Cerita rakyat nusantara 1

  • 5,164 views
Uploaded on

 

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
No Downloads

Views

Total Views
5,164
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
101
Comments
0
Likes
1

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. CERITA RAKYAT NUSANTARA 1No Judul Cerita Hal1 Jaka Budug Dan Putri Kemuning 22 Putri Siluman 63 Keramat Riak 114 Raja Empedu 165 Legenda Bukit Fafinesu 20 Sumber : http://ceritarakyatnusantara.com 1
  • 2. JAKA BUDUG DAN PUTRI KEMUNING Asal cerita : Kabupaten Ngawi, Jawa Timur Alkisah, di daerah Ngawi, Jawa Timur, tersebutlah seorang raja bernama Prabu Aryo Seto yang bertahta di Kerajaan Ringin Anom. Prabu Aryo Seto adalah seorang raja yang adil dan bijaksana. Baginda mempunyai seorang putri yang rupawan bernama Putri Kemuning. Sesuai namanya, tubuh sang Putri sangat harum bagaikan bunga kemuning. Suatu hari, Putri Kemuning tiba-tiba terserang penyakit aneh. Tubuhnya yang semula berbau harum, tiba-tiba mengeluarkan bau yang tidak enak. Melihat kondisi putrinya itu, Sang Prabu menjadi sedih karena khawatir tak seorang pun pangeran atau pemudayang mau menikahi putrinya itu. Berbagai upaya telah dilakukan olehbaginda, seperti memberikan putrinya obat-obatan tradisional berupa daunkemangi dan beluntas, namun penyakit sang putri belum juga sembuh. SangPrabu juga telah mengundang seluruh tabib yang ada di negerinya, namuntak seorang pun yang mampu menyembuhkan sang Putri.Hati Prabu Aryo Seto semakin resah. Ia sering duduk melamun seorang dirimemikirkan nasib malang yang menimpa putri semata wayangnya. Suatuketika, tiba-tiba terlintas dalam pikirannya untuk melakukan semedi danmeminta petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar penyakit langkayang menimpa putrinya dapat disembuhkan.Pada saat tengah malam, Sang Prabu dengan tekad kuat dan hati yang sucimelakukan semedi di dalam sebuah ruang tertutup di dalam istana. Padasaat baginda larut dalam semedi, tiba-tiba terdengar suara bisikan yangsangat jelas di telinganya.“Dengarlah, wahai Prabu Aryo Seto! Satu-satunya obat yang dapatmenyembuhkan penyakit putrimu adalah daun sirna ganda. Daun itu hanyatumbuh di dalam gua di kaki Gunung Arga Dumadi yang dijaga oleh seekorular naga sakti dan selalu menyemburkan api dari mulutnya,” demikian pesanyang disampaikan oleh suara gaib itu. 2
  • 3. Keesokan harinya, Prabu Aryo Seto segera mengumpulkan seluruh rakyatnyadi alun-alun untuk mengadakan sayembara.“Wahai, seluruh rakyatku! Kalian semua tentu sudah mengetahui perihalpenyakit putriku. Setelah semalam bersemedi, aku mendapatkan petunjukbahwa putriku dapat disembuhkan dengan daun sirna ganda yang tumbuh digua di kaki Gunung Arga Dumadi. Barang siapa yang dapatmempersembahkan daun itu untuk putriku, jika ia laki-laki akan kunikahkandengan putriku. Namun, jika ia perempuan, ia akan kuangkat menjadianakku.” ujar Sang Prabu di depan rakyatnya.Mendengar pengumuman itu, seluruh rakyat Kerajaan Ringin Anom menjadigempar. Berita tentang sayembara itu pun tersebar hingga ke seluruhpelosok negeri. Banyak warga yang tidak berani mengikuti sayembaratersebut karena mereka semua tahu bahwa gua itu dijaga oleh seekor nagayang sakti dan sangat ganas. Bahkan, sudah banyak warga yang menjadikorban keganasan naga itu. Meski demikian, banyak pula warga yangmemberanikan diri untuk mengikuti sayembara tersebut karena tergiur olehhadiah yang dijanjikan oleh Sang Prabu. Setiap orang pasti akan senang jikamenjadi menantu atau pun anak angkat raja.Salah seorang pemuda yang ingin sekali mengikuti sayembara tersebut adalahJaka Budug. Jaka Budug adalah pemuda miskin yang tinggal di sebuah gubukreyot bersama ibunya di sebuah desa terpencil di dalam wilayah KerajaanRingin Anom. Ia dipanggil “Jaka Budug” karena mempunyai penyakit langka,yaitu seluruh tubuhnya dipenuhi oleh penyakit budug. Penyakit aneh itusudah dideritanya sejak masih kecil. Meski demikian, Jaka Budug adalahseorang pemuda yang sakti. Ia sangat mahir dan gesit memainkan kerispusaka yang diwarisi dari almarhum ayahnya. Dengan kesaktiannya itu, iaingin sekali menolong sang Putri. Namun, ia merasa malu dengan keadaandirinya.Sementara itu, para peserta sayembara telah berkumpul di kaki Gunung ArgaDumadi untuk menguji kesaktian mereka. Sejak hari pertama hingga harikeenam sayembara itu dilangsungkan, belum satu pun peserta yang mampumengalahkan naga sakti itu. Jaka Budug pun semakin gelisah mendengarkabar itu.Pada hari ketujuh, Jaka Budug dengan tekadnya yang kuat memberanikan diridatang menghadap kepada Sang Prabu. Di hadapan Prabu Aryo Seto, iamemohon izin untuk ikut dalam sayembara itu.“Ampun, Baginda! Izinkan hamba untuk mengikuti sayembara ini untukmeringankan beban Sang Putri,” kata Jaka Budug. 3
  • 4. Prabu Aryo Seto tidak menjawab. Ia terdiam sejenak sambil memperhatikanJaka Budug yang tubuhnya dipenuhi bintik-bintik merah.“Siapa kamu hai, anak muda? Dengan apa kamu bisa mengalahkan naga saktiitu?” tanya Sang Prabu.“Hamba Jaka Budug, Baginda. Hamba akan mengalahkan naga itu dengankeris pusaka hamba ini,” jawab Jaka Budug seraya memperlihatkan kerispusakanya kepada Sang Prabu.Pada mulanya, Prabu Aryo Seto ragu-ragu dengan kemampuan Jaka Budug.Namun, setelah Jaka Budug menunjukkan keris pusakanya dan tekadnya yangkuat, akhirnya Sang Prabu menyetujuinya.“Baiklah, Jaka Budug! Karena tekadmu yang kuat, maka keinginanmukuterima. Semoga kamu berhasil!” ucap Sang Prabu.Jaka Budug pun berangkat ke Gunung Arga Dumadi dengan tekad membara.Ia harus mengalahkan naga itu dan membawa pulang daun sirna ganda.Setelah berjalan cukup jauh, sampailah ia di kaki gunung Arga Dumadi. Darikejauhan, ia melihat semburan-semburan api yang keluar dari mulut nagasakti penghuni gua. Ia sudah tidak sabar ingin membinasakan naga itu dengankeris pusakanya.Jaka Budug melangkah perlahan mendekati naga itu dengan sangat hati-hati.Begitu ia mendekat, tiba-tiba naga itu menyerangnya dengan semburan api.Jaka Budug pun segera melompat mundur untuk menghindari serangan itu.Naga itu terus bertubi-tubi menyerang sehingga Jaka Budug terlihat sedikitkewalahan. Lama-kelamaan, kesabaran Jaka Budug pun habis.Ketika naga itu lengah, Jaka Budug segera menghujamkan kerisnya ke perutnaga itu. Darah segar pun memancar dari tubuh naga itu dan mengenaitangan Jaka Budug. Sungguh ajaib, tangan Jaka Budug yang terkena darahsang naga itu seketika menjadi halus dan bersih dari penyakit budug.Melihat keajaiban itu, Jaka Budug semakin bersemangat ingin membinasakannaga itu. Dengan gesitnya, ia kembali menusukkan kerisnya ke leher naga ituhingga darah memancar dengan derasnya. Naga sakti itu pun tewas seketika.Jaka Budug segera mengambil darah naga itu lalu mengusapkan ke seluruhbadannya yang terkena penyakit budug. Seketika itu pula seluruh badannyamenjadi bersih dan halus. Tak sedikit pun bintik-bintik merah yang tersisa.Kini, Jaka Budug berubah menjadi pemuda yang sangat tampan. 4
  • 5. Setelah memetik beberapa lembar daun sirna ganda di dalam gua, JakaBudug segera pulang ke istana dengan perasaan gembira. Setibanya diistana, Prabu Aryo Seto tercengang ketika melihat Jaka Budug yang kinikulitnya menjadi bersih dan wajahnya berseri-seri. Sang Prabu hampir tidakpercaya jika pemuda di hadapannya itu Jaka Budug. Namun, setelah JakaBudug menceritakan semua peristiwa yang dialaminya di kaki Gunung ArgaDumadi, barulah Sang Prabu percaya dan terkagum-kagum.Jaka Budug kemudian mempersembahkan daun sirna ganda yang diperolehnyakepada Sang Prabu. Sungguh ajaib, Putri Kemuning kembali sehat setelahmemakan daun sirna ganda itu. Kini, tubuh Sang Putri kembali berbau harumbagaikan bunga kemuning.Prabu Aryo Seto pun menetapkan Jaka Budug sebagai pemenang sayembaratersebut. Sesuai dengan janjinya, Sang Prabu segera menikahkan Jaka Budugdengan putrinya, Putri Kemuning. Selang berapa lama setelah merekamenikah, Prabu Aryo Seto meninggal dunia. Setelah itu, Jaka Budug pundinobatkan menjadi pewaris tahta Kerajaan Ringin Anom. Jaka Budug danPutri Kemuning pun hidup berbahagia. 5
  • 6. PUTRI SILUMAN Asal cerita : LampungAlkisah, di sebuah negeri di daerah Lampung, Indonesia, ada seorang rajayang sudah puluhan tahun mengarungi bahtera rumah tangga bersamapermaisurinya, namun belum dikaruniai seorang anak. Sang raja tidak sabarlagi ingin segera mempunyai putra yang kelak akan menggantikankedudukannya. Ia pun mulai putus asa karena berbagai macam usaha telahdilakukannya, tetapi belum satu membuahkan hasil.Suatu hari, ketika sang raja sedang duduk termenung seorang diri disinggasananya, tiba-tiba seorang pengawal istana datang menghadap.“Ampun Baginda, jika kedatangan hamba mengganggu ketenangan Baginda!”lapor pengawal itu.“Kabar apa yang akan kamu sampaikan pengawal?” tanya sang raja.“Ampun, Baginda! Semoga berita yang hamba bawa ini adalah beritagembira buat Baginda,” kata si pengawal.“Kabar apakah itu, hai pengawal? Cepat katakan kepadaku!” seru sang raja.“Ampun, Baginda! Hamba baru saja mendengar kabar bahwa siapa pun yangingin mempunyai anak hendaknya datang ke sebuah sumur yang dijaga olehPutri Siluman,” lapor pengawal itu.“Di mana sumur itu berada?” tanya sang raja dengan tidak sabar. 6
  • 7. “Ampun, Baginda! Sumur itu berada di ujung negeri ini,” jawab pengawalitu.Tanpa berpikir panjang, sang raja segera menuju ke tempat itu untukmenemui Putri Siluman. Alangkah terkejutnya saat ia tiba di sana karenawanita yang ditemuinya berbeda dari apa yang ada di dalam pikirannya.Sebelumnya, ia mengira bahwa wajah Putri Siluman itu sangat jelek danmenyeramkan. Namun, tanpa diduganya ternyata Putri Siluman adalahseorang wanita cantik yang mempesona. Tak ayal lagi, sang raja punterpesona kepada kecantikan Putri Siluman itu. Niatnya yang semula inginmeminta pertolongan agar ia dan permaisurinya dikaruniai anak kini berubahmenjadi ingin menikahi wanita penunggu sumur itu.Putri Siluman itu pun tidak langsung menerima ajakan sang raja karena iatahu bahwa raja itu masih mempunyai permaisuri di istana. Oleh karenaitulah, ia menuntut kepada sang raja agar menceraikan permaisurinya.“Jika Tuan ingin menikahi hamba, maka ceraikanlah permaisuri Tuan terlebihdahulu karena hamba tidak rela diduakan!” pinta Putri Siluman.Sang raja yang telah dibutakan oleh cinta itu bersedia memenuhi tuntutanPutri Siluman. Apalagi ia menyadari bahwa selama ini permaisurinya tidakmampu memberikannya keturunan. Akhirnya, sang Raja bergegas kembali keistana untuk menceraikan permaisurinya lalu mengasingkannya ke suatutempat yang jauh. Setelah itu, ia pun menikahi Putri Siluman danmemboyongnya ke istana.Beberapa bulan kemudian, Putri Siluman diketahui sedang mengandung.Alangkah senangnya hati sang raja mendengar kabar tersebut. Kehadiranputra penerus tahta kerajaan yang sudah bertahun-tahun dinantikannya tidaklama lagi akan menjadi kenyataan. Namun, sang raja lupa jika pemaisuribarunya adalah seorang siluman. Keadaan itu baru disadarinya ketika PutriSiluman mengidam kepala manusia untuk lauk makan setiap hari.Tentu saja hal tersebut membuat sang raja bingung. Jika ia menolakpermintaan Putri Siluman itu, maka keselamatan bayinya bisa terancam.Sang paja pun terpaksa menuruti semua permintaan Putri Siluman.Akibatnya, banyak rakyat yang menjadi korban. Keadaan itu membuatseluruh rakyat di negeri itu menjadi resah karena mereka tinggal menunggugiliran kepala mereka yang akan menjadi santapan Putri Siluman.Berita tentang keresahan rakyat di negeri itu pun sampai ke telinga seorangpertapa sakti. Oleh karena prihatin terhadap nasib penduduk negeri itu, makasegeralah ia turun gunung dan kemudian menuju ke istana untuk menguji 7
  • 8. kesaktian Putri Siluman. Pertapa itu datang ke istana membawa seekorkepala kambing yang sudah disulap menjadi kepala manusia untukdipersembahkan kepada Putri Siluman. Namun, tipu muslihat pertapa itudiketahui oleh Putri Siluman. Akhirnya wanita siluman itu menjadi murka danseketika itu pula berubah menjadi setan yang menakutkan.Meski demikian, pertapa itu tetap saja tenang dan bahkan menawarkantubuhnya untuk dimakan Putri Siluman.“Baiklah, Putri Siluman! Jika kamu memang sudah kelaparan, aku bersediamengorbankan seluruh tubuhku untuk kamu santap. Silakan sembelihlah aku!”seru pertapa itu.Tanpa berpikir panjang, Putri Siluman segera menyembelih dan kemudianmemotong-motong tubuh pertapa itu hingga menjadi beberapa bagian. Begituia hendak menyantapnya, tiba-tiba potongan-potongan tubuh pertapa itumenyatu kembali. Tentu saja hal itu membuat Putri Siluman semakin murka.Dalam sekejap, seluruh tubuhnya berubah menjadi setan. Pertarungan sengitantara Putri Siluman dengan pertapa itu pun tak terelakkan lagi. Pertarunganyang berlangsung cukup lama itu akhirnya dimenangkan oleh sang pertapa,sedangkan Putri Siluman melarikan diri entah ke mana dalam keadaan hamil.Sementara itu, sang raja harus menjalani kehidupannya sebagai raja tanpadidampingi permasuri.Dua puluh tahun kemudian, di tempat pengasingannya, permaisuri raja hidupbersama dengan seorang pemuda gagah yang bernama Putra Mayang. Diaadalah putra sang raja dan sang permaisuri. Rupanya, ketika diasingkan olehraja, sang permaisuri sedang mengandung tujuh hari. Ketika itu, jangankansang raja, ia sendiri baru mengetahui hal itu setelah berada di tempatpengasingan. Setelah melahirkan, ia pun merawat putra semata wayangnyaitu dengan penuh kasih sayang. Putra Mayang pun tumbuh menjadi pemudayang sakti mandraguna karena sejak kecil ia berguru ilmu kesaktian kepadaseorang kakek di tempat pengasingan itu.Pada suatu hari, sang permaisuri bercerita kepada Putra Mayang bahwaayahandanya adalah seorang raja yang sangat terkenal. Mendengar ceritaitu, Putra Mayang berpamitan kepada ibundanya untuk mencari sang ayah.Setelah berhari-hari berjalan menyusuri hutan belantara, tibalah ia di kotakerajaan. Putra Mayang tidak ingin terburu-buru menemui ayahandanyakarena khawatir tidak diakui sebagai anak. Oleh karena itu, ia menyamarsebagai juru masak istana untuk mengetahui suasana istana danayahandanya. 8
  • 9. Pada suatu malam, ketika Putra Mayang sedang beristirahat tiba-tiba seisiistana menjadi gempar. Seorang bayi hilang diculik oleh seseorang yangmisterius. Setelah diusut ternyata peristiwa itu bukan kali pertama terjadi diistana. Beberapa malam yang lalu, bayi seorang menteri juga menjadi korbanpenculikan. Mengetahui situasi tersebut, Putra Mayang mulai melakukanpengintaian secara diam-diam. Alhasil, pada malam berikutnya ia berhasilmemergoki penculik tersebut dan kemudian mengejarnya hingga terpojok disudut benteng istana.“Hai keparat, berhenti!” seru Putra Mayang.Penculik itu pun terpaksa berhenti karena terpojok. Sambil menggendongseorang bayi, penculik itu balik menantang Putra Mayang untuk mengadukesaktian.“Hai, anak muda! Ambillah bayi ini jika kamu berani!” tantang penculik itu.“Hai, Penculik! Siapa kamu dan kenapa kamu menculik bayi yang tidakberdosa itu?” tanya Putra Mayang.“Ketahuilah, aku ini adalah anak Putri Siluman dan raja negeri ini! Ha… ha…ha…!!!” jawab penculik itu seraya tertawa terbahak-bahak.Rupanya, beberapa hari sebelum kedatangan Putra Mayang ke istana, anakPutri Siluman itu terlebih dahulu tiba di istana untuk mencari ayahandanyadan ternyata sang raja mengakuinya sebagai putra. Namun, tanpasepengetahuan sang Raja, anak Putri Siluman itu menuruni tabiat ibunyasebagai siluman yang suka memangsa manusia.Mendengar pengakuan tersebut, Putra Mayang menjadi tidak sabar inginmelenyapkan manusia siluman itu. Pertarungan antara kedua pemuda yangbersaudara seayah itu tidak terelakkan lagi. Dalam pertarungan tersebut,Putra Mayang berhasil mengalahkan anak Putri Siluman.Sementara itu, Putri Siluman yang mengetahui hal tersebut menjadi murka.Ia pun mendatangi Putra Mayang di istana untuk membalaskan dendamanaknya sehingga terjadilah pertarungan sengit di antara keduanya. Dengankesaktian yang dimilikinya, Putra Mayang berhasil membinasakan PutriSiluman. Kematian wanita siluman dan putranya itu disambut gembira olehsang raja dan seluruh rakyatnya. Negeri itu pun kembali aman dan damai.Sementara itu, Putra Mayang segera menghadap sang raja untukmenyampaikan maksud kedatangannya ke istana. 9
  • 10. “Ampun, Baginda! Apakah Baginda masih ingat dengan permaisuri yangpernah Baginda ansingkan dua puluh tahun lalu?” tanya Putra Mayang.Mendengar pertanyaan itu, sang raja langsung tersentak kaget.“Hai, anak muda! Apakah kamu mengenalnya? Apakah permaisuriku itumasih hidup?” tanya sang Raja secara bertubi-tubi.Betapa terkejutnya sang raja ketika pemuda itu mengaku bahwa dia adalahputra dari permaisuri yang malang itu.“Apa katamu? Kamu jangan mengada-ada, wahai anak muda! Bukankahpermaisuriku itu mandul?” tanya sang raja.Putra Mayang pun menceritakan semua peristiwa yang dialami bersamaibundanya di tempat pengasingan hingga ia bisa sampai ke istana. Mendengarcerita itu, sang raja menjadi terharu dan kemudian lansung merangkul PutraMayang.“Oh Putraku, maafkan ayah nak! Ayah sangat menyesal karena telahmenyia-nyiakan kalian,” ucap sang Raja sambil meneteskan air mata dalampelukan putranya.“Sudahlah, Ayahanda! Lupakanlah semua yang sudah terjadi,” ujar PutraMayang dengan penuh bijaksana.“Terima kasih Putraku karena kalian sudah memaafkan kesalahan ayah,”kata sang raja.“Baiklah, ayahanda! Sebaiknya kita segera menjemput ibunda. Beliau sudahlama sekali merindukan ayahanda,” kata Putra Mayang.Setelah menyiapkan segala perlengkapan dan sejumlah pengawal istana,berangkatlah sang raja bersama Putra Mayang untuk menjemputpermaisurinya di tempat pengasingan untuk diboyong ke istana. Akhirnya,sang raja dapat berkumpul kembali bersama permaisuri dan putranya.Mereka pun hidup rukun dan bahagia. 10
  • 11. KERAMAT RIAK Asal cerita : BengkuluSuatu siang yang terik, tampakseorang kakek misterius berjalanterseok-seok sambilmenggendong sebuah jala didepan paseba (pendapa) istanaKeramat Riak. Kakek itu tampakbegitu lelah. Rupanya, ia barusaja pulang dari sungai mencariikan. Ia pun memutuskan untukduduk beristirahat di depanpaseba yang selalu dijaga ketatoleh dua orang prajurit. Jalanyayang memakai pemberat darirantai emas diletakkan begitusaja di tanah. Rantai jala ituberkilau diterpa sinar mataharisehingga menarik perhatiankedua prajurit itu. Akhirnya, kedua prajurit itu menghampiri dan menyapa sikakek dengan ramah.“Wah, jala Kakek bagus sekali,” sapa salah seorang prajurit dengan perasaankagum.“Iya, Tuan! Jala ini warisan nenek moyang Kakek. Setiap hari Kakekmenggunakannya sebagai alat mata pencaharian Kakek,” jawab kakek itu.“O ya, Tuan! Bolehkah saya menumpang shalat dhuhur di paseba ini,” pintakakek itu.“Boleh… boleh… Silakan Kek!” jawab kedua prajurit itu serentak.Kakek itu pun masuk ke dalam paseba. Jalanya dibiarkan tergeletak di luarpaseba. Saat kakek itu sedang shalat, kedua prajurit yang sejak tadi merasapenasaran segera mendekati jala itu. Setelah dicermati secara seksama,ternyata benar bahwa rantai jala itu terbuat dari emas. Namun, betapaterkejutnya mereka saat hendak mengangkat jala itu yang ternyata sangatberat dan seolah-olah menempel di tanah.“Aneh, kenapa rantai jala ini berat sekali?” gumam salah seorang prajurityang mencoba mengangkat jala itu. “Ayo kawan, bantu aku mengangkat jalaini!” serunya. 11
  • 12. Kedua prajurit tersebut berusaha mengangkat jala milik si kakek secarabersama-sama. Apa yang terjadi? Jangankan terangkat, jala itu tidakbergeser sedikit pun. Melihat keanehan itu, salah seorang dari prajurittersebut bergegas melaporkan kejadian aneh itu kepada Raja Riak Bakau diistana. Raja Riak Bakau dikenal sebagai raja yang kejam. Ia tidak segan-segan menghukum bagi siapa saja yang menentangnya.Mendengar laporan dari prajurit itu, Raja Riak Bakau yang diiringi beberapapengawalnya segera menemui si pemilik jala itu. Setibanya di depan paseba,kakek itu telah selesai shalat dhuhur dan bersiap-siap untuk pulang.“Tunggu, Kek!” cegah Raja Riak Bakau.Menyadari bahwa orang yang menegurnya itu adalah sang Raja, kakek itusegera memberi hormat seraya menjawab:“Ampun, Baginda! Izinkanlah hamba pergi!” pinta kakek itu.“Jangan pergi dulu, Kek! Aku ada perlu dengan Kakek,” kata Raja RiakBakau.“Ampun, Baginda! Ada yang bisa hamba bantu?” tanya kakek itu.“Hai, Kakek yang budiman. Bolehkah aku memiliki jala rantai emasmu itu?”pinta Raja Riak Bakau.“Maafkan hamba Baginda! Bukannya hamba bermaksud mengecewakan hatiBaginda. Hamba belum bisa memenuhi permintaan Baginda. Jala ini satu-satunya harta warisan hamba,” ungkap kakek itu.Mendengar jawaban itu, Raja Riak Bakau mulai kesal karena baru kali adaorang di negeri itu yang berani menolak permintaannya.“Hai, Kakek! Ketahuilah, akulah penguasa di negeri ini. Siapa pun yangmemijak tanah negeri ini harus tunduk padaku. Jika tidak, maka tahusendirilah akibatnya,” ancam Raja Riak Bakau.Kakek itu tidak takut terhadap ancaman itu. Ia tetap pada pendiriannyauntuk tidak menyerahkan jala emasnya kepada Raja Riak Bakau. Sikap kakekitu membuat Raja Riak Bakau bertambah kesal.“Hai, Kakek! Serahkan jalamu itu sekarang juga atau aku sendiri yang akanmengambilnya!” seru Raja Riak Bakau. 12
  • 13. “Silakan, jika Baginda sanggup mengangkatnya,” kata kakek itu.Raja Riak Bakau yang merasa diremehkan oleh kakek itu segera mengangkatjala rantai emas dengan segenap kekuatannya. Namun, jala itu tidakbergerak sedikit pun. Meskipun ia telah memerintahkan beberapa prajuritnyauntuk mengangkatnya, jala itu tetap saja tidak bisa diangkat. Akhirnya, RajaRiak Bakau mengakui kesaktian kakek itu. Namun, Raja Riak Bakau tidakkehabisan akal.“Baiklah, Kek! Aku mengakui kesaktianmu. Tapi, bagaimana kalau kitamengadu ayam saja. Jika ayamku kalah, kamu boleh memiliki semua hartadan kekuasaanku. Tapi, jika ayammu kalah, jala rantai emas itu menjadimilikku,” tantang Raja Riak Bakau.Semula kakek itu menolak, namun karena terus didesak oleh Raja Riak Bakauakhirnya ia pun menerima tantangan itu. Akhirnya disepakati bahwapertandingan sabung ayam akan dilaksanakan di depan istana tiga harikemudian.Kabar tentang pertandingan sabung ayam itu tersebar hingga ke seluruhpelosok negeri. Pada hari yang telah ditentukan, pertandingan sabung ayamsegera dimulai dan disaksikan oleh seluruh rakyat Negeri Keramat Riak.Kakek misterius itu membawa seekor ayam aduan bertubuh kurus, sedangkanayam aduan milik Raja Riak Bakau bertubuh besar dan gagah. Melihat ayamaduan kakek itu, Raja Riak Bakau merasa yakin akan memenangkanpertandingan tersebut.Begitu gong dibunyikan sebagai tanda pertandingan sabung ayam dimulai,Raja Riak Bakau dan kakek itu segera melepaskan ayam aduan mereka diarena pertarungan. Kedua ayam aduan itu pun langsung berhadap-hadapandan selanjutnya bertarung. Ayam aduan Raja Riak Bakau langsung menyerangsecara bertubi-tubi sehingga ayam aduan kakek itu harus melompat ke sana-kemari untuk menghindar dan sesekali jatuh terkena tendangan kaki ayamaduan Raja Riak Bakau. Setelah beberapa lama pertarungan itu berlangsung,ayam aduan Raja Riak Bakau mulai kelelahan. Kini, giliran ayam aduan kakekitu yang menyerang. Hanya sekali tendang, ayam aduan Raja Riak Bakaulangsung jatuh dan tidak bisa melanjutkan pertarungan.Walaupun ayam aduannya kalah, Raja Riak Bakau tidak terima ataskekalahan itu karena tidak ingin kehilangan seluruh harta dan kekuasaannya.Akhirnya, ia menantang kakek itu untuk bertarung. Namun, kakek itukembali menolak tantangan tersebut. 13
  • 14. “Ampun, Baginda! Hamba tidak ingin bertarung karena itu tidak adamanfaatnya. Bagaimana kalau hasil pertandingan tadi kita anggap impas.Hamba tidak akan menuntut apapun dari Baginda, tapi izinkanlah hambapergi membawa jala rantai emas hamba ini,” pinta kakek itu dengan kata-kata bijaksana.Raja Riak Bakau pun mengambulkan permintaan kakek itu. Sebelum pergi,kakek itu mampir shalat di paseba dan jalanya diletakkan di depan paseba.Rupanya, Raja Riak Bakau bersama pengawalnya membuntuti kakek itusecara diam-diam karena masih berninat untuk memiliki jala rantai emas itu.Ketika melihat kakek itu sedang khusyuk shalat, Raja Riak Bakau segeramenghunus keris yang terselip di pinggangnya lalu menusuk tubuh kakek itudari belakang. Sungguh ajaib, walaupun dalam keadaan terluka parah, kakekitu masih dapat menyelesaikan shalatnya.Usai mengucapkan salam, kakek misterius itu segera mengambil lidi laluditancapkan di empat sudut paseban dan kemudian pergi meninggalkan negeriitu. Begitu kakek itu berlalu, beberapa prajurit berusaha mencabut lidi itu,namun tak seorang pun yang berhasil. Akhirnya, terpaksa Raja Riak Bakausendiri yang mencabutnya. Begitu lidi-lidi tersebut tercabut, air menyemburkeluar dengan derasnya. Makin lama semburan air semakin deras sehinggadalam waktu sekejap air menggenangi seluruh negeri itu. Seluruh pendudukberusaha menyelamatkan diri. Ada yang berlari ke gunung, sedangkan RajaRiak Bakau beserta pengikutnya berusaha memanjat pohon yang tinggi agartidak terkena luapan air yang hampir menenggelamkan seluruh negeri itu.Raja Riak Bakau beserta pengikutnya yang berada di atas pohon masihselamat. Namun, Tuhan terlanjur murka kepada mereka. Tiba-tiba, langitmenjadi gelap. Beberapa saat kemudian, hujan deras turun disertai anginkencang. Raja Riak Bakau yang berada di atas pohon beserta pengikutnyaterombang-ambing diterpa angin kencang. Pada saat itulah terdengar suaramenggema dari balik awan.“Wahai, Raja Riak Bakau dan seluruh rakyat Keramat Biak! Kalian itubergelantungan seperti kera saja!” demikian pesan dari suara misterius itu.Begitu suara itu hilang, tiba-tiba Raja Riak Bakau dan seluruh warganyayang selamat menjelma menjadi kera. Setelah itu, hujan deras kembali redadan cuaca kembali cerah. Air pun mulai surut sehingga yang terlihat hanyakera-kera yang bergelantungan di atas pohon. Lama-kelamaan negeri itumenjadi hutan rimba dan dihuni oleh kawanan kera. Sementara itu, kakekyang misterius itu menghilang entah ke mana. 14
  • 15. Beberapa tahun kemudian, beberapa awak kapal dari Cina mendarat di hutanlebat itu. Konon, mereka itu adalah pedagang yang pernah ditolong oleh sikakek misterius. Mereka datang untuk memenuhi pesan sang kakek agardibuatkan makam di Keramat Riak. Mereka pun membuat sebuah makamyang cukup megah di daerah itu. Pada nisan makam itu tertulis SyekhAbdullatif, yaitu nama dari kakek misterius itu. Selanjutnya, makam itudinamakan makam Keramat Riak. 15
  • 16. RAJA EMPEDU Asal cerita : Kabupaten Musi Rawas, Sumatra Selatan Pada zaman dahulu kala, Kecamatan Rawas Ulu yang merupakan wilayah Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, terbagi ke dalam tiga wilayah pemerintahan yaitu Hulu Sungai Nusa, Lesung Batu, dan Kampung Suku Kubu. Ketiga wilayah tersebut masing-masing diperintah oleh seorang raja. Negeri Hulu Sungai diperintah oleh Raja Empedu yang masih muda dan terkenal dengan keberanian dan kesaktiannya. Rakyatnya hidup aman dan makmur karena pertanian di daerah itu maju dengan pesat. Sementara itu, Negeri LesungBatu diperintah oleh Pangeran Mas yang terkenal kaya raya dan mempunyaibanyak ternak kerbau. Adapun Negeri Kampung Suku Kubu diperintah olehRaja Kubu yang memiliki kesaktian yang tinggi. Negeri Kampung Kubu dikenalpaling tertinggal dibanding dua negeri yang lain meskipun wilayahnya cukupsubur.Suatu ketika, Pangeran Mas mengalami kesulitan memelihara ternaknya yangsemakin hari semakin berkembangbiak. Oleh karenanya, ia berniat untukmenyerahkan sebagian ternaknya kepada siapa pun yang berminatmemeliharanya dengan syarat kerbau-kerbau yang diserahkan tetap menjadimiliknya, hasil dari pengembangbiakan itulah nantinya akan dibagi bersamasecara adil.Raja Kubu yang mendengar kabar tersebut sangat berminat untuk menerimatawaran Pangeran Mas. Ia segera mengirim utusannya ke Negeri Lesung Batuuntuk menghadap Pangeran Mas.“Ampun, Tuan! Hamba adalah utusan Raja Kubu dari Negeri Kampung SukuKubu. Kedatangan hamba kemari untuk menyampaikan keinginan Raja hambayang berminat menerima tawaran Tuan dan bersedia menaatipersyaratannya,” lapor utusan Raja Kubu. 16
  • 17. “Baiklah, kalau begitu! Pulanglah dan sampaikan kepada Raja-mu bahwa akumenyetujui keinginannya. Besok aku akan mengirimkannya puluhan ekorkerbau. Sampaikan juga kepada Raja-mu bahwa jika kerbau-kerbau tersebuttelah berkembangbiak, aku akan datang untuk mengambil pembagianhasilnya,” jelas Pangeran Mas.“Baik, Tuan! Pesan Tuan akan hamba sampaikan kepada Raja hamba,” katautusan itu seraya mohon diri.Keesokan harinya, Pangeran Mas mengirim berpuluh-puluh ekor kerbaujantan dan betina kepada Raja Kubu. Raja Kubu pun menerimanya dengansenang hati. Ia memelihara dan merawat kerbau-kerbau tersebut denganbaik. Kerbau-kerbau tersebut ia gembalakan dan membiarkannya berkubangdi sawah-sawah yang terhampar luas di daerahnya. Kerbau peliharaannyapun berkembangbiak dengan cepat dan hampir seluruh daerahnya telahmenjadi kubangan kerbau. Sejak itu, negeri tersebut kemudian dikenal dengannama Negeri Kubang dan Raja Kubu dipanggil Raja Kubang.Beberapa tahun kemudian, Pangeran Mas merasa bahwa tibalah saatnyauntuk mengambil pembagian atas ternaknya yang dipelihara oleh RajaKubang. Maka dikirimlah utusannya untuk menghadap Raja Kubang. Setibanyadi sana, Raja Kubang mengikari janjinya dan menolak untuk berbagi hasildengan Pangeran Mas. Bahkan, ia menganggap bahwa semua kerbau yangdipeliharanya adalah miliknya.“Hai, utusan! Untuk apa kamu datang kemari?” tanya Raja Kubang.“Ampun, Tuan! Hamba diutus Raja Pangeran Mas kemari untuk menagihpembagian hasil dari ternak kerbau yang Tuan pelihara,” jawab utusan RajaPangeran Mas.“Apa katamu, pembagian hasil? Tidak, semua kerbau tersebut sudah menjadimilikku karena akulah yang merawat dan mengembangbiakkannya,” kata RajaKubang.“Tapi, Tuan! Bukankah hal itu sesuai dengan perjanjian yang telah Tuansepakati bersama Raja Pangeran Mas?” ujar utusan itu.“Cuihhh… persetan dengan perjanjian itu! Perjanjian itu hanya berlaku padawaktu itu, tapi sekarang tidak lagi,” Raja Kubang menyangkal.Beberapa kali utusan Raja Pangeran Mas berusaha membujuk danmemberinya pengertian, namun Raja Kubang tetap mengingkari janjinya.Lama kelamaan Raja Kubang merasa muak dengan bujukan-bujukan itu. Ia 17
  • 18. pun memerintahkan pengawalnya agar mengusir utusan itu. Akhirnya, utusanRaja Pangeran Mas pulang dengan tangan hampa.Mendengar laporan dari utusannya, Raja Pangeran Mas sangat marah atassikap dan tindakan Raja Kubang. Penguasa Negeri Lesung Batu itu berniatuntuk menyerang Raja Kubang, namun apa daya Raja Kubang terkenal saktidan mempunyai banyak pengawal yang tangguh. Akhirnya, ia memutuskanuntuk meminta bantuan kepada Raja Empedu. Berangkatlah ia bersamabeberapa pengawalnya ke Negeri Hulu Sungai Nusa. Setibanya di sana,kedatangan mereka disambut baik oleh Raja Empedu. Raja Pangeran Maskemudian mengutarakan maksud kedatangannya. Tanpa berpikir panjang, RajaEmpedu pun menyatakan kesediaannya untuk membantu Pangeran Mas.“Baiklah, Pangeran Mas! Aku akan membantu mengembalikan kerbau-kerbaumu. Raja Kubang yang suka ingkar janji itu harus diberi pelajaran,”ujar Raja Empedu.“Tapi, bagaimana caranya Raja Empedu? Bukankah Raja Kubang itu sangatsakti?” tanya Pangeran Mas bingung.“Tenang Pangeran Mas! Kita perlu strategi untuk bisa mengalahkannya,” ujarRaja Empedu.Akhirnya, Raja Empedu bekerjasama dengan Pangeran Mas membangunstrategi. Pertama-tama mereka membagi dua pasukan mereka. Pasukanpertama bertugas membuat hiruk pikuk seluruh rakyat Raja Kubang denganmengadakan pertunjukan seni dan tari pedang di Negeri Kubang. Pasukankedua bertugas untuk mengepung dan membakar seluruh pemukimanpenduduk Negeri Kubang.Pada hari yang telah ditentukan, berangkatlah pasukan pertama ke NegeriKubang untuk mengadakan pertunjukan. Mereka masuk wilayah negeri itusambil membawakan lagu-lagu merdu dan tari-tarian pedang. PendudukNegeri Kubang pun berbondong-bondong untuk menyaksikan pertunjukkan itu,tidak terkecuali Raja Kubang dan para pengawalnya. Pada saat itulah,pasukan kedua yang dipimpin oleh Raja Empedu dan Pangeran Mas segeramemanfaatkan kesempatan untuk mengepung dan membakar seluruhpermukiman warga. Para penduduk pun berlarian untuk menyelamatkan diri.Sementara itu, Raja Kubang baru menyadari bahwa mereka telah dikepungoleh pasukan dari dua kerajaan. Ia pun tak berdaya untuk melakukanperlawanan karena jumlah pasukan Raja Empedu dan Pangeran Mas jauh lebihbanyak daripada pasukannya. Akhirnya, Raja Kubang menyerah danmengembalikan seluruh kerbau yang ada di negerinya kepada Pangeran Mas. 18
  • 19. Pangeran Mas dan Raja Empedu beserta seluruh pasukannya menggiringkerbau-kerbau tersebut menuju Negeri Lesung Batu. Betapa senangnya hatiPangeran Mas karena ternak kerbaunya dapat direbut kembali dari tanganRaja Kubang atas bantuan Raja Empedu. Sebagai ucapan terima kasih danbalas jasa, Pangeran Mas menyerahkan putri semata wayangnya yangbernama Putri Darah Putih kepada Raja Empedu untuk dijadikan permaisuri.Setelah menikah, Raja Empedu mengajak Putri Darah Putih tinggal di NegeriHulu Sungai Nusa. Sejak itulah, Raja Pangeran Mas merasa kesepian danselalu merindukan putrinya. Untuk melepas keriduannya, ia sering pergi keTebing Ajam, yaitu suatu tempat yang tinggi untuk meninjau dari kejauhanNegeri Hulu Sungai, tempat tinggal putrinya dan Raja Empedu. Hingga kini,tebing itu terkenal dengan nama Tebing Peninjauan. 19
  • 20. LEGENDA BUKIT FAFINESU Asal cerita : Kabupaten Timor Tengah Utara,Nusa Tenggara Timur Alkisah, di pedalaman Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur, ada tiga orang anak yatim piatu. Mereka adalah Saku dan dua orang adiknya Abatan dan Seko. Ayah mereka meninggal dunia karena terguling ke jurang ketika sedang berburu babi hutan beberapa tahun yang lalu. Selang tujuh bulan kemudian, ibu mereka menyusul sang Ayah karena kehabisan darah ketika sedang melahirkan si Bungsu. Untungnya, nenek mereka masih hidup sehingga ada yang merawat Seko. Namun, ketika Seko berumur dua tahun, sang Nenek pun meninggal dunia karena dimakan usia.Sejak itulah, ketiga anak yatim tersebut harus menghidupi diri mereka.Meskipun masih ada keluarga ibunya yang bersedia memelihara si Bungsu,namun lantaran memiliki rasa tanggung jawab, si Sulung mengambil alihperan orang tuanya untuk merawat dan mendidik kedua adiknya. Merekaingin belajar hidup mandiri tanpa harus bergantung kepada orang lain.Waktu terus berjalan. Abatan tumbuh menjadi remaja yang rajin dan cerdas.Tanpa disuruh oleh kakaknya, ia rajin menanam jagung dan ketela di ladang.Ia juga rajin mencari kayu bakar dan memasak untuk kakak dan adiknya. SiBungsu pun kini telah berumur lima tahun dan menjadi anak yang penurut. Iasudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sungguhbahagia hati Saku melihat kedua adiknya tumbuh menjadi orang yang baik.Walaupun hidup miskin, mereka senantiasa rukun dan bahagia.Suatu malam yang sunyi, si Bungsu tidak bisa memejamkan matanya. Tiba-tiba hatinya diselimuti kerinduan yang mendalam terhadap kedua orangtuanya. Sejak bayi, ia tidak pernah merasakan sentuhan kasih sayang darikedua orang tuanya. Ia pun bertanya kepada kakak sulungnya tentangkeberadaan kedua orang tua mereka. 20
  • 21. “Kaka Saku, ke manakah ayah dan ibu pergi? Kapan mereka akan pulang?Adik sangat merindukan mereka.”Wajar memang jika si Bungsu bertanya demikian karena kedua kakaknyatidak pernah menceritakan mengenai keberadaan kedua orang tuanya. Merekatidak ingin melihat si Bungsu menjadi sedih lantaran mengetahui keberadaankedua orang tua mereka. Untuk itulah, Saku pun berusaha menghiburadiknya.“Ayah dan ibu sedang pergi jauh, Adikku! Sebentar lagi mereka pulangmembawa daging rusa yang lezat dan anak-anak babi,” kata Saku serayamendongeng hingga si Bungsu tertidur pulas.Setelah itu, giliran Saku yang tidak bisa memejamkan mata. Ia sedih melihatadik bungsunya. Malam itu, langit di angkasa tampak cerah. Rembulanbersinar terang dan bintang-bintang pun berkelap-kelip. Saku mengambilserulingnya lalu berjalan menuju ke sebuah bukit tidak jauh dari tempattinggal mereka. Suara-suara binatang malam mengiringi perjalanannya hinggatiba di puncak bukit. Di atas bukit itu, Saku berdiri sambil memandanglangit.“Ayah, Ibu! Kami sangat merindukan kalian. Mengapa begitu cepat kalianmeninggalkan kami,” keluh Saku sambil mendesah.Tak terasa air matanya keluar dari kedua kelopak matanya dan mengalirmembasahi kedua pipinya. Ia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia kemudianmeniup serulingnya dan menyanyikan lagu kesukaannya.Ama ma aim honiKios man ho an honiNem nek han a amnautMasi ho mu lo’oAu fe toit nek amanekatMasi hom naoben me au toitHa ho mumaof kau ma hanik kauArtinya:Ayah dan IbuLihatlah anakmu yang datangMembawa setumpuk kerinduanWalau kamu jauhAku butuh sentuhan kasihmuWalau kalian telah tiada, aku minta 21
  • 22. Supaya Ayah dan Ibu melindungi dan memberi rezekiSaku menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan. Tanpasepengetahuannya, ternyata ayah dan ibunya mendengar lagu yang indah itu.Roh kedua orang tuanya pun turun dari langit menuju ke bukit itu. Melaluiangin malam, roh sang Ayah berkata kepada Saku.“Anakku, ayah dan ibumu mendengarkanmu. Kami mencintaimu. Meskipunkita berada di dunia yang berbeda, kita tetap dekat.”Seketika itu, Saku jadi terperangah. Ia tidak tahu dari mana datangnya suaraitu. Namun ia tahu kalau itu suara ayahnya. Selang beberapa saat kemudian,suara itu terdengar lagi.“Anakku, besok malam sebelum ayam berkokok, ajaklah adik-adikmumenemui ayah dan ibu kalian di tempat ini. Jangan lupa membawa seekorayam jantan merah untuk dijadikan korban!” pesan suara gaib itu.Setelah suara itu lenyap, Saku bergegas kembali ke rumahnya dan tidur.Keesokan harinya, ia pun menceritakan kejadian yang dialaminya semalamkepada adik-adiknya. Betapa gembiranya hati si Bungsu mendengar ceritaitu. Ia tidak sabar lagi ingin bertemu dengan kedua orangtuanya yang selamaini dirindukannya.Pada saat tengah malam, Saku bersama kedua adiknya berangkat ke puncakbukit. Tidak lupa pula mereka membawa seekor ayam jantan merah pesanankedua orangtua mereka. Tak berapa lama setelah mereka tiba di bukit itu,tiba-tiba angin bertiup sangat kencang. Pepohonan meliuk-liuk dan dedaunanrontok pun beterbangan sehingga menimbulkan suara menderu-deru. Rambutdan pakaian ketiga anak itu melambai-lambai seolah-olah hendakditerbangkan angin. Begitu tiupan angin berhenti, tiba-tiba dua sosokbayangan berdiri di hadapan mereka.“Ayah, Ibu!” seru Saku saat melihat bayangan itu.Mengerti kedua bayangan itu adalah orangtuanya, si Bungsu segeramendekat ke salah satu bayangan itu dan memeluknya erat-erat.“Ibu, saya sangat merindukanmu,” kata si Bungsu.‘Iya, Anakku! Kami juga sangat merindukan kalian. Ibu tidak pernahmelupakanmu,” jawab sang Ibu. 22
  • 23. Suasana di puncak bukit itu menjadi hening. Pertemuan seluruh anggotakelurga kecil itu membawa perasaan haru di hati mereka. Setelah merekaselesai melepaskan kerinduan, sang Ayah mengajak istri dan ketiga anaknyauntuk ke dasar jurang.“Sekarang marilah kita turun ke jurang. Di sana kita akan mengorbankanayam jantan merah yang kalian bawa dan kemudian mengambil dua ekorbabi,” ujar sang Ayah.Setibanya di dasar jurang, Seko segera menyembelih ayam jantan itu.Tatkala darah ayam itu menyentuh bumi, tiba-tiba dua ekor babi gemukmuncul di tengah-tengah mereka. Betapa senangnya ketiga anak itu. Merekasegera mendekati kedua babi itu dan mengelus-elusnya.“Terima kasih, Ayah, Ibu,” ucap ketiga anak itu serentak.“Dengarlah wahai, anak-anakku! Peliharalah kedua babi itu baik-baik sebagairasa syukur kepada Tuhan yang telah mempertemukan kita di tempat ini,”ujar sang Ayah.Selang beberapa setelah sang Ayah berpesan, ayam jantan mulai berkokok.Cahaya kemerahan-merahan mulai tampak di ufuk timur pertanda pagimenjelang. Angin pun kembali berbertiup kencang. Pada saat yangbersamaan, bayangan kedua orang tua mereka tiba-tiba lenyap. Saku dankedua adiknya segera menggiring kedua babi itu pulang ke gubuknya denganperasaan gembira untuk dipelihara. Sejak itu, ketiga anak yatim piatu itudan keturunannya menjadikan babi sebagai salah satu hewan peliharaan.Untuk mengenang peristiwa tersebut ketiga anak yatim tersebut menamaibukit itu dengan nama Bukit Fafinesu, yang berarti bukit babi gemuk. Hinggasaat ini, Bukit Fafinesu masih dapat disaksikan di sebelah utara KotaKefamenanu, Kabupaten Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur. 23