Faktor faktor pertumbuhan ekonomi
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Faktor faktor pertumbuhan ekonomi

on

  • 767 views

 

Statistics

Views

Total Views
767
Views on SlideShare
767
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
80
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Faktor faktor pertumbuhan ekonomi Faktor faktor pertumbuhan ekonomi Document Transcript

  • ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHIPERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA PERIODE TAHUN 1984-2003 SKRIPSI Oleh: Nama : Oki Mardina Aji Nomor Mahasiswa : 00313024 Program Studi : Ekonomi Pembangunan UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FAKULTAS EKONOMI YOGYAKARTA 2005
  • ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHIPERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA PERIODE TAHUN 1984-2003 SKRIPSI Disusun dan diajukan untk memenuhi syarat ujian akhir guna memperoleh gelar Sarjana jenjang strata 1 Program Studi Ekonomi Pembangunan, pada Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Oleh: Nama : Oki Mardina Aji Nomor Mahasiswa : 00313024 Program Studi : Ekonomi Pembangunan UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FAKULTAS EKONOMI YOGYAKARTA 2005 i
  • PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME“ Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yangpernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi,dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yangpernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacudalam naskah ini dan disebutkan dalam referensi. Dan apabila dikemudian hariterbukti bahwa pernyataan ini tidak benar maka saya sanggup menerima hukuman/ sangsi apapun sesuai peraturan yang berlaku.” Yogyakarta, …...….…. 2005 Penyusun, (Oki Mardina Aji) ii
  • PENGESAHANAnalisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia Periode Tahun 1984-2003 Nama : Oki Mardina Aji Nomor Mahasiswa : 00313024 Program Studi : Ekonomi Pembangunan Yogyakarta , Agustus 2005 Telah disetujui dan disahkan oleh Dosen Pembimbing, Drs. Sahabudin Sidiq, MA iii
  • PENGESAHAN UJIAN Telah dipertahankan/diujikan dan disahkan untuk memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Strata 1 pada Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Nama : Oki Mardina Aji No. Mahasiswa : 00313024 Program Studi : Ekonomi Pembangunan Yogyakarta, 15 September 2005 Disahkan oleh,Pembimbing Skripsi : Drs. Sahabudin Sidiq, MA .............Penguji I : Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec ............Penguji II : Dra. Sarastri Mumpuni R, M.Si ............. Mengetahui Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Drs. Suwarsono, MA. iv
  • REFLEKSIDalam hidup ini ada 3 hari, yaitu :Yang pertama :Hari kemarin. (Past)Anda tak bisa mengubah apapun yang telah terjadiAnda tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkanAnda tak mungkin lagi menghapus kesalahandan mengulangi kegembiraan yang anda rasakan kemarinBiarkan hari kemarin lewat, lepaskan saja…Yang kedua :Hari esok. (Future)Hingga mentari esok hari terbitAnda tak tahu apa yang akan terjadiAnda tak bisa melakukan apa-apa esok hariAnda tak mungkin sedih atau ceria di esok hari.Esok hari belum tiba, biarkan saja…Yang tersisa kini hanyalah :Hari ini. (Present)Pintu masa lalu telah tertutupPintu masa depan pun belum tibaPusatkan saja diri anda untuk hari iniAnda dapat mengerjakan lebih banyak hal hari iniBila anda mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esokhariHiduplah hari ini, karena masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiranyang rumitHiduplah apa adanya ,Karena yang ada hanyalah hari ini, hari ini yang abadi. v
  • PERSEMBAHAN ALLAH SWT, Yang Maha Pintar, Yang Maha Dalang dari segala dalang,Yang Maha Tak Terhingga dan sama sekali tidak memiliki ketergantunganapapun terhadap kebodohan kita. Terima kasih atas segala cinta, sayang sertakesabaran yang telah Engkau berikan kepada hambamu selama ini. Muhammad SAW Beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya yangsetia hingga akhir jaman. Bapak Marnatam Notowardoyo dan Ibu Sri Haryuni, yang telahmembesarkan, memelihara, membiayai, mendoakan dan mendidik Oki, serta atasnasehat, kasih sayang dan perhatian yang tercurah buat Oki selama ini, sehinggaOki dapat menemukan sesuatu yang indah di dalam hidup Oki. Mudah-mudahandengan selesainya skripsi ini Bapak dan Ibu bisa bahagia, mungkin selama ini Okibelum bisa membahagiakan Bapak dan Ibu secara lebih. Tetapi Oki masih tetapmembutuhkan do’anya, karena perjalanan yang akan Oki tempuh masih sangatjauh. Mbak Rina dan Mas Aro, Mbak Deni dan Mas Bambang, Mbak Usidan Mas Ito yang telah memberikan do’a, bantuan, dorongan, kesempatan, kasihsayang, serta perhatian kalian semua selama ini, sehingga akhirnya Oki bisamenyelesaikan studi dengan baik. Keponakan-keponakanku yang lucu-lucu, Aldo, Dio, Fio dan Tio, terimakasih telah memberikan keramaian dan canda tawa kalian. Semoga kalian dapatmenjalani kehidupan di hari depan dengan baik. vi
  • Saudara-saudaraku yang berada di Kendal, Pakde-pakdeku, Bude-budeku, Om-omku, Bulek-bulekku, kakak-kakak dan adik–adikku sepupu, terimakasih atas segala bantuan yang telah diberikan untuk Oki. Sobatku, Muhammad Shodiq Firmanto, SE yang telah memberikanpengertian, pemahaman, dan petunjuk sehingga Oki dapat menyelesaikan skripsiini, terima kasih ya Diq. Pandu Pahlawan Kurnia, SE “dosen” ku di dalam belajar UjianKomprehensif, Terima kasih Ndu, Oki lulus pendadaran berkat gemblenganmu.Sulit membayangkan kalau Oki belajar sendirian, mungkin Oki tidak akan lulus.Trims yach... Sohibku Doddy Wijayanto penasehat spiritualku didalam masalah-masalah percintaan dan penguatan mental di diriku, makasih ya “mblunk”, atasnasehat-nasehat dan petuah-petuahnya. Kawanku Dedy Suprihatin yang banyak memberikan masukan terhadappenulisan skripsi ini, dan memberikan warna yang lain di “rumah” kita. Turnuwunya ndul.. Teman-temanku satu atap di Base Camp 00 EP :Gundul, Kancil,Jemblunk, Kebo, Pandu, Mamri, Doni, Jacky.....Makasih atas semua bantuanyang kalian berikan, apalagi semenjak proses skripsi ini, banyak sekali bantuanyang kalian berikan. Terima kasih atas semua kenangan indah kita !!! Kaliansemua telah memberi kenangan baru dalam kehidupanku.......!!! vii
  • Buat temen-temen seperjuangan di IESP’00, yang aku yakin enggakbakal aku temuin di jurusan manapun, dari kekompakannya, persatuannya,kesetiakawanannya.Sobat-sobatku dikala senang dan susah yang selama ini telah menemani hari-hariku, baik yang ada di Yogyakarta maupun yang ada di Kendal. viii
  • KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esaatas berkat dan karunia-Nya sehingga skripsi yang berjudul “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia Periode Tahun1984 - 2003” dapat diselesaikan dalam waktu yang diharapkan. Adapun tujuanpenulisan skipsi ini adalah untuk memenuhi salah satu persyaratan untukmencapai gelar Sarjana Ekonomi Program S-1 pada Fakultas EkonomiUniversitas Islam Indonesia. Penulis sangat menyadari dalam penyusunan skripsi ini baik susunanmaupun isinya masih jauh dari sempurna dengan keterbatasan pengetahuan danpengalaman yang dimiliki penulis, banyak kekurangan dan kelemahan-kelemahannya. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis sangat mengharapkanadanya saran-saran maupun kritik-kritik dari berbagai pihak yang sifatnyamembangun demi tercapainya kesempurnaan skipsi ini. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih atas segalabantuan dan dorongan, kepada :1. Dekan Fakultas Ekonomi, Drs. Suwarsono, MA., selaku pimpinan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia.2. Ketua Jurusan Ekonomi Pembangunan, Drs. Agus Widarjono, MA., yang telah memberikan pengarahan kepada penulis.3. Abdul Hakim. SE., selaku Dosen Pembimbing Akademik Penulis. ix
  • 4. Drs. Sahabudin Sidiq, MA, selaku Dosen Pembimbing, yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya dalam memberikan bimbingan juga arahan selama penulisan skripsi ini.5. Seluruh Dosen dan Tenaga Administrasi Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia yang telah memberikan sumbangan ilmu pengetahuannya baik secara langsung maupun tidak langsung selama penulis menyelesaikan studi.6. Kedua orang tuaku : Bapak Marnatam Notowardoyo dan Ibu Sri Haryuni, serta kakak-kakaku : Mbak Rina, Mbak Deni, Mbak Usi, Mas Aro, Mas Bambang dan Mas Ito yang selama ini telah memberikan doa dan semangat.7. Sahabat-sahabatku : Sodiq, Pandu, Dedi (Gundul), Doddy (Jemblunk), Eko (kebo), Oky (kancil) yang telah banyak membantu penulis.8. Rekan-rekan Mahasiswa IESP Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia angkatan ’00 yang sangat bersahabat dan kekeluargaan. Akhirnya penulis hanya dapat mengharap semoga Tuhan Yang Maha Esamembalas semua kebaikan dan ketulusan semuanya dalam memberikan dukunganserta bantuan baik moril maupun materiil penulis selama ini. Amin. Dengan penuh kerendahan hati disadari masih adanya kekurangan karenaketerbatasan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki penulis. Namundemikian semoga penulisan skipsi ini dapat memberikan manfaat bagi semuapihak yang memerlukannya. x
  • DAFTAR ISI HalamanHALAMAN JUDUL........................................................................................... iHALAMAN PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME................................... iiHALAMAN PENGESAHAAN SKRIPSI .......................................................... iiiHALAMAN PENGESAHAN UJIAN ................................................................ ivREFLEKSI .......................................................................................................... vPERSEMBAHAN ............................................................................................... viKATA PENGANTAR ........................................................................................ ixDAFTAR ISI....................................................................................................... xiDAFTAR TABEL............................................................................................... xvDAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xviiBAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 11.1. Latar Belakang Masalah.............................................................................. 11.2. Perumusan Masalah .................................................................................... 51.3. Pembatasan Masalah ................................................................................... 71.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian ................................................................... 7 1.4.1. Tujuan Penelitian .............................................................................. 7 1.4.2. Manfaat Penelitian ............................................................................ 81.5. Sistematika Penulisan ................................................................................. 9BAB II GAMBARAN UMUM......................................................................... 112.1 Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ...................................... 11 xi
  • 2.2 Perkembangan Investasi di Indonesia ......................................................... 172.3 Perkembangan Ekspor Indonesia ................................................................ 222.4 Perkembangan Pekerja di Indonesia ........................................................... 272.5 Perkembangan Hutang Luar Negeri Indonesia ........................................... 30BAB III KAJIAN PUSTAKA........................................................................... 343.1 Kajian Hasil Penelitian Skripsi Ace Kusnadi “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi di Jawa Barat Periode 1983-1996”.................................................................................................. 343.2 Kajian Hasil Penelitian Skripsi Ari Iskandar “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia Periode 1984-2000”.................................................................................................. 34Bab IV LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS............................................... 364.1 Landasan Teori............................................................................................ 36 4.1.1. Teori Pertumbuhan Ekonomi............................................................. 36 4.1.2. Teori Hutang Luar Negeri ................................................................. 37 4.1.3. Teori Investasi ................................................................................... 38 4.1.4. Teori Ekspor ...................................................................................... 40 4.1.5. Teori Ketenagakerjaan....................................................................... 454.2 Kesimpulan dari Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi ...................................................................................................... 474.3 Hipotesis...................................................................................................... 50BAB V METODE PENELITIAN..................................................................... 515.1. Metode Penelitian ....................................................................................... 51 xii
  • 5.1.1. Jenis dan Deskripsi Data ................................................................. 51 5.1.2. Sumber Data..................................................................................... 515.2. Metode Analisis .......................................................................................... 51 5.2.1. Metode Analisis Data........................................................................ 51 a. Analisis Deskriptif......................................................................... 52 b. Analisis Regresi ............................................................................ 52 c. Model yang Diusulkan .................................................................. 53 d. Uji Linearitas................................................................................. 53 5.2.2. Alat Uji Yang Digunakan ............................................................... 54 5.2.3. Kriteria Statistik ................................................................... 55 5.2.3.1. Koefisien Determinasi (R2) ................................ 55 5.2.3.2 Pengujian Secara Bersama-sama (Uji-F) ............ 56 5.2.3.3. Pengujian Secara Parsial / Individu (Uji-t) ........ 56 5.2.4. Asumsi Klasik ...................................................................... 58 5.2.4.1. Pengujian Autokorelasi ...................................... 58 5.2.4.2. Pengujian Multikolinearitas ............................... 59 5.2.4.3 Pengujian Heterokesdastisitas............................. 60BAB VI ANALISIS DAN PEMBAHASAN .................................................... 626.1. Analisis Hasil Penelitian ............................................................................. 62 a. Uji Linieritas ................................................................................. 62 b. Uji Model Linier atau Model Log Linier ...................................... 63 c. Uji Regresi..................................................................................... 65 6.1.1. Kriteria Ekonometrika / Uji Asumsi Klasik................................... 66 xiii
  • 6.1.1.1. Uji Autokorelasi............................................................... 66 6.1.1.2. Uji Multikolinearitas ........................................................ 67 6.1.1.3. Uji Heterokesdastisitas..................................................... 67 6.1.2. Kriteria Statistik .............................................................................. 70 6.1.2.1 Koefisien Determinasi (R2) .............................................. 70 6.1.2.2. Pengujian Secara Bersama-sama (Uji-F)......................... 71 6.1.2.3 Pengujian Secara Parsial / Individu (Uji-t) ..................... 73 a. Uji-t Terhadap Variabel Ekspor (EX)....................... 74 b. Uji-t Terhadap Variabel Investasi (I) ........................ 75 c. Uji-t Terhadap Variabel Tenaga Kerja (L)................ 76 d. Uji-t Terhadap Variabel Hutang Luar Negeri(FD) ................................................................ 776.2. Pembahasan Masing-Masing Variabel......................................................... 78 6.2.1. Pembahasan Variabel Ekspor Terhadap PDB riil ............................ 78 6.2.2. Pembahasan Variabel Investasi Terhadap PDB riil ......................... 79 6.2.3. Pembahasan Variabel Tenaga Kerja Terhadap PDB riil.................. 80 6.2.4. Pembahasan Variabel Hutang Luar Negeri Terhadap PDB riil ....... 81BAB VII KESIMPULAN DAN IMPLIKASI .................................................. 837.1. Kesimpulan .................................................................................................. 837.2. Implikasi....................................................................................................... 84DAFTAR PUSTAKALAMPIRAN xiv
  • DAFTAR TABELTabel Halaman1.1. Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Periode 1984 – 2003.............................................................................................. 32.1. Pertumbuhan Ekonomi Sisi Permintaan................................................... 122.2. Produk Domestik Bruto Indonesia Menurut Lapangan Usaha Periode 1993 – 2003.............................................................................................. 152.3. Proyek-proyek Penanaman Modal Luar Negeri di Indonesia Yang Disetujui Pemerintah Menurut Sektor Ekonomi...................................... 192.4. Proyek-proyek Penanaman Modal Luar Negeri Yang Telah Disetujui Pemerintah Menurut Lokasi ..................................................... 212.5. Perkembangan Ekspor Indonesia, Periode 1984 – 2003.......................... 232.6. Jumlah Angkatan Kerja dan TPAK Menurut Umur di indonesia ............ 292.7. Penerimaan Pinjaman dan Bantuan Luar Negeri Pemerintah .................. 326.1. Uji Linearitas............................................................................................. 636.2. Estimasi Terhadap Model Persamaan Bentuk Linier Model : PDBriil= β 0+ β 1EX+ β 2I+ β 3L+ β 4FD + β 5Z1+ ε................................... 646.3. Estimasi Terhadap Model Persamaan Bentuk Log Linier Model : LnPDB = β 0+ β 1LnEX+ β 2LnI+ β 3L+ β 4LnFD + β 5Z2+ ε .................................. 646.4. Pengujian Koefisien Regresi.................................................................... 656.5. Hasil Pengujian Multikolinearitas............................................................ 676.6. Hasil Pengujian Heterokesdastisitas ........................................................ 68 xv
  • 6.7. Hasil Regresi Perbaikan Heterokesdastisitas ........................................... 696.8. Hasil Pengujian Koefisien Regresi secara Parsial/Individu (uji-t) .......... 74 xvi
  • DAFTAR GAMBARGambar Halaman4.1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan ekonomi di Indonesia .............................................................................. 485.1. Kriteria Pengujian Autokorelasi............................................................... 596.1. Uji Autokorelasi........................................................................................ 666.2. Uji-t Variabel Ekspor Terhadap Variabel Dependen Pertumbuhan Ekonomi............................................................................ 756.3. Uji-t Variabel Investasi Terhadap Variabel Dependen Pertumbuhan Ekonomi............................................................................ 766.4. Uji-t Variabel Tenaga Kerja Terhadap Variabel Dependen Pertumbuhan Ekonomi........................................................... 776.5. Uji-t Variabel Hutang Luar Negeri Terhadap Variabel Dependen Pertumbuhan Ekonomi........................................................... 78 xvii
  • 1 BAB I PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang Masalah Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah perekonomian dalam jangka panjang, dan pertumbuhan ekonomi merupakan fenomena penting yang dialami dunia hanya dua abad belakangan ini, dan oleh Simon Kuznets, seorang ahli ekonomi terkemuka di Amerika Serikat yang pernah memperoleh hadiah Nobel dinyatakan bahwa, proses pertumbuhan ekonomi tersebut dinamakannya sebagai Modern Economic Growth. Dalam periode tersebut, dunia telah mengalami perkembangan pembangunan yang sangat nyata apabila dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Sampai abad ke- 18, sebagian besar masyarakat di dunia masih hidup pada tingkat subsistem, dan mata pencaharian utamanya adalah dari melaksanakan kegiatan di sektor pertanian, perikanan atau berburu. (Sadono Sukirno, 1998, : 413) Pada dasarnya, pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai suatu proses pertumbuhan output perkapita dalam jangka panjang. Hal ini berarti, bahwa dalam jangka panjang, kesejahteraan tercermin pada peningkatan output perkapita yang sekaligus memberikan banyak alternatif dalam mengkonsumsi barang dan jasa, serta diikuti oleh daya beli masyarakat yang semakin meningkat. (Boediono, 1993 : 1 - 2) Pertumbuhan ekonomi juga bersangkut paut dengan proses peningkatan produksi barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi masyarakat.
  • 2Dapat dikatakan, bahwa pertumbuhan menyangkut perkembangan yangberdimensi tunggal dan diukur dengan meningkatnya hasil produksi danpendapatan. Dalam hal ini berarti terdapatnya kenaikan dalam pendapatannasional yang ditunjukkan oleh besarnya nilai Produk Domestik Bruto (PDB). Indonesia, sebagai suatu negara yang sedang berkembang, sejak tahun1969 dengan giat melaksanakan pembangunan secara berencana dan bertahap,tanpa mengabaikan usaha pemerataan dan kestabilan. Pembangunan nasionalmengusahakan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, yangpada akhirnya memungkinkan terwujudnya peningkatan taraf hidup dankesejahteraan seluruh rakyat. Perkembangan pertumbuhan ekonomi diIndonesia, dapat dilihat pada Tabel 1.1 yang menerangkan bahwapertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami perubahan yang fluktuatif daritahun ke tahun. Perkembangan pertumbuhan ekonomi di Indonesia menunjukkanperkembangan yang positif dari tahun 1984-1997. Pada tahun 1998menunjukkan penurunan pertumbuhan ekonomi yaitu – 13,12 %, hal inidisebabkan karena krisis moneter dan krisis ekonomi yang terjadi padapertengahan tahun 1997, yang berlanjut menjadi krisis multidimensi, sehinggamembawa dampak pada pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 1998,pada tahun 1999-2003 baru dapat tumbuh lagi pertumbuhan ekonominyawalaupun tidak sepesat pada tahun-tahun sebelumnya.
  • 3 TABEL 1.1. PERKEMBANGAN PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA PERIODE 1984 – 2003 MENURUT HARGA KONSTAN 1993 (dalam persen) PDB Pertumbuhan Tahun (miliar rupiah) Ekonomi (%) 1984 195.730,0 - 1985 200.564,6 2,47 1986 212.498,2 5,95 1987 222.613,1 4,76 1988 236.014,4 6,02 1989 253.597,5 7,46 1990 271.958,0 7,24 1991 290.859,1 6,95 1992 309.648,6 6,46 1993 329.775,8 6,50 1994 354.640,8 7,54 1995 383.792,3 8,22 1996 413.797,9 7,82 1997 433.245,9 4,70 1998 376.374,9 -13,12 1999 379.557,7 0,84 2000 398.016,9 4,86 2001 411.753,5 3,45 2002 426.942,9 3,66 2003 444.453,5 4,10Sumber: Laporan Tahunan Bank Indonesia, berbagai edisi (data diolah) Dari tabel 1.1 terlihat, bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia padatahun 1985, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 2,47 %. Hal ini terjadi,karena Indonesia harus menghadapi tantangan yang cukup berat, yaitukelesuan kegiatan ekonomi dalam negeri, ditambah lagi dengan penurunanharga minyak bumi yang cukup tajam, serta melemahnya daya saing barang-barang produksi dalam negeri, sehingga penerimaan devisa dari ekspormenurun.
  • 4 Pada tahun 1995, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai angkayang tertinggi, yakni sebesar 8,22 %. Kenaikan ini sebagian besar didorongoleh kenaikan konsumsi dan sebagai dampak dari adanya boom investasi yangterjadi pada tahun 1995, dengan nilai investasi sebesar 39.914,7 juta USDolar. Krisis moneter dan krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun1997, yang berlanjut menjadi krisis multidimensi, membawa dampak padapertumbuhan ekonomi di Indonesia. Pada tahun 1998, pertumbuhan ekonomimengalami penurunan yang cukup tajam, yaitu sebesar minus 13,12 %.Kemudian, pada tahun-tahun berikutnya, perekonomian nasional Indonesiamengalami pemulihan (recovery), meskipun jika dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya yang mengalami krisis serupa, proses pemulihan ekonomidi Indonesia relatif lebih lambat. Memasuki tahun 2000, perekonomian Indonesia diwarnai oleh nuansaoptimisme yang cukup tinggi. Hal ini antara lain ditandai dengan menguatnyanilai tukar rupiah sejalan dengan penurunan inflasi dan tingkat suku bungapada sektor riil. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2000 sebesar 4,86 % lebihtinggi dari prakiraan awal tahun oleh Bank Indonesia sebesar 3,0 % sampaidengan 4,0 %. Pada tahun 2002 semakin membaik dibandingkan tahun 2001,berdasarkan perhitungan PDB atas dasar harga konstan 1993, lajupertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2002 adalah sebesar 3,66 %, dan lajupertumbuhan ekonomi pada tahun 2001 sebesar 3,45 %, Sedangkan padatahun 2003 laju pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 4,10 %.
  • 5 Perekonomian Indonesia menunjukkan kinerja yang membaik danlebih stabil selama 2003 sebagaimana yang tercermin pada pertumbuhanekonomi yang meningkat. Walaupun demikian, pertumbuhan ekonomi yangterjadi masih belum memadai untuk menyerap tambahan angkatan kerjasehingga jumlah pengangguran masih mengalami kenaikan. Aktivitasperdagangan dunia yang masih lesu mengakibatkan pertumbuhan volumeekspor Indonesia, khususnya komoditas nonmigas, relatif rendah. Dalamsituasi demikian, kinerja ekspor secara nominal sangat terbantu olehmeningkatnya harga komoditas migas dan nonmigas di pasar internasionalsehingga secara keseluruhan nilai ekspor pada 2003 masih mengalamikenaikan yang signifikan dan menjadi penopang utama terjadinya surplustransaksi berjalan selama 2003. (Laporan Bank Indonesia, 2003 : 4-5) Namun, dengan perkembangan perekonomian yang dicapai saat ini,Indonesia masih harus menghadapi permasalahan yang mungkin juga dialaminegara lain, khususnya negara sedang berkembang, yang sedangmelaksanakan pembangunan. Pembangunan tersebut tentunya memerlukandana dalam jumlah yang besar. Menurut Harrod Domar, dalam mendukung pertumbuhan ekonomidiperlukan investasi-investasi baru sebagai stok modal. Semakin banyaktabungan yang kemudian diinvestasikan, maka semakin cepat terjadipertumbuhan ekonomi. Akan tetapi secara riil, tingkat pertumbuhan ekonomiyang terjadi pada setiap tabungan dan investasi tergantung dari tingkatproduktivitas investasi tersebut. (M. P. Todaro, 1993, : 65 – 66)
  • 6 Pembentukan modal merupakan investasi dalam bentuk barang-barang modal yang dapat menaikkan stok modal, output nasional, dan pendapatan nasional. Jadi, pembentukan modal merupakan kunci utama menuju pembangunan ekonomi.1.2.Perumusan Masalah Apabila kita membicarakan pertumbuhan, tentunya kita pahami bahwa yang dimaksud adalah peningkatan output nasional. Untuk meningkatkan output nasional tersebut terdapat faktor-faktor yang saling mempengaruhi dan saling berinteraksi antara satu dengan yang lain. Pertumbuhan ekonomi tersebut bersifat dinamis, artinya adakalanya pertumbuhan ekonomi berkembang dengan cepat, dan adakalanya pula pertumbuhan ekonomi itu mengalami kemunduran, bahkan mencapai angka minus dan menyebabkan perekonomian mengalami kondisi stagnasi. Perkembangan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, seperti yang kita lihat dalam tabel 1.1, selama tahun penelitian sangat fluktuatif. Apalagi jika kita lihat pada tahun 1998, pertumbuhan ekonomi mencapai angka minus 13,12 %. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor. Proses pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh dua macam faktor, yaitu faktor ekonomi dan faktor non ekonomi. Faktor ekonomi yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara tergantung pada sumber alamnya, sumber daya manusia, modal usaha, teknologi dan sebagainya. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi juga ditunjang oleh faktor
  • 7 non ekonomi, seperti lembaga sosial, sikap budaya, nilai moral, kondisi politik, dan kelembagaan dari negara tersebut. Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah : a. Bagaimana pengaruh variabel ekspor terhadap PDB riil? b. Bagaimana pengaruh variabel Investasi terhadap PDB riil? c. Bagaimana pengaruh variabel tenaga kerja terhadap PDB riil? d. Bagaimana pengaruh variabel hutang luar negeri terhadap PDB riil? e. Seberapa besar pengaruh variabel – variabel tersebut terhadap PDB rill?1.3. Pembatasan Masalah Demikian luasnya faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, baik faktor ekonomi maupun non ekonomi, sehingga harus dilakukan pembatasan masalah agar analisis yang dilakukan dapat mencapai sasaran yang diinginkan. Pada penelitian ini analisis hanya dibatasi pada faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan seberapa besar pengaruhnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi tersebut dibatasi pada investasi, ekspor , tenaga kerja dan hutang luar negeri periode, 1984-2003.1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.4.1. Tujuan Penelitian Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah : a. Untuk menganalisis pengaruh variabel ekspor terhadap PDB riil. b. Untuk menganalisis pengaruh variabel investasi terhadap PDB riil.
  • 8 c. Untuk menganalisis pengaruh variabel tenaga kerja terhadap PDB riil. d. Untuk menganalisis pengaruh variabel hutang luar negeri terhadap PDB riil. e. Untuk menganalisis pengaruh variabel – variabel tersebut terhadap PDB riil.1.4.2. Manfaat Penelitian Diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat bagi : a. Pemerintah (policy maker), sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan yang akan diambil, khususnya kebijaksanaan yang berhubungan dengan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. b. Ilmu Pengetahuan 1. Memperkaya dan memperdalam khasanah penelitian sejenis yang telah ada sebelumnya 2. Sebagai bahan informasi dan referensi bagi semua pihak yang berkepentingan. c. Peneliti 1. Untuk menyelesaikan tugas akhir guna memperoleh gelar sarjana ekonomi pada Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia. 2. Penelitian ini merupakan wujud nyata penerapan teori-teori yang telah di dapat di bangku kuliah serta sebagai wahana latihan dalam memperluas khasanah keilmuan.
  • 91.5. Sistematika Penulisan - BAB I : PENDAHULUAN Berisi mengenai latar belakang permasalahan yang akan diangkat, kemudian merumuskan serta manfaat dan tujuan apa yang bisa dipetik dari penelitian mengenai Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Periode Tahun 1984-2003 - BAB II : TINJAUAN UMUM SUBYEK PENELITIAN Berisi uraian atau gambaran secara umum mengenai subyek penelitian yang bersumber pada data yang bersifat umum. Deskripsi dilakukan dengan merujuk pada fakta yang bersumber pada data yang bersifat umum sebagai wacana pemahaman secara makro yang berkaitan tentang penelitian. - BAB III : KAJIAN PUSTAKA Berisi kajian penelitian-penelitian terdahulu pada area yang sama, untuk membedakan penelitian ini dengan penelitian tersebut sekaligus untuk menghindari adanya duplikasi. - BAB IV : LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS Berisi mengenai teori yang digunakan untuk mendekati permasalahan yang diteliti. Menteorikan hubungan antar variabel yang terlibat dalam permasalahan yang diangkat. Sedangkan hipotesis merupakan jawaban sementara atas rumusan masalah.
  • 10- BAB V : METODE PENELITIAN Berisi metode analisis yang digunakan dan data-data yang digunakan beserta sumber data.- BAB VI : ANALISIS DAN PEMBAHASAN Berisi semua temuan-temuan yang dihasilkan dalam penelitian dan analisis statistik.- BAB VII : SIMPULAN DAN IMPLIKASI Pada bagian simpulan berisi tentang simpulan-simpulan yang langsung diturunkan dari analisis yang telah dilakukan serta menjawab semua pertanyaan-pertanyaan pada rumusan masalah. Sedangkan pada bagian implikasi muncul sebagai hasil simpulan jawaban atas rumusan masalah serta masukan bagi pihak terkait. .
  • 11 BAB II GAMBARAN UMUM2.1. Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Selama kurun waktu 1987 – pertengahan 1997, perkembangan kondisi perekonomian Indonesia sangat menggembirakan dan membanggakan. Hal ini ditandai dengan tingkat pertumbuhan yang signifikan secara terus menerus jauh diatas rata-rata tingkat pertumbuhan dunia. Fenomena inilah yang menyebabkan Indonesia bersama negara-negara Asia lainnya (Korea Selatan, Hongkong, Taiwan, Singapura, Malaysia, Thailand dan Filipina) dikatakan sebagai suatu keajaiban ekonomi. Indonesia bersama negara-negara lainnya telah menjadi satu pilar penentu perekonomian dunia mengimbangi negara- negara maju. (Proyeksi Ekonomi Indonesia Tahun 2000, : 3) Pertumbuhan ekonomi tahun 2003 tumbuh 4,1 %, meningkat dibandingkan pertumbuhan tahun lalu yang tercatat sebesar 3,7 %. Seluruh komponen permintaan tumbuh positif, sehingga kontribusi komponen – komponen tersebut dalam pertumbuhan ekonomi juga meningkat (Tabel 2.1). pertumbuhan ekonomi masih dimotori oleh konsumsi. Sementara investasi dan ekspor, walaupun mulai menunjukkan pertumbuhan positif, namun perannya sebagai penggerak perekonomian relatif masih terbatas.
  • 12 TABEL 2.1. PERTUMBUHAN EKONOMI SISI PERMINTAAN Rata-rata Komponen 2000 2001 2002 2003 1989-1997Pertumbuhan (%)Total Konsumsi 8,2 2,0 3,9 4,7 4,6 Rumah Tangga 8,9 1,6 3,4 3,8 4,0 Pemerintah 3,6 6,5 9,0 12,8 9,8Investasi 11,7 16,7 6,5 0,2 1,4Ekspor barang dan jasa 9,1 26,5 2,9 -0,6 4,0Impor barang dan jasa 14,0 25,9 8,2 -5,0 2,0Produk Domestik Bruto 7,8 4,9 3,5 3,7 4,1Kontribusi TerhadapPertumbuhan (%)Total Konsumsi 5,5 1,6 3,0 3,6 3,6 Rumah Tangga 5,2 1,1 2,3 2,6 2,8 Pemerintah 0,4 0,5 0,7 1,0 0,8Investasi 3,1 3,4 1,5 0,1 0,3Ekspor barang dan jasa 2,3 6,4 0,9 -0,2 1,1Impor barang dan jasa 3,4 5,4 2,0 -1,3 0,5Sumber : Laporan Bank Indonesia, 2003 Pertumbuhan Ekonomi di negara Indonesia, tidak dapat dilepaskan dari perubahan-perubahan yang terjadi pada sistem perekonomian dunia. Liberalisasi perdagangan dan globalisasi ekonomi telah mempercepat laju pertumbuhan negara-negara tersebut. Perubahan tersebut yang disertai teknologi dan telekomunikasi telah mendorong berkurangnya hambatan- hambatan lalu lintas barang dan modal antar negara. Perbaikan indikator makroekonomi pada tahun laporan, sebagaimana tercermin dari turunnya tingkat suku bunga dan turunnya laju kenaikan harga, lebih direspon oleh kegiatan konsumsi. Sementara itu, kegiatan investasi yang memiliki efek pengganda yang lebih besar dibandingkan konsumsi, mulai meningkat seiring dengan turunnya tingkat suku bunga. Namun, laju kenaikan
  • 13investasi relatif masih rendah yang disebabkan oleh beberapa masalah yangbelum diselesaikan, sehingga belum kondusifnya iklim berinvestasi.Sementara itu, kegiatan barang dan jasa, selain masih menghadapipermasalahan produksi di dalam negeri, juga masih menghadapi permintaandunia yang masih lemah. (laporan Bank Indonesia, 2003 : 27) Konsumsi rumah tangga tumbuh positif dan terus menanjak, dilihatdari tabel 2.1 pada tahun 2003 tumbuh 4,0 % lebih tinggi dibandingkandengan pertumbuhan tahun 2002 yang pertumbuhannya hanya 3,8 %. Hal inidisebabkan karena naiknya penghasilan riil masyarakat, membaiknyakeyakinan konsumen, dan ketersediaan sumber – sumber pembiayaankonsumsi. Pada tahun 2000, perekonomian Indonesia menunjukkanpemulihan ekonomi yang semakin kuat dengan pola pertumbuhan ekonomiyang seimbang. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2000 mencapai angka 4,9%, lebih tinggi dari perkiraan awal tahunan Bank Indonesia sebesar 3,00 % -4,00 %. Tahun 2001 pertumbuhan ekonomi Indonesia, mengalami penurunansebesar 3,5 %, dan ditahun 2002 naik tipis menjadi 3,7 %. Sejumlah kemajuanjuga dicapai dalam proses penyelesaian utang luar negeri pemerintah, telahselesainya program rekapitalisasi perbankan, serta telah dicapainyakesepakatan dan penyelesaian masalah Bantuan Likuiditas Bank Indonesia(BLBI). Sumber-sumber pertumbuhan ekonomi pada tahun 2002 menjadi lebihseimbang dengan didukung oleh nilai tukar yang kompetitif, peningkatan
  • 14ekspor non migas dan juga kegiatan investasi yang mulai meningkat, sejalandengan perbaikan tingkat pendapatan pada sebagian lapisan masyarakat, baikberasal dari upah / gaji, maupun ekspor. Kondisi ekonomi makro yang membaik pada tahun 2003 antara laindidukung oleh pelaksanaan kebijakan ekonomi makro yang senantiasadiarahkan pada upaya pencapaian kestabilan jangka panjang sambil tetapmemelihara momentum pemulihan ekonomi. (Laporan Bank Indonesia, 2003 :5) Pertumbuhan ekonomi selama ini telah memberikan dampakperubahan terhadap kontribusi maupun laju pertumbuhan sektor-sektorekonomi. struktur perekonomian Indonesia terus mengalami perubahanmengikuti struktur perekonomian yang lazim di negara-negara maju, dimanakontribusi sektor-sektor tradisional, seperti sektor pertanian dan sektorpertambangan terhadap PDB semakin lama semakin berkurang, digantikanoleh sektor-sektor modern, seperti industri pengolahan dan jasa-jasa, sepertiperdagangan, hotel, dan restoran. Tabel 2.2 menunjukan, bahwa selama kurun waktu 1993 –2003, sektorindustri sumbangannya terhadap pembentukan PDB nilainya selalu lebih besardibandingkan dengan sektor pertanian. Hal ini berbeda pada masa-masasebelumnya, dimana sektor pertanian masih mendominasi terhadappembentukan PDB.
  • 15 TABEL 2.2. PRODUK DOMESTIK BRUTO INDONESIA MENURUT LAPANGAN USAHA PERIODE 1993-2003 (dalam milyar rupiah) Lapangan 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 Usaha Pertanian, Petern, 58.963,4 59.291,2 61.885,2 63.827,8 66.468,0 63.609,5 64.985,3 66.208,9 67.318,5 68.669,7 70.374,6 Kehut, dan Perikanan Pertamban gan dan 31.497,3 33.261,6 35.502,2 37.739,4 38.538,2 37.474,0 36.865,8 38.896,4 39.401,3 40.404,8 40.590,8 penggalian Industri Pengolaha 73.556,3 82.649,0 91.637,1 102.259,7 107.629,7 95.320,6 99.058,5 104.986,9 108.272,3 111.982,5 115.900,7 n Listrik, Gas dan 3.290,2 3.702,7 4.291,9 4.876,8 5.479,9 5.646,1 6.112,9 6.524,2 7.111,9 7.538,4 8.052,2 Air Bersih Bangunan 22.512,9 25.857,5 29.197,8 32.923,7 35.346,4 22.465,3 22.035,6 23.278,7 24.308,2 25.488,4 27.196,2 Perdagang an, Hotel dan 55.512,9 59.504,1 64.230,8 69.475,0 73.523,8 60.130,7 60.293,9 63.198,3 65.824,6 68.333,3 70.891,3 Restoran Pengangku tan dan Komunikas 23.248,9 25.188,6 27.328,6 29.701,1 31.782,5 26.975,1 26.772,1 29.072,1 31.338,9 33.855,1 37.475,5 i Keuangan, Persewaan Jasa 28.047,8 30.901,0 34.313,0 36.384,2 38.543,0 28.278,7 26.244,6 27.449,4 28.932,3 30.590,8 32.512,5 Perush Jasa Lainnya 33.361,4 34.285,1 35.405,7 36.610,2 37.934,5 36.475,0 37.184,0 38.051,5 39.245,4 40.080,1 41.459,9 329.775,8 354.640,8 383.792,3 413.797,9 433.245,9 376.374,9 379.557,7 397.666,3 411.753,5 416.942,9 444.453,5 PDBSumber : Laporan Tahunan Bank Indonesia, berbagai edisi Dalam tabel 2.2 terlihat, bahwa PDB sektor industri pada tahun 1993 sebesar Rp 73.556,3 milyar, tahun 1994 sebesar Rp 82.649,0 milyar, tahun
  • 161995 sebesar Rp 91.637,1 milyar, tahun 1996 sebesar Rp 102.254,7 milyar,tahun 1997 sebesar Rp 107.629,7 milyar, tahun 1998 sebesar Rp 95.320,6milyar, tahun 1999 sebesar Rp 98.949,4 milyar, tahun 2000 sebesarRp 104.986,9 milyar, tahun 2001 sebesar Rp108.272,3 milyar, tahun 2002sebesar Rp 111.982,5 milyar, tahun 2003 sebesar Rp 115.900,7 milyar.Industri yang terbesar terjadi pada tahun 2003 sebesar, yakni sebesar Rp115.900,7 milyar. Pada tahun 1998 dan 1999, sektor industri mengalamipenurunan nilai yang sangat tajam, dari Rp 107.629,7 pada tahun 1997,menjadi hanya Rp 95.320,6 milyar ditahun 1998 dan Rp 98.949,4 ditahun1999. Walaupun mengalami penurunan, tetapi sumbangannya terhadappembentukan PDB masih lebih besar dibandingkan dengan sektor pertanian.Penurunan nilai sumbangan sektor industri pada tahun 1998 dan 1999 terjadikarena pada tahun tersebut, Indonesia sedang berada pada kondisi krisismoneter dan krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengahan tahun 1997.Ditahun 1999 dan 2000 sektor industri mengalami kenaikan yang cukup besardari Rp 99.058,5 milyar menjadi sebesar Rp 104.986,9 milyar. Dan mulaiperubahan ditahun 1999 ke tahun 2000, sektor industri mengalami kenaikan,tahun 2001 sebesar Rp 108.272,3 milyar, pada tahun 2002 sebesar Rp111.982,5 milyar dan ditahun 2003 naik menjadi Rp 115.900,7 milyar. Pada sektor Industri pengolahan pada tahun 2003 tumbuh sebesar3,5 % dan memberikan sumbangan 0,9 % terhadap pertumbuhan PDB. Angkapertumbuhan ini sedikit menanjak apabila dibandingkan pertumbuhan tahunlalu yang hanya mencapai 3,4 %. Rendahnya pertumbuhan sektor industri ini
  • 17 menyebabkan kenaikan permintaan konsumsi tidak dapat sepenuhnya dipenuhi oleh produksi domestik. Kesenjangan antara produksi dengan permintaan ini diisi oleh barang-barang yang berasal dari impor sebagaimana terindikasikan oleh impor barang konsumsi. Rendahnya pertumbuhan sektor industri ini juga terkait dengan permasalahan daya saing produk domestik yang lemah. Selanjutnya, sektor pertanian mencatat pertumbuhan sebesar 2,5 %, lebih tinggi dari pertumbuhan pada tahun sebelumnya yang hanya sebesar 2,0 %. Sementara itu, sektor perdagangan, hotel, dan restoran mengalami pertumbuhan sebesar 3,7 % turun dibandingkan tahun lalu sebesar 3,8 %. dengan pertumbuhan yang melambat tersebut, kontribusi sektor ini terhadap pertumbuhan PDB hanya mencapai 0,6 %. Pertumbuhan pada sektor ini terutama didorong oleh subsektor perdagangan besar dan eceran seiring dengan peningkatan konsumsi masyarakat. (Laporan Tahunan BI Tahun 2003, : 35 – 36)2.2. Perkembangan Investasi di Indonesia Seperti diketahui, bahwa ciri-ciri negara berkembang ialah kekurangan modal atau rendahnya tingkat tabungan dan investasi. Tidak hanya persediaan modal yang sangat kecil, tetapi juga laju tabungan yang sangat rendah. Rata- rata investasi kotornya hanya 5 % - 6 % dari pendapatan nasional kotor, sedangkan negara maju berkisar antara 15 % - 20 %. Laju tabungan yang rendah seperti itu hampir tidak cukup untuk pertumbuhan penduduk yang cepat. (M.L. Jhingan , 2000, : 480)
  • 18 Negara berkembang seperti Indonesia mengalami kekurangan modaloverhead ekonomi yang secara langsung diperlukan untuk lebihmempermudah investasi. (M.L. Jhingan , 2000,: 481). Peranan investasi inisetidaknya didasarkan atas adanya harapan akan dapat memacu pemerataandan pertumbuhan ekonomi, serta memperluas kesempatan tenaga kerja, Dalamupaya menciptakan iklim investasi yang kondusif, maka diusahakanmemberikan prosedur yang sederhana dan terkendali, sarana dan prasaranayang menunjang, serta peraturan yang konsisten, sehingga terjamin kepastianberusaha dan keamanan untuk berinvestasi. Langkah-langkah tersebut telahdirintis oleh pemerintah dengan dikeluarkannya kebijakan deregulasi,debirokratisasi, dan disentralisasi dalam bidang investasi. Deregulasi sektorriil yang menyangkut masalah investasi diwujudkan dengan dikeluarkannyaPeraturan Pemerintah No. 20 / tahun 1994 yang memungkinkan setiappenanam modal memiliki 95 % saham usahanya di Indonesia. (LaporanTahunan BI Tahun 2000). Kegiatan Investasi pada 2003 tumbuh sebesar 1,4 %, meningkatdibandingkan pertumbuhan tahun lalu sebesar 0,2 %. Indikasi kenaikaninvestasi tercermin dari naiknya impor barang modal, penjualan truk danpersetujuan PMA/PMDN. Walaupun demikian, peran investasi dalammengangkat pertumbuhan ekonomi masih sangat terbatas sebagaimanatercermin dari pertumbuhannya yang masih di bawah rata-rata pertumbuhansebelum krisis yang mampu mencapai sekitar 12 % pertahun. Hal ini terkaitdengan berbagai permasalahan yang menyelimuti dunia usaha, seperti masih
  • 19 belum kondusifnya iklim berinvestasi di Indonesia. (Laporan Tahunan Bank Indonesia, 2003 : 30) Tabel 2.3, menyajikan persetujuan penanaman modal luar negeri yang disetujui pemerintah menurut sektor ekonomi pada tahun 1993 – 2003. Dalam tabel yang disajikan dapat kita lihat seberapa besar nilai investasi menurut sektor perekonomian. TABEL 2.3. PROYEK-PROYEK PENANAMAN MODAL LUAR NEGERI DI INDONESIA YANG DISETUJUI PEMERINTAH MENURUT SEKTOR EKONOMI (Juta US $) Lapangan Usaha 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 Pertanian,kehutanan,dan 160,1 729,9 1384,3 1521,5 463,7 998,2 482,4 152,2 389,7 458,9 178,9 perikanan Pertambangan dan - - - 1696,7 1,6 0,3 14,2 2,2 118,7 49,3 17,8 penggalian Perindustrian 3.421,4 18.738,8 26.891,9 16.072,2 23.017,3 8.388,2 6.929,2 5.179,6 5.131,4 3252,6 6.457,4 Konstruksi 96,9 76,5 205.,8 296,8 306,8 197,8 153,4 87,8 47,6 282,1 787,7 Perhotelan 394,4 343,6 998,8 1716,6 462,6 451,1 228,6 29,4 891,6 254,6 488,2 Transport,pergudangan,dan 85,4 145,1 5.539,5 694,6 5.900,0 79,0 102,7 138,1 378,2 3.713,3 4.160,2 pehubungan Lembaga keuangan,peransuransian,real 598,0 1.027,8 1.192,0 3.000,3 1.397,6 1.270,9 171,2 104,6 177,4 7,3 10,3 estate dan perusahaan Jasa masyarakat,sosial,dan 3.385,6 2.622,6 3.702,3 4.932,8 2.282,9 2.177,6 2.800,2 393,1 1516,0 804,9 279,7 perorangan Jumlah 8.141,8 23.724,3 39.914,7 29.931,4 33.832,5 13.563,1 10.881,8 6.087,0 9.027,5 9.789,1 13.207,2Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal, berbagai edisi Dari tabel 2.3 di atas terlihat, bahwa pada tahun 1993 nilai investasi di sektor industri sebesar 3.421,4 juta US Dollar, lebih besar dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya. Pada tahun 1994 nilai investasi di sektor industri meningkat menjadi 18.738,8 juta US Dollar. Perkembangan tahun berikutnya, yang paling menonjol adalah tahun 1995, dimana nilai investasi di sektor industri mencapai angka yang terbesar yaitu sebesar 26.891,8 juta US Dollar, kenaikan tersebut disebabkan oleh proses industrialisasi yang terjadi di
  • 20Indonesia, dan pada tahun 1998 dan tahun 1999 serta tahun 2000 nilaiinvestasi disektor industri mengalami penurunan tajam, yaitu sebesar 8.388,2juta US Dollar pada tahun 1998 dan 6.929,2 juta US Dollar pada tahun 1999serta 5.179,6 US Dollar pada tahun 2000 karena para investor melihatkeamanan pada tahun 1998 tidak stabil, akibat adanya krisis moneter dankrisis ekonomi. Pada tahun 1995, nilai investasi memiliki angka yang sangat tinggi,yaitu sebesar 26.891,8 juta US Dollar, pada tahun berikutnya nilai investasimenurun drastis menjadi sebesar 16.072,2 juta US Dollar pada tahun 1996,dan pada tahun 1998 dan tahun 1999 serta tahun 2000 nilai investasi disektorindustri mengalami penurunan tajam, yaitu sebesar 8.388,2 juta US Dollarpada tahun 1998 dan 6.929,2 juta US Dollar pada tahun 1999 serta 5.179,6 USDollar pada tahun 2000. Hal ini disebabkan karena adanya krisis moneter dankrisis ekonomi yang berujung menjadi krisis multidimensi, sehingga parainvestor dalam menginvestasikan dana atau modalnya sangat memperhatikanaspek keamanan dan kestabilan di sektor ekonomi maupun pada sektor sosialdan politik. Perkembangan penyebaran modal di daerah, dengan disertai nilaiinvestasi per daerah, dan juga dapat dilihat perkembangan nilai investasi daritahun 1993 hingga tahun 2003, pada tabel berikut :
  • 21 TABEL 2.4. PROYEK-PROYEK PENANAMAN MODAL LUAR NEGERI YANG TELAH DISETUJUI PEMERINTAH MENURUT LOKASI (Juta US $) 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003Jawa 6.569,5 14.356,3 27.491,9 17.908,4 20.535,0 10.840,4 2.635,9 5.576,9 5.741,8 4.794,1 7.430,6D.K.I. Jakarta 1.669,1 1.822,3 4.030,8 4.403,9 6.136,1 1.700,1 783,8 627,2 1.154,5 3.373,5 5.611,6 Jawa Barat 2.508,0 4.446,3 12.474,4 7.760,1 7.973,3 5.504,1 1.498,2 1.835,6 1.190,9 897,4 911,0 Jawa Tengah 50,3 1.830,2 726,7 3.273,7 2.195,7 3.066,7 69,7 2.989,0 117,1 71,6 89,7 D.I.Y 56,3 0,2 79,5 69,0 14,3 6,0 10,5 1,2 10,2 19,9 17,4 Jawa Timur 2.285,8 6.247,3 10.207,5 2.401,7 4.215,6 563,5 273,7 123,9 1.680,6 271,1 417,7 Banten - - - - - - - - 1.588,5 160,6 383,2Sumatera 1.362,3 5.515,0 5.464,0 4.297,6 11.163,9 1.415,7 7.652,6 335,5 2.356,7 2.069,6 1.541,2 D.I. Aceh 528,6 1.050,2 1.624,8 525,8 771,9 6,2 51,8 0,6 6,0 - 82,5 Sumatera utara 72,3 225,3 658,1 614,7 3.514,6 229,6 102,7 124,8 106,5 44,4 57,6 Sumatera Barat 65,7 97,7 118,4 79,3 7,1 175,8 344,9 14,0 38,2 10,0 45,3 Riau 609,4 3.964,3 598,8 1.664,5 6.743,0 537,1 6.956,9 146,2 2.095,5 1.152,3 1.175,3 Jambi 0,3 39,3 24,1 9,0 - 201,9 42,0 34,5 10.2 21,6 0,6 Sumatera Selatan - 82,9 1.968,3 1.292,3 73,2 129,3 39,7 6,5 42,3 77 1,1 Bengkulu 34,0 8,6 19,7 64,2 - 37,7 18,4 - 1,9 - 159,2 Lampung 52,0 46,7 451,8 47,8 54,1 98,1 96,2 8,9 53,8 62 -Kelpulauan BangkaBelitung 2,3 31,2 19,6Kalimantan 12,8 2.058,3 1.649,2 2.876,6 1.056,1 722,7 226,8 54,7 246,6 2.237,0 780,7 Kalimantan Barat 2,0 7,7 175,3 547,1 28,2 251,2 102,0 - 21,8 1,4 33,0 Kalimantan Timur 1,0 99,6 1.315,6 2.170,1 583,2 397,7 44,2 40,9 203,2 2.192,7 713,4 Kalimantan Tengah - - 73,4 140,2 6,0 0,4 50,3 10,7 11,9 8,9 32,2 Kalimantan Selatan 9,8 1.951,0 84,9 19,2 438,7 73,4 30,3 3,1 9,7 34,0 2,1Sulawesi 40,2 1.448,4 2.394,4 2.552,6 426,0 192,7 141,8 42,8 81,1 420,2 225,2 Sulawesi Utara 32,0 40,5 164,3 72,3 358,8 157,4 24,1 3,6 1,2 41,2 181,3 Sulawesi Tengah - 6,3 105,6 10,0 5,5 6,9 2,7 0,3 0,5 373,7 - Sulawesi Tenggara - 6,3 0,5 2,8 3,5 0,6 102,5 4,3 0,5 0,3 43,8 Sulawesi Selatan 8,2 1.395,3 2.114,0 2.467,5 58,3 27,8 12,5 34,6 78,9 5,0 Gorontalo - - - - - - - - - - 0,1Bali & NusaTenggara 51,6 36,5 328,6 1,765 129,2 365,7 208,8 38,5 524,9 208,5 3.004,5Maluku, Papua, danTimor-Timor 105,4 309,9 2,596,4 531,2 522,2 25,9 24,9 38,6 6.104,8 59,7 225,0Jumlah 8.141,8 23.724,4 39.914,7 29.931,4 33.832,5 13.563,1 10.890,8 6.087,0 9.027,5 9.789,1 13.207,2Sumber : Statistik Indonesia, Badan Pusat Statistik, Berbagai Edisi
  • 22 Dapat diketahui, bahwa tahun 1997, daerah Jawa masih mendominasi nilai investasi secara keseluruhan dengan nilai investasi sebesar 20.535,0 juta US Dollar, meninggalkan daerah yang lain dan tetap bertahan pada nilai investasi ditahun-tahun berikutnya. Begitu pula pada tahun 1995 dan 1996, dengan nilai investasi yang tertinggi di propinsi Jawa Barat sebesar 12.474,4 juta US Dollar pada tahun 1995 dan 7.760,1 juta US Dollar pada tahun 1996. Pada tahun 2001, dengan bertambahnya Propinsi Banten, dapat menambah nilai investasi pulau Jawa. Jumlah total nilai investasi di Pulau Jawa pada tahun 1999, menduduki jumlah nilai investasi terendah, dengan nilai sebesar 2.635,9 juta US Dollar. Pada tahun 1998, mulai mengalami penurunan hingga tahun berikutnya, yang disebabkan kondisi perekonomian Indonesia tidak berada di posisi stabil, karena adanya krisis moneter dan krisis ekonomi yang berlanjut menjadi krisis multidimensi.2.3. Perkembangan Ekspor Indonesia Pesatnya perkembangan perekonomian Indonesia kurang lebih dua dasawarsa terakhir menunjukkan keberhasilan dan kemampuan pemerintah dalam mengerahkan dana-dana Investasi, yang berupa dana dalam bentuk bantuan untuk pembangunan. Disisi lain, dengan meningkatnya harga minyak bumi dalam tahun 1980-an merupakan salah satu penunjang perekonomian pada saat itu, sumber utama untuk pengembangan ekspor lebih lanjut. Ada sejumlah indikator yang umum digunakan untuk mengetahui perkembangan struktur ekspor, diantaranya adalah proporsi ekspor migas dan non migas terhadap total ekspor.
  • 23 TABEL 2.5 PERKEMBANGAN EKSPOR INDONESIA PERIODE 1984 – 2003 (Juta US $) Tahun Ekspor Migas Ekspor Non Migas Total Nilai % Peran Nilai % Peran Ekspor 1984 16.018,1 73,18 5.869,7 26,82 21.887,8 1985 12.717,9 68,43 5.868,8 31,57 18.586,7 1986 8.276,6 55,90 6.528,4 44,10 14.805,0 1987 8.556,0 49.93 8.579,6 50,07 17.135,6 1988 7.681,4 39,97 11.537,1 60,03 19.218,5 1989 8.680,2 39,17 13.480,0 60,83 22.160,2 1990 11.071,1 43,12 14.604,2 56,88 25.675,3 1991 10.894,9 37,39 18.247,5 62,61 29.142,4 1992 10.670,9 31,42 23.296,1 68,58 33.967,0 1993 9.745,8 26,47 27.077,2 73,53 36.823,0 1994 9.693,6 24,20 30.359,8 75,80 40.053,4 1995 10.464,4 23,04 34.953,6 76,96 45.418,0 1996 11.722,0 23,53 38.092,9 76,47 49.814,9 1997 11.622,5 21,75 41.821,1 78,25 53.443,6 1998 7.872,1 16,12 40.975,5 83,88 48.847,6 1999 9.792,3 20,12 38.873,2 79,88 48.665,5 2000 14.237,2 22,96 47.779,2 77,04 62.016,4 2001 43.684,5 77,56 12.636,3 22,43 56.320,9 2002 45.406,1 79,43 12.112,7 21,19 59.158,8 2003 13.651,7 22,36 47.406,7 77,64 61.058,3Sumber : Badan pusat statistik, berbagai edisi, data diolah Dari tabel 2.5 dapat terlihat, bahwa pertumbuhan ekspor Indonesiapada periode 1984 sampai dengan 1986 masih mendominasi oleh ekspormigas, seiring dengan harga minyak bumi yang masih menjanjikan. Padaperiode Februari 1983, harga minyak bumi sebesar 29,53 US Dolar per barrel.Kemudian pada periode Februari 1985, harga minyak turun menjadi 28,53 USDolar per barrel. Dari tabel 2.5 terlihat bahwa pertumbuhan ekspor migascenderung menurun dari tahun ke tahun sampai tahun 2000, dan mulaimengalami kenaikan tajam pada tahun 2001 dari sebesar 14.237,2 US Dolar
  • 24pada tahun 2000, menjadi sebesar 43.684,5 US Dolar. Pada tahun 2002 naiklagi menjadi sebesar 45.406,1 US Dolar dengan persentase peranan terhadaptotal ekpor keseluruhan sebesar 79,43 %, tetapi pada tahun 2003 harga minyakdunia menurun pada 30 US Dolar per barel. Hal ini disebabkan oleh belumpulihnya pasokan minyak dari Irak, menurunnya cadangan minyak AS, dankuatnya disiplin kuota OPEC. (Laporan Bank Indonesia, 2003 : 8) Sedangkan pada ekspor non migas pada tahun 1998 mengalamipresentase peranan terhadap total ekspor yang cukup tinggi yaitu sebesar83,88 %. Pada periode selanjutnya peranan ekspor non migas mengalamikecenderungan menurun. Pada tahun 1999 turun menjadi 79,88 %, tahun 2000turun menjadi sebesar 77,04 %. Pada periode setelah tahun 2000, perananekspor non migas mengalami penurunan yang sangat drastis, pada tahun 2001peranan ekspor non migas turun menjadi 22,43 % dan mengalami penurunankembali pada tahun 2002 menjadi sebesar 21,19 %, tetapi pada tahun 2003ekspor non migas mengalami kenaikan sebesar 77,64 %. Hal ini disebabkanoleh pemulihan kegiatan produksi, adanya upaya produsen untuk memperbaikiharga ke tingkat yang lebih tinggi setelah menurun tajam pada periode 1998-2002, dan dampak dari depresiasi dolar. (Laporan Bank Indonesia, 2003 : 8) Mulai pada tahun 2001 sampai tahun 2002, peranan antara ekspormigas dan non migas menjadi terbalik drastis setelah tahun 2000. Pada tahun2000, peranan ekspor migas sebesar 22,96 %, sedangkan peranan ekspor nonmigas sebesar 77,04 %, di tahun berikutnya peranan ekpor migas menjadisebesar 77,56 %, dan peranan pada ekspor non migas menjadi sebesar 22,43
  • 25%, tetapi pada tahun 2003 peranan ekspor non migas berperan lagi menjadi77,64 % dan ekspor migas sebesar 22,36 %. Pertumbuhan ekspor sejak tahun 1987 didominasi oleh ekspor nonmigas, menggantikan ekspor migas, seiring dengan berakhirnya era oil boom,Pertumbuhan ekspor non migas yang cepat pada tahun 1980-an dan 1990-an,selain didorong oleh meningkatnya permintaan luar negeri karenaberkurangnya hambatan-hanbatan dalam perdagangan, juga tidak dapatdilepaskan dari deregulasi ekonomi yang dijalankan di dalam negeri. Perkembangan ekspor non migas tersebut, terutama didorong olehekspor produk manufaktur yang memiliki keunggulan komparatif, sepertikayu olahan, tekstil, dan produk tekstil. Sektor manufaktur tetap menjadiandalan utama ekspor non migas, diikuti oleh sektor pertanian danpertambangan. Sektor pertanian, meskipun mengandung keunggulankomparatif, tetapi sangat rentan terhadap fluktuasi harga internasional. Selainitu, term of trade produk-produk pertanian semakin lama semakin turun jikadibandingkan dengan produk manufaktur. Dengan melihat perkembangan ekspor Indonesia selama kurun waktu1984 – 2003, dapat disimpulkan bahwa telah terjadi perubahan struktur eksporyang ditandai dengan pergeseran peran ekspor produk migas kearah eksporproduk non migas pada kisaran tahun 1984 – 1999, sedangkan pada periodetahun 2000 – 2003 peranannya silih berganti dari ekspor non migas ke ekspormigas
  • 26 Perubahan sektor ekspor ini selain disebabkan oleh perubahan hargaminyak bumi di pasaran dunia yang sangat fluktuatif dan terbatasnya produksidalam negeri, juga disebabkan karena diperlakukannya berbagai perubahankebijakan (policy reform) yang bertujuan untuk mengurangi ketergantunganpada ekspor migas, dan juga sebagai upaya penggalakan ekspor non migas.Dengan kondisi tersebut, ketergantungan pada devisa migas akan semakinberkurang. Menurut negara-negara tujuan ekspor, Jepang merupakan negaraterbesar yang mampu menyerap komoditi ekspor terbesar Indonesia. Selain ituekspor Indonesia juga ditujukan ke Amerika Serikat, negara-negara dalam UniEropa (dahulu MEE), dan negara-begara ASEAN. Bagi negara-negara sedang berkembang, yang perekonomianya masihsangat tergantung pada pinjam / bantuan luar negeri, ekspor untuk produk-produk dengan nilai tambah yang tinggi sangatlah penting. KhususnyaIndonesia, akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan, yang membuat negaranyaris bangkrut, ekspor diharapkan dapat menjadi motor penggerak prosespemulihan ekonomi nasional. Sayangnya, harapan ini tampaknya sangat tidakmudah diwujudkan, tidak dalam waktu pendek ini. Ekspor selama periode 1998 – 1999, termasuk produk-produkunggulan, seperti tekstil dan kayu lapis, tidak menunjukkan pertumbuhan yangberarti. Kinerja ekspor yang tidak terlalu baik itu menandakan bahwa dalammasa sekarang, tingkat daya saing suatu produk di dalam perdaganganinternasional tidak lagi hanya ditentukan oleh perbedaan harga, tetapi juga
  • 27 ditentukan oleh aspek lain, seperti kualitas, penampilan produk, warna, bentuk, pelayanan purna jual (service after sale), dan sebagainya.2.4. Perkembangan Tenaga Kerja di Indonesia Penduduk Indonesia pada tahun 1985, berdasarkan sensus penduduk tahun 1980 diperkirakan berjumlah 165 juta jiwa. Hal ini menempatkan Indonesia pada urutan kelima dari negara-negara yang berpenduduk besar, sesudah China, India, Rusia, dan Amerika Serikat. (Statistik Indonesia, 1985, : 31). Sementara itu, penduduk pada tahun 2002 sebesar 212.003.000 jiwa, data ini merupakan hasil dari sensus penduduk tahun 2002. Tingkat pertumbuhan penduduk telah turun cepat sejak tahun 1980, dari 1,97 % pada periode 1980 – 1990 menjadi sebesar 1,49 % per tahun selama periode 1990 – 2000. Penurunan laju pertumbuhan penduduk sejak tahun 1980 sampai sekarang ini berkaitan dengan keberhasilan program keluarga berencana. (Statistik Indonesia, 2000 : 25) Penduduk Indonesia yang jumlahnya sangat besar tersebut sebagian besar merupakan tenaga kerja yang biasa memanfaatkan bagi proses pembangunan, demi terciptanya masyarakat yang adil dan makmur. Namun, jumlah tenaga kerja yang relatif besar itu harus menjadi suatu masalah karena terbatasnya lapangan pekerjaan yang tersedia. Permasalahan lainnya dalam ketenagakerjaan di Indonesia adalah keahlian atau spesialisasi dan profesionalisme yang kurang memuaskan. Oleh karena itu, pendidikan merupakan usaha untuk menaikan mutu sumber daya manusia sebagai tenaga kerja. Jika dilihat dari komposisi pendidikan penduduk yang bekerja menurut
  • 28lapangan pekerjaan dan status pekerjaan, sebagian besar tenaga kerja masihberpendidikan sangat rendah. Sektor-sektor perekonomian yang cukup besar peranannya dalamketenagakerjaan adalah sektor pertanian. Hampir sebagian tenaga kerjatercatat di sektor ini. hal ini merupakan pencerminan negara agraris diIndonesia. Hampir di semua propinsi, sebagian tenaga kerjanya beradadi sektor pertanian, kecuali DKI Jakarta yang lebih terkonsentrasi di sektorperdagangan dan jasa. Sektor-sektor berikutnya yang cukup besar peranannyadalam bidang ketenagakerjaan adalah sektor perdagangan, sektor industri, danjasa-jasa. Salah satu indikator untuk melihat perkembangan ketenagakerjaan diIndonesia adalah Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). TPAK menurutumur mengikuti pola huruf U terbalik. Angkatan TPAK ini rendah pada umur-umur muda, dikarenakan pada usia tersebut, kebanyakan penduduk nasihsekolah, kursus, kuliah, dan lain-lain. Kemudian, angka TPAK tersebut naik,sejalan dengan kenaikan umur sampai mencapai puncaknya pada umur40 – 44 tahun, dan selanjutnya turun lagi secara perlahan-lahan pada umur-umur berikutnya, karena masa pensiun dan telah mencapai usia tua. Untuk melihat perkembangan angkatan kerja dan Tingkat PartisipasiAngkatan Kerja (TPAK) menurut umur di Indonesia, dapat dilihat pada tabelsebagai berikut :
  • 29 TABEL 2.6. JUMLAH ANGKATAN KERJA DAN TPAK MENURUT UMUR DI INDONESIA UMUR 1985 1990 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 10-14 2.051.827 2.955.518 2.131.145 1.922.810 1.722.076 - - - - - - 15-19 6.013.427 7.868.741 8.766.283 8.402.533 8.199.926 8.368.985 8.554.349 7.746.221 8.138.571 8.208.419 7.221.857 20-24 8.260.029 8.864.168 11.384.181 11.235.405 11.047.125 11.364.444 11.643.217 12.077.515 12.201.236 12.488.55 13.262.096 25-29 9.344.248 7.445.143 11.671.664 11.945.274 12.173.897 12.423.862 12.589.200 13.390.138 13.678.117 13.325.417 13.543.972 30-34 7.849.306 9.405.570 11.042.297 11.496.192 11.422.554 11.722.118 12.014.253 12.456.416 12.943.605 13.175.756 13.568.1411 35-39 6.930.642 8.904.878 10.718.086 11.575.462 11.747.904 12.196.828 12.616.203 12.215.831 13.107.530 13.048.177 12.760.627 40-44 5.929.367 6.950.767 8.676.164 9.355.044 9.857.191 9.946.573 10.453.396 10.661.377 11.043.148 11.679.938 11.443.223 45-49 5.501.597 7.006.392 6.342.665 7.237.018 7.724.858 8.324.611 8.777.117 8.612.741 8.966.743 9.406.053 9.097.617 50-54 4.291.760 5.491.387 5.367.234 6.053.323 5.953.825 6.390.035 6.358.496 6.427.222 6.712.550 7.258.722 7.288.969 55-59 3.203.139 3.871.885 4.137.428 4.284.672 4.467.969 4.619.739 4.592.685 4.473.856 4.626.354 4.668.699 4.323.821 60+ 4.449.655 5.310.611 6.123.514 6.601849 7.007.586 7.377.737 7.248.262 7.589.644 213.582 7.519.534 7.805.684Jumlah 63.824.997 77.802.264 86.361.261 90.109.582 91.324.911 92.734.932 94.847.178 95.650.961 98.812.448 100.779.270 100.316.007 TPAK 53,02 57,33 56,62 58,34 58,02 66,93 67,22 67,76 68,60 67,76 65,72 (%)Sumber : Statistik Indonesia, Badan Pusat Statistik, berbagai edisi Dari tabel 2.6 dapat dilihat, bahwa jumlah angkatan kerja dari tahun ke tahun semakin meningkat, seiring dengan jumlah penduduk yang semakin bertambah. Pada tahun 1985 jumlah angkatan kerja sebesar 63,8 juta jiwa, dengan TPAK sebesar 53,02 %. Ini berarti dari 100 penduduk usia kerja terdapat 53 orang angkatan kerja. Pada tahun 1990, jumlah angkatan kerja meningkat menjadi 77,8 juta jiwa, dengan TPAK sebesar 57,3 %. Akan tetapi pada tahun 1995, angka TPAK menurun menjadi 56,62 %. Hal ini terjadi karena semakin besar jumlah penduduk yang masih bersekolah dan yang mengurus rumah tangga, sehingga jumlah angkatan kerja relatif kecil kenaikannya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kemudian, pada tahun 1998, jumlah angkatan kerja mencapai 92,7 juta jiwa atau naik 1,5 % dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Jumlah tersebut antara lain mencakup penganggur lama, pencari kerja baru, dan korban Pemutusan
  • 30 Hubungan Kerja (PHK) di berbagai sektor sebagai akibat dari krisis moneter dan krisis ekonomi, Kondisi kelebihan penawaran tenaga kerja telah menyebabkan sebagian pencari kerja terpaksa menerima upah dan pekerjaan yang tidak sesuai dengan keinginannya (ill-paying jobs). Selanjutnya jumlah angkatan kerja mengalami peningkatan, dari 94,8 juta jiwa pada tahun 1999 menjadi 95,7 juta jiwa pada tahun 2000. TPAK mengalami sedikit peningkatan dari 67,76 % pada tahun 2000. Kondisi TPAK pada tahun 2003, mengalami penurunan sebesar 2,04 % dari tahun 2002 yang besarnya 67,76%. Pada tahun 2003, di Indonesia terdapat 148,7 juta penduduk usia kerja, sekitar 60 % dari mereka berada di pulau Jawa. Tingkat partisipasi tenaga kerja (TPAK), merupakan ukuran jumlah angkatan kerja untuk setiap 100 tenaga kerja. (statistik Indonesia, 2003). Terjadinya fluktuasi TPAK ini kemungkinan disebabkan kondisi sosial ekonomi nasional yang belum stabil, sehingga memberikan pengaruh terhadap faktor-faktor produksi di Indonesia. Secara langsung naik turunnya faktor produksi ini akan memberikan dampak terhadap tinggi rendahnya faktor demand dan supply tenaga kerja. Peningkatan TPAK ini salah satunya dikarenakan semakin mambaiknya mutu sumber daya manusia, dan semakin aktifnya wanita berperan di luar rumah tangganya.2.5 Perkembangan Hutang Luar Negeri Indonesia Krisis nilai tukar rupiah yang terjadi sejak Juli 1997 yang lalu telah memberikan dampak yang berat dan bahkan telah menyebabkan krisis utang luar negeri Indonesia. Krisis ini tidak terlepas dari kondisi utang luar negeri
  • 31swasta Indonesia di luar perbankan yang merupakan bagian terbesar dari utangluar negeri Indonesia. Pengalaman di berbagai negara menunjukkan bahwaserangan spekulasi terhadap nilai tukar sering terjadi pada negara yangmempunyai utang luar negeri swasta yang besar, dengan porsi utang jangkapendek. Inefisiensi dalam pemanfaatan utang tersebut sebagai akibat lemahnyacorporate governance, baik dari tingkat pemerintah maupun swasta, yangmendorong timbulnya sentimen pasar, sehingga memberikan tekanan terhadapnilai tukar. Selanjutnya dengan semakin pesatnya pembangunan danterbatasnya kemampuan pemerintah, peran swasta dalam perekonomiansemakin meningkat. Hal ini berkaitan erat dengan langkah – langkahderegulasi di berbagai bidang yang ditempuh oleh pemerintah, terutama sejaktahun 1980-an. Besarnya minat investasi swasta, sementara sumber – sumberdana di dalam negeri masih terbatas, telah mendorong swasta memanfaatkanmodal luar negeri, baik dalam bentuk penanaman modal langsung danpinjaman komersial maupun invertasi portofolio dalam surat berharga yangditerbitkan oleh swasta domestik. Persyaratan pinjaman luar negeri swastabaik suku bunga maupun jangka waktu, pada umumnya tidak lunak. Dalam usahanya untuk melaksanakan pembangunan, pemerintah tidakterlepas pula menerima bantuan pembangunan dalam bentuk bantuan programdan bantuan proyek. Bantuan ini pada hakikatnya adalah merupakan utangluar negeri pemerintah Indonesia, meskipun porsinya tidak terlalu besardibandingkan dengan swasta.
  • 32 TABEL 2.7. PENERIMAAN PINJAMAN DAN BANTUAN LUAR NEGERI PEMERINTAH (Juta US $) Tahun Hutang Luar Negeri 1994 9.838 1995 9.009 1996 11.900 1997 14.386 1998 30.225 1999 43.633 2000 71.882 2001 74.232 2002 66.746 2003 69.130Sumber : Laporan Tahunan Bank Indonesia, berbagai edisi Dari Tabel 2.7 dapat dilihat, bahwa pada tahun 1994, hutang luarnegeri yang diterima pemerintah adalah sebesar Rp 9.838 milyar. Padatahun – tahun berikutnya, nilai bantuan tersebut mengalami peningkatan.Peningkatan terbesar terjadi pada tahun 2001, yakni sebesar Rp 74.232milyar. Sedangkan pada tahun 2002 dan 2003 mengalami penurunan daritahun 2001, yaitu Rp 69.130 milyar pada tahun 2003 dan Rp 66.746milyar pada tahun 2002. Hal ini disebabkan karena berbagai langkahpenanganan masalah hutang luar negeri telah dilakukan untuk membantumengurangi beban Neraca Pembayaran Indonesia dan memperbaikistruktur hutang luar negeri Indonesia. Sebagai hasilnya, beberapa indikatorbeban hutang, seperti rasio utang terhadap ekspor dan rasio hutangterhadap PDB, cenderung terus menurun dan telah berada pada tingkatyang relatif aman. Perkembangan positif ini telah meningkatkan dayatahan perekonomian Indonesia terhadap gejolak pasar keuanganinternasional. Beberapa langkah yang telah dilakukan antara lain : proses
  • 33restrukturisasi hutang pemerintah melalui Paris Club dan London Club,perjanjian debt swapt, restrukturisasi hutang luar negeri swasta melaluiPrakarsa Jakarta (JITF), serta program Exchange Offer. (Laporan BankIndonesia, 2003 : 25)
  • 34 BAB III KAJIAN PUSTAKA3.1 Kajian Hasil Penelitian Skripsi Ace Kusnadi “Analisis Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Di Jawa Barat periode 1983 – 1996 Ace Kusnadi (1998), Melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat selama periode 1983 – 1996, menyimpulkan bahwa variabel investasi, ekspor, dan angkatan kerja berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat. Sementara itu, variabel subsidi daerah otonom mempunyai pengaruh yang signifikan pula terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat. Hal ini menunjukkan bahwa Propinsi Jawa Barat masih mempunyai ketergantungan yang besar terhadap kucuran dana dari pemerintah pusat. Kondisi ini harus segera mendapat perhatian yang besar, karena pada umumnya, dimasa otonomi daerah seperti sekarang ini, Pemerintah Daerah dituntut harus lebih mandiri, khususnya Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Barat.3.2 Kajian Hasil Penelitian Skripsi Ari Iskandar “Analisis Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Di Indonesia Periode 1984 – 2000 Penelitian yang dilakukan oleh Ari Iskandar (2000), mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi PDB di Indonesia periode 1986 – 2000, menyimpulkan bahwa variabel investasi asing langsung, ekspor barang dan
  • 35jasa, utang luar negeri, dan angkatan kerja secara bersama-sama berpengaruhnyata dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Investasiasing langsung, ekspor, dan angkatan kerja berpengaruh positif dan signifikan,sedangkan utang luar negeri berpengaruh negatif tetapi tidak signifikanterhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini berarti bahwa kenaikaninvestasi asing langsung, ekspor, dan angkatan kerja akan mengakibatkanpertumbuhan ekonomi, sementara kenaikan utang luar negeri mempunyaipengaruh yang tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.menurut hasil penelitiannya variabel yang mempunyai pengaruh terbesarterhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada periode 1984 – 2000diantara variabel-variabel yang diteliti adalah angkatan kerja. Karena dengankenaikan jumlah angkatan kerja yang digunakan, akan menambah jumlahproduksi yang dihasilkan.
  • 36 BAB IV LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS4.1. Landasan Teori4.1.1 Teori Pertumbuhan Ekonomi Teori pertumbuhan yang dikemukakan oleh Harrod-Domar merupakan perluasan dari analisa Keynes mengenai kegiatan ekonomi nasional dan masalah penggunaan tenaga kerja. Teori Harrod-Domar pada hakekatnya berusaha untuk menunjukkan syarat yang diperlukan agar pertumbuhan yang mantap atau steady growth yang dapat didefinisikan sebagai pertumbuhan yang akan selalu menciptakan penggunaan sepenuhnya alat-alat modal yang akan selalu berlaku dalam perekonomian. Teori Harrod-Domar memperhatikan dua aspek dari pembentukan modal dalam kegiatan ekonomi yaitu : mempertinggi pengeluaran masyarakat dan mempertinggi jumlah alat-alat modal dalam masyarakat. Dalam teori Harrod-Dommar pembentukan modal dipandang sebagai pengeluaran yang akan menambah kesanggupan suatu perekonomian untuk menghasilkan barang-barang maupun sebagai pengeluaran yang akan menambah permintaan efektif seluruh masyarakat. Teori Harrod-Domar menganggap pula bahwa pertambahan dalam kesanggupan memproduksi ini tidak secara sendirinya akan menciptakan pertambahan produksi dan kenaikan pendapatan nasional.
  • 37 Harrod-Domar menyatakan bahwa pertambahan produksi dan pendapatan nasional bukan ditentukan oleh pertambahan dalam kapasitas memproduksi masyarakat, tetapi oleh kenaikan pengeluaran masyarakat. Dengan demikian, walaupun kapasitas memproduksi bertambah, pendapatan nasional baru akan bertambah dan pertumbuhan ekonomi tercipta. Analisa Harrod-Domar bertujuan untuk menunjukkan syarat yang diperlukan supaya dalam jangka panjang kemampuan memproduksi yang bertambah dari masa ke masa (yang diakibatkan oleh pembentukan modal pada masa sebelumnya) akan selalu sepenuhnya digunakan.4.1.2. Teori Hutang Luar Negeri Aliran modal dari luar negeri dinamakan bantuan luar negeri apabila ia mempunyai dua ciri-ciri berikut : pertama, ia merupakan aliran modal yang bukan didorong oleh tujuan untuk mencari keuntungan dan, kedua, dana tersebut diberikan kepada negara penerima atau dipinjamkan dengan syarat yang lebih ringan daripada yang berlaku di pasar internasional. Berdasarkan kepada kedua ciri tersebut, aliran modal dari luar negeri yang tergolong sebagai bantuan luar negeri adalah pemberian (grant) dan pinjaman luar negri (loan). Besarnya unsur bantuan yang terkandung dalam pinjaman luar negri tergantung pada syarat-syarat pembayaran kembali dari bantuan tersebut, yaitu tergantung pada tenggat waktu (grace period), jangka masa pembayaran kembali (maturity), dan tingkat bunga dari pinjaman yang diberikan. Pinjaman bersyarat ringan (soft loan), apabila tenggat waktu bertambah lama, jangka waktu pembayaran kembali bertambah panjang dan
  • 38 tingkat bunganya bertambah rendah, pinjaman bersyarat berat (hard loan) apabila tenggat waktu dan jangka masa pembayaran kembali relatif singkat dan tingkat bunganya relatif tinggi. Hutang luar negeri erat hubungannya dengan pertumbuhan ekonomi, hal ini disebabkan karena dalam melaksanakan program pembangunan di negara – negara berkembang, biasanya negara tersebut menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi yang diharapkan dan tingkat penanaman modal yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Apabila tabungan yang dapat dikerahkan di dalam negeri melebihi penanaman modal yang akan dilaksanakan tersebut, maka pembangunan yang direncanakan dapat dicapai tanpa hutang luar negeri. Akan tetapi, pada umumnya negara – negara berkembang tidak dapat menciptakan tabungan sebanyak yang diperlukan dan oleh karenanya hutang luar negeri perlu dikerahkan untuk menutupi kekurangan tersebut. (Lincolyn Arsyad, 1997: 371)4.1.3. Teori Investasi Investasi dilaksanakan oleh pemilik-pemilik modal untuk mendapatkan suatu keuntungan dari usaha yang dilaksanakannya. Peranan modal dalam pembangunan ekonomi mutlak diperlukan untuk pembiayan pembangunan yang akan dilaksanakan. Karena jika modal yang tersedia cukup besar maka pembangunan akan lebih lancar sebab dapat dilakukan investasi kepada beraneka macam sektor ekonomi. Modal merupakan faktor penting, sebab dengan tersedianya modal maka faktor-faktor produksi lainnya akan
  • 39dapat terpenuhi. Investasi yang diinvestir dalam pembangunan ekonomimengutamakan kepada service motive yakni pemberian pelayanan, dorongan-dorongan kepada mesyarakat walaupun pertimbangan ekonomi jugadiperhatikan. (Malayu S.P. Hasibuan,1987 : 107 - 108) Thesis usaha minimum kritis mengemukakan perlunya mempertinggitingkat penanaman modal untuk mengusahakan agar negara-negaraberkembang dapat melepaskan diri dari belenggu perangkap tingkatkeseimbangan rendah (the low level equilibrium trap). Teori perangkaptingkat keseimbangan rendah menjelaskan bahwa pada tingkat pendapatanperkapita yang rendah, tingkat penanaman modal juga rendah dan jugamenyebabkan pertumbuhan dalam pendapatan nasional lebih rendah daripadatingkat pertambahan penduduk. Dalam keadaan seperti ini tingkatkesejahteraan masyarakat cenderung untuk kembali ke tingkat subsistence.Oleh sebab itu diperlukan penanaman modal yang lebih besar, yang dapatmenjamin agar dalam jangka panjang tingkat pertumbuhan ekonomi selalulebih besar daripada tingkat pertumbuhan penduduk, sehingga akanmenciptakan perbaikan dalam tingkat kesejahteraan masyarakat. (SadonoSukirno,1985 :303) Kalau diperhatikan bagaimana eratnya hubungan antara tingkatinvestasi dengan besarnya tingkat pendapatan inilah agaknya yang menjadidasar bagi teori pembangunan ekonomi modern. Salah satu sebab mengapapembentukan modal atau capital formation menduduki tempat yang begitu
  • 40 penting dan strategis dalam pembangunan ekonomi bangsa adalah disebabkan oleh : 1. Bahwa pengarahan modal/dana itu sendiri akan menaikan pendapatan serta akan memperluas lapangan kerja yang selanjutnya memungkinkan adanya investasi berikutnya dan seterusnya. 2. Bahwa pengarahan modal/dana untuk investasi dapat dan cenderung untuk menciptakan kesempatan kerja yang lebih luas (J.M. Keynes). 3. Bahwa modal yang baru diciptakan sebagai akibat investasi dan kenaikan pendapatan tidak mungkin dipakai dalam waktu berikutnya apabila total spending tidak diperbesar (Prof. Harrod). 4. Bahwa investasi adalah merupakan suatu alat untuk mempercepat pertambahan tingkat produksi dalam ekonomi yang baru berkembang. Dengan demikian jelaslah kepada kita bahwa “pentingnya dan strategisnya peranan investasi untuk menciptakan kesempatan kerja dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi.” (Malayu S.P. Hasibuan,1987 : 132)4.1.4. Teori Ekspor Kegiatan ekspor adalah sistem perdagangan dengan cara mengeluarkan barang dari dalam keluar wilayah pabean Indonesia dengan memenuhi ketentuan yang berlaku. Ekspor merupakan nilai semua barang dan jasa yang dijual oleh sebuah negara ke negara lain, termasuk diantara barang-barang, ongkos pengapalan, asuransi, dan jasa-jasa pada suatu tahun tertentu. (Bambang Triyoso, 1984). Fungsi penting adalah mengatasi masalah
  • 41terbatasnya pasar di dalam negeri. perkembangan ekspor akan menggalakanperkembangan sektor dalam negeri karena :a. Beberapa fasilitas yang digunakan untuk memperlancar kegiatan ekspor, seperti pengembangan sistem komunikasi, jaringan pengangkutan dan fasilitas latihan atau pendidikan, dapat digunakan oleh sektor dalam negeri.b. Dengan menarik tenaga kerja dari sektor dalam negeri, sektor ekspor akan mendorong sektor dalam negeri untuk menciptakan inovasi yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas. (Sadono Sukirno,1985 : 310) Peranan ekspor dalam pembangunan ekonomi menurut ahli ekonomiklasik, terutama David Ricardo, mengemukakan pendapatnya bahwaperdagangan luar negeri melalui ekspor memberikan sumbangan yang padaakhirnya dapat mempercepat perkembangan ekonomi suatu negara.(Sadono Sukirno, 1985 : 224-225) Adapun sumbangan penting dari kegiatan luar negeri melalui ekspordalam pembangunan ekonomi meliputi : (Sadono Sukirno, 1985 : 225)1. Pada suatu negara yang sudah mencapai tingkat kesempatan kerja penuh, maka perdagangan luar negeri memungkinkan negara untuk mencapai tingkat konsumsi yang lebih tinggi daripada yang mungkin dicapai tanpa adanya kegiatan ekspor.2. Suatu negara dapat memperluas pasar dan hasil-hasil produksi nasional.3. Suatu negara dapat menggunakan teknologi yang berasal dari luar negeri.
  • 42 Para ahli ekonomi sesudah mazhab klasik berpendapat, bahwa salahsatu fungsi dari ekspor adalah untuk mengatasi terbatasnya permintaan pasardalam negeri. Perkembangan ekspor akan menggalakkan perkembangansektor pendukung lainnya di dalam negeri karena akan menciptakanpermintaan atas barang yang dihasilkan di dalam negeri, yang akhirnya ekspordapat memperlancar perkembangan ekonomi. Dengan perdagangan luarnegeri melalui ekspor, maka pendapatan masyarakat khususnya produsen danorang-orang yang kegiatannya di sektor liar negeri akan bertambah. Makincepat perkembangan perdagangan luar negeri makin cepat pula pendapatanmasyarakat bertambah. Pengaruh secara tidak langsung dari adanya perdagangan luar negeriadalah penghasilan devisa. Semakin ekspor berkembang, semakin besarpenghasilan devisa yang diterima oleh negara. Ini berarti terjadi arus modal(capital flow) dari luar negeri ke dalam negeri yang tentu saja menguntungkanbagi suatu negara yang memerlukan tambahan modal untuk pembangunanyang pada gilirannya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Ketika prosentase ekspor terhadap PDB semakin meningkat, makaharus dibuat strategi ekspor yang dapat memberikan peluang untuk lestarinyastatus komoditi ekspor sebagai market leader. Empat alternatif strategi eksporlazim dikenal dengan Four Generic Internasional Strategies, yaitu : (H.Halwani dan P. Tjiptoherijanto, 1993 : 64-65)
  • 43a. Dynamic High Technology Strategy (DHTS). Yaitu strategi yang dapat memberikan peluang kepada perusahaan untuk menjadi market leader melalui inovasi tekhnologi yang tepat dan dilakukan secara terus-menerus.b. Low of Stable Technology Strategy (LSTS). Strategi ini memberikan peluang kepada perubahaan untuk menjadi market leadaer karena kemampuan memelihara brand identity economic of scale, manufacturing know how, standar produksi, dan penyadiaan suku cadang yang terdapat secara global. Kalau dilihat prasyaratan strateginya, sebenarnya yang diperlukan oleh perusahaan adalah bagaimana dapat memelihara citra perusahaan dan reputasi bisnisnya.c. Advanced Management Skill Strategy (AMSS), yaitu strategi yang dapat memberikan peluang kepada perusahaan untuk menjadi market leader karena kemampuannya menerapkan manajemen yang tepat, khususnya dalam hal pemasaran dan koordinasi. Untuk itu, perusahaan harus memiliki perencanaan yang baik dalam bidang manajemen pemasaran, keuangan, dan organisasi.d. Production Market Rationalization Strategy (PMRS), yaitu strategi yang dapat memberikan peluang kepada perusahaan untuk menjadi market lader karena kemampuannya menekan biaya produksi melalui pendakatan lokasi. Artinya adalah bahwa lokasi perusahaan relatif “dekat” dengan pasar modal sehingga mampu menekan handling cost, seperti biaya pengangkutan penyimpanan. Untuk melakukan strategi itu, komoditinya harus memiliki karakteristik, antara lain bernilai tinggi dan tidak memakan
  • 44 tempat yang luas, sehingga dapat menekan biaya penyimpanan dan pengangkutan. Kebijaksanaan perdagangan internasional dibidang ekspor harus terusdilaksanakan oleh pemerintah. Kebijakan ini diartikan sebagai tindakan danperaturan yang dikeluarkan pemerintah, baik secara langsung maupun tidaklangsung, yang akan mempengaruhi struktur, komposisi dan arah transaksiserta kelancaran usaha untuk peningkatan davisa ekspor suatu negara. Kebijaksanaan perdagangan internasional dibidang ekspordikelompokan menjadi dua macam kebijakan, yaitu :(Hady Hamdi, 2000 : 63-64)a. Kebijakan ekspor dalam negeri 1. Kebijakan perpajakan dalam bentuk pembebasan, keringanan, pengambalian pajak ataupun pengenaan pajak ekspor untuk barang- barang ekspor tertentu. 2. Fasilitas kredit perbankan yang murah untuk mendorong peningkatan ekspor barang-barang tertentu. 3. Penetepan prosedur / tata laksana ekspor yang relatif mudah. 4. Pemberian subsidi ekspor, seperti pemberian sertifikat ekspor. 5. Pembentukan organisasi eksportir. 6. Pembantukan kelembagaan seperti bounded warehouse, bounded island Batam, axport processing zone, dan lain-lain.
  • 45 b. Kebijaksanaan ekspor luar negeri 1. Pembentukan International Trade Promotion Centre(ITPC) di berbagai negara, seperti Jepang, Eropa, Amerika Serikat, dan lain-lain. 2. Pemanfaatan General System of Preferency (GSP), yaitu fasilitas keringanan bea masuk yang diberikan negara-negara industri untuk barang manufaktur yang berasal dari negara yang sedang berkembang. 3. Menjadi anggota Commodity Association of Producer(GSP), seperti OPEC. 4. Menjadi anggota Commodity Agreement between Producer and Consumer, seperti ICO (International Coffe Organization), MFA (Multifibre Agreement), dan lain-lain.4.1.5. Teori Ketenagakerjaan Di Indonesia, pengertian tenaga kerja atau man power adalah mencakup penduduk yang sudah bekerja, yang sedang mencari pekerjaan, dan yang melakukan kegiatan lain seperti bersekolah dan mengurus rumah tangga. Tiga golongan yang disebut terakhir, yakni pencari kerja, bersekolah, dan mengurus rumah tangga, walaupun sedang tidak bekerja, mereka dianggap secara fisik mampu dan sewaktu-waktu dapat ikut bekerja. (P. Simanjuntak,1985 : 2) Menurut Dumairy, pengertian tenaga kerja ialah penduduk yang berumur dalam batas usia kerja. Batasan usia kerja berbeda-beda antara negara yang satu dengan negara yang lain. Batas usia kerja yang dianut oleh Indonesia adalah minimum 10 tahun, tanpa batas umur maksimum. Jadi,
  • 46setiap setiap orang atau penduduk yang sudah berusia 10 tahun keatas,tergolong sebagai tenaga kerja. Di negara India menggunakan rentang usiaantara 14 sampai 60 tahun sebagai batas usia kerja. Amerika Serikat, batasminimum usia kerja adalah 16 tahun tanpa batas umur maksimum. Sedangkanbatas usia kerja menurut Bank Dunia adalah antara umur 15 sampai 64 tahun.(Dumairy,1996 : 74) Indonesia tidak menganut batas umur maksimum, alasannya adalahbahwa Indonesia belum mempunyai jaminan sosial nasional. Hanya sebagiankecil penduduk Indonesia yang menerima tunjangan dihari tua, yaitu pegawainegeri dan sebagian kecil pegawai perusahaan swasta. Buat golongan ini pun,pendapatan yang mereka terima tidak mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Oleh sebab itu, mereka yang telah mencapai usia pensiun biasanya tetapmasih harus bekerja. Dengan kata lain, sebagian besar penduduk dalam usiapensiun masih aktif dalam kegiatan ekonomi. Oleh sebab itu mereka tetapdigolongkan sebagai tenaga kerja. (Simanjuntak, 1985 : 2-3) Tenaga kerja terdiri atas angkatan kerja dan bukan angkatan kerja.Angkatan kerja (labor force) terdiri atas golongan yang bekerja, yangmenganggur, dan yang mencari pekerjaan. Kelompok bukan angkatan kerjaterdiri dari atas golongan yang bersekolah, golongan yang mengurus rumahtangga dan golongan lain-lain atau penerima pendapatan. Ketiga golongandalam kelompok bukan angkatan kerja sewaktu-waktu dapat menawarkanjasanya untuk bekerja. Oleh sebab itu, kelompok ini sering disebut jugasebagai potensial labor force. (Simanjuntak,1985 : 3)
  • 47 Angkatan kerja adalah tenaga kerja atau penduduk dalam usia kerja yang bekerja, atau mempunyai pekerjaan, atau untuk sementara tidak sedang bekerja, dan sedang mencari pekerjaan. Sedangkan yang termasuk bukan angkatan kerja ialah tenaga kerja atau penduduk dalam usia kerja, yang tidak bekerja, tidak mempunyai pekerjaan dan sedang tidak mencari pekerjaan; yakni orang-orang yang kegiatannya bersekolah (pelajar), mahasiswa, mengurus rumah tangga, serta menerima pendapatan, tetapi bukan merupakan imbalan langsung atas jasa kerjanya. (Dumairy, 1996 : 74-75) Salah satu indikator untuk melihat perkembangan ketenagakerjaan di Indonesia adalah Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) atau labor force participation rate (LFPR). TPAK adalah perbandingan antara jumlah angkatan kerja dengan penduduk usia kerja dalam kelompok yang sama dan merupakan jumlah angkatan kerja untuk setiap 100 tenaga kerja. Atau dapat dikatakan jumlah angkatan kerja dibagi dengan jumlah tenaga kerja dalam kelompok yang sama. (Simanjuntak, 1996 : 36) Atau jika dirumuskan adalah sebagai berikut : Jumlah Angkatan Kerja TPAK = x 100 % Jumlah Tenaga Kerja4.2 Kesimpulan Dari Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Dalam penelitian ini, faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi merupakan turunan (derivative) dari kumulasi modal pertumbuhan penduduk, dan kemajuan teknologi. Faktor-faktor tersebut adalah: hutang luar negeri, Investasi, tenaga kerja dan ekspor.
  • 48 GAMBAR 4.1. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA Hutang Luar Investasi Tenaga Ekspor Negeri (I) Kerja (EX) (FD) (L) Peningkatan Output (EG) Pertumbuhan Ekonomi Perekonomian Nasional Hutang luar negeri dianggap sebagai faktor penting pertumbuhanekonomi, khususnya bagi negara Indonesia yang memerlukan modal besardalam melaksanakan pembangunan ekonomi. hal ini disebabkan karena dalammelaksanakan program pembangunan di negara–negara berkembang, biasanyanegara tersebut menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi yang diharapkandan tingkat penanaman modal yang harus dilakukan untuk mencapai tujuantersebut. Apabila tabungan yang dapat dikerahkan di dalam negeri melebihipenanaman modal yang akan dilaksanakan tersebut, maka pembangunan yang
  • 49direncanakan dapat dicapai tanpa hutang luar negeri. Akan tetapi, padaumumnya negara – negara berkembang tidak dapat menciptakan tabungansebanyak yang diperlukan dan oleh karenanya hutang luar negeri perludikerahkan untuk menutupi kekurangan tersebut. (Lincolyn Arsyad, 1997 :371). Pertumbuhan ekonomi diperlukan investasi-investasi baru sebagai stokmodal. Semakin banyak tabungan yang kemudian diinvestasikan, makasemakin cepat terjadi pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi secara riil, tingkatpertumbuhan ekonomi yang terjadi pada setiap tabungan dan investasitergantung dari tingkat produktivitas investasi tersebut, dengan bertambahnyapenggunaan investasi maka akan menambah jumlah modal untukmeningkatkan pertumbuhan ekonomi, maka investasi juga dianggap faktorpenting dalam pertumbuhan ekonomi di suatu negara. Pertambahan penduduk dan hal-hal yang berhubungan dengankenaikan jumlah angkatan kerja (labor force) juga dianggap sebagai faktoryang positif sebagai dalam menentukan pertumbuhan ekonomi. Artinya,semakin banyak angkatan kerja, berarti semakin produktif tenaga kerja.Karena dengan semakin besar angkatan kerja, akan meningkatkan tingkatpartisipasi tenaga kerja (TPAK). (Lincolyn Arsyad, 1997 : 199) Perdagangan Internasional juga dapat menjadi perangsang pentingdalam perekonomian Indonesia. Perdagangan Internasional khususnya Ekspor,bagi banyak negara, khususnya Indonesia mempunyai peranan yang penting,yakni sebagai penggerak motor perekonomian. (Tulus Tambunan, 2001 : 2),
  • 50 jadi ekspor juga menjadi faktor yang mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi di Indonesia.4.3. Hipotesis Perumusan hipotesis: 1. Variabel investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Produk Domestik Bruto riil. 2. Variabel ekspor berpengaruh positif dan signifikan terhadap Produk Domestik Bruto riil. 3. Variabel tenaga kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap Produk Domestik Bruto riil. 4. Variabel hutang luar negeri berpengaruh positif dan signifikan terhadap Produk Domestik Bruto riil. 5. Variabel investasi, variabel ekspor, variabel tenaga kerja dan variabel hutang luar negeri secara bersama-sama berpengaruh terhadap Produk Domestik Bruto riil.
  • 51 BAB V METODE PENELITIAN5.1. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan studi kasus mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Indonesia periode 1984 – 2003. 5.1.1. Jenis dan Deskripsi Data Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah : a. Data produk Domestik Bruto b. Total nilai ekspor c. Data investasi d. Jumlah tenaga kerja e. Data Hutang Luar Negeri f. Data-data lain yang mendukung penelitian ini 5.1.2. Sumber Data Sumber data diperoleh dari Bank Indonesia, Departemen Keuangan, Badan Pusat Statistik, dan sumber-sumber lain yang berhubungan dengan penelitian ini.5.2. Metode Analisis 5.2.1. Metode Analisis Data Berdasarkan tujuan penelitian dan pengujian hipotesis yang telah dikemukakan, akan digunakan model analisis deskriptif, analisis regresi,
  • 52bentuk model penelitian melalui pendekatan ekonometrika, serta ujilinieritas.a. Analisis Deskriptif Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data runtun waktu yang merupakan data tahunan, dimulai pada tahun 1984 hingga tahun 2003. Penyajian data mengenai perkembangan pertumbuhan ekonomi menggunakan data produk domestik bruto atas harga konstan, karena data ini merupakan indikator tingkat pertumbuhan ekonomi. Kemudian, untuk investasi, yang digunakan adalah proyek-proyek penanaman modal dalam negeri yang telah disetujui pemerintah menurut sektor perekonomian. Data tentang ekspor, yang digunakan adalah total nilai ekspor, untuk data tenaga kerja, yang digunakan adalah jumlah angkatan kerja yang bekerja menurut sektor perekonomian. Selanjutnya untuk data hutang luar negeri yang digunakan adalah hutang luar negeri pemerintah. Metode yang didasarkan pada analisa ini adalah dengan pendeskripsian faktor-faktor yang berhubungan dengan permasalahan yang dimaksud sebagai pendukung hasil dari analisis metode kuantitatif.b. Analisis Regresi Analisis ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidak pengaruh antara variabel terikat (untuk selanjutnya disebut dependen variabel) dengan satu atau lebih variabel bebas (untuk selanjutnya disebut independen variabel). Sebagai variabel dependen adalah pertumbuhan ekonomi.
  • 53 Sedangkan variabel independennya adalah investasi, total ekspor, tenaga kerja dan hutang luar negeri.c. Model yang diusulkan Model analisis yang diusulkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : PDB rill = f (EX,I,L,FD) Fungsi PDB rill linier dapat ditulis sebagai berikut : PDB rill = β 0 + β 1EX + β 2I + β 3L + β 4FD + ε Keterangan: PDB rill = Nilai PDB riil (dalam milyar rupiah) I = Investasi (investasi menurut sektor perekonomian dalam US $) X = Ekspor (total nilai ekspor dalam juta US $) L = Tenaga kerja (dalam juta jiwa) FD = Hutang luar negeri pemerintah (dalam Juta US Dollar)d. Uji Linieritas Uji linieritas ini sangat penting, karena untuk melihat apakah spesifiksi model yang digunakan dalam penelitian ini sudah benar atau tidak. Uji linieritas dalam penelitian ini menggunakan uji Ramsey, untuk menerapkan uji Ramsey peneliti harus membuat suatu asumsi atau keyakinan bahwa fungsi yang benar adalah fungsi linear.
  • 545.2.2. Alat uji yang digunakan Parameter-paremeter yang diestimasi dapat dilihat melalui dua kriteria. Pertama adalah statistik, yang meliputi uji signifikansi parameter secara individual (Uji - t), uji signifikansi parameter secara serempak (Uji – F) dan uji kebaikan sesuai (Goodness of Fit) atau R2. Pengujian ini disebut dengan uji orde pertama. Kedua adalah kriteria ekonometrika, yakni untuk menguji tidak adanya penyimpangan-penyimpangan terhadap asumsi klasik, yaitu autokolerasi, hetroskedastisitas dan multikolinearitas. Penguji terhadap kriteria kedua ini disebut dengan uji orde kedua. Uji orde kedua digunakan untuk membuktikan bahwa model yang dijelaskan sudah tidak mengalami gangguan asumsi klasik, yaitu : (Algifari, 1997 : 73-74) (a). Non Multikolinearitas, artinya antara variabel independen yang satu dengan yang lain dalam model regresi tidak saling berhubungan secara sempurna atau mendekati sempurna. (b). Non Autokorelasi, yaitu tidak terdapat pengaruh dari variabel dalam model melalui tenggang waktu (time lag). Misalnya nilai suatu variabel saat ini akan berpengaruh terhadap nilai variabel lain pada masa yang akan datang. Menurut model klasik, hal ini tidak mungkin terjadi. (c) Homoskedasitas, artinya varians variabel independen adalah konstan (sama) untuk setiap nilai tertentu variabel independen.
  • 555.2.3. Kriteria Statistik5.2.3.1 Koefisien Determinasi (R2) Koefisien determinasi (R2) nilainya berkisar antara 0 dan 1. semakin besar R2 berarti semakin besar variasi variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variasi variabel-variabel independen. Formula untuk mencari nilai R2 adalah sebagai berikut : (Catur Sugianto, 1995 : 54-55) R2 = SSR/SST atau: R 2 = 1 - SSE/SST Keterangan: R2 = Koefisien determinansi berganda. SSR = Sum of Square Regression, atau jumlah kuadrat regresi, yaitu merupakan total variasi yang dapat dijelaskan oleh garis regresi. SST = Sum of Square Total, atau jumlah kuadrat total, yaitu merupakan total variasi Y. SSE = Sum of Square Error, atau jumlah kuadrat error, yaitu merupakan total variasi yang tidak dapat dijelaskan oleh garis regresi
  • 565.2.3.2. Pengujian Secara Bersama-sama (Uji – F) Untuk mengetahui apakah variabel-variebel independen secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen digunakan uji-F. formulamya adalah sebagai berikut : (Catur Sugianto, 1995 : 77-78) R2 F= (k − 1) (1 − R )2 (n − K ) Keterangan: F = nilai F-hitung R2 = koefisien determinasi berganda k = jumlah variabel independen n = jumlah sampel Perumusan hipotesis : Ho = b1 = b2 = b3 = b4 = 0, artinya variabel independen secara bersama- sama tidak berpengaruh terhadap variabel dependen Ha ≠ b1≠ b2 ≠ b3 ≠ b4 ≠ 0, artinya variabel independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen.5.2.3.3. Pengujian Secara Parsial / Individu (Uji – t) Untuk mengetahui signifikansi pengaruh variabel indipenden terhadap variabel dependen secara individu dengan menganggap variabel
  • 57dependen lainnya tetap (ceteris pasribus) dapat diestimasi denganmembandingkan antara nilai t-hitung dengan t-tabel. Nilai t-hitung dapat dicari dengan menggunakan formula : (b1 − b) t= Sb1 keterangan: t = nilai t-hitung b1 = koefisien variabel independen ke-1 b = nilai hiposis nol Sb1 = simpangan baku dari variabel independen ke-1 Perumusan hipotesis: Ho = b1 = 0, artinya variabel independen secara individu tidak berpengaruh terhadap variabel dependen Ha = b1 ≠ 0, artinya variabel independen secara individu berpengaruh terhadap variabel dependen.Kriteria Pengujian : Dimana b1 merupakan koefisien dari variabel independen Ke-1 (a). H0 diterima apabila memenuhi syarat -ttabel ≤ thitung ≤ ttabel, artinya variabel dependen tidak dipengaruhi oleh variabel independen. (b). H0 ditolak apabila memenuhi syarat thitung > ttabel atau thitung < -ttabel, artinya variabel dependen dipengaruhi oleh variabel independen.
  • 585.2.4. Asumsi Klasik5.2.4.1 Pengujian Autokorelasi Autokorelasi adalah korelasi ( hubungan ) yang terjadi antara anggota-anggota dari serangkaian pengamatan yang tersusun dalam rangkain waktu (time series). Autokorelasi ini menunjukan hubungan antara nilai-nilai yang berurutan dari variabel-variabel yang sama. (Gunawan Sumodiningrat, 2001: 231) Autokorelasi dapat terjadi apabila kesalahan penganggu suatu periode korelasi dengan kesalahan pengganggu periode sebelumnya. Alat penguji yang digunakan untuk mendeteksi dan atau tidaknya adalah Durbin – Watson tes (D-W test) yang formulanya sebagai berikut : 1 − ∑ et .E ( t −1) D-W = 2 ∑e 2 t Untuk menguji asumsi klasik ini, maka terlebih dulu harus menentukan besarnya nilai kritis dari du dan dl berdasarkan jumlah observasi dan variabel independen, jika hipotesis nol menyatakan tidak adanya autokotrelasi, maka : (Gunawan Sumodiningrat, 2001 :248) 1. Jika d lebih kecil daripada dL atau lebih besar daripada (4 – dL), maka hipotesis nol ditolak, dengan pilihan pada alternatif yang berarti terdapat autokorelasi. 2. Jika d terletak antara dU dan (4-dU), maka hipotesis nol diterima, yang berarti tidak ada autokorelasi.
  • 59 3. Namun jika nilai d terletak antara dL dan dU atau diantara (4 – dL) dan (4 – dL), maka uji Durbin – Watson tidak menimbulkan kesimpulan yang pasti (inconclusive). Untuk nilai – nilai ini, tidak dapat (pada suatu tingkat signifikansi tertentu) disimpulkan ada tidaknya autokorelasi diantara faktor – faktor gangguan. Gambar 5.1 Kriteria Pengujian Autokorelasif (d) Daerah Daerah ketidak - Tidak menolak Daerah ketidak - Daerah kritis kritis pastian H0 pastian (inconclusive) (inconclusive) Tolak H0 Tidak ada Tolak H0 otokorelasi d 0 dL dU 2 ( 4 – dU) ( 4 – dL) 5.2.4.2 Pengujian Multikolinearitas Tujuannya untuk menguji ada tidaknya hubungan yang sempurna atau tidak sempurna diantara beberapa atau semua variabel yang menjelaskan. Multikolinieritas dapat dideteksi dengan melihat ciri-ciri yaitu adanya R2 yang tinggi. Klein mengatakan bahwa multikolineritas dapat menjadi masalah bila derajat multikolinieritasnya tinggi. Jika derajatnya rendah maka multikolinieritas yang terjadi tidak terlalu serius dan tidak membahayakan
  • 60 bagi interprestasi hasil regresi. Dengan metode yang dikemukakan oleh Klein, derajat kolinieritas dapat dilihat melalui koefisien determinasi parsial dari regresi antara variabel independen dengan variabel independen yang lain dipergunakan dalam metode penelitian. Jika r2 ≤ R2, maka tingkat multikolinieritas yang terjadi rendah dan tidak membahayakan bagi interprestasi hasil regresi. Salah satu cara untuk mengetahui adanya multikolinier adalah dengan langkah pengujian terhadap masing –masing variabel independen untuk mengetahui seberapa jauh korelasinya (r2 ) Produksi padi didapat kemudian dibandingkan dengan R2 yang didapat dari hasil regresi secara bersama variabel independen dengan variabel dependen, jika ditemukan nilai melebihi nilai R2 pada model penelitian, maka dari model persamaan tersebut terdapat multikoinieritas, dan sebaliknya jika R2 lebih besar dari semua r2 maka ini menunjukan tidak terdapatnya multikolinier pada model persamaan yang diuji.5.2.4.3 Pengujian Heteroskedastisitas Uji Heteroskedastisitas dilakukan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual pengamatan satu ke pengamatan lain. Jika varians dari residual pengamatan satu ke residual ke pengamatan yang lain tetap, maka telah terjadi heteroskedastisitas. Jika varians berbeda, maka disebut heteroskedastisitas. Regresi yang baik adalah yang tidak terjadi heteroskedastisitas.
  • 61 Heteroskedastisitas terjadi bila variabel gangguan mempunyaivariabel yang sama untuk observasi, untuk mendeteksi ada/tidaknyaheteroskedestisitas digunakan uji White. Selanjutnya menentukanhipotesis yang menyatakan jika dari perhitungan menghasilkan nilai t-hitung yang signifikan/ t- hitung > t- tabel, maka dapat dikatakan terdapatheteroskedestisitas, jika t- hitung < t- tabel dapat dikatakan dalam regresitidak terdapat heteroskedestisitas.
  • 62 BAB VI ANALISIS DAN PEMBAHASAN6.1. Analisis Hasil Penelitian Analisis pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber dalam bentuk tahunan, selama periode 1984 – 2003. Penyajian data-data mengenai perkembangan pertumbuhan ekonomi menggunakan data Produk Domestik Bruto (PDB), karena data ini merupakan indikator tingkat pertumbuhan ekonomi. Untuk Investasi, data yang digunakan adalah proyek-proyek penanaman modal luar negeri yang telah disetujui pemerintah menurut sektor ekonomi. Data tentang ekspor, yang digunakan adalah total nilai ekspor barang dan jasa. Data tenaga kerja, yang digunakan adalah jumlah angkatan kerja yang bekerja menurut sektor perekonomian. Selanjutnya untuk data hutang luar negeri menggunakan hutang luar negeri pemerintah. a. Uji Linieritas Agar spesifikasi model linear dalam penelitian ini benar, maka sebelumnya diuji dulu dengan uji linearitas. Uji linearitas dalam penelitian ini menggunakan uji Ramsey. Hasil dari uji Ramsey pada tabel 6.1. menunjukkan bahwa model yang benar, spesifikasinya dalam bentuk linier yaitu persamaan dalam bentuk linier PDBriil= β 0+ β 1EX+ β 2I+ β 3L+ β 4FD+ε, dimana hal ini diperlihatkan
  • 63 dengan nilai Fhitung (0,278) lebih kecil dibandingkan dengan nilai Ftabel (3,01) TABEL 6.1. UJI LINIERITAS Ramsey RESET Test: F-statistic 0.277732 Probability 0.606442 Log likelihood ratio 0.392875 Probability 0.530792 Test Equation: Dependent Variable: PDB Method: Least Squares Date: 06/25/05 Time: 11:13 Sample: 1984 2003 Included observations: 20 White Heteroskedasticity-Consistent Standard Errors & Covariance Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. EX 2.340767 0.868968 2.693733 0.0175 FD -0.304033 0.315451 -0.963804 0.3515 I 0.873854 0.572837 1.525485 0.1494 L 3.018868 0.593719 5.084671 0.0002 C -43132.93 37695.81 -1.144237 0.2717 FITTED^2 3.34E-07 3.80E-07 0.878518 0.3945 R-squared 0.990631 Mean dependent var 327024.2 Adjusted R-squared 0.987285 S.D. dependent var 84883.95 S.E. of regression 9571.488 Akaike info criterion 21.41429 Sum squared resid 1.28E+09 Schwarz criterion 21.71301 Log likelihood -208.1429 F-statistic 296.0655 Durbin-Watson stat 1.863455 Prob(F-statistic) 0.000000 Sumber : Lampiranb. Uji Model Linier atau Model Log Linear Dari tabel 6.2. tampak koefisien Z1 tidak signifikan pada α = 5%, yaitu t hitung Z1 = -1,194993 dengan prob 0,2519 lebih dari 0,05. sedangkan pada tabel 6.3. koefisien Z2 signifikan pada α = 5%, yaitu t hitung Z2 = -2,3155 dengan prob 0,0363 kurang dari 0,05. karena Z1 tidak signifikan, maka model pertama yaitu bentuk linear merupakan model yang baik atau bisa dipakai, sedangkan model log linear tidak tepat karena Z2 signifikan.
  • 64 Tabel 6.2. ESTIMASI TERHADAP MODEL PERSAMAAN BENTUK LINIER MODEL : PDBriil = β 0+ β 1EX+ β 2I+ β 3L+ β 4FD + β 5Z1+ εDependent Variable: PDBMethod: Least SquaresDate: 09/28/05 Time: 09:09Sample: 1984 2003Included observations: 20 Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. EX 2.385892 0.790856 3.016847 0.0092 FD 0.150770 0.479940 0.314144 0.7580 I 2.003033 0.843547 2.374537 0.0324 L 3.146597 0.620593 5.070311 0.0002 Z1 -285330.2 238771.3 -1.194993 0.2519 C -41977.29 43498.36 -0.965032 0.3509R-squared 0.991330 Mean dependent var 327024.2Adjusted R-squared 0.988233 S.D. dependent var 84883.95S.E. of regression 9207.763 Akaike info criterion 21.33681Sum squared resid 1.19E+09 Schwarz criterion 21.63553Log likelihood -207.3681 F-statistic 320.1435Durbin-Watson stat 1.701021 Prob(F-statistic) 0.000000Sumber : lampiran Tabel 6.3. ESTIMASI TERHADAP MODEL PERSAMAAN BENTUK LOG LINIER MODEL : LnPDBriil = β 0+ β 1LnEX+ β 2LnI+ β 3L+ β 4LnFD + β 5Z2+ εDependent Variable: LNPDBMethod: Least SquaresDate: 09/28/05 Time: 09:14Sample: 1984 2003Included observations: 20 Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. LNEX 0.345648 0.026260 13.16253 0.0000 LNFD -0.086047 0.022259 -3.865676 0.0017 LNI -0.001803 0.011824 -0.152523 0.8810 LNL 1.486160 0.289177 5.139284 0.0002 Z2 -2.51E-06 1.08E-06 -2.315566 0.0363 C -6.858779 2.866024 -2.393134 0.0313R-squared 0.994340 Mean dependent var 12.66261Adjusted R-squared 0.992319 S.D. dependent var 0.278802S.E. of regression 0.024435 Akaike info criterion -4.342315Sum squared resid 0.008359 Schwarz criterion -4.043595Log likelihood 49.42315 F-statistic 491.9307Durbin-Watson stat 1.974018 Prob(F-statistic) 0.000000Sumber : Lampiran
  • 65c. Uji Regresi Untuk mengetahui pengaruh dari variabel investasi, ekspor, tenaga kerja, dan hutang luar negeri terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia, dilakukan dengan menggunakan Uji regresi. Akan tetapi, sebelum hasil regresi dianalisis secara ekonomi, maka diperlukan uji tahap kedua / orde kedua melalui pendekatan ekonometrika. TABEL 6.4. PENGUJIAN KOEFISIEN REGRESI Variabel Coefisient Std. Error t-Statistic Prob. EX 3.058288 0.563614 5.426210 0.0001 FD -0.317588 0.280926 -1.130507 0.2760 I 1.162807 0.472639 2.460242 0.0265 L 3.496445 0.554950 6.300463 0.0000 C -73672.19 34964.98 -2.107028 0.0524Sumber : LampiranR-Square 0.990445 Mean Dependent var 327024.2Adjusted R-Square 0.987897 S.D. dependent var 84883.95S.E. of regression 9338.206 Akaike info criterion 21.33393Sum square resid 1.31E+09 Schwarz criterion 21.58287Log likelihood -208.3393 F-Statistic 388.7303Durbin-Watson stat 1.882271 Prob(F-Statistic) 0.000000 Uji tahap kedua ini merupakan uji asumsi klasik. pengujian asumsiklasik dilakukan agar model yang diusulkan menghasilkan asumsi terbaikyang tidak bias atau BLUE (Best Linear Unbiased Estimate). Uji asumsi
  • 66 klasik ini meliputi uji autokorelasi, uji multikolinearitas, dan uji heteroskedastisitas. 6.1.1. Kriteria Ekonometrika / Uji Asumsi Klasik 6.1.1.1. Uji Autokorelasi : Dari hasil analisis regresi diperoleh nilai statistik Durbin Watson (Dw) sebesar 1,882. Berdasarkan pedoman pengambilan keputusan atau kesimpulan ada tidaknya autokorelasi dalam tabel d (Durbin Watson), maka tidak terjadi autokorelasi dalam model yang digunakan, karena Dwhitung sebesar 1.882 berada diantara 1,83 dan 2,17. Hasil persamaan estimasi adalah sebesar 1.882 dan pada α = 5 %, k = 4, n =20, sehingga diperoleh nilai sebagai berikut : dl = 0,90 4 – dl = 3,1 du = 1,83 4 – du = 2,17 GAMBAR 6.1. UJI AUTOKORELASIf (d) Tidak ada Autokorelasi (+) dan (-) Daerah Daerah Daerah Daerah Auto Ketidak- Ketidak- Auto korelasi pastian pastian korelasi positif negatif D 0 dl du 4-du 4-dl 4 0,90 1,83 1,882 2,17 3,1
  • 67 Dengan demikian nilai DW terletak diantara du dan 4-du, hal ini menunjukan nilai DW terletak di daerah tidak ada autokorelasi (penerimaan Ho).6.1.1.2. Uji Multikolinearitas : Berdasarkan hasil perhitungan analisis regresi antara variabel independen terhadap variabel independen lainnya, dapat dilihat tabel 6.5 : TABEL 6.5. HASIL PENGUJIAN MULTIKOLINEARITAS Variabel r2 R2 EX - I 0.325 0.987 EX - L 0.837 0.987 EX – FD 0.619 0.987 I-L 0.261 0.987 I – FD 0.000 0.987 L - FD 0.565 0.987 Sumber : Hasil pengolahan data Dengan demikian nilai R 2 > r2, artinya tidak terjadi gejala multikolinieritas dalam model. Dari hasil pengujian terhadap multikolineritas pada masing-masing penjelas diperoleh nilai correlations matriks kurang dari 0.987 yang berarti tidak terdapat multikolineritas sehingga dapat disimpulkan investasi, total ekspor, tenaga kerja, dan hutang luar negeri tidak terjadi multikolineritas.6.1.1.3. Uji Heteroskedastisitas : Sesuai ketentuan uji asumsi klasik, maka terjadi heteroskedasitas dalam model regresi yang digunakan. Dari hasil pengujian yang telah dilakukan terlihat, bahwa model yang diusulkan dalam penelitian ini terdapat heteroskedastisitas. Heteroskedastisitas terjadi bila variabel
  • 68gangguan mempunyai variabel yang sama untuk observasi, untukmendeteksi ada/tidaknya heteroskedestisitas digunakan uji White. Selanjutnya menentukan hipotesis yang menyatakan jika dariperhitungan menghasilkan nilai t- hitung yang signifikan/ t- hitung > t- tabel,maka dapat dikatakan terdapat heteroskedestisitas, jika t- hitung < t- tabeldapat dikatakan dalam regresi tidak terdapat heteroskedestisitas.Dengan menggunakan α = 5% dan df= 16 maka diperoleh t-tabel = 1,746maka dapat ditulis sebagai berikut :Atas dasar hasil regresi dengan menggunakan uji White, pada α = 5 % dandf = 16 diperoleh t-tabel sebesar 1,746. Sedangkan nilai t-hitung variabelindependen dapat dilihat dalam tabel dibawah ini : TABEL 6.6. HASIL PENGUJIAN HETEROSKEDASTISITAS Variabel Independen Nilai t- hitung Nilai t- tabel EX -1.760 1.746 I 1.213 1.746 L 3.029 1.746 FD 2.240 1.746 Sumber : LampiranBerdasarkan tabel di atas diketahui bahwa nilai t-tabel lebih besar dari nilait-hitung, maka variabel ekspor dan investasi tidak terdapatheterokedastisitas, sedangkan pada variabel hutang luar negeri dan tenagakerja terdapat heterokesdastisitas, karena nilai t-tabel lebih kecil dari nilai t-hitung. Tetapi dengan adanya Uji White, maka heteroskedastisitas ini dapatdihilangkan, sehingga model yang diusulkan dalam penelitian ini dapat lolos
  • 69dari uji asumsi klasik dan hasilnya dapat ditunjukkan dalam tabel di bawahini : TABEL 6.7. HASIL REGRESI PERBAIKAN HETEROSKEDASTISITAS Variabel Coefisient Std. Error t-Statistic Prob. EX 3.058288 0.353503 8.651376 0.0000 FD -0.317588 0.305649 -1.039061 0.3152 I 1.162807 0.382669 3.038675 0.0083 L 3.496445 0.471538 7.414986 0.0000 C -73672.19 30712.56 -2.398764 0.0299Sumber : LampiranR-Square 0.990445 Mean Dependent var 327024.2Adjusted R-Square 0.987897 S.D. dependent var 84883.95S.E. of regression 9338.206 Akaike info criterion 21.33393Sum square resid 1.31E+09 Schwarz criterion 21.58287Log likelihood -208.3393 F-Statistic 388.7303Durbin-Watson stat 1.882271 Prob(F-Statistic) 0.000000Sehingga hasil analisis regresi variabel-variabel independen (ekspor,investasi, tenaga kerja, hutang luar negeri) terhadap variabel dependen(PDB), ditunjukkan dengan persamaan sebagai berikut :PDB = -73672,188 + 3,05 EX - 0,31 FD + 1,16 I + 3,49 L a. Konstanta -73672,188 mempunyai arti, jika seluruh variabel independen sama dengan 0 (nol), maka PDB berkurang sebesar 73672,188 milyar rupiah.
  • 70 b. Koefisien 3,05 EX mempunyai arti, jika expor naik 1 juta US $ maka PDB akan naik sebesar 3,05 milyar rupiah, dengan asumsi variabel-variabel lainnya tetap. c. Koefisien 1,61 I mempunyai arti, jika Investasi naik 1juta US $, maka PDB naik sebesar 1,16 milyar rupiah, dengan asumsi variabel-variabel lainnya tetap. d. Koefisien 3,49 L mempunyai arti, jika tenaga kerja naik 1 juta jiwa, maka PDB akan naik sebesar 3,49 milyar rupiah, dengan asumsi variabel-variabel lainnya tetap.6.1.2 Kriteria Statistik 6.1.2.1. Koefisien Determinasi (R2) Dari data di atas menunjukkan, bahwa variabel-variabel independen dalam model memiliki pengaruh yang sangat berarti. Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,990 atau sebesar 99,0%. Hal ini berarti bahwa variabel ekspor, investasi, tenaga kerja, dan hutang luar negeri mampu menjelaskan 99,0% terhadap variabel dependennya yakni pertumbuhan ekonomi, sedangkan variabel lain yang tidak dimasukkan dalam analisis ini hanya mampu menjelaskan variasi dependennya 1,0%. Angka 99,0% sangat realistis, yang berarti menunjukkan bahwa model analisis yang digunakan dalam penelitian ini sangat baik untuk digunakan.
  • 71Formula untuk mencari nilai R2 adalah sebagai berikut : R2 = SSR/SST atau: R 2 = 1 - SSE/SST Keterangan: R2 = Koefisien determinansi berganda. SSR = Sum of Square Regression, atau jumlah kuadrat regresi, yaitu merupakan total variasi yang dapat dijelaskan oleh garis regresi. SST = Sum of Square Total, atau jumlah kuadrat total, yaitu merupakan total variasi Y. SSE = Sum of Square Error, atau jumlah kuadrat error, yaitu merupakan total variasi yang tidak dapat dijelaskan oleh garis regresi6.1.2.2. Pengujian Secara Bersama-sama (Uji – F) : Uji – F digunakan untuk menguji signifikansi variabel independen,yaitu total ekspor, investasi, tenaga kerja, dan hutang luar negeri secarabersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen, yaitu pertumbuhanekonomi. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut : Nilai Fhitung sebesar 388,730 lebih besar dari nilai Ftabel sebesar 3,01.maka nilai ini menunjukan bahwa variabel-variabel independen yakni totalekspor, investasi, tenaga kerja, dan hutang luar negeri secara bersama-samamempengaruhi variabel dependen, yakni pertumbuhan ekonomi.
  • 72 Dengan demikian, berdasarkan uji F diatas, hipotesis pertama yangmenyatakan bahwa variabel total ekspor, investasi, tenaga kerja, dan hutangluar negeri secara bersama-sama berpengaruh terhadap pertumbuhanekonomi, diterima. Untuk mengetahui apakah variabel-variebel independen secarabersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabeldependen digunakan uji-F. formulanya adalah sebagai berikut :(Catur Sugianto, 1995 : 77-78) R2F= (k − 1) (1 − R )2 (n − K )Keterangan:F = nilai F-hitungR2 = koefisien determinasi bergandak = jumlah variabel independenn = jumlah sampelPerumusan hipotesis :Ho = b1 = b2 = b3 = b4 = 0, artinya variabel independen secara bersama- sama tidak berpengaruh terhadap variabel dependenHa = b1 = b2 = b3 = b4 ≠ 0, artinya variabel independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen.
  • 736.1.2.3. Pengujian Secara Parsial / Individu (Uji – t) : Untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing variabelindependen terhadap variabel dependen digunakan uji secara parsial (uji – t).Pengujian parsial dari setiap variabel independen menunjukan pengaruh darikeempat variabel independen, yakni total ekspor, investasi, tenaga kerja, danhutang luar negeri secara individual tehadap variabel dependen, yaknipertumbuhan ekonomi.Nilai t-hitung dapat dicari dengan menggunakan formula : (b1 − b)t= Sb1keterangan:t = nilai t-hitungb1 = koefisien variabel independen ke-1b = nilai hiposis nolSb1 = simpangan baku dari variabel independen ke-1Perumusan hipotesis:Ho : b1 ≤ 0, artinya variabel independen secara individu tidak berpengaruh terhadap variabel dependenHa : b1 ≠ 0, artinya variabel independen secara individu berpengaruh terhadap variabel dependen.
  • 74 TABEL 6.8. HASIL PENGUJIAN KOEFISIEN REGRESI SECARA PARSIAL / INDIVIDU ( Uji – t ) Variabel Koefisien thitung ttabel Sig. Regresi Ekspor (EX) 3.058 8.651 1.746 0.000 Investasi (I) 1.162 3.038 1.746 0.008 Pekerja (L) 3.496 7.414 1.746 0.000 Hutang Luar Negeri (FD) -0.317 -1.039 1.746 0.315 Sumber : Hasil pengolahan data Dari tabel 6.8. menunjukan adanya pengaruh yang signifikan bagimasing-masing variabel indipenden, yaitu ekspor, investasi, dan tenaga kerjaterhadap variabel dependen, yaitu pertumbuhan ekonomi. Tetapi padavariabel independen hutang luar negeri berpengaruh tidak signifikanterhadap variabel dependen (pertumbuhan ekonomi).a. Uji t Terhadap Variabel Ekspor (EX) Hipotesis yang digunakan : Ho : b1 ≤ 0, artinya secara individu variabel ekspor tidak berpengaruh positif pada pertumbuhan. Ha : b1 > 0. artinya secara individu variabel ekspor berpengaruh secara positif pada pertumbuhan ekonomi. Jika t-hitung ≤ t-tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak, yang artinya variabel ekspor tidak mempengaruhi pertumbuhuan ekonomi secara signifikan. Jika t-hitung > t-tabel maka Ha diterima dan Ho ditolak, yang artinya adalah variabel ekspor mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara signifikan.
  • 75 GAMBAR 6.2. UJI-T VARIABEL EKSPOR TERHADAP VARIABEL DEPENDEN PERTUMBUHAN EKONOMI H0 ditolak Ho diterima 0 1,746 8,651 Dari hasil estimasi diketahui bahwa nilai t-hitung (8,651) > t-tabel (1,746) sehingga Ho ditolak. Berarti secara parsial variabel ekspor berpengaruh secara positif terhadap pertumbuhan ekonomi.b. Uji t Terhadap Variabel Investasi ( I ) Hipotesis yang digunakan : Ho : b2 ≤ 0, artinya secara individu variabel investasi tidak berpengaruh positif pada pertumbuhan ekonomi. Ha : b2 > 0, artinya secara individu variabel investasi berpengaruh secara positif pada pertumbuhan ekonomi. Jika t-hitung ≤ t-tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak, yang artinya variabel investasi tidak mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Jika t-hitung > t-tabel maka Ha diterima dan Ho ditolak, yang artinya adalah variabel investasi berpengaruh secara positif terhadap pertumbuhan ekonomi.
  • 76 GAMBAR 6.3. UJI-T VARIABEL INVESTASI TERHADAP VARIABEL DEPENDEN PERTUMBUHAN EKONOMI H0 ditolak Ho diterima 0 1.746 3.038 Dari hasil estimasi diketahui bahwa nilai t-hitung 3,038 > t-tabel 1,746 sehingga Ho ditolak. Berarti secara parsial variabel investasi berpengaruh secara positif terhadap pertumbuhan ekonomi.c. Uji t Terhadap Variabel Tenaga Kerja (L) Hipotesis yang digunakan : Ho : b3 ≤ 0, artinya secara individu variabel tenaga kerja tidak berpengaruh positif pada pertumbuhan ekonomi. Ha : b3 > 0, artinya secara individu variabel tenaga kerja berpengaruh secara positif pada pertumbuhan ekonomi. Jika t-hitung ≤ t-tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak, yang artinya variabel pekerja tidak mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Jika t-hitung > t-tabel maka Ha diterima dan Ho ditolak, yang artinya adalah variabel pekerja mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara signifikan
  • 77 GAMBAR 6.4. UJI-T VARIABEL TENAGA KERJA TERHADAP VARIABEL DEPENDEN PERTUMBUHAN EKONOMI H0 ditolak Ho diterima 0 1,746 7,414 Dari hasil estimasi diketahui bahwa nilai t-hitung (7,414) > t-tabel (1,746) sehingga Ho ditolak. Berarti secara parsial variabel pekerja berpengaruh secara positif terhadap pertumbuhan ekonomi.d. Uji t Terhadap Variabel Hutang Luar Negeri (FD) Hipotesis yang digunakan : Ho : b4 ≤ 0, artinya secara individu variabel hutang luar negeri tidak berpengaruh positif pada pertumbuhan ekonomi. Ha : b4 > 0, artinya secara individu variabel hutang luar negeri berpengaruh secara positif pada pertumbuhan ekonomi. Jika t-hitung ≤ t-tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak, yang artinya variabel pekerja tidak mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Jika t-hitung > t-tabel maka Ha diterima dan Ho ditolak, yang artinya adalah variabel pekerja mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara signifikan
  • 78 GAMBAR 6.5. UJI-T VARIABEL HUTANG LUAR NEGERI TERHADAP VARIABEL DEPENDEN PERTUMBUHAN EKONOMI H0 ditolak Ho diterima -1.746 -1.039 0 1.746 Dari hasil estimasi diketahui bahwa nilai t-hitung (-1,039) < t-tabel (1,746) sehingga Ho diterima. Berarti secara parsial variabel hutang luar negeri berpengaruh secara negatif dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.6.2. Pembahasan Masing-masing Variabel 6.2.1 Pembahasan Variabel Ekspor Terhadap PDB riil Berdasarkan hasil regresi koefisien regresi untuk variabel ekspor menunjukan tanda positif, yakni sebesar 3,058. Berdasarkan uji signifikansi parsial, pengaruh variabel ekspor terhadap PDB riil menunjukan angka yang signifikan. Hal ini berarti bahwa dengan kenaikan ekspor 1 juta US $, maka akan berakibat pada kenaikan nilai PDB rill sebesar 3,058 milyar rupiah, dengan asumsi variabel-variabel lainnya tetap. Karena Pertumbuhan ekonomi (EG), dipengaruhi oleh PDB rill maka ekspor juga mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Ekspor berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, karena dengan semakin besar ekspor akan meyebabkan semakin tinggi kegiatan
  • 79 ekonomi yang akan dicapai. Dengan ekspor memungkinkan suatu negara untuk menghasilkan berbagai barang dan jasa yang melebihi jumlah produksi yang diperlukan di dalam negeri. Hal ini akan menaikan tingkat kegiatan ekonomi dan tingkat pendapatan nasional. Nilai koefisien regresi variabel ekspor itu tidak terlalu berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi jika dibandingkan dengan nilai koefisien regresi variabel pekerja. Hal ini mungkin disebabkan karena produk ekspor dari negara lain untuk produk yang sejenis telah banyak diproduksi, sehingga daya saing produk ekspor dalam negeri menjadi lemah. Kenaikan harga ekspor juga menyebabkan permintaan akan ekspor domestik akan menurun dikarenakan produk-produk ekspor.6.2.2. Pembahasan Variabel Investasi Terhadap PDB riil Berdasarkan hasil regresi, koefisien regresi untuk variabel investasi menunjukkan tanda positif, yakni 1,162. Berdasarkan uji signifikansi parsial, pengaruh variabel investasi terhadap PDB riil menunjukan angka yang signifikan. Hal ini berarti bahwa dengan kenaikan investasi sebesar 1 juta US $, maka akan berakibat pada kenaikan nilai PDB riil sebesar 1,162 milyar rupiah, dengan asumsi variabel-variabel lainnya tetap. Karena pertumbuhan ekonomi (EG), dipengaruhi oleh PDB riil maka investasi juga mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Investasi berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi karena semakin tinggi nilai investasi yang masuk maka akan memperlancar tingkat pertumbuhan ekonomi negara. Karena investasi akan mengatasi
  • 80 kekurangan modal yang terjadi, investasi juga merupakan salah satu faktor produksi yang berupa modal di sektor perekonomian. Tapi kebanyakan pemilik modal, tidak berani menggunakan uangnya untuk diinvestasikan, karena takut akan resiko yang terjadi.6.2.3. Pembahasan Variabel Tenaga Kerja Terhadap PDB riil Berdasarkan hasil regresi, koefisien regresi untuk variabel tenaga kerja menunjukkan tanda positif, yakni sebesar 3,496. Berdasarkan uji signifikansi parsial, pengaruh variabel tenaga kerja terhadap PDB rill menunjukan angka yang signifikan. Hal ini berarti bahwa dengan kenaikan tenaga kerja sebesar 1 juta jiwa, maka akan berakibat pada kenaikan nilai pertumbuhan ekonomi sebesar 3,496 milyar rupiah, dengan asumsi variabel-variabel lainnya tetap. Karena pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh PDB riil maka tenaga kerja juga mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Variabel tenaga kerja mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi, karena tenaga kerja yang digolongkan kedalam angkatan kerja yang bekerja di sektor perekonomian merupakan faktor produksi, dan merupakan salah satu asset nasional yang berharga, karena jumlah tenaga kerja yang besar dengan produktifitas yang tinggi sebagai salah satu pendorong positif dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi. Tapi permasalahan lain dalam bidang ketenagakerjaan di Indonesia saat ini masih dicari jalan keluarnya adalah masih rendahnya
  • 81 pendidikan dan keterampilan (skilled) tenaga kerja domestik, kurangnya kesempatan kerja dan lain sebagainya.6.2.4. Pembahasan Variabel Hutang Luar Negeri Terhadap PDB riil Berdasarkan hasil regresi, koefisien regresi untuk variabel hutang luar negeri menunjukkan tanda negatif, yakni sebesar -1,039. Berdasarkan uji signifikansi parsial, pengaruh variabel hutang luar negeri terhadap PDB riil menunjukan angka yang tidak signifikan. Hal ini ditunjukkan oleh nilai thitung variabel hutang luar negeri sebesar -1,039 lebih kecil daripada nilai ttabel sebesar 1,746 dengan tingkat kepercayaan 95 % (α = 0,05). Dengan demikian, hutang luar negeri berpengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Tidak signifikansinya variabel hutang luar negeri tersebut berkaitan erat dengan belum dimanfaatkannya hutang luar negeri secara efisien di Indonesia. Kemungkinannya adalah disebabkan oleh banyak kebocoran yang terjadi pada aliran hutang luar negeri yang dilakukan oleh oknum-oknum di dalam tubuh pemerintahan Indonesia, dan juga disebabkan oleh penggunaannya yang lebih terkonsentrasi pada kegiatan pembangunan infrastruktur yang tidak secara langsung berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Akibatnya, produktivitas pemanfaatan hutang luar negeri menjadi rendah, sehingga akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Faktor eksternal lainnya yang merugikan Indonesia adalah perkembangan moneter yang tidak menguntungkan, yakni dengan adanya
  • 82depresiasi mata uang rupiah terhadap mata uang asing lainnya, sehinggatanpa menambah hutang pun, nilai hutang yang ditanggung secaraotomatis akan bertambah, dan beban pembayaran kembali hutang luarnegeri menjadi semakin berat di masa yang akan datang.
  • 83 BAB VII KESIMPULAN DAN IMPLIKASI7.1. Kesimpulan Atas dasar persamaan hasil estimasi yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Regresi lolos uji asumsi klasik karena variabel investasi, ekspor, tenaga kerja, dan hutang luar negeri tidak terdapat Autolorelasi, multikolinearitas, dan heteroskesdastisitas. 2. Investasi, total ekspor, tenaga kerja secara bersama berpengaruh positif signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, sedangkan hutang luar negeri berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini berarti bahwa kenaikan investasi, ekspor, dan tenaga kerja akan mengakibatkan peningkatan pertumbuhan ekonomi, sementara kenaikan hutang luar negeri mempunyai pengaruh yang tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. 3. Pengujian secara parsial terhadap variabel independen investasi, ekspor, dan tenaga kerja, masing-masing berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi, sedangkan variabel independen hutang luar negeri berpengaruh secara negatif dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
  • 847.2. Implikasi Dari berbagai kesimpulan yang telah dirangkumkan diatas, sebagai masukan dan rekomendasi bagi Pemerintah Indonesia dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia, maka dapat disarankan sebagai berikut : 1. Pemerintah perlu meningkatkan ekspor, terutama ekspor non migas, guna mengurangi ketergantungan terhadap ekspor migas yang semakin menipis. Cara untuk meningkatkan ekspor diantaranya adalah melalui diversifikasi komoditi ekspor, yakni melakukan ekspor yang bertumpu pada kekuatan sumber daya sendiri dan mengurangi kandungan impor agar peranan dan nilai ekspor tidak berkurang terhadap pertumbuhan ekonomi. Proses produksi ekspor tersebut harus dapat pula dikuasai oleh penduduk di dalam negeri, serta menaikan nilai tambah komoditi ekspor, terutama untuk komoditi primer, sehingga menaikan nilai tukar terhadap komoditi ekspor lainnya. 2. Dalam investasi, sebaiknya pemerintah menciptakan iklim investasi yang kondusif, maka diusahakan memberikan prosedur yang sederhana dan terkendali, memberikan sarana dan prasarana yang menunjang, serta peraturan dalam berinvestasi yang konsisten, sehingga terjamin kepastian berusaha dan keamanan untuk berinvestasi, Melalui kebijakan-kebijakan tersebut, diharapkan nilai investasi semakin dapat meningkat, karena bertambahnya investor-investor baru untuk menanamkan modalnya, yang akan menyebabkan menigkatnya pertumbuhan ekonomi. Dan untuk
  • 85 investasi asing, pemerintah sebaiknya mengadakan kualifikasi kembali terhadap modal asing yang masuk agar tidak menghambat perkembangan investasi domestik. Pemerintah juga harus berhati-hati dalam memutuskan tipe dari modal asing yang akan ditanam.3. Melihat potensi tenaga kerja yang sangat menguntungkan bagi pertumbuhan ekonomi, maka perlu ditempuh beberapa kebijaksanaan bagi peningkatan produktivitas tenaga kerja di Indonesia, antara lain mengenai pengadaan pendidikan dan latihan keterampilan yang lebih berkualitas tingkat produktivitas kerja, memperbaiki keadaan gizi dan kesehatan masyarakat, peningkatan perluasan tenaga kerja, dalam arti kesempatan untuk bekerja yang sesuai dengan pendidikan dan keterampilan masing-masing, adanya kebijaksanaan pemerintah yang mendukung iklim sehat ketenagakerjaan, peningkatan alokasi anggaran untuk pendidikan guna mempertinggi kualitas dan produktivitas tenaga kerja, serta memperbanyak produksi yang berorientasi padat karya. Melalui kebijakan-kebijakan tersebut, diharapkan kualitas dan produktivitas tenaga kerja dapat meningkat, dan pada akhirnya dapat menigkatkan pertumbuhan ekonomi.4. Mengingat hutang luar negeri tidak berpengaruh secara nyata terhadap pertumbuhan ekonomi, maka pemerintah harus mengantisipasinya dengan melakukan tinjauan ulang tentang pemanfaatan hutang luar negeri yang dipakai selama ini agar betul-betul dimanfaatkan secara efektif dan efisien. Untuk itu perlu pengawasan proyek-proyek yang dibiayai dengan hutang
  • 86luar negeri agar lebih menghasilkan dan dapat dijadikan andalan untukmembayar kembali hutang luar negeri jika sudah jatuh tempo. Selain itu,pemerintah harus mengurangi secara relatif jumlah hutang luar negeriuntuk mengurangi ketergantungan terhadap dunia luar, dan memobilisasidana dari dalam negeri untuk mendukung pembangunan, sepertimeningkatkan tabungan domestik sebagai salah satu sumber danapembangunan dan peningkatan penerimaan pemerintah dari perpajakan,khususnya pajak terhadap barang-barang mewah dan pajak pendapatansecara proporsional.
  • DAFTAR PUSTAKAAlgifari., 1997, Analisis Regresi, BPFE, Yogyakarta.Anonim., 1984 – 2003, Statistik Indonesia, Badan Pusat Statistik, Yogyakarta.---------., 2003, Katalog Statistik Indonesia, Badan Pusat Statistik, Yogyakarta.---------., 1984 – 2003, Laporan Tahunan Bank Indonesia, Bank Indonesia, Yogyakarta.Arsyad, Lincolin., 1997, Ekonomi Pembangunan, Bagian Penerbitan STIE YKPN, Yogyakarta.Boediono., 1993, Teori Pertumbuhan Ekonomi, Seri Sinopsis PIE No. 4, BPFE, Yogyakarta.Dumairy., 1996, Perekonomian Indonesia, Penerbit Erlangga, Jakarta.Gujarati, Damodar., 1991, Ekonometrika Dasar, Terjemahan oleh Sumarno Zain, Penerbit Erlangga, Jakarta.Hasibuan, Malayu S.P, 1987, Ekonomi Pembangunan dan Perekonomian Indonesia, Armico, Edisi Revisi, Bandung.Halwani, Hendra., Tjiptoherijanto, Prijono., 1993, Perdagangan Internasional : Pendekatan Ekonomi Mikro dan Makro, Ghalia Indonesia, Jakarta.Iskandar, Ari., 2002, Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Di Indonesia periode 1984-2000, Skripsi : Fakultas Ekonomi- Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.Irawan., M. Suparmoko., 1995, Ekonomika Pembangunan, BPFE, Yogyakarta.
  • Jhingan M.L., 2000, Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, Penerjemah : D. Guritno, Edisi 1, Cet. 8, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.Kusnadi, Ace., 1998, Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Di Jawa Barat periode 1983-1996, Skripsi : Fakultas Ekonomi-Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.Simanjuntak, Payaman., 1985, Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia, LPFE – Universitas Indonesia, Jakarta.Sugianto, Catur., 1995, Ekonometrika Terapan, Edisi ke-1, BPFE, Yogyakarta.Sukirno, Sadono., 1985, Pengantar Teori Ekonomi Makro, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.Todaro, M.P., 1993, Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, Jilid Pertama, Penerbit Erlangga, Jakarta.Todaro, M.P., 1994, Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, jilid kedua, Penerbit Erlangga, Jakarta.Tambunan, Tulus., 2001, Perdagangan Internasional dan Neraca Pembayaran, LP3ES, Jakarta..
  • LAMPIRAN
  • LAMPIRAN 1. DATA DARI ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA PERIODE 1984 - 2003 obs PDB EX FD I L 1984 195730.0 21887.80 3610.000 81.20000 57802.80 1985 200564.6 18586.70 3811.000 145.7000 62457.10 1986 212498.2 14805.00 7018.000 800.7000 68338.20 1987 222613.1 17135.60 7520.000 1239.700 70402.40 1988 236014.4 19218.50 9225.000 4425.900 72175.40 1989 258597.5 22160.20 9763.000 5920.200 73908.20 1990 271958.0 25675.30 10995.00 8751.000 75850.60 1991 290859.1 29142.40 11105.00 8778.200 76423.20 1992 309648.6 33967.00 11814.00 8144.200 78518.40 1993 329775.8 36823.00 12533.00 10313.20 79200.50 1994 354640.8 40053.40 9838.000 23724.30 79665.30 1995 383792.3 45418.00 9009.000 39914.70 80110.10 1996 413797.9 49814.90 11900.00 29931.40 85701.80 1997 433245.9 53443.60 14386.00 33832.50 87049.70 1998 376374.9 48847.60 30225.00 13563.10 87672.40 1999 379557.7 48665.50 43633.00 10890.60 88816.90 2000 397666.3 62016.40 71882.00 13420.00 88837.70 2001 411753.5 56320.90 74232.00 9027.500 90807.40 2002 416942.9 59158.80 66746.00 9789.100 91647.10 2003 444453.5 61058.30 69130.00 13207.20 90784.90PDB : Produk Domestik Bruto (milyar rupiah)EX : Ekspor (juta US $)FD : Hutang Luar Negeri (juta US dollar)I : Investasi (juta US dollar)L : Tenaga Kerja (juta jiwa)
  • LAMPIRAN 2.REGRESI AWAL FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA Dependent Variable: PDB Method: Least Squares Date: 06/25/05 Time: 10:58 Sample: 1984 2003 Included observations: 20 Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. EX 3.058288 0.563614 5.426210 0.0001 FD -0.317588 0.280926 -1.130507 0.2760 I 1.162807 0.472639 2.460242 0.0265 L 3.496445 0.554950 6.300463 0.0000 C -73672.19 34964.98 -2.107028 0.0524 R-squared 0.990445 Mean dependent var 327024.2 Adjusted R-squared 0.987897 S.D. dependent var 84883.95 S.E. of regression 9338.206 Akaike info criterion 21.33393 Sum squared resid 1.31E+09 Schwarz criterion 21.58287 Log likelihood -208.3393 F-statistic 388.7303 Durbin-Watson stat 1.882271 Prob(F-statistic) 0.000000
  • LAMPIRAN 3. UJI HETEROSKEDASTISITAS REGRESI AWAL FAKTOR-FAKTORYANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA White Heteroskedasticity Test: F-statistic 8.352453 Probability 0.001001 Obs*R-squared 17.17295 Probability 0.028358 Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 06/25/05 Time: 11:01 Sample: 1984 2003 Included observations: 20 Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. C -5.11E+09 2.04E+09 -2.505741 0.0292 EX -19659.19 11164.34 -1.760891 0.1060 EX^2 0.526154 0.139321 3.776548 0.0031 FD 22721.92 9387.196 2.420522 0.0340 FD^2 -0.224924 0.092149 -2.440877 0.0328 I 17961.83 14803.35 1.213362 0.2504 I^2 -0.433536 0.267528 -1.620524 0.1334 L 170394.3 56236.00 3.029986 0.0114 L^2 -1.390139 0.406619 -3.418777 0.0057 R-squared 0.858647 Mean dependent var 65401566 Adjusted R-squared 0.755846 S.D. dependent var 1.35E+08 S.E. of regression 66768494 Akaike info criterion 39.17352 Sum squared resid 4.90E+16 Schwarz criterion 39.62160 Log likelihood -382.7352 F-statistic 8.352453 Durbin-Watson stat 2.848248 Prob(F-statistic) 0.001001
  • LAMPIRAN 4.HASIL REGRESI PERBAIKAN HETEROSKEDASTISITASDependent Variable: PDBMethod: Least SquaresDate: 06/25/05 Time: 11:03Sample: 1984 2003Included observations: 20White Heteroskedasticity-Consistent Standard Errors & Covariance Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. EX 3.058288 0.353503 8.651376 0.0000 FD -0.317588 0.305649 -1.039061 0.3152 I 1.162807 0.382669 3.038675 0.0083 L 3.496445 0.471538 7.414986 0.0000 C -73672.19 30712.56 -2.398764 0.0299R-squared 0.990445 Mean dependent var 327024.2Adjusted R-squared 0.987897 S.D. dependent var 84883.95S.E. of regression 9338.206 Akaike info criterion 21.33393Sum squared resid 1.31E+09 Schwarz criterion 21.58287Log likelihood -208.3393 F-statistic 388.7303Durbin-Watson stat 1.882271 Prob(F-statistic) 0.000000
  • LAMPIRAN 5.UJI MULTIKOLINIERITAS VARIABEL EX DENGAN FDDependent Variable: EXMethod: Least SquaresDate: 06/25/05 Time: 11:16Sample: 1984 2003Included observations: 20White Heteroskedasticity-Consistent Standard Errors & Covariance Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. FD 0.505328 0.061550 8.210043 0.0000 C 25870.48 3552.240 7.282864 0.0000R-squared 0.619650 Mean dependent var 38209.95Adjusted R-squared 0.598520 S.D. dependent var 16256.44S.E. of regression 10300.48 Akaike info criterion 21.41241Sum squared resid 1.91E+09 Schwarz criterion 21.51198Log likelihood -212.1241 F-statistic 29.32486Durbin-Watson stat 0.245241 Prob(F-statistic) 0.000038UJI MULTIKOLINIERITAS VARIABEL EX DENGAN IDependent Variable: EXMethod: Least SquaresDate: 06/25/05 Time: 11:17Sample: 1984 2003Included observations: 20White Heteroskedasticity-Consistent Standard Errors & Covariance Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. I 0.826456 0.236279 3.497801 0.0026 C 28048.65 4351.980 6.445033 0.0000R-squared 0.325218 Mean dependent var 38209.95Adjusted R-squared 0.287731 S.D. dependent var 16256.44S.E. of regression 13719.79 Akaike info criterion 21.98571Sum squared resid 3.39E+09 Schwarz criterion 22.08528Log likelihood -217.8571 F-statistic 8.675300Durbin-Watson stat 0.193242 Prob(F-statistic) 0.008653UJI MULTIKOLINIERITAS VARIABEL EX DENGAN LDependent Variable: EXMethod: Least SquaresDate: 06/25/05 Time: 11:21Sample: 1984 2003Included observations: 20White Heteroskedasticity-Consistent Standard Errors & Covariance Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. L 1.522048 0.236362 6.439475 0.0000 C -82501.43 19676.29 -4.192936 0.0005R-squared 0.837857 Mean dependent var 38209.95Adjusted R-squared 0.828849 S.D. dependent var 16256.44S.E. of regression 6725.350 Akaike info criterion 20.55980Sum squared resid 8.14E+08 Schwarz criterion 20.65937Log likelihood -203.5980 F-statistic 93.01321Durbin-Watson stat 0.776340 Prob(F-statistic) 0.000000
  • UJI MULTIKOLINIERITAS VARIABEL FD DENGAN IDependent Variable: FDMethod: Least SquaresDate: 06/25/05 Time: 11:25Sample: 1984 2003Included observations: 20White Heteroskedasticity-Consistent Standard Errors & Covariance Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. I 0.021421 0.340691 0.062876 0.9506 C 24155.37 7772.873 3.107650 0.0061R-squared 0.000090 Mean dependent var 24418.75Adjusted R-squared -0.055461 S.D. dependent var 25323.62S.E. of regression 26016.37 Akaike info criterion 23.26548Sum squared resid 1.22E+10 Schwarz criterion 23.36505Log likelihood -230.6548 F-statistic 0.001621Durbin-Watson stat 0.110818 Prob(F-statistic) 0.968329UJI MULTIKOLINIERITAS VARIABEL FD DENGAN LDependent Variable: FDMethod: Least SquaresDate: 06/25/05 Time: 11:29Sample: 1984 2003Included observations: 20White Heteroskedasticity-Consistent Standard Errors & Covariance Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. L 1.947261 0.455036 4.279357 0.0005 C -130015.6 34663.08 -3.750837 0.0015R-squared 0.565146 Mean dependent var 24418.75Adjusted R-squared 0.540987 S.D. dependent var 25323.62S.E. of regression 17156.87 Akaike info criterion 22.43282Sum squared resid 5.30E+09 Schwarz criterion 22.53240Log likelihood -222.3282 F-statistic 23.39319Durbin-Watson stat 0.284157 Prob(F-statistic) 0.000132UJI MULTIKOLINIERITAS VARIABEL I DENGAN LDependent Variable: IMethod: Least SquaresDate: 06/25/05 Time: 11:31Sample: 1984 2003Included observations: 20White Heteroskedasticity-Consistent Standard Errors & Covariance Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. L 0.585931 0.157180 3.727769 0.0015 C -34174.32 11300.09 -3.024251 0.0073R-squared 0.260778 Mean dependent var 12295.02Adjusted R-squared 0.219710 S.D. dependent var 11217.43S.E. of regression 9908.807 Akaike info criterion 21.33488Sum squared resid 1.77E+09 Schwarz criterion 21.43445Log likelihood -211.3488 F-statistic 6.349920Durbin-Watson stat 0.640104 Prob(F-statistic) 0.021403
  • LAMPIRAN 6. UJI LINIERITASRamsey RESET Test:F-statistic 0.277732 Probability 0.606442Log likelihood ratio 0.392875 Probability 0.530792Test Equation:Dependent Variable: PDBMethod: Least SquaresDate: 06/25/05 Time: 11:13Sample: 1984 2003Included observations: 20White Heteroskedasticity-Consistent Standard Errors & Covariance Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. EX 2.340767 0.868968 2.693733 0.0175 FD -0.304033 0.315451 -0.963804 0.3515 I 0.873854 0.572837 1.525485 0.1494 L 3.018868 0.593719 5.084671 0.0002 C -43132.93 37695.81 -1.144237 0.2717 FITTED^2 3.34E-07 3.80E-07 0.878518 0.3945R-squared 0.990631 Mean dependent var 327024.2Adjusted R-squared 0.987285 S.D. dependent var 84883.95S.E. of regression 9571.488 Akaike info criterion 21.41429Sum squared resid 1.28E+09 Schwarz criterion 21.71301Log likelihood -208.1429 F-statistic 296.0655Durbin-Watson stat 1.863455 Prob(F-statistic) 0.000000
  • LAMPIRAN 7 ESTIMASI TERHADAP MODEL PERSAMAAN BENTUK LINIER MODEL : PDBriil= β 0+ β 1EX+ β 2I+ β 3L+ β 4FD + β 5Z1+ ε Dependent Variable: PDB Method: Least Squares Date: 09/28/05 Time: 09:09 Sample: 1984 2003 Included observations: 20 Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. EX 2.385892 0.790856 3.016847 0.0092 FD 0.150770 0.479940 0.314144 0.7580 I 2.003033 0.843547 2.374537 0.0324 L 3.146597 0.620593 5.070311 0.0002 Z1 -285330.2 238771.3 -1.194993 0.2519 C -41977.29 43498.36 -0.965032 0.3509 R-squared 0.991330 Mean dependent var 327024.2 Adjusted R-squared 0.988233 S.D. dependent var 84883.95 S.E. of regression 9207.763 Akaike info criterion 21.33681 Sum squared resid 1.19E+09 Schwarz criterion 21.63553 Log likelihood -207.3681 F-statistic 320.1435 Durbin-Watson stat 1.701021 Prob(F-statistic) 0.000000ESTIMASI TERHADAP MODEL PERSAMAAN BENTUK LOG LINIER MODEL : LnPDB = β 0+ β 1LnEX+ β 2LnI+ β 3L+ β 4LnFD + β 5Z2+ ε Dependent Variable: LNPDB Method: Least Squares Date: 09/28/05 Time: 09:14 Sample: 1984 2003 Included observations: 20 Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. LNEX 0.345648 0.026260 13.16253 0.0000 LNFD -0.086047 0.022259 -3.865676 0.0017 LNI -0.001803 0.011824 -0.152523 0.8810 LNL 1.486160 0.289177 5.139284 0.0002 Z2 -2.51E-06 1.08E-06 -2.315566 0.0363 C -6.858779 2.866024 -2.393134 0.0313 R-squared 0.994340 Mean dependent var 12.66261 Adjusted R-squared 0.992319 S.D. dependent var 0.278802 S.E. of regression 0.024435 Akaike info criterion -4.342315 Sum squared resid 0.008359 Schwarz criterion -4.043595 Log likelihood 49.42315 F-statistic 491.9307 Durbin-Watson stat 1.974018 Prob(F-statistic) 0.000000