4 amir-tembakau kesturi

927 views
867 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
927
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
10
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

4 amir-tembakau kesturi

  1. 1. Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.1.,2011 RESPON KETAHANAN TEMBAKAU KASTURI TERHADAP SERANGAN Tobacco Leaf Curl Virus (TLCV) Andi Muhammad Amir Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat Malang e-mail: andimohamir@yahoo.co.id ABSTRAK Penelitian respon ketahanan tembakau Kasturi terhadap serangan tobacco leaf curl virus (TLCV), telah di laksanakan secara semi lapang di rumah kasa Laboratorium Entomologi dan Fitopatologi Balai Penelitian Tanaman Tembakau Dan Serat (BALITTAS) Malang, Jawa Timur, mulai bulan Mei sampai dengan Desember 2010, bertujuan untuk mengetahui kriteria ketahanan aksesi tembakau Kasturi terhadap serangan TLCV. Perlakuan terdiri atas aksesi-aksesi tembakau Kasturi yaitu, S 2153; S 2154; S 2155; S 2156; S 2242; S 2243; S 2245; S 2246; S 2247; S 2248; S 2249; S 2254; S 2255; S 2256; dan S 2293. Metode penularan secara mekanis dengan menggunakan serangga Bemisia tabaci Genn. sebagai vektor TLCV, disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK) diulang tiga kali. Parameter pengamatan meliputi masa inkubasi, luas serangan, intensitas serangan TLCV dan jumlah trichoma/rambut daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 15 aksesi tembakau Kasturi yang diuji ketahanannya terhadap TLCV, 5 aksesi yang mempunyai kriteria agak tahan yaitu S 2242, S 2243, S 2245, S 2246, dan S 2293, sedang 10 aksesi lainnya mempunyai kriteria ketahanan rentan yaitu S 2153, S 2154, S 2155, S 2156, S 2247, S 2248, S 2249, S 2254, S 2255, S 2256 Kata kunci: Tembakau Kasturi, tobacco leaf curl virus (TLCV) dan ketahanan. ABSTRACT The research of response resistence of tobacco line Kasturi againts viral pathogens tobacco leaf curl virus (TLCV) was contucted in the Pest and Diseases Laboratry and Green Hoese Indonesia Tobacco and Fibre Crops Research Institute (IToFCRI) Malang form May to December 2010, to test the resisntences of some Kasturi tobacco line to TLCV as a genetic resourses on crossing to new prime. The treatment consisted of fefteen Kasturi line that is, S 2153; S 2154; S 2155; S 2156; S 2242; S 2243; S 2245; S 2246; S 2247; S 2248; S 2249; S 2254; S 2255; S 2256; and S 2293, compiled in a randomized completely block Design (RCBD) replicated 3 times. Parameters of observation is the incubation period, attack wide, the intensity of attack pathogens TLCV and number of trichom. The results showed that of the 15 line tested tobacco Kasturi, 5 line that have a moderate resistance criteria of S 2242, S 2243, S 2245, S 2246, S 2293, currently has 10 other line S 2153, S 2154, S 2155, S 2156, S 2247, S 2248, S 2249, S 2254, S 2255, S 2256 criteria virus resistance of pathogens susceptible against TLCV. Key words: Kasturi Tobacco, Tobacco Leaf Curl Virus (TLCV) and resistences. PENDAHULUAN Salah satu hambatan yang dapat menurunkan produktifitas tanaman tembakau (Nicotianatabaccum L.) adalah adanya organisme pengganggu tanaman (OPT) baik hama mapun penyakit (jamur,cendawan dan virus). Penyakit khususnya virus tembakau umumnya masih kurang disadarikeberadaannya dan kerugian yang ditimbulkan oleh petani, karena tanaman yang terserang virus tidak 8
  2. 2. Andi Muhammad Amir : Respon Ketahanan Tembakau Kasturi Terhadap Serangan Tobacco Leaf Curl Virus (Tlcv)menimbulkan kematian tanaman sehingga masih dapat memberikan hasil, tetapi kerugian yangditimbulkan cukup banyak. Daun tembakau yang terinfeksi virus pada umumnya menunjukkan gejalamosaik, berkerut atau menggulung, ukuran daun lebih kecil, rapuh, elastisitas dan daya bakarnyamenurun. Besarnya kerugian tersebut bervariasi tergantung dari jenis virus yang menyerang, jenistembakau dan waktu terjadinya infeksi (Sitepu dan Susilowati, 1985). Khususnya untuk tembakau jeniscerutu, disamping dapat mengurangi kuantum produksi, juga sangat menurunkan mutu daun (Sismadi,1987). Dari hasil identifikasi Saleh et al. (1992), patogen virus yang banyak ditemukan pada tanamantembakau antara lain adalah virus mosaik mentimun (Cucumber Mozaic Virus /CMV), virus mosaiktembakau (Tobacco Mozaic Virus/TMV, virus bethok tembakau (Tobacco Etch Virus/TEV) dan viruskeriting tembakau atau biasa dikenal penyakit krupuk (Tobacco Leaf Curl Virus/TLCV). Dibandingkan dengan penyakit akibat patogen virus tersebut diatas, TLCV ini relatif jarangditemukan, tetapi pada kondisi yang mendukung perkembangan serangga vektornya yaitu Myzus persicaeSulz. dan/atau Bemisia tabaci Genn. yang menularkan secara persisten (Harris and Maramorosh, 1980),penyakit virus ini dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar. Agensia pengendali yang efektif untuk mengendalikan penyakit akibat serangan patogen virusTLCV ini belum ditemukan. Tanaman yang terinfeksi virus ini tidak mungkin lagi untuk disembuhkan,sehingga dapat menjadi tanaman sumber infeksi bagi tanaman sehat sekitarnya. Penyebaran patogenvirus ini sangat dipengaruhi oleh mobilitas serangga vektor yang mengambil makanan dengan caramenusuk dan mengisap menggunakan stylet (Kalshoven, 1991). Dalam usaha pengendalian patogen virus ini, diperlukan pengetahuan yang memadai tentangbeberapa sifat karaktarestik, bioekologi virus dan serangga vektor yang menentukan penyebaran sertaperkembangan penyakit virus di lapang. Plasma nutfah tembakau Kasturi mempunyai berbagai aksesi yang belum diuji sehingga evaluasiketahanan terhadap patogen virus TLCV perlu dilakukan untuk mencari sumber ketahanan dalam merakitvarietas yang tahan terhadap penyakit virus tersebut dengan kualitas yang sesuai dengan permintaankonsumen. Informasi ketahanan terhadap penyakit merupakan salah satu syarat pelepasan suatuvarietas (release). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kriteria ketahanan aksesi tembakau Kasturiterhadap serangan TLCV yang nantinya akan dijadikan sebagai sumber genetik untuk persilangan dalammerakit varietas unggul baru. METODOLOGI Penelitian telah dilakukan secara semi lapang di rumah kasa Laboratorium Entomologi danFitopatologi Balai Penelitian Tanaman Tembakau Dan Serat (BALITTAS) Malang, Jawa Timur, mulaibulan Januari sampai dengan Desember 2010. Perlakuan terdiri atas 15 aksesi tembakau Kasturi yaitu S 2153; S 2154; S 2155; S 2156; S2242; S 2243; S 2245; S 2246; S 2247; S 2248; S 2249; S 2254; S 2255; S 2256; dan S 2293,disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK) diulang 3 kali. Sumber inokulum patogen virus TLCVdiambil dari areal sentra-sentra pertanaman tembakau Kasturi yang telah endemik patogen penyakittersebut, dengan cara mencabut tanaman yang terserang kemudian di tanam pada polybag yangberukuran besar, atau pada pertanaman cabe, tomat (Lycopersicun esculentum) yang terserang patogenvirus TLCV. Sedangkan serangga vektor berasal dari tanaman kacang tanah ( Arachis hypogea) kemudiandiperbanyak di laboratorium pada tempat yang tertutup agar supaya serangga vektor tidak dapatmenyebar ke tanaman lainnya dan diberi pakan tanaman yang sehat (tidak terinfeksi dengan patogenvirus TLCV dan virus lainnya. Penanaman bibit tembakau dilakukan di polybag berukuran 10 liter yang telah berisi campurantanah, pasir dan pupuk kandang dengan populasi satu tanaman/polybag. Setiap unit perlakuan terdiri 9
  3. 3. Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.1.,2011atas 10 tanaman. Penanaman bibit tembakau pada polybag dari pesemaian diambil bersama-sama dengantanahnya kemudian ditanam dalam lubang tanam, kemudian disiram untuk mempertahankan kelembaban. Pemeliharaan tanaman disesuaikan dengan baku teknis agronomi tanaman tembakau Kasturi,sehingganya akhir akan diperoleh tanaman yang pertumbuhannya relatif baik. Penyiangan dilakukan disekitar polybag dan mencabut rumput yang tumbuh di polybag sambil menggemburkan tanahnya. Untukpemupukan digunakan pupuk majemuk NPK (15:15:15) dilakukan pada 7-10 HST sebanyak 5 g/polybag. Setelah serangga vektor yang telah mencukupi untuk perlakuan baik jumlah maupunfase/stadianya (dewasa), serangga vektor tersebut kemudian dipuasakan (tidak diberi makan) terlebihdahulu selama 30-60 menit, selanjutnya diberi pakan daun tembakau jenis Kasturi yang telah terinfeksipatogen virus TLCV selama ± 30 menit dan kemudian dipindahkan ke tanaman tembakau yang sehat(tidak terinfeksi patogen virus TLCV dan virus lainnya dengan populasi 5 ekor/tanaman dan dibiarkanmakan/mengisap cairan daun selama 48 jam. Setelah mencapai waktu makan/mengisap, serangga vektortersebut dimatikan dengan cara menyemprotkan insektisida dan tanaman yang telah terinfeksiselanjutnya dipelihara di lapang dengan menutup tanaman tersebut dengan kerodong. Pengamatan dilakukan pada 5 tanaman sampel mulai 24 jam setelah inokulasi dengan intervalwaktu pengamatan 7 hari sekali. Parameter pengamatan meliputi; 1. Masa inkubasi patogen virus TLCV; 2. Luas serangan patogen virus TLCV, dengan menggunakan persamaan: a R = ------- x 100 % b dimana, R = luas serangan; a = Jumlah tanaman terserang; b = Jumlah tanaman yang diamati. 3. Intensitas serangan patogen virus TLCV, dengan menggunakan nilai skore. Nilai skor terdiri atas: Skor 0 = sehat/tidak ada serangan Skor 1 = 1-25% daun terserang Skor 2 = 26-50% daun keriting Skor 3 = 51-75% daun keriting Skor 4 = 76-100% daunkeriting dan telah melengkung Intensitas kerusakan tanaman dihitung dengan menggunakan persamaan dari Hunter et al.,(1998).  (n x v) I = ---------- x 100 % N x V dimana, I = Intensitas serangan n = Banyaknya daun yang diamati untuk setiap kategori serangan v = Nilai skala dari setiap kategori serangan N = Jumlah daun yang diamati V = Nilai skala dari kategori serangan tertinggi 10
  4. 4. Andi Muhammad Amir : Respon Ketahanan Tembakau Kasturi Terhadap Serangan Tobacco Leaf Curl Virus (Tlcv) Pengelompokan kriteria ketahanan diadpsi dari Mandal (1988), yaitu: sangat tahan (ST) = < 1%;tahan = 1-10%; moderat = 10,1-20%; rentan = 20,1-50%; sangat rentan = > 50%. 4. Jumlah trichom/bulu daun setiap 1 cm2. HASIL DAN PEMBAHASAN Masa inkubasi patogen virus Tobacco Leaf Curl Virus (TLCV) pada beberapa aksesi tembakauKasturi disajikan pada Gambar 1. 8 7.53 7.53 7.13 Masa inkubasi (hari) 7 6.67 6.8 6.73 6.8 6.67 6.4 6.57 6.33 6.2 6.2 6 5.47 5.6 5 4 3 2 1 0 S S S S S S S S S S S S S S S 215322452249224621562154224322552256225421552248229322472242 Aksesi tembakau kasturi Gambar 1. Rata-rata masa inkubasi patogen virus tobacco leaf curl virus (TLCV) pada 15 aksesi tembakau Kasturi. Masa inkubasi yaitu saat mulai timbulnya gejala setelah tanaman tersebut terinfeksi suatupatogen baik berupa patogen cendawan, jamur maupun virus, penularannya secara teknis maupun denganmelalui perantaraan serangga vektor seperti patogen virus TLCV yang dapat ditularkan oleh seranggavektor B. tabaci. Dari gambar tersebut diatas terlihat bahwa masa inkubasi patogen virus TLCV pada 15 aksesiaksesi tembakau Kasturi cukup bervariasi. Secara statistik masa inkubasi patogen virus tersebutdiantara aksesi-aksesi tembakau Kasturi tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, yaitu rata-rataantara 5,47 sampai dengan 7,53 hari. Masa inkubasi tercepat pada aksesi S 2254 dan S 2256 denganwaktu rata-rata 5,47 hari dan 5,60 hari, sedangkan aksesi lainnya antara 6,47 hari sampai dengan 7,53hari. Munculnya gejala pada tanaman tembakau Kasturi yang diuji diduga karena patogen virus mampumenghambat proses metabolisme tanaman sehingga menyebabkan berkurangnya klorofil tanaman.Menurut Boss (1983), menyatakan bahwa munculnya gejala sebagai akibat berkurangnya konsentrasiklorofil tanaman karena terinfeksi virus sehingga pigmen daun menjadi berkurang. Patogen virus sangattergantung pada pertumbuhan sel tanaman inang untuk replikasinya, sehingga perbedaan fasepertumbuhan tanaman dan faktor-faktor lain akan berpengaruh terhadap perkembangan pathogen virusyang diekspresikan dalam bentuk gejala. Adanya perbedaan masa inkubasi pada setiap aksesi dimungkinkan oleh keberhasilan virus dalammemperbanyak diri atau bermultiplikasi dalam jaringan tanaman, selain itu juga tingkat ketahanantanaman yang berbeda dapat menghambat virus untuk memperbanyak diri. Kemampuan virus untukmenyerang tanaman inang tergantung pada sikap keagresifan virus dan kerentanan inang. Selanjutnya(Sastrahidayat, 1990), menyatakan bahwa periode inkubasi yang bervariasi dipengaruhi oleh tingkatperkembangan inang, suhu dan kelembaban lingkungan serta kombinasi antara inang dan patogen virus.Pada suhu yang tinggi perkembangan virus sangat cepat, hal ini disebabkan oleh bertambahnya aliranprotoplasma dan makin cepatnya aktivitas sel inang 11
  5. 5. Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.1.,2011 Kejadian penyakit patogen virus TLCV dengan menggunakan serangga vektor B. tabaci yangparameternya terdiri atas luas serangan dan intensitas serangan pada 15 aksesi tembakau Kasturidisajikan pada Tabel 1. Tabel 1.Rata-rata persentase luas serangan, intensitas serangan, kriteria ketahanan dan nilai skore 15 aksesi tembakau Kasturi terhadap patogen virus Tobacco Leaf Curl Virus (TLCV). No. Aksesi Luas serangan Intensitas Kriteria Nilai (%) serangan (%) ketahanan skore 1. S 2153 95,55 ab 21,67 abcd Rentan >2 2. S 2154 91,11 abc 25,33 abc Rentan >2 3. S 2155 98,83 a 21,50 abcd Rentan >2 4. S 2156 88,89 abc 25,00 abc Rentan >2 5. S 2242 92,22 abc 17,33 de Agak Tahan >2 6. S 2243 91,11 abc 18,06 cde Agak Tahan 1-2 7. S 2245 87,79 abc 19,67 bcde Agak tahan 1-2 8. S 2246 76,67 c 12,65 e Agak tahan 1-2 9. S 2247 95,55 ab 28,72 a Rentan >2 10. S 2248 95,55 ab 23,11 abcd Rentan >2 11. S 2249 81,11 bc 25,61 ab Rentan >2 12. S 2254 95,55 ab 22,72 abcd Rentan >2 13. S 2255 91,11 abc 23,22 abcd Rentan >2 14. S 2256 100,00 a 23,33 abcd Rentan >2 15. S 2293 90,00 abc 19.39 bcde Agak Tahan 1-2 Pada tabel tersebut, diketahui bahwa hasil pengamatan kejadian penyakit pada masing-masingaksesi tembakau Kasturi mempunyai respon yang berbeda-beda. Rata-rata persentase luas seranganyaitu antara 76,67-100%, penghitungan secara statistik menunjukkan perbedaan yang tidak nyataantara semua aksesi tembakau Kasturi yang diuji. Luas serangan terendah terjadi pada aksesi S 2246,sedangkan tertinggi pada aksesi S 2256. Berturut-turut rata-rata luas serangan adalah S 2155 yaitu98,89%, S 2247 yaitu 95,56%, S 2135, S 2254 dan S 2248 yaitu 95,55% kemudian S S 2242 yaitu92,22%, S 2154, S 2243, dan S 2255 yaitu 91,11%, S 2293 yaitu 90% S 2156 yaitu 88,89%, S 2245yaitu 87,78% dan S 2249 yaitu 81,11%. Perbedaan luas serangan dimungkinkan karena masa inkubasiyang berbeda dan faktor lingkungan seperti suhu dan curah hujan, dimana pada saat penelitiandilaksanakan curah hujan dengan intensitas yang cukup tinggi terjadi setiap saat. Menurut Semangun(1996), patogen penyakit baik berupa cendawan, jamur maupun virus akan menyerang jika 1) tanamanrentan, 2) patogen yang virulen dan 3) lingkungan yang mendukung. Tingkat intensitas serangan atau serangan penyakit khususnya virus merupakan tanaman ataubagian tanaman yang menunjukkan gejala penyakit. Seperti pada tanaman tembakau, yang terserangadalah daun. Selanjutnya rata-rata persentase intensitas serangan pada berbagai aksesi tembakauKasturi juga cukup bervariasi mulai dari 12,67% pada aksesi S 2246 sampai dengan 28,72% pada aksesiS 2247. Berturut-turut rata-rata intensitas serangan patogen virus TLCV adalah S 2249 yaitu 25,61%,S 2154 yaitu 25,33%, S 2156 yaitu 25,00%, S 2153 yaitu 21,67%, S 2255 yaitu 23,22%, S 2256 yaitu23,22%, S 2254 yaitu 22,72%, S 2155 yaitu 21,50% dan S 2248 yaitu 23,11%. Intensitas serangandipengaruhi oleh fase pertumbuhan tanaman serta konsentrasi dan virulensi virus. Bila tanaman beradapada fase generatif intensitas serangan cukup ringan dibanding dengan intensitas serangan pada fasevegetatif. Masa vegetatif merupakan masa yang sangat peka terhadap setiap gangguan serangan viurs 12
  6. 6. Andi Muhammad Amir : Respon Ketahanan Tembakau Kasturi Terhadap Serangan Tobacco Leaf Curl Virus (Tlcv)dan dapat berlangsung hingga tanaman masa reproduktif. Semakin tinggi konsentrasi dan virulensi virusmaka semakin tinggi pula intensitas serangan penyakit khususnya virus (Horsfall and Cowling, 1978). Jumlah trichom/bulu daun pada 15 aksesi tembakau Kasturi dsajikan pada Gambar 2. PadaGambar 2, menunjukkan bahwa rata-rata jumlah trichom/bulu daun yang terbanyak ditemukan aksesi S2246 yaitu 1106,33 helai, kemudian berturut-turut adalah S 2243 yaitu 1013,00 helai, S 2245 yaitu1008,67 helai, S 2242 yaitu 988,33 helai, S 2293 yaitu 972,67 helai, S 2154 yaitu 899,00 helai, S2256 yaitu 851,67 helai, S 2248 yaitu 848,67, S 2156 yaitu 831,00 helai, S 2254 yaitu 824,33 helai, S2155 yaitu 792,67 helai, S 2153 yaitu 789,67 helai, S 2274 yaitu 785,67 helai. Perbedaan jumlah trichoma/bulu daun pada setiap aksesi tanaman tembakau Kasturi merupakanparameter untuk mengukur ketahanan suatu tanaman. Menurut Kasumbogo (1993), hubungan seranggadengan tanaman inang selain dilihat dari segi fisiologi serangga, juga dilihat dari sifat morfologi danfisiologis tanaman sebagai sumber rangsangan utama. Ciri morfologi tanaman tertentu dapatmenimbulkan rangsangan fisik untuk kegiatan makan serangga. Variasi dalam ukuran daun, bentuk,warna, kekerasan jaringan tanaman, adanya trichoma/bulu daun dan tonjolan menentukan seberapa jauhderajat penerimaan serangga terhadap tanaman tertentu. 1200 Jumlah trichom/bulu daun (helai) 1106. 33 1008. 67 1013 1000 972. 67 988. 33 899 831 851. 67 848. 67 819 824. 33 800 789. 67 788. 33 795. 33 785. 67 600 400 200 0 S 2153 S 2245 S 2249 S 2246 S 2156 S 2154 S 2243 S 2255 S 2256 S 2254 S 2155 S 2248 S 2293 S 2247 S 2242 Aksesi tembakau Kasturi Gambar 2. Rata-rata jumlah trichom/bulu daun per cm2 pada 15 aksesi tembakau Kasturi. KESIMPULAN Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dari 15 aksesi tembakau Kasturi yang diuji, 5 aksesiyang mempunyai kriteria agak tahan yaitu S 2242, S 2243, S 2245, S 2246, dan S 2293, sedang 10aksesi lainnya yaitu S 2153, S 2154, S 2155, S 2156, S 2247, S 2248, S 2249, S 2254, S 2255, S 2256mempunyai kriteria ketahanan rentan tehadap patogen virus Tobacco Leaf Curl Virus (TLCV). UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada Sdr. Yunita Mahtutik (Mahasiswa Jurusan Hama danPenyakit Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang) atas bantuan yang telah diberikan. DAFTAR PUSTAKABoss. L. 1983. Introduction To Plant Virology. Centre For Agricultur Publishing And Documentation. Wageningen. P.225.Harris, K.E. and K. Maramorosh. 1980. Vector of Plant Patogens. Academic Press New York. USA. P.257-372. 13
  7. 7. Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.1.,2011Horsfall, JG., EB. Cowling 1978. The Measurementof Plant Disease. Plant Disease and Advanced. Vol.II. Ac Press Inc. London. Pp. 119-196.Hunter, WB., E. Hiebert, SE. Webb, JH. Tsai, JE. Polston. 1988. Location of Geminivirus In The Whitefly Bemisia tabaci Genn. Plant Desease No. 82:1147-1151. The American Pytophatological Society.Kalshoven, L.G.E. 1981. The Pest of Crops In Indonesia. PT. Ichtiar Baru van Hoeve. Jakarta. 635 hal.Kasumbogo U. 1993. Pengantar pengelolaan hama terpadu. Gajah mada press JogyakartaMandal, N. 1988. Evaluation of Germplasm or Diseases Resitence in Jute. Paper presented for International of “Jute and Kenaf Breeding Varietal Improvement” IJO/JARI (ICAR). Barrackpore. India. 9p.Saleh N., S.E. Susuilowati, Soerjono dan B. Hari Adi, 1992. Pengendalian Penyakit Virus Tanaman Tembakau Prosiding Diskusi II Tembakau Besuki Na Oosgt. Tgl. 6 Oktober 1990 di Malang. Hal.9-14.Sismadi. 1987. Pengaruh infeksi mosaik tembakau terhadap produksi tembakau Vorstenlanden. Risalah Seminar Ilmiah PFI tanggal 29-31 Oktober 1985 di Jakarta. Hal. 219-221.Sitepu dan S. E. Susilowati. 1985. Penyakit Keriting Tembakau. Lokakarya Peningkatan Produksi dan Kualitas Tembakau Virginia Di Kabupaten Bojonegoro. Tgl.27-28 Februari 1985. 7 hal. 14

×