LAPORAN TUGAS OBSERVASI HUTAN MANGROVE
(Hutan Wisata Payau Tritih Kec.Tritih Kulon Kab.Cilacap)
Disampaikan Untuk Memenuhi...
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kami dapat men...
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................... i
DAFTAR I...
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Hutan mangrove adalah hutan yang berada di daerah tepi pantai yang
dipengaruhi oleh pa...
laju pembilasan oleh arus pasang surut, dan gaya gelombang. Sedang pasokan
nutrien bagi ekosistem mangrove ditentukan oleh...
2. Mahasiswa dapat lebih memahami fungsi dan peran hutan mangrove
sehingga lebih mencintai lingkungan serta ikut serta dal...
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian Hutan Mangrove
Hutan bakau atau hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-
...
2. Lahannya tergenang air laut secara berkala, baik setiap hari maupun
hanya tergenang pada saat pasang purnama. Frekuensi...
3. Asosiasi mangrove, contohnya adalah Cerbera, Acanthus, Derris, Hibiscus,
Calamus, dan lain-lain.
Flora mangrove umumnya...
E. Manfaat dan Fungsi Ekosistem Mangrove
Kawasan pesisir dan laut merupakan sebuah ekosistem yang terpadu dan
saling berko...
9) Penambah unsur hara. Sifat fisik hutan bakau cenderung
memperlambat aliran air dan terjadi pengendapan. Seiring dengan
...
berperan sebagai laboratorium lapang yang baik untuk kegiatan
penelitian dan pendidikan.
2) Penghasil kayu untuk kayu bang...
2 dan berakhir pada hewan pemangsa karnivora maupun herbivora sebagai
konsumen ke-3.
2 . Rantai Parasit
Rantai parasit dim...
• Ikan pengunjung pada periode pasang, yaitu ikan yang berkunjung ke hutan
mangrove pada saat air pasang untuk mencari mak...
1. Fitoplankton adalah dari kelas Chlophyceae (alga hijau) dan
Chrysophyceae (alga hijau kuning) yang termasuk didalamnya ...
Biota yang paling banyak dijumpai di ekosistem mangrove adalah crustacea
dan moluska. Kepiting, Uca sp dan berbagai spesie...
BAB III
HASIL OBSERVASI
A. Sekilas tentang Hutan Wisata Payau Tritih Cilacap
Hutan wisata adalah suatu kawasan wisata alam...
1. Bakau (Rhizopora Sp.)
Klasifikasi Bakau :
Kingdom :Plantae
Subkingdom :Tracheobionta
SuperDivisi :Spermatophyta
Divisi ...
Genus :Avicennia
Spesies : Avicennia alba
Api-api merupakan belukar atau pohon yang tumbuh menyebar dengan
ketinggian menc...
mencapai 36 m walaupun jarang yang mencapai ukuran tersebut. Jenis tancang
termasuk yang usianya panjang diantara jenis-je...
Untuk jenis hewan mayoritas yang dapat kami jumpai saat pengamatan di
Hutan Payau Tritih adalah :
1. Ikan Glodok (P. schlo...
dengan cara menutup rapat mulut dan tutup insang. Ia bisa berada lama di darat
selama air di bawahnya masih mengandung oks...
3. Burung Prenjak
Klasifikasi Burung Prenjak :
Kerajaan :Animalia
Filum :Chordata
Kelas :Aves
Ordo :Passeriformes
Suku :Ci...
Famili :Ardeidae
Genus :Ardeola
Species : Ardeola
speciosa
Tubuh Blekok sawah berukuran kecil (45 cm), bersayap putih, cok...
ingin mengunjungi Kali Donan sudah hancur. Tinggal puing-puing dan
tiang-tiang beton yang tersisa.
Walaupun objek wisata h...
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
− http://anekaplanta.wordpress.com/2009/01/27/peranan-dan-fungsi-hutan-
bakau-mangrove-dalam-ekosistem-pesi...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Laporan hasil observasi tritih

6,311 views

Published on

Laporan hasil observasi hutan payau Tritih, Cilacap

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
6,311
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
44
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Laporan hasil observasi tritih

  1. 1. LAPORAN TUGAS OBSERVASI HUTAN MANGROVE (Hutan Wisata Payau Tritih Kec.Tritih Kulon Kab.Cilacap) Disampaikan Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Pada Mata Kuliah Biologi SD Semester Genap Dosen Pengampu : Subuh Anggoro, S.Pi., M.Pi Disusun Oleh : 1. Sigit Prayogo 1001100172 2. Suripto 1001100123 3. Queen Elvina 1001100138 4. Wisda Amalia Putri 1001100045 5. Yuliant Fitri 1001100084 Kelas B Semester II PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO TAHUN 2011
  2. 2. KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan “Laporan Tugas Observasi Hutan Mangrove” ini tepat pada waktunya. Shalawat serta salam tidak lupa kami sampaikan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW yang telah memberikan syafa’at bagi kita membimbing dari zaman kegelapan menuju jalan yang terang benderang. Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada : 1. Bapak Subuh Anggoro,S.Pi.,M.Pi selaku dosen pengampu yang telah membimbing kami dalam penyelesaian tugas ini. 2. Bapak Sarjono selaku pengelola Hutan Wisata Tritih,Cilacap yang telah memberi banyak informasi bagi kami dalam penyusunan laporan hasil observasi hutan mangrove. 3. Orang tua kami tercinta yang telah mendukung dan memberi doa restu bagi kami dalam kegiatan observasi sampai penyusunan laporan ini. 4. Segenap teman - teman yang telah membantu baik secara moril maupun tenaga guna penyelesaian laporan observasi ini. Juga kepada pihak terkait yang membantu kelancaran penyusunan laporan observasi ini kami ucapkan banyak terima kasih. Kami sadar dalam penyusunan laporan observasi ini masih jauh dari sempurna, mudah -mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua. Kritik dan saran selalu kami tunggu guna kesempurnaan makalah di waktu mendatang.Mudah- mudahan laporan tugas observasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
  3. 3. DAFTAR ISI KATA PENGANTAR...................................................................................... i DAFTAR ISI.................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN................................................................................. A.Latar Belakang..................................................................................... B.Tujuan.................................................................................................. C.Manfaat................................................................................................ BAB II TINJAUAN TEORI............................................................................. A.Pengertian Hutan Mangrove................................................................ B.Karakteristik Ekosistem Mangrove...................................................... C.Flora Mangrove.................................................................................... D.Fauna Mangrove.................................................................................. E.Manfaat dan Fungsi Ekosistem Mangrove........................................... F.Pola Interaksi Pada Ekosistem Mangrove............................................ BAB III HASIL OBSERVASI......................................................................... A.Sekilas Tentang Hutan Wisata Payau Tritih Cilacap........................... B.Flora dan Fauna di Hutan Payau Tritih................................................ C.Kerusakan Hutan Wisata Payau Tritih................................................. BAB IV PENUTUP.......................................................................................... A.Kesimpulan.......................................................................................... B.Saran..................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................
  4. 4. BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Hutan mangrove adalah hutan yang berada di daerah tepi pantai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut, sehingga lantai hutannya selalu tergenang air. Menurut Steenis (1978) mangrove adalah vegetasi hutan yang tumbuh di antara garis pasang surut. Nybakken (1988) bahwa hutan mangrove adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu komunitas pantai tropik didominasi oleh beberapa spesies pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. Beberapa jenis umum yang dijumpai di Indonesia adalah Bakau (Rhizophora), Api-api(Avicennia), Pedada(Sonneratia), Tanjang (Bruguiera), Nyirih (Xylocarpus). Komposisi jenis tumbuhan penyusun ekosistem ditentukan oleh beberapa faktor lingkungan, terutama jenis tanah, genangan pasangan pasang surut dan salinitas (Bengen 2001). Parameter lingkungan yang utama yang menentukan kelangsungan hidup dan pertumbuhan mangrove adalah:  Pasokan air tawar dan salinitas  Stabilitas substrat  Pasokan nutrien Ketersediaan air tawar dan salinitas (kadar garam) mengendalikan efisiensi metabolisme dari ekosistim mangrove. Ketersediaan air bergantung pada:  Frekuensi dan volume aliran air tawar  Frekuensi dan volume pertukaran pasang surut  Tingkat evavorasi Stabilitas substrat, kondisi yang diperlukan bagi pertumbuhan mangrove adalah nibah (ratio) antara laju erosi dan pengendapan sedimen, yang sangat dipengaruhi oleh kecepatan aliran air tawar dan muatan sedimen yang dikandungnya,
  5. 5. laju pembilasan oleh arus pasang surut, dan gaya gelombang. Sedang pasokan nutrien bagi ekosistem mangrove ditentukan oleh berbagai proses yang saling yang terkait, meliputi input/export dari ion-ion mineral anorganik dan bahan organik serta pendaurulangan nutrien secara internal melalui jaring makanan berbasis detritus. Konsentrasi relatif dan nisbah (ratio) optimal dari nutrien yang diperlukan untuk pemeliharaan produktivitas ekosistem dan ditentukan oleh :  Frekuensi,jumlah dan lamanya penggenangan oleh air asin atau air tawar  Dinamika sirkulasi internal dari kompleks detritus (Odum 1982) Secara biologi yang menyangkut rantai makanan, ekosistem mangrove merupakan produsen primer melalui serasah yang dihasilkan. Serasah hutan setelah melalui dekomposisi oleh sejumlah mikroorganisme, menghasilkan detritus dan berbagai jenis fitoplankton yang akan dimanfaatkan oleh konsumen primer yang terdiri dari zooplankton, ikan dan udang, kepiting sampai akhir dimangsa oleh manusia sebagai konsumen utama. Vegetasi hutan mangrove juga merupakan pendaur ulang hara tanah yang diperlukan bagi tanaman. B. Tujuan Adapun tujuan dari kegiatan obsevasi kami adalah : 1. Untuk memenuhi tugas kelompok pada mata kuliah Biologi SD semester genap. 2. Untuk mengetahui karakteristik ekosistem mangrove. 3. Untuk mengetahui flora dan fauna apa saja yang ada pada ekosistem mangrove. 4. Untuk memahami peran dan fungsi hutan mangrove. C. Manfaat Manfaat yang kami peroleh setelah melakukan kegiatan observasi ini adalah : 1. Mahasiswa dapat mengetahui komponen ekosistem apa saja yang ada di hutan mangrove.
  6. 6. 2. Mahasiswa dapat lebih memahami fungsi dan peran hutan mangrove sehingga lebih mencintai lingkungan serta ikut serta dalam upaya pelestariannya.
  7. 7. BAB II TINJAUAN TEORI A. Pengertian Hutan Mangrove Hutan bakau atau hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa- rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di muara sungai, daerah pasang surut atau tepi laut. Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar nafas (pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen atau bahkan anaerob. Hutan Bakau (mangrove) merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur (Bengen, 2000). Sementara ini wilayah pesisir didefinisikan sebagai wilayah dimana daratan berbatasan dengan laut. Batas wilayah pesisir di daratan ialah daerah-daerah yang tergenang air maupun yang tidak tergenang air dan masih dipengaruhi oleh proses-proses bahari seperti pasang surutnya laut, angin laut dan intrusi air laut, sedangkan batas wilayah pesisir di laut ialah daerah-daerah yang dipengaruhi oleh proses-proses alami di daratan seperti sedimentasi dan mengalirnya air tawar ke laut, serta daerah-daerah laut yang dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan manusia di daratan seperti penggundulan hutan dan pencemaran. B. Karakteristik Ekosistem Mangrove Ekosistem mangrove hanya didapati di daerah tropik dan sub-tropik. Ekosistem mangrove dapat berkembang dengan baik pada lingkungan dengan ciri- ciri ekologik sebagai berikut: 1. Jenis tanahnya berlumpur, berlempung atau berpasir dengan bahan- bahan yang berasal dari lumpur, pasir atau pecahan karang.
  8. 8. 2. Lahannya tergenang air laut secara berkala, baik setiap hari maupun hanya tergenang pada saat pasang purnama. Frekuensi genangan ini akan menentukan komposisi vegetasi ekosistem mangrove itu sendiri. 3. Menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat (sungai, mata air atau air tanah) yang berfungsi untuk menurunkan salinitas, menambah pasokan unsur hara dan lumpur. 4. Suhu udara dengan fluktuasi musiman tidak lebih dari 5ºC dan suhu rata-rata di bulan terdingin lebih dari 20ºC. 5. Airnya payau dengan salinitas 2-22 ppt atau asin dengan salinitas mencapai 38 ppt. 6. Arus laut tidak terlalu deras. 7. Tempat-tempat yang terlindung dari angin kencang dan gempuran ombak yang kuat. 8. Topografi pantai yang datar/landai. Habitat dengan ciri-ciri ekologik tersebut umumnya dapat ditemukan di daerah-daerah pantai yang dangkal, muara-muara sungai dan pulau-pulau yang terletak pada teluk. C. Flora Mangrove Tomlinson (1986) membagi flora mangrove menjadi tiga kelompok, yakni : 1. Flora mangrove mayor (flora mangrove sebenarnya), yakni flora yang menunjukkan kesetiaan terhadap habitat mangrove, berkemampuan membentuk tegakan murni dan secara dominan mencirikan struktur komunitas, secara morfologi mempunyai bentuk-bentuk adaptif khusus (bentuk akar dan viviparitas) terhadap lingkungan mangrove, dan mempunyai mekanisme fisiologis dalam mengontrol garam. Contohnya adalah Avicennia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Kandelia, Sonneratia, Lumnitzera, Laguncularia dan Nypa. 2. Flora mangrove minor, yakni flora mangrove yang tidak mampu membentuk tegakan murni, sehingga secara morfologis tidak berperan dominan dalam struktur komunitas, contoh : Excoecaria, Xylocarpus, Heritiera, Aegiceras. Aegialitis, Acrostichum, Camptostemon, Scyphiphora, Pemphis, Osbornia dan Pelliciera.
  9. 9. 3. Asosiasi mangrove, contohnya adalah Cerbera, Acanthus, Derris, Hibiscus, Calamus, dan lain-lain. Flora mangrove umumnya di lapangan tumbuh membentuk zonasi mulai dari pinggir pantai sampai pedalaman daratan. Zonasi di hutan mangrove mencerminkan tanggapan ekofisiologis tumbuhan mangrove terhadap gradasi lingkungan. Zonasi yang terbentuk bisa berupa zonasi yang sederhana (satu zonasi, zonasi campuran) dan zonasi yang kompleks (beberapa zonasi) tergantung pada kondisi lingkungan mangrove yang bersangkutan. Beberapa faktor lingkungan yang penting dalam mengontrol zonasi adalah : • Pasang surut yang secara tidak langsung mengontrol dalamnya muka air (water table) dan salinitas air dan tanah. Secara langsung arus pasang surut dapat menyebabkan kerusakan terhadap anakan. • Tipe tanah yang secara tidak langsung menentukan tingkat aerasi tanah, tingginya muka air dan drainase. • Kadar garam tanah dan air yang berkaitan dengan toleransi spesies terhadap kadar garam. • Cahaya yang berpengaruh terhadap pertumbuhan anakan dari species intoleran seperti Rhizophora, Avicennia dan Sonneratia. • Pasokan dan aliran air tawar. D. Fauna Mangrove Ekosistem mangrove merupakan habitat bagi berbagai fauna, baik fauna khas mangrove maupun fauna yang berasosiasi dengan mangrove. Berbagai fauna tersebut menjadikan mangrove sebagai tempat tinggal, mencari makan, bermain atau tempat berkembang biak. Fauna mangrove hampir mewakili semua phylum, meliputi protozoa sederhana sampai burung, dan mamalia. Secara garis besar fauna mangrove dapat dibedakan atas fauna darat (terrestrial), fauna air tawar dan fauna laut. Akan tetapi fauna yang terdapat di hutan mangrove Kab Subang termasuk kedalam fauna laut yang didominasi oleh Mollusca dan Crustaceae. Golongan Mollusca umunya didominasi oleh Gastropoda, sedangkan golongan Crustaceae didominasi oleh Bracyura.
  10. 10. E. Manfaat dan Fungsi Ekosistem Mangrove Kawasan pesisir dan laut merupakan sebuah ekosistem yang terpadu dan saling berkolerasi secara timbal balik (Siregar dan Purwaka, 2002). Masing-masing elmen dalam ekosistem memiliki peran dan fungsi yang saling mendukung. Kerusakan salah satu komponen ekosistem dari salah satunya (daratan dan lautan) secara langsung berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem keseluruhan. Hutan mangrove merupakan elemen yang paling banyak berperan dalam menyeimbangkan kualitas lingkungan dan menetralisir bahan-bahan pencemar. 1. Secara Fisik 1) Penahan abrasi pantai. 2) Penahan intrusi (peresapan) air laut. 3) Penahan angin. 4) Menurunkan kandungan gas karbon dioksida (CO2) di udara, dan bahan-bahan pencemar di perairan rawa pantai. 5) Penyerapan karbon. Proses fotosentesis mengubah karbon anorganik (C02) menjadi karbon organik dalam bentuk bahan vegetasi. Pada sebagian besar ekosistem, bahan ini membusuk dan melepaskan karbon kembali ke atmosfer sebagai (C02). Akan tetapi hutan bakau justru mengandung sejumlah besar bahan organik yang tidak membusuk. Karena itu, hutan bakau lebih berfungsi sebagai penyerap karbon dibandingkan dengan sumber karbon. 6) Memelihara iklim mikro. Evapotranspirasi hutan bakau mampu menjaga kelembaban dan curah hujan kawasan tersebut, sehingga keseimbangan iklim mikro terjaga. 7) Mencegah berkembangnya tanah sulfat masam. Keberadaan hutan bakau dapat mencegah teroksidasinya lapisan pirit dan menghalangi berkembangnya kondisi alam. 8) Pengendapan lumpur. Sifat fisik tanaman pada hutan bakau membantu proses pengendapan lumpur. Pengendapan lumpur berhubungan erat dengan penghilangan racun dan unsur hara air, karena bahan-bahan tersebut seringkali terikat pada partikel lumpur. Dengan hutan bakau, kualitas air laut terjaga dari endapan lumpur erosi.
  11. 11. 9) Penambah unsur hara. Sifat fisik hutan bakau cenderung memperlambat aliran air dan terjadi pengendapan. Seiring dengan proses pengendapan ini terjadi unsur hara yang berasal dari berbagai sumber, termasuk pencucian dari areal pertanian. 10) Penambat racun. Banyak racun yang memasuki ekosistem perairan dalam keadaan terikat pada permukaan lumpur atau terdapat di antara kisi-kisi molekul partikel tanah air. Beberapa spesies tertentu dalam hutan bakau bahkan membantu proses penambatan racun secara aktif 2. Secara Biologi 1) Tempat hidup (berlindung, mencari makan, pemijahan dan asuhan) biota laut seperti ikan dan udang). 2) Sumber bahan organik sebagai sumber pakan konsumen pertama (pakan cacing, kepiting dan golongan kerang/keong), yang selanjutnya menjadi sumber makanan bagi konsumen di atasnya dalam siklus rantai makanan dalam suatu ekosistem. 3) Tempat hidup berbagai satwa langka, seperti burung. Lebih dari 100 jenis burung hidup disini, dan daratan lumpur yang luas berbatasan dengan hutan bakau merupakan tempat mendaratnya ribuan burug pantai ringan migran, termasuk jenis burung langka Blekok Asia (Limnodrumus semipalmatus). 4) Sumber plasma nutfah. Plasma nutfah dari kehidupan liar sangat besar manfaatnya baik bagi perbaikan jenis-jenis satwa komersial maupun untuk memelihara populasi kehidupan liar itu sendiri. 5) Memelihara proses-proses dan sistem alami. Hutan bakau sangat tinggi peranannya dalam mendukung berlangsungnya proses-proses ekologi, geomorfologi, atau geologi di dalamnya. 3. Secara Sosial dan Ekonomi 1) Tempat kegiatan wisata alam (rekreasi, pendidikan dan penelitian). Hutan bakau memiliki nilai estetika, baik dari faktor alamnya maupun dari kehidupan yang ada di dalamnya. Selain itu, dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, hutan mangrove
  12. 12. berperan sebagai laboratorium lapang yang baik untuk kegiatan penelitian dan pendidikan. 2) Penghasil kayu untuk kayu bangunan, kayu bakar, arang dan bahan baku kertas, serta daun nipah untuk pembuatan atap rumah. 3) Penghasil tannin untuk pembuatan tinta, plastik, lem, pengawet net dan penyamakan kulit. 4) Penghasil bahan pangan (ikan/udang/kepiting, dan gula nira nipah), dan obat-obatan (daun Bruguiera sexangula untuk obat penghambat tumor, Ceriops tagal dan Xylocarpus mollucensis untuk obat sakit gigi, dan lain-lain). 5) Tempat sumber mata pencaharian masyarakat nelayan tangkap dan petambak., dan pengrajin atap dan gula nipah. 6) Transportasi. Pada beberapa hutan mangrove, transportasi melalui air merupakan cara yang paling efisien dan paling sesuai dengan lingkungan. F. Pola Interaksi pada Ekosistem Mangrove Semua organisme hidup akan selalu membutuhkan organisme lain dan lingkungan hidupnya. Hubungan yang terjadi antara individu dengan lingkungannya sangat kompleks, bersifat saling mempengaruhi atau timbal balik. Hubungan timbal balik antara unsur-unsur hayati dengan nonhayati membentuk sistem ekologi didalam ekosistem. Didalam ekosistem terjadi rantai makanan/ aliran energy dan siklus biogeokimia. Rantai makanan dapat dikategorikan sebagai interaksi antar organisme dalam bentuk predasi. Rantai makanan merupakan proses pemindahan energi makanan dari sumbernya melalui serangkaian jasad-jasad dengan cara makan-dimakan yang berulang kali (Romimohtarto dan Juwana,1999). Terdapat tiga macam rantai pokok (Anonim 2008).yaitu rantai pemangsa, rantai parasit dan rantai saprofit. 1. Rantai Pemangsa Landasan utamanya adalah tumbuhan hijau sebagai produsen. Rantai pemangsa dimulai dari hewan yang bersifat herbivore sebagai konsumen I, dilanjutkan dengan hewan karnivora yang memangsa herbivore sebagai konsumen ke
  13. 13. 2 dan berakhir pada hewan pemangsa karnivora maupun herbivora sebagai konsumen ke-3. 2 . Rantai Parasit Rantai parasit dimulai dari organisme besar hingga organisme yang hidup sebagai parasit. Contoh cacing, bakteri dan benalu. 3. Rantai Saprofit Dimulai dari organisme mati ke jasad pengurai. Misalnya jamur dan bakteri. Rantai tersebut tidak berdiri sendiri akan tetapi saling berkaitan satu dengan yang lainnya sehingga membentuk jaring-jaring makanan. Secara umum di perairan, terdapat 2 tipe rantai makanan yang terdiri dari : a) Rantai Makanan Langsung Rantai makanan langsung adalah peristiwa makan memakan mulai dari tingkatan trofik terendah yaitu fitoplankton sampai ke tingkatan trofik tertinggi yaitu ikan karnivora berukuran besar, mamalia, burung dan reptil . Hal inidapat dilihat pada ilustrasi berikut : Rantai makanan langsung, bukanlah sebuah proses ekologi yang dominan terjadi di dalam ekosistem mangrove. Oleh karena spesies ikan yang terdapat dalam ekosistem mangrove, utamanya konsumer trofik tertinggi, kebanyakan adalah ikan pengunjung pada periode tertentu atau musim tertentu. Nontji (1993) menyatakan bahwa beberapa jenis ikan komersial mempunyai kaitan dengan mangrove seperti bandeng dan belanak. Anonim (2009) mengklasifikasikan ikan yang terdapat dalam ekosistem mangrove pada 4 (empat) tipe ikan, yaitu : • Ikan penetap sejati, yaitu ikan yang seluruh siklus hidupnya dijalankan di daerah hutan mangrove seperti ikan Gelodok (Periopthalmus sp). • Ikan penetap sementara, yaitu ikan yang berasosiasi dengan hutan mangrove selama periode anakan, tetapi pada saat dewasa cenderung menggerombol di sepanjang pantai yang berdekatan dengan hutan mangrove, seperti ikan belanak (Mugilidae), ikan Kuweh (Carangidae), dan ikan Kapasan, Lontong (Gerreidae).
  14. 14. • Ikan pengunjung pada periode pasang, yaitu ikan yang berkunjung ke hutan mangrove pada saat air pasang untuk mencari makan, contohnya ikan Kekemek, Gelama, Krot (Scianidae), ikan Barakuda / Alu-alu, Tancak (Sphyraenidae), dan ikan-ikan dari familia Exocietidae serta Carangidae. • Ikan pengunjung musiman. Ikan-ikan yang termasuk dalam kelompok ini menggunakan hutan mangrove sebagai tempat asuhan atau untuk memijah serta tempat perlindungan musiman dari predator. b) Rantai Makanan Detritus. Pada ekosistem mangrove, rantai makanan yang terjadi adalah rantai makanan detritus. Sumber utama detritus adalah hasil penguraian guguran daun mangrove yang jatuh ke perairan oleh bakteri dan fungi (Romimohtarto dan Juwana 1999). Rantai makanan detritus dimulai dari proses penghancuran luruhan dan ranting mangrove oleh bakteri dan fungi (detritivor) menghasilkan detritus. Hancuran bahan organik (detritus) ini kemudian menjadi bahan makanan penting (nutrien) bagi cacing, crustacea, moluska, dan hewan lainnya (Nontji, 1993). Setyawan dkk (2002) menyatakan nutrien di dalam ekosistem mangrove dapat juga berasal dari luar ekosistem, dari sungai atau laut . Lalu ditambahkan oleh Romimohtarto dan Juwana (1999) yang menyatakan bahwa bakteri dan fungi tadi dimakan oleh sebagian protozoa dan avertebrata. Kemudianprotozoa dan avertebrata dimakan oleh karnivor sedang, yang selanjutnya dimakan oleh karnivor tingkat tinggi. Detritivor pada Ekosistem Mangrove Adanya sistem akar yang padat, menyebabkan sedimen, yang mengandung unsur hara, terperangkap. Selain itu model perakaran ini juga menyebabkan gerakan air yang minimal pada ekosistem ini. Sehingga hewan pengurai (detritivor) memiliki aktivitas tinggi dengan jumlah yang banyak pada ekosistem ini. Setyawan dkk (2002) menyatakan bahwa sesendok teh, lumpur mangrove mengandung lebih dari 10 juta bakteri, lebih kaya dari lumpur manapun. Bakteri yang dimaksud disini adalah bakteri patogen seperti Shigella, Aeromonas dan Vibrio dimana bakteri ini dapat bertahan pada air mangrove walaupun tercemar bahan kimia berbahaya. Selain itu, terdapat mikroorganisme lain yang dapat menguraikan molekul organik pada ekosistem mangrove. Mikroorganisme itu adalah fitoplankton dan zooplankton, dengan penjelasan sebagai berikut :
  15. 15. 1. Fitoplankton adalah dari kelas Chlophyceae (alga hijau) dan Chrysophyceae (alga hijau kuning) yang termasuk didalamnya adalah diatom. Nybaken (1992) menyatakan jenis-jenis tumbuhan laut mikroskopis yang berlimpah diatas dataran berlumpur, adalah diatom. Salah satu jenis alga hijau kuning adalah Chyanobacterium. Alga ini bersifat anoksik dan juga banyak melimpah di perairan. Romimohtaro dan Juwana (1999) menyatakan oleh kelimpahan organisme jenis ini karena adanya kandungan unsur hara yang berlebih. Dan ini sangat sesuai dengan kondisi ekosistem mangrove yang kaya unsur hara dan kecendrungan kandungan oksigen terlarut yang rendah. 2. Zooplankton. Fitoplankton dimakan oleh zooplankton. Nybaken (1992) menyatakan pada estuaria, sekitar 50-60 % persen produksi bersih fitoplankton dimakan oleh zooplankton. Pada dasarnya hampir semua fauna akuatik muda yang terdapat pada ekosistem mangrove, dikategorikan sebagai zooplankton, (Setyawan dkk, 2002). Usia muda dari fauna akuatik (larva) sebagian besar berada di ekosistem mangrove. Dan larva dikategorikan sebagai zooplankton, karena termasuk fauna yang pergerakannya masih dipengaruhi oleh pergerakan air, sebagaimana pengertian dari plankton itu sendiri. Oleh karena itu juga Thoha (2007) mengkategorikan Gastropoda, Bivalva, telur, ikan, dan larva ikan kedalam zooplankton. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa zooplankton dari Filum Protozoa, memakan bakteri dan fungi yang terdapat pada ekosistem mangrove. Lebih spesifik, bahwa Ordo Dinoflagellata dari Kelas Flagellata yang banyak terdapat pada ekosistem mangrove. Selain itu taksa zooplankton yang sering dan banyak terdapat pada ekosistem mangrove adalah Copepoda.Thoha(2007).menyatakan bahwa ikan- ikan pelagis seperti teri, kembung, lemuru, tembang dan bahkan cakalang berprefensi sebagai pemangsa Copepoda dan larva Decapoda. Oleh karena itu, terdapat ikan penetap sementara pada ekosistem mangrove, yang cenderung hidup bergerombol dikarenakan kaitannya yang erat dengan adanya mangsa pangan pada ekosistem itu sendiri.
  16. 16. Biota yang paling banyak dijumpai di ekosistem mangrove adalah crustacea dan moluska. Kepiting, Uca sp dan berbagai spesies Sesarma umumnya dijumpai di hutan Mangrove. Kepiting-kepiting dari famili Portunidae juga merupakan biota yang umum dijumpai. Kepiting-kepiting yang dapat dikonsumsi (Scylla serrata), Udang raksasa air tawar (Macrobrachium rosenbergii) dan udang laut (Penaeus indicus , P. Merguiensis, P. Monodon, Metapenaeus brevicornis) yang terkenal termasuk produk mangrove yang bernilai ekonomis dan menjadi sumber mata pencaharian penduduk sekitar hutan mangrove. Semua spesies-spesies ini umumnya mempunyai dasar-dasar sejarah hidup yang sama yaitu menetaskan telurnya di ekosistem mangrove dan setelah mencapai dewasa melakukan migrasi ke laut. Ekosistem mangrove juga merupakan tempat memelihara anak- anak ikan. Migrasi biota ini berbeda-beda tergantung spesiesnya.
  17. 17. BAB III HASIL OBSERVASI A. Sekilas tentang Hutan Wisata Payau Tritih Cilacap Hutan wisata adalah suatu kawasan wisata alam yang lokasinya berada di wilayah hutan produksi. Hutan wisata Payau Tritih dibangun oleh Perum Perhutani (sekarang PT Perhutani) pada tahun 1978 di areal hutan mangrove petak 57.B,RPH Tritih,BKPH Rawa Timur,KHP Banyumas Barat. Penanaman hutan ini dirintis oleh Administatur Perhutani Banyumas Barat Ir.Bambang Soekartiko (waktu itu) sebagai upaya reboisasi hutan payau. Hutan bakau (mangrove) yang ada di Tritih ini disebut hutan payau karena hutan ini terkena pasang surut air payau. Air payau merupakan campuran air laut dan air tawar. Hutan Wisata Payau Tritih mendapat aliran dari Segara Anakan, danau Donan dan sungai Tritih. Pembangunan Hutan Bakau (mangrove) menjadi obyek wisata alam bertujuan untuk mendayagunakan potensi sumber daya alam untuk mendukung usaha rekreasi,pembangunan hutan wisata payau ini juga dimaksudkan untuk dapat menjadi sarana pendidikan dan lingkungan bagi masyarakat luas.Dengan cinta alam dan lingkungan itu,diharapkan masyarakat memiliki kesadaran dalam upaya pelestariannya. Hutan Wisata Payau Tritih memiliki luas 1,5 ha, terletak di kelurahan Tritih Kulon, Kecamatan Cilacap utara ± 6 km dari Kota Cilacap, Jawa Tngah. Berada di ketinggian 0-5 di atas permukaan laut dengan curah hujan rata – rata. 3000 mm/tahun, dengan suhu udara 27˚- 32˚Celcius dan memiliki Ph 7. Lokasi ini dapat ditempuh dengan kendaraan roda 2 atau roda 4, bus dan juga dengan angkutan umum. B. Flora dan Fauna di Hutan Payau Tritih Hasil pengamatan yang telah kami lakukan di Hutan Payau Tritih,kami menjumpai banyak jenis tumbuhan,di antanya yang paling mayoritas adalah:
  18. 18. 1. Bakau (Rhizopora Sp.) Klasifikasi Bakau : Kingdom :Plantae Subkingdom :Tracheobionta SuperDivisi :Spermatophyta Divisi :Magnoliophyta Kelas :Magnoliopsida SubKelas :Rosidae Ordo :Myrtales Famili :Rhizophoraceae Genus :Rhizophora Spesies : Rhizophora mangle Bakau merupakan pohon dengan ketinggian mencapai 30 m dengan diameter batang mencapai 50 cm. Memiliki perakaran yang khas hingga mencapai ketinggian 5 m dan kadang-kadang memiliki akar udara yang keluar dari cabang. Kulit kayu berwarna abu-abu tua dan berubah-ubah. Pohon ini banyak terlihat sebagai pohon kecil yang tumbuh di air laut. Dapat tumbuh dengan toleransi yang cukup terhadap kadar garam mulai dari yang tawar sampai kadar yang tinggi. Disebut sebagai pohon yang facultative halophyte yang artinya dapat tumbuh di air asin tetapi tidak terbatas hanya di habitat yang demikian saja.Bakau merupakan salah satu jenis pohon penyusun utama ekosistem hutan bakau. 2. Api-api (Avicennia sp.) Klasifikasi Api-Api: Kingdom :Plantae Subkingdom :Tracheobionta SuperDivisi :Spermatophyta Divisi :Magnoliophyta Kelas :Magnoliopsida SubKelas :Asteridae Ordo :Scrophulariales Famili :Acanthaceae
  19. 19. Genus :Avicennia Spesies : Avicennia alba Api-api merupakan belukar atau pohon yang tumbuh menyebar dengan ketinggian mencapai 25 m. Kumpulan pohon membentuk sistem perakaran horizontal dan akar nafas yang rumit. Akar nafas biasanya tipis, berbentuk jari (atau seperti asparagus) yang ditutupi oleh lentisel. Kulit kayu luar berwarna keabu-abuan atau gelap kecoklatan, beberapa ditumbuhi tonjolan kecil, sementara yang lain kadang-kadang memiliki permukaan yang halus. Pada bagian batang yang tua, kadang-kadang ditemukan serbuk tipis. Dikenal secara umum sebagai black mangrove. Pohon jenis ini mempunyai toleransi yang tinggi terhadap kadar garam. Dapat tumbuh mencapai ketinggian 25 – 30 m. Pohon ini tidak mengeluarkan garam di bagian akarnya, tetapi mengeluarkan kelebihan garam melalui pori-pori daunnya yang akan terbawa oleh hujan dan angin. Seringkali garam terlihat sebagai lapisan kristal putih di bagian permukaan atas daun. 3. Tancang (Bruguiera sp.) Klasifikasi Tancang : Kingdom :Plantae Subkingdom :Tracheobionta SuperDivisi :Spermatophyta Divisi :Magnoliophyta Kelas :Magnoliopsida SubKelas :Rosidae Ordo : Malpighiales Famili :Rhizophoraceae Genus :Bruguiera Lam. Berupa semai atau pohon kecil yang selalu hijau, tinggi (meskipun jarang) dapat mencapai 20 m. Kulit kayu burik, berwarna abu-abu hingga coklat tua, bercelah, dan agak membengkak di bagian pangkal pohon. Akar lutut dapat mencapai 30 cm tingginya. Jenis pohon ini disebut juga lindur. Tancang termasuk juga dalam famili Rhizoporaceae. Tumbuh subur di lokasi yang kering, pada tanah yang dialiri air tawar, tetapi dapat tumbuh pula di tanah lumpur. Tingginya sekitar 15 m, tetapi bisa
  20. 20. mencapai 36 m walaupun jarang yang mencapai ukuran tersebut. Jenis tancang termasuk yang usianya panjang diantara jenis-jenis bakau yang lainnya. Warna kulit pohon ini abu-abu, gelap, dan permukaannya kasar. 4. Pedada (Sonneratia sp.) Klasifikasi Ilmiah Pedada : Kingdom : Plantae (Tumbuhan) Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub Kelas : Rosidae Ordo : Myrtales Famili : Sonneratiaceae Genus : Sonneratia Spesies : Sonneratia alba Dalam bahasa lokal jenis bakau ini disebut juga bogem atau prapat. Pohon selalu hijau, tumbuh tersebar, ketinggian kadang- kadang hingga 15 m. Kulit kayu berwarna putih tua hingga coklat, dengan celah longitudinal yang halus. Akar berbentuk kabel di bawah tanah dan muncul ke permukaan sebagai akar nafas yang berbentuk kerucut tumpul dan tingginya mencapai 25 cm. Menempati bagian pantai paling depan di sisi laut. Tumbuh di tanah berlumpur dan berpasir. Kulit batang berwarna abu-abu atau kecoklatan, permukaan kulit kasar, dan retak-retak. Pada pohon muda, kulit batangnya dilapisi semacam lapisan lilin untuk mengurangi penguapan air dari jaringannya. Bila dipangkas rantingnya mudah beregenerasi. Dahan dan rantingnya dapat dipanen asal dibatasi. Selain jenis-jenis pohon minoritas yang telah disebutkan di atas,di beberapa tempat/lahan yang kosong atau terbuka,dapat ditemukan tumbuhan darat seperti Bintaro (Cerbera manghas),waru (Hibiscuss teliaceus),akasia ( Acacia Sp.) dan banyak vegetasi liar seperti tumbuhan Jeruju (Acanthus ilicifolius Linn) yang merupakan tumbuhan semak yang daunnya berduri.
  21. 21. Untuk jenis hewan mayoritas yang dapat kami jumpai saat pengamatan di Hutan Payau Tritih adalah : 1. Ikan Glodok (P. schlosseri) / mudskipper Klasifikasi Ikan Glodok : Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Class : Actinopterygii Ordo : Perciformes Family : Gobiidae Subfamili : Oxudercinae Genus : Periophthalmodon Spesies : Periophthalmodon schlosseri Ikan gelodok bisa merangkak naik ke darat atau bertengger pada akar-akar pohon bakau. Itulah kemampuan luar biasa ikan gelodok atau biasa disebut ikan tembakul. Ikan ini hidup di zona pasang surut di lumpur pantai yang ada pohon- pohon bakaunya. Ia telah menyesuaikan diri hidup di darat meskipun belum sepenuhnya. Matanya besar dan mencuat keluar dari kepalanya. Kalau berenang, matanya biasa berada di atas air. Sirip dadanya paa bagian pangkal berotot, dan sirip ini bisa diteguk hingga berfungsi seperti lengan yang dapat digunakan untuk merangkak atau melompat di atas lumpur. Ikan gelodok biasanya ditemukan di muara-muara sungai yang banyak pohon bakaunya. Bila air surut ikan gelodok banyak terlihat keluar dari air, merangkak atauu melompat-lompat di atas lumpur. Dan jika air pasang ia masuk ke dalam hutan bakau, baru turun kembali ke lumpur-lumpur pantai bila air telah surut atau ia bersembunyi dalam lubang-lubang sarangnya. Toleransinya sangat besar terhadap perubahan salinitas. Sirip dada dan ekornya di gunakan sebagai alat gerak di darat. Sirip perutnya yang menyatu berfungsi sebagai alat pengisap untuk berpegang. Pernapasan pada ikan gelodok adalah dengan insang tetapi telah disesuaikan untuk bisa digunakan di darat. Ini dilakukan dengan memerangkap air di rongga insang
  22. 22. dengan cara menutup rapat mulut dan tutup insang. Ia bisa berada lama di darat selama air di bawahnya masih mengandung oksigen. Kalau oksigennya habis ia harus segera mencari air segar lagi dan proses yang sama terulang lagi. Selain dengan insang, ikan gelodok juga mempunyai kulit yang banyak sekali saluran- saluran darahnya hingga diduga pengambilan oksigen lewat kulit bisa pula terjadi. Dalam keadaan terpaksa gelodok mampu berada di luar air sampai beberaa jam. Jika merasa terancam bahaya, gelodok umumnya segera menceburkan diri ke dalam lair atau bersembunyi ke dalam lubang sarangnya. Makanan ikan gelodok terdiri dari berbagai ragam hewan, baik yang hidup di darat maupun di air. Meskipun ia tergolong karnivora tetapi dalam isi perutnya kadang-kadang terdapat juga potongan-potongan daun. 2. Kepiting Klasifikasi Kepiting : Phylum : Arthropoda Sub Phylum : Crustacea Class : Malacostaca Ordo : Decapoda Famili : Callinidae Genus : Parathelpusa Species : Parathelpusa sp Kepiting, selain untuk menjadi bahan makanan secara ekologis kepiting juga berfungsi untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan memainkan peranan penting di daerah mangrove. Daun yang dimangsa kepiting dan dikeluarkan dalam bentuk faeces terbukti lebih cepat terurai dibandingkan dengan daun yang tidak dimangsa. Hal ini menyebabkan proses perputaran energi berjalan cepat di mangrove. Selain itu, keberadaan lubang-lubang kepiting, secara tidak langsung mampu mengurangi kadar racun tanah mangrove yang terkenal anoksik. Lubang- lubang ini membantu terjadinya proses pertukaran udara di tanah mangrove. Kepiting bakau (Scylla sp) merupakan-satu-satunya spesies dari famili Portunidea yang memiliki assosiasi yang dekat dengan lingkungan mangrove/hutan bakau, sehingga dikenal dengan nama kepiting bakau atau mud crab.
  23. 23. 3. Burung Prenjak Klasifikasi Burung Prenjak : Kerajaan :Animalia Filum :Chordata Kelas :Aves Ordo :Passeriformes Suku :Cisticolidae Sylviidae Burung ini umumnya berukuran kecil, ramping dan berekor panjang. Panjang tubuh, diukur dari ujung paruh hingga ujung ekor, kebanyakan antara 10-15 cm; meski ada pula yang lebih dari 25 cm. Kebanyakan berwarna kekuningan, hijau zaitun, atau kecoklatan di punggung, dengan warna keputihan atau kekuningan di perut. Bersuara nyaring dan resik, perenjak seringkali berbunyi tiba-tiba dan berisik. Beberapa jenis berbunyi keras untuk menandai kehadirannya, sambil bertengger pada ujung tonggak, ujung ranting, tiang, kawat listrik atau tempat-tempat menonjol lainnya. Kebiasaan Burung perenjak menyukai tempat-tempat terbuka, seperti wilayah semak belukar, padang ilalang, kebun, pekarangan, tepi sawah dan rawa, tepi hutan dan termasuk hutan bakau. Mencari makanannya yang berupa ulat, belalang, capung dan aneka serangga kecil lainnya, yang tersembunyi di antara dedaunan dan ranting semak atau pohon. Perenjak sering dijumpai berpasangan, atau dengan anak-anaknya yang beranjak dewasa. 4. Blekok Sawah Klasifikasi Ilmiah Blekok Sawah: Kingdo :Animalia Phylum :Chordata Kelas :Aves Ordo :Ciconiiformes
  24. 24. Famili :Ardeidae Genus :Ardeola Species : Ardeola speciosa Tubuh Blekok sawah berukuran kecil (45 cm), bersayap putih, cokelat bercoret-coret. Pada waktu berbiak: kepala dan dada kuning tua, punggung nyaris hitam, tubuh bagian atas lainnya cokelat becoret-coret, tubuh bagian bawah putih, ketika terbang sayap terlihat sangat kontras dengan punggung yang gelap / hitam. Tak berbiak dan remaja: Coklat bercoret-coret iris kuning, paruh kuning, ujung paruh hitam, kaki hijau buram. Biasanya Burung Blekok sawah hidup sendirian atau dalam kelompok tersebar, berdiri diam-diam dengan tubuh pada posisi rendah dan kepala ditarik kembali sambil menunggu mangsa. Selain hewan yang kami sebutkan di atas,di Hutan Payau Tritih juga dapat dijumpai berbagai macam jenis ikan,seperti blanak dan ikan tengggaleng.Berbagai jenis burung,kami sempat melihat burung camar di tepi muara,dan menurut penjelasan dari pengelola hutan payau,di sana juga banyak terdapat jenis burung yang lain,seperti burung raja udang dan kuntul putih besar. Jenis hewan lain yang kami temui di sana adalah kadal,semut dan keong. C. Kerusakan Hutan Payau Tritih Saat kami mulai memasuki kawasan Hutan Wisata Payau Tritih Cilacap,kami begitu tercengang,karena lokasi tersebut begitu lenggang dan tidak terasa sebagai hutan wisata payau,bahkan terpampang tulisan “Sedang Dalam Perbaikan”.Begitulah,karena Hutan Wisata Payau Tritih saat ini rusak berat,namun sayang tulisan yang terpampang tidak benar adanya,karena Hutan Payau Tritih masih terbengkalai dan tidak terlihat adanya suatu perbaikan sedikitpun. Kerusakan itu di antaranya beberapa bagian bangunan pintu air dan saluran sudah ambrol.Sebagian pohon bakau sudah rusak akibat penebangan liar. Selain itu, jalan setapak untuk jalan wisatawan yang ingin mengelilingi hutan tersebut sudah banyak yang ambles, pecah-pecah, serta hancur. Shelter peristirahatan serta dermaga perahu pesiar untuk wisatawan yang
  25. 25. ingin mengunjungi Kali Donan sudah hancur. Tinggal puing-puing dan tiang-tiang beton yang tersisa. Walaupun objek wisata hutan bakau itu dalam keadaan rusak berat, tetap terbuka untuk wisatawan, ilmuwan dan mahasiswa yang akan melakukan penelitian di sana.Ya memang Hutan Wisata Payau Tritih ini sudah tidak lagi diminati pengunjung,pengunjung yang datang hanyalah para mahasiswa yang hendak mengadakan penelitian atau observasi seperti kami.Sungguh keadaan yang sangat memprihatinkan dan sangat miris,sebuah obyek wisata yang sebenarnya sangat potensial dan memiliki banyak manfaat justru kini rusak berat dan terbengkalai begitu saja.
  26. 26. BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran
  27. 27. DAFTAR PUSTAKA − http://anekaplanta.wordpress.com/2009/01/27/peranan-dan-fungsi-hutan- bakau-mangrove-dalam-ekosistem-pesisir/ − http://www.imred.org/?q=content/ekosistem-mangrove-di-indonesia − http://rudyct.com/PPS702-ipb/04212/zeinyta_a_h.htm − http://id.wikipedia.org/wiki/Bakau − http://id.wikipedia.org/wiki/Bogem − http://www.slideshare.net/NURRIJAL/kepiting-bakau − http://id.wikipedia.org/wiki/Hutan_bakau − http://joefie.wordpress.com/2010/06/25/burung-prenjak/ − http://groups.yahoo.com/group/berita-lingkungan/message/4585 − http://www.suarapembaruan.com/News/2002/07/29/Nusantar/nusa15.htm Diakses pada tanggal 20 April 2011

×