Nurjanani : Kajian Pengendalian Penyakit Layu Bakteri (Ralstonia Solanacearum) Menggunakan Agens Hayati Pada Tanaman Tomat...
Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.4.,2011 fluorescens GI-19 + T viride, B. subtilis + T. viride, a single a...
Nurjanani : Kajian Pengendalian Penyakit Layu Bakteri (Ralstonia Solanacearum) Menggunakan Agens Hayati Pada Tanaman Tomat...
Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.4.,2011 Analisis Data         Untuk menguji pengaruh perlakuan terhadap r...
Nurjanani : Kajian Pengendalian Penyakit Layu Bakteri (Ralstonia Solanacearum) Menggunakan Agens Hayati Pada Tanaman Tomat...
Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.4.,2011          Tabel 3. Keefektifan relatif (%) pengendalian agens haya...
Nurjanani : Kajian Pengendalian Penyakit Layu Bakteri (Ralstonia Solanacearum) Menggunakan Agens Hayati Pada Tanaman Tomat...
Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.4.,2011 Gunawan OS. 1989. Pengendalian penyakit layu bakteri Pseudomonas ...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

4 nurjanani-agens biokontrol

633 views

Published on

Published in: Technology
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
633
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
9
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

4 nurjanani-agens biokontrol

  1. 1. Nurjanani : Kajian Pengendalian Penyakit Layu Bakteri (Ralstonia Solanacearum) Menggunakan Agens Hayati Pada Tanaman Tomat  KAJIAN PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU BAKTERI (Ralstonia solanacearum) MENGGUNAKAN AGENS HAYATI PADA TANAMAN TOMAT Nurjanani Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan ABSTRAKRalstonia solanacearum penyebab penyakit layu pada tomat merupakan salah satu faktor penghambat dalampeningkatan produksi tomat. Patogen ini memiliki kisaran inang yang luas, dan memiliki kemampuan bertahan hidupdalam waktu lama di dalam tanah, sehingga patogen tersebut sulit dikendalikan, serta dapat menurunkan hasil dari5-100%. Pengendalian dengan varietas tahan, pergiliran tanaman, dan penggunaan antibiotik belum memuaskan.Penggunaan agens hayati merupakan alternatif dalam mengendalikan patogen ini. Pengkajian bertujuan untukmengetahui keefektifan P. fluorescens GI-19 B. subtilis, T. viride dan kombinasinya dalam menekan perkembanganpenyakit layu bakteri R. solanacearum pada tomat di lapangan. Pengkajian dilaksanakan di kebun petani, Desa BuluBallea, Kecamatan Tinggi Moncong Kabupaten Gowa pada bulan April sampai Agustus 2009. Rancangan yangdigunakan adalah acak kelompok yang terdiri dari delapan perlakuan yaitu: P0 = kontrol (tanpa agens hayati), P1 = P.fluorescens GI-19, P2 = B. subtilis, P3 = T. viride, P4= P. fluorescens GI-19 + B. subtilis, P5 = fluorescens GI-19 + T.viride, P6 = B. subtilis + T. viride, dan P7 = Streptomisin Sulfat 20% (Agrept 20 WP). Setiap perlakuan diulang tigakali. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa semua perlakuan secara nyata dapat menekan perkembangan penyakitlayu, namun dengan tingkat yang bervariasi tergantung macam perlakuan. Hasil pengkajian dapat disimpulkan bahwa(1) Semua agens hayati dan Streptomisin Sulfat 20% yang diuji dapat menekan perkembangan intensitas penyakitlayu bakteri pada tomat, (2) Perlakuan yang efektif mengendalikan penyakit layu bakteri adalah campuran P.fluorescens GI-19 + B. subtilis, P. fluorescens GI-19 + T. viride, B. subtilis + T. viride, aplikasi tunggal B. subtilis,dan T. viride; sedang yang agak efektif adalah P. fluorescens dan Streptomisin Sulfat 20%, (3) Agens hayati yangdiaplikasikan bersama dengan agens hayati lainnya tidak selalu lebih efektif daripada agens hayati yangdiaplikasikan secara tunggl.Kata Kunci: Tomat, layu bakteri, pengedalian, agens hayati ABSTRACTRalstonia solanacearum causes wilt disease in tomato is one limiting factor in increasing tomato production. Thispathogen has a wide host range, and has the ability to survive long periods in the soil, So the pathogen is difficultto conrol, and can decrease the results from 5-100%. Control with resistant varieties, crop rotation, and the useof antibiotics have not been satisfactory. The use of biological agents is an alternative in controlling thesepathogen. The assessment aims to determine the effectiveness of P. fluorescens GI-19, B. subtilis, T. viride andcombinations there of in suppressing the development of bacterial wilt disease R. solanacearum on tomato in thefield. Assessments carried out in the garden farmer, Bulu Ballea Village, Tinggi Moncong district, Gowa regency inApril to August 2009. The design used was a random group of eight treatments are: P0 = control (withoutbiological agents), P1 = P. fluorescens GI-19, P2 = B. subtilis, P3 = T. viride, P4 = P. fluorescens GI-19 + B. subtilis,P5 = P. fluorescens GI-19 + T viride, P6 = B. subtilis + T. viride, and P7 = Streptomycin Sulfate 20% (Agrept 20WP). Each treatment was three replication. The results of the assessment showed that all treatment cansuppress the development of significant wilt disease, but to varying degrees depending on the kind of treatment.The results of the assessment can be concluded that (1) All biological agents and Streptomycin Sulfate 20%tested can suppress the development of the intensity of bacterial wilt disease in tomatoes, (2) The treatmentthat was effective to control bacterial wilt disease was a mixture of P. fluorescens GI-19 + B. subtilis, P. 1  
  2. 2. Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.4.,2011 fluorescens GI-19 + T viride, B. subtilis + T. viride, a single application of B. subtilis, and T. viride; than thetreatment that was near effective to control bacteria wilt disease were P. fluorescens and Streptomycin Sulfate20%, (3) biological agents were applied with other biological agents were not always more effective than biologicalagents were applied alone.Keywords: Tomato, bacterial wilt, control, biological agents I. PENDAHULUAN Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) merupakan komoditas sayuran yang mempunyainilai gizi cukup baik terutama sebagai sumber vitamin A dan C serta dapat dikonsumsi baik dalam bentuksegar maupun olahan (Puslitbang Hortikultura. 2004). Permintaan konsumen akan buah tomat semakinmeningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan kesadaran masyarakat akanpentingnya gizi serta tumbuhnya berbagai industri pengolahan buah tomat. Untuk memenuhi kebutuhanmasyarakat dan bahan baku industri, diperlukan upaya peningkatan produksi tomat baik kuantitas,kualitas maupun kontinuitas. Tomat dapat ditanam mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi, baik dalam skala kecilmaupun skala besar. Ralstonia solanacearum atau nama terdahulu Pseudomonas solanacearum (Smith)merupakan salah satu faktor penghambat dalam peningkatan produksi tomat. R. solanacearum memilikikisaran inang yang sangat luas yaitu meliputi lebih dari 200 spesies tanaman dan gulma dalam 33 famili(McCarter. 1996). Beberapa di antara inang tersebut adalah tomat, kentang, kacang tanah, cabai,terong, tembakau, pisang, tanaman hias dan gulma (Kelman. 1953). Di samping kisaran inangnya yang luas,R. solanacearum juga memiliki kemampuan bertahan hidup dalam waktu lama di dalam tanah yangmenyebabkan patogen tersebut sulit dikendalikan. Penurunan hasil akibat serangan R. solanacearumpada tomat berkisar antara 5 – 100% (Puslitbang Hortikultura. 1994), tergantung varietas dan carapengelolaan tanaman. Pengendalian yang telah dilakukan terhadap penyakit layu bakteri ini antara lain adalahpenggunaan varietas tahan, pergiliran tanaman, dan penggunaan antibiotika, namun hasilnya belummemuaskan (Semangun. 1989). Oleh karena itu, penggunaan agens hayati diharapkan dapat menjadi salahsatu alternatif dalam pengendalian penyakit tersebut. Menurut Nesmith & Jenkins (1985) bakterifluorescens Pseudomonas spp., Bacillus sp., dan cendawan Trichoderma sp. dapat menghambatpertumbuhan R. solanacearum di media agar. Selanjutnya Anuratha & Gnanamanickam (1990) melaporkanbahwa aplikasi P. fluorescens strain Pfcp dan Bacillus spp. dapat menekan penyakit layu oleh R.solanacearum, sehingga persentase tomat yang bertahan hidup dapat mencapai 95% pada percobaanrumah kaca dan 36% pada percobaan di lapangan. Sementara itu Mulya (1997) melaporkan bahwa dayaproteksi P. fluorescens PfG32 terhadap R. solanacearum pada tomat dapat mencapai 49,06%. Salah satu pendekatan untuk meningkatkan keefektifan agens hayati adalah dengan aplikasicampuran satu agens hayati dengan agens hayati lainnya yang mempunyai potensi biokontrol superior.Sebagai contoh aplikasi campuran P. fluorescens strain 2-79 dengan 13-79 dapat menekan intensitaspenyakit take-all pada gandum sampai 50%, lebih tinggi dibanding dengan strain 2-79 yang diaplikasikansecara tunggal. Demikian pula dengan aplikasi campuran P. fluorescens dengan Trichoderma spp.penekanannya terhadap penyakit take-all pada gandum lebih tinggi dibanding dengan apabiladiaplikasikan sendiri-sendiri (Duffy et al. 1996).Tujuan Pengkajian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan P. fluorescens GI-19, B. subtilis, T.viride dan kombinasinya dalam menekan perkembangan penyakit layu bakteri R. solanacearum padatomat di lapangan  2
  3. 3. Nurjanani : Kajian Pengendalian Penyakit Layu Bakteri (Ralstonia Solanacearum) Menggunakan Agens Hayati Pada Tanaman Tomat  II. BAHAN DAN METODE Pengkajian dilaksanakan di kebun petani, Desa Bulu Ballea, Kecamatan Tinggi MoncongKabupaten Gowa pada bulan April sampai Agustus 2009. Rancangan yang digunakan adalah acakkelompok yang terdiri dari delapan perlakuan yaitu: P0 = kontrol (tanpa agens hayati), P1 = P.fluorescens GI-19, P2 = B. subtilis, P3 = T. viride, P4= P. fluorescens GI-19 + B. subtilis, P5 =fluorescens GI-19 + T. viride, P6 = B. subtilis + T. viride, dan P7 = Streptomisin Sulfat 20% (Agrept 20WP). Masing-masing perlakuan diulang tiga kali.Aplikasi Agens Hayati P. fluorescens GI-19, B. subtilis dan Streptomisin Sulfat 20% diaplikasikan dengan pencelupanbenih ke dalam suspensi bahan-bahan tersebut yang telah dicampur dengan 1 ml carboxymethylcellulose (CMC) atau penyiraman bibit pada 5 hari sebelum tanam. Sementara itu T. viride diaplikasikandengan cara pencampuran benih yang telah diberi 1 ml CMC dengan biakan cendawan tersebut (2,5 gbiakan/100 biji benih) dan infestasi biakan cendawan tersebut sebanyak 1 g/kantung medium tumbuhbibit tomat 5 hari sebelum tanam. Pada perlakuan pencampuran agens hayati, masing-masingdiaplikasikan setengah dari jumlah agens hayati yang diaplikasikan pada perlakuan tunggal.Pengamatan Pengamatan dilakukan terhadap intensitas penyakit layu. Perkembangan intensitas penyakitdiamati setiap minggu sejak munculnya gejala. Intensitas penyakit dihitung dengan menggunakan rumus(Gunawan. 1989): A1n1 + a2n2 + .......... + annn IP = ------------------------------------- x 100% 5 x total tanaman IP = Intensitas penyakit a = nilai skoring tiap tanaman n = jumlah tanaman dengan nilai skoring tertentu.Kategori serangan berdasarkan nilai skoring yang ditentukan sebagai berikut: 0 = tidak ada serangan 1 = satu daun layu 2 = dua atau tiga daun layu 3 = semua daun layu kecuali daun ke dua dan ke tiga termuda 4 = semua daun layu 5 = tanaman mati Keefektifan relatif pengendalian (KRP) agens hayati dan Streptomisin Sulfat 20% terhadapbakteri layu (R. solanacearum) dihitung menggunakan rumus (Unterstenhofer. 1976) sebagai berikut: IS Ko - IS P KRP = ---------------- X 100% IS Ko KRP = Keefektifan relatif pengendalian IS Ko = Intensitas serangan pada petak kontrol IS P = Intensitas serangan pada petak perlakuan. 3  
  4. 4. Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.4.,2011 Analisis Data Untuk menguji pengaruh perlakuan terhadap respon yang diamati dilakukan analisis sidik ragamdengan menggunakan Statistical Analysis System (SAS) proram. Selanjutnya untuk mengetahuiperbedaan nilai tengah antar perlakuan dilakukan uji Duncan pada alfa = 0,05. Kriteria keefektifan pengendalian tiap perlakuan ditentukan sebagai berikut: Tabel 1. Kriteria keefektifan relatif pengendalian Nilai keefektifan relatif Kategori keefektifan Pengendalian (KRP) KRP ≥ 80% Sangat efektif 60%≤ KRP < 80% Efektif 40% ≤ KRP < 60% Agak efektif 20% ≤ KRP < 40% Kurang efektif KRP < 20% Tidak efektif III. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis sidik ragam terhadap intensitas penyakit layu bakteri R. solanacearum diketahuibahwa jenis agens hayati memberikan pengaruh nyata. Intensitas penyakit layu pada seluruh petakpercobaan terus meningkat sejak 2 MST, namun dengan laju yang bervariasi dipengaruhi oleh macamperlakuan. Data Tabel 2 menunjukkan bahwa semua perlakuan secara nyata dapat menekan perkembanganpenyakit layu, namun dengan tingkat yang bervariasi. Berdasarkan intensitas penyakit pada pengamatanterakhir (6 MST) diketahui bahwa dalam menekan terjadinya layu dengan aplikasi tunggal B. subtiliscenderung lebih baik dibanding P. fluorescens GI-19 dan T. viride serta secara nyata lebih baikdaripada Streptomisin Sulfat 20%. Sementara itu dalam aplikasi campuran B. subrilis + P. fluorescensGI-19 keefektifannya dalam menekan terjadinya layu cenderung meningkat dibanding aplikasi B. subtilisatau P. fluorescens GI-19 secara tunggal. Demikian pula aplikasi campuran P. fluorescens GI-19 + T.viride nyata lebih baik daripada aplikasi P. fluorescens GI-19 atau T. viride secara tunggal. Namunaplikasi campuran B. subtilis + T. viride keefektifannya dalam menekan layu bakteri cenderung menurundibanding B. subtilis atau sama dengan aplikasi T. viride yang diaplikasikan secara tunggal. Peningkatanpenekanan terhadap penyakit layu pada perlakuan campuran agens hayati disebabkan di dalam tanah,selain R. solanacearum juga terdapat berbagai jenis nematoda terutama nematoda puru akar(Meloidogyne sp.). Banyak hasil penelitian yang menunjukkan bahwa serangan nematoda dapat memicuterjadinya layu oleh R. solanacearum. Semakin banyak populasi nematoda, maka semakin tinggi intensitaspenyakit layu bakteri (Mustika. 1992). Dengan tertekannya nematoda puru akar maka infeksi R.solanacearum juga dapat berkurang. Penekanan populasi M. incognita oleh T. viride telah dilaporkan olehAdnan et al. (1998). Bacillus spp. telah dilaporkan termasuk kelompok bakteri penghasil antibiotik yang potensialsebagai agens hayati. Kelompok bakteri ini pada umumnya diaplikasikan pada benih dan telah dilaporkanselain menekan berbagai patogen tular tanah seperti F. oxysporum, Rhizoctonia solani, Botrytis cinera,Gaeumannomyces graminis var. triciti dan Pythium sp., juga memproduksi hormon yang dapat memacupertumbuhan tanaman (Kim et al. 1997).  4
  5. 5. Nurjanani : Kajian Pengendalian Penyakit Layu Bakteri (Ralstonia Solanacearum) Menggunakan Agens Hayati Pada Tanaman Tomat  Tabel 2. Pengaruh jenis agens hayati dan Streptomisin Sulfat 20% terhadap intensitas penyakit layu bakteri (R. solanacearum) pada tomat Minggu setelah tanam (MST)1) Perlakuan 2 3 4 5 6 Kontrol 3,15a 9,45a 20,37a 30,74a 37,04a P. fluorescens GI-19 0,74b 3,33b 8,52b 12,96b 15,74bc B. subtilis 0,00b 1,11b 4,26cde 8,89bc 11,18bc T. viride 0,37b 1,67b 6,85bc 12,23b 14,07bc P. fluorescens GI-19 + 0,15b 1,29b 3,89de 6,66c 7,78d B. subtilis P. fluorescens GI-19 + 0,37b 1,29b 3,52e 6,85c 8,70d T. viride B. subtilis + T. viride 0,37b 1,67b 5,37bcd 9,99b 12,41bc Streptomisin Sulfat 20% 0,74b 2,04b 5,93bcd 13,89b 17,78b Angka yang diikuti huruf sama dalam kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% berdasarkan uji Duncan 1 ) Data diuji setelah ditransformasi ke Arcsin Akar x Keefektifan pengendalian agens hayati dan kombinasinya serta Sreptomisin Sulfat 20% cukupbervariasi (Tabel 3). P. fluorescens GI-19 tergolong agak efektif menekan R. solanacearum dankeefektifannya sama dengan Streptomisin Sulfat 20%, sedangkan campuran P. fluorescens GI-19 + B.subtilis, P. fluorescens GI-19 + T. viride, B. subtilis + T. viride, dan B. subtilis secara tunggal, tergolongefektif dalam menekan R. solanacearum. Jenis agens hayati dan Streptomisin Sulfat 20% menunjukkan pengaruh yang bervariasiterhadap total bobot buah tomat (Tabel 4) dan bobot 10 buah tomat (Tabel 4). Berdasarkan uji Duncanpada taraf 5%, semua jenis agens hayati berpengaruh nyata lebih baik terhadap produksi buah tomatdibandingkan dengan kontrol dan perlakuan Streptomisin Sulfat 20%. Total bobot buah tomat teringgidiperoleh dari petak perlakuan aplikasi campuran P. fluorescens GI-19 + B. subtilis, dan campuran P.fluorescens GI-19 + T. viride, namun total produksi pada perlakuan campuran P. fluorescens GI-19 + T.viride tidak berbeda nyata dengan perlakuan agens hayati lainnya. Demikian pula berat 10 buah tomatjuga tertinggi diperoleh dari petak perlakuan aplikasi campuran P. fluorescens GI-19 + B. subtilismeskipun tidak berbeda nyata dengan perlakuan campuran P. fluorescens GI-19 + T. viride, P.fluorescens GI-19 dan pencampuran B. subtilis + T. viride, namun berbeda nyata dengan perlakuanlainnya. 5  
  6. 6. Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.4.,2011  Tabel 3. Keefektifan relatif (%) pengendalian agens hayati dan Streptomisin Sulfat 20% terhadap intensitas penyakit layu bakteri (R. solanacearum) pada tomat Minggu setelah tanam (MST)1) Perlakuan 2 3 4 5 6 P. fluorescens GI-19 73,38b 64,73a 53,86b 55,68b 56,91bc B. subtilis 100,00a 89,53a 77,47ab 69,19ab 68,80ab T. viride 86,69ab 82,30a 62,46ab 60,24b 60,25bc P. fluorescens GI-19 + 94,72ab 87,13a 79,73ab 77,38a 78,75a B. subtilis P. fluorescens GI-19 + 86,69ab 87,13a 81,34a 76,26a 75,67a T. viride B. subtilis + T. viride 86,69ab 86,69a 73,15ab 67,30ab 66,38ab Streptomisin Sulfat 20% 77,18ab 77,18a 70,17ab 52,63b 50,92c Angka yang diikuti huruf sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% berdasarkan uji Duncan 1 ) Data diuji setelah ditransformasi ke Arcsin Akar x Data pada Tabel 4 menunjukkan bahwa bobot 10 buah tomat pada semua perlakuan nyata lebihtinggi daripada kontrol dan cenderung lebih tinggi daripada perlakuan Streptomisin Sulfat 20%. Hal inididuga disebabkan agens hayati selain dapat menghasilkan antibiotik yang dapat menekan pertumbuhanpatogen, juga diduga menghasilkan zat yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman termasuk ukuranbuah, sehingga berat buah juga meningkat. Campbell (1989) mengemukakan bahwa Pseudomonas sp. Yangdiaplikasikan pada benih dapat meningkatkan berat kering tanaman. Selanjutnya Pierson et al. (1994)melaporkan bahwa beberapa isolat P. fluorescens yang diaplikasikan pada benih gandum untukpengendalian penyakit take-all terbukti dapat meningkatkan tinggi tanaman dan hasilnya. IV. KESIMPULAN DAN SARANKesimpulan 1. Semua agens hayati dan Streptomisin Sulfat 20% yang diuji dapat menekan perkembangan intensitas penyakit layu bakteri pada tomat. 2. Perlakuan yang efektif mengendalikan penyakit layu bakteri adalah campuran P. fluorescens GI- 19 + B. subtilis, P. fluorescens GI-19 + T. viride, B. subtilis + T. viride, aplikasi tunggal B. subtilis, dan T. viride; sedang yang agak efektif adalah P. fluorescens dan Streptomisin Sulfat 20%. 3. Agens hayati yang diaplikasikan bersama dengan agens hayati lainnya tidak selalu lebih efektif daripada agens hayati yang diaplikasikan secara tunggl.  6
  7. 7. Nurjanani : Kajian Pengendalian Penyakit Layu Bakteri (Ralstonia Solanacearum) Menggunakan Agens Hayati Pada Tanaman Tomat  Tabel 4. Rataan bobot buah dan bobot 10 buah dalam berbagai Perlakuan jenis agens hayati dan Streptomisin Sulfat 20% Respon yang diamati *) Perlakuan Total berat buah (kg) Berat 10 buah (kg) Kontrol 0,60c 0,53b P. fluorescens GI-19 1,22b 0,83ab B. subtilis 1,31b 0,74bc T. viride 1,28b 0,75bc P. fluorescens GI-19 + 1,74a 0,92a B. subtilis P. fluorescens GI-19 + 1,44ab 0,84ab T. viride B. subtilis + T. viride 1,18b 0,80abc Streptomisin Sulfat 20% 0,83c 0,69c Angka yang diikuti huruf sama dalam kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% berdasarkan uji Duncan *) kg per 12 tanamanSaran Perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut tentang mekanisme penekanan B. subtilis dan T. virideterhadap R. solanacearum dan patogen lainnya yang berassosiasi dengan R. solanacearum tersebut padatomat. Demikian pula pengkajian aspek ekologi P. fluorescens GI-19, dan T. viride, serta formulasi yangtepat untuk memudahkan penggunaannya oleh petani. Pengendalian patogen lainnya terutamaPhytophthora infestans baik di petak pengkajian maupun di petak produksi juga perlu mendapatperhatian. V. DAFTAR PUSTAKAAdnam AM, Suseno R, Tjitrosoma S, Hadi S, Wardojo S, Rambe A. 1998. Pengaruh infestasi ganda Meloidogyne incognita dan cendawah pengkoloni nematoda puru akar pada pertumbuhan kedelai. Bul HPT 10 (1): 29-37.Anuratha CS, Gnanamanickam. 1990. Biological control of bacterial wilt caused by Pseudodmonas solanacearum in India wit antagonistic bacteria. J. Plant an Soil 124: 109-116.Campbell R. 1989. Biolocical control of microbial plant pathogens. Cambridge Univ. Pr: 137-144.Duffy BK, Simon A, Weller DM. 1996. Combination of Trichoderma koningii with fluorescens pseudomonas for control of take-all on wheat. Phytopathology 86: 188-194. 7  
  8. 8. Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.4.,2011 Gunawan OS. 1989. Pengendalian penyakit layu bakteri Pseudomonas solanacearum EF SMITH pada tanaman tomat dengan Agrimisina 15/1,5 WP di Dago Bandung. Bul Hort 17(3): 41-44.Kelman A. 1953. The bacterial wilt caused by Pseudomonas solanacearum. A. Literature Rev and Bibliography. NC Agr Exp Stn Tech Bull: 99.Kim DS, Weller DM, Cook RJ. 1977. Population dynamics of Bacillus sp. L324-92R12 and Pseudomonas fluorescens 2-79 RN10 in the rhizosphere of wheat. Phytopathol 87 (5): 559-567.McCarter SM. 1996. Bacterial wilt. Di dalam: Jones JB, Stall RE, Zotter TA, editor. Compendium of tomato diseases. Am Phytopathol Soc. APS Pr: 28-29.Mulya K. 1997. Penekanan perkembangan penyakit layu bakteri tomat oleh Pseudomonas fluorescens. J Hort 7(2): 685-691.Mustika I. 1992. Plant parasitic nematodes associated with ginger (Zingiber officinale Rosch) in North Sumatra. J Spice medicinal crops 1: 38-41.Nesmith WC, Jenkins SF Jr. 1985. Influence of an antagonist and controlled matric potential on the survival of Pseudomonas solanacearum in tour North Carolina Soils. Phytopathology 75: 1182- 1187.Puslitbang Hortikultura. 2004. Hasil-hasil penelitian hortikultura Pelita V. Jakarta: Badan Litbang Pertanian:81.Semangun H. 1989. Penyakit-penyakit taaman hortikultura di Indonesia. Gadjah Mada Univ Pr: 251- 256.Unterstenhofer G. 1976. The basic principles of crop protection field trials. Liverkusen: Pflanzenshutz-Nachricten. Bayer AG.  8

×