Your SlideShare is downloading. ×
Gangguan somatoform
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Gangguan somatoform

334
views

Published on


0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
334
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
10
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Muhammad Fakhrurrozi
  • 2.    Kelompok gangguan yang ditandai oleh keluhan tentang masalah atau simtom fisik yang tidak dapat dijelaskan oleh penyebab kerusakan fisik. Bukan merupakan Malingering: kepura-puraan simtom yang bertujuan untuk mendapatkan hasil eksternal yang jelas, misalnya menghindari hukuman, mendapatkan pekerjaan, dsb. Bukan pula Gangguan Factitious/Gangguan Buatan: gangguan yang ditandai oleh pemalsuan simtom psi‟s atau fisik yang disengaja tanpa keuntungan yang jelas atau untuk mendapatkan peran sakit. Somatisasi Macam-macam Gangguan Somatoform Gangguan Konversi Hipokondriasis Gangguan Dismorfik Tubuh Somatisasi Gangguan Nyeri
  • 3.     Ditandai dengan suatu perubahan besar dalam fungsi fisik atau hilangnya fungsi fisik, meski tidak ada temuan medis yang dapat ditemukan sebagai penyebab simtom atau kemunduran fisik tersebut. Simtom-simtom tersebut tidak dibuat dengan sengaja Simtom fisik biasanya timbul dengan tiba-tiba pada situasi penuh tekanan. Misalnya tangan tentara yang tiba-tiba lumpuh saat pertempuran hebat. Beberapa simtom yang muncul al: kelumpuhan, epilepsi, masalah dengan koordinasi, kebutaan, tunnel vision (hanya bisa melihat apa yang berada tepat di depan mata), tuli, tidak bisa membaui atau kehilangan rasa pada anggota badan (anestesi).
  • 4.  Simtom yang ditemukan biasanya tidak sesuai dengan kondisi medis yang mengacu. Misalnya orang yang menjadi “tidak mampu” berdiri atau berjalan di lain pihak dapat melakukan gerakan kaki lainnya secara normal.  Biasanya menunjukkan fenomena LA BELLE INDEFERENCE (ketidakpedulian yang indah) yaitu suatu kata dalam bhs Prancis yang menggambarkan kurangnya perhatian terhadap simtom-simtom yang ada pada dirinya.
  • 5. Seorang wanita tua berusia 46 tahun dirujuk oleh psikiater untuk berkonsultasi.Suaminya mengeluhkan bahwa istrinya sering mendapatkan serangan pusing yang membuatnya kewalahan. Istrinya menggambarkan ia dilanda perasaan pusing yang berat, disertai oleh mual ringan selama 4 atau 5 malam dalam seminggu. Selama serangan, ia menceritakan bahwa ruangan di sekitarnya tampak “gemerlapan” dan ia memiliki perasaan bahwa ia melayang-layang dan tidak mampu menjaag keseimbangannya. Serangan ini biasanya terjadi pada jam 4 sore. Ia biasanya berbaring di tempat tidur dan tidak merasa baik hingga jam 7 atau 8 malam. Setelah pulih, ia biasanya biasanya istirahat sepanjang malam sambil menonton TV, sampai seringkali tertidur dan tidak ke kamarnya hingga jam 2 atau 3 malam.
  • 6. Subjek sebelumnya sudah dinyatakan sehat secara fisik oleh dokter penyakit dalam, dokter ahli neurologi dan spesialis THT. Tes toleransi glukosa (gula) membuktikan bahwa ia tidak menderita hipoglikemia (keadaan kadar gula darah rendah). Jika ditanya tentang perkawinannya, ia menggambarkan bahwa suaminya adalah seorang yang kejam, sering memerintah dan menyiksa secara verbal terhadap dirinya dan keempat anaknya. Ia bercerita, bahwa tiap suaminya pulang kerja, dirinya selalu ketakutan karena ia tahu bahwa suaminya akan berkomentar rumahnya kotor, dan makan malamnya tidak enak, sehingga tidak pernah dimakan. Sejak onset serangan itu, ia tidak mampu membuat makan malam dan selalu membeli makan malamnya. Setelah marah-marah, biasanya suaminya asyik menonton TV. Dan mereka jarang berkomunikasi. Walaupun ada masalah di antara mereka, subjek menyatakan bahwa ia sangat mencintai dan membutuhkan suaminya.
  • 7. Paling tidak terdapat satu simtom atau defisit yang melibatkan fungsi motoriknya volunter (dikerjakan sesuai dengan kehendak) atau fungsi sensoris yang menunjukkan adanya gangguan fisik. Faktor psikologis dinilai berhubungan dengan gangguan tersebut karena onset atau kambuhnya simtom fisik terkait dengan munculnya stresor psikososial atau situasi konflik. Orang tersebut tidak dengan sengaja menciptakan simtom fisik tersebut atau berpura-pura memilikinya dengan tujuan tertentu. Simtom tidak dapat dijelaskan sebagai suatu ritual budaya atau pola respons, juga tidak dapat dijelaskan dengan gangguan fisik apapun melalui landasan pengujian yang tepat. Simtom menyebabkan distres emosional yang berarti, hendaya dalam satu atau lebih area fungsi seperti fungsi sosial atau pekerjaan, atau cukup untuk menjamin perhatian medis. Simtom tidak terbatas pada keluhan nyeri atau masalah pada fungsi seksual, juga tidak dapat disebabkan oleh gangguan mental lain.
  • 8. Ciri utamanya adalah fokus atau ketakutan bahwa simtom fisik yang dialami seseorang merupakan akibat dari suatu penyakit serius yang mendasarinya, seperti kanker atau masalah jantung.  Rasa takut akan tetap ada walau telah diyakinkan secara medis bahwa ketakutannya itu tidak berdasar. -> memunculkan perilaku doctor shopping.  Tujuan doctor shopping adalah berharap ada dokter yang kompeten dan simpatik akan memperhatikan mereka, sebelum terlambat.  Penderita tidak secara sadar berpura-pura akan simtom fisiknya. 
  • 9.  Umumnya mengalami ketidaknyamanan fisik, seringkali melibatkan sistem pencernaan atau campuran antara rasa sakit dan nyeri, tapi tidak melibatkan kehilangan atau distorsi fungsi fisik.  Penderita sangat peduli dengan simtom yang muncul -> memunculkan ketakutan yang luar biasa akan efek dari simtom tersebut.  Menjadi sangat peka terhadap perubahan ringan dalam sensasi fisik seperti sedikit perubahan dalam detak jantung dan sedikit rasa nyeri.
  • 10. Penderita memiliki lebih lanjut kekhawatiran akan kesehatan, lebih banyak simtom psikiatrik dan memersepsikan kesehatan yang lebih buruk daripada orang lain.  Di masa kanak-kanak: sering sakit, sering membolos karena alasan kesehatan, mengalami trauma masa kecil seperti kekerasan seksual atau fisik. 
  • 11. Robert (38) adalah seorang ahli radiologi (ilmu kedokteran untuk melihat bagian dalam tubuh manusia menggunakan pancaran atau radiasi gelombang, baik gelombang elektromagnetik maupun gelombang mekanik). Ia baru saja pulang dari kunjungan selama 10 hari di sebuah pusat diagnostik terkenal di mana ia menjalani pengujian ekstensif untuk seluruh sistem pencernaannya. Evaluasi membuktikan tanda negatif untuk penyakit fisik apapun, namun bukannya merasa lega, ia tampak marah dan kecewa dengan penemuan tersebut. Ia telah merasa terganggu selama beberapa bulan dengan berbagai simtom fisik yang digambarkannya sebagai simtom-simtom yang berupa nyeri perut ringan, terasa “penuh”, “isi perut yang bergemuruh” dan perasaan akan “isi perut yang keras”.
  • 12. Ia menjadi yakin bahwa simtom-simtom ini disebabkan oleh kanker usus besar dan ia menjadi terbiasa untuk menguji sampel darahnya setiap minggu dan secara hati-hati memeriksakan perutnya akan “massa” yang terdapat di dalamnya saat terlentang di tempat tidur setiap beberapa hari sekali. Ia juga secara diam-diam melakukan penelitian X-ray pada dirinya sendiri di luar jam kantor. Ada sejarah getaran jantung yang tidak normal yang dideteksi saat ia berusia 13 tahun dan adik laki-lakinya meninggal karena penyakit jantung bawaan di awal masa kanak-kanak. Saat evaluasi, getaran jantungnya terbukti tidak berbahaya, ia malah mulai khawatir bahwa ada sesuatu yang lupa diperiksa.
  • 13. Ia mengembangkan ketakutan bahwa ada sesuatu yang benar-benar salah dengan jantungnya. Dan saat ketakutan tersebut benar-benar dapat dikesampingkan, hal itu tidak pernah benar-benar hilang. Sewaktu di sekolah kedokteran ia khawatir akan penyakit-penyakit yang dipelajari di kelas patologi. Sejak lulus, ia seringkali memperhatikan kesehatannya dan memiliki pola khas: menyadari keberadaan simtom tertentu, menjadi terfokus pada kemungkinan arti dari simtom tersebut dan menjalani evaluasi fisik yang terbukti negatif. Keputusannya untuk mencari konsultasi psikiatrik diawali oleh kejadian dengan anak laki-lakinya yang berusia 9 tahun. Anaknya secara tidak sengaja berjalan di dekatnya saat ia memeriksa perutnya dan bertanya,”Sekarang apalagi menurutmu, Ayah?”. Ia menangis saat bercerita tentang kejadian itu, menggambarkan persaan malu dan marahnya yang sebagian besar terhadap dirinya sendiri.
  • 14. Orang tersebut terpaku pada ketakutan memiliki penyakit serius atau pada keyakinan bahwa dirinya memiliki penyakit serius. Orang tersebut menginterpretasikan sensasi tubuh atau tandatanda fisik sebagai bukti dari penyakit fisiknya. Ketakutan terhadap suatu penyakit fisik, atau keyakinan memiliki suatu penyakit fisik yang tetap ada mesti telah diyakinkan secara medis (ket : bahwa itu tidak ada). Keterpakuan tidak ada intensitas khayalan (orang itu mengenali kemungkinan bahwa ketakutan dan keyakinan ini terlalu dibesar-besarkan atau tidak mendasar) dan tidak terbatas pada kekhawatiran akan penampilan. Keterpakuan menyebabkan distres emosional yang signifikan atau mengganggu satu atau lebih area fungsi yang penting, seperti fungsi sosial atau pekerjaan.
  • 15.       Penderita terpaku pada kerusakan fisik yang dibayangkan atau dibesar-besarkan dalam hal penampilan mereka. Mereka dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk memeriksakan diri di depan cermin dan mengambil tindakan yang ekstrem untuk mencoba memperbaiki kerusakan yang dipersepsikan. Bisa sampai melakukan operasi plastik yang tidak dibutuhkan. Atau membuang semua cermin di rumahnya agar tidak diingatkan akan „cacat‟ yang mencolok dari penampilan mereka. Mereka percaya orang lain memandang diri mereka jelek dan memiliki penampilan fisik yang tidak menarik. Bisa memunculkan perilaku kompulsif dalam rangka mengoreksi kerusakan yang dipersepsikannya.
  • 16. Bagi Claudia, sekretaris hukum yang berusia 24 tahun, sebenarnya setiap hari adalah hari buruk untuk rambutnya. Ia menjelaskan pada terapisnya,”Saat rambut saya tidak bagus, yang sepertinya terjadi setiap hari, saya merasa tidak sehat. Bisakah Anda lihat?. Sangat tidak seimbang. Bagian ini seharusnya lebih pendek dan bagian yang ini hanya terurai di sana. Orang mengira saya gila tapi saya tidak tahan seperti ini. Ini membuat saya terlihat seperti berubah bentuk menjadi jelek. Tidak apa-apa bila orang tidak bisa mengerti apa yang saya bicarakan. Saya melihatnya. Itu yang penting”. Beberapa bulan sebelumnya Claudia memiliki potongan rambut yang digambarkannya sebagai bencana. Tidak lama kemudian, ia memiliki pikiran-pikiran untuk bunuh diri. “Saya ingin menusuk diri tepat di jantung. Saya tidak tahan melihat diri saya sendiri”.
  • 17. Dalam sehari, Claudia memeriksa rambutnya di depan cermin hingga tidak terhitung banyaknya. Ia akan menghabiskan dua jam setiap pagi menata rambutnya dan tetap saja merasa tidak puas. Aktivitasnya untuk terus menerus memotong dan memeriksa rambutnya telah menjadi suatu ritual yang kompulsif. Sebagaimana yang ia sampaikan pada terapisnya,”Saya ingin berhenti menarik dan memeriksanya, tapi saya tidak bisa menahannya”. Kebiasaannya memeriksa rambut berjam-jam berdampak pada sosialisasinya dengan teman-temannya. Kadang-kadang ia akan memotong sendiri bagian-bagian rambutnya dalam usaha untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dari potongan rambutnya yang terakhir. Tetapi memotongnya sendiri secara tidak terelakkan justru membuatnya semakin buruk, menurut pandangannya. Claudia selalu mencari potongan rambut yang sempurna yang akan memperbaiki
  • 18. kekurangan yang hanya bisa dilihatnya. Beberapa tahun sebelumnya ia memiliki apa yang digambarkannya sebagai potongan rambut yang sempurna. “Potongan itu sangat tepat. Saya berada di puncak dunia. Tetapi mulai terliihat buruk saat rambut itu tumbuh”. Selamanya dalam pencarian potongan rambut yang sempurna, Claudia telah mendapat janji bertemu yang sulit didapatkan dengan seorang penata rambut terkenal di Manhattan yang kliennya mencakup para selebritis. “Orang tidak akan mengerti ide membayar orang ini $ 375 (kira2 Rp 3.750.000) untuk sebuah potongan rambut, apalagi dengan gaji seperti saya, namun mereka tidak menyadari betapa pentingnya hal ini bagi saya. Saya akan membayar berapapun yang saya bisa”. Sialnya bahkan penata rambut yang dibanggakan ini juga mengecewakannya,”Potongan rambut dengan harga $ 25 (Rp 250.000) dari penata rambut saya yang lama di Long Island lebih baik dari ini”.
  • 19. Claudia bercerita masa lalunya. “Di SMA, saya merasa wajah saya seperti piringan. Terlalu rata. Saya tidak mau difoto. Saya tidak dapat menahan diri berpikir apa yang orang lain pikirkan mengenai saya. Mereka tidak akan mengatakannya pada Anda, tapi Anda tahu. Bahkan bila mereka berkata tidak ada yang salah, itu tidak berarti apapun. Mereka hanya berbohong untuk bersikap sopan”. Claudia menceritakan bahwa ia diajarkan untuk menyamakan kecantikan fisik dengan kebahagiaan. “Saya diberi tahu bahwa untuk meraih sukses maka kamu harus menjadi cantik. Bagaimana saya bisa bahagia bila saya tampak seperti ini?”.
  • 20.  Preokupasi dengan bayangan cacat dalam penampilan. Jika ditemukan sedikit anomali tubuh, kekhawatiran orang tersebut adalah berlebihan dengan nyata.  Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lainnya.  Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya ketidakpuasan dengan bentuk tubuh dan ukuran tubuh pada anoreksia nervosa)
  • 21.         Merupakan gangguan yang melibatkan berbagai keluhan yang muncul berulang-ulang yang tidak dapat dijelaskan oleh penyebab fisik apapun. Biasanya bermula sebelum usia 30 tahun, biasanya pada saat remaja. Simtom gangguan bertahan paling tidak selama beberapa tahun. Berakibat menuntut perhatian medis. Mengalami hendaya yang berarti dalam memenuhi peran sosial atau pekerjaan. Keluhan-keluhan tampak meragukan atau dibesar-besarkan dan sering menerima perawatan medis dari sejumlah dokter terkadang pada saat yang sama. Rumusnya adalah 4 – 2 – 1 – 1 4 gejala nyeri, 2 gejala gastrointestinal(lambung-usus), 1 gejala seksual dan 1 gejala pseudoneurologis
  • 22. A. B. Riwayat banyak keluhan fisik yang dimulai sebelum usia 30 tahun yang terjadi selama periode beberapa tahun dan menyebabkan terapi yang dicari atau gangguan bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lain. Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan dengan gejala individual yang terjadi pada sembarang waktu selama perjalanan gangguan: 1. Empat gejala nyeri: riwayat nyeri yang berhubungan dengan sekurangnya 4 tempat atau fungsi yang berlainan (misalnya kepala, perut, punggung, sendi, anggota gerak, dada, rektum (ujung usus besar), selama menstruasi, selama hubungan seksual atau selama miksi (kencing) 2. Dua gejala gastrointestinal: riwayat sekurangnya 2 gejala gastrointestinal selain dari nyeri (misalnya mual, kembung, muntah selain dari selama kehamilan, diare atau intoleransi terhadap beberapa jenis makanan)
  • 23. 3. Satu gejala seksual: riwayat sekurangnya 1 gejala seksual atau reproduktif selain nyeri (misalnya indiferensi (tidak condong) seksual, disfungsi erektif atau ejakulasi, menstruasi yang tidak teratur, perdarahan menstruasi yang berlebihan, muntah sepanjang kehamilan) 4. Satu gejala pseudoneurologis: riwayat sekurangnya 1 gejala atau defisit yang mengarahkan pada kondisi neurologis yang tidak terbatas pada nyeri (misalnya gejala konversi seperti gangguan kordinasi atau keseimbangan, paralisis (kelumpuhan) setempat, sulit menelan atau benjolan di tenggorokan, afonia (kehilangan suara karena gangguan pita suara), retensi urin (tertahannya urin), halusinasi, hilangnya sensasi sentuh atau nyeri, pandangan ganda, kebutaan, ketulian, kejang, gejala disosiatif seperti amnesia atau hilangnya kesadaran selain pingsan)
  • 24. C. Salah satu dari poin 1 atau 2: 1. Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam kriteria B tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh sebuah kondisi medis umum yang dikenal atau efek langsung dari suatu zat (misalnya efek cidera, medikasi, obat atau alkohol) 2. Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkan adalah melebihi apa yang diperkirakan dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik atau temuan laboratorium D. Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau pura-pura)
  • 25. Seorang ibu berusia 29 tahun meminta penjelasan medis karena akan menjalani operasi untuk kista di payudaranya. Ia menjelaskan bahwa kista membesar dengan cepat dan sangat menyakitkan. Saat menggambarkan payudaranya, ia mengatakan “Payudaranya juga sangat besar dan sangat nyeri jika disentuh….”. Ia menderita nyeri punggung yang sangat mengganggu yang menjalar ke atas dan ke bawah tulang belakangnya dan menyebabkan tungkainya tidak dapat menopangnya sehingga ia terjatuh secara tiba-tiba. Saat membicarakan hal tersebut ia menambahkan, “Oh ada lagi! Punggung saya berderak-derak. Sakitnya sangat luar biasa sehingga mengganggu saat saya bersama anak-anak saya. Rasa sakit seperti itu membuat semua orang berubah menjadi binatang buas”. (Ia sebelumnya telah dicurigai mengalami child abuse). Ia juga mengeluhkan sesak nafas dan batuk kering yang mengganggunya.
  • 26. Riwayat medisnya dimulai pada saat menarche (haid pertama) dengan dismenorea (nyeri haid) dan menoragia (haid dengan pendarahan berlebih). Pada usia 18 tahun, ia menjalani operasi untuk suatu kemungkinan kista ovarium dan selanjutnya menjalani operasi lain untuk dugaan adhesi abdomen (adhesi: pertumbuhan bersatu bagian-bagian tubuh yang berdekatan karena radang. Abdomen: perut). Ia juga memiliki riwayat gejala saluran kemih berulang, walaupun tidak ada organisme yang jelas ditemukan. Juga memiliki hasil pemeriksaan normal untuk keluhan “tiroid yang membesar” (tiroid : kelenjar gondok).
  • 27. Pada waktu yang berbeda-beda, ia mengeluhkan mengalami kolon spastik (kejang pada usus besar), migrain dan endometriosis (keadaan terdapatnya jaringan serupa selaput lendir rahim di luar rongga rahim). Dua perkawinannya berakhir dengan perceraian. Keduanya dengan laki-laki alkoholik dan senang menyiksa. Ia telah kehilangan beberapa kali pekerjaan karena sering membolos. Selama periode saat ia merasa terburuk, ia menghabiskan waktunya di rumah. Anak-anaknya diasuh oleh saudaranya.
  • 28. Ia memiliki riwayat ketergantungan alkohol dan menyatakan bahwa ia mulai menggunakan analgesik (obat penghilang rasa nyeri) karena nyeri punggungnya dan selanjutnya selalu menggunakannya secara berlebihan. Pemeriksaan fisik pada saat kunjungannya menemukan ketidakpastian pada payudaranya, dan temuan mamografi (rontgen pada bagian payudara) adalah normal.
  • 29. Gejala utama gangguan nyeri adalah adanya nyeri pada satu atau lebih tempat yang tidak sepenuhnya disebabkan oleh kondisi medis atau neurologis non psikiatrik.  Gejala nyeri disertai oleh penderitaan emosional dan gangguan fungsional, dan gangguan memiliki hubungan sebab yang masuk akal dengan faktor psikologis.  Jenis nyeri yang dialami sangat heterogen misalnya nyeri punggung, kepala, pelvis (panggul).  Nyeri yang dialami mungkin pasca traumatik, neuropatik (penyakit syaraf), neurologis, iatrogenik (disebabkan tindakan dokter misal karena pengobatan) atau muskuloskeletal (otot) 
  • 30. Gangguan harus memiliki suatu faktor psikologis yang dianggap secara bermakna dalam gejala nyeri dan permasalahannya.  Seringkali penderita memiliki riwayat perawatan medis dan bedah yang panjang, mengunjungi banyak dokter dan meminta banyak medikasi.  Memiliki keinginan kuat untuk melakukan pembedahan  Sering mengatakan bahwa nyeri sebagai sumber dari semua kesengsaraannya dan menyangkal adanya permasalahan psikologis serta menyatakan hidup mereka bahagia kecuali nyerinya. 
  • 31. A. B. C. D. E. Nyeri pada satu atau lebih tempat anatomis merupakan pusat gambaran klinis dan cukup parah untuk memerlukan perhatian klinis. Nyeri menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lain. Faktor psikologis dianggap penting dalam onset, eksaserbasi (membuat lebih buruk/bertambah parahnya suatu penyakit), keparahan, atau bertahannya nyeri. Gejala atau defisit tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuatbuat (seperti pada gangguan buatan atau berpura-pura). Nyeri tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mood, kecemasan, atau gangguan psikotik dan tidak memenuhi kriterira dispareunia (gangguan nyeri seksual)