Novel laskar pelangi

3,496 views
3,280 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
3,496
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
23
Actions
Shares
0
Downloads
138
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Novel laskar pelangi

  1. 1. Laskar Pelangi By : Andrea Hirata ISBN : 979-3062-79-7 1 Laskar Pelangi
  2. 2. Novel Laskar Pelangi, novel yang sangat inspiratif bagi yang punyakemampuan rasa buat menangkapnya, maav mas Andrea, karena akutelah membantu melengkapi 10 bab terakhir yang tidak kutemukanpotongan sambungannya di internet, itupun dengan bantuan OCR nyaMicrosoft Office, jadi maklumin saja kalo ada huruf-huruf yang tidaksemestinya tercetak, itu bukan disengaja, tapi karena kemampuan bacaOCR-nya yang mungkin kurang sempurna, thanks buat Caslovb yangudah capek-capek ngetik sampe bab 20, juga thanks buat somebodyyang udah ngetik bab 21 ampe 24. Buat mas Andrea Hirata, makasih.. Seandainya ada pembaca yangterinspirasi dari novel gratis ini, semoga pahalanya jadi amal jariah buatanda. Buat pembaca budiman yang punya apresiasi bagus atas novel versigratis ini, belilah novel aslinya, untuk koleksi pribadi atau “kado” buatorang-orang yang menurut anda perlu juga dapat inspirasi dari novelini.. “Atau sekurang-kurangnya anjurkanlah mereka untuk membeli danmembacanya..” Buat jeyek di fkunri , titik dua -p Adef may 08 Pujian untuk Laskar Pelangi “Saya larut dalam empati yang dalam sekali. Sekiranya novelini difilmkan, akan dapat membangkitkan ruh bangsa yangsedang mati suri.” --Ahmad Syafi’I Maarif, mantan Ketua PP Muhammadiyah “Ramuan pengalaman dan imajinasi yang menarik, yangmenjawab inti pertanyaan kita tentang hubungan-hubunganantara gagasan sederhana, kendala, dan kualitas pendidikan.” 2 Laskar Pelangi
  3. 3. --Sapardi Djoko Damono, sastrawan dan guru Besar Fakultas IlmuBudaya UI “Cerita Laskar Pelangi sangat inspiratif. Andrea menulissebuah novel yang akan mengobarkan semangat mereka yangselalu dirundung kesulitan dalam menempuh pendidikan.” --Arwin Rasyid, Dirut Telkom dan Dosen FEUI. “Inilah cerita yang sangat mengharukan tentang duniapendidikan dengan tokoh-tokoh manusia sederhana, jujur, tulus,gigih, penuh dedikasi, ulet, sabar, tawakal, takwa, [yang]dituturkan secara indah dan cerdas. Pada dasarnya kemiskinantidak berkorelasi langsung dengan kebodohan atau kegeniusan.Sebagai penyakit sosial, kemiskinan harus diperangi denganmetode pendidikan yang tepat guna. Dalam hubungan ituhendaknya semua pihak berpartisipasi aktif sehingga terbangunsebuah monumen kebajikan di tengah arogansi uang &kekuasaan materi.” --Korrie Layun Rampan, sastrawan dan Ketua Komisi I DPRDKutai Barat “Di tengah berbagai berita dan hiburan televisi tentangsekolah yang tak cukup memberi inspirasi dan spirit, maka bukuini adalah pilihan yang menarik. Buku ini ditulis dalam semangatrealis kehidupan sekolah, sebuah dunia tak tersentuh, sebuahsemangat bersama untuk survive dalam semangat humanis yangmenyentuh.” --Garin Nugroho, sineas. “Andrea Hirata memberi kita syair indah tentang keragamandan kekayaan tanah air, sekaligus memberi sebuah pernyataan 3 Laskar Pelangi
  4. 4. keras tentang realita politik, ekonomi, dan situasi pendidikankita. Tokoh-tokoh dalam novel ini membawa saya padakerinduan menjadi orang Indonesia…. A must read!!!” --Riri Riza, sutradara “Sebuah memoar dalam bentuk novel yang sulit dicaritandingannya dalam khazanah kontemporer penulis kita.” --Akmal Nasery Basral, jurnalis-penulis “Saya sangat mengagumi Novel Laskar Pelangi karya MasAndrea Hirata. Ceritanya berkisah tentang perjuangan dua orangguru yang memiliki dedikasi tinggi dalam dunia pendidikan.[Novel ini menunjukkan pada kita] bahwa pendidikan adalahmemberi hati kita kepada anak-anak, bukan sekadar memberikaninstruksi atau komando, dan bahwa setia panak memiliki potensiunggul yang akan tumbuh menjadi prestasi cemerlang padamasa depan, apabila diberi kesempatan dan keteladanan olehorang-orang yang mengerti akan makna pendidikan yangsesungguhnya.” --Kak Seto, Ketua Komnas Perlindungan Anak “Andrea berhasil menyajikan kenangannya menjadi ceritayang menarik. Apalagi dibalut sejumlah metafora dan deskripsiyang kuat, filmis ketika memotret lanskap dan budaya….” --Majalah Tempo “Novel tentang dunia anak-anak yang mencuri perhatian.Berhasil memotret fakta pendidikan dan ironi dunia korporasi ditengah komunitas kaum terpinggirkan.” --Gerard Arijo Guritno, Majalah Gatra 4 Laskar Pelangi
  5. 5. “Secuil potret pendidikan di negara kita yangmemprihatinkan.” --Majalah Femina “Seru! Novel ini tidak mengajak pembaca menangisikemiskinan, sebaliknya mengajak kita memandang kemiskinandengan cara lain.” --Koran Tempo “Sebuah kisah tentang anak-anak yang luar biasa, yangmampu melahirkan semangat serta kreativitas yang men-cengangkan.” --Harian Pikiran Rakyat “Metafora-metafora yang ditulis Andrea demikian kuat karenaunik dan orisinal.” --Harian Tribun Jabar “Kehadiran novel realis ini membawa angin segar bagikesusastraan Indonesia.” --Harian Media Indonesia “Kita akan tertawa, menangis, dan merenung bersama bukuini.” --Harian Belitung Pos “Rasa humor yang halus dan luasnya cakrawala pengetahuanAndrea adalah daya tarik utama Laskar pelangi.” --Harian Bangka Pos “Gaya bahasa yang mengasyikkan, menantang untuk dibaca.” 5 Laskar Pelangi
  6. 6. --Harian galamedia “Sebagai penulis pemula, Andrea menakjubkan karenamampu menampilkan deskripsi dengan detail yang kuat.” --Tabloid Indago “Ketika membaca Laskar Pelangi, kita seolah menemukangabriel Garcia Marquez, Nicolai Gogol, atau Alan Lightman,sebuah bacaan yang sangat inspiratif dan mampu memberikekuatan.” --www.indosiar. com “Buku Laskar Pelangi memberiku semangat baru yang takternilai untuk mengajar murid-murid meskipun kami selaludirundung kesusahan demi kesusahan, meskipun dunia takperduli. Buku ini membuatku sangat bangga menjadi seorangguru.” --Herni Kusyari, guru SD di daerah terpencil. “Andrea seperti sedang trance, menulis Laskar Pelangi dengankadar emosi demikiankental, bertabur metafora penuh pesona,hanya dalam waktu tiga pekan. ” --Rita Achdris, wartawati Majalah Gatra Spekulasi tentang trance ketika ia menulis, setiap kata dalamLaskar Pelangi berasal dari dalam hati Andrea. Moralitashubungan antar ibu, anak, guru, dan murid sangat instingtif danmemikat. Sebagai seorang ibu, aku dapat merasakan buku inimemiliki semacam tenaga telepatik.” --Ida Tejawiani, ibu rumah tangga 6 Laskar Pelangi
  7. 7. “Yang trance bukan Andrea, tapi pembacanya….” --Fadly Arifin, dikutip dari milis pasar buku “Kekuatan deskripsi Andrea membuatku ingin sekaliberjumpa dengan setiap anggota Laskar Pelangi. Kekuatankarakter tokoh-tokohnya membuatku ingin berbuat sesuatuuntuk membantu murid-murid cerdas yang miskin. LaskarPelangi adalah sebuah buku yang sangat menggerakkan hatiuntuk berbuat lebih banyak.” --Febi Liana, karyawati di Jakarta, pencinta buku 7 Laskar Pelangi
  8. 8. Buku ini kupersembahkan untuk: Guruku Ibu Muslimah Hafsari dan Bapak Harfan Effendy Noor, Sepuluh sahabat masa kecilku anggota Laskar Pelangi, Ucapan Terima Kasih.. Ucapan terima kasih kusampaikan kepada Ally, Katja Kochling, Saskia de Rooij, Basuni Hamin, Cindy Riza Stella, Heldy Suliswan Hirata, Yan Sancin, Zaharudin, Roxane,Resval, Gatot Indra, Olan, Hazuan Seman Said, K.A. Arizal Artan,Okin di Telkom Jember, dan terutama untuk Mas Gangsar Sukrisno serta Mbak Suhindratia. Shinta di Bentang Pustaka. Isi Buku Ucapan Terima Kasih Bab 1 Sepuluh Murid baru Bab 2 Antediluvium Bab 3 Inisiasi Bab 4 Perempuan-Perempuan Perkasa Bab 5 The Tower of Babel Bab 6 Gedong Bab 7 Zoom Out Bab 8 Center of Excellence Bab 9 Penyakit Gila No. 5 Bab 10 Bodenga Bab 11 Langit Ketujuh Bab 12 Mahar Bab 13 Jam Tangan Plastik Murahan Bab 14 Laskar Pelangi dan Orang-Orang Sawang 8 Laskar Pelangi
  9. 9. Bab 15 Euforia Musim HujanBab 16 Puisi Surga dan Kawanan Burung Pelintang PulauBab 17 Ada Cinta di Toko Kelontong Bobrok ItuBab 18 MoranBab 19 Sebuah Kejahatan TerencanaBab 20 Miang SuiBab 21 RinduBab 22 Early Morning blueBab 23 BillitoniteBab 24 Tuk Bayan TulaBab 25 Rencana BBab 26 Be There or Be Damned!Bab 27 Detik-Detik KebenaranBab 28 Societeit de LimpaiBab 29 Pulau LanunBab 30 Elvis Has Left the BuildingDua belas tahun kemudianBab 31 Zaal BatuBab 32 AgnostikBab 33 AnakronismeBab 34 GotikGlosariumTentang Penulis ***** “… and to every action there is always an equal and opposite or contrary, reaction …” Isaac newton, 1643-1727 9 Laskar Pelangi
  10. 10. Bab 1 Sepuluh Murid Baru PAGI itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di bangku panjangdi depan sebuah kelas. Sebatang pohon tua yang riangmeneduhiku. Ayahku duduk di sampingku, memeluk pundakkudengan kedua lengannya dan tersenyum mengangguk-angguk padasetiap orangtua dan anak-anaknya yang duduk berderet-deret dibangku panjang lain di depan kami. Hari itu adalah hari yang agakpenting: hari pertama masuk SD. Di ujung bangku-bangku panjangtadi ada sebuah pintu terbuka. Kosen pintu itu miring karena seluruhbangunan sekolah sudah doyong seolah akan roboh. Di mulut pintuberdiri dua orang guru seperti para penyambut tamu dalamperhelatan. Mereka adalah seorang bapak tua berwajah sabar,Bapak K.A. Harfan Efendy Noor, sang kepala sekolah dan seorangwanita muda berjilbab, Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu Mus.Seperti ayahku, mereka berdua juga tersenyum. Namun, senyum Bu Mus adalah senyum getir yangdipaksakan karena tampak jelas beliau sedang cemas. Wajahnyategang dan gerak-geriknya gelisah. Ia berulang kali menghitungjumlah anak-anak yang duduk di bangku panjang. Ia demikian 10 Laskar Pelangi
  11. 11. khawatir sehingga tak peduli pada peluh yang mengalir masuk kepelupuk matanya. Titik-titik keringat yang bertimbulan di seputarhidungnya menghapus bedak tepung beras yang dikenakannya,membuat wajahnya coreng moreng seperti pameran emban bagipermaisuri dalam Dul Muluk, sandiwara kuno kampung kami. “Sembilan orang … baru sembilan orang Pamanda Guru,masih kurang satu…,” katanya gusar pada bapak kepala sekolah.Pak Harfan menatapnya kosong. Aku juga merasa cemas. Aku cemas karena melihat Bu Musyang resah dan karena beban perasaan ayahku menjalar ke sekujurtubuhku. Meskipun beliau begitu ramah pagi ini tapi lengankasarnya yang melingkari leherku mengalirkan degup jantung yangcepat. Aku tahu beliau sedang gugup dan aku maklum bahwa takmudah bagi seorang pria berusia empat puluh tujuh tahun, seorangburuh tambang yang beranak banyak dan bergaji kecil, untukmenyerahkan anak laki-lakinya ke sekolah. Lebih mudahmenyerahkannya pada tauke pasar pagi untuk jadi tukang parutatau pada juragan pantai untuk menjadi kuli kopra agar dapatmembantu ekonomi keluarga. Menyekolahkan anak berartimengikatkan diri pada biaya selama belasan tahun dan hal itubukan perkara gampang bagi keluarga kami. “Kasihan ayahku ….. Maka aku tak sampai hati memandang wajahnya. “Barangkali sebaiknya aku pulang saja, melupakan keinginansekolah, dan mengikuti jejak beberapa abang dan sepupu-sepupuku, menjadi kuli ….. Tapi agaknya bukan hanya ayahku yang gentar. Setiap wajahorangtua di depanku mengesankan bahwa mereka tidak sedangduduk di bangku panjang itu, karena pikiran mereka, seperti pikiranayahku, melayang-layang ke pasar pagi atau ke keramba di tepianlaut membayangkan anak lelakinya lebih baik menjadi pesuruh disana. Para orangtua ini sama sekali tak yakin bahwa pendidikananaknya yang hanya mampu mereka biayai paling tinggi sampai 11 Laskar Pelangi
  12. 12. SMP akan dapat mempercerah masa depan keluarga. Pagi inimereka terpaksa berada di sekolah ini untuk menghindarkan diridari celaan aparat desa karena tak menyekolahkan anak atausebagai orang yang terjebak tuntutan zaman baru, tuntutanmemerdekakan anak dari buta huruf. Aku mengenal para orangtua dan anak-anaknya yang dudukdi depanku. Kecuali seorang anak lelaki kecil kotor berambutkeriting merah yang meronta-ronta dari pegangan ayahnya.Ayahnya itu tak beralas kaki dan bercelana kain belacu. Aku takmengenal anak beranak itu. Selebihnya adalah teman baikku. Trapani misalnya, yangduduk di pangkuan ibunya, atau Kucai yang duduk di sampingayahnya, atau Syahdan yang tak diantar siapa-siapa. Kamibertetangga dan kami adalah orang-orang Melayu belitong darisebuah komunitas yang paling miskin di pulau itu. Adapun sekolahini, SD Muhammadiyah, juga sekolah kampung yang paling miskindi Belitong. Ada tiga alasan mengapa para orangtua mendaftarkan-anaknya di sini. Pertama, karena sekolah Muhammadiyah tidakmenetapkan iuran dalam bentuk apa pun, para orangtua hanyamenyumbang sukarela semampu mereka. Kedua, karena firasat,-anak-anak mereka dianggap memiliki karakter yang mudahdisesatkan iblis sehingga sejak usia muda harus mendapatkanpendadaran Islam yang tangguh. Ketiga, karena anaknya memangtak diterima di sekolah mana pun. Bu Mus yang semakin khawatir memancang pandangannya kejalan raya di seberang lapangan sekolah berharap kalau-kalau masihada pendaftar baru . Kami prihatin melihat harapan hampa itu.Maka tidak seperti suasana di SD lain yang penuh kegembiraanketika menerima murid angkatan baru, suasana hari pertama di SDMuhammadiyah penuh dengan kerisauan, dan yang paling risauadalah Bu Mus dan Pak Harfan. Guru-guru yang sederhana ini berada dalam situasi gentingkarena Pengawas Sekolah dari Depdikbud Sumsel telahmemperingatkan bahwa jika SD Muhammadiyah hanya mendapatmurid baru kurang dari sepuluh orang maka sekolah paling tua di 12 Laskar Pelangi
  13. 13. Belitong ini harus ditutup. Karena itu sekarang Bu Mus dan PakHarfan cemas sebab sekolah mereka akan tamat riwayatnya,sedangkan para orangtua cemas karena biaya, dan kami, sembilananak-anak kecil ini yang terperangkap di tengah cemas kalau- kalaukami tak jadi sekolah. Tahun lalu SD Muhammadiyah hanya mendapatkan sebelassiswa, dan tahun ini Pak Harfan pesimis dapat memenuhi targetsepuluh. Maka diam-diam beliau telah mempersiapkan sebuahpidato pembubaran sekolah di depan para orangtua murid padakesempatan pagi ini. Kenyataan bahwa beliau hanya memerlukansatu siswa lagi untuk memenuhi target itu menyebabkan pidato iniakan menjadi sesuatu yang menyakitkan hati. “Kita tunggu sampai pukul sebelas,” kata Pak Harfan pada BuMus dan seluruh orangtua yang telah pasrah. Suasana hening. Para orang tua mungkin menganggap kekurangan satu muridsebagai pertanda bagi anak-anaknya bahwa mereka memang sebaiknya didaftarkan pada para juragan saja. Sedangkan aku danagaknya juga anak-anak yang lain merasa amat pedih: pedih padaorangtua kami yang tak mampu, pedih menyaksikan detik-detikterakhir sebuah sekolah tua yang tutup justru pada hari pertamakami ingin sekolah, dan pedih pada niat kuat kami untuk belajar tapitinggal selangkah lagi harus terhenti hanya karena kekurangan satumurid. Kami menunduk dalam-dalam. Saat itu sudah pukul sebelas kurang lima dan Bu Mus semakingundah. Lima tahun pengabdiannya di sekolah melarat yang amatia cintai dan tiga puluh dua tahun pengabdian tanpa pamrih padaPak Harfan, pamannya, akan berakhir di pagi yang sendu ini. “Baru sembilan orang Pamanda Guru …,” ucap Bu Musbergetar sekali lagi. Ia sudah tak bisa berpikir jernih. Ia berulang kalimengucapkan hal yang sama yang telah diketahui semua orang.Suaranya berat selayaknya orang yang tertekan batinnya. Akhirnya, waktu habis karena telah pukul sebelas lewat limadan jumlah murid tak juga genap sepuluh. Semangat besarku untuk 13 Laskar Pelangi
  14. 14. sekolah perlahan-lahan runtuh. Aku melepaskan lengan ayahku daripundakku. Sahara menangis terisak-isak mendekap ibunya karenaia benar-benar ingin sekolah di SD Muhammadiyah. Ia memakaisepatu, kaus kaki, jilbab, dan baju, serta telah punya buku-buku,botol air minum, dan tas punggung yang semuanya baru. Pak Harfan menghampiri orangtua murid dan menyalamimereka satu per satu. Sebuah pemandangan yang pilu. Paraorangtua menepuk-nepuk bahunya untuk membesarkan hatinya.Mata Bu Mus berkilauan karena air mata yang menggenang. PakHarfan berdiri di depan para orangtua, wajahnya muram. Beliaubersiap-siap memberikan pidato terakhir. Wajahnya tampak putusasa. Namun ketika beliau akan mengucapkan kata pertamaAssalamu’alaikum seluruh hadirin terperanjat karena Tripaniberteriak sambil menunjuk ke pinggir lapangan rumput luas halamansekolah itu. “Harun!. Kami serentak menoleh dan di kejauhan tampak seorang priakurus tinggi berjalar terseok-seok. Pakaian dan sisiran rambutnyasangat rapi. Ia berkemeja lengan panjang putih yang dimasukkan kedalam. Kaki dan langkahnya membentuk huruf x sehingga jikaberjalan seluruh tubuhnya bergoyang-goyang hebat. Seorang wanitagemuk setengah baya yang berseri-seri susah payah memeganginya.Pria itu adalah Harun, pria jenaka sahabat kami semua, yang sudahberusia lima belas tahun dan agak terbelakang mentalnya. Ia sangatgembira dan berjalan cepat setengah berlari tak sabar menghampirikami. Ia tak menghiraukan ibunya yang tercepuk-cepuk kewalahanmenggandeng-nya. Mereka berdua hampir kehabisan napas ketika tiba di depanPak Harfan. “Bapak Guru …, ” kata ibunya terengah-engah. “Terimalah Harun, Pak, karena SLB hanya ada di PulauBangka, dan kami tak punya biaya untuk menyekolahkannya ke 14 Laskar Pelangi
  15. 15. sana. Lagi pula lebih baik kutitipkan dia disekolah ini daripada dirumah ia hanya mengejar -ngejar anak-anak ayamku ….. Harun tersenyum lebar memamerkan gigi-giginya yang kuningpanjang-panjang. Pak Harfan juga terseyum, beliau melirik Bu Mussambil mengangkat bahunya. “Genap sepuluh orang …,” katanya. Harun telah menyelamatkan kami dan kami pun bersorak.Sahara berdiri tegak merapikan lipatan jilbabnya & menyandangtasnya dengan gagah, ia tak mau duduk lagi. Bu Mus tersipu. Air mata guru muda ini surut dan ia menyekakeringat di wajahnya yang belepotan karena bercampur denganbedak tepung beras. 15 Laskar Pelangi
  16. 16. Bab 2 Antediluvium IBU Muslimah yang beberapa menit lalu sembab, gelisah, dancoreng-moreng kini menjelma menjadi sekuntum Crinumgiganteum. Sebab tiba-tiba ia mekar sumringah dan posturnya yangjangkung persis tangkai bunga itu. Kerudungnya juga berwarnabunga crinum demikian pula bau bajunya, persis crinum yang miripbau vanili. Sekarang dengan ceria beliau mengatur tempat dudukkami. Bu Mus mendekati setiap orangtua murid di bangku panjangtadi, berdialog sebentar dengan ramah, dan mengabsen kami.Semua telah masuk ke dalam kelas, telah mendapatkan temansebangkunya masing-masing, kecuali aku dan anak laki-laki kecilkotor berambut keriting merah yang tak kukenal tadi. Ia tak bisatenang. Anak ini berbau hangus seperti karet terbakar. “Anak Pak Cik akan sebangku dengan Lintang,” kata Bu Muspada ayahku. Oh, itulah rupanya namanya, Lintang, sebuah nama yanganeh. Mendengar keputusan itu Lintang meronta-ronta ingin segeramasuk kelas. Ayahnya berusaha keras menenangkannya, tapi ia 16 Laskar Pelangi
  17. 17. memberontak, menepis pegangan ayahnya, melonjak, danmenghambur ke dalam kelas mencari bangku kosongnya sendiri. Dibangku itu ia seumpama balita yang dinaikkan ke atas tank, girangtak alang kepalang, tak mau turun lagi. Ayah nya telah melepaskanbelut yang licin itu, dan anaknya baru saja meloncati nasib, merebutpendidikan. Bu Mus menghampiri ayah Lintang. Pria itu berpotonganseperti pohon cemara angin yang mati karena disambar petir: hitam,meranggas, kurus, dan kaku. Beliau adalah seorang nelayan, namunpembukaan wajahnya yang mirip orang Bushman adalah raut wajahyang lembut, baik hati, dan menyimpan harap. Beliau pastitermasuk dalam sebagian besar warga negara Indonesia yangmenganggap bahwa pendidikan bukan hak asasi. Tidak seperti kebanyakan nelayan, nada bicaranya pelan. Lalubeliau bercerita pada Bu Mus bahwa kemarin sore kawalaburungpelintang pulau mengunjungi pesisir. Burung-burung keramat ituhinggap sebentar di puncak pohon ketapang demi menebarpertanda bahwa laut akan diaduk badai. Cuaca cenderung semakinmemburuk akhir-akhir ini maka hasil melaut tak pernah memadai.Apalagi ia hanya semacam petani penggarap, bukan karena ia takpunya laut, tapi karena ia tak punya perahu. Agaknya selama turun temurun keluarga laki-laki cemaraangin itu tak mampu terangkat dari endemik kemiskinan komunitasMelayu yang menjadi nelayan. Tahun ini beliau meng-inginkanperubahan dan ia memutuskan anak laki-laki tertuanya, Lintang, takakan menjadi seperti dirinya. Lintang akan dudu k di samping priakecil berambut ikal yaitu aku, dan ia akan sekolah di sini lalu pulangpergi setiap hari naik sepeda. Jika panggilan nasibnya memangharus menjadi nelayan maka biarkan jalan kerikil batu merah empatpuluh kilometer mematahkan semangatnya. Bau hangus yangkucium tadi ternyata adalah bau sandal cunghai, yakni sandal yangdibuat dari ban mobil, yang aus karena Lintang terlalu jauhmengayuh sepeda. Keluarga Lintang berasal dari Tanjong Kelumpang, desa nunjauh di pinggir laut. Menuju kesana harus melewati empat kawasan 17 Laskar Pelangi
  18. 18. pohon nipah, tempat berawa-rawa yang dianggap seram dikampung kami. Selainitu di sana juga tak jarang buaya sebesarpangkal pohon sagu melintasi jalan. Kampung pesisir itu secarageografis dapat dikatakan sebagai wilayah paling timur di Sumatra,daerah minus nun jauh masuk ke pedalaman Pulau Belitong. BagiLintang, kota kecamatan, tempat sekolah kami ini, adalahmetropolitan yang harus ditempuh dengan sepeda sejak subuh. Ah!Anak sekecil itu …. Ketika aku menyusul Lintang kedalam kelas ia menyalamikudengan kuat seperti pegangan tangan calon mertua yang menerimapinangan. Energi yang berlebihan di tubuhnya serta-merta menjalarpadaku laksana tersengat listrik. Ia berbicara tak henti- henti penuhminat dengan dialek Belitong yang lucu, tipikal orang Belitongpelosok. Bola matanya bergerak-gerak cepat dan menyala-nyala. Iaseperti pilea, bunga meriam itu, yang jika butiran air jatuh di atasdaunnya, ia melontarkan tepung sari, semarak, spontan, mekar, danpenuh daya hidup. Di dekatnya, aku merasa seperti ditantangmengambil ancang-ancang untuk sprint seratus meter. Sekencangapa engkau berlari? Begitulah makna tatapannya. Aku sendiri masih bingung. Terlalu banyak perasaan untukditanggung seorang anak kecil dalam waktu demikian singkat.Cemas, senang, gugup, malu, teman baru, guru baru … semuanyabercampur aduk. Ditambah lagi satu perasaan ngilu karenasepasang sepatu baru yang dibelikan ibuku. Sepatu ini selalukusembunyikan ke belakang. Aku selalu menekuk lututku karenawarna sepatu itu hitam bergaris-garis putih maka ia tampak sepertisepatu sepak bola, jelek sekali. Bahannya pun dari plastik yangkeras. Abang-abangku sakit perut menahan tawa melihat sepatu ituwaktu kami sarapan pagi tadi. Tapi pandangan ayahku menyuruhmereka bungkam, membuat perut mereka k aku. Kakiku sakit danhatiku malu dibuat sepatu ini. Sementara itu, kepala Lintang terus berputar-putar sepertiburung hantu. Baginya, penggaris kayu satu meter, vas bunga tanahliat hasil prakarya anak kelas enam di atas meja Bu Mus, papan tulislusuh, dan kapur tumpul yang berserakan di atas lantai kelas yang 18 Laskar Pelangi
  19. 19. sebagian telah menjadi tanah, adalah benda-benda yangmenakjubkan. Kemudian kulihat lagi pria cemara anginitu. Melihat anaknyademikian bergairah ia tersenyum getir. Aku mengerti bahwa pirayang tak tahu tanggal dan bulan kelahirannya itu gamangmembayangkan kehancuran hati anaknya jika sampai drop out saatkelas dua atau tiga SMP nanti karena alasan klasik: biaya atautuntutan nafkah. Bagi beliau pendidikan adalah enigma, sebuahmisteri. Dari empat garis generasi yang diingatnya, baru Lintangyang sekolah. Generasi kelima sebelumnya adalah masaantediluvium, suatu masa yang amat lampau ketika orang-orangMelayu masih berkelana sebagai nomad. Mereka berpakaian kulitkayu dan menyembah bulan. UMUMNYA Bu Mus mengelompokkan tempat duduk kamiberdasarkan kemiripan. Aku dan Lintang sebangku karena kamisama-sama berambut ikal. Trapani duduk dengan Mahar karenamereka berdua paling tampan. Penampilan mereka seperti parapenaltun irama semenanjung idola orang Melayu pedalaman.Trapani tak tertarik dengan kelas, ia mencuri-curi pandang kejendela, melirik kepala ibunya yang muncul sekali-sekali di antarakepala orangtua lainnya. Tapi Borek, (bacanya Bore’, “e”-nya itu seperti membaca elang,bukan seperti menyebut “e” pada kata edan, dan “k ”-nya itu bukan“k” penuh, Anda tentu paham maksud saya) dan Kucai didudukkanberdua bukan karena mereka mirip tapi karena sama-sama susahdiatur. Baru beberapa saat di kelas Borek sudah mencoreng mukaKucai dengan penghapus papan tulis. Tingkah ini diikuti Saharayang sengaja menumpahkan air minum A Kiong sehingga anakHokian itu menangis sejadi-jadinya seperti orang ketakutan dipeluksetan. N.A. Sahara Aulia Fadillah binti K.A. Muslim RamdhaniFadillah, gadis kecil berkerudung itu, memang keras kepala luarbiasa. Kejadian itu menandai perseteruan mereka yang akanberlangsung akut bertahun-tahun. Tangisan A Kiong nyaris merusakacara perkenalan yang menyenangkan pagi itu. Sebaliknya, bagikupagi itu adalah pagi yang tak terlupakan sampai puluhan tahunmendatang karena pagi itu aku melihat Lintang dengan canggung 19 Laskar Pelangi
  20. 20. menggenggam sebuah pensil besar yang belum diserut sepertimemegang sebilah belati. Ayahnya pasti telah keliru membeli pensilkarena pensil itu memiliki warna yang berbeda di kedua ujungnya.Salah satu ujungnya berwarna merah dan ujung lainnya biru.Bukankah pensil semacam itu dipakai para tukang jahit untukmenggaris kain? Atau para tukang sol sepatu untuk membuat garispola pada permukaan kulit? Sama sekali bukan untuk menulis. Buku yang dibeli juga keliru. Buku bersampul biru tua itu bergaristiga. Bukankah buku semacam itu baru akan kami pakai nanti saatkelas dua untuk pelajaran menulis rangkai indah? Hal yang tak akanpernah kulupakan adalah bahwa pagi itu aku menyaksikan seoranganak pesisir melarat—teman sebangku—untuk pertama kalinyamemegang pensil dan buku, dan kemudian pada tahun-tahunberikutnya, setiap apa pun yang ditulisnya merupakan buah pikiranyang gilang gemilang, karena nanti ia—seorang anak miskinpesisir—akan menerangi nebula yang melingkupi sekolah miskininisebab ia akan berkembang menjadi manusia paling genius yangpernah kujumpai seumur hidupku. ******** 20 Laskar Pelangi
  21. 21. Bab 3 Inisiasi TAK susah melukiskan sekolah kami, karena sekolah kamiadalah salah satu dari ratusan atau mungkin ribuan sekolah miskindi seantero negeri ini yang jika disenggol sedikit saja oleh kambingyang senewen ingin kawin, bisa rubuh berantakan. Kami memiliki enam kelas kecil-kecil, pagi untuk SDMuhammadiyah dan sore untuk SMP Muhammadiyah. Maka kami,sepuluh siswa baru ini bercokol selama sembilan tahun di sekolahyang sama dan kelas-kelas yang sama, bahkan susunan kawansebangku pun tak berubah selama sembilan tahun SD dan SMP itu. Kami kekurangan guru dan sebagian besar siswa SDMuhammadiyah ke sekolah memakai sandal. Kami bahkan takpunya seragam. Kami juga tak punya kotak P3K. Jika kami sakit,sakit apa pun: diare, bengkak, batuk, flu, atau gatal-gatal maka gurukami akan memberikan sebuah pil berwarna putih, berukuran besarbulat seperti kancing jas hujan, yang rasanya sangat pahit. Jikadiminum kita bisa merasa kenyang. Pada pil itu ada tulisan besarAPC. Itulah pil APC yang legendaris di kalangan rakyat pinggiran 21 Laskar Pelangi
  22. 22. Belitong. Obat ajaib yang bisa menyembuhkan segala rupapenyakit. Sekolah Muhammadiyah tak pernah dikunjungi pejabat,penjual kaligrafi, pengawas sekolah, apalagi anggota dewan. Yangrutin berkunjung hanyalah seorang pria yang berpakaian sepertininja. Di punggungnya tergantung sebuah tabung aluminium besardengan slang yang menjalar ke sana kemari. Ia seperti akanberangkat ke bulan. Pria ini adalah utusan dari dinas kesehatanyang menyemprot sarang nyamuk dengan DDT. Ketika asap putihtebal mengepul seperti kebakaran hebat, kami pun bersorak- sorakkegirangan. Sekolah kami tidak dijaga karena tidak ada benda berhargayang layak dicuri. Satu-satunya benda yang menandakan bangunanitu sekolah adalah sebatang tiang bendera dari bambu kuning dansebuah papan tulis hijau yang tergantung miring di dekat lonceng.Lonceng kami adalah besi bulat berlubang-lubang bekas tungku. Dipapan tulis itu terpampang gambar matahari dengan garis- garissinar berwarna putih. Di tengahnya tertulis: SD MD Sekolah Dasar Muhammadiyah Lalu persis di bawah mathari tadi tertera huruf-huruf arabgundul yang nanti setelah kelas dua, setelah aku pandai membacahuruf arab, aku tahu bahwa tulisan itu berbunyi amar makruf nahimungkarartinya: menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dariyang mungkar”. Itulah pedoman utama warga Muhammadiyah. Kata-kata itumelekat dalam kalbu kami sampai dewasa nanti. Kata-kata yangbegitu kami kenal seperti kami mengenal bau alami ibu-ibu kami.Jika dilihat dari jauh sekolah kami seolah akan tumpah karena tiang-tiang kayu yang tua sudah tak tegak menahan atap sirap yang berat. Maka, sekolah kami sangat mirip gudang kopra. Konstruksibangunan yang menyalahi prinsip arsitektur ini menyebabkan takada daun pintu dan jendela yang bisa dikun ci karena sudah tidaksimetris dengan rangkakusennya. Tapi buat apa pula dikunci? Didalam kelas kami tidak terdapat tempelan poster operasi kali-kalian 22 Laskar Pelangi
  23. 23. seperti umumnya terdapat di kelas-kelas sekolah dasar. Kami jugatidak memiliki kalender dan tak ada gambar presiden dan wakilnya,atau gambar seekor burung aneh berekor delapan helai yang selalumenoleh ke kanan itu. Satu-satunya tempelan di sana adalahsebuah poster, persis di belakang meja Bu Mus untuk menutupilubang besar di dinding papan. Poster itu memperlihatkan gambarseorang pria berjenggot lebat, memakai jubah, dan ia memegangsebuah gitar penuh gaya. Matanya sayu tapi meradang, seperti telahmengalami cobaan hidup yang mahadahsyat. Dan agaknya iamemang telah bertekad bulat melawan segala bentuk kemaksiatandi muka bumi. Di dalam gambar tersebut sang pria tadi melongok kelangit dan banyak sekali uang-uang kertas serta logam berjatuhanmenimpa wajahnya. Di bagian bawah poster itu terdapat dua bariskalimat yang tak kupahami. Tapi nanti setelah naik ke kelas dua dansudah pintar membaca, aku mengerti bunyi kedua kalimat ituadalah: RHOMA IRAMA, HUJAN DUIT! Maka pada intinya tak ada yang baru dalam pembicaraantentang sekolah yang atapnya bocor, berdinding papan, berlantaitanah, atau yang kalau malam dipakai untuk menyimpan ternak,semua itu telah dialami oleh sekolah kami. Lebih menarikmembicarakan tentang orang-orang seperti apa yang relamenghabiskan hidupnya bertahan di sekolah semacam ini. Orang-orang itu tentu saja kepala sekolah kami Pak K.A. Harfan EfendyNoor bin K.A. Fadillah Zein Noor dan Ibu N.A. Muslimah HafsariHamid binti K.A. Abdul Hamid. Pak Harfan, seperti halnya sekolah ini, tak susah digambarkan.Kumisnya tebal, cabangnya tersambung pada jenggot lebatberwarna kecokelatan yang kusam dan beruban. Hemat kata,wajahnya mirip Tom Hanks, tapi hanya Tom Hanks di dalam film dimana ia terdampar di sebuah pulau sepi, tujuh belas bulan tidakpernah bertemu manusia dan mulai berbicara dengan sebuah bolavoli. Jika kita bertanya tentang jenggotnya yang awut-awtuan, beliautidak akan repot-repot berdalih tapi segera menyodorkan sebuahbuku karya Maulana Muhammad Zakariyya Al Kandhallawi Rah,R.A. yang berjudul Keutamaan Memelihara Jenggot . Cukupmembaca pengantarnya saja Anda akan merasa malu sudahbertanya. K.A. pada nama depan Pak Harfan berarti Ki Agus. Gelar 23 Laskar Pelangi
  24. 24. K.A. mengalir dalam garis laki-laki silsilah Kerajaan Belitong. Selamapuluhan tahun keluarga besar yang amat bersahaja ini berdiri padagarda depan pendidikan di sana. Pak Harfan telah puluhan tahunmengabdi di sekolah Muhammadiyah nyaris tanpa imbalan apa pundemi motif syiar Islam. Beliau menghidupi keluarga dari sebidangkebun palawija di pekarangan rumahnya. Hari ini Pak Harfan mengenakan baju takwa yang dulu pastiberwarna hijau tapi kini warnanya pudar menjadi putih. Bekas-bekas warna hijau masih kelihatan di baju itu. Kaus dalamnyaberlubang di beberapa bagian dan beliau mengenakan celanapanjang yang lusuh karena terlalu sering dicuci. Seutas ikatpinggang plastik murahan bermotif ketupat melilit tubuhnya. Lubangikat pinggang itu banyak berderet-deret, mungkin telah dipakai sejakbeliau berusia belasan. Karena penampilan Pak Harfan agak seperti beruang madumaka ketika pertama kali melihatnya kami merasa takut. Anak kecilyang tak kuat mental bisa-bisa langsung terkena sawan. Namun,ketika beliau angkat bicara, tak dinyana, meluncurlah mutiara-mutiara nan puitis sebagai prolog penerimaan selamat datang penuhatmosfer sukacita di sekolahnya yang sederhana. Kemudian dalamwaktu yang amat singkat beliau telah merebut hati kami. Bapakyang jahitan kerah kemejanya telah lepas itu bercerita tentangperahu Nabi Nuh serta pasangan-pasangan binatang yang selamatdari banjir bandang. “Mereka yang ingkar telah diingatkan bahwaair bah akan datang …,” demikian ceritanya dengan wajah penuhpenghayatan. “Namun, kesombongan membutakan mata dan menulikantelinga mereka, hingga mereka musnah dilamun ombak ….. Sebuah kisah yang sangat mengesankan. Pelajaran moralpertama bagiku: jika tak rajin sahalat maka pandai-pandailahberenang. Cerita selanjutnya sangat memukau. Sebuah ceritapeperangan besar zaman Rasulullah di mana kekuatan dibentukoleh iman bukan oleh jumlah tentara: perang Badar! Tiga ratus tiga 24 Laskar Pelangi
  25. 25. belas tentara Islam mengalahkan ribuan tentara Quraisy yang kalapdan bersenjata lengkap. “Ketahuilah wahai keluarga Ghudar, berangkatlah kalian ketempat-tempat kematian kalian dalam masa tiga hari!” DemikianPak Harfan berteriak lantang sambil menatap langit melalui jendelakelas kami. Beliau memekikkan firasat mimpi seorang pendudukMekkah, firasat kehancuran Quraisy dalam kehebatan perangBadar. Mendengar teriakan itu rasanya aku ingin melonjak daritempat duduk. Kami ternganga karena suara Pak Harfan yang beratmenggetarkan benang-ben ang halus dalam kalbu kami. Kamimenanti liku demi liku cerita dalam detik-detik menegangkandengan dada berkobar-kobar ingin membela perjuangan parapenegak Islam. Lalu Pak Harfan mendinginkan suasana yangberkisah tentang penderitaan dan tekanan yang dialami seorang priabernama Zubair bin Awam. Dulu nun di tahun 1929 tokoh inibersusah payah, seperti kesulitan Rasulullah ketika pertama tiba diMadinah, mendirikan sekolah dari jerjak kayu bulat seperti kandang.Itulah sekolah pertama di Belitong. Kemudian muncul para tokohseperti K.A. Abdul Hamid dan Ibrahim bin Zaidin yang berkorbanhabis-habisan melanjutkan sekolah kandang itu menjadi sekolahMuhammadiyah. Sekolah ini adalah sekolah Islam pertama diBelitong, bahkan mungkin di Sumatra Selatan. Pak Harfanmenceritakan semua itu dengan semangat perang badar sekaligussetenang hembusan angin pagi. Kami terpesona pada setiap pilihankata dan gerak lakunya yang memikat. Ada semacam pengaruhyang lembut dan baik terpancar darinya. Ia mengesankan sebagaipria yang kenyang akan pahit getir perjuangan dan kesusahanhidup, berpengetahuan seluas samudra, bijak, berani mengambilrisiko, dan menikmati daya tarik dalam mencari-cari bagaimana caramenjelaskan sesuatu agar setiap orang mengerti. Pak Harfan tampak amat bahagia menghadapi murid, tipikal“guru” yang sesungguhnya, seperti dalam lingua asalnya, India,yaitu orang yang tak hanya mentransfer sebuah pelajaran, tapi jugayang secara pribadi menjadi sahabat dan pembimbing spiritual bagimuridnya. Beliau sering men aikturunkan intonasi, menekan kedua 25 Laskar Pelangi
  26. 26. ujung meja sambil mempertegas kata-kata tertentu, dan mengangkatkedua tangannya laksana orang berdoa minta hujan. Ketika mengajukan pertanyaan beliau berlari-lari kecilmendekati kami, menatap kami penuh arti dengan pandanganmatanya yang teduh seolah kami adalah anak-anak Melayu yangpaling berharga. Lalu membisikkan sesuatu di telinga kami, menyitirdengan lancarayat-ayat suci, menantang pengetahuan kami,berpantun, membelai hati kami dengan wawasan ilmu, lalu diam,diam berpikir seperti kekasih merindu, indah sekali. Beliau menorehkan benang merah kebenaran hidup yangsederhana melalui kata- katanya yang ringan namun bertenagaseumpama titik-titik air hujan. Beliau mengobarkan semangat kamiutnuk belajar dan membuat kami tercengang dengan petuahnyatentang keberanian pantang men yerah melawan kesulitan apa pun.Pak Harfan memberi kami pelajaran pertama tentang keteguhanpendirian, tentang ketekun an, tentang keinginan kuat untukmencapai cita- cita. Beliau meyakinkan kami bahwa hidup bisademikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengankeikhlasan berkorban untuk sesama. Lalu beliau menyampaikansebuah prinsip yang diam-diam menyelinap jauh ke dalam dadakuserta memberi arah bagiku hingga dewasa, yaitu bahwa hiduplahuntuk memberi sebanyak -banyaknya, bukan untuk menerimasebanyak-banyaknya. Kami tak berkedip menatap sang juru kisah yang ulung ini.Pria ini buruk rupa dan buruk pula setiapapa yang di-sandangnya,tapi pemikirannya jernih dan kata-katanya bercahaya. Jika iamengucapkan sesuatu kami pun terpaku menyimaknya dan taksabar menunggu untaian kata berikutnya. Tiba-tiba aku merasasangat beruntung didaftarkan orangtuaku di sekolah miskinMuhammadiyah. Aku merasa lelah terselamatkan karena orangtuaku memilih sebuah sekolah Islam sebagai pendidikan palingdasar bagiku. Aku merasa amat beruntung berada di sini, di tengahorang-orang yang luar biasa ini. Ada keindahan di sekolah Islammelarat ini. Keindahan yang tak ‘kan kutukar dengan seribukemewahan sekolah lain. 26 Laskar Pelangi
  27. 27. Setiap kali Pak Harfan ingin menguji apa yang telahdiceritakannya kami berebutan mengangkat tangan, bahkan kamimengacung meskipun beliau tak bertanya, dan kami mengacungwalaupun kami tak pasti akan jawaban. Sayangnya bapak yangpenuh daya tarik ini harus mohon diri. Satu jam dengannya terasahanya satu menit. Kami mengikuti setiap inci langkahnya ketikameninggalkan kelas. Pandangan kami melekat tak lepas-lepasdarinya karena kami telah jatuh cinta padanya. Beliau telahmembuat kami menyayangi sekolah tua ini. Kuliah umum dari PakHarfan di hari pertama kami masuk SD Muhammadiyah langsungmenancapkan tekad dalam hati kami untuk membela sekolah yanghampir rubuh ini, apa pun yang terjadi. Kelas diambil alih oleh Bu Mus. Acaranya adalah perkenalandan akhirnya tibalah giliran A Kiong. Tangisnya sudah reda tapi iamasih terisak. Ketika diminta ke depan kelas ia senang bukan main.Sekarang di sela-sela isaknya ia tersenyum. Ia menggoyang-goyangkan tubuhnya. Tangan kirinya memegang botol air yangkosong—karena isinya tadi ditumpahkan Sahara—dan tangankanannya menggenggam kuat tutup botol itu. “Silahkan ananda perkenalkan nama dan alamat rumah …,”pinta Bu Mus lembut pada anak Hokian itu. A Kiong menatap Bu Mus dengan ragu kemudian ia kembalitersenyum. Bapaknya menyeruak di antara kerumunan orangtualainnya, ingin menyaksikan anaknya beraksi. Namun, meskipunberulang kali ditanya A Kiong tidak menjawab sepatah kata pun. Iaterus tersenyum dan hanya tersenyum saja. “Silakan ananda …,” Bu Mus meminta sekali lagi dengan sabar.Namun sayang A Kiong hanya menjawabnya dengan kembalitersenyum. Ia berkali-kali melirik bapaknya yang kelihatan tak sabar. Aku dapat membaca pikiran ayahnya, “Ayolah anakku, kuatkan hatimu, sebutkan namamu! Palingtidak sebutkan nama bapakmu ini, sekali saja! Jangan bikin maluorang Hokian!” Bapak Tionghoa berwajah ramah ini dikenal 27 Laskar Pelangi
  28. 28. sebagai seorang Tionghoa kebun, strata ekonomi terendah dalamkelas sosial orang-orang Tionghoa di Belitong. Namun, sampai waktu akan berakhir a Kiong masih tetap sajatersenyum. Bu Mus membujuknya lagi. “Baiklah ini kesempatan terakhir untukmu mengenalkan diri,jika belum bersedia maka harus kembali ke tempat duduk.. A Kiong malah semakin senang. Ia masih sama sekali takmenjawab. Ia tersenyum lebar, matanya yang sipit menghilang. Pelajaran moral nomor dua: jangan tanyakan nama dan alamatpada orang yang tinggal di kebun. Maka berakhirlah perkenalan di bulan Februari yangmengesankan itu. 28 Laskar Pelangi
  29. 29. Bab 4 Perempuan-Perempuan Perkasa AKU pernah membaca kisah tentang wanita yang membelah batukarang untuk mengalirkan air, wanita yang menenggelamkan diribelasan tahun sendirian di tengah rimba untuk menyelamatkanbeberapa keluarga orang utan, atau wanita yang berani mengambilrisiko tertular virus ganas demi menyembuhkan penyakit seoranganak yang sama sekali tak dikenalnya nun jauh di Somalia. Di sekolah Muhammadiyah setiap hari aku membaca keberanianberkorban semacam itu di wajah wanita muda ini. N.A. MuslimahHafsari Hamid binti K.A. Abdul Hamid, atau kami memanggilnyaBu Mus, hanya memiliki selembar ijazah SKP (Sekolah KepandaianPutri), namun beliau bertekad melanjutkan cita-cita ayahnya—K.A.Abdul Hamid, pelopor sekolah Muhammadiyah di Belitong—untukterus mengobarkan pendidikan Islam. Tekad itu memberinya kesulitan hidup yang tak terkira, karenakami kekurangan guru—lagi pula siapa yang rela diupah beras 15kilo setiap bulan? Maka selama enam tahun di SD Muhammadiyah,beliau sendiri yang mengajar semua mata pelajaran—mulai dari 29 Laskar Pelangi
  30. 30. Menulis Indah, Bahasa Indonesia, Kewarganegaraan, Ilmu Bumi,sampai Matematika, Geografi, Prakarya, dan Praktik Olahraga.Setelah seharian mengajar, beliau melanjutkan bekerja menerimajahitan sampai jauh malam untuk mencari nafkah, menopang hidupdirinya dan adik-adinya. BU MUS adalah seroang guru yang pandai, karismatik, danmemiliki pandangan jauh ke depan. Beliau menyusun sendiri silabuspelajaran Budi Pekerti dan mengajarkan kepada kami sejak dinipandangan-pandangan dasar moral, demokrasi, hukum, keadilan,dan hak-hak asasi—jauh hari sebelum orang-orang sekarangmeributkan soal materialisme versus pembangunan spiritual dalampendidikan. Dasar-dasar moral itu menuntun kami membuatkonstruksi imajiner nilai-nilai integritas pribadi dalam konteks Islam.Kami diajarkan menggali nilai luhur di dalam diri sendiri agarberperilaku baik karena kesadaran pribadi. Materi pelajaran BudiPekerti yang hanya diajarkan di sekolah Muhammadiyah samasekali tidak seperti kode perilaku formal yang ada dalam kontekslegalitas institusional seperti sapta prasetya atau pedoman-pedomanpengalaman lainnya. “Shalatlah tepat waktu, biar dapat pahala lebih banyak,”demikian Bu Mus selalu menasihati kami. Bukankah ini kata-katayang diilhami surah An-Nisa dan telah diucapkan ratusan kali olehpuluhan khatib? Sering kali dianggap sambil lalu saja oleh umat.Tapi jika yang mengucapkannya Bu Mus kata-kata itu demikianberbeda, begitu sakti, berdengung- dengung di dalam kalbu. Yangterasa kemudian adalah penyesalan mengapa telah terlamabatshalat. Pada kesempatan lain, karena masih kecil tentu saja, kamisering mengeluh mengapa sekolah kami tak seperti sekolah-sekolahlain. Terutama atap sekolah yang bocor dan sangat menyusahkansaat musim hujan. Beliau tak menanggapi keluhan itu tapimengeluarkan sebuah buku berbahasa Belanda danmemerplihatkan sebuah gambar. Gambar itu adalah sebuah ruangan yang sempit, dikelilingitembok tebal yang suram, tinggi, gelap, dan berjeruji. Kesan di 30 Laskar Pelangi
  31. 31. dalamnya begitu pengap, angker, penuh kekerasan dan kesedihan.“inilah sel Pak Karno di sebuah penjara di Bandung, di sini beliaumenjalani hukuman dan setiap hari belajar, setiap waktu membacabuku. Beliau adalah salah satu orang tercerdas yang pernah dimilikibangsa ini.. Beliau tak melanjutkan ceritanya.. Kami tersihir dalam senyap. Mulai saat itu kami tak pernah lagimemprotes keadaan sekolah kami. Pernah suatu ketika hujan turunamat lebat, petir sambar menyambar. Trapani dan Mahar memakaiterindak, topi kerucut dari daun lais khas tentara Vietkong, untukmelindungi jambul mereka. Kucai, Borek, dan Sahara memakai jashujan kuning bergambar gerigi metal besar di punggungnya dengantulisan “UPT Bel” (Unit Penambangan Timah Belitong)—jas hujanjatah PN Timah milik bapaknya. Kami sisanya hampir basah kuyup.Tapi sehari pun kami tak pernah bolos, dan kami tak pernahmengeluh, tidak, sedikit pun kami tak pernah mengeluh. Bagi kami Pak Harfan dan Bu Mus adalah pahlawan tanpatanda jasa yang sesungguhnya. Merekalah mentor, penjaga,sahabat, pengajar, dan guru spiritual. Mereka yang pertamamenjelaskan secara gamblang implikasi amar makruf nahi mungkarsebagai pegangan moral kami sepanjang hayat. Mereka mengajarikami membuat rumah- rumahan dari perdu apit-apit, mengusapluka-luka di kaki kami, membimbing kami cara mengambil wudu,melongok ke dalam sarung kami ketika kami disunat, mengajarikami doa sebelum tidur, memompa ban sepeda kami, dan kadang-kadang membuatkan kami air jeruk sambal. Mereka adalah ksatria tampa pamrih, pangeran keikhlasan,dan sumur jernih ilmu pengetahuan di ladang yang ditinggalkan.Sumbangan mereka laksana manfaat yang diberikan pohon filiciumyang menaungi atap kelas kami. Pohon ini meneduhi kami dandialah saksi seluruh drama ini. Seperti guru-guru kami, filiciummemberi napas kehidupan bagi ribuan organise dan menjaditonggak penting mata rantai ekosistem. 31 Laskar Pelangi
  32. 32. Bab 5 The Tower of Babel JUMLAH orang Tionghoa di kampung kami sekitar sepertigadari total populasi. Ada orang Kek, ada orang Hokian, ada orangTongsan, dan ada yang tak tahu asal usulnya. Bisa saja merekayang lebih dulu mendiami pulau ini daripada siapa pun. Aichang,phok, kiaw, dan khaknai, seluruhnya adalah perangkatpenambangan timah primitf yang sekarang dianggap temuanarkeologi, bukti bahwa nenek moyang mereka telah lama sekaliberada di Pulau Belitong. Komunitas ini selalu tipikal: rendah hatiddan pekerja keras. Meskipun jauh terpisah dari akar budayanyanamun mereka senantiasa memelihara adat istiadatnya, dan diBelitong mereka beruntung karena mereka tak perlu jauh-jauhdatang ke Jinchanying kalau hanya ingin melihat Tembok BesarCina. Persis bersebelahan dengan toko-toko kelontong milik wargaTionghoa ini berdiri tembok tinggi yang panjang dan di sana sinitergantung papan peringatan: “DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK MEMILIKI HAK”. Di atas tembok ini tidak hanya ditancapi pecahan-pecahan kacayang mengancam tapi juga dililitkan empat jalur kawat berduriseperti di kamp Auschwitz. Namun, tidak seperti Temok Besar Cina 32 Laskar Pelangi
  33. 33. yang melindungi berbagai dinasti dari sebuan suku-suku Mongol diutara, di Belitong tembok yang angkuh dan berkelak-keloksepanjang kiloan meter ini adalah pengukuhan sebuah dominasidan perbedaan status sosial. Di balik tembok itu terlindung sebuah kawasan yang disebutGedong, yaitu negeri asing yang jika berada di dalamnya orangakan merasa tak sedang berada di Belitong. Dan di dalam sanaberdiri sekolah-sekolah PN. Sekolah PN adalah sebutan untuksekolah milik PN (Perusahaan Negara) Timah, sebuah perusahaanyang paling berpengaruh di Belitong, bahkan sebuah hegemonilebih tepatnya, karena timah adalah denyut nadi pulau kecil itu. Suatu sore seorang gentleman keluar dari balik tembok ituuntuk berkeliling kampung dengan sebuah Chevrolet Corvette, laluesoknya di depan sebuah majelis ia mencibir. “Tak satu pun kulihat ada anak muda memegang pacul! Takpernah kulihat orang- orang muda demikian malas seperti di sini.. Ha? Apa dia kira kami bangsa petani? Kami adalah buruh-buruh tambang yang bangga, padi tak tumbuh di atas tanah-tanahkami yang kaya material tambang! LAKSANA the Tower of Babel—yakni Menara Babel, metafora tangga menuju surga yangditegakkan bangsa babylonia sebagai perlambang kemakmuran5.600 tahun lalu, yang berdiri arogan di antara Sungai Tigris danEufrat di tanah yang sekarang disebut Irak—timah di Belitongadalah menara gading kemakmuran berkah Tuhan yang menjalarsepanjang Semenanjung Malaka, tak putus-putus seperti jalian uratdi punggung.tangan. Orang Melayu yang mer ogohkan tangannya ke dalam lapisandangkal aluvium, hampir di sembarang tempat, akan mendapatilengannya berkilauan karena dilumuri ilmenit atau timah kosong.Bermil-mil dari pesisir, Belitong tampak sebagai garis pantai kuningberkilauan karena bijih-bijih timah dan kuarsa yang disirami cahayamatahari. Pantulan cahaya itu adalah citra yang lebih kemilau daririak-riak gelombang laut dan membentuk semacam fatamorganapelangi sebagai mercusuar yang menuntun para nakhoda. 33 Laskar Pelangi
  34. 34. Tuhan memberkahi Belitong dengan timah bukan agar kapalyang berlayar ke pulau itu tidak menyimpang ke Laut Cina Selatan,tetapi timah dialirkan-Nya ke sana untuk menjadi mercusuar bagipenduduk pulau itu sendiri. Adakah mereka telah semena- menapada rezeki Tuhan sehingga nanti terlunta-lunta seperti di kalaTuhan menguji bangsa Lemuria? Kilau itu terus menyala sampaijauh malam. Eksploitasi timah besar-besaran secara nonstopditerangi ribuan lampu dengan energi jutaan kilo watt. Jikadisaksikan dari udara di malam hari Pulau Belitong tampak sepertifamilia besar Ctenopore, yakni ubur-ubur yang memancarkancahaya terang berwarna biru dalam kegelapan latu: sendiri, kecil,bersinar, indah, dan kaya raya. Belitong melayang-layang di antaraSelat Gaspar dan Karimata bak mutiara dalam tangkupan kerang. Dan terberkatilah tanah yang dialiri timah karena ia sepertiknautia yang dirubung beragam jenis lebah madu. Timah selalumengikat material ikutan, yakni harta karun tak ternilai yangmelimpah ruah: granit, zirkonium, silika, senotim, monazite, ilmenit,siderit, hematit, clay, emas, galena, tembaga, kaolin, kuarsa, dantopas …. Semuanya berlapis- lapis, meluap-luap, beribu-ribu ton di bawahrumah-rumah panggung kami. Kekayaan ini adalah bahan dasarkaca berkualitas paling tinggi, bijih besi dan titanium yang bernas, …material terbaik untuk superkonduktor, timah kosong ilmenit yangdigunakan laboratorium roket NASA sebagai materi antipanasekstrem, zirkonium sebagai bahan dasar produk-produk tahan api,emas murni dan timah hitam yang amat mahal, bahkan kamimemiliki sumber tenaga nuklir: uranium yang kaya raya. Semua inisangat kontradiktif dengan kemiskinan turun temurun penduduk asliMelayu Belitong yang hidup berserakan di atasnya. Kami sepertisekawanan tikus yang paceklik di lumbung padi. Belitong dalam batas kuasa eksklusif PN Timah adalah kotapraja Konstantinopel yang makmur. PN adalah penguasa tunggalPulau Belitung yang termasyhur di seluruh negeri sebagaiPulautimah. Nama itu tercetak di setiap buku geografi atau bukuHimpunan Pengetahuan Umum pustaka wajib sekolah dasar. PNamat kaya. Ia punya jalan raya, jembatan, pelabuhan, real estate, 34 Laskar Pelangi
  35. 35. bendungan, dok kapal, saran a telekomunikasi, air, listrik, rumah-rumah sakit, sarana olahraga—termasuk beberapa padang golf,kelengkapan sarana hiburan, dan sekolah-sekolah. PN menjadikanBelitong --sebuah pulau kecil-- seumpama desa perusahaan denganaset triliunan rupiah. PN merupakan penghasil timah nasional terbesar yangmempekerjakan tak kurang dari 14.000 orang. Ia menyerap hampirseluruh angkatan kerja di Belitong dan menghasilkan devisa jutaandolar. Lahan eksploiotasinya tak terbatas. Lahan itu disebut kuasapenambangan dan secara ketat dimonopoli. Legitimasi ini diperolehmelalui pembayaran royalti—lebih pas disebut upeti—miliaranrupiah kepada pemerintah. PN mengoperasikan 16 unit emmerbageratau kapal keruk yang bergerak lamban, mengorek isi bumidengan 150 buah mangkuk-mangkuk baja raksasa, siang malammerambah laut, sungai, dan rawa-rawa, bersuara mengerikanlaksana kawanan dinosaurus. Di titik tertinggi siklus komidi putar, di masa keemasan itu,penumpangnya mabuk ketinggian dan tertidur nyenyak,melanjutkan mimpi gelap yang ditiup-tiupkan kolonialis. Sejakzaman penjajahan, sebagai platform infrastruktur ekon omi, PNtidak hanya memonopoli faktor produksi terpenting tapi jugamewarisi mental bobrok feodalistis ala Belanda. Sementara sepertisering dialami oleh warga pribumi dimanapun yang sumber dayaalamnya dieksploitasi habis-habisan, sebagaian komunitas diBelitong juga termarginalkan dalam ketidak adilan kompensasitanah ulayah, persamaan kesempatan, dan trickle down effects . 35 Laskar Pelangi
  36. 36. Bab 6 Gedong PULAU Belitong yang makmur seperti mengasingkan diri daritanah Sumatra yang membujur dan di sana mengalir kebudayaanMelayu yang tua. Pada abad ke-19, ketika korporasi secarasistematis mengeksploitasi timah, kebudayaan bersahaja itu mulaihidup dalam karakteristik sosiologi tertentu yang atribut-atributnyamencerminkan perbedaan sangat mencolok seolah berdasarkanstatus berkasta-kasta. Kasta majemuk itu tersusun rapi mulai daripara petinggi PN Timah yang disebut “orang staf” atau urang setapdalam dialek lokal sampai pada para tukang pikul pipa di instalasipenambangan serta warga suku Sawang yang menjadi buruh-buruhyuka penjahit karung timah. Salah satu atribut diskriminasi ituadalah sekolah-sekolah PN. Maka lahirlah kaum menak, implikasi dari institusi yang inginmemelihara citra aristokrat. PN melimpahi orang staf denganpenghasilan dan fasilitas kesehatan, pendidikan, promosi,transportasi, hiburan, dan logistik yang sangat diskriminatifdibanding kompensasi yang diberikan kepada mereka yang bukanorang staf. Mereka, kaum borjuis ini, bersemayam di kawasaneksklusif yang disebut Gedong. Mereka seperti orang-orang kulitputih di wilayah selatan Amerika pada tahun 70-an. Feodalisme di 36 Laskar Pelangi
  37. 37. Belitong adalah sesuatu yang unik, karena ia merupakankonsekuensi dari adanya budaya korporasi, bukan karena tradisipaternalistik dari silsilah, subkultur, atau privilese yang dianugerahkan oleh penguasa seperti biasa terjadi di berbagai tempatlain. Sepadan dengan kebun gantung yang memesona di pelataranmenara Babylonia, sebuah taman kesayangan TiranNebuchadnezzar III untuk memuja Dewa Marduk, Gedong adalahlandmark Belitong. Ia terisolasi tembok tinggi berkeliling dengan satuakses keluar masuk seperti konsep cul de sac dalam konseppemukiman modern. Arsitektur dan desain lanskapnya bergayasangat kolonial. Orang-orang yang tinggal di.dalamnya memilikinama-nama yang aneh, misalnya Susilo, Cokro, Ivonne, Setiawan,atau Kuntoro, tak ada Muas, Jamali, Sa’indun, Ramli, atau Mahaderseperti nama orang- orang Melayu, dan mereka tidak pernahmenggunakan bin atau binti. Gedong lebih seperti sebuah kota satelit yang dijaga ketat olehpara Polsus (Polisi Khusus) Timah. Jika ada yang lancang masukmaka koboi-koboi tengik itu akan menyergap, mengintergoasi, laluinterogasi akan ditutup dengan mengingatkan sang tangkapan padatulisan “DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK MEMILIKI HAK”yang bertaburan secara mencolok pada berbagai akses dan fasilitasdi sana, sebuah power Statement tipikal kompeni. Kawasan warisan Belanda ini menjunjung tinggi kesanmenjaga jarak , dan kesan itu diperkuat oleh jajaran pohon-pohonsaga tua yang menjatuhkan butir-butir buah semerah darah di ataskap mobil-mobil mahal yang berjejal-jejal sampai keluar garasi. Disana, rumah-rumah mewah besar bergaya Victoria memiliki jendela-jendela kaca lebar dan tinggi dengan tirai yang berlapis-lapis laksanalayar bioskop. Rumah-rumah itu ditempatkan pada kontur yangagak tinggi sehingga kelihatan seperti kastil-kastil kaum bangsawandengan halaman terpelihara rapi dan danau-danau buatan. Didalamnya hidup tenteram sebuah keluarga kecil dengan dua atautiga-anak yang selalu tampak damai, temaram, dan sejuk. Setiap rumah memiliki empat bangunan terpisah yangdisambungkan oleh selasar- selasar panjang. Itulah rumah utamasang majikan, rumah bagi para pembantu, garasi, dan gudang-gudang. Selasar-selasar itu mengelilingi kolam kecil yang ditumbuhi 37 Laskar Pelangi
  38. 38. Nymphaea caereulea atau the blue water lily yang sangat menawandan di tengahnya terdapat patung anak-anak gendut semacamManequin Piss legenda negeri Belgia yang menyemprotkan airmancur sepanjang waktu dari kemaluan kecilnya yang lucu. Pot-potkayu anggrek mahal Tainia shimadai Dan Chysis digantungkanberderet- deret di bibiratap selasar dan di bawahnya tersusun rapibejana keramik antik bertangga- tangga berisi kaktus Chaemasereasdan Parodia scopa . Untuk urusan bunga ini ada petugas khususyang merawatnya. Di luar lingkar kolam didirikan sebuah kandangberlubang kotak-kotak kecil persegi berbentuk piramida yang bersenidan ditopang oelh sebuah pilar bergaya Romawi, itulah rumahburung merpati Inggris. Di dalam rumah utama sang majikan terdapat ruang tamudengan lampu-lampu yang teduh dan perabot utama di sana adalahsebuah sofa Victorian rosewood berwarna merah. Jika duduk diatasnya seseorang dapat merasa dirinya seperti seorang padukaraja. Di samping ruang tamu adalah ruang makan tempat parapenghuni rumah makan malam mengenakan busana senja yangterbaik dan bersepatu. Di meja makan mewah dengan kayuCinnamonglaze , mereka duduk mengelilingi makanan yangnamanya bahkan belum ada terjemahannya. Pertama-tamaperangsang lapar pumpkin and Gorgonzola soup , lalu hadir caesarsalad menu utama, chicken cordon bleu, vitello alla Provenzale ,atau … Pada bagian akhir sebagai makanan penutup adalah creamycheesecake topped with stawberry puree , buah-buah persik danprem. Mereka makan dengan tenang sembari mendengarkan musikklasik yang elegan: Mozart: Haffner No. 35 in D Major . Merekamematuhi table manner’ Setelah melampirkan serbet di ataspangkuannya makan malam dimulai nyaris tanpa suara dan tak adaseorang pun yang menekan bibir meja dengan sikunya... Sarapanpagi disajikan di ruangan yang berbeda. Ruangan ini terbuka,menghadap ke kebun anggrek dan kolam renang dangkal yang biru.Mejanya juga berbeda yakni terracotta tile top oval yang lucunamun berkelas. Di pagi hari mereka senang mencicipi omelet danmenyeruput the. Earl Grey, atau cappuccino, lalu merekamelemparkan remah-remah roti pada burung-burung merpati Inggrisyang berebutan, rakus tapi jinak. 38 Laskar Pelangi
  39. 39. Halaman setiap rumah sangat luas dan tak dipagar.Kebanyakan didekorasi dengan karya seni instalasi dari konstruksilogam yang maknanya tak mudah dicerna orang awam. Hamparanrumput manila di halaman menyentuh lembut bibir jalan rayadengan tinggi permukaan yang sama. Ada daya tarik tersendiri disitu. Tak ada parit, karena semua sistem pembuangan diatur dibawah tanah. Pekarangan ditumbuhi pinang raja, bambu Jepang,pisang kipas, dan berjenis-jenis palem yang berselang-seling diantara taman-taman bunga umum, ornamen, galeri, angsa-angsabesar yang berkeliaran, kafe members only , patung-patung, nookerbar , sudut-sudut tempat bermain anak-anak berisi ayam-ayamkalkun yang dibiarkan bebas, trotoar untuk membawa anjing jalan-jalan, kolam-kolam renang, dan lapangan-lapangan golf. Tenangdan tidak berisik, kecuali sedikit bunyi, rupanya anjing pudel sedangmengejar beberapa ekor kucing anggora. Namun, selain suara hewan-hewan lucu itu sore ini terdengarlamat-lamat denting piano dari salah satu kastil Victoria yangterututp rapat berpilar-pilar itu. Floriana atau Flo yang tomboi, salahseorang siswa sekolah PN, sedang les piano. Guru privatnya sangatbersemangat tapi Flo sendiri terkantuk-kantuk tanpa minat. Keduatangannya menopang wajah murungnya sambil menguap berulang-ulang di samping sebuah instrumen megah: grand piano merkSteinway and sons yang hitam, dingin, dan berkilauan. Wajah Floseperti kucing kebanyakan tidur dan bangun magrib-magrib.Bapaknya—seorang Mollen Bas , kepala semua kapal keruk—dudukdi sebuah kursi besar semacam singgasana sehingga tubuh kecilnyatenggelam. Kakinya dibungkus sepatu mahal De Carlo cokelat yangelegan, tergantung berayun-ayun lucu. Ia geram pada tingkah sitomboi dan malu pada sang guru, seorang wanita berkacamata,setengah baya, berwajah cerdas dan hanya bisa tersenyum-senyum.Beliau tak henti-henti memohon maaf pada wanita Jawa yangsangat santun itu atas kelakuan anaknya. Bapak Flo adalah orang hebat, seseorang yang amatterpelajar. Ia adalah insinyur lulusan terbaik dari Technische 39 Laskar Pelangi
  40. 40. Universiteit Delf di Holland dari Fakultas Werktuiq bouwkunde,Maritieme techniek & technische materiaal wetenschappen, yangartinya kurang lebih: jago teknik. Ia adalah salah satu dari segelintirorang Melayu asli Belitong yang berhak tinggal di Gedong danorang kampung yang mampu mencapai karier tinggi di jajaran eliteorang staf karena kepintarannya. Sebagai Mollen Bas, beliausanggup mengendalikan shift ribuan karyawan, memperbaikikerusakan kapal keruk yang tenaga-tenaga ahli asing sendiri sudahmenyerah, dan mengendalikan aset produksi miliaran dolar. Tapimenghadapi anak perempuan kecilnya, si tomboi gasing yang takbisa diatur ini, beliau hampir menyerah. Semakin keras suarabapaknya menghardik semakin lebar Flo menguap. Pokok perkaranya sederhana, yakni beliau telah memilikibeberapa anak laki-laki dan Flo si bungsu, adalah anak perempuansatu-satunya. Namun anak perempuannya ini bersikeras inginmenjadi laki-laki. Setiap hari beliau berusaha memerempuankan Floantara lain dengan memaksanya kursus piano. Grand piano itudidatangkan dengan kapal khusus dari Jakarta. Guru privat yangmerupakan seorang instruktur musik profesional, juga khususdijemput dari Tanjong Pandan. Lebih dari itu, di sela kesibukannya,bapaknya rela menunggui Flo kursus, namun yang beliau dapat taklebih dari uapan- uapan itu. Flo bahkan tak berminat menyentuhtuts-tuts hitam putih yang berkilat-kilat karena pikirannya melayangke sasana tempat ia latihan kick boxing dan angkat barbel. Flo taksuka menerima dirinya sebagai seorang perempuan. Mungkinkarena pengharuh dari saudara-saudara kandungnya yangseluruhnya laki-laki atau karena suatu ketidak seimbangan dalamkimia tubuhnya. Maka ia memotong rambut dengan model luruspendek dan ia belajar mengubah ekspresi wajah cantiknya agarmerefleksikan seringai laki-laki. Ia bercelana jeans , kaos oblong, danmembuang anting- anting yang dibelikan ibunya. Guru privat itumemperkenalkan dengan lembut notasi do, mi, sol, si dalam lintasanempat oktaf dan memperlihatkan posisi jari-jemari pada setiapnotasi itu sebagai dasar bagi Flo untuk berlatih fingering . Flomenguap lagi... 40 Laskar Pelangi
  41. 41. Bab 7 Zoom Out TAK disangsikan, jika di- zoom out , kampung kami adalahkampung terkaya di Indonesia. Inilah kampung tambang yangmenghasilkan timah dengan harga segenggam lebih mahal puluhankali lipat dibanding segantang padi. Triliunan rupiah aset tertanamdi sana, miliaran rupiah uang berputar sangat cepat seperti putaranmesin parut, dan miliaran dolar devisa mengalir deras sepertikawanan tikus terpanggil pemain seruling ajaib Der Rattenfangervon Hameln . Namun jika di- zoom in , kekayaan itu terperangkapdi satu tempat, ia tertimbun di dalam batas tembok-tembok tinggiGedong. Hanya beberapa jengkal di luar lingkaran tembok tersajipemandangan kontras seperti langit dan bumi. Berlebihan jikadisebut daerah kumuh tapi tak keliru jika diumpamakan kota yangdilanda gerhana berkepanjangan sejakera pencerahan revolusiindustri. Di sana, di luar lingkar tembok Gedong hidup komunitasMelayu Belitong yang jika belum punya enam anak belum berhentiberanak pinak. Mereka menyalahkan pemerintah karena tidakmenyediakan hiburan yang memadai sehingga jika malam tibamereka tak punya kegiatan lain selain membuat anak-anak itu. 41 Laskar Pelangi
  42. 42. Di luar tembok feodal tadi berdirilah rumah-rumah kami,beberapa sekolah negeri, dan satu sekolah kampungMuhammadiyah. Tak ada orang kaya di sana, yang ada hanyakerumunan toko miskin di pasar tradisional dan rumah-rumahpanggung yang renta dalam berbagai ukuran. Rumah-rumah asliMelayu ini sudah ditinggalkan zaman keemasannya. Pemiliknya takingin merubuhkannya karena tak ingin berpisah dengan kenanganmasa jaya, atau karena tak punya uang. Di antara rumah panggung itu berdesak-desakan kantor polisi,gudang-gudang logistik PN, kantor telepon, toapekong, kantorcamat, gardu listrik, KUA, masjid, kantor pos, bangunanpemerintah—yang dibuat tanpa perencanaan yang masuk akalsehingga menjadi bangunan kosong telantar, tandon air, warungkopi, rumah gadai yang selalu dipenuhi pengunjung, dan rumahpanjang suku Sawang. Komunitas Tionghoa tinggal di bangunanpermanen yang juga digunakan sebagai toko. Mereka tidak memilikipekarangan. Adapun pekarangan rumah orang Melayu ditumbuhijarak pagar, beluntas, beledu, kembang sepatu, dan semakbelukaryang membosankan. Pagar kayu saling-silang di paritbersemak di mana tergenang air mati berwarna cokelat—juga sangatmembosankan. Entok dan ayam kampung berkeliaran seenaknya.Kambing yang tak dijaga melalap tanaman bunga kesayangansehingga sering menimbulkan keributan kecil. Jalan raya di kampung ini panas menggelegak dan ingar-bingar oleh suara logam yang saling beradu ketika truk-truk reyotlalu-lalang membawa berbagai peralatan teknik eksplorasi timah.Kawasan kampung ini dapat disebut sebagai urban atau perkotaan.Umumnya tujuh macam profesi tumpang tindih di sini: kuli PNsebagai mayoritas, penjaga toko, pegawai negeri, pengangguran,pegawai kantor desa, pedagang, dan pensiunan. Sepanjang waktumereka hilir mudik dengan sepeda. Semuanya, para penduduk,kambing, entok, ayam, dan seluruh bangunan itu tampak berdebu,tak teratur, tak berseni, dan kusam. Keseharian orang pinggiran ini amat monoton. Pagi yangsunyi senyap mendadak sontak berantakan ketika kantor pusat PNTimah membunyikan sirine, pukul 7 kurang 10. Sirine itu 42 Laskar Pelangi
  43. 43. memekakkan telinga dalam radius puluhan kilometer sepertiperingatan serangan Jepang dalam pengeboman Pearl Harbour. Demi mendengar sirine itu, dari rumah-rumah panggung,jalan-jalan kecil, sudut-sudut kampung, rumah-rumah dinaspermanen berdinding papan, dan gang-gang sempit bermunculan-lah parakuli PN bertopi kuning membanjiri jalan raya. Merekaberdesakan, terburu-buru mengayuh sepeda dalam rombonganbesaratau berjalan kaki, karena sepuluh menit lagi jam kerja dimulai.Jumlah mereka ribuan. Mereka menyerbu tempat kerja masing-masing: bengkelbubut, kilang minyak, gudang beras, dok kapal, dan unit-unitpencucian timah. Parakuli yang bekerja shift di kapal kerukmelompat berjejal-jejal ke dalam bak truk terbuka seperti sapi yangakan digiring ke penjagalan. Tepat pukul 7 kembali dibunyikansirene kedua tanda jam resmi masuk kerja. Lalu tiba-tiba jalan-jalanraya, kampung-kampung, dan pasar kembali lengang, sunyi senyap.Setelah pukul 7 pagi, rumah orang Melayu Belitong hanya dihunikaum wanita, para pensiunan, dan anak-anak kecil yang belumsekolah. Kampung kembali hidup pada pukul 10, yaitu ketikawanita-wanita itu memainkan orkestra menumbuk bumbu. Suaraalu yang dilantakkan ke dalam lumpang kayu bertalu-talu, sahut-menyahut dari rumah ke rumah. Pukul 12 sirine kembali berbunyi, kali ini adalah sebagai tandaistirahat. Dalam sekejap jalan raya dipenuhi parakuli yang pulangsebentar. Lapar membuat mereka tampak seperti semut-semuthitam yang sarangnya terbakar, lebih tergesa dibanding waktumereka berangkat pagi tadi. Pukul 2 siang sirine berdengung lagimemanggil mereka bekerja. Parakuli ini akan kembali pulang keperaduan setelah terdengar sirine yang sangat panjang tepat pukul 5sore. Demikianlah yang berlangsung selama puluhan tahunlamanya. **** TIDAK seperti di Gedong, jika makan orang urban ini tidakmengenal appetizer sebagai perangsang selera, tak mengenal maincourse , ataupun dessert . Bagi mereka semuanya adalah menu 43 Laskar Pelangi
  44. 44. utama. Pada musim barat ketika nelayan enggan melaut, menuutama itu adalah ikangabus. Parakuli yang bernafsu makan besarsesuai dengan pembakaran kalorinya itu jika makan seluruhtubuhnya seakan tumpah ke atas meja. Agar lebih praktis tak jarangbaskom kecil nasi langsung digunakan sebagai piring. Di situlahdiguyur semangkuk gangan , yaitu masakan tradisional denganbumbu kunir. Ketika makan mereka tak diiringi karya MozartHaffnerNo. 35 in D Major tapi diiringi rengekan anak -anaknya yang mintadibelikan baju pramuka. Setiap subuh para istri meniup siong (potongan bambu) untukmenghidupkan tumpukan kayu bakar. Asap mengepul masuk kedalam rumah, menyembul keluar melalui celah dinding papan, danmembangunkan entok yang dipelihara di bawah rumah panggung.Asap itu membuat penghuni rumah terbatuk-batuk, namun ia amatdiperlukan guna menyalakan gemuk sapi yang dibeli bulansebelumnya dan digantungkan berjuntai- juntai seperti cucian di atasperapian. Gemuk sapi itulah sarapan mereka setiap pagi. Sebelumberangkat parakuli itu tidak minum teh Earlgrey atau cappuccino ,melainkan minum air gula aren dicampur jadam untukmenimbulkan efek ten aga kerbau yang akan digunakan sepanjanghari. Apabila persediaan gemuk sapi menipis dan angin baratsemakin kencang, maka menu yang disajikan sangatlah istimewa,yaitu lauk yang diasap untuk sarapan, lauk yang diasin untuk makansiang, dan lauk yang dipepes untuk makan malam, seluruhnyaterbuat dari ikangabus. DI luar lingkungan urban, berpencar menuju dua arahbesaradalah wilayah rural atau pedesaan. Daerah ini memanjangdalam jarak puluhan kilometer menuju ke barat ibu kota KabupatenTanjong Pandan. Sebaliknya, ke arah selatan akan menelusuri jalurke pedalaman. Jalur ini berangsur-angsur berubah dari aspalmenjadi jalan batu merah dan lama-kelamaan menjadi jalan tanahsetapak yang berakhir di laut. Di sepanjang jalur pedesaan rumah penduduk berserakan,berhadap-hadapan dipisahkan oleh jalan raya. Dulu nenek moyang 44 Laskar Pelangi
  45. 45. mereka berladang di hutan. Belanda menggiring mereka ke pinggirjalan raya, agar mudah dikendalikan tentu saja. Orang-orangpedesaan ini hidup bersahaja, umumnya berkebun, mengambil hasilhutan, dan mendapat bonus musiman dari siklus buah-buahan,lebah madu, dan ikan air tawar. Mereka mendiami tanah ulayat dandi belakang rumah mereka terhampar ribuan hektar tanah takbertuan, padang sabana, rawa-rawa layaknya laboratorium alamyang lengkap, dan aliran air bening yang belum tercemar. Kekuatan ekonomi Belitong dipimpin oleh orang staf PN danpara cukong swasta yang mengerjakan setiap konsesi eksploitasitimah. Mereka menempati strata tertinggi dalam lapisan yang sangattipis. Kelas menengah tak ada, oh atau mungkin juga ada, yaitu paracamat, para kepala dinas dan pejabat-pejabat publik yang korupsikecil- kecilan, dan aparat pen egak hukum yang mendapat uang darimenggertaki cukong- cukong itu. Sisanya berada di lapisan terendah, jumlahnya banyak danperbedaannya amat mencolok dibanding kelas di atasnya. Merekaadalah para pegawai kantor desa, karyawan rendahan PN, pencarimadu dan nira, para pemain organ tunggal, semua orang Sawang,semua orang Tionghoa kebun, semua orang Melayu yang hidup dipesisir, para tenaga honorer Pemda, dan semua guru dan kepalasekolah—baik sekolah negeri maupun sekolah kampung—kecualiguru dan kepala sekolah PN. 45 Laskar Pelangi
  46. 46. Bab 8 Center of Excellence SEKOLAH-SEKOLAH PN Timah, yaitu TK, SD, dan SMP PNberada dalam kawasan Gedong. Sekolah-sekolah ini berdiri megahdi bawah naungan Aghatis berusia ratusan tahun dan dikelilingipagar besi tinggi berulir melambangkan kedisiplinan dan mutu tinggipendidikan. Sekolah PN merupakan center of excellence atautempat bagi semua hal yang terbaik. Sekolah ini demikian kaya rayakarena didukung sepenuhnya oleh PN Timah, sebuah korporasiyang kelebihan duit. Institusi pendidikan yang sangat modern inilebih tepat disebut percontohan bagaimana seharusnya generasimuda dibina. Gedung-gedung sekolah PN didesain dengan arsitektur yang takkalah indahnya dengan rumah bergaya Victoria di sekitarnya.Ruangan kelasnya dicat warna-warni dengan tempelangambarkartun yang edukatif, poster operasi dasar matematika, tabelpemetaan unsur kimia, peta dunia, jam dinding, termometer, fotopara ilmuwan dan penjelajah yang memberi inspirasi, dan adakapstok topi. Di setiap kelas ada patung anatomi tubuh yanglengkap, globe yang besar, white board , dan alat peraga konstelasiplanet-planet. 46 Laskar Pelangi
  47. 47. Di dalam kelas-kelas itu puluhan siswa brilian bersaing ketatdalam standar mutu yang sanggat tinggi. Sekolah-sekolah inimemiliki perpustakaan, kantin, guru BP, laboratorium,perlengkapan kesenian, kegiatan ekstra kurikuler yang bermutu,fasilitas hiburan, dan sarana olahraga —termasuk sebuah kolamrenang yang masih disebut dalam bahasa Belanda: zwembad. Didepan pintu masuk kolam renang ini tentu saja terpampangperingatan tegas “DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK MEMILIKI HAK”. Di setiap kelas ada kotak P3K berisi obat-obat pertolonganpertama. Kalau ada siswanya yang sakit maka ia akan angsungmendapatkan pertolongan cepat secara profesional atau segeradijemput oleh mobil ambulans yang meraung-raung. Mereka memiliki petugas-petugas kebersihan khusus, guru-guru yang bergaji mahal, dan para penjaga sekolah yangberseragam seperti polisi lalu lintas dan selalu meniup-niup peluit.Tali merah bergulung-gulung keren sekali di bahu seragamnya itu.“Jumlah gurunya banyak.. Demikian ujar Bang Amran Isnaini bin Muntazis Ilham—yangpernah sekolah di sana—persis pada malam sebelum esoknya akumasuk pertama kali di SD Muhammadiyah itu. Aku termenung. “Setiap pelajaran ada gurunya masing-masing, walaupun kaubaru kelas satu.” Maka pada malam itu aku tak bsia tidurakibatpusing menghitung berapa banyak jumlah guru di sekolah PN, tentusaja juga selain karena rasa senang akan masuk sekolah besok. Murid PN umumnya anak-anak orang luar Belitong yangbapaknya menjadi petinggi di PN. Sekolah ini juga menerima anakkampung seperti Bang Amran, tapi tentu saja yang orangtuanyasudah menjadi orang staf. Mereka semua bersih-bersih, rapi, kaya,necis, dan pintar-pintar luar biasa. Mereka selalu mengharumkannama Belitong dalam lomba-lomba kecerdasan, bahkan sampaitingkat nasional. Sekolah PN sering dikunjungi para pejabat,pengawas sekolah, atau sekolah lain untuk melakukan semacambenchmarking melihat bagaimana seharusnya ilmu pengetahuan 47 Laskar Pelangi
  48. 48. ditransfer dan bagaimana anak-anak kecil dididik secara ilmiah.Pendaftaran hari pertama di sekolah PN adalah sebuah perayaanpenuh sukacita. Puluhan mobil mewah berder et di depan sekolahdan ratusan anak orang kaya mendaftar. Ada bazar dan pertunjukanseni para siswa. Setiap kelas bisa menampung hampir sebanyak 40siswa dan paling tidak ada 4 kelas untuk setiap tingkat. SD PN tidakakan membagi satu pun siswanya kepada sekolah-sekolah lain yangkekurangan murid karena sekolah itu memiliki sumber daya yangmelimpah ruah untuk mengakomodasi berapapun jumlah siswabaru. Lebih dari itu, bersekolah di PN adalah sebuah kehormatan,hingga tak seorang pun yang berhak sekolah di situ sudidilungsurkan ke sekolah lain. Ketika mendaftar badan mereka langsung diukur untuk tigamacam seragam harian dan dua macam pakaian olah raga. Merekajuga langsung mendapat kartu perpustakaan dan bertumpuk-tumpuk buku acuan wajib. Seragamnya untuk hari Senin adalahbaju biru bermotif bunga rambat yang indah. Sepatu yangdikenakan berhak dan berwarna hitam mengilat. Sangat gagahketika ber-marching band melintasi kampung. Melihat mereka akusegera teringat pada sekawanan anak kecil yang lucu, putih, danbersayap, yang turun dari awan—seperti yang biasa kita lihat padagambar-gambar buku komik. Setiap pagi para murid PN dijemputoleh bus-bus sekolah ber warna biru. Kepala sekolahnya adalah seorang pejabat penting, IbuFrischa namanya. Caranya ber- make up jelas memperlihatkandirinya sedang bertempur mati-matian melawan usia dan tampakjelas pula, dalam pertempuran itu, beliau telah kalah. Ia seorangwanita keras yang terpelajar, progresif, ambisius, dan sering habis-habisan menghina sekolah kampung. Gerak geriknya diatursedemikian rupa sebagai penegasan kelas sosialnya. Di dekatnyasiapa pun akan merasa terintimidasi. Kalau sempat berbicaradengan beliau, maka ia sama seperti orang Melayu yang barubelajar memasak, bumbunya cukup tiga macam: pembicaraantentang fasilitas- fasilitas sekolah PN, anggaran ekstrakurikuler jutaanrupiah, dan tentang murid-muridnya yang telah menajdi dokter,insinyur, ahli ekonomi, pengusaha, dan orang-orang sukses di kotaatau bahkan di luar negeri. Bagi kami yang waktu itu masih kecil, 48 Laskar Pelangi
  49. 49. masih berpandangan hitam putih, beliau adalah seorang tokohantagonis. Yang dimaksud dengan sekolah kampung tentu saja adalahperguruan Muhammadiyah dan beberapa sekolah swasta miskinlainnya di Belitong. Selain sekolah miskinitu memang terdapat pulabeberapa sekolah negeri di kampung kami. Namun kondisi sekolahnegeri tentu lebih baik karena mereka disokong oleh negara.Sementara sekolah kampung adalah sekolah swadaya yangkelelahan menyokong dirinya sendiri. 49 Laskar Pelangi
  50. 50. Bab 9 Penyakit Gila No. 5 FILICIUM decipiens biasa ditanam botanikus untuk mengundangburung. Daunnya lebat tak kenal musim. Bentuk daunnya cekungsehingga dapat menampung embun untuk burung-burung kecilminum. Dahannya pun mungil, menarik hati burung segala ukuran.Lebih dari itu, dalam jarak 50 meter dari pohon ini, di belakangsekolah kami, berdiri kekar menjulang awan sebatang pohon tuaganitri (Elaeocarpus sphaericus schum). Tingginya hampir 20 meter,dua kali lebih tinggi dari filicium . Konfigurasi ini menguntungkanbagi burung-burung kecil cantik nan aduhai yang diciptakan untukselalu menjaga jarak dengan manusia (sepertinya setiap makhlukyang merasa dirinya cantik memang cenderung menjaga jarak),yaitu red breasted hanging parrots atau tak lain serindit Melayu.Sebelum menyerbu filicium , serindit Melayu terlebih dulumelakukan pengawasan dari dahan-dahan tinggi ganitri sambiljungkir balik seperti pemain trapeze . Melangak- longok ke sanakemari apakah ada saingan atau musuh. Buah ganitri yang birumampu menyamarkan kehadiran mereka. Kemampuan burung iniberakrobat menyebabkan ahli ornitologi Inggris menambahkannama hanging pada nama gaulnya itu . Jika keadaan sudah aman 50 Laskar Pelangi
  51. 51. kawanan ini akan menukik tajam menuju dahan-dahan filicium dantanpa ampun, dengan paruhnya yang mampu memutuskan kawat,secepat kilat, unggas mungil rakus ini menjarah buah-buah kecilfilicium dengan kepala waspada menoleh ke kiri dan kanan.Pelajaran moral nomor tiga: “Jika Anda cantik, hidup Anda taktenang.. Seumpama suku-suku Badui di Jazirah Arab yangmenggantungkan hidup pada oasis maka filicium tua yangmenaungi atap kelas kami ini adalah mata air bagi kami. Hari-harikami terorientasi pada pohon itu. Ia saksi bagi drama masa kecilkami. Di dahannya kami membuat rumah-rumahan. Di balikdaunnya kami bersembunyi jika bolos pelajaran kewarganegaraan.Di batang pohonnya kami menuliskan janji setia persahabatan danmengukir nama-nama kecil kami dengan pisau lipat. Di akarnyayang menonjol kami duduk berkeliling mendengar kisah Bu Mustentang petualangan Hang Jebat, dan di bawah keteduhan daunnyayang rindang kami bermain lompat kodok, berlatih sandiwaraRomeo dan Juliet, tertawa, menangis, bernyanyi, belajar, danbertengkar. Setelah serindit Melayu terbang melesat pergi seperti anakpanah Winetou menembus langit maka hadirlah beberapa keluargajalak kerbau. Penampilan burung ini sangat tak istimewa. Karena takistimewa maka tak ada yang memerhatikannya. Mereka santai sajabertamu ke haribaan dedaunan filicium , menikmati setiap gigitanbuah kecilnya, buang hajat sesuka hatinya.. Bahkan ketika mulutnyapenuh, mereka pun kan membersihkan paruhnya denganmenggosok-gosokkannya padakulit filicium yang seperti handukkering. Mereka kemudian ak an turun ke tanah, buncit, penuhdaging, bulat beringsut-ingsut laksana seorang MC. Tak peduli padadunia. Sebaliknya, kami pun tak tertarik menggodanya. Interaksikami dengan jalak kerbau adalah dingin dan individualistis. Demikian pula hubungan kami dengan burung ungkut-ungkutyang mematuki ulat di kulit filicium . Menurutku ungkut-ungkutmendapat nama lokal yang tidak adil. Bayangkan, nama bukunyaadalah coppersmith barbet . Nyatanya ia tak lebih dari burung birupucat membosankan dengan bunyi yang lebih membosankan 51 Laskar Pelangi
  52. 52. kut...kut...kut... namun kehadirannya sangat kami tunggu karena iaselalu mengunjungi pohon filicium sekitar pukul 10 pagi. Pada jamini kami mendapat pelajaran kewarganegaraan yang jauh lebihmembosankan. Suarakut-kut-kut persis di luar jendela kelas kamijelas lebih menghibur dibanding materi pelajaran bergaya indoktrinasi itu. Setelah ungkut-ungkut berlalu hinggaplah kawanan cinenenkelabu yang mencari serangga sisa garapan ungkut-ungkut. Takpernah kulihat mereka hadir bersamaan karena peringaiCoppersmith yang tak pernah mau kalah. Lalu silih berganti sampaimenjelang sore berkunjung burung-burung madu sepah, pipit, jalakbiasa, gelatik batu, dan burung matahari yang berjingkat-jingkatriang dari dahan ke dahan. Demikian harmonisnya ekosistem yang terpusat pada sebatangpohon filicium anggota familia Acacia ini. Seperti para guru yangmengabdi di bawahnya, pohon ini tak henti-hentinya menyokongkehidupan sekian banyak spesies. Padam usim hujan ia semakinsemarak. Puluhan jenis kupu-kupu, belalang sembah, bunglon,lintah, jamur telur beracun, kumbang, capung, ulat bulu, dan ulardaun saling berebutan tempat. Drama, opera, dan orkestra yang manggung di dahan-dahanfilicium sepanjang hari tak kalah seru dengan panggung sandiwarayang dilakoni sepuluh homo sapiens di sebuah kelas di bawahnya.Seperti episode pagi ini misalnya. “Aku mau ikut ke pasar, Cai,” Syahdan memohon kepadaKucai, ketika kami dibagi kelompok dalam pelajaran pekerjaantangan dan harus membli kertas kajang di pasar. “Tapi sandal dan bajuku buruk begini”, katanya lagi denganpolos dan tahu diri sambil melipat karung kecampang yangdipakainya sebagai tas sekolah. “Jangan kau bikin malu aku, Dan, apa kata anak- anak SD PNnanti?” jawab Kucai sok gengsi padahal satu pun ia tak kenal anak-anak kaya itu. Mengesankan dirinya kenal dengan anak-anak 52 Laskar Pelangi
  53. 53. sekolah PN dikiranya mampu menaikkan martabatnya di matakami. Maka sepatuku yang seperti sepatu bola itu kupinjamkanpadanya. Borek rela menukar dulu bajunya dengan baju Syahdan.Lalu Syahdan pun, yang memang berpembawaan ceria, kali initerlihat sangat gembira. Ia tak peduli kalau baju Borek kebesarandan sebenarnya tak lebih bagus dari bajunya. Ada pulakemungkinan Borek kurapan, aku pernah melihat kurap itu ketikakami ramai-ramai mandi di dam tempo hari. Seperti Lintang, Syahdan yang miskin juga anak seorangnelayan. Tapi bukan maksudku mencela dia, karena kenyataannyasecara ekonomi kami, sepuluh kawan sekelas ini, memangsemuanya orang susah. Ayahku, contohnya, hanya pegawairendahan di PN Timah. Beliau bekerja selama 25 tahun mencedoktailing , yaitu material buangan dalam instalasi pencucian timahyang disebut wasserij . Selain bergaji rendah, beliau juga rentanpadarisiko kontaminasi radio aktif dari monazite dan senotim.Penghasilan ayahku lebih rendah dibandingkan penghasilan ayahSyahdan yang bekerja di bagan dan gudang kopra, penghasilansampingan Syahdan sendiri sebagai tukang dempul perahu, sertaibunya yang menggerus pohon karet jika digabungkan sekaligus.Masalahnya di mata Syahdan, gedung sekolah, bagan ikan, dangudang kopra tempat kelapa-kelapa busuk itu bersemedi adalahsama saja. Ia tidak punya sense of fashion sama sekali dan dilingkungannya tidak ada yang mengingatkannya bahwa sekolahberbeda dengan keramba. Sebangku dengan Syahdan adalah A Kiong, sebuah anomali.Tak tahu apa yang merasuki kepala bapaknya, --yaitu A Liong,seorang Kong Hu Cu sejati,-- waktu mendaftarkan anak laki-lakisatu-satunya itu ke sekolah Islam puritan dan miskinini. Mungkinkarena keluarga Hokian itu, yang menghidupi keluarga darisebidang kebun sawi, juga amat miskin. Tapi jika melihat A Kiong, siapa pun akan maklum kenapanasibnya berakhir di SD kampung ini. Ia memang memilikipenampilan akan ditolak di mana-mana. Wajahnya seperti baru 53 Laskar Pelangi
  54. 54. keluar dari bengkel ketok magic , alias menyerupai Frankenstein.Mukanya lbar dan berbentuk kotak, rambutnya serupa landak,matanya tertarik ke atas seperti sebilah pedang dan ia hampir tidakpunya alis. Seluruh giginya tonggos dan hanya tinggal setengahakibat digerogoti phyrite Dan markacite dari air minum. Guru manapun yang melihat wajahnya akan tertekan jiwanya, membayangkanbetapa susahnya menjejalkan ilmu ke dalam kepala aluminiumnyaitu. Dia sangat naif dan tak peduli seperti jalak kerbau. Jika kitamengatakan bahwa dunia akan kiamat besok maka ia pasti akanbergegas pulang untuk menjual satu-satunya ayam yang ia miliki,bahkan meskipun sang ayam sedang mengeram. Dunia baginyahitam putih dan hidupadalah sekeping jembatan papan lurus yangharus dititi. Namun, meskipun wajahnya horor, hatinya baik luarbiasa. Ia penolong dan ramah, kecuali pada Sahara. Tapi tak dinyana, sekian lama waktu berlalu, rupanya kepalakalengnya cepat juga menangkap ilmu. Justru pria beraut manismanja yang duduk di depannya dan berpenampilan layaknyaorangpintar serta selalu mengangguk-angguk kalau menerimapelajaran, ternyata lemot bukan main, namanya Kucai. Kucaisedikit tak beruntung. Kekurangan gizi yang parah ketika kecilmungkin menyebabkan ia menderita miopia alias rabun jauh. Selianitu pandangan matanya tidak fokus, melenceng sekitar 20 derajat.Mak a jika ia memandang lurus ke depan artinya yang ia lihatadalah ben da di samping benda yang ada persis di depannya dandemikian sebaliknya, sehingga saat berbicara dengan seseorang iatidak memandang lawan bicaranya tapi ia menoleh ke samping.Namun, Kucai adalah orang paling optimis yang pernah aku jumpai.Kekurangannya secara fisik tak sedikit pun membuatnya minder.Sebaliknya, ia memiliki kepribadian populis, oportunis, bermulutbesar, banyak teori, dan sok tahu. Kucai memiliki Network yang luas. Ia pintar bermain kata-kata. Kalau hanya perkara perselisihan pen eng sepeda denganaparat desa, informasi di mana bisa menjual beras jatah PN, ataubagaimana cara mendapatkan karcis pasar malam separuh harga,serahkan saja padanya, ia bisa memberi solusi total. Kelemahannya 54 Laskar Pelangi
  55. 55. adalah nilai-nilai ulangannya tidak pernah melampaui angka enamkarena ia termasuk murid yang agak kurang pintar, bodoh yangdiperhalus. Maka jika digabungkan sifat populis, sok tahu, danoportunis dengan otaknya yang lemot Kucai memiliki semua kualitasuntuk menjadi seorang politisi. Kenyataannya memang begitu.Seperti kebanyakan politisi jika ia bicara tatapan matanya dangayanya sangat meyakinkan walaupun dungunya minta ampun.Kualitas kepolitisiannya itu mungkin menurun dari bapaknya. Beliauadalah seorang pensiunan tukang bagi beras di PN Timah dan telahbertahun-tahun menjabat sebagai ketua Badan Amil masjidkampung. Kucai juga bertahun-tahun menjadi ketua kelas kami namunbagi kami ketua kelas adalah jabatan yang paling tidak menyenangkan. Jabatan itu menyebalkan antara lain karena harusmengingatkan anggota kelas agar jangan berisik padahal diri sendiritak bisa diam. Ini men yebabkan tak ada dari kami yang inginmenjadi ketua kelas, apalagi kelas kami ini sudah terkenal susahdikendalikan. Berulang kali Kucai menolak diangkat kembalimenduduki jabatan itu, namun setiap kali Bu Mus mengingatkanbetapa mulianya menjadi seorang pemimpin, Kucai pun luluh dandengan terpaksa bersedia menjabat lagi. Suatu hari dalam pelajaran bdui pekerti kemuhamadiyahan,Bu Mus menjelaskan tentang karakter yang dituntut Islam dariseorang amir. Amir dapat berarti seorang pemimpin. Beliau menyitirperkataan Khalifah Umar bin Khatab. “Barangsiapa yang kami tunjuk sebagai amir dan telah kamitetapkan gajinya untuk itu, maka apa pun yang ia terima selaingajinya itu adalah penipuan!. Rupanya Bu Mus geram dengan korupsi yang merajalela dinegeri ini dan beliau menyambung dengan lan tang. “Kata-kata itu mengajarkan arti penting memegang amanahsebagai pemimpin dan Al-Qur’an mengingatkan bahwakepemimpinan seseorang akan dipertanggung jawabkan nanti diakhirat ..... 55 Laskar Pelangi
  56. 56. Kami terpesona mendengarnya, namun Kucai gemetar.Mendapati dirinya sebagai seorang pemimpin kelas ia gamang padapertanggungjawaban setelah mati nanti, apalagi sebagai seorangpolitisi ia menganggap bahwa menjadi ketua kelas itu tidak adakeuntungannya sama sekali. Tidak adil! Lagi pula ia sudah muakmengurusi kami. Kami terkejut karena serta-merta ia berdiri danberdalih secara diplomatis. “Ibunda Guru, Ibunda mesti tahu bahwaanak-anak kuli ini kelakuannya seperti setan. Sama sekali tak bisadisuruh diam, terutama Borek, kalautak ada guru ulahnya ibaratpasien rumah sakit jiwa yang buas. Aku sudah tak tahan, Ibunda,aku menuntut pemungutan suara yang demokratis untuk memilihketua kelas baru. Aku juga tak sanggup mempertanggung jawabkankepemimpinanku di padang Masyar nanti, anak-anak kumal ini yangtak bisa diatur ini hanya akan memberatkan hisabku!. Kucai tampak sangat emosional. Tangannya menunjuk-nunjukke atas dan napasnya tersengal setelah menghamburkan unek-unekyang mungkin telah dipendamnya bertahun-tahun. Ia menatap BuMus dengan mata nanar tapi pandangannya ke arah gambar R.H.Oma Irama Hujan Duit. Kami semua menahan tawa melihatpemandangan itu tapi Kucai sedang sangat serius, kami tak inginmelukai hatinya. Bu Mus juga terkejut. Tak pernah sebelumnya beliaumenerima tanggapan selugas itu dari muridnya, tapi beliau meklumpada beban yang dipikul Kucai. Beliau ingin bersikap seimbangmaka beliau segera menyuruh kami menuliskan nama ketua kelasbaru yang kami inginkan di selembar kertas, melipatnya, danmenyerahkannya kepada beliau. Kami menulis pilihan kami denganbersungguh-sungguh dan saling berahasiakan pilihan itu dengansangat ketat. Kucai senang sekali. Wajahnya berseri-seri. Ia merasatelah mendapatkan keadilan dan menganggap bahwa bebannyasebagai ketua kelas akan segera berakhir. Suasana menjadi tegang menunggu detik-detik penghitungansuara. Kami gugup mengantisipasi siapa yang akan menjadi ketuakelas baru. 56 Laskar Pelangi
  57. 57. Sembilangulungan kertas telah berada dalam genggaman BuMus. Beliau sendiri kelihatangugup. Beliau membuka gulunganpertama. “Borek!” teriak Bu Mus. Borek pucat dan Kucai melonjak girang. Terang-terangan iamenunjukkan bahwa ia sendiri yang telah memilih Borek, kawansebangkunya yang ia anggap pasien rumah sakit jiwa yang buas. BuMus melanjutkan. “Kucai!. Kali ini Borek yang melonjak dan Kucai terdiam. Kertasketiga. “Kucai!. Kucai tersenyum pahit. Kertas keempat. “Kucai!. Kertas kelima. “Kucai!. Kucai pucat pasi. Demikian seterusnya sampai kertaskesembilan. Kucai terpuruk. Ia jengkel sekali kepada Borek yangtubuhnya menggigil menahan tawa. Ia memandang Borek dengantajam tapi matanya mengawasi Trapani. Karena Harun tak bisamenulis maka jumlah kertas hanya sembilan tapi Bu Mus tetapmenghargai hak asasi politiknya. Ketika Bu Mus mengalihkanpandangan kepada Harun, Harun mengeluarkan senyum khasdengan gigi-gigi panjgannya dan berteriak pasti. “Kucai ...!. Kucai terkulai lemas. Hari ini kami mendapat pelajaranpenting tentang demokrasi, yaitu bahwa ternyata prinsip-prinsipnya 57 Laskar Pelangi
  58. 58. tidakefektif untuk suksesi jabatan kering. Bu Mus menghampirinyadengan lembut sambil tersenyum jenaka. “Memegang amanah sebagai pemimpin memang berat tapijangan khawatir orang yang akan mendoakan. Tidakkah Anandasering mendengar di berbagai upacara petugas sering mengucapdoa: Ya, Allah lindungilah para pemimpin kami? Jarang sekali kitamendengar doa: Ya Allah lindungilah anak-anak buah kami ....” DUDUK di pojok sana adalah Trapani. Namanya diambil darinama sebuah kota pantai di Sisilia. Nyatanya ia memang seelokkota pantai itu. Ia memesona seumpama bondol peking. Si rapi jaliini adalah maskot kelas kami. Seorang perfeksionis berwajahseindah rembulan. Ia tipe pria yang langsung disukai wanita melaluisekali pandang. Jambul, baju, celana, ikat pinggang, kaus kaki, dansepatunya selalu bersih, serasi warnanya, dan licin. Ia tak bicara jikatak perlu dan jika angkat bicara ia akan menggunakan kata-katayang dipilih dengan baik. Baunya pun harum. Ia seorang pemudasantun harapan bangsa yang memenuhi semua syarat Dasa DharmaPramuka. Cita- citanya ingin jadi guru yang mengajar di daerahterpencil untuk memajukan pendidikan orang Melayu pedalaman,sungguh mulia. Seluruh kehidupannya seolah terinspirasi lagu WajibBelajar karya R.N. Sutarmas. Ia sangat berbakti kepada orangtua, khususnya ibunya.Sebaliknya, ia juga diperhatikan ibunya layaknya anakemas.Mungkin karena ia satu-satunya laki-laki di antara lima saudaraperempuan lainnya. Ayahnya adalah seorang operator vessel boarddi kantor telepon PN sekaligus tukang sirine. Meskipun rumahnyadekat dengan sekolah tapi sampai kelas tiga ia masih diantar jemputibunya. Ibu adalah pusat gravitasi hidupnya. Trapani agak pendiam, otaknya lumayan, dan selalumenduduki peringkat ketiga. Aku sering cemburu karena akukebajiran salam dari sepupu-sepupuku untuk disampaikan padalaki-laki muda flamboyan ini. Dia tak pernah menanggapi salam-salam itu. Di sisi lain kami juga sering jengkel pada Trapani karenasetiap kali kami punya “acara”, misalnya menyangkutkan sepedaPak Fahimi—guru kelas empat yang tak bermutu dan selalu 58 Laskar Pelangi

×