerapkan analisis univariat berbentuk distribusi frekuensi untukmendeskripsikan semua variabel. Analisis bivariat digunakan untuk menguji hubungan antaravariabel bebas dan variabel terikat. Uji statistik yang digunakan adalah uji regresi gandadengan bantuan SPSS for Window versi 12.00, dengan tujuan untuk menguji hipotesispenelitian. Penerimaan H0 ditentukan jika signifikansi koefisien regresi dari konstanta danmasing-masing variabel dengan uji t lebih besar dari 0,05, sebaliknya penerimaan H 1ditentukan jika signifikansi koefisien regresi dari konstanta dan masing-masing variabel lebihkecil atau sama dengan 0,05 yang berarti kualitas tatalaksana diare pada balita berpengaruhterhadap masing masing variabel yaitu lama kerja, pendidikan, pengetahuan dan sikap.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANHasil Penelitian Skoring terhadap hasil observasi kualitas penatalaksanaan diare menunjukkan bahwaskor tertinggi dan terendah masing-masing 22 dan 10. Sedangkan skor rata-rata adalah 17.Ada 13 (62%) orang dengan skor di atas rata-rata, diklasifikasikan dalam kategori baik dalammelakukan penatalaksanaan diare terhadap balita yang datang ke Puskesmas. Data kualitaspenatalaksanaan diare menurut lama kerja, pendidikan, pengetahuan, dan sikap disajikansebagai berikut. Tabel 1. Kualitas Tatalaksana Diare Menurut Lama Kerja Kualitas Tatalaksana No. Lama kerja Baik % Kurang % Jumlah % 1. < 10 Th 4 19 3 14 7 33 2. 11 – 20 Th 6 29 3 14 9 43 3. 21 - 30 Th 3 14 2 10 5 24 Jumlah 13 62 8 38 21 100Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 77
  15. 15. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Tabel 2. Kualitas Tatalaksana Diare Menurut Pendidikan Petugas Kualitas Tatalaksana No Pendidikan Baik % Kurang % Jml % 1. SPK 8 38 4 19 12 57 2. Bidan 1 5 3 14 4 19 3. Akper 4 19 1 5 5 24 Jumlah 13 62 8 38 21 100 Tabel 3. Kualitas Tatalaksana Diare Menurut Tingkat Pengetahuan Petugas No. Pengetahuan Kualitas Tatalaksana Jumlah % Baik % Kurang % 1. Baik 9 43 2 10 11 53 2. Kurang 4 19 6 28 10 47 Jumlah 13 62 8 38 21 100 Tabel 4. Kualitas Tatalaksana Diare Menurut Sikap Petugas No Sikap Kualitas Tatalaksana Jumlah % Baik % Kurang % 1. Tepat 8 38 4 19 12 57 2. Kurang Tepat 5 24 4 19 9 43 Jumlah 13 62 8 38 21 100 Tabel 5. Ringkasan Hasil Uji Regresi Ganda Indikator Nilai R 0,657 R Square 0,432 Adjusted R Square 0,290 Standard Error of the Estimate ( SEE ) 8,42833 Hasi uji F ( Anova ) 3,038 Durbin Watson 1.781 Koefisien regresi masing-masing prediktor - Konstanta -5,188( lambang : a ) - X1 = Prediktor I ( Lama kerja ) 0,314 ( lambang : b1) - X2 = Prediktor II ( Penddikan ) 0,290 ( lambang :b2) - X3 = Prediktor III ( Pengetahuan ) 0,659 ( lambang : b3) - X4 = Prediktor IV ( Sikap ) -0,159 ( lambang : b4) Hasil uji t untuk masing-masing prediktor - Konstanta -0,215 ( signifikansi : 0,832 ) - X1 = Prediktor I ( Lama kerja ) 1,390 ( signifikansi : 0,184 ) - X2 = Prediktor II ( Penddikan ) 1,258 ( signifikansi : 0,226 ) - X3 = Prediktor III ( Pengetahuan ) 3,356 ( signifikansi : 0,004 ) - X4 = Prediktor IV ( Sikap ) -0,779 ( signifikansi : 0,447 )Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 78
  16. 16. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Hasil uji regresi ganda disajikan pada Tabel 5, dengan interpretasi sebagai berikut :1) Nilai R = 0,657 berarti sebenarnya ada korelasi antara lama kerja, pendidikan, pengetahuan dan sikap dengan kualitas tatalaksana diare2) Nilai Adjusted R Square 0,290 menunjukkan bahwa hanya 29% variasi dari kualitas tatalaksana diare disebabkan oleh variasi lama kerja, pendidikan, pengetahuan dan sikap3) Nilai uji anova adalah 3,038 dengan signifikansi 0,048 (< 0,05) sehingga model regresi dapat digunakan untuk prediksi.PembahasanPengaruh Lama Kerja Petugas terhadap Kualitas Tatalaksana Diare di Puskesmas Lama kerja seseorang petugas dalam suatu bidang berhubungan dengan tingkatpengetahuan dan ketrampilan dalam bidang yang ditangani, lama kerja ikut menentukan hasilkerja seseorang dan juga akan menambah pengalaman seseorang dalam menjalankanpekerjaan sehari hari. Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa tidak ada pengaruh lamakerja terhadap kualitas tatalaksana diare. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tidakterdapat perbedaan antara responden yang lama kerjanya lebih dari 10 tahun dengan yangkerjanya kurang dari 10 tahun. Hal ini terjadi karena pada umumnya responden dalamtatalaksana diare menggunakan buku pedoman yang sama dan mendapat pelatihantatalaksana dengan materi yang sama dan dituntut untuk menangani secara profesional dalammenangani kasus diare karena program tatalaksana diare merupakan program utama DinasKesehatan seluruh Indonesia. Adanya responden yang mempunyai masa kerja lebih dari 20 tahun namun kualitastatalaksanya dalam kategori kurang, barangkali disebabkan oleh adanya kejenuhan dalamkerja, sehingga mereka bekerja tidak sesuai prosedur yang ada. Untuk itu diperlukan suatupenyegaran agar mereka dapat bekerja lebih baik.Pengaruh Tingkat Pendidikan Petugas terhadap Kualitas Tatalaksana Diare Latar belakang yang dimiliki seseorang akan berpengaruh terhadap cara berfikir,merencanakan dan melaksanakan suatu kegiatan serta dalam menghadapi suatupermasalahan, demikian juga halnya dengan latar belakang pendidikan petugas kesehatandalam penatalaksanaan diare pada balita di puskesmas. Dapat diasumsikan bahwa tingkatpendidikan merupakan salah satu pendukung dalam pelaksanaan tugas dengan baik. Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa tidak ada pengaruh pendidikan petugasterhadap kualitas tatalaksana diare. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tidak terdapatperbedaan antara responden yang yang berpendidikan SPK, Bidan maupun Akper. Menurut Ardhana, pengetahuan seseorang yang akan membentuk tindakan dalamsuatu kegiatan tidak hanya didapat dari pendidikan formal saja, pengetahuan ini bisa sajadidapat dari berbagai sumber seperti media masa, buku petunjuk, media poster atau darimedia elektronik. Dengan demikian, responden yang berpendidikan SPK mungkin sajamempunyai pengetahuan yang relatif sama bahkan lebih dengan yang berpendidikan Bidanmaupun Akper. Di samping itu, motivasi responden untuk melakukan penanganan yang baikpada penderita diare merupakan keharusan yang dilaksanakan sesuai petunjuk pedomanJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 79
  17. 17. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098tatalaksana diare yang di terbitkan oleh Departemen Kesehatan. Di samping itu, respondenjuga mendapat pelatihan dalam tatalaksana dengan materi yang sama dan selalu adasupervisi dari Dinas Kesehatan Kabupaten maupun Provinsi untuk mengurangi angkakematian akibat diare.Pengaruh Tingkat Pengetahuan Petugas terhadap Kualitas Tatalaksana Diare Pengetahuan merupakan salah satu dari komponen pikiran dan perasaan yang dapatmenetukan apakah seseorang akan bertindak. Pengetahuan merupakan bagian dari faktorpredisposing atau faktor dari diri sendiri yang merupakan pemacu motivasi untuk berperilakudan bertingkah laku. Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa tidak ada pengaruh pengetahuan petugasterhadap kualitas tatalaksana diare. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapatperbedaan antara responden yang yang berpengetahuan baik maupun yang berpengetahuankurang. Hal ini mungkin karena tatalaksana diare merupakan program yang sudah ditetapkanoleh Departemen Kesehatan, dengan pedoman yang harus diikuti oleh petugas kesehatandalam penanganan kasus diare dan setiap tahunnya selalu ada pelatihan dan supervisi dariDinas Kesehatan.Pengaruh Sikap Petugas terhadap Kualitas Tatalaksana Diare Sikap merupakan respon evaluatif yang dapat berbentuk positif maupun negatif. Hal iniberarti bahwa dalam sikap terkandung adanya preferensi atau rasa suka dan tak sukaterhadap sesuatu sebagi obyek sikap. Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa tidak ada pengaruh sikap petugasterhadap kualitas tatalaksana diare di Puskesmas. Dengan demikian dapat dikatakan bahwatidak terdapat perbedaan antara responden yang yang bersikap tepat maupun yang bersikapkurang tepat dalam tatalaksana diare.SIMPULAN DAN SARANSimpulan Simpulan penelitian adalah:1. Sebagian besar petugas memiliki kualitas tatalaksana diare dalam kategori baik2. Sebagian besar petugas memiliki lama kerjanya 11–21 tahun3. Sebagian besar petugas berpendidikan Sekolah Perawat Kesehatan4. Sebagian besar petugas memiliki pengetahuan dalam kategori baik5. Sebagian besar petusa memiliki sikap dalam kategori baik6. Tidak ada pengaruh lama kerja petugas terhadap kualitas tatalaksana diare7. Tidak ada pengaruh pendidikan petugas terhadap kualitas tatalaksana diare8. Ada pengaruh pengetahuan petugas terhadap kualitas tatalaksana diare9. Tidak ada pengaruh sikap petugas terhadap kualitas tatalaksana diareSaran1. Perlu meningkatkan bimbingan teknis, motivasi, pemantauan, dan umpan balik kepada petugas kesehatan di Puskesmas tentang kualitas tatalaksana diare pada saat pertemuan rutin atau secara tertulisJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 80
  18. 18. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-30982. Perlu dilakukan penyegaran kembali atau pelatihan terhadap petugas kesehatan di Puskesmas dalam hal tatalaksana diareDAFTAR PUSTAKAAncok, J, 1989, Teknik Penyusunan Skala Pengukuran, Pusat Penelitian Kependudukan UGM, JogjakartaBadan Pusat Statistik, 2005, Magetan Dalam Angka, BPS Magetan, MagetanDepkes RI, 1993, Buku Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare Dalam Pelita V , Ditjen PPM & PLP, JakartaDepkes RI, 1989, Kebijaksanaan Teknis Pemberantasan Penyakit Diare Dalam Pelita V , Ditjen PPM & PLP, JakartaDepkes RI, 2000, Buku Pedoman Pelaksanaan Program P2 Diare di Puskesmas, Ditjen PPM & PLP, Depkes RI, JakartaDepkes RI, 2001, Survey Morbiditas dan Tatalaksana Penderita Diare, Ditjen PPM &PLP Depkes RI, JakartaDinas Kesehatan Kabupaten Magetan, 2005, Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan Tahun 2005, MagetanDinas Kesehatan Kab. Magetan, 2005, Laporan Tahunan Penyakit Diare Tahun 2005Gurendro Putro, 2005, Hubungan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Ibu dan Penggunaan Sarana Air Bersih Terhadap Kejadian Diare Pada Balita, Buletin Penelitian RSU Dr. Soetomo Vol 7 no. 2, Bidang Penelitian dan Pengembangan RSU Dr. Soetomo, SurabayaGunawan, 2002, Studi Tentang Evaluasi Tatalaksana Diare di Puskesmas Kabupaten Sragen Jawa Tengah, Skripsi, Prodi Kesling Madiun.Gibson et.all, 1990 Organisasi Jilid I, Erlangga, JakartaJoko Irianto,dkk, 1996, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Diare Pada Anak Balita, Buletin Penelitian Kesehatan 24( 2&3) : 92 -95Karno, 2002, Etika Profesi dan Perilaku, Prodi Kesling Madiun.Mar’at, 1981, Sikap Manusia Perubahan Serta Pengukurannya, Gholia Indonesia, BandungMuhammad Nasir, 1999, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta.Masri Singarimbun dan sofyan Effendi, 1997, Metodologi Penelitian survey, LP3ES, JakartaPetrus Andrianto, 1992, Penatalaksanaan dan Pencegahan Diare Akut, Edisi 2 ECG, JakartaRaharjo Marwati, 1984, Pendidikan dan Masyarakat Pendidikan sebagai Sarana Pendapatan, CSIS, Jakarta.Santoso Singgih, 2001, Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik, Elex Media Komputindo, JakartaSutanto dan Indriyono, 1993, Strategi dan Pengembangan Pemberantasan Diare di Indonesia, Medika 6 : 62 – 67,Sukijo Notoatmodjo, 1993, Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan, Andi Offset, Jogjakarta.Sukijo Notoatmodjo, 2003, Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta.Sugiyono, 2000, Statistika Untuk Penelitian, CV Alfabeta, BandungJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 81
  19. 19. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 HUBUNGAN ANTARA STATUS SOSIAL ORANG TUADENGAN KEKERASAN FISIK PADA ANAK UMUR 3-6 TAHUN DI KABUPATEN JEMBER The Relationship Between Parents’ Social Status And Child Abuse Among Children 3-6 Years Of Age In Jember District Gumiarti * ABSTRACT Child abuse is defined as any intentional act or series of acts by a parent or othercaregivers that results in harm or threat of harm to a child. Under-three children are prone toreceive any form of abuses due to the fact that they are entering periods of temper tantrumand egocentrics. In these periods, children usually gets angry easily and cannot control theiremotion as well as pose destructive behavior when what they want cannot be fulfilled by theirparents. Consequently, this can become a trigger for parents to do physical abuse to theirchildren. In addition, child abuse brings about hazardous effects such as physical injuries andpsycopathology. This was an observational study with a cross-sectional study design. Samples were 164persons. The independent variable was parents’ social status, the dependent variable waschild physical abuse, and the extraneous variables were age, marital status, history ofreceiving abuses from parents, and child’s status. Data were collected through questionnaireand in-depth interview towards four mothers. The data were then analyzed with univariateanalysis using statistic descriptive test, bivariate analysis using chi-square test, andmultivariate analysis using logistic regression. There was a significant relationship between parents’ education and child physical abuse(RP=1.3 and CI=1.08-1.57), meaning that the prevalence of child abuse was 1.3 greater inparents with lower educational level than with the higher one. Parents’ occupation was alsosignificantly related with child physical abuse (RP=1.61 and CI=1.04-2.48), meaning that theprevalence of child abuse was greater in children who had parents with lower occupationallevel than with higher one. Meanwhile, there was no significant relationship between parents’income and child abuse (RP=1.08 CI=0.92-1.27). The extraneous variables having riskstoward child abuse were parents’ marital status and history of receiving abuses from parents.Parents’ social statuses that were significantly related with child physical abuse wereeducation and occupation. Forms of abuses received by children were being pinched, beingbeaten, being hit or being tweaked.Keywords: Parents’ social status, child abuse* = Poltekkes Kemenkes Malang, Jurusan Kebidanan, Kampus JemberPENDAHULUAN Kekerasan pada anak/ child abuse/ child maltreatment adalah tindakan yang sengajadilakukan oleh orang tua atau pengasuh anak, bentuk kekerasan pada anak bisa berupaJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 82
  20. 20. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098kekerasan fisik, seksual, emosional, dan penelantaran anak. Setiap orang tua sekali waktupasti pernah marah dalam menghadapi sikap dan perilaku anak yang menyulitkan tersebut.Banyak orang tua yang lepas kendali sehingga melakukan tindakan kekerasan fisik ataumengatakan sesuatu yang menyakiti serta membahayakan anak tersebut. Pelaku dan korban child abuse kebanyakan berasal dari kelompok sosial ekonomi yangrendah, faktor kemiskinan, tekanan hidup yang meningkat, kemarahan pada pasangan danketidak berdayaan dalam mengatasi masalah ekonomi menyebabkan orang mengalami stressyang berkepanjangan, menjadi sangat sensitif, mudah marah karena kelelahan fisik, sehinggamudah meluapkan emosinya pada anak-anak. Di Indonesia belum banyak data yang menggambarkan kekerasan yang terjadi padaanak. Kekerasan pada anak di Jawa Timur, menurut Lembaga Perlindungan Anak JawaTimur, mengalami peningkatan, pada tahun 2002 terdapat 81 kasus kekerasan seksual, 47kasus berkaitan dengan hukum dan kenakalan remaja, 38 kasus kekerasan fisik, 11 kasuskekerasa psikis, 4 kasus anak dibuang orang tuanya dan 2 kasus perdagangan perempuan.Data tersebut hanya merupakan puncak dari gunung es, faktanya bisa sepuluh kali bahkanseribu kalinya. Di Kabupaten Jember terjadi peningkatan kejadian, tercatat mulai tahun 2004sampai tahun 2007 tercatat 170 kasus, dengan berbagai tindak kekerasan pada anak. Penganiayaan fisik merupakan kategori paling umum yang terjadi di masyarakat,walaupun kebanyakan bukan hal yang serius. Beberapa penelitian menunjukkan adanyadampak negatif terhadap pertumbuhan anak..Penganiayaan fisik secara dini memprediksipermasalahan tingkah laku anak remaja, karena semua tindakan yang diterima anak-anakakan direkam dan terus sepanjang hidupnya. Dampak kekerasan fisik tidak hanyamenimbulkan bekas fisik, namun juga psikologis dan sosial, yang disebut post traumatic stressdisorder (PTSD). Keparahan dampak yang terjadi tergantung dari mulainya dan lamanyamendapat kekerasan. Semakin kecil usia mulainya, semakin parah dampak yang ditimbulkan. Studi pendahuluan melalui wawancara di Kecamatan Patrang, menunjukkan bahwa lebihdari 80% ibu-ibu mencubit, memukul dengan tangan kosong bila anak-anak dianggap nakalatau tidak mau menuruti perintah orang tuanya.METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik observasional dengan rancangan crosssectional, dilengkapi dengan pendekatan kualitatif untuk mengetahui alasan orang tuamelakukan tindakan kekerasan pada anaknya. Populasi penelitian adalah ibu-ibu yangmempunyai anak umur 3-6 tahun di Kecamatan Patrang. Pemilihan subyek penelitian secarapurposif, dengan teknik pengambilan sampel incidental sampling. Variabel bebas penelitian adalah status sosial orang tua pada pendidikan, pekerjaan,penghasilan, variabel luar adalah usia orang tua, status perkawinan orang tua, riwayatmendapat kekerasan pada orang tua, dan status anak dalam keluarga, sedangkan variabelterikat adalah kekerasan fisik pada anak. Analisa data dilakukan secara univariat, bivariatdengan Chi Square Test, dan multivariat dengan Uji Regresi Logistik dengan convidenceinterval 95% dan tingkat kemaknaan ρ<0,05..Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 83
  21. 21. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANHasil Penelitian Analisa secara univariat disajikan pada Tabel 1 dan Tabel 2. Tabel 1.Karakteristik Responden Karakteristik N=164 % Pendidikan orang tua: - Tinggi 59 35,98 - Rendah 105 64,02 Pekerjaan: - Tinggi 19 11,59 - Rendah 145 88,41 Penghasilan: - 640.000 atau lebih 65 39,63 - 640.000 atau lebih 99 60,37 Umur ibu: - < 35 th 68 41.46 - ≥ 36 th 96 58.54 Status Perkawinan: - Kawin 113 68.90 - Janda/ duda 51 31.10 Riwayat mendapat kekerasan: -Tidak 46 28.05 -Ya 118 71.95 Status anak dalam keluarga: -Kandung 161 98.17 -Angkat 3 1.83 Anak yang mendapat kekerasan fisik: -Tidak 31 18,90 -Ya 133 81,10 Tabel 2. Jenis Kekerasan Fisik yang Diterima oleh Anak Jenis kekerasan N=164 % Dicubit Tidak 40 24.39 Ya 124 75.61 Dipukul dengan tangan kosong Tidak 52 31.71 Ya 112 68.29 Dipukul dengan alat (ikat pinggang,sapu) Tidak 142 86.59 Ya 22 13.41 Diguyur/disiram dengan air Tidak 146 89.02 Ya 18 10.98 Dikunci didalam kamar mandi Tidak 160 97.56 Ya 4 2.44 Dijewer Tidak 75 45.73 Ya 89 54.27 Ditampar Tidak 159 96.95 Ya 5 3.05 Ditendang Tidak 162 98.78 Ya 2 1.22 Disundut dengan rokok, benar kena Tidak 160 97.56 Ya 4 2.44 -Sekedar ditakut-takuti Tidak 156 95.12 Ya 8 4.88 Digigit Tidak 160 97.56 Ya 4 2.44Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 84
  22. 22. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Analisis secara bivariat disajikan pada Tabel 3 sampai Tabel 7 (Catatan: Keterangan:RP= rasio prevalensi, CI= interval kepercayaan, dan P= p value, signifikan p<0,05).Tabel 3. Hubungan Antara Status Sosial Orang Tua dengan Kekerasan Fisik Pada Anak Variabel Kekerasan Pada Anak X2(df) RP CI P Tidak (%) Ya (%) Pendidikan -tinggi 19 (32,20) 40 (67,80) 10,64(1) 1,3 1,08-1,57 0,001 -rendah 12 (11,43) 93 (88,57) Pekerjaan -tinggi 9 (47,37) 10 (52,63) 11,36(1) 1,61 1,04-2,48 0,000 -rendah 22 (15,17) 123 (84,83) Penghasilan ->=640.000 15 (23,08) 50 (76,92) 1,22 (1) 1,08 0,92-1,27 0,268 -< 640.000. 16 (16,16) 83 (83,84)Tabel 3 menunjukkan bahwa variabel status sosial yang berhubungan dengan kekerasan fisikpada anak adalah pendidikan dan pekerjaan. Tabel 4. Hubungan Antara Usia Orang Tua, Status Perkawinan, Riwayat Mendapat Kekerasan, dan Status Anak dengan Pendidikan Orang Tua Variabel Pendidikan Orang Tua X2(df) RP CI P Tinggi Rendah Umur -≤35 th 27 (39,71) 41 (60,29) 0,70(1) 0,10 0,87-1,40 0,40 -≥36 th 32 (33,33) 64 (66,67) Status perkawinan orang tua -Kawin 40 (35,40) 73 (64,60) 3,31(1) 0,97 0,75-1,24 0,81 -Janda/duda 19(37,25) 32 (62,75) Riwayat mendapat kekerasan -Tidak 21 (45,65) 25 (54,35) 2,60(1) 1,24 0,93-1,67 0,10 -Ya 38 (32,20) 80(67,80) Status anak dalam keluarga -Kandung 57 (35,40) 104(64,60) 1,25(1) 0,51 0,10-2,56 0,26 -Angkat 2 (66,67) 1(33,33)Tabel 4 menunjukkan bahwa umur ibu, status perkawinan orang tua, riwayat mendapatkekerasan dan status anak dalam keluarga tidak berhubungan dengan pendidikan orang tua.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 85
  23. 23. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Tabel 5. Hubungan Antara Usia Orang Tua, Status Perkawinan, Riwayat Mendapat Kekerasan, dan Status Anak dengan Pekerjaan Orang Tua Variabel Pekerjaan Orang Tua X2(df) RP CI P Tinggi RendahUmur -≤35 th 10 (14,71) 58 (85,29) 1,10(1) 1,06 0,94-1,19 0,29 -≥36 th 9 (9,38) 87 (90,63)Status perkawinan orangtua -Kawin 14 (12,39) 99 (87,61) 0,23(1) 1,02 0,91-1,15 0,63 -Janda/duda 5(9,80) 46 (90.20)Riwayat kekerasan -Tidak 6 (13,04) 40 (86,96) 0,13(1) 1,02 0,89-1,16 0,71 -Ya 13 (11,02) 105(88,98)Status anak dalam keluarga-kandung 17 (10,56) 144 (89,44) 9,05(1) 0,37 0,07-1,84 0,20-angkat 2 (66,67) 1 (33,33)Tabel 5 menunjukkan bahwa umur, status perkawinan orang tua, riwayat mendapat kekerasandan status anak dalam keluarga tidak berhubungan dengan pekerjaan orang tua. Tabel 6. Hubungan Antara Usia Orang Tua, Status Perkawainan, Riwayat Mendapat Kekerasan, dan Status Anak dengan Penghasilan Orang Tua Variabel Penghasilan Orang Tua X2(df) RP CI P Tinggi RendahUmur -≤35 th 24 (35,29) 44 (64,71) 0,91(1) 0,88 0,69-1,13 0,33 -≥36 th 41 (42,71) 55 (57,29)Status perkawinan orangtua -Kawin 44 (38,94) 69 (61,06) 0,07(1) 0,96 0,73-1,26 0,78 -Janda/duda 21(41,18) 30 (58,82)Riwayat kekerasan -Tidak 18 (39,13) 28 (60,87) 0,01(1) 0,98 0,75-1,30 0,93 -Ya 47 (39,83) 71(60,17)Status anak dalam keluarga-kandung 63 (39,13) 98(60,87) 0,93(1) 0,54 0,11-2,72 0,33-angkat 2 (66,67) 1(33,33)Tabel 6 menunjukkan bahwa umur, status perkawinan orang tua, riwayat mendapatkekerasan, dan status anak dalam keluarga tidak berhubungan dengan penghasilan orang tua.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 86
  24. 24. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Tabel 7. Hubungan Antara Usia Orang Tua, Status Perkawinan, Riwayat Mendapat Kekerasan, dan Status Anak dengan Kekerasan Fisik Pada Anak Variabel Kekerasan pada Anak X2(df) RP CI P Ya TidakUmur -≤35 th 11(16,18) 57(83,82) 0,56(1) 0,94 0,81-1,09 0,45 -≥36 th 20(20,83) 76(79,17)Status perkawinan -Kawin 26(23,01) 87(76,99) 4,00(1) 1,17 1,02-1,34 0,04 -Janda/duda 5(9,80) 46(90,20)Riwayat kekerasan -Tidak 15(32,61) 31(67,39) 7,83(1) 1,28 1,03-1,58 0,005 -Ya 16(13,56) 102(86,44)Status anak-kandung 30(18,63) 131(81,37) 0,42(1) 0,81 0,36-1,82 0,51-angkat 1(33,33) 2(66,67)Tabel 7 menunjukkan bahwa status perkawinan orangtua dan riwayat mendapat kekerasanfisik pada orang tua berhubungan secara bermakna dengan kekerasan fisik pada anak. Analisis multivariat (Tabel 8) memilih model terbaik dalam menentukan hubungan statussosial orang tua dengan kekerasan fisik pada anak dengan memasukkan variabel luar. Hasiluji regresi logistik menunjukkan bahwa dari keempat model, model yang baik adalah model 4,disebabkan dengan memasukkan seluruh variabel tersebut dapat diketahui perubahan nilaibesarnya rasio prevalensi dan nilai R2 tertinggi, sehingga bisa memprediksi dengan tepatseberapa besar pengaruh variabel tersebut terhadap prevalensi kekerasan fisik pada anak. Tabel 8. Hasil Uji Regresi Logistik Status Sosial Orang Tua dengan Kekerasan Fisik pada Anak, Status Perkawinan Orang Tua, Riwayat Mendapat Kekerasan Variabel Model 1 Model 2 Model 3 Model 4 RP (95%CI) RP (95%CI) RP (95%CI) RP (95%CI) Status Sosial OrangTua: Pendidikan 3,3 3,3 2,8 3,0 (1,32-8,27) (1,35-8,51) (1,13-7,29) (1,18-7,71) Pekerjaan 4,7 4,4 4,9 4,6 (1,32-16,98) (1,22-16,44) (1,33-18,20) (1,22-17,30) Penghasilah 0,5 0,5 0,5 0,6 (0,17-1,55) (0,19-1,67) (0,19-1,73) (0,21-1,88) Status perkawinan 2,8 2,9 (0,98-8,40) (0,96-8,78) Riwayat kekerasan 2,8 2,8 (1,20-6,86) (1,18-6,88) R2 0,10 0,12 0,13 0,16 Devian 142,84 138,54 137,23 133,13 N 164 164 164 164 Dalam analisa secara kualitatif, hasil wawancara terhadap 4 ibu dengan status sosialberbeda, alasan melakukan tindakan kekerasan fisik pada anak adalah: ingin agar anakJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 87
  25. 25. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098menuruti kemauan orangtua, lebih disiplin, tidak nakal, tidak mengulangi tindakan yang salahmenurut orang tua. Kutipan hasil wawancara tersebut antara lain sebagai berikut : ” Ya gimanalah Bu..., abis nakalnya minta ampun, kalau udah di cubit gitu dia kan ngerti, nanti kalau dia nakal lagi, kalau tangan saya udah kuangkat gini (ibu memperagakan mengangkat tangannya) dia akan ngerti kalau itu tidak boleh dilakukan, biasanya dia bilang gini Bu.. ma.. gak boleh ya ma..., iya adik gak boleh nakal” (Ny.If). ”Anak Saya itu kalau dikasih tahu Bu... mbantah terus, ndak ngerti-ngerti, sekali-kali kalau tindakannya salah, dia nakal ya diberi peringatan yang jelas dan tegas, kalau dipukul kan sakit, biar ndak mengulang lagi, biar disiplin Bu” (Ny.WS).Kutipan hasil jawaban apa pendapat ibu bila melakukan hal tersebut di atas, sebagai berikut : ” Ya ndak apa-apa kan hanya sekali aja, tapi akhirnya dia ngerti kalau dia ndak boleh nakal” (Ny.If). ” Kan masih dalam batas kewajaran Bu”(Ny.WS).Pembahasan Analisa bivariat membuktikan bahwa status sosial orang tua khususnya pendidikanberhubungan secara bermakna dengan kejadian kekerasan fisik pada anak. Prevalensikekerasan fisik pada anak lebih tinggi pada pendidikan orang tua yang rendah. Orang tuadengan tingkat pendidikan tertentu akan mempengaruhi pola pengasuhan kepada anak-anaknya. Pendidikan orang tua menentukan mudah tidaknya seseorang dalam menyerap danmemahami pengetahuan tentang pengasuhan anak, pendidikan orang tua juga sangatberpengaruh dalam memberikan kebutuhan psikologis anak-anaknya. Bila pengetahuan orangtua rendah mengenai kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan serta cara pengasuhanyang benar, orang tua akan mudah mengalami mispersepsi dalam menerima masukan ataupengetahuan tentang kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan anak selama masa tumbuhkembangnya, atau akan mudah terjadi miskomunikasi karena keterbatasan pengetahuandalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak, sehingga orang tua mudah memperlakukansalah dan menelantarkan anak-anaknya. Hasil di atas hampir sama dengan penelitianShojaeizadeh (2001), orang tua lebih mudah melakukan tindak kekerasan fisik pada anak ataumengurung anak-anak di dalam rumah, tidak mengijinkan anak bermain diluar rumah bilaorang tua sedang marah, tindakan ini disebabkan karena pendidikan orang tua yang rendah. Pekerjaan orang tua dengan kekerasan fisik pada anak juga berhubungan secarabermakna. Pekerjaan dan penghasilan yang rendah akan memberikan stressor tersendiri bagiorang tua. Orang tua yang sudah bekerja seharian di luar rumah berdampak pada kelelahanfisik, bila harus menghadapi tingkah laku anak-anaknya yang dinilai nakal, orang tua menjaditidak sabar, mereka tidak lagi menggunakan kata-kata dalam memberi tahu anak-anaknya,mudah meluapkan emosi kepada anak-anaknya dengan langsung menggunakan kekerasanfisik. Penelitian ini hampir sama dengan penelitian Lancford.. Orang tua dengan pekerjaan yang tinggi mengajarkan anak-anaknya bersemangatbelajar, mencintai dan terbuka pada orang tua, gembira serta bekerja sama, orang tua lebihmemperhatikan dinamika diri si anak, bila anak berbuat kesalahan bukan hukuman fisik yangdiberikan oleh orang tuanya. Berbeda dengan orang tua dengan status sosial yang rendah,dalam mendidik anaknya lebih cenderung untuk mematuhi aturan-aturan yang diberikan dariJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 88
  26. 26. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098luar/berdasarkan norma-norma yang berlaku di masyarakat, orang tua takut kalau anak-anaknya dinilai salah oleh orang lain, bila anak salah orang tua langsung menghukum anaktanpa melihat sebab-sebabnya dan hukuman yang diberikan sering berbentuk hukuman fisik. Variabel luar yang berhubungan secara bermakna dengan kekerasan fisik pada anakadalah status perkawinan orang tua. Status orang tua tunggal atau anak-anak dirawat olehayah atau ibu tiri, mudah memberikan stimulus emosi orang tua yang akan dilampiaskankepada anak-anaknya. Orang tua tunggal memiliki peluang tinggi untuk melakukan tindakankekerasan fisik pada anak-anaknya. Keadaan ini sesuai dengan teori Mann et al. Riwayat mendapat kekerasan pada orang tua juga berhubungan secara bermaknadengan kekerasan fisik pada anak. Orang tua yang mempunyai pengalaman disakiti ataumengalami kekerasan pada masa kecilnya akan tumbuh menjadi seseorang yang mempunyaikecenderungan untuk melakukan hal-hal yang pernah dilakukan terhadap dirinya kepadaorang lain, yaitu anak-anaknya. Semua tindakan kekerasan yang diterima pada masa kanak-kanaknya akan direkam dalam alam bawah sadar dan akan dibawa sampai pada masadewasa, dan terus sepanjang hidupnya. Anak-anak yang mendapat kekerasan dari orangtuanya akan menjadi sangat agresif dan ketika menjadi orang tua, akan menjadi orang tuayang kasar pula kepada anak-anaknya. Seperti hasil penelitian Coohey, orang tua denganriwayat mendapat kekerasan/paparan agresi dari orang tuanya, akan menjadikan pengalamanmasalalunya model dalam mendidik anak-anaknya. Umur ibu tidak berhubungan dengan tindakan kekerasan fisik pada anak. Hasil inibertolak belakang dengan teori Bethea, bahwa orang tua yang masih muda, belum matangsecara emosi, belum mempunyai pengalaman dalam merawat anak, tidak memahami akankebutuhan tumbuh kembang anaknya dan kemungkinan akan menolak perannya sebagaiorang tua, yang berakibat pada penolakan kehadiran anaknya, sehingga menimbulkantindakan perlakuan salah dan penelantaran anak-anaknya. Status anak dalam keluarga juga tidak berhubungan secara bermakna dengankekerasan fisik. Status anak dalam keluarga seperti anak anak angkat atau anak yang tidakada hubungan secara biologis dengan orang tua, akan cenderung diperlakukan sama dengananak yang hidup dengan ayah atau ibu tiri. Kondisi ini mudah memicu tindak kekerasan fisikdan psikis. Bila stress, orang tua mudah menghardik, memukul, melecehkan anak. Orang tuaakan susah memberikan kehangatan kepada anak dengan sekedar bercanda, memeluk anakpada saat gelisah dan membutuhkan ketentraman batinnya, apalagi jika orang tua berfikirbahwa anak bukan darah dagingnya, sehingga anak menjadi tempat pelampiasan stress. Hasil wawancara tentang alasan orang tua melakukan tindakan kekerasan fisik padaanaknya adalah agar anak-anaknya lebih disiplin, tidak nakal, menuruti perintah orang tuanya.Orang tua tak menyadari bahwa larangan itu tak hanya membatasi kebebasan anak, tetapijuga berdampak secara psikologis, anak menjadi ragu dan takut untuk melakukan sesuatu,rasa ingin tahunya ditekan karena takut mendapat hukuman fisik. Inisiatif dan kreasinyamenjadi tumpul karena harus menunggu persetujuan orang tua bila ingin melakukan sesuatu.SIMPULAN DAN SARAN Simpulan penelitian adalah: 1) Prevalensi kekerasan fisik pada anak lebih tinggi padapendidikan dan pekerjaan orang tua yang rendah, 2) Tidak ada hubungan bermakna antaraJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 89
  27. 27. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098penghasilan orang tua dengan kekerasan fisik pada anak, 3) Kekerasan fisik yang banyakditerima anak adalah: dicubit, dipukul dengan tangan kosong, dijewer, dipukul dengan alat adasebagian kecil disundut dengan rokok, 4) Faktor luar yang berhubungan dengan kekerasanfisik pada anak adalah status perkawinan orang tua dan riwayat mendapat kekerasan padaorang tua, 5) Alasan orang tua melakukan tindakan kekerasan fisik pada anak adalahmenegakkan disiplin, agar tidak nakal, dan mau menuruti perintah. Saran berdasarkan hasil penelitian adalah: 1. Bagi Pusat Perlindungan Perempuan danAnak agar meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kekerasan fisik pada anak, baikbentuk kekerasan, risiko terhadap kekerasan, dampak dari kekerasan, bisa melaluipenyuluhan lewat media cetak, elektronik maupun penyuluhan kelompok, 2) Bagi guru,lembaga pemerhati kesejahteraan dan perlindungan anak, agar peka terhadap tanda-tandaanak mengalami tindak kekerasan fisik, sehingga dapat dicegah sedini mungkin, 3) BagiPemerintah Daerah dan Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak lebih menggalakkansosialisasi Undang-Undang Perlindungan Anak, sehingga masyarakat paham bahwa anakmereka terlindungi secara hukum dari bentuk kekerasan apapun dan oleh siapapun.DAFTAR PUSTAKAMcDonald KC. Child Abuse: Approach and Management, American Academy of Family Physicians. 2007. www.aafp/afp (15 Januari 2007)Littell JH, Girvin H. Correlate of problem recognition and intentions to change among caregivers of abused and neglected children, Child Abuse & Neglect; 2006; 30:1381-1399.Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (2007) Kekerasan pada Anak Dilakukan Terselubung. 2007. (11 September 2007)Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak. 2007.Gibbons J, Galagher B, Bell C, Gordon D. Medicine and books Development after Physical Abuse in Early Childhood. BMJ, 1995;311:1175 .Lanncford JE. A 12-Year Prospective Study of Early Child Physical Maltreatment on Psychological, Behavioral, and Academic Problem in Adolescence. Arch Pediatric Aolescent Med. 2002; 156:824-830.Tell SJ, Pavkov T, Hecker L, Fontaine KL. Adult Survivors of Child Abuse: An Application of John gottman’s Sound Marital House Theory, Contemp Fam Ther, 2006;28:225-238.Su’adah. Sosiologi Keluarga. Malang; 2005.Mann D, Corell AP, Dobson CL, Perry BD. Physical abuse of children, Encyclopedia, Child Trouma Academy; 2001.Coohey C, Braun N. Toward an Integrated Framework for Understanding Child Physical Abuse, Child Abuse & Neglect. 1997; 21 (11): 1081-1094.Bethea L. Primary Prevention of Child Abuse. American Family Phisicion. 1999.Shojaeizadeh D. Child Abuse in the Family: An Analytical Study. Dept. of Public Health Administration, School of Public Health and Institute of Public Healh Researchs, Tehran University of Medical Sciences. 2001Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 90
  28. 28. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 PERBEDAAN KEJADIAN ABORTUS BERDASARKAN PARITAS DI RSIA AURA SYIFA KABUPATEN KEDIRI Koekoeh Hardjito*, Temu Budiarti*, Yuni Mada Nurika* ABSTRACT Mortality and morbidity at pregnant woman and birthing is a big problem in developingcountries. Sometime pregnancy end ahead of schedule and sometimes exceed the normaltime. Abortus off the cuff is abortus that happened naturally without external intervention(brand) to terminate the pregnancy. There are some the factors of the happening of abortus,for example mother age and parity factor, have the major effect. As for intention of thisresearch is to know difference of occurence abortus pursuant to parity in RSIA Aura SyifaKabupaten Kediri in January up to December 2009. This research of the survey having thecharacter of analytic (analytical) with retrospective study that trying look backward to.Population is all data record the natural pregnant patient sis abortus in RSIA Aura SyifaKabupaten Kediri at period of 1 January up to 31 December 2009 counted 177 cases. Sampelis some of data record the natural mother sis abortus in RSIA Aura Syifa Kabupaten Kediri atperiod of 1 January up to 31 December 2009 equal to 123 cases. And result off natural motherparity abortus at most happened at nullipara, sequence hereinafter primipara, multipara, andgrandemultipara. Type Abortus a lot happened at parity zero (nullipara) come up with the parity≥ 4 (Grandemultipara) are abortus incomplete. With result analyse x2 count bigger than x2 thetables of so that is difference of occurence abortus pursuant to parity.Keyword: Abortus, Parity* = Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang, Jurusan Kebidanan, Kampus KediriPENDAHULUANLatar belakang masalah Kematian ibu adalah masalah yang kompleks (Saifudin, dkk. 2002). Menurut WHO, dinegara-negara miskin dan sedang berkembang, kematian ibu antara 750-1.000 per 100.000kelahiran hidup. Sedangkan di negara-negara maju, angka kematian maternal berkisar 5-10per 100.000 kelahiran hidup (Widyastuti & Dina, 2008). Angka Kematian Ibu di Indonesiamasih menempati posisi tertinggi di negara ASEAN. AKI di Indonesia (2002) sebesar 307 per100.000 kelahiran. Berdasarkan hasil berbagai survei, di Provinsi Jawa Timur, pada tahun2003 tercatat sekitar 446 kasus kematian maternal dan jumlah ini turun menjadi 326 kasuspada tahun 2008 (Badan Pusat Statistik Jawa Timur 2008). AKI di Indonesia masih didominasi oleh sebab perdarahan (42%), eklamsi (13%) dan infeksi (10%) (BKKBN 2005). Masalah abortus dikemukakan kaitannya dengan tingginya angka kematian ibumelahirkan (Supriyanto Khafid, 2007). Menurut data WHO persentase kemungkinan terjadinyaabortus cukup tinggi. Sekitar 15–40%, diketahui pada ibu yang sudah dinyatakan positif hamil,dan 60–75% abortus terjadi sebelum usia kehamilan mencapai 12 minggu (LestariningsihJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 91
  29. 29. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-30982008). Menurut Siswanto, lebih dari 90% abortus di negara-negara sedang berkembangdilakukan tidak aman, sehingga berkontribusi 11-13% terhadap kematian maternal di dunia. Di Indonesia, diperkirakan 2 – 2,5 % juga mengalami keguguran setiap tahun, sehinggasecara nyata dapat menurunkan angka kelahiran menjadi 1,7 pertahunnya (Manuaba, 2001).Menurut Pangkahila, abortus di Indonesia masih cukup tinggi dibanding dengan negara-negara maju di dunia, yakni 2,3 juta abortus per tahun. Sulit untuk mengidentifikasi dengantepat seberapa sering keguguran terjadi (Henderson, 2005). Hal ini diperkirakan merupakanbagian kecil dari kejadian yang sebenarnya, sebagai akibat ketidakterjangkauan pelayanankedokteran modern yang ditandai oleh kesenjangan informasi (Widyastuti & Dina, 2008). Menurut Cunningham (2000) ada beberapa faktor predisposisi terjadinya abortus,misalnya faktor paritas dan usia ibu, mempunyai pengaruh besar. Frekuensi meningkatbersamaan dengan meningkatnya angka graviditas, 6% kehamilan pertama atau keduaberakhir dengan abortus, angka ini meningkat menjadi 16% pada kehamilan ketiga danseterusnya (Llewellyn-Jones, Derek 2001). Menurut Warburton Frases & Wilson, resikoabortus kelihatannya semakin meningkat dengan bertambahnya paritas disamping dengansemakin lanjutnya usia ibu serta ayah (Cunningham 2005). Dari studi pendahuluan di RSIA Aura Syifa Kediri tanggal 23 November sampai dengan12 Desember 2009, terdapat 16 kasus abortus, 6 kasus di antaranya terjadi pada primigravida(37,5%), 7 kasus pada multipara (43,75) dan 3 (18,75%) pada grandemultipara.Tujuan penelitian Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbedaan kejadian abortus berdasarkanparitas di RSIA Aura Syifa Kabupaten Kediri.BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian survei analitik dengan rancangan studi retrospektif.Penelitian dilaksanakan di RSIA Aura Syifa pada bulan Mei 2010. Populasi penelitian adalahseluruh data rekam medik pasien ibu hamil yang mengalami abortus di RSIA Aura SyifaKabupaten Kediri pada periode 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2009 sebanyak 177kasus, dengan sampel sebesar 123. Teknik sampling yang digunakan adalah simple randomsampling. Data diperoleh dengan cara studi dokumentasi dari catatan medik. Analisismenggunakan Uji Chi Kuadrat satu sampel untuk mengestimasi atau mengevaluasi frekuensiyang diselidiki atau menganalisa hasil observasi untuk mengetahui apakah terdapatperbedaan yang signifikan pada penelitian yang menggunakan data nominal.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANHasil penelitian Tabel 1 menunjukkan bahwa mayoritas abortus terjadi pada nullipara. Tabel 2menyajikan perbedaan kejadian abortus berdasarkan paritas. Hasil Uji Chi Kuadratmenunjukkan X2 hitung 43,14, dengan taraf kesalahan 5% dan dk=3. Nilai tersebut > X 2 Tabel(7,815). Dengan demikian Ho ditolak yang berarti terdapat perbedaan kejadian abortusberdasarkan paritas di RSIA Aura Syifa Kabupaten Kediri .Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 92
  30. 30. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Tabel 1. Distribusi frekuensi kejadian abortus berdasarkan paritas ibu No. Paritas Frekuensi Persentase 1. Nullipara 50 40,65 2. Primipara 42 34,15 3. Multipara 29 23,56 4. Grandemultipara 2 1,63 Jumlah 123 100 Tabel. 2 Jenis Abortus Berdasarkan Paritas No Jenis Abortus Nullipara Primipara Multipara Grandemultipara f % f % f % f % 1 Abortus Imminens 12 24 10 23,81 4 13,79 0 0 2 Abortus Insipiens 6 12 2 4,76 1 3,44 1 50 3 Abortus Inkomplit 31 62 29 69,04 23 79,32 1 50 4 Abortus Komplit 0 0 0 0 0 0 0 0 5 Abortus Habitualis 0 0 0 0 0 0 0 0 6 Missed Abortion 1 2 1 2,38 1 3,44 0 0 Jumlah 50 100 42 100 29 100 2 100Pembahasan Banyaknya kasus abortus yang dirawat di RSIA Aura Syifa Kabupaten Kediri sesuaidengan dengan pernyataan Pangkahila bahwa abortus di Indonesia masih cukup tinggidibanding dengan negara-negara maju di dunia, yakni mencapai 2,3 juta abortus per tahun(Widyastuti & Dina 2008). Menurut WHO 15-50% kematian ibu disebabkan oleh abortus.Komplikasi abortus berupa perdarahan atau infeksi dapat menyebabkan kematian. Itulahsebabnya mengapa kematian ibu yang disebabkan abortus sering tidak muncul dalam laporankematian, tapi dilaporkan sebagai perdarahan atau sepsis (Azhari, 2002 dalam Nisa, 2009). Pada Tabel 1 disebutkan frekuensi tertinggi abortus terjadi pada Nullipara (paritas 0)yaitu sebesar 50 kasus (40,65%) dan yang terendah pada Grandemultipara (paritas ≥ 4)sejumlah 2 kasus (1,63%). Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakanbahwa risiko abortus semakin besar dengan bertambahnya paritas dan semakin besar denganbertambahnya usia ibu dan ayah. Menurut Cunningham (2000) ada beberapa faktor yangmerupakan predisposisi terjadinya abortus, misalnya faktor paritas dan usia ibu, mempunyaipengaruh besar. Teori lain menyebutkan bahwa frekuensi abortus meningkat bersamaan denganmeningkatnya angka graviditas, 6% kehamilan pertama atau kedua berakhir dengan abortus,angka ini meningkat menjadi 16% pada kehamilan ketiga dan seterusnya (Llewellyn-Jones,Derek 2001). Menurut Warburton Frases & Wilson, resiko abortus nampaknya semakinmeningkat dengan bertambahnya paritas di samping dengan semakin lanjutnya usia ibu danayah (Cunningham 2005). Dalam kenyataan di RSIA Aura Syifa Kediri, frekuensi abortus kecenderungannya palingbanyak terjadi pada Nullipara. Faktor paritas memang bukan satu-satunya predisposisiJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 93
  31. 31. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098terjadinya abortus karena abortus disebabkan oleh faktor yang kompleks. Jadi, meskipunseorang wanita hamil berada pada paritas yang menguntungkan atau berada pada kondisiparitas yang baik (resiko rendah), kemungkinan bisa juga terjadi abortus karena faktor lain. Faktor paritas mungkin tidak begitu berpengaruh sebagai pencetus terjadinya abortus diRSIA Aura Syifa Kabupaten Kediri karena dari hasil yang didapat menyatakan bahwa tertinggiinsidennya pada Nullipara. Banyaknya Nullipara dibandingkan dengan Grandemultipara, dapatdipahami sebagai fenomena yang bisa kita temui pada zaman sekarang. Pada zaman dulusering dijumpai banyak ibu-ibu dengan anak banyak, namun pada saat ini kesadaran ibu akanprogram Keluarga Berencana sudah baik dan prinsip banyak anak banyak rezeki sudah mulailuntur, karena biaya hidup juga semakin tinggi. Maka dari itu, ibu berpikir untuk membatasijumlah anak sehingga jumlah ibu dengan banyak anak sekarangpun mulai berkurang. Olehsebab itu, bisa dimengerti jika kejadian abortus tertinggi pada Nullipara karena kuantitasGrandemultipara yang masih produktif untuk hamil pada zaman sekarang ini jarang ditemui. Menurut hasil penelitian lain, wanita primigravida akan mengalami gugurnya kehamilansebesar 5,6 % dan wanita yang telah memiliki anak akan terjadi abortus sebesar 2,2% padakehamilan berikutnya (Darmayanti 2009 dalam Nisa 2009). Dari penelitian tersebut, terdapatkesamaan dengan hasil penelitian di RSIA Aura Syifa Kabupaten Kediri yang menyatakanbahwa kejadian abortus paling banyak terjadi pada wanita Nullipara. Dari Tabel 2 didapatkan hasil yang menyatakan bahwa klasifikasi atau jenis abortusyang frekuensinya paling banyak pada nullipara sampai pada grandemultipara adalah abortusinkomplit (pada grandemultipara seimbang dengan abortus insipiens). Kebanyakan abortusyang terjadi mengarah pada gejala abortus inkomplit dengan salah satu tanda bahwa buahkehamilan tidak dikeluarkan seutuhnya. Jaringan janin di dalam rahim yang tidak keluarsempurna itulah yang membahayakan nyawa ibu karena potensi perdarahannya lebih besarsehingga resiko kematian maternalnya juga lebih besar. Kebanyakan abortus spontan terjadi segera setelah kematian janin, diikuti denganperdarahan ke dalam desidua basalis, lalu terjadi perubahan-perubahan nekrotik pada daerahimplantasi, infiltrasi sel-sel peradangan akut, dan akhirnya perdarahan pervaginam. Buahkehamilan terlepas seluruhnya atau sebagian yang diinterpretasikan sebagai benda asingdalam rongga rahim. Hal ini menyebabkan kontraksi uterus dimulai, dan segera setelah itu,terjadi pendorongan benda asing itu keluar rahim (ekspulsi) (Sastrawinata, 2004). Pada banyak kasus, jaringan plasenta yang tertinggal sekedar menempel di kanalisservikalis dan dapat dikeluarkan dari os eksterna yang terpapar dengan forceps cincin atauovum. Wanita dengan tahap kehamilan lebih lanjut, atau yang mengalami perdarahan besarharus dirawat inap dan jaringan yang tertinggal segera dikeluarkan (Darmayanti, 2009 dalamNisa, 2009). Sebelum minggu ke-10, hasil konsepsi biasanya dikeluarkan dengan lengkap. Hal inidisebabkan sebelum minggu ke-10 vili korialis belum menanamkan diri dengan erat ke dalamdesidua hingga telur mudah terlepas keseluruhannya. Antara minggu ke-10-12 korio tumbuhdengan cepat dan hubungan vili korialis dengan desidua makin erat hingga mulai saat tersebutsering sisa-sisa korion (plasenta) tertinggal jika terjadi abortus (Sulaiman Sastrawinata 2004).Abortus 80% terjadi pada kehamilan trimester pertama dan insiden menurun sejalan denganmeningkatnya umur kehamilan (Cunningham 2005 dalam Nisa 2009).Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 94
  32. 32. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098 Hasil uji Chi Kuadrat satu sampel menunjukkan bahwa ada perbedaan kejadian abortusberdasarkan paritas. Karakteristik yang dimiliki Nullipara (wanita yang pertama kali hamil ataubelum pernah melahirkan bayi aterm) umumnya belum memiliki pengalaman yang matangterhadap kehamilannya. Untuk wanita yang baru pertama kali mengandung, pengalamanlangsung terhadap kehamilannya sama sekali belum dimiliki karena wanita tersebut barumenjalani kehamilannya yang pertama. Sedangkan wanita yang pernah hamil tetapi ditengahpertumbuhan kehamilannya mengalami gangguan sehingga belum pernah melahirkan bayiaterm, setidaknya telah memiliki satu pengalaman langsung. Akan tetapi, pengalamankehamilan itu tidak mempunyai manfaat yang berarti jika wanita hamil tidak mempunyai cukupwawasan tentang segala sesuatu terkait dengan kehamilan yang sehat. Sehingga bisamenyebabkan kecerobohan yang merugikan kehamilannya sendiri. Salah satu contoh adalahaktivitas berhubungan seksual ibu hamil yang dilakukan pada Trimester I. Pada saatberhubungan seksual, sel sperma mengandung hormone prostaglandin yang merangsangkontraksi uterus sehingga bisa mengancam gugurnya buah kehamilan. Selain itu, faktorpekerjaan, tempat tinggal dan paparan zat-zat berbahaya juga berpengaruh terhadapterjadinya abortus pada nullipara. Dari hasil penelitian, diketahui bahwa frekuensi terendah kejadian abortus terjadi padaGrandemultipara dimana secara teori justru paritas ≥ 4 ini mempunyai prognosis burukterhadap kehamilannya. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Purwanti, Grandemultiparitas memiliki risiko kematian ibu maupun janin yang lebih tinggi, sehingga sedapatmungkin angka kejadian grande multiparitas harus ditekan. Karakteristik ibu terutama paritasberpengaruh terhadap pemilihan jenis persalinan dan luaran bayinya. Hasil penelitiannyamenunjukkan bahwa paritas tinggi meningkatkan kejadian SC sebesar 33%, forseps 27%, danvakum 22%. Hasil ini diperkuat oleh Oxorn dalam penelitiannya pada tahun 2006 memperolehbahwa grande multiparitas meningkatkan angka kejadian seksio sesarea sebesar 3,2 kali lipat.Tingginya kejadian grande multiparitas dipengaruhi pula oleh faktor sosial. Asumsi masyarakatatau anggapan masyarakat terhadap banyak anak banyak rezeki akan sangat mempengaruhiterhadap keinginan suami istri mengenai pengaturan jumlah anak, sehingga seringkalikehamilan dianggap hal yang mudah, biasa saja, dan umum, terutama di daerah pedesaanakan dianggap tidak lumrah bila sebuah keluarga memiliki anak sedikit (Armawan. 2008).SIMPULAN DAN SARAN Simpulan penelitian adalah: 1) Terdapat perbedaan kejadian abortus berdasarkanparitas, 2) Kejadian abortus berdasarkan paritas di RSIA Aura Syifa Kabupaten Kedirifrekuensi tertinggi terdapat pada Nullipara (paritas 0), frekuensi tertinggi kedua adalahPrimipara, urutan berikutnya Multipara, dan angka kejadian paling rendah Grandemultipara. Saran yang diajukan adalah: 1) Diharapkan setelah mengetahui fenomena di atas, pihakrumah sakit dapat lebih waspada dan meningkatkan pelayanan kesehatannya terutamaterhadap penanganan abortus, mengingat angka kejadian abortus masih tinggi dan banyakfaktor yang menjadi penyebabnya, 2) Diharapkan peneliti selanjutnya yang melakukanpenelitian mampu menggunakan variabel lebih luas untuk menjangkau faktor-faktorpredisposisi kejadian abortus.Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 95
  33. 33. Volume II Nomor 2, April 2011 ISSN: 2086-3098DAFTAR PUSTAKAAbdul Bari Saifudin, dkk. (2006) Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.A. Aziz Alimul Hidayat. (2007) Metode Penelitian Kebidanan & Teknik Analisis Data. Jakarta: Penerbit Salemba Medika.Bobak, Lowdermilk, Jensen. (2001) Maternity Nursing, Mari A. Wijayarini & Peter I. Anugerah. (2004) (Alih Bahasa), Jakarta: EGC.Budiman Chandra. (2008) Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: EGC.Cunningham, F. Garry. (2005) Obstetri William (vol2). Jakarta: EGC.Dorland. (2002) Kamus Kedokteran. Jakarta: EGC.Edwin Armawan. “Gambaran Jenis Persalinan Dan Hasil Luaran Bayi pada Grandemultipara.” 2008.Ema Wahyu Ningrum, dkk. “Hasil Luaran Janin pada Ibu Pasca Abortus di Rumah Sakit dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2004“. 24 Januari 2008.<http://rofiqahmad.wordpress.com> diakses tanggal 7 Pebruari 2010 pukul 14.30 WIB.Hacker & Moore. (2001) Essentials of Obstetrics and Gynecology, Edy Nugroho. (2001) (Alih Bahasa), Jakarta: Hipokrates.James, D.K. (2001) High Risk Pregnancy .United Kingdom: W.B.Saunders.LKI FK UB. “Banyak Anak: Musibah atau Anugerah? Multipara Ditinjau dari Segi Kesehatan dan Agama Islam.” 23 Maret 2008.<http://redtea4u.multiply.com/journal/item/57> diakses tanggal 31 Juni 2010 pukul 18.12 WIB.Llewellyn-Jones, Derek. (2001) Fundamentals of Obstetrics and Gynecology, Hadyanto. (2001) (Alih Bahasa), Jakarta: Hipokrates.Manuaba. (2001) Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan KB. Jakarta: EGC.Nisa. “Gambaran Karakteristik Ibu yang Mengalami Abortus di RSUD Pandan Arang Boyolali”. 26 Juli 2009<http://nisa.wordpress.com> diakses tanggal 31 Mei 2010 pukul 18.07 WIB.Nursalam. (2008) Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan (Edisi 2). Jakarta: Salemba Medika.Sarwono Prawirohardjo. (2006) Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka-Sarwono Prawirohardjo.Soekidjo Notoatmodjo. (2005) Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.Sulaiman Sastrawinata. (2004) Ilmu Kesehatan Reproduksi: Obstetri Patologi. Jakarta: EGC.Varney, Helen. (2007) Varney’s Midwifery (4th ed.), Laily Mahmudah & Gita Trisetyati. (2001) (Alih Bahasa), Jakarta: EGC.Walsh, Linda V. (2001) Midwifery Community–Based Care During the Childbearing Year. United States of America: W.B Saunders Company.Widyastuti & Dina, “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Abortus”. (2008).<http://images.arikbliz.multiply.multiplycontent.com/attachment>, diakses tanggal 07 Februari 2010 pukul 21.00 WIB.Yuni Kusmiyati, dkk. (2008) Perawatan Ibu Hamil. Yogyakarta: FitramayaJurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 96

×