Lp tb

869 views
550 views

Published on

niel_jingga@yahoo.com

Published in: Health & Medicine
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
869
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
11
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Lp tb

  1. 1. LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN TB PARU DI BANGSAL CEMPAKA RSUD KEBUMEN DISUSUN OLEH : NANI PUJILESTARI NELY YULIANTI NURINA LISTYANI NURYATI PUJI RAHAYU NUSAIBAH
  2. 2. TB PARU A. Pengertian Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TBC (Myobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TBC menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. (Depkes RI. 2002). Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang disebabkan basil Myobacterium Tuberculosis, atau basil teuberkel yang bersifat tahan asam. (dr. Jan Tambayong. 2000). Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan Mycobacterium tuberculosis, kuman batang tahan asam ini dapat merupakan organisme patogen maupun saprofit. ( Sylvia A. Price, 1995 : 753 ). Tuberkulosis ( TB ) adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang parenkim paru Tuberkulosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya, termasuk meningens, ginjal, tulang, dan nodus limfe. (Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare,2002 : 584 ). Tuberkulosis ( TB ) paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberkulosis dengan gejala yang sangat bervariasi. ( Arif Mansjoer, et all, 1999 : 472 ). B. Etiologi Penyebab tuberkulosis adalah Myobacterium tuberculosae, sejenis kuman berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/Um dan tebal 0,3- 0,6/Um. Tergolong dalam kuman Myobacterium tuberculosae complex adalah : 1. M. Tuberculosae 2. Varian Asian 3. Varian African I
  3. 3. 4. Varian African II 5. M. bovis. Pembagian tersebut adalah berdasarkan perbedaan secara epidemiologi. Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid). Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam (asam alkohol) sehingga disebut asam bakteri tahan asam (BTA) dan ia juga lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisis. Kuman dapat tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es). Hal ini terjadi karena kuman bersifat dormant, tertidur lama selama bertahun-tahun dan dapat bangkit kembali menjadikan tuberkulosis aktif lagi. Di dalam jaringan, kuman hidup sebagai parasit intraselular yakni dalam sitoplasma makrofag. Makrofag yang semula memfagositasi malah kemudian disenanginya karena banyak mengandung lipid. (Asril Bahar. 2001) Pada tahun 1974 American Thoracic Society dikutip oleh Asril Bahar ( 2001 ) memberikan klasifiksi baru yang diambil berdasarkan aspek kesehatan masyarakat.  Kategori 0 : Tidak pernah terpajan, dan tidak terinfeksi, riwayat kontak negatif, tes tuberkulin negatif.  Kategori I : Terpajan tuberculosis, tapi tidak terbukti ada infeksi. Di sini riwayat kontak positif, tes tuberkulin negatif.  Kategori II : Terinfeksi tuberkulosis, tetapi tidak sakit. Tes tuberrkulit positif, radiologis dan sputum negatif.  Kategori III : Terinfeksi tuberkulosis dan sakit. Di Indonesia klasifikasi yang banyak dipakai adalah berdasarkan kelainan klinis, radiologis, dan mikrobiologis :  Tuberkulosis paru  Bekas tuberkulosis paru  Tuberkulosis paru tersangka, yang terbagi dalam :
  4. 4. a. Tuberkulosis paru tersangka yang diobati. Di sini sputum BTA negatif, tetapi tanda-tanda lain positif. b. Tuberkulosis paru tersangka yang tidak diobati. Di sini sputum BTA negatif dan tanda-tanda lain juga meragukan.. Dalam 2-3 bulan, Tb tersangka ini sudah dipastikan apakah termasuk ( aktif ) atau bekas Tb paru. Dalam klasifikasi ini perlu dicantumkan :  status bakteriologi : - Mikroskopik sputum BTA ( langsung ) - Biakan sputum BTA  status radiologis, kelainan yang relevan untuk tuberkulosis paru.  status kemoterapi, riwayat pengobatan dengan obat anti tuberkulosis. WHO 1991 dikutip oleh Asril Bahar ( 2001 ) berdasarkan terapi membagi Tb dalam 4 kategori yakni:  Kategori I, ditujukan terhadap : Kasus baru dengan sputum positif Kasus baru dengan bentuk Tb berat  Kategori II, ditujukan terhadap : Kasus kambuh Kasus gagal dengan sputum BTA positif  Kategori III, ditujukan terhadap : Kasus BTA negatif dengan kelainan paru yang tidak luas Kasus TB ekstra paru selain dari yang di sebut dalam kategori I  Kategori IV, ditujukan terhadap : TB kronik C. Patofisiologi Tempat masuk kuman M.tuberculosis adalah saluran pernafasan, saluran pencernaan, dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberkulosis terjadi melalui udara (airborne), yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang
  5. 5. yang terinfeksi. Saluran pencernaan merupakan tempat masuk utama jenis bovin, yang penyebarannya melalui susu yang terkontaminasi. Tuberkulosis adalh penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas perantara sel. Sel efektornya adalah makrofag, sedangkan limfosit (biasanya sel T) adalah sel imunoresponsifnya. Tipe imunitas seperti ini biasanya lokal, melibatkan makrofag yang diaktifkan di tempat infeksi oleh limfosit dan limfokinnya. Respon ini disebut sebagai reaksi hipersensitivitas (lambat) Nekrosis bagian sentral lesi memberikan gambaran yang relatif padat dan seperti keju, lesi nekrosis ini disebut nekrosis kaseosa. Daerah yang mengalami nekrosis kaseosa dan jaringan granulasi di sekitarnya yang terdiri dari sel epiteloid dan fibroblast, menimbulkan respon berbeda. Jaringan granulasi menjadi lebih fibrosa membentuk jaringan parut yang akhirnya akan membentuk suatu kapsul yang mengelilingi tuberkel. Lesi primer paru-paru dinamakan fokus Gohn dan gabungan terserangnya kelenjar getah bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks Gohn respon lain yang dapat terjadi pada daerah nekrosis adalah pencairan, dimana bahan cair lepas kedalam bronkus dan menimbulkan kavitas. Materi tuberkular yang dilepaskan dari dinding kavitas akan masuk ke dalam percabangan trakeobronkhial. Proses ini dapat akan terulang kembali ke bagian lain dari paru-paru, atau basil dapat terbawa sampai ke laring, telinga tengah atau usus. Kavitas yang kecil dapat menutup sekalipun tanpa pengobatan dan meninggalkan jaringan parut bila peradangan mereda lumen bronkus dapat menyempit dan tertutup oleh jaringan parut yang terdapat dekat perbatasan rongga bronkus. Bahan perkejuan dapat mengental sehingga tidak dapat mengalir melalui saluran penghubung sehingga kavitas penuh dengan bahan perkejuan dan lesi mirip dengan lesi berkapsul yang tidak terlepas keadaan ini dapat menimbulkan gejala dalam waktu lama atau membentuk lagi hubungan dengan bronkus dan menjadi tempat peradangan aktif. Penyakit dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah. Organisme yang
  6. 6. lolos dari kelenjar getah bening akan mencapai aliran darah dalam jumlah kecil dapat menimbulkan lesi pada berbagai organ lain. Jenis penyebaran ini dikenal sebagai penyebaran limfohematogen, yang biasanya sembuh sendiri. Penyebaran hematogen merupakan suatu fenomena akut yang biasanya menyebabkan tuberkulosis milier. Ini terjadi apabila fokus nekrotik merusak pembuluh darah sehingga banyak organisme masuk kedalam sistem vaskular dan tersebar ke organ-organ tubuh. (Silvia A. Price, 1995 : 753-754)
  7. 7. D. Manifestasi Klinis Gejala utama penderita Tb paru adalah batuk terus menerus dan berdahak selama 3 (tiga) minggu atau lebih. (Depkes RI. 2002). Keluhan yang dirasakan pasien tuberkulosis dapat bermacam-macam atau malah banyak pasien ditemikan Tb paru tanpa keluhan sama sekali dalam pemeriksaan kesehatan. Gejala tambahan yang sering dijumpai (Asril Bahar. 2001): 1. Demam Biasanya subfebril menyerupai demam influenza. Tetapi kadang- kadang dapat mencapai 40-41°C. Serangan demam pertama dapat sembuh sebentar, tetapi kemudian dapat timbul kembali. Begitulah seterusnya sehingga pasien merasa tidak pernah terbebas dari demam influenza ini. 2. Batuk/Batuk Darah Terjadi karena iritasi pada bronkus. Batuk ini diperlukan untuk membuang produk-produk radang keluar. Keterlibatan bronkus pada tiap penyakit tidaklah sama, maka mungkin saja batuk baru ada setelah penyakit berkembang dalam jaringan paru yakni setelah berminggu- minggu atau berbulan-bulan peradangan bermula. Keadaan yang adalah berupa batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah. Kebanyakan batuk darah pada tuberkulosis terjadi pada kavitas, tetapi dapat juga terjadi pada ulkus dinding bronkus. 3. Sesak Napas Pada penyakit yang ringan (baru tumbuh) belum dirasakan sesak napas. Sesak napas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, yang infiltrasinya sudah meliputi setengah bagian paru-paru. 4. Nyeri Dada Gejala ini agak jarang ditemukan. Nyeri dada timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. Terjadi gesekan kedua pleura sewaktu pasien menarik/melepaskan napasnya.
  8. 8. 5. Malaise Penyakit tuberkulosis bersifat radang yang menahun. Gejala malaise sering ditemukan berupa anoreksia (tidak ada nafsu makan), badan makin kurus (berat badan turun), sakit kepala, meriang, nyeri otot, dan keringat pada malam hari tanpa aktivitas. Gejala malaise ini makin lama makin berat dan terjadi hilang timbul secara tidak teratur. Komplikasi pada penderita tuberkulosis stadium lanjut (Depkes RI. 2002) : 1. Hemoptosis berat (perdarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas. 2. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial. 3. Bronkiektasis (pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru. 4. Pneumotorak (adanya udara di dalam rongga pleura) spontan : kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru. 5. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, ginjal dan sebagainya. 6. insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency) E. Pemeriksaan Diagnostik 1. Pemeriksaan Radiologis (Asril Bahar. 2001). Pada saat ini pemeriksaan radiologis dada merupakan cara yang praktis untuk menemukan lesi tuberkulosis. Lokasi lesi tuberkulosis umumnya di daerah apeks paru (segmen apikal lobus atas atau segmen apikal lobus bawah), tetapi dapat juga mengenai lobus bawah (bagian inferior) atau di daerah hilus menyerupai tumor paru. 2. Pemeriksaan Laboratorium (Asril Bahar. 2001).  Darah
  9. 9. Pemeriksaan ini kurang mendapat perhatian, karena hasilnya kadang-kadang meragukan, hasilnya tidak sensitif dan juga tidak spesifik. Pada saat tuberkulosis baru mulai sedikit meninggi dengan hitung jenis pergeseran ke kiri. Jumlah limfosit masih di bawah normal. Laju endap darah mulai meningkat. Bila penyakit mulai sembuh, jumlah leukosit kembali normal dan jumlah limfosit masih tinggi. Laju endap darah mulai turun ke arah normal lagi.  Sputum Pemeriksaan sputum adalah penting karena dengan ditemukannya kuman BTA, diagnosis tuberkulosis sudah dapat dipastikan. Disamping itu pemeriksaan sputum juga dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang sudah diberikan.  Tes Tuberkulin Tes tuberkulin hanya menyatakan apakah seseorang individu sedang atau pernah mengalami infeksi M. Tuberculosae, M. Bovis, vaksinasi BCG dan Myobacteria patogen lainnya.
  10. 10. F.Pathway Bronkus Bakterimia menghancurkan jar. Sekitar nekrosis perkejuan Pencairan Jantung Pleura Peritonium Pengkejuan Perikarditis Pleuritis Asam lambung me aneurisma arteri pulmonalis Nyeri dada Batuk darah Mual, muntah, anoreksia Resti syok Gangguan rasa nyaman : nyeri Gangguan nutrisi kurang dari hipovolemik kebutuhan tubuh Droplet mengandung M. tuberculosis Udara tercemar M. tuberculosis Terhirup lewat saluran pernafasan Masuk ke paru Alveoli Proses peradangan Produksi sekret berlebih Sekret sukar dikeluarkan Tidak efektif bersihan jalan nafas PanasHipertermi TuberkelKelenjar getah beningLimfadenitis Infeksi primer (Ghon) pada alveoli TB PrimerSembuh dengan sarang Ghon meluas Sembuh sempurna Mengalami perkejuan kalsifikasi Mengganggu perfusi & difusi O2 Suplai O2 kurang Gangguan pertukaran gas Bronkogen Hematogen
  11. 11. F. Pengobatan Obat anti TB ( OAT ) OAT harus di berikan dalam kombinasi sedikitnya dua obat yang bersifat bakterisida dengan atau tanpa obat ketiga. Tujuan pemberian OAT antara lain : • membuat konversi sputum BTA positif menjadi negatif secepat mungkin melalui kegiatan bakterisid. • Mencegah kekambuhan dalam tahun pertama setelah pengobatan dengan kegiatan sterilisasi • Menghilangkan atau mengurangi gejala dan lesi melalui perbaikan daya tahan imunologis. Maka pengobatan TB di lakukan 2 fase, yaitu : a. Fase awal intensif, dengan kegiatan bakterisid untuk memusnahkan populasi kuman yang membelah dengan cepat. b. Fase lanjutan, melalui kegiatan sterilisasi kuman pada pengobatan jangka pendek atau kegiatan bakteriostatik pada pengobatan konvesional. OAT yang biasa digunakan antara lain Isoniazid (INH),rifampisin (R), pirazinamid ( Z ) dan streptomisin ( S ) yang bersifat bakterisid dan etambuthol ( E ) yang bersifat bakteriostatik. Penilaian keberhasilan pengobatan didasarkan pada hasil pemeriksan bakteriologi, radiologi, dan klinis. Kesembuhan TB yang baik
  12. 12. memperlihatkan sputum BTA ( - ), adanya perbaikan radiologi, dan menghilangnya gejala Diagnosa Keperawatan a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi sekret kental atau sekret darah b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveoler- kapiler c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan , pertahanan primer tidak adekuat, menurunya kerja sillia d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia e. Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan nyeri dada pleuritis f. Hipertemia berhubungan dengan proses inflamasi
  13. 13. DAFTAR PUSTAKA Carpenito, L. J. ( 2001 ). Handbook of Nursing Diagnosis, 8th edition. ( Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8 ). Alih Bahasa : Monica Ester. Jakarta : EGC. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2002. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Depkes RI : Jakarta. Doengoes, Marilynn. E. ( 2000 ). Nursing Care Plans,. Guidelines For Planning and Documenting Patient Care, 3rd edition. ( Rencana Asuhan Keperawatan Pedoamn untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3 ). Penerjemah : Yasmin Asih. Jakarta : EGC. Mansjoer, Arif., et all. ( 1999 . Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI: Media Aescullapus Jakarta. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi ketiga. Balai Penerbit FKUI : Jakarta. Price, S. A. ( 1999 ). Pathophysiology Clinical Concept of Disease Processes, 4th edition. (Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, edisi 4 ). Alih bahasa : Dr. Peter Anugerah. Jkarta : EGC.
  14. 14. Stark, E. John. 1990. Manual Ilmu Penyakit Paru. Binarupa Aksara : Jakarta. Smeltzer, S. C. , Bare B. G. ( 2002 ). Brunner & Suddarth”s Textbooks of Medical Surgical Nursing,8th edition, Volume 1 .( Buku Ajar Keperawatan Mediakal Bedah Brunner&Suddarth, edisi 8, volume 1) Alih Bahasa : Dr. H. Y. Kuncoro, dkk. Jakarta : EGC. Tambayong, Jan. 2000. Patofisiologi untuk Keperawatan. EGC : Jakarta.
  15. 15. Sembuh dengan sarang Ghon Kuman dormant muncul kembali Infeksi post primer Diresobsi kembali( sembuh ) Sarang meluas Sembuh dengan jaringan fibrotik Membentuk kavitas Menembus pleura Bersih& sembuh Memadat & membungkus ( efusi pleura ) diri ( tuberkuloma ) Transudat Eksudat Akumulasi cairan dalam pleura sembuh aktif kembali Menekan merangsang Tekanan rongga pleura Tekanan struktur abdomen jaringan. Syaraf batuk nyeri dada ( pleuritik ) mual, muntah, anoreksia kolaps paru Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Gangguan rasa nyaman : nyeri Gangguan perfusi & difusi O2i Retaksi dada dan cuping hidung Gangguan pertukarangas
  16. 16. INTERVENSI NO DP TUJUAN INTERVENSI RASIONAL 1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubun gan dengan akumulasi sekret kental atau darah Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam jalan nafas efektif dengan kriteria hasil: 1. Tidak ada bunyi nafas tambahan: ronkhi 2. Frekuensi pernafasan antara 16-20 kali permenit 1. Kaji pernafasan: bunyi nafas, kecepatan, irama dan kedalaman dan penggunaan otot akselerasi 2. Catat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa/ batuk efektif: catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis 3. Berikan pasien semi atau fowler tinggi, bantu pasien untuk batuk dan latihan nafas dalam 4. Bersihan sekret dari mulut dan trakea; penghisapan  Penurunan bunyi nafas medapat menunjukan atekektaksis. Ronkhi, mengi menunjukan akumulasi sekret, penumpukan sekret membuat penggunaan otot akselerasi pernafasan.  Pengeluaran sulit bila sekret sangat tebal, seputum berdarah kental menunjukan adanya kerusakan paru atau luka bronkhial sehingga dapat diambil intervensi lanjut.  Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernafasan, ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan meningkatkan gerakan sekret kedalam saluran nafas besar untuk dikeluarkan.  Mencegah obstruktif/aspirasi ; penghisapan
  17. 17. 2. Resiko tinggi gangguan pertukara Setelah dilakukan tidakan keperawatan pertukaran gas sesuai keperluan 5. Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali kontra indikasi 6. Kolaborasi pemberian oksigen inspirasi 7. Kolaborasi peberian obat agen mukolitik contohnya: asetilsistein 8. Kolaborasi pemberian bronkhodilator (oktrifilin, teofilin). Dan pemberian kortikosteroid (prednison) 1. Kaji dispneu, kakipneu, menurunnya bunyi nafas, dilakukan bila pasien tidak mampu mengeluarkan sekret  Pemasukan tinggi cairan membantu untuk mengencerkan sekret, membuatnya mudah dikeluarkan.  Mencegah pengeingan membran mukosa  Agen mukolitik menurunkan kekentalan dan perlengketan sekret paru untuk memudahkan pembersihan  Bronkodilator meningkatkan lumen percabangan trakebronkhial sehingga memmudahkan udara masuk, kortikosteroid berguna pada adanya keterlibatan luas dengan hipoksemia dan bila respon imflamasi mengancam hidup  Tb paru menyebabkan efek luas pada paru dari bagian
  18. 18. n gas berhubun gan dengan kerusakan membran alveoler- kapiler kembali normal dengan kriteria hasil: 1. Tidak ada dispneu 2. Menunjukan perbaikan pada ventilasi dan oksigen jaringan adekuat dengan GDA dalam rentan normal 3. Bebas dari gejala distres pernafasan peningkatan upaya pernafasan, terbatasnya ekspansi dinding dada dan kelemahan 2. Evalusi pada tingkat perubahan kesadaran, catat sianosis dan atau perubahan pada kulit, termasuk membran mukosa dan kuku 3. Tunjukan/doron g bernafas bibir selama ekshalasi, khususnya untuk pasien dengan fibrisis atau kerusakan parenkim 4. Tingkatkan tirah baring/batasi aktifitas dan bantu aktifitas perawatan diri sesuikeperluan kecil bronkhopneumoni a sampai imflamasi difus luas, nekrosis, efusi pleura dan fibrosis luas. Efek pernafasan dapat dari ringan sampai dispneu berat sampai distres pernafasan  Akumulasi sekret / pengaruh jalan nafas dapat mengganggu oksigenasi organ vital dan jaringan  Membuat tahanan melawan udara luar untuk mencegah kolaps/ penyempitan jalan nafas sehingga mebantu menyebarkan udara melalui paru dan menghilangkan / menurunkan nafas pendek.  Menurunkan konsumsi oksigen / kebutuhan selama periode penurunan pernafasan dapat menurunkan
  19. 19. 3. Perubaha n nutrisi kurang dari kebutuha n tubuh berhubun gan dengan anoreksia, mual,mun tah Setelah dilakukan tindakan keperawatan nutrisi pasien terpenuhi dengan kriteria hasil 1. Berat badan meningkat 2. anoreksi, mual, muntah tidak terjadi 3. Berat badan meningkat 4. anoreksi, mual, muntah tidak terjadi 5. Berat badan meningkat 6. anoreksi, mual, muntah tidak terjadi 5. Kolaborasi pemeriksaan BGA 6. Berikan oksigen tambahan yang sesuai 1. Catat status nutrisi, turgor kulit, berat badan, riwayat mual muntah atau diare 2. kaji makanan yang disukai dan yang tidak disukai 3. Awasi masukan makanan dan pengeluaran serta berat badan secara periodik 4. selidiki anoreksia, mual dan muntah beratnya gejala  Penurunan kandungan oksigen (PaO2) atau saturasi atau peningkatan (PaCO2) menunjukan kebutuhan untuk intervensi/ program terapi  Untuk memperbaiki hipoksemia yang dapat terjadi sekunder terhadap penurunan ventilasi permukaan alvioler paru  Berguna dala mengidentifikasi derajad masalah dan pilihan intervensi yang tepat  Membantu memberikan kebutukan sehingga terpenuhi pemasukan diit  Berguna dalam mengukur keefektifan nutrisi dan dukungan cairan  Dapat mempengaruhi pemilihan diit
  20. 20. 4. Resiko tinggi penyebara n,aktivasi ulang berhubun gan dengan kerusakan jaringan , pertahana n primer tidak adekuat, menuruny a kerja sillia Setelah dilakukan tindakan keperawatan infeksi tidak terjadi dengan kriteria hasil: 1. Mengidentifikas i intervensi untuk mencegah atau menurunkan resiko penyebab infeksi 2. Menunjukan pola hidup untuk menunjukan lingkungan yang aman 5. Dorong dan berikan periode istirahat sering 6. berikan perawatan mulut 7. beri makanan sedikit tapiu sering dengan diit tinggi protein dan karbohidrat 1. Kaji patologi penyakit dan potensial penyebaran infeksi melalui droplet udara selama batuk, bersin, meludah, tertawa. 2. Identifikasi orang lain yang beresiko tertular  Membantu menghemat energi khususnya kebutuhan metabolik meningkat saat demam Menurunkan rasa tak enak karena sisa sputum atau obat yang merangsang pusat respirasi untuk muntah  Memaksimalkan pemasukan nutrisi tanpa kelemahan yang tak perlu/ kebutuhan makanana dari makan makanan banyak dan menurunkan iritasi gaster.  Membantu pasien menyadari atau mematuhi program pengobatan untuk mencegah pengaktifan berulang.pemaha man mengenai kuman itu disebarkan keorang lain  Orang-orang yang terpajan ini perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran infeksi
  21. 21. 3. Anjurkan pada pasien untuk batuk, bersin dan dahak pada tisu dan menghindari meludah dan teknik mencuci tangan yang tepat 4. Kaji tindakan kontrol sementara contoh masker atau isolasi pernafasan 5. Awasi suhu tubuh sesuai indikasi 6. Identifikasi faktor resiko individu terhadap pengaktifan berulang tuberkolusis 7. Tekankan pentingnya agar tidak berhenti obat 8. Kaji pentingnya mengkuti dan kultur ulang secara periodik terhadap sputum untuk lamanya terapi 9. Dorong memilih  Perilaku yang diperlukan untuk mencegah penyebaran infeksi  Dapat membantu rasa terisolasi pasien dan embuang stigma sosial sehubungan dengan penyakit menular   Reaksi demam menunjukan infeksi lanjut  Pengetahuan tentang faktor ini membantu pasien untuk mengubah pola hidup dan menurunkan insiden eksaserbasi  Periode singkat berakhir 2-3 hari setelah kemoterapi awal dan resiko penyebaran pnyakit hingga sampai 3 bulan  Alat dalam pengawasan efek, keefektipan obat dan respon pasien  Untuk pertahanan
  22. 22. 5. Kurang pengetahu an mengenai kondisi, aturan tindakan dan pencegah an berhubun gan dengan kurangny a Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 30 pasien tahu tentang kondisinya dengan kriteria hasil: 1. menyatakan pemahaman proses penyakit makanan seimbang 10. Kolaborasi pemberian antiinfeksi contohnya obat utama: isoniasid (INH), etambutol (Myambutol), rifampin (RMP), 11. pirasinamid, para amino salisik, sikloserin, streptomisin 12. awasi pemeriksaan laboratorium, hasil usap sputum 1. Kaji kemampuan klien mengenai penyakitnya 2. identifikasi gejala yang harus dilaporkan ke perawat 3. jelaskan dosisi obat, frekuensi, kerja yang tubuh terhadap serangan infeksi  INH obat pilihan untuk infeksi dan pada resiko terjadi tb. Etambutol diberikan jika tidak ada komplikasi terhadap sistem syaraf pusat  Ini obat sekunder diperlukan jika infeksi resisten terhadap atau tidak toleran obat primer  Untuk mengetahui tingkat keberhasilan pengobatan  Untuk mengetahui tingkat pemahaman klien tentang penyakitnya  Dapat menunjukan kemampuan atau pengaktifan ulang penyakit atau obat yang memerlukan tidak lanjut  Meningkatkan kerja sama dalam program dan
  23. 23. informasi yang diterima diharapkan dan alasan pengobatan lama 4. kaji potensial efek samping pengobatan contoh mulut kering, konstipasi, sakit kepala 5. tekankan agar pasien tidak minum alkohol 6. anjurkan pasien agar tidak merokok 7. kaji bagaimana tb ditularkan pencegahan penghentian obat sesuai perbaikan kondisi klien  Mencegah/ menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan terapi dan peningkatan kerjasama dalam program  Kombinasi INH dan alkohol menunjukan insiden hepatitis  Dapat meningkatkan disfungsi pernafasan  Pengetahuan dapat menurunkan resiko penularan ulang dan penularan terhadap keluarga dan orang lain

×