Discourse on Bhinneka Tunggal Ika
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Discourse on Bhinneka Tunggal Ika

on

  • 809 views

 

Statistics

Views

Total Views
809
Views on SlideShare
809
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
13
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Discourse on Bhinneka Tunggal Ika Discourse on Bhinneka Tunggal Ika Presentation Transcript

  • Arkeologi, Genealogi, dan Problematisasi S Kunto Adi Wibowo @wowoxarc
  • Arkeologi
  • Langkah-langkah• to chart the relation between the sayable and the visible;• to analyse the relation between one statement and other statements;• to formulate rules for the repeatability of statements (or, if you like, the use of statements);• to analyse the positions which are established between subjects –for the time being we can think of subjects as human beings -in regard to statements;• to describe surfaces of emergence -places within which objects are designated and acted upon;• to describe institutions, which acquire authority and provide limits within which discursive objects may act or exist;• to describe forms of specification, which refer to the ways in which discursive objects are targeted. A form of specification is a system for understanding a particular phenomenon with the aim of relating it to other phenomena.
  • Sutasoma (Mpu Tantular)• Sayable:• Rwâneka dhâtu winuwus Buddha Wiswa,(It is said that the well-known Buddha and Shiva are two different substances)• Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,(They are indeed different, yet how is it possible to recognise their differencein a glance)• Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,(since the truth of Jina (Buddha) and the truth of Shiva is one)• Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.(They are indeed different, but they are of the same kind, as there is noduality in Truth)• Visible: candi shiva-budha, praktik peribadatan shiva-budha
  • Dharmadyaksa• Saat pemerintahan Raden Wijaya (Kertarajasa), ada 2 pejabat tinggi Siwa dan Buddha, yaitu Dharmadyaksa ring Kasaiwan dan Dharmadyaksa ring Kasogatan, kemudian 5 pejabat Siwa di bawahnya yang secara keseluruhan disebut Dharmapapati atau Dharmadhikarana. Lima pejabat Siwa ini pada pemerintahan Tribhuwana di tambah 2 orang dari agama Buddha, sehingga jumlahnya menjadi 7 orang dan secara berkelompok disebut Sang Saptopapati (Van Naersen 1933:239-258).
  • Nagarakertagama• Pupuh 16• Pujangga-pujangga yang lama berkunjung di Nusantara. Dilarang mengabaikan urusan Negara, mengejar untung. Seyogianya, jika mengemban perintah ke mana juga. Menegakkan Siwa, menolak ajaran sesat• Konon, kabarnya, para penderita penganut Sang Sugata. Dalam perjalanan mengemban perintah Baginda Nata. Dilarang menginjak tanah sebelah barat Pulau Jawa. Karena penghuninya bukan penganut ajaran Budha.• Tanah sebelah timur Jawa terutama Gurun, Bali boleh dijelajah tanpa ada yang dikecualikan. Bahkan, menurut kabaran mahamuni Empu Barada serta raja pendeta Kuturan telah bersumpah teguh
  • Bhinneka tunggal ika• Lambang NKRI Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika ditetapkan Peraturan Pemerintah nomor 66 Tahun 1951, pada tanggal 17 Oktober diundangkan pada tanggal 28 Oktober 1951 tentang Lambang Negara. Bahwa usaha bina negara baik pada masa pemerintahan Majhapahit maupun pemerintahan NKRI berlandaskan pada pandangan sama yaitu semangat rasa persatuan, kesatuan dan kebersamaan sebagai modal dasar dalam menegakkan negara.• Dalam lambang NKRI, Garuda Pancasila, pengertiannya diperluas, menjadi tidak terbatas dan diterapkan tidak hanya pada perbedaan kepercayaan dan keagamaan, melainkan juga terhadap perbedaan suku, bahasa, adat istiadat (budaya) dan beda kepulauan (antara nusa) dalam kesatuan nusaantara raya.
  • Tan hana dharma mangrwa• Sementara semboyan “Tan Hana Darmma Mangrwa” digunakan sebagai motto Lambang Pertahanan Nasional (Lem Ham Nas). Makna kalimat ini adalah “Tidak ada kenenaran yang bermuka dua” kemudian oleh LemHaNas semboyan kalimat tersebut diberi pengertian ringkas dan praktis yakni “Bertahan karena benar” “Tidak ada kebenaran yang bermuka dua” sesungguhnya memiliki pengertian agar hendaknya setiap insan manusia senantiasa berpegang dan berlandaskan pada kebenaran yang satu.
  • Formulasi aturan wacana• Bagaimana aturan wacana tentang shiva-budha?• Bagaimana wacana dharma dan agama dalam konteks kesejarahan Majapahit?• Bagaimana wacana bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa menjadi pengetahuan tentang persatuan agama, suku, bahasa, adat istiadat (budaya) dan beda kepulauan (antara nusa) dalam kesatuan nusaantara raya?
  • Relasi subjek• Dalam Sutasoma subjek shiva/buddha disamakan (tidak ada perbedaan dalam kebenarannya)• Dalam Nagarakrtagama subjek shiva/buddha di bedakan atas wilayah penyebaran• Dharma merujuk pada pengertian agama sekarang, lalu apakah agama dalam Nagarakrtagama?
  • Agama• Agama adalah kitab atau kumpulan kitab/serat dalam shiva, buddha, dan jainism• Agama dalam nagarakrtagama lebih merujuk pada aturan atau hukum (KUHP) atau syariat dalam Islam.• Pada teks modern Indonesia, kategori dharma menjadi agama dan dharma dikategorikan sebagai kebenaran
  • Surface of emergence• Shiva-buddha merupakan wilayah kemunculan diskursus tan hana dharma mangrwa• Berbeda dengan kemunculan bhinneka tunggal ika modern yang lebih dekat pada wilayah syariat/agama/ageman
  • Institusi• Negara sebagai sebuah kesatuan yang utuh dengan satu Tuhan.• Dharmadyaksa digantikan dengan departemen agama yang mengatur semua agama di Indonesia yang ber Tuhan satu.• Tuhan yang satu di setiap agama (Tuhan yang banyak jika agama-agama tersebut ditambahkan)
  • Form of specification• Nasionalisme memberikan kita kosakata dan serangkaian konsep yang memungkinkan kita memaknai dan mengukur persatuan berdasar bhinneka tunggal ika
  • Arkeologi• Merupakan snapshot terhadap diskontinuitas sejarah, perbedaan dan persamaan kategori, serta pergeseran pengetahuan dan praktik• Foucault seeks to grasp the statement in the exact specificity of its occurrence, to account for the reasons why a given statement had to be that precise statement and no other.
  • Genealogi• Processual aspects of the web of discourse – its ongoing character.• Mengapa teknik dari pengetahuan yang sedemikian rupa digunakan untuk tujuan tertentu? – Pengetahuan yang tidak mencukupi – Tujuan tertentu tersebut bersifat ambivalen atau paradoks dengan tujuan lainnya – Kecelakaan sejarah dari hal yang sangat sepele
  • Bhinneka tunggal ika• Merupakan pengetahuan tentang persatuan (terutama agama) yang menunjuk praktik di jaman Majapahit.• Analisis arkeologi membuktikan bahwa persatuan di jaman Majapahit berbeda karena ada satu pengetahuan penting berupa Dharma yang diskontinu• Dharma digantikan dengan agama dalam pengetahuan modern dan praktik persatuan ambivalen atau tidak memadai.
  • Tan Hana Dharma Mangrwa• Menjadi kebenaran tunggal ala Lemhanas dimana diskursus persatuan mendapatkan teknik-teknik nya dalam institusi ini.• Kebenaran yang diijinkan dalam hal persatuan adalah penolakan perbincangan SARA yang menyembunyikan kebenaran yang plural• Subjek manusia Indonesia dengan demikian dibatasi dengan pembicaraan tunggal keIndonesiaan
  • Resistensi• Resistensi adalah kuasa yang sama dengan kuasa yang lain• Resistensi bisa terjadi karena tidak mencukupinya (dan selalu tidak cukup) teknik yang digunakan dengan tujuan dalam sebuah relasi kuasa/pengetahuan
  • Problematisasi• Postkolonialis: hasrat persatuan dari gerakan nasionalisme yang mencari ‘origin’ dari sebuah bangsa yang ternyata tidak lebih baik dari kolonialisme. Problematisasi kuasa nation-state• Foucault: mentransformasikan diri kita dengan pengetahuan yang tidak pernah cukup dan diskontinu.
  • Pancasila• Apakah anda subjek pancasila?