Your SlideShare is downloading. ×
9 pengendalian helicoverpa
9 pengendalian helicoverpa
9 pengendalian helicoverpa
9 pengendalian helicoverpa
9 pengendalian helicoverpa
9 pengendalian helicoverpa
9 pengendalian helicoverpa
9 pengendalian helicoverpa
9 pengendalian helicoverpa
9 pengendalian helicoverpa
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

9 pengendalian helicoverpa

482

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
482
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
7
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Ramlan : Pengendalian Helicoverpa Armigera (Hubner) Menggunakan Parasitoid Trichogrammatidae Pada Pertanaman Kedelai PENGENDALIAN Helicoverpa armigera (Hubner) MENGGUNAKAN PARASITOID TRICHOGRAMMATIDAE PADA PERTANAMAN KEDELAI Ramlan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan ABSTRAK Salah satu masalah utama yang dihadapi petani dalam peningkatan produksi kedelai adalah adanya kehadiran hama dan penyakit. Hama utama yang sering ditemukan dan dapat menyebabkan kerugian yang besar antara lain ulat (Helicoverpa armigera), ulat grayak (Spodoptera litura), penggerek polong (Etiella zinckenella), pengisap polong (Riptortus linearis, Nezara viridula), dan lalat bibit (Ophiomya phaseoli). Hingga kini usaha pencegahan dan penanggulangan kerusakan tanaman kedelai oleh serangga hama tersebut banyak dilakukan dengan insektisida kimia, karena hasilnya dapat segera dilihat, sementara penggunaan varietas tahan dan musuh-musuh alami belum diketahui dengan baik. Penggunaan insektisida kimia yang berlebihan dapat menyebabkan terganggunya keseimbangan agroekosistem dan pencemaran lingkungan serta secara ekonomis tidak menguntungkan. Sejalan dengan konsep pengendalian hama terpadu, pengendalian dengan menggunakan musuh alami serangga hama seperti parasitoid perlu dikembangkan. Parasitoid yang sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai parasitoid telur adalah dari genus Trichogramma dan Trichogrammatoidea (Hymenoptera: Trichogrammatidae). Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keragaman berbagai jenis parasitoid Trichogramma dan Trichogrammatoidea yang berasal dari daerah geografis berbeda. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Cikabayan, Bogor. Penelitian berlangsung pada bulan Oktober 1999 sampai Februari 2000. Percobaan menggunakan Rancangan Faktorial dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah pelepasan populasi Trichogramma dan Trichogrammatoidea dan faktor kedua adalah jumlah Trichogramma dan Trichogrammatoidea. Pelepasan T’oidea populasi Cianjur nyata memperlihatkan tingkat parasitisasi lebih tinggi dibanding pelepasanT. japonicum populasi Yogyakarta, T. japonicum populasi Karawang dan tanpa pelepasan parasitoid pada telur inang H. armigera di lapang. Pelepasan Trichogramma dan T’oidea kepadatan 600 ekor nyata memperlihatkan tinggat parasitisasi lebih tinggi pada telur inang H. armigera dan C. cephalonica dibanding pelepasan Trichogramma dan T’oidea kepadatan 200 ekor. Pelepasan T’oidea populasi Cianjur menunjukkan tingkat kerusakan polong yang paling rendah dan mampu memberikan produksi yang lebih tinggi. Kata Kunci: Pengendalian, Helicoverpa armigera, parasitoid, tanaman kedelai ABSTRACT One of the main problems faced by farmers in increasing soybean production is the presence of pests and diseases. The main pests are often found and cause losses such as caterpillar (Helicoverpa armigera), armyworm (Spodoptera litura), pod borer (Etiella zinckenella), the suction pods (Riptortus linearis, Nezara viridula), and seed flies (Ophiomya phaseoli) . Until now the efforts of prevention and mitigation of damage by insect pests of soybean plants is mostly done with chemical insecticides, because the result can be seen, as well as other methode such as using resistant varieties and natural enemies is not known well. The use of chemical insecticides can cause excessive disruption of the balance of agroecosystem and environmental pollution as well as economically not profitable. In line with the concept of integrated pest management, control using natural enemies of insect pests such as parasitoid must be developed. The potential parasitoid to be developed as an egg parasitoid 41   
  • 2. Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.2.,20 is of the genus Trichogramma and Trichogrammatoidea (Hymenoptera: Trichogrammatidae). This research aims to assess the performance various types of parasitoid Trichogramma and Trichogrammatoidea from different geographical regions. Research conducted at the experimental station of Faculty of Agriculture, Bogor Agricultural University, Cikabayan, Bogor. The study took place in October 1999 to February 2000. Experiments using Factorial Design in Randomized Racangan (RAK) with two factors. The first factor is the release of Trichogramma and Trichogrammatoidea population from different reagions and the second factor is the number of Trichogramma and Trichogrammatoidea. Releasing of Cianjur Toidea population showed a higher level than the release of parasitation T. japonicum population of Yogyakarta, T. japonicum population of Karachi and without the release of egg parasitoids on host H. armigera in the field. The release of Trichogramma and Toidea density of 600 fish showed significantly higher level of parasitation on host eggs of H. armigera and C. cephalonica compared to the release of Trichogramma and T’oidea density of 200 fish. Release of Toidea the higher yield. Keywords: Control management, Helicoverpa armigera, parasitoids, soybean crops PENDAHULUANLatar Belakang Salah satu masalah utama yang dihadapi petani dalam peningkatan produksi kedelai adalahadanya kehadiran hama dan penyakit. Hama utama yang sering ditemukan dan dapat menyebkan kerugianyang besar antara lain ulat (Helicoverpa armigera), ulat grayak (Spodoptera litura), penggerek polong(Etiella zinckenella), pengisap polong (Riptortus linearis, Nezara viridula), dan lalat bibit (Ophiomyaphaseoli). Hingga kini usaha pencegahan dan penanggulangan kerusakan tanaman kedelai oleh seranggahama banyak dilakukan dengan insektisida kimia. Sebagai contoh 90 % (Sembilanpuluh persen) petani diberbagai daerah sentra produksi kedelai di Jawa Timur menggunakan insektisida untuk mengendalikanhama yang menyerang pertanamannya, dan sisanya 10 % (Sepuluh persen) menggunakan cara-cara lainseperti rotasi tanaman dan cara mekanis (Suharsono & Supriyatun, 1998). Tingginya penggunaaninsektisida disebabkan karena hasilnya dapat segera dilihat, sementara penggunaan varietas tahan danmusuh-musuh alami belum diketahui dengan baik. Efek penggunaan insektisida kimia yang berlebihandapat menyebabkan terganggunya keseimbangan agroekosistem dan pencemaran lingkungan serta secaraekonomis tidak menguntungkan. Sejalan dengan konsep pengendalian hama terpadu yang tidak semata-mata mengandalkanpengendalian kimia, maka alternatif pengendalian perlu terus dicari dan dikembangkan, diantaranyapengendalian dengan menggunakan musuh alami serangga hama baik berupa patogen, predator maupunparasitoid. Parasitoid yang sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai parasitoid telur adalah darigenus Trichogramma dan Trichogrammatoidea (Hymenoptera: Trichogrammatidae). Penggunaanparasitoid ini telah dimulai sejak 100 tahun yang lalu, tetapi pembiakan massal di laboratorium barudimulai di Amerika pada tahun 1970-an (Smith, 1996). Di berbagai negara sperti China, Rusia, AmerikaSerikat, Belanda dan negara lainnya parasitoid Trichogramma telah dibiakkan secara massal dandigunakan secara komersial (Fisher & Finney, 1973; DeBach & Hagen, 1973). Di Malaysia, Chong & Lim(1987) mencoba mengendalikan hama penggerek buah coklat, Conopomorpha cramerella (Snellen)(Lepidoptera: Gracillariidae) dengan parasitoid Trichogrammatoidea bactrae fumata (Hymenoptera:Trichogrammatidae). Percobaan pelepasan tersebut memberikan hasil yang memuaskan. Di Indonesia, pembiakan dan pelepasan inundatif Trichogramma umumnya dilakukan diperkebunan tebu untuk mengendalikan penggerek batang tebu (Diatraea saccharalis (Fabricius)(Lepidoptera: Pyralidae). Walaupun penggunaan Trichogramma di Indonesia telah umum, tetapi kegiatanyang dilakukan barulah sekedar “mass rearing dan release”, tanpa adanya kontrol kulitas (quality  42
  • 3. Ramlan : Pengendalian Helicoverpa Armigera (Hubner) Menggunakan Parasitoid Trichogrammatidae Pada Pertanaman Kedelaicontrol) terhadap produksi parasitoid yang dihasilkannya, sehingga keberhasilan di lapangan masihsangat bervariasi. Hal ini sangat disayangkan karena serangga ini mempunyai potensi besar untukdigunakan sebagai alternatif pengendalian. Untuk mengatasi masalah ini, perlu dilakukan penelitian yangbisa mengaitkan antara sifat-sifat kebugaran yang sudah didapatkan di laboratorium dengankeberhasilan parasitoid di lapangan. Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keragaan berbagai jenis parasitoidTrichogramma dan Trichogrammatoidea yang barasal dari daerah geografis berbeda. METODOLOGI Penilitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor,Cikabayan, Bogor. Penelitian berlangsung sejak bulan Oktober 1999 sampai Februari 2000. Sebelum penanaman terlebih dahulu dilakukan pemupukan dasar pada lahan yang siap tanamdengan dosis TSP 200 kg/ha dan KCl 150 kg/ha. Pupuk diberikan dengan cara tugal. Benih ditanamdengan cara tugal berjarak 25 x 25 cm pada masing-masing petak yang berukuran 7 x 7 m. Di dalamsatu lubang diisi dua biji benih. Setelah tanaman berumur 28 hari dilakukan pemupukan susulan dengandosis pupuk Urea 100 kg/ha dan KCl 150 kg/ha. Jarak antar petak perlakuang empat meter, sedangkanantar ulangan 6 m. Parasitoid yang digunakan adalah Trichogramma japonicum dan Trichogrammatoidea armigerayang di peroleh dari daerah yang berbeda (Tabel 1). Tabel 1. Populasi parasitoid Trichogramma/Trichogrammatoidea yang digunakan untuk pelepasan di lapang (Buchori et al. 1998) No. Species Inang Tanaman Tempat Inang 1. Trichogramma Scirpophaga Padi Karawang japonicum incertulas 2. Trichogramma Scirpophaga Padi Yogyakarta japonicum incertulas 3. Trichogrammatoidea Etiella Kedelai Cianjur armigera zinckenella Percobaan menggunakan Rancangan Faktorial dalam Racangan Acak Kelompok (RAK) dengan duafaktor. Faktor pertama adalah pelepasan populasi Trichogramma dan Trichogrammatoidea yang terdiridari kontrol atau tanpa pelepasan (PO), pelepasan T. japonicum pupulasi Yogyakarta (P1), pelepasan T.japonicum populasi Karawang (P2), pelepasan Trichogrammatoidea armigera pupulasi Cianjur (P3). Faktorkedua adalah jumlah Trichogramma dan Trichogrammatoidea yang dilepas yaitu 200 ekor/kurungan (J1)dan 600 ekor/kurungan (J2). Tiap perlakuan terdiri dari tiga ulangan. Percobaan pelepasan dilakukan kedalam kurungan yang berukuran 2 x 2 x 1,25 m yang diletakkan di tengah-tengah petak perlakuan.Kurungan terbuat dari penopang bambu dan kurungan dari kain kasa halus. Kombinasi perlakuan dapatdilihat pada Tabel 2. Tiga hari sebelum pelepasan Trichogramma dan Trichogrammatoidea, terlebih dahulu dilakukanpelepasan pupa Helicoverpa armigera Hubner dengan maksud mengantisipasi kemungkinan rendahnyapopulasi alami H. armigera di petak perlakuan, karena lokasi percobaan bukan merupakan sentra 43   
  • 4. Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.2.,20pertanaman tanaman inang H. armigera. Larva H. armigera diperoleh dari pertanaman jagung petanikemudian setiap ekor dipelihara dalam wadah yang terbuat dari plastik berbentuk cangkir. Setelahmenjadi pupa, kemudian diidentifikasi dan dipisahkan antra jantan dan betinanya. Pupa yang hampirmembentuk imago yang dicirikan oleh warna coklat gelap dan agak keriput dilepas ke dalam petakpercobaan dengan menggunakan kotak plastik yang diisi air setinggi seperempat dari tinggi plastikkemudian dimasukkan cangkir plastik yang berisi 15 ekon betina dan 10 ekor jantang H. armigera yangbagian atasnya dilapisi dedak secara tipis. Kotak yang berisi H. armigera diletakkan di bawah tajuktanaman kedelai. Di atas kotak disungkup dengan kulit batang pisang agar pupa H. armigera terlindungdari panas matahari. Tabel 2. Kombinasi perlakuan populasi dan jumlah Trichogramma/ Trichogrammatoidea No. Kode Sampel Keterangan 1. Po Kontrol atau tanpa pelepasan Trichogramma/ Trichogrammatoidea 2. P1J1 Pelepasan Trichogramma japonicum populasi Yogyakarta dengan kepadatan 200 ekor per kurungan 3. P2J1 Pelepasan Trichogramma japonicum populasi Yogyakarta dengan kepadatan 200 ekor per kurungan 4. P3J1 Pelepasan Trichogrammatoidea armigera populasi Cianjur dengan kepadatan 200 ekor per kurungan 5. P1J2 Pelepasan Trichogramma japonicum populasi Yogyakarta dengan kepadatan 600 ekor per kurungan 6. P2J2 Pelepasan Trichogramma japonicum populasi Karawang dengan kepadatan 600 ekor per kurungan 7. P3J3 Pelepasan Trichogrammatoidea armigera populasi Cianjur dengan kepadatan 600 ekor per kurungan Pelepasan Trichogramma dan Trichogrammatoidea dilakukan pada umur tanaman 37 dan 55 harisetelah tanam (hst) untuk memparasitisasi telur inang H. armigera. Sedangkan pelepasan Trichogrammadan Trichogrammatoidea pada umur tanaman 89 hari setelah tanam dilakukan untuk memparasitisasitelur inang C. cephalonica. Pelepasan dilakukan ke dalam setiap kurungan sesuai dengan perlakuan jumlahdan jenisnya dengan menggunakan gelas plastik yang bagian luarnya dicat warna hitam. Pengecatanwarna hitam berfungsi agar Trichogramma dan Trichogrammatoidea keluar ke arah cahaya melaluimulut gelas plastik. Trichogramma dan Trichogrammatoidea yang dilepas berumur tujuh hari setelahdiparasitisasikan pada telur C. cephalonica. Untuk tujuan pelepasan, dua pias yang masing-masing berisi200 telur C. cephalonica yang terparasit digantungkan ditengah-tengah kurungan yang ada pada petakperlakuan J1 dan dua pias yang masing-masing berisi 600 telur C. cephalonica terparasit pada kurunganyang ada pada petak perlakuan J2. Letak pias diupayakan berada di daerah tajuk pertanaman kedelai. Pengambilan contoh telur pada pertanaman kedelai yang ada di dalam kurungan setiap perlakuandilakukan tiga hari setelah pelepasan Trichogramma dan Trichogrammatoidea. Pada setiap kurunganyang ada pada petak perlakuan dipilih 15 tanaman contoh secara acak sistematis membentuk formasi  44
  • 5. Ramlan : Pengendalian Helicoverpa Armigera (Hubner) Menggunakan Parasitoid Trichogrammatidae Pada Pertanaman Kedelaidiagonal. Telur yang ditemukan dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan dipelihara di laboratorium untukdiperiksa tingkat parasitisasinya. Untuk melihat pengaruh dari jenis dan jumlah Trichogramma danTrichogrammatoidea terhadap populasi H. armigera dilakukan analisis sidik ragam dengan menggunakanStatistical Analysis System (SAS) program. Selanjutnya dilakukan uji wilayah bergandan Duncan untukmelihat perbedaan perlakuan pada taraf alfa = 0,05. Analisis sidik ragam dilakukan untuk tiap-tiappelepasan berbeda yaitu masing-masing 37, 59 dan 89 hst. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis sidik ragam berdasarkan uji Wilayah Berganda Duncan (alfa=0,05) menunjukkanbahwa pelepasan parasitoid dan jumlah yang dilepas berpengaruh nyata terhadap tingkat parasitisasitelur inang. Hal ini tampak jelas pada parasitisasi telur H. armigera pada pelepasan 37 hst (P=0,0113)dan pada pelepasan 55 hst (P=0,009). Demikian pula terhadap tingkat parasitisasi telur inang C.cephalonica berbeda nyata pada pelepasan 89 hst (P=0,0014) (Tabel 3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada perlakukan tanpa pelepasan (kontrol) tidak ada telurinang yang terparasit, sedangkan pada perlakuan pelepasan T,oidea armigera populasi Cianjur pada inangH. armigera menunjukkan tingkat parasitisasi lebih tinggi dibanding perlakuan pelepasan lainnya. Namununtuk inang C. cephalonica, pelepasan T. japonicum populasi Yogyakarta memiliki tingkat parasitisasilebih tinggi dibanding perlakuan pelepasan lainnya (Tabel 4). Tabel 3. Pengaruh interaksi antara perlakuan jenis dengan jumlah populasi terhadap rataan tingkat parasitisasi Trichogramma/ Trichogrammatoidea pada telur H. armigera dan C. cephalonica. Hari setelah tanam (hst)1 No. Perlakuan 37* 55* 89** (P=0,0133) (P=009) (P=0,0014) f 1. P0 O,00 0,00d 0,00d 2. P1J1 9,158e 13,900c 27,623b c c 3. P2J1 19,370 15,480 7,618c 4. P3J1 26,983b 29,950b 11,213c d b 5. P1J2 13,873 30,838 61,660a 6. P2J2 28,080b 28,808b 11,698c a 7. P3J3 40,030 54,083a 26,105b Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% berdasarkan uji jarak berganda Duncan • pada telur H. armigera ** pada telur C. cephalonica 1 ) Data diuji setelah ditransformasi ke Arcsin Akar x Hasil analisis sidik ragam pelepasan parasitoid pada umur tanaman 37 dan 35 hst, tingkatparasitisasi pada telur inang H. armigera menunjukkan perbedaan nyata. Tingkat parasitisasi tertinggidiperlihatkan oleh perlakuan pelepasan T’oidea armigera populasi Cianjur dibanding perlakuan pelepasanlainnya. Sedangkan pelepasan T. japonicum populasi Karawang dan Yogyakarta mununjukkan tingkatparasitisasi yang tidak berbeda nyata, tetapi keduanya menunjukkan perbedaan nyata dengan perlakuantanpa pelepasan. Artinya, tingkat parasitisasi T’oidea armigera populasi Cianjur konsisten menunjukkantingkat parasitisasi lebih tinggi dan berbeda nyata dengan ketiga perlakuan lainnya. Hal ini sejalan 45   
  • 6. Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.2.,20dengan hasil penelitian Buchori et al. (1999) yang menyatakan bahwa persentase telur yang terparasitoleh T. japonicum populasi Yogyakarta dan T. japonicum populasi Karawang di laboratorium pada duajenis inang yaitu Corcyra dan Helicoverpa adalah seimbang, tetapi T’odea armigera populasi Cianjurcenderung lebih memilih Helicoverpa. Lebh lanjut dikemukakan bahwa lama hidup T’oidea armigerapopulasi Cianjur pada inang Helicoverpa lebih panjang dibandingkan dengan T. japonicum populasiYogyakarta dan T. japonicum populasi Karawang. Artinya, makin lama umur parasitoid, makin lama pulamasa reproduktifnya. Tabel 4. Rataan tingkat parasitisasi pada telur H. armigera dan C. cephalonica akibat pangaruh jenis populasi Trichogramma/Trichogrammatoidea secara tunggal. Hari setelah tanam (hst) No. Perlakuan 37* 55* 89** (P=0,0001) (P=0,0001) (p=0,0001) 1. Kontrol (P0) 0,00d 0,000c 0,00d 2. T. japonicum pupulasi 11,515c 22,369b 44,641a Yogyakarta (P1) 3. T. japonicum pupulasi 23,275b 22,144b 9,658c Karawang (P2) 4. T’oidea armigera populasi 33,506a 42,016a 18,659b Cianjur (P3) Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% berdasarkan uji jarak berganda Duncan • pada telur H. armigera ** pada telur C. cephalonica 1) Data diuji setelah ditransformasi ke Arcsin Akar x Pada pelepasan parasitoid ke tiga (89 hst), tingkat parasitisasi pada telur inang C. cephalonicatertinggi berturut-turut ditunjukkan oleh pelepasan T. japonicum populasi Yogyakarta, T’oideaarmigera populasi Cianjur dan T. japonicum populasi Karawang dan masing-masing perlakuanmenunjukkan perbedaan nyata. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Buchori et al. (1998) bahwaproduksi telur T. japonicum populasi Yogyakarta pada telur inang C. cephalonica selama 24 jam pertamalebih tinggi dibanding dengan produksi telur T. japonicum populasi Karawang dan T’oidea armigerapopulasi Cianjur. Hal ini dapat diasumsikan bahwa makin tinggi produksi telur suatu parasitoid,kemungkinan tingkat parasitisasi pada telur inang juga makin tinggi. Hasil analisis sidik ragam pelepasan T. japonicum populasi Yogyakarta,T. japonicum populasiKarawang dan T’oidea armigera populasi Cianjur pada umur 37, 55, dan 89 hst menunjukkan bahwapelepasan dengan kepadatan 600 telur C. cephalonica terparasit per kurungan menunjukkan tingkatparasitisasi telur inang H. armigera dan C. cephalonica lebih tinggi dan berbeda nyata dibanding padaperlakuan pelepasan dengan kepadatan 200 telur C. cephalonica terparasit per kurungan (Tabel 5). Halini sejalan dengan hasil penelitian Supriyatin & Marwoto (1999) bahwa semakin tinggi dosis parasitoidTrichogramma yang digunakan, tingkat parasitisasi cenderung meningkat. Lebih lanjut dikemukakanbahwa pada populasi hama tinggi, semakin tinggi dosis parasitoid dan semakin sering dilepaskan, hasilnyasemakin baik. Demikian pula Djuwarso & Wikardi (1997) mengemukakan bahwa kepadatan populasi imago  46
  • 7. Ramlan : Pengendalian Helicoverpa Armigera (Hubner) Menggunakan Parasitoid Trichogrammatidae Pada Pertanaman KedelaiT. bactrae-bactrae yang diinfestasikan pada telur Etiella sp. Ternyata memberikan pengaruh nyata,yaitu makin tinggi kepadatan populasi T. bactrae-bactrae yang diinfestasikan, tingkat parasitisasi telurinang mencapai maksimum. Li Ying Li (1994) mengemukakan bahwa pelepasan T. cofusum dengan kepadatan 215.000 dan645.000 ekor per ha, tingkat parasitisasi dapat mencapai 60% dan 90% untuk mengendalikan H.armigera. Demikian pula pelepasan T. japonicum dengan kepadatan 60.000 dan 750.000 ekor per ha,tingkat parasitisasi dapat mencapai 70% dan 95% untuk mengendalikan Cnaphalocrocis medinalis. Tabel 5. Rataan tingkat parasitisasi Trichogramma/Trichogrammatoidea pada telur H. armigera dan C. cephalonica akibat pengaruh jumlah populasi Trichogramma/Trichogrammatoidea secara tunggal. Hari setelah tanam (hst) No. Perlakuan 37* 55* 89** (P=0,0001) (P=0,0001) (p=0,0001) 1. 200 telur C. cephalonica 18,503b 19,777b 15,484b terparasit yang dilepas per kurungan (J1) 2. 600 telur C. cephalonica 27,328a 37,909a 33,154a terparasit yang dilepas per kurungan (J2) Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% berdasarkan uji jarak berganda Duncan • pada telur H. armigera ** pada telur C. cephalonica 1 ) Data diuji setelah ditransformasi ke Arcsin Akar x Hasil pengamatan tingkat kerusakan polong bervariasi, namun ada kecenderungan bahwa petakperlakuan pelepasan T’oidea armigera populasi Cipanas menunjukkan tingkat kerusakan polong yangpaling rendah dan berbeda nyata dengan petak perlakuan pelepasan T. japonicum populasi Karawang danT. japonicum populasi Yogyakarta. Kerusakan paling tinggi terjadi pada perlakuan tanpa pelepasanparasitoid (Tabel 6). Hal ini mununjukkan bahwa pelepasan parasitoid dapat mengurangi kerusakanpolong. Pengamatan berat biji kering biji per 10 rumpun tanaman dan berat kering per 100 biji disajikanpada Tabel 6. Perlakuan pelepasan T’oidea armigera populasi Cianjur menunjukkan total berat kering bijiyang dihasilkan per 10 rumpun tanaman lebih tinggi kemudian disusul oleh perlakuan pelepasan T.japonicum populasi Yogyakarta, T. japonicum populasi Karawang. Total berat kering biji yang dihasilkanper 10 rumpun tanaman paling rendah terjadi pada perlakuan tanpa pelepasan parasitoid. Hasil pengamatan berat kering per 100 biji pada perlakukan pelepasan T’oidea armigera populasiCipanas, T. japonicum populasi Yogyakarta dan Karawang menunjukkan hasil yang lebih tinggi danberbeda nyata dengan perlakuan tanpa pelepasan parasitoid. Hal ini menunjukkan bahwa pelepasanparasitoid dapat berpengaruh terhadap hasil berat kering biji. Hasil pengamatan terhadap tingkat kerusakan polong, total berat kering biji per 10 rumpuntanaman dan berat kering 100 biji yang diberi perlakuan pelepasan Trichogramma danTrichogrammatoidea dengan kepadatan 200 ekor dan 600 ekor dapat dilihat pada Tabel 7. 47   
  • 8. Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.2.,20 Tabel 6. Rataan tingkat kerusakan polong, total berat kering biji dan berat kering 100 biji akibat pengaruh jenis populasi Trichogramma/ Trichogrammatoidea secara tunggal. Respon yang diamati Kerusakan*) Berat Kering**) Berat Kering***) No. Perlakuan Polong (%) Biji 100 biji (p=0,0001) (P=0,029) P(0,0001) 1. Kontrol (P0) 30,355a 142,50c 9,15b 2. T. japonicum pupulasi 12,048b 175,00b 11,40a Yogyakarta (P1) 3. T. japonicum pupulasi 10,886b 171,88bc 11,37a Karawang (P2) 4. T’oidea armigera 7,086c 212,50a 11,79a populasi Cianjur (P3) Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% berdasarkan uji jarak berganda Duncan *) persen/10 rumpun tanaman, data diuji setelah ditransf. Ke Arcsin Akar x **) gram/10 rumpun tanaman, data diuji setelah ditransformasi ke log x ***) data diuji setelah ditransformasi ke Akar x Tabel 7. Rataan tingkat kerusakan polong, total berat kering biji dan berat kering 100 biji akibat pengaruh jumlah populasi Trichogramma/ Trichogrammatoidea secara tunggal. Respon yang diamati Berat Kerusakan*) Berat Kering**) No. Perlakuan Kering***) Polong (%) Biji 100 biji (P=0,0664) (P=0,1326) P(0,0009) 1. 200 telur C. cephalonica 21,999a 220,83a 13,79b terparasit yang dilepas per kurungan (J1) 2. 600 telur C. cephalonica 18,251a 247,08a 15,34a terparasit yang dilepas per kurungan (J2) Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% berdasarkan uji jarak berganda Duncan *) persen/10 rumpun tanaman, data diuji setelah ditransf. Ke Arcsin Akar x **) gram/10 rumpun tanaman, data diuji setelah ditransformasi ke log x ***) data diuji setelah ditransformasi ke Akar x  48
  • 9. Ramlan : Pengendalian Helicoverpa Armigera (Hubner) Menggunakan Parasitoid Trichogrammatidae Pada Pertanaman Kedelai Hasil analisis sidik ragam perlakuan pelepasan Trichogramma dan T’oidea kepadatan 600 ekormemperlihatkan tingkat kerusakan polong lebih rendah dibanding perlakuan pelepasan Trichogrammadan T’oidea kepadatan 200 ekor, namun keduanya tidak memperlihatkan perbedaan nyata. Demikian pulaterhadap hasil total berat kering biji per 10 rumpun tanaman, walaupun perlakuan pelepasanTrichogramma dan T’oidea kepadatan 600 ekor memperlihatkan hasil yang tinggi dibanding pelepasanTrichogramma dan T’oidea 200 ekor, namun keduanya juga tidak berbeda nyata. Tetapi terhadap responberat kering 100 biji, perlakuan poelepasan Trichgogramma dan T’oidea kepadatan 600 ekormemperlihatkan hasil yang lebih tinggi dan berbeda nyata dibanding perlakuan pelepasan Trichogrammadan T’oidea 200 ekor. Rendahnya tingkat kekrusakan polong, tingginya produksi pada tanaman kedelai antara keduaperlakuan tersebut, mungkin disebabkan karena kemampuan Trichogramma dan T’oidea untuk menekanserangan hama pemakan polong H. armigera. Supriyatin & Marwoto (1999) mengemukakan bahwapelepasan parasitoid juga berpengaruh terhadap hasil biji, semakin tinggi dosis parasitoid dan seringdilepas, hasil bijinya juga semakin banyak. Pelepasan Trichogramma dan T’oidea dapat mempengaruhi kerusakan polong yang diakibatkanoleh serangan H. armigera dan produksi kedelai di lapang. Pada Tabel 8, mununjukkan bahwa biladibandingkan dengan kontrol, tingkat parasitisasi T’oidea armigera populasi Cianjur sebesar 37,77%dapat menurunkan kerusakan polong sebesar 23,27% dan meningkatkan produksi sebesar 70 gram bijikering dalam 10 rumpun kedelai jika dibandingkan dengan kontrol. Sedangkan tingkat parasitisasi T.japonicum populasi Yogyakarta sebesar 16,95% dapat menurunkan kerusakan polong sebesar 18,31% dandapat meningkatkan produksi sebesar 32,5 gram biji kering dalam 10 rumpun kedelai. Hal inimenunjukkan bahwa T’oidea armigera populasi Cianjur lebih berpotensi digunakan untuk mengendalikanH. armigera dibandingkan T. japonicum populasi Yogyakarta dan Karawang. Tabel 8. Hubungan tingkat parasitisasi, kerusakan dan hasil pada tiap-tiap populasi parasitoid Trichogramma/Trchogrammatoidea terhadap kontrol. Tingkat Tingkat Hasil No. Perlakuan Parasitisasi Kerusakan (%) (g) (%) 1. Kontrol (PO) 0 30,36 142,5 2. T. japonicum populasi X 16,945 12,05 175 Yogyakarta (P1) Y -18,31 32,5 3. T. japonicum populasi X 22,935 10,89 171,88 Karawang (P1) Y -19,47 29,38 4. T. armigera populasi X 37,765 7,09 212,5 Cianjur (P3) Y -23,37 70 Keterangan x = nilai rata-rata pada pengamatan 37 dan 55 hst Y = hasil pengurangan dengan kontrol 49   
  • 10. Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.2.,20 KESIMPULAN a. Pelepasan T’oidea populasi Cianjur memperlihatkan tingkat parasitisasi lebih tinggi dibanding pelepasan T. japonicum populasi Yogyakarta, T. japonicum populasi Karawang dan tanpa pelepasan parasitoid pada telur inang H. armigera di lapang. Tetapi pada telur inang C. cephalonica pelepasan T. japonicum populasi Yogyakarta memperlihatkan tingkat parasitisasi lebih tinggi dibanding perlakukan lainnya. b. Pelepasan Trichogramma dan T’oidea kepadatan 600 ekor memperlihatkan tinggat parasitisasi lebih tinggi pada telur inang H. armigera dan C. cephalonica dibanding pelepasan Trichogramma dan T’oidea kepadatan 200 ekor. c. Pelepasan T’oidea populasi Cianjur menunjukkan tingkat kerusakan polong yang paling rendah dibanding dengan pelepasan T. japonicum populasi Karawang dan T. japonicum populasi Yogyakarta. Kerusakan paling tinggi terjadi pada petak perlakukan tanpa pelepasan parasitoid. Perlakuan pelepasan Trichogramma dan T’oidea mampu memberikan produksi yang lebih tinggi dibanding tanpa pelepasan parasitoid. DAFTAR PUSTAKABuchori D, Hidayat P, Kartosuwondo U, Harahap IS, Nurmansyah A. 1998. Dinamika interaksi antara parasitoid Trichogrammatidae dan inangnya: faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kualitas Trichogrammatidae sebagai agens pengendalian hayati. Laporan akhir penelitian tahun pertama 1998/1999. Institut Pertanian Bogor.Buchori D, Hidayat P, Kartosuwondo U, Nurmansyah A, Meilin A. 1999. Dinamika interaksi antara parasitoid Trichogrammatidae dan inangnya: faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kualitas Trichogrammatidae sebagai agens pengendalian hayati. Laporan akhir penelitian tahun kedua 1999/2000. Institut Pertanian Bogor.Chong TC, Lim GT. 1987. Biological control of cocoa pod borer by periodic release of Trichogrammatoidea bactrae fumata Nagaraja in Sabah, Malaysia. In: Ooi PAC, editor. Management of the Cocoa Pod Borer: 71-80.DeBach P, Hagen KS. 1973. Manipulation entomophagous species. In: DeBach P, Schlinger Ei, editors. Bilogical Control of Insect Pests and Weeds. Chapman & Hall Ltd. London: 429-458.Djuwarso T, Wikardi Ea. 1997. Perbanyakan Trichogramma sp. Parasitoid telur Cricula trifenestrata Helf pada jambu mente. J Littri 3 (3): 78-86.Fisher TW, Finney GL. 1973. Insectary facilities and equipment. In: DeBach P, Schlinger EI, editors. Biological Control of Insect Pests and Weeds. Chapman & Hall Ltd. London: 381-401.Li Ying Li. 1994. Worldwide use of Trichogramma for Biological control on different crops. A Survey. In: International Organization for Biological Control of Noxious Animal and Plants (IOBC): 43- 53.Smith AM. 1996. Biological control with Trichogramma: Advances, Successes, andan Potential of Their use. Ann Rev Entomol. 41: 375-406.Supriyatin, Marwoto. 1999. Penentuan dosis pelepasan Trichogrammatoidea bactrae-bactrae untuk pengendalian hama penggerek polong kedelai. In: Seminar Nasional PEI, PEI Cabang Bogor, 16 Februari 1999: 61-69.Suharsono, Supriyatun. 1998. Pemanfaatan pengendalian non kimia pada tanaman kedelai. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan: 37-52.  50

×