Buku 1 makalah pengembangan kurikulum mpl

19,602 views
19,442 views

Published on

0 Comments
13 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
19,602
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
13
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Buku 1 makalah pengembangan kurikulum mpl

  1. 1. Pengembangan Kurikulum Buku 1I. PENDAHULUANKurikulum memegang kedudukan kunci dalam pendidikan, sebab berkaitandengan penentuan arah, isi, dan proses pendidikan yang pada akhirnyamenentukan macam kualifikasi lulusan suatu lembaga pendidikan. Itu sebabnyasetiap institusi pendidikan, baik formal maupun non formal, harus memilikikurikulum yang sesuai dan serasi, tepat guna dengan kedudukan, fungsi, danperanan serta tujuan lembaga tersebut.Suatu studi menunjukkan bahwa umumnya hambatan yang ditemui dalamimplementasi suatu kurikulum adalah kurangnya kompetensi guru-guru. Seringkaliterjadi bahwa implementasi suatu kurikulum baru tidak diikuti denganpertimbangan kemampuanguru dan tindakan bagaimana meningkatkankemampuan guru-guru sebagai ujung tombak dalam implementasi kurikulumdimaksud (Hargreaves, 1995).Hal ini didukung oleh Fennema dan Franke (1992) yang menyatakan bahwakemampuan baik secara keterampilan dan pengetahuan seorang guru akanmempengaruhi proses pembelajaran di kelas dan menentukan sejauh manakurikulum dapat diterapkan.Untuk mengetahui apakah kebijakan baru mengenai kurikulum telahmenyebabkan adanya perubahan, dapat dievaluasi oleh setidak-tidaknya tigaindikator (Fullan, 2001) Pertama, sejauh mana materi-materi baru atau yangdirevisi digunakan oleh guru-guru. Kedua, sejauh mana pendekatan-pendekatanpengajaran yang baru telah diterapkan dalam proses kegiatan-kegiatan belajar dikelas. Ketiga, sejauh mana guru-guru berkeyakinan bahwa kebijakan berdampakkepada perbaikan mutu dan roses pembelajaran. Ketiga indikator tersebut secarabersama-sama akan menentukan tercapai tidaknya tujuan-tujuan perubahanpendidikan.
  2. 2. Pengembangan Kurikulum Buku 1Hasil penelitian Mukhidin (2009) , dkk Universitas Pendidikan Indonesia(Kajian Penyelenggaran SMK 3+1) secara garis besar di peroleh bahwa berdasarkanstudi dokumen RPP yang ada pada guru-guru mata pelajaran kejuruan, umumnyaguru-guru telah membuat RPP, akan tetapi tidak sesuai dengan ketentuan-ketentuan yakni :1. Menggunakan metoda mengajar yang tidak sesuai dengan karakteristik darisetiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap matapelajaran.Guru-guru tidak mencantumkan metoda mengajar yang mengarahsiswa aktif seperti metoda diskoveri inkuiri dalam bentuk tugas terstruktur danmadiri tidak terstruktur. Guru tidak menggunakan metoda mengajar yangbervariatif.2. Pada komponen pembelajaran tidak dijelaskan adanya kegiatan pembukaanatau awal, kegiatan inti atau pembentukan kompetensi dan kegiatan penutupatau kegiatan akhir.3. RPP yang disusun tidak opersional dan hanya sebagai pelengkap administrasiguru4. Pengembangan indikator tidak relevan dengan Kompetenasi Dasar. Indikatortidak dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapatdiukur dan diamati yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap.5. Tujuan pembelajaran tidak Menggambarkan proses dan hasil belajar yangdiharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.6. Pada komponen penilaian tidak memuat soal yang akan digunakan dan dantidak mencantumkan rambu-rambu penialaiannya serta kunci jawaban darisoal.Untuk membuat pembelajaran memiliki arti kata kuncinya adalah gurumampu mengembangkan kurikulum yang bersifat operasional. Kurikulum sebagairancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang cukup sentral dalam seluruhkegiatan pendidikan, menentukan proses pelaksanaan dan hasil pendidikan.Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (PTK) merupakan bagian integral dari sistem
  3. 3. Pengembangan Kurikulum Buku 1pendidikan nasional. Pendidikan tersebut mempunyai orientasi yang cukup luaspada saat ini dan mendatang, yaitu memenuhi harapan masyarakat dalam rangkamempersiapkan individu untuk dapat berpartisipasi secara profesional dalam duniapendidikan teknologi dan kejuruan sebagai guru yang mempunyai kemampuanmewariskan budaya kerja industri. Kemampuan profesional terbentuk melalui suatuproses pembelajaran dalam suatu lingkungan yang terkondisi melalui pengalamanbelajar pada mata kuliah teknologi kejuruan, pendidikan serta penunjangnya yangdipadukan dalam suatu keahlian keguruan, yang termanifestasikan dalam matakuliah. Di era global ini, seorang pekerja harus memeliki keahlian profesi yangmerupakan andalan utama dalam menentukan keunggulannya. Kurikulum yangefektif harus dikembangkan dalam pendidikan guru Teknologi dan Kejuruan gunamenciptakan guru yang mampu mengatasi kendala pendidikan di era global ini.Untuk mencetak mutu lulusan yang berkualitas, guru pun harus merancangpembelajaran yang baik pula. Pembelajaran yang baik adalah bagaimanamengkondisikan siswa untuk mendapatkan pengalaman belajar yang mampumenimbulkan pengembangan kemampuan siswa dalam ranah kognitif, psikomorik,dan afektif dari pengalaman belajarnya dan itu menjadi pengalaman yangmembawanya menemukan pengalaman yang lebih baik dalam implementasidibidangnya. Hal ini dapat ditempuh dengan menyiapkan model pembelajaransalah satunya melalui model pembelajaran langsung. Pembelajaran langsungdidasarkan dari pemikiran pentingnya pembekalan siswa untuk mengetahuipengetahuan deklaratif dan procedural sebagai dasar pengalaman belajar.Sebagai implementasi prencanaan pengembangan kurikulum kami berikansebuah contoh pembuatan model pembelajaran Membuat Kuda-Kuda Kayu padakompetensi Teknik Konstruksi Kayu, sehingga memiliki landasan yang jelas baiksecara konseptual maupun operasional, sehingga fungsi dari pembelajaran dapattercapai.
  4. 4. Pengembangan Kurikulum Buku 1II. MAKSUD PENULISANAdapun maksud dalam pembuatan makalah ini adalah bagaimana gurudapat melakukan pengembangan kurikulum dalam mengimplementasikanpembelajaran membuat kuda-kuda kayu dengan pelajaran awal membuat prosedurperakitan kuda-kuda kayu dengan menggunakan model pembelajaran langsungdengan memlibatkan keterampilan siswa dalam berfikir dan membentuk karakter.III. BATASAN PENULISANAdapun batasan masalah dalam penulisan makalah ini adalah:A. Bagaimana konsep dan prinsip dasar pengembangan kurikulum ?B. Bagaimana cara mengembangkan kurikulum ?C. Bagaimanakah model pengembangan kurikulum ?D. Bagaimanakah penerapan pembelajaran model pembelajaran langsung dalammata pelajaran membuat kuda-kuda kayu di bidang keahlian TeknikKonstruksi Bangunan, Kompetensi Teknik Konstruksi Kayu ?IV. TUJUAN PENULSANA. Untuk mengetahui prinsip dasar dan konsep kurikulum.B. Untuk mengetahui dan memahami fungsi dan cara mengembangkankurikulum.C. Untuk mengetahui model-model pengembangan kurikulum.D. Untuk membuat implementasi pembelajaran model pembelajaran langsung
  5. 5. Pengembangan Kurikulum Buku 1V. PENGERTIAN KURIKULUMMenurut UU No.20 tahun 2003 kurikulum adalah seperangkat rencana danpengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakansebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuanpendidikan tertentu.Menurut pendapat para ahli kurikulum dapat didefinisikan sebagai berikut :1. S. Nasution (2008)Kurikulum : suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses berlajarmengajar di bawah bimbingan dan tanggunga jawab sekolah atau lembagapendidikan beserta staf pengajarnya.Kurikulum : adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi di bawah pengawasansekolah, jadi selain kegiatan kulikuler yang formal juga kegiatan yang takformal.2. Nana Sudjana (2005)Kurikulum : niat dan harapan yang dituangkan dalam bentuk rencana atauprogram pendidikan untuk dilaksanakan oleh guru di sekolah.Kurikulum adalah niat dan rencana, proses belajar mengajar adalahpelaksanaanya. Dalam proses tersebut ada dua subjek yang terlibat yakni gurudan siswa. Siswa adalah subjek yang dibina dan guru adalah dubjek yangmembina.Curriculum dalam bahasa Yunan kuno berasal dari kata Curir yang artinyapelari; dan Curere yang artinya tempat berpacu. Curriculum di artikan jarakyang harus di tempuh oleh pelari. Dari makna yang terkandung berdasarkanrumusan masalah tersebut kurikulum dalam pendidikan di artikan sebagaisejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau disekesaikan anak didikuntuk memperoleh ijasah.
  6. 6. Pengembangan Kurikulum Buku 1Kurikulum adalah program belajar bagi siswa yang disusun secara sistematisdan logis, di berikan oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan. Sebagaiprogram belajar, kurikulum adalah niat, rencana atau harapan.Kurikulum adalah hasil belajar yang diniati atau intended learning out comes.Kurikulum adalah program dan pengalaman belajar serta hasil-hasil belajaryang di harapkan yang diformulasikan melalui pengetahuan dan kegiatan yangtersusun secara sistematis, di berikan kepasa siswa di bawah tanggung jawabsekolah untuk membantu pertumbuhan atau perkembangan pribadi dankompetensi sosial anak didik.Kurikulum adalah rencana atau program belajar dan pengajaran adalahpelaksanaan atau operasionalisasi dari rencana atau program.Kurukulum adalah alat atau saran untuk mencapai tujuan pendidikan melaluiproses pengajaran.Kurikulum adalah sesuatu yang diinginkan atau dicita-citakan untuk anak didik.Artinya, hasil belajar yang diinginkan yang diniati agar dimiliki anak.3. Wina Sanjaya (2005)Pengertian kurikulum sebagai pengalaman belajar mengandung makna bahwakurikulum adalah seluruh kegiatan yang dilakukan siswa baik diluar maupun didalam sekolah asal kegiatan tersebut berasal di bawah tanggung jawab guru(sekolah).Dari pendapat para ahli yang dikutip diatas dan masih banyak lagi pendapattentang kurikulum yang kadang bisa membuat kita menjadi sulit untukmengerti seutuhnya karena terkait dengan siapa yang paling berhak untukmendefinisikankurikulum dan karena saling keterkaitan antara satu konteksdengan konteks yang lainnya, dapat kita buatkan arahan bahwa :Konsep kurikulum dapat diklasifikasikan ke dalam empat jenis pengertian yangmeliputi: (1) kurikulum sebagai produk; (2) kurikulum sebagai program; (3)
  7. 7. Pengembangan Kurikulum Buku 1kurikulum sebagai hasil yang diinginkan: dan (4) kurikulum sebagai pengalamanbelajar bagi peserta didik. (5) kurikulum sebagai penilaian.VI. PENGEMBANGAN KURIKULUM PTKA. Pengembangan KurikulumPengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif,didalamnya mencakup: perencanaan, penerapan dan evaluasi. Perencanaankurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerjakurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkanperencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik. PenerapanKurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusahamentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Evaluasikurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untukmenentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaianprogram-program yang telah direncanakan, dan hasil-hasil kurikulum itusendiri. Dalam pengembangan kurikulum, tidak hanya melibatkan orang yangterkait langsung dengan dunia pendidikan saja, namun di dalamnya melibatkanbanyak orang, seperti : politikus, pengusaha, orang tua peserta didik, sertaunsur – unsur masyarakat lainnya yang merasa berkepentingan denganpendidikan.Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangankurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akanmenjiwai suatu kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum, dapatmenggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu,dalam implementasi kurikulum di suatu lembaga pendidikan sangat mungkinterjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum yang
  8. 8. Pengembangan Kurikulum Buku 1digunakan di lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan ditemukan banyaksekali prinsip-prinsip yang digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum.Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (2005) mengetengahkanprinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang dibagi ke dalam dua kelompok :1. Prinsip- prinsip umum : relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, danefektivitas;2. prinsip-prinsip khusus : prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan,3. prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan,4. prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar, prinsipberkenaan dengan pemilihan media dan alat pelajaran, dan prinsipberkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian.Sedangkan Asep Herry Hernawan dkk (2002) mengemukakan limaprinsip dalam pengembangan kurikulum, yaitu :1. Prinsip relevansi; secara internal bahwa kurikulum memiliki relevansi diantara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi,organisasi dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebutmemiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuandan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan dan potensi pesertadidik (relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan perkembanganmasyarakat (relevansi sosilogis).2. Prinsip fleksibilitas; dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agaryang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalampelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaianberdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selaluberkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta didik.3. Prinsip kontinuitas; yakni adanya kesinambungandalam kurikulum, baiksecara vertikal, maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman
  9. 9. Pengembangan Kurikulum Buku 1belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan,baik yang di dalam tingkat kelas, antar jenjang pendidikan, maupun antarajenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.4. Prinsip efisiensi; yakni mengusahakan agar dalam pengembangankurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lainyang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.5. Prinsip efektivitas; yakni mengusahakan agar kegiatan pengembangankurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secarakualitas maupun kuantitas.Terkait dengan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan,terdapat sejumlah prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, yaitu :1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentinganpeserta didik dan lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkanprinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkankompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepadaTuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangankompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan,kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.2. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristikpeserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpamembedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosialekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatanwajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu,serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dantepat antarsubstansi.
  10. 10. Pengembangan Kurikulum Buku 13. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan,teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh karena itusemangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti danmemanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi,dan seni.4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pengembangan kurikulumdilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untukmenjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk didalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Olehkarena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir,keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasionalmerupakan keniscayaan.5. Menyeluruh dan berkesinambungan. Substansi kurikulum mencakupkeseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan matapelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambunganantarsemua jenjang pendidikan.6. Belajar sepanjang hayat. Kurikulum diarahkan kepada prosespengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yangberlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitanantara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan informal, denganmemperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembangserta arah pengembangan manusia seutuhnya.7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasionaldan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat,berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerahharus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto BhinekaTunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  11. 11. Pengembangan Kurikulum Buku 1Pemenuhan prinsip-prinsip di atas itulah yang membedakan antarapenerapan satu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dengan kurikulumsebelumnya, yang justru tampaknya sering kali terabaikan. Karena prinsip-prinsip itu boleh dikatakan sebagai ruh atau jiwanya kurikulumDalam mensikapi suatu perubahan kurikulum, banyak orang lebihterfokus hanya pada pemenuhan struktur kurikulum sebagai jasad darikurikulum . Padahal jauh lebih penting adalah perubahan kutural (perilaku)guna memenuhi prinsip-prinsip khusus yang terkandung dalam pengembangankurikulum.B. Karakteristik Kurikulum Pendidikan Teknologi dan KejuruanFinch & Crunkilton (1984 ), mengemukakan pendapatnya bahwaPendidikan Teknologi dan Kejuruan merupakan sistem yang tidak terpisahkandari sistem pendidikan secara menyeluruh. Meskipun demikian, kurikulumpendidikan teknologi dan kejuruan memiliki karakteristik dan kekhususantersendiri yang membedakannya dengan sub sistem pendidikan yang lain.Perbedaan ini tidak hanya dalam definisi, struktur organisasi, dan tujuanpendidikannya saja, tetapi terlihat dari aspek lainnya yang berkaitan denganaspek perencanaan kurikulum . Karakteristik-karakteristik dasar dari kurikulumpendidikan teknologi dan kejuruan yaitu :1. OrientasiKeberhasilan utama dari kurikulum pendidikan teknologi dankejuruan, bukan saja diukur dari pencapaian hasil belajar berupakelulusan, tetapi pada kemampuan para lulusan kelak di dunia kerja.Asumsi tersebut dilandasi oleh pemikiran bahwa sifat pendidikan kejuruanyang merupakan pendidikan untuk penyiapan tenaga kerja, maka dengansendirinya orientasi pendidikan kejuruan tertuju pada output atau lulusan.
  12. 12. Pengembangan Kurikulum Buku 12. JustifikasiKurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan didasarkan padaidentifikasi kebutuhan berbagai jenis pekerjaan yang ada di lapangan.Inilah yang menjadi alasan mengapa pendidikan teknologi dan kejuruanperlu diselenggarakan. Justifikasi keberadaan pendidikan teknologi dankejuruan didasari oleh asumsi adanya kebutuhan tenaga kerja di lapangan.Oleh karena itu, yang dimaksud justifikasi di sini adalah justifikasi untukeksistensi. Pendidikan teknologi kejuruan tidak layak ada jika di lapangantidak dibutuhkan tenaga kerja yang akan dididik di sekolah tersebut.3. FokusFokus kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan tidak hanyapada aspek skill (psikomotorik) seperti yang dipahami sebagianmasyarakat, akan tetapi kurikulum membantu siswa untukmengembangkan diri dalam seluruh aspek yaitu pengetahuan,keterampilan, sikap, dan nilai yang tujuan akhirnya untuk memberikankontribusi untuk keberhasilan sebagai pekerja atau dengan kata lain siswadididik untuk memiliki kemampuan yang komprehensif dan simultansehingga mampu menjadi pekerja yang produktif. Mengembangkan salahsatu aspek saja bertentangan dengan hakikat anak didik sebagai suatutotalitas pribadi.4. Kriteria Keberhasilan di Sekolah dan Luar Sekolah (Dual Criteria)Berlainan dengan pendidikan umum, kriteria untuk menentukankeberhasilan suatu lembaga pendidikan kejuruan pada dasarnyamenerapkan ukuran ganda, yaitu keberhasilan siswa di sekolah (in-schoolsuccess) dan keberhasilan di luar sekolah (out-of-school success). Kriteriayang pertama meliputi aspek keberhasilan siswa dalam menempuh prosespembelajaran di kelas, sedang kriteria keberhasilan yang kedua
  13. 13. Pengembangan Kurikulum Buku 1diindikasikan oleh keberhasilan performance lulusan setelah berada didunia kerja.5. Hubungan antara Sekolah, Masyarakat dan Keterlibatan PemerintahHubungan antara sekolah dan masyarakat lebih khususnya dengandunia industri merupakan karakteristik yang sangat penting dalam kontekspendidikan teknologi dan kejuruan. Peran masyarakat dan pemerintahdalam hal ini sama pentingnya. Masyarakat dan pemerintah memilikitanggung jawab untuk mengembangkan pendidikan teknologi dankejuruan. Perwujudan hubungan timbal balik yang menunjang inimencakup adanya dewan penasehat kurikulum kejuruan (curriculumadvisory committee), kesediaan dunia usaha menampung siswapendidikan teknologi dan kejuruan dalam program kerjasama yangmemungkinkan kesempatan pengalaman lapangan, informasikecenderungan ketenagakerjaan yang selalu dijabarkan ke dalamperencanaan dan implementasi program pendidikan.6. KepekaanKurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan memiliki karakteristiklain yaitu kepekaan atau daya suai yang tinggi terhadap perkembanganmasyarakat pada umumnya dan dunia kerja pada khususnya, hal inidimungkinkan karena komitmen pendidikan teknologi dan kejuruan yangtinggi untuk selalu berorientasi kepada dunia kerja.Perkembangan ilmu dan teknologi, pasang surutnya suatu bidangpekerjaan, inovasi dan penemuan-penemuan terbaru dalam bidangproduksi dan jasa, semuanya itu sangat besar pengaruhnya terhadapkecenderungan pendidikan teknologi dan kejuruan. Tidak terkecualiadalah mobilitas kerja baik vertikal maupun horisontal sebagai akibatperkembangan sosial kemasyarakatan yang semuanya harus diantisipasi
  14. 14. Pengembangan Kurikulum Buku 1secara cermat guna menjamin relevansi yang tinggi antara isi pendidikanteknologi dan kejuruan dan kebutuhan dunia kerja.7. Logistik/ Sarana Prasarana dan PembiayaanDalam implementasi kurikulum di pendidikan teknologi dankejuruan , ketersediaan sarana prasarana merupakan sesuatu yang sangatpenting. Kelengkapan sarana prasarana akan dapat membantumewujudkan situasi atau pengalaman belajar yang dapat mencerminkansituasi dunia kerja secara lebih realistis dan edukatif.Bengkel dan laboratorium adalah kelengkapan yang umummenyertai keberadaan / eksistensi pendidikan teknologi dan kejuruan,selain pengalaman lapangan yang biasanya tercantum dalam kerangkakurikulumnya. Dalam konteks ini, sering dipertanyakan apakah investasiyang besar di pendidikan teknologi dan kejuruan cukup efisiendibandingkan dengan hasilnya.C. Pendidikan Kejuruan Berbasis KompetensiTulisan berikut ini adalah rangkuman materi-materi seminar yangditerbitkan oleh InWEnt gGmbH, Jerman. Materi-materi tersebut dirangkumoleh Sumadi dan saya tulis ulang kembali tanpa ada perubahan yang mendasruntuk kita perbandingkan dengan penerapan yang ada di Indonesia, sebagaiberikut :1. Konsep Dasara. Pengertian KompetensiSecara fungsional kompetensi berkenaan dengan sekelompokketerampilan dan pengetahuan yang diterapkan untuk melakukantugas dan fungsi sesuai dengan kebutuhan yang ditentukan oleh suatubidang pekerjaan. Konsep ini berasal dari Inggris yang didasari atas
  15. 15. Pengembangan Kurikulum Buku 1pembahasan mengenai evolusi dari unjuk kerja sesuai dengan normayang ada.Berawal pada kritik terhadap pedagogis berbasis pengetahuanteoritis secara scholastik tradisional, Perancis mendefinisikankompetensi dengan fokus konstruktifis, yaitu pengertian individual dankolektif terhadap situasi produktif yang tergantung dari kompleksitasmasalah yang mengakibatkan evolusinya.Di Jerman pembahasankompetensi berkaitan dengan definisi global tentang profesi yang lebihmenekankan pada perbaikan proses training yang lebih bersifat holistikdan integratif.Menurut Bunk (1994), sesesorang dikatakan mempunyaikeompetensi profesional atau kemahiran untuk bekerja, jika orangtersebut mempunyai pengetahuan, keterampilan dan kemampuanuntuk melakukan pekerjaannya atau orang tersebut bisa melakukantugasnya secara mandiri dan fleksibel serta bersedia dan mampu untukmelakukan perencanaan sebelumnya di tempat kerjanya atau di dalamstruktur organisasi kerjanya.b. Berbasis kompetensiDi kebanyakan negera Eropa, Jerman, Spanyol, Perancis, Inggrisdan sebagainya beberapa tahun yang lalu telah diadakan reformasipendidikan kejuruan agar terjadi link and match dengan kebutuhanpasar kerja dan sistem ketenagakerjaan.Perubahan struktur pasar kerja, inovasi teknologi dan cara barumengelola pekerjaan membutuhkan pengetahuan baru danpengembangan bidang kompetensi, yang hingga kini jarang menjadibagian sistem pendidikan kejuruan.
  16. 16. Pengembangan Kurikulum Buku 1Pada tingkat perusahaan, faktor-faktor ini meliputitransformasi teknologi skala besar dan perubahan pengorganisasianyang mengakibatkan pola-pola kualifikasi profesional yang baru.Pendefinisan profesional sebagai regulator sistem, tidak lagi hanyamegacu pada kemahiran untuk bekerja, tetapi juga mencakupkemampuan para pekerja untuk berinisitaif sendiri dan mempengaruhisecara mandiri sifat dari pekerjaan yang mendadi tugas dantanggungjawabnya.Perlunya pengembangan kualifikasi profeional barudimaksudkan untuk menunjang kemampuan tenaga kerja dalambidang:1). Kerjasama tim (teamwork)2). Kemampuan untuk mengambil keputusan secara mandiri3). Komunikasi dalam kerja kelompok4). Kesadaran akan mutu sebagai kriteria5). Kerjsama dalam kelompok secara multifungsional.Jelaslah bahawa konsep komptensi dipengaruhi oleh prosesperubahan yang berkelanjutan dan gagasan-gagasan yang berbedayang dikembangkan pada waktu yang sama. Meskipun demikiansemua ini mencermikan bahwa kebutuhan yang beragam akankualifikasi berubah-ubah.c. Kompetensi yang dibutuhkan1). Kompetensi TeknikKompetensi teknik adalah perpaduan dari kemampuankognitif dan keterampilan motorik yang diperlukan untuk suatu
  17. 17. Pengembangan Kurikulum Buku 1jabatan yang merupakan syarat pekerjaan itu. Ada dua aspekpenekanan, yaitu aspek normatif dan aspek tuntutan jabatan.Di Jerman, secara normatif aspek kognitif didefinisikan dandivalidasikan oleh peraturan pendidikan kejuruan(Ausbildungsordnung) bidang pekerjaan yang bersangkutan.Sedangkan secara analisis jabatan, kompetensi teknik didefinisikansebagai suatu cara yang standar yang bisa diterapkan pada situasiprofesional atau di tempat kerja.2). Kompetensi MetodologisKompetensi metodologis adalah kemampuan untuk mencariinformasi secara mandiri dan menguasai teknik belajar yangfundamental dan teknik di tempat kerja. Selain itu seorang pekerjaharus mengetahui bagaimana bereaksi terhadap keadaan ditempat kerja dan menerapkan prosedur yang sesuai dengan tugasyang diberkikan kepadanya.3). Kemapuan beradaptasiPerubahan teknologi berjalan begitu lajunya, sehingga kitatidak bisa mengharapkan bahwa sesesorang yang telah dididik satukali dalam satu bidang, bisa melakukan tugasnya secaraberkelanjutan tanpa batas. Pendidikan kejuruan harus dilihatsebagai pendidikan berkelanjutan dan bukan sebagai pendidikanpada satu tahap kehidupan seseorang. Ini memerlukankemampuan untuk memprakarsai dan ditambah investasi padapembaharuan pengetahuan yang berkelanjutan. Dengan demikian,sangatlah penting mengembangkan strategi didaktis yang baru daninovatif yang merupakan basis metode belajar yang baru.
  18. 18. Pengembangan Kurikulum Buku 14). Kompetensi SosialKomptensi sosial merupakan kemampuan untukbekerjasama dan berurusan dengan orang lain atas dasarperpaduan kemampuan untuk bekerjasama dan berkomunikasi.Dalam dunia kerja, bekerja dalam kelompok merupakan hal yangsangat penting. Salah satu faktor keberhasilan perusahaan di masamendatang adalah: karyawan yang sangat terapil dan bermotivasitinggi yang diorganisasikan dalam kelompok-kelompok!5). Kompetensi IndividualKemampuan untuk mengevaluasi diri, tanggung jawab,mengembangkan minat pribadi dan rencana hidup adalah bagiandari kemapuan individual. Kemampuan ini sangat penting bukansebagai suatu pendelegasian fungsi-fungsi, melaikan bahwa setiapanggota organisasi harus bertanggungjawab sendiri untukbagiannya.6). Refleksi Unjuk KerjaRefleksi unjuk kerja dan kemampuan untuk bekerjasamamerupakan hal yang sangat penting, yaitu untuk menganalisiskebutuhan perbaikan dengan memperhatikan hal-hal berikut :a). rencana dan targetb). motivasic). hasrat untuk melihat prospek ke depan, dand). komitmen profesional.2. Kemampuan ProfesionalG. Bungk (1994) menyatakan bahwa hingga permulaan tahun1960-an, diklat kejuruan lazimnya berbasis kemampuan untuk bekerja(ocuppational ability) dalam pengertian suatu rangkaian pengetahuan,
  19. 19. Pengembangan Kurikulum Buku 1keterampilan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan jabatan tertentu. Kemudian pada akhirdekade ini, di Jerman diperkenalkan konsep kualifikasi untuk bekerja(ocuppational qualifikation) yang dimaksudkan sebagai langkah pertamadalam adaptasi diklat kejuruan pada perubahan teknologi, ekonomi dansosial. Cakupan kualifikasi untuk bekerja lebih luas, hingga meliputifleksibilitas dan kemandirian.Langkah pergeseran dari kemampuan untuk bekerja menjadikualifikasi untuk bekerja bersifat kuantiatif, sedangkan langkah pergeserandari kualifikasi untuk bekerja menjadi kompetensi profesional bersifatkualitatif. Peran pekerja yang kompetens berubah dari „diorganisasikandari luar“ manjadi „mengorganisasikan diri sendiri“.Jelaslah bahwa apa yang dimaksud sebagai „bentuk organisasibaru“ adalah memaksakan pemanfaatan keterampilan orang-orang darisudut pandang teori organisasi dan pengelolaan bisnis. Cara yang terbaikuntuk “menguangkan“ potensi dalam organisasi adalah dengan caramensosialisaikan dan menstimulasi kemampuan sosial dengan diklatkejuruan awal.a. Fungsi baru pekerja yang berkualifikasiPekerja yang mempunyai kompetensi teknik akan mampumelakukan kegiatan dan tugas-tugas dalam bidang kerjanya secarabertanggungjawab dan kompeten serta mempunyai pengetahuan dankemampuan yang dibutuhkan untuk melakukannya.Dengan kemampuan metodologis, seorang pekerja mampuuntuk menanggulangi masalah yang dihadapinya dan penyimpanganyang terjadi. Dengan memanfaatkan pengalaman yang telahdiperoleh, seorang pekerja dapat secara mandiri mendapatkan solusiuntuk masalah yang dihadapinya.
  20. 20. Pengembangan Kurikulum Buku 1Komptensi sosial diperlukan seseorang pekerja untuk mampubekerja secara komunikatif dan kooperatif dengan orang lain. Pekerjadengan komptensi sosial yang tinggi akan menunjukkan perilaku yangberorientasi pada kelompok (team oriented) dan saling mengertidalam kelompok (inter-personal understanding).Pekerja dengan komptensi untuk berpartisipasi akan mampumemberikan kontribusi untuk menyusun lingkungan kerja di tempatkerja dan sekitarnya, mampu membuat perencanaan, mampumenerima tugas-tugas organisasi, mampu membuat keputusan danbersedia untuk memikul tanggungjawab.b. Organisasi belajarKebutuhan yang semakin bertambah akan diklat berbasiskompetensi bukan saja berlaku pada jenjang fasilitator, tetapi jugapada pasar kerja. Kompetensi bukan berarti menguasai keterampilanbelaka, tetapi juga kemampuan menerapkan secara praktik di tempatkerja.Kompetensi untuk bertindak dalam pekerjaan bisadidefinisikan sebagai kombinasi hubungan antara kompetensi teknik,metodologis, sosial dan individual. Ini adalah tipe pekerja yangdibutuhkan oleh perusahaan moderen. Kerja dalam produksi, qualitycontrol, maintenance dan process control membentuk suatuorganisasi baru, organisasi yang sangat maju: organisasi belajar.c. Kualifikasi KunciAdalah mustahil untuk bisa meramalkan, kualifikasi teknikyang bagaimana yang dibutuhkan pada masa yang datang? Olehkarena itu agar keterampilan yang diajarkan tidak cepat
  21. 21. Pengembangan Kurikulum Buku 1“kadaluwarsa” dalam waktu yang pendek, maka dimulai satu konsepbaru, yaitu kualifikasi kunci (key qualifications).Kualifikasi kunci adalah pengetahuan, kemampuan dankompetensi yang membuat seseorang :1). Mampu untuk melakukan pekerjaan dan fungsi dalam bidangyang luas sebagai opsi alternatif pada waktu yang sama, dan2). Mampu untuk menghadapi dan mengatasi perubahan dalamkebutuhan akan akan kualifikasi yang biasanya tidak bisadiramalkan sebelumnya (Mertens, 1974).Kualifikasi kunci merupakan basis dari pola diklat kejuruanyang lebih luas yang difokuskan pada tingkat kompetensi yang lebihtinggi daripada yang ditetapkan pada kualifikasi jangka menengah danjangka panjang. Tugas utama kualifikasi kunci adalah untukmembentuk kerangka proses training yang bisa melengkapi,memperbaharui dan mengatisipasi secara dinamis kebutuhan akankualifikasi baru.d. Kulifikasi kunci dalam kerangka kompetensi tenkikAdalah tidak benar anggapan yang menyatakan bahwakualifikasi kunci- misalnya komunikasi, kerjasama, pengorganisasiandan team spirirt- bisa tercapai secara abstrak atau terpisah darikompetensi teknik. Kemampuan sosial, metodologis dan individualharus menjadi bagian dari lingkungan teknik.
  22. 22. Pengembangan Kurikulum Buku 13. Metode untuk Mengembangkan Kompetensia. Mengenal berbagai metode yang beragamSupaya siswa mencapai kompetensi dalam bidang yangberbeda dalam konteks „dunia kerja nyata“, haruslah dipilih metodebelajar mengajar yang cocok. Tentu saja setiap pembelajar lebihmenyukai metode tertentu, tetapi yang perlu digarisbawahai disiniadalah, bahwa metode belajar mengajar yang efektif adalah metodeyang berbeda dan beranekaragam.Keadaan yang paling baik adalah jika setiap pembelajarmengenal dan menguasai semua metode yang ada supaya pembelajarbisa mengidentifikasikan metode yang paling cocok untuk setiap jeniskompetensi. Dengan kata lain pembelajar harus mengetahuikelebihan dan kekurangan dari setiap metode pembelajaran.b. Kebutuhan baru para pembelajarTidak semua bisa diwujudkan dalam praktek, jika pembelajarhanya menggunakan metode ceramah/ presentasi di depan kelassecara tradisional. Adalah sangat penting bahwa pembelajar harusbisa membantu pelajar untuk mengembangkan kompetensi dasar,misalnya kemampuan berprakarsa dan bekerja dalam kelompok,berkomunikasi, membuat keputusan dan memecahkan masalah.c. Contoh praktis (dari Perusahaan Jerman: SIEMENS)Kebanyakan perusahaan di Jerman telah memiliki sendirimetode yang khas untuk memastikan calon-calon tenaga kerjanyamemenuhi syarat kualifikasi. Siemens bisa dijadikan contohbagaimana mengitegrasikan profil-profil kompetensi ke dalam
  23. 23. Pengembangan Kurikulum Buku 1rencana pembelajarannya. Siemens membagi kompetensi untukbertindak dalam pekerjaan kedalam empat bidang, yaitu:1). Kompetensi SpesifikKompetensi spesifik adalah kemampuan untukmenganalisis dan mengenal hubungan antar dan lintas matapelajaran, meralisasikan kreativitas khusus dan tugas secaramandiri. Definisi ini mengandung konsep yang penting daninovatif, yaitu bahwa kepentingan pelanggan harus cocok dengankepentingan pelatihan seseorang.2). Kompetensi IndividualYang dimaksud komptensi individual adalah kemampuanuntuk menciptakan kesan yang bisa dipercayai dan meyakinkanmelalui pikiran dan kreatifitas yang mandiri. Perlu digarisbawahi,bahwa kreatifitas adalah salah satu kualifikasi kunci yang sangatpenting, misalnya untuk diterapkan pada pemecahanmasalah.Kompetensi SosialKemampuan sosial antara lain adalah kemapuan untukmencapai persetujuan dengan orang lain dan menjadi bagian darisatu tim, mengembangkan kemahiran untuk berdialog untukmencapai target melalui pekerjaan, dan kemampuan menjadimoderator dalam kegiatan kelompok. Teamwork dankemampuan berdialog menjadi prioritas bagi semua organisasimoderen.3). Kompetensi MetodologisKompetensi ini meliputi kemapuan untuk menganalisisdan mengenal struktur kegiatan, mencari informasi secara
  24. 24. Pengembangan Kurikulum Buku 1mandiri, memilih dan menerapkan informasi yang dibutuhkanuntuk satu keadaan kerja, menangani beranekaragam metodeuntuk bekerja dan analisis, semuanya berdasarkan target yangdiberikan dari luar atau disusun sendiri. Dalam konteks ini,belajar mandiri adalah hal yang sangat penting, karenamerupakan prisnip dasar untuk menstimulasi atau mecapaikompetensi metodologis.d. Perubahan dalam pengertian komptensiFaktor Komptensi Pengertian Lama Pengertian BaruTanggung jawab Berdasarkanperilaku, misalnyaupaya dan disiplinBerbasismemprakarsaiKeahlian Berhubungan denganpengalamanKognitif danmemecahkanmasalahSalingketergantunganUrutan, hierarkis Menurut sistem:kerja kelompokPendidikan danpelatihanDicapai sekali untukseterusnyaBerkelanjutanBelajar Pasif, dilatih Tanggungjawabuntuk belajar secaramandiri, belajarsepanjang hayat
  25. 25. Pengembangan Kurikulum Buku 1VII. MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUMA. Fungsi Model Pengembangan Kurikulum Bagi GuruMenurut pendapat Oemar Hamalik (2009). Pengembangan kurikulumadalah perencanaan kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untukmembawa siswa ke arah peubahan-perubahan yang diinginkan dan menilaihingga mana perubahan-perubahan itu telah terjadi pada diri siswa. Sedangkankesempatan belajar yang dimaksud adalah hubungan yang telah direncanakandan terkontrol antara para siswa, guru, bahan peralatan, dan lingkungandimana belajar yang diinginkan diharapkan terjadi. Ini terjadi bahwa semuakesempatan belajar direncanakan oleh guru, bagi para siswa sesungguhnyaadalah ”kurikulum itu sendiri”.Oleh karena itu dalam memahami pengembangan kurikulum denganlebih baik lagi guru dapat terlebih dahulu mempelajari model-modelpengembangan kurikulum agar lebih mudah mempelajari bagaimana caramengembangkan kurikulum tersebut.Model yang baik adalah model yang dapat menolong sipengguna untukmengerti dan memahami suatu proses secara mendasar dan menyuluruh. Halini berarti model pengembangan kurikulum yang baik adalah model yang dapatmembantu para pengembang kurikulum dalam mengembangkan kurikulumdilapangan. Berkenaan dengan model-model pengembangan kurikulum, makafungsi model pengembangan kurikulum bagi guru adalah :1. Sebagai pedoman bagi guru untuk memilih model pengembangan yangsesuai dengan pelaksanaan pengembangan kurikulum di lapangan.2. Sebagai bahan pengetahuan untuk melihat lahirnya bagaimana sebuahkurikulum tercipta dari mulai perencanaan sampai pelaksanaan dilapangan, yang mungkin selama ini guru hanya mengetahui bahwakurikulum itu sebagai sesuatu yang siap saji., padahal melalui proses yang
  26. 26. Pengembangan Kurikulum Buku 1panjang sesuai dengan model mana yang dipilih oleh pengembangkurikulum atau pengambil kebijaksanaan.3. Sebagai bahan untuk menyusun kurikulum yang sesuai dengan visi, misi,karakteristik, dan sesuai dengan pengalaman belajar yang diharapkan ataudibutuhkan oleh siswa.4. Sebagai bahan untuk mengadakan penelitian yang merupakan bagiantugas profesional guru yang memiliki tanggung jawab dalam meningkatkankinerjanya sebagai guru.5. Sebagai bahan untuk melihat perbandingan dan keberhasilan tentangmodel pengembangaan kurikulum yang digunakan suatu sekolah, yangnantinya diharapkan untuk memperbaiki kurikulum yang dilaksanakan.B. Model Desain Pengembangan Kurikulum di Pendidikan Teknologi KejuruanGay dalam Finch (1984) mengemukakan ada empat model desain dalamproses perencanaan kurikulum yaitu academic model, experiential model,pragmatic model, dan technical model.1. Academic Model / Theoretical Model : Model akademik memanfaatkanlogika ilmiah sebagai basis dalam penetapan kurikulum. Kurikulumdikembangkan berdasarkan pendekatan struktur yang sesuai dengandisiplin ilmu atau disiplin ilmu untuk membentuk isi kurikulum. Model inicocok untuk para calon-calon profesional dalam suatu bidang tertentu.2. Experiential Model : berorientasi pada ”learned centered and activity-oriented” person and process oriented. Model ini cocok untukpengembangan individu/guru3. Pragmatic Model : memandang perencanaan kurikulum selalu dikaitkandengan konteks lokal/ daerah. Kondisi sosial –politik mendominasikegiatan perencanaan kurikulum, dimana proses perencanaan kurikulumharus disesuaikan dengan kondisi lokal tidak boleh keluar dari ”school
  27. 27. Pengembangan Kurikulum Buku 1setting”. Model ini cocok relevan untuk diterapkan dalam kontekspelatihan bisnis atau industry4. Technical Model : dalam model ini pembelajaran dipandang sebagai suatu”sistem”. ”Sistem” dapat dipahami terdiri dari bagian-bagian yang salingberhubungan. Sebuah sistem akan efektif dan efisien apabila dikontroldengan manajemen yang bagus. Dalam model ini, komponen-komponenseperti analisis kebutuhan, perumusan tujuan yang spesifik, pemilihanmateri, metode, dan penetapan evaluasi merupakan bagian yang tidakbisa dipisahkan satu sama lain. Model ini cocok diterapkan untuk prosesbelajar mengajar dalam pendidikan teknologi dan kejuruan .C. Tinjauan Sistem dalam Pengembangan KurikulumGambar 1: Vocational Program SystemTRANSFORM ATION(Vocational Program )ENVIRONM ENT(School, Com m unity, Business,Industry, Goverm entn Etc)INPUT(Student)OUTPUT(Program G raduates)Sumber : Finch & Crunkilton (1984 :26)
  28. 28. Pengembangan Kurikulum Buku 1VIII. IMPLEMENTASI DALAM PEMBELAJARANA. Mengenal Direct InstructionDirect instruction dapat diartikan sebagai model pengajaran langsung.Akan tetapi banyak orang lebih suka mengganti kata pengajaran denganpembelajaran, sehingga lebih lazim disebut model pembelajaran langsung.Penggunaan kata pembelajaran lebih disukai karena terkesan bahwa dalamkegiatan belajar, siswa aktif terlibat. Beberapa orang menganggap katapengajaran lebih berkesan hanya guru yang aktif dalam kegiatan belajar,sementara siswa pasif.Robert E. Slavin dalam bukunya Educational Psychology dari JohnsHopkins University yang diterbitkan oleh Needham Height Allyn and Bacon,Boston mendefinisikan direct instruction sebagai sebuah pendekatan mengajardi mana pembelajaran berorientasi pada tujuan (pembelajaran) dandistrukturisasi oleh guru. (Direct istruction is an approach to teaching in whichlessons are goal-oriented and structured by the teacher – p.231).Jadi model pembelajaran langsung merupakan sebuah modelpembelajaran yang bersifat teacher centered (berpusat pada guru). Saatmelaksanakan model pembelajaran ini, guru harus mendemonstrasikanpengetahuan dan keterampilan yang akan dilatihkan kepada siswa, selangkahdemi selangkah. Guru sebagai pusat perhatian memiliki peran yang sangatdominan. Karena itu, pada direct instruction, guru harus bisa menjadi modelyang menarik bagi siswa. Beberapa pakar pendidikan seperti Good dan Grows,1985 menyebut direct instruction (model pembelajaran langsung) ini denganistilah pengajaran aktif. Atau diistilahkan sebagai mastery teaching (mengajartuntas) oleh Hunter, 1982. Sedangkan oleh Rosenshine dan Stevens, 1986disebut sebagai pengajaran eksplisit (explicit instruction).
  29. 29. Pengembangan Kurikulum Buku 1Perlu diketahui dalam prakteknya di dalam kelas, direct instruction(model pembelajaran langsung) ini sangat erat berkaitan dengan metodeceramah, metode kuliah, dan resitasi, walaupun sebenarnya tidaklah sama(tidak sinomim). Model pembelajaran langsung atau direct instructionmenuntut siswa untuk mempelajari suatu keterampilan dasar dan memperolehinformasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah.Model pembelajaran langsung ini tentu saja dapat dibedakan darimodel pembelajaran lainnya karena ia memiliki karakteristik atau ciri-ciritersendiri. Berikut beberapa karakteristik model pembelajaran langsung :1. Adanya tujuan pembelajaran dan pengaruh model pada siswa termasukprosedur penilaian hasil belajar.2. Adanya sintaks atau pola keseluruhan kegiatan pembelajaran.3. Adanya sistem pengelolaan dan lingkungan belajar model yang diperlukanagar kegiatan pembelajaran tertentu dapat berlangsung dengan baik.Pada umumnya, para ahli teori pembelajaran pada umumnyamembedakan pengetahuan ke dalam dua (2) jenis, yaitu pengetahuandeklaratif dan pengetahuan prosedural. Pengetahuan deklaratif adalahpengetahuan mengenai sesuatu dan dapat diungkapkan dengan kata-kata.Contoh pengetahuan deklaratif misalnya bahwa presiden RI dipilih melaluipemilu yang dilaksanakan setiap 5 tahun sekali. Contoh lain pada sebuahkonstruksi kuda-kuda terdapat bermacam komponen. Pengetahuan ProseduralPengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukansessuatu. Contoh pengetahuan prosedural misalnya, bagaimana tata cara danlangkah-langkah pelaksanaan pemilu di Indonesia. Atau, bagaimana caramelakukan perkaitan kuda-kuda kayu.Kembali ke tujuan-tujuan pembelajaran yang dapat dicapai bilamengimplementasikan model pembelajaran langsung (direct instruction),model pembelajaran ini dirancang khusus untuk mengembangkan
  30. 30. Pengembangan Kurikulum Buku 1pembelajaran siswa baik yang berkaitan dengan pengetahuan proseduralmaupun pengetahuan deklaratif yang tersusun dengan baik dan dapatdiajarkan selangkah demi selangkah.B. Alasan-Alasan Mengapa Menggunakan Model Pembelajaran Langsung1. Model Pembelajaran Langsung atau Direct Instruction Pada TahapPerencanaannya Menggunakan Analisis Tugas (Task Analysis) yangMerupakan Perwujudan dari Analisis Sistem (System Analysis).Analisis sistem adalah suatu teknik yang mempelajari bagaimanacara menguraikan bagian-bagian dari sesuatu yang utuh, sehingga bagian-bagian itu dapat diajarkan melalui langkah-langkah yang jauh lebihpendek. Analisis sistem merupakan landasan teori mengapa modelpembelajaran langsung disarankan untuk digunakan dalam sebuahpembelajaran di kelas.Sejatinya, analisis sistem berawal dari bermacam bidangpengetahuan, yang telah mempengaruhi pola berpikir saat melaksanakanberbagai penelitian dan pengembangan. Beberapa bidang yang seringmenggunakan analisis sistem adalah bidang biologi, proses belajar, teoriorganisasi, dan teori sosial. Dalam melakukan analisis sistem, dipelajarihubungan-hubungan dan keterkaitan-keterkaitan yang terdapat antarkomponen-komponen bagian yang saling bergantung yang telahmenyusun suatu kesatuan. Pada bidang biologi kita mengenal sistem yangdisebut ekosistem, terdiri dari komponen biotik (makhluk hidup) dankomponen abiotik (makhluk tak hidup). Komponen biotik dan abiotikmenyusun ekosistem dan saling bergantung satu sama lain. Contoh sistemyang lain misalnya perdagangan internasional.Secara khusus dalam dunia pendidikan dan pembelajaran di kelas-kelas, analisis sistem mengkaji bagaimana organisasi pengetahuan dan
  31. 31. Pengembangan Kurikulum Buku 1keterampilan, kemudian bagaimana sebuah keterampilan kompleksdiuraikan menjadi komponen-komponen bagian yang lebih sederhanasehingga memudahkan guru dan siswa untuk mengajarkan/mempelajarikomponen-komponen bagian keterampilan kompleks tersebut secara urutdan logis. Penerapan analisis sistem saat melakukan perencanaanpembelajaran langsung disebut sebagai analisis tugas (task analysis).2. Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction) Didasarkan pada TeoriPemodelan Tingkah Laku (Teori Belajar Sosial)Albert Bandura (1977) dalam buku Social Learning Theory yangditerbitkan oleh Englewood Cliffs – Prentice Hall, telah mengemukakangagasan yang sangat logis: “proses belajar akan sangat menguras energidan waktu, bahkan berbahaya, bilamana manusia harus menggantungkandiri mereka sepenuhnya pada hasil-hasil kegiatannya sendiri (menemukansendiri). Untung saja, sebagian besar tingkah laku seseorang dapatdiperoleh/dipelajari melalui pengamatan (observasi), lalu dilakukanpemodelan (peniruan) terhadap tingkah laku orang lain, kemudian orangyang belajar tersebut akan dapat membentuk pemahamannya sendiritentang bagaimana melakukan tingkah laku baru yang ditirunya itu. Olehsebab pebelajar (orang yang belajar) dapat belajar dari contoh (model)yang ditirunya, paling tidak dalam bentuk yang mendekati atau miripsebelum mereka melakukan tingkah laku (kegiatan) tertentu yang sifatnyabaru bagi mereka, maka pebelajar dapat terhindar dari melakukankekeliruan-kekeliruan yang tidak perlu.Para ahli psikologi pendidikan penganut Teori Pemodelan TingkahLaku meyakini bahwa suatu tingkah laku dipelajari apabila pebelajar(pengamat) memperhatikan dengan sadar tingkah laku yang ingindipelajarinya. Misalnya, jika anda sedang makan mie bersama seseorangyang menggunakan sumpit sebagai alat makan, dan anda tidak pernah
  32. 32. Pengembangan Kurikulum Buku 1menggunakan sumpit sebelumnya, maka anda akan memperhatikandengan sadar dan sungguh-sungguh bagaimana orang tersebut memegangsumpit di sela-sela jarinya, lalu memperhatikan bagaimana ia mulaimencapit helaian-helaian mie dengan ujung sumpit. Saat melakukanpengamatan secara sadar itu, anda akan menyimpan cara menggunakansumpit itu di ingatan jangka panjang (long-term memory). Saat itu andabelum melakukan tingkah laku yang diamati itu (memegang sumpit danmencapit mie), oleh sebab itu belum ada konsekuensi secara tingkah laku(reinforcement), yang diperlukan sebagai langkah selanjutnya agar prosesbelajar makan mie dengan sumpit dapat terjadi.Teori belajar sosial atau teori belajar pemodelan tingkah laku inidianggap sebagai penyumbang terbesar landasan penerapan modelpembelajaran langsung (direct instruction) di kelas.Ada 3 (tiga) tahap pemodelan tingkah laku menurut Bandura,yaitu: (a) perhatian atau atensi; (b) retensi; dan (c) produksi.a. Tahap Atensi atau PerhatianBerdasarkan hasil penelitian, pengamat (pebelajar) akan dapatmemperhatikan tingkah laku dengan baik apabila tingkah laku itudapat diamati dengan jelas dan tidak terlalu kompleks. Di sinilahperanan analisis tugas (task analysis) letaknya. Guru yangmenggunakan model pembelajaran langsung (direct instruction) dikelasnya harus dapat :1). Memperoleh Perhatian Siswa.Untuk memperoleh perhatian atau atensi awal dari siswa, gurudapat menggunakan isyarat-isyarat seperti tepuk tangan,benda-benda aneh dan atau menarik. Selanjutnya, guru dapat
  33. 33. Pengembangan Kurikulum Buku 1pula mengarahkan perhatian saat berbicara tentang pokok-pokok penting yang sedang dibicarakannya denganmengatakan ”lihatlah ke arah saya, perhatikan baik-baik” dansebagainya.2). Memudahkan Pengamatan SiswaSuatu tingkah laku yang kompleks akan sulit diamati siswawalaupun telah dimodelkan dengan amat baik. Karena itu, guruperlu melakukan analisis tugas (task analysis). Misalnya saatmengajarkan bagaimana melakukan dribble dalam permainanbasket (sebuah keterampilan yang cukup kompleks), maka gurudapat mengajarkan per komponen, misalnya bagaimana caramenyentuh atau memegang bola pada saat melakukan dribble,bagaimana posisi badan, bagaimana posisi kaki dan langkah-langkah kaki, bagaimana arah pandangan mata, dansebagainya, sedemikian rupa sehingga keterampilan itu lebihmudah diamati untuk ditiru. Memperkenalkan melulukeseluruhan keterampilan yang kompleks, tanpa melakukananalisis tugas, dapat memberatkan kemampuan dan kapasitasperhatian siswa dan mengakibatkan terjadinya kesalahan-kesalahan.b. RetensiRetensi (ingatan) terhadap sebuah perilaku yang teramatidapat dimantapkan bila saja pengamat (pebelajar) mampu membuathubungan pengamatannya tadi dengan pengalaman-pengalamansebelumnya. Untuk melakukan ini, guru yang mengimplementasikanmodel pembelajaran langsung (direct instruction) di kelasnya dapat:
  34. 34. Pengembangan Kurikulum Buku 11). Memberikan Kaitan Keterampilan Baru yang akan Dipelajaridengan Pengetahuan (Bekal) Awal SiswaUntuk melakukan pengaitan keterampilan baru yang akandipelajari dengan pengetahuan (bekal) awal siswa, misalnyaterkait pembelajaran melakukan dribble pada permainan bolabasket, guru dapat meminta siswa mengingat-ingat kembalibagaimana bagaimana langkah-langkah atau cara-cara yangharus dilakukannya saat melakukan shoot ke ring (bila sudahdiajarkan).2). Meyakinkan Bahwa Telah Terbentuk Retensi Jangka PanjangUntuk meyakinkan bahwa telah terbentuk retensi jangkapanjang pada diri siswa, guru bisa memberikan pelatihanlanjutan, sehingga siswa mempunyai kesempatan mengulang-ulang keterampilan baru yang dipelajarinya baik secara fisikmaupun mental. Siswa dapat melakukannya setahap demisetahap sebagaimana hasil analisis tugas yang diberikan guru.c. ProduksiPada model pembelajaran langsung dikenal suatu istilahpemodelan korektif. Pemodelan korektif adalah bahwa ketika siswamemodelkan ulang tingkah laku (keterampilan) yang dsedangdipelajarinya, maka dilakukan umpan balik yang sifatnya segera untukmemperbaiki bila terdapat kekeliruan-kekeliruan dalam meniru(memodelkan) tingkah laku (keterampilan) baru tersebut. Untukmelakukan pemodelan korektif ini guru dapat:
  35. 35. Pengembangan Kurikulum Buku 11). Memastikan Sikap Positif Terhadap Keterampilan BaruGuru yang baik saat siswa memodelkan (menirukan) tingkahlaku atau keterampilan baru harus selalu mendapatkan pujian-pujian yang sifatnya positif, dan bila sisw dan melakukankekeliruan-kekeliruan hendaknya segera diberikan koreksidengan menunjukkan letak masalah dan bagaimana caramemperbaiki kekeliruan-kekeliruan itu.2). Memperbaiki Subketerampilan yang SalahPada suatu pemodelan keterampilan kompleks sepertimelakukan dribble bola, mungkin siswa masih belummelakukannya dengan sempurna. Bila tidak sempurna, tentusaja ada bagian-bagian komponen keterampilan(subketerampilan) yang masih salah. Untuk mengatasi hal iniguru harus kembali memberikan contoh lalu meminta siswamengamati dan memodelkan ulang hingga subketerampilan itubenar-benar ia kuasai dengan baik.C. Perencanaan Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)1. Merumuskan Tujuan PembelajaranTujuan pembelajaran yang baik harus berpatokan pada beberapa syaratberikut:a. Mengacu pada siswab. tentang situasi penilaian (kondisi evaluasi) jelasc. Mengandung kriteria keberhasilan (tingkat pencapaian kinerja yangdiharapkan)d. Bersifat spesifik (khusus)e. Uraian Memilih Materi Pembelajaran
  36. 36. Pengembangan Kurikulum Buku 1Pemilihan materi pembelajaran tentu saja harus mengacukepada tuntutan kurikulum. Cara pemilihan materi seperti ini merupakancara paling mudah dan terjamin efektivitasnya, karena kurikulum telahdisusun oleh para pakar psikologi pendidikan terkait dengan pengetahuanawal prasyarat. Kurikulum sekolah telah dirancang sedemikian rupasehingga strukturnya (urutan, kedalaman, dan keluasannya) sesuai denganperkembangan peserta didik (siswa).Walaupun demikian, sebaiknya guru, dalam memilih materipembelajaran harus memahami : (a) prinsip ekonomi ; dan (b) prinsippower. Hal ini telah lama dikemukakan oleh pakar psikologi pendidikanJerome Brunner dalam bukunya yang berjudul On Knowing: Essays for TheLeft Hand yang diterbitkan oleh Cambridge, Mass: Harvard University padatahun 1962.1). Prinsip Ekonomi dalam Menentukan Materi PembelajaranKenyataan di kelas, berdasarkan banyak hasil penelitian, gurutelah menyajikan banyak presentasi dan demonstrasi yang tidakefektif. Guru seringkali menyajikan terlalu banyak informasi yangsifatnya justru tidak relevan dan tidak penting. Akibatnya justrusangat buruk. Presentasi dan demostrasi yang terlalu panjang danbertele-tele justru membuat siswa akan mengalami kesulitan untukmemahami ide-ide dan keterampilan pokok yang harus merekapelajari.Penggunaan prinsip ekonomi dalam menentukan materipembelajaran maksudnya, guru harus betul-betulmempertimbangkan seberapa banyak informasi yang akan disajikanselama alokasi waktu tertentu. Prinsip ekonomi apabila digunakanoleh guru saat merencanakan pembelajaran langsung, akanmembuat guru lebih terdorong untuk memberikan rangkuman
  37. 37. Pengembangan Kurikulum Buku 1singkat mengenai ide-ide atau keterampilan-keterampilan pokoksaja dan dilakukan beberapa kali selama kegiatan belajar mengajar.Penggunaan prinsip ekonomi dalam penentuan materi pembelajaranuntuk model pembelajaran langsung ini akan memberikankemungkinan kepada guru untuk memilih suatu konsep yang pentingdan sulit kemudian menjadikannya jelas dan mudah bagi siswa.Prinsip ekonomi tidak menghendaki guru memilih konsep-konsepmudah lalu justru menjadikan konsep itu kabur dan menjadi tampaksulit karena penjelasan yang bertele-tele.Jadi kesimpulannya, dengan menerapkan prinsip ekonomidalam menentukan materi pembelajaran pada model pembelajaranlangsung (direct instruction), guru melakukan pembatasan tujuanpembelajaran untuk mengoptimalkan alokasi waktu, saranapembelajaran, sumber dan media pembelajaran, atau hal-hal lainnyasaat memberikan penjelasan secara lisan (verbal) atau selamademonstrasi.2). Prinsip Power dalam Menentukan Materi PembelajaranMateri pembelajaran yang disajikan oleh guru akan memilikipower (kekuatan) bila materi pembelajaran yang telah dipilihdisajikan secara lugas dan logis. Materi pembelajaran harusdiorganisasikan secara logis sehingga siswa memperoleh kemudahanuntuk mempelajari hubungan antara fakta-fakta, prinsip-prinsip,atau konsep-konsep kunci dalam suatu pokok bahasan.Perlu dicatat bahwa prinsip ekonomi dan prinsip power dapatditerapkan oleh semua guru dan tidak dibatasi oleh kemampuan dancara mengajar guru. Prinsip ekonomi dan prinsip power lebihditentukan oleh aspek-aspek perencanaan. Jadi kunci kesuksesanmodel pembelajaran langsung (direct instruction) yang menerapkan
  38. 38. Pengembangan Kurikulum Buku 1kedua prinsip ini adalah perencanaan. Sebuah presentasi ataudemonstrasi yang monoton sekalipun akan jauh memberikan hasilyang lebih baik dibanding presentasi dan demontsrasi yangmenyenangkan dan dinamis tetapi kacau balau dan bertele-tele.2. Melakukan Analisis Tugas (Task Analysis)Sebelum melakukan pembelajaran yang mengimple-mentasikanmodel pembelajaran langsung (direct instruction), guru harus selalumelakukan analisis tugas (task analysis). Tahapan ini bukanlah sebuahpekerjaan yang sulit. Analisis tugas (task analysis) hanya memerlukankecermatan seorang guru saat merencanakan model pembelajaranlangsung.Apa yang dimaksud dengan analisis tugas? Analisis tugas (taskanalysis) adalah sebuah teknik yang harus dilakukan guru, di mana gurumembagi-bagi suatu keterampilan yang kompleks menjadi komponen-komponen bagian, dengan demikian dapat diajarkan dengan pola sesuaiurutan yang paling baik dan logis selangkah demi selangkah.Pada kenyataannya, sebuah keterampilan yang kompleks tidakdapat dipelajari dengan mudah dalam satu waktu tertentu melaluipemodelan (demonstrasi). Keterampilan tersebut harus diajarkan bagianper bagian secara berurutan. Pengetahuan atau keterampilan yangkompleks harus dipecah menjadi komponen-komponen bagian,tahapdemi tahap. Bayangkan, bagaimana siswa dapat menarikan Tari Pendetdengan baik bila setiap bagian gerakan tidak diajarkan ataudidemonstrasikan satu per satu secara berurutan? Atau, siswa tentu tidakakan dapat melakukan pengamatan benda-benda mikroskopis bila merekatidak diajarkan sub-sub keterampilan melakukan pengamatan denganmikroskop.
  39. 39. Pengembangan Kurikulum Buku 1Guru, pada saat melakukan perencanaan model pembelajaranlangsung (direct instruction) dengan mudah dapat melakukan analisistugas (task analysis) dengan cara:a. Meminta penjelasan kepada orang yang menguasai dan dapatmelakukan keterampilan kompleks itu, atau amati pada saat orangtersebut melakukan keterampilan tersebut. Bila guru sendiri jugamenguasai keterampilan itu, maka tentu lebih mudah lagi. Guru tinggalmelakukan keterampilan kompleks itu sendiri.b. Memecah-mecah keterampilan kompleks tersebut menjadikomponen-komponen bagian (keterampilan-keterampilan bagian).c. Menyusun keterampilan-keterampilan bagian tersebut dengan urutanyang logis sehingga tampak jelas bahwa suatu keterampilan bagianakan menjadi keterampilan prasyarat bagi keterampilan balian yanglain.d. Menetapkan perencanaan strategi untuk mengajarkan ataumendemonstrasikan setiap keterampilan bagian tersebut, lalumempersatukannya menjadi keterampilan kompleks yang utuh yangharus dipelajari siswa tersebut.3. Merencanakan Alokasi WaktuPerencanaan alokasi waktu dalam implementasi modelpembelajaran langsung (direct instruction) adalah sangat vital.Kemampuan guru mengenali seberapa kemampuan dan bakat siswa untukmengikuti suatu pembelajaran langsung dengan materi tertentu akansangat membantu penetuan alokasi waktu yang sesuai. Pada umumnyaguru yang kurang berpengalaman (guru yang masih muda) cenderungmemberikan alokasi waktu yang terlalu sedikit. Mereka menaksir terlalu
  40. 40. Pengembangan Kurikulum Buku 1rendah jumlah jam yang dibutuhkan untuk mengajarkan suatupengetahuan atau keterampilan.Sewaktu melakukan perencanaan alokasi waktu, guru harusmempertimbangkan :a. Apakah waktu yang disediakan cukup, sesuai dengan kemampuansiswa?b. Pemberian motivasi kepada siswaa, sehingga semua tetap beradadalam tugas belajarnya dengan atensi (perhatian) yang optimal. Ingat,model pembelajaran langsung (direct instruction) sebagai modelpembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered) menuntuksiswa selalu memiliki perhatian yang optimal terhadap penjelasan ataudemontrasi yang diberikan oleh guru.4. Merencanakan Pengaturan Ruang KelasDikarenakan model pembelajaran langsung (direct instruction)membutuhkan atensi siswa kepada guru (model) yang sedang melakukanpresentasi dan demonstrasi, maka pengaturan ruang kelas juga menjadisesuatu hal yang penting untuk diperhatikan. Formasi tempat duduk danpengaturan ruang kelas harus memungkinkan siswa mudah mengamatisemua sesi demonstrasi yang dilakukan. Guru sebaiknya berada padaposisi di depan kelas, kalau perlu di tempat yang lebih tinggi, yang dapatdipandang atau diamati seluruh siswa dari setiap arah. Formasi kelastradisional sangat cocok digunakan untuk penerapan model pembelajaranlangsung (direct instruction).
  41. 41. Pengembangan Kurikulum Buku 1D. Cara Mengimplementasikan Model Pembelajaran LangsungModel pengajaran langsung atau yang lebih dikenal sebagai modelpembelajaran langsung tentu saja pengelolaan pelaksanaannya berbedadengan model pembelajaran lain seperti model pembelajaran kooperatif ataumodel pembelajaran berdasarkan masalah (PBM). Berikut ada beberapa tipsyang dapat kita ikuti untuk mengimplementasikan model pembelajaran ini dikelas.1. Tips agar Implementasi Model Pembelajaran Langsung Suksesa. Pusatkan Perhatian SiswaSiswa harus memiliki perhatian yang terpusat kepada guru pada saatguru melakukan presentasi atau demonstrasi. Ini adalah kunci suksesyang harus diyakinkan dipegang oleh guru selama pembelajarandengan model direct instruction berlangsung. Terpusatnya perhatian(atensi) siswa akan membantu siswa untuk mengetahui detail-detaildari keterampilan atau pengetahuan yang sedang dipresentasikanatau didemonstrasikan oleh guru. Ingat, model pembelajaranlangsung didasarkan pada Teori Pemodelan Tingkah Laku atau TeoriPembelajaran Sosial. Pembicaraan antar siswa hanya diperbolehkanpada saat diberikan kesempatan untuk berdiskusi. Tidak pada saatpresentasi atau demonstrasi oleh guru.b. Lakukan Presentasi atau Demonstrasi dengan Baik dan EfektifGuru harus melakukan presentasi dan demonstrasi dengan baik.Penerapan model pembelajaran langsung (direct instruction)mensyaratkan ini. Prinsip ekonomi dan prinsip power sebagaimanatelah diuraikan pada tulisan Merencanakan Implementasi ModelPembelajaran Langsung (Direct Instruction) harus diterapkan.
  42. 42. Pengembangan Kurikulum Buku 1Prensentasi dan demonstrasi harus dilakukan secara singkat, per subkomponen keterampilan, dengan urutan yang logis. Guru harusbersikap aktif, agar siswa tidak kehilangan atensi terhadap presentasidan demonstrasi yang sedang dilakukan.c. Jaga Motivasi Siswa agar Selalu dalam Level yang CukupMembuat siswa tetap termotivasi selama kegiatan pembelajaranbukanlah hal yang mudah. Tetapi, dalam implementasi modelpembelajaran langsung (direct instruction) hal ini sangatlah pentingdan krusial, lebih-lebih siswa harus memperhatikan setiap presentasidan demonstrasi yang dilakukan oleh guru. Karena itu guru harusmengatur tempo pembelajaran, penanganan siswa yang menggangguproses pembelajaran sehingga mengganggu konsentrasi siswa lain,dan untuk melakukan ini diperlukan teknik-teknik tersendiri.d. Sediakan Lingkungan Belajar yang BaikSedikit sudah disebut di tips ketiga di atas bahwa guru harusmembuat suasana kelas kondusif untuk membuat siswa tetap fokuspada presentasi atau demonstrasi yang dilakukan oleh guru. Selainmengatur tingkah laku siswa yang mungkin dapat mengganggukelancaran pembelajaran atau perhatian siswa lain maka penataanruangan dan susunan tempat duduk juga menjadi kunci pentingkesuksesan pelaksanaan model pembelajaran langsung (directinstruction) ini. Lingkungan belajar dengan ruangan yang memilikipenerangan yang cukup, pengaturan tempat duduk yangmemungkinkan semua siswa dapat memperhatikan presentasi ataudemonstrasi dari guru, hingga hal-hal kecil lainnya dapatmempengaruhi keberhasilan penerapan model pembelajaranlangsung.
  43. 43. Pengembangan Kurikulum Buku 1e. Terapkan Strategi-Strategi Mengajar yang BaikStrategi-strategi mengajar yang baik diperlukan untuk menjaminkeadaan lingkungan belajar yang sesuai untuk pelaksanaan modelpembelajaran langsung (direct instruction) ini. Guru perlu memilikikemampuan mengatur giliran keterlibatan siswa dalam kegiatanbelajar mengajar seperti bertanya, menjawab pertanyaan guru,melakukan latihan, dan sebagainya. Selain itu strategi-strategikhsusus untuk penanganan siswa yang suka berbicara, siswa yangmenyimpang tingkah lakunya dari kegiatan pembelajaran juga sangatpenting. Di bawah ini akan dibahas secara khusus strategi-strategimengajar yang penting diterapkan pada model pembelajaranlangsung (direct instruction).2. Strategi-Strategi Mengajar yang Penting Diterapkan pada ModelPembelajaran Langsung (Direct Instruction)Beberapa strategi penting untuk diterapkan pada modelpembelajaran langsung (direct instruction) antara lain: (a) penanganansiswa yang suka berbicara; (b) pengaturan tempo pembelajaran; (c)penanganan penyimpangan tingkah laku siswa; dan (d) pengaturanpartisipasi (giliran).a. Penanganan Siswa yang Suka BerbicaraSiswa yang suka berbicara dan bertanya di luar waktu yangtepat yang telah disediakan guru dapat mengganggu kemulusanpresentasi atau demonstrasi guru. Siswa yang seperti ini dapatmemperlanbat tempo pembelajaran. Tingkat keseriusan masalahyang diakibatkan oleh siswa yang suka bicara dan bertanya bisamacam-macam, mulai dari yang sekedar mengganggu presentasi atau
  44. 44. Pengembangan Kurikulum Buku 1demonstrasi guru, hingga yang mengganggu keseluruhan kelas(termasuk siswa lain) yang sedang memperhatikan guru.Untuk pencegahan terjadi perilaku siswa yang kontraproduktifdengan pembelajaran langsung ini, maka guru harus mempunyaiperaturan untuk diberlakukan, misalnya, untuk bertanya siswa harusmemanfaatkan waktu yang diberikan guru, di luar itu pertanyaanakan diabaikan. Selain itu, juga harus ada aturan berbicara di kelas.Peraturan harus dilaksanakan secara konsisten sehingga siswa akanterbiasa dengannya.b. Pengaturan Tempo PembelajaranTempo pembelajaran langsung harus diatur sedemikian rupasehingga seluruh rangkaian sintaks (fase-fase) pembelajaran langsungini dapat berjalan dengan mulus dan efektif. Guru harus memilikisensitivitas terhadap tingkah laku siswa yang mungkin akanmengganggu tempo pembelajaran. Guru juga harus konsisten dengansintaks model pembelajaran ini karena seringkali ditemukan dilapangan guru yang sedang melakukan demonstrasi misalnya, tiba-tiba menghentikannya walaupun belum selesai karena melontarkanpertanyaan kepada siswa. Guru juga seringkali lupa fragmentasipresentasinya sehingga tidak lagi sesuai dengan perencanaan.Penjelasan yang terlalu panjang lebar di suatu kelas mungkin berguna,tetapi justru tidak efektif di kelas lain.c. Penanganan Penyimpangan Tingkah Laku SiswaModel pembelajaran langsung biasanya diterapkan di dalamkelas dengan jumlah siswa yang cukup banyak. Di antara sekianbanyak siswa ini biasanya selalu ada yang melakukan berbagai tingkahlaku yang menyimpang dari kegiatan belajar efektif. Mereka dengan
  45. 45. Pengembangan Kurikulum Buku 1tingkah lakunya dapat mengganggu siswa lain di sekitarnya ataubahkan mengganggu seluruh siswa dan juga guru di kelas itu. Padasaat seperti ini, tidak penting untuk mencari penyebab penyimpangantingkah laku tersebut, karena akan menyita waktu yang cukupbanyak. Hal yang sangat urgen dilakukan guru adalah menghentikansesegera mungkin penyimpangan tingkah laku tersebut.Beberapa teknik dapat dilakukan untuk mencegah munculnyaperilaku menyimpang yang parah pada siswa. Teknik-teknik seperti:(1) being with it; (2) overlappingness; dan (3) menghentikan segeraperilaku menyimpang, harus dikuasai oleh guru.1). Being With ItBeing with it adalah suatu istilah untuk memerikan bagaimanaseorang guru selalu awas dengan seluruh siswa yang ada dikelasnya, bahkan ketika ia sedang berada dalam posisimemunggungi mereka. Kebanyakan guru berpengalamanmemiliki keterampilan ini. Guru-guru seperti ini seakanmempunyai “mata” di bagian belakang kepala mereka. Guru-guru dengan kemampuan being-with-it-ness mampu mengenalidengan segera siswa yang mulai menunjukkan perilakumenyimpang dari kegiatan belajar. Bila terjadi sedikit kekacauandi salah satu sudut kelas, dengan tepat ia akan mampumengenali siswa yang harus bertanggung jawab atas kekacauanitu. Latihanlah yang membuat guru menguasai keterampilan ini.2). OverlappingnessGuru yang efektif harus mampu melakukan teknikoverlappingness. Artinya guru, mampu melakukan lebih darisatu kegiatan sekaligus saat melaksanakan model pembelajaran
  46. 46. Pengembangan Kurikulum Buku 1langsung di kelasnya. Contoh overlappingness misalnya, ketikaguru sedang melakukan presentasi tetapi di saat yang samamengetahui ada siswa dengan tingkah laku yang tidak sesuaidengan aktivitas pembelajaran, maka sembari terus melakukanpresentasi ia berjalan ke arah siswa yang melakukan tingkahlaku menyimpang tadi untuk menghentikannya dengan caramenyentuh bahunya, tanpa perlu menegur atau menasihatinya.Dengan demikian guru melaksanakan sekaligus dua kegiatan:pertama melakukan presentasi dan kedua menghentikanperilaku menyimpang. Pengalaman dan latihan yang baik jugamembuat keterampilan overlappingness ini akan terasahsempurna.3). Menghentikan Segera Perilaku MenyimpangKadangkala, di dalam pelaksanaan model pembelajaranlangsung (direct instruction) ada saja siswa yang benar-benarsusah dihentikan perilaku menyimpangnya dengan cara-carahalus (misalnya mendekati dan menyentuh bahunya, ataumemandang lurus ke arah siswa tersebut untuk memberi isyaratagar ia berhenti dengan tingkah lakunya yang tidak sesuai itu).Karena itu siswa tersebut harus segera dihentikan sebelumgangguan yang ditimbulkannya semakin parah. Untuk ini, gurudapat melakukannya dengan memberikan langsung peringatanlisan(walaupun akan mengganggu sesaat kegiatanpembelajaran) dengan menunjukkan kejelasan maksud danketegasan. Perlu diingat bahwa teguran secara langsung untukmenghentikan dengan segera perilaku menyimpang ini tidakboleh dilakukan dengan kata-kata kasar. Ketegasan dankejelasan tidak sama dengan kekasaran. Contoh kata-kata yang
  47. 47. Pengembangan Kurikulum Buku 1dapat diucapkan guru untuk menghentikan perilakumenyimpang siswa selama pelaksanaan model pembelajaranlangsung (direct instruction) misalnya: “Jangan berbicara selagisaya sedang menjelaskan sesuatu!” Atau “Hentikan segera,sangat tidak menyukai perbuatan seperti itu!”3. Pengaturan Partisipasi (Giliran)Model pembelajaran langsung (direct instruction) seringkali dikritikkarena salah satu kelemahannya adalah peran guru yang terlalu dominandalam kegiatan pembelajaran (teacher centered). Akibatnya, seringkalisiswa menjadi sangat pasif. Sebenarnya ini tidak perlu terjadi jika gurubenar-benar mempersiapkan pembelajaran langsung dengan baik.Pengaturan giliran dalam berpartisipasi oleh guru sangat penting. Ia harusmelakukannya secara acak dan tidak boleh terjebak untuk memberikankesempatan partisipasi yang terlalu besar kepada siswa-siswa yang dudukdi deretan depan. Guru dapat pula mengubah-ubah posisi berdirinyadengan tidak melulu berada di depan, tetapi juga sesekali ke sudut-sudutkelas atau ke bagian belakang jika memungkinkan.IX. PENUTUPA. Kesimpulan1. Prinsip-prinsip dasar dalam mengembangkan kurikulum adalah sebagaiberikut :a. Prinsip relevansi, Kurikulum dan pengajaran harus disusun sesuaidengan tuntutan kebutuhan dan kehidupan peserta didik.b. Prinsip efektifitas, Berkaitan dengantingkat pencapaian hasilpelaksanaan kurikulum.
  48. 48. Pengembangan Kurikulum Buku 1c. Prinsip efisiensi, Berkaitan dengan perbandingan antara tenaga,waktu, dana, dan sarana yang dipakai dengan hasil yang diperoleh.d. Prinsip kontinuinitas, Kurikulum berbagai tingkat kelas danjenjangpendidikan disusun secara berkesinambungan.e. Prinsip Fleksibilitas,disamping program yang berlaku untuk semuaanak terdapat pula kesempatan bagi anak mengambil program-program pilihan.f. Prinsip integritas, kurikulum hendaknya memperhatiakn hubunganantara berbagai program pendidikan dalam rangka pembentukankepribadian yang terpadu.2. Ada beerapa cara atau langkah dalam mengembangkan kurikulumdiantaranya, mengadakan penilaian umum tentang sekolah, menyelididkiberbagai kebutuhan, Mengidentifikasi masalah serta merumuskannya,Mengajukan saran perbaikan, Menyiapkan desai perencanaanya yangmencakup tujuan, Memeilih anggota panitaia, sedapat mungkin sesuaidengan kompetensi masing-masing, mengawasi pekerjaan panitia,melaksanakan hasil panitia oleh guru dalam kelas, menerapkan cara-caraevaluasi, memantapkan perbaikan.3. Model pembelajaran langsung adalah model pembelajaran yangmenekankan pada penguasaan konsep dan/atau perubahan perilakudengan mengutamakan pendekatan deduktif, dengan ciri-ciri sebagaiberikut: (1) transformasi dan ketrampilan secara langsung; (2)pembelajaran berorientasi pada tujuan tertentu; (3) materi pembelajaranyang telah terstuktur; (4) lingkungan belajar yang telah terstruktur; dan (5)distruktur oleh guru. Guru berperan sebagai penyampai informasi, dandalam hal ini guru seyogyanya menggunakan berbagai media yang sesuai,misalnya film, tape recorder, gambar, peragaan, dan sebaganya.Informasi yang disampaikan dapat berupa pengetahuan prosedural (yaitu
  49. 49. Pengembangan Kurikulum Buku 1pengetahuan tentang bagaimana melaksanakan sesuatu) ataupengetahuan deklaratif, (yaitu pengetahuan tentang sesuatu dapat berupafakta, konsep, prinsip, atau generalisasi). Kritik terhadap penggunaanmodel ini antara lain bahwa model ini tidak dapat digunakan setiap waktudan tidak untuk semua tujuan pembelajaran dan semua siswa.4. Tahapan atau sintaks model pembelajaran langsung sebagai berikut:a. Orientasi. Sebelum menyajikan dan menjelaskan materi baru, akansangat menolong siswa jika guru memberikan kerangka pelajaran danorientasi terhadap materi yang akan disampaikan. Bentuk-bentukorientasi dapat berupa: (1) kegiatan pendahuluan untuk mengetahuipengetahuan yang relevan dengan pengetahuan yang telah dimilikisiswa; (2) mendiskusikan atau menginformasikan tujuan pelajaran; (3)memberikan penjelasan/arahan mengenai kegiatan yang akandilakukan; (4) menginformasikan materi/konsep yang akan digunakandan kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran; dan(5)menginformasikan kerangka pelajaran.b. Presentasi. Pada fase ini guru dapat menyajikan materi pelajaran baikberupa konsep-konsep maupun keterampilan. Penyajian materi dapatberupa: (1) penyajian materi dalam langkah-langkah kecil sehinggamateri dapat dikuasai siswa dalam waktu relatif pendek;(2)pemberian contoh-contoh konsep; (3) pemodelan atau peragaanketerampilan dengan cara demonstrasi atau penjelasan langkah-langkah kerja terhadap tugas; dan (4) menjelaskan ulang hal-hal yangsulit.c. Latihan terstruktur. Pada fase ini guru memandu siswa untukmelakukan latihan-latihan. Peran guru yang penting dalam fase iniadalah memberikan umpan balik terhadap respon siswa dan
  50. 50. Pengembangan Kurikulum Buku 1memberikan penguatan terhadap respon siswa yang benar danmengoreksi respon siswa yang salah.d. Latihan terbimbing. Pada fase ini guru memberikan kesempatankepada siswa untuk berlatih konsep atau keterampilan. Latihanterbimbing ini baik juga digunakan oleh guru untuk mengases/menilaikemampuan siswa untuk melakukan tugasnya. Pada fase ini peranguru adalah memonitor dan memberikan bimbingan jika diperlukan.e. Latihan mandiri. Pada fase ini siswa melakukan kegiatan latihansecara mandiri, fase ini dapat dilalui siswa jika telah menguasai tahap-tahap pengerjaan tugas 85-90% dalam fase bimbingan latihan.B. RekomendasiBeberapa situasi yang memungkinkan model pembelajaran langsung cocokuntuk diterapkan dalam pembelajaran :1. Ketika guru ingin mengenalkan suatu bidang pembelajaran yang baru danmemberikan garis besar pelajaran dengan mendefinisikan konsep-konsepkunci dan menunjukkan keterkaitan di antara konsep-konsep tersebut.2. Ketika guru ingin mengajari siswa suatu keterampilan atau prosedur yangmemiliki struktur yang jelas dan pasti.3. Ketika guru ingin memastikan bahwa siswa telah menguasai keterampilan-keterampilan dasar yang diperlukan dalam kegiatan-kegiatan yangberpusat pada siswa, misalnya penyelesaian masalah (problem solving).4. Ketika guru ingin menunjukkan sikap dan pendekatan-pedekatanintelektual (misalnya menunjukkan bahwa suatu argumen harus didukungoleh bukti-bukti, atau bahwa suatu penjelajahan ide tidak selalu berujungpada jawaban yang logis)
  51. 51. Pengembangan Kurikulum Buku 15. Ketika subjek pembelajaran yang akan diajarkan cocok untukdipresentasikan dengan pola penjelasan, pemodelan, pertanyaan, danpenerapan.6. Ketika guru ingin menumbuhkan ketertarikan siswa akan suatu topik.7. Ketika guru harus menunjukkan teknik atau prosedur-prosedur tertentusebelum siswa melakukan suatu kegiatan praktik.8. Ketika guru ingin menyampaikan kerangka parameter-parameter untukmemandu siswa dalam melakukan kegiatan pembelajaran kelompok atauindependen.9. Ketika para siswa menghadapi kesulitan yang sama yang dapat diatasidengan penjelasan yang sangat terstruktur.10. Ketika lingkungan mengajar tidak sesuai dengan strategi yang berpusatpada siswa atau ketika guru tidak memiliki waktu untuk melakukanpendekatan yang berpusat pada siswa.
  52. 52. Pengembangan Kurikulum Buku 1LAMPIRAN CONTOH MODEL (Buku 2)
  53. 53. Pengembangan Kurikulum Buku 1DAFTAR PUSTAKA1. Hargreaves. A. 1995. A changing teachers, changing times. New York, NY: Teachers ,College Press.2. Fennema, E. & Franke, M.L. 1992. “Teachers’ knowledge and its impact.” DalamGrouws, D.A. (Ed.). Handbook of research on mathematics teachingandlearning (pp. 147-164). New York, United States: MacMillan.3. Mukhidin (2009) , dkk , Kajian Penyelenggaran SMK 3+1, Universitas PendidikanIndonesia4. ……………UU No. 20 tahun 2003 Sistim Pendidikan Nasional, Depdiknas5. S. Nasution, 2008, Kurikulum dan Pengajaran, Bumi Aksara6. Nana Sudjana, 2005, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, SinarBaru Algensindo7. Wina Sanjaya, 2005 Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum BerbasisKompetensi, ………………8. Nana Syaodih Sukmadinata, 2005 Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, PTRemaja Rosdakarya, Bandung9. Akhmad Sudraj http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/31/prinsip-pengembangan-kurikulum/10. …………..Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, JenjangPendidikan Dasardan Menengah, Badan Standar Nasional Pendidikan11. Curtis R.Finch dan John R.Crunkilton, 1984, CURRICULUM DEVELOPMENT INVOCATIONAL and TECHNICAL EDUCATION : Planning, Content, andImplementation, Allyn and Bacon Inc12. Sumadi..http://sumadiklaten.wordpress.com/2009/04/14/pendidikan-kejuruan-berbasis-kompetensi
  54. 54. Pengembangan Kurikulum Buku 113. Tippelt, Rudolf dan Amoros, Antonio (2003), Pendidikan Kejuruan BerbasisKomptensi, Kumpulan Materi Seminar: Pembelajaran bagi Para Pembelajar,Terjemahan oleh Wenny Schmidt, Mannheim-Jerman: InternationalleWeiterbildung und Entwicklung (InWEnt) gGmbH.14. Hamalik, Oemar. (2009). Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT.Remaja RosdaKarya.15. Muhammad Faiq ..http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2013/04/direct-instruction-model-pembelajaran-langsung.html16. Mohamad Nur, 2011, Model Pengajaran Langsung, Pusat Sains dan MatematikaSekolah, Surabaya17. BNSP, 2006, Panduan Penyusunan KurikulumTingkat Satuan Pendidikan, Depdiknas18. Trianto, 2012, Model Pembelajaran Terpadu, Bumi Aksara, Jakarta19. Ratna Wilis Dahar, 1988, Teori-Teori Belajar, Depdikbud, Jakarta20. ……………Kurikulum SMK Negri 2 Samarinda, edisi 201021. Arifah A. Riyanto, 2009, Kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan,Pengembangan Serta Implementasinya, Universitas Pendidikan Indonesia,Bandung
  55. 55. Pengembangan Kurikulum Buku 1Kata PengantarPuji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas bimbingan Nya tulisan inidapat diselesaikan tepat pada waktunya. Kami berharap mudah-mudahan tulisan inidapat bermanfaat bagi dunia pendidikan khususnya pengembangan peserta didik dalampembelajaran.Kehidupan masyarakat yang terus menerus mengalami perubahan sebagaiakibat dari kemajuan IPTEK menuntut pendidikan pada jenjang persekolahan harusmenyesuaikan dan mengantisipasi setiap perubahan yang terjadi. Materi danpengalaman belajar yang diberikan di sekolah harus bermanfaat untuk bekal kehidupanpeserta didik. Perubahan-perubahan tersebut bukan hanya menuntut perbaikan kualitas,akan tetapi juga perlu penyesuaian kurikulum. Kurikulum yang bersifat content orienteddan berisi materi pelajaran yang bersifat fakta lepas-lepas perlu direvisi. Revisi atauperubahan tersebut diarahkan pada proses pendidikan yang lebih berorientasi kepadapenyediaan bagi peserta didik kompetensi-kompetensi yang berguna bagi kehidupannya.Perubahan di bidang pendidikan tidak akan berjalan tanpa adanya kurikulumyang dapat mengakomodasi perubahan yang terjadi itu. Kurikulum berbasis kompetensimerupakan upaya untuk mempersiapkan peserta didik memiliki kemampuan intelektual,emosional, spiritual, dan sosial yang bermutu tinggi. Kompetensi yang dikembangkanadalah keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam perubahan, pertentangan,ketidakmenentuan, ketidakpastian, dan kerumitan-kerumitan dalam kehidupan.Jika dalam tulisan ini banyak terdapat kekurangannya dengan senang hati akankami terima sebagai kritik yang membangun dan dapat untuk memperbaiki menjadi lebihbaik.Surabaya, 25 Mei 2013Penulis
  56. 56. Pengembangan Kurikulum Buku 1Daftar IsiKata Pengantar …………………………………………………………………………… iiI. PENDAHULUAN ………………………………………………………………………………. 1II. MAKSUD PENULISAN ………………………………………………………………………… 4III. BATASAN PENULISAN …………………………………………………………………………. 4IV. TUJUAN PENULSAN ………………………………………………………………………….. 4V. PENGERTIAN KURIKULUM ………………………………………………………………… 5VI. PENGEMBANGAN KURIKULUM PTKA. Pengembangan Kurikulum ………………………………………………………. 7B. Karakteristik Kurikulum PTK ……………………………………………………. 11C. Pendidikan Kejuruan Berbasis Kompetensi …………………………………. 14VII. MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUMA. Fungsi Model Pengembangan Kurikulum Bagi Guru …………………… 25B. Model Desain Pengembangan Kurikulum ………………………………….. 26C. Tinjauan Sistem dalam Pengembangan Kurikulum ………………….. 27VIII. IMPLEMENTASI DALAM PEMBELAJARANA. Mengenal Direct Instruction ………………………………………………………. 28B. Alasan-Alasan Mengapa ……………………………………………………………. 30C. Perencanaan Model (Direct Instruction) …………………………………… 36D. Cara Mengimplementasikan Model ………………………………………….. 41IX. PENUTUPA. Kesimpulan …………………………………………………………………………………. 47B. Rekomendasi ……………………………………………………………………………….. 50DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………………………… 53LAMPIRAN CONTOH MODEL (Buku 2)
  57. 57. Pengembangan Kurikulum Buku 1
  58. 58. Pengembangan Kurikulum Buku 1PENGEMBANGAN KURIKULUMStudi Kasus untuk Standar KompetensiMEMBUAT KUDA-KUDA KAYUProsedur Perakitan Kuda-KudaDengan Metode Pembelajaran LangsungDiajukan guna memenuhi salah satu tugasmata kuliah Pengembangan KurikulumPendidikan Teknologi KejuruanDosen Pengampu :Dr. Tri Rijanto, M.Pd, MTDr. Soerjanto, M.PdDisusun oleh:Mohammad Yasin NIM.127895035PASCA SARJANAPROGRAM PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUANUNIVERSITAS NEGERI SURABAYA2013

×