Makalah Ekonomika SDM, SDA, dan Lingkungan
“Pengangguran Terdidik di Perkotaan”
Disusun dan diajukan untuk memenuhi tugas ...
DAFTAR ISI
1. Halaman Judul................................................................................... i
2. Daftar...
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, serta inayah-Nya ata...
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengangguran adalah salah satu masalah yang dihadapi
semua negara di dunia sebagai ak...
1.3 Tujuan
Tujuan dari disusunnya makalah ini adalah agar pembaca
dapat mengetahui tentang :
1. Pengertian pengangguran da...
dan jenis tenaga terdidik dan penyediaan tenaga terdidik tidak
seimbang, dan jumlah angkatan kerja yang lebih besar diband...
2010 saja tercatat peningkatan sebanyak 519.900 orang atau naik
sekitar 57% (Media Indonesia/22/2010).
(12 September 2013)...
Dari pie chart di atas diketahui bahwa hampir seperempat
(24%) dari angkatan kerja kita adalah „pengangguran terdidik‟, ya...
Data Pengangguran berdasarkan tingkat pendidikan di perkotaan
Dari dagram diatas terlihat tingkat pengangguran yang
tertin...
untuk memilih pekerjaan yang diminati dan menolak pekerjaan yang
tidak disukai.
Penyebab utama pengangguran terdidik adala...
2. Ketidakcocokkan antara karakteristik lulusan baru yang
memasuki dunia kerja (sisi penawaran tenaga kerja) dan
kesempata...
ia tidak mampu mendirikan atau menciptakan sebuah usaha
yang mampu menyerap dirinya maupun orang lain ke dalam
lapangan pe...
kecurangan, dan tidak bisa mengurangi jumlah pengangguran
intelektual di Indonesia.
Secara serentak di seluruh Indonesia, ...
lulusannya untuk mendapat pekerjaan layak. Karena itu,
kampus harus giat bekerja sama dengan perusahaan, lembaga
usaha, ba...
1. Peningkatan Mobilitas Tenaga kerja dan Moral.
Peningkatan mobilitas tenaga kerja dilakukan dengan
memindahkan pekerja k...
Selama orang masih tergantung pada upaya mencari kerja di
perusahaan tertentu, pengangguran akan tetap menjadi
masalah pel...
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pengangguran terdidik disebabkan oleh ketidakcocokkan
antara karakteristik lulusan baru yan...
DAFTAR PUSTAKA
Diana Sarawati, Pengangguran Menyebabkan Kemiskinan,
http://dianasarawati.blogspot.com/2013/03/penganguran-...
Sudarsono, dkk. 1988. Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta: Karunia
Jakarta
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Pengangguran terdidik di perkotaan

2,331

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
2,331
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
41
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pengangguran terdidik di perkotaan

  1. 1. Makalah Ekonomika SDM, SDA, dan Lingkungan “Pengangguran Terdidik di Perkotaan” Disusun dan diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomika SDM, SDA, dan Lingkungan Dosen Pembimbing : Ngadiyono, S.Pd. Disusun Oleh : Nama : Wurdiyanti Yuli Astuti NIM : 12804244014 Prodi : Pendidikan Ekonomi PRODI PENDIDIKAN EKONOMI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2014
  2. 2. DAFTAR ISI 1. Halaman Judul................................................................................... i 2. Daftar Isi ............................................................................................ ii 3. Kata Pengantar.................................................................................. iii 4. Bab I, Pendahuluan 1.1. Latar Belakang........................................................................... 1 1.2. Rumusan Masalah..................................................................... 1 1.3. Tujuan........................................................................................ 1 5. Bab II, Pembahasan 2.1. Pengertian Pengangguran dan Pengangguran Terdidik ........... 2 2.2. Fenomena Pengangguran Terdidik di Perkotaan...................... 3 2.3. Penyebab Pengangguran Terdidik di Perkotaan....................... 5 2.4. Cara Mengatasi Pengangguran Terdidik di Perkotaan.............. 8 6. Bab III, Penutup 3.1. Kesimpulan................................................................................ 12 7. Daftar Pustaka................................................................................... 13
  3. 3. KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, serta inayah-Nya atas selesainya Makalah „Pengangguran Terdidik di Perkotaa‟ ini. Makalah ini ditulis untuk menyelesaikan salah satu tugas mata kuliah Ekonomika SDM, SDA, dan Lingkungan dan juga agar para pembaca dapat mempelajari tentang pengertian pengangguran dan pengangguran terdidik, fenomena pengangguran terdidik di perkotaan, penyebab pengangguran terdidik di perkotaan, dan cara mengatasi pengangguran terdidik di perkotaan. Makalah ini kami persembahkan kepada : 1. Bapak Ngadiyono, S.Pd. 2. Serta teman – teman yang telah mendukung terselesaikannya makalah ini. Walaupun dalam penyusunan Makalah ini sudah berusaha maksimal, namun kami menyadari Makalah ini jauh dari kesempurnaan dan banyak kekurangan. Maka kritik, saran, petunjuk, pengarahan, dan bimbingan dari berbagai pihak sangat kami harapkan. Semoga Makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan mendapat Ridho dari Allah SWT. Amin Yogyakarta, Maret 2014 Penyusun
  4. 4. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengangguran adalah salah satu masalah yang dihadapi semua negara di dunia sebagai akibat dari adanya kesenjangan antara jumlah penduduk usia kerja yang masuk dalam angkatan kerja dengan ketersediaan kesempatan kerja. Pengangguran selalu menjadi salah satu dari prioritas masalah yang harus dihadapi dalam setiap perencanaan pembangunan. Pengangguran sendiri tak hanya dialami oleh angkatan kerja yang memiliki pendidikan rendah, dewasa ini pengangguran juga dialami oleh angkatan kerja terdidik yaitu lulusan akademi dan universitas. Dan yang menjadi sorotan paling tajam adalah adanya pengangguran terdidk di perkotaan. Untuk itu, dalam bab selanjutnya akan dibahas lebih mendalam tentang pengangguran terdidik di perkotaan. 1.2 Rumusan Masalah Dari latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut : 1. Apa pengertian pengangguran dan pengangguran terdidik? 2. Bagaimana fenomena pengangguran terdidik di perkotaan? 3. Apakah penyebab adanya pengangguran terdidik di perkotaan? 4. Bagaimana cara mengatasi pengangguran terdidik di perkotaan?
  5. 5. 1.3 Tujuan Tujuan dari disusunnya makalah ini adalah agar pembaca dapat mengetahui tentang : 1. Pengertian pengangguran dan pengangguran terdidik. 2. Fenomena pengangguran terdidik di perkotaan. 3. Penyebab adanya pengangguran terdidik di perkotaan. 4. Cara mengatasi pengangguran terdidik di perkotaan. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Pengangguran dan Pengangguran Terdidik Pengangguran atau adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya. Menurut BPS (2003), tingkat pengangguran terdidik merupakan rasio jumlah pencari kerja yang berpendidikan SMA ke atas (sebagai kelompok terdidik) terhadap besarnya angkatan kerja pada kelompok tersebut. Selain itu, menurut Elwin Tobing (2003), pengangguran tenaga terdidik yaitu angkatan kerja yang berpendidikan menengah ke atas (SMA, Diploma, dan Sarjana) dan tidak bekerja. Pengangguran tenaga kerja terdidik adalah salah satu masalah makroekonomi. Faktor-faktor penyebab tenaga kerja terdidik dapat dikatakan hampir sama di setiap negara, krisis ekonomi, struktur lapangan kerja tidak seimbang, kebutuhan jumlah
  6. 6. dan jenis tenaga terdidik dan penyediaan tenaga terdidik tidak seimbang, dan jumlah angkatan kerja yang lebih besar dibandingkan dengan kesempatan kerja (Sriyanti, 2009). Pengangguran terdidik adalah seorang yang telah lulus pendidikan dan ingin mendapatkan pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya. Para penganggur terdidik biasanya dari kelompok masyarakat menengah keatas yang memungkinkan adanya jaminan kelangsungan hidup meski menganggur. Pengangguran terdidik sangat berkaitan dengan masalah pendidikan di Negara berkembang pada umumnya, antara lain berkisar pada masalah mutu pendidikan, kesiapan tenaga pendidik, fasilitas dan pandangan masyarakat. Pada masyarakat yang sedang berkembang, pendidikan dipersiapkan sebagai sarana untuk peningkatan kesejahteraan melalui pemanfaatan kesempatan kerja yang ada. Dalam arti lain tujuan akhir program pendidikan bagi masyarakat pengguna jasa pendidikan. 2.2 Fenomena Pengangguran Terdidik di Perkotaan Jumlah penganggur terdidik di Indonesia setiap tahun terus bertambah,seiring dengan diwisudanya sarjana baru lulusan berbagai perguruan tinggi (PT). Para sarjana pengangguran itu tidak hanya lulusan terbaik PT swasta, tetapi juga PT negeri kenamaan. Data Biro Pusat Statistik (BPS) menyebutkan jumlah sarjana (S-1) pada Februari 2007 sebanyak 409.900 orang. Setahun kemudian, tepatnya Februari 2008 jumlah pengangguran terdidik bertambah 216.300 orang atau sekitar 626.200 orang. Jika setiap tahun jumlah kenaikan rata-rata 216.300, pada Februari 2012 terdapat lebih dari 1 juta pengangguran terdidik. Belum ditambah pengangguran lulusan diploma (D-1, D-2, D-3) terus meningkat. Dalam rentang waktu 2007-
  7. 7. 2010 saja tercatat peningkatan sebanyak 519.900 orang atau naik sekitar 57% (Media Indonesia/22/2010). (12 September 2013). REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Asisten Deputi Bidang Kepeloporan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olah Raga, Muh Abud Musa'ad, mengatakan angka pengangguran pemuda terdidik mencapai 41,81 persen dari total angka pengangguran nasional. "Ada fenomena semakin tinggi jenjang pendidikan semakin tinggi ketergantungan pada lapangan kerja," kata Muh Abud Musa'ad. Muh Abud Musa'ad menjadi salah satu pembicara pada Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-89 Tahun 2012 di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan di Jakarta Pusat. Ketergantungan terhadap lapangan kerja itu, kata Musa'ad, disebabkan pemuda-pemuda terdidik memilih-milih pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan dan kompetensinya. "Karena terlalu memilih-milih itu, mereka justru jadi pengangguran sehingga angka pengangguran terdidik menjadi tinggi," katanya. Jumlah pengangguran terdidik terbanyak adalah lulusan perguruan tinggi, yaitu 12,78 persen. Posisi berikutnya disusul lulusan SMA (11,9 persen), SMK (11,87 persen), SMP (7,45 persen) dan SD (3,81 persen). Angka pengangguran pemuda Indonesia pun termasuk yang tertinggi bila dibandingkan dengan negara-negara lain. Pemuda yang menganggur di Indonesia mencapai 25,1 persen dari total angkatan kerja. "Angka pengangguran pemuda Indonesia tertinggi kedua setelah Afrika Selatan. Karena itu, harus ada upaya serius untuk mengurangi angka pengangguran pemuda," katanya. Dan data terbaru berdasarkan data Kementerian Tenaga Kerja, jumlah pengangguran sarjana hingga Februari 2013 mencapai 360 ribu orang atau 5,04 persen dari total pengangguran yang 7,17 juta orang (Koran Jakarta, 14/11/2013).
  8. 8. Dari pie chart di atas diketahui bahwa hampir seperempat (24%) dari angkatan kerja kita adalah „pengangguran terdidik‟, yaitu yang mengecap jenjang pendidikan tinggi (diploma/sarjana).
  9. 9. Data Pengangguran berdasarkan tingkat pendidikan di perkotaan Dari dagram diatas terlihat tingkat pengangguran yang tertinggi adalah berasal dari lulusan SMA dan yang lebih tinggi. Hal itu mengindikasikan masih sangat tinggimya tingkat pengangguran terdidik di perkotaan saat ini. 2.3 Penyebab Pengangguran Terdidik di Perkotaan Menurut Moelyono dalam Sutomo, dkk (1999), menyatakan bahwa meningkatnya pengangguran tenaga kerja terdidik disebabkan oleh makin tingginya tingkat pendidikan maka makin tinggi pula aspirasinya untuk mendapatkan kedudukan atau kesempatan kerja yang lebih sesuai dengan keinginan, sehingga proses untuk mencari kerja lebih lama pada kelompok pencari kerja terdidik disebabkan tenaga kerja terdidik lebih banyak mengetahui perkembangan informasi di pasar kerja, dan lebih berkemampuan
  10. 10. untuk memilih pekerjaan yang diminati dan menolak pekerjaan yang tidak disukai. Penyebab utama pengangguran terdidik adalah kurang selarasnya perencanaan pembangunan pendidikan dan berkembangnya lapangan kerja yang tidak sesuai dengan jurusan mereka, sehingga para lulusan yang berasal dari jenjang pendidikan atas baik umum maupun kejuruan dan tinggi tersebut tidak dapat terserap ke dalam lapangan pekerjaan yang ada. Faktanya lembaga pendidikan di Indonesia hanya menghasilkan pencari kerja, bukan pencipta kerja. Padahal, untuk menjadi seorang lulusan yang siap kerja, mereka perlu tambahan keterampilan di luar bidang akademik yang mereka kuasai. Penyebab lainnya yaitu : 1. Para pengangguran terdidik lebih memilih pekerjaan yang formal dan mereka maunya bekerja di tempat yang langsung menempatkan mereka di posisi yang enak, dapat banyak fasilitas, dan maunya langsung dapat gaji besar.Padahal dewasa ini lapangan kerja di sektor formal mengalami penurunan,hal itu disebabkan melemahnya kinerja sektor riil dan daya saing Indonesia, yang menyebabkan melemahnya sektor industri dan produksi manufaktur yang berorientasi ekspor. Melemahnya sektor riil dan daya saing Indonesia secara langsung menyebabkan berkurangnya permintaan untuk tenaga kerja terdidik, yang mengakibatkan meningkatnya jumlah pengangguran terdidik. Dengan kata lain, persoalan pengangguran terdidik muncul karena adanya informalisasi pasar kerja. Sebenarnya Sektor pertanian, kelautan, perkebunan, dan perikanan adalah contoh bidang- bidang yang masih membutuhkan tenaga ahli. Namun para sarjana tak mau bekerja di tempat-tempat seperti itu dan mereka umumnya juga tidak mau memulai karier dari bawah.
  11. 11. 2. Ketidakcocokkan antara karakteristik lulusan baru yang memasuki dunia kerja (sisi penawaran tenaga kerja) dan kesempatan kerja yang tersedia (sisi permintaan tenaga kerja). Ketidakcocokan ini mungkin bersifat geografis, jenis pekerjaan, orientasi status, atau masalah keahlian khusus. 3. Semakin terdidik seseorang, semakin besar harapannya pada jenis pekerjaan yang aman. Golongan ini menilai tinggi pekerjaan yang stabil daripada pekerjaan yang beresiko tinggi sehingga lebih suka bekerja pada perusahaan yang lebih besar daripada membuka usaha sendiri. Hal ini diperkuat oleh hasil studi Clignet (1980), yang menemukan gejala meningkatnya pengangguran terdidik di Indonesia, antara lain disebabkan adanya keinginan memilih pekerjaan yang aman dari resiko. Dengan demikian angkatan kerja terdidik lebih suka memilih menganggur daripada mendapat pekerjaan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. 4. Terbatasnya daya serap tenaga kerja di sektor formal (tenaga kerja terdidik yang jumlahnya cukup besar memberi tekanan yang kuat terhadap kesempatan kerja di sektor formal yang jumlahnya relatif kecil). 5. Belum efisiennya fungsi pasar kerja. Di samping faktor kesulitan memperoleh lapangan kerja, arus informasi tenaga kerja yang tidak sempurna dan tidak lancar menyebabkan banyak angkatan kerja bekerja di luar bidangnya. Kemudian faktor gengsi juga menyebabkan lulusan akademi atau universitas memilih menganggur karena tidak sesuai dengan bidangnya. 6. Rendahnya kualitas lulusan baik dari tingkat akademi ataupun universitas. Lulusan yang memiliki kualitas tidak terlalu bagus menyebabkan ketika seorang lulusan tidak mampu mendapatkan pekerjaan sesuai harapan dan tingkat pendidikan maupun jurusan keilmuan yang diambilnya maka
  12. 12. ia tidak mampu mendirikan atau menciptakan sebuah usaha yang mampu menyerap dirinya maupun orang lain ke dalam lapangan pekerjaan. 7. Budaya malas juga sebagai salah satu factor penyebab tingginya angka pengangguran sarjana di Indonesia. 8. Meningkatnya angka pengangguran terdidik di perkotaan juga disebabkan karena ketidakseimbangan pertumbuhan angkatan kerja dan penciptaan kesempatan kerja. Adanya kesenjangan antara angkatan kerja dan lapangan kerja tersebut berdampak terhadap perpindahan tenaga kerja (migrasi) baik secara spasial antara desa-kota maupun secara sektoral. Selain itu, lulusan sarjana dari daerah pedesaan juga banyak yang berurbanisasi ke kota besar untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan ijazahnya namun faktanya tidak semua lulusan sarjana tersebut mendapat pekerjaan sesuai yang ia inginkan dan akhirnya hanya menambah jumlah pengangguran terdidik di perkotaan. 9. Banyak pemuda “menggantungkan” nasibnya pada CPNS, padahal menjadi PNS bukanlah udara segar menjamin kemakmuran hidup. Karena kenyataanya, banyak PNS miskin dan belum mampu memenuhi kehidupan layak bagi keluarga mereka. 2.4 Cara Mengatasi Pengangguran Terdidik di Perkotaan Sebenarnya, langkah pemerintah mengurangi pengangguran sudah maksimal. Seperti contoh dengan adanya penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) yang digelar belum lama ini. Akan tetapi, seharusnya pemuda harus berdikari dan tidak mengutamakan menjadi PNS. Terbukti, menjadi PNS sangat sulit, penuh
  13. 13. kecurangan, dan tidak bisa mengurangi jumlah pengangguran intelektual di Indonesia. Secara serentak di seluruh Indonesia, pada Minggu 3 November 2013 lalu, sebanyak 1.612.854 peserta mengikuti Tes Kompetensi Dasar (TKD) CPNS dari semua formasi. Sebanyak 648.982 peserta di antaranya merupakan tenaga honorer kategori II (Kompas, 4/11/2013). Dari institusi pendidikan, hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi pengangguran terdidik di perkotaan adalah : 1. Pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan dan perguruan tinggi harus merevolusi kurikulum. Artinya, semua kurikulum dan materi pendidikan harus sesuai kondisi zaman. Karena, selama ini banyak sekali materi kurikulum tidak sesuai kebutuhan. Kampus juga harus membuat konsep pendidikan kerja agar kompetensi lulusan sesuai kebutuhan lapangan kerja dan siap bekerja. 2. kampus harus tegas dan mampu menutup fakultas/jurusan yang tidak sesuai konteks global. Artinya, selama ini banyak kampus membuka fakultas yang lulusannya tidak laku kerja seperti jurusan sastra Inggris, Arab, dan sebagainya, serta fakultas yang lulusannya terlalu banyak seperti jurusan kependidikan, hukum, bahasa dan jurusan lain yang sudah banyak alumninya. Maka, kampus harus membuka fakultas (jurusan) yang sesuai lapangan kerja saja. 3. Perguruan tinggi harus peduli terhadap lulusannya. Artinya, selama ini kampus terkesan “lepas tangan” dan tidak peduli terhadap alumnusnya. Padahal, lulusan membawa nama almameter kampus di masyarakat. Peran kampus sebenarnya tidak sekadar mendidik dan meluluskan mahasiswa, tetapi juga bertugas mengusahakan, mencarikan, dan menyalurkan
  14. 14. lulusannya untuk mendapat pekerjaan layak. Karena itu, kampus harus giat bekerja sama dengan perusahaan, lembaga usaha, baik di dalam maupun luar negeri. 4. Peningkatan pendidikan kejuruan dan keterampilan kerja dengan dibekali karakter dan etos juang dan etos kerja secara mapan. Mengapa saat ini banyak SMA berkonversi menjadi SMK? Karena lapangan kerja membutuhkan ilmuan teknis, cekatan, fokus di bidangnya, serta berketrampilan dan siap pakai. 5. Kampus harus mewajibkan semua mahasiswanya berwirausaha. Tidak peduli fakultasnya apa, yang penting ada aturan tegas dari kampus mewajibkan mahasiswanya bekerja dan memiliki penghasilan sendiri tanpa mengandalkan uang dari keluarga. Jadi, paradigma “ilmuan pekerja” harus ditanamkan ketika mahasiswa, karena hakikatnya bekerja tidak perlu menunggu lulus kuliah atau mendapat ijazah. 6. Atau cara lain yaitu dengan menaikkan status indeks prestasi komulatif (IPK) dan menambah pelajaran keterampilan seperti bahasa Inggris. Artinya perlu standarisasi nilai IPK dan test bahasa Inggris (TOEFL) yang memadai untuk siap diterima di perusahaan. Misalnya, dengan standar IPK minimal rata-rata 2,9 dari skala 1-4 dan TOEFL minimal 550, maka dapat diperoleh standar ke depan bahwa lulusan S1 dengan nilai tersebut sudah mampu dan siap bekerja di perusahaan. Lain halnya dengan yang lulus hanya “sekadar”nya saja, tentu sulit untuk diterima bekerja di perusahaan. Selain hal-hal di atas, upaya lain selain melalui lembaga atau institusi pendidikan untuk mengatasi adanya pengangguran terdidik di perkotaan adalah :
  15. 15. 1. Peningkatan Mobilitas Tenaga kerja dan Moral. Peningkatan mobilitas tenaga kerja dilakukan dengan memindahkan pekerja ke kesempatan kerja yang lowong dan melatih ulang keterampilannya sehingga dapat memenuhi tuntutan kualifikasi di tempat baru. Peningkatan mobilitas modal dilakukan dengan memindahkan industry (padat karya) ke wilayah yang mengalami masalah pengangguran parah. Cara ini baik digunakan untuk mengatasi msalah pengangguran structural. 2. Pengelolaan Permintaan Masyarakat. Pemerintah dapat mengurangi pengangguran siklikal melalui manajemen yang mengarahkan permintaan-permintaan masyarakat ke barang atau jasa yang tersedia dalam jumlah yang melimpah. 3. Penyediaan Informasi tentang Kebutuhan Tenaga Kerja. Untuk mengatasi pengangguran musiman, perlu adanya pemberian informasi yang cepat mengenai tempat-tempat mana yang sedang memerlukan tenaga kerja. 4. Program Pendidikan dan Pelatihan Kerja. Pengangguran terutama disebabkan oleh masalah tenaga kerja yang tidak terampil dan ahli. Perusahaan lebih menyukai calon pegawai yang sudah memiliki keterampilan atau keahlian tertentu. Masalah tersebut amat relevan di Negara kita, mengingat sejumlah besar penganggur adalah orang yang belum memiliki keterampilan atau keahlian tertentu. 5. Wiraswasta.
  16. 16. Selama orang masih tergantung pada upaya mencari kerja di perusahaan tertentu, pengangguran akan tetap menjadi masalah pelik. Masalah menjadi agak terpecahkan apabila muncul keinginan untuk menciptakan lapangan usaha sendiri atau berwiraswasta yang berhasil. 6. Pengembangan usaha agro-bisnis di pedesaan. Upaya ini juga ditujukan untuk mengurangi pengangguran yang diarahkan untuk masyarakat pedesaan. Terbatasnya lahan pertanian di pedesaan dan jenis pekerjaan sektor pertanian yang hanya bersifat musiman, merupakan salah satu kontribusi tersebar penyebab munculnya pengangguran di perkotaan. Dengan demikian, diperlukan kegiatan atau usaha yang tidak dipengaruhi oleh luas lahan pertanian maupun musim. Pengembangan usaha agrobisnis ini dapat bersifat skala kecil maupun menengah. Meskipun lahan pertanian jumlahnya terbatas dan jenis pekerjaan di sektor pertanian sifatnya musiman, tetapi perluasan kesempatan kerja pada sektor ini masih sangat dibutuhkan. Dengan pengembangan usaha agrobisnis maka penduduk desa tak perlu pergi ke kota untuk mencari pekerjaan karena lapangan kerja di kota pun masih sangat kecil.
  17. 17. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Pengangguran terdidik disebabkan oleh ketidakcocokkan antara karakteristik lulusan baru yang memasuki dunia kerja (sisi penawaran tenaga kerja) dan kesempatan kerja yang tersedia (sisi permintaan tenaga kerja). Ketidakcocokan ini mungkin bersifat geografis, jenis pekerjaan, orientasi status, atau masalah keahlian khusus. Dan Pengangguran terdidik di perkotaan disebabkan oleh sempitnya lapangan pekerjaan di daerah sehingga mereka berbondong-bondong ke kota dengan maksud mencari pekerjaan yang sesuai padahal lapangan pekerjaan di kota pun sempit, akhirnya mereka menjadi pengangguran terdidik di perkotaan. Setiap orang lulusan Perguruan Tinggi belum tentu bisa langsung bekerja,karena dalam bidang pekerjaan yang dibutuhkan bukan hanya pendidikan saja. Untuk mengurangi pengangguran seharusnya dalam pembelajaran tidak hanya pemberian pendidikan akademik saja melainkan pendidikan enterpreneurship (kewirausaan) agar setelah lulus dari perguruan tinggi lulusan dapat mendapat nilai plus dalam mencari pekerjaan, dan juga sebagai ilmu tambahan agar mereka mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri bahkan mampu menyerap tenaga kerja.
  18. 18. DAFTAR PUSTAKA Diana Sarawati, Pengangguran Menyebabkan Kemiskinan, http://dianasarawati.blogspot.com/2013/03/penganguran- menyebabkan-kemiskinan-dan.html. Diakses pada tanggal 15 Maret 2014. Hamidulloh Ibda, Mencari Solusi Pengangguran Terdidik, http://www.kompi.org/2013/12/mencari-solusi-pengangguran- terdidik.html. Diakses pada tanggal 15 Maret 2014. Margawiratama, Pengangguran Terdidik, http://margawiratama.blogspot.com/2013/01/pengangguran- terdidik.html. Diakses pada tanggal 15 Maret 2014. Martarizal, Menghindari Pengangguran Terdidik, http://martarizal.wordpress.com/2008/02/12/menghindari- penganggur-terdidik/. Diakses pada tanggal 15 Maret 2014. Mitha Filandari, Faktor Penyebab Pengangguran Terdidik di Kota, http://mithafilandari.blogspot.com/2013/05/faktor-yang- menyebabkan-terjadinya.html. Diakses pada tanggal 15 Maret 2014. Neraca.co, 2013, Atasi Pengangguran Terdidik, http://www.neraca.co.id/article/25422/Atasi-Pengangguran-Terdidik . Diakses pada tanggal 15 Maret 2014. Republika.co, Kualitas Sarjana di Indonesia Masih Mentah, http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek- nasional/12/12/03/megijz-sarjana-indonesia-dinilai-masih-mentah. Diakses pada tanggal 15 Maret 2014.
  19. 19. Sudarsono, dkk. 1988. Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta: Karunia Jakarta

×