• Like
Arisanti chandradewi
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

Arisanti chandradewi

  • 2,012 views
Published

 

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
2,012
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
18
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. RANCANGAN TERAPI MUSIK ANGKLUNG UNTUK MENURUNKAN PENGHAYATAN PERASAAN KESEPIAN (LONELINESS) LANSIA KASUS DI PANTI WERDHA KOTAMADYA BANDUNG Oleh : Arisanti Chandra Dewi NPM : L2H 040515 TESIS Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Ujian Sidang Guna Memperoleh Gelar Magister Psikologi Program Magister Profesional Psikologi Bidang Kajian Psikologi Klinis PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER PROFESIONAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2010
  • 2. RANCANGAN TERAPI MUSIK ANGKLUNG UNTUK MENURUNKAN PENGHAYATAN PERASAAN KESEPIAN (LONELINESS) LANSIA KASUS DI PANTI WERDHA KOTAMADYA BANDUNG Oleh : Arisanti Chandra Dewi NPM : L2H 040515 TESIS Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Ujian Sidang Guna Memperoleh Gelar Magister Psikologi Program Magister Profesional Psikologi Bidang Kajian Psikologi Klinis Ini Telah disetujui oleh Tim Pembimbing pada tanggal Seperti tertera di b awah ini Bandung, Januari 2010 Prof. DR. Sawitri Supardi Sadarjoen DR. H. Ahmad Gimmy Prathama S., M.Si Ketua Tim Pembimbing Anggota Tim Pembimbing
  • 3. iv Kupersembahkan Karya kecil ini sebagai Janji Bakti-ku pada Papa (Alm), dan Mama Terima kasih atas segala kasih sayang yang telah diberikan selama ini, Semoga Allah SWT selalu menyertai kita dan menempatkan arwah Papa tercinta di sisi-Nya yang terbaik dan terindah. Amien ya Robbal Alamin Untuk Yang Tercinta Papap dan Kaka
  • 4. v SURAT PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa : 1. Karya tulis saya, tesis ini, adalah asli dan belum pernah diajukan untk mendapatkan gelar akademik magister, baik di Universitas Padjadjaran maupun di perguruan tinggi lainnya. 2. Karya tulis ini murni gagasan, rumusan, dan penelitian saya sendiri, tanpa bantuan pihak lain, kecuali arahan Tim Pembimbing. 3. Dalam karya tulis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis atau dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dengan disebutkan nama pengarang dan dicantumkan dalam daftar pustaka. 4. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila di kemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang telah diperoleh karena karya tulis ini, serta sanksi lainnya sesuai dengan norma yang berlaku di perguruan tinggi ini. Bandung, Januari 2010 Yang membuat pernyataan, (Arisanti Chandra Dewi) L2H040515
  • 5. vi ABSTRACT The aim of this research is to introduce and develop the form of musical therapy by utilizing Angklung as the tool in order to solve the psychological problem, especially the problem of loneliness on Elders who stay in three panti werdha in Kotamadya Bandung. The period of Elders is the end period of a human cycle with the characteristics of deterioration in physiological, psychological, and social interaction as well. Elders are a human group that is very prone to have loneliness. It is caused by loosing their spouse, living separately with their children, having no more friends at the same age, and the problem has become worse since they have lived in panti werdha. Basically, there are some ways to decrease the loneliness such as involving the m on social activities and listening to the music. Many people have researched the effect of music on human physiology and psychology. Music has been acknowledged as the media for therapy which then developed as musical therapy. Musical therapy consists of some stages of activities: listening, playing, creating and constructing the music or song. The scope of this research is to the stage of playing musical instrument. Musical instrument which are often used in musical therapy are modern musical instrument, while the traditional ones, such as Angklung, are seldom used. Angklung has unique timbre which is light and also has the meaning of happiness and togetherness. The lonely elders need the ambience which could create positive mood and togetherness that will eliminate sadness and loneliness. This research is true experimental which means the study of the intentional treatment by observing the effect by strictly controlling some extraneous variables. The research design used is “Before After two group design”. Statistical test used in this research is Mann Whitney and Wilcoxon difference test. The subject of this research is Elders which suffer the problem of loneliness, following the rules of UCLA Loneliness scale v.3 by Danniel Russel (1996). The result of the statistical test shows that there is a difference of loneliness level on experimental group (EG) as the subject by comparing the condition before and after the treatment of Angklung musical therapy (with significant level of 95%). This condition shows that Angklung musical therapy, by playing Angklung together, can create positive mood and increase social interaction ability of the subject, and as the result, decrease the loneliness. At the end of this research, there are some suggestions for the next research. Keyword : Loneliness, Music Therapy, and Angklung.
  • 6. vii ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk memperkenalkan dan mengembangkan bentuk terapi musik dengan menggunakan alat musik angklung dalam mengatasi permasalahan psikologis khususnya masalah kesepian (loneliness) pada lansia yang tinggal di tiga panti werdha kotamadya Bandung. Masa lansia adalah puncak dari siklus manusia yang ciri-cirinya cenderung mengalami penurunan dan kesengsaraan, baik secara fisiologis, psikologis, dan sosial. Lansia adalah kelompok yang paling rentan terhadap permasalahan kesepian (loneliness), hal ini disebabkan karena kehilangan pasangan, berpisah dengan anakanak yang semakin dewasa, kehilangan relasi atau teman sebaya, terlebih lagi bagi mereka yang dititipkan di panti werdha. Pada dasarnya terdapat beberapa cara untuk mengurangi penghayatan perasaan kesepian (loneliness), antara lain dengan aktif mengikuti kegiatan sosial dan mendengarkan musik. Musik sudah banyak diteliti dan memiliki pengaruh terhadap fungsi fisiologis dan psikologis. Musik sudah diakui dapat menjadi media dalam sebuah terapi, yang kemudian berkembang menjadi terapi musik. Terapi musik dimulai dari kegiatan mendengarkan, bermain, kemudian membuat dan mengaransemen sebuah musik atau lagu. Dalam penelitian ini hanya sampai pada tahap bermain alat musik. Alat musik yang sering digunakan dalam terapi musik adalah alat-alat musik moderen, sedangkan alat musik tradisional seperti angklung seringkali terabaikan keberadaannya. Angklung sendiri memiliki timbre yang khas yaitu ringan, selain itu secara filosofi dan perkembangannya mengandung makna dan unsur utama kegembiraan dan kebersamaan. Para lansia yang menghayati perasaan kesepian (loneliness) membutuhkan suasana yang dapat membangkitkan mood dan penuh kebersamaan sehingga mereka tidak mengalami perasaan sedih terabaikan, terasing sehingga menjadi kesepian. Penelitian ini merupakan true experimental yaitu adanya perlakuan (treatment) yang sengaja diberikan untuk melihat pengaruhnya, dengan mengontrol secara ketat extraneous variable. Rancangan yang digunakan yaitu Before After two group design. Uji statistik yang digunakan adalah uji beda Mann Whitney dan uji beda Wilcoxon. Subjek penelitian adalah para lansia yang mengalami penghayatan perasaan kesepian (loneliness) yang tinggi, dimana telah dijaring melalui UCLA Loneliness scale v.3 dari Danniel Russell (1996). Hasil uji statistik menunjukkan perbedaan antara taraf loneliness kelompok eksperimen (EG) sebelum dengan sesudah diberikan treatment (dengan taraf signifikansi 95 %). Kondisi ini memperlihatkan bahwa terapi musik angklung dengan memainkan alat musik angklung secara berkelompok dapat membuat suasana hati (mood) dan kemampuan berinteraksi para subjek penelitian meningkat sehingga menurunkan penghayatan perasaan kesepian (loneliness) karena pada alat musik angklung terdapat unsur kenyamanan, kesenangan, kebersamaan dan rekreatif saat memainkannya. Diakhir penelitian ada beberapa saran yang diajukan. Kata kunci : Perasaan Kesepian (Loneliness), Terapi Musik, dan Angklung.
  • 7. viii Kata Pengantar Assalamua’aikum Wr. Wb. Alhamdulillah, Segala Puja dan Puji syukur hanya untuk Allah SWT atas segala nikmat dan hidayah yang selama ini telah diberikan-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan tugas akhir ini. Penelitian ini disusun untuk melengkapi salah satu syarat ujian guna memperoleh gelar Magister Psikologi pada program magister profesional Psikologi bidang kajian Psikologi Klinis Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran. Penulis menyadari bahwa penyusunan tugas akhir ini tidak akan berjalan dengan baik dan lancar tanpa adanya bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tidak terkira kepada : 1. Prof. DR. Sawitri Supardi Sadarjoen, selaku ketua komisi pembimbing yang telah membimbing, mengarahkan, dan mendukung penulis dalam penyelesaian penelitian ini. 2. DR. H. Ahmad Gimmy Prathama Siswadi, M.Si., selaku anggota komisi pembimbing yang juga telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyelesaian penelitian ini. 3. Prof. DR. Hj. Juke R. Siregar, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran. 4. DR. Hj. Hendriati Agustiani. M.Si., selaku Ketua Program BKU Magister Keprofesian Psikologi Universitas Padjadjaran. 5. Drs. Amir Sjarif Bachtiar, M.Si., atas do’a dan dukungannya. 6. Bapak dan Ibu dosen Fakultas Psikologi yang telah mendidik dan memberikan bekal ilmu pengetahuan, wawasan, serta pengalaman kepada penulis, juga ibu Nani, Mbak Umi beserta seluruh staf administrasi magister yang telah banyak membantu.
  • 8. ix 7. Bapak Drs. H. Nuryana, Ketua Lembaga Lansia Indonesia Pemprov Jawa Barat yang telah membantu penulis dalam pelaksanaan penelitian ini. 8. Bapak dr. H. Djamhoer, Ketua bidang kesenian dan olahraga Lembaga Lansia Indonesia Pemprov Jawa Barat yang telah membantu penulis dalam pelaksanaan penelitian ini. 9. Bapak Drs. H. Iwa, Bagian Keuangan Lembaga Lansia Indonesia Pemprov Jawa Barat yang telah membantu penulis dalam pelaksanaan penelitian ini. 10. Bapak Sam Udjo dari Saung Angklung Udjo yang telah banyak membantu dalam penelitian ini. 11. Bapak Eddie, Pelatih Angklung STBA yang telah banyak membantu penulis dalam mengenal dan berlatih angklung, beserta rekan-rekan Gentra Seba STBA.. 12. Ibu Hj. Nia, Kepala asrama Panti Werdha Budi Pertiwi Bandung, beserta para pengurus dan petugas panti. 13. Ibu Mayor Wayan, Kepala Panti Werdha Senjarawi Bandung, Ibu Indri beserta para kandidat dan petugas panti. 14. Ibu Gina, kepala asrama Panti Werdha Asuhan Bunda Bandung, beserta para petugas panti. 15. Nenek, Kakek, Oma dan Opa, para penghuni Panti Werdha Budi Pertiwi, Panti Werdha Senjarawi, dan Panti Werdha Asuhan Bunda yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian ini. 16. Secara khusus penulis menghaturkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Mama dan Papa (Alm) tersayang yang selalu memberikan perhatian, kasih sayang, dukungan, semangat dan do’a sejak kecil hingga kapanpun. Tiada yang lebih berarti dan berharga dalam kehidupan ini selain kasih sayang dan do’a yang Mama dan Papa (Alm) curahkan selama ini. Semoga Allah menerima Arwah Papa di sisi-Nya yang terbaik, Amien.
  • 9. x 17. Rokky Irvayandi, S.T., M.M., suami tercinta yang telah memberikan warna dan mengisi sisi lain kehidupan penulis dengan memberikan semangat, dukungan, cinta dan do’a. “Thank you for your love and for all beautiful moments we’ve made together.” 18. Darriel Aqeela Devandra, anakku tercinta yang sudah menemani sejak dalam kandunganku dengan setia, mendukung, dan menjadi teman berbagi ketika penulis dalam keadaan suka maupun duka. Terima kasih sayang, mamam dan papap sayang kaka. 19. Bapak, Mamah serta Aldi, Fifi dan Raditya keponakanku tersayang, untuk semua dukungan dan do’a yang dipanjatkan sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini. 20. Tante-tanteku, Oom-oomku terutama Tante Rini dan Oom Heru atas do’a dan dukungannya, dan adik-adikku terutama Ryo, Arief dan Akbar yang selalu membuat hidup penulis penuh gejolak emosi baik canda tawa dan marah. 21. Telletubies: Dewot, Babeh, dan Daffa, Neng Ria, Ardi, Nayla dan Nazwa, Ewieh Iza dan calon babynya, Terimakasih buat Do’anya dan persahabatan kita yang indah. 22. Farida, Julian, Aulia, dan Amir, yang selalu berjuang bersama dan berbagi suka dan duka selama menyelesaikan pendidikan. 23. Prita, Ida, dan Koagouw, terima kasih untuk diskusi, masukan, dukungan dan bantuannya selama penyelesaian penulisan. 24. Teman-teman magister angkatan 3 yang sama-sama sudah berjuang dan melewati masa-masa indah bersama selama menempuh masa pendidikan. 25. Teman-teman magister jurusan klinis angkatan 2 dan 4, yang juga saling menguatkan selama penyelesaian penelitian dan penulisan ini. 26. Teman-teman co-Fasilitator dan observer, Icha, Aden, Anin, Ayu, Dinda, Ari, Vikri, Angki, Kia, Anya, Mia, Yucki, Elya, Silmi, Tantri, Mira, Septi,
  • 10. xi Muti, Lofa, Fitria, Yatni, Yani, Sani, terima kasih sudah membantu penulis sehingga terselesaikannya penelitian ini. 27. Semua pihak yang telah membantu dan memotivasi penulis selama menyelesaikan penelitian ini yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan, walaupun demikian mudah-mudahan tulisan ini dapat dimanfaatkan oleh yang membutuhkannya. Semoga Allah SWT memberikan balasan yang lebih baik atas semua bantuan dan dorongan yang telah diberikan kepada penulis. Amien ya Robbal Alamin. Wassalamu’alaikum Wr. Wb. Bandung, Januari 2010 Penulis (Arisanti Chandra Dewi)
  • 11. xii DAFTAR ISI JUDUL i PENGESAHAN ii PENGESAHAN REVISI iii KATA PERSEMBAHAN iv SURAT PERNYATAAN v ABSTRACT vi ABSTRAK vii Kata Pengantar viii Daftar Isi xii Daftar Bagan xvi Daftar Tabel xviii Daftar Gambar xix BAB I PENDAHULUAN 1 1.1. Latar Belakang Masalah 1 1.2. Rumusan Masalah 8 1.3. Maksud, tujuan dan Kegunaan Penelitian 10 BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, HIPOTESIS 12 2.1. Kajian Pustaka 12 2.1.1. Usia Lanjut 12 2.1.1.1. Definisi Masa Usia Lanjut 12 2.1.1.2. Karakteristik Usia Lanjut 13 2.1.1.3. Aspek Biologis dari Usia Lanjut 17 2.1.1.4. Aspek Psikologis dari Usia Lanjut 19 2.1.1.4.1. Penginderaan dan Persepsi 19 2.1.1.4.2. Belajar dan Memori (Daya Ingat) 20 2.1.1.4.3. Proses Belajar dan Pembelajaran pada Lansia 22
  • 12. xiii 2.1.1.4.4. Kepribadian 24 2.1.1.4.5. Keterlibatan Komunitas dan Dukungan Sosial 25 2.1.1.5. Aspek Sosiologis dari Usia Lanjut 27 2.1.1.5.1. Hubungan Keluarga 27 2.1.1.5.2. Hubungan Sosial 29 2.1.2. Gerontology 32 2.1.2.1. Definisi Gerontology 32 2.1.2.2. Kesehatan Mental Lansia 34 2.1.2.3. Perkembangan Sosio-Emosional Lansia 35 2.1.3. Kehidupan Lansia Dalam Institusi 37 2.1.4. Panti Werdha 38 2.1.4.1. Pengertian Panti Werdha 38 2.1.4.2. Tujuan Penyelenggaraan Panti Werdha 39 2.1.4.3. Pelayanan di Panti Werdha 40 2.1.5. Loneliness 41 2.1.5.1. Definisi Loneliness 41 2.1.5.1.1. Definisi Loneliness Berdasarkan Pendekatan Sosial 42 2.1.5.1.2. Definisi Loneliness Berdasarkan Pendekatan Eksistensial 2.1.5.2. Macam-Macam Penyebab Loneliness 2.1.5.2.1. Kejadian Pemicu Kesepian (Precipitating Event) 45 47 47 2.1.5.2.2. Faktor Predisposisi dan Bertahannya Gejala Kesepian 50 2.1.5.3. Karakteristik Orang-orang yang Mengalami Kesepian 54 2.1.5.4. Pengalaman dari Kondisi Kesepian 54 2.1.5.4.1. Manifestasi Afektif 54 2.1.5.4.2. Manifestasi Motivasional 55 2.1.5.4.3. Manifestasi Kognitif 56 2.1.5.4.4. Korelasi Tingkah Laku dengan Kesepian 56
  • 13. xiv 2.1.5.4.5. Konsekuensi Sosial dan Kesehatan 2.1.6. Musik 57 58 2.1.6.1. Unsur-unsur dalam Musik 2.1.7. Terapi Musik 60 60 2.1.7.1. Definisi Terapi Musik 60 2.1.7.2. Aspek Pendukung Terapi Musik 63 2.1.7.2.1. Psikobiologis Suara 63 2.1.7.2.2. Musik dan Penyembuhan 67 2.1.7.2.3. Respon Fisiologis Terhadap Musik 69 2.1.7.2.4. Respon Emosi Musikal 77 2.1.7.2.5. Musical Expression 78 2.1.7.2.6. Musical Perception 78 2.1.7.2.7. Fisiologi Emosi Musik 78 2.1.7.2.8. Musik dan Suasana Hati 80 2.1.7.2.9. Psikologi Musik dan Efek Psikologis 82 2.1.7.2.9.1. Psikologi Musik 82 2.1.7.2.9.1. Pengaruh Musik Terhadap Perubahan Psikologis 2.1.8. Angklung 83 85 2.1.8.1. Sejarah Angklung 85 2.1.8.2. Spesifikasi Angklung 89 2.1.9. Angklung dan Psikologi 2.2. Kerangka Pemikiran 95 96 2.3. Premis 104 2.4. Hipotesis 105 BAB III METODE DAN SUBYEK PENELITIAN 106 3.1. Metode Penelitian 106 3.1.1. Skema Penelitian 107
  • 14. xv 3.1.2. Variabel Penelitian 108 3.1.2.1. Independent Variable(IV) 108 3.1.2.2. Dependent Variable (DV) 109 3.2. Subyek Penelitian 111 3.2.1. Populasi Penelitian 111 3.2.2. Subjek Penelitian 111 3.3. Alat Ukur 113 3.3.1. Proses Adaptasi Alat Ukur Loneliness 114 3.3.2. Uji Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur 114 3.4. Pengukuran 115 3.5. Tahapan Penelitian 116 3.5.1. Lokasi Kegiatan Penelitian 3.6. Rancangan Penelitian 123 123 3.6.1. Rancangan Kegiatan 123 3.6.2. Rancangan Waktu, Materi, dan Pemberian Materi Penelitian 127 3.7. Analisa Data 127 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 129 4.1. Hasil Penelitian 129 4.2. Pembahasan 136 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 163 5.1. Kesimpulan 163 5.2. Saran 165 DAFTAR PUSTAKA 167 LAMPIRAN
  • 15. xvi DAFTAR BAGAN 2.1. Kerangka Pemikiran 103 3.1. Skema Penelitian 107
  • 16. xvii DAFTAR TABEL 2.1. Emosi Dasar yang Dihasilkan Berdasarkan Berbagai Karakteristik Musik 3.1. Rancangan Kegiatan Penelitian 84 123 3.2. Rancangan Kegiatan Pelaksanaan Pemberian Intervensi / Pelakuan (Treatment) 125 3.3. Rancangan Waktu dan Proses Pemberian Intervensi (Lampiran) 127 4.1. Hasil Uji Beda Mann Whitney Pre-Test antara Kelompok EG dan CG 130 4.2.Hasil Uji Beda Mann Whitney Post-Test antara Kelompok EG dan CG 131 4.3. Hasil Uji Beda Wilcoxon Pre-Test – Post-Test Skor Total Loneliness Kelompok EG 132 4.4. Hasil Uji Beda Wilcoxon Pre-Test – Post-Test Skor Total Loneliness Kelompok CG 133 4.5.Rekap Perbandingan Data Hasil Pengukuran Awal (Pre-) dan Pengukuran Akhir (Post-) Kelompok Eksperimen (EG) dan Kelompok Kontrol (CG) 136 4.6.a. Rekap Perbandingan Data Hasil Pengukuran Awal (pre-) dan Pengukuran akhir Kelompok Eksperimen (EG) 139 4.6.b. Rekap Perbandingan Data Hasil Pengukuran Awal (pre-) dan Pengukuran Akhir Kelompok Eksperimen (EG) 139
  • 17. xviii 4.7. Rekap Hasil Observasi dan Interviu Selama Kegiatan Terapi Musik Angklung 142
  • 18. xix DAFTAR GAMBAR Diagram 4.1. Gambaran Umum Kondisi Loneliness Pra- dan PascaKegiatan Terapi Musik Angklung 134 Diagram 4.1.a. Perbandingan Skor UCLA Loneliness Scale Kelompok Kontrol (CG) Pra- dan Pasca Kegiatan 134 Diagram 4.1.b. Perbandingan Skor UCLA Loneliness Scale Kelompok Eksperimen (EG) Pra- dan Pasca Kegiatan 135
  • 19. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Masa lanjut usia oleh sebagian besar orang dianggap sebagai masa penurunan yang tidak dapat dihindari oleh setiap manusia. Pada masa ini terjadi penurunan kondisi fisiologis, psikologis dan sosial, yang jika tidak dapat dilalui dengan baik maka akan muncul hambatan-hambatan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Ciriciri usia lanjut yang cenderung menuju pada kesengsaraan serta adanya penyesuaian diri yang buruk, membuat banyak orang merasa takut untuk menghadapi masa tuanya, ini terjadi khususnya dalam kebudayaan Amerika (Hurlock, 1980). Orang-orang pada masa usia lanjut seringkali membutuhkan bantuan dan dukungan dari orang lain, khususnya dari orang-orang terdekatnya seperti keluarga, sahabat dan kelompok sosial seusianya. Fenomena yang banyak terjadi saat ini mereka seringkali bukan merasa terbantu ataupun didukung melainkan lebih sering merasa terabaikan keberadaannya, ini dapat menimbulkan perasaan tertentu dalam diri mereka seperti sedih, kesepian, tersisihkan, dan marah. Para lansia dianggap tidak memiliki kemampuan dan keterampilan apapun diusianya yang sudah lanjut. Bahkan mereka oleh sebagian besar orang dianggap menyusahkan, membebani, dan merepotkan orang lain. Anggapan ini semakin membuat orang-orang banyak yang cenderung menjauhkan diri dari keberadaan dan kehidupan orang lanjut usia.
  • 20. 2 Masa tua seharusnya menjadi masa yang paling membahagiakan, karena merupakan fase paling puncak dari tahapan kehidupan setiap manusia. Pada masa ini, seseorang seharusnya hanya tinggal menikmati kehidupan setelah selama masa produktifnya mereka membangun karir dan kehidupan mereka baik secara ekonomi maupun kehidupan berkeluarga. Namun pada kenyataannya yang terjadi justru kondisi sebaliknya, dimana mereka justru merasa terbuang, tersisihkan dan terabaikan dari kehidupan mereka khususnya dari anak dan cucunya. Mereka justru rentan terhadap perasaan kesepian (loneliness) di masa tuanya. Perasaan ini muncul akibat kematian pasangan, berkurangnya minat sosial dan kesibukan yang dimiliki oleh para anggota keluarga lainnya sehingga seringkali meninggalkan para lansia sendirian tanpa ada yang menemani. Kondisi ini membuat beberapa orang lebih memilih menitipkan para lansia di panti werdha dengan pertimbangan agar para lansia dapat beraktivitas dan bersosialisasi disertai pengawasan dari pihak panti. Penitipan para lansia di panti bukannya membantu mereka untuk lebih merasa bahagia tapi memunculkan permasalahan baru pada diri para lansia tersebut yaitu timbul perasaan terbuang dan perasaan kesepian, terutama mereka yang masuk ke panti bukan keinginan sendiri. Bagi mereka yang masuk ke panti secara sukarela tidak merasa dibuang namun perasaan kesepian tetap mereka rasakan. Tingkah laku yang muncul dari para lansia di panti werdha tersebut antara lain seringkali menyendiri, melamun, duduk bersama-sama tapi saling diam dan sibuk dengan pikiran serta perasaan masing-masing, bila ada kunjungan meskipun bukan keluarga mereka merasa senang dan berusaha mempersiapkan diri dan berdandan untuk tampil
  • 21. 3 sebaik mungkin. Mereka akan aktif mendekati dan mengajak berbicara (ngobrol) dengan orang-orang yang melakukan kunjungan. Mereka mengatakan bahwa mereka pasrah dengan keadaan yang dialami saat ini namun mereka sering merasa kesepian meskipun mereka tinggal di panti dengan teman-teman yang sebaya mereka. (Hasil wawancara dan observasi peneliti terhadap para penghuni di empat panti kotamadya Bandung, 2007). Berbagai cara sudah mulai dilakukan untuk mengatasi masalah kesepian yang dialami oleh para lanjut usia terutama bagi mereka yang tinggal di panti werdha, seperti memelihara binatang, keterampilan tangan, berkebun, aktivitas keagamaan dan melalui media musik yang diterapkan dan diselenggarakan oleh pihak panti. Berbagai cara yang dilakukan untuk mengatasi masalah baik fisik maupun psikologis tersebut lebih sering dikenal dengan istilah terapi. Pada dasarnya terapi merupakan prosedur untuk menyembuhkan atau meringankan suatu penyakit. Terapi sendiri mampu membantu seseorang dalam mengatasi penyakit atau gangguan yang diderita sehingga yang bersangkutan dapat berfungsi lagi secara optimal baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Media terapi ada berbagai macam seperti binatang, aktivitas fisik, air, dan musik. Musik sendiri mulai lebih dikembangkan dan diterapkan sebagai alat terapi sejak National Association for Music Therapy mendefinisikan terapi musik pada tahun 1960. Pengembangan serta penerapan ini dilakukan karena unsur-unsur yang terkandung dalam musik selaras dengan unsur-unsur ritmis dalam tubuh manusia misalkan denyut jantung, sistem pernafasan, tekanan darah dan lain sebagainya.
  • 22. 4 Mendengarkan musik dapat memberikan efek secara fisiologis maupun psikologis. Musik ketika didengarkan, mengantarkan gelombang listrik yang ada di otak pendengar sehingga secara fisiologis terdapat perubahan ritme denyut jantung dan tekanan darah sesuai dengan frekuensi, tempo, dan volumenya (Wikipedia, 2005). Selain itu, aktivitas mendengarkan musik dapat pula memberikan efek secara psikologis seperti membuat seseorang merasa nyaman, bahagia, segar, dan tenang. Bila aktivitas mendengarkan disertai dengan bermain alat musik maka seseorang tersebut juga akan merasakan suatu kesenangan, meningkatkan kemampuan sosialisasi dan komunikasi terutama bila bermain musik dilakukan secara bersamasama. (Djohan, 2006). Menurut Djohan (2003), banyak penelitian tentang pengaruh musik dimana dengan mendengarkan musik dapat menimbulkan emosi yang dalam istilah terapi aktivitas ini dikatakan sebagai aktifnya berbagai kognisi dan perasaan. Dilihat dari aspek kognitif dan aktivitas otak bisa dikatakan bahwa setiap orang yang sehat dapat bereaksi terhadap musik baik secara fisik maupun psikis. Sementara dalam penelitian neurologis dikatakan bahwa separuh otak manusia memiliki tugas untuk memproses berbagai aspek pengalaman musik (Kaufman & Frisina, 1992 dalam Djohan, 2003). Sedangkan dalam penelitian tentang emosi sebagai respon terhadap musik menjelaskan bahwa musik dapat meningkatkan intensitas emosi dan akan lebih akurat bila ‘emosi musik’ itu dijelaskan sebagai suasana hati (mood), pengalaman dan perasaan yang dipengaruhi akibat mendengar musik (Sloboda, 1991 dalam Djohan, 2003).
  • 23. 5 Terapi musik umumnya menggunakan metoda mendengarkan musik namun adapula beberapa kasus lain yang awalnya dimulai dari mendengarkan hingga menggunakan alat musik untuk dimainkan terutama bagi mereka yang mengalami keterbatasan fisik dan masalah psikologis lainnya hingga menciptakan dan mengaransemen sebuah musik atau lagu (Don Campbell, 2002). Dalam beberapa kasus tersebut alat musik yang digunakan seringkali alat musik dari jenis musik klasik seperti piano, biola, harpa, bass dan genderang, jarang sekali menggunakan alat musik tradisional terutama tradisional dari bangsa kita sendiri yaitu Indonesia (Djohan, 2006). Jarangnya penggunaan alat musik tradisional bangsa Indonesia dalam terapi musik menimbulkan suatu pertanyaan dan pemikiran tersendiri bagi peneliti. Asumsi yang muncul dari peneliti berkenaan dengan jarangnya penggunaan alat musik tradisional Indonesia yaitu kurangnya sosialisasi, namun pada dasarnya setiap alat musik dapat digunakan untuk media terapi musik, selama memenuhi kaidah-kaidah dari music therapy dan dapat disesuaikan dengan permasalahan yang dialami oleh pasien atau klien. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Djohan (2007) bahwa setiap alat musik baik itu yang moderen maupun tradisional memiliki warna musik masingmasing yang bersifat khas dan berbeda satu sama lain serta dapat digunakan dalam terapi secara psikologi. Setiap bunyi yang dihasilkan suatu alat musik maupun berbagai macam alat musik dapat menjadi sugesti tertentu yang dihayati berbeda untuk setiap individu. Saat ini mulai dikembangkan alat musik tradisional untuk
  • 24. 6 digunakan sebagai kajian terapi musik, seperti gamelan, dan barok. (penelitian Djohan, 2007, unpublised research) Penelitian ini akan mengangkat musik sebagai bentuk terapi dengan menggunakan alat musik tradisional berupa angklung yang merupakan alat musik tradisional asli Indonesia tepatnya dari daerah Jawa Barat, karena angklung sedang menjadi perbincangan hangat dimulai dengan banyaknya seminar-seminar yang membahas mengenai kesenian angklung sebagai alat musik khas Jawa Barat yang disampaikan oleh beberapa pemerhati kesenian tradisional Jawa Barat seperti Bapak Obby A. R. Wiramiharja, Masyarakat Musik Angklung (MMA), serta sebuah pusat kesenian sunda dan kerajinan angklung yang lebih dikenal sebagai saung angklung Udjo, selain itu angklung sudah dimainkan dimana-mana bahkan mengglobal sampai ke mancanegara. Pembicaraan mengenai angklung yang terhangat adalah saat negara tetangga yaitu Malaysia berusaha mematenkan bahwa angklung merupakan alat musik yang berasal dari negara mereka. Padahal keberadaan angklung sudah ada sejak jaman kerajaan Sunda atau kerajaan Pasundan sebelum abad 15 yang digunakan untuk upacara adat dalam rangka menghormati keberadaan Dewi Sri atau Dewi Padi. Angklung dimainkan secara bersama-sama oleh para petani sebagai persembahan terhadap Dewi Sri. Adanya mitos ini dapat dikatakan bahwa angklung merupakan refleksi dari kehidupan masyarakat petani dimana dapat memberikan semangat dan kegembiraan bagi para petani untuk terus bercocok tanam (P4ST UPI, 2003). Filosofi yang ada dalam angklung di atas dapat dianalogikan pada tubuh seorang manusia, dimana dengan adanya refleksi bahwa angklung dapat memberikan kesenangan dan
  • 25. 7 menambah semangat para petani diharapkan dapat pula dirasakan oleh manusia secara keseluruhan. Filosofi angklung yang merefleksikan keadaan yang penuh kesenangan dan menambah semangat serta efek warna suara yang dihasilkan oleh angklung belum terbukti secara empiris, sehingga masih perlu diadakan suatu kajian ilmiah terutama dalam bentuk kajian yang berpengaruh secara psikologis pada setiap diri individu. Angklung telah dikembangkan oleh bapak Daeng Sutigna dengan mottonya untuk angklung adalah 5 M: Murah, Mudah, Menarik, Massal, dan Mendidik (Obby A R. Wiramihardja, 1989). Berdasarkan motto tersebut maka diharapkan siapapun termasuk para lansia ataupun orang-orang yang mengalami keterbatasan tidak akan mengalami kesulitan untuk memainkannya. Mereka hanya perlu menggoyangkan angklung dengan menggunakan sedikit energi yang dikeluarkan tanpa memerlukan bakat khusus (talenta) di bidang musik, namun hasil yang dirasakan dapat optimal dan memiliki harmonisasi nada yang indah. Selain itu, mereka juga tidak akan merasa malu karena mereka cenderung akan memainkan angklung secara bersama-sama sehingga diharapkan dapat memotivasi mereka untuk bermain dan berlatih, serta menambah kesenangan dan kegembiraan ketika mendengarkan maupun bermain angklung. Selain itu, dengan bermain angklung secara bersama-sama diharapkan dapat pula menambah kemampuan komunikasi, kemampuan sosialisasi, rasa kepercayaan diri, semangat hidup dan peningkatan penghargaan terhadap diri sendiri bahwa diri mereka masih mampu melakukannya, masih mampu untuk berkarya dan menunjukkan keterampilan mereka, karena pada dasarnya lansia terutama yang
  • 26. 8 mengalami penghayatan perasaan kesepian (loneliness) membutuhkan kebersamaan dengan orang lain. Pada kenyataannya, di panti jompo Sandbühl, Schlieren Swiss, angklung sudah sepuluh (10) tahun lebih digunakan sebagai terapi untuk melatih gerakan tangan para lansia yang sudah tidak terkontrol atau sulit untuk dikontrol. Hal ini menjadi suatu hal yang ironis, dimana angklung yang merupakan alat musik tradisional Jawa barat Indonesia lebih dahulu digunakan di luar negeri sebagai alat terapi dibandingkan oleh kita sendiri sebagai negara asalnya. Namun, hal ini semakin memperkuat motivasi peneliti untuk meneliti lebih lanjut mengenai angklung yang digunakan sebagai bentuk terapi musik untuk mengatasi permasalahan psikologis yaitu kesepian (loneliness). 1.2. Rumusan Masalah Periode lanjut usia adalah periode yang rentan mengalami kesepian yang disebabkan karena kehilangan pasangan, berpisah dengan anak-anak yang semakin dewasa, kehilangan relasi dengan teman sebaya. Hasil wawancara dan observasi peneliti terhadap penghuni yang tinggal di empat panti kotamadya Bandung, ditunjang dengan hasil liputan wawancara yang dilakukan oleh media Pikiran Rakyat dan beberapa hasil penelitian terdahulu, sebagian besar penghuni panti werdha mengalami perasaan kesepian. Tingkah laku yang muncul seperti murung, sedih, melamun, malas berbaur dengan teman-teman di panti, namun ketika menerima kunjungan maka mereka sangat antusias untuk menyambut para tamu.
  • 27. 9 Pada dasarnya banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi perasaan kesepian, misalkan meningkatkan aktivitas pertemanan, mengerjakan hobi, memelihara binatang peliharaan, aktivitas keagamaan dan mendengarkan musik dari radio atau televisi. Musik sendiri sudah banyak diteliti dan memiliki pengaruh terhadap fungsi-fungsi fisiologis, psikologis serta peningkatan suasana hati (mood). Penelitian-penelitian terdahulu dari terapi musik lebih banyak menggunakan alat musik dari luar negeri yang lebih bersifat klasik atau moderen, sehingga seringkali membuat alat musik tradisional terlupakan. Pemikiran peneliti, pada dasarnya semua alat musik dapat digunakan untuk menjadi bagian dari terapi musik, sehingga alat tradisional juga dapat dijadikan media dalam terapi musik termasuk angklung. Berdasarkan pemikiran peneliti di atas, angklung sebagai alat musik tradisional diharapkan dapat menjadi salah satu kajian dalam terapi musik. Motto angklung yang dikembangkan oleh Bapak Daeng Soetigna juga menambah nilai dasar dari angklung untuk dapat digunakan sebagai alat terapi musik. Oleh karena itu, pertanyaan pada penelitian ini adalah : “Apakah terapi musik angklung dapat berperan untuk menurunkan perasaan kesepian pada orang lanjut usia yang tinggal di panti werdha?” 1.3. Maksud, Tujuan dan Kegunaan Penelitian
  • 28. 10 Maksud dari penelitian ini adalah mengangkat alat musik angklung sebagai bagian dari kajian terapi musik yang dapat digunakan untuk kepentingan terapi dalam bidang psikologi khususnya penurunan perasaan kesepian pada orang lanjut usia. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat pengaruh pemberian terapi musik angklung untuk mengatasi masalah perasaan kesepian (loneliness) yang dialami para lanjut usia di Panti Werdha yaitu dengan mendapatkan data empiris untuk mengembangkan bentuk intervensi metode terapi musik dengan menggunakan alat musik angklung. Kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini adalah : a. Aspek praktis : rancangan terapi musik dengan menggunakan alat musik angklung dapat digunakan sebagai keperluan terapi terutama untuk penurunan perasaan kesepian pada orang lanjut usia. b. Aspek teoritis : dapat memberikan sumbangan bagi pengembangan terapi khususnya terapi musik dengan menggunakan angklung sebagai alat musik tradisional asli dari daerah Jawa Barat Indonesia, sehingga selanjutnya dapat menjadi suatu kajian preventif terhadap permasalahan loneliness. c. Aspek edukatif : hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi penelitian lain dalam mengembangkan rancangan intervensi psikologis berupa terapi musik dengan menggunakan angklung sebagai alat musik tradisional asli dari daerah Jawa Barat Indonesia khususnya dalam konteks
  • 29. 11 penurunan perasaan kesepian pada orang lanjut usia terutama yang tinggal di panti werdha.
  • 30. 12 BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, HIPOTESIS 2.1. Kajian Pustaka 2.1.1. Usia Lanjut 2.1.1.1. Definisi Usia Lanjut Psikologi perkembangan biasanya mengacu pada perbedaan organisme sejalan dengan usia kematangan fisik, dan usia lanjut menunjuk pada perubahan-perubahan atau diferensiasi yang terjadi setelah usia kematangan fisik (Birren & Schaie, 1977). Selain itu, terdapat beberapa definisi mengenai usia lanjut, salah satunya adalah yang dikemukakan oleh Handler (1960; dalam Birren & schaie, 1977:4) yaitu usia lanjut adalah deteriorisasi atau kemunduran pada organisme yang matang sebagai akibat dari ketergantungan pada waktu, perubahan-perubahan hakiki yang secara esensial tidak dapat dikembalikan, yang terjadi pada semua anggota dari suatu spesies, sedemikian rupa sejalan dengan berlalunya waktu, mereka menjadi semakin tidak dapat mengatasi tekanan-tekanan lingkungan, sehingga meningkatkan kemungkinan kematian. Birren & Schaie (1977) menyatakan bahwa usia lanjut menunjuk pada perubahan yang teratur yang terjadi pada organisme representatif yang matang secara genetis, yang hidup di bawah kondisi lingkungan yang representatif sejalan dengan kelanjutan usia kronologis mereka. Selanjutnya uraian tentang usia lanjut akan dibagi menjadi 3 aspek yaitu biologis, psikologis, dan sosiologis.
  • 31. 13 2.1.1.2. Karakteristik Usia Lanjut Usia lanjut merupakan periode penutup dalam rentang kehidupan seseorang. Menurut Hurlock (1980), biasanya usia 60 tahun dipandang sebagai garis pemisah antara usia madya (pertengahan) dan usia lanjut, walaupun telah disadari bahwa usia kronologis merupakan kriteria yang kurang baik dalam menandai permulaan usia lanjut karena perbedaan tertentu di antara individu-individu dalam memulai periode usia lanjut mereka. Menurut Kalish (1977), cara lain untuk mengetahui seseorang telah lanjut usia adalah dengan melihat perubahan penampilan fisik, kemampuan kognitif, peran sosial, kesehatan, dan aspek-aspek psikologis tertentu (Turner & Helms, 1987:433). Ada beberapa ahli yang membagi usia lanjut ke dalam beberapa tahap. Menurut Hurlock (1980), masa tua dibagi dalam dua tahap, yaitu: 1. Early old-age (usia 60 - 70 tahun) 2. Advanced old-age (mulai usia 70 tahun ke atas) Burnside (1979), membagi usia lanjut dalam tahap-tahap sebagai berikut: l. Young-old ( usia 60 - 69 tahun) Merupakan masa transisi utama, karena kebanyakan lansia harus beradaptasi dengan struktur peran yang baru sebagai usaha untuk mengatasi berbagai kehilangan yang terjadi pada dekade ini, seperti penurunan pendapatan, teman mulai berkurang, dan kekuatan fisik mulai menurun.
  • 32. 14 2. Middle age-old (usia 70 - 79 tahun) Ditandai dengan berbagai kehilangan dan penyakit, teman dan keluarga semakin banyak yang meninggal. Selain itu, partisipasi dalam masyarakat makin berkurang, masalah kesehatan juga sangat terasa. Ada penurunan aktivitas seksual, yang disebabkan oleh kematian pasangan hidup. 3. Old-old (usia 80 -89 tahun) Lansia akan mengalami kesulitan dalam beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungan. Mereka membutuhkan bantuan untuk mempertahankan kontak sosial dan budaya. 4. Very old-old (usia 90 -99 tahun) Masalah kesehatan akan semakin menjadi-jadi. Bila krisis-krisis pada tahaptahap sebelumnya dapat diatasi dengan baik, maka dekade sembilan puluhan ini dapat memberikan kebahagiaan, kegembiraan, dan kepuasan. Berkaitan dengan bervariasinya kriteria usia lanjut, Havighurst (1957) mengungkapkan bahwa tak ada pembatasan usia lanjut yang pasti, peran sosial lansia yang lebih menentukan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pada Sidang Umum tentang Lanjut Usia tahun 1991 menetapkan kriteria usia lanjut adalah 60 tahun ke atas, dan hal ini berlaku secara internasional. Sama seperti pada tahap-tahap usia lainnya, usia lanjut juga memiliki tugastugas perkembangan, yang menurut Duval (1971, dalam Pikunas, 1976: 366) adalah sebagai berikut: 1. Menentukan tempat tinggal yang memuaskan untuk menghabiskan masa tua.
  • 33. 15 2. Menyesuaikan diri dengan uang pensiun yang diperolehnya. 3. Mengukuhkan kegiatan rutin rumah tangga yang memuaskan. 4. Memelihara hubungan dengan pasangan hidup. 5. Menghadapi kematian diri sendiri atau mempersiapkan diri hidup tanpa pasangan. 6. Memelihara hubungan dengan anak dan cucu. 7. Memelihara hubungan dengan kerabat atau sanak keluarga. 8. Memelihara hubungan dengan lingkungan sekitar. 9. Menemukan makna atau arti hidup. Usia lanjut juga dikatakan sebagai suatu periode kemunduran. Manusia selalu berubah secara konstan, tidak statis. Selama bagian awal kehidupan seseorang, terjadi perubahan-perubahan yang sifatnya evolusional, dalam arti bahwa individu selalu menuju pada kedewasaan dan keberfungsian. Namun pada bagian usia selanjutnya, mereka tidak evolusional lagi dan perubahan tersebut dikenal dengan istilah ‘menua’, yang mempengaruhi struktur fisik maupun mental. Dalam periode usia lanjut, terjadi kemunduran baik fisik maupun mental secara perlahan dan bertahap, yang prosesnya disebut sebagai senescence, yaitu masa proses menjadi tua. Seseorang akan menjadi semakin tua pada usia lima puluhan, pada awal atau akhir usia enampuluhan, tergantung pada laju kemunduran fisik dan mentalnya. Kemunduran fisik dan mental ini membawa juga perubahan minat dan keinginan pada lansia. Minat tersebut antara lain meliputi minat terhadap diri sendiri, minat terhadap penampilan, minat untuk berekreasi, minat untuk melakukan kontak sosial
  • 34. 16 (Hurlock, 1980). Orang akan menjadi semakin dikuasai oleh dirinya sendiri apabila dirinya bertambah tua, dimana mereka lebih banyak berpikir tentang dirinya sendiri daripada orang lain dan kurang memperhatikan keinginan atau kehendak orang lain. Lansia juga cenderung untuk mengeluh tentang kesehatan dan suka membesarbesarkan penyakit ringan yang dideritanya. Lansia juga tampak begitu dikuasai oleh dirinya sendiri, sehingga mereka tidak habis-habisnya menceritakan pengalaman masa lalunya setiap saat, berharap untuk dilayani dan selalu ingin menjadi pusat perhatian. Banyak lansia tetap menganggap penting penampilan, tetapi banyak juga yang menunjukkan sikap tidak perduli terhadap penampilannya. Ada beberapa penjelasan tentang menurunnya keinginan untuk memperhatikan penampilannya. Semakin aktif seseorang dengan kegiatan sosial, semakin terangsang mereka untuk merawat diri agar penampilannya lebih menarik. Sebaliknya, orang yang mengundurkan diri dari kegiatan sosial, mempunyai motivasi yang lebih rendah dalam menjaga dan merawat penampilan tubuhnya. Status ekonomi dan tempat tinggal juga mempengaruhi minat lansia dalam memperhatikan penampilan. Status ekonomi yang rendah akan membuat lansia lebih memprioritaskan biaya hidupnya untuk kebutuhan sehari-hari. Demikian juga lansia yang tinggal sendiri mempunyai minat yang lebih rendah untuk menjaga penampilannya bila dibandingkan dengan lansia yang tinggal dengan pasangan hidupnya atau dengan anak dan cucunya.
  • 35. 17 2.1.1.3. Aspek Biologis dari Usia Lanjut Usia lanjut biasanya menunjuk kemunduran pada tubuh dan tingkah laku yang berkaitan dengan umur (Perlmutter & Hall, 1985). Perubahan-perubahan biologis yang terkait dengan normal aging terjadi secara bertahap dan kumulatif. Pada proses menua, tubuh kehilangan kemampuan untuk memperbaiki kerusakan sel-sel, organorgan, dan jaringan, sehingga akhirnya terjadi kerusakan (breakdown) dalam integrasi sistem tubuh (Shock, 1977b; dalam Perlmutter & Hall, 1985:82). Saat seseorang memasuki tahap biologis terakhir dalam hidupnya, kemampuannya untuk beradaptasi dengan tantangan lingkungan berkurang, sehingga mengurangi kesempatan mereka untuk bertahan (Rockstein & Sussman, 1979; dalam Perlmutter & Hall, 1985:68). Proses aging (menua) lebih lanjut diuraikan dalam dua macam proses, yaitu primary aging dan secondary aging. Primary aging yang juga dikenal sebagai normal aging, terjadi pada setiap individu. Sifatnya universal dan tidak bisa dihindarkan, terdiri dari perubahan gradual dan terkait dengan usia, yang bisa diamati pada setiap anggota spesies. Primary aging ini terjadi lebih awal dalam kehidupan dan mempengaruhi semua sistem tubuh. Tanda-tanda primary aging yang terlihat antara lain: rambut yang mulai memutih dan jarang, bercak-bercak pigmentasi di balik lengan, melambannya gerakan, berkurangnya penglihatan dan pendengaran. Respons terhadap suhu mulai melamban. Efektivitas sistem kekebalan untuk melindungi tubuh dari infeksi semakin menurun. Pemulihan akibat pengerahan tenaga fisik membutuhkan waktu lebih lama. Terdapat pula perbedaan tingkat kerentanan terhadap penyakit yang dipengaruhi secara genetis.
  • 36. 18 Secondary aging terjadi pada sebagian besar orang, tapi tidak universal dan dapat dihindarkan. Karena perubahan-perubahan yang diasosiasikan dengan secondary aging berkorelasi dengan usia kronologis, maka perubahan yang terjadi sering dianggap sebagai hal yang tidak bisa dihindarkan pada proses primary aging. Secondary aging adalah hasil dari penyakit, kurangnya latihan (disuse), atau penyalahgunaan (abuse). Pada lansia, hubungan antara umur dengan penyakit adalah sangat kuat, hal ini dapat dilihat dari hampir 85 % individu di atas 65 tahun memiliki sekurangnya satu penyakit kronis dan sekitar 50 % mengatakan bahwa aktivitas normal mereka dalam beberapa hal dibatasi oleh kondisi mereka (Shanas & Maddox, 1976; dalam Perlmutter & Hall, 1985:70). Selain penyakit kronis yang hanya bisa dikontrol dan tidak bisa disembuhkan, lansia juga sering mempunyai masalah dengan penyakit-penyakit akut. Disuse dapat menyebabkan secondary aging pada semua bagian sistem tubuh. Kurangnya latihan dapat menyebabkan otot atropi (berhenti pertumbuhannya) dan menjadi kaku. Banyak lansia tidak melakukan aktivitas atau olah raga karena mereka berpendapat tidak mampu untuk itu dan karena mereka berpikir bahwa latihan itu tidak baik untuk mereka. Padahal, dengan tidak menggunakan tubuh mereka, efek secondary aging menjadi lebih cepat. Penyalahgunaan (abuse) adalah penyebab ketiga dari secondary aging. Bentuk yang jelas dari penyalahgunaan yang membawa kerusakan adalah merokok, minum minuman beralkohol, terlalu banyak makan, dan kurang gizi. Perlakuan yang tidak baik terhadap tubuh akan membuat tubuh semakin rentan terkena penyakit,
  • 37. 19 seperti kanker, serangan jantung, stroke, hipertensi, diabetes, dan penyakit-penyakit lainnya. 2.1.1.4. Aspek Psikologis dari Usia Lanjut 2.1.1.4.1. Penginderaan dan Persepsi Sejalan dengan meningkatnya usia, sistem penginderaan secara perlahan menjadi kurang sensitif terhadap stimulus dari lingkungan, sehingga dapat membatasi pengetahuan tentang dunia dan terkadang mengganggu kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Woodruff (1983; dalam Perlmutter & Hall, 1985: 182) menyatakan bahwa jika dibandingkan dengan orang muda, orang usia lanjut berada pada kondisi deprivasi penginderaan. Kondisi ini bertanggung jawab atas terjadinya disorientasi dan kebingungan, bila tidak terdapat kerusakan organis pada otak. Pada lansia terjadi perubahan-perubahan dalam penginderaan, namun yang penting untuk dikemukakan di sini adalah kemunduran dalam penglihatan dan pendengaran. Akibat menurunnya kemampuan organ mata, akomodasi mata menjadi kurang efisien dan fungsi indera visual mengalami kemunduran. Orang usia lanjut menjadi kurang peka terhadap warna dan mengalami kerusakan persepsi kedalaman. Sejalan dengan bertambahnya usia, pemrosesan informasi visual menjadi lamban, dan muncul stimulus persistence (Botwinick, 1973; dalam Perlmutter & Hall, 1985: 186) yang ditampakkan oleh perubahan dalam sensitivitas terhadap kedipan.
  • 38. 20 Kehilangan kemampuan pendengaran berkembang secara gradual sejalan dengan usia. Perubahan saraf dapat merusak diskriminasi pengucapan, dan tinnitus (suara dering, deru, atau dengungan yang persisten di telinga) mungkin juga terdapat pada problem pendengaran lansia. Kesulitan pendengaran memungkinkan berkembangnya simptom-simptom paranoid, atau seorang lansia menjadi terisolasi secara sosial. Proses auditory yang lambat tampaknya menyebabkan ketidakmampuan untuk membedakan bunyi ucapan. Meningkatkan intensitas ucapan belum tentu mengatasi masalah dan stress akan semakin mengurangi kemampuan tersebut. Berkurangnya fungsi penginderaan mungkin merupakan kehilangan kemampuan (yang terkait dengan penuaan) yang sifatnya hampir universal. Bagaimanapun, beberapa orang menunjukkan hanya sedikit kerusakan penginderaan walaupun telah berusia lanjut. 2.1.1.4.2. Belajar dan Memory (Daya Ingat) Semua pemfungsian kognitif dapat dimasukkan dalam istilah pemrosesan informasi, dimana individu mengambil informasi dari lingkungan, kemudian memanipulasi, menyimpan, mengklasifikasi, dan mendapatkannya kembali. Dengan proses belajar dan mengingat, informasi ditransfer di dalam sistem, sehingga sulit untuk memisahkan kedua proses tersebut. Meskipun penuaan biologis terlibat dalam belajar dan memori, faktor-faktor lain juga penting, termasuk perbedaan
  • 39. 21 pemfungsian kognitif yang didapat dari situasi kehidupan, penurunan ketrampilan kognitif, dan depresi. Tingkat penurunan dalam keterampilan belajar dan usia dimana hal itu dimulai tidak diketahui. Pengkondisian klasikal tampaknya memerlukan waktu lebih lama dan respons mungkin melemah pada orang dewasa di atas 60 tahun. Pengkondisian operant tampaknya efektif pada orang dewasa usia berapa pun. Lansia dapat mempelajari keterampilan kognitif walaupun keterampilan mereka mengalami deterioriasi karena kurangnya latihan atau kurangnya motivasi. Faktor-faktor yang memberi kontribusi pada perbedaan usia dalam studi tentang belajar adalah motivasi, kewaspadaan lansia, distrakbilitas, dan interferensi retroaktif atau proaktif. Sistem memori meliputi sensory memory, yaitu tempat informasi lingkungan didaftarkan secara cepat; short term memory, yaitu tempat informasi disimpan dalam kesadaran; dan long term memory, yaitu tempat ingatan, pengetahuan, dan pengalaman lampau disimpan. Dalam short term memory, yaitu tempat informasi diatur untuk pengkodean dalam long term memory, kecepatan dan fleksibilitas menurun seiring usia. Dalam long term memory, informasi disimpan dalam bentuk ingatan episodik atau semantik, dan penyimpanan ini tidak dipengaruhi oleh penuaan. Sejalan dengan usia, terdapat kesulitan untuk mendapatkan kembali ingatan episodik, tetapi recall ingatan semantik maupun recognition tidak mengalami penurunan berarti. Pengkodean juga menunjukkan masalah bagi lansia yang disebabkan oleh defisiensi produksi, dimana lansia gagal menggunakan strategi mengingat secara spontan walaupun pada saat muda mereka memiliki metamemory yang baik, kegagalan untuk
  • 40. 22 menggunakan strategi mengingat disebabkan oleh penurunan sejumlah energi yang tersedia pada lansia. Disamping itu, lansia mungkin mengkodekan informasi secara kurang spesifik dan kurang terdiferensiasi, sehingga untuk mendapatkan kembali informasi menjadi lebih sulit. 2.1.1.4.3. Proses Belajar dan Pembelajaran (Learning & Education) Pada Lansia Dalam beberapa buku ada fakta menyebutkan bahwa beberapa para lansia memiliki motivasi belajar yang sangat tinggi, pengalaman dan tes performance yang sangat tinggi pula terutama bagi mereka yang masih menggunakan atau menjaga minat mereka terhadap lingkungan sekitar dan juga bagi mereka yang selalu menggunakan kemampuan problem solving, mereka akan mengalami sedikit penurunan drastis akibat dari usia. Pendidikan memegang peranan penting, karena tingkat pendidikan yang tinggi menunjukkan daya tahan yang luar biasa terhadap penurunan intelektual daripada mereka yang berpendidikan rendah. Para lansia yang suka membaca buku dan mengikuti kursus-kursus, tergabung dalam berbagai aktivitas juga menunjukkan daya tahan yang tinggi pula. Hal ini memperkuat bahwa usia memiliki keeratan yang negatif terhadap penurunan kemampuan kognitif seseorang. (Jarvik & Bank, 1983; Schaie, 1983; Siegler, 1983 dalam Aiken, 1995). Beberapa pendapat menyatakan bahwa lansia sebagai orang yang belajar (older learner) adalah rigid atau ‘tetap dalam cara mereka’. Konsekuensinya, mereka memiliki kesulitan untuk mempelajari hal baru, bukan karena pengurangan kapasitas
  • 41. 23 tapi karena pengetahuan lama dan kebiasaan dalam cara mendapatkan pembelajaran baru. Pembelajaran yang berkelanjutan dan penggunaan problem solving pada lansia dapat bertahan dan bahkan meningkatkan kemampuan intelektual, sikap, dan minat, yang kesemuanya saling berinteraksi terhadap performance. Karakteristik older learner yang perlu dipahami oleh para pengajar yaitu : 1. Lansia memerlukan cara pemberian materi yang lebih lambat. 2. Mengulang materi beberapa kali (jika perlu), karena pengulangan dapat memperbaiki gangguan atau perhatian yang kurang. 3. Ajari para older learner bagaimana cara mengorganisasi atau encode materi yang dipelajari secara semantik. Asosiasi imaginer, dan teknik mnemonik lainnya. 4. Menggunakan beberapa reinforcement positif dan meningkatkan pengalaman atas kesuksesan sebelumnya (jika diperlukan). 5. Merancang tujuan jangka pendek yang dapat dicapai oleh older learner dengan jangka waktu yang masuk akal. 6. Karena para lansia mudah merasa lelah, waktu untuk praktek dari materi yang diberikan harus lebih singkat bila dibandingkan dengan younger learner. 7. Ketika mendemokan yang berkaitan dengan kemampuan fisik, usahakan dijabarkan dengan bantuan lisan untuk setiap tahapan apa saja yang sedang dilakukan sambil dipraktekan oleh pengajar. 8. Hati-hati dan buat pengecualian bagi para lansia yang mengalami gangguan visual dan auditory; seperti pencahayaan yang harus lebih terang dan cerah,
  • 42. 24 cara bicara dan alat bantu harus lebih keras volumenya, materi ditulis dengan tulisan atau huruf yang ukurannya lebih besar, dan sebagainya. Penurunan dalam kemampuan belajar dan mendapatkan atau memahami informasi baru dipengaruhi oleh perubahan sensori dan latihan, dan beberapa hal lain seperti bentuk materi yang terlalu kompleks untuk para lansia. Mekanisme memori terkandung didalamnya yaitu encoding, storage dan retrival. Hal ini dapat dipengaruhi pula oleh situasi, tipe informasi dan bagaimana informasi tersebut digunakan (Lovelace, 1990). Kesulitan yang dialami dari setiap tahapan dapat mengganggu proses memori (Zacks, Hasher, & Li, 2000). Short Term Memory dan Long Term Memory serta kemampuan untuk memahami ide-ide baru merupakan kemampuan mental yang akan mengalami penurunan dikarenakan faktor usia. 2.1.1.4.4. Kepribadian Banyak orang yakin bahwa penuaan mempengaruhi kepribadian dalam berbagai cara yang dapat diperkirakan, dan mereka telah mengembangkan ide-ide stereotipe mengenai perubahan tersebut. Hans Thomae (1980; dalam Perlmutter & Hall, 1985:272) telah melaporkan bahwa para murid melihat lansia itu keras kepala, mudah tersinggung, bossy, dan sering mengeluh secara berlebihan. Orang Jerman menyebut mereka tidak aktif dan menarik diri. Lansia juga digambarkan sebagai manusia yang tidak kompeten, dependen, dan pasif. Psikiater menganggap mereka itu kaku (rigid), mudah tersinggung, dan ekstrim. Hurlock (1980) pun menggambarkan lansia sebagai manusia yang menjengkelkan, dengan sifat-sifat mudah marah, pelit,
  • 43. 25 suka bertengkar, banyak menuntut, egois, semaunya sendiri, dan umumnya sulit menyesuaikan diri. Studi-studi menunjukkan bahwa karakteristik kepribadian dari masa muda ke dewasa tua tidak berubah pada orang dewasa sehat yang tinggal dalam komunitas (Thomae, 1980; dalam Perlmutter & Hall, 1985:273). Tidak ada masalah mengenai pendekatan teoritis mana yang digunakan, kepribadian tetap stabil (McCrae & Costa, 1982; dalam Perlmutter & Hall, 1985:273). Kepribadian cenderung untuk tetap stabil sepanjang ada kontinuitas situasi kehidupan (Moss & Susman,1980; dalam Perlmutter & Hall, 1985:277). Gangguan kepribadian yang timbul pada lansia lebih disebabkan oleh kondisi sosial yang dapat menimbulkan perasaan tidak aman. Banyak lansia yang menunjukkan penyimpangan perilaku di bawah tekanan-tekanan yang mereka alami ketika muda. Kemudian ditimpa oleh tekanan karena masalah yang misalnya berhubungan dengan kematian pasangan hidup, pensiun, berkurangnya teman, atau perubahan tempat tinggal (Hurlock, 1980). 2.1.1.4.5. Keterlibatan Komunitas dan Dukungan Sosial Kehadiran orang dewasa di tempat peribadatan cenderung stabil sampai umur 65 tahun; lalu mengalami penurunan, yang berkaitan dengan kesehatan. Perbedaan kohort dan waktu historis yang muncul mempengaruhi kehadiran di tempat peribadatan. Berbagai penurunan waktu kehadiran di tempat peribadatan yang sejalan dengan usia, mungkin diimbangi dengan kegiatan religius pribadi, dan
  • 44. 26 tampaknya terdapat peningkatan pemaknaan agama secara pribadi di antara para lansia. Meskipun studi-studi cross-sectional mengindikasikan peningkatan konservatisme seiring usia, pendidikan, dan situasi historis perlu diperhitungkan dalam peningkatan tersebut. Kebanyakan orang mempertahankan orientasi politis saat mereka muda, yang dimodifikasi oleh trend umum dalam masyarakat. Aktivitas politik cenderung memuncak selama usia 50-an, tapi tidak menurun seiring usia. Usia dapat digunakan untuk status bantuan, untuk mendapat hak-hak istimewa, atau untuk menghindari kewajiban tertentu. Diskriminasi melawan orang lanjut usia biasanya terjadi pada pekerjaan, karena usia bukan lagi prediktor kemampuan atau kebutuhan, telah dinyatakan bahwa semua program sosial didasarkan oleh kebutuhan, bukan usia, maka tanda usia lanjut dipindah dari umur 65 tahun ke 75 tahun. Kebanyakan orang Amerika, termasuk lansia, tinggal di rumah atau apartemen, dengan kepemilikan rumah yang mantap seiring usia. Meskipun hanya sejumlah kecil lansia yang tinggal di age-segregated housing, sebagian besar yang memilih tinggal di tempat tersebut cukup merasa puas. Pindah ke perumahan umum age-segregated mengakibatkan penurunan pada beberapa individu dan perbaikan pada individu-individu yang lain. Congregate housing mendukung sosialisasi dan interdependensi diantara lansia. Memasuki sebuah rumah perawatan seringkali diikuti oleh penurunan atau kematian, sebagian disebabkan karena individu yang memasuki institusi itu cenderung memiliki kesehatan yang buruk, sebagian terjadi
  • 45. 27 karena lingkungan biasanya tidak menstimulasi, dan sebagian karena lingkungan tampaknya mengajarkan ketidakberdayaan. Studi-studi menunjukkan bahwa mengembalikan beberapa kontrol kepada penghuni akan mengurangi stress, memperbaiki kesehatan, dan kepuasan. Lansia yang agresif pada umumnya akan lebih baik daripada yang pasif, dalam suatu institusi. Program-program sosial tampak didukung oleh publik ketika kelompok yang memerlukan bantuan tidak memiliki alternatif sumber pertolongan, ketika program itu memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang esensial, ketika program membuat seorang individu tidak begitu tergantung pada orang lain, dan ketika individu yang membutuhkan tidak menyebabkan kondisi tersebut. Outreach service mencoba untuk menempatkan lansia dan menginformasikan kepada mereka berbagai program pendukung, termasuk pelayanan kesehatan, program nutrisi, pelayanan transportasi, dukungan sosial, pelayanan hukum, dan foster care. Pelayanan yang suportif ditujukan untuk meningkatkan partisipasi lansia dalam komunitas, memperluas kapasitas mereka, dan membantu mereka menyesuaikan diri dengan peran sosial yang baru (Perlmutter & Hall, 1985). 2.1.1.5 Aspek Sosiologis dari Usia Lanjut 2.1.1.5.1 Hubungan Keluarga Hubungan antara kakek-nenek dan cucu dipengaruhi oleh suku, agama, tingkat sosial ekonomi, dan kepribadian. Ikatan istimewa seringkali berkembang antara kakek-nenek dengan cucu, dan hubungan ini memungkinkan kakek-nenek
  • 46. 28 melawan norma yang menghargai tingkah laku sesuai umur dan memberi kesempatan melakukan kontak fisik yang penuh afeksi. Robinson (1989; dalam L'Abate, 1994:211) menyatakan bahwa hubungan kasih sayang dengan cucu-cucu dapat membantu mengkompensasikan beberapa hal yang `hilang' karena penuaan, khususnya jika kakek-nenek tersebut merasa mereka memiliki sesuatu yang berharga untuk diberikan kepada cucu-cucunya. Wanita lansia mengekspresikan kepuasan yang lebih besar lagi jika cucu-cucu mereka masih kecil dan jika mereka memiliki tanggung jawab (meskipun bukan tanggung jawab penuh) untuk membantu cucunya (Thomas, 1989, 1990, dalam L’Abate, 1994. p. 212). Sebagian besar lansia sering berhubungan dengan anak-anak mereka yang sedang berkembang, menerima dukungan emosional dan sosial yang konsisten sebagai alat dalam menghadapi krisis. Banyak keluarga terdiri dari tiga generasi (kakek-nenek, ayah-ibu, anak) dan kebanyakan lansia yang tinggal bersama-sama anaknya menganggap hal tersebut adalah kebutuhan, bukan suatu pilihan. Kesenjangan pandangan antara orang tua dan anak yang telah dewasa tentang hubungan mereka menyebabkan saat orang tua memasuki usia lanjut, anak-anak yang telah dewasa bertanggung jawab atas dua generasi selain mereka sendiri. Keluarga yang lebih kecil mungkin akan membuat lansia di masa mendatang tidak lagi memiliki sumber keluarga yang tersedia seperti sekarang dan trend ke arah age-irrelevancy membatasi anak yang sedang berkembang dalam menyediakan pelayanan bagi orang tua yang telah lanjut usia. Kehidupan lansia pada umumnya ditunjang oleh anak-anak mereka yang telah dewasa, baik dalam hal materi maupun emosional (Kennedy, 1978). Hal ini
  • 47. 29 menyebabkan lansia lebih memilih untuk tetap tinggal bersama dengan anak-anak dan cucu-cucunya. Tetapi ada pula lansia yang memilih untuk tinggal berdua saja dengan pasangan hidupnya, atau untuk lansia yang telah ditinggal oleh pasangannya memilih untuk tinggal sendiri saja atau di panti werdha (Kennedy, 1978). Lansia mempunyai keterikatan dan ketergantungan yang semakin kuat dengan pasangan hidupnya. Orientasi hubungan akan semakin terpusat pada pasangannya, karena hubungannya dengan anak-anak semakin berkurang. Lansia yang kehilangan pasangan hidupnya karena kematian akan menghadapi kecemasan, merasa tidak berdaya dan putus asa, yang disebabkan oleh keinginannya untuk bergantung pada orang lain dan diperhatikan oleh orang lain (Walsh, 1980). 2.1.1.5.2 Hubungan Sosial Kemunduran fisik dan mental yang dialami orang yang telah lanjut usia membuat minat dan keinginannya mengalami perubahan. Minat tersebut antara lain meliputi minat terhadap diri sendiri, yaitu minat terhadap penampilan, minat untuk berekreasi, dan minat untuk melakukan kontak sosial (Hurlock, 1980). Orang akan menjadi semakin dikuasai oleh dirinya sendiri apabila bertambah tua, dia lebih banyak berpikir tentang dirinya sendiri daripada orang lain dan kurang memperhatikan keinginan atau kehendak orang lain. Lansia juga cenderung untuk mengeluh tentang kesehatan dan tampak dikuasai oleh dirinya sendiri, sehingga tidak habis-habisnya menceritakan pengalaman masa lalunya setiap saat. Lansia juga berharap untuk dilayani dan selalu menjadi pusat perhatian.
  • 48. 30 Lansia cenderung untuk tetap tertarik pada kegiatan rekreasi yang biasa mereka lakukan pada masa muda, dan hanya mengubah minat tersebut bila benar-benar diperlukan. Perubahan minat untuk berekreasi biasanya terjadi karena dahulu lansia disibukkan oleh pekerjaan dan keluarga, namun kini menjadi lebih banyak mempunyai kesempatan untuk berekreasi. Kegiatan rekreasi atau kegiatan mengisi waktu luang meliputi membaca, menulis surat, mendengarkan radio, menonton televisi, berkunjung ke rumah teman atau saudara, menjahit, menyulam, berkebun, piknik, jalan-jalan, bermain kartu, menonton bioskop, ikut serta dalam organisasi kemasyarakatan atau organisasi keagamaan. Lansia yang tinggal di panti werdha mempunyai bentuk rekreasi yang disesuaikan dengan kondisi fisik dan mentalnya (Hurlock, 1980). Dengan bertambahnya usia, sebagian orang merasa kehilangan keterlibatan sosialnya atau merasa lepas dari lingkungan sosialnya. Pada usia lanjut, hal ini dirasakan dengan berkurangnya partisipasi sosial atau kontak sosial. Cumming & Henry (1981) mengemukakan bahwa pelepasan diri secara sosial (social disengagement) dilakukan oleh lansia atas kemauannya sendiri atau karena terpaksa. Dalam hal pelepasan diri secara sukarela, lansia menganggap bahwa keterlibatan sosial sudah tidak sesuai dengan kebutuhan mereka. Pelepasan diri dari kegiatan sosial secara terpaksa dilakukan apabila lansia menginginkan dan memerlukannya, atau karena kondisi-kondisi tertentu, seperti meninggal dunia, pindah rumah, kondisi fisik yang tidak memungkinkan lansia beraktivitas seperti dulu. Keterlibatan atau pelepasan diri tersebut dapat menentukan kepuasan pada masa tuanya. Menurut
  • 49. 31 Birren (1964), social disengagement meliputi keterlibatan dengan orang lain berkurang, pengurangan variasi peran sosial yang dimainkan, dan berkurangnya partisipasi dalam kegiatan fisik. Havighurst, Neugarten, dan Tobin (1964) mengatakan bahwa kontak sosial pada lansia berubah karena keterlibatan berubah. Ada tiga macam sumber kontak sosial yang sangat dipengaruhi oleh usia lanjut, yaitu persahabatan pribadi yang akrab, kelompok persahabatan, dan perkumpulan formal (Wood & Robertson, 1978; dalam Hurlock, 1980). Dalam teori aktivitas yang dikemukakan Havighurst (1964), dikatakan bahwa lansia dapat memperoleh kepuasan dan kebahagiaan dengan terus melakukan aktivitas. Orang yang aktif, dapat berprestasi dan berarti bagi orang lain. Orang yang tidak dibutuhkan dalam kehidupan bersama akan merasa tidak puas dan tidak bahagia. Hal ini terlihat misalnya pada lansia yang tidak lagi hidup di tengahtengah keluarganya. Lansia tersebut merasa terasing dan tidak dapat berpartisipasi secara aktif. Pendapat lain mengatakan bahwa justru setelah orang memasuki usia lanjut atau pensiun, kontak dengan teman-teman atau keluarga menjadi lebih sering terjadi. Hal ini disebabkan oleh waktu luang yang tersedia lebih banyak (Turner & Helms, 1983). Hilang atau berkurangnya aktivitas yang harus dilakukan menimbulkan kebutuhan akan aktivitas pengganti. Umumnya lansia kemudian aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dan melakukan kegiatan yang merupakan hobinya di masa muda. Namun penyesuaian diri yang demikian tergantung pada sikap dan kebiasaan lansia pada masa sebelumnya (Pikunas, 916:373). Bila sewaktu muda lansia terbiasa
  • 50. 32 aktif dan mempunyai banyak hobi, dapat melanjutkannya di masa tua, terutama setelah pensiun. Sedangkan lansia yang sewaktu mudanya tidak mempunyai hobi akan mengalami kesulitan mencari aktivitas pengganti. Aktivitas sosial juga dipengaruhi oleh keadaan fisik, sosial dan keuangan (Pikunas, 1976:373). 2.1.2. Gerontology 2.1.2.1. Definisi Gerontology Study of biological, psikological, medical, sociological and economic factors having a bearing on old age. Gerontology is an interdisiplinary field based on the premise that solutions to the problems of aging require the cooperative efforts of specialists in many fields. (Lewis R. Aiken, 1995). Dalam gerontologi terdapat gabungan dari beberapa ilmu seperti biologi, psikologi, sosiologi, medis dan ekonomi untuk melihat dan mengatasi permasalahan yang terjadi dalam proses penuaan seorang manusia. Seringkali terjadi tumpang tindih dalam aktivitas para ahli yang meneliti mengenai gerontologi. Gerontologi merupakan disiplin ilmu yang bersifat aplikatif yang diperuntukkan bagi peningkatan kesehatan dan kehidupan yang layak bagi para orang lanjut usia. Proses penuaan sendiri akan berbeda bagi setiap individu, dimana didalamnya terdapat perubahan mulai dari penampilan fisik, sistem organ internal, sensasi, persepsi, gerakan (movement), kondisi psikis, kondisi sosial, dan kondisi ekonomi. Perubahan tersebut lebih banyak merupakan perubahan ke arah kemunduran, hal
  • 51. 33 inilah yang sering membuat banyak orang menjadi takut untuk menghadapi masa tuanya. Usia berhubungan dengan perubahan kulit, otot dan tulang pada setiap tubuh manusia. Kulit akan terlihat keriput, splotchier, colagen berkurang, elastisitas berkurang, kasar, varises, rambut beruban dan menipis, serta tubuh terlihat mengecil. Pada saat proses penuaan terdapat pula penurunan secara umum pada sel-sel dan tissues dari semua organ internal, yang menghasilkan penurunan pada efisiensi fungsi-fungsi dari cardio vascular, pernapasan, musculoskeletal, gastrointestinal dan genitourinary systems. Penurunan jumlah neurons dalam otak, aliran darah ke otak, dan kecepatan impuls nerve memberi efek pada kapasitas otak untuk memproses informasi pada usia lanjut. Pola tidur pun berubah, dimana mereka memiliki waktu tidur yang kurang dan tidak seperti orang-orang yang lebih muda usianya. Usia juga berhubungan dengan penurunan fungsi-fungsi panca indera, misalkan pada mata, paling banyak gangguan yang terjadi adalah presbyopia, tapi katarak dan glukoma juga merupakan gangguan serius yang terjadi pada para lansia. Penglihatan mereka akan sangat terbantu bila mereka menggunakan kacamata, pencahayaan yang sangat memadai, dan bentuk tulisan yang besar. Pada pendengaran, para lansia akan mengalami penurunan pada sensitivitas mendengar di frekuensi yang rendah. Penurunan fungsi pendengaran ini dapat dikurangi dengan menggunakan alat bantu pendengaran. Indera pembau, perasa dan peraba serta
  • 52. 34 sensitivitas rasa sakit dan terhadap suhu juga mengalami penurunan seiring bertambahnya usia. Pergerakan juga menjadi sulit dan reaksinya menjadi melambat, tapi itu pun akan berbeda bagi setiap individu sesuai dengan fungsi motorik yang dimiliki. Hal untuk mempermudah para lansia dalam bergerak adalah dibuatnya alat-alat bantu seperti tongkat untuk membantu berjalan ataupun layout ruangan yang dibuat sedemikian rupa agar para lansia tidak mengalami kesulitan untuk bergerak. 2.1.2.2. Kesehatan Mental Lansia Gangguan mental dapat membuat individu semakin tergantung pada pertolongan dan perawatan orang lain. Kesehatan mental tidak hanya dilihat dari ketidakhadiran gangguan-gangguan mental, berbagai kesulitan dan frustrasi, tapi juga merefleksikan kemampuan seseorang untuk menghadapi masalah-masalah kehidupan dengan cara-cara yang efektif dan memuaskan. Orang-orang dewasa lanjut usia lebih memungkinkan untuk memiliki beberapa jenis penyakit fisik, keterkaitan antara persoalan-persoalan fisik dan mental lebih umum terjadi pada masa dewasa akhir dibandingkan pada masa dewasa awal (Birren & Sloane, 1985). Sekitar 10 % dari individu yang berusia diatas 65 tahun, memiliki permasalahan-permasalahan kesehatan mental yang cukup parah yang memerlukan perhatian profesional (Larve, Dessonville & Jarvik, 1985; dalam Santrock, 2002). Jenis gangguan yang lazim dialami adalah depresi, kecemasan, dan alzheimer. Frekuensi depresi di orang-orang lansia bervariasi (Lewinsohn dkk, 1991). Sekitar
  • 53. 35 80% dari orang lansia yang menunjukkan gejala-gejala depresi, dan sama sekali tidak mendapatkan perawatan, dan sekitar 25% dari individu yang melakukan bunuh diri di Amerika antara lain mereka yang berusia lebih dari 65 tahun (Church, Siegel & Foster, 1988). Kurang lebih 7% dari orang lansia memiliki gangguan kecemasan (Gatz, 1992). Orang lansia sebenarnya memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mengalami gangguan-gangguan kecemasan daripada depresi (George dkk, 1988 dalam Santrock, 2002). 2.1.2.3. Perkembangan Sosio – Emosional Lansia Dalam Santrock (2002) terdapat tiga teori penuaan, yaitu : a. Teori Pemisahan; dimana orang-orang lansia secara perlahan-lahan menarik diri dari masyarakat (Cumming & Henry, 1961). Teori ini menjelaskan bahwa pemisahan merupakan aktivitas timbal balik dimana orang-orang lansia tidak hanya menjauh dari masyarakat, tapi masyarakat juga menjauh dari mereka. Dalam teori ini juga dijelaskan bahwa orang-orang lansia mengembangkan suatu kesibukan terhadap dirinya sendiri (self-preoccupation), mengurangi hubungan emosional dengan orang lain, dan menunjukkan penurunan ketertarikan terhadap berbagai persoalan kemasyarakatan. b. Teori Aktivitas (Activity Theory); dimana semakin orang-orang lansia aktif dan terlibat, semakin kecil kemungkinan mereka menjadi renta dan semakin besar kemungkinan mereka merasa puas dengan kehidupannya.
  • 54. 36 c. Teori Rekonstruksi gangguan sosial; dimana penuaan dikembangkan melalui fungsi psikologis negatif yang dibawa oleh pandangan-pandangan negatif tentang dunia sosial dari orang-orang lansia dan tidak memadainya penyediaan layanan untuk mereka. Rekonstruksi sosial dapat terjadi dengan merubah pandangan dunia sosial dari orang-orang lansia dan dengan menyediakan sistem-sistem yang mendukung mereka (Kuypers & Bengston, 1973). Stereotipe orang lansia antara lain banyak lansia menghadapi diskriminasi yang menyakitkan dan seringkali tersembunyi sehingga sulit untuk melawannya. Selain itu, seringkali lansia ditolak secara sosial, karena dipandang sudah pikun atau membosankan. Pada waktu yang lain, mereka mungkin dipandang seperti anak-anak dan dilukiskan dengan kata-kata sifat sebagai sosok yang ‘mungil dan manis’. Orang lansia mungkin disingkirkan dari kehidupan keluarga mereka oleh anak-anak yang melihat mereka sebagai sosok yang sakit, jelek dan parasit. Singkatnya, orang lansia mungkin dipandang tidak mampu untuk berpikir jernih, mempelajari sesuatu yang baru, menikmati seks, memberi kontribusi terhadap komunitas, dan memegang tanggung jawab pekerjaan. Persepsi yang tentu saja tidak berperikemanusiaan, tapi seringkali terjadi secara nyata dan menyakitkan (Butler, 1987; Chinn, 1991; Cole dkk, 1993; Gatz, 1992). Seringkali lansia tinggal di dalam institusi-institusi seperti rumah sakit, rumah sakit jiwa, panti jompo dan sebagainya, namun hampir 95 % orang lansia tinggal di dalam rumahnya sendiri dan bukan di institusi.
  • 55. 37 2.1.3. Kehidupan Lansia dalam Institusi Lansia yang memasuki institusi jangka panjang bertujuan untuk mendapatkan jaminan untuk bertahan hidup dengan memperlambat deterioriasi lebih lanjut, dan memperbaiki hilangnya fungsi-fungsi fisik maupun mental. Tujuan ini sesuai dengan setting tempat tinggal yang memiliki ketetapan perawatan kesehatan dalam lingkungan sosial yang terstruktur. Sebuah tinjauan studi mengenai pengaruh institusi mengatakan bahwa lansia yang diinstitusikan memiliki karakteristik sebagai berikut: penyesuaian diri buruk, depresi dan tidak bahagia, intelektual tidak efektif, self image negatif, perasaan tidak berarti dan impoten, pandangan terhadap diri sebagai orang "tua" (Tobin & Lieberman, 1976). Lansia penghuni panti cenderung menunjukkan minat dan aktivitas yang rendah. Mereka tampaknya lebih hidup di masa lalu, menarik diri, dan tidak responsif dalam berhubungan dengan orang lain. Ada beberapa pendapat bahwa lansia tersebut mengalami peningkatan kecemasan, yang sering berfokus pada kematian mereka. Kemampuan lansia untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan institusi juga dipengaruhi oleh kerelaannya. Menurut Hurlock (1980), apabila lansia, baik laki-laki maupun perempuan, masuk ke dalam institusi secara sukarela, maka mereka akan lebih bahagia dan memiliki motivasi yang kuat untuk menyesuaikan diri terhadap berbagai perubahan mendadak yang diakibatkan oleh institusi. Berdasarkan salah satu penelitiannya, Townsend (1953), mengemukakan empat alasan lansia membutuhkan panti werdha, yaitu:
  • 56. 38 1. Karena mereka tinggal sendiri dan tidak ada orang yang menolong bila mereka sakit. 2. Karena mereka kehilangan tempat tinggal dengan alasan diusir oleh pemilik tanah, keluarga membutuhkan ruangan untuk anak-anaknya. berselisih dengan anak atau menantu, keluarga pindah ke tempat lain. 3. Karena kehilangan keluarga yang menunjang penghidupan mereka. 4. Karena keluarga yang menunjang mereka telah menjadi lemah ekonominya dan tidak dapat memberikan tunjangan lagi. 2.1.4. Panti Werdha 2.1.4.1. Pengertian Panti Werdha Panti werdha yang disebut juga Sasana Tresna Werdha merupakan unit pelaksanaan teknis di bidang Pembinaan Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia / Jompo, yang memberikan pelayanan kesejahteraan sosial bagi para lansia / jompo berupa pemberian penampungan, jaminan hidup seperti makanan dan pakaian, pemeliharaan kesehatan, pengisian waktu luang termasuk rekreasi, bimbingan sosial, mental serta agama, sehingga lansia dapat menikmati hari tuanya dengan diliputi ketentraman lahir dan batin (Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pembinaan Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia/Jompo Terlantar Melalui Sasana Tresna Werdha, Departemen Sosial RI, 1986). Lansia yang diterima oleh panti werdha milik pemerintah adalah lansia yang berumur 60 tahun ke atas, yang secara fisik dan sosial ekonominya lemah, tidak berdaya mencari nafkah untuk keperluan hidup sehari-hari, menerima nafkah dari
  • 57. 39 orang lain, hidup terlantar karena tidak ada keluarga atau tidak diketahui keluarganya, tidak diurus sebagaimana layaknya oleh keluarga, atau karena sesuatu sebab tertentu lansia tersebut tidak mau hidup dalam lingkungan keluarganya, tetapi ingin disantuni di dalam panti werdha. Panti werdha yang dikelola oleh swasta ada dua macam, yaitu panti yang hanya menerima lansia yang terlantar dan panti yang menerima lansia yang masuk atas anjuran keluarga dengan membayar sejumlah uang, serta menerima lansia yang terlantar hidupnya. 2.1.4.2. Tujuan Penyelenggaraan Panti Werdha Menurut UU No.4 tahun 1965 tentang pemberian bantuan penghidupan orang jompo dan Surat Keputusan Menteri Sosial RI No. HUK 33/1.50/107/70 jo UU No.6 tahun 1974 tentang ketentuan pokok kesejahteraan sosial, tercantum kebijakan pemerintah tentang pelayanan dan penyantunan lansia, yaitu: 1. Pemberian bantuan dan santunan kepada lansia dalam panti werdha. 2. Pemberian bantuan dan santunan kepada lansia di luar panti berupa pemberian bantuan usaha produktif. 3. Bantuan peningkatan kemampuan pelayanan panti pemerintah daerah dan swasta. Tujuan didirikannya panti werdha adalah sebagai tempat mencintai dan menyayangi orang tua yang secara operasional merupakan panti sosial tempat melayani para lansia jompo dengan memenuhi kebutuhannya (Pedoman Pelaksanaan
  • 58. 40 Bantuan dan Penyantunan Lanjut Usia/Jompo Terlantar di Sasana Tresna Werdha, Departemen Sosial RI, 1986). 2.1.4.3 Pelayanan di Panti Werdha Pelayanan yang sesuai dengan Keputusan Menteri Sosial No.4l /HIJK/Kep/IX/79 adalah sebagai berikut: 1. Pemeliharaan kesehatan. 2. Pelaksanaan kegiatan yang bersifat rekreatif dan kegiatan lain yang bermanfaat. 3. Pelaksanaan bimbingan mental spiritual dan kemasyarakatan. Menurut Hurlock (1980), terdapat beberapa keuntungan yang diperoleh lansia di panti werdha, yaitu: 1. Kemungkinan berhubungan dengan teman seusia dan mempunyai minat serta kemampuan yang yang sejenis. 2. Ada kesempatan untuk berprestasi berdasarkan prestasi masa lalu, yang tidak mungkin diperoleh dalam kelompok generasi yang lebih muda. Panti werdha menuntut adanya penyesuaian diri yang baik, karena lansia harus bisa mengikuti ketentuan / tata tertib yang berlaku di panti, juga melakukan penyesuaian terhadap sesama penghuni lain dan petugas panti.
  • 59. 41 2.1.5. Loneliness 2.1.5.1. Definisi Loneliness Konsep mengenai loneliness belum dapat didefinisikan dengan baik. Beberapa definisi mengenai kesepian (Loneliness), antara lain : ”Loneliness berdasarkan pendekatan eksistensial, yang salah satunya yaitu kesepian dalam hidup yang rapuh (loneliness of a broken life) ditandai kehidupan yang dibayangi oleh penolakan, pembuangan, pengasingan, kesalahpahaman, rasa nyeri, penyakit, kematian, tragedi, dan krisis yang biasanya tidak hanya mempengaruhi kesadaran seseorang akan keberadaannya, tetapi juga dunia yang dihuninya, hubungannya dengan orang lain dan pekerjaannya” (Moustakas, 1961 dalam Turnip, 1997). Dalam kesepian eksistensial manusia sangat menyadari dirinya sebagai individu yang terisolasi dan terpisah. “Loneliness disebabkan bukan karena keadaan sendiri (alone), loneliness disebabkan tidak adanya suatu atau sekumpulan relasi definit yang dibutuhkan individu. …Loneliness tampaknya selalu merupakan respon dari ketiadaan sejumlah relasi tipe tertentu, atau lebih akurat lagi, loneliness adalah suatu respon atas ketiadaan sejumlah relasi khusus yang dibutuhkan.” (Weiss, 1973 dalam Peplau & Perlman, 1982: 4. dikutip dari Witriani, 2000). “Loneliness merupakan perasaan deprivasi yang disebabkan oleh kekurangan dari kontak sosial (dengan orang lain): perasaan bahwa seseorang merasa kehilangan. Dan sejak seseorang memiliki suatu harapan dari suatu yang tidak ada, loneliness dapat dikarakteristikan lebih jauh sebagai suatu rasa dari deprivasi yang muncul ketika
  • 60. 42 relasi sosial dengan orang lain tidak terjalin” (Gordon, 1976, p. 26 dalam Peplau & Perlman, 1982: 4). 2.1.5.1.1. Definisi Loneliness Berdasarkan Pendekatan Sosial Menurut sudut pandang sosial, Peplau dan Perlman (1982) menggolongkan definisi kesepian dalam tiga buah pendekatan, yaitu: a. Kebutuhan intimasi (need for intimacy) Pendekatan ini digunakan antara lain oleh Sullivan, Weiss, Fromm Reichman dan Bowly. Sullivan mengatakan: "Loneliness ... is the exceedingly unpleasant and driving experience connected with inadequate discharge of the need for human intimacy for interpersonal intimacy." (Sullivan dalam Peplau & Perlman, 1982: 4) Kesepian adalah keadaan yang tidak menyenangkan atas tidak terpenuhinya kebutuhan akan hubungan yang intim atau dekat pada seseorang. “Loneliness is caused not by being alone but by being without some definite needed relationship or set of relationships …” (Weiss dalam Peplau & Perlman, 1982: 4) Weiss mengatakan bahwa kesepian bukan disebabkan karena kesendirian tapi karena tidak adanya hubungan atau satu set hubungan yang dibutuhkan. Maka seseorang akan mengalami kesepian apabila dalam hubungannya dengan orang
  • 61. 43 lain, ia tidak dapat memenuhi atau memuaskan kebutuhan sosial yang ada dalam dirinya. Jadi pendekatan ini menekankan bahwa secara universal manusia memiliki kebutuhan untuk menjalin hubungan yang intim dengan manusia lainnya. b. Proses kognitif (Cognitive processes) Flanders, Sadler dan Johnson (dalam Peplau & Perlman, 1982) berpendapat melalui pendekatan ini bahwa kesepian dihasilkan dari ketidakpuasan seseorang terhadap hubungan sosialnya. de Jong Gierveld mengatakan: "We define loneliness as the experiencing of a lag between realized and desired interpersonal relationship as disagreeable or unacceptable, particularly when desired interpersonal relationships within a reasonable period of time." (Gierveld dalam Peplau & Perlman, 1982: 4) Kesepian merupakan keadaan yang disebabkan karena adanya kesenjangan antar dua jenis hubungan sosial, yaitu jenis hubungan sosial yang diinginkan dan jenis hubungan yang sesungguhnya atau pada kenyataannya dimiliki oleh seseorang. Jadi inti dari pendekatan ini menyangkut persepsi dan evaluasi seseorang mengenai hubungan sosial manusia.
  • 62. 44 c. Social reinforcement Pendekatan ini mengatakan bahwa orang mengalami kesepian disebabkan karena ia merasa adanya kekurangan dalam bentuk hubungan sosial yang memuaskan. Tingkatan dari kuantitas dan tipe hubungan seperti apa yang memuaskan bagi seseorang tergantung dari apa yang telah dipelajari sebelumnya. Young mendefinisikan kesepian sebagai: "... the absence or perceived absence of satisfying social relationship, accompanied by symptoms of psychological distress that are related to the actual or perceived absence ... propose that social relationship can be in part as a response to the abcence of important social reinforcement." (Young dalam Peplau & Perlman, 1982: 4) Kesepian adalah tidak munculnya hubungan yang dianggapnya sebagai hubungan sosial yang memuaskan, diiringi dengan munculnya gejala psikologis yang berhubungan dengan ketidakmunculan tersebut. Jadi pendekatan ini mendefinisikan kesepian sebagai keadaan yang diakibatkan perasaan ketidakterpenuhinya hubungan seseorang akan hubungan sosial yang menurut norma sosialnya adalah hubungan yang memuaskan. Namun pendekatan ini cenderung lebih mengacu pada kebutuhan sosial daripada pendekatan kognitif.
  • 63. 45 2.1.5.1.2. Definisi Loneliness Berdasarkan Pendekatan Eksistensial Menurut sudut pandang eksistensial, kesepian dibagi dalam dua golongan, yaitu kesepian eksistensial (existential loneliness) dan kesepian kecemasan (anxiety loneliness) (Moustakas dalam Turnip, 1997). a. Kesepian eksistensial (existential loneliness) Kesepian eksistensial adalah kenyataan tak terelakkan sebagai bagian dari keberadaan manusia (Moustakas dalam Turnip, 1997). Menurut Thomas Wolfe (dikutip dalam Witriani, 2000) kesepian ini adalah pengalaman intrinsik dan merupakan kondisi yang menunjang munculnya kreativitas, melampaui duka, rasa putus asa dan kelumpuhan menyeluruh. Semuanya menimbulkan dorongan pada seseorang untuk mencari dan menciptakan bentuk baru serta menemukan cara yang unik untuk menyadari keberadaannya dan mengekspresikan pengalamannya. Ada dua bentuk kesepian eksistensial yang utama, yaitu kesepian dalam kesendirian (loneliness of solitude) dan kesepian dalam hidup yang rapuh (loneliness of a broken life). Kesepian dalam kesendirian adalah keadaan yang damai berada sendirian dengan segala misteri yang melingkupi alam semesta, dalam harmoni dan keutuhan keberadaannya. Kesepian dalam kerusakan hidup yang rapuh ditandai kehidupan yang dibayangi oleh penolakan, pembuangan, pengasingan, kesalahpahaman, rasa nyeri, penyakit, kematian, tragedi, dan krisis yang biasanya tidak hanya mempengaruhi kesadaran seseorang akan keberadaannya, tetapi juga dunia yang dihuninya,
  • 64. 46 hubungannya dengan orang lain dan pekerjaannya (Moustakas, 1961 dalam Turnip, 1997). Dalam kesepian eksistensial manusia sangat menyadari dirinya sebagai individu yang terisolasi dan terpisah. b. Kesepian kecemasan (anxiety loneliness) Kesepian kecemasan disebabkan oleh pengasingan diri dan penolakan diri, jadi bukan kesepian yang sesungguhnya, tetapi kecemasan yang sifatnya mengganggu dan samar-samar (Moustakas, 1961 dalam Turnip, 1997). Maka kesepian ini disebabkan oleh kesenjangan yang mendasar antara kesejatian diri seseorang dengan peran yang harus dijalankannya. Usaha seseorang untuk mencapai konformitas dengan orang lain dalam lingkungannya, menuruti segala aturan, meniru orang lain, mencoba menjadi orang lain, keinginan untuk memiliki kekuasaan dan status dapat meningkatkan keterasingan seseorang terhadap kesejatian dirinya, membuat orang kehilangan jati dirinya dan kemudian mengalami kesepian karena tidak mengenali lagi kesejatian dirinya yang sebenarnya. Kesepian kecemasan adalah kondisi yang banyak terjadi dalam masyarakat masa kini. Orang-orang modern sepertinya tidak lagi menikmati pertemanan, dukungan dan perlindungan dari sesamanya. Mereka hidup dalam komunitas dengan pola hubungan antar manusia yang telah ditentukan oleh aturan-aturan
  • 65. 47 tingkah laku untuk mencapai tujuan tertentu (Moustakas, 1961 dalam Turnip, 1997). Kesepian kecemasan yang terburuk adalah penghayatan ketidakberartian diri, tidak adanya orientasi pada nilai-nilai, keyakinan, pegangan hidup dan ketakutan akan keterasingan. Karenanya orang berusaha untuk menghindarinya dan keluar dari kondisi ini melalui cara berkegiatan dengan orang lain (Moustakas, 1972 dalam Turnip, 1997). Dalam kesepian kecemasan, manusia terasing dari dirinya sendiri dalam menghayati keberadaannya. Dari berbagai definisi di atas, dapat disimpulkan kesepian adalah keadaan yang membuat seorang individu merasa sendiri di dunia ini karena interpretasi dirinya terhadap lingkungannya. 2.1.5.2. Macam-macam Penyebab Loneliness Ada dua hal dasar yang menyebabkan kesepian. Pertama, adalah kejadian yang memicu loneliness; dan kedua, adalah faktor-faktor predisposisi penyebab loneliness dan membuat orang tetap berada dalam loneliness. 2.1.5.2.1. Kejadian Pemicu Kesepian (Precipitating Event) Kejadian-kejadian yang menjadi pemicu (precipitating event) munculnya perasaan loneliness yaitu sebagian besar dari menurunnya tingkat relasi sosial seseorang, seperti berakhirnya suatu hubungan suami istri, ditinggalkan orang
  • 66. 48 terdekat, diabaikan keberadaannya, khususnya untuk para lansia ditinggal pasangan hidup yang meninggal dan teman sebayanya sudah banyak yang meninggal, anakanak sibuk dengan urusan masing-masing dan para lansia seringkali tidak dilibatkan dalam urusan anak-anak dan cucu-cucu mereka adalah beberapa contohnya. Perasaan loneliness tidak hanya disebabkan oleh ada atau tidak adanya relasi sosial, tapi juga dari aspek kualitatif relasi sosial seseorang. Bila seseorang merasa tidak puas dengan relasi sosial yang dimilikinya saat itu dapat memunculkan perasaan kesepian. Munculnya perasaan kesepian juga dapat dipicu oleh perubahan dalam keinginan seseorang akan bentuk relasi sosial mereka terutama bila keinginan tidak terjadi dalam kejadian nyata. Seseorang yang memiliki hambatan dalam kemampuan bersosial membuat ia mengalami kesulitan untuk membangun dan mempertahankan hubungan sosial yang memuaskan. Kejadian yang menjadi pemicu kesepian dapat ditinjau dari 2 pendekatan, yaitu pendekatan sosial dan pendekatan eksistensial. Menurut pendekatan eksistensial, kesepian dapat dipicu oleh beberapa hal, seperti misalnya karena rasa frustasi akan kebutuhan kasih sayang dan perlindungan yang tidak diperoleh, sebagaimana umumnya terjadi pada masa kecil; pada usia dewasa dapat terjadi karena kegagalan berhubungan dengan orang lain atas dasar cinta, ketulusan dan kedalaman hubungan. Kesepian dapat juga dipicu oleh hilangnya kehangatan manusiawi yang asli dan munculnya kepura-puraan dalam suara maupun senyuman, serta kata-kata dan pertemuan yang basa-basi; masuk ke rumah sakit atau
  • 67. 49 rumah jompo juga dapat memicu kesepian karena keterasingan yang dirasakan (Moustakas, 1961 dalam Turnip, 1997). Sedangkan menurut pendekatan sosial, Peplau dan Perlman (1982) mengatakan ada dua macam perubahan dalam hal ini, yaitu: a. Hubungan sosial aktual pada seseorang Yaitu perubahan dalam hubungan sosial aktual seseorang sehingga berada di bawah level optimal seperti berakhirnya suatu hubungan yang dekat karena kematian, perceraian, atau putusnya hubungan cinta, atau juga perpisahan secara fisik dengan orang-orang yang dicintai, seperti pindah ke komunitas baru, dan lainlain. Contoh-contoh di atas dapat menyebabkan seseorang mengalami kesepian, karena Peplau & Perlman (1982) mengatakan bahwa kesepian disebabkan bukan hanya karena seseorang punya atau tidak jalinan hubungan dengan orang lain, tapi juga dipengaruhi oleh aspek kualitas dalam suatu hubungan sosial. b. Adanya perubahan dalam kebutuhan atau keinginan sosial dalam diri seseorang Dengan adanya perubahan usia, maka ada perubahan-perubahan lain yang akan mengikuti dalam diri seseorang, di antaranya adalah kebutuhan dan keinginan sosial. Sehingga dengan demikian, kebutuhan atau keinginan sosial yang telah terpenuhi sekarang belum tentu akan sesuai untuk orang yang sama dalam beberapa tahun mendatang. Hal ini dapat menyebabkan kesepian.
  • 68. 50 2.1.5.2.2. Faktor Predisposisi dan Bertahannya Gejala Kesepian Faktor predisposisi dan bertahannya kesepian dikelompokkan menjadi faktor psikologis dan situasional. Banyak faktor psikologis dan situasional yang meningkatkan kerentanan seseorang terhadap munculnya kesepian. Faktor-faktor tersebut meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami kesepian dan juga menyulitkan baginya untuk membangun kembali hubungan sosial yang memuaskan. Middlebrook (1980) menggolongkannya sebagai berikut : a. Faktor psikologis 1. Kesepian eksistensial Terbatasnya keberadaan manusia yang terpisah dari orang lain sehingga ia tidak mungkin berbagi perasaan dan pengalaman dengan orang lain; dia harus mengambil keputusan sendiri dan menghadapi ketidakpastian. 2. Pengalaman traumatis Kehilangan seseorang yang sangat dekat secara tiba-tiba bisa menyebabkan orang merasa kesepian; tetapi dia akan lebih sanggup menghadapi kesepian bila sering mengalaminya atau orang itu sendiri yang mulai untuk menjauh dari orang yang dekat padanya. 3. Kurang dukungan dari lingkungan Orang bisa mengalami kesepian bila merasa tidak sesuai dengan lingkungannya, sehingga ia menganggap dirinya diabaikan atau ditolak oleh lingkungan.
  • 69. 51 4. Krisis dalam diri dan kegagalan Seseorang bisa kehilangan semangat dan menghindar dari lingkungannya bila merasa harga dirinya terganggu karena harapannya tidak terpenuhi; hal ini dapat menyebabkan timbulnya gejala kesepian pada orang itu. 5. Kurang rasa percaya diri Kesepian dapat terjadi bila seseorang kurang dapat mengungkapkan diri sepenuhnya dan hanya mampu berhubungan secara formal saja. Meskipun ia bisa berhubungan sosial dengan cukup baik, ia tetap merasa kurang dilibatkan. 6. Kepribadian yang tidak sesuai dengan lingkungan Orang-orang dengan temperamen tertentu seperti pemalu dan yang tidak mampu berhubungan sosial akan menarik diri dari lingkungan. 7. Ketakutan untuk menanggung resiko sosial Seseorang merasa takut untuk terlalu dekat dengan orang lain, karena khawatir akan ditolak. Ia melihat kedekatan sosial sebagai sesuatu yang berbahaya dan penuh resiko. b. Faktor situasional 1. Takut dikenal orang lain Seseorang yang takut dikenal secara mendalam oleh orang lain akan cenderung menghilangkan kesempatan untuk berhubungan dekat dengan orang lain, sehingga ia tidak punya teman berbagi rasa.
  • 70. 52 2. Nilai-nilai yang berlaku pada lingkungan sosial Nilai-nilai yang dianut seperti privasi dan kesuksesan membuat seseorang terikat. 3. Kehidupan di luar rumah Rutinitas di luar rumah seperti sekolah, kuliah, dan kerja menyebabkan kurangnya kehangatan hubungan seseorang dengan orang-orang tertentu. 4. Kehidupan di dalam rumah Rutinitas di rumah seperti jam-jam makan, tidur, mandi, menyebabkan kejenuhan pada pelakunya. 5. Perubahan pola-pola dalam keluarga Kehadiran orang lain atau perginya seseorang dari keluarga menyebabkan terganggunya hubungan antar anggota keluarga. 6. Pindah tempat Sering berpindah-pindah menyebabkan seseorang tidak dapat menjalin hubungan yang akrab dengan lingkungan baru. 7. Terlalu besarnya suatu organisasi Bila populasi yang terdapat dalam suatu organisasi terlalu besar, akan sulit bagi seseorang untuk mengenal satu sama lain secara lebih dekat; perkenalan terjadi hanya di permukaan saja. 8. Desain arsitektur bangunan Bentuk bangunan modern yang canggih membatasi interaksi sosial dan membuat anggota masyarakat menjadi individualistis.
  • 71. 53 Sementara itu Moustakas juga mengatakan bahwa salah satu faktor penyebab kesepian adalah penolakan atau pengabaian semasa kanak-kanak (Moustakas, 1961 dalam Turnip, 1997). Tingkah laku yang menyebabkan terjadinya kesepian pada seseorang adalah usaha untuk mencapai konformitas dengan orang lain, mencoba menjadi orang lain, usaha untuk mencapai status dan kekuasaan yang tidak sesuai dengan kemampuannya yang sebenarnya, semua itu dapat membuat seseorang terasing dari dirinya sendiri (Moustakas, 1961 dalam Turnip, 1997). Kesepian kecemasan disebabkan karena pertahanan yang dilakukan terhadap keadaan dunia yang tidak bersahabat, perlawanan terhadap rasa sakit dan keinginan untuk mencari kasih sayang dan rasa aman. Sementara kesepian eksistensial disebabkan karena keberadaan manusia itu sendiri; “The constant, everlasting weather of man’s life is not love but loneliness. Love is the rare and precious flower but loneliness pervades each new day and each new night” (Moustakas, 1961 dalam Turnip, 1997) Keberagaman seseorang dan adanya faktor sosial dapat menyebabkan seseorang rentan terhadap kemungkinan kesepian. Keberagaman tersebut oleh Peplau & Perlman (1982) disebutkan sebagai berikut: a. Karakteristik personal Peplau & Perlman (1982) menyebutkan bahwa karakter orang-orang lonely yaitu pemalu, introvert, dan tidak punya cukup keinginan untuk mengambil resiko dalam berhubungan sosial.
  • 72. 54 b. Faktor kebudayaan dan situasi Para sosiolog memberi masukan bahwa keadaan kesepian dapat meningkat akibat nilai-nilai kebudayaan yang berlaku di lingkungan seseorang. 2.1.5.3. Karakteristik Orang-Orang yang Mengalami Kesepian Peplau dan Perlman (1982) mengemukakan karakteristik utama orang-orang yang biasanya terisolir dari orang lain yang bukan keluarga adalah mereka yang berpendidikan rendah, memiliki pemasukan dana yang rendah, berusia lanjut atau sudah tua, sudah menikah, tidak bekerja, dan terutama wanita. 2.1.5.4. Pengalaman dari Kondisi Kesepian 2.1.5.4.1. Manifestasi Afektif Kesepian adalah pengalaman yang tidak menyenangkan. Fromm-Reichman (dalam Peplau & Perlman, 1982) mengatakan bahwa kesepian adalah salah satu keadaan yang menyakitkan dan mengerikan. Sedangkan Weiss mengatakan bahwa kesepian adalah stres yang mengganggu tanpa bentuk yang jelas. Peplau dan Perlman (1982) mengemukakan bahwa kesepian berkorelasi dengan depresi. Orang yang kesepian biasanya kurang bahagia, kurang puas, lebih pesimistis dan lebih depresif (Bradburn, 1969; Perlman, Gerson, Spinner, 1978 dalam Perlman & Peplau, 1982). dan kecemasan, sehingga banyak tanda-tanda fisik yang menyertainya, seperti gangguan makan atau tidur, sakit kepala dan mual-mual.
  • 73. 55 Mereka juga rentan terhadap penyakit. Penelitian terdahulu menemukan bahwa Orang yang kesepian juga sering merasa tegang, gelisah, dan bosan (Loucks, 1971 dalam Peplau & Perlman, 1982). Mereka juga cenderung lebih kasar terhadap orang lain (Moore & Sermat, 1974; Loucks, 1974 dalam Peplau & Perlman, 1982). Hasil yang sama didapat dari sample mahasiswa dan lansia yaitu munculnya rasa marah, menutup diri, kosong dan canggung (Perlman et al, 1978). Menurut Moustakas (1961 dalam Turnip, 1997), manifestasi afektif dari kesepian kecemasan adalah duka cita dan rasa kehilangan yang mendalam dan tidak dapat dihindari; sedang depresi yang terjadi menyeluruh berakibat kehampaan dan rasa putus asa. Muncul juga rasa inferior dan rasa nyeri serta penderitaan karena orang yang bersangkutan merasa tidak dicintai dan diabaikan. 2.1.5.4.2. Manifestasi Motivasional Dua kontradiksi muncul dalam manifestasi ini. Satu sisi mengatakan bahwa kesepian sebagai sesuatu yang merangsang. Sullivan (1953) menyatakan bahwa loneliness adalah dorongan, kekuatan yang memotivasi orang untuk mencari interaksi sosial walaupun mereka merasa cemas untuk melakukannya. Sisi lainnya mengatakan bahwa kesepian menurunkan motivasi. Fromm & Reichman (1959) menyatakan bahwa kesepian yang sesungguhnya menyebabkan ketidakberdayaan yang melumpuhkan dan kesia-siaan yang pasti dihadapi. Penelitian Perlman (unpublishes research) menemukan bahwa orang yang kesepian
  • 74. 56 mengeluarkan pernyataan apatis seperti “Kekuatan saya sepertinya sering menjauh dari saya” dan menolak pernyataan “Saya mempunyai banyak energi”. 2.1.5.4.3. Manifestasi Kognitif Ada bukti yang menyatakan bahwa pada umumnya orang yang kesepian kurang sanggup berkonsentrasi secara efektif (Perlman, unpublishes research). Orang yang kesepian biasanya juga sangat sadar (aware) dan sangat terfokus terhadap dirinya (Jones, Freemon, Goswick, 1981). Weiss (dikutip dalam Witriani, 2000) mengatakan bahwa orang yang kesepian biasanya bersikap sangat waspada dalam hubungan interpersonal. Apabila seseorang yang kesepian memiliki kepribadian yang stabil, maka kemungkinan dialaminya depresi pun berkurang (Michela, Peplau, Weeks, 1980). 2.1.5.4.4. Korelasi Tingkah Laku dengan Kesepian Menurut Moustakas (1961) tingkah laku yang menyertai kesepian antara lain ketidakbahagiaan, kesedihan yang mendalam, kepura-puraan, kepalsuan, mengenali orang lain pada permukaan saja, kegagalan mencari makna eksistensi yang sering menimbulkan ketakutan akan munculnya kesepian. Orang yang kesepian biasanya juga menjadi mudah curiga, dan mudah sekali terluka hatinya, bahkan oleh kritik yang paling halus sekalipun (Moustakas, 1961). Mereka bisa terjerumus ke dalam kesedihan yang pasif; menangis, tidur, makan,
  • 75. 57 menonton televisi terus menerus adalah contoh manifestasinya (Deaux, Dane, Wrightsman, 1993). 2.1.5.4.5. Konsekuensi Sosial dan Kesehatan Konsekuensi kesepian tidak hanya dirasakan oleh individu yang bersangkutan, melainkan juga oleh masyarakat sekitarnya sebagai satu kesatuan. Misalnya, banyak remaja yang dihinggapi kesepian menampilkan tingkah laku yang menyimpang sehingga merugikan masyarakat sekitarnya, misalnya kebiasaan membolos, ketergantungan obat, delikuensi, perkelahian masal dan tindakan-tindakan destruktif lainnya (Brennann & Auslander, 1979), bahkan ada yang sampai bunuh diri (Wenzs, 1977). Kesepian berkorelasi dengan depresi dan kecemasan; sehingga banyak tandatanda fisik yang menyertainya, seperti gangguan makan atau tidur, sakit kepala, mualmual (Perlman & Peplau, 1982). Kesepian juga berkorelasi dengan frekuensi minum alkohol (Rubenstein & Shaver, 1982). Orang yang kesepian cenderung menjadi alkoholik sebagai respon terhadap masalah pribadi dan stress (Perlman, unpublished research). Mereka juga lebih rentan terhadap penyakit (Peplau, Russel & Cutrona, unpublished research). Beberapa pengertian tentang perasaan kesepian (loneliness) telah diberikan oleh para ahli sosial terdahulu, namun dari beberapa definisi tersebut dapat ditarik suatu benang merah mengenai pandangan mereka mengenai perasaan kesepian yaitu
  • 76. 58 menjadi tiga dasar dari perasaan kesepian (Perlman & Peplau, 1982 dalam Iwan Suhadi, 2005). 1. Perasaan kesepian adalah suatu hasil dari kurangnya relasi sosial seseorang. 2. Perasaan kesepian adalah sesuatu yang bersifat subyektif, berarti tidak dapat disamakan dengan isolasi sosial yang sifatnya obyektif. 3. Mengalami suatu perasan kesepian adalah tidak menyenangkan dan sangat menekan. Meningkatnya jumlah manula di dunia termasuk Indonesia akibat perbaikan layanan kesehatan menimbulkan masalah baru, khususnya bagi mereka yang terpaksa tinggal di panti werdha. Beberapa penelitian (Drageset, 2003; Hicks, 2003) melaporkan bahwa kehidupan para manula di panti werdha dapat menimbulkan kesepian pada diri mereka. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satu faktor penyebabnya adalah dikarenakan kurang teraturnya kunjungan keluarga terhadap anggota keluarganya yang tinggal di panti werdha akibat kesibukan yang dialami oleh anggota keluarga dari penghuni panti. 2.1.6. Musik Musik adalah bunyi yang diterima oleh individu dan berbeda-beda berdasarkan sejarah, lokasi, budaya dan selera seseorang. Definisi sejati tentang musik juga bermacam-macam, yaitu : 1. Bunyi yang dianggap enak oleh pendengarnya.
  • 77. 59 2. Segala bunyi yang dihasilkan secara sengaja oleh seseorang atau kumpulan dan disajikan sebagai musik. Musik adalah suatu seni suara yang mengeskpresikan ide-ide dan emosi dalam bentuk yang signifikan ke dalam elemen-elemen seperti ritme, melodi, harmoni, dan warna suara (Webster Encyclopedic Unabridged Dictionary of The England Language, 1989). Musik dikenal memiliki kekuatan khusus yang mampu melampaui pikiran, emosi, dan kesehatan fisik, hal ini dipercayai dalam masyarakat Yunani kuno. Musik menurut Aristoteles mempunyai kemampuan sebagai katarsis emosi dimana mampu mendamaikan hati yang gundah, mempunyai terapi rekreatif dan menumbuhkan jiwa patriotisme; Plato menyebut musik sebagai obat jiwa; dan Caelius Aurelianus yang anti-diskriminasi, menggunakan musik untuk melawan gangguan-gangguan kejiwaan. Disadari atau tidak, musik bisa mempengaruhi hidup seseorang. Dengan mendengarkan musik, seseorang dapat menghadirkan suasana yang mempengaruhi batinnya. Apakah itu suasana bahagia ataupun sedih, bergantung pada pendengar itu sendiri. Yang jelas, musik mampu memberikan semangat pada jiwa yang lelah. Musik juga dapat difungsikan sebagai sarana terapi kesehatan. Ketika mendengarkan musik, gelombang listrik yang ada di otak pendengar dapat diperlambat dan dipercepat. Hal ini membuat kinerja sistem tubuh mengalami perubahan. Bahkan, musik juga mampu mengatur hormon-hormon yang mempengaruhi stres seseorang, serta mampu meningkatkan daya ingat pada otak.
  • 78. 60 Selain itu, musik juga memiliki kekuatan untuk memengaruhi denyut jantung dan tekanan darah sesuai dengan frekuensi, tempo, dan volumenya. Makin lambat tempo musik, denyut jantung semakin lambat dan tekanan darah menurun. Kemudian pendengar pun terbawa dalam suasana rileks, baik itu pada pikiran maupun pada tubuh. 2.1.6.1 Unsur-unsur dalam musik Musik memiliki 3 bagian penting, yaitu beat, ritme, dan harmoni. Kombinasi ketiganya akan menghasilkan musik yang enak. “Musik yang baik, adalah musik yang menyelaraskan ketiganya,” ujar Dra. Louise, M.Psi., seorang psikolog sekaligus terapis musik dari Present Education Program RSAB Harapan Kita, Jakarta. Sedangkan menurut Djohan (2005) menjelaskan musik sebagai serangkaian suara yang diorganisir sedemikian rupa dengan dukungan elemen-elemen yang menyertainya, yaitu: pitch, timbre (warna suara), tempo, dan dinamika keras lembutnya suara). 2.1.7. Terapi Musik 2.1.7.1. Definisi Terapi Musik Musik dapat digunakan sebagai terapi untuk menstimulasi, memulihkan, menghidupkan, mempersatukan, membuat seseorang peka, menjadi saluran, dan memerdekakan. Terapi musik memiliki suatu kapasitas yang unik dan mapan
  • 79. 61 sehingga memungkinkan terjadinya perubahan hidup. (Artikel majalah Sahabat Gembala; Musik sebagai Alat Konseling, Rodney J. Hunter, Juli 1992). Banyaknya cara penggunaan musik sebagai alat terapi, menyebabkan tidak mudah untuk mendefinisikan terapi musik secara tepat. Sejak awal perkembangannya, terapi musik didefinisikan sesuai dengan berbagai kepentingan. National Association for Music Therapy (1960) di Amerika Serikat misalnya, mendefinisikan terapi musik sebagai : “Penerapan seni musik secara ilmiah oleh seorang terapis, yang menggunakan musik sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan terapi tertentu melalui perubahan tingkah laku.” Dua dasawarsa kemudian, dengan berkembangnya teknik dan standar praktik yang baru sebagai perkembangan dari bermacam-macam tuntutan kebutuhan klien, definisi terapi musik diperjelas menjadi : “Suatu aplikasi sistematis dengan menggunakan musik yang dilakukan oleh seorang terapis musik dalam lingkup terapi, yang dimaksudkan untuk mencapai perubahan perilaku. Dengan perubahan tersebut klien diharapkan dapat memahami dirinya dan dunianya secara mendalam, serta mampu menyesuaikan diri dalam masyarakat. Seorang terapis musik profesional berperan dalam menganalisis masalah kliennya dan menetapkan sebuah tujuan umum sebelum merencanakan dan melakukan serangkaian aktivitas musik secara khusus bagi kliennya. Proses ini diikuti dengan evaluasi secara periodik untuk mengkaji efektivitas dari prosedur yang dilakukan.”
  • 80. 62 Sejak tahun 1980, terapi musik berkembang menjadi pengetahuan baru dan diakui sebagai bagian dari profesi kesehatan. Dalam rumusan The American Music Therapy Association (1997), terapi musik secara spesifik disebut sebagai sebuah profesi di bidang kesehatan. “Terapi musik adalah suatu profesi di bidang kesehatan yang menggunakan musik dan aktivitas musik untuk mengatasi berbagai masalah dalam aspek fisik, psikologis, kognitif dan kebutuhan sosial individu yang mengalami cacat fisik. (AMTA, 1997)” Berbagai definisi masih terus berkembang, antara lain dengan menyebutkan secara rinci untuk siapa terapi musik diperuntukkan : “Terapi musik adalah penggunaan musik dalam lingkup klinis, pendidikan, dan sosial bagi klien atau pasien yang membutuhkan pengobatan, pendidikan atau intervensi pada aspek sosial dan psikologis. (Wigram, 2000e)” dengan maksud agar definisinya dapat lebih umum dan merangkul semua definisi terapi musik yang ada, maka pada tahun 1996 Federasi Terapi Musik Dunia (WMFT) mengemukakan definisi terapi musik yang lebih menyeluruh, yaitu : “Terapi musik adalah penggunaan musik dan / atau elemen musik (suara, irama, melodi, dan harmoni) oleh seorang terapis musik yang telah memenuhi kualifikasi, terhadap klien atau kelompok dalam proses membangun komunikasi, meningkatkan relasi interpersonal, belajar, meningkatkan mobilitas, mengungkapkan ekspresi, menata diri atau untuk mencapai berbagai tujuan terapi lainnya. Proses ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan fisik, emosi mental, sosial maupun kognitif,
  • 81. 63 dalam rangka upaya pencegahan, rehabilitasi, atau pemberian perlakuan. Terapi musik bertujuan mengembangkan potensi dan / atau memperbaiki fungsi individu, baik melalui penataan diri sendiri maupun dalam relasinya dengan orang lain, agar ia dapat mencapai keberhasilan dan kualitas hidup yang lebih baik.” Dari definisi di atas dapat dilihat bahwa terapi musik tidak saja bersifat memperbaiki dan mengatasi suatu kekurangan, tapi juga dapat diandalkan sebagai sarana prevensi. Beberapa literatur bahkan menyebutkan, pencegahan atau prevensi adalah bagian terpenting dalam sebuah proses terapi musik. Dikatakan juga, terapi musik akan sangat bermakna jika dapat dijadikan sarana pencegahan jangka panjang. Berbagai penelitian selama setengah abad lebih menunjukkan bahwa terapi musik terbukti efektif dalam membantu rehabilitasi gangguan fisik, peningkatan motivasi dalam menjalani perawatan, memberikan dorongan emosional untuk klien dan keluarga, mengekspresikan perasaan dan dalam berbagai proses psikoterapi. Terapi musik adalah salah satu teknik penyembuhan yang secara langsung menyentuh kedua sisi (tubuh dan pikiran) yang terdapat dalam tubuh setiap manusia secara menyeluruh. 2.1.7.2. Aspek Pendukung Terapi Musik 2.1.7.2.1. Psikobiologis Suara Manusia memiliki telinga sebagai alat penerima suara dan bunyi, yang berfungsi sejak masih berupa janin berusia 16 minggu dan terus berlangsung sepanjang hidup. Kemampuan manusia untuk dapat mendengarkan suara sangat
  • 82. 64 terbatas, telinga normal umumnya hanya dapat mendengar bunyi yang memiliki frekuensi antara 20 Hertz (hz) sampai 20.000 Hz. Semakin lanjut usia seseorang, jangkauan pendengaran akan semakin berkurang. Pemahaman seseorang mengenai suara sangat tergantung pada bagaimana persepsi orang tersebut terhadap apa yang ia dengar. Persepsi ini dapat diperngaruhi oleh pengalaman musikal dan pengalaman sosial-budaya. Keberhasilan terapi musik akan sangat ditentukan oleh peran suara dan persepsi klien terhadap suara yang ia dengar. Oleh karena itu, diperlukan pula mengenai pengetahuan tentang sumbersumber suara, cepat rambat suara, batas-batas pendengaran sesuai usia klien, dan juga pemahaman klien terhadap warna bunyi. Selanjutnya, pemahaman tentang suara juga membutuhkan pengetahuan tentang efek suara terhadap persepsi klien. Misalnya, apakah bunyi suara-suara tertentu menimbulkan ingatan traumatik terhadap klien. Jika ada, terapis perlu tanggap terhadap efek psikobiologis yang ditampakkan oleh klien, seperti pucat, keringat dingin, badan gemetar dan napas sesak, indikatorindikator ini perlu dipahami dengan baik, dan karenanya seorang calon terapis musik harus mempunyai gambaran tentang aspek psikobiologis suara. Pemahaman tentang aspek psikobiologis suara berawal dengan pengertian bahwa perubahan getaran udara sebenarnya adalah musik. Dalam perjalanan selanjutnya, diyakini bahwa tubuh kita adalah sumber suara dan bahwa organ-organ tubuh sekaligus dapat dianalogikan sebagai seperangkat alat musik. Tubuh manusia sebenarnya sarat dengan bunyi, sebagai contoh adalah denyut jantung dan lambung dapat menghasilkan berbagai macam suara.
  • 83. 65 Hasil penelitian para pakar fisiologi menunjukkan keterkaitan antara aspekaspek biologi dan musik. Berikut beberapa contoh penelitian yang telah dilakukan; M. Getry bersama Hector Berlioz seorang komponis Perancis (dalam Djohan, 2006) melakukan observasi mengenai kinerja musik pada nadi. Haller, melaporkan bahwa memainkan alat perkusi genderang akan melipat gandanya semburan aliran darah dari urat nadi. Sementara itu, Dogiel dari Rusia (dalam Djohan, 2006) memperdengarkan nada tertentu melalui alat musik tiup dan piano pada hewan dan manusia, ditemukan bahwa hewan dan manusia sama-sama bereaksi pada stimuli suara, sehingga terjadi akselerasi pada tekanan jantung. Meskipun demikian, efek tersebut lebih intens terjadi pada hewan sementara pada manusia reaksinya bervariasi. Penelitian lainnya masih banyak lagi. Sebagai contoh diterangkan lebih lanjut oleh Djohan (2006), rata-rata hitungan normal dalam setiap ketukan musik hampir sama dengan rata-rata detak jantung manusia yaitu antara 72 sampai 80 ketukan per menit. Maka musik yang simulatif, yaitu yang biasanya dimainkan dengan tempo lebih cepat, dapat meningkatkan detak jantung, sementara musik yang menenangkan biasanya adalah musik-musik yang bertempo lebih lambat. Terdapat empat elemen musik yang menjadi dasar pemberian perilaku pada terapi musik; yaitu : 1. Pitch Pitch-tension dalam musik lebih dikenal dengan sebutan tonal tension. Tonal tension adalah perpindahan nada sebagai suatu melodi atau harmoni
  • 84. 66 yang memiliki jarak tertentu sesuai dengan jarak dalam tangga nada. Perpindahan dapat terjadi dengan naik atau turunnya nada dengan mode mayor dan minor. Kutub dari ekspresi musik ditunjukkan dengan sistem yang saling berhubungan yang disebut mode mayor dan minor berdasarkan trinada mayor dan minor. 2. Tempo Adalah rata-rata satuan waktu pada saat sebuah musik dimainkan yang menggambarkan kecepatan musik tersebut. Tempo biasa disebut sebagai langkah musik, menentukan kecepatan musik. Mengalirnya musik dalam waktu melibatkan irama dan tempo. Istilah-istilah tempo secara umum diambil dari bahasa Italia, suatu sisa-sisa jaman dimana opera Italia pernah mendominasi daratan Eropa. Yang termasuk istilah tempo misalnya allegro, Vivace, Andante, Grave, Adagio, Largo, dan sebagainya. 3. Timbre Timbre adalah warna bunyi, berupa keseluruhan kesan pendengaran yang kita peroleh dari sumber bunyi, setelah dipengaruhi resonansi dan zat pengantar. Penjelasan lainnya yaitu perbedaan sifat antara dua nada yang sama kuat dan sama tinggi nadanya dalam konstruksi instrumen, yang disebut juga warna suara atau kualitas suara. Sebagai contoh, jika dua alat musik, misalnya gitar dan trombon dimainkan bersama-sama pada nada dasar / pitch
  • 85. 67 yang sama, kita tetap dapat membedakan mana suara gitar dan mana suara trombon karena keduanya memiliki warna suara yang berbeda. 4. Dinamika Adalah aspek musik yang terkait dengan tingkat kekerasan bunyi, atau gradasi kekerasan dan kelembutan suara musik, atau secara singkat dinamika diartikan sebagai derajat keras atau lembutnya musik saat dimainkan. Peran dinamika dalam musik dapat dianalogikan dengan peranan terang dan tajamnya gambar atau warna dalam lukisan. Macam-macam tanda dinamika yang biasa digunakan antara lain piano (p), pianissimo (pp), forte (f), fortissimo (ff), dan sebagainya. Tanda tempo dam dinamika bisa merupakan petunjuk berharga bagi kandungan ekspresi yang ada dalam suatu karya musik, karena itu tanda-tanda tersebut biasa disebut sebagai “tanda-tanda ekspresi”. 2.1.7.2.2. Musik dan Penyembuhan Manusia menggunakan musik untuk tujuan penyembuhan sejak peradaban dimulai. Berawal dari zaman Yunani kuno hingga saat ini, praktik penyembuhan berdasarkan suara dan musik masih terus berlangsung. Menurut Bruscia (1987), penyembuhan melalui suara berbeda dengan penyembuhan melalui musik. Untuk lebih jelasnya dijabarkan sebagai berikut : 1. Penyembuhan melalui suara didasarkan pada pengertian bahwa segala sesuatu dalam alam semesta ini adalah vibrasi. Beberapa vibrasi dapat dirasakan
  • 86. 68 dalam tubuh, ada yang dapat dilihat atau didengar sementara yang lain mungkin hanya dapat dirasakan dalam perubahan kondisi kesadaran tertentu. Karena itu, penyembuhan melalui suara adalah penggunaan vibrasi frekuensi atau bentuk suara yang dikombinasikan dengan musik atau elemen musikal (misalkan irama, melodi, harmoni) untuk meningkatkan kesembuhan. Titik beratnya adalah pada perubahan-perubahan fisiologis seperti penurunan tekanan darah, detak jantung, atau meredakan ketegangan otot. Newhan (1998) mengemukakan penggunaan pernapasan, tubuh, dan latihan suara serta teknik menata suara klien secara bebas, pada dasarnya bertujuan mengeliminir ketegangan otot, energi yang menghalangi dan membatasi tubuh, pikiran dan spiritual. 2. Penyembuhan melalui musik adalah penggunaan pengalaman musikal, bentuk energi dan kekuatan universal yang melekat pada musik untuk menyembuhkan tubuh, pikiran, dan aspek-aspek spiritual. Agak sulit untuk menjelaskan perbedaan penyembuhan melalui musik, karena untuk sebagian orang suara-suara tertentu dapat saja dimaknai sebagai musik. Terapi musik meyakini adanya sinergi antara potensi penyembuhan diri yang dimiliki klien sebagai individu, dan adanya relasi terapeutik yang memungkinkan klien untuk memperoleh kekuatan luar biasa yang disalurkan secara eksternal melalui terapi.
  • 87. 69 2.1.7.2.3. Respon Fisiologis Terhadap Musik Dalam terapi musik, kerangka musik disediakan untuk dapat menemukan tingkat psikologis yang mendalam. Juliette Alvin (Melly Norayana, 2009) seorang pelopor terapi musik mengingatkan bahwa efek musik terhadap aspek fisik klien tidak boleh diabaikan. Karena menurutnya, sangat penting untuk memahami respons fisiologis dan bagaimana musik dapat mempengaruhi tubuh manusia. Aspek ini sering diabaikan karena dianggap berhubungan langsung dengan aspek psikologis dan psikoterapi yang penting dalam terapi musik. Namun sebenarnya, seseorang tidak mungkin menunjukkan efek emosional dari musik tanpa menghubungkannya dengan efek fisik dari suara yang memicu reaksi fisiologis. Menurut hasil beberapa penelitian, beberapa indikator fisik dan fisiologis yang tidak dapat diabaikan adalah : a. Detak jantung, b. Tekanan darah, c. Pernapasan, d. Suhu kulit, e. Aktivitas arus listrik pada permukaan kulit, dan f. Gelombang otak. Menurut dr. Sondang Aemilia Pandjaitan-Sirait, Sp.KK (2006) efek musik terhadap berbagai bagian dan fungsi tubuh kita, diantaranya :
  • 88. 70 1. Hubungan Musik Dengan Fungsi Otak Semua jenis bunyi atau bila bunyi tersebut dalam suatu rangkaian teratur yang dikenal dengan musik, akan masuk melalui telinga, kemudian menggetarkan gendang telinga, mengguncang cairan di telinga dalam serta menggetarkan sel-sel berambut di dalam Koklea untuk selanjutnya melalui saraf Koklearis menuju ke otak. Ada 3 buah jaras Retikuler atau Reticular Activating System yang diketahui sampai saat ini. Pertama: jaras retikuler-talamus. Musik akan diterima langsung oleh Talamus, yaitu suatu bagian otak yang mengatur emosi, sensasi, dan perasaan, tanpa terlebih dahulu dicerna oleh bagian otak yang berpikir mengenai baik-buruk maupun intelegensia. Kedua: melalui Hipotalamus mempengaruhi struktur basal "forebrain" termasuk sistem limbik, dan ketiga: melalui axon neuron secara difus mempersarafi neokorteks. Hipotalamus merupakan pusat saraf otonom yang mengatur fungsi pernapasan, denyut jantung, tekanan darah, pergerakan otot usus, fungsi endokrin, memori, dan lain-lain (dr. Sondang Aemilia Pandjaitan-Sirait, Sp.KK, 2006). Seorang peneliti Ira Altschuler (dalam Melly Norayana, 2009) mengatakan "Sekali suatu stimulus mencapai Talamus, maka secara otomatis pusat otak telah diinvasi." Secara lebih lengkap dapat dilihat dalam lampiran 1; bagan Efek Musik Terhadap Otak. dan Tubuh Manusia beserta gambar bagian-bagian otak. Sebuah survei pada suatu seminar menunjukkan bahwa pendengarnya mengatakan bahwa mereka tidak mendengarkan syair dari sebuah lagu. Namun pada waktu lagu tersebut diperdengarkan, separuh dari mereka dapat
  • 89. 71 melagukannya tanpa mereka sadari. Hal ini menunjukkan adanya memori dalam otak yang mampu merekam apa saja yang masuk melalui pendengarannya bersama musik, tanpa mampu dicerna oleh akal sehat. Kesimpulannya tidak ada lagu/musik yang mampu dicegah masuknya ke dalam otak kita, walaupun kita berkata "Saya tidak mendengarkan syairnya". Seorang peneliti, Donald Hodges dalam Melly Norayana (2009) mengemukakan bahwa bagian otak yang dikenal sebagai Planum Temporale dan Corpus Callosum memiliki ukuran lebih besar pada otak musisi jika dibandingkan dengan mereka yang bukan musisi. Kedua bagian ini bahkan lebih besar lagi jika para musisi tersebut telah belajar musik sejak usia yang masih sangat muda yakni di bawah usia tujuh tahun. Gilman dan Newman (1996) mengemukakan bahwa Planum Temporale adalah bagian otak yang banyak berperan dalam proses verbal dan pendengaran, sedangkan Corpus Callosum berfungsi sebagai pengirim pesan berita dari otak kiri ke sebelah kanan dan sebaliknya. Seperti kita ketahui otak manusia memiliki dua bagian besar, yaitu otak kiri dan otak kanan. Walaupun banyak peneliti mengatakan bahwa kemampuan musikal seseorang berpusat pada belahan otak kanan, namun pada proses perkembangannya proporsi kemampuan yang tadinya terhimpun hanya pada otak kanan akan menyebar melalui Corpus Callosum kebelahan otak kiri. Akibatnya, kemampuan tersebut berpengaruh pada perkembangan linguistik seseorang. Dr. Lawrence Parsons dari Universitas Texas San Antonio menemukan data bahwa harmoni, melodi dan ritme memiliki perbedaan pola aktivitas pada otak. Melodi menghasilkan gelombang otak yang
  • 90. 72 sama pada otak kiri maupun kanan, sedangkan harmoni dan ritme lebih terfokus pada belahan otak kiri saja. Namun secara keseluruhan, musik melibatkan hampir seluruh bagian otak. Dr. Gottfried Schlaug dari Boston mengemukakan bahwa otak seorang laki-laki musisi memiliki Cerebellum (otak kecil) 5% lebih besar dibandingkan yang bukan musisi. Kesemua ini memberikan pengertian bahwa latihan musik memberikan dampak tertentu pada proses perkembangan otak. (dikutip dari Melly Norayana, 2009). 2. Musik Dan Produksi Hormon Mary Griffith (Melly Norayana, 2009), seorang ahli fisiologi, mengemukakan bahwa hipotalamus mengontrol berbagai fungsi saraf otonom, seperti bernapas, denyut jantung, tekanan darah, pergerakan usus, pengeluaran hormon tiroid, hormon adrenal cortex, hormon sex, bahkan dapat mengontrol seluruh metabolisme tubuh kita. Sebuah studi menemukan adanya peningkatan Luteinizing Hormone (LH) pada saat mendengarkan musik. LH adalah suatu hormon sex yang merangsang pematangan sel telur. Penelitian lain oleh Satiadarma (1990) dilakukan dengan cara mengukur suhu kulit menggunakan alat Galvanic Skin Response (GSR). Pada saat subyek penelitian mendengarkan musik hingar-bingar, maka suhu kulit lebih rendah dari pada suhu basal (suhu normal individu tersebut tanpa musik). Sebaliknya, ketika musik lembut diperdengarkan, suhu kulit meninggi dari biasanya. Hal ini menunjukkan adanya suatu hormon stress yang dilepaskan oleh otak, yaitu
  • 91. 73 Adrenalin, yang dapat mempengaruhi bekerjanya pembuluh darah di kulit untuk vasokonstriksi (menyempit) atau vasodilatasi (melebar). Pada kondisi stress, adrenalin banyak dikeluarkan dan pembuluh darah kulit menyempit, sehingga suhu kulit menurun. Kesimpulannya adalah jenis musik hingar-bingar dapat menyebabkan kita stress, sedangkan musik lembut memiliki efek menenangkan. Sebuah penelitian oleh Ann Ekeberg dalam Melly Norayana (2009), menunjukkan pengaruh jenis musik terhadap denyut jantung. Siswa di sebuah sekolah menjadi subyek penelitian dan mereka diukur kecepatan denyut nadinya sebelum mendengar musik. Kemudian musik jenis hard rock diperdengarkan selama 5 menit. Semua siswa harus tetap duduk tenang di kursi mereka. Pada akhir tes, denyut nadi diperiksa kembali dan dicatat. Hasilnya adalah peningkatan denyut nadi sebesar 7-12 denyut per menit. David Noebel, meneliti bahwa nada bass dengan getaran frekuensi rendah bersama-sama dengan dentuman drum, mempengaruhi cairan serebrospinal, yang akan mempengaruhi kelenjar Pituitary di otak. Kelenjar ini memiliki fungsi sekresi berbagai hormon tubuh. (Melly Norayana, 2009). Musik juga dikenal sebagai wahana terapi. Sejak zaman dahulu dikenal penyembuhan fisik dan mental melalui musik. Daud memainkan kecapi sambil menyanyi untuk menyembuhkan Raja Saul yang sedang gundah. Musik juga dipakai oleh Raja Philip V dari Spanyol, Raja George II dari Inggris, dan Raja Ludwig II dari Bavaria untuk penyembuhan. O’Sullivan (1991) mengemukakan bahwa musik mempengaruhi imaginasi, intelegensi dan memori, di samping juga
  • 92. 74 mempengaruhi hipofisis di otak untuk melepaskan endorfin. Endorfin kita ketahui dapat mengurangi rasa nyeri, sehingga dapat mengurangi penggunaan obat analgetik, juga menurunkan kadar katekolamin dalam darah, sehingga denyut jantung menurun. Mornhinweg (1992) meneliti 58 subyek sehat untuk menilai jenis musik mana yang menurunkan stress. Musik klasik ternyata memberikan efek relaksasi yang dapat dibuktikan secara statistik dibandingkan dengan musik "new age". Musik yang menenangkan ini juga dipakai dalam pengobatan penderita infark miokard (serangan jantung), pasien sebelum operasi, bahkan untuk menurunkan stres pasien yang menunggu di ruang tunggu praktek. Chanagi H (1996) dan Segal (1999) melaporkan hasil penelitian atas teori neuron (sel konduktor pada sistim saraf) bahwa neuron akan menjadi sirkuit jika ada rangsang musik, karena suara mengakibatkan neuron-neuron yang terpisah akan bertautan dengan mengintegrasikan diri dalam sirkuit otak. Semakin banyak atau semakin sering rangsang musik diberikan maka akan semakin kompleks jalinan antar neuron itu dan akan mempengaruhi kemampuan matematika, logika, bahasa, musik, dan juga emosi pada diri seseorang. 3. Hubungan Musik dengan Ritme Tubuh Pada dasarnya manusia adalah mahluk yang ritmik. Ada siklus gelombang pada otak, siklus tidur, denyut jantung, sistem pencernaan, dan lain-lain yang kesemuanya bekerja dalam satu ritme. Fenomena ritmik ini bukan hanya terjadi pada manusia, tetapi pada hampir semua mahluk hidup, termasuk tumbuh-
  • 93. 75 tumbuhan. Bila ada gangguan terhadap ritme tubuh ini, maka dapat terjadi berbagai penyakit, seperti diabetes, kanker, dan gangguan pernapasan. Menurut John Diamond, seorang dokter di New York, ritme yang berlawanan dengan ritme tubuh akan mengganggu sinkronisasi antara kedua sisi otak, dengan demikian simetri antara otak kiri dan kanan tidak ada lagi. Ia mencoba memperdengarkan musik rock pada pekerja pabrik, ternyata produktivitas menurun. Dibutuhkan jenis musik dengan ritme tertentu untuk dapat meningkatkan produktivitas pekerja, bila musik yang dipilih salah, maka pasti akan berefek buruk. Dalam laboratorium ia mencoba memberi beban pada lengan pria dan ternyata mampu menahan sampai 45 pound. Namun bila musik rock didengarkan, maka kemampuan itu menurun. Peneliti lain dari Stanford University mencatat hubungan antara otak, otot dan musik untuk menghasilkan pekerjaan yang baik. Sebuah alat mengukur gelombang elektrik dari otot para wanita pekerja; musik didengarkan dan gelombang otot dicatat. Musik dengan ritme tidak teratur menghasilkan gelombang elektrik otot yang tampak seperti orang yang tidak pengalaman bekerja dengan tangannya. Namun dengan musik yang ritmenya teratur, gelombang elektriknya menunjukkan gelombang seperti pekerja yang pengalaman, sehingga efisiensi kerja bertambah. (Melly Norayana, 2009). Peneliti lain mencoba merekam gelombang otak selama diperdengarkan ritme anapestic, terjadi gangguan pada gelombang alfa otak, sehingga terjadi "switching". Switching adalah sebuah fenomena yang timbul pada orang dewasa yang sakit jiwa/gila (skizofrenia), di mana orang tersebut akan menjadi seperti
  • 94. 76 anak kecil dan berjalan seperti hewan melata/reptil (merangkak dengan kakitangan bersamaan sisi, yang seharusnya berlawanan). Bila hubungan otak kanan dengan kiri berjalan normal, maka seperti bayi normal akan merangkak dengan kaki-tangan berlawanan sisi. Gerakan orang yang mendengar musik rock sering "bopping", yang juga merupakan gerakan sesisi/homolateral. Ternyata tidak semua musik rock memiliki ritme anapestik, musik klasikpun ada yang memiliki ritme demikian. Finale pada lagu Rite of Spring dari Igor Stravinsky, memiliki ritme ini. Pada pertama kalinya lagu ini dimainkan dalam konser di Paris tahun 1913, terjadi kerusuhan dan pengrusakan gedung konser. Hanya dalam waktu 10 menit telah mulai terjadi perkelahian. Peneliti lain menggunakan tikus sebagai subyek penelitian. Studi ini dilakukan dengan memperdengarkan musik dengan bunyi yang tidak beraturan dan dengan suara drum yang terus menerus. Tikus-tikus ini pada akhirnya bukan saja mengalami kesulitan belajar dan gangguan memori, namun juga perubahan struktur sel-sel otak. Neuron menunjukkan adanya kerusakan "wear and tear" karena stress. Diambil suatu kesimpulan, bahwa ritme-lah yang dapat mengganggu keseimbangan otak, bukan melodi atau harmoni. Setiap mahluk hidup memiliki ritme, bila harmoni ritme ini diganggu oleh suatu disharmoni, maka akan timbul efek yang merusak. Nordwark (1970) dan Butler (1973) melaporkan bahwa stimulasi auditorik yang terjadi terus menerus akan menyebabkan terjadinya adaptasi. Suara kereta yang terus menerus akan menyebabkan respons inhibisi/menghambat pada sistem pendengaran. Reaksi
  • 95. 77 adaptasi ini terjadi dalam waktu 3 menit dan baru dapat hilang setelah periode pemulihan selama 1-2 menit. Musik bila akan digunakan sebagai pengobatan, harus mampu merangsang pelepasan endorfin. Bila terjadi inhibisi, maka proses ini tidak terjadi. 2.1.7.2.4. Respon Emosi Musikal Musik dapat membangkitkan jenis emosi yang kuat. Tidak hanya karena pendengar memiliki reaksi emosional terhadap musik, tetapi juga karena komposisi musik mewakili suatu jenis emosi tertentu yang dapat dikenali oleh pendengar. Secara teoritis, musik dapat mempengaruhi keterbangkitan emosi dapat dijelaskan sebagai berikut. Saat pendengar mendengarkan musik, mereka dapat menerima tandatanda dan unsur-unsur musik yang menyertainya yang kemudian kesemuanya itu saling berhubungan dan berasosiasi dengan konotasi emosi tertentu. Maka muncullah suatu perbedaan emosional dalam musik yaitu, major tonality berhubungan dengan ‘happiness’ dan minor tonality berhubungan dengan ‘sadness’ Respon emosi musikal adalah masalah yang selalu akan menyertai suatu proses terapi musik. Memahami emosi yang muncul karena mendengarkan musik, sedikit banyak akan menjelaskan mengapa seseorang atau sekelompok orang menyukai musik tersebut, latar belakang yang mendorong munculnya emosi karena mendengarkan lagu tertentu, atau musik seperti apa yang membuat seseorang merasa lebih nyaman. Bila dikaitkan dengan dengan terapi musik, maka salah satu inti perlakuan musik terhadap klien adalah pada respon emosinya. Artinya respon yang
  • 96. 78 diberikan akan menunjukkan seberapa jauh pengaruh yang ditimbulkan dan seberapa besar makna dari perubahan yang terjadi. (Djohan, 2006). 2.1.7.2.5. Musical Expression Memahami musik adalah memahami komunikasi makhluk semesta (Setiadarma, 2002). Musik adalah suatu alat komunikasi yang bersifat universal meskipun dipengaruhi oleh budaya dan kultur. Sebagai suatu alat komunikasi musik juga memiliki dimensi kognitif, afektif, dan spiritual. Untuk dapat menikmati musik, seseorang harus dapat ‘merasakan’ bunyi, mereproduksi imajinasi, bahkan tergugah emosinya. Singkatnya seseorang harus dapat memberikan ekspresi tersendiri yang mungkin bersifat subyektif terhadap musik yang didengarnya. 2.1.7.2.6. Musical Perception Musik adalah suatu medium akustik, atau dapat dikatakan bahwa musik dibangun melalui suara (Scheire, 1998). Setiap aspek atau unsur musik yang membuat suatu komposisi berbeda satu dengan yang lain disampaikan melalui gelombang suara. 2.1.7.2.7. Fisiologi Emosi Musik Pythagoras pernah menyatakan bahwa vibrasi musik dapat memberikan kesembuhan serta perubahan pada fisik pendengarnya. Musik yang stimulatif dapat meningkatkan frekuensi detak jantung, sebaliknya musik yang tenang dapat
  • 97. 79 menurunkan frekuensi detak jantung. Setiap jenis musik dapat dipastikan akan meningkatkan detak jantung sedangkan detak yang dialami akan semakin meningkat bila mendengarkan musik-musik yang bersifat stimulatif dibandingkan musik-musik yang lebih tenang (non-stimulatif). Sejalan dengan terjadinya perubahan detak jantung, perubahan pernafasan juga dapat dirasakan sebagai hasil intensitas pengalaman emosi. Peningkatan aktivitas otot seiring dengan pernafasan akan meningkatkan detak jantung dan hal ini dapat diketahui selama terjadi hyperventilation (Frijda, 1988). Ries (1969) menemukan korelasi yang signifikan antara amplitudo pernafasan dan respon emosi terhadap musik, sehingga amplitudo pernafasan seseorang berhubungan dengan respon afeksinya. Korelasi yang semakin signifikan dangan semakin tingginya kesukaan subjek terhadap musik yang didengarnya. Secara umum, frekuensi pernafasan seseorang dapat meningkat saat mendengar musik yang disukai dan biasanya reaksinya saat menghela nafas pun akan menjadi lebih dalam. (Djohan, 2003). Bever (1988) menyatakan bahwa persepsi terhadap bentuk suatu jenis musik juga meningkat seiring dengan penghargaan terhadap nilai estetis musik tersebut. Persepsi dan penghargaan terhadap musik juga akan mempengaruhi tingkat kesukaan yang selanjutnya juga akan menstimuli emosi. Menurut Peretz (2001) emosi musik muncul secara tertutup dalam otak manusia. Salah satu penemuan baru mengatakan bahwa aktivitas otak kiri bekerja untuk mengekspresikan kegembiraan musik (Schmidt & Trainor, 2001 in Peretz, 2001), sedangkan dalam hubungannya dengan musik aktivitas otak kanan lebih berfungsi mengekspresikan rasa ketakutan dan
  • 98. 80 kesedihan. Bila musik menghasilkan efek fisiologis dan psikologis terhadap kesehatan manusia sebagai pendengar, maka dapat diasumsikan bahwa seorang penderita penyakit tertentu akan memiliki respon terhadap musik dengan cara yang khusus pula (Aldridge, 1996) (dikutip dari Djohan, 2003). 2.1.7.2.8. Musik dan Suasana Hati Lewis, Dember, Schefft dan Radenhausen (1995) menemukan pengaruh musik atau video dalam beberapa hasil pengukuran suasana hati melalui kuisioner tentang optimisme/pesimisme (OPQ), skala sikap dan skala Wessman-Ricks tentang Elation dan Depression. Sebelumnya dipilih musik dan video dengan kategori suasana hati positif dan negatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musik memiliki pengaruh yang besar terhadap suasana hati tetapi tidak demikian dengan video. Musik dengan kategori positif menghasilkan peningkatan suasana hati yang positif demikian pula dengan musik yang sedih juga menghasilkan peningkatan suasana hati negatif. Maka disimpulkan bahwa sebuah musik cenderung menimbulkan suasana hati yang sama dalam diri pendengarnya. Mode mayor dan minor dari trinada kutub ekspresi musik dapat memberikan jenis emosi tertentu (Cooke, 1959). Mode mayor mengekspresikan emosi positif seperti bahagia, senang, percaya diri, dan cinta. Sedangkan mode minor dapat mengkspresikan emosi negatif seperti duka, sedih, dan takut. (dalam Caroline M.D. Nugroho, 2003). Menurut Djohan (2003), banyak peneliti menganggap bahwa kognisi musik adalah ’domain dominan’ saat mengenal domain tradisional seperti kognitif,
  • 99. 81 psikomotor, dan afektif. Secara psikologis penentuan aktivitas musik termasuk persepsi dan kognisi ditanggapi secara apriori walaupun perilaku musikal juga merupakan salah satu aspek penting dari perilaku manusia. Namun sejauh ini penelitian atas perilaku musikal selalu dihubungkan dengan proses kognitif dan persepsi. Neisser, 1997 (dalam Djohan, 2003) mengatakan bahwa psikologi kognitif dan disiplin terkait menjadi penting dan secara ekologis merupakan penemuan yang valid dalam proses penggabungan antara disiplin psikologi dan musik. Hubungan antara konsep psikologi dan musik juga ditunjukkan oleh tumbuh kembangnya disiplin terapi musik dalam konteks pentingnya pengalaman musikal bagi kehidupan manusia. Gangguan mental secara psikologis dapat diobati dengan kelengkapan terapeutik yang dimiliki dalam terapi musik. Dalam aplikasi pengetahuan dan penelitian dari psikologi musik sebagai ikhtiar pendidikan musik, tidak perlu dipikirkan pemisahan antara jiwa/pikiran dan tubuh. Secara sederhana cukup dengan mengacu pada perilaku musikal seseorang baik secara individual maupun holistik. Menurut Abler (1989), musik memiliki semua karakter penting dari sistem kimia, genetika, dan bahasa manusia. Sloboda (1998) secara tegas mengatakan bahwa perasaan manusia terikat dengan bentuk musik karena terdapat konsistensi dalam respon musik yang secara relatif memberikan lingkungan yang sama.
  • 100. 82 2.1.7.2.9. Psikologi Musik dan Efek Psikologis 2.1.7.2.9.1. Psikologi Musik Bidang studi yang mempelajari hubungan antara musik dan psikologi disebut sebagai Psikologi musik. Pembahasan mengenai psikologi musik dimulai dengan interdisiplin antara kognisi dan musik. Para ilmuwan Abad 17 melakukan kembali eksperimen empirik dari Pythagoras seperti yang dijelaskan dalam buku Dialog Plato: Timaeus dan Republik. Alasan lain melanjutkan ketertarikan penelitian terhadap musik adalah kepercayaan kuno yang mengatakan bahwa suara musik tidak hanya berisi rahasia ke-universal-an dalam ketepatan matematis tetapi juga ketepatan analogi emosi dan karakter manusia. Disinilah awal mula timbulnya psikologi musik modern. (Djohan, 2003). Psikologi musik mencakup diantaranya penelitian tentang persepsi musik dari segi biologis, penelitian tentang representasi auditori dan koding dari sudut pandang psikologi kognitif, penelitian tentang acquisition keterampilan musical dari sudut pandang psikologi perkembangan dan penelitian tentang aspek aestetik dan afektif dari sudut pandang psikologi sosial. Psikologi musik meliputi bidang psikologi lain, antara lain psikologi sosial, faal, dan pendidikan, karena dalam berinteraksi dengan musik banyak hal yang berperan antara lain kognitif, persepsi, ingatan, keterampilan, dan pembelajaran. Sloboda (dalam Hargreaves & North, 2000) menyatakan bahwa psikologi musik hendaknya bertujuan untuk menjelaskan stuktur dan isi dari pengalaman musik.
  • 101. 83 2.1.7.2.9.2. Pengaruh Musik Terhadap Perubahan Psikologis Setiap manusia memiliki kemampuan untuk dapat berbahasa dan bemusik (Sloboda, 1994). Musik itu sendiri adalah bahasa dari emosi-emosi (Machlis, 1963). Dengan musik seseorang bisa mengekspresikan emosi dan perasaannya untuk dikomunikasikan kepada pihak lain (pendengar). Tujuan utamanya adalah agar para pendengar dapat merasakan emosi dan perasaan yang sama dengan pemusik tersebut (Gardner,1973; Bayless & Ramsey,1986). Musik bisa mempengaruhi emosi pendengar karena pada dasarnya, seperti halnya dengan bahasa, musik juga adalah alat komunikasi yang universal. Bentuk dari komunikasi emosi tersebut disampaikan bukan hanya melalui lirik-lirik lagunya saja, tetapi juga melalui gelombang suara dalam bentuk pitch, duration, loudness, dan timbre (Seashore, 1967). Musik dapat memberikan efek yang positif dan negatif bagi manusia. Musik secara psikologis dapat memberikan efek seperti membuat seseorang merasa nyaman, bahagia, segar, serta tenang, dan dengan bermain musik seseorang tersebut juga akan merasakan suatu kesenangan, meningkatkan kemampuan sosialisasi dan komunikasi terutama bila dilakukan secara bersama-sama (berkelompok) (Djohan, 2006). Penelitian lainnya tentang emosi sebagai respon psikologis terhadap musik menjelaskan bahwa musik dapat meningkatkan intensitas emosi dan akan lebih akurat bila ‘emosi musik’ itu dijelaskan sebagai suasana hati (mood), pengalaman dan perasaan yang dipengaruhi akibat mendengar musik (Sloboda, 1991 dalam Djohan, 2003).
  • 102. 84 Tempo & Pitch & Ritme Melodi Cepat, hidup, menarik Lambat, Mengalir, lembut Sedih Tinggi, mengalir senang Harmoni Mayor ragu- ragu Timbre Volume Ringan, jelas, Cenderung banyak staccato sedang Minor Berkelanjutan, Cenderung tanpa datar, lambat halus Halus tekanan Naik & turun Mayor & Sentuhan ringan secara minor berlarut-larut bertahap bergantian Cepat, Rendah, tidak Minor tersentak, Marah Lembut. Lambat Lembut terduga Sangat keras melengking, suka berubah Terpecah, & kuat kasar tiba- tiba Takut Cepat, Rendah tersentak Minor, Terpecah, berat acak, kuat Tiba-tiba keras & meledak Tabel 2.1 Emosi Dasar yang Dihasilkan Berdasarkan Berbagai Karakteristik Musik Menurut Combarieu (dalam Djohan, 2003), musik dapat digunakan untuk memperbaiki suatu gangguan yang bersifat Psikologis dan kemudian akan mengembalikannya ke dalam keadaan normal, umumnya ada tiga kategori respon yang ditampilkan individu pada saat mendengarkan musik, yaitu : 1. Respon gerakan-gerakan fisik untuk melepaskan ketegangan otot melalui rangsang ritmis dari musik.
  • 103. 85 2. Respon emosional yang dapat dibangkitkan melalui berbagai jenis musik. 3. Respon asosiatif dimana musik merangsang proses pikir manusia yang memungkinkan adanya ekspresi elemen-elemen mental yang tidak disadari. 2.1.8. Angklung 2.1.8.1. Sejarah Angklung Angklung adalah alat musik tradisional asli dari daerah sunda (Jawa Barat), yang terbuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog. Dalam rumpun kesenian yang menggunakan alat musik dari bambu dikenal jenis kesenian yang disebut angklung dan calung. Adapun jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah awi wulung (bambu berwarna hitam) dan awi temen (bambu berwarna putih), awi belang dan awi tali. Tetapi untuk pembuatan angklung yang berukuran besar ada juga yang mempergunakan awi surat (Obby A. Wiramihardja, 1989; kutipan yang tercantum dalam buku "Daeng Soetigna Bapak Angklung Indonesia" tulisan Helius Sjamsudin dan Hidayat Winitasasmita, yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi
  • 104. 86 Sejarah Nasional, Jakarta 1986). Sebaiknya bambu-bambu (awi) tersebut dipanen / dipotong pada pukul 10.00 s/d 15.00, karena bambu secara alamiah sedang tidak melakukan proses penyerapan sari-sari makanan (proses penyerapan terjadi sebelum pukul 10.00 dan sesudah pukul 15.00). Setelah dipotong, batang bambu kemudian digantung dalam posisi berdiri untuk dikeringkan sehingga daun-daunnya berguguran dengan sendirinya. Proses pengeringan secara alamiah ini memakan waktu sekitar 3 bulan. Selain itu, proses penebangan atau pemotongan bambu tersebut harus tepat pada waktunya yaitu antara bulan April, Mei, Juni dan Juli. Jadi tidak boleh lebih atau kurang dari bulan tersebut. (Hasil wawancara dengan pengurus Saung Angklung Udjo, 2005) Asal usul jenis alat musik bambu di Indonesia sudah ada sejak sebelum zaman Hindu, malah angklung pernah di pakai dalam upacara persembahyangan sebagai pengganti genta. Awal berkembangnya instrumen musik bambu di Indonesia bersamaan dengan migrasi etnik dari benua Asia yang berlanjut kemudian menjadi Melayu Indonesia, hal ini diungkapkan oleh ahli musik barat, J dan C.J.A. Kunst dalam bukunya "Musical Exploration in the Indian Archipelago" in Asiatic ReviewOctober 1934 halaman 814 serta Will G. Gilbert "Muziek Uit Oost en West Indie" halaman 9-10. Selain itu ada pula cerita yang mengatakan bahwa Tome Pirez orang Portugis pernah bertamu di Keraton Pajajaran dan di dalam catatan perjalanannya beliau di jemput dengan musik bambu yang dibunyikannya dengan cara digoyanggoyang dan sambil berjalan/melangkah juga menari dan dimainkan oleh serombongan pemusik. (Obby A. Wiramihardja, 1989)
  • 105. 87 Terciptanya musik bambu, seperti angklung dan calung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip). Pada zaman kejayaan Kerajaan Pajajaran, angklung disamping sebagai alat upacara pertanian, juga dipergunakan sebagai alat musik bala tentara kerajaan dimana untuk menambah semangat tempur dalam menghadapi musuh dan menurut keterangan sejarah, pada saat terjadinya "Perang Bubat" (antara Kerajaan Pajajaran dan Kerajaan Mataram), angklung dipakai sebagai alat musik Kerajaan Pajajaran sebagai alat musik perang untuk membangun dan menambah semangat juang bala tentara di medan perang. Tidak mengherankan bila pada pertengahan abad ke 19, ketika di Jawa Barat diselenggarakan "Tanam Paksa" oleh pemerintah Kolonial Belanda (zaman Gubernur Jenderal Van Den Bosh), mengeluarkan larangan permainan angklung, alasannya karena angklung dapat memberi pengaruh besar bagi semangat rakyat untuk melawan kekuasaan pemerintah kolonial Belanda. Dalam larangan tersebut permainan angklung dikecualikan untuk anak-anak dan pengemis. Sejak saat itu angklung "turun" derajatnya dari alat pembangkit semangat menjadi alat musik pengemis. Hal tersebut berlangsung sekitar 1 (satu) abad. (Obby A. Wiramihardja, 1989) Keberadaan angklung mulai terangkat ke permukaan diawali pada tahun 1938 ketika seorang putra ahli musik Tatar Sunda kelahiran Garut, yaitu Bapak Daeng Soetigna (13 Mei 1908-8 April 1984) memperkenalkan alat musik tersebut.
  • 106. 88 Ia berguru kepada bapak Jaya dari Kuningan, seorang ahli pembuat angklung. (Obby A. Wiramihardja, 1989). Bapak Daeng Soetigna berusaha menggunakan angklung sebagai alat pendidikan. Mottonya adalah 5 M: Murah, Mudah, Menarik, Massal, dan Mendidik (Obby A. Wiramihardja, 1989). Beliau juga sempat menggelar pentas di Konferensi Asia Afrika tahun 1955, bahkan mengajarkan kepada beberapa anggota delegasi dari luar negeri untuk bermain angklung. Motto 5M yang diterapkan oleh Bapak Daeng dapat dijabarkan sebagai berikut: Angklung merupakan alat musik yang relatif murah karena terbuat dari bahan yang murah yaitu bambu. Mudah, karena untuk memainkan angklung kita tidak perlu memiliki keterampilan khusus atau bakat musik yang sangat baik. Kemudian menarik, karena kesederhanaannya, bunyinya yang riang tapi lembut, bentuknya yang unik namun mampu memainkan semua jenis musik, baik klasik, pop, dan sebagainya. Angklung juga merupakan alat musik massal, yaitu untuk memainkan satu lagu diperlukan banyak orang. Biasanya satu orang memegang satu angklung, tapi bisa juga satu orang memegang dua angklung sekaligus, asalkan nada-nada yang dimainkan tidak muncul berurutan. Terakhir, mendidik, selain belajar bermusik, pemain dituntut untuk dapat kompak dan saling pengertian dengan sesama pemain, selain itu dituntut pula adanya kesabaran karena biasanya untuk menghasilkan suatu lagu yang sempurna dibutuhkan latihan teratur, disiplin, berkelanjutan dan selama bermain dibutuhkan pula konsentrasi yang tinggi dari para pemainnya sehingga tidak terjadi kesalahan nada.
  • 107. 89 Departemen P & K dengan Surat Keputusan tanggal 23 Agustus 1963 No. 082/1968 kemudian menetapkan angklung sebagai alat pendidikan musik di lingkungan Departemen P & K dan menugaskan Direktorat Jenderal Kebudayaan untuk mengusahakan agar angklung dapat dikembangkan tidak hanya hanya di lingkungan Departemen P & K saja. Saat ini, alat musik Angklung yang sering digunakan sudah bertangga nada diatonis dan merupakan hasil perkembangan dari angklung buhun yang bertangga nada pentatonis, seperti : Angklung Buncis, Angklung Baduy dan Angklung Gubrag, yang sejak lama terdapat di Tatar Sunda. Dengan menggunakan bahan yang sangat murah dan relatif mudah didapat, dapat dibuat alat seni suara yang sederhana serta mencukupi segala persyaratan, baik dipandang dari sudut seni suara maupun dari sudut pendidikan. Nada-nada yang dipergunakan yakni dari yang paling rendah G sampai yang tertinggi C 3 . Dari sini nyatalah, bahwa susunan nada yang ada pada angklung ini sedikit pun tidak berbeda dengan susunan nada pada alat seni suara yang biasa seperti biola, acordeon, dan kebanyakan alat-alat tiup. Demikian pula ia sesuaikan penalaannya dengan standar internasional yaitu A-440. Kemudian tangga nada diatonis ini dilengkapi pula dengan semua nada kroma, sehingga terjadi tangga nada kromatis yang sempurna. (Obby A. Wiramihardja, 1989). 2.1.8.2 Spesifikasi Musik Angklung Dalam kumpulan seminar angklung Obby A.R. Wiramihardja (1989), dijelaskan bahwa pengelompokan angklung terdiri dari 2 bentuk, yaitu
  • 108. 90 angklung melodi dan angklung pengiring (akompanyemen), yang disusun dalam kelompok-kelompok sebagai berikut : 1) Angklung Melodi : Sejumlah angklung melodi yang bernada G besar sampai dengan C3 atau angklung yang bernomor 30 masing-masing nomor itu dirangkap dua (2 kali) maka disebut Dua set Besar dan jumlah itu terbentuk sebuah susunan ANGKLUNG MELODI. Angklung telah dibuat melodi seluas tiga setengah oktaf, yaitu dari nada G besar sampai nada C 3 atau nada C bergaris tiga. Dapat dilihat pada gambar garis paranada : Jumlah melodi "Angklung Melodi" dapat kita susun serta dikelompokkan sebagai berikut : Angklung yanq bernada : G Gis A Ais B dari angklung G sampai B disebut OKTAF BESAR
  • 109. 91 Angklung yang bernada dan bernomor : Dari angklung c sampai dengan nomor 5 (b) disebut OKTAF KECIL c cis d dis e f fis --------------------------------- bernomor = 0 g --------------------------------- bernomor = 1 gis --------------------------------- bernomor = 2 a --------------------------------- bernomor = 3 ais --------------------------------- bernomor = 4 b --------------------------------- bernomor = 5 lihat pada garis balok kunci F Angklung yang bernada dan bernomor : Dari angklung nomor 6 sampai 17 disebut OKTAF BERGARIS SATU c1 ------------- bernomor= 6 cis 1 ------------- bernomor= 7 d1 ------------- bernomor=8 dis 1 ------------- bernomor=9 e1 -------------- bernomor= 10 f1 ------------- bernomor= 11 fis 1 ------------- bernomor= 12
  • 110. 92 g1 ------------- bernomor= 13 gis 1 ------------- bernomor= 14 a1 ------------- bernomor = 15 ais 1 ------------- bernomor= 16 b1 ------------- bernomor= 17 Angklung yang bernada dan bernomor : Dari angklung nomor 18 sampai 29 disebut OKTAF BERGARIS DUA c2 ------------- Bernomor = 18 cis 2 ------------- Bernomor = 19 d2 ------------- Bernomor = 20 dis 2 ------------- Bernomor = 21 e2 ------------- Bernomor = 22 f2 ------------- Bernomor = 23 fis 2 ------------- Bernomor = 24 g2 ------------- Bernomor = 25 gis 2 ------------- Bernomor = 26 a2 ------------- Bernomor = 27 ais 2 ------------- Bernomor = 28 b2 ------------- Bernomor = 29 ----------c2 lihat pada garis balok kunci G. Bernomor = 30 2) . Angklung Pengiring Besar (Akompanyemen) Terdiri dari 24 buah angklung pengiring besar (Akompanyemen) yaitu : - 12 buah Akompanyemen Mayor :
  • 111. 93 A 7 , Bes 7 , B 7 , C 7 , Cis 7 , D 7 , Es 7 , E 7 , F 7 , Fis 7 , G 7 , AS 7 - 12 buah Akompanyemen Minor : Am, Besm, Bm, Cm, Cism, Dm, Esm, Em, Fm, Fism, Gm, Asm Angklung Pengiring Kecil (Ko-Akompanyemen) Terdiri dari 24 buah angklung pengiring kecil (Ko-Akompanyemen): - 12 buah Akompanyemen Mayor : A 7 , Bes 7 , B 7 , C 7 , Cis 7 , D 7 , Es 7 , E 7 , F 7 , Fis 7 , G 7 , AS 7 - 12 buah Aakompanyemen Minor : Am, Besm, Bm, Cm, Cism, Dm, Esm, Em, Fm, Fism, Gm, Asm Namun range nadanya satu oktaf lebih tinggi dari angklung pengiring besar dan fungsinya sebagai penguat bagi lagu-lagu yang berirama keroncong, Chacha, Bequine, Mars atau lagu-lagu yang berirama Amerika Latin lainnya. Di samping keunikannya, alat musik angklung mempunyai kelemahan yang bersifat alami. Beberapa kelemahan alat musik angklung: 1) Elastisitas bambu (bersifat mengkerut dan mengembang) Pengaruh cuaca atau iklim setempat dapat menyebabkan perubahan nada yang telah terbentuk pada angklung. Nada yang bersangkutan dapat menjadi lebih tinggi apabila bambu itu mengkerut, atau menjadi lebih rendah apabila bambu mengembang.
  • 112. 94 Besar kecilnya elastisitas (kelenturan) bambu tergantung kepada kepadatan bambu yang bersangkutan. Apabila bambu itu kurang padat, maka elastisitasnya akan menjadi lebih besar sehingga mudah sekali berubah karena pengaruh iklim. Namun jika bambu itu cukup padat, maka elastisitasnya akan sangat kecil sehingga perubahan nadanya akan hampir tidak kelihatan. Yang terakhir inilah yang terbaik dijadikan angklung. Kelemahan elastisitas ini masih dapat ditolong, yaitu dengan melakukan penyeteman (penalaan) kembali. 2) Bambu menjadi retak/pecah (karena pengaruh iklim yang drastis) Daya tahan bambu sangat berbeda dengan daya tahan logam terhadap iklim yang drastis atau terhadap suhu yang sangat panas serta udara yang sangat dingin. Pada suhu yang sangat panas bambu akan mudah retak atau bahkan pecah. Ini akan mengakibatkan nada yang telah terbentuk menjadi rusak dan tidak akan tertolong lagi, kecuali harus diganti dengan yang baru. 3) Bambu menjadi hancur (karena dimakan bubuk atau rayap) Dengan adanya binatang bubuk atau rayap, maka kadang-kadang bambu yang dibuat menjadi angklung pun dimakannya. Dari pengalaman dapat diketahui bahwa binatang bubuk sangat menyenangi bambu yang empuk atau kurang padat. Angklung yang dimakan bubuk pun nadanya akan menjadi rusak dan harus diganti baru.
  • 113. 95 2.1.9. Angklung dan Psikologi Alat musik yang terbuat dari rumpun bambu seperti arumba, calung, alat musik dari bambu di daerah bali dan angklung memiliki kekhasan dalam warna musiknya, rumpun bambu dapat membuat seseorang merasa tenang, damai, senang, dan bersemangat, tergantung dari mode lagu yang sedang dimainkan (penelitian Djohan mengenai alat musik tradisional dari bali yang berbahan dasar bambu, unpublished, 2007). Angklung merupakan alat musik tradisional yang memiliki filosofi dasar kesenangan, bersemangat dan kebersamaan. Angklung memiliki suara yang riang serta warna suara yang seragam (Budi Supardiman, Ir., dalam website Keluarga Paduan Angklung SMUN 3 Bandung, tahun penerbitan tidak diketahui). Tekstur angklung sendiri kental dan hangat ini sesuai dengan karakteristik dari tanaman bambu (Iwan Pirous, 2007). Angklung dapat memainkan semua jenis musik, hal ini dapat membuat orang-orang yang memainkan maupun yang hanya mendengarkan saja merasa senang, nyaman, bersemangat atau dapat pula bersedih karena mengenang kejadian-kejadian di masa lalu yang memiliki keterkaitan dengan jenis lagu yang dimainkan dengan menggunakan alat musik angklung. Untuk memainkan alat musik angklung pada dasarnya dapat dimainkan secara individual maupun secara bersama-sama, namun untuk menghasilkan paduan harmonisasi nadanada yang indah dibutuhkan banyak orang. Biasanya satu orang memegang satu angklung, tapi bisa juga satu orang memegang dua angklung sekaligus asalkan nadanada yang dimainkan tidak muncul secara berurutan. Memainkan angklung secara bersama-sama mendidik para pemain untuk dapat saling pengertian dan menjalin
  • 114. 96 komunikasi yang baik sehingga dapat meningkatkan kemampuan sosialisasi serta tumbuh rasa saling menghormati, saling menghargai, kekeluargaan, keeratan, dan kekerabatan antar sesama pemain. Mereka akan secara bersama-sama merasakan kegembiraan saat berlatih dan memainkan angklung. (Obby A. Wiramihardja, 1989). 2.2. Kerangka Pemikiran Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang kehidupan seseorang, yaitu suatu periode dimana seseorang telah beranjak jauh dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan, atau beranjak dari waktu yang penuh manfaat (Hurlock, 1980). Masa usia lanjut tidak dapat dihindarkan dan merupakan suatu hukum alam. Masa lanjut usia juga merupakan masa penurunan baik secara fisik maupun psikologis, hal ini seringkali memunculkan pemikiran bahwa masa lanjut usia adalah masa yang ‘menakutkan’. Masa lanjut usia juga rentan terhadap perasaan kesepian (loneliness), akibat ditinggalkan oleh pasangan hidup (meninggal), ditinggalkan oleh anakanaknya yang menikah dan sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya, serta sahabatsahabat yang meninggal. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu persiapan diri untuk menghadapi masa lanjut usia. Secara naluri setiap manusia memiliki harapan dan keinginan untuk disayangi dan diperhatikan oleh orang lain terutama oleh keluarganya, mulai dari masa prenatal hingga masa usia lanjut dan pada akhirnya meninggal dunia. Namun pada kenyataannya, seringkali di masa usia lanjut harapan tersebut tidak terpenuhi. Kondisi yang terjadi saat ini, dimana anggota keluarga lainnya memiliki kesibukan tersendiri
  • 115. 97 terutama berkaitan dengan pekerjaan membuat mereka tidak mampu merawat dan menjaga anggota keluarga mereka yang sudah lanjut usia. Ketidakmampuan untuk merawat anggota keluarga terutama orang tua yang sudah lanjut usia membuat mereka lebih memilih untuk menitipkan para lansia ke panti werdha dengan tujuan agar para lansia tersebut ada yang merawat, memperhatikan, menjaga, menemani dan membantu dalam memenuhi segala kebutuhan para lansia tersebut. Akan tetapi, kondisi ini justru memunculkan penghayatan tersendiri yang menjadi suatu masalah baru bagi para lansia tersebut terutama yang masuk ke panti bukan karena keinginan sendiri, yaitu munculnya penghayatan akan perasaan terbuang, dijauhkan, dipisahkan, terasing, kesalahpahaman, dan rasa nyeri terutama terhadap keluarganya. Selain itu, para lansia yang tinggal di panti juga sering menghayati perasaan kesepian dikarenakan mereka dibayangi oleh penyakit yang mereka derita, kematian, tragedi, krisis, serta ketiadaan sejumlah relasi khusus yang mereka butuhkan atau harapkan. Mereka seringkali memunculkan perilaku melamun, menyendiri, menangis, marahmarah dengan penghuni lainnya dan tidak mau berbicara dengan penghuni lainnya di panti. Pada kenyataannya, tidak tertutup kemungkinan bahwa kondisi yang terjadi pada lansia yang masuk panti secara nonsukarela juga terjadi pada para lansia yang secara sukarela masuk ke dalam panti, seringkali mereka juga merasa terasing, kesepian, tidak memiliki teman, dimusuhi, dan terabaikan keberadaannya. Meskipun mereka berusaha untuk bersikap pasrah dengan kondisinya saat ini di panti dan berusaha untuk tetap bersosialisasi dengan teman-teman sesama penghuni di panti,
  • 116. 98 tapi perasaan loneliness masih sering sekali mereka rasakan. (Hasil wawancara dan observasi peneliti terhadap para penghuni di empat panti kotamadya Bandung, 2006). Lansia yang mengalami loneliness seringkali memiliki suasana hati (mood) yang kurang baik bahkan cenderung menurun, kemudian kemampuan sosialisasi dan komunikasi yang rendah serta menampilkan perilaku yang negatif seperti melamun dan murung. (Peplau & Perlman, 1982). Pada dasarnya mereka yang mengalami penghayatan loneliness memerlukan adanya suatu kedekatan dengan orang lain, hal inilah yang seringkali tidak terpenuhi pada para lansia yang tinggal di panti werdha. Mereka membutuhkan kebersamaan dengan orang lain untuk mengatasi perasaan kesepian (loneliness). Beberapa cara penanganan berupa terapi telah diberikan agar perasaan kesepian dari para penghuni panti dapat teratasi seperti memelihara binatang, keterampilan tangan, berkebun, aktivitas keagamaan dan melalui media musik. Musik telah diyakini mampu menjadi salah satu media dalam metoda penyembuhan tambahan terhadap beberapa penyakit fisik maupun psikologis. Djohan (2003) mencatat bahwa dengan bantuan alat musik, klien juga didorong untuk berinteraksi, berimprovisasi, mendengarkan, atau aktif bermain musik. Tanpa harus mengucapkan kata-kata, misalnya klien dapat mengekspresikan kemarahannya dengan berimprovisasi di alat musik. Oleh karena itu, berkembanglah suatu terapi musik untuk membantu proses penyembuhan suatu penyakit atau masalah psikologis lainnya.
  • 117. 99 Benenzon (1997) mengemukakan, kesesuaian terapi musik sangat ditentukan oleh nilai-nilai individual, falsafah yang dianut, pendidikan, tatanan klinis, dan latar belakang budaya. Namun semua terapi musik mempunyai tujuan yang sama yaitu membantu mengekspresikan perasaan, membantu rehabilitasi fisik, memberi pengaruh positif terhadap kondisi suasana hati dan emosi, meningkatkan memori, serta menyediakan kesempatan yang unik untuk berinteraksi dan membangun kedekatan emosional. Dengan demikian, terapi musik juga diharapkan dapat mengatasi stress, mencegah penyakit dan meringankan rasa sakit. Peran musik dalam terapi musik tentunya bukan seperti obat yang dapat dengan segera menghilangkan rasa sakit. Musik juga tidak dengan segera mengatasi sumber penyakit. Musik sendiri diyakini mampu mempengaruhi suasana hati orang-orang yang mendengarkannya. Menurut Aristoteles, musik memiliki kemampuan untuk mendamaikan hati yang gundah, mempunyai terapi rekreatif dan menumbuhkan jiwa patriotisme. Sebagai alat terapi kesehatan, musik ketika didengarkan mengantarkan gelombang listrik yang ada di otak pendengar, sehingga memberikan efek secara fisiologis terutama pada perubahan ritme denyut jantung dan tekanan darah sesuai dengan frekuensi, tempo dan volumenya (Wikipedia, 2005). Mendengarkan musik secara psikologis dapat memberikan efek seperti membuat seseorang merasa nyaman, bahagia, segar, serta tenang, dan dengan bermain musik seseorang tersebut juga akan merasakan suatu kesenangan, meningkatkan kemampuan sosialisasi dan komunikasi terutama bila dilakukan secara bersama-sama (berkelompok) (Djohan, 2006).
  • 118. 100 Menurut pernyataan dr. Teddy Sp.Kj. dalam Pikiran Rakyat (2004), bahwa banyak hal yang dapat diperoleh dari terapi musik yaitu meningkatkan keterampilan berkomunikasi, mengurangi perilaku yang tidak selaras, memperbaiki prestasi akademik, memperbaiki gerakan psikomotorik, menambah perhatian, meningkatkan konsentrasi, memperbaiki hubungan interpersonal, pengelolaan emosi dan mengurangi stres. Untuk mereka yang mengidap penyakit di stadium terminal (akhir), seperti kanker terapi musik bersifat paliatif yang bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri, pengekpresian perasaan, meningkatkan rasa percaya diri, mengurangi kecemasan dan stres, mengurangi rasa takut, peningkatan kemandirian, dan lebih mampu dalam berkomunikasi. Selaras dengan hal tersebut, diharapkan semua orang yang mendengarkan musik terkhusus para lansia yang mengalami perasaan kesepian dengan menampilkan perilaku simptom perasaan kesepian dapat berkurang dengan ditandai adanya perubahan suasana hati, kemampuan sosialisasi dan komunikasi yang meningkat menjadi lebih baik, serta perilaku yang positif seperti menampilkan ekspresi wajah yang ceria disertai senyuman, merasa senang dan bahagia. Terapi musik yang sudah berjalan sampai saat ini seringkali hanya menggunakan alat musik dari luar negeri dan membuat alat musik tradisional terabaikan, padahal seluruh alat musik selama memiliki unsur-unsur musik dapat digunakan sebagai alat dalam terapi musik (Djohan, dalam Seminar Terapi Musik; unpublished, 2007). Pernyataan tersebut memperkuat asumsi peneliti yang sudah dikemukakan di latar belakang masalah, bahwa semua jenis alat musik baik tradisional maupun internasional dapat digunakan sebagai salah satu bentuk kajian
  • 119. 101 terapi musik, tentu saja penggunaannya disesuaikan dengan kasus yang dihadapi. Angklung sebagai alat musik tradisional memiliki unsur-unsur yang terkandung dalam musik, oleh karena itu memenuhi syarat bila dijadikan salah satu bentuk kajian dari terapi musik dalam bentuk suatu intervensi tersendiri dalam menangani kasuskasus psikologis. Angklung sendiri memiliki warna suara yang khas yaitu riang (Budi Supardiman, Ir., dalam website Keluarga Paduan Angklung SMUN 3 Bandung, tahun penerbitan tidak diketahui), tekstur yang kental dan hangat (Iwan Pirous, 2007) sehingga membuat orang yang memainkan alat musik angklung merasa senang dan bersemangat. Angklung yang dimainkan memiliki harmonisasi nada dan warna suara yang bersifat seragam (Budi Supardiman, Ir., dalam website Keluarga Paduan Angklung SMUN 3 Bandung, tahun penerbitan tidak diketahui) ini selaras dengan motto angklung yang menyatakan bahwa angklung sebagai alat musik yang bersifat massal, dengan kata lain angklung memiliki unsur kebersamaan yang bila digunakan dalam penelitian ini dimana berkaitan dengan penghayatan perasaan kesepian para lansia yang pada dasarnya memerlukan kondisi kebersamaan dan kegembiraan dirasakan tepat untuk digunakan dalam mengatasi permasalahan tersebut. Pada saat bermain alat musik angklung terdapat pula unsur-unsur lainnya yang distimulasi seperti konsentrasi, memori, serta gerak fisik/tubuh terutama anggota tubuh pergerakan bagian atas yaitu bahu, lengan dan tangan. Selain jenis alat musik yang digunakan dalam terapi musik, jenis musik dan nada dasar yang dimainkan yaitu berupa mode mayor dan minor dapat mempengaruhi tujuan dari penelitian yang dilaksanakan. Mode mayor mengekspresikan emosi-emosi
  • 120. 102 yang bermuatan positif seperti bahagia, senang, percaya diri, dan cinta. Sedangkan mode minor dapat mengekspresikan emosi-emosi yang negatif seperti duka, sedih, dan takut (Cooke, 1959 dalam Caroline M. D. Nugroho, 2003). Pemberian intervensi terapi musik berupa bermain alat musik angklung secara bersama-sama dengan memainkan lagu-lagu yang memiliki mode mayor diharapkan dapat membantu meningkatkan suasana hati para lansia dimana mereka merasa lebih senang dan bahagia serta diharapkan kemampuan komunikasi dan sosialisasi mereka meningkat sehingga perasaan kesepian yang dirasakan diharapkan dapat menurun. Terapi dengan memainkan alat musik angklung secara bersama-sama diharapkan dapat memberikan pengaruh dalam mengatasi perasaan kesepian terkhusus bagi para lansia, hal ini dikarenakan angklung memiliki timbre yang riang, ringan untuk didengar, seragam (Budi Supardiman, Ir., KPA3 website, tidak tercantum tahun penerbitan) dan hangat serta kental sesuai dengan karakteristik tanaman bambu (Iwan Pirous blogwebsite, 2007), didalam bermain alat musik angklung juga terdapat kegiatan yang unsur utamanya adalah kebersamaan dan kesenangan (pleasure), disamping itu mengingat filosofi yang terkandung dalam angklung dan juga motto yang dari angklung sendiri juga cukup menunjang dalam suatu metode terapi musik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada skema kerangka pemikiran pada halaman berikutnya :
  • 121. 103 Lansia dengan berbagai permasalahan keterbatasan fisik dan masalah psikologis Lansia tinggal di panti werdha dengan lack antara harapan dengan kenyataan dalam hubungan sosial, kunjungan keluarga tidak teratur dan memiliki kualitas relasi sosial yang rendah. Fenomena : Lansia merasa tersisihkan dan terabaikan Penghayatan perasaan kesepian (loneliness) para lansia tinggi. ditandai dengan: - Suasana hati (-) Sosialisasi (-) Komunikasi (-) Perilaku (-) seperti murung & melamun Intervensi Terapi Musik Angklung · · memainkan lagu bernada dasar mayor dimainkan secara bersama-sama 2.1. Skema kerangka pemikiran Penurunan penghayatan perasaan kesepian (loneliness) para lansia. ditandai dengan : - Suasana hati (+) Sosialisasi (+) Komunikasi (+) Perilaku (+) seperti senang & bahagia
  • 122. 104 2.3. Premis Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, maka dalam penelitian ini dikemukakan sejumlah premis sebagai berikut: 1). Dalam rangka mengatasi permasalahan fisik dan psikologis para lansia yang tinggal di panti diperlukan asessment kebutuhan dan permasalahan para lansia terlebih dahulu agar penanganannya dapat lebih efektif dan efisien, disamping penanganan secara terpadu dari pihak medis (dokter dan perawat), pengurus panti, lansia yang tinggal di panti dan keluarga (Karina Dwiyani, 2000). 2). Musik dapat menimbulkan emosi, dalam istilah terapi aktivitas ini dikatakan sebagainya aktifnya kognisi dan perasaan. Musik dapat pula meningkatkan intensitas emosi dan akan mempengaruhi suasana hati (mood). Secara umum, musik dapat menjadi salah satu bentuk terapi baik untuk preventif maupun kuratif untuk mengatasi masalah-masalah psikologis. (Djohan, 2003). 3). Alat musik angklung yang memiliki unsur kebersamaan dan warna suara yang ringan dapat menimbulkan perasaan nyaman, antusias, semangat, dan kegembiraan. (Iwan Pirous, 2007).
  • 123. 105 2.4. Hipotesis Berdasarkan kerangka penelitian dan premis di atas, dikemukakan hipotesis yaitu: Ho = Pemberian terapi musik angklung dengan cara memainkannya secara berkelompok untuk lagu-lagu bermode mayor tidak memberikan efek untuk peningkatan suasana hati (mood), kemampuan sosialisasi, kemampuan komunikasi, serta perilaku positif seperti ekspresi senang sehingga tidak memiliki peranan dalam menurunkan perasaan loneliness yang dirasakan oleh para lansia yang tinggal di panti werdha. H1 = Pemberian terapi musik angklung dengan cara memainkannya secara berkelompok untuk lagu-lagu bermode mayor dapat memberikan efek positif berupa peningkatan suasana hati (mood), kemampuan sosialisasi, kemampuan komunikasi serta perilaku positif seperti ekspresi senang sehingga berperan untuk menurunkan perasaan loneliness yang dirasakan. para lansia yang tinggal di panti werdha.
  • 124. 106 BAB III METODE DAN SUBYEK PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh pemberian terapi musik yang menggunakan alat musik angklung dengan memainkan lagu-lagu bernada dasar mayor secara bersama-sama atau berkelompok untuk menurunkan rasa kesepian (loneliness) yang dialami oleh para lanjut usia yang tinggal di panti werdha. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode true experimental, yaitu suatu rancangan penelitian dimana peneliti dengan sengaja memberikan treatment atau perlakuan terhadap subjek dengan mengadakan pengamatan secara seksama terhadap reaksi-reaksi subjek dengan mengontrol extraneous variable secara ketat. Peneliti berusaha menentukan hubungan antara treatment dengan reaksi-reaksi tersebut. Rancangan ini digunakan untuk melihat pengaruh dari suatu pemberian perlakuan (treatment) terhadap permasalahan. Dalam true experiment, kontrol yang dilakukan sangat ketat sehingga error variance dapat ditekan seminimal mungkin. Terdapat suatu independent variable (IV) dan juga dependent variable (DV), sehingga dapat dlihat pengaruhnya dari independent variable terhadap dependent variable. Sebagai suatu desain penelitian true experiment, extraneous variables harus diperhitungkan dan diantisipasi dengan menggunakan prosedur penelitian tertentu, pengontrolan terhadap pemilihan karakter subjek penelitian, penentuan waktu, tempat pengukuran, dan sebagainya. Jadi,
  • 125. 107 penelitian ini menguji apakah suatu rancangan intervensi mencapai tujuan yang diharapkan, dengan sejauh mungkin mengontrol hal-hal yang mungkin dikendalikan. 3.1.1. Skema Penelitian Pada penelitian ini akan menggunakan rancangan Before After two group design (Eny Suwarni. dkk, Psikologi Umum & Eksperimen Unisba, 1999). Rancangan ini diberikan pada dua kelompok yang pada awal penelititan diberikan pre-test atau baseline measure, bila hasil sama mengindikasikan bahwa kedua kelompok sama dan pengukuran post-test bisa dilakukan. Selanjutnya partisipan kelompok eksperimen (EG) diberikan treatment, dan kemudian kedua kelompok kembali diberikan pengukuran akhir (post-test atau outcomes measure). Setelah itu, dilakukan uji beda antara hasil yang diperoleh dari pre-test dan post-test. Rancangan penelitian yang digunakan dapat digambarkan dalam skema berikut : Group Pre-test Treatment Post-test EG W1 X Y1 CG W2 - Y2 Bagan 3.1. Skema Penelitian
  • 126. 108 Keterangan : W1 : Pre-Test. Pengukuran tingkat Loneliness subjek penelitian sebelum perlakuan (treatment) berupa terapi angklung diberikan. X : Perlakuan (treatment). Pelaksanaan penelitian. Y1 : Post-Test. Pengukuran tingkat Loneliness subjek penelitian setelah perlakuan (treatment) berupa terapi angklung diberikan. W2 : Pre-Test. Pengukuran tingkat Loneliness subjek penelitian sebelum perlakuan (treatment) berupa terapi angklung diberikan. - : Tidak ada perlakuan (treatment). Y2 : Post-Test. Pengukuran tingkat Loneliness subjek penelitian setelah perlakuan (treatment) berupa terapi angklung diberikan. 3.1.2. terapi angklung pada subjek Variabel Penelitian 3.1.2.1. Independent Variable (IV) Independent variable dalam penelitian ini adalah terapi musik angklung, yaitu memainkan alat musik angklung (bermain secara kelompok yang mempergunakan alat musik angklung) dengan lagu-lagu yang bernada dasar mayor sebagai bagian dari kajian terapi musik. Definisi Konseptual : Terapi musik adalah penggunaan musik dan elemen musik (suara, irama, melodi, dan harmoni) terhadap klien atau kelompok dalam proses membangun komunikasi, meningkatkan relasi interpersonal, belajar, meningkatkan mobilitas, mengungkapkan ekspresi, menata diri atau untuk mencapai berbagai tujuan terapi
  • 127. 109 lainnya. Proses ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan fisik, emosi mental, sosial maupun kognitif, dalam rangka upaya pencegahan, rehabilitasi, atau pemberian perlakuan. Terapi musik bertujuan mengembangkan potensi dan memperbaiki fungsi individu, baik melalui penataan diri sendiri maupun dalam relasinya dengan orang lain, agar ia dapat mencapai keberhasilan dan kualitas hidup yang lebih baik. (WMFT, 1996). Definisi Operasional : Suatu rangkaian intervensi yang menggunakan media utama berupa musik dan aktivitas musik, yang didalamnya terdapat beberapa fase dimulai dari mendengarkan alunan musik dan memainkan alat musik, dalam hal ini ditekankan pada memainkan alat musik angklung secara bersama-sama atau berkelompok untuk mengatasi permasalahan pada aspek psikologis. Subyek akan memainkan alunan musik (lagu) bernada dasar mayor secara berkelompok dengan menggunakan alat musik angklung, agar terdapat perubahan sikap dan perilaku partisipan sebagai bentuk penurunan perasaan kesepian (loneliness) yang dirasakan para lansia. 3.1.2.2. Dependent Variabel (DV) Dependent Variable dalam penelitian ini adalah perasaan kesepian (loneliness) yang dirasakan oleh para lanjut usia terutama yang tinggal di panti werdha.
  • 128. 110 Definisi Konseptual ”Loneliness berdasarkan pendekatan eksistensial, yang salah satunya yaitu kesepian dalam hidup yang rapuh (loneliness of a broken life) ditandai kehidupan yang dibayangi oleh penolakan, pembuangan, pengasingan, kesalahpahaman, rasa nyeri, penyakit, kematian, tragedi, dan krisis yang biasanya tidak hanya mempengaruhi kesadaran seseorang akan keberadaannya, tetapi juga dunia yang dihuninya, hubungannya dengan orang lain dan pekerjaannya” (Moustakas, 1961 dalam Turnip, 1997). Definisi Operasional Perasaan yang dialami dan dihayati disertai dengan perilaku yang ditampilkan berdasarkan hasil observasi dan interviu oleh lansia yang tinggal di panti saat sedang merasa kesepian yang merupakan respon atas munculnya bayang-bayang rasa penolakan, pembuangan, pengasingan, kesalahpahaman, rasa nyeri, penyakit, kematian , tragedi, krisis serta ketiadaan sejumlah relasi khusus yang dibutuhkan dan diharapkan. Tingkah laku yang dimunculkan adalah melamun, murung, menyendiri, tidak berbaur dengan penghuni lainnya, suasana hati (mood) yang negatif seperti perasaan sedih, perasaan hampa, perasaan terisolasi serta perasaan terbuang oleh keluarga maupun lingkungannya baik di dalam panti maupun di luar panti, kemudian kemampuan sosialisasi dan komunikasi yang negatif atau rendah. Perasaan ini bersifat subyektif, yaitu kadar perasaan kesepian dirasakan dan dihayati berbeda dari diri masing-masing lansia yang tinggal di panti werdha.
  • 129. 111 3.2. Subjek Penelitian 3.2.1. Populasi Penelitian Populasi penelitian ini adalah para lansia yang tinggal di tiga panti werdha kotamadya Bandung. Para lansia tersebut mengalami dan menghayati adanya perasaan kesepian (loneliness) yang tinggi. Untuk menjaring sampel dari populasi penelitian dilakukan dengan menentukan karakteristik sampel untuk mengontrol secara ketat extraneous variable dan dengan menggunakan alat ukur UCLA Loneliness scale V.3 (Daniel Russell, 1996). Pemilihan sampel penelitian menggunakan karakteristik sampel untuk mengurangi kemungkinan error atau bias, lebih jelasnya mengenai karakteristik sample dibahas dalam sub judul subjek peneilitan. 3.2.2. Subjek Penelitian Para lansia yang menjadi subjek penelitian telah dijaring melalui karakteristik sampel dan dengan menggunakan UCLA loneliness scale dengan taraf diatas batas rata-rata untuk standar lansia akan menjadi subjek penelitian, yang kemudian akan dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok kontrol (CG) dan kelompok eksperimen (EG). Kelompok eksperimen inilah yang akan menerima treatment dan diharapkan akan membantu para lansia dalam mengatasi perasaan kesepiannya (loneliness). Sejalan dengan tujuan penelitian ini yaitu melihat peranan alunan musik angklung yang dimainkan secara bersama-sama untuk menurunkan perasaan kesepian yang
  • 130. 112 dialami para lansia di panti, maka dari itu karakteristik sampelnya adalah sebagai berikut : 1. Orang yang berusia 60 tahun keatas (kriteria lansia yang ditentukan PBB). 2. Tinggal di Panti Werdha (lokasi penelitian) minimal 1 tahun dengan pertimbangan lansia tersebut sudah mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan panti. Hal ini untuk mengontrol masalah kesepian yang dialami para lansia murni benar-benar masalah yang dirasakan dan bukan akibat dari proses penyesuaian dirinya terhadap lingkungan baru. 3. Menampilkan perilaku adanya perasaan kesepian (ditunjukkan dengan data asesmen kebutuhan dan observasi, ditunjang dengan data hasil pretest atau pengukuran awal sebelum treatment diberikan). Hal ini berlaku pada semua penghuni panti werdha karena pada kenyataannya mereka yang masuk secara sukarela seringkali juga merasa kesepian. 4. Nilai standar UCLA Loneliness Scale dengan total score di atas nilai rata-rata untuk lansia yaitu 16 (menurut skala interpretasi UCLA Loneliness Scale Daniel Russell, 1996) . 5. Masih dapat berkomunikasi, dengan pertimbangan agar peneliti dapat menggali informasi dari lansia yang bersangkutan. 6. Kemampuan mendengar masih baik dan tidak memiliki gangguan pendengaran. (Dilakukan berdasarkan hasil observasi dan interview pada saat survey awal penelitian), dengan alasan efek terapi musik dapat dilihat secara signifikan.
  • 131. 113 7. Tinggal di panti tanpa anggota keluarga lain, dengan alasan agar lingkungan panti yang dihadapi sama kondisinya dengan lansia lain yang juga tinggal sendiri di panti. Ada panti yang menerima lansia beserta dengan anggota keluarganya yang juga telah lanjut usia. 8. Masih dapat berjalan dan mengurus dirinya sendiri, yang menandakan kondisi kesehatan masih baik. 9. Kunjungan keluarga kurang teratur, jarang atau tidak pernah. Dengan alasan bahwa kunjungan keluarga dapat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tingginya perasaan kesepian yang dirasakan oleh para lansia yang tinggal di panti werdha. Berdasarkan kriteria sampel dan hasil pengukuran UCLA Loneliness scale (pretest) diperoleh 30 (tiga puluh) orang lansia dengan tingkat loneliness yang tinggi (nilai UCLA Loneliness scale 16 > keatas), yang kemudian dibagi menjadi dua kelompok untuk dibandingkan. 3.3. Alat Ukur alat ukur yang digunakan adalah Loneliness scale (Version 3) dari UCLA (Daniel Russell, 1996) yang diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan penelitian ini dan subjek penelitian. Alat ukur ini bersifat tertutup dengan alternatif pilihan yang telah ditentukan. Dengan demikian output yang dihasilkan akan berupa gambaran keadaan partisipan mengenai aspek yang diukur.
  • 132. 114 3.3.1. Proses Adaptasi Alat Ukur Loneliness Sebelum digunakan, dilakukan adaptasi terhadap alat ukur Loneliness scale v.3 dari UCLA (Daniel Russell, 1996) terlebih dahulu. Berikut tahapan-tahapan dalam proses adaptasi alat ukur : 1. Menerjemahkan alat ukur kedalam Bahasa Indonesia. 2. Menerjemahkan ulang alat ukur yang telah dialihbahasakan kedalam Bahasa Indonesia kedalam Bahasa Inggris. Tujuan : mengkaji kesesuaian hasil terjemahan dengan alat ukur. 3. Melakukan uji validitas dan reliabilitas alat ukur yang telah diterjemahkan. 3.3.2. Uji Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur Uji coba (try-out) terhadap alat ukur variabel penelitian dilakukan pada 33 orang sampel untuk mengukur validitas dan reliabilitas dari alat ukur yang akan digunakan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah pernyataan-pernyataan yang digunakan untuk menjaring data penelitian cukup baik untuk digunakan. Validitas dan reliabilitas ini diuji dengan menggunakan bantuan Microsoft Excell dan software SPSS 13 for Windows. Pengukuran validitas dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah alat ukur yang digunakan secara keseluruhan memang mengukur apa yang menjadi tujuan pengukuran. Pada uji coba ini, pengukuran validitas dilakukan dengan mengkorelasikan masing-masing skor pada Item dengan Total Score. Korelasi dilakukan dengan memilih menu Analyse/Correlate/Bivariate, sehingga diperoleh
  • 133. 115 koefisien korelasi Spearman (r). Kategori korelasi diperoleh dengan mengacu pada kriteria Guilford (1956) sebagai berikut : Koefisien korelasi < 0,2 : korelasi sangat rendah Koefisien korelasi 0,2 – 0,39 : korelasi rendah Koefisien korelasi 0,4 – 0,69 : korelasi cukup Koefisien korelasi 0,7 – 0,89 : korelasi tinggi Koefisien korelasi 0,9 – 1,00 : korelasi sangat tinggi Pengukuran reliabilitas bertujuan untuk mengetahui sejauh mana alat ukur tersebut dapat diandalkan. Dengan menggunakan software SPSS versi 13, dilakukan analisis reliabilitas atau reliability analysis dengan memilih menu Analyse/Scale/Reliability-Analysis, kemudian masukkan data subjek uji coba untuk semua item sehingga dapat diperoleh koefisien reliabilitas alpha cronbach (α). Untuk alat ukur UCLA Loneliness Scale V.3 diperoleh α = 0,845. Berdasarkan kriteria Brown Thompson, dimana α ≥ 0,7 dapat diandalkan dan α < 0,7 kurang dapat diandalkan, maka alat ukur variabel penelitian ini termasuk dapat diandalkan. 3.4. Pengukuran Pengukuran dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap pra intervensi dan tahap pasca intervensi. Pada kedua tahap dilakukan pengukuran dengan menggunakan alat ukur UCLA Loneliness Scale yang sudah diadaptasikan.
  • 134. 116 Sebagaimana telah digambarkan pada bagan 3.1. (pada halaman 107), tahap pertama dilakukan pengukuran untuk melihat keadaan aktual pra intervensi. Variabel yang diukur adalah keadaan perasaan kesepian (loneliness) pada para lansia penghuni panti werdha. Setelah Pretest diukur, akan dilakukan proses observasi dan interviu secara lebih mendalam pada para lansia yang menjadi sample penelitian (EG & CG) selama tiga (3) hari mulai dari pagi sampai sore. Ini dilakukan sebagai pengumpulan data secara kualitatif untuk menambah bahasan dalam interpretasi hasil akhir. Pada pengukuran tahap kedua juga dilakukan pengukuran terhadap variabel yang sama dengan pengukuran tahap pertama yaitu keadaan perasaan kesepian (loneliness) untuk melihat keadaannya pasca intervensi. Secara teknis, pengukuran tahap kedua akan dilakukan minimal satu minggu setelah perlakuan diberikan. Jeda waktu tersebut ditetapkan atas dasar pertimbangan waktu proses penghayatan dan proses penyerapan akan informasi baru pada diri lansia masing-masing dari intervensi yang telah diberikan. 3.5. Tahapan Penelitian Tahapan penelitian ini terbagi kedalam tiga tahapan sebagai berikut : I. Tahap Persiapan 1. Menentukan ruang lingkup permasalahan dengan cara menjaring berbagai informasi aktual dari buku dan majalah ilmu pengetahuan. 2. Melakukan studi kepustakaan mengenai tinjauan teoritis permasalahan yang akan diteliti.
  • 135. 117 3. Melakukan survey awal berupa asessmen kebutuhan untuk memetakan permasalahan yang akan diteliti. 4. Menyusun rancangan penelitian sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti. 5. Menyiapkan alat ukur yang akan digunakan sebagai alat ukur untuk menjaring data. 6. Menyiapkan dan menyusun rancangan pemberian materi terapi berdasarkan kondisi dan kemampuan subjek penelitian. Sesuai dengan metode yang digunakan, yaitu learning for elderly, maka tahapan penyusunan silabus merupakan bagian dari tahap pertama dalam metode tersebut, yaitu tahap ”perencanaan” sehingga materi yang disampaikan dapat dipahami dengan mudah oleh para lansia. Dengan tetap memperhatikan hal-hal yang penting dari learning for elderly, maka tahapan dalam penyusunan rancangan pemberian materi adalah sebagai berikut : 1) Menentukan tujuan kegiatan terapi musik angklung. Tujuan kegiatan terapi musik angklung disusun berdasarkan assessment kebutuhan yang telah dilakukan pada para lansia yang tinggal di panti werdha kotamadya Bandung. 2) Memilih aktivitas yang sesuai dengan rancangan kegiatan terapi musik angklung.
  • 136. 118 Tahap-tahap dalam menentukan aktivitas : a) Memberikan gambaran umum mengenai kegiatan terapi musik angklung. Tujuan : - Subjek penelitian memperoleh gambaran mengenai kegiatan terapi musik angklung yang akan diikuti. - Menciptakan keinginan untuk mengikuti kegiatan terapi pada subjek penelitian. b) Menentukan pola pemberian materi. Pada tahap ini yang perlu dipersiapkan adalah : - Menentukan rancangan materi yang akan diberikan - Menentukan rancangan alokasi waktu. c) Melakukan kajian ulang rancangan pemberian materi kegiatan terapi. Tujuan : - Menerapkan materi serta alokasi waktu yang akan digunakan dalam kegiatan terapi. d) Membuat run-down acara kegiatan terapi. Tujuan : - Memiliki panduan tertulis dalam menjalankan kegiatan terapi sehingga tidak ada waktu serta logistik yang terlewat.
  • 137. 119 e) Memperbanyak run-down kegiatan terapi. Tujuan : - Pelatih, fasilitator dan co-fasilitator memiliki panduan yang sama untuk menjalankan kegiatan terapi. b. Menyusun format ”Observasi Penilaian Tingkah Laku dan Interview selama mengikuti intervensi” untuk digunakan dalam kegiatan terapi musik angklung (terlampir; lampiran 8 dan 9). (1) Pelatihan Co-Fasilitator a. Personil. - Untuk memperoleh hasil pengukuran yang lebih akurat (reliable), maka dalam penelitian ini dilibatkan co-fasilitator. - Personil yang terlibat selama kegiatan terapi musik angklung adalah 10 (sepuluh) orang sarjana Psikologi. - Tugas dari setiap personil adalah : (a.1) terlibat aktif selama kegiatan terapi musik, dan (a.2) melakukan interview berkaitan dengan perasaan yang dihayati serta observasi tingkah laku para peserta pada kondisi pre-, selama intervensi, post- intervensi.
  • 138. 120 b. Kegiatan Pelatihan Co-Fasilitator Tujuan : agar co-fasilitator memiliki kesamaan pemahaman mengenai tujuan dan teknis kegiatan serta cara melakukan proses interview dan observasi tingkah laku pada para lansia. Langkah-langkah : b.1 Memberikan gambaran pada setiap co-fasilitator agar memiliki kesamaan pemahaman mengenai tujuan dan teknis kegiatan terapi musik angklung. b.2 Memberikan silabus kegiatan terapi yang telah disusun kepada para co-fasilitator. b.3 Mendiskusikan form ”Interview dan Observasi Penilaian Tingkah Laku para lansia” agar setiap co-fasilitator memiliki pemahaman yang sama saat melakukan interview dan observasi terhadap tingkah laku yang muncul selama kegiatan terapi musik. II. Tahap Eksperimen, terdiri atas : (1) Tahap Pre-Treatment Pre-treatment dilakukan ketika mengambil data awal. Data yang diperoleh dari ketigapuluh lansia tersebut kemudian menjadi subjek penelitian yang terbagi menjadi 2 kelompok, 15 (lima belas) orang dalam kelompok eksperimen (EG) dan 15 (lima belas) orang dalam kelompok kontrol (CG).
  • 139. 121 (2) Tahap Treatment - Program kegiatan terapi musik angklung dilakukan selama 6 (enam) hari pertemuan dengan durasi setiap pertemuan adalah 1,5 jam efektif. (terlampir; lampiran 6). - Menyiapkan alat-alat yang akan digunakan dalam kegiatan terapi musik angklung (terlampir; lampiran 6). - Melaksanakan program terapi musik angklung sesuai dengan rancangan pemberian materi terapi yang telah disusun (terlampir; lampiran 6 dan 7). (3) Tahap Post-Treatment Dilakukan pengukuran akhir, dengan rentang waktu satu minggu setelah kegiatan terapi musik angklung diberikan. Pada kelompok eksperimen (EG) maupun pada kelompok kontrol (CG) diberikan alat ukur UCLA Loneliness Scale V.3 seperti yang diberikan pada tahap pre-treatment. Tujuan : mengukur tingkat Loneliness setelah diberikan treatment. III. Tahap Akhir (1) Analisa Statistika Data-data yang telah diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan Uji Beda Mann Whitney dan Uji Beda Wilcoxon dengan bantuan software SPSS versi 13 sehingga akan diperoleh asymp. sig. (2-tailed) yang signifikan bila nilainya < alpha (α) yang digunakan (0.05).
  • 140. 122 (2) Pengolahan Data Dalam pengolahannya, tidak semua data dapat digunakan. Hanya data-data yang tidak ”error” saja yang dapat digunakan. Yang termasuk kategori data ”error” adalah : - Tidak mengikuti salah satu bagian dari pengukuran (baik pada saat pretreatment, kegiatan terapi musik angklung, maupun post-treatment). Dari penjelasan tersebut, hanya 12 (dua belas) orang lansia dari kelompok eksperimen EG yang datanya dapat digunakan dalam penelitian dengan penjelasan sebagai berikut : - Satu lansia tidak mengikuti kegiatan terapi angklung karena sakit. - Satu lansia tidak mengikuti kegiatan terapi angklung karena mengaku tidak berminat untuk mengikuti kegiatan di luar panti. - Satu lansia tidak mengikuti kegiatan terapi angklung karena mengaku tidak mau meninggalkan kamarnya karena banyak yang suka mencuri. (setelah dilakukan crosscheck dengan petugas panti dan observasi interviu selama proses pra intervensi, dikatakan bahwa subjek memiliki gangguan paranoid). Oleh sebab itu, data yang diolah dan digunakan untuk pembahasan adalah yang berasal dari 12 orang lansia kelompok EG dan 15 orang lansia kelompok CG.
  • 141. 123 3.5.1. Lokasi Kegiatan Penelitian Penelitian dilakukan dilakukan di tiga panti werdha kotamadya Bandung untuk Pre dan Post Test, yaitu : 1. Panti Werdha Senjarawi Jl. Jeruk no. 7 Bandung 2. Panti Werdha Budi Pertiwi Jl. Sancang No. 2 Burangrang Bandung 3. Panti Werdha Asuhan Bunda Jl. Pak Gatot I No. 20 KPAD Gegerkalong Bandung 40153 sedangkan kegiatan terapi musik angklung dilakukan di gedung Graha Lansia (LLI) Pemprov Jawa Barat Jln. Ternate no 2 Bandung. 3.6. Rancangan Penelitian 3.6.1. Rancangan Kegiatan Tabel 3.1 Rancangan Kegiatan Penelitian No 1. Kegiatan Membina rapport Tujuan good Membangun baik dan Materi & Pelaksana hubungan - Peneliti beserta para kepercayaan antara peneliti dan para fasilitator memperkenalkan diri. fasilitator dengan para - Menjelaskan pelaksanaan lansia. kegiatan pengambilan data awal (pretest) dikaitkan dengan latar belakang dilakukannya intervensi sebagai penelitian. 2. Kontrak. Menjalin kesepakatan Menjelaskan lebih terperinci tentang proses penelitian mengenai proses dan
  • 142. 124 yang akan dilakukan. kegiatan yang akan dilakukan. 3. Pretest. ( + Pengambilan 1 data Peneliti dan para fasilitator minggu mengenai kondisi awal mengambil data sebelum intervensi tingkat loneliness para (pretest) diberikan) lansia. awal dengan menggunakan alat ukur UCLA Loneliness Scale. 4. Observasi & Pengumpulan data secara Peneliti dan para fasiltator Interview kualitatif mengobservasi para lansia (dilakukan 3 hari di panti) 5. yang penelitian. (dilakukan + 8 kali angklung durasi sampel Memberikan terapi musik - Memperkenalkan, Intervensi. pertemuan menjadi dengan mengevaluasi 1-1,5 dan perasaan mencoba memainkan alat musik angklung. jam dan kesan dari masing- - Evaluasi perasaan para setiap masing subjek. untuk dan lansia pertemuan, dengan selama proses intervensi berlangsung. pertimbangan kenyamanan fisik dan psikis dari para lansia) 6. Posttest. ( + setelah Pengambilan data akhir Peneliti dan para fasilitator 1 minggu mengenai loneliness para mengambil data (posttest) pemberian lansia. intervensi) akhir dengan menggunakan alat ukur UCLA Loneliness Scale. 7. Analisis Data Membandingkan secara - Alat kuantitatif dan kualitatif ukur Loneliness Scale. UCLA
  • 143. 125 hasil dari pretest dengan - Observasi dan interview posttest baik secara satu selama proses intervensi kelompok (EG) maupun diberikan. kelompok lainnya (CG) untuk melihat bagaimana pengaruh dari pemberian intervensi. Tabel 3.2 Rancangan Kegiatan Pelaksanaan Pemberian Intervensi / Perlakuan (Treatment) No 1. Kegiatan Membina Tujuan Materi good Membangun hubungan rapport. - Peneliti, para fasilitator, dan baik dan kepercayaan pelatih angklung antara peneliti, para memperkenalkan diri. fasilitator, dan pelatih - Menjelaskan pelaksanaan angklung dengan para kegiatan dikaitkan dengan lansia. latar belakang dilakukannya intervensi sebagai penelitian tesis peneliti. 2. Ice Breaking. Mencairkan suasana, - Perkenalan masing-masing mengakrabkan antar peserta. lansia dari berbagai - Permainan ringan yang dapat tempat yang berbeda menghangatkan suasana. juga dengan terapis. 3. Penyampaian tujuan Memusatkan perhatian - Menjelaskan tujuan dan dan intervensi. manfaat para dapat lansia sehingga memotivasi gambaran kegiatan yang akan dilakukan.
  • 144. 126 mereka untuk serius mengikuti proses terapi. 4. Kontrak. Menjalin tentang kesepakatan - Menanyakan kesediaan proses terapi yang akan dilakukan. responden dari segi tempat dan waktu untuk terlibat dalam terapi. - Menjelaskan lebih terperinci mengenai proses dan kegiatan yang akan dilakukan. 5. - Memberikan Intervensi. terapi - Memberikan pemahaman (dilakukan + 6 kali musik angklung dan bagaimana cara pegang pertemuan menjelaskan manfaat angklung dan yang didapat. memainkannya. durasi dengan 1-1,5 untuk pertemuan, jam setiap - Mencoba pengenalan nada dengan angklung yang dipegang pertimbangan kenyamanan masing-masing subjek. fisik - Memvisualisasikan masing- dan psikis dari para masing nada dalam bentuk lansia) tertentu seperti buah-buahan. - Mencoba dua lagu bernada mayor yang sangat sederhana melodinya (tokecang & cingcangkeling). - Mengevaluasi - Mendapatkan gambaran perasaan dan kesan mengenai perubahan yang dari terjadi pada diri masing- subjek. masing-masing masing subjek.
  • 145. 127 7. Mereview Mengetahui penilaian - Materi yang sudah diberikan. keseluruhan kegiatan subjek terhadap materi - Evaluasi kondisi saat ini terapi yang telah dan proses terapi. setelah pemberian intervensi dilakukan. 8. Penutup. dan harapan subjek. Mengucapkan kasih para atas lansia terima - Ucapan terima kasih. partisipasi dalam penelitian. Pertimbangan pemberian lagu tokecang dan cingcangkeling adalah bahwa kedua lagu ini merupakan lagu bernada sederhana yang bersifat riang karena memiliki mode mayor dan hasil dari survey awal para lansia mayoritas mengenal kedua lagu tersebut sehingga dianggap oleh peneliti cukup mewakili lagu-lagu mode mayor lainnya untuk dapat dengan mudah untuk diikuti dan dimainkan oleh para lansia yang merupakan older learner. Pemberian kedua lagu ini telah didiskusikan dengan pelatih angklung. 3.6.2. Rancangan Waktu, Materi, dan Pemberi Materi Intervensi Tabel 3.3 Rancangan waktu dan proses pemberian intervensi (terlampir; lampiran 7) 3.7. Analisa Data Data hasil pengukuran skala loneliness akan menghasilkan data yang berskala ordinal. Untuk melihat apakah terdapat perbedaan antara kedua kelompok pada
  • 146. 128 kondisi pre- dan post- intervensi dilakukan perhitungan statistik uji beda Mann Whitney. Sedangkan perhitungan statistik yang akan digunakan untuk melihat signifikansi pengaruhnya dari treatment adalah uji beda untuk sampel variabel independent two group hasil pretest dan posttest dari treatment yang diberikan adalah uji beda Wilcoxon. Kedua proses perhitungan statistik akan menggunakan software SPSS 13 for Windows. Hasil perhitungan statistik ini akan dikolaborasi dengan hasil kualitatif (observasi dan interviu) selama proses rangkaian kegiatan diberikan, sehingga didapatkan gambaran perubahan yang lebih detil dari setiap individu yang mengikuti program terapi musik angklung.
  • 147. 167 DAFTAR PUSTAKA Aiken, Lewis.R. 1995. Aging: An Introduction to Gerontology. California: SAGE Publications, Inc. Bassano, Mary. 1992. Penyembuhan Melalui Musik dan Warna. Yogyakarta: Putra Langit. Birren, James E., & Schaie, K. W. 1977. Handbook of Psychology of Aging. New York: Van Nostrand Reinhold Company. Campbell, D.T., & Stanley, J.C. 1966. Experimental and Quasi-Experimental Designs For Research. Chicago: Rand Monally College Publishing Company. Campbell, Don. 2002. Efek Mozart: Memanfaatkan Kekuatan Musik Untuk Mempertajam Pikiran, Meningkatkan Kreativitas, dan Menyehatkan Tubuh. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Direktorat Bina Kesejahteraan Anak, Keluarga, dan Lanjut Usia. 1986. Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pembinaan Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia/Jompo Terlantar Melalui Sasana Tresna Wredha. Jakarta: Departemen Sosial RI, Dirjen Bina Kesejahteraan Sosial. Djohan. 2006. Terapi Musik: Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Galangpress. Djohan. 2003. Psikologi Musik. Yogyakarta: Buku Baik. Dwiyani, Karina. 2000. Hubungan Antara Pemenuhan Kebutuhan Psikologis dengan Penyesuaian Diri Pada Lansia di Panti Werdha. Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Bandung : Skripsi.
  • 148. 168 Graziano & Raulin. 2000. Research Methods. United States of America: Allyn and Bacon. Hurlock, Elizabeth B. 1990. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Edisi kelima. Jakarta: Penerbit Erlangga. Juslin, Patrik. N., & Sloboda, J.A. 2001. Music and Emotion: Theory and Research. New York: Oxford University Press. Kurnia, Ganjar & Nalan, A.S. 2003. Deskripsi Kesenian Jawa Barat. Bandung: Dinas P&K Jabar dan Pusat Dinamika Pembangunan UNPAD. L’Abate, L. 1994. Handbook of Developmental Family Psychology and Psychopathology. New York: John Wiley & Sons, Inc. Maharani, Gita. 2005. Gambaran Kesepian Pada Wanita Lansia Yang Telah Menjanda Dan Cara Penanggulangannya (Studi kualitatif pada tiga wanita lansia di Jakarta). Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Depok. : Skipsi. Masunah, Juju. dkk. 2003. Angklung Di Jawa Barat: Sebuah Perbandingan, Buku 1. Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Seni Tradisional (P4ST) UPI. Mucci, K. & Mucci, R. 2002. The Healing Sound of Music: Manfaat Musik untuk Kesembuhan, Kesehatan, dan Kebahagiaan Anda. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Norayana, Melly. 2009. Pengaruh Terapi Musik Terhadap Emosi Marah Narapidana Wanita Kelas 2A Lembaga Permasyarakatan Sukamiskin Bandung. Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung : Skripsi.
  • 149. 169 Nugroho, Caroline M. D. 2003. Pengaruh Pemberian Ilustrasi Musik Terhadap Kemunculan Persepsi Mengenai Jenis Emosi Pada Film Bisu. Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Bandung : Skripsi. Panjaitan-Sirait, Sondang Aemilia, DR., SpKK. 2006. Efek Musik Pada Tubuh Manusia. GEMA website: Artikel Peplau, L.A & Perlman, D. 1982. Loneliness; A Sourcebook Of Current Theory Research And Therapy. Canada: John Wiley & Sons, Inc. Perlmutter, m. & Hall, E. 1985. Adult Development and Aging. New York: John Wiley & Sons, Inc. Pikiran Rakyat Online. 2007. http: // www.pikiranrakyat.com Pikunas, J. 1976. An Human Development Emergent Science. Tokyo: McGrawHill. Pirous, Iwan. 2007. Daeng Soetigna Mencari Keindonesiaannya Melalui Angklung. from Google Web : Blog : Kamar Iwan Pirous. http://iwan.pirous.com/about. Russell, D. 1996. The UCLA Loneliness Scale (version 3). Retrieved November 26, 2007 from the Google Web: http: // www.psychology.iastate.edu / ~ccutrona / uclalone.htm. Rodney J. Hunter. 1992. Musik sebagai Alat Konseling. Majalah Sahabat Gembala, edisi Juli: Artikel Santrock, J.W. 2002. Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup, Jilid 2 edisi 5. Jakarta: Erlangga. Setiadarma, Monty P. 2002. Terapi Musik. Jakarta: Milenia Populer.
  • 150. 170 Suhadi, Iwan. 2005. Pengklasifikasian Perasaan Kesepian (Loneliness) pada Penderita Psoriasis dan Perbedaan Penyesuaian. Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Bandung : Skripsi. Supardiman, Budi. Tidak diketahui tahun penerbitan. from Google Web : Arransemen Angklung. Kolom Pengetahuan. Website Keluarga Paduan Angklung 3. Jove.prohosting.com/angklung/archive/jan/.../pengetahuan.html. Suwarni, Eny, dkk. 1999. Psikologi Eksperimen: True dan Quasi Eksperimental Designs, edisi 4. Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung : Kumpulan Diktat Perkuliahan. Wiramihardja, Obby A.R. 1989. Angklung Padaeng. Bandung. Makalah seminar disampaikan pada Seminar Nasional Angklung di ITB, 26 Oktober 1989 (tidak diterbitkan). Witriani. 2000. Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Tipe Loneliness pada Mahasiswa Baru Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran. Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Bandung : Skripsi.