Gajahmada   iGajahmada
ii   Gajahmada
Gajahmada   iii GajahmadaLangit Kresna Hariadi    TIGA SERANGKAI         SOLO
iv   Gajahmada                    Gajahmada                   Langit Kresna Hariadi                         Editor: Sukini...
Gajahmada      v                              Kata Pengantar Penerbit    S  ejarah adalah guru kehidupan. Sosoknya yang us...
vi     Gajahmada    Sejarah dan fiksi, dua hal besar, penting, kadang ekstrem,bahkan tidak masuk akal. Lantas, kemungkinan...
Gajahmada      vii                            Mengais Kepingan Sejarah    Mempelajari sejarah dengan tidak sedang belajar ...
viii      Gajahmadakemungkinan bertempat tinggal di planet lain selain bumi—kitajustru sibuk dan terkagum-kagum dengan keb...
Gajahmada    ix           saya dedikasikan kisah ini  untuk seseorang yang kepada beliau                 saya banyak belaj...
x   Gajahmada
Gajahmada       11    Perjalanan sejarah berlangsung sangat panjang dan tak diketahuidi mana ujungnya. Ada dua wangsa yang...
2       Gajahmadagarisketurunanberikutnya,SriDharmawangsaTeguh Anantawikramatungga-dewa, yang memerintah dengan aman dan d...
Gajahmada        3Crnggalancana Digwijayotunggadewa, yang menggunakan Changkaatau kerang bersayap sebagai lambang kerajaan...
4      Gajahmadakemungkinan Kediri bakal bangkit kembali dan menusuk dari arahbelakang.    Kertanegara lengah. Ketika sege...
Gajahmada       52    M      alam yang senyap menyergap istana Majapahit. Beberapa buahobor telah dinyalakan dan mencoba m...
6      Gajahmadatanpa hujan itu menumbuhkan tanda tanya karena gejala alam yangdemikian terasa aneh. Jarang sekali angin b...
Gajahmada       7arah berupa rumah kecil tempat duduk raja yang biasa disebut BalaiWitana.     Dari Balai Witana, bila pan...
8       Gajahmadayang menjadi bagian dari pasukan khusus dengan derajat kemampuanmelebihi prajurit dari kesatuan yang lain...
Gajahmada       9yang jarang dimiliki oleh orang lain. Apabila malam tiba, apalagi langittampak jernih, mereka sering kali...
10      Gajahmadasangat berdarah terjadi di kotaraja Singasari. Kertanegara yang tidakdikelilingi prajuritnya karena dikir...
Gajahmada       11bersembunyi di sela pelukan ayah dan ibunya. Bagi bocah itu, di luarsana ketika anjing sedang saling men...
12      Gajahmadakian menjadi manakala melihat kabut yang amat pekat seolah menyergapwisma kediamannya.     Seorang prajur...
Gajahmada       13hinggap seekor burung gagak, boleh diyakini orang yang sakit itu akansegera mati. Atau, jika burung gaga...
14      Gajahmada    ”Pergilah ke istana,” tiba-tiba Tadah berkata, ”panggil BekelGajahmada. Suruh dia menghadapku sekaran...
Gajahmada       15arah yang lain juga terdengar suara lengkingan yang serak tidak nyamandi telinga. Bahkan, seperti ada be...
16      Gajahmadasendiri. Itu sebabnya, Gajahmada meminta kepada segenap anakbuahnya untuk meningkatkan kewaspadaan.     G...
Gajahmada       17    Orang yang menghadangnya itu belum menjawab. Namun,Gajahmada mampu mengikuti gerak langkah yang diam...
18       Gajahmadaberdiri di tepi alun-alun itu. Dengan saksama ia memerhatikan keadaanyang terasa sepi, senyap, dan damai...
Gajahmada       19serendah-rendahnya senopati. Jika dibutuhkan pasukan dalam waktusingkat untuk membetengi istana, kesatua...
20       GajahmadaArya Tadah yang justru termangu seolah ada sesuatu yang tengahdirenungkan. Bekel Gajahmada tetap menungg...
Gajahmada       21    Bekel Gajahmada mengangguk. Gajahmada juga menyaksikankeajaiban alam itu. Di siang hari matahari ber...
22      Gajahmada     ”Menurut Mapatih, apa nama Manjer Kawuryan mempunyai arti?”    Pertanyaan Gajahmada yang membelok se...
Gajahmada        23      ”Siapa menurutmu Bekel Gajahmada? Kau mempunyai dugaan,siapa kira-kira orang yang keracunan bunga...
24      Gajahmada    ”Apakah masih ada yang tidak puas terhadap pengangkatan TuankuJayanegara?” bertanya Arya Tadah seolah...
Gajahmada       25perasaan pejabat yang dahulu bahu-membahu bersama ayahnya bekerjakeras meletakkan pilar berdirinya negar...
26       Gajahmada    Mahapatih Arya Tadah duduk kembali dan menatap wajahGajahmada dengan tatapan sangat lekat. Udara yan...
Gajahmada       27     Patih Arya Tadah terdiam. Tadah makin gelisah. Kabut makin tebaldan burung gagak itu berkaok-kaok m...
28       Gajahmada4     G  ajahmada segera mengumpulkan beberapa anak buahnya yangtergabung dalam pasukan khusus Bhayangka...
Gajahmada       29    ”Siapa yang akan melakukan tindakan makar itu?” tanya Pradhabasu.    Pertanyaan itu sekaligus mewaki...
30      Gajahmada    Waktu terus merambat. Bekel Gajahmada tambah gelisah. BekelGajahmada merasa keadaan yang dihadapinya ...
Gajahmada      31berkemampuan olah perang yang memimpin pasukan segelar sepapan.Prajurit berpangkat temenggung itu adalah ...
32       Gajahmadadan luar biasa apabila kecantikan kedua putri itu mampu membuatorang lupa diri meski mereka masing-masin...
Gajahmada        33     ”Siapa?” bertanya seorang prajurit.     ”Bekel Gajahmada dari Bhayangkara,” Gajahmada menjawabpert...
34      Gajahmadaitu tidak mau bertele-tele. Waktu yang ada amat sempit untuk membualdan diboroskan dengan membicarakan se...
Gajahmada       35     ”Mohon maaf Rakrian Temenggung, apakah aku diizinkanmenyambungkan pertanyaan itu kepada Mahapatih T...
36      Gajahmada     ”Berdasarkan laporan telik sandi, besok pagi akan ada kraman.”    Rakrian Banyak Sora terlonjak. Men...
Gajahmada      37tempat. Keadaan yang kusampaikan ini mungkin bisa memberikangambaran kepada Rakrian Temenggung ada apa ki...
38      Gajahmada    Bekel Gajahmada lega. Setidak-tidaknya bisa diharapkan banjirbandang yang akan terjadi itu bisa dired...
Gajahmada       39regol kesatrian mengantarkannya menemui Temenggung Panji Watang.Rupanya Temenggung Panji Watang belum ti...
40      Gajahmadamembuka gelar perang dan kemudian menyerbu istana. Jarak antarabangsal ini dengan istana tidak terlampau ...
Gajahmada       41sebagai Dharmaputra Winehsuka, diberi anugerah kebahagiaan. Siapamengira Rakrian Kuti justru terlibat da...
42      Gajahmada     Jawaban itu tentu saja makin membuat Bekel Gajahmada kagetdan tertegun. Dengan demikian, Bekel Gajah...
Gajahmada       43     Merasa telah menemukan jawaban, Bekel Gajahmada tersenyum.Diliriknya Gagak Bongol yang telah bersia...
44      GajahmadaBila Gajahmada tidak memegang benda itu, dengan senang hati ia akanmengayunkan tangannya menggampar wajah...
Gajahmada       45     Tanpa banyak bicara Bekel Gajahmada dan Gagak Bongolmembedal kudanya, kembali berderap ke istana. K...
46      Gajahmada    ”Tidak terjadi sesuatu Kakang. Atau, jawaban yang lebih tepat adalahsampai saat ini belum,” Gajah Pra...
Gajahmada      47    ”Pasukan Jala Rananggana terlibat, mereka tak ada di bangsalkesatrian. Rakrian Pujut Luntar terbujuk ...
48      Gajahmada     ”Apakah Panji Watang tidak merasa berkewajiban untuk melindungiraja dan menyelamatkan negara?”     B...
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada

951

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
951
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
27
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Langit kresna hariadi_-_1._gajah_mada

  1. 1. Gajahmada iGajahmada
  2. 2. ii Gajahmada
  3. 3. Gajahmada iii GajahmadaLangit Kresna Hariadi TIGA SERANGKAI SOLO
  4. 4. iv Gajahmada Gajahmada Langit Kresna Hariadi Editor: Sukini Desain sampul: Hapsoro Ardianto Penata letak isi: Nugroho Dwisantoso Cetakan pertama: 2004 Cetakan kedua: 2005 Cetakan ketiga: 2006 Cetakan keempat: 2006 Penerbit Tiga Serangkai Jln. Dr. Supomo 23 Solo Anggota IKAPI Tel. 62-271-714344, Fax. 62-271-713607 http:/ www.tigaserangkai.co.id / e-mail: tspm@tigaserangkai.co.id Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) Hariadi, Langit Kresna Gajahmada/Langit Kresna Hariadi— Cet. IV — Solo Tiga Serangkai, 2006 x, 582 hlm. ; 21 cm ISBN 979–668–558–2 1. Fiksi I. Judul ©Hak cipta dilindungi oleh undang-undang All Rights Reserved Dicetak oleh PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
  5. 5. Gajahmada v Kata Pengantar Penerbit S ejarah adalah guru kehidupan. Sosoknya yang usang justrukerap memberi ilham pencerahan. Pembacaan atas sejarah dapatmempertemukan manusia dengan segenap kearifan. Pada titikpaling spektakuler, sejarah yang terangkum dalam karya Ilahiahbernama kitab suci, bahkan mampu mengantarkan manusia tundukdi haribaan Tuhannya atas nama keimanan. Fiksi, sebagai karya seni boleh saja lahir dan besar dari ranahimajinasi. Akan tetapi, arti penting karya fiksi bagi pembentukandan pelestarian peradaban tidak dapat dikecilkan hanya karena iamenyandang label sebagai buah imajinasi. Imajinasi dalam novel-novel Jules Verne mampu membimbingilmuwan semacam J.D. Watson menemukan DNA, AugustePichard menemukan lampu neon. Penemuan-penemuan lain sepertibalon udara, kapal selam nuklir, hujan buatan, dan rudal, sedikitbanyak berutang pada imajinasi Verne. Keteguhan pada komitmen-komitmen moral yang kemudiandiekspresikan melalui karya fiksi jualah yang membuat orang-orang semacam Pramudya Ananta Toer, Gao Xingjian, dan BorisPasternak tergusur dari kesempatan menjalani hidup secara wajar.Atas nama karya fiksi tokoh-tokoh ini harus rela hidupnyadinistakan dengan segala kenelangsaannya.
  6. 6. vi Gajahmada Sejarah dan fiksi, dua hal besar, penting, kadang ekstrem,bahkan tidak masuk akal. Lantas, kemungkinan seperti apa yangbakal lahir dari sintesis dua hal dahsyat ini? Pasti, bukan hal yangremeh-temeh, apalagi kosong. Gajahmada dan Majapahit adalah ikon yang akan selalu hadirdalam pentas sejarah panjang perjalanan bangsa ini. Hanya,barangkali tidak terlalu banyak yang mengetahui bahwa di balikdua nama besar ini tersimpan kisah amat memesona, penuh gejolak,dan menggugah. Fakta sejarah inilah yang ditautkan dengan fiksi sehingga lahirsebuah epos berjudul Gajahmada. Eksplorasi kesejarahan ini akanmengabarkan kepada Anda bahwa nama besar Majapahit bukanhanya terbangun karena luas wilayahnya, ketangguhan Gajahmada,pemerintahan Raden Wijaya, atau Jayanegara. Di balik segalakemegahan itu ada pasukan elite bernama Bhayangkara yangsumbangsihnya membuat kita mengenal Majapahit dengan segalakebesarannya seperti sekarang ini. Semoga karya ini mampu menjadi ”teman” bagi Anda yangingin melakukan pembacaan sejarah dan menghikmati kearifan didalamnya karena hidup manusia mestinya adalah sebuah hidup yangmenyejarah. Tiga Serangkai
  7. 7. Gajahmada vii Mengais Kepingan Sejarah Mempelajari sejarah dengan tidak sedang belajar sejarah,itulah yang Anda lakukan dengan membaca buku tebal ini yangoleh sang pengarang tidak diniatkan menjadi buku sejarah. Ini hanyanovel, epos sejarah yang berkesanggupan menjebak benak Andauntuk tidak dapat menghindarinya. Lembar demi lembar bagaibahasa gambar dalam film, yang bertutur amat rinci bagaimanasilsilah raja-raja masa silam menjadikan Anda paham tidak denganniat berusaha memahami, apalagi menghafalkan. Kelebihan luarbiasa yang dimiliki sang pengarang yang terefleksikan dalambagaimana cara menghadirkan sosok Gajahmada dan sepakterjangnya, menghadirkan pasukan kecil Bhayangkara dengan segalakeuletannya, sekaligus mengajak kita berwisata kembali ke masalampau. Sungguh, cara pengarang dalam menghadirkan kembalisebuah istana yang bahkan tak tersisa satu pilar pun penyangganyabenar-benar membuat saya miris. Sejarah, adalah sebuah wilayah yang dari dimensi waktu beradadi bagian lalu. Saya pernah memperoleh sebuah pendapat dari salahseorang anak saya tentang naifnya bangsa kita—ketika negara majuseperti Amerika, Jepang, dan negara-negara Eropa sibuk denganeksplorasi terhadap masa depan, sibuk membuat kalkulasi sertaramalan dengan jebolnya lapisan ozon, bagaimana membuatrancangan terhadap kesejahteraan umat manusia pada masa datangsupaya anak cucu tidak menjadi penyangga dosa generasi lapissebelumnya, sibuk mengeksplorasi luar angkasa dan mencari
  8. 8. viii Gajahmadakemungkinan bertempat tinggal di planet lain selain bumi—kitajustru sibuk dan terkagum-kagum dengan kebesaran Sriwijaya danMajapahit. Negara lain sibuk mengelola masa depan sementarabangsa kita sibuk terlena mengagumi kebesaran masa silam yangtelah terbenam di wilayah sejarah. Saya memiliki jawaban untuk pertanyaan itu, bahwa padahakikatnya eksplorasi total terhadap ilmu pengetahuan adalah dalamrangka mengungkap rahasianya. Sejauh kegiatan ekplorasi terhadapilmu pengetahuan itu tak lain adalah dalam rangka menguak habissegala rahasia dan misteri penciptaan dunia dari awal dan perjalananpanjangnya, apa yang dilakukan itu di antaranya dengan mengaiskepingan-kepingan sejarah. Tentu mempelajari sejarah bukan dalamhubungan batin emosional terhadap kebesaran masa lalu, tetapi darimempelajarinya merupakan salah satu sumbangsih terhadapperjalanan kehidupan manusia, utamanya penghuni ranahkepulauan Nusantara. Sebagian pengetahuan yang kita butuhkan itu ada di buku ini,untaian sejarah yang tersaji dalam bentuk novel epos sejarah.Sepanjang karier perjalanan saya di militer, saya salut denganpenerjemahan yang dilakukan oleh pengarang dalam mengupasbentuk dan bagaimana perang di masa silam. Istilah-istilah, perangbrubuh, gelar perang Cakrabyuha, Diradameta, dan Supit Urangrasanya masih relevan dikaji melalui sudut dan cara pandang ilmumiliter modern. Saya menyarankan agar Anda juga membaca. Brigjen (purnawirawan) H. M. Lintang Waluyo
  9. 9. Gajahmada ix saya dedikasikan kisah ini untuk seseorang yang kepada beliau saya banyak belajarguru yang dengannya saya tak pernah berjumpayang karya-karyanya amat menyusup memengaruhi jiwa saya, SH Mintardja
  10. 10. x Gajahmada
  11. 11. Gajahmada 11 Perjalanan sejarah berlangsung sangat panjang dan tak diketahuidi mana ujungnya. Ada dua wangsa yang tercatat dan keberadaan merekaditandai dengan megah dalam wujud candi Borobudur di arah baratGunung Merapi dan candi Jonggrang di Prambanan di arah selatangunung itu pula. Garis keturunan Syailendra dan garis keturunan Sanjayasilih berganti menyelenggarakan pemerintahan. Agama Hindu dan Bud-dha marak mewarnai kehidupan segenap rakyatnya. Hukum ditegakkan,negara dalam keadaan gemah ripah loh jinawi. Dari prasasti Balitung ditulis bahwa Medang Ri Pohpitu atau Medangdi Pohpitu, Raja Mataram yang pertama adalah Sanjaya, disusul olehPanangkaran, Panunggalan, Warak, Garung, Pikatan, Kayuwangi, WatuHumalang, dan Balitung. Pada prasasti Canggal tertulis bahwa padatahun Saka yang telah lalu dengan ditandai angka Caka Cruti IndriaRasa, pada hari Senin, hari baik, tanggal tiga belas bagian terang bulanKartika, sang Raja Sanjaya mendirikan lingga yang ditandai dengan tanda-tanda di bukit yang bernama Stirangga untuk keselamatan rakyat. Perjalanan waktu mengubah segalanya. Pemerintahan di tanah JawaDwipa bergeser ke arah timur, ada Isyana yang meninggalkan jejakamat jelas bersamaan dengan Warmadewa di Bali dan Sriwijaya diSumatra. Sejak berkuasanya Sindok, Jawa bagian timur menggantikanJawa wilayah tengah di atas panggung sejarah. Empu Sindok danketurunannya banyak meninggalkan prasasti, berturut-turut sampai pada
  12. 12. 2 Gajahmadagarisketurunanberikutnya,SriDharmawangsaTeguh Anantawikramatungga-dewa, yang memerintah dengan aman dan damai negara MedangKamulan. Manakala Sri Dharmawangsa pralaya, Airlangga berhasil meloloskandiri serta membangun kembali reruntuhan pemerintahan. Tahun 1019,atau dalam sengkalan Gatra Candra Maletik Ing Sasadara, oleh parapendeta Buddha, Siwa, dan Hindu, Airlangga dinobatkan menjadi rajamenggantikan Dharmawangsa. Pemerintahan Airlangga benar-benarmemberikan air kehidupan bagi segenap rakyatnya. Namun, sebuahkekeliruan telah dilakukan oleh Airlangga yang mengesampingkanpersatuan dan kesatuan dengan membelah kerajaan menjadi dua. SriSanggramawijaya, sang pewaris takhta yang ternyata tidak bersediadinobatkan menjadi raja, mendorong Airlangga untuk bertindak adilatas dua anaknya yang lain. Kahuripan dibelah menjadi Jenggala yangberibu kota di Kahuripan dan Panjalu yang beribu kota di Daha.Sebagaimana terlihat dari jejak-jejaknya, Jenggala tidak mampuberkembang menjadi negara yang besar. Jenggala lenyap dari percaturansejarah, sebaliknya Panjalu atau Kediri masih meninggalkan jejakkemegahannya. Berturut-turut Sri Jayawarsa Digdaya Castraprabu, dilanjutkan oleh SriKameswara yang bergelar Sri Maharaja Rake Sirikan Sri KameswaraSakalabhuawanatustikirana Sarwaniwaryawirya Parakramadigdayotunggadewa,menggunakan lencana kerajaan berupa Candrakapala berwujud tengkorakdengan taring. Selanjutnya, pemerintahan Prabu Jayabhaya yang bergelar Sri Ma-haraja Sri Dharmmecwara Madhusudanawataranindhita SuhrtsinghaParakramma Digjayotunggadewa, menggunakan lencana kerajaanberupa Narasingha. Jayabhaya digantikan Sarwecwara, selanjutnyadigantikan Sri Aryyeccwara yang menggunakan Ganeca sebagai lambangkekuasaan. Ketika Aryyeccwara surut digantikan Sri Gandra yangbergelar Sri Maharaja Sri Kroncarryadipa HandhabuwanapalakaParakramanindita Digjayotunggadewanama Sri Gandra. Pemerintahan Sri Gandra berakhir, dilanjutkan oleh Raja Crnggayang bergelar Sri Maharaja Sri Sarwwecwara Triwikramawataranindita
  13. 13. Gajahmada 3Crnggalancana Digwijayotunggadewa, yang menggunakan Changkaatau kerang bersayap sebagai lambang kerajaan. Raja Kediri terakhir, Sri Kertajaya, menggunakan lambangGarudhamuka sebagaimana Airlangga, leluhurnya. Akan tetapi, SriKertajaya menganggap dirinya sebagai penjelmaan dewa dan memintakepada para Brahmana, pendeta Siwa dan Buddha untuk menyembahnya.Para pemuka agama tak bisa menerima perlakuan itu dan merestuiKen Arok, maling kecil dari Karautan untuk melakukan makar setelahdengan gemilang berandalan ini merampok kekuasaan Tumapel melaluikelicikan otaknya. Nasib Kertajaya berakhir ketika Ken Arok mengalahkannya dalampertempuran yang amat berdarah di Ganter. Sejak itu garis keturunanKen Arok mulai berkibar sekaligus banyak diwarnai peristiwa berdarah.Keris Empu Gandring berbicara atas nama dendam. Berturut-turutmati tertikam oleh keris dengan pamor berbau amarah itu: EmpuGandring sang pencipta keris itu sendiri, disusul Tunggul Ametung,Akuwu Tumapel yang beristrikan Sang Ardhanareswari yang cantikjelita, Ken Dedes. Selanjutnya, mati menyedihkan Kebo Ijo yang menjadikorban fitnah dan kelicikan Ken Arok ketika mengangkat diri sendirimenjadi Akuwu di Tumapel dan nantinya menjadi raja pertama diSingasari bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabhumi. Ken Arokmenjadi korban keganasan keris yang sama, ia harus menggeliat sekaratdibunuh Batil Pengalasan utusan Anusapati. Batil Pengalasan membayardengan nyawanya karena Anusapati tidak ingin rahasianya terbongkar,disusul kemudian oleh kematian Anusapati dalam permainan adu jagomelalui tikaman yang tidak terduga yang dilakukan oleh Tohjaya, anakUmang. Terakhir, Tohjaya harus membayarnya melalui kematian yanghina, Raja Singasari ini dibunuh oleh pengangkat tandunya sendiri setelahSingasari diterjang banjir bandang akibat gempuran gabungan kekuatanRanggawuni, anak Anusapati dan Mahisa Cempaka, anak Mahisa WongA Teleng. Pemerintahan yang terjadi banyak diwarnai dengan perebutankekuasaan dan persaingan. Antara garis keturunan Ken Dedes dan KenUmang saling mengintip celah untuk saling menjatuhkan, serta
  14. 14. 4 Gajahmadakemungkinan Kediri bakal bangkit kembali dan menusuk dari arahbelakang. Kertanegara lengah. Ketika segenap prajurit dia kirim ke Pamalayu,bagaikan banjir bandang prajurit Kediri menyerang Singasari. Pasukanyang ada tak sanggup membendung serbuan pasukan Jayakatwang. Raden Wijaya, anak Lembu Tal, cucu Mahisa Cempaka yang menjadimenantu Kertanegara mencoba menyusun kembali puing-puing pilarpemerintahan yang runtuh. Di bumi Tarik, Raden Wijaya memulai babathutan, dan dinamailah tempat itu Majapahit hanya oleh sebuah alasandidapat buah maja yang terasa pahit. Majapahit juga berarti Wilwatikta.Atas dukungan para pendeta, Brahmana Buddha dan Syiwa, RadenWijaya naik takhta bergelar Kertarajasa Jayawardhana. Majapahit tumbuh dan berkembang, tetapi tetap saja diwarnaidengan banyak makar yang berawal dari ketidakpuasan. Ranggalaweyang tidak bisa menerima kenyataan bahwa bukan ia yang diangkatmenjadi Mahapatih memilih mengangkat senjata. Kidung Ranggalawebertutur bagaimana Kebo Anabrang berhasil membunuh Ranggalawe.Dalam kidung Sorandaka diceritakan pula bagaimana Kebo Anabrangmampu meredam pemberontakan Sora. Nambi dan ayahnyamengangkat senjata dengan membuat beteng di Pajarakan, tetapi Pajarakandan Lumajang dapat digilas. Nambi dan segenap keluarganya ditumpas.Di Lasem, Ra Semi juga mengangkat senjata memerdekakan diri,mencoba meniru yang dilakukan Ken Arok terhadap Kertajaya di Kediri. Hingga akhirnya tibalah kini, para Rakrian Dharma Putra Winehsukamelakukan makar.
  15. 15. Gajahmada 52 M alam yang senyap menyergap istana Majapahit. Beberapa buahobor telah dinyalakan dan mencoba menerangi sudut-sudut istana.Beberapa prajurit terlihat berjalan mondar-mandir di regol dan halaman,beberapa yang lain duduk termangu menatap kabut yang turun. Dilangit, bulan purnama timbul tenggelam seperti berada di wilayah antaraada dan tiada. Tebalnya kabut akhirnya memberangus gemilang cahayanyamenjadi adukan warna putih yang penuh oleh gumpalan teka-teki takberjawab, dari mana asal kabut itu juga sebagai pertanda bakal adakejadian apa. Udara yang dingin memberangus siapa pun untuk menggigil.Seorang perempuan tua merasa cemas minyak kelentik yang dibuatnyaseharian akan beku di musim bediding yang menyengat itu. Sebenarnyasoal minyak kelentik terbuat dari santan kelapa yang membeku tidaklahmasalah karena bila hawa panas menjamahnya, keadaan beku itu akanmencair lagi. Sesungguhnya, ibu kota Majapahit jarang-jarang disergapkabut, tetapi kali ini benar-benar bagai sebuah keajaiban. Beberapaprajurit bahkan menjadikan kabut itu sebagai tontonan. Makin lamakabut yang turun makin tebal merampok jarak pandang. Empat buahobor besar di pendapa yang menyala karena minyak lemak terlihat amatkabur, bahkan makin tidak terlihat kecuali cahaya temaram yangbergelombang. Angin yang berembus dengan halimun uleng-ulenganakhirnya membunuh obor tanpa meninggalkan rasa kasihan. Satu persatu cahaya penerang istana itu padam. Cahaya di langit yang disebarkanbulan sama sekali tidak membantu. Udara yang turun terasa dingin menggigit tulang. Rupanya angintelah berembus salah kaprah. Kabut yang semula mengemuli puncakGunung Arjuno, Gunung Welirang, dan Gunung Anjasmoro bergerakke arah utara dan menyebar ke segenap sudut kotaraja Majapahit,menyebar dan menyergap wilayah di sekitarnya. Angin menderu-deru
  16. 16. 6 Gajahmadatanpa hujan itu menumbuhkan tanda tanya karena gejala alam yangdemikian terasa aneh. Jarang sekali angin berembus keras tanpamembawa butiran hujan, apalagi kabut yang teraduk bagaimemindahkan siapa pun yang menyaksikan dari dunia nyata menujudunia hantu atau dunia antah berantah. Berada di dalamnya, kaki bagaitidak menginjak tanah. Istana Majapahit yang megah, yang dibangun dengan dinding tebalberbatu berawal dari sebuah desa bernama Tarik, berada pada garislurus ke selatan dari Pelabuhan Sungai juga Benteng Canggu yang terletakdi arah selatan pedukuhan Majakerta. Salah satu pintu gerbangnya yangmenjulang gagah disebut Candi Wringin Lawang. Siapa pun yangmengerjakan penyelesaian puncak pintu gerbang itu atau apabila orangmemanjat tingginya pohon kelapa, dari tempat itu akan tampak beberapapohon cemara yang menandai taman makam Antahpura berada, disana, di tempat yang orang juga menyebutnya Trowulan terletak sebuahsegaran tempat para ratu dan putri istana membasahi diri dalam acaralelumban. Istana Majapahit menghadap ke arah barat dengan alun-alunberdinding rangkap menjadikan adanya alun-alun dalam dan luar. Luasalun-alun dengan dinding menjulang setinggi rumah dirasa masih belumcukup dan dipandang perlu membangun alun-alun luar sertamelingkarinya dengan pagar dinding batu yang menjulang lebih tinggi.Pintu gerbangnya yang amat megah ditandai nama Purawaktra.Sepanjang jalan yang membelah alun-alun bagian dalam ditanami pohontanjung berselang-seling dengan pohon bramastana menjadikan istanayang lazim disebut Bale Manguntur atau Tatag Rambat itu terasa sejukdan sangat asri. Di Bale Manguntur inilah dilaksanakan pasewakan dan pisowanan agengsekaligus menjadi bagian muka istana raja. Pasewakan dan pisowananbiasanya diikuti oleh segenap kesatria, para pendeta, pujangga serta duaorang dharmadyaksa dengan tujuh pembantu yang selalu menyertainya.Bagian utara istana diperuntukkan para pujangga dan menteri, bagiantimur tempat duduk para pendeta Siwa, semuanya menghadap ke sebuah
  17. 17. Gajahmada 7arah berupa rumah kecil tempat duduk raja yang biasa disebut BalaiWitana. Dari Balai Witana, bila pandangan ditebarkan melintas ke depanterlihat barisan pohon asoka yang sedang mekar bunganya berwarnamerah dan putih sangat indah. Pohon asoka berselang-seling denganpohon tanjung dan pohon bramastana juga melingkupi bangunanmemanjang bernama Panca Ri Wilwatikta. Bila tatapan diarahkanmenembus dinding terdapat gedung yang baru saja selesai dibangunditandai nama Wisma Dharmadyaksa Kasaiwan Hyang Brahmaraja. Candi Bajang Ratu meski bernama candi, itu sebutan untuk pintugerbang kota sisi selatan sebagaimana Candi Wringin Lawang adalahsebutan untuk pintu gerbang di arah utara yang pintunya terbuat dariterali baja. Candi Bajang Ratu merupakan bekas pintu utama istana yangjuga disebut Wijil Kapindho, berseberangan letak dengan pintu gerbangberikutnya yang disebut Candi Tikus karena banyak sekali ditemukantikus di tempat itu dan dinamailah gerbang itu Candi Tikus. Lebih ke utara lagi, terdapat sebuah lapangan luas yang seringdimanfaatkan untuk berlatih perang, letaknya tak jauh dari Jati Pasar.Lapangan itu dinamai Bubat yang setiap tahun di bulan Caitra selaludiadakan perayaan besar. Bagai pasar tiban, banyak orang mengunjungipasar itu untuk berbelanja atau menghibur diri. Luas lapanganmembentang ke timur setengah krosa dan ke utara setengah krosa. Cukupmemeras keringat untuk berlari mengelilingi dalam geladi perang. Ditanah lapang yang luas ini sering juga digunakan berlatih watangansebagaimana alun-alun bagian dalam di depan Bale Manguntur jugadimanfaatkan berlatih oleh para prajurit untuk ngembat watang, bahkanberlatih ilmu perang ngrabasa mungsuh. Kabut yang turun tebal itu juga menjarah lapangan Bubat. Kabutjuga dengan kejam membungkus wilayah di luar batas dinding kotaraja.Para prajurit bersiaga penuh. Ke sudut-sudut istana, Gajahmada—yangberpangkat bekel, tetapi memegang kendali penuh atas pasukan kawalistana yang memiliki nama menggetarkan, Bhayangkara—menyebarsegenap prajuritnya untuk berada dalam kesiagaan tertinggi. Prajurit
  18. 18. 8 Gajahmadayang menjadi bagian dari pasukan khusus dengan derajat kemampuanmelebihi prajurit dari kesatuan yang lain benar-benar prajurit yang terlatih,trengginas dalam bertindak, cukat terampil dalam mengambil langkah. Kabut itu terbawa angin deras. Angin deras menyebabkan kabutmenghilang, tetapi muncul lagi karena hawa dingin yang menggigit tulang.Angin deras yang membawa udara dingin menggigit itu pula yangmenyebabkan para istri dengan ketat memeluk suaminya, atau anakyang menyusup mencari perlindungan di balik dekapan ibunya. Paraorang tua yang menganggap yang terjadi itu sebagai sebuah keganjilansegera keluar untuk mencermati. Di sudut sebuah perondan tiga lelaki terheran-heran. ”Apa ini?” bertanya salah seorang di antara mereka. ”Angin membawa kabut!” jawab seorang di antara mereka. ”Ya aku tahu,” ucap yang pertama, ”maksudku, kabut ini sangataneh. Kabut ini terlalu tebal dan tidak wajar. Aku bahkan tidak bisamelihat wajahmu dengan jelas.” ”Itu karena matamu lamur,” jawab orang di sebelahnya. Yang seorang lagi yang pendiam ikut bicara. ”Tidak ada yang aneh dengan kabut ini. Hanya kabut biasa danhanya gejala alam biasa. Hanya kebetulan sangat tebal. Di masa mudaku,di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing aku sering berhadapan dengankeadaan seperti ini.” Laki-laki yang mengaku pernah tinggal di kaki Gunung Sindoroitu menguap. ”Aku mengantuk,” ucapnya. ”Aku mau tidur.” Laki-laki itu beranjak naik ke perondan dan segera membungkusdiri dengan kain sarung kumal yang dimilikinya. Akan tetapi, orang tuabiasanya menggunakan ngelmu titen, kemampuan untuk menandai sebuahperistiwa. Ki Wongso Banar dan Ki Dipo Rumi, dua orang pendudukbiasa yang tinggal di luar dinding kotaraja Majapahit itu memiliki wawasan
  19. 19. Gajahmada 9yang jarang dimiliki oleh orang lain. Apabila malam tiba, apalagi langittampak jernih, mereka sering kali memerhatikan bintang-bintang di langit.Kedudukan bintang yang juga disebut kartika bagi mereka memilikimakna. Itulah sebabnya kemunculan bintang kemukus dengan ekor yangmemanjang dan terlihat benderang memberi kecemasan di hati KiWongso Banar dan Dipo Rumi. Apalagi, kini muncul keganjilan. Kabuttebal membungkus kotaraja. Betapa berdebar isi dada orang tua itu. ”Bagaimana menurutmu Adi Dipo Rumi?” bertanya laki-laki tuadengan rambut yang sudah memutih itu. ”Apakah menurutmu apa yangbaru saja kita lihat bukan suatu hal yang amat mendebarkan?” Ki Dipo Rumi dan Wongso Banar rupanya memiliki perbendaharaanpengetahuan yang langka yang tidak dimiliki orang pada umumnya. Bahwakemunculan bintang kemukus merupakan isyarat yang tidak baik, halitu sudah diketahui oleh orang banyak. Namun, bahwa munculnya kabutdengan angin deras tak berhujan, hanya orang tertentu yang menandaikejadian aneh seperti itu. Apalagi, sehari sebelumnya ketika langit terlihatbersih, tampak bintang kemukus dengan ekornya yang memanjanggemerlapan. Wirahandaka, seorang pemuda yang menemani kedua orang itumenyimak pembicaraan yang terjadi dengan penuh perhatian. Meskirasa penasarannya terpacu, Wirahandaka berusaha menahan diri untuktak bertanya. ”Apa yang terjadi ini seperti pengulangan atas apa yang pernahterjadi pada masa silam. Sehari menjelang perang besar yang terjadiantara Tumapel di bawah kendali Ken Arok melawan Kediri di bawahKertajaya, terjadi keganjilan seperti ini. Kabut tebal dan badai melintasdi malam saat langit sedang berhias kemukus, seolah menjadi pertandakhusus akan adanya perang yang meminta banyak korban,” berkata KiWongso Banar. ”Bukan hanya perang atas Tumapel dan Kediri,” tambah Ki DipoRumi, ”tetapi juga di malam menjelang kehancuran Singasari yangdigempur Jayakatwang, kabut tebal menyergap kotaraja Singasari denganamat pekatnya. Ditandai kemunculan angin deras, pertempuran yang
  20. 20. 10 Gajahmadasangat berdarah terjadi di kotaraja Singasari. Kertanegara yang tidakdikelilingi prajuritnya karena dikirim ke Pamalayu digempur Jayakatwang.Kertanegara pralaya.” Gejala alam seperti itu Ki Dipo Rumi dan Wongso Banarmemercayainya. Wirahandaka atau juga dipanggil Wirandaka akhirnya tak bisamenahan rasa penasarannya. ”Apakah bisa dipastikan, dengan demikian besok akan terjadiperistiwa besar? Peristiwa apakah itu? Besok negeri ini akan diserbunegara lain atau bagaimana?” Ki Wongso Banar dan Dipo Rumi saling pandang. ”Apa yang kita bicarakan ini hanyalah ilmu titen, Wirandaka,” balasDipo Rumi. ”Bahwa dahulu kala ada beberapa perang besar yangmeminta banyak korban nyawa, umumnya ditandai munculnya lintangkemukus. Setelah beberapa hari bintang yang memiliki ekor menyalabenderang itu menampakkan diri, pertanda munculnya kabut denganpusingan angin itu makin mempertegas bakal hadirnya peristiwa itu.Jika kau bertanya akan terjadi peristiwa apakah besok, aku sama sekalitidak memiliki kemampuan untuk mengintip hari esok.” Wirandaka termangu penasaran, ”Kalau ternyata besok tidak terjadiapa-apa?” Wiro Banar memandang Wirandaka dengan tajam. ”Aku yakin besok akan terjadi sesuatu yang luar biasa.” ”Ya,” Ki Dipo Rumi meyakinkan, ”aku juga yakin besok akan terjadisesuatu. Nah, kaudengar suara apa itu?” Wirandaka berdesir ketika telinganya menangkap suara melengkingmenyayat. Suara burung gagak di malam hari benar-benar menimbulkanrasa tidak nyaman di hati siapa pun. Bukan hanya burung gagak, suaraburung bence pun ikut membelah malam bersahutan. Apalagi, ketikabeberapa ekor anjing menyalak bersahutan beradu keras dan salingmengejek. Seorang bocah amat ketakutan oleh suara anjing itu dan
  21. 21. Gajahmada 11bersembunyi di sela pelukan ayah dan ibunya. Bagi bocah itu, di luarsana ketika anjing sedang saling menggonggong, sedang ada hantu yangmencuri perhatian anjing-anjing itu. Bukan anjing itu yang membuatbocah itu ketakutan, tetapi lebih karena hantunya, yang matanya melototakan lepas, lidahnya menjulur terayun-ayun menetes-netes. Suasana terasa sangat hening. Seiring dengan waktu yang bergerakmembelah ke pusat malam, kabut yang membungkus kotarajaWilwatikta terasa makin pekat. Bahkan, akhirnya Ki Wongso Banar danDipo Rumi tidak bisa saling memandang. Obor yang dipegangWirandaka kehabisan minyak. Minyak yang dibuat dari lemak itu akhirnyatidak bersisa. ”Apakah jika siang datang, keadaan akan tetap seperti ini?” bertanyaWirandaka yang ternyata dilibas rasa cemasnya. ”Tentu tidak. Kautahu jawabnya,” balas Ki Wongso Banar.3 A dalah pada saat itu, ternyata bukan hanya Ki Wongso Banaryang terusik mata hatinya oleh keganjilan yang terjadi dan luar biasa itu.Penghuni wisma kepatihan terpancing oleh kabut yang melayangmenembus bilik pribadinya. Mahapatih Arya Tadah yang menempatiwisma kepatihan sudah uzur, bahkan usianya tidak terpaut banyak denganRaden Wijaya yang setelah naik takhta bergelar Kertarajasa Jayawardhana.Pengabdian, jasa-jasa, dan kecintaannya yang luar biasa terhadap negaramembawa Tadah pada kedudukannya sebagai Mahapatih. Tadah yang tengah berbaring dalam bilik pribadinya danmemerhatikan keadaan, segera bangkit berdiri. Rasa heran dan takjubnya
  22. 22. 12 Gajahmadakian menjadi manakala melihat kabut yang amat pekat seolah menyergapwisma kediamannya. Seorang prajurit bergegas mendekat. ”Ada apa ini?” bertanya Mahapatih Tadah. ”Kabut Gusti Patih,” jawab prajurit itu dengan sigap. ”Sebuahkeajaiban alam tengah terjadi. Kabut tebal turun menyergap kota.” Tadah termangu. Rupanya Tadah teringat tontonan langka sepertiini pernah disaksikannya sekian tahun yang lalu. Dengan tertatih Tadah melangkah turun ke halaman. Prajurit itusigap membantunya. Arya Tadah yang tua menggapaikan tangannyaseolah ingin memegang kabut itu, tetapi sebagaimana atas udara,Mahapatih Tadah tidak menangkap apa pun. Kabut yang turun benar-benar tebal. Bahkan dari tempatnya,Mapatih Tadah tidak berhasil melihat regol depan wisma kepatihan.Yang terlihat hanya warna putih. Jika Tadah menengadah, tepat di bagiandi mana bulan berada, kabut tampak keputih-putihan. Tiba-tiba Tadah berdesir. Tadah pun tertegun. ”Ada apa, Gusti Patih?” bertanya prajurit muda itu. ”Kaudengar suara itu?” balas Mapatih Arya Tadah. Prajurit muda itu menyempatkan memerhatikan keadaan denganlebih cermat dan saksama. Ada suara anjing menggonggong di kejauhan,ada pula suara bence yang melengking menyayat membelah malam.Namun, baginya anjing yang melolong atau burung bence yang menyayatbukan hal aneh. Barulah suara yang agak ganjil itu muncul belakangan. ”Burung gagak?” desis prajurit itu. Terdengar suara burung gagak. Burung kelam yang konon menjadilambang kematian. Burung gagak mempunyai ketajaman indra luar biasa,setidak-tidaknya burung gagak tahu jika ada orang yang sedang sakityang akan segera mati. Jika seseorang sakit dan di atap wuwungan
  23. 23. Gajahmada 13hinggap seekor burung gagak, boleh diyakini orang yang sakit itu akansegera mati. Atau, jika burung gagak hadir di sebuah tempat dalamjumlah yang banyak, sangat mungkin di tempat itu nantinya akan terjadibencana yang akan banyak menelan korban jiwa. Kabut turun tebal dan terdengar burung gagak yang berteriak-teriak di tengah malam, ditingkah oleh angin menderu. Bukankah anginmenderu macam itu akan membungkam burung gagak atau ribuanmulut burung branjangan sekalipun? ”Malam ini memang terjadi kejadian yang nganeh-anehi, Gusti Patih,”berkata prajurit yang menemaninya. Arya Tadah mencoba memerhatikan, tetapi kabut tebalmenghadang pandangan matanya. Mapatih Tadah yang telah sampai pada sebuah simpulan berdesirtajam. Mapatih Tadah yang telah banyak mengenyam asam garamkehidupan serta mumpuni dalam membaca tanda-tanda alam, tidakbisa menutupi rasa cemasnya. Arya Tadah menjadi tambah gelisah olehkenangan terhadap tanda-tanda yang muncul di saat terjadi peristiwa-peristiwa besar. Malam menjelang kematian Ken Dedes misalnya, badaidan kabut tebal bahkan menyapu seluruh negeri. Ribuan bahkan jutaanekor kunang-kunang beterbangan menjadikan suasana bertambah keruh,membingungkan, dan mengundang cemas siapa pun. Esok harinya,semua orang menemukan jawabnya ketika prajurit berkudamembacakan wara-wara di pasar-pasar dan di tempat-tempat ramai.Berbeda dengan kematian Ken Dedes yang para dewa di langitmenandainya, kematian Umang sama sekali tidak ditandai apa pun.Bahkan, mayatnya ditemukan membusuk setelah dua hari lewat. ”Bagaimana Gusti Patih?” tanya prajurit itu yang merasa heran padasikap Mapatih Tadah. Arya Tadah tidak menjawab. Laki-laki tua itu terus melangkah,bahkan turun ke jalan. Patih Tadah tidak melihat apa pun kecuali tebalnyakabut. Jika kabut itu makin menebal maka besar kemungkinan jarakpandang hanya tinggal selangkah ke depan.
  24. 24. 14 Gajahmada ”Pergilah ke istana,” tiba-tiba Tadah berkata, ”panggil BekelGajahmada. Suruh dia menghadapku sekarang.” Tanpa banyak bicara prajurit itu segera melaksanakan tugasnya.Sesaat kemudian terdengar suara kuda berderap meninggalkan wismakepatihan. Berbeda dengan manusia, kuda tidak begitu mengalamikesulitan meski kabut amat tebal. Dengan indranya yang tajam, kuda itubahkan seperti memiliki jalannya sendiri seolah tidak memerlukan mata. Dengan gelisah Arya Tadah menunggu kedatangan BekelGajahmada di pendapa wisma kepatihan. Sementara itu, oleh kabut yang turun, para prajurit pengawal istanajustru menjadi sangat waspada. Dalam keadaan yang aneh seperti itu,terlalu mudah bagi pihak yang ingin membuat kekacauan untukmelaksanakan niatnya. Para prajurit segera berloncatan dengan pedangserta tombak terhunus, bahkan anak panah melekat di busurnya, ketikaterdengar kuda berderap mendatangi mereka. Namun, prajurit dariwisma kepatihan itu segera mengucapkan kata-kata sandi tertentu yangdimengerti oleh para prajurit pengawal istana. ”Ada apa?” bertanya pimpinan prajurit penjaga regol utama. ”Mahapatih Arya Tadah meminta Bekel Gajahmada untukmenghadap sekarang,” jawab prajurit itu tegas. Bekel Gajahmada yang berdiri tidak jauh dari tempat itu dan tengahmengamati keadaan bergegas mendekat. ”Mahapatih memanggilku?” bertanya Bekel Gajahmada. ”Ya!” jawab prajurit dari wisma kepatihan itu. ”Baik. Aku segera ke sana,” jawab Bekel Gajahmada. ”Kembalilahlebih dulu, aku akan menyusul karena ada persoalan yang harus akuselesaikan dulu.” Prajurit penghubung dari wisma kepatihan itu segera minta dirimeninggalkan halaman istana. Sesaat setelah prajurit itu naik ke ataskudanya, ia tertegun karena di halaman istana itu juga terdengar suaraburung gagak yang menyayat. Rupanya tidak hanya seekor karena dari
  25. 25. Gajahmada 15arah yang lain juga terdengar suara lengkingan yang serak tidak nyamandi telinga. Bahkan, seperti ada benang penghubungnya. Dari arah yanglain terdengar lolong anjing yang menyayat. Dari sebuah rumahpeternakan, ayam-ayam di kandang ikut riuh menyumbang, menandaikeadaan itu dengan suara bersahutan riuh rendah. Sekali sentak pada tali kekang, kuda yang ditungganginya segeraberderap, membawanya kembali ke wisma kepatihan yang tidakterlampau jauh jaraknya. Bekel Gajahmada adalah seorang pemuda yang bertubuh kekar.Badan dan pikirannya amat sehat, seorang prajurit muda yang memilikikelebihan khusus dibanding prajurit yang lain, bukan saja kemampuanbela diri yang dikuasainya, tetapi juga kecerdasan yang bisa dipergunakanuntuk menghadapi keadaan rumit sekaligus memecahkannya. Itulahsebabnya meski Gajahmada belum terlampau lama menduduki pangkatbekel, telah mendapatkan kepercayaan untuk memimpin pasukan khusus.Pasukan yang kecil saja, tetapi memiliki kemampuan luar biasa. Pasukanitu diberi nama Bhayangkara. Pasukan Bhayangkara adalah pasukan pengawal istana, lapis terakhiryang menjadi tameng hidup bagi raja serta segenap keluarganya. Itusebabnya, prajurit Bhayangkara disaring dari prajurit pilihan dandigembleng secara khusus. Secara pribadi masing-masing anggotapasukan khusus memiliki kemampuan yang mendebarkan karena dayatahannya dalam menghadapi keadaan sesulit apa pun amat tinggi. Apalagi,perannya sebagai pasukan sandi, tidak ada beteng serapat apa pun yangtidak bisa ditembusnya. Patih Tadah yang memiliki gagasan untukmembentuk pasukan itu telah mensyaratkan kemampuan olah bela diriyang tinggi bagi mereka yang ingin menjadi bagian dari pasukan itu. Itusebabnya, setiap anggota pasukan khusus berlatar belakang kemampuanolah kanuragan beragam. Sebagaimana Mapatih Tadah yang terusik oleh munculnya kabut,Gajahmada juga memerhatikannya dengan saksama. ”Dalam keadaan seperti ini, apabila ada yang memancing di airkeruh tentu merepotkan sekali,” berkata Bekel Gajahmada pada diri
  26. 26. 16 Gajahmadasendiri. Itu sebabnya, Gajahmada meminta kepada segenap anakbuahnya untuk meningkatkan kewaspadaan. Gajahmada meninggalkan halaman istana dengan berjalan kaki.Begitu Gajahmada keluar dari regol halaman, seolah-olah lenyap begitusaja ditelan oleh tebalnya kabut yang turun. Rupanya kabut yangmenyergap kotaraja Majapahit makin pekat sehingga pimpinan prajuritBhayangkara itu harus mengandalkan pendengaran. Gajahmada terus melangkah. Dengan diganduli berbagaipertanyaan, Gajahmada melangkah lurus mengambil arah ke wismakepatihan. Didorong oleh rasa gelisahnya, Bekel Gajahmadamempercepat gerak langkah kakinya. Meski lurus menuju wismakepatihan, sejatinya Gajahmada harus melintasi alun-alun untuk sebuahkeperluan. Bekel Gajahmada tak bermaksud langsung menemui Patih AryaTadah karena ada orang yang harus ditemuinya. Siapa orang itu,Gajahmada tidak mengetahuinya. Seorang prajurit yang menjadibawahannya menyerahkan sebuah surat yang ditulis di atas lembarandaun tal. Prajurit itu menemukan surat dimaksud melekat pada anakpanah yang menyambar saka peneduh Purawaktra. ”Akan ada sebuah peristiwa penting besok, peristiwa yang mungkinakan menggilas istana. Bila Ki Bekel Gajahmada ingin mendapatkangambaran lebih utuh atas siapa saja pemerannya, temui aku di bawahberingin kurung,” demikian isi pesan yang tergurat di lembaran daun talitu. Gajahmada berjalan tidak sakadar berjalan. Sadar bahwa tatapanmatanya tidak mungkin membelah kabut, Gajahmada berusahamenelengkan telinganya. Menjelang tepi alun-alun sebelah utara, yang disana terdapat sebuah jalan menuju wisma kepatihan, Gajahmada berdesir.Ada seseorang yang menghadang langkahnya. Orang itu yang tampaknyayakin akan bertemu dengan Bekel Gajahmada berdehem mewartakankeberadaannya. ”Siapa?” bertanya Gajahmada.
  27. 27. Gajahmada 17 Orang yang menghadangnya itu belum menjawab. Namun,Gajahmada mampu mengikuti gerak langkah yang diambil orang itu. ”Kaukah yang mengirim pesan untukku?” tegas Gajahmada sekalilagi. Bekel Gajahmada menelengkan wajah. Karena tebal kabut bagaimelumpuhkan indra penglihatannya, dengan sepenuh kesadaran bekelmuda itu mengandalkan telinga. ”Sebut aku Manjer Kawuryan,” jawab orang itu. Dari suaranya Gajahmada tahu orang itu mengenakan topeng.Terdengar dari getar suaranya yang tertahan. Manjer Kawuryan, Ki Bekelmemahami apa artinya. Tangsu manjer kawuryan berarti bulan tengahbercahaya benderang. ”Ada keperluan apa kau menemuiku?” bertanya Gajahmada. ”Aku bermaksud baik,” jawab orang itu. ”Kau hanya memilikiwaktu sangat sempit sejak saat sekarang. Karena, fajar menyingsing nantisebuah pasukan segelar sepapan akan bergerak menggilas istana.” Bekel Gajahmada amat berdesir. Bekel Gajahmada tidak mungkinmengabaikan keterangan itu mengingat kegiatan kelompok telik sandipasukan Bhayangkara yang selama ini bekerja keras menemukan bentukkegiatan aneh. Kegiatan itu sampai saat ini masih belum diketahui kemana arahnya. Gajahmada segera menghubungkan keterangan orangitu dengan apa saja yang telah diketahuinya. ”Kekuatan dari mana yang akan menyerbu istana itu?” tanyaGajahmada. Namun, orang itu tidak menjawab. Dengan tenang ia berjalanmenjauh meninggalkan Bekel Gajahmada. Gajahmada ingin mencegah orang itu dan mempertegaspertanyaannya, tetapi kabut yang tebal melumpuhkan niatnya. BekelGajahmada merasa tak ada gunanya memaksakan diri menanyai orangitu, yang dengan segera lenyap dari tak hanya pandangan mata, tetapijuga dari telinganya. Beberapa saat lamanya Bekel Gajahmada terpaku
  28. 28. 18 Gajahmadaberdiri di tepi alun-alun itu. Dengan saksama ia memerhatikan keadaanyang terasa sepi, senyap, dan damai. Rasanya sulit dipercaya di balikkeadaan itu bersembunyi sebuah bahaya yang siap menggulungMajapahit. Akan tetapi, siapa pun orang itu, selama ini mengalirkanketerangan sangat penting. Meskipun keterangan itu diterimanya selapisdemi selapis, nyatanya semua yang disampaikan benar. Kegiatan geladiberlebihan yang dilakukan pasukan tertentu menjadi isyarat adanya halyang tak wajar. ”Benarkah besok akan terjadi makar?” bertanya Gajahmada di dalam hati. Dalam perjalanan sejarahnya yang masih muda, Majapahit yangkini berada di bawah pemerintahan Kalagemet yang bergelar Jayanegaratelah bertubi-tubi mengalami gempuran oleh berbagai pemberontakan.Ranggalawe sahabat Raden Wijaya memilih mengangkat senjata melawanSri Kertarajasa Jayawardhana karena merasa tidak memperoleh jabatanyang sesuai dengan pengabdiannya. Nambi yang menurut Ranggalawetak memiliki jasa sebesar yang dilakukannya dipilih KertarajasaJayawardhana menduduki jabatan patih. Lembu Sora menyusul mengangkat senjata pula karena fitnah yangdilakukan seorang pejabat culas yang menjadi kepercayaan Jayanegara.Disusul kemudian oleh makar yang dilakukan Juru Demung dan GajahBiru. Sikap Jayanegara yang di mata Bekel Gajahmada adakalanya kurangbijak menyebabkan Rakrian Patih Majapahit sendiri, Nambi, ikutmengangkat senjata. Kini akankah peristiwa semacam itu terjadi lagi? Oleh rasa penasarannya Gajahmada bergegas melanjutkanlangkahnya menuju wisma kepatihan yang tidak seberapa jauh lagi. Akantetapi, pikirannya makin tidak tenang. Waktu yang diberikan oleh orangtidak dikenal itu hanyalah sampai saat fajar menyingsing. Rentang waktuyang sempit itulah yang harus digunakan untuk menghimpun prajuritdan mengumpulkan kekuatan. Namun, prajurit yang mana? Ada banyak kesatuan keprajuritan yang bertugas menjagaketenteraman dan menjamin keamanan berlangsungnya pemerintahanJayanegara. Kesatuan-kesatuan itu berada di bangsal kesatrian masing-masing dengan dipimpin oleh prajurit berpangkat temenggung atau
  29. 29. Gajahmada 19serendah-rendahnya senopati. Jika dibutuhkan pasukan dalam waktusingkat untuk membetengi istana, kesatuan yang manakah yang harusdipilih? Sayang sekali, orang yang mengaku bernama Manjer Kawuryantidak menyebut dengan jelas siapa orang yang akan mbalelo serta pasukanmana saja yang terlibat dalam gerakan itu. Gajahmada membawa kegelisahannya sampai ke halamankepatihan. Beberapa prajurit berloncatan menghadangnya. ”Bekel Gajahmada!” ucap Gajahmada dengan tegas. ”GustiMahapatih Tadah memerlukan aku.” Pimpinan prajurit pengawal wisma kepatihan itu segera memberikanpenghormatan karena pangkatnya lebih rendah kemudianmengantarkannya menghadap Mapatih Arya Tadah yang telah menunggucukup lama di pendapa. Mapatih Tadah rupanya amat terganggu olehudara dingin, kabut, dan angin deras, itu terlihat dari batuknya yangkemekel. ”Saya menghadap, Mapatih!” ucap Gajahmada sambil memberikanpenghormatan. ”Duduklah!” jawab Arya Tadah. Antara Bekel Gajahmada dan Patih Tadah telah terjalin hubunganerat. Bahkan, melalui Tadahlah beberapa tahun yang lalu Gajahmadamendapat kesempatan mengabdikan diri menjadi prajurit di Majapahit.Hubungan yang erat itu bahkan berubah menjadi hubungan layaknyaorang tua dan anak. ”Apa pendapatmu terhadap keadaan yang aneh ini, Bekel?”bertanya Tadah. Bekel Gajahmada menebar pandang. Kabut yang turun melayang-layang kian tebal. Jarak pandang dari tempatnya ke arah tiang pendapaamat terganggu kabut itu. ”Kabut yang turun benar-benar luar biasa, Gusti Patih,” jawabnya. Bekel Gajahmada menunggu Arya Tadah akan menyampaikankalimat berikutnya. Namun, yang dilihat Gajahmada adalah Mapatih
  30. 30. 20 GajahmadaArya Tadah yang justru termangu seolah ada sesuatu yang tengahdirenungkan. Bekel Gajahmada tetap menunggu sampai Tadah kembaliberbicara. ”Ada tiga buah peristiwa penting yang aku catat yang sekarangakan kuceritakan kepadamu. Peristiwa pertama adalah ketika leluhurSri Baginda, pendiri Singasari terbunuh oleh keris Empu Gandring.Tuanku Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi tewas di tangan seorangbatil dari Pangalasan, peristiwa itu konon ditandai dengan turunnya kabutyang sangat tebal menyergap istana Singasari. Kabut yang tebal danudara dingin itu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Batil Pangalasandengan tidak menyimpan keraguan secuil pun. Ia membenamkan kerisrautan Empu Gandring ke dadanya. Suasana saat itu kira-kira sepertisekarang ini. Singasari yang memang berada di ketinggian dan udaranyadingin, dikemuli kabut amat tebal.” Arya Tadah terdiam sejenak seperti sedang mengumpulkan ingatan.Dengan sabar Bekel Gajahmada menunggu Mapatih Tadah melanjutkanceritanya. ”Peristiwa yang kedua adalah saat Singasari akhirnya benar-benarruntuh, saat Tuanku Sri Kertanegara terbunuh oleh serangan Jayakatwangdari Kediri. Serangan itu dilakukan di pagi buta, juga ketika kabut turundengan tebalnya. Pasukan segelar sepapan membuat kekacauan dari arah utara.Namun, yang sebenarnya terjadi pasukan yang lebih besar lagi datangbagaikan banjir bandang menggilas kotaraja Singasari dari arah selatan.” Patih Tadah menyela ucapannya dengan batuk. Bekel Gajahmadamenyimak cerita itu dengan cermat. Gajahmada tahu, Mapatih AryaTadah akan menghubungkan peristiwa itu dengan keadaan ganjil yangsaat ini tengah berlangsung. ”Ketika Jayakatwang menyerbu Singasari, saat itu kabut yang turunbegitu tebal. Siapa pun mengalami kesulitan untuk melihat benda-bendadi sekitarnya. Keadaan itu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya olehJayakatwang untuk melakukan serangan dadakan. Dan, yang terakhiradalah ketika Majapahit benar-benar dililit duka, saat Tuanku BagindaKertarajasa Jayawardhana mangkat. Kauingat apa yang terjadi?”
  31. 31. Gajahmada 21 Bekel Gajahmada mengangguk. Gajahmada juga menyaksikankeajaiban alam itu. Di siang hari matahari bercahaya pucat kekuning-kuningan. Hal itu berlangsung beberapa hari lamanya seiring dengan SriBaginda yang gering. Ketika malam itu Sri Baginda mangkat, kabutturun amat tebal ditandai pula dengan kehadiran burung gagak yangberkaok-kaok di tengah malam. Majapahit bagaikan dipayungi mendungduka ketika Raden Wijaya menutup mata untuk selamanya. ”Apakah dengan demikian malam ini akan terjadi sesuatu?” bertanyaBekel Gajahmada. Mapatih Arya Tadah menghela tarikan napas resah. ”Aku tak bisa menutupi kegelisahanku, Bekel Gajahmada. Suaraburung gagak itu, tidakkah kaudengar?” Bekel Gajahmada mengangguk. ”Lalu ada penggalan kejadian lain yang kusebut sebagai ngelmu titen.Kemunculan kabut tebal di malam menjelang kejadian-kejadian pentingitu, atau kemunculan lintang kemukus dalam beberapa hari ini di langitsebelah timur agak ke utara. Semua itu mungkin bisa dianggap sebagaikejadian biasa. Seperti munculnya matahari di pagi hari dan munculnyabulan di malam hari, hal yang biasa.” Bekel Gajahmada mencuatkan alisnya. ”Dengan demikian, aku menjadi cemas besok bakal terjadi sesuatu!”Arya Tadah menambah. Gajahmada yang menunduk itu kemudian menengadah danmengarahkan pandangan matanya ke wajah Arya Tadah yang tampaksamar. Tidak tercegah, Gajahmada memang harus menghitung apa yangdisampaikan oleh orang tak dikenal dan mengaku bernama ManjerKawuryan yang meminta untuk bertemu di Wringin Kurung bahwabanjir bandang akan terjadi saat fajar menyingsing. Selama ini kecemasan dan kegelisahannya disimpan rapat. Akantetapi, akhirnya Bekel Gajahmada merasa waktunya telah tiba untukmelapor apa yang diketahuinya.
  32. 32. 22 Gajahmada ”Menurut Mapatih, apa nama Manjer Kawuryan mempunyai arti?” Pertanyaan Gajahmada yang membelok seperti tanpa arah itumenyebabkan Arya Tadah agak bingung. Arya Tadah memandangGajahmada sangat lekat. ”Manjer kawuryan itu terang benderang. Bila ada kalimat sasadaramanjer kawuryan, itu berarti bulan terang benderang. Kenapa?” balasTadah. Gajahmada menggeser duduknya agak mendekat. ”Sebenarnya baru saja aku bertemu dengan orang yang menyebutdirinya dengan nama Manjer Kawuryan. Aku tidak tahu, pamrih apayang ada dalam benaknya. Orang itu baru saja memberi tahu aku bahwabesok istana akan diserbu oleh banjir bandang berkekuatan segelarsepapan.” Dengan jelas dan gamblang Bekel Gajahmada menceritakan apayang diketahuinya. Mahapatih Tadah menyimak cerita Bekel Gajahmadaitu dengan perasaan tegang. ”Kau tidak berhasil mengenali orang itu?” bertanya Mapatih Tadah. Bekel Gajahmada menggeleng. ”Tidak Gusti Mahapatih!” jawabnya. ”Orang itu mengenakantopeng untuk menutupi wajahnya supaya tak bisa dikenali, baik suaranyamaupun wajahnya.” ”Menurutmu orang itu sudah tua?” kembali Patih Tadah bertanya. Bekel Gajahmada mencoba mengingat warna suara orang itu. ”Masih muda,” jawab Gajahmada tanpa keraguan. Mapatih Tadah yang makin gelisah segera bangkit. ”Ada orang yang akan melakukan makar, siapa?” bertanya MapatihTadah seperti kepada diri sendiri. Lelaki tua itu berjalan mondar-mandir sambil mengelus jenggotnyayang memutih.
  33. 33. Gajahmada 23 ”Siapa menurutmu Bekel Gajahmada? Kau mempunyai dugaan,siapa kira-kira orang yang keracunan bunga kecubung dan tidak sadaratas tindak dan perbuatannya itu?” ulang Mapatih Arya Tadah. Bekel Gajahmada berpikir. Segenap pejabat penting diingatnya satuper satu, dinilai dan ditimbangnya. Akan tetapi, Bekel Gajahmada tidakmenemukan sesuatu yang pantas untuk digunakan mencurigai seseorangakan melakukan tindakan makar, mencoba merebut takhta dari SriBaginda Jayanegara. Di Majapahit terdapat tiga kelompok kesatuan pasukan besar yangmasing-masing berkekuatan segelar sepapan, pasukan Jalapati di bawahpimpinan Rakrian Temenggung Banyak Sora. Temenggung Banyak Soraadalah seorang prajurit yang pilih tanding dan memiliki kesetiaan yangtinggi terhadap Sri Baginda Jayanegara. Lalu pasukan Jalayuda di bawahkendali Rakrian Temenggung Panji Watang. Sebagaimana Banyak Sora,Temenggung Panji Watang juga mumpuni dalam olah keprajuritan sertamemiliki kemampuan olah perang yang tinggi. Terakhir adalah pasukanJala Rananggana yang memiliki Candrakapala berwujud tengkoraksebagai lambang pasukan. Temenggung Pujut Luntar memimpinpasukan dari kesatuan Jala Rananggana itu. Sebagaimana kedua Rakrian Temenggung yang lain, sangat sulitbagi Bekel Gajahmada membayangkan Temenggung Pujut Luntar akanmakar terhadap kekuasaan Jayanegara. Namun, ada pepatah dalam lautbisa ditebak, tetapi dalamnya hati siapa yang tahu. Boleh jadi salah seorangdari mereka akan memanfaatkan keadaan dengan mengerahkan pasukanyang mereka pimpin untuk berbuat makar. Demikian pula dengan Mapatih Arya Tadah. Orang tua itu mencobamemilah-milah, tetapi tidak menemukan seseorang yang dicurigai bakalmembuat ontran-ontran. ”Siapa?” sekali lagi Tadah bertanya seperti kepada diri sendiri. ”Saya tidak menemukan seorang pun yang pantas dicurigai, GustiPatih,” jawab Bekel Gajahmada.
  34. 34. 24 Gajahmada ”Apakah masih ada yang tidak puas terhadap pengangkatan TuankuJayanegara?” bertanya Arya Tadah seolah kepada diri sendiri. Bekel Gajahmada tergiring untuk merenung ulang. Raden Wijayasetelah berhasil membangun Majapahit mengawini empat putri anakKertanegara. Mereka adalah Ratu Dyah Sri Tribuaneswari yangdidudukkan sebagai permaisuri, Ratu Dyah Sri Narendraduhita, RatuDyah Dewi Prajnaparamita serta Ratu Dyah Dewi Gayatri yang diangkatsebagai Rajapadni. Istri Wijaya, Dyah Dewi Gayatri, memberikan dua keturunan yangtidak bisa diharapkan untuk diangkat menjadi raja karena perempuan.Kedua anak Gayatri atau Rajapadni itu adalah Sri Gitarja yang jugabernama Tribuanatunggadewi Jayawisnuwardani yang mempunyai calonsuami bernama Cakradara atau Kertawardana. Sri Gitarja diangkatmenjadi pemangku di Kahuripan bergelar Breh Kahuripan. Anak Gayatrikedua adalah Rajadewi Maharajasa yang diangkat menjadi pemangkuDaha bergelar Breh Daha juga telah mempunyai calon suami bernamaKudamerta. Ketika pulang dari Pamalayu, pasukan yang dikirim oleh SriKertanegara kembali dengan membawa dua gadis boyongan bernamaDara Petak dan Dara Jingga. Dara Jingga dikawinkan dengan seorangbangsawan Melayu, melahirkan Adityawarman atau Arya Damar yangbersahabat erat dengan Gajahmada, sedangkan Dara Petak diangkatsebagai permaisuri yang justru dituakan oleh Raden Wijaya karena telahmemberinya anak laki-laki dan padanya dianugerahkan gelar StriTinuhweng Pura atau Stri Tinuwa Hing Pura yang berarti permaisuriyang dituakan di dalam pura karena memberinya keturunan berjeniskelamin laki-laki yang padanya diharapkan akan menjadi peneruskekuasaan Wilwatikta. Satu-satunya anak laki-laki Raden Wijaya itu adalah Kalagemet yangkemudian diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya menggunakannama Jayanegara. Sering kali Arya Tadah menilai bahwa Kalagemetatau Jayanegara amat berbeda dengan ayahnya. Sebagai raja yang tidakmerasakan pahit getir membangun negara, Kalagemet acap mengabaikan
  35. 35. Gajahmada 25perasaan pejabat yang dahulu bahu-membahu bersama ayahnya bekerjakeras meletakkan pilar berdirinya negara baru setelah Singasari lenyapdari percaturan. Apakah perilakunya yang adakalanya melampaui batasitu yang mendorong orang untuk mbalelo terhadap kekuasaan Jayanegara? Bekel Gajahmada mengenal dengan baik segenap janda yangditinggalkan Raden Wijaya karena Gajahmadalah orang yangbertanggung jawab mengamankan mereka untuk segala hal. Jika PutriTribuanatunggadewi atau Sri Gitarja akan bepergian, Gajahmada yangbertugas menyusun pengawalan dan mendampinginya ke mana punmereka pergi. Oleh karena itu, Bekel Gajahmada merasa yakin kalauada pihak tertentu yang bakal melakukan pemberontakan jelas takmungkin ada hubungannya dengan keluarga istana. Terlebih-lebih RatuGayatri yang telah memutuskan diri menjadi seorang biksuni, menjauhdari gebyar kehidupan. Demikian juga dengan Ratu DewiNarendraduhita dan Ratu Dewi Prajnaparamita, mereka tidak memilikiketurunan sehingga sama sekali tak ada alasan bagi keluarga istana untukmendalangi tindakan makar. Pun persoalan Jayanegara yang terlahir dariDara Petak sama sekali bukan masalah karena segenap kerabat keluargamemang tidak ada yang mempersoalkan. Gajahmada terus memutar benak. Nama demi nama dipilah-pilahnya hingga kemudian muncul nama-nama mereka yang mendapatanugerah Winehsuka dari Sri Jayanegara. Orang-orang yang mendapatanugerah Winehsuka atau selengkapnya dinamai para DharmaputraWinehsuka itu adalah mereka yang sangat tinggi pengabdian dankesetiaannya kepada raja. Para Rakrian Dharmaputra Winehsuka ituantara lain, Rakrian Kuti, Rakrian Tanca, Rakrian Pangsa, Rakrian Banyak,Rakrian Wedeng, Rakrian Yuyu, dan Rakrian Semi yang menjadipemangku kekuasan Majapahit di Lasem. Bekel Gajahmada segeramengesampingkan nama-nama itu. Tidak mungkin para RakrianDharmaputra Winehsuka berbuat gila. Mereka tidak mempunyaidukungan kekuatan untuk bertindak. Dharmaputra tidak memegangkendali prajurit pada tingkat yang memadai seperti menguasai tigapasukan utama, pasukan Jalapati, pasukan Jalayuda, dan pasukan JalaRananggana.
  36. 36. 26 Gajahmada Mahapatih Arya Tadah duduk kembali dan menatap wajahGajahmada dengan tatapan sangat lekat. Udara yang dingin memancingArya Tadah untuk batuk beberapa saat. Suaranya nyaris berbisik. ”Firasatku mengatakan bahwa benar sesuatu akan terjadi. Bolehjadi, peringatan yang diberikan orang yang mengaku Manjer Kawuryanitu benar. Jika besok pagi pasukan segelar sepapan akan menggilas istanabagaikan banjir bandang, harus disiapkan kekuatan yang sama atau lebihbesar.” Bekel Gajahmada tersenyum getir. ”Pasukan mana yang harus dihubungi untuk menghadapi tindakanitu, Gusti Patih?” Pertanyaan yang sederhana itu rupanya sangat sulit untuk dijawabkarena menyembunyikan persoalan yang tidak sederhana. Pertanyaanitu pula yang seperti membingungkan Mapatih Arya Tadah untuk kembalimemilah tiga orang temenggung yang mengendalikan tiga pasukan besar,Jalapati, Jalayuda, dan Jala Rananggana. ”Kau mencurigai mereka?” bertanya Tadah. Gajahmada menghirup udara sedikit lebih banyak. Waktu yangbergerak tidak tercegah menggiring Gajahmada makin gelisah dan resah. ”Jika ada orang yang bermaksud makar, orang itu harus memilikipasukan segelar sepapan. Siapakah orang yang memiliki prajurit segelarsepapan yang dibutuhkan untuk mendukung pemberontakan itu, GustiPatih?” Mapatih Tadah memandangi wajah Bekel Gajahmada tanpaberkedip. ”Jalayuda, Jalapati, Jala Rananggana. Siapa di antara mereka yangamat mungkin dicurigai?” bertanya Tadah. ”Tak sekadar mencurigai Gusti Patih. Namun, harus diperoleh buktinyata. Untuk itu, harus segera dikirim telik sandi.”
  37. 37. Gajahmada 27 Patih Arya Tadah terdiam. Tadah makin gelisah. Kabut makin tebaldan burung gagak itu berkaok-kaok makin riuh, membuat risih gendangtelinga. Arya Tadah yang sejenak memejamkan mata terkenang pada laporanyang diberikan seorang prajurit rendahan bernama Gajahsari beberapahari sebelumnya. Namun, laporan Gajahsari itu dianggapnya sama sekalitidak mendasar. Bekel Gajahmada terkejut ketika Patih Tadah tiba-tiba melepaslencana yang dikenakannya. Itulah lambang atau lencana Mahapatih yangmemiliki kekuasaan besar dan luas. Mapatih Arya Tadah menyerahkanlencana itu kepada Gajahmada. Kepada orang-orang kepercayaannya,terutama yang berada di barisan sandi, Arya Tadah selalu membekalidengan lencana yang menjadi ciri khasnya, tetapi bukan lencana utamaitu. Bekel Gajahmada penasaran. ”Apa artinya ini Gusti Patih?” bertanya Bekel Gajahmada. ”Dengan lencana itu padamu,” jawab Mapatih Tadah, ”aku berikanwewenang kepadamu untuk bertindak atas namaku dan atas namaTuanku Jayanegara untuk mengambil langkah-langkah penyelamatan jikabenar terjadi tindakan makar itu. Pakailah.” Dengan sigap Bekel Gajahmada mengenakan lencana yangditerimanya itu di dada sebelah kiri. Gajahmada sadar, dengan lencanaitu di tangannya, ia bisa bertindak atau mengambil langkah tertentu demimenjamin keamanan istana serta keutuhan Majapahit. Bahkan, paratemenggung harus menghormati langkah-langkah yang diambilnyaseolah langkah-langkah itu keputusan Mahapatih Arya Tadah sendiri.Bekel Gajahmada yang gelisah merasa dikejar waktu yang sempit untuksegera bertindak segera minta diri.
  38. 38. 28 Gajahmada4 G ajahmada segera mengumpulkan beberapa anak buahnya yangtergabung dalam pasukan khusus Bhayangkara. Mereka adalah LembuPulung, Panjang Sumprit, Kartika Sinumping, Jayabaya, Risang PanjerLawang, Mahisa Kingkin, Pradhabasu, Lembang Laut, Riung Samudra,Panji Saprang, Mahisa Geneng, Gajah Pradamba, Singa Parepen, MacanLiwung, dan Gagak Bongol. Masih ada puluhan Bhayangkara yang lain,tetapi mereka sedang berada di Bali mengawal perjalanan Cakradara,Kudamerta serta Lembu Anabrang yang sedang melaksanakan tugasnegara. Segenap prajurit Bhayangkara itu merasa heran melihat BekelGajahmada telah mengenakan lencana khusus milik Mapatih Tadah. ”Besok pagi saat matahari terbit, ada orang gila yang akan melakukanpemberontakan!” berkata Bekel Gajahmada tanpa basa-basi. Gempar segenap pasukan Bhayangkara yang ada. Mereka salingpandang. Perhatian mereka kemudian terpusat kepada Bekel Gajahmada. ”Dalam beberapa hari ini, ada pihak tak dikenal telahmenghubungiku, memberi tahu kemungkinan buruk bakal adanyatindakan pemberontakan terhadap kekuasaan Tuanku Sri Jayanegara.Mahapatih Arya Tadah memberiku kekuasaan untuk menghadapikeadaan ini. Itu sebabnya lancana ini ada di tanganku.” Segenap prajurit yang ada merasa degup jantungnya dipacu agaklebih kencang. Jika benar akan terjadi tindakan makar, para prajuritberkemampuan khusus itu harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk melindungi keluarga istana, menjadi tameng hidup untukmenjamin keselamatan mereka. Pradhabasu tak mampu menahan penasaran di hatinya. Lelaki gagahitu maju selangkah.
  39. 39. Gajahmada 29 ”Siapa yang akan melakukan tindakan makar itu?” tanya Pradhabasu. Pertanyaan itu sekaligus mewakili rasa ingin tahu teman-temannya. ”Aku belum tahu pihak mana yang akan melakukan pemberontakanitu. Kita belum memiliki keterangan sama sekali. Artinya, kita barumenebak dan meraba-raba, seperti keadaan kita dalam pekat dantebalnya kabut ini. Oleh karena itu, aku minta segera dikirim beberapatelik sandi untuk mencari tahu. Kirim orang untuk melihat ada apa dibangsal prajurit Jalayuda, Jalapati, serta Jala Rananggana. Cepat lakukanmumpung kita masih memiliki waktu.” Dengan cekatan para prajurit itu berbagi tugas. Sejenak kemudianbeberapa ekor kuda telah berderap kencang meninggalkan halamanistana. Dengan sigap pula Bekel Gajahmada mengatur pertahanandarurat. Beberapa prajurit berkemampuan khusus ditempatkan disegenap sudut istana. Prajurit anak panah menempatkan diri dengansebaik-baiknya di tempat-tempat yang telah ditentukan. Namun, kabut yang turun tebal itu benar-benar membuat napasmenjadi sesak. Kabut yang demikian tebal menghadang pandangan matadan menyebabkan para prajurit Bhayangkara akan kesulitan untukmenghitung kekuatan musuh dan pengambilan langkah-langkah tertentu. Bekel Gajahmada melangkah mondar-mandir. ”Apa kita harus membangunkan Sri Baginda?” bertanya GagakBongol yang selalu berada tak jauh dari Bekel Gajahmada. ”Jangan dulu,” Bekel Gajahmada menjawab. ”Sebaiknya janganmengundang kepanikan sebelum duduk persoalannya jelas.” Antara Gajahmada dan Gagak Bongol terjalin hubungan yang dekat.Bersama-sama mereka telah banyak mengenyam kepahitan peperangan.Itulah yang menyebabkan antara Gagak Bongol dan Gajahmada terjalinhubungan persaudaraan yang akrab. Bekel Gajahmada nyaris tidak pernahmeninggalkan Gagak Bongol ketika menghadapi saat-saat sulit. SelainGagak Bongol, Bhayangkara yang sangat dipercayainya adalah LembangLaut.
  40. 40. 30 Gajahmada Waktu terus merambat. Bekel Gajahmada tambah gelisah. BekelGajahmada merasa keadaan yang dihadapinya benar-benar tidakmenentu. Tebalnya kabut makin mempertegas keadaan yang tidakmenentu itu. Akhirnya, beberapa telik sandi yang disebar telah kembali.Kedatangan mereka kebetulan nyaris bersamaan. ”Apa yang akan kaulaporkan?” Bekel Gajahmada mendahului. ”Apa yang kaucurigai tampaknya benar Kakang Bekel. Tidakseorang pun terlihat di bangsal Jala Rananggana. Bangsal itu sepi!” laporPradamba dengan napas tersengal. ”Kamu?” bertanya Bekel Gajahmada kepada Gajah Geneng. ”Tidak ada kegiatan yang mencurigakan di bangsal Jalapati. Semuakelihatan seperti biasanya,” jawab Gajah Geneng. ”Bagaimana dengan bangsal kesatrian Jalayuda?” tanya BekelGajahmada kepada Panji Saprang. ”Tak ada yang mencurigakan di bangsal Jalayuda,” jawab PanjiSaprang dengan tegas. Gajahmada termangu. Sejenak kemudian pimpinan pasukan khususBhayangkara itu manggut-manggut. Kini cukup jelas bagi Gajahmadabahwa pasukan Jala Rananggana berada di belakang rencana tindakanmakar itu. ”Pasukan Jalapati ada di tempat. Pasukan Jalayuda juga ada ditempat. Dengan demikian, pandangan mata kita jelas terarah kepadapasukan Jala Rananggana. Aneh juga rasanya, ketika kita dihadapkanpada kenyataan yang tidak terduga bahwa Temenggung Pujut Luntaryang menekuk wajah paling dalam di saat seba di pasewakan itu ternyataminger kiblatnya. Ia mencoba menggoyang pilar istana Majapahit yangdibangun dengan susah payah oleh Baginda Sri KertarajasaJayawardhana.” Tak seorang pun yang berbicara, semua diam. Namun, bagaibersepakat mereka mencoba membayangkan sosok prajurit
  41. 41. Gajahmada 31berkemampuan olah perang yang memimpin pasukan segelar sepapan.Prajurit berpangkat temenggung itu adalah Pujut Luntar. ”Aku sama sekali tidak menduga,” desis Singa Parepen. ”Ya,” Riung Samudra menegaskan. ”Aku juga tak mengiraTemenggung Pujut Luntar sanggup melakukan itu. Bukankah dahuluTemenggung Pujut Luntar boleh dikata tangan kanan Lembu Anabrang,kedudukan yang diperolehnya itu karena jasa-jasanya menggempur betengPajarakan dan membenamkan Sora, mencampakkan dari angan-angannya?” Suasana kembali hening. Gajahmada melihat keadaan benar-benartidak bisa dianggap sepele. Bekel Gajahmada merasa selamat atautidaknya keluarga raja berada di pundaknya. Benar-benar sebuahtanggung jawab yang berat. Gajahmada menatap langit mencari bintang-bintang. Tak adabintang di sana. ”Ini sudah tengah malam?” tanya Bekel Gajahmada. ”Sebentar lagi!” jawab Gagak Bongol sigap. ”Semoga saja Temenggung Pujut Luntar belum menyadari bahwakita telah mencium gerakannya. Aku akan menemui Temenggung PanjiWatang dan Temenggung Banyak Sora. Aku berharap mereka masihmemiliki kesadaran untuk bela negara, tidak mendahulukan kepentingandirinya sendiri. Waktu yang ada harus kita gunakan untukmempersiapkan diri sebaik-baiknya, termasuk kemungkinan paling jelek,mengungsi. Karena itu, aku tugaskan kepadamu Panjang Sumprit,Lembu Pulung, Kartika Sinumping, dan Jayabaya untuk mempersiapkanpengamanan pengungsian para ratu, terutama Tuan Putri Breh Dahadan Tuan Putri Breh Kahuripan yang saat ini datang berkunjung.Pengawalan ini dipimpin Lembu Pulung. Kausiap?” tegas BekelGajahmada. ”Siap!” jawab Lembu Pulung dengan tegas. Lembu Pulung amat menyadari kecantikan kedua putri itu memangsanggup membuat pikiran waras menjadi gila. Bukan hal yang aneh
  42. 42. 32 Gajahmadadan luar biasa apabila kecantikan kedua putri itu mampu membuatorang lupa diri meski mereka masing-masing telah mempunyai calonsuami. Soal para janda Raden Wijaya, kecuali Dyah Ratu Prajnaparamita,kebetulan sedang berkumpul di Rimbi. Dengan demikian, Gajahmadatidak terlampau mencemaskan mereka. ”Jangan menunggu waktu, persiapkan segala sesuatunya mulaisekarang,” Bekel Gajahmada memberi perintah.5 S egera terjadi kesibukan yang luar biasa di halaman Tatag RambatBale Manguntur istana Majapahit. Dengan cermat Gajahmada mengaturpersiapan-persiapan untuk membendung banjir bandang yang akanterjadi. Akan tetapi, sejauh itu Bekel Gajahmada belum menugasiseseorang untuk membangunkan Prabu Jayanegara sebelum mendapatjawaban yang pasti atas gerakan-gerakan yang mencurigakan yangdilakukan oleh pasukan Jala Rananggana di bawah pimpinanTemenggung Pujut Luntar itu. Gajahmada yang tidak ingin kehilangan lacak atas gerakan apa punyang terjadi di bangsal kesatrian pasukan Jala Rananggana, menempatkantiga orang telik sandi untuk segera menemukan tempat pasukan JalaRananggana berada setelah jelas-jelas tidak berada di bangsal kesatriannya. Sejenak kemudian berderap dua ekor kuda membelah malam. BekelGajahmada ditemani Gagak Bongol menuju bangsal pasukan Jalapati. Kedatangan Bekel Gajahmada mengagetkan empat prajurit yangberjaga-jaga di regol utama kesatrian Jalapati. Mereka berloncatan sambilmelintangkan pedang dan tombak.
  43. 43. Gajahmada 33 ”Siapa?” bertanya seorang prajurit. ”Bekel Gajahmada dari Bhayangkara,” Gajahmada menjawabpertanyaan itu tegas. Bekel Gajahmada segera menghitung keadaan. Ternyata memangbenar, sesuai laporan telik sandi, pasukan Jalapati tetap berada di bangsalkesatriannya. Namun, Bekel Gajahmada merasa tak harus memercayaikeadaan itu begitu saja. Tanpa banyak bicara Gagak Bongol selalumengambil jarak tidak seberapa jauh dan bersiap siaga jika sampai terjadisesuatu. ”Aku akan menghadap Rakrian Temenggung Banyak Sora!”berkata Bekel Gajahmada dengan tegas. Para prajurit penjaga regol kesatrian Jalapati saling pandang. ”Tengah malam seperti ini?” bertanya seorang di antara mereka. ”Ya. Apa yang akan kubicarakan hal yang sangat penting dan takbisa ditunda.” Waktu memang baru berada di pertengahan malam. Dari kejauhanterdengar suara kentongan dipukul dengan nada doromuluk sebagaipertanda keadaan aman sekaligus malam berada di puncaknya.Gajahmada merasa sesak karena waktu baginya cepat sekali bergerak.Sebenarnyalah waktu yang dimilikinya amat sempit dan terbatas. Salah seorang dari pengawal regol bangsal kesatrian yang bertubuhpaling besar dan paling kekar maju ke depan. Orang itu mencoba tampilmewakili teman-temannya. ”Ini waktu tengah malam. Kau mestinya tahu bahwa di saat sepertiini, pimpinan kami Rakrian Temenggung Banyak Sora tidak bisadiganggu. Rakrian Temenggung sedang beristirahat,” ucap prajurit itudengan lantang. Bekel Gajahmada menjadi jengkel. Dalam tatanan keprajuritanantara lain disebut bahwa prajurit harus siap siaga setiap saat dan siapmenjalankan perintah meski tengah malam sekalipun, apalagi jika negaraberada dalam keadaan bahaya. Bekel Gajahmada yang merasa kecewa
  44. 44. 34 Gajahmadaitu tidak mau bertele-tele. Waktu yang ada amat sempit untuk membualdan diboroskan dengan membicarakan segala macam omong kosong.Bekel Gajahmada segera mengangkat lencana Mahapatih, diacungkankepada segenap prajurit itu. ”Aku tidak punya waktu banyak. Aku harus berbicara denganRakrian Banyak Sora sekarang juga!” ucap Bekel Gajahmada dengantegas. Rontok nyali prajurit bertubuh tinggi besar itu setelah melihat lencanayang diacungkan Bekel Gajahmada. Prajurit itu ternyata sadar bahwapemegang lencana itu tak ubahnya Mahapatih sendiri. Akhirnya, denganbergegas mereka mempersilakan Bekel Gajahmada menunggu. Seorangprajurit berlari-lari menuju bangunan paling besar yang terletak di bagianpaling depan dari bangsal kesatrian itu. Tidak berapa lama kemudianprajurit itu telah kembali mengiringkan Temenggung Banyak Sora. Temenggung Banyak Sora menguap membuang rasa kantuk. Banyak Sora memandang Bekel Gajahmada dengan perasaan tidakbegitu senang. Banyak Sora merasa mimpinya yang indah terganggu. ”Benarkah kau membawa pertanda lencana dari Mapatih?” bertanyaBanyak Sora. Bekel Gajahmada mengangguk sambil menunjukkan lencana yangada di tangannya. ”Dengan cara bagaimana kaudapatkan lencana itu?” kembaliBanyak Sora bertanya. Bekel Gajahmada kurang senang pada pertanyaan itu. Sebaliknya,Gagak Bongol yang berada tidak jauh darinya berada dalam kesiagaantertinggi. Tangan kanannya tetap melekat di gagang pedang. GagakBongol telah sampai pada sebuah simpulan jika ternyata Banyak Soraterlibat dalam rencana makar dan kemudian menjebak Bekel Gajahmada,ia akan mengamuk sejadi-jadinya. Serangan dadakan yang dilakukannyadiharapkan mampu membenamkan Temenggung Banyak Sora ke pintugerbang kematian.
  45. 45. Gajahmada 35 ”Mohon maaf Rakrian Temenggung, apakah aku diizinkanmenyambungkan pertanyaan itu kepada Mahapatih Tadah bila nantiaku telah kembali menghadap kepadanya?” balas Gajahmada. Merah padam wajah Banyak Sora yang hanya bisa mengumpatdalam hati. Meski yang ada di hadapannya hanya seorang prajuritberpangkat bekel, ia memiliki otak dan tidak mau diremehkan. Gajahmada segera mencairkan keadaan. ”Meski aku memegang lencana ini, aku perlu minta maaf karenatelah mengganggu istirahat Rakrian Temenggung!” ucap BekelGajahmada. Rakrian Temenggung Banyak Sora termangu. ”Persoalan penting macam apa yang kaubawa hingga kau harusmemamerkan lencana Mahapatih kepadaku?” bertanya Banyak Sora. Gajahmada menoleh ke kiri dan kanan terarah kepada segenapprajurit yang mengelilinginya. ”Persoalan yang aku bawa hanya layak kubicarakan tanpa didengaroleh orang lain!” jawab Bekel Gajahmada. Rakrian Banyak Sora memerhatikan wajah Bekel Gajahmada lebihcermat. Rakrian Banyak Sora melirik Gagak Bongol yang tangannyamelekat erat pada gagang senjatanya. ”Ikut aku!” berkata Banyak Sora. Rakrian Banyak Sora membawa Bekel Gajahmada ke dalambangunan induk dari bangsal kesatrian Jalapati. Di bangunan itulahbiasanya Rakrian Temenggung Banyak Sora menggembleng segenapprajuritnya agar makin trengginas, yang pada akhirnya selalu siap untukdihadapkan pada keadaan macam apa pun. Gagak Bongol tetap mengawal Bekel Gajahmada. ”Tak ada siapa pun yang akan mendengar pembicaraan kita.Bicaralah!” ucap Banyak Sora tegas. Bekel Gajahmada tidak mau membuang waktu.
  46. 46. 36 Gajahmada ”Berdasarkan laporan telik sandi, besok pagi akan ada kraman.” Rakrian Banyak Sora terlonjak. Mendadak kakinya terasa sepertikesemutan atau kaku karena dibelit ular bandotan. Kata-kata BekelGajahmada yang disampaikan tanpa basa-basi, apalagi rasa sungkan itumenyebabkan matanya terbelalak. Kali ini Rakrian Banyak Sora tidakberani menganggap remeh lagi. ”Apa kaubilang? Akan terjadi kraman?” tegasnya. Bekel Gajahmada mencoba membaca perubahan wajah RakrianBanyak Sora dengan cermat, menerjemahkan apakah raut wajah yangkaget itu gambaran dari kaget sesungguhnya, atau hanya berpura-purakaget. Bekel Gajahmada merasa sedikit lega saat merasa kekagetan yangditunjukkan Rakrian Banyak Sora itu mewakili perasaannya yangsebenarnya. ”Siapa yang akan melakukan kraman?” tanya Banyak Sora. Suaranyaterdengar agak bergetar. ”Rakrian Temenggung benar-benar tidak tahu? Atau, sekadarberpura-pura tidak tahu?” pancing Bekel Gajahmada. Wajah Rakrian Banyak Sora memerah. Pertanyaan itu membuatnyatidak senang. Dipandanginya Bekel Gajahmada itu seperti akan mengorekisi benaknya. ”Apakah Mahapatih menuduhku akan melakukan kraman?”bertanya Rakrian Banyak Sora dengan suara kasar dan nada kurangsenang. Justru karena itu Bekel Gajahmada menjadi agak lega. Dengandemikian, masih bisa diharapkan ada pasukan yang bisa digunakanmenghadapi pasukan yang memberontak. ”Cepat katakan kepadaku, siapa yang akan mbalela atas kuasa TuankuJayanegara? Biarlah aku nanti yang akan menghadapinya!” ucap RakrianTemenggung Banyak Sora, suaranya tertahan. ”Menurut laporan telik sandi,” Bekel Gajahmada mulai bertutur,”pada saat ini bangsal kesatrian Jala Rananggana kosong, tidak seorangpun ada di bangsal itu. Pasukan Jalapati dan Jalayuda yang masih ada di
  47. 47. Gajahmada 37tempat. Keadaan yang kusampaikan ini mungkin bisa memberikangambaran kepada Rakrian Temenggung ada apa kira-kira.” Rakrian Temenggung Banyak Sora termangu. Yang kemudianmuncul di kelopak matanya adalah wujud sosok seorang Temenggungyang pilih tanding dan memiliki kemampuan kanuragan yang tinggi.Orang itu adalah Pujut Luntar. Secara pribadi Rakrian TemenggungBanyak Sora menyimpan perasaan tidak begitu suka kepada TemenggungPujut Luntar karena perilakunya yang suka menjilat dan memutar balikkeadaan untuk mencari muka. Kini terbukti, orang itu malahmerencanakan makar. Rakrian Temenggung Banyak Sora mondar-mandir sambilmengelus-elus janggutnya. ”Aku kaget mendengar Pujut Luntar menjadi gila. Selama ini akumelihat Pujut Luntar memang seorang penjilat dan suka mencari muka.Namun, tak kuduga kegilaannya ternyata lebih dari itu. Namun demikian,aku tidak yakin Pujut Luntar akan bertindak sendiri. Tentu ada pihaklain yang bekerja sama dengannya. Apakah sudah kauperoleh keterangansiapa orang yang berada di belakangnya?” tanya Banyak Sora. Pertanyaan itu justru membuat Bekel Gajahmada terdiam. BenarkahPujut Luntar bergerak sendiri? Gajahmada merasa memang tidakmungkin Temenggung Pujut Luntar bekerja sendiri. Tentu ada pihaklain yang mengipasinya. Tetapi siapa? ”Telik sandi akan segera mendapatkan jawabnya,” jawab BekelGajahmada dengan tegas. ”Mewakili Mahapatih Arya Tadah, aku inginmendapat kepastian jawaban, bagaimana sikap pasukan Jalapati setelahmengetahui keadaan seperti ini?” Pandangan Rakrian Temenggung Banyak Sora lurus tertuju padamanik mata Bekel Gajahmada. ”Akan aku siapkan pasukanku untuk membetengi istana,” jawabRakrian Banyak Sora tegas. ”Tidak sampai mendekati datangnya pagi,pasukanku telah pasang gelar.”
  48. 48. 38 Gajahmada Bekel Gajahmada lega. Setidak-tidaknya bisa diharapkan banjirbandang yang akan terjadi itu bisa diredam. Bekel Gajahmada segera minta diri. Sejenak kemudian dua ekorkuda yang ditunggangi Bekel Gajahmada dan Gagak Bongol kembaliberderap meninggalkan bangsal kesatrian Jalapati. Gajahmada merasaharus berburu waktu supaya segera sampai di bangsal Jalayuda untukmenemui pimpinan pasukan itu dan mempertegas sikapnya. Sepeninggal Bekel Gajahmada, Rakrian Temenggung Banyak Sorasegera mengumpulkan segenap pasukannya. Banyak Sora tidakmenggunakan isyarat kentongan untuk memanggil para senopatibawahannya, tetapi melalui utusan yang menghubungi mereka satu persatu. Para senopati baru merasa jelas duduk persoalannya setelahTemenggung Banyak Sora menyampaikan apa yang terjadi. Sejenakkemudian terjadilah kesibukan yang luar biasa di bangsal kesatrian Jalapati. Dalam perjalanan, Gagak Bongol tidak bisa menyimpankecemasannya. ”Apakah kau memercayai Rakrian Temenggung Banyak Sora?” Bekel Gajahmada memperlambat laju kudanya. Kabut tebal menjadimasalah bagi pandangan matanya, tetapi tidak bagi kuda-kuda yangsudah amat terlatih itu. ”Kau menduga Rakrian Temenggung Banyak Sora hanya berpura-pura kaget?” bertanya Bekel Gajahmada. ”Kalau ternyata pasukan Jalapati justru bersekongkol denganpasukan Jala Rananggana, yang terjadi kau justru telah mengundangbahaya ke halaman istana Majapahit!” lanjut Gagak Bongol. ”Kemungkinan itu kecil. Jika Rakrian Temenggung Banyak Soraterlibat dalam rencana pemberontakan ini, kita berdua tidak akan keluardengan selamat dari bangsalnya,” jawab Gajahmada. Dalam hati GagakBongol membenarkan jawaban itu. Sejenak kemudian Bekel Gajahmada dan Lurah Gagak Bongoltelah sampai di gerbang kesatrian pasukan Jalayuda. Prajurit penjaga
  49. 49. Gajahmada 39regol kesatrian mengantarkannya menemui Temenggung Panji Watang.Rupanya Temenggung Panji Watang belum tidur dan baru selesaimengadakan pertemuan dengan beberapa senopati bawahannya. Justrukarena itu Gajahmada tidak bisa mencegah degup jantungnya melajulebih kencang. ”Panji Watang baru saja mengadakan pertemuan dengan anakbuahnya. Berhati-hatilah!” bisik Bekel Gajahmada kepada Gagak Bongol.Gagak Bongol mengangguk. Dengan ramah Rakrian Temenggung Panji Watang menerimakehadiran Bekel Gajahmada. Belum sempat Gajahmada mengutarakanapa yang menjadi keperluannya, Panji Watang telah memerintahkankepada seorang perempuan untuk mengeluarkan hidangan. BekelGajahmada merasa agak heran karena ada seorang wanita di bangsalkesatrian Jalayuda itu. Bekel Gajahmada manggut-manggut saat melihatminuman yang disuguhkan adalah minuman yang memabukkan. Bekel Gajahmada menyapukan pandangan mencoba mencermatikeadaan. Diperhatikannya segenap sudut bangsal utama yang sekaligusmenjadi kediaman Temenggung Panji Watang itu. Di halaman beberapaprajurit tengah membuat perapian, dari sana asal bau daging yang dibakar.Kabut tebal melayang-layang. Bekel Gajahmada mengalami kesulitanuntuk memerhatikan jarak yang lebih jauh lagi. Di sebelah Panji Watang, Senopati Ranggayuda membeku dengantangan mengelus-elus gagang senjatanya. ”Ada apa malam-malam seperti ini kauberkunjung ke sini?” tanyaPanji Watang. Sekuat tenaga Bekel Gajahmada menghapus kesan di wajahnyaagar tak terbaca oleh Temenggung Panji Watang. ”Agaknya,” ucap Bekel Gajahmada di dalam hati, ”ada hubunganantara Jalayuda dan Jala Rananggana. Aku curiga pasukan Jalayudatermasuk di antara mereka yang akan melakukan tindakan makar. Paraprajurit Jalayuda tentu tidak akan membutuhkan waktu lama untuk
  50. 50. 40 Gajahmadamembuka gelar perang dan kemudian menyerbu istana. Jarak antarabangsal ini dengan istana tidak terlampau jauh.” Rupanya Temenggung Panji Watang tahu tamunya sedang merenungmemikirkan sesuatu. ”Kenapa tertegun? Apa yang sedang kaupikirkan?” bertanyaTemenggung Panji Watang. Bekel Gajahmada menggeretakkan gigi. Pimpinan prajuritBhayangkara itu menjadi tidak sabar. Waktu yang ada sangat mepet dania harus segera mendapatkan jawaban pasti, apakah pasukan Jalayudaterlibat dalam rencana makar itu. ”Rakrian Temenggung,” berkata Bekel Gajahmada, ”kedatangankudi tengah malam ini mewakili Mahapatih Tadah. Gusti Mapatih Tadahmembutuhkan jawaban, pasukan Jalayuda terlibat atau tidak dalamrencana makar besok pagi itu.” Ucapan Bekel Gajahmada yang terlampau terus terang itu memaksaraut wajah Rakrian Temenggung Panji Watang untuk berubah. PanjiWatang tidak menduga tamunya akan berbicara langsung ke persoalanitu tanpa tedheng aling-aling. Rakrian Temenggung Panji Watang menghela napas. Bekel Gajahmada menunggu jawabnya dengan tidak sabar. ”Bagaimana Rakrian?” Bekel Gajahmada menegaskan. ”Jadi Gusti Mapatih Tadah sudah tahu?” ”Sudah,” jawab Gajahmada tegas. ”Aku tidak terlibat dalam persoalan ini. Dan, aku tidak akanmelibatkan diri dalam persoalan Rakrian Kuti,” berkata Panji Watang. Nama Ra Kuti disebut, menyebabkan rona wajah Bekel Gajahmadaberubah. Demikian juga Gagak Bongol tidak bisa menyembunyikankaget yang menyentak dadanya. Ra Kuti benar-benar sebuah nama yangtidak dihitung sebelumnya. Belum lama Rakrian Kuti dan beberapaorang kawannya telah mendapat anugerah dari Baginda Jayanegara
  51. 51. Gajahmada 41sebagai Dharmaputra Winehsuka, diberi anugerah kebahagiaan. Siapamengira Rakrian Kuti justru terlibat dalam rencana makar itu. Apakah masih ada pihak lain lagi yang terlibat? Bekel Gajahmadamenyimpan pertanyaan itu dalam hati. Bekel Gajahmada menunggusejenak. ”Ra Kuti dan segenap Dharmaputra Winehsuka yang merencanakantindakan makar itu. Terus terang aku mengatakan, Ra Kuti telahmenghubungiku, merayuku untuk ikut terlibat dalam pemberontakanitu, tetapi aku menolak,” lanjut Panji Watang. Betapa tajam Gajahmada memandang wajah Rakrian Panji Watang.Bekel Gajahmada merasa ada sikap yang tidak seharusnya, tetapi yangtelah dilakukan oleh Rakrian Temenggung Panji Watang itu sikap yangdinilainya keliru. ”Jika Rakrian Temenggung mengetahui rencana makar itu, mengapaRakrian tidak melaporkan hal itu ke istana?” bertanya Gajahmada. Mulut Panji Watang terbungkam. Ada sesuatu yang dipikirnya. Barangsiapa mengetahui tindakan kejahatan, tetapi hanya diam tidakmelakukan apa pun maka yang bersangkutan bisa dianggap melakukankesalahan. Apalagi, Temenggung Panji Watang seorang prajurit yangbertanggung jawab atas keamanan dan ketenteraman negara ternyatatak melakukan apa-apa maka sikap Rakrian Panji Watang yang sepertiitu sungguh sulit diterima. Bahkan, bisa dikatakan Panji Watang terlibatsecara tidak langsung dalam tindakan makar itu. Panji Watang bukannya tidak mengetahui hal itu. Akan tetapi,rupanya Panji Watang memiliki pertimbangan dan maksud-maksudtertentu. Mendapat pertanyaan itu, Panji Watang hanya tersenyum. ”Aku menganggap apa yang terjadi besok bukanlah urusanku.Tugasku adalah menjaga ketenteraman negara. Jika ada negara lainmencoba mengganggu ketenteraman Majapahit maka aku akan majudi barisan paling depan untuk menghadapinya. Namun, jika yang bertikaiadalah keluarga sendiri lebih baik aku menempatkan diri di luar arena.”
  52. 52. 42 Gajahmada Jawaban itu tentu saja makin membuat Bekel Gajahmada kagetdan tertegun. Dengan demikian, Bekel Gajahmada memperolehgambaran apa yang terjadi. Yang sulit dipahami Gajahmada adalah alasanRakrian Temenggung Panji Watang menganggap pemberontakan itusebagai pertikaian antara keluarga. Itu jelas alasan yang dianggapnyamengada-ada. Jayanegara diangkat menjadi raja atas keputusan RadenWijaya atau Kertarajasa Jayawardhana. Dengan demikian, kedudukannyasebagai raja tidak bisa diganggu gugat. Bekel Gajahmada juga tidakmelihat pertikaian yang dijadikan alasan itu. Sri Gitarja TribuanaTunggadewi dan Rajadewi Maharajasa, anak Raden Wijaya yang laintidak mempersoalkan dan sangat mendukung pengangkatan Kalagemetmenjadi raja dengan gelar Sri Jayanegara. Bahkan, biwara yangdisampaikan mendiang ayahnya yang menaikkan derajat Dara Petakyang sakit-sakitan menjadi Stri Tunuhweng Pura sama sekali tidak adayang mempersoalkan. Tidak masuk akal jika Panji Watang menganggap rencana makaritu sebagai persoalan keluarga, apalagi Ra Kuti bukanlah anggota keluargagaris keturunan Raden Wijaya. Baunya sangat menyengat, Panji Watangtentu bermaksud memanfaatkan keadaan itu untuk kepentingannyasendiri. Gajahmada memeras otak. ”Kini aku mendapatkan gambaran. Para Rakrian DharmaputraWinehsuka yang mendalangi rencana pemberontakan itu. Para RakrianWinehsuka mengajak Temenggung Pujut Luntar. Dengan janji-janjitertentu, mungkin jabatan yang tinggi, Rakrian Temenggung Pujut Luntarbersedia bergabung. Ra Kuti tidak berani mengajak Rakrian TemenggungBanyak Sora karena Rakrian Banyak Sora mempunyai sikap yang tegas.Selanjutnya, Ra Kuti tentu juga merayu Rakrian Temenggung PanjiWatang. Namun, Panji Watang mempunyai sikap lain. Jelas Rakrian PanjiWatang menyimpan tujuan tersendiri. Manakala pasukan yang bertempurbesok sudah sama-sama remuk, Panji Watang tampil menggilassemuanya. Jika perhitunganku ini tidak salah, yang aku hadapi ini benar-benar orang yang cerdik sekaligus culas,” ucap Gajahmada untuk dirisendiri.
  53. 53. Gajahmada 43 Merasa telah menemukan jawaban, Bekel Gajahmada tersenyum.Diliriknya Gagak Bongol yang telah bersiaga dengan tangan kanannyayang melekat di gagang senjata. ”Jadi, Rakrian tidak akan ikut campur terhadap pertikaian yangbesok akan terjadi?” desak Gajahmada. ”Ya!” jawab Panji Watang dengan tegas. ”Sebenarnya siapa menurut Rakrian Panji, mereka yang bertikaiitu?” bertanya Bekel Gajahmada. ”Aku bukan anak kecil yang layak diberi pertanyaan seperti itu.Semua orang tahu apa jawabnya.” Bekel Gajahmada makin jengkel. ”Persoalannya bukan siapa yang tengah bertikai, kalaupun dianggaporang yang bertikai itu ada. Tuanku Sri Jayanegara adalah raja yang sah,yang pengangkatannya sebagai Pangeran Pati dilakukan sendiri olehTuanku Prabu Rajasa. Mengapa Rakrian tidak mengambil sikap membelaTuanku Jayanegara? Ra Kuti itu siapa?” desak Bekel Gajahmada. ”Kau menganggap tidak ada yang bertikai?” bertanya Panji Watang.Nada suaranya terdengar ketus. ”Para istri Tuanku Rajasa tak ada yang keberatan terhadappengangkatan Tuanku Jayanegara. Lebih dari itu, Tuan Putri Breh Dahadan Tuan Putri Breh Kahuripan telah menerima pengangkatan itu denganikhlas.” Ada senyum sinis yang menyungging di sudut mulut Panji Watang.Meskipun Panji Watang dengan segera menghapus kesan itu, BekelGajahmada telanjur melihatnya. ”Rupanya secara pribadi Rakrian Panji Watang tidak suka kepadaTuanku Jayanegara,” kata Bekel Gajahmada dalam hati. Rakrian Temenggung Panji Watang mulai tak suka dengan sikapdan kehadiran Bekel Gajahmada. Akan tetapi, Panji Watang harusmenahan diri karena Bekel Gajahmada membawa lencana Mahapatih.
  54. 54. 44 GajahmadaBila Gajahmada tidak memegang benda itu, dengan senang hati ia akanmengayunkan tangannya menggampar wajahnya. Suasana kemudian berubah menjadi hening karena TemenggungPanji Watang menjadi tak suka kepada Gajahmada yang pangkatnyahanya Bekel, tetapi dirasa tidak menghormatinya yang berpangkat jauhlebih tinggi. Untuk mencapai pangkat temenggung seorang bekel masihharus melompati pangkat senopati. Lebih dari itu, belum tentu seorangtemenggung memegang pasukan. Sebaliknya, Bekel Gajahmada tidak kalah jengkelnya. ”Sebelum saya kembali, Rakrian Temenggung,” berkata BekelGajahmada datar, ”saya ingin mendapatkan jawaban yang tegas. Besokpagi akan ada kraman, Rakrian Temenggung tak akan menggerakkanpasukan melindungi istana?” ”Sudah aku bilang,” bentak Panji Watang, ”aku tidak akan ikutcampur dalam pertikaian itu. Aku menganggapnya sebagai persoalanyang tidak perlu melibatkanku, melibatkan pasukan Jalayuda.” Simpulan yang jelas dan tegas telah diperolehnya. Dengan demikian,Bekel Gajahmada telah mendapatkan kepastian bahwa pasukan Jalayudatidak bisa diharapkan. Bahkan, sikap pasukan Jalayuda itu bisa dikatakanmakar. Raja dalam bahaya, tetapi pasukan Jalayuda hanya diam, tindakanitu sangat tak bisa dibenarkan. Gagak Bongol yang menyimak pembicaraan itu nyaris saja isidadanya meledak. Akan tetapi, dengan sekuat tenaga Gagak Bongolberusaha menahan diri. Semula Bekel Gajahmada dan Gagak Bongolmenduga mereka tak akan bisa keluar dari bangsal Jalayuda. Namun,ternyata Rakrian Panji Watang membiarkan mereka pergi. Sikap itu pundirasa aneh. Akan tetapi, Bekel Gajahmada dan Gagak Bongol tidakkesulitan untuk menemukan jawabnya. Bila Gajahmada dan GagakBongol ditahan maka tidak akan ada perlawanan dari istana dalammenghadapi serbuan pasukan Jala Rananggana. Itu berarti kesegaranpasukan itu akan tetap utuh, berbeda jika perlawanan yang diberikanmenyebabkan kelelahan luar biasa maka bukanlah pekerjaan yang sulitbagi Panji Watang yang muncul belakangan dalam menggilas mereka.
  55. 55. Gajahmada 45 Tanpa banyak bicara Bekel Gajahmada dan Gagak Bongolmembedal kudanya, kembali berderap ke istana. Kabut yang turun tidakmereda, bahkan terasa makin kental. Namun, untunglah kuda-kuda yangmereka tunggangi tidak direpotkan oleh keadaan itu. Seolah bagi kuda-kuda itu, tebalnya kabut bukan masalah. Binatang pemakan rumput ituterus berderap. Semula Gagak Bongol bermaksud diam. Akan tetapi, akhirnyaGagak Bongol tidak bisa menahan lagi. Isi dadanya bergolak. ”Apa artinya Kakang Bekel?” teriak Gagak Bongol. ”Sikap PanjiWatang yang seperti itu apa bukan pemberontakan? Sebagai seorangtemenggung, Rakrian Panji Watang berkewajiban untuk melindunginegara, melindungi raja dan segenap keluarganya. Apa yang diucapkannyatadi hanya omong kosong. Kedengarannya bijak sekali, TemenggungPanji Watang menganggap apa yang akan terjadi nanti sebagai pertikaianantara keluarga yang tidak perlu dicampuri. Pertikaian apa? Tidak adapertikaian itu. Alasan itu hanya mengada-ada, Kakang Bekel.” Bekel Gajahmada tidak menjawab. Kudanya terus berderap. ”He, Kakang Bekel. Kau tidak mendengar kata-kataku?” teriakGagak Bongol sekali lagi. ”Jangan memboroskan waktu. Apa yang kautahu, aku tahu pula,kita harus cepat kembali ke istana.” Istana benar-benar senyap. Gajahmada tahu kalau segenap prajuritmelakukan baris pendhem di balik dinding dan parit memanjang, dibelakang gerumbul semak dan perdu. Namun, Bekel Gajahmadasekaligus merasakan betapa getir, jumlah prajurit yang ada itu tidak adaartinya jika dihadapkan pasukan segelar sepapan yang akan menggilas istanabagai banjir bandang. Menjelang gerbang Purawaktra, Gajahmada segera meneriakkankata-kata sandi. Sejenak kemudian pintu regol Purawaktra yang ditutuprapat itu terbuka. Para prajurit Bhayangkara segera mengelilinginya. ”Tidak terjadi sesuatu yang mencurigakan?” tanya BekelGajahmada.
  56. 56. 46 Gajahmada ”Tidak terjadi sesuatu Kakang. Atau, jawaban yang lebih tepat adalahsampai saat ini belum,” Gajah Pradamba yang juga disebut Gajah Enggonmenjawab. Bekel Gajahmada menengadah, maksudnya ingin melihatgemerlapnya bintang-bintang di langit untuk mengukur waktu. Namun,kabut tebal yang melayang-layang amat mengganggunya. Lamat-lamat,dari kejauhan terdengar suara burung gagak yang melengking menyayat.Gajahmada berdesir saat sejenak kemudian terdengar burung gagakberteriak seperti memberikan jawaban. Suara burung gagak itu berasaldari arah wuwungan istana. ”Burung gagak sialan!” ucap Bekel Gajahmada dalam hati. Segenap anak buahnya merasa tidak sabar lagi untuk segeramengetahui apa yang diperoleh Bekel Gajahmada dari pasukan Jalayudaatau Jalapati. ”Bagaimana hasilnya Kakang Bekel?” Lembu Pulung bertanya. Bekel Gajahmada menebar pandang menyentuh semua wajah anakbuahnya. ”Rakrian Dharmaputra Winehsuka berada di belakang semuanyaini!” Bekel Gajahmada mengawali. Para prajurit Bhayangkara kaget. ”Winehsuka?” desis Panji Saprang Tandi. Bekel Gajahmada mengangguk. ”Ra Kuti penggeraknya?” tekan Saprang Tandi. Sekali lagi Bekel Gajahmada mengangguk, ”Ra Kuti, Ra Wedeng,Ra Pangsa, Ra Banyak, Ra Yuyu, dan Ra Tanca. Mereka mengobarkankraman menggunakan alasan basi, seolah ada pertikaian di dalamkeluarga istana. Padahal, pertikaian itu sama sekali tidak ada.” Para Bhayangkara saling pandang. ”Pasukan mana yang terlibat?” giliran Malan Liwung bertanya.
  57. 57. Gajahmada 47 ”Pasukan Jala Rananggana terlibat, mereka tak ada di bangsalkesatrian. Rakrian Pujut Luntar terbujuk oleh rayuan Ra Kuti hinggamau bergabung. Pasti Rakrian Kuti memberikan iming-iming janjikepadanya, mungkin jabatan patih atau bahkan raja hingga Pujut Luntarminger kiblatnya.” Bekel Gajahmada menghirup udara mengisi paru-parunya. SegenapBhayangkara sangat jengkel. ”Aku telah menemui Rakrian Temenggung Banyak Sora. Kita bolehberharap, Rakrian Banyak Sora masih memiliki jiwa prajurit sejati.Temenggung Banyak Sora kaget ketika aku sampaikan kemungkinanadanya makar itu. Banyak Sora berjanji akan segera mengirimpasukannya. Sebelum matahari terbit diharapkan mereka telah pasanggelar.” Para Bhayangkara merasa agak lega. Dengan demikian, masih adakemungkinan menyelamatkan istana dari kehancuran. ”Bagaimana dengan Jalayuda?” Risang Panjer Lawang bertanyasambil mengelus-elus jenggot. ”Mengenai Panji Watang, aku ingin sekali mendapat kesempatanuntuk menyobek mulutnya dengan pedangku ini,” ucap Gagak Bongol. Para Bhayangkara kaget. ”Panji Watang memihak mereka yang akan melakukanpemberontakan?” Risang Panjer Lawang bertanya. ”Panji Watang mencoba memainkan perannya sendiri!” Gajahmadamenjawab. ”Panji Watang tahu para Rakrian Winehsuka akan melakukanmakar. Bahkan, sangat mungkin para Rakrian Winehsuka mengajak PanjiWatang untuk bergabung. Namun, Panji Watang tidak bersedia. PanjiWatang memutuskan pasukan Jalayuda akan menempatkan diri di luardan hanya menjadi penonton.” Para Bhayangkara tambah bingung. Mereka sulit menerimapenjelasan itu. ”Menjadi penonton?” Gajah Pradamba meletupkan kejengkelannya.
  58. 58. 48 Gajahmada ”Apakah Panji Watang tidak merasa berkewajiban untuk melindungiraja dan menyelamatkan negara?” Bekel Gajahmada tersenyum. Gagak Bongol menggeram. ”Rakrian Panji Watang menganggap persoalan ini sebagai persoalankeluarga yang tidak perlu dicampuri,” Gajahmada menambahkan. ”Orang itu sudah gila,” umpat Gajah Pradamba. ”Menurut kalian apakah ada pertikaian keluarga itu?” pancing BekelGajahmada. Para Bhayangkara terdiam. Mereka butuh waktu mencerna alasanPanji Watang yang tidak mau melibatkan diri itu. ”Alasan itu mengada-ada. Aku curiga panji Watangmenyembunyikan maksud tertentu,” Panjang Sumprit yang semula hanyadiam ikut menyampaikan pendapatnya. ”Pertikaian antara keluarga itu tidak ada, pengangkatan TuankuJayanegara sebagai putra mahkota dilakukan sendiri oleh KertarajasaJayawardhana. Semua pihak mendukung keputusan itu.” ”Itu sebabnya, tadi aku mengatakan Rakrian Temenggung PanjiWatang akan memainkan perannya sendiri. Lugas saja kita menebak,Panji Watang memang berharap pertempuran itu berlangsung dankemudian sama-sama hancur. Dengan demikian, Panji Watang akanberdiri di atas puing-puing pertempuran itu sebagai pemenang.”6 Para Bhayangkara mendapat gambaran makin jelas atas apa yangsebenarnya sedang berlangsung. Dengan demikian, apa yang akan terjadi

×