BAB I                                      PENDAHULUANA. Latar Belakang       Irian Jaya atau sekarang disebut dengan Papu...
masalah pelanggaran batas daerah sagu, pencurian ulat sagu, perzinahan, ataupun hanyasekedar sakit hati. Mulanya konflik y...
BAB II                                     PEMBAHASANAsal suku Asmat       Adat istiadat suku Asmat mengakui dirinya sebag...
Dengan terpaksa, Biwiripits akhirnya memberanikan diri memenggal kepala Desoipits.Namun, keanehan terjadi saat itu. Suara ...
kematian orang dewasa mendatangkan duka cita yang amat mendalam bagi masyarakatAsmat.         Mereka yakin bahwa setiap ma...
juga beberapa anggota keluarga yang menutupi kepala dan wajahnya agar agar tidak menarikbagi orang lain.       Sementara i...
Pembuatan perahu lesung       Setiap 5 tahun sekali, masyarakat Asmat membuat perahu-perahu baru. Dalam prosespembuatan pe...
meninggal karena terbunuh. Peringatan ini dibuat agar pembalasan terhadap pembunuh akansegera dibalas dengan membunuh angg...
pembalasan dendam telah dilaksanakan dan mereka mengharapkan agar roh-roh yang telahmeninggal itu berangkat ke pulau Siret...
kemudian ditarik bersama-sama. Pekerjaan ini tidaklah mudah karena banyaknya lumpur didaerah itu sehingga memberatkan dala...
diberikan kepada orang yang paling tua, sehingga mungkin ada kekosongan pimpinansebelum kepala baru terpilih.Upacara-upaca...
3. Aipmu = bagian utama yang ada di tiap rumah bujang dan memiliki seorang kepala4. Asmat-ow = manusia sejati5. Bis = patu...
BAB III                                        PENUTUPA. Kesimpulan       Suku Asmat adalah salah satu suku bangsa yang be...
LAMPIRANSuku Asmat                Tengkorak hasil kanibalismeRumah bujang                   Perahu lesung                 ...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Kanibalisme suku asmat

699 views
524 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
699
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
9
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Kanibalisme suku asmat

  1. 1. BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Irian Jaya atau sekarang disebut dengan Papua adalah pulau terbesar kedua di duniasetelah Greenland. Pulau ini terbagi atas 2 daerah kekuasaan, yaitu belahan timur yangmerupakan daerah kekuasaan pemerintahan Papua Nuginie, sedangkan daerah seluas 260.000kilometer persegi yang berada di belahan barat, yaitu Papua termasuk daerah wilayahpemerintahan Republik Indonesia. Di Papua ini terdiri dari beberapa kabupaten dan suku-suku yang beraneka ragam.Suku Asmat adalah salah satu suku yang ada di Papua. Populasi suku Asmat terbagi dua yaitumereka yang tinggal di pesisir pantai dan mereka yang tinggal di bagian pedalaman. Keduapopulasi ini saling berbeda satu sama lain dalam hal cara hidup, struktur sosial dan ritual. Mendengar suku Asmat, mungkin sekilas terpikir di benak kita mengenai pengayauankepala orang dan kanibalisme. Kata-kata ini membuat orang-orang takut. Dengan identiknyasuku Asmat terhadap kanibalisme, maka tumbuh stereotype mengenai suku Asmat. Orangmendengar suku Asmat sebagai sebuah kata yang menjadi sinonim untuk kanibal. Pada tahun1961, dalam sebuah ekspedisi yang dipimpin oleh Rokefeller Jr, putra seorang gubernurnegara bagian New York, menghilang ke dalam hutan bakau di daerah ini. Menurut kabar,Rokefeller Jr menjadi korban kanibalisme suku Asmat. Pada tahun 1968 dua orang misionarisAustralia dan Amerika Stan Dole dan Phil Masters dikabarkan dicincang dan dimakan olehsuku Asmat. Selain fakta bahwa Asmat adalah kanibal dan pemburu “kepala”, mereka juga “diburuuntuk nama”. Setiap orang diberi nama setelah seseorang meninggal, atau setelah membunuhmusuh. Seorang anak kadang-kadang diberi nama sepuluh tahun setelah lahir, dan setelahdesa menetapkan untuk membunuh seorang laki-laki dari desa musuh di dekatnya. Merekaharus mempelajari nama laki-laki yang mereka bunuh, dan kemudian membawa tengkorak kedesa mereka. Dahulu, peristiwa mengerikan ini merupakan hal biasa bagi orang-orang Asmat. Halitu dikarenakan, kehidupan suku Asmat pada waktu itu penuh diliputi peperangan antar-clandan antarwilayah. Pada umumnya, yang menjadi pangkal persengketaan di antaranya, 1
  2. 2. masalah pelanggaran batas daerah sagu, pencurian ulat sagu, perzinahan, ataupun hanyasekedar sakit hati. Mulanya konflik yang terjadi hanya berasal dari dua orang yang berselisih,namun berubah menjadi konflik antarkeluarga. Makin lama, konflik kian berkembangmenjadi konflik antar-clan hingga akhirnya semakin membesar menjadi konflik antarwilayah.Akhirnya, pecahlah peperangan antarwilayah yang berujung pada kayau mengayau kepalaorang dan kanibalisme.B. Perumusan Masalah 1. Dari mana suku Asmat berasal? 2. Bagaimana suku Asmat melakukan upacara kematian? 3. Apa makna kematian pada suku Asmat? 4. Apa fungsi perahu lesung dan rumah bujang dalam kehidupab masyarakat Asmat? 5. Upacara-upacara apa saja yang terdapat dalam adat istiadat suku Asmat? 2
  3. 3. BAB II PEMBAHASANAsal suku Asmat Adat istiadat suku Asmat mengakui dirinya sebagai anak dewa yang berasal dari duniamistik atau gaib yang lokasinya berada di mana mentri tenggelam setiap sore hari. Nenekmoyang suku Asmat pada zaman dahulu melakukan pendaratan di buni di daerahpengunungan. Selain itu orang suku Asmat juga percaya bila wilayahnya terdapat 3 macamroh yang masing-masing mempunyai sifat baik, jahat, dan yang jahat namun mati.Berdasarkan mitologi masyarakat Asmat yang berdiam di teluk flamingo, dewa itu bernamaFumuriptis. Orang Asmat percaya bahwa mereka berasal dari Sang Pencipta (Fumeripits).Pada suatu masa, Fumeripits terdampar di pantai dalam keadaan sekarat dan tidak sadarkandiri. Namun nyawanya diselamatkan oleh sekolompok burung sehingga ia kembali pulih.Kemudian ia hidup sendirian di sebeuah daerah yang baru. Karena kesepian, ia membangunsebuah rumah panjang yang diisi dengan patung-patung dari kayu hasil ukirannya sendiri.Namun ia masih merasa kesepian, kemudian ia membuat sebuah tifa yang ditabuhnya setiaphari. Tiba-tiba, bergeraklah patung-patung kayu yang sudah dibuatnya tersebut mengikutiirama tifa yang dimainkan. Sungguh ajaib, patung-patung itu pun kemudian berubah menjadiwujud manusia yang hidup. Mereka menari-nari mengikuti irama tabuhan tifa dengan keduakaku agak terbuka dan kedua lutut bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan. Semenjak itu, Fumeripits terus mengembara dan di setiap daerah yang disinggahinya,ia membangun rumah panjang dan menciptakan manusia-manusia baru yang kemudianmenjadi orang-orang Asmat seperti saat ini. Semua itu ada di dalam dongeng suci Fumeripits. Awal pengayauan kepala dan kanibalisme ini, berasal dari mitos yang hidup padaorang-orang Asmat. Mitos ini menceritakan tentang kakak beradik Desoipits dan Biwiripits.Diceritakan, saat itu laki-laki dewasa dari wilayah mereka sedang berperang, namun merekatidak ikut. Desoipits merasa punya kewajiban untuk membantu, dan dia menyuruh adiknyaBiwiripits untuk memenggal kepalanya. Desoipits bersikeras menyuruh Biwiripits agar maumemenggal kepalanya. Namun, Biwiripits tetap tak mau memenggal kepala Desoipits karenatidak tega memenggal kepala saudaranya sendiri. Semakin kuat Biwiripits menolak, semakin keras pula desakan Desoipits agar adiknyamau memenggalkan kepalanya. Akhirnya, Biwiripits tak tahan dengan desakan kakaknya. 3
  4. 4. Dengan terpaksa, Biwiripits akhirnya memberanikan diri memenggal kepala Desoipits.Namun, keanehan terjadi saat itu. Suara Biwiripits masih terdengar. Entah bagaimana bisaterjadi, kepala Biwiripits yang telah dipenggal masih bisa bicara. Merasa caranya takberhasil, Desoipits kembali mendesak Biwiripits untuk memotong-motong tubuhnya. Selainitu Desoipits memerintahkan agar tubuhnya dibagikan kepada para pahlawan yang pulangberperang. Karena tak bisa menolak lagi, Biwiripits kembali menuruti permintaan Desoipits.Potongan tubuh Desoipits dibagikan kepada para pahlawan perang sebagai makanan bagimereka. Sejak saat itulah, timbul kebiasaan memakan daging dan memenggal kepalamanusia. Tengkorak manusia pun dihormati dan disimpan, terutama tengkorak orang yangsanagt dicintai. Tengkorak saudara atau kerabat terdekat selalu digunakan sebagai bantalkepala ataupun kalung, sedangkan tengkorak musuh dipajang untuk memperlihatkankebesaran dan keperkasaan atau juga penolak bala. Oleh sebab itu, pengayauan dan kanibalisme, dilakukan orang-orang Asmat setelahmereka berperang. Musuh yang telah mati ditombak, dibawa pulang ke kampung denganperahu lesung panjang. Dengan penuh kebanggaan, mereka membawa mayat musuh, diiringinyanyi-nyanyian. Setibanya di kampung, mereka disambut oleh orang-orang Asmat. Mayatyang telah dibawa mulai dipotong-potong dan dibagikan kepada semua penduduk untukdimakan. Sambil menyanyikan lagu kematian, kepalanya dipenggal lalu dipanggang. Begitujuga dengan otaknya, dibungkus dengan daun sagu untuk kemudian turut dipanggang.Tengkorak kepala musuh yang telah dipenggal kemudian dipajang untuk memperlihatkankebesaran dan keperkasaan serta digunakan juga sebagai penolak bala.Upacara kematian suku Asmat Acara pengayauan kepala dan kanibalisme sebagai cara orang Asmat memandangsebuah kematian, jauh berbeda dengan upacara kematian bagi keluarga yang ditinggal mati.Walaupun suku Asmat terlihat sadis dengan kanibalismenya, namun disisi lain terdapat sisikemanusiaan yang mendalam pada diri orang-orang Asmat. Hal ini dapat terlihat saatterdapat salah satu anggota keluarga orang Asmat yang meninggal. Kematian orang Asmat tidak mengenal dalam hal mengubur mayat orang yang telahmeninggal. Bagi mereka, kematian bukanlah hal yang alamiah. Bila seseorang tidak matidibunuh, maka mereka percaya bahwa orang tersebut mati karena suatu sihir hitam. Bayiyang baru lahir dan kemudian mati dianggap hal yang biasa dan mereka tidak terlalu sedihkarena mereka percaya bahwa roh bayi itu ingin segera ke alam roh-roh. Sebaliknya, 4
  5. 5. kematian orang dewasa mendatangkan duka cita yang amat mendalam bagi masyarakatAsmat. Mereka yakin bahwa setiap manusia mempunyai paling sedikit enam jiwa yangmenjiwai beberapa bagian tubuh yang berlainan. Berbagai macam penyakit yang diketahuioleh orang Asmat disebabkan karena jiwa yang menjiwai bagian tubuh yang sakit itu sedangpergi atau menghilang. Itulah sebabnya cara dan teknik yang digunakan dukun penyakitnamer ow untuk menyembuhkan orang sakit adalah dengan mengupayakan atau membujukjiwa yang pergi itu agar kembali ke tubuh si sakit tadi. Apabila beberapa jiwa yang telahpergi dan tak dapat dibujuk agar kembali, si sakit yang bersangkutan akan meninggal. Apabila ada orang tua yang sakit, maka keluarga terdekat berkumpul mendekati sisakit sambil menangis, sebab mereka percaya ajal akan segera menjemputnya. Tidak adausaha-usaha untuk mengobati atau memberi makan kepada si sakit. Dengan tidak adanyaupaya medis yang dilakukan untuk menyembuhkan orang sakit, maka tidak heran jika tingkatkematian suku Asmat sangat tinggi. Jika ada anggota keluarga yang sakit, keluargamemanggil dukun penyakit namer ow. Keluarga tidak berani mendekatinya karena merekajuga percaya, si sakit akan membawa keluarga yang paling dicintainya untuk menemaninya.Di sisi rumah dimana si sakit dibaringkan dibuatkan semacam pagar dari dahan pohon nipah. Ratapan dan tangisan semua anggota keluarga terus berlangsung. Semuanya semakinmenjadi, tatkala diketahui bahwa keluarga yang sakit sudah meninggal. Mereka tak bisamenahan luapan kesedihan atas meninggalnya anggota keluarga mereka. Semua anggotakeluarga berebut memeluk mayat yang tak lain adalah anggota keluarga mereka. Rasa dukacita yang tak tertahankan, akhirnya berubah menjadi tindakan yang tak terkendali. Anggotakeluarga terdekat mengguling-gulingkan tubuhnya di atas lumpur. Kerabat lainnya berusahamenenangkan dan menjaga agar anggota keluarga yang mengguling-gulingkan tubuhnya diatas lumpur, tidak melukai dirinya sendiri. Ekspresi duka cita orang-orang Asmat terhadap anggota keluarga yang meninggaldunia memang tak terkendali. Tak jarang orang yang mengguling-gulingkan tubuhnya di ataslumpur, melukai dirinya sendiri. Rasa duka cita yang mendalam juga ditunjukkan denganmenangis setiap hari bahkan sampai berbulan-bulan. Ada pula sebagian anggota keluargayang melumuri seluruh tubuhnya dengan lumpur dan mencukur habis rambutnya. Bagi yangsudah menikah, berjanji tidak akan menikah lagi (walau nantinya menikah juga). Terdapat 5
  6. 6. juga beberapa anggota keluarga yang menutupi kepala dan wajahnya agar agar tidak menarikbagi orang lain. Sementara itu, orang-orang di dekat rumah kematian telah melakukan hal-hal yangbiasa mereka lakukan saat ada orang yang meninggal. Setiap lubang dan jalan masuk (kecualijalan masuk utama) di semua rumah ditutup, dengan maksud menghalangi roh-roh jahat.Mereka percaya bahwa banyak roh jahat yang berkeliaran pada saat-saat menjelang kematian.Maka dengan ditutupnya semua lubang di rumah roh-roh jahat tidak akan bisa masuk. Dalam upacara kematian, jenazah orang-orang Asmat tidak dikuburkan keluarganya.Jenazah tersebut diletakan di atas panggung di luar rumah panjang, di atas para (anyamanbambu) yang telahdisediakan di luar kampong dan dibiarkan sampai busuk. Hal ini dibiarkan,hingga tulang belulang saja yang tersisa dari jenazah. Kelak, tulang belulangnyadikumpulkan dan disimpan di atas pokok-pokok kayu. Sementara itu, tengkorak kepalanyadiambil dan dipergunakan sebagai bantal. Hal ini dilakukan untuk menunjukan rasa cintakasih kepada keluarga yang meninggal. Orang Asmat percaya bahwa roh-roh orang yangtelah meninggal tersebut (bi) masih tetap berada di dalam kampong, terutama kalau orang itudiwujudkan dalam bentuk patung mbis, yaitu patung kayu yang tingginya 5-8 meter. Selainitu, terdapat cara lain yang dilakukan dalam memperlakukan jenazah. Jenazah diletakan diatas perahu lesung panjang yang telah dipenuhi perbekalan seperti sagu dan ulat sagu. Perahulesung panjang tersebut kemudian dilepas ke sungai untuk seterusnya terbawa arus ke laut,menuju peristirahatan terakhir para roh. Saat ini, dengan masuknya pengaruh dari luar, orang Asmat telah mengubur jenazahdan beberapa barang milik pribadi yang meninggal. Umumnya, jenazah lakki-laki dikuburtanpa mengenakan pakaian, sedangkan jenazah wanita dikubur dengan mengenakan pakaian.Orang Asmat juga tidak memiliki pemakaman umum, maka jenazah biasanya dikubur dihutan, di pinggir sungai atau semak-semak tanpa nisan. Dimana pun jenazah itu dikubur,keluarga tetap dapat menemukan kuburannya. Demikian konsepsi orang Asmat tentang maut. Maut adalah perginya satu ataubeberapa jiwa manusia untuk tak kembali lagi. Jiwa-jiwa yang membebaskan diri dari tubuhorang itu menjadi ruh yang berkeliaran sekitar tempat tinggal manusia. Sesudah beberapawaktu tertentu ruh akan pergi ke dunia ruh di belakang ufuk, dan hidup abadi di sana atausetelah beberapa waktu kembali ke bumi dan hidup kembali dalam tubuh seorang bayi. 6
  7. 7. Pembuatan perahu lesung Setiap 5 tahun sekali, masyarakat Asmat membuat perahu-perahu baru. Dalam prosespembuatan perahu hingga selesai, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Setelah pohondipilih, ditebang, dikupas kulitnya dan diruncingkan kedua ujungnya, batang itu telah siapuntuk diangkut ke pembuatan perahu. Sementara itu, tempat pegangan untuk menahan talipenarik dan tali kendali sudah dipersiapkan. Pantangan yang harus diperhatikan saatmengerjakan itu semua adalah tidak boleh membuat banyak bunyi-bunyian di sekitar tempatitu. Masyarakat Asmat percaya bahwa jika batang kayu itu diinjak sebelum ditarik ke air,maka batang itu akan bertambah berat sehingga tidak dapat dipindahkan. Untuk menarikbatang kayu, si pemilik perahu meminta bantuan kepada kerabatnya. Sebagian kecil akanmengemudi kayu di belakang dan selebihnya menarik kayu itu. Sebelum perahu digunakan, diadakan suatu upacara khusus yang dipimpin olehseorang tua yang berpengaruh dalam masyarakat. Maksudnya adalah agar perahu itu nantinyaakan berjalan seimbang dan lancar. Perahu pun dicat dengan warna putih di bagian dalam dandi bagian luar berwarna merah berseling putih. Perahu juga bisa diberi ukiran yang berbentukkeluarga yang telah meninggal atau berbentuk burung dan binatang lainnya. Ssetelah dicat,perahudihias dengan daun sagu. Sebelum dipergunakan, semua perahu diresmikan terlebihdahulu. Para pemilik perahu baru bersama dengan perahu masing-masing berkumpul dirumah orang yang paling berpengaruh di kampung tempat diadakannya pesta sambilmendengarkan nyanyi-nyanyian dan penabuhan tifa. Kemudian kembali ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan diri dalam perlombaan perahu. Para pendayung menghias diridengan cat berwarna putih dan merah disertai bulu-bulu burung. Kaum anak-anak danwannita bersorak-sorai memberikan semangat dan memeriahkan suasana. Namun, ada jugayang menangis mengenang saudaranya yang telah meningggal. Dulu pembuatan perahudilaksanakan dalam rangka persiapan suatu penyerangan dan pengayauan kepala. Bila telahselesai, perahu-perahu ini dicoba menuju tempat musuh dengan maksud agar memanas-manasi mereka dan memancing suasana musuh agar siap berperang. Sekarang penggunaanperahu lebih terahkan untuk pengangkutan bahan makanan.Upacara Bis Upacara bis merupakan salah satu kejadian penting di dalam kehidupan suku asmat.Upacara ini berhubungan dengan pengukiran patung leluhur (bis) apabila ada permintaandalam suatu keluarga. Upacara ini diadakan untuk memperingati keluarga yang telah 7
  8. 8. meninggal karena terbunuh. Peringatan ini dibuat agar pembalasan terhadap pembunuh akansegera dibalas dengan membunuh anggota keluarga dari pihak yang membunuh. Konon patung bisadalah bentuk patung yang paling sakral. Untuk membuat patung leluhur atau saudara yangtelah meninggal diperlukan kurang lebih 6-8 minggu. Pengukiran patung dikerjakan di dalamrumah panjang (bujang) dan selama pembuatan patung berlangsung, wanita tidakdiperbolehkan memasuki rumah tersebut. Dalam proses pembuatan patung biasanya terjaditukar-menukar istri yang disebut papis. Hal ini dilakukan untuk mempererat hubunganpersahabatan karena, pada waktu upacara peperangan antara wanita dan pria diadakan tiapsore. Patung bis menggambarkan rupa dari anggota keluarga yang telah meninggal. Yangsatu berdiri di atas bahu yang lain bersusun dan paling utama berada di puncak bis. Setelahitu diberikan warna dan diberikan hiasan-hiasan. Usai didandani, patung bis ini diletakkan diatas suatu panggung yang dibangun dirumah panjang. Pada saat itu, keluarga yangditinggalkan akan mengatakan bahwa pembalasan dendam telah dilaksanakan dan merekamengharapkan agar roh-roh yang telah meninggal itu berangkat ke pulau Sirets dengantenang. Mereka juga memohon agar keluarga yang ditinggalkan tidak diganggu dan diberikankesuburan. Biasanya, patung bis ini kemudian ditaruh dan ditegakkan di daerah sagu hinggarusak. Suku Asmat juga mempunyai tempat khusus bagi pelaksanaan upacara-upacaramaupun peta yang disebut yew. Yew dibangun di pinggir sungai, dekat dengan tempatpenambatan perahu lesung orang Asmat. Dapat dimaklumi karena bagi orang Asmat sungaiadalah sarana transportasi utama. Upacara perang-perangan ini bermaksud untuk mengusir roh-roh jahat dan padawaktu ini, wanita berkesempatan untuk memukul pria yang dibancinya atau pernah menyakitihatinya. Sekarang ini, karena peperangan antar-clan sudah tidak ada lagi, maka upacara bisini dilakukan bila ada malapetaka di kampong atau apabila hasil pengumpulan bahanmakanan tidak mencukupi. Menurut kepercayaan, hal ini disebabkan roh-roh keluarga yangtelah meninggal yang belum diantar ke tempat peristirahatan terakhir, yaitu sebuah pulau dimuara sungai Sirets. Parung bis menggambarkan rupa dari anggota keluarga yang telahmeninggal. Yang satu berdiri di atas bahu yang lain, bersusun dan paling utama berada dipuncak bis. Setelah itu diberikan warna dan diberikan hiasan-hiasan. Usai didandani, patung bis ini diletakkan di atas suatu panggung yang dibangun dirumah panjang. Pada saat itu, keluarga yang ditinggalkan akan mengatakan bahwa 8
  9. 9. pembalasan dendam telah dilaksanakan dan mereka mengharapkan agar roh-roh yang telahmeninggal itu berangkat ke pulau Sirets dengan tenang. Mereka juga memohon agar keluargayang ditinggalkan tidak diganggu dan diberikan kesuburan. Biasanya, patung bis ini ditaruhdan ditegakkan di daerah sagu hingga rusak. Upacara pengukuhan dan pembuatan rumah bujang (ventpokmbu) orang-orang Asmatmempunyai 2 tipe rumah, yaitu rumah keluarga dan rumah bujang (je). Rumah bujang inilahyang amat penting bagi orang-orang Asmat rumah bujang ini dinamakan sesuai nama marga(keluarga) pemiliknya. Rumah bujang merupakan pusat kegiatan baik yang bersifat religiousmaupun yang bersifat non religious. Suatu keluarga dapat tinggal di sana, namun apabila adasuatu penyerangan yang akan direncanakan atau uapacara-upacara tertentu, wanita dan anak-anak dilarang masuk. Orang-orang Asmat melakukan upacara khusus untuk rumah bujangyang baru, yang dihadiri oleh keluarga dan kerabat. Pembuatan rumah bujang juga diikutioleh beberapa orang dan upacara dilakukan dengan tari-tarian dan penabuhan tifa. Dengan didirikannya perkampungan-perkampungan bagi orang-orang Asmat, makakehidupan mereka yang seminomad itu mulai berubah. Biasanya, kampung yang satuberjauhan dengan kampung yang lain. Hal ini disebabkan adanya perasaan takut akandiserang musuh yang sudah tertanam di pikiran orang-orang Asmat. Populasi suatu kampungbiasanya terdiri dari 100 hingga 1000 jiwa. Kampung-kampung tersebut terdiri dari beberaparumah keluarga dan rumah bujang. Tiap-tiap kampung memiliki daerah sagu dan daerah ikanyang merupakan sumber makanan bagi seluruh warganya. Oleh karena itu, berburu danmenangkap ikan merupakan kesibukan pokok masyarakat Asmat.Peranan pria dan wanita Dalam masyarakat Asmat, kaum wanita yang bekerja mencari dan mengumpulkanbahan makan serta mengurus anak-anak. Kebiasaan ini sudah membudaya dalam kehidupanmereka karena kaum pria dahulunya sering disibukkan dengan berperang. Pada dasarnya,kegiatan kaum laki-laki terpusat di dalam rumah bujang yang dimana mereka berkumpuluntuk mendengarkan ritual-ritual yang berhubungan dengan peperangan dahulu sertamenceritakan dongeng para leluhur. Pagi-pagi sebelum matahari terbit, kaum ibu dan wanita muda berangkat ke lautmencari ikan. Mereka menjaring ikan di muara sungai dengan jaring yang terbuat darianyaman daun sagu. Caranya pun sederhana, dengan melemparkan jaring itu ke laut untuk 9
  10. 10. kemudian ditarik bersama-sama. Pekerjaan ini tidaklah mudah karena banyaknya lumpur didaerah itu sehingga memberatkan dalam penarikan jaring. Selain menangkap ikan, kaumwanita juga mengolah sagu, mencari umbi-umbian, dll untuk dijadikan bahan makanan. Dalam kehidupan orang Asmat, peran kaum laki-laki dan perempuan adalah berbeda.Kaum laki-laki memiliki tugas menebang pohon dan membelah batangnya. Pekerjaanselanjutnya, seperti mulai dari menumbuk sampai mengolah sagu dilakukan oleh kaumperempuan. Secara umumnya, kaum perempuan yang bertugas melakukan pencarian bahanmakanan dan menjaring ikan di laut atau di sungai. Sedangka kaum laki-laki lebih sibukdengan melakukan kegiatan perang antar clan atau antar kampung. Kegiatan kaum laki-lakijuga lebih terpusat di rumah bujang.Kekerabatan Dasar kekerabatan masyarakat Asmat adalah keluarga inti monogami, atau kadang-kadang poligini, yang tinggal bersama-sama dalam rumah panggung (rumah keluarga) seluas3 m x 5 m x 4 m yang sering disebut dengan tsyem. Walaupun demikian, ada kesatuan-kesatuan keluarga yang lebih besar, yaitu keluarga luas uxorilokal (keluarga yang sesudahmenikah menempati rumah keluarga istri), atau avunkulokal (keluarga yang dudah menikahmenempati rumah keluarga istri dari pihak ibu). Karena itu, keluarga-keluarga seperti itu,biasanya terdiri dari 1 keluarga inti senior dan 2-3 keluarga yunior atau 2 keluarga senior,apabila ada 2 saudara wanita tinggal dengan keluarga inti masing-masing dalam satu rumah.Jumlah anggota keluarga inti masyarakat Asmat biasanya terdiri dari 4-5 atau 8-10 orang. Di setiap kampung yang didirikan di wilayah masyarakat Asmat, terdapat satu rumahpanjang yang merupakan semacam balai desa dimana para warga kampung berkumpulmembicarakan masalah-masalah yang menyangkut kepentingan seluruh warga. Rumahpanjang ini merupakan cerminan kehidupan mereka di masa lampau. Rumah panjangdauhulunya berfungsi sebagai rumah bujang, atau Je dalam bahasa Asmat, dimana kaum priamembicarakan dan merembukan penyerangan serta pengayauan kepala. Rumah bujang terdiri 2 bagian utama yang tiap bagian dinamakan aipmu, yangdimana masing-masingnya dipimpin oleh kepala aipmu. Sedangkan kepemimpinan Je secarakeseluruhan dipimpin oleh kepala Je. Kepala Je adalah orang yang diakui kekuasaannyaberdasarkan kemampuan-kemampuan yang menonjol. Kedudukan kepala Je, tidak harus 10
  11. 11. diberikan kepada orang yang paling tua, sehingga mungkin ada kekosongan pimpinansebelum kepala baru terpilih.Upacara-upacara suku Asmat Kehidupan orang Asmat banyak diisi oleh upacara-upacara. Upacara besarmenyangkut seluruh komuniti desa yang selalu berkaitan dengan penghormatan roh nenekmoyang seperti berikut ini : a. Mbismbu (pembuat tiang) b. Yentpokmbu (pembuatan dan pengukuhan rumah yew) c. Tsyimbu (pembuatan dan pengukuhan perahu lesung) d. Yamasy pokumbu (upacara perisai) e. Mbipokumbu (upacara topeng)Bahasa Bahasa suku Asmat merupakan alat komunikasi diantara masyarakat suku Asmat,yang banyak tersebar di wilayah papua. Meskipun suku Asmat mempunyai wujud budayabahasa keseharian tapi suku asmat menggunakan bahasa Indonesia. Banyak dikalanganmasyarakat suku Asmat tidak faham akan bahasanya. Dalam keseharian suku Asmat merekamenggunakan bahasa nenek moyang yang sudah berumur ribuan tahun. Meskipun merekamempunyai bahasa sendiri sekalipun tetapi masyarakat suku Asmat tidak mengghilangkanbahasa Indonesia. Bahasa masyarakat Asmat bermacam-macam karena setiap berbeda wilayah merekamempunyai bahasa sendiri. Akan tetapi, setiap wilayah itu membuata rumpun bahasa yangsama karena bahasa merupakan alat komunikasi yang harus dimengerti satu samalain. Bahasa suku Asmat mempunyai istilah selayang pancong. Dalam konteks catatansejarah, Papua mulai di ungkap dari tulisan tenteng new guienea, dimasa kedatangan portugisseperti kulit gelap, berbulu tebal, dan rambutya yang kriting. Bahasa suku Asmat yangmenjadi salah satu pemerkaya bahasa dan adat istiadat kekayaan cultural.Istilah bahasa yang digunakan suku asmat :1. Aipmu ep = rumah bujang yang terbagi atas dua bagian utama yang menghadap ke udik2. Aipmu sene = rumah bujang yang terbagi atas dua bagian utama yang menghadap ke hilir 11
  12. 12. 3. Aipmu = bagian utama yang ada di tiap rumah bujang dan memiliki seorang kepala4. Asmat-ow = manusia sejati5. Bis = patung leluhur6. Bivak = rumah di hutan yang berfungsi sebagai tempat tinggal sementara7. Cemen = bagian terpenting pada patung bis8. Cicemen = ukiran pada ujung perahu lesung panjang melambangkan anggota keluarga yang telah meninggal9. Fumiripits = Sang pencipta10. Iguana = sejenis kapal11. Je = rumah panjang yang berfungsi sebagai rumah bujang12. Je-ti = rumah bujang utama13. Mbeter = membawa lari14. Papis = saling tukar menukar istri15. Persem = perkawinan yang terjadi akibat adanya hubungan rahasia antara seorang pemuda dan pemudi yang kemudian diakui sah oleh kedua orang tua masing-masing16. Pomerem = emas kawin17. Ti = kayu kuning18. Tinis = perkawinan yang direncanakan19. Wow-ipits = pemahat Asmat20. Yerak = sejenis kayuSistem Perilaku Sistem perilaku masyarakat suku Asmat masih terpengaruh oleh bahasa leluhurmereka. Setan yang tidak membahayakan hidup ilmu sihir hitam juga banyak dipraktikan diwilayah masyarakat Asmat, terutama oleh kaum wanita. Seseorang yang mempunyaikekuatan ini dapat menyakiti atau membunuh manusia. Ilmu ini biasanya diturunkan olehseorang ibu kepada anak perempuannya untuk senjata perlindungan diri. Bahasa-bahasatersebut dibedakan pula antara orang Asmat pantai atau hilir sungai dan Asmat hulu sungai.Lebih khusus lagi, oleh para ahli bahasa dibagi menjadi bahasa Asmat hilir sungai dibagimenjadi sub kelompok Pantai Barat Laut atau pantai Flamingo, seperti misalnya bahasaKaniak, Bisman, Simay, dan Becembub dan sub kelompok Pantai Baratdaya atau Kasuarina,seperti misalnya bahasa Batia dan Sapan.Sedangkan Asmat hulu sungai dibagi menjadi subkelompok Keenok dan Kaimok. 12
  13. 13. BAB III PENUTUPA. Kesimpulan Suku Asmat adalah salah satu suku bangsa yang berada di Indonesia. Suku Asmatsangat dikenal dengan hasil karya kayunya yang unik. Dalam segi kebudayaan, kesenian,kepercayaan, suku Asmat termasuk suku yang masih orisinil dan terjaga keaslian tradisinyadari zaman nenek moyang mereka, dibandingkan dengan suku-suku lainnya di Indonesiayang telah banyak terpengaruh budaya luar. Kepercayaan yang dianut masyarakat Asmat jugasangat unik, mereka menganggap bahwa alam sekeliling tempat tinggal manusia dihuni olehberbagai macam ruh yang mereka puja. Jadi, sebenarnya kebudayaan, kesenian dan sistemkekerabatan yang ada di masyarakat ini berawal dari sistem kepercayaan yang mereka anut.Karena semuanya merupakan penerapan dari sistem kepercayaan suku Asmat sendiri. Kehidupan masyarakat Asmat pada zaman dahulu menandakan bahwa orang Asmatmemiliki ciri khas tertentu. Hal itu dapat dilihat dari adanya keahlian yang dimilikimasyarakat Asmat (wow-ipits/pengukir Asmat) dalam hal mengukir dan memahat sehinggamenghasilkan benda-benda seni yang indah dan mengagumkan. Walaupun hanyamenggunakan alat-alat yang sederhana, mereka tetap dapat menghasilkan karya yang indah. Di balik kekaguman itu, mungkin tertanam pikiran bahwa suku Asmat adalah sukuyang primitif, manusia kanibal yang suka mengayau kepala orang-orang luar di sekitarnya.Kebiasaan papis dianggap sebagai kegiatan seksual yang tidak bermoral. Namun semua ituhanyalah sejarah bagi masyarakat Asmat pada saat ini. Saat ini masyarakat Asmat lebihterkenal dengan hasil karyanya dalam bidang seni pahat dan ukir. Semua kebudayaan yangdimiliki oleh orang Asmat merupakan bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia ini.B. Saran Perlu dipikirkan bagaimana menjaga dan melestarikan kebudayaan, sistemkepercayaan, dan terutama kesenian suku Asmat. Serta perlu juga dipikirkan cara untukmelestarikan bakat dan karya-karya yang dimiliki oleh orang-orang Asmat tersebut sehinggadapat dinikmati oleh generasi penerusnya.Karena segala yang dimiliki oleh orang Asmatmerupakan bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia ini. Dengan begitu suku Asmat tetapterjaga keberadaannya dan tetap menjadi kesatuan dari bangsa Indonesia. 13
  14. 14. LAMPIRANSuku Asmat Tengkorak hasil kanibalismeRumah bujang Perahu lesung 14

×