Your SlideShare is downloading. ×
0
Patologi birokrasi presentasi
Patologi birokrasi presentasi
Patologi birokrasi presentasi
Patologi birokrasi presentasi
Patologi birokrasi presentasi
Patologi birokrasi presentasi
Patologi birokrasi presentasi
Patologi birokrasi presentasi
Patologi birokrasi presentasi
Patologi birokrasi presentasi
Patologi birokrasi presentasi
Patologi birokrasi presentasi
Patologi birokrasi presentasi
Patologi birokrasi presentasi
Patologi birokrasi presentasi
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Patologi birokrasi presentasi

4,682

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
4,682
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
131
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. PATOLOGIBIROKRASI
  • 2. Apa itu patologi birokrasi? Istilah Patologi diadopsi dari ilmu kedokteran, yang berarti sesuatu yang berhubungan dengan penyakit dan seluk beluknya. Patologi birokrasi (bureopathology) berarti himpunan atas ketimpangan- ketimpangan yang terjadi dalam jalannya sistem dan mekanisme birokrasi
  • 3.  Victor A Thompson menggambarkan fitur patologi birokrasi (bureopathology) sebagai sebuah sikap menyisih berlebihan, pemasangan taat pada aturan atau rutinitas-rutinitas dan prosedur-prosedur, perlawanan terhadap perubahan, dan desakan picik atas hak-hak dari otoritas dan status Patologi birokrasi kerap kali muncul di negara-negara berkembang
  • 4. Karakter Birokrasi di negara-negara berkembanga. administrasi publiknya bersifat elitis, otoriter, menjauh atau jauh dari masyarakat dan lingkungannya serta paternalistik.b. birokrasinya kekurangan sumber daya manusia (dalam hal kualitas) untuk menyelenggarakan pembangunan dan over dalam segi kuantitasc. birokrasi di negara berkembang lebih berorientasi kepada kemanfaatan pribadi ketimbang kepentingan masyarakatd. ditandai adanya formalisme. Yakni, gejala yang lebih berpegang kepada wujud-wujud dan ekspresi-ekspresi formal dibanding yang sesungguhnya terjadie. birokrasi di negara berkembang acapkali bersifat otonom. Artinya lepas dari proses politik dan pengawasan publik. Administrasi publik di negara berkembang umumnya belum terbiasa bekerja dalam lingkungan publik yang demokratis.
  • 5. Sebab Patologi Birokrasi Secara umum terdapat dua penyebab:a. Faktor internal dalam birokrasib. Faktor eksternal yang berpengaruh
  • 6. Faktor eksternal1. Bureocratic Patrimonial  Andrew Mc Intyre : elit memberi hadiah kepada bawahan untuk melanggengkan kekuasaannya.  Gagasan ini diibaratkan sebagai sebuah piramida yang mengandung unsur patron- client.2. Politisasi birokrasi  Birokrat larut dengan kepentingan- kepentingan politik dan rezim yang berkuasa.  Contohnya ialah birokrasi pada masa Orde Baru.
  • 7. Faktor internal (1)1. Kesalahan dalam sistem rekrutmen  Terdapat kecurangan dalam sistem rekrutmen (hubungan kekeluargaan, nepotisme dsb)2. Lemahnya pengawasan
  • 8. Faktor internal (2)3. Faktor uang (Hasrat kepentingan pribadi vs kepentingan rakyat)  Setiap satuan di dalam birokrasi public harus mampu menghayati bahwa money follows function ( uang mengikuti fungsi), bukan fungsi mengikuti uang. Selama ini yang terjadi adalah dimana ada uang di situlah para pegawai atau pejabat bekerja. Terkadang, tugas dan fungsi direkayasa untuk mendapatkan jatah alokasi uang negara.
  • 9. Bentuk-bentuk Patologi Sondang P Siagian (1988) membagi patologi birokrasi menjadi 11 penyakit, antara lain:  Penyalahgunaan wewenang dan tanggung jawab  Pengaburan masalah  Indikasi korupsi, kolusi dan nepotisme  Indikasi mempertahankan status quo  Empire bulding (membina kerajaan)  Ketakutan pada perubahan, inovasi dan resiko  Ketidakpedulian pada kritik dan saran  Takut mengambil keputusan  Kurangnya kreativitas dan eksperimentasi  Kredibilitas yang rendah, kurang visi yang imajinatif,  Minimnya pengetahuan dan keterampilan, dll
  • 10. Bentuk Patologi lain: Red Tapeprosedur memutar dan panjang berbelit-belit. KKN yang tersistem rapi dan berulang-ulang Abuse of Power Power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely ( Lord Acton) Wrong StaffingPenempatan kerja yang tidak sesuai dengan kompetensinya dapat menimbulkan masalah pada manajemen kantor serta dapat mengakibatkan kegagalan dalam pencapaian tujuan organisasi
  • 11.  overleaping tugas pokok dan fungsi  Terjadi penumpukan dan penggandaan kerja dalam lingkup yang sudah ditetapkan. Kemudian ditambah dengan adanya beban kerja yang tidak dibagi habis ke seluruh staf, sehingga ada staff yang tidak memiliki tugas atau job desk yang jelas. pengelolaan anggaran hanya bersifat sebagai catatan administrasi saja, jadi sering tidak sesuai operasional
  • 12. Contoh kasus:Potret BuramPenerimaan CPNS Pola rekrutmen CPNS dipenuhi dengan tindakan KKN Birokrasi terlibat dalam jual beli kursi, main mata harga jabatan, dan penyelewengan kekuasaan KKN tidak dilakukan secara terbuka, namun dilakukan dengan mekanisme tertutup (reureunceupan) dengan mekanisme “sama-sama mengerti”.
  • 13. Lanjutan: Potret BuramPenerimaan CPNS Akibatnya birokrasi lemah dari segi kualitas intelektual dan mentalitas. Alih-alih menjadi abdi masyarakat yang melayani publik dengan baik, yang terjadi sebaliknya birokrasi menjadi “pemeras” hak-hak publik
  • 14. Sebagai renungan1. identifikasi kebutuhan PNS berdasarkan keahlian dan keterampilan dan kualifikasi perekrrutan yang sesuai dengan formasi dan kualitas.2. jadikanlah penerimaan CPNS yang akan datang sebagai bagian dari reformasi birokrasi, atau revolusi budaya kerja birokrasi.3. mau tidak mau seleksi penerimaan CPNS baru, perlu memperhatikan aspek kompetensi nyata, baik untuk kepentingan bangsa Indonesia hari ini, maupun kebutuhan bangsa Indonesia di masa yang akan datang
  • 15. Terima Kasih

×