• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Prosiding seminar nasional nasional jptm uny th.2012
 

Prosiding seminar nasional nasional jptm uny th.2012

on

  • 415 views

 

Statistics

Views

Total Views
415
Views on SlideShare
415
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
5
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Prosiding seminar nasional nasional jptm uny th.2012 Prosiding seminar nasional nasional jptm uny th.2012 Presentation Transcript

    • ISSN : 2086-8987 Seminar Nasional “Optimalisasi Pendidikan Teknik dan Kejuruan menuju Kemandirian Teknologi dan Generasi Bermartabat” Volume II, Th 2012 PROSIDING NF AKULT A SEMINAR NASIONAL SI S E TE H IM A M K N IK Pendidikan Teknik Mesin “Optimalisasi Pendidikan Teknik dan Kejuruan Menuju Kemandirian Teknologi dan Generasi Bermartabat” Yogyakarta, 2 Juni 2012 ISSN : 2086-8987No. ISSN : 2086-8987 Jurusan Pendidikan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu, 2 Juni 2012 SUSUNAN PANITIA SEMINAR NASIONAL Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT – UNY, Sabtu, 2 Juni 2012 “Optimalisasi Pendidikan Teknik dan Kejuruan Menuju Kemandirian Teknologi dan Generasi Bermartabat” Penanggung Jawab: Ketua Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY Dr. Wagiran Ketua Panitia: Drs. Putut Hargiyarto, M.Pd. Ketua Dewan Penyunting: Dr. Mujiyono Dewan Penyunting: Drs. Riswan Dwi Jatmiko, M.Pd. Drs B Sentot Wijanarka, MT Arianto Leman S, MT Drs. Edy Purnomo, M.Pd. DITERBITKAN OLEH: JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA ii
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu, 2 Juni 2012 PENGANTAR Alhamdulillahirabbil’alamin, puji syukur kita panjatkan ke hadirat AllahSWT, Tuhan yang Maha Kuasa yang telah memberikan rahmatnya sehinggapenyelenggaraan Seminar Nasional Pendidikan Teknik Mesin dapat dilaksanakandengan baik. Penguasaan teknologi merupakan faktor penting bagi kelangsungan hidupsuatu bangsa. Suatu bangsa mampu mendayagunakan kekayaan alam ciptaanTuhan yang Maha Esa untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidupnya.Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan kerjasama antar elemen bangsa, salahsatunya berupa kemitraan antar institusi pendidikan maupun dengan industri.Tindakannya berupa berbagai upaya dan optimalisasi atas beraneka sumber dayademi penguasaan dan pemanfaatan teknologi secara mandiri dan mampumenanamkan nilai-nilai yang mengarahkan terciptanya generasi bangsa yangbermartabat terkait penerapan teknologi. Hal inilah yang akan dibahas dalamseminar yang bertema optimalisasi pendidikan teknik dan kejuruan menujukemandirian teknologi dan generasi bermartabat. Adapun tujuan seminar adalah: (1) menghimpun berbagai ide inovatif untukoptimalisasi pendidikan teknik dan kejuruan menuju kemandirian teknologi bangsa;(2) menghimpun berbagai ide inovatif untuk aplikasi teknologi dan kebijakannyamenuju generasi bangsa bermartabat; dan (3) membangkitkan semangatkebangsaan dalam membangun generasi bangsa bermartabat melalui pencerahanterhadap pemahaman pentingnya kemandirian teknologi bangsa. Pada kesempatan ini Panitia mengucapkan banyak terima kasih kepadaDekan Fakultas Teknik UNY yang telah memberikan motivasi, dorongan danfasilitasi sehingga seminar nasional ini dapat terlaksana. Panitia juga sangatberterima kasih kepada para nara sumber : Bapak Ir. Anang Tjahjana, MT DirekturPembinaan SMK Kemdikbud, Bapak Prof. Slamet PH, M.Ed., MA, MLHR, Ph.D,Bapak Ir. Tumiran, M. Eng., Ph.D dari Dewan Energi Nasional serta Bapak AgungPrabowo, ST dari Dharma group Jakarta, yang telah meluangkan waktu di selakesibukan untuk membagi ilmu dan memberikan pencerahan bagi para pesertaseminar nasonal. Selanjutnya diucapkan terima kasih pula kepada parapemakalah yang telah berbagi ilmu untuk mempertajam pembahasan temaseminar nasional ini. Kepada para peserta seminar dan semua pihak yang terlibatdan memberi kontribusi pada seminar nasional ini, kami juga menghaurkanbanyak terima kasih. Panitia menyadari bahwa pelaksanaan seminar nasional ini jauh darisempurna, terdapat berbagai kekurangan dan kelemahan, oleh karena itu denganrendah hati kami mohon maaf atas semua kekurangan itu. Pengalaman inisungguh menjadi catatan penting kami untuk perbaikan di masa yang akandatang. Akhirnya kami ucapkan selamat berseminar, semoga membawa kebaikandan bermanfaat bagi semua pihak. Yogyakarta, 2 Juni 2012 Ketua Panitia, Drs. Putut Hargiyarto, M.Pd. iii
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu, 2 Juni 2012 SAMBUTAN KETUA JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN FT UNYAssalamualaikum Wr., Wb. Pendidikan Teknik dan Kejuruan sebagai bagian dari Sistem PendidikanNasional memiliki peran strategis dalam upaya meningkatkan kualitas sumberdayamanusia, daya saing, daya tahan dan kejayaan bangsa. Oleh karenanyaeksistensi dan peran pendidikan teknik dan kejuruan perlu terus dimatapkan dandioptimalkan dengan berbagai upaya. Hal ini selaras dengan tantangan ke depanyanng makin berat dalam era economy based knowledge. Seminar Nasional Pendidikan Teknik Mesin Tahun 2012 ini mengambiltema “Optimalisasi Pendidikan Teknik dan Kejuruan menuju KemandirianTeknologi dan Generasi Bermartabat”. Tema ini dirasa urgen paling tidak dilandasidua alasan. Pertama, kemandirian teknologi merupakan gerakan yang perlu terusdikobarkan seiring dengan ancaman kedaulatan energi nasional. Dalam kerangkatersebut lembaga pendidikan teknik dan kejuruan sebagai garda terdepan dalampengembangan teknologi nasional dituntut mampu menyediakan berbagaialternatif solusi dalam mengatasi ancaman krisis dan kedaulatan energi tersebut.Kedua, esensi dasar pendidikan adalah proses memanusiakan manusia(humanisasi) sebagaimana tercermin dalam Undang-undang nomor 20 Tahun2003 tentang Sisitem Pendidikan Nasional. Menjadi tantangan bagi pendidikanteknik dan kejuruan untuk menghasilkan lulusan yang siap kerja dan memilikikompetensi komprehensif baik dari aspek pengetahuan, ketrampilan, maupunkepribadian. Seminar ini merupakan ajang komunikasi dan tukar gagasan darikalangan akademisi maupun praktisi sehingga dihasilkan rumusan konseptualmaupun aplikatif dalam upaya membangun kemandirian energi dan generasibermartabat. Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada yang terhormat RektorUniversitas Negeri Yogyakarta berikut jajarannya serta Dekan Fakultas Teknikberikut jajarannya yang telah memberikan ijin dan fasilitasi sehingga seminar inidapat terselenggara. Penghargaan yang tinggi kami sampaikan kepada yangterhormat, Bapak Ir. Anang Tjahyono, MT (Direktur Pembinaan SMK); Prof. SlametPH, M.A., M.Ed., M.A., MLHR, Ph.D.(Guru Besar UNY); Ir. Tumiran, M.Eng, Ph.D.(Dewan Energi Nasional), dan Bapak Agung Prabowo, ST (PT. Dharma Group),yang telah berkenan menjadi narasumber dalam seminar ini. Terimakasih jugakami ucapkan kepada segenap tamu undangan, peserta maupun panitia yangtelah bekerja keras demi terselenggaranya seminar ini. Selamat berseminar, mudah-mudahan iktiar kita mendapatkan petunjuk,rahmat, dan hidayah serta pahala yang berlipat dari Allah, Swt. Amiin. Wassalamualaikum, Wr., Wb. Ketua Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY iv
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu, 2 Juni 2012 Dr. Wagiran DAFTAR ISI halamanHalaman Judul iSusunan Panitia iiPENGANTAR iiiSAMBUTAN KETUA JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIKMESIN FT UNY ivDAFTAR ISI vi No Makalah 1 PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN 1 KEJURUAN DENGAN MODEL SISTEMIK Oleh: Bayu Hikmat Purwana 2 INTERNALISASI VISI UNY TERHADAP 12 PEMBENTUKAN KARAKTER MAHASISWA FAKULTAS TEKNIK Oleh: Agus Partawibawa1), Syukri Fathudin AW2) 3 PENINGKATAN PENGUASAAN PENGETAHUAN 27 PROSEDURAL SISWA SMK MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DIRECT INSTRUCTION. Asep Hadian Sasmita 4 VIRTUAL REALITY SEBAGAI MEDIA 38 PEMBELAJARAN DAN PELATIHAN PEMROGRAMAN CNC Oleh: Bambang Setiyo Hari Purwoko Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY 5 PENERAPAN TOTAL QUALITY MANAGEMENT IN 49 EDUCATION (TQME) PADA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN Suatu Upaya Untuk Memenuhi Kebutuhan Sistem Industri Moderen Oleh: Dwi Rahdiyanta Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY 6 IMPLEMENTASI PROBLEM BASED LEARNING 57 (PBL) BERBANTUAN MODUL DALAM UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS PERKULIAHAN METROLOGI Oleh : Drs. Edy Purnomo, M.Pd. Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY 7 MODEL PENDIDIKAN BERBASIS KOMPETENSI 68 BIDANG KEJURUAN Oleh: Pardjono Pendidikan Teknik Mesin FT-UNY 8 PENERAPAN METODE TUTORIAL UNTUK 85 MENINGKATKAN KOMPETENSI TEORI PEMESINAN SEBAGAI PENUNJANG PELAKSANAAN PRAKTIK PEMESINAN v
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu, 2 Juni 2012 Paryanto Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY 9 PENGEMBANGAN MODUL UNTUK 96 MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MAHASISWA PADA MATA KULIAH TEORI PENGELASAN DI JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN FT UNY Riswan Dwi Djatmiko Jurusan Pendidikan Teknik Mesin 10 STUDENT CENTERED LEARNING PADA 101 PEMBELAJARAN TEKNIK PEMESINAN CNC Oleh: Bernardus Sentot Wijanarka Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta 11 PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS 115 DALAM BAHASA INGGRIS MELALUI PEMBELAJARAN DENGAN METODE PENILAIAN PORTOFOLIO Oleh: Sudiyatno Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY 12 REKONSTRUKSI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN 129 AGAMA ISLAM (Kajian Evaluasi Pembelajaran di Fakultas Teknik UNY) Oleh: Syukri Fathudin Achmad Widodo Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY 13 PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN 137 BAHAN TEKNIK BERBASIS PROGRAM FLASH Oleh : Tiwan Jurusan Pendidikan Teknik Mesin Fakultas Teknik UNY 14 REKONSTRUKSI PENDIDIKAN VOKASIONAL DI 160 INDONESIA: Sebuah Pemikiran Tentang SMK Oleh: Agus Budiman Pendidikan Teknik Otomotif FT UNY 15 ANALISIS IMPLEMENTASI MODEL 161 PEMBELAJARAN MULTIMEDIA BERBASIS WEB TEHADAP MOTIVASI BELAJAR Oleh: Erni Munastiwi Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) D.I. Yogyakarta 16 Revitalisasi Sertifikasi Guru Model Penilaian Kinerja 178 Guru Oleh: Badrun Kartowagiran JurusanPendidikanTeknikMesin 17 KERJASAMA KEMITRAAN SEBAGAI UPAYA 190 MENINGKATKAN RELEVANSI LULUSAN PENDIDIKAN KEJURUAN Oleh: Suhartanta Jurusan Pendidikan Teknik Otomotif FT UNY vi
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu, 2 Juni 2012 18 PENERAPAN TEACHING FACTORY UNTUK 197 PENGEMBANGAN DESAIN PRODUK KREATIF DI DIKNIK MESIN UNY Yatin Ngadiyono Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY 19 PENGEMBANGAN POLA KEMITRAAN SMK – 203 DUNIA INDUSTRI DALAM MENINGKATKAN MUTU SMK Zainal Arifin FT Universitas Negeri Yogyakarta (turangga81@yahoo.com) 20 PENGEMBANGAN CETAKAN COR UNTUK 213 MENDUKUNG LABORATORIUM PENGECORAN MINI DI JURUSAN MESIN FT UNY Heri Wibowo, Arianto Leman S., dan Mujiyono Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY 21 RANCANG BANGUN JEMURAN PAKAIAN 223 OTOMATIS BERBASIS MIKROKONTROLLER IC H BRIDE DENGAN PELINDUNG ANTI HUJAN Nurul Husnah Mustika Sari1), Awalia Nur Azizah2), Nidya Ferry Wulandari1), Krisna Dwi Nur Cahyo3), Ficky Fristiar4), 1) Jurusan Pendidikan Matematika, Universitas Negeri Yogyakarta 2) Jurusan Pendidikan Fisika, Universitas Negeri Yogyakarta 3) Jurusan Teknik Elektro, Universitas Negeri Yogyakarta 4) Jurusan Pendidikan Teknik Mesin, Universitas Negeri Yogyakarta TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK BUDIDAYA IKAN AIR TAWAR R Edy Purwanto, Eka Mandayatma, Maftuch Jurusan Teknik Mesin - Politeknik Negeri Malang 22 SHUTTLECOCK LAUNCHER WITH AUTOMATIC 234 MULTY MODE SHOOTER UNTUK MEDIA LATIHAN MANDIRI ATLET BULUTANGKIS Ficky Fristiar1), Hamid Abdilah2), Agus Irawan3), dan Rizam Yudinar 4) 1) Program Studi Pendidikan Teknik Mesin, Fakultas Teknik 2) Program Studi Pendidikan Teknik Mesin, Fakultas Teknik 2) Program Studi Pendidikan Teknik Mesin, Fakultas Teknik 3) Program Studi Pendidikan Teknik Elektronika, Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta vii
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu, 2 Juni 2012 23 OVEN PENGERING KAYU UNTUK PRODUK 241 MAINAN KAYU EKSPOR Slamet Karyono1), Darmono2), M. Lies Endarwati3) 1) Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY 2) JurusanPendidikanTeknik Sipildan Perencanaan FT UNY 3) FakultasEkonomi UNY 24 PEMANFAATAN ALAT PENGERING UNTUK 248 MEMBANTU INDUSTRI PEMBUAT KERTAS SOUVENIR KULIT POHON PISANG Sugiyanto*, Suhartoyo** *Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Surakarta **Jurusan Teknik Mesin Akademi Teknologi Warga Surakarta 25 PORTABLE PROTOTYPE ALAT PEMOTONG 253 KENTANG OTOMATIS DENGAN MEKANISME CRANK-SLIDER DAN FLEXIBLE CUTTER Syafiq1), Hamid Abdilah1), dan Riza Stiyarini2) 1) Program Studi Pendidikan Teknik Mesin, Universitas Negeri Yogyakarta 2) Program Studi Manajemen Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. 26 REKAYASA MESIN PENCACAH LIMBAH BOTOL 260 PLASTIK UNTUK KALANGAN PENGEPUL SAMPAH DI SURAKARTA Wijoyo, Sugiyanto dan Achmad Nurhidayat Teknik Mesin Universitas Surakarta 27 EFEK TEKANAN AWAL DRIVER SECTION 266 CAMPURAN BAHAN BAKARLIQUIFIED PETROLEUM GAS DAN OKSIGEN TERHADAPKARAKTERISTIK GELOMBANG DETONASI PADA KONDISI INISIASI LANGSUNG Jayan Sentanuhady dan Eswanto Jurusan Teknik Mesin dan Industri, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada 28 PENINGKATAN SIFAT MEKANIK DAN KETAHANAN 276 KOROSI MATERIAL AISI 316L PADA APLIKASI IMPLAN PLAT PENYAMBUNG TULANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE HEAT TREATMENT DAN SMAT (SURFACE MECHANICAL ATRITION TREATMENT) MirzaPramudia FakultasTeknik, UniversitasTrunojoyo, Madura viii
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu, 2 Juni 2012 29 PERFORMA ELEKTRODA LAS BOHLER SSMO2 284 UNTUK PERBAIKAN PISAU POTONG PADA GUNTING PLAT Oleh: Soeprapto Rachmad Said Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY 30 Pengaruh Preheat Dan Static – Transient Thermal 293 Tensioning Terhadap Laju Perambatan Retak Fatik Pada Sambungan Las TIG Al 6061-T6 Yunaidi*, Mochammad Noer Ilman** *Program Studi Teknik Mesin Politeknik LPP, Yogyakarta, Indonesia **Jurusan Teknik Mesin dan Industri FT UGM 31 BIOKOMPOSIT DARI MATRIKS ALAM SEKRESI 303 KUTU LAK YANG DIPERKUAT BAMBU APUS: KEKUATAN TARIK DAN KOMPATIBLITAS 1) 2) Mujiyono , Prof. Ir. Jamasri, Ph.D , 2) Ir. Heru Santoso B.R., M.Eng., Ph.D , Ir. Gentur Sutapa, 3) M.Sc, Ph.D 1) Jurusan Pendidikan Teknik Mesin Fakultas Teknik UNY 2) Jurusan Teknik Mesin da Industri, Fakultas Teknik UGM 3) Jurusan Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan UGM 32 APRESIASI DAN PERILAKU KERJA LULUSAN SMK 313 Oleh: Putu Sudira Dosen Pendidikan Teknik ELektronika FT UNY 33 STRATEGI MUATAN KARAKTER DALAM 322 PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) PADA PENDIDIKAN KEJURUAN Oleh: Putut Hargiyarto, M.Pd. Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY 34 MODEL INOVASI BLOG SEBAGAI MEDIA 328 PEMBELAJARAN Oleh: Wahidin Abbas Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY 35 PENYIAPAN GURU DAN CALON GURU, 342 SERTIFIKASI DAN PENDIDIKAN PROFESI GURU Sukamto Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY 36 PEMANFAATAN UMPAN BALIK UNTUK 350 PENINGKATAN HASIL BELAJAR DALAM PENDIDIKAN KEJURUAN Sri Wening Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta 37 PERAN BIMBINGAN KEJURUANDALAM 359 MEMBENTUK KARAKTER KERJA SISWA SMK JURUSAN MESIN Oleh: Th. Sukardi Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY ix
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu, 2 Juni 2012 39 STUDI COMPUTATIONAL FLUID DYNAMICS (CFD) 372 PENGARUH ALIRAN AKSIAL PADA ENERGI GESEKAN TORSI ALIRAN TAYLORCOUETTE Budi Nugraha*, Sutrisno,** dan Prajitno** *Mahasiswa S-2 Jurusan Teknik Mesin dan Industri Universitas Gadjah Mada **Staff Pengajar Jurusan Teknik Mesin dan Industri Universitas Gadjah Mada 40 THE INFLUENCE OF VISCOSITY TO LIQUID-GAS 375 TROUGHT VERTICAL PIPE FLUID FLOW Khairul Muhajir. Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta 41 KOMPETENSI PENGEMBANGAN KURIKULUM 389 UNTUK GURU SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) Faham Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY 42 PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL “FACEBOOK” 397 SEBAGAI SARANA UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENGAJAR BAGI CALON GURU KEJURUAN Apri Nuryanto Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY 43 GURU DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN 407 KARAKTER DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN Arif Marwanto Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY 44 IMPLEMENTASI SIMULASI KECEPATAN 415 PENGELASAN PADA PEMBELAJARAN PRAKTEK OKSI-ASITILIN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MAHASISWA Setya Hadi Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY 44 UPAYA DOSEN DALAM OPTIMALISASI 424 PEMBELAJARAN DITINJAU DARI HETEROGENITAS KARAKTERISTIK MAHASISWA Wagiran Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY 45 OPTIMALISASI PEMBELAJARAN DAN PENILAIAN 435 PADA PENDIDIKAN VOKASI UNTUK MENYIAPKAN TENAGA KERJA YANG BERKARAKTER Widarto Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY x
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu, 2 Juni 2012 46 PENDEKATAN TEACHING FACTORY PADA 447 PEMBELAJARAN DI LEMBAGA PENDIDIKAN VOKASI Oleh: M. Bruri Triyono Fakultas Teknik dan Pascasarjana UNY xi
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN KEJURUAN DENGAN MODEL SISTEMIK Oleh: Bayu Hikmat Purwana Perencana Kurikulum Akademik Lembaga Administrasi Negara Pengelola Kelas Kerjasama STIA-LAN Jakarta Abstrak Makalah ini secara khusus mengkaji permasalahan pokok bagaimana menghasilkan kurikulum pendidikan kejuruan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Pengembangan desain kurikulum menggunakan frame work sistemik,comprehensive, intercorrelation, observable dan measureable.Kurikulum Pendidikan Kejuruan di spesifikan padak urikulum SMK program produktif Kompetensi Keahlian Teknik Kendaraan Ringan dengan menerapkan model kurikulum sistemik dari Romiszowski melalui 14 langkah penyusunan kurikulum.Hasil kajian menggambarkan sosok desain kurikulum yang mengedepankan logika menstrukturkan peta kompetensi padastruktur pekerjaan.Struktur isi kurikulum dikelompokkan pada jenis pekerjaan melalui penawaran paket-paket pembelajaran, sehingga pada pengembangannya dapat melayani warga masyarakat yang berminat mempelajari materi Kompetensi Keahlian Teknik Kendaraan Ringan secara parsial (non-reguler). Keunggulan desain kurikulum yang dihasilkan terletak pada proses pengembangannya yang dilakukan secara logik dan komprehensif, kompetensi disusun berdasarkan jenis pekerjaan, sedangkan keterbatasannya disebabkan faktor adalah adanya kesulitan untuk melibatkan DU/DI karena jadwal kerja yang padat, tim pengembang kurikulum di sekolah yang kurang menguasai materi, bersifat pasif, dan membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang besar. Kata Kunci :Kurikulum SMK Program Produktif, KurikulumSistemik Pendahuluan memiliki pengalaman industri, (4) Upaya untuk menghasilkan lemahnya sumber daya fisik seperti; lulusan pendidikan kejuruan dalam hal mesin, alat dan bahan, serta ini SMK yang sesuai dengan tuntutan kekurangan dana operasional buat dunia kerja, perlu didukung dengan penyelenggaraan praktik yang efektif, kurikulum yang dirancang dan dan (5) masih lemahnya hubungan dikembangkan dengan memperhatikan sinergis antara pendidikan kejuruan kebutuhan dunia kerja. Banyaknya dengan dunia kerja. Permasalahan ini kritikan terhadap mutu lulusan SMK juga ditemukan oleh Djohar A. (2003) menandakan strategisnya posisi bahwa “peta kompetensi SMK tidak kurikulum agar relevan dengan dunia luwes terhadap perubahan, memiliki kerja, disebabkan, kondisi tersebut keterampilan tunggal yang cepat dituliskan Soemardi (1991), Harjoko usang, dan tidak mampu (1994), dan Karl Frey (1992) dalam mengembangkan dirinya”. Dalam Bukit (1997:6-9), menyatakan bahwa rangka mengantisipasi masalah saat ini: (1). tamatan SMK kurang tersebut maka perlu dikembangkan menguasai pekerjaan praktik lapangan, program diklat yang cocok diterapkan di (2). sikap sebagai teknisi perlu SMK untuk meningkatkan pencapaian dikembangkan meliputi disiplin, ketuntasan kompetensi kejuruan yang ketekunan, kesungguhan, dan relevan dengan tuntutan kecermatan, (3) kurangnya guru yang pembangunan, masyarakat, dan DU/DI. 1
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Kurikulum SMK memuat tiga tanpa analisis, oleh karena itu bagian kurikulum yaitu kurikulum kerjasama sinergis antara SMK dengan program normatif, adaptif, dan industri penting dilakukan untuk produktif. Hubungan ketiga bagian sinkronisasi kompetensi dan ruang tersebut, dapat digambarkan bahwa, lingkup materi yang perlu dimiliki oleh Inti (core) struktur kurikulum SMK lulusan yang akan memasuki dunia terletak pada program produktif, kerja. kemudian program adaptif dan normatif Berdasarkan fenomena di atas, mengitari di sekeliling core untuk penulis merumuskan permasalahan memberikan dukungan dan berkenaan dengan ”desain kurikulum penyesuaian. yang bagaimana yang cocok Isi kurikulum perlu dirancang diterapkan di SMK program produktif dengan tujuan memberikan yang sesuai dengan tuntutan dunia pengalaman belajar kepada siswa kerja?”, sehingga penyelenggaraan untuk dapat mengembangkan seluruh pendidikan program produktif memiliki potensinya secara tuntas melalui tingkat relevansi yang lebih tinggi proses pembelajaran yang efektif, dengan kebutuhan dunia kerja. Secara efisien, dan menarik. Hadiwaratama lebih rinci, pertanyaan yang dikaji (1981:9) menyatakan bahwa: “Tingkat adalah sebagai berikut: pendidikan formal siswa, akan 1. Desain kurikulum program memberikan dasar kemampuan produktif kompetensi keahlian teknik menguasai suatu bidang pekerjaan, kendaraan ringan seperti apakah yang maka jenjang pendidikan relevan dengan tuntutan dunia kerja?. mencerminkan batas kualifikasi 2. Apa faktor yang menjadi seseorang untuk menduduki suatu pendukung dan penghambat dari jenjang pekerjaan”. Jabatan sebagai desain kurikulum yang dikembangkan?. juruteknik/mekanik yang akan Pengembangan kurikulum disandang oleh lulusan perlu merupakan langkah dalam dipersiapkan oleh SMK. mengimbangi berkembangnya ilmu Fakta lain menggambarkan pengetahuan, teknologi, seni,psikologi, bahwa kurikulum disusun(KTSP) sosial politik, ekonomi, dan lain menggunakan acuan dari kurikulum sebagainya. Sehingga pada akhirnya SMK tahun-tahun sebelumnya., dan dapat memberikan gambaran ada juga yang menggunakan acuan mengenai arah dan tujuan dari produk dari kurikulum diklat lembaga training kurikulum yang ada dan akan industri di bawah bimbingan dinas diimplementasikan oleh implementator pendidikan melalui kerja pengawas kurikulum. Hal SMK. Belum optimalnya jalinan inisejalandenganpernyataanOliva kerjasama sinergis dengan DU/DI, (1992:12), bahwa “Curriculum is a terdapat kondisi dimana SI program product of its time, cure and respond to adaptif dan normatif telah distandarkan changed by social forces, philosophy oleh BSNP sedangkan SI kurikulum position, psychology principles, program produktif belum disusun dalam educational leadership at a moment in kebijakan BSNP, sehingga dampaknya history”. Daeng Sudirwo (2002;5), tidak menutup kemungkinan terjadinya bahwa “kurikulum SMK haruslah dapat sistem duplikasi dokumen kurikulum mengantisipasi kebutuhan tenaga kerja, 2
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 sehingga lulusannya memiliki disajikan diantaranya adalah model kemampuan sesuai dengan kebutuhan Desain Sistem Pelatihan Berbasis dunia kerja”. Kompetensi Blank, dan Model Berkaitandenganpernyataanterse Sistematik Romiszowski. but, mengandung makna bahwa Model pengembangan desain kurikulum itu akan dan harusberubah sistem pelatihan berbasis kompetensi (adanya pengembangan) sejalan dari Blank (1982:11), mengandung tiga dengan perubahan yang terjadi dalam unsur pokok, yaitu; pemilihan setiap bidang kehidupan. Dasar kompetensi yang sesuai, menentukan pengembangan kurikulumadalah untuk indikator-indikator evaluasi untuk mengikuti perubahan sistem sosial, menentukan keberhasilan pencapaian filosofi masyarakat, pandangan kompetensi, dan pengembangan terhadap psikologi, dan kebijakan- sistem pengajaran.Desain yang kebijakan yang terkait dengan dituliskan oleh Blank (1982:26), pendidikan, sertad alam rangka menawarkan 12 langkah menjalankan fungsinya kepada pengembangan kurikulum, yang terbagi masyarakat. kedalam dua tahapan yaitu tahap Secarakonseptualkurikulum SMK menganalisis kompetensi yang berada pada posisi model kurikulum diperlukan dalampekerjaan dan teknologis, Model Kurikulum teknologis tahapmengembangkan program atau sering juga disebut sebagai pelatihan untuk membantu pesertadidik kurikulum kompetensi, kurikulum dalam menguasai kompetensi kerja mengarahkan pada pemuatan isi sesuai dengan perangka tkompetensi sesuai dengan tuntutan kehidupan yang telah dideskripsikan. Ringkasnya (pekerjaan), isi kurikulum disesuaikan langkah yang dituliskanoleh Blank di dengan tututan pekerjaan hidup (life atasd apat disederhanakand engan: (1) skills), mata pelajaran disusun merinci secara tepat apa yang harus berdasarkan karakteristik kompetensi dipelajari siswa, (2) menyediakan yang perlu dikuasai, model pengajaran dengan kualitas yang paling pembelajaran tuntas lebih banyak baik, (3) menolong siswa untuk dapat digunakan pada model kurikulum ini, mempelajari setiap tugasnya sebelum evaluasi pembelajaran diarahkan pada melanjutkan ketugas berikutnya, dan keterampilan hidup, dan siswa kemudian (4) meminta kepada setiap dipandang sebagai calon orang peserta didik untuk mendemonstrasikan dewasa. kompetensi yang telah dicapainya. Model-model pengembangan Model sistematik Romiszowski kurikulum yang disajikan dalam tulisan menerapkan salah satu pendekatan ini, dipilih beberapa model-model yang sistem (system Approach). Pendekatan sesuai dengan topik kajian. Pemilihan sistematik dalam mengembangkan model-model pengembangan kurikulum suatu kurikulum adalah suatupen dikaitkan dengan pokok permasalahan dekatan yang menitikberatkan pada desain kurikulum program produktif di struktur dan keteraturan yang SMK khususnya pada Kompetensi direncanakan sejak awalu ntuk Keahlian Teknik Kendaraan Ringan menghasilkan hal-hal yang spesifik. yang bagaimana yang sesuai dengan MenurutHamalikOemar (2000:68-70), kebutuhan dunia kerja. Model yang “model sistematik ini dapatd igunakan 3
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 untuk mengembangkan program mencapai kompetensi-kompetensi pendidikan kurikulum, desain tersebut dengan menunjukkan pembelajaran, dan desain program performance, menentukan sumber pelatihan”.Pengembangan kurikulum belajar dan membuat instrumen dalam tulisan ini berdasarkan pada 14 evaluasi. Materi atau bahan belajar langkah pengembangan kurikulum J. yang dibutuhkan tidak ditafsirkan Romiszowski sebagaib erikut: deskripsi sebagai mata pelajaran, tetapi mata tugas, analisis tugas, menetapkan pelajaran merupakan label dari kemampuan, spesifikasi kemampuan, kumpulan materi atau bahan yang kebutuhan pendidikan dan latihan, dibutuhkan untuk membantu mencapai perumusan tujuan kompetensi/ kompetensi yang diharapkan. kemampuan, kriteria keberhasilan, Pengembangan desain kurikulum organisasi dan isi, pemilihan strategi SMK ditempuh dengan melakukan pengajaran, uji coba program, evaluasi, langkah mengidentifikasi SKL yang implementasi program, monitoring, dan telah ditetapkan oleh BSNP, kemudian perbaikan dan penyesuaian (feedback). mengidentifikasi standar kompetensi Kurikulum SMK berpusat pada dan kompetensi dasar dengan subject, yaitu berupa mata pelajaran mengacu pada standar isi yang telah yang terpisah pisah, yang secara logis ditetapkan oleh BSNP, kemudian guru materi yang diberikan adalah mata dan pihak-pihak terkait merumuskan pelajaran yang dianggap penting dapat indikator pancapaian standar mengembangkan kemampuan kompetensi dan kompetensi dasar, matematika, fisika, bahasa, kimia menetapkan alat evaluasi (uji (adaptif) yang diajarkan dan materi kompetensi), merumuskan yang berkenaan dengan emosi, seperti materi/bahan ajar, metode, media dan seni rupa, olah raga, agama (normatif), sumber-sumber belajar yang diberikan untuk mendukung dibutuhkan. pencapaian penguasaan kompetensi Senada dengan pengembangan kejuruan (produktif). Implikasinya guru kurikulum SMK di atas. Sukmadinata hendaknya merupakan orang yang (2004:93), merumuskan menguasai suatu cabang ilmu, ahli (a langkahpenyusunan desain kurikulum master teacher) yang bertugas SMK sebagai berikut; 1). merumuskan membimbing untuk memudahkan siswa tujuan, 2). merumuskan kompetensi, 3). menyimpulkan materi. merumuskan pembelajaran dan bahan Pada kurikulum SMK terdapat pembelajaran, 4). menghitung waktu label mata pelajaran yang terkesan pembelajaran, 5). menentukan struktur terpisah-pisah, meskipun pada dan sebaran mata pelajaran. kenyataannya tidak demikian. Langkah- Untuk kebutuhan makalah langkah dalam pengembangan ini,dalam proses pengembangan kurikulum SMK yaitu diawali orientasi desain kurikulum program produktif atau fokus pada pekerjaan, kemudian pada SMK Kompetensi Keahlian Teknik dirinci kompetensi-kompetensi yang Kendaraan Ringan, mengacu pada 1). dibutuhkan untuk mengerjakan kebijakan yang ditetapkan Departemen pekerjaan tersebut, langkah selanjutnya Pendidikan Nasional, 2). prosedur adalah menentukan materi atau bahan pengembangan kurikulum yang belajar yang dibutuhkan untuk ditawarkan oleh Sukmadinata 4
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 (2004:93), dan kemudian dikemas wawancara, kuisioner, instrument tes, dengan 3). penyusunan desain danpanduanstudidokumentasi. program kurikulum sistemik dari Data dianalisis secara deskriptif Romiszowski, yang disederhanakan kualitatif dan kuantitatif.Data yang oleh Hamalik (2000:71). bersifat kualitas dianalisis secara deskriptif kualitatif.Sementara itu data MetodePenelitian yang bersifat kuantitatif dianalisis Metode yang digunakan adalah secara deskripstif kuantitatif dengan Research & Development, Borg dan perhitungan rerata dan persentase uji Gall (1979:624), ”education research statistik. and development is a process used to 1. Pengembangan Kurikulum dengan Model develop and validate education Sistemik product”. Pada penelitian dan pengembangan ini, dilakukan Desain kurikulum program penyederhanaan langkah menjadi tiga produktif SMK pada Kompetensi tahap yaitu: ”tahap studi pendahuluan, Keahlian Teknik Kendaraan Ringan pengembangan dan pengujian dan yang dikembangkan, dihasilkan melalui validasi”. Sukmadinata (2006:184) (1) analisis potensi yang ada di SMK, Validasi desain kurikulum (2) menganilisis peluang dan tantangan program produktif yang dikembangkan, yang ada pada dunia kerja, dan (3) peneliti melakukan dua langkah yaitu; menganalisis standar kompetensi validasi ahli sebelum desain kurikulum lulusan dan SKKD. Isi kurikulum tersebut diimplementasikan artinya diorganisasikan menggunakan dilakukan pada saat desain kurikulum pendekatan berbasis kompetensi. program produktif selesai disusun Pendekatan berbasis kompetensi dengan mengacu kepada data hasil dimaksudkan bahwa kurikulum harus studi pendahuluanoleh Pembimbing memuat materi pembelajaran yang Disertasi, DU/DI, Pengawas SMK, benar-benar dibutuhkan untuk Ketua Kompetensi, dan guru mata mencapai kompetensi sebagaimana pelajaran program produktif dan yang tuntutan kompetensi pekerjaan keahlian berkaitan dengan struktur isi dipersyaratkan dunia kerja. Komponen kurikulum, dan kejelasan rumusan dan tujuan dalam desain kurikulum program uraian (keterbacaan). Kedua, validasi produktif dituliskan secara sistematis dilakukan setelah menempuh tahap mulai dari tujuan umum SMK dan ujicoba (terbatas dan luas). Pada tahap tujuan khusus SMK sebagai salah satu ini dilakukan uji produk dan sosialisasi dari satuan pendidikan tingkat hasil kegiatan uji produk yaitu menguji menengah, dan lebih spesifik dituliskan ”keampuhan” produk yang dihasilkan, tujuan yang harus dicapai oleh dengan melakukan pengujian learning Kompetensi Keahlian dalam hal ini package mengacu pada desain adalah Kompetensi Keahlian Teknik kurikulum produktif yang Kendaraan Ringan. dikembangkan.Teknik dan Alat Lingkup Kompetensi Keahlian Pengumpul data. Alat/ Instrumen Teknik Kendaraan Ringan ditekankan penelitian untuk pengumpulan data pada bidang penguasaan kompetensi yang digunakan dalam penelitian iniad pekerjaan jasa perawatan dan alah panduan observasi, panduan perbaikan lingkup pekerjaan bagi 5
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 lulusan yang relevan sebagai secara keseluruhan kemudian teknisi/mekanik, pelayanan suku mempelajari bagian-bagian. Sistem cadang, operator teknisi perakitan/ evaluasi dilakukan dengan memberikan teknisi produksi. Berdasarkan lingkup penilaian terhadap aspek penguasaan kompetensi keahlian di atas, pengetahuan, sikap, dan kemampuan dirumuskan standar kompetensi lulusan praktik kerja, penilaian ditekankan (SKL) mengacu pada BSNP yang untuk mendeskripsikan hasil belajar terbagi pada SKL kompetensi umum pada aspek sikap dan kemampuan dan SKL kompetensi kejuruan. Kedua kerja siswa. SKL tersebut dijabarkan ke dalam Penjabarankurikulumsecara standar kompetensi dan kompetensi operasionaldenganmenerapkandesaink dasar yang harus dikuasai oleh lulusan urikulumsistemikdari J. Romiszowski, Kompetensi Keahlian Teknik lihatGambar 1. Kendaraan Ringan dengan mengacu Perkembangan desain kurikulum pada dokumen Spektrum Keahlian yang dihasilkan, dimana faktor Pendidikan Menengah Kejuruan Tahun pembedanya terdapat aspek tujuan 2008 yang terdiri dari 26 standar yang ditambahkan adanya penulisan kompetensi dan 96 kompetensi dasar. rumusan tujuan SMK, tujuan Struktur kurikulum program kompetensi keahlian, dan penulisan produktif dan substansi kajian standar kompetensi lulusan. Penetepan diorganisasikan dengan sistem paket- SK/KD mengacu pada spektrum paket pembelajaran yang dipelajari kompetensi keahlian. Dituliskan secara mandiri dan tuntas, melalui rumusan analisis jenis pekerjaan pengorganisasian tersebut siswa dapat berdasarkan struktur jenis pekerjaan mengambil paket pembelajaran yang yang ada di industri dalam hal ini benar-benar diminatinya secara tuntas struktur pekerjaan seorang mekanik, untuk kemudian setelah melewati berikut dengan perincian tugas-tugas mekanisme uji kompetensi siswa dapat mengacu pada tugas-tugas tuntutan bekerja sesuai dengan kompetensi pekerjaan seorang mekanik. Jenis pekerjaan yang telah dikuasainya. kompetensi yang harus dikuasai Kemudian, melalui struktur kurikulum mencakup kemampuan pengetahuan program produktif yang dikembangkan kerja, sikap kerja, dan performansi dapat melayani warga masyarakat yang pekerjaan serta dirumuskan dalam berminat mempelajari secara parsial aspek pengetahuan, sikap, dan (non-reguler) berdasarkan paket keterampilan, jumlah kompetensi yang pembelajaran yang ditawarkan di digunakan mengacu pada spektrum sekolah. kompetensi keahlian. Kompetensi dikelompokkan Desain kurikulum program dalam paket-paket pembelajaran untuk produktif pada SMK Kompetensi memfasilitasi belajar sesuai dengan Keahlian Teknik Kendaraan Ringan minat siswa dan sebagai antisipasi dihasilkan melalui serangkaian kegiatan pelaksanaan multy entry- multy exit. diskusi mendalam pada Focus Beban belajar ditetapkan berdasarkan Discussion Group (FDG). FGD sebaran kompetensi per paket beranggotakan peneliti, guru produktif, pembelajaran. Metoda pembelajaran ketua kompetensi keahlian, dan Pihak yang digunakan diawali mengenalkan DU/DI. Tugas FGD tersebut pada tahap 6
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 awal adalah untuk penyiapan dan Perkembangan sosok desain penyusunan draft, reviu dan revisi, kurikulum program produktif yang serta finalisasi draft kurikulum program dikembangkan disarikan dalam Tabel 1. produktif. DeskripsiTugas AnalisisTugas SpesifikasiKemampuan KemampuanAk (Skills, Knowledge, dan Attitudes) hir AnalisiKebutuhanDiklat MenyusunKriteria RumusanTujuanDiklat Keberhasilan Organisasi Isi danSumberBelajar Perbaikandan PenetapanStrategiPembelajara Penyesuaian n StrategiBimbingan Ujicoba Evaluasi Program Implementasi Program Monitoring Gambar 1.Diagram AlurPengembanganKurikulum Program Produktif Model Sistemik(Model Sistemik Romiszowski 1981:20) 7
    • Tabel 1 PerkembanganSosokKonstruksDesainKurikulum Program Produktif SMK KompetensiKeahlianTeknikKendaraanRingan NO ASPEK DRAFT 1 DRAFT 2 DRAFT 3/ FINAL 1 Tujuan berdasarkan struktur pekerjaan Lebih spesifik pada rumusan tujuan pada sesuai komponen tugas pekerjaan mengacu FT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 komponen tugas standar kompetensi lulusan 2 Isi (Penetepan Kurikulum SMK Tahun 2004 Kombinasi antara spektrum dan kurikulum Spektrum Kompetensi Keahlian SK/KD): SMK Tahun 2004 a Jenis Pekerjaan, Berdasarkan karakteristik mata pelajaran Berdasarkan karakteristik dan tuntutan disesuaikan struktur jenis pekerjaan yang ada program produktif kompetensi pada mata pelajaran di industri (struktur pekerjaan mekanik) b Tugas-Tugas, Mengacu pada tugas-tugas sesuai struktur Mengacu pada tugas-tugas sesuai dengan tugas-tugas dijabarkan sesuai dengan pekerjaan tuntutan struktur pekerjaan tuntutan struktur pekerjaan c Jenis Kompetensi, Mencakup kemampuan pengetahuan Mencakup kemampuan pengetahuan kerja, Mencakup kemampuan pengetahuan kerja, kerja, sikap kerja, dan performansi sikap kerja, dan performansi pekerjaan sikap kerja, dan performansi pekerjaan Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik Mesin pekerjaan d Jumlah Kompetensi Mengacu pada spektrum kompetensi Mengacu pada spektrum kompetensi keahlian Mengacu pada spektrum kompetensi keahlian keahlian8 e Rumusan Dirumuskan dalam aspek pengetahuan, Dirumuskan dalam aspek pengetahuan, sikap, Dirumuskan dalam aspek pengetahuan, sikap, Kompetensi sikap, dan keterampilan dan keterampilan dan keterampilan f Pengelompokkan Kompetensi dikelompokkan pada rumpun Kompetensi dikelompokkan disesuaikan Pengelompokkan kompetensi di masukan 15 kompetensi dalam mata pelajaran dengan jenis pekerjaan yang dapat dilakukan dalam paket-paket pembelajaran untuk pada setiap rumpun mata pelajaran. memfasilitasi belajar sesuai dengan minat g Sebaran Mata pelajaran kompetensi dasar Pada tingkat I sudah mulai diperkenalkan Pada tingkat I sudah mulai diperkenalkan Kompetensi dipusatkan pada tingkat I dan Mata kompetensi kejuruan sebagai implementasi kompetensi kejuruan sebagai antisipasi pelajaran kompetensi kejuruan disebar harapan siswa tingkat I praktik di bengkel pelaksanaan multy entry multy exit mulai tingkat II kerja otomotif 3 Metoda mempelajari bagian-bagian untuk setiap Mulai dari mengenalkan secara keseluruhan Mulai dari mengenalkan secara keseluruhan kompetensi yang dipelajari kemudian mempelajari bagian-bagian untuk kemudian mempelajari bagian-bagian untuk setiap kompetensi setiap kompetensi 4 Evaluasi Pembobotan nilai ditekankan pada aspek Memberikan penilaian pada penguasaan Memberikan penilaian dengan bobot pada sikap dan kemampuan kerja aspek pengetahuan, sikap, dan kemampuan penguasaan aspek pengetahuan, sikap, dan praktik kerja. Pembobotan nilai ditekankan kemampuan praktik kerja. Pembobotan nilai pada kemampuan kerja ditekankan pada sikap dan kemampuan kerja ISSN: 2086-8987
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 5) Kejelasan materi apa yang akan 2. Faktor Pendukung dan Penghambat disampaikan dapat menuntun Berdasarkan hasil pembahasan siswa untuk lebih siap belajar mengenai sosok desain kurikulum yang dengan memberikan gambaran dihasilkan, terdapat beberapa faktor tentang apa dan bagaimana proses yang mendukung terhadap kurikulum pembelajaran yang akan dilalui. program produktif SMK Kompetensi Sedangkan faktor yang menjadi Keahlian Teknik Kendaraan Ringan penghambat dari kurikulum program yang telah dihasilkan dengan produktif yang dihasilkan, antara lain : menggunakan model sistemik, baik dari 1) Memerlukan cukup banyak waktu aspek proses penyusunannya maupun untuk menggali informasi dan dari desainnya itu sendiri, yaitu antara merumuskan kompetensi yang lain : diharapkan sesuai dengan 1) Dikembangkan berdasarkan kebutuhan para lulusan dan tuntutan analisis kebutuhan tuntutan kerja DU/DI. dan kesiapan sekolah. 2) Sulitnya membentuk tim yang solid 2) Pengembangan kurikulum dan menguasai materi secara teori ditempuh dengan tahapan: dan praktik yang berperan sebagai merumuskan tuntutan pekerjaan, pengembangan kurikulum tujuan ditetapkan berdasarkan SKL 3) Keterlibatan DU/DI dalam dan SKKD, penetapan nama mata penyusunan kurikulum sejak awal pelajaran berdasarkan karakteristik merupakan keharusan, sedangkan kompetensi, penetapan waktu dan DU/DI memiliki jadwal kerja yang jumlah jam pelajaran disesuaikan padat sehingga memerlukan tim dengan pembobotan pencapaian pengembang kurikulum yang aktif kompetensi, rumusan silabus dan dan kreatif. RPP disesuaikan dengan kebijakan 4) Penyusunan silabus yang berisi yang ada di sekolah, gambaran lebih menyeluruh tentang media/metode pembelajaran dapat paket pembelajaran (mata pelajaran) disesuaikan dengan perhitungan yang dikembangkan memerlukan rasio siswa dan ketersediaan sara waktu penyusunan dan pemikiran pembelajaran khususnya sarana yang lebih menguras tenaga. pembelajaran praktik; dan sistem 5) Penyusunan kurikulum memerlukan evaluasi mengintegrasikan waktu yang luang, tenaga yang pengukuran kognitif, afeksi dan banyak, dan biaya yang besar. psikomotorik untuk mengukur 6) Beragamnya ketersediaan sarana kemampuan kerja siswa. penunjang pembelajaran praktik 3) Memungkinkan adanya yang kurang sesuai baik dari segi pengembangan kelompok mata kuantitasnya dibandingkan dengan pelajaran baru yang nama mata jumlah rombongan belajar dan pelajarannya kurang dikenal dalam kualitasnya (spesifikasi) kurikulum-kurikulum sebelumnya. dibandingkan dengan 4) Silabus berisi informasi yang perkembangan teknologi saat ini. lengkap tentang mata pelajaran membawa dampak pada pembelajaran yang sistematik. 9
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Simpulan sesama para pengembang kurikulum yaitu; Simpulan mengenai sosok desain a. Pengembangan kurikulum SMK kurikulum yang dikembangkan. Sosok program produktif akan efektif desain kurikulum memuat rasionalisasi apabila melibatkan pihak sekolah, penyusunan desain kurikulum program dan pihak industri secara sinergis. produktif, rumusan tujuan sesuai b. Pengembangan kurikulum program dengan cakupan kompetensi kerja produktif harus memahami dan Kompetensi Keahlian Teknik memiliki pengalaman kerja di industri Kendaraan Ringan mengacu pada sehingga dapat mengembangkan spektrum kompetensi keahlian Tahun kurikulum sesuai dengan kebutuhan 2008. Struktur kompetensi lebih spesifik pekerjaan di industri. diuraikan pada jenis-jenis pekerjaan c. Pengembang kurikulum harus yang ada di tempat kerja sesuai memahami prosedur pengembangan dengan payung kelompok mata kurikulum dan menggunakan acuan pelajarannya, melalui penawaran model/desain pengembangan paket-paket pembelajaran sesuai kurikulum yang teruji baik secara dengan jenis pekerjaan yang ingin teoritik maupun secara praktik. dikuasai. d. Implementasi kurikulum SMK Faktor-faktor pendukung desain program produktif akan efektif kurikulum yang dikembangkan, antara apabila didukung dengan lain : dikembangkan berdasarkan kemampuan guru dalam analisis kebutuhan kerja dan kesiapan merencanakan pembelajaran dan sekolah, prosedur pengembangan didukung sarana pembelajaran yang ditempuh mengacu pada dasar teori, sesuai rencana pembelajaran. kebijakan, dan kondisi empirik, e. Evaluasi pembelajaran tidak hanya memungkinkan adanya pengembangan menekankan pada hasil tetapi juga secara berkelanjutan, silabus berisi pada proses belajar, sehingga dapat informasi yang lengkap sistematik, dan meningkatkan motivasi belajar urutan materi yang jelas. Sedangkan siswa. faktor penghambatnya adalah f. Pengakuan hasil belajar siswa oleh memerlukan cukup banyak waktu dan pihak dunia kerja perlu menjadi biaya, sulitnya membentuk tim yang agenda dalam pengelolaan SMK solid dan menguasai materi secara melalui kegiatan UJK atau program teori dan praktik yang berperan sebagai sertifikasi kompetensi dari industri pengembangan kurikulum dan sulitnya atau asosiasi profesi. melibatkan DU/DI dalam penyusunan kurikulum sejak awal, dan beragamnya DaftarPustaka ketersediaan sarana penunjang Blank, E. (1982).Handbook for pembelajaran praktik yang ada di Developing Competency-Based sekolah. Training Programs: New Jersey. Berdasarkan hasil kajian Prentice-Hall Inc. berkenaan dengan pengembangan Bukit, M. (1997).Implementasi desain kurikulum yang telah Pendidikan Sistem Ganda dikembangkan, terdapat beberapa hal Sebagai Pembaruan Kurikulum: yang perlu menjadi perhatian bersama Disertasi Doktor pada PPs UPI Bandung: Tidak diterbitkan. 10
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Deborah, B. (1998). Vocational McAshan.(1979). Competency-Based Education’s Image for the 21 st Education and Behavioral Century.[On-line].Tersedia: Objectives. USA: Educational http://www.ericdigest.org/1999- Technology Publication. 2/21st. Miller-Seller. (1985). Curriculum Djohar, A. (2003). Pengembangan Perspectives and Practice. Model Longman: New York&London. KurikulumBerbasisKompetensiSe Mukhidin. (2002). kolahMenengahKejuruan: “StrategiPengembanganPeningka Studipada SMK Program tanMutu SMK di Jawa Barat.” KeahlianTeknikMesinPerkakas: :JurnalMimbarPendidikan. 03 Ellibeee, M (1997). A Grounded Theory (XXI), 27-30. of Essential Attributes of Quality Naylor, M. (1989).Retaining At-Risk Education-for-work Curriculum, Students in Career and Journal of Vocational Education Vocational.Terdapat di [On- Volume 22, No.1 1997. line].http://www.ericdigests.org/pr Finch &Crunkilton (1999). “Curriculum e-9212/risk.htm development in Vocational and Oliva.F.P. (1992).Developing the Technical Curriculum. United States: Education”:Boston.Allyn and HarperCollins. Bacon. Ramlee and Ruhizan.2006.“A Hamalik.(2003). Perencanaan Comparative Study Of Technical Pengajaran Berdasarkan Vocational Education And Pendekatan Sistem. Jakarta: Training In The Asia Bumi Aksara. Pasific”:Journal of The Hasan, Said Hamid. (2004). Comparative Education Society of “Implementasi Kurikulum dan Asia (COMPARE). Guru”: Jurnal Inovasi Kurikulum. Romiszowski.(1981). Designing Hipkin. 01, (1), 1-9 Instructional System. New York: Imel, Susan. (1990). Vocational Nichols Publishing. Education Performance Sanjaya, W. (2006). Strategi Standards.[On-line].Tersedia: Pembelajaran Berorientasi http://www.ericdigests.org/pre- Standar Proses Pendidikan. 9215/vocational.htm Jakarta: Kencana Perdana Media (10 Januari 2008). Group. Kerka, Sandar. (1998). Competency Sukmadinata. (2004). Kurikulumdan Based Education and Training. Pembelajaran Kompetensi. [On-line].Tersedia: Bandung: Kesuma Karya. http://www.cete.org/acve/docgen. Supriadi, D. (Eds) (2002), Sejarah asp?tbl=mr&ID=65 Pendidikan Teknik dan Kejuruan Kerka, Sandra. (1992). Higher Order Di Indonesia, Jakarta: Thinking Skills in Vocational Departemen Pendidikan Education.[On- Nasional, Dikmenum dan line].http://www.ericae.net/edo/ed Dikmenjur. 350487.htm(5 Desember 2007). 11
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 INTERNALISASI VISI UNY TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER MAHASISWA FAKULTAS TEKNIK Oleh: Agus Partawibawa1), Syukri Fathudin AW 2) 1) Jurusan Pendidikan Teknik Otomotif 2) Jurusan Pendidikan Teknik Mesin Abstrak Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui 1) pemahaman dan pengamalan Visi UNY pada pembentukan karakter mahasiswa Fakultas Teknik UNY.2)mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi internalisasi Visi UNY pada pembentukan karakter dikalangan mahasiswa Fakultas Teknik UNY Metode penelitian yang dipilih dalam rangka mengetahui internalisasi visi UNY pada pembentukan karakter mahasiswa Fakultas Teknik adalah metode penelitian expos facto. Untuk dimensi visi UNY ”bernurani”, jumlah butir pada variabel ini sebanyak 5 butir dan secara teoritis mempunyai rentang skor antara 5 sampai 20 dengan rerata ideal 12,5 dan simpangan baku ideal 2,5. Dari harga-harga tersebut maka dapat ditentukan kategori pemahaman dan pengamalan yang dilakukan oleh mahasiswa terhadap dimensi ”bernurani”, sebagaimana telah dicantumkan dalam hasil penelitian di atas. Apabila dilihat dari persentase jumlah mahasiswa, maka yang termasuk dalam kategori ”tinggi” sebesar 40%, sedangkan yang termasuk dalam kategori ”sedang” sebesar 60%. Sedangkan untuk perhitungan nilai rerata, didapatkan nilai rerata 16,17. Berdasarkan kedua metode tersebut dan disesuaikan dengan range kategori yang telah ditentukan, maka dapat disimpulkan bahwa pemahaman dan pengamalan yang dilakukan oleh mahasiswa terhadap visi UNY untuk dimensi ”bernurani” termasuk dalam kategori ”sedang”.Untuk dimensi visi UNY ”cendekia”, jumlah butir pada variabel ini sebanyak 5 butir dan secara teoritis mempunyai rentang skor antara 5 sampai 20 dengan rerata ideal 12,5 dan simpangan baku ideal 2,5. Dari harga-harga tersebut maka dapat ditentukan kategori pemahaman dan pengamalan yang dilakukan oleh mahasiswa terhadap dimensi ”cendekia”, sebagaimana telah dicantumkan dalam hasil penelitian di atas. Apabila dilihat dari persentase jumlah mahasiswa, maka yang termasuk dalam kategori ”tinggi” sebesar 31%, sedangkan yang termasuk dalam kategori ”sedang” sebesar 69%. Sedangkan untuk perhitungan nilai rerata, didapatkan nilai rerata 15,98. Berdasarkan kedua metode tersebut dan disesuaikan dengan range kategori yang telah ditentukan, maka dapat disimpulkan bahwa pemahaman dan pengamalan yang dilakukan oleh mahasiswa terhadap visi UNY untuk dimensi ”cendekia” termasuk dalam kategori ”sedang”.Untuk dimensi visi UNY ”mandiri”, jumlah butir pada variabel ini sebanyak 5 butir dan secara teoritis mempunyai rentang skor antara 5 sampai 20 dengan rerata ideal 12,5 dan simpangan baku ideal 2,5. Dari harga-harga tersebut maka dapat ditentukan kategori pemahaman dan pengamalan yang dilakukan oleh mahasiswa terhadap dimensi ”mandiri”, sebagaimana telah dicantumkan dalam hasil penelitian di atas. Apabila dilihat dari persentase jumlah mahasiswa, maka yang termasuk dalam kategori ”tinggi” sebesar 44%, sedangkan yang termasuk dalam kategori ”sedang” sebesar 56%. Sedangkan untuk perhitungan nilai rerata, didapatkan nilai rerata 16,07. Berdasarkan kedua metode tersebut dan disesuaikan dengan range kategori yang telah ditentukan, maka dapat disimpulkan bahwa pemahaman dan pengamalan yang dilakukan oleh mahasiswa terhadap visi UNY untuk dimensi ”mandiri” termasuk dalam kategori ”sedang”Berdasarkan hasil penelitian yang telah didapatkan, maka dapat diambil beberapa kesimpulan, sebagai berikut:1)Tingkat pemahaman dan pengamalan yang dilakukan oleh mahasiswa terhadap visi UNY dalam pembentukan karakter mahasiswa Fakultas Teknik termasuk dalam kategori ”sedang”.2)Faktor yang mempengaruhi internalisasi visi UNY dalam pembentukan karakter mahasiswa Fakultas Teknik adalah: a)Pemahaman mahasiswa; tingkat pemahaman dan kedewasaan bepikir, berperilaku sangat mempengaruhi pemahaman mahasiswa dalam menginternalisasikan visi UNY.b)Pembiasaan( sosialisasi) Visi UNY dikalangan mahasiswa; diperlukan sosialisasi dan pembiasaan yang terus menerus dalam rangka suksesnya pembentukan karakter mahasiswa. Kata kunci: Visi, Pendidikan, Karakter 12
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Pendahuluan Banyak hal kita saksikan Visi Universitas Negeri Yogyakarta mahasiswa UNY yang berprestasi baik (UNY) sampai tahun 2015 adalah dilevel regional, Nasional, maupun mampu menghasilkan insan cendekia, Internasional. Baik dibidang penalaran, mandiri dan bernurani. Dalam olahraga, seni, keagamaan, pramuka mewujudkan visi tersebut dibutuhkan dll. Namun ada juga mahasiswa yang semangat persaudaraan , tolong- kurang beruntung dan bahkan dapat menolong . Menurut Sarbiran (2008: 1) dikatakan memprihatinkan. Karena supaya visi UNY tersebut dapat mudah tidak mampu menyelesaikan studinya ( diimplementasikan seluruh elemen droup out). UNY, dibutuhkan KKT ( Kemauan, Setelah hampir empat tahun Kepedulian dan Tangggung jawab) . diimplementasikan Visi UNY, banyak Fakultas Teknik Universitas hal telah dilakukan oleh segenap Negeri Yogyakarta( FT UNY) pada civitas akademika. Almarhum Prof tahun 2007 berhasil memperoleh Sugeng Mardiyono ( Rektor UNY) telah sertifikat ISO 9001 : 2000 dari mencanangkan strategi pelaksanaan Sucofindo, yaitu salahsatu BUMN yang visi dan misi UNY dengan sebutan menangani dibidang jasa layanan. SAPTAGUNA UNY yang terdiri dari 1) Sertifikat ini diperoleh FT UNY atas kebersamaan, 2) pemberdayan, 3) dasar penilaian bahwa FT mampu pembudayaan, 4) profesionalitas, 5) menerapkan sistem manajemen mutu pengendalian, 6) keberlanjutan dan 7) khususnya yang berhubungan dengan kewirausahan ( Sugeng Mardiyono, standar proses pada implementasi 2008) program pendidikan dan pengajaran. Tantangan besar yang harus Tujuan utama penerapan sistem dihadapi mahasiswa dan civitas manajemen mutu ini pada dasarnya akademika UNY adalah bagaimana visi adalah pencapaian kepuasan dan cita-cita luhur tersebut dapat pelanggan, yaitu mahasiswa dan berkesan, bermakna, dihayati dan pengguna lulusan yang lainnya. diimplementasikan. Sebuah pekerjaan Mahasiswa merupakan aset suatu yang bernilai ibadah tentunya apabila bangsa yang sangat berharga. Mereka kita mampu menjawabnya dengan merupakan calon pemimpin dan penuh kesadaran dan keikhlasan penerus perjuangan bangsa. Manakala dalam bentuk belajar kerja, layanan mahasiswa yang sekarang masih yang optimal.Dari latar belakang belajar di perguruan tinggi dapat permasalahan di atas, maka rumusan terdidik secara utuh dan terarah, maka permasalahan yang ingin dijawab masa depan bangsa dan negara ini melalui penelitian ini adalah: akan baik. Tetapi manakala mereka 1. Bagaimanakah tingkat pemahaman dan mendapatkan pendidikan yang parsial, pengamalan yang dilakukan oleh mahasiswa hanya mementingkan sisi kecerdasan terhadap visi UNY dalam pembentukan karakter intelektual dan kekuatan fisik dan mahasiswa Fakultas Teknik ? mengesampingkan pembinaan 2. Faktor apa saja yang mempengaruhi kecerdasan intelektual dan spiritual, internalisasi visi UNY dalam pembentukan maka bangsa yang majemuk ini akan karakter mahasiswa Fakultas Teknik ? terancam keberlangsungannya. 13
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 untuk mewujudkan masyarakat belajar 1. Visi dan Misi UNY dalam rangka pembangunan nasional Sampai tahun 2015 Universitas d. mengembangkan sistem kelembagaan , Negeri Yogykarta menetapkan visinya organisasi , manajemen dan administrasi, yakni mampu menghasilkan insan yang budaya kerja sinergis, dan sumber bernurani cendekia dan mandiri. daya manusia yang menghargai Cendekia menggambarkan belajar, tanggung- jawab, kreatif, nilai- kecerdasan intelektual yang disertai nilai keadilan, dan kewirausahaan dengan suara hati sehingga ada suatu dalam rangka melaksanakan tri dharma kearifan. Mandiri menunjuk pada suatu perguruan tinggi otonomi kampus kemampuan personal dalam Untuk mewujudkan visi, misi dan meneguhkan eksistensi dirinya, pencpaian program pengembangan , sehingga mampu melakukan sesuatu UNY memilih strategi yang dinamakan tanpa harus bergantung pada orang SAPTAGUNA UNY, yaitu : 1) lain. Bernurani berarti memiliki kebersamaan, 2) pemberdayaan, 3) kelurusan hati, perilaku yang dibimbing pembudayaan,4) profesionalitas,5) dari hati-nurani dan nilai-nilai yang pengendalian, 6) keberlanjutan , dan 7) bersumber dari Ke-Tuhanan. kewirausahaan. Berkaitan dengan VISI UNY Menurut Herminarto Sofyan tersebut, Universitas Negeri (2008) , kecerdasan intelektual, Yogyakarta merupakan perguruan kecerdasan emosional dan kecerdasan tinggi LPTK dengan misi utamanya spiritual dapat tumbuh dan menyiapkan tenaga kependidikan berkembang secara simultan melalui kemudian juga diberi mandat untuk kegiatan kurikuler dan extrakulrikuler, mengembangkan program-program sehingga dihasilkan insan-insan yang non-kependidikan, maka misi yang cerdas, santun, berkepribadian, dan diemban adalah : menjunjung tinggi nilai-nilai a. mengembangkan pendidikan spriritualitas. Ada limawilayah akademik dan atau profesional dalam kecerdasan pribadi dalam bentuk bidang kependidikan dan non- kecerdasan emosional yang dapat kependidikan yang diarahkan untuk dibentuk dalam diri mahasiswa. Lima menghasilkan manusia yang memiliki wilayah tersebut adalah : kecerdsan dan keterampilan yang bermanfaat bang pembangunan a. kemampuan mengenali emosi diri , bangsa negara yaitu kemampuan mahasiswa dalam b. mengembangan kegiatan penelitian mengenali perasaannya sendiri untuk mengkaji dn mengembangkan sewaktu perasaan atau emosi tersebut ilmu pengetahuan dan teknologi dan muncul kesenian yang mensejahterakan b. kemampuan mengelola emosi individu dan msyarakat yang adalah kemampuan mahasiswa untuk mendukung pembangunan nasional mengendalikan perasaannya sendiri, c. mengembangkan kegiatan sehingga tidak meledak dan akhirnya pengabdian pada masyarakat yang dapat mempengaruhi perilakunya yang mendorong pengembangan segala salah potensi alam dan manusia, baik secara individu maupun kelompok 14
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 c. kemampuan memotivasi diri sendiri senang merasa senang dan mengerti adalah kemampuan memberikan perasaannya, kemampuan ini sering semangat pada diri sendiri untuk dinamakan Empati. melakukan sesuatu yang baik dan e. Kemampuan membina hubungan bermanfaat adalah kemampuan untuk mengelola d. kemampuan mengenali emosi emosi orang lain, sehingga tercipta orang lain, adalah kemampuan untuk ketrampilan sosial yang tinggi dan mengerti perasaan dan kebutuhan membuat pergaulan mahasiswa orang lain, sehingga orang lain mersa menjadi lebih luas membutuhkan pencerahan dan 2. Menyamakan Persepsi dikalangan penyadaran menuju realisasi kultur Civitas Akademika Fakultas Teknik visioner tersebut secara dinamis dan Universitas Negeri Yogyakarta berkelanjutan. Dalam membangun kebersamaan untuk Makna Cendekia, mengandung mewujudkan cita-cita luhur dan mulia sesuai Visi makna Mandiri dan Bernurani, dan Misi UNY maka dibutuhkan kesamaan demikian pula makna Mandiri persepsi dikalangan civitas akademika UNY , mengandung makna Cendekia dan baik itu dosen , karyawan, mahasiswa, Bernurani, dan makna Bernurani perlu didukung makna Cendekia dan pimpinan lembaga tentang kultur yang Mandiri. akan dibangun. Kultur tersebut Bangunan tiga pilar visi UNY mestinya menunjukkan ciri, watak dan membutuhkan pemahaman yang serius nilai-nilai (value) kecendekiaan, dan teliti. Menurut Sarbiran ( 2008) : kemandirian dan kebernuranian. Baik a. Pilar pertam = BERNURANI dalam ativitas pembelajaran, pekerjaan Hal ini memiliki ciri –ciri sebagai , layanan maupun kebijakan . Hal berikut : tersebut diapresiasi dan disikapi - taat azas/ibadah pada Tuhan Yang sebagai sebuah kesatuan yang Maha Esa terintegrasi (integrated). - tanggung jawab - terbuka ( inklsif) Sebagai visi Universitas, - peduli implementasinya akan memerlukan - disiplin dukungan semua komponen struktur - demokratis dan fungsi universitas, konsekuensinya b. Pilar kedua = MANDIRI tidak akan dapat dilakukan oleh - Membudayakan salahsatu komponen saja secara - Produktif terpisah. ( Wuryadi : 2008, 2). Namun - Antusias demikian dapat dipahami bahwa - Memberdayakan pengembangan konseptual dapat - Menempatkan diri / kordinatif - Pembelajar dilakukan oleh satu lembaga pengkajian yang melakukan kerja c. Pilar ketiga= CENDEKIA sinergi, kolaborasi dan konvergensi - Menginspirasi fungsi dengan berbagai element yang - Kritis - Inovatif lain. - Antipatif Dimensi fungsi akademis, - Aspiratif administrasi dan kemahasiswaan - Kreatif 15
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 right—even in the face of pressure from 3. Makna Pendidikan Karakter without and temptation from within.” Terdapat berbagai rumusan e. Character education is the dalam memaknai karakter maupun development of knowledge, skills, and pendidikan karakter. Rumusan tersebut abilities that enable the learner to make antara lain: informed and responsible choices. It a. Character is the combination of involves a shared educational personal qualities that make each commitment that emphasizes the person unique. Teachers, parents, and responsibilities and rewards of community members help children productive living in a global a diverse build positive character qualities. For society (www.urbanext.illinois.edu) example, the six pillars of character are f. Character education is an umbrella trustworthiness, respect, responsibility, term loosely used to describe the fairness, caring, and citizenship. teaching of children in a manner that Character deals with how people think will help them develop variously as and behave related to issues such as moral, civic, good, mannered, behaved, right and wrong, justice and equity, and non-bullying, healthy, critical, other areas of human conduct successful, traditional, compliant and/ (www.eduscapes.com). or socially-acceptable beings b. Character is attribute or a quality (wikipedia.com) that defines a person. This means that g. Character education (CE) is you are defined by a certain set of everything you do that influences the habits, qualities or attitudes and these character of the kids you (Elkin & form the basis upon which you Sweet, 2004) character is judged Dari berbagai pendapat tersebut (www.indianchild.com) secara sederhana dapat dirumuskan c. Character education is the bahwa pada dasanya karakter development of knowledge, skills, and menyangkut kualitas diri dan keyakinan abilities that encourage children and seseorang yang akan melandasi young adults to make informed and perilaku Sedangkan pendidikan responsible choices karakter adalah upaya meningkatkan (www.eduscapes.com). pengetahuan, ketrampilan maupun d. Character education is the sikap yang dibutuhkan agar seseorang deliberate effort to help people berperilaku sesuai dengan nilai-nilai understand, care about, and act upon luhur, norma, etika, maupun aturan core ethical values (Lickona, yang berlaku. www.goodcharacter.com)Lebih lanjut 4. Karakter Tenaga Kerja Kejuruan Lickona mengemukakan:“When we Menghadapi Tantangan Global think about the kind of character we Pertanyaan mendasar dalam want for our children, it’s clear that we kerangka penyiapan tenaga kerja want them to be able to judge what is kejuruan adalah karakter kerja seperti right, care deeply about what is right, apa yang perlu ditanamkan kjepada and then do what they believe to be peserta didik dalam menyiapkan tenaga kerja kejuruan di era global. 16
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Survey yang penulis lakukan terhadap industri yang meliputi: jujur, disiplin, 130 industri di seluruh Indonesia tanggungjawab, kerjasama, memecahkan menujukkan bahwa aspek-aspek masalah, dan penguasaan bidang kerja. kompetensi yang dirasa penting oleh Andreas (2007, dalam Muclas Samani, industri yang juga merupakan 2007) menunjukkan bahawa kelemahan utama lulusan adalah: kompetensi utama yang diharapkan kejujuran, etos kerja, tanggungjawab, industri meliputi urutan: jujur, disiplin, disiplin, menerapkan prinsip-prinsip komunikasi, kerjasama, dan keselamatan dan kesehatan kerja, penguasaan bidang studi. Dengan inisiatif dan kreatifitas (Wagiran, 2008; demikian jelas bahwa karakter memiliki 2009). Temuan ini selaras dengan peran pentying dalam menentukan kajian yang dilakukan Muchlas Samani suksesnya tenaga kerja dalam suatu (2007) yang menemukan urutan industri. kompetensi utama yang dibutuhkan tertentu. Kondisi tersebut antara lain: Dalam konteks yang lebih luas, (1) kondisi kompetisi global (perlu Soto (2005 dalam Zamroni, 2009) kesadaran global dan kemandirian), mengidentifikasi kompetensi yang (2) kondisi kerjasama global (perlu diperlukan di abad 21 bagi kehidupan kesadaran global, kemampuan masyarakat yang mulkultural, antara bekerjasama, penguasaan ITC), (3) lain: (1) memiliki integritas pribadi pertumbuhan informasi (perlu melek yang kokoh dengan memegang teguh teknologi, critiacal thinking & etika bertanggung jawab bagi pemecahan masalah), (4) kemajuan masyarakatnya dan perkembangan kerja dan karier (perlu memegang teguh etika dalam perilaku critical thinking & pemecahan masalah, pribadi dan profesionalnya; (2) innovasi &penyempurnaan, dan, menjadi a learning person, senantiasa fleksibel & adaptable), (5) memperluas dan memperdalam perkembangan ekonomi berbasis pengetahuan dan skills yang dimiliki; pelayanan jasa, knowledge (3) memiliki kemampuan berkerjasama economy (perlu melek informasi, dengan segala perbedaan yang critical thinking dan pemecahan dimiliki; d)menguasai dan masalah). Oleh karenanya lembaga memanfaatkan ITC; da (4) mampu pendidikan harus mempersiapkan mengambil keputusan yang siswa dengan kemampuan: (1) senantiasa berlandaskan kepentingan kesadaran global, (2) watak masyarakat luas. kemandirian, (3) kemampuan Kay (2008) menganalisis bekerjasama secara global, (4) perkembangan yang akan terjadi di kemampuan menguasai ITC, (5) abad 21 dan mengidentifikasi kemampuan melek teknologi, (6) kompetensi apa yang diperlukan dan kemampuan intelektual yang menjadi tugas pendidikan untuk ditekankan pada critical thinking mempersiapkan warga negara dengan dan kemampuan memecahkan kompetensi tersebut. Terdapat 5 masalah, (7) kemampuan untuk kondisi atau konteks baru dalam melakukan innovasi & kehidupan berbangsa, yang masing- menyempurnakan, dan, (8) memiliki masing memerlukan kompetensi 17
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 pengetahuan dan ketrampilan yang 21 harus pula dijadikan acuan dalam bersifat fleksibel & adaptabel. perencanaan kurikulum. Lembaga Mutu lembaga pendidikan pendidikan harus mulai mengubah ditentukan bagaimana jawaban atas mind set nya. Mengajar tidak sekedar pertanyaan: (1) apakah peserta didik mentransfer ilmu pengetahuan, mampu berpikir kritis dan memecahkan teknologi dan ketrampilan, melainkan masalah ?, (2) apakah peserta didik mengajar juga mentransfer kehidupan. memiliki kesadaran global ? (3) Implikasi yang paling dekat adalah apakah peserta didik memiliki semua pengajar, tidak pandang mata kemandirian ? (4) apakah peserta pelajaran yang diampu, memiliki didik mampu bekerjasama dengan tanggung jawab membangun moral baik ? (5) apakah peserta didik melek dan karakter peserta didik. teknologi ? (6) apakah peserta didik Pengembangan karakter tidak bisa memiliki watak pembaharu ? (7) diajarkan, melainkan dikembangkan apakah peserta didik mampu lewat proses pembiasaan. Oleh karena berkomunikasi secara efektif? Kalau itu, perilaku pengajar harus bisa jawaban “ya”, maka lembaga dijadikan tauladan bagi para peserta pendidikan tersebut bermutu. Semakin didiknya (Zamroni, 2009). tinggi skor dekat dengan ya, semakin 5. Implementasi Pendidikan Karakter bermutu sekolah itu. Selanjutnya, dalam Menyiapkan Tenaga Pendidik berdasarkan kemampuan tersebut di dan Kependidikan atas, Kay mengidentifikasi 5 kemampuan yang amat penting Implementasi pendidikan karakter dalam kehidupan, yakni, (1) etika dalam lingkup pendidikan keguruan kerja, (2) kemampuan berkolaborasi, tidak terlepas dari aspek kurikulum, (3) kemampuan berkomunikasi, (4) pembelajaran, dan iklim/budaya tanggung jawab sosial, dan, (5) akademik. Oleh karenanya pertanyaan berpikir kritis dan memecahkan dasar yang harus dijawab dalam hal ini masalah. adalah: (1) bagaimanakah Perkembangan dan perubahan mengintegrasikan karakter dalam kehidupan masyarakat mengarah pada kurikulum, dan (2) bagaimana satu trend besar dan universal, yakni menciptakan strategi yang mendukung perubahan dan kemajuan. implementasi integrasi karakter dalam Pengalaman perkembangan teknologi perkuliahan, (3) bagaimanakah selama ini menunjukan tingkat menciptakan iklim dan budaya perkembangan yang terjadi amat akademik dalam mendukung integrasi cepat dan dampaknya juga cepat karakter dalam proses pendidikan. menyebar dalam berbagai aspek a. Integrasi Pendidikan Karakter kehidupan termasuk dalam aspek dalam Kurikulum kultur. Oleh karena itu, lembaga pendidikan harus mempersiapkan diri Untuk membahas integrasi dengan baik dan masuk arus karakter dengan kurikulum, perlu perubahan dengan cerdas agar bisa disepakati dulu bahwa kurikulum memanfaatkan peluang yang ada, adalah skenario pendidikan untuk tidak sekedar memperoleh dampak mencapai tujuan pendidikan. Jika negatif belaka. Kompetensi abad ke tujuan pendidikan adalah membantu 18
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 peserta didik untuk mengembangkan belajar juga diukur berdasarkan potensinya agar mampu menghadapi kemampuan yang bersangkutan dalam problema kehidupan dan kemudian memecahkan problem kehidupan. memecahkannya secara arif dan Pengembangan aspek-aspek karakter kreatif, berarti pembelajaran pada tersebut dapat dibarengkan dengan semua matapelajaran seharusnya substansi matapelajaran atau bahkan diorientasikan ke tujuan itu dan hasil sebagai metoda pembelajarannya. Jika digunakan kurikulum pelatihan berbasis proyek (project berorientasi kompetensi maka karakter based learning), pembelajaran berbasis seharusnya dimasukan sebagai masalah (problem based learning), kompetensi dasar yang dikembangkan pembelajaran terlibat secara langsung bersama mata kuliah lainnya. Dengan (hands-on learning), pembelajaran demikian setiap mata kuliah dituntut berbasis aktivitas (activities based untuk mengembangkannya bersama learning), dan pembelajaran berbasis kompetensi substansi mata kuliah atau kerja (work based learning). Dengan bahkan merupakan aplikasi substansi model-model di atas memungkinkan matapelajaran dalam kehidupan. subjek didik banyak melakukan Dosen perlu merencanakan, sesuatu, bukan sekedar memahami melaksanakan dan mengevaluasi dan mendengarkan. pembelajaran dengan memperhatikan Sedikitnya terdapat tiga model integrasi pendidikan karakter dalam implementasi karakter yang perlu mata kuliah yang diampunya. dipertimbangkan , yaitu : (1) model integratif, (2) model komplementatif, b. Integrasi Karakter dalam dan (3) model diskrit (terpisah). Dalam Pembelajaran model integratif, implementasi karakter Pelaksanaan integrasi karakter melekat dan terpadu dalam program- dalam pembelajaran dapat dilakukan program kurikuler, kurikulum yang ada, dengan bermacam-macam strategi dan atau mata kuliah yang ada, bahkan dengan melihat kondisi mahasiswa proses pembelajaran. Program serta lingkungan sekitarnya, oleh kurikuler atau mata kuliah yang ada sebab itu pelaksanaan integrasi hendaknya bermuatan kepada karakter dalam pendidikan memiliki penanaman karakter. Model ini prinsip-prinsip umum seperti: (1) tidak membutuhkan kesiapan dan mengubah sistem pendidikan yang kemampuan tinggi dari pengajar/dosen. berlaku, (2) tidak mengubah kurikulum, Pengajar/dosen dituntut untuk kreatif, (3) pembelajaran menggunakan prinsip penuh inisiatif, dan kaya akan gagasan. learning to know, learning to learn, Pengajar/dosen harus pandai dan learning to be, dan learning to live cekatan menyiasati dan menjabarkan together, dan (4) dilaksanakan secara kurikulum, mengelola pembelajaran, kontekstual sehingga terjadi pertautan dan mengembangkan penilaian. antara pendidikan dan kebutuhan nyata Keuntungannya model ini, adalah relatif peserta didik. Dengan memperhatikan murah, tidak membutuhkan ongkos prinsip-prinsip tersebut integrasi mahal, dan tidak menambah dosen. karakter dalam pembelajaran dapat Dalam model komplementatif, dilaksanakan dengan berbagai model, implementasi karakter, ditambahkan ke misalnya model pembelajaran dan dalam program pendidikan kurikuler 19
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 dan struktur kurikulum yang ada; bukan c. Implementasi Karakter dalam dalam matakuliah. Pelaksanaannya Iklim/Budaya Akademik dapat berupa menambahkan mata Aspek-aspek karakter, khususnya kuliah karakter dalam struktur yang bersifat sikap (merupakan kurikulum. Model ini membutuhkan perwujudan kesadaran diri) banyak waktu tersendiri atau waktu tambahan, yang sebenarnya merupakan bagian juga dosen tambahan dan aktivitas sehari-hari manusia. Secara teoritik aspek sikap atau ranah afektif membutuhkan ongkos yang relatif lebih efektif jika dikembangkan melalui mahal. Selain itu, penggunaan model kebiasaan sehari-hari. Misalnya disiplin ini dapat menambah beban tugas pada mahasiswa akan lebih mudah mahasiswa dan dosen serta dikembangkan jika disiplin telah membutuhkan finansial yang tidak menjadi kebiasaan sehari-hari di sedikit yang dapat memberatkan pihak kampus. Jujur, kerja keras, saling toleransi dan sebagainya akan mudah institusi. Meskipun demikian, model ini dikembangkan jika aspek-aspek dapat digunakan secara optimal dan tersebut sudah menjadi kebiasaan intensif untuk membentuk karakter sehari-hari di kampus. Dalam konteks mahasiswa. pendidikan kejuruuan penumbuhan Dalam model terpisah (diskrit), iklim kerja industri menjadi langkah implementasi karakter disendirikan, yang dirasa efektif dalam upaya dipisah, dan dilepas dari program- menumbuhkan sikap kerja siswa yang program kurikuler, atau mata kuliah. diharapkan nantinya sesuai dengan Pelaksanaannya dapat berupa apa yang dibutuhkan oleh industri. pengembangan karakter yang dikemas Kerjasama dengan berbagai dan disajikan secara khusus pada stakeholders akan memberikan peserta didik. Penyajiaannya bisa pengalaman langsung bagi mahasiswa terkait dengan program kurikuler atau sehingga dengan sendirinya akan bisa juga berbentuk program tumbuh sikap maupun etos kerja ekstrakurikuler. Model ini memerlukan seseuai dengan harapan dunia kerja. persiapan yang matang, ongkos yang Metode Penelitian relatif mahal, dan kesiapan sekolah yang baik. Model ini memerlukan Metode penelitian yang dipilih perencanaan yang baik agar tidak dalam rangka mengetahui internalisasi salah penerapan, namun model ini visi UNY pada pembentukan karakter masih dapat digunakan untuk di kalangan para mahasiswa Fakultas membentuk karakter peserta didik secara komprehensif dan leluasa. Teknik adalah metode expos facto. Pemilihan model yang diterapkan Pada akhir penelitian ini akan dihasilkan tersebut akan sangat tergantung dari seperangkat prosedur, rambu-rambu untuk berbagai kesiapan beberapa aspek mengetahui internalisasi visi UNY pada termasuk karakteristik institusi masing- pembentukan karakter pada kalangan masing. Melalui proses evaluasi diri, mahasiwa Fakultas Teknik . Dengan demikian ujicoba, validasi, implementasi dan hasil penelitian ini berupa model ,yang dapat evaluasi akan didapatkan pola yang cocok untuk masing-masing institusi. digunakan sebagai rujukan ditiap jurusan pada kalangan mahasiswa FT untuk meninternalisasikan visi UNY tersebut. 20
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Hasil Penelitian Pengambilan data dalam Sedangkan kelas D terdiri dari 35 penelitian ini dilakukan pada kelas C mahasiswa dengan poin terendah 37 dan kelas D, yang diambil atau dan tertinggi 55. Data yang telah ditentukan secara random. Kelas C diperoleh disajikan dalam tabel di terdiri dari 48 mahasiswa, dengan poin bawah ini. terendah 39 dan tertinggi 55. Tabel 1. Data penelitian kelas C Frekuensi Rentang Relatif No Skor Absolut (%) Komulatif 1 39 - 42 1 2.0833333 2.0833333 2 43 - 46 13 27.083333 29.166667 3 47 - 50 20 41.666667 70.833333 4 51 - 54 12 25 95.833333 5 55 - 58 2 4.1666667 100 Total 48 100 20 15 10 5 0 39-42 43-46 47-50 51-54 55-59 Gambar 1. Diagram batang data kelas C 21
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Tabel 2. Data penelitian kelas D Frekuensi Rentang Relatif No Skor Absolut (%) Komulatif 1 37 - 40 3 8.5714286 8.5714286 2 41 - 43 2 5.7142857 14.285714 3 44 - 47 9 25.714286 40 4 48 - 51 15 42.857143 82.857143 5 52 - 55 6 17.142857 100 Total 35 100 20 15 10 5 0 37-40 41-43 44-47 48-51 52-55 Gambar 2. Diagram batang data kelas D kedua kelas tersebut dijumlahkan 1. Proses internalisasi visi UNY menjadi satu yaitu sebanyak 83 dalam pembentukan karakter mahasiswa. Hasil identifikasi yang mahasiswa telah dilakukan, sebagai berikut: Untuk mengidentifikasi sejauh a. Dimensi ”Bernurani” mana proses internalisasi visi UNY dalam pembentukan karakter Jumlah butir pada variabel ini mahasiswa, maka perlu diketahui sebanyak 5 butir dan secara teoritis tingkat pemahaman dan pengamalan mempunyai rentang skor antara 5 yang dilakukan oleh mahasiswa sampai 20 dengan rerata ideal 12,5 terhadap visi UNY tersebut. Dalam hal dan simpangan baku ideal 2,5. Dari ini digunakan skor rerata ideal (Mi) dan harga-harga tersebut maka simpangan baku ideal (SDi) sebagai kecenderungan pemahaman dan kriteria pembanding. Untuk proses ini pengamalan yang dilakukan oleh tidak dipisahkan antara kelas C dan mahasiswa terhadap visi UNY untuk Kelas D, namun seluruh mahasiswa 22
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 dimensi ”bernurani” dapat harga-harga tersebut maka dikategorikan sebagai berikut: kecenderungan pemahaman dan 16,25 ke atas : Tinggi pengamalan yang dilakukan oleh 12,5 – 16,25 : Sedang mahasiswa terhadap visi UNY untuk 8,75 - 12,5 : Rendah dimensi ”mandiri” dapat dikategorikan < 8,75 : Rendah sekali sebagai berikut: Berdasarkan data yang telah 16,25 ke atas : Tinggi terkumpul, diperoleh rerata sebesar 12,5 – 16,25 : Sedang 16,17. Berdasarkan range kategori 8,75 - 12,5 : Rendah yang telah ditentukan, maka < 8,75 : Rendah sekali pemahaman dan pengamalan yang Berdasarkan data yang telah dilakukan oleh mahasiswa terhadap terkumpul, diperoleh rerata sebesar visi UNY untuk dimensi ”bernurani” 16,07. Berdasarkan range kategori termasuk dalam kategori sedang. yang telah ditentukan, maka pemahaman dan pengamalan yang b. Dimensi ”Cendekia” dilakukan oleh mahasiswa terhadap Jumlah butir pada variabel ini visi UNY untuk dimensi ”mandiri” sebanyak 5 butir dan secara teoritis termasuk dalam kategori sedang. mempunyai rentang skor antara 5 Pembahasan sampai 20 dengan rerata ideal 12,5 dan simpangan baku ideal 2,5. Dari Berdasarkan hasil penelitian harga-harga tersebut maka yang telah didapatkan, maka dapat kecenderungan pemahaman dan diberikan pembahasan terhadap hasil pengamalan yang dilakukan oleh tersebut, sebagai berikut: mahasiswa terhadap visi UNY untuk Untuk dimensi visi UNY dimensi ”cendekia” dapat dikategorikan ”bernurani”, jumlah butir pada variabel sebagai berikut: ini sebanyak 5 butir dan secara teoritis 16,25 ke atas : Tinggi mempunyai rentang skor antara 5 12,5 – 16,25 : Sedang sampai 20 dengan rerata ideal 12,5 8,75 - 12,5 : Rendah dan simpangan baku ideal 2,5. Dari < 8,75 : Rendah sekali harga-harga tersebut maka dapat Berdasarkan data yang telah ditentukan kategori pemahaman dan terkumpul, diperoleh rerata sebesar pengamalan yang dilakukan oleh 15,98. Berdasarkan range kategori mahasiswa terhadap dimensi yang telah ditentukan, maka ”bernurani”, sebagaimana telah pemahaman dan pengamalan yang dicantumkan dalam hasil penelitian di dilakukan oleh mahasiswa terhadap atas. Apabila dilihat dari persentase visi UNY untuk dimensi ”cendekia” jumlah mahasiswa, maka yang termasuk dalam kategori sedang. termasuk dalam kategori ”tinggi” sebesar 40%, sedangkan yang c. Dimensi ”Mandiri” termasuk dalam kategori ”sedang” Jumlah butir pada variabel ini sebesar 60%. Sedangkan untuk sebanyak 5 butir dan secara teoritis perhitungan nilai rerata, didapatkan mempunyai rentang skor antara 5 nilai rerata 16,17. Berdasarkan kedua sampai 20 dengan rerata ideal 12,5 metode tersebut dan disesuaikan dan simpangan baku ideal 2,5. Dari dengan range kategori yang telah 23
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 ditentukan, maka dapat disimpulkan hasil penelitian di atas. Apabila dilihat bahwa pemahaman dan pengamalan dari persentase jumlah mahasiswa, yang dilakukan oleh mahasiswa maka yang termasuk dalam kategori terhadap visi UNY untuk dimensi ”tinggi” sebesar 44%, sedangkan yang ”bernurani” termasuk dalam kategori termasuk dalam kategori ”sedang” ”sedang”. sebesar 56%. Sedangkan untuk perhitungan nilai rerata, didapatkan 1. Untuk dimensi visi UNY nilai rerata 16,07. Berdasarkan kedua ”cendekia”, jumlah butir pada variabel metode tersebut dan disesuaikan ini sebanyak 5 butir dan secara teoritis dengan range kategori yang telah mempunyai rentang skor antara 5 ditentukan, maka dapat disimpulkan sampai 20 dengan rerata ideal 12,5 bahwa pemahaman dan pengamalan dan simpangan baku ideal 2,5. Dari yang dilakukan oleh mahasiswa harga-harga tersebut maka dapat terhadap visi UNY untuk dimensi ditentukan kategori pemahaman dan ”mandiri” termasuk dalam kategori pengamalan yang dilakukan oleh ”sedang” mahasiswa terhadap dimensi ”cendekia”, sebagaimana telah Simpulan dicantumkan dalam hasil penelitian di Berdasarkan hasil penelitian atas. Apabila dilihat dari persentase yang telah didapatkan, maka dapat jumlah mahasiswa, maka yang diambil beberapa kesimpulan, sebagai termasuk dalam kategori ”tinggi” berikut: sebesar 31%, sedangkan yang termasuk dalam kategori ”sedang” 1. Tingkat pemahaman dan pengamalan sebesar 69%. Sedangkan untuk yang dilakukan oleh mahasiswa terhadap visi perhitungan nilai rerata, didapatkan UNY dalam pembentukan karakter mahasiswa nilai rerata 15,98. Berdasarkan kedua Fakultas Teknik termasuk dalam kategori metode tersebut dan disesuaikan ”sedang”. dengan range kategori yang telah 2. Faktor yang mempengaruhi internalisasi visi ditentukan, maka dapat disimpulkan UNY dalam pembentukan karakter bahwa pemahaman dan pengamalan mahasiswa Fakultas Teknik adalah yang dilakukan oleh mahasiswa terhadap visi UNY untuk dimensi 3. Pemahaman mahasiswa; tingkat ”cendekia” termasuk dalam kategori pemahaman dan kedewasaan bepikir, ”sedang”. berperilaku sangat mempengaruhi pemahaman mahasiswa dalam menginternalisasikan 2. Untuk dimensi visi UNY ”mandiri”, visi UNY jumlah butir pada variabel ini sebanyak 5 butir dan secara teoritis mempunyai 4. Pembiasaan( sosialisasi) Visi UNY rentang skor antara 5 sampai 20 dikalangan mahasiswa; diperlukan sosialisasi dengan rerata ideal 12,5 dan dan pembiasaan yang terus menerus dalam simpangan baku ideal 2,5. Dari harga- rangka suksesnya pembentukan karakter harga tersebut maka dapat ditentukan mahasiswa kategori pemahaman dan pengamalan Daftar Pustaka yang dilakukan oleh mahasiswa Ari Ginanjar Agustian (2005), Rahasia terhadap dimensi ”mandiri”, Sukses membangun sebagaimana telah dicantumkan dalam 24
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 kecerdasan emosi dan Pidato Dies XXXVIII Universitas spiritual(ESQ) , Jakarta, Arga Negeri Yogyakarta 21 Mei Chaves, J.F, Baker, CM, Chaves , J.A 2002, Yogyakarta: Universitas & Fisher.M.L (2006), Self, Peer Negeri Yogyakarta and tutor assessments os MSN competencies using the PBL- Sarbiran (2008), Pemikiran praktis evaluator, Journal of Nursing Membangun Kultur BCM di Education Vol 45 No.1, pp 25- UNY, makalah tidak 31 diambil 17 Maret 2008 , dari dipublikasikan dalam Semiloka http : // proquest Lemlit UNY, 1 Desember 2008 umi.com/pqdweb Sarbiran (2008), Implementasi nilai- Darmiyati Zuchdi ( 2009), Pendidikan nilai dan moral Agama dalam Karakter Grand Design dan kegiatan Akademik,makalah Nilai-nilai Target, UNY Press tidak dipublikasikan, Semiloka Yogyakarta U-MKU UNY, 26 Nopember 2008 Elliot, J, (1993), Action Research for Sarbiran (2008) , “ membangun kultur education change, Philadelphia UNY Cendekia, Mandiri dan Herminarto Sofyan ( 2008), Majalah Bernurani, Laporan Penelitian , Pewara Dinamika, edisi Dies Yogyakarta, Lemlit UNY Natalis UNY, Humas UNY Sivan, A ( 2000), The implementation Nitko, A.J., & Brookhart, S.M. (2007). of peer assessmment : An Educational Assessment of action research approach, Students, Fifth Edition. Ohio: Assessment in education, Vol 7 Pearson Prentice Hall No.2 , pp 193 – 213, diambil pada 10 Februari 2008, dari http Olina, Z. & Sullivan, H.J. (2002). : //proquest.umi.com/pdqweb Effects of classroom evaluation strategies on student Sudjana, (1992), Metoda Statistika, achievement and attitudes. Edisi 5, Bandung, Tarsito Educational Technology, Research and Development. Sugeng Mardiyono (2008) Kajian awal Vol. 50, No. 3. pp. 61-75 Filosofis Universitas Negeri Yogyakarta Popham, W.J.. (1995). Classroom Sugiono ( 2004), Statistika untuk assessment: what teachers penelitian, Bandung, Alfa Beta need to know, Boston-USA: Ally and Bacon Sukardi (2003), Metodologi Penelitian Pendidikan, Kompetensi dan Sarbiran, (2002), Optimalisasi dan Prakteknya, Jakarta, Bumi Implementasi Peran Pendidikan Aksara Kejuruan dalam Era Desentralisasi Pendididikan, 25
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Sumarno (2008), Model Pembelajaran Mahasiswa melalui Integrasi Pendidikan Agama Islam Pembelajaran Pendidikan berdasarkan Contextual and Agama Islam (PAI) dan Teaching ( CTL), Makalah Pembinaan di Unit Kegiatan Diskusi Dosen dan Tutor Keagamaan mahasiswa, Pendidikan Agama Islam, 14 Laporan Penelitian tidak Februari 2008 dipublikasikan, Lemlit UNY Sumarjo (2008) Profil Mahasiswa FIK Wuryadi (2008) Pengembangan UNY terhadap implementasi Kelembagaan menuju kultur Visi UNY, Laporan Penelitian Cendekia, Mandiri dan tidak dipublikasikan, Lemlit UNY Bernurani, makalah tidak dipublikasikan dlam semiloka Syukri Fathudin AW (2008), Lemlit UNY, 1 Desember Peningkatan Perilaku Religius 26
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 PENINGKATAN PENGUASAAN PENGETAHUAN PROSEDURAL SISWA SMK MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DIRECT INSTRUCTION. Asep Hadian Sasmita Jurusan Pendidikan Teknik Mesin Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Universitas Pendidikan Indonesia Abstrak Penguasaan pengetahuan prosedural siswa merupakan pengetahuan siswa mengenai bagaimana tata cara melakukan sesuatu. Pengetahuan prosedural ini merupakan salah satu prasyarat bagi siswa dalam mencapai kompetensi kerjanya. Oleh karena itu diperlukan adanya model pembelajaran yang mampu meningkatkan penguasaan pengetahuan prosedural siswa secara efektif. Direct instruction (DI) adalah salah satu model alternatif yang akan diujicobakan untuk dapat meningkatkan penguasaan pengetahuan prosedural siswa. Model DI yang diujicobakan terdiri dari lima langkah pembelajaran yaitu Orientasi, Presentasi, Praktek Terstruktur, Praktek di Bawah Bimbingan Guru dan Praktek Mandiri. Tujuan penelitian ini ialah ingin mengetahui perbedaan peningkatan (N-Gain) penguasaan pengetahuan prosedural siswa SMK kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran Direct Instructiondan kelas kontrol yang menggunakan model konvensional pada Mata Pelajaran Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Bubut Kompetensi Keahlian Teknik Pemesinan. Metoda pada penelitian ini menggunakan Quasi Experimental dengan desain Non-Equivalent (Pre- Test and Post-Test) Control Group Design. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa peningkatan (N-Gain) penguasaan prosedural siswa kelas eksperimen lebih baik daripada siswa yang menggunakan model konvensional. Hasil penelitian ini didapatkan dengan prasyarat pelaksanaan yaitu: (1) komitmen guru untuk lebih konsisten dan profesional pada saat melaksanakan program pembelajaran. (2) Sarana praktik yang sesuai dengan standar sarana prasarana (PP19/2005). (3) Juga harus dilakukan pengamatan kemajuan kerja praktik siswa pada saat pembelajaran praktik berlangsung. Kata kunci: pengetahuan prosedural, direct instruction. Pendahuluan KTSP adalah kurikulum Era perdagangan bebas operasional yang disusun oleh dan merubah kurikulum SMK yang semula dilaksanakan di masing-masing satuan menggunakan pendekatan berbasis pendidikan (sekolah). KTSP terdiri dari mata pelajaran (subjek matter), mulai tujuan pendidikan tingkat satuan disesuaikan menjadi kurikulum yang pendidikan,standarkompetensilulusan, berbasis kompetensi sesuai dengan struktur dan muatan kurikulum tingkat tuntutan dunia kerja. Dalam satuan pendidikan, kalender pendidikan perkembangannya kurikulum berbasis dan silabus (Implementasi KTSP kompetensi dievaluasi dan direvisi SMK,2008:37). Kurikulum ini pada menjadi kurikulum SMK tahun 2004, dasarnya kurikulum berbasis yang kemudian pada tahun 2006 kompetensi yang bersifat otonom diimplementasikan melalui Kurikulum dimana pemerintah pusat hanya Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) memberikan rambu-rambu berupa yang digunakan sampai sekarang. kompetensi, kompetensi dasar, dan 27
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 kriteria kinerja, sedangkan selebihnya Pencapaian level dan waktu diserahkan kepada guru dan sekolah kompetensi yang tidak maksimal, sesuai dengan tingkat dan jenjang sebagian besar dikarenakan siswa pendidikan di daerahnya masing- terlalu banyak gagal dalam masing. Kurikulum ini merupakan mengerjakan tugas praktiknya kurikulum berbasis kompetensi yang kemudian mengulang pekerjaan mengorientasikan siswa kepada praktiknya. Hasil dari penelitian awal pencapaian standar kompetensi yang ditemukan bahwa kegagalan siswa sudah ditetapkan. Melalui implementasi dalam praktik tersebut dikarenakan kurikulum ini diharapkan akan oleh beberapa hal diantaranya: memperkecil bahkan meniadakan penguasaan pengetahuan deklaratif kesenjangan antara tuntutan yang kurang, pengetahuan prosedural kompetensi di industri dengan yang kurang, prosedur kerja yang tidak penguasaan kompetensi yang dimiliki ditaati (afektif), motivasi kurang, tidak siswa. Pencapaian standar kompetensi percaya diri dan faktor lainnya. Dan siswa diharapkan berbanding lurus faktor penguasaan pengetahuan dengan kemampuan pekerja di industri. prosedural yang kurang adalah faktor Pencapaian kompetensi siswa penyebab yang paling dominan. melalui proses pembelajaran praktikum Contohnya adalah pada saat sebelum dipengaruhi banyak faktor diantaranya membubut rata, pahat bubut rata harus sarana praktikum (workshop), guru disesuaikan ketinggiannya dengan (guru), waktu praktikum, metode senter sehingga hasil membubut sesuai pengajaran, kemandirian siswa dan standar. yang lainnya. Faktor-faktor tersebut Pengetahuan prosedural menurut terkadang menjadi hambatan untuk Alexander et al. (de Jong, 1996:1) siswa dalam mencapai kompetensi adalah “...compilation of declarative yang diinginkannya. Selain sarana knowledge into functional units that praktikum yang harus sesuai standar incorporate domain specific strategies.”. sarana prasarana (PP19/2005), Pengetahuan prosedural diartikan pemilihan model pembelajaran oleh sebagai guru juga menentukan dalam kompilasipengetahuandeklaratifmenjadi pencapaian kompetensi siswa. Model unit- pembelajaran apa yang seharusnya unitfungsionalyangmenggabungkando digunakan untuk pencapaian mainstrategi yang spesifik. pengetahuan yang bersifat deklaratif Pengetahuan prosedural menurut dan model pembelajaran apa yang Anderson et al. (2001: 52) adalah “...is digunakan untuk pencapaian the knowledge of how to do something, pengetahuan yang bersifat prosedural. methods of inquiry and criteria for using Ketidaktepatan dalam memilih model skills, algorithms, techiques and pembelajaran bisa menyebabkan waktu methods.”. Lebih jauh Basjes (2002:14) pencapaian kompetensi menjadi lebih mengemukakan bahwa lama, bahkan tidak tercapainya “Penguasaanpengetahuanprosedural is kompetensi yang diinginkan karena used as knowledge about how, when terbatas oleh kalender pendidikan and why to do something”. Dari definisi sekolah. Anderson dan Basjes didapatkan 28
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 bahwa pengetahuan prosedural adalah yang terstruktur, praktik di bawah pengetahuan yang memanifestasikan bimbingan dan praktik mandiri. dirinya dalam melakukan sesuatu dan Penelitian-penelitian mengenai pengetahuan tentang bagaimana model direct instruction yang telah melakukan sesuatu. Atau juga sebagai dilakukan peneliti lain menunjukan pengetahuan tentang bagaimana, bahwa model ini dapat meningkatkan kapan dan mengapa untuk melakukan hasil belajar siswa melalui sesuatu. pembelajaran step by step learning. Model pembelajaran praktikum Sementara penelitian-penelitian yang tepat, yang bisa menanamkan mengenai pengetahuan pengetahuan prosedural dengan waktu proseduralmenunjukan bahwa pembelajaran yang efektif sangat pengetahuan proseduralmerupakan dibutuhkan sehingga bisa pengetahuan yang membantu siswa meningkatkan hasil belajar sangat pada saat melakukan kegiatan diperlukan untuk mengatasi praktikum (psikomotorik). permasalahan yang ada. Diantara Hasil penelusuran pustaka banyak model pembelajaran, terdapat mengenai penelitian-penelitian salah satu model pembelajaran yang terdahulu, belum ditemukan adanya menekankan pada praktik yang penelitian yang meneliti mengenai prosedural untuk mencapai hasil penerapan direct instruction untuk belajar, model tersebut adalah Direct peningkatan pengetahuan Instruction. proseduralsecara spesifik. Ada juga Model pembelajaran Direct penerapan direct instruction langsung Instruction merupakan salah satu untuk peningkatan hasil belajar, dan model pembelajaran kelompok sistem penelitian bagaimana pengetahuan prilaku (behavior). Direct instruction proseduralpada suatu kompetensi. dikembangkan oleh Tom Good, Jere Padahal salah satu prinsip dari direct Grophy, Carl Bereiter, Ziggy Engleman instruction yaitu step by step learning dan Wes Becker. Beberapa keunggulan mendekati dari sifat pengetahuan terpenting dari Direct Instructionmenurut prosedural yang berisi mengenai Joyce Bruce (2009:421), adalah: pengetahuan “bagaimana cara “adanya fokus akademik, arahan dan melakukan?” yang isinya mengenai kontrol guru, harapan yang tinggi step by step procces. terhadap perkembangan siswa, sistem Berdasarkan paparan pada latar manajemen waktu, dan atmosfer belakang masalah, masalah-masalah akademik yang cukup netral.” Model yang ada dapat diidentifikasi sebagai Direct Instruction dirancang khusus berikut: untuk menunjang proses belajar siswa 1. Dengan model pembelajaran yang berkaitan dengan pengetahuan konvensional yang dilaksanakan prosedural dan pengetahuan deklaratif selama ini, siswa kurang menguasai yang terstruktur dengan baik, yang pengetahuan dasar mengenai materi dapat diajarkan dengan pola kegiatan praktikum dan pengetahuan mengenai yang bertahap, selangkah demi prosedur-prosedur kerja. selangkah.Dengan lima tahap aktivitas; 2. Kurang dikuasainya pengetahuan yakni orientasi, presentasi, praktek dasar praktikum oleh siswa, 29
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 menyebabkan ketidak optimalan siswa Pelajaran Melakukan Pekerjaan dalam mempelajari pengetahuan dengan Mesin Bubut antara siswa yang (kompetensi) selanjutnya. menggunakan model pembelajaran 3. Kurang dikuasainya pengetahuan konvensional dengan siswa yang proseduralmenyebabkan siswa menggunakan model pembelajaran mengalami kegagalan dalam praktikum, alternatif direct instruction? kegagalan tersebut mengakibatkan 4. Bagaimana prasyarat-prasyarat pemborosan waktu karena siswa harus pelaksanaannya? mengulang praktikum. Waktu yang tersisa tidak cukup untuk mencapai MetodePenelitian kompetensi dasar lainnya karena Pendekatan yang digunakan terbatas oleh kalender akademik pada penelitian ini ialah pendekatan sekolah. kuantitatif dengan metode Quasi 4. Diperlukannya model pembelajaran Exsperimental Design. Metode alternatif yang dapat meningkatkan penelitian Quasi Exsperimenal Design pengetahuan proseduralsiswa, yang menurut Sugiyono (2009:114): pada akhirnya dapat meningkatkan Quasi Experimental Design hasil belajar siswa. merupakanpengembangan dari Identifikasi masalah di atas True Experimental Design, menghasilkan rumusan masalah Quasi Experimental Design sebagai berikut: mempunyai kelompok kontrol, “Bagaimana peningkatan tetapi tidak dapat berfungsi penguasaan pengetahuan prosedural sepenuhnya untuk mengontrol siswa SMK melalui penerapan model variable-variabel luar yang pembelajaran Direct Instruction?” mempengaruhi pelaksanaan Rumusan masalah tersebut dapat eksperimen. Quasi dijabarkan menjadi pertanyaan Experimental Design digunakan penelitian sebagai berikut: karena pada kenyataannnya 1. Bagaimana peningkatan sulit mendapatkan kelompok penguasaan pengetahuan prosedural kontrol yang digunakan dalam siswa pada pada Mata Pelajaran penelitian. Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Metode Quasi Exsperimenal Bubut yang menggunakan model Design mengharuskan adanya pembelajaran konvensional? kelompok eksperimen dan kelompok 2. Bagaimana peningkatan kontrol, untuk kemudian penguasaan pengetahuan prosedural dikomparasikan aspek-aspek yang siswa pada pada Mata Pelajaran menjadi variabel penelitiannya. Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Kelompok eksperimen pada penelitian Bubut yang menggunakan model ini adalah siswa kelas XI Kompetensi pembelajaran alternatif direct Keahlian Teknik Pemesinan yang instruction? menggunakan model pembelajaran direct instruction pada Mata Pelajaran 3. Bagaimana perbedaan Melakukan Pekerjaan dengan Mesin peningkatan penguasaan pengetahuan Bubut. Sedangkan kelompok kontrol prosedural siswa pada pada Mata 30
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 adalah siswa kelas XI Kompetensi sama dengan kelompok eksperimen. Keahlian Teknik Pemesinan yang Desain pada penelitian ini dijabarkan menggunakan model pembelajaran dalam tahap-tahap penelitian pada konvensional pada mata pelajaran yang gambar 1. Survey Studi Pendahuluan Merumuskan Masalah Memilih Metode Penelitian Menentukan variabel dan sumber data Menyusun dan menguji instrumen Pelaksanaan Pre-Test Treatment direct instruction untuk Treatment model konvensional untuk kelas eksperimen kelas kontrol Pelaksanaan Post-test Analisis Data Feed back Pembahasan hasil penelitian Kesimpulan dan Implikasi Gambar 1. Tahap-tahap Penelitian. rata-ratanya adalah 27,45. Pada post- Pembahasan testtreatment kesatu nilai minimumnya 1. Deskripsi Data Hasil Penelitian adalah 38,7 dan nilai maksimumnya Data penguasaan pengetahuan 78,7 serta dengan rata-rata 64,59. prosedural siswa kelas kontrol dalam Sementara itu pada pre-testtreatment kedua nilai minimumnya adalah 13,3 tiga treatment meliputi data pre-test (skala 100), nilai maksimumnya ialah (sebelum treatment), data post-test 46,6 dan rata-ratanya adalah 30,95. (setelah treatment), serta rata-ratanya Pada post-testtreatment kedua nilai dapat dilihat dalam Tabel1. minimumnya adalah 43,3 dan nilai Berdasarkan Tabel 1 di atas maksimumnya 83,3 serta dengan rata- dapat diketahui data nilai penguasaan rata 66,46. Dan nilai penguasaan pengetahuan prosedural siswa kelas pengetahuan prosedural siswa kelas kontrol. Pada pre-testtreatment kesatu kontrol pada pre-testtreatment ketiga nilai minimumnya adalah 16,4 (skala nilai minimumnya adalah 10 (skala 100), nilai maksimumnya ialah 43 dan 100), nilai maksimumnya ialah 43,3 dan 31
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 rata-ratanya adalah 27,75. Pada post- rata-rata penguasaan pengetahuan testtreatment ketiga nilai minimumnya prosedural kelas kontrol tersebut juga adalah 40 dan nilai maksimumnya 83,3 dapat dilihat dalam bentuk diagram serta dengan rata-rata 65,89. Nilai-nilai batang pada Gambar 2. Tabel1. Data Penguasaan Pengetahuan Prosedural Siswa Kelas Kontrol Data Penguasaan Pengetahuan Prosedural Siswa Kelas Kontrol Treatment 1 Treatment 2 Treatment 3 No Nilai Pre- Post- Pre- Post- Pre- Post- test test test test test test 1 Minimum 16,4 38,7 13,3 43,3 10 40 2 Maksimum 43 78,7 46,6 83,3 43,3 83,3 3 Rata-rata 27,45 64,59 30,95 66,46 27,75 65,89 80 69,59 66,46 65,89 60 40 27,45 30,95 27,75 20 0 Treatment ke-1 Treatment ke-2 Treatment ke-3 rata-rata pre-test rata-rata post-test Gambar 2. Diagram Rata-Rata Penguasaan Pengetahuan Prosedural Siswa Kelas Kontrol Data penguasaan pengetahuan test(setelah treatment), serta rata- prosedural siswa kelas eksperimen ratanya dapat dilihat dalam Tabel 2 di dalam tiga treatment meliputi data pre- bawah ini: test (sebelum treatment), data post- Tabel 2. Data Penguasaan pengetahuan prosedural Siswa Kelas Eksperimen Data Nilai Penguasaan Pengetahuan Prosedural Kelas Eksperimen Treatment 1 Treatment 2 Treatment 3 No Nilai pre- post- pre- post- pre- post- test test test test test test 1 Minimum 7 64,3 13,3 76,7 6,7 70 2 Maksimum 40,3 93,3 30 95,7 40 100 3 Rata-rata 22,94 81,11 22,63 85,08 22,64 86,91 32
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Berdasarkan Tabel 2 di atas adalah 76,7 dan nilai maksimumnya dapat diketahui data nilai penguasaan 96,7 serta dengan rata-rata 85,08. Dan pengetahuan prosedural siswa kelas nilai penguasaan pengetahuan eksperimen. Pada pre-testtreatment prosedural siswa kelas kontrol pada kesatu nilai minimumnya adalah 7 pre-testtreatment ketiga nilai (skala 100), nilai maksimumnya ialah minimumnya adalah 6,7 (skala 100), 40,3 dan rata-ratanya adalah 22,94. nilai maksimumnya ialah 40 dan rata- Pada post-testtreatment kesatu nilai ratanya adalah 22,64. Pada post- minimumnya adalah 64,3 dan nilai testtreatment ketiga nilai minimumnya maksimumnya 93,3 serta dengan rata- adalah 70 dan nilai maksimumnya 100 rata 81,11. Sementara itu pada pre- serta dengan rata-rata 86,91. Nilai-nilai testtreatment kedua nilai minimumnya rata-rata penguasaan pengetahuan adalah 13,3 (skala 100), nilai prosedural kelas eksperimen tersebut maksimumnya ialah 30 dan rata- juga dapat dilihat dalam bentuk ratanya adalah 22,63. Pada post- diagram batang pada Gambar 3 di testtreatment kedua nilai minimumnya bawah ini: 100 85,08 86,91 81,11 80 60 40 22,94 22,63 22,64 20 0 Treatment ke-1 Treatment ke-2 Treatment ke-3 rata-rata pre-test rata-rata post-test Gambar 3. Diagram Rata-Rata Penguasaan Pengetahuan Prosedural Siswa Kelas Eksperimen a. N-Gain Penguasaan Pengetahuan diklasifikasikan sebagai berikut: (1) jika Prosedural Siswa g ≥ 0,7, maka N-Gain termasuk Data N-Gain (peningkatan) kategori tinggi; (2) jika 0,7 >g ≥ 0,3, penguasaan pengetahuan prosedural maka N-Gain termasuk kategori siswa kelas kontrol dan eksperimen sedang, dan (3) jika g < 0,3, maka N- pada treatment ketiga, dihitung dengan Gain termasuk kategori rendah. menggunakan gain yang ternormalisasi Berdasarkan data hasil penelitian, N- (N-Gain) dengan persamaan dari Hake Gain tersebut dapat dilihat pada tabel 3 (1998:65). Tinggi rendahnya N-Gain dan gambar 4. menurut Hake (1998:65) dapat 33
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Tabel 3.Data Hasil Perhitungan N-Gain Penguasaan pengetahuan prosedural Rata- Rata- Rata- Rata- Rata Kelas Rata Rata Rata N- Post- Pre-test Gain Gain test Kontrol 27,75 68,89 41,14 0,54 Eksperimen 22,64 86,97 64,33 0,84 1 0,84 0,8 0,6 0,54 0,4 0,2 0 Kontrol Eksperimen Gambar 4. Diagram Hasil Perhitungan N-Gain Penguasaan Pengetahuan Prosedural N-Gainpenguasaan pengetahuan distribusi t ialah (n1+n2 – 2) dengan prosedural yang didapat kelas kontrol peluang (1 – α). adalah 0,54 jadi termasuk kategori Dari hasil perhitungan, didapat t sedang, dan N-Gainpenguasaan hitung sebesar 15,34. Selanjutnya t pengetahuan prosedural kelas hitung tesebut dibandingkan dengan t eksperimen adalah 0,84. Nilai N-Gain tabel dengan dk = n1 + n2 – 2 = 34 + 34 tersebut masuk dalam kategori tinggi. – 2 = 66. Dengan dk 58 dan α = 0,05, maka t tabel didapat 1,669 (uji satu b. Uji Hipotesis Peningkatan Penguasaan pihak dan dengan interpolasi). Ternyata Pengetahuan Prosedural t hitung lebih besar dari pada t tabel Hipotesis yang akan diuji adalah (15,34 > 1,669). Dengan demikian hipotesis yang diajukan, H0 ditolak dan Ha diterima. Kesimpulannya adalah peningkatan penguasaan pengetahuan Dalam hal , maka prosedural siswa pada Mata Pelajaran pengujian yang digunakan ialah uji t. Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Kriteria pengujian yang berlaku ialah: Bubut yang menggunakan model terima H0 jika dan tolak pembelajaran alternatif direct H0 jika t mempunyai harga-harga lain. instruction lebih baik dibandingkan Derajat kebebasan untuk daftar peningkatan penguasaan pengetahuan 34
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 prosedural siswa yang menggunakan melihat pada langkah ketiga guru harus model pembelajaran konvensional. memandi siswa secara efektif. Permasalahan ini bisa terbantu dengan c. Prasyarat-prasyarat Penerapan adanya lembar panduan praktik bagi Model Pembelajaran siswa dan diefektifkannya Prasyarat-prasyarat penerapan teamteaching. Tugas guru justru akan model direct instruction untuk semakin berkurang pada saat praktik meningkatkan penguasaan mandiri, pada saat ini guru bertugas pengetahuan prosedural dan hasil hanya sebagai pengawas saja. Jadi belajar siswa ini didapatkan setelah konsistensi ini lebih condong pada melalui tahap analisis data, kemauan dan ketahanan guru untuk prasyaratnya yaitu: konsistensi guru memandu siswa praktik secara intensif untuk terus berkomitmen dan berkerja pada tahap awal praktik. profesional dalam melaksanakan Sarana praktik harus sesuai pembelajaran, terutama karena model standar sarana prasarana (PP19/2005), direct instruction ini menuntut guru jelas hal ini bukan hanya prasyarat untuk lebih intensif pada saat memandu untuk model direct instruction saja. praktik terstruktur, lebih baik bila team Sarana praktik untuk model teaching. Sarana praktik yang harus konvensional pun pastinya harus sesuai dengan standar sarana memenuhi standar sarana prasarana, prasarana (PP19/2005). Juga harus salah satu indikatornya yang jelas yang adanya pemantauan kemajuan praktik jelas terlihat adalah satu mesin untuk siswa yang tercatat pada lembar satu siswa. Namun faktor sarana kemajuan praktik siswa. prasarana ini memang menjadi Prasyarat muncul setelah melihat kebutuhan yang mutlak bagi penerapan faktor pendukung dan faktor model direct instruction karena penghambat pada penerapan model tahapan-tahapan perkembangan direct instruction. Faktor-faktor kemampuan praktik siswa dilihat secara pendukung diantaranya: sarana personal bukan secara kelompok, maka praktikum yang sudah sesuai standar, dari itu kebutuhan mesin juga untuk guru-guru mata pelajaran produktif personal siswa bukan untuk kelompok yang sudah mempunyai sertifikasi siswa. kompetensi keahlian. Sedangkan yang Evaluasi pada model direct menjadi faktor penghambat adalah instruction mempunyai karakteristik rasio guru dan siswa tidak sesuai sendiri. Menurut Arends (2008: 313) (Standar ILO) dan resistansi guru dikarenakan model ini digunakan terhadap pembaharuan. lebih tepat untuk mengajarkan Konsistensi guru yang dituntut keterampilan dan pengetahuan yang tinggi, sebenarnya tidak hanya pada dapat diajarkan langkah demi pelaksanaan model alternatif direct langkah, maka: “...evaluasi instruction ini, pada model seharusnya difokuskan pada tes-tes konvensional pun guru harus kinerja yang mengukur menunjukan kompetensi padeagogik perkembangan keterampilan dan dan profesionalnya. Kenapa faktor bukan pada tes-tes kertas dan pensil konsistensi ini muncul, mungkin karena tentang pengetahuan deklaratif.” 35
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Sehingga setiap perkembangan dengan Mesin Bubut yang pencapaian kompetensi siswa harus menggunakan model pembelajaran terus dipantau melalui lembar alternatif direct instruction lebih baik kemajuan siswa (observasi). dibandingkan peningkatan penguasaan Sehingga nantinya dapat diketahui pengetahuan prosedural siswa yang apakah siswa sudah siap untuk menggunakan model pembelajaran melakukan uji kompetensi atau konvensional. Hasil penelitian ini belum. Temuan ini nantinya akan didapatkan dengan prasyarat menjadi feedback bagi guru untuk pelaksanaan yaitu: (1) komitmen guru terus melakukan perbaikan dalam untuk lebih konsisten dan profesional proses belajar mengajarnya. pada saat melaksanakan program pembelajaran. (2) Sarana praktik yang Simpulan sesuai dengan standar sarana Kesimpulannya adalah prasarana (PP19/2005). (3) peningkatan penguasaan pengetahuan pengamatan kemajuan kerja praktik prosedural siswa SMK pada Mata siswa dilakukan pada saat Pelajaran Melakukan Pekerjaan pembelajaran praktik berlangsung. DaftarPustaka Anderson, L.W. dan Krathwohl, D.R. of Computer Graphics [Online]. (2001). A Taxonomy for Tersedia: http://v3d2.tu- Learning, Teaching, and bs.de/V3D2/pubs.collection/Mod Asessing: A Revision of Bloom’s Nav3D/procedural-knowledge- Taxonomy of Educational iknow-2005-final.pdf Objectives. A Bridged Edition. Hiro, S. (2008). Studi Perbandingan New York: Addison Wesley Hasil Belajar Siswa yang Diajar Longman, Inc. dengan Model Pembelajaran Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Langsung dengan Model Penelitian Suatu Pendekatan Pembelajaran Konvensional Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. pada Pokok Bahasan Sistem Creswell, J.W. (2010). Research Pencernaan pada Manusia Design: Pendekatan Kualitatif, Siswa Kelas VIII SMP Negeri 4 Kuantitatif dan Mixed. Bau-Bau. [Online]. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. http://www.unidayan.ac.id/print.p Gall D. Meredith, Gall P. Joyce, dan hp?id=20080506141706424&tip Borg R. Walter. (2003). e=journal [26 Maret 2011) Educational Research an Izzah, Ledil. (2009). Penerapan Startegi Introduction (7thed.). Boston: Direct Instruction dalam Allyn and Bacon. Pembelajaran Fiqh. Tesis Hake, R.R. (1999).Analyzing Magister pada IAIN Sunan Change/Gain Scores.[online] Ampel Surabaya: tidak Tersedia: http://lists.asu.edu/cgi- diterbitkan. bin/wa?A2=ind9903&L=aera- Joice, B. dan Weil, M (2009). Models of d&P=R6855. [10 oktober 2010]. Teaching (Model-model Hamalik, O. (2009). Proses Belajar Pembelajaran). Yogyakarta: Mengajar. Jakarta: Bumi Pustaka Karya. Aksara. Jong, T.D. (1997) Types and Qualities Havemann, S. (2005). Managing of Knowledge. Dalam Procedural Knowledge. Institut Educational 36
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Phsycologist[Online] no 31-2, 7 Sasmita, A.H. (2011). PENERAPAN halaman. Tersedia: MODEL PEMBELAJARAN http://doc.utwente.nl/26717/1/typ DIRECT INSTRUCTION es.pdf [24 Maret 2011] DALAM MENINGKATKAN Martawijaya, D.H. (2010) PENGUASAAN PENGEMBANGAN MODEL PENGETAHUAN PEMBELAJARAN TEACHING PROSEDURAL DAN HASIL FACTORY 6 BELAJAR SISWA DI SMK. LANGKAH(MODEL TF-6M) Tesis Magister pada SPS UPI UNTUK MENINGKATKAN Bandung: tidak diterbitkan. KOMPETENSI SISWA DALAM Sow Lai, Kong. (2006). “The Effect Of MATA PELAJARAN Constructivist-Strategies And PRODUKTIF SEKOLAH Direct Instruction Using MENENGAH KEJURUAN. Multimedia On Achievment Disertasi Doktor pada SPS UPI Among Learners With Different Bandung: tidak diterbitkan. Psychological Profiles” Tesis Rachanah, N. (2010). Pengenbangan Magister pada Universiti Sains Model Pembelajaran Malaysia: tidak diterbitkan. Berorientasi Kontrustivistik Sudjana. (2005). Metoda Statistika . untuk Meningkatkan Kualitas Bandung: Tarsito Pembelajaran Akutansi di SMA Sugiyono. (2011). Metode Penelitian [Online]. Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Tersedia:http://jurnal.upi.edu/file Bandung: Alfabeta. /Nanih_Rachanah.pdf [25 Maret Tim Penyusun. (2008). Kamus Bahasa 2011] Indonesia. Jakarta: Depdiknas 37
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 VIRTUAL REALITY SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN DAN PELATIHAN PEMROGRAMAN CNC Oleh: Bambang Setiyo Hari Purwoko Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY Abstrak Information and Communication Technology which grow very fast can be useful in education, especially in the effort of improving the quality and efficiency in implementation of education. This article tries to describe one of effort to use information and communication technology especially a virtual reality as the instructions and training media of CNC programing. Implementation begins by develop CNC’ virtual reality machine, is a build of computer software which provides a visual effect of environment of CNC machine in a computer screen. The build use research and development (R&D) method. Implementation of CNC virtual reality machine in CNC programming instructions shows; (1) the students very interesting and intens using the virtual reality program which provides a visual effect of environment of CNC machine in the monitor, active trying the simulation of numpad virtual in the monitor, input data on the CNC virtual panel and making simulation of the CNC program running, (2) the students are practice to make and runs the CNC programing individualy in the classroom or outside. (3) a CNC virtual reality that can be use as learning media and CNC training program classically (in classroom), individual learning, even through by e-learning. Kata kunci: instructional-media, virtual-reality, CNC programing pembimbingan untuk menanamkan Pendahuluan sikap konstruktif, sedangkan pelatihan Departemen Pendidikan Nasional untuk meningkatkan keterampilan. (Depdiknas) bertepatan dengan hari Salah satu bidang yang Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei berkembang cukup pesat di 2006 telah menetapkan Rencana masyarakat khususnya industri, adalah Strategis (Restra) Pembangunan sistem otomatisasi proses produksi. Pendidikan. Restra Pembangunan Pada saat ini hampir semua industri Pendidikan itu bertumpu pada tiga pilar, terus semakin memperluas otomatisasi salah satunya adalah peningkatan proses produksi dan menggantikan relevansi dan daya saing mutu perangkat manufaktur yang digunakan pendidikan (Kompas: 2 Mei 2006). dengan mesin-mesin dan peralatan Agenda peningkatan relevansi yang dapat dikendalikan secara dan daya saing mutu pendidikan, otomatis guna mendukung sistem ditempuh dengan melakukan otomatisasi tersebut. penyesuaian kurikulum pendidikan Dalam rangka meningkatkan dengan perubahan kebutuhan relevansi, dan daya saing mutu masyarakat yang berkembang sangat pendidikan, maka sistem otomatisasi ini dinamis. Penyesuaian tersebut harus dimasukkan dalam kurikulum, secara nyata dituangkan dan khususnya kurikulum pendidikan diwujudkan sebagai bentuk pengajaran bidang teknik mesin, mulai dari Sekolah (teaching), pembimbingan (guiding), Menengah Kejuruan (SMK) bidang dan pelatihan (training). Pengajaran keahlian Mesin Produksi, sampai untuk memberikan pengetahuan, perguruan tinggi jurusan Teknik Mesin. 38
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Namun demikian memasukkan sistem menyebabkan proses pembelajaran otomatisasi produksi ke dalam CNC dilakukan secara berkelompok kurikulum pendidikan bukan persoalan dan bergiliran dalam mengoperasikan sederhana, karena terkait dengan mesin. Bagi program studi atau jurusan banyak faktor. teknik mesin yang tidak memiliki mesin Diungkapkan Indra Djati Sidi CNC, proses pembelajaran (2001:37), bahwa berdasarkan pemrograman CNC dilakukan sama beberapa hasil penelitian pendidikan, sekali tidak menggunakan mesin CNC. guru merupakan salah satu faktor Kondisi demikian menyebabkan dominan yang sangat menentukan mahasiswa tidak memiliki kesempatan tingkat keberhasilan anak didik dalam untuk berinteraksi dengan mesin CNC, melakukan transformasi ilmu sehingga tidak memperoleh pengetahuan dan teknologi, serta pengalaman dalam mengoperasikan internalisasi etika dan moral. Menurut mesin, sehingga kemampuannya dalam Winarno Surakhmad (Pannen, dkk, membuat program CNC cenderung 1999:6), penyelenggaraan pendidikan tidak mencapai standar yang memerlukan terpenuhinya persyaratan ditetapkan. tertentu. Selain pengajar harus Peningkatan kualitas profesional, diperlukan juga biaya dan pembelajaran CNC dapat ditempuh infrastruktur pendidikan yang memadai. dengan memberi kesempatan seluas- Apabila pendidikan dise-lenggarakan luasnya kepada setiap individu kurang memperhatikan persyaratan mahasiswa/siswa untuk berlatih yang ditetapkan, maka akan muncul membuat program CNC dan kondisi negatif, yang eksesnya proses mengaplikasikan programnya pada pembelajaran menjadi tidak berkualitas, mesin CNC. Namun demikian untuk dan sasaran pembelajaran tidak dapat menyiapkan mesin CNC sebanyak dicapai. jumlah mahasiswa, membutuhkan Kondisi infrastruktur pendidikan biaya sangat besar dan tidak setiap yang kurang memadai, banyak program studi teknik mesin mampu ditemukan di lapangan, salah satu yang memenuhinya. Oleh kaena itu untuk paling menonjol adalah di dalam proses memenuhi kebutuhan pembelajaran pembelajaran pemrograman CNC, yaitu pemrograman CNC, perlu salah satu bidang otomatisasi, baik di dikembangkan media pembelajaran perguruan tinggi maupun di SMK berupa virtual reality mesin CNC. jurusan teknik mesin. Mesin CNC yang Media virtual reality mesin CNC merupakan fasilitas utama untuk adalah program komputer yang apabila membentuk kompetensi pemrograman dijalankan, pada layar komputer dan pengoperasian CNC jumlahnya (monitor) akan muncul tampilan gambar kurang memadai dibandingkan dengan dua dimensi suatu mesin CNC lengkap jumlah mahasiswa/siswa yang harus dengan tombol-tombol pengoperasian, dilayani, bahkan banyak jurusan atau menyerupai keadaan sebenarnya dari program studi teknik mesin yang tidak mesin CNC. Tombol-tombol memiliki mesin CNC. pengoperasian virtual pada layar dapat Konsekuensi dari jumlah mesin berfungsi sebagaimana fungsi tombol CNC yang tidak sebanding dengan pada mesin CNC sesungguhnya. Media jumlah mahasiswa/siswa ini virtual reality ini merupakan 39
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 representasi dari mesin CNC, dapat tujuan kognitif, komputer dapat berfungsi (1) Mensimulasikan fungsi- mengajarkan konsep-konsep aturan, fungsi tombol pada panel kontrol, (2) prinsip, langkah-langkah, proses, dan Mensimulasikan pemasukan program kalkulasi yang kompleks. Komputer CNC (data input) sebagai data juga dapat menjelaskan konsep masukan ke dalam sistem kontrol tersebut secara sederhana dengan mesin CNC, dan (3) Mensimulasikan penggabungan visual dan audio yang eksekusi program CNC berupa animasi dianimasikan, sehingga cocok untuk jalannya proses pemesinan pada mesin kegiatan pembelajaran mandiri. CNC. Untuk tujuan psikomotor, Permasalahan dalam upaya komputer dapat menyajikan pemanfaatan virtual reality sebagai pembelajaran yang dikemas dalam media untuk pembelajaran bentuk game & simulasi yang sangat pemrograman CNC adalah: bagus digunakan untuk menciptakan 1. Bagaimanakah pengembangan kondisi dunia kerja. Beberapa contoh virtual reality yang dapat program antara lain; simulasi menampilkan visualisasi pendaratan pesawat, simulasi perang lingkungan nyata suatu mesin CNC dalam medan yang paling berat dan pada layar komputer? sebagainya. Untuk tujuan afektif dapat 2. Bagaimanakah kelayakan virtual dilakukan bila program didesain secara reality tersebut sebagai media tepat dengan memberikan potongan pembelajaran pemrograman CNC? klip suara atau video yang isinya menggugah perasaan. Dengan Artikel ini bertujuan; (1) demikian, pembelajaran sikap/afektif Menguraikan proses pengembangan pun dapat dilakukan mengunakan suatu virtual reality yang dapat media komputer. menerima masukan dan dapat bereaksi Simulasi secara umum dapat sebagaimana mesin CNC yang digolongkan menjadi tiga macam. sesungguhnya, (2) Menguji kelayakan Pertama, simulasi interaktif dan fisikal. virtual reality tersebut sebagai media Simulasi fisik lebih mengacu pada pembelajaran pemrograman CNC. simulasi objek fisik untuk menggantikan Kemajuan teknologi khususnya sistem nyata. Objek fisik ini sering komputer, sebaiknya juga dimanfaatkan dipilih sebab mereka lebih kecil atau dalam bidang pembelajaran. Bentuk lebih murah dibanding sistem atau pemanfaatan komputer dalam obyek yang nyata, seperti pada pembelajaran terutama sebagai media simulator penerbangan. interaksi dan aplikasi pembelajaran Kedua, Simulasi komputer. yang bersifat praktik dan latihan (drill & Simulasi komputer adalah suatu usaha practice), simulasi (simulation), untuk meniru situasi nyata dalam suatu penemuan (discovery), tutorial, komputer, sehingga situasi dapat pemecahan masalah (problem solving), dipelajari untuk dilihat bagaimana dan permainan (games). sistem itu bekerja. Dengan mengubah Pemakaian komputer dalam variabel, kemungkinan peramalan kegiatan pembelajaran sedikitnya dapat dibuat tentang perilaku sistem itu. mempunyai tiga tujuan, yaitu tujuan Ketiga, simulasi dalam pelatihan. kognitif, psikomotor, dan afektif. Untuk Simulasi sering digunakan pada 40
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 pelatihan sipil dan personil militer. Ini bentuk visual, dibandingkan penyajian pada umumnya terjadi ketika terhalang dalam bentuk non visual. oleh harga yang mahal atau terlalu Pelatihan dengan VR bisa sangat mengurangi biaya dibandingkan berbahaya untuk mengijinkan anggota dengan pelatihan secara biasa. pelatihan untuk menggunakan Kebutuhan akan peralatan pelatihan peralatan yang nyata dalam dunia yang mahal dalam laboratorium nyata, nyata. atau peralatan tambahan untuk Simulasi tentang lingkungan nyata pelatihan dapat dikurangi. Keuntungan yang dibuat oleh komputer, dan menggunakan VR sebagai alat pengguna dapat berinteraksi dengan pelatihan adalah; (1) mengurangi waktu hasil yang menampakkan isi dari pelatihan dalam lingkungan nyata, (2) kenyataan lingkungan disebut dapat mengadakan pelatihan dalam kenyataan virtual (Virtual Reality). VR kondisi yang sangat berbahaya, (3) merupakan suatu format interaksi lebih menghemat biaya pada pelatihan manusia-komputer di mana suatu yang sama, (4) menyediakan akses tak lingkungan nyata atau khayal terbatas kepada peralatan yang mahal, disimulasikan dan para pemakai dapat (5) meng-hapuskan biaya bepergian ke berhubungan dan menggerakkan dunia pusat pelatihan, (6) biaya itu. Dalam lingkungan virtual yang perbaikan/penggantian mesin-mesin paling berhasil, para pemakai mahal dikurangi, dan (7) merasakan bahwa mereka sungguh- memungkinkan pelajar bisa berada di sungguh hadir di dunia yang suatu area geografis yang luas. disimulasikan dan bahwa pengalaman Mesin CNC (Computer Numerical mereka di dalam dunia virtual Control) adalah suatu mesin yang sebanding dengan apa yang akan proses pengoperasiannya dikendalikan mereka alami pada lingkungan oleh sistem CNC, yaitu suatu sistem sebenarnya. kontrol yang dalam proses kerja Virtual Reality dapat diterapkan pengontrolannya dilakukan pada berbagai bidang. Di dalam riset menggunakan perintah berupa kode- teknik dan ilmiah, lingkungan virtual kode huruf dan angka (alpha-numeric- digunakan secara visual untuk code). Susunan perintah dalam kode menyelidiki apapun yang terjadi pada huruf dan angka yang tersusun peristiwa dunia fisik yang sedang dalam sedemikian rupa dan digunakan untuk pengamatan. Pelatihan untuk pekerjaan mengatur operasi mesin dalam rangka pada lingkungan berbahaya atau pembuatan suatu produk disebut dengan peralatan mahal lebih baik program CNC. dilaksanakan melalui simulasi. Pengembangan virtual reality Misalnya, pilot pesawat udara berlatih dilakukan menggunakan metode dengan simulator penerbangan. penelitian pengembangan. Prosedur, Kenyataan virtual memungkinkan langkah, dan tahapan personil medis untuk praktik prosedur pengembangannya seperti terlihat pembedahan baru pada individu yang dalam Gambar 1. ditirukan (manusia tiruan). Pembahasan Salah satu indera yang banyak Virtual Reality yang digunakan untuk mendapatkan dikembangkan adalah Virtual Reality informasi dari lingkungannya adalah CNC. Sebagai referensi atau rujukan penglihatan. Indera penglihatan pengembangan adalah mesin CNC TU- digunakan lebih dari indera yang lain 2A, yaitu mesin bubut CNC tipe training dalam memproses informasi. Banyak merk EMCO buatan pabrik EMCO penelitian psikologi menunjukkan Maier Austria. Mesin CNC jenis ini bahwa lebih banyak informasi dapat digunakan secara luas di perguruan dimengerti ketika disajikan dalam tinggi, dan SMK. Produk dikembangkan 41
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 menggunakan pemrograman Visual efek visual suatu lingkungan fisik mesin Basic 6, dioperasikan dengan Sistem CNC pada layar komputer. Lingkungan Operasi Windows XP. Hasil fisik mesin CNC yang ditampilkan pengembangan berupa program meliputi panel kontrol, monitor, dan komputer, yang dapat menghadirkan penjepitan benda kerja pada mesin. Mulai Konsep Desain Revisi Pengumpulan Materi Asembly Tidak Inspeksi Ya Black Tidak Box test Ya Tidak Uji Ahli Ya Tidak Uji Alpha Ya Selesai Gambar 1. Diagram Alir Proses Pengembangan Virtual Reality. 42
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 5 1 2 7 6 3 4 8 Gambar 2. Papan Kontrol Desain tampilan panel kontrol 2. Pelayanan kaset, pada media ini dibuat mirip dengan panel kontrol program yang telah dibuat dapat mesin CNC TU-2A. Hal ini disimpan ke dalam bentuk file text dimaksudkan agar situasi dan perasaan (dengan format ”*.vnc” atau ”*.txt”), dan pengguna seolah-olah sedang berada program tersebut dapat panggil kembali atau menghadapi sebuah papan kontrol untuk dijalankan atau diedit. mesin CNC TU-2A yang sesunguhnya. Di samping merasa nyaman dalam 3. Saklar spindel utama. Saklar ini menggunakannya juga akan dapat disimulasikan dalam tiga posisi, merasakan sensasi tantangan yang yaitu posisi ”0”,”1”, dan ”CNC”. Fungsi mirip dengan tantangan ketika saklar untuk menyalakan spindel utama menangani mesin yang nyata. baik pada fungsi pengoperasian CNC Tampilan panel kontrol diperlihatkan maupun fungsi pengoperasian manual. dalam Gambar 2. 4. Tombol pengoperasian secara Tidak semua panel dan tombol manual, yaitu tombol penggerak pahat yang divisualkan pada panel kontrol pada arah sumbu X dan Z secara fungsinya dapat disimulasikan, manual. beberapa hanya merupakan gambar 5. Display Address. Bentuknya adalah atau sebagai hiasan agar terkesan lampu indikator dan LCD display untuk papan kontrol lebih interaktif dan nyata. memunculkan kode dan data (program Hanya saklar dan tombol yang sering NC) yang akan dimasukkan ke dalam digunakan fungsinya dapat komputer Unit Kontrol Mesin. dioperasikan atau disimulasikan. Di antara saklar dan tombol tersebut 6. Tombol Pengoperasian CNC, yaitu adalah: Numpad untuk menuliskan kode dan angka (program NC) yang dibuat pada 1. Saklar utama (main swtch). Saklar layar komputer dan memasukkannya ini dapat disimulasikan dalam dua ke dalam memori, dan tombol-tombol posisi, yaitu posisi ”0” dan ”1” yang berfungsi dalam pengeditan (ON/OFF). Fungsi saklar utama untuk program, yaitu DEL untuk menghapus menyalakan dan mematikan Mesin karakter yang tertulis, REV untuk CNC. Tombol emergency stop. Tombol menggerakkan kursor ke baris berwarna merah, di sebelah kanan sebelumnya, dan FWD untuk Saklar Utama ini tidak disimulasikan menggerakkan kursor ke baris sehingga fungsinya hanya sebagai berikutnya. pelengkap tampilan. 43
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 7. Tombol H/C untuk merubah program Pada bagian ini animasi dari layanan CNC ke layanan manual pembubutan ditampilkan. Jendela dan sebaliknya. animasi terdiri dari beberapa komponen utama dan komponen pendukung. 8. terakhir adalah tombol start untuk Komponen utamanya adalah; (1) memulai menjalankan program yang pencekam, (2) benda kerja, (3) senter telah ditulis. kepala lepas, (4) pahat bubut, (5) Layar komputer adalah layar penggaris, (6) blok-milimeter (grid), (7) tempat penulisan program, yaitu bagian posisi koordinat, (8) titik pusat koordinat yang menampilkan program CNC yang dan (9) tombol untuk mengubah ditulis, fungsinya sama seperti monitor tampilan dari jendela animasi ke pada mesin CNC. Bagian ini jendela ploter. Tampilan Jendela menampilkan daftar perintah sesuai animasi diperlihatkan dalam Gambar 4. urutan yang akan dieksekusi jika program dijalankan. 6 1 2 3 8 7 4 9 5 Gambar 4. Jendela Animasi Fungsi program dibuat dalam Berdasarkan rancangan dua model layanan yaitu layanan tampilan, produk dapat dibuat sesuai manual dan layanan CNC. Layanan rancangan dan mampu menampilkan manual mempunyai tiga fungsi utama sosok mesin CNC khususnya bagian- yaitu : fungsi untuk menggerakkan bagian utama yang visualisasinya pahat maju dan mundur sesuai dengan memberi efek kehadiran mesin yang arah sumbu X dan Z dengan sebenarnya (menampilkan papan menggunakan tombol “X+”, “X-“, “Z+”, kontrol, pencekaman benda kerja, dan dan “Z-“; menentukan letak pahat pada pisau dengan komposisi dan proporsi posisi 0 pada sumbu X dan Z dengan yang seimbang). menekan tombol ”DEL”; dan fungsi untuk memutarkan spindel utama 44
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 mesin, dengan menempatkan posisi masukan (input) yang dapat diproses saklar spindel utama pada angka “1”. menjadi keluaran (output). Respon atau Pada fungsi CNC, tombol ketik keluaran atas masukan yang diberikan, pada layar monitor (tombol virtual) divisualkan sebagai jalannya dapat berfungsi untuk menuliskan, pembacaan program CNC oleh unit mengubah, dan memperbaiki program kontrol mesin. Jalannya program CNC CNC dengan baik. Fungsi tombol dapat diamati melalui simulasi gerakan angka ”0” sampai dengan ”9”, tombol perkakas sayat pada jendela animasi di ”INP”, ”DEL”, ”REV”, dan ”FWD”, virtual layar komputer. dapat berfungsi untuk menulis dan Respon dari masukan yang mengedit data masukan dengan baik. berupa perintah (kode) pemrograman Demikian pula tombol ”START”, dan CNC dapat disimulasikan dengan saklar utama ON/OFF dapat animasi gerakan pahat bubut relatif dioperasikan fungsinya identik dengan terhadap benda kerja. Kode fungsi tombol tersebut pada mesin pemrograman CNC yang dapat CNC. Salah satu kelebihan produk diproses dan dianimasikan masih yang dikembangkan adalah dapat terbatas, yaitu hanya terbatas pada menyimpan program CNC yang telah kode perintah yang sering digunakan ditulis, memanggil program yang pada awal latihan pembuatan program tersimpan untuk diaktifkan dan CNC untuk mesin CNC TU-2A. Kode- ditampilkan pada layar. kode perintah tersebut di antaranya: Di samping itu, program CNC kode ”G00”, ”G01”, ”G02”, ”G03”, yang tertulis pada jendela penulisan ”G90”, ”G91”, ”G92” ”M03”, ”M05” dan program CNC juga dapat dijalankan. ”M30”. Hasil Animasi jalannya program Program yang tertulis merupakan dapat dilihat pada Gambar 5. Gambar 5. Hasil Animasi Ekskusi Program CNC 45
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Dapat disimpulkan bahwa Berdasarkan kriteria produk penelitian ini berhasil mengembangkan sebagai media yang memvisualkan soft-ware program CNC Virtual, yaitu mesin CNC, dapat dijelaskan bahwa suatu program berbasis komputer yang produk memiliki tampilan baik, terutama menghadirkan efek visual prinsip dilihat dari segi format tampilan, pengoperasian Mesin CNC, dalam hal keserasian bentuk dan warna, dan ini CNC TU-2A pada layar komputer. kesesuaiannya dengan papan kontrol Soft-ware program dapat menginisiasi, mesin yang sesungguhnya. Di samping melakukan translasi (penerjemahan), itu produk yang dikembangkan juga dan memberi respon setiap masukan mudah digunakan/dioperasikan, dan (input) dengan baik. Respon (output) mampu membangun interaksi dengan hasil inisiasi dan penerjemahan dari baik antara pengguna dan media yang masukan berupa kode-kode perintah sedang digunakan. Oleh karena itu dalam program NC, secara visual tidak produk dapat menjadi sarana latihan berbeda dengan respon yang dilakukan pembuatan program CNC, sarana oleh mesin CNC yang sebenarnya berinteraksi langsung, dan sarana yang apabila sistem kontrol mesin diberi memungkinkan pengguna belajar masukan yang sama. mandiri secara baik. Meskipun dalam pengembangan Berdasarkan kriteria sebagai produk, khususnya tampilan telah media yang mampu membantu berhasil dengan segala kekurangan memperjelas konsep bahan ajar, dapat dan kelebihannya, akan tetapi produk diketahui bahwa produk yang pengembangan belum mampu dikembangkan materinya mampu menampilkan animasi jalannya program memperjelas konsep bahan ajar untuk semua jenis kode perintah. dengan baik, karena materi-materi yang Usaha pengembangan penerjemahan divisualkan produk memiliki kesesuaian program CNC ke animasi sudah dapat dengan materi pembelajaran dibuat meskipun masih terbatas untuk Pemesinan NC, misalnya materi beberapa kode-kode dasar dan tentang kode-kode pemrograman, dan sederhana, sehingga produk belum pembuatan program NC-nya. Di sepenuhnya dapat digunakan untuk samping kesesuaian materi yang melatih pemrograman mesin CNC diajarkan juga terdapat kesesuaian secara memadai. antara animasi gerakan pahat yang Hasil pengembangan produk dilakukan produk dengan gerakan dilihat dari kriteria produk sebagai suatu pahat yang sesungguhnya dalam mesin media pembelajaran menyangkut dua CNC. Hal ini menyebabkan pengguna hal; (1) produk mampu memberikan menjadi lebih dapat memahami materi gambaran dan efek visual fungsi konsep pemrograman, karena konsep operasional mesin CNC sehingga dapat tersebut dapat secara langsung menjadi media yang dapat memberi divisualkan melalui animasi pada pengalaman visual kepada pengguna, produk yang dikembangkan. dan (2) produk mampu memperjelas konsep bahan/materi pembelajaran Simpulan sehingga dapat membantu pengguna Berdasarkan hasil penelitian dan dalam memahami materi pembelajaran pembahasan yang telah diuraikan, dengan baik. 46
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 dapat ditarik beberapa kesimpulan, di perlu lagi dikembangkan agar antaranya: menjadi lebih lengkap. 1. Virtual reality yang dikembangkan b. Materi yang dikandung oleh dengan menggunakan software media ini sudah baik, Visual Basic 6 sebagai basis khususnya untuk tahap awal rekayasa, dapat diwujudkan sesuai pembelajaran mesin CNC. dengan spesifikasi atau Dilihat dari segi kualitas materi perencanaan awal pengembangan yang dikandungnya media ini yang diinginkan. Apabila dijalankan, mampu untuk menampilkan produk dapat menampilkan simulasi gerakan program CNC visualisasi lingkungan fisik mesin pada kode program dasar, bubut CNC yang meliputi; kontrol dimana pengguna bebas untuk panel lengkap dengan asesoris dan mengkombinasikan kode-kode tombol pengoperasiannya, sistem program yang dimasukkan pencekaman (clamping) benda untuk melihat bagaimana hasil kerja, pahat bubut, simulasi fungsi dari masukan data yang operasi, dan animasi jalannya diberikan. proses pemesinan dari program NC c. Pada pembelajaran yang dijalankan. Beberapa perintah pemrograman CNC pemrograman CNC yang dibuat. menggunakan virtual reality sudah dapat dijalankan oleh media CNC mahasiswa secara yang dikembangkan ini dengan individual aktif berlatih membuat baik, akan tetapi dalam dan menjalankan program CNC penggunaannya masih terdapat bug pada mesin CNC virtual baik di pada kode-kode tertentu, sehingga dalam kelas maupun di luar masih memerlukan revisi dan kelas, dan pengembangan lebih lanjut. d. virtual reality CNC dapat 2. Dalam kelayakan sebagai media digunakan sebagai media pembelajaran CNC, virtual reality pembelajaran dan pelatihan yang dikembangkan telah pemrograman CNC di dalam memenuhi persyaratan sebagai kelas, individual di luar kelas, media pendidikan, karena dan melalui e-learning. memenuhi kriteria dalam beberapa hal, antara lain: Daftar Pustaka a. Dalam segi kualitas tampilan, Arif S. Sadiman. (1993). Media navigasi dan pengoperasian, pendidikan, pengertian, maupun pada interaksinya pengembangan dan pemanfaatan. terhadap pengguna, produk Jakarta: CV Rajawali mencapai krtiteria baik. Akan tetapi kualitas tampilan, seperti Groover, Mikel P. and Zimmers, Emory komposisi warna masih perlu W. Jr. (1984). Computer design ditingkatkan untuk menambah and manufacturing. New York: kesan lebih nyata. Demikian Prentice-Hall International, Inc. pula dalam kemampuannya Oemar Hamalik. (1986). Media melakukan simulasi dan animasi pendidikan. Bandung: Alumni kode program-program CNC, 47
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Hollebrandse, J.J.M. (1988). Teknik dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi pemrograman dan aplikasi CNC. (PPTK dan KPT). Jakarta : PT. Rosda Jayaputra Sommerville, Ian. (2003). Software Muhamad Ikhsan. (2006). Prinsip engineering, rekayasa perangkatl pengembangan media pendidikan- lunak. Jakarta : Penerbit Erlangga sebuah pengantar. Nana Sudjana, Ahmad Rivai. (2001). http://teknologipendidikan.wordpres Media pengajaran. Bandung: CV. s.com/Prinsip Pengembangan Sinar Baru Media Pendidikan-Sebuah Pengantar-Teknologi Tabrani Rusyan. (1989). Pendekatan Pendidikan.htm dalam proses belajar mengajar. Bandung: Remaja Karya. Issac, S., Michael, W.B., (1994). Hanbook in research and Taufiq Rochim. (1993). Teori dan education. California: Edits teknologi proses pemesinan. Publishers. Jakarta: Higher Education Development Support Project. Mehrens, W.A. and Lehman, I.J. (1984). Measurement and Team. (2004). Software testing guide evalution in educa-tional and book part i: Fundamentals of psychology. New York: Holt, software testing. Software Testing Rinehart and Winston. Research Lab : http://www.SofTReL.org Rinanto, Andre. (1984). Peranan media audio visual dalam pendidikan. Wen-Chai Song & Shih-Ching Ou. Yogyakarta: Yayasan Kanisius (2003). Using virtual reality modelling to improve training Soenarto. (2005). Metodologi Penelitian techniques. Taiwan : National Pengembangan Untuk Central University Peningkatan Kualitas Pembelajaran. Departemen Williams, Laurie. (2004). Testing Pendidikan Nasional: Direktorat overview and black-box testing Pembinaan Tenaga Kependidikan techniques. 48
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 PENERAPAN TOTAL QUALITY MANAGEMENT IN EDUCATION (TQME) PADA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN Suatu Upaya Untuk Memenuhi Kebutuhan Sistem Industri Moderen Oleh: Dwi Rahdiyanta Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY Abstrak Penerapan total quality management in education (TQME) pada SMK harus dijalankan atas dasar pengertian dan tanggungjawab bersama untuk mengutamakan efisiensi dan peningkatan kualitas dari proses pendidikan di SMK.Melalui penerapan TQME dalam sistem pendidikan di SMK yang dijalankan secara terus menerus dan konsisten, maka SMK akan mampu memenangkan persaingan global yang amat sangat kompetitif dan memperoleh manfaat (ekonomis dan non ekonomis) yang dapat dipergunakan untuk pengembangan SMK dan sekaligus untuk peningkatan kesejahteraan personil yang terlibat di SMK. Kata kunci: TQM, SMK Pendahuluan (manageable),sebagaimana halnya dengan kualitas barang.Secara Fenomena menarik yang perlu konseptual, manaje-men kualitas dicermati dari lulusan Sekolah dapat diterapkan baik pada barang Menengah Kejuruan (SMK) adalah maupun jasa, karena yang ditekankan ketidakmampuan lulusan untuk cepat dalam penerapan manajemen kualitas beradaptasi dengan kebutuhan dunia adalah peningkatan sistem kualitas. industri moderen.Hal ini berakibat Dengan demikian yang perlu pada tingkat pengangguran lulusan diperhatikan dalam pengembangan SMK yang dari waktu ke waktu terus manajemen kualitas adalah meningkat, sebaliknya banyak tenaga- pengembangan sistem kualitas yang tenaga kerja asing yang berdatangan terdiri dari : perencanaan sistem ke Indonesia untuk memasuki pasar kualitas, pengendalian sistem kualitas, tenaga kerja di Indonesia.Penyebab dan peningkatan sistem kualitas. utama dari masalah tersebut adalah Untuk itulah maka sudah adanya kesenjangan persepsi antara saatnya kita segera menerapkan TQM pengelola SMK dalam menghasilkan (Total Quality Manajemen) pada lulusannya dan pengelola industri sistem pendidikan khususnya di SMK untuk menggunakan lulusan SMK di (educational system) yang sering Indonesia. disebut sebagai :Total Quality Banyak usaha telah Manajemen in Education (TQME). dirumuskan para ahli khususnya ahli Agar penerapan TQME di SMK manajemen kualitas jasa atau dapat berjalan dengan baik maka pelayanan, agar dapat didesain dituntut adanya rasa pengertian dan (designable), dikendalikan (controll- tanggungjawab bersama untuk meng- able), dan dikelola utamakan efisiensi dan peningkatan 49
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 kualitas dari proses pendidikan di Strategi yang dikembangkan SMK. Melalui penerapan TQME dalam dalam penggunaan manajemen mutu sistem pendidikan di SMK yang terpadu dalam dunia pendidikan dijalankan secara konsisten dan terus adalah, institusi pendidikan menerus (continuous educational memposisikan dirinya sebagai institusi process improvement), maka SMK jasa ataudengan kata lain menjadi akan mampu memenangkan persa- industi jasa. Yakni institusi yang ingan global yang amat sangat memberikan pelayanan (service) kompetitif dan memperoleh manfaat sesuai dengan apa yang diinginkan baik pada aspek ekonomi maupun oleh pelanggan (customer). Jasa atau non ekonomi yang dapat digunakan pelayanan yang diinginkan oleh untuk pengembangan SMK itu dan pelanggan tentu saja merupakan peningkatan kesejahteraan personil sesuatu yang bermutu dan yang terlibat di didalamnya. memberikan kepuasan kepada mereka.Maka pada saat itulah, Pembahasan dibutuhkan suatu sistem mana-jemen 1. Manajemen Pendidikan Berba-sis yang mampu member-dayakan Industri institusi pendidikan di SMK agar lebih Di era kontemporer dunia bermutu. pendidikan dikejutkan dengan adanya Sebelum membahas tentang model pengelolaan pen-didikan sistem pendidikan di SMK, perlu berbasis industri.Penge-lolaan model diketahui tentang konsep dasar sistem ini mengandaikan adanya upaya pihak industri moderen yang akan pengelola institusi pendidikan untuk dipergunakan sebagai landasan meningkatkan mutu pendidikan utama untuk membahas pene-rapan berdasarkan manajemen perusa- TQME pada sistem pendidikan di haan.Penerapan manajemen mutu SMK. dalam pendidikan ini lebih populer Pada dasarnya proses industri dengan istilah Total Quality Education harus dipandang sebagai suatu (TQE). Dasar dari manajemen ini peningkatan terus menerus dikembangkan dari konsep Total (continuous industrial process Quality Managemen (TQM), yang improvement), yang dimulai dari pada mulanya diterapkan di dunia sederet siklus sejak adanya ide-ide bisnis kemudian diterapkan pada untuk menghasilkan suatu produk, dunia pendidikan. Secara filosofis, proses produksi, sampai kepada konsep ini menekankan pada distribusi kepada konsumen. pencarian secara konsisten ter-hadap Seterusnya berda-sarkan informasi perbaikan yang berkelanjutan untuk sebagai umpan balik yang mencapai ke-butuhan dan kepuasan dikumpulkan dari pengguna produk pelanggan. (pelanggan) itu dapat dikembangkan 50
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 ide-ide kreatif untuk menciptakan Inggris, yaitu : (1) berorientasi pada produk baru atau memperbaiki produk pelanggan, (2) memiliki kemampuan lama beserta proses produksi yang praktis dan aplikasialat-alat total ada pada sat ini. quality management (TQM),(3) Agar peningkatan produksi bisa embuat keputusan berdasarkan fakta, berjalan secara konsisten, maka (4) memiliki pemahaman bahwa dibutuhkan manajemen sistem bekerja adalah suatu proses, (5) industri. Pada garis besarnya berorientasi pada kelompok manajemen sistem industri terdiri dari (teamwork), (6) memiliki komitmen dua konsep, yaitu : (1) konsep untuk peningkatan terus menerus, (7) manajemen, dan (2) konsep sistem pembelajaran aktif (active learning), industri. Suatu sistem industri dan (8) memiloiki perspektif sistem. mengkonversi input yang berasal dari Menurut Gaspersz (2001), pemasok menjadi out put untuk menyatakan bahwa terdapat ke- digunakan oleh pelanggan, senjangan antara dunia pendidik-an sedangkan manajemen sistem industri dengan kebutuhan industri di memproses informasi yang berasal Indonesia adalah sebagai berikut : dari sistem industri, pelanggan, dan a. Lulusan dunia pendidikan (SMK) lingkungan melalui proses manajemen untuk menjadi keputusan atau x Hanya memahami teori tindakan manajemen guna x Memiliki keterampilan individual meningkatkan efektivitas dan efisiensi x Motivasi belajar hanya untuk dari sistem industri itu. lulus ujian Berdasarkan konsep manaje- x Hanya berorientasi pada men sistem industri moderen di atas, pencapaian grade atau nilai maka setiap lulusan SMK yang akan tertentu bekerja dalam sistem industri harus x Orientasi belajar hanya pada memiliki kemam-puan solusi masalah- mata diklat individual secara masalah industri yang berkaitan terpisah dengan bidang ilmu yang dikuasai x Proses belajar bersifat pasif, berdasarkan informasi yang rele-van hanya menerima informasi dari agar menghasilkan keputus-an- guru keputusan dan tindakan-tindakan x Penggunaan teknologi terpisah untuk meningkatkan kinerja sistem dari proses belajar. industri tersebut. Kemenande dan Garre (2000) b. Kebutuhan Industri mengidentifikasi delapan kategori x Kemampuan solusi masalah yang dibutuhkan untuk memenuhi berdasarkan konsep ilmiah permintaan bisnis dan industri di x Memiliki keterampilan kelompok Belgia, Belanda, Finlandia, dan (teamwork) 51
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 x Mempelajari bagaimana belajar proses pendidikan di SMK adalah efektif suatu peningkatan terus-menerus x Berorientasi pada peningktan (continuous educational process terus-menerus dengan tidak improvement), yang dimulai dari dibatasi pada target tertentu sederet siklus sejak adanya ide-ide saja. Setiap target yang dicapai untuk menghasilkan luluan (output) akan terus-menerus ditingkatkan yang berkualitas, pengembangan x Membutuhkan pengetahuan kurikulum, proses pembelajaran, terintegrasi antar disiplin ilmu sampai kepada ikut bertanggung untuk solusi masalah industri jawab untuk memuaskan pengguna yang kompleks lulusan SMK. Selanjutnya x Bekerja adalah suatu proses berdasarkan informasi sebagai umpan interaksi dengan orang lain dan balik yang dikumpulkan dari pengguna memproses informasi secara lulusan (external customers) itu dapat aktif. dikembangkan ide-ide kreatif untuk x Penggunaan teknologi mendesain ulang kurikulum atau merupakan bagian integral dari memperbaiki proses pendidikan di proses belajar untuk solusi SMK yang ada saat ini. Adapun masalah industri. konsep pemikiran manajemen sistem pendidikan menurut Deming(1986) dapat dilihat pada Gambar 1, berikut 2. Konsep Sistem Pendidikan di SMK ini. Sebagaimana konsep berfikir sistem industri moderen, maka manajemen SMK di Indonesia seyogyanya memandang bahwa Gambar 1. Roda Deming dalam Manajemen Pendidikan 52
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Dari gambar di atas, maka dunia harus memiliki kesamaan persepsi pendidikan khususnya SMK sudah tentang manajemen kualitas. Dalam saatnya me-lakukan reorientasi dan konsep manajemen kualitas moderen, redefinisi tujuan dari pendidik-an SMK, kualitas suatu SMK tidak cukup hanya yang dalam hal ini bukan sekedar ditentukan oleh kelengkapan fasilitas menghasilkan lulusan sebanyak- atau reputasi institusional. Kualitas banyaknya tanpa peduli akan adalah sesuatu standar minimum kepuasan pengguna lulusan, tetapi yang harus dipenuhi agar mampu pendidikan SMK harus bertanggung memuaskan pelanggan yang jawab untuk menghasilkan output menggunakan output (lulusan) dari (lulusan) yang kompetitif dan sistem pendidikan kejuruan, serta berkualitas agar memuaskan harus terus menerus ditingkatkan kebutuhan pengguna tenaga kerja sejalan dengan tuntutan pasar tenaga terampil. Konsekuensi dari pemikiran kerja yang semakin kompetitif. ini adalah bahwa penerapan TQME di Berkaitan dengan hal tersebut, SMK harus dijalankan atas dasar Spanbauer (1992) menyatakan bahwa pengertian dan tanggung jawab manajemen dunia pendidikan harus bersama untuk mengutamakan mengadopsi paradigma baru tentang efisiensi dan peningkatan kualitas manajemen kualitas lulusan SMK. Melalui penerapan roda moderen.Paradigma baru dan Deming dalam sistem pendidikan paradigma lama yang dianut oleh yang dijalankan secara konsisten, manajemen pendidikan dapat dilihat maka SMK akan mampu pada Tabel 1 berikut ini. memenangkan persaingan global Agar pemahaman dan adopsi yang amat sangat kompetitif dan paradigma baru tersebut di atas dapat memperoleh manfaat (ekonomis berhasil, maka dibutuhkan suatu maupun nonekonomis) yang dapat dipergunakan untuk pengembangan sistem pelatihan kepada pengelola SMK dan peningkatan personel yang SMK.Pelatihan TQME yang penting terlibat di SMK. bagi pengelola SMK dapat dilihat pada 3. Desain TQME untuk SMK Tabel 2. Sebelum TQME didesain untuk SMK, maka stakeholders dari SMK 53
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Tabel 1. Paradigma Baru dan Paradigma Lama dari Manajemen Pendidikan Paradigma Baru Paradigma Lama ¾ Siswa menerima hasil ujian, ¾ Hasil ujian tidak digunakan sebagai pembimbingan, dan nasehat agar informasi untuk memberikan membuat pilihan-pilihan yang sesuai bimbingan dan nasehat kepada ¾ Siswa diperlakukan sebagai siswa. pelanggan ¾ Siswa tidak diperlakukan sebagai ¾ Keluhan siswa ditangani secara pelanggan cepat dan efisien ¾ Keluhan siswa ditangani dalam ¾ Terdapat sistem saran aktif dari bentuk defensif dan dengan cara siswa negatif ¾ Setiap departemen pelayanan ¾ Siswa tidak didorong untuk menetapkan kepuasan pelanggan memberikan saran atau keluhan sesuai kebutuhan ¾ Staf departemen pelayanan tidak ¾ Terdapat rencana tindak-lanjut untuk memperlakukan karyawan lain penempatan lulusan dan dan/atau siswa sebagai pelanggan peningkatan pekerjaan. ¾ Tidak ada sistem tindak-lanjut yang ¾ Siswa diperlakukan dengan sopan, cukup atau tepat untuk siswa dan rasa hormat, akrap, penuh alumni pertimbangan ¾ Siswa dipandang sebagai inferior, ¾ Fokus manajemen pada tidak diperlakukan dengan rasa keterampilan kepemimpinan kualitas hormat, cara yang akrab dan penuh seperti : pemberdayaan dan pertimbangan partisipasi aktif karyawan ¾ Fokus manajemen pada pengawasan ¾ Manajemen secara aktif karyawan, sistem, dan operasional mempromosikan kerja sama dan ¾ Banyak keputusan manajemen solusi masalah dalam unit kerja dibuat tanpa masukan informasi dari ¾ Sistem informasi memberikan karyawan dan siswa laporan yang berguna untuk ¾ Sistem informasi usang dan tidak membantu manajemen dan guru membantu manajemen sistem ¾ Staf administrasi bertanggungjawab kualitas dan siap memberikan pelayanan ¾ Staf administrasi kurang memiliki dengan cara yang mudah dan cepat tanggung jawab dan kesiapan untuk guna memenuhi kebutuhan siswa. memberikan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan siswa. 54
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Tabel 2. Desain Sistem Pelatihan TQME bagi Pengelola Pendidikan Jenis Pelatihan Materi Pelatihan Peserta 1. Pelatihan Manajemen Proses, Statistical Kepala Sekolah, Manajemen Thinking, Pelayanan Pelanggan, Wakil Kepala Pembentukan Kelompok, dan Sekolah, Ketua Pemecahan Masalah. Jurusan, dan Ketua Program Studi 2. Pelatihan Guru Efektifitas dan Metode Pembelajaran, Guru Tetap, Guru Statistical Thinking, pelayanan Tidak Tetap. Pelanggan, Pembentukan Kelompok, dan Pemecahan Masalah. 3. Pelatihan Staf Pelayanan Pelanggan, pembentukan Semua Staf Pendukung Kelompok, Pemecahan Masalah, Pendukung manajemen Waktu, Keterampilan komunikasi, keterampilan bertelepon, dan Pengendalian Diri. Setelah memperoleh pelatihan pendidikan di SMK yang dijalankan dan siap menerima paradigma baru secara terus menerus dan konsisten, tentang manajemen pendidikan maka SMK akan mampu kejuruan yang berorientasi pada memenangkan persaingan global peningkatan kualitas dan kepuasan yang amat sangat kompetitif dan pelanggan, maka sistem TQME memperoleh manfaat (ekonomis dan secara lengkap dapat didesain, non ekonomis) yang dapat diimplementasikan, dan ditingkatkan dipergunakan untuk pengembangan terus-menerus di SMK. SMK dan sekaligus untuk peningkatan Simpulan kesejahteraan personil yang terlibat di Penerapan total quality SMK. Upaya ini juga akan mengurangi management in education (TQME) kesenjangan persepsi yang terjadi pada SMK harus dijalankan atas antara perguruan tinggi dan industri di dasar pengertian dan tanggungjawab Indonesia. Kita semua seyogyanya bersama untuk mengutamakan merenungkan secara mendalam, efisiensi dan peningkatan kualitas dari mengapa tingkat pengangguran proses pendidikan di SMK.Melalui lulusan SMK dari waktu ke waktu penerapan TQME dalam sistem terus bertambah, sedangkan di satu 55
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 pihak tenaga-tenaga kerja asing yang orang lain, berkomunikasi, berfikir nota bene adalah lulusan dari berdasarkan logika, solusi masalah, pendidikan luar negeri terus pembuatan keputusan, kemampuan berdatangan ke Indonesia dan untuk melihat sesuatu secara “merebut” lapangan kerja yang komprehensif dalam konteks sistem, seharusnya untuk lulusan SMK kita. dan pengendalian diri. Hal ini memberikan konsekuensi Daftar Pustaka ekonomi yaitu semakin banyak devisa Deming, W.E. (1986). Out of the yang tersedot untuk membayar upah Crisis.Massachusetts : dari tenaga-tenaga kerja asing Massachusetts Institute of Technology. tersebut. Solusinya adalah secepatnya kita menerapkan TQME Gaspersz, Vincent. (1997). Manajemen Kualitas untuk pada SMK, agar lulusannya mampu Industri Jasa.Jakarta : Gramedia bersaing di pasar tenaga kerja global. Pustaka Utama. Perlu diperhatikan bahwa Harrington, J.H. and James s. pengetahuan yang dapat diaplikasikan Harington. (1993). Total Improvement Management. New dalam sistem industri akan menjadi York : McGraw-Hill, Inc. sumber daya nasional yang paling Kemenade, E.V. and Paul Garre. efektif untuk membawa bangsa (2000). Teach What You Preach- Indonesia menuju kemajuan dan Higher Education and Business : Partners and Route to Quality mampu berkompetisi dengan bangsa- Progress Vol. 39, No.9, bangsa lain di dunia. Lulusan SMK September 2000, pp. 33-39. perlu dibekali juga dengan beberapa Spanbauer, S.J. (1992). A Quality kemampuan tambahan seperti : System for Education. Milwaukee, Winconsin : ASQC Kerjasama, berinteraksi dengan Quality Press. 56
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 IMPLEMENTASI PROBLEM BASED LEARNING (PBL) BERBANTUAN MODUL DALAM UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS PERKULIAHAN METROLOGI Oleh : Drs. Edy Purnomo, M.Pd. Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan kemandirian mahasiswa dalam Perkuliahan Metrologi dengan menerapkan PBL berbantuan modul; dan untuk mengetahui seberapa jauh perkuliahan Metrologi dengan penerapan PBL berbantuan modul dapat meningkatkan prestasi belajar mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan strategi Problem Based Learning (PBL). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi metode tes untuk mengetahui prestasi belajar mahasiswa, dokumentasi untuk mendapatkan catatan-catatan penting yang berhubungan dengan masalah pembelajaran, observasi untuk mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku secara langsung kelompok ataupun individu, wawancara digunakan untuk mengungkap data tentang pelaksanaan perkuliahan melalui pendekatan pembelajaran PBL berbantuan modul. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini berupa analisis deskriptif dan analisis kualitatif. Analisis deskriptif meliputi perhitungan nilai rerata, standar deviasi, dan persentase. Selanjutnya hasil pengamatan masing-masing siklus dipaparkan secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perkuliahan Metrologi dengan pendekatan PBL berbantuan modul dapat meningkatkan aktivitas dan kemandirian mahasiswa, serta dapat meningkatkan kualitas perkuliahan metrologi dan prestasi belajar mahasiswa. Dari nilai rerata yang didapatkan kelas A-1 yang diterapkan metode PBL menunjukkan nilai yang lebih tinggi. Selain itu nilai pos-test menunjukkan peningkatan. Dari nilai pre-test A-1 yang dilakukan reratanya 29,5 menjadi 74,5. dan kelas A-2 dengan rerata pre-test 28,25 menjadi 73,5, memang belumlah merupakan nilai yang tinggi, namun capaian nilai tersebut merupakan peningkatan yang baik dari mahasiswa, dibanding prestasi sebelumnya maupun dari kelas lain yang hasilnya lebih rendah. Berdasarkan hal tersebut dapat dinyatakan bahwa penerapan pendekatan PBL menunjukkan arah perbaikan peningkatan prestasi belajar mahasiswa. Dan berarti pula terdapat peningkatan kualitas perkuliahan metrologi Kata kunci: Implementasi PBL, Modul, Perkuliahan Metrologi. Pendahuluan pembelajaran metrologi yang Matakuliah metrologi merupakan mengakibatkan rendahnya prestasi matakuliah dasar keahlian yang akademik sebagai cermin kompetensi bertujuan untuk memberikan mahasiswa. pengalaman kepada mahasiswa dalam Salah satu pendekatan yang memahami metrologi, prinsip-prinsip layak di uji tindakan untuk mengatasi pengukuran, serta penggunaan alat- permasalahan perkuliahan metrologi alat ukur di industri permesinan. tersebut adalah pendekatan PBL. Dengan penguasaan materi ini Pendekatan ini akan memberikan diharapkan mahasiswa mempunyai kesempatan kepada mahasiswa untuk bekal yang cukup dalam melakukan lebih aktif dan kreatif menemukan ide- tugas-tugas perancangan, praktek ide, konsep-konsep baru berdasarkan produksi maupun quality control. pengalaman dan penemuannya sendiri. Namun demikian idealisasi tersebut Sesuai dengan karakteristik matakuliah belum sepenuhnya tercapai. Terdapat Metrologi, salah satu desain yang dapat beberapa permasalahan dalam diterapkan adalah metode Problem 57
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Based Learning (PBL). Penggunaan seumur hidup karena ketrampilan strategi ini memungkinkan terciptanya tersebut dapat ditransfer ke sejumlah kondisi pembelajaran yang kondusif topik pembelajaran yang lain, baik di dalam maupun di luar lingkup jurusan. bagi mahasiswa untuk belajar, bekerja Dengan PBL yang memfokuskan pada sama secara efektif dalam interaksi permasalahan yang mampu belajar mengajar, dan dosen membangkitkan pengalaman memberikan pengarahan dan pembelajaran maka para mahasiswa bimbingan terutama kepada mahasiswa khususnya yang mengalami kesulitan yang mengalami kesulitan belajar. belajar akan mendapat otonomi yang Pembelajaran model PBL tidak lebih luas dalam pembelajaran sehingga meningkatkan didesain untuk membantu dosen kemandiriannya. menyampaikan informasi yang banyak Dalam mengaplikasikan kepada mahasisiwa, tetapi didesain pendekatan PBL tentu dibutuhkan untuk membantu mahasisiwa berbagai sarana termasuk modul. Oleh mengembangkan pemikiran mereka, karenanya diperlukan pengembangan memecahkan masalah dan modul terlebih dulu sebagai sarana dan mengembangkan kemampuan perangkat penerapan pendekatan PBL dalam perkuliahan Metrologi. Penelitian intelektual. Dengan demikian peran ini bermaksud mengimplementasikan mahasiswa dan dosen dapat berjalan PBL berbantuan modul sebagai upaya secara optimal. Dengan metode ini meningkatkan kualitas perkuliahan diharapkan dapat mengurangi tingkat Metrologi yang ditunjukkan dengan pengulangan matakuliah. meningkatnya keaktifan, kemandirian, Beberapa penelitian (Albanese dan prestasi akademik. Lingkup penelitian ini dibatasi and Mitchell, 1993; Ditlehorst and pada proses belajar mengajar praktik Robb, 1998) menunjukkan bahwa hasil metrologi Kelas A1 dan A2, dengan belajar mahasisiwa pada kelas dengan modul praktikum beberapa job metode PBL lebih baik dibanding kelas praktikum yang telah direvisi, sbb: dengan metode klasik. Carolyn (1999) Kalibrasi dan Pemakaian Jangka dalam penelitiannya melaporkan bahwa Sorong; Kalibrasi dan Pemakaian penerapan metode PBL mampu Mikrometer; dan Kalibrasi Jam Ukur. Berdasarkan latar belakang masalah meningkatkan kemampuan mahasisiwa di atas, permasalahan penelitian ini dalam memahami dan mengaplikasikan dapat dirumuskan sebagai berikut: pegetahuan yang diperolehnya. Mary 1. Bagaimanakah meningkatkan and Lai (2002) menemukan bahwa aktivitas dan kemandirian pembelajaran model PBL mamapu mahasiswa dalam perkuliah an mengembangkan kemampuan Metrologi dengan menerapkan mahasisiwa untuk menjadi pebelajar PBL berbantuan modul? mandiri. 2. Apakah perkuliahan Metrologi Salah satu keuntungan dari PBL dengan penerapan PBL adalah para mahasiswa didorong untuk berbantuan modul dapat mengeksplorasi pengetahuan yang meningkatkan prestasi belajar telah dimilikinya kemudian mengembangkan ketrampilan mahasiswa? pembelajaran yang independen untuk mengisi kekosongan yang ada. Hal ini merupakan ketrampilan pembelajaran 58
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 nyata sebagai suatu konteks bagi 1. Karakteristik Pembelajaran Model Problem-based Learning pebelajar untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan ketrampilan Problem-based Learning pemecahan masalah, serta untuk merupakan pendekatan yang memperoleh pengetahuan dan konsep berorientasi pada pandangan kognitif yang esensial dari materi pelajaran. konstruktivistik yang memuat (Nurhadi, 2004). Dengan demikian PBL karakteristik kontekstual, kolaboratif, merupakan pembelajaran yang dipandu berpikir metakognisi, dan memfasilitasi oleh permasalahan. Sebelumnya pemecahan masalah. Pebelajar pebelajar diberikan permasalahan. dimungkinkan belajar secara bermakna Dalam hal ini diperlukan pengetahuan yang dapat mengembangkan baru untuk memecahkannnya kemampuan berpikir tingkat tinggi (http://chemeng.mcmaster.ca/pbl/pbl.ht melalui pemecahan masalah. m). Hal senada dikemukakan James Pembelajaran ini diharapkan mampu Rhem bahwa: meningkatkan pemahaman akan “PBL is seems self-evident: makna, meningkatkan kemandirian, its learning that results from meningkatkan pengembangan skill working with problems. berpikir tingkat tinggi, meningkatkan Official descriptions motivasi, memfasilitasi relasi antar generally describe it as "an pebelajar dan meningkatkan skill dalam instructional strategy in membangun teamwork which students confront (http://edweb.sdsu.edu/clrit/learningtree contextualized, ill-structured /PBL/PBLadvantages.htm). problems and strive to find Problem-based learning meaningful solutions”. merupakan pendekatan yang (www.ntlf.com/html/pi/9812/ membelajarkan pebelajar yang pb) dikonfrontasikan dengan masalah Pembelajaran berbasis masalah praktis, berbentuk ill-structured, atau juga merupakan pembelajaran yang open ended melalui stimuli dalam berpusat pada peserta didik, serta belajar (Boud dan Falleti, 1997 dalam didasari pada permasalahan nyata/real Demitra, 2003). Permasalahan yang world problem (http://www.pbli.org/pbl/ digunakan dalam Problem-Based pbl.htm). Lebih lanjut beberapa learning adalah permasalahan yang karakteristik pembelajaran PBL antara terkait dengan tujuan kurikulum, riil lain: (1) pebelajar harus peka terhadap (nyata), menantang, mendorong lingkungan belajarnya, (2) simulasi pebelajar mengembangkan strategi problem yang digunakan hendaknya pemecahan masalah, dan berbentuk ill-structured, dan membutuhkan pengetahuan baru untuk memancing penemuan bebas (free for memecahkan masalah inquiry), (3) pembelajaran (www.physsci.heacademy.ac.uk/Public diintegrasikan dalam berbagai subyek, ations/ Primer/intrpbl4.pdf). (4) pentingnya kolaborasi, (4) Pembelajaran berbasis masalah pembelajaran hendaknya (Problem-based Learning) juga menumbuhkan kemandirian pebelajar merupakan pendekatan pembelajaran dalam memecahkan masalah, (5) yang menggunakan masalah dunia aktivitas pemecahan masalah 59
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 hendaknya mewakili pada situasi nyata, aktif, integratif, dan konstruktif dan (6) penilaian hendaknya mengungkap kontekstual (Barrows, 1996; Gijselaers, kemajuan pencapaian tujuan dalam 1996, dalam SPEAKING OF pemecahan masalah, (7) PBL TEACHING Vol.11, No. 1) hendaknya merupakan dasar dari Aspek lain yang dapat kurikulum bukan hanya pembelajaran. dikembangkan dari pembelajaran Pengertian Problem-Based Problem-Based Learning antara lain: Learning juga mencakup istilah yang (1) cumulative learning – pebelajar digunakan untuk menggambarkan tidak hanya belajar sesaat terhadap pendekatan kurikulum yang berpusat suatu masalah tetapi berulang dan pada permasalahan daripada berpusat meningkat kompleksitasnya, (2) pada suatu disiplin integrated learning – pebelajar melihat (www.csd.uwa.edu.au/newsletter/issue permasalahan secara holistik daripada 0496/ pbl.html). Hal ini senada dengan secara parsial, (3) progression in ungkapan berikut: learning – terjadi perubahan dan …………….. students not only peningkatan skill dan pengetahuan gain knowledge of the discipline, pebelajar, dan (4) consistency in but also become selfdirected learning – problem-based learning learners who develop problem- merefleksikan semua aspek solving skills they can apply in pembelajaran termasuk lingkungan future courses and in their careers. belajar dalam kelas dan asesmennya. In problem-based learning (PBL) (Engel 1991: 29 dalam courses, students work with www.csd.uwa.edu.au/newsletter/issue0 classmates to solve complex and 496/ pbl.html) authentic problems that help Peran pengajar dalam PBL develop content knowledge as well adalah menyajikan masalah, as problem-solving, reasoning, mengajukan pertanyaan, dan communication, and self- memfasilitasi penyelidikan dan dialog. assessment skills (SPEAKING OF PBL tidak dapat dilaksanakan jika TEACHING WINTER 2001 Vol.11, pengajar tidak mengembangkan No. 1) lingkungan kelas yang memungkinkan Hasil yang diharapkan dari terjadinya pertukaran ide secara penerapan PBL adalah pebelajar lebih terbuka. Intinya, pebelajar dihadapkan termotivasi, berkembangnya situasi masalah yang otentik dan pengetahuan yang mendalam, bermakna yang menantang pebelajar meningkatkan kerja kolaboratif, untuk memecahkannya. berkembangnya kemampuan berpikir Beberapa cirri yang tampak tingkat tinggi, dan berkembangnya dalam PBL antara lain: (1) Pengajuan kemampuan memecahkan masalah, pertanyaan atau masalah berpusat kerja kelompok, analisis kritis dan pada pertanyaan/masalah yang secara komunikasi pribadi bermakna untuk pebelajar. (www.physsci.heacademy.ac.uk/Public Mereka mengajukan situasi kehidupan ations /Primer/intrpbl4.pdf). Hal ini nyata yang otentik, (2) Terintegrasi terkait dengan asumsi dalam dengan disiplin ilmu lain. Dalam hal ini pembelajaran Problem-Based Learning masalah yang akan diselidiki dipilih sebagai proses pembelajaran yang yang benar-benar nyata agar dalam 60
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 pemecahannya pebelajar meninjau desain instruksional, tahapan masalah itu dari banyak sudut pandang pengembangan pembelajaran Problem- mata pelajaran lain, (3) Penyelidikan Based Learning meliputi tahap otentik yang mengharuskan untuk perencanaan pembelajaran, mencari penyelesaian nyata terhadap pelaksanaan pembelajaran, dan masalah nyata. Mereka harus evaluasi proses dan hasil belajar. menganalisis dan mendefinisikan 3. Pendekatan Pembelajaran Teori masalah, mengembangkan hipotesis dan membuat ramalan, mengumpulkan Tahapan dalam mengembangkan dan menganalisis informasi, melakukan model pembelajaran teori teknik mesin eksperimen (jika diperlukan), membuat menggunakan pendekatan pemecahan inferensi, dan merumuskan kesimpulan, masalah dapat dilakukan dengan dan (4) Menghasilkan produk/karya dan tahapan berikut: (1) Identifikasi, memamerkannya. Pengajaran berbasis tetapkan, dan rumuskan kompetensi (2) masalah menuntut pebelajar untuk Identifikasi konsep-konsep esensial dan menghasilkan produk tertentu dalam hubungan antar konsep dalam pokok bentuk karya nyata yang menjelaskan bahasan (topik) tertentu yang relevan. atau mewakili bentuk penyelesaian (3) Identifikasi, tetapkan, dan rumuskan masalah yang mereka temukan indikator pencapaian kompetensi (Nurhadi, 2004). dengan berpedoman pada kompetensi untuk suatu rencana pembelajaran 2. Aplikasi PBL dalam Perkuliahan tertentu. (4) Rencanakan dan susun Metrologi alat evaluasi yang mengacu kepada Problem-Based Learning indikator pencapaian kompetensi merupakan pendekatan untuk dilanjutkan dengan validasi alat membelajarkan pebelajar yang evaluasi . (5) Memilih dan menyusun dikonfrontasikan dengan permasalahan bahan ajar sebagai bahan orientasi praktis. Menurut Savoi dan Hughes bagi pebelajar pada tahap invitasi (Demitra, 2003), beberapa ciri problem dimaksudkan untuk mengetahui based learning antara lain: (1) belajar prakonsepsi pebelajar. (6) Identifikasi dimulai dari suatu permasalahan, (2) dan klarifikasi prakonsepsi dan/atau memastikan bahwa permasalahan yang miskonsepsi yang dimiliki pebelajar diberikan berhubungan dengan dunia antara lain menggunakan tes nyata pebelajar, (3) mengorganisasikan diagnostik, untuk ditempatkan pada pelajaran di seputar permasalahan, (4) posisi sentral dalam menyusun model memberikan tanggungjawab yang pembelajaran. (7) Identifikasi, tetapkan, besar kepada pebelajar dalam dan susun materi teori teknik mesin membentuk dan menjalankan secara dalam bentuk masalah yang dapat langsung proses belajar mereka digunakan sebagai bahan diskusi sendiri, (5) menggunakan kelompok kelompok pebelajar dalam rangka kecil, dan (6) menuntut pebelajar untuk menggali konsepsinya pada fase mendemonstrasikan apa yang telah eksplorasi konsep. Lebih lanjut susun mereka pelajari dalam bentuk suatu beberapa pertanyaan yang dapat produk atau penampilan (performance). membimbing pebelajar melakukan Sesuai dengan karakteristik bidang analisis untuk memecahkan masalah teknik mesin serta pengembangan yang diajukan dalam rangka menggali 61
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 konsepsinya. (8) Bertitik tolak dari (pengenalan konsep, pengembangan konsep-konsep yang digali pada fase konsep, dan latihan menjelaskan eksplorasi konsep, seleksi dan susun konsep) tergambar pada fase klarifikasi bahan ajar atau sebagai bahan konsep. (9) Pada fase aplikasi konsep masukan bagi pebelajar untuk susun dan pilih masalah teori teknik mengenal dan memperoleh konsep mesin yang dapat mengokohkan tertentu. Kemudian kembangkan bahan struktur kognitif pebelajar. Utamakan ajar dengan menghubungkan antar masalah/soal yang melatih pebelajar konsep. Lebih lanjut susun bahan ajar berpikir pada taraf aplikasi, analisis, (topik) yang dapat diterangkan oleh sintesis, dan evaluasi (taksonomi pebelajar sebagai sarana latihan Bloom) yang ekivalen dengan level menjelaskan konsep. Ketiga aspek ini problem solving (taksonomi Gagne). 2. Tahap perencanaan yang meliputi: Metode Penelitian (1) menetapkan alternatif upaya 1. Rancangan Penelitian peningkatan kualitas pembelajaran, (2) Penelitian ini merupakan penentuan metode pembelajaran, (3) penelitian tindakan kelas, yaitu suatu penyusunan rancangan tindakan. penelitian yang bersifat kolaboratif 3. Pelaksanaan tindakan. Peneliti berdasarkan permasalahan yang sebagai kolaborator menerapkan muncul dalam kegiatan pembelajaran. desain pembelajaran PBL berbantuan Prosedur dan langkah-langkah modul penelitian ini mengikuti prinsip-prinsip 4. Observasi dan Monitoring. Tahap ini dasar yang berlaku dalam penelitian dilakukan dalam upaya perbaikan tindakan. Desain penelitian tindakan proses pembelajaran dan perencanaan terdiri dari empat komponen tindakan yang lebih kritis. Peneliti merupakan siklus mulai dari tahap sebagai kolaborator melaksanakan perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan secara sistematis observasi dan refleksi yang diikuti terhadap kegiatan mahasiswa. dengan perencanaan ulang. 5. Refleksi berguna sebagai upaya Penelitian diharapkan dapat memantapkan kegiatan atau tindakan meningkatkan daya serap mahasiswa untuk mengatasi permasalahan dengan yang optimal maka dimungkinkan memodifikasi perencanaan sebelumnya sesuai adanya tindakan yang berulang-ulang dengan apa yang timbul di lapangan. dengan revisi rancangan dan 6. Evaluasi dan revisi. Evaluasi dan pelaksanaan untuk meningkatkan hasil revisi dilakukan untuk mengetahui dan efektifitas suatu rancangan dan berhasil tidaknya tindakan yang telah desain pembelajaran yang dilakukan. Dalam penelitian ini evaluasi dilaksanakan. Tahap-tahap penelitian meliputi evaluasi jangka pendek dan tindakan yang melibatkan secara aktif evaluasi prestasi belajar mahasiswa. mahasiswa dan peneliti sebagai Kriteria keberhasilan tindakan dilihat kolaborator ini adalah : dari (1) meningkatnya tingkat aktivitas 1. Pada tahap persiapan kegiatan yang mahasiswa dalam PBM, (2) dilakukan adalah : (1) dialog awal untuk meningkatnya tingkat kemandirian mengidentifikasi masalah, dan (2) mahasiswa dalam proses merumuskan permasalahan untuk pembelajaran, (3) meningkatnya perbaikan pembelajaran prestasi belajar mahasiswa, 62
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 7. Kesimpulan hasil. Pada tahap ini mendapatkan catatan-catatan penting dibuat pelaporan hasil secara yang berhubungan dengan masalah keseluruhan. pembelajaran, observasi untuk mengadakan pencatatan secara 2. Subyek Penelitian sistematis mengenai tingkah laku Penelitian ini dilakukan di secara langsung kelompok ataupun Laboratorium Metrologi FT-Universitas individu, wawancara digunakan untuk Negeri Yogyakarta. Penerapan metode mengungkap data tentang pelaksanaan ini dilakukan terhadap mahasiswa pembelajaran melalui pendekatan semester III tahun 2008/2009 kelas A1 pembelajaran PBL berbantuan modul. dan A2 dalam kompetensi 4. Instrumen Penelitian pembelajaran mata kuliah Metrologi. Instrumen yang digunakan dalam 3. Teknik Pengumpulan Data penelitian ini meliputi instrumen berupa Teknik pengumpulan data dalam penilaian hasil belajar/praktek, lembar penelitian ini meliputi metode tes untuk observasi dan dokumentasi. Kisi-kisi mengetahui prestasi belajar instrumen tersebut dapat disajikan mahasiswa, dokumentasi untuk pada tabel 1. Tabel 1. Kisi-kisi Instrumen Sumber No Variabel Indikator Alat ukur data 1 a. Prestasi mahasiswa Hasil belajar Tes Mahasiswa 2 Kemandirian Kemandirian Wawancara, mahasiswa memecahkan masalah dan Mahasiswa Pengamatan 3 Aktivitas mahasiswa i Mendengarkan dengan aktif i Partisipasi dan konstribusi Pengamatan Mahasiswa i Bertanya kepada dosen/teman i Pengerjaan tugas penelitian ini rancangan yang 5. Teknik Analisis Data ditetapkan berupa rancangan penelitian Analisis data yang digunakan tindakan kelas, yaitu suatu penelitian dalam penelitian ini berupa analisis yang bersifat kolaboratif berdasarkan deskriptif. Analisis ini meliputi permasalahan yang muncul dalam perhitungan nilai rerata, standar kegiatan pembelajaran metrologi di deviasi, dan prosentase. Selanjutnya Laboratorium Jurusan Pendidikan hasil penelitian masing-masing siklus Teknik Mesin FT-UNY. Prosedur dan dipaparkan secara kualitatif. Dalam langkah-langkah penelitian ini 63
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 mengikuti prinsip-prinsip dasar yang langkah yang dilakukan adalah: (1) berlaku dalam penelitian tindakan. dialog awal untuk mengindentifikasi Desain penelitan tindakan terdiri empat masalah, dan (2) merumuskan komponen merupakan proses daur permasalahan dan penyatuan ide untuk ulang mulai dari tahap perencanaan, perbaikan pembelajaran Metrologi. pelaksanaan tindakan, observasi dan Tahap perencanaan dilakukan dengan refleksi yang diikuti dengan langkah: (1) menetapkan alternatif perencanaan ulang. Dalam penelitian upaya peningkatan kualitas tindakan, kolabarasi dan partisipasi pembelajaran Metrologi, (2) penentuan merupakan prinsip pokok secara metode pembelajaran, (3) penyusunan operasioanal yang berupaya rancangan tindakan. memperoleh hasil optimal melalui cara Observasi dan monitoring dan prosedur yang dinilai paling efektif. dilakukan dalam upaya perbaikan Penelitian diharapkan dapat proses pembelajaran dan perencanaan meningkatkan daya serap siswa yang tindakan yang lebih kritis. Dosen optimal maka dimungkinkan adanya sebagai peneliti melaksanakan tindakan yang berulang-ulang dengan pengamatan secara sistematis revisi rancangan dan pelaksanaan terhadap kegiatan mahasiswa. untuk meningkatkan hasil dan Sedangkan Refleksi berguna sebagai efektifitas suatu rancangan dan desain upaya memantapkan kegiatan atau pembelajaran yang dilaksanakan. Guru, tindakan untuk mengatasi Kepala SMK, dan peneliti terlibat permasalahan dengan memodifikasi secara aktif dalam semua tahapan perencanaan sebelumnya sesuai penelitian. Pada tahap persiapan dengan kondisi di lapangan. mengalami kesulitan dalam memahami Hasil Penelitian dan Pembahasan konsep-konsep atau topik-topik materi. 1. Peningkatan Kualitas Perkuliahan Hal ini disebabkan oleh persepsi Upaya peningkataan kualitas mahasiswa bahwa mata kuliah pembelajaran membutuhkan metrologi adalah pelajaran yang sulit. kesempatan dosen sebagai peneliti Mahasiswa juga kurang termotivasi untuk menemukan dan merumuskan untuk belajar. Dari sisi dosen, ia permasalahannya. Dialog awal antara merasakan bahwa pembelajaran peneliti/dosen dengan mahasiswa perkuliahan metrologi belum diperlukan agar upaya peningkatan dilaksanakan dengan efektif. Strategi kualitas pembelajaran dapat mencapai yang dipergunakan masih sangat sasaran. Dosen yang setiap hari terbatas sehingga terkesan monoton, menghadapi situasi kelas dari waktu ke kurang menarik dan membosankan. waktu setiap semester tentu akan Dosen kesulitan dalam merumuskan mengetahui kesulitan-kesulitan yang topik-topik agar lebih menarik dan dihadapi baik dari mahasiswa sendiri belum menemukan metode yang ataupun dosen itu sendiri, terlebih cocok dengan kebutuhan mahasiswa mengampu dan menmgajarkan dan usahanya mengembangkan minat perkuliahannya sendiri. kemandirian mahasiswa untuk belajar. Dari dialog yang peneliti lakukan Berdasarkan permasalahan dengan mahasiswa terungkap bahwa tersebut maka perlu dilaksanakan dalam pembelajaran mahasiswa perbaikan-perbaikan pembelajaran 64
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 dengan improvisasi yang bervariasi 2. Keaktifan Mahasiswa agar pembelajaran lebih menarik Keaktifan mahasiswa dalam sehingga mahasiswa akan bermotivasi pembelajaran metrologi dengan dalam belajar yang diikuti dengan pendekatan PBL disajikan dalam Tabel peningkatan prestasi belajarnya, yaitu 2 berikut: dalam pembelajaran Metrologi. Tabel 2. Keaktifan Mahasiswa Jumlah/Rata-rata mahasiswa Kategori No Awal Siklus I Siklus II kemandirian 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Mengerjakan 1 0 32 32 34 34 32 0 0 0 0 0 tugas rumah Mempelajari kembali materi 2 0 10 15 17 11 17 18 20 24 23 24 yang telah dibahas Mempelajari dulu 3 materi yang akan 0 5 9 8 3 20 23 21 30 18 28 dibahas 4 Menjawab kuis 34 34 34 34 35 30 32 34 34 34 29 Mengerjakan 5 32 34 32 30 30 34 32 30 34 31 32 tugas mandiri 6 Berpendapat 2 7 11 17 14 15 115 212 115 210 184 Peningkatan keaktifan mahasiswa mulai perubahan setiap tindakan namun nampak pada siklus pertama tindakan pertama apabila dilihat pada kegiatan dosen yang ditandai dengan semakin akan tampak bahwa dosen tidak terlalu meningkatnya antusiasme mahasiswa lelah dalam mengajarkan meteri dalam pembelajaran serta keberanian praktik. Dalam tabel tersebut tampak untuk bertanya kepada dosen maupun bahwa pada siklus kedua tidak ada menanggapi pertanyaan mahasiswa mahasiswa yang mengerjakan lain. Untuk siklus kedua merupakan mengerjakan tugas, hal ini karena tindakan untuk pembelajaran praktik. selama praktik tidak ada tugas rumah. Dari tabel tidak begitu tampak berbagi tugas, mendorong partisipasi, 3. Kemandirian Mahasiswa menghargai konstribusi, menerima Kemandirian mahasiswa yang tanggungjawab, bertanya pada dosen ditunjukkan dengan kemampuan atau teman, mengatasi gangguan, dan mendengarkan dengan aktif, berada mengerjakan tugas dapat disajikan dalam tugas, mengambil giliran dan dalam Tabel 3. 65
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Tabel 3. Kemandirian Mahasiswa Jumlah/Rata-rata mahasiswa Kategori No Awal Siklus I Siklus II kemandirian 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Mendengarkan 1 24 29 30 29 29 32 31 31 31 32 32 dengan aktif Berada dalam 2 31 29 30 29 29 32 31 31 30 33 34 tugas Mengambil giliran 3 0 27 30 29 21 20 31 31 30 33 34 dan berbagi tugas Mendorong 4 0 23 26 31 28 30 27 27 26 22 22 partisipasi Menghargai 5 23 26 28 31 28 30 20 21 22 19 22 konstribusi Menerima 6 23 20 23 24 21 26 25 26 27 24 23 tanggungawab Bertanya pada 17 20 19 20 14 7 2 5 9 17 18 18 dosen/teman 9 4 0 2 5 Mengatasi 8 0 24 35 29 32 30 41 6 6 6 9 gangguan Mengerjakan 9 37 21 32 29 31 30 31 33 33 32 33 tugas Dari tabel di atas dapat diamati dengan keberanian siswa untuk bahwa kemandirian siswa mulai tampak berpendapat dan bertanya kepada pada siklus pertama tindakan pertama dosen/teman. Proses untuk siklus sampai tindakan keempat yang ditandai kedua relatif sama. pendekatan PBL berbantuan modul 4. Prestasi Belajar Mahasiswa dapat diamati dari hasil nilai tengah Peningkatan prestasi belajar semester yang dapat disajikan dalam mahasiswa selama penerapan Tabel 4 berikut: Tabel. 4. Rata-rata nilai tengah semester mata kuliah Metrologi No. Kelas/Group Nilai Rata-rata 1. A-1 74,5 2. A-2 73,5 Dari tabel tersebut dapat diamati menjadi 74,5. Nilai 74,5 tersebut dan bahwa nilai rerata yang didapatkan kelas A-2 dengan rerata pre-test 28,25 kelas A-1 yang diterapkan metode PBL menjadi 73,5 belumlah merupakan nilai menunjukkan nilai yang lebih tinggi. yang tinggi, namun capaian nilai Selain itu nilai pos-test menunjukkan tersebut merupakan peningkatan yang peningkatan dari nilai pre-test yang baik dari mahasiswa, dibanding dilakukan dari rerata 29,5 pada pre-test prestasi sebelumnya maupun dari kelas 66
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 lain yang hasilnya lebih rendah. dapat meningkatkan prestasi belajar Berdasarkan hal tersebut dapat mahasiswa. dinyatakan bahwa penerapan 3. Bagi para dosen hendaklah selalu pendekatan PBL menunjukkan arah berimprovisasi dan berinovasi dalam perbaikan peningkatan prestasi belajar menentukan metode pembelajaran mahasiswa. Dan berarti pula terdapat sesuai karakteristik mahasiswa. peningkatan kualitas perkuliahan Pendekatan implementasi PBL metrologi. sebagai salah satu model perkuliahan perlu diterapkan lebih Simpulan luas. 1. Perkuliahan Metrologi dengan 4. Bagi para pengambil keputusan pendekatan PBL berbantuan modul hendaknya lebih memberi ruang dapat meningkatkan aktivitas dan gerak kepada dosen dalam kemandirian mahasiswa. berimprovisasi dan berinovasi dalam 2. Perkuliahan Metrologi dengan perkuliahannya. pendekatan PBL berbantuan modul Daftar Pustaka Dinamika Volume I, Nomor 1 , Mei 2003. Hal: 7-11 Anita Lee (2002). Cooperative Learning. Jakarta: Grassindo. Dirdikmenjur (2001) Standar manual pendidikan menengah kejuruan. Demitra (2003) Pembelajaran Jakarta: Dirdikmenjur. pemecahan masalah Matematika Sekolah Dasar Djojonegoro (1998).Pengembangan dengan pendekatan Problem sumberdaya manusia melalui Based Learning. Makalah SMK. Jakarta: Jayakarta Agung Seminar Nasional Teknologi Ofset . Pembelajaran. Yogyakarta 22 – Florentina Widihastrini (1999) 23 Agustus 2003. Peningkatan kualitas Depdiknas (2002) Konsep pendidikan pembelajaran IPS Kelas V berorientasi kecakapan hidup dengan sistem STAD di SD (life skill) melalui pendekatan Negeri Siliwangi Semarang. pendidikan berbasis luas (broad Yogyakarta: Tesis. Program based education-BBE). Jakarta: Pascasarjana IKIP Yogyakarta . Depdiknas. Oentoro (1998) Prospek perkembangan Didik Nurhadiyanto (2003) Penelitian dunia usaha/industri di tindakan untuk meningkatkan Indonesia awal abad dua puluh kualitas pembelajaran melalui satu. Makalah Seminar Nasional pendekatan konstruktivistik dan 10 Oktober 2000. Yogyakarta: evaluasi berbasis kinerja dalam FPTK IKIP Yogyakarta. matakuliah Fisika pada Paulina Pannen (2001) Konstruktivisme mahasiswa jurusan pendidikan dalam pembelajaran. Jakarta: Teknik Mesin FT Universitas PPUT Ditjend Dikti. Negeri Yogyakarta. Jurnal 67
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 MODEL PENDIDIKAN BERBASIS KOMPETENSI BIDANG KEJURUAN Oleh: Pardjono Pendidikan Teknik Mesin FT-UNY pardjono@uny.ac.id ataujpardjono@yahoo.com Abstrak Penelitian ini bertujuan menemukan model pendidikan berbasis kompetensi bidang kejuruan (BPKJ).yang dapat dipakai acuan pengembangan kurikulum, pembelajaran, asesmen, dan uji kompetensi. Penelitian ini menggunakan pendekatan positivistic dan jenispenelitian deskriptif kualitatif, dengan menggunakan prosedur penelitian pengembangan dari Richey & Klein.Model divalidasi oleh ahli pendidikan teknologi dan kejuruan, ahli kurikulum, teknologi pendidikan, dan ahli penilaian pendidikan.Hasil penelitian berupa model PBKJ dengan komponen model yaitu model pengembangan kurikulum PBKJ, model pembelajaran PBKJ, model asesmen PBKJ, dan model uji kompetensi pada PBKJ. Kata kunci: model, pendidikan Pendahuluan Kompetensi memilikiagregasi Pendidikan berbasis aspek kognitif, psikomotorik, dan kompetensi di Indonesia semula afektif.Seseorang bisa melakukan terapkan di sekolah kejuruan tahun pekerjaan tertentu dengan benar dan 1994.Setelah itu pemerintah menghasilkan produk dengan mengeluarkan kebijakan bahwa karakteristik yang dipersyaratkan oleh pendidikan berbasis kompetensi pemakai produk,harus memiliki diimplementasikan pada semua jenjang pengetahuan terkait dengan pekerjaan, dan jenis pendidikan di Indonesia, keterampilan psikomotorik yang bahkan di perguruan tinggi. diperlukan dan aspek afeksi tertentu Prosedur pengembangan yang memberikan dorongan untuk standar kompetensi antara sekolah melakukan pekerjaan yang berkualitas umum dengan dengan sekolah yang memenuhi standar mutu. kejuruan berbeda.Standar kompetensi Pendidikan secara umumpada sekolah umum bersifat akademik, dasarnya memiliki dua misi, yaitu dikembangkan dari pohon keilmuan, mendidik peserta didik untuk sedangkan untuk sekolah kejuruan menghadapi kehidupan di masyarakat kompetensi dikembangkan dan mendidik peserta didik untuk berdasarkan kompetensi yang mampu mencari kahidupan agar dapat dipersyaratkan oleh dunia bertahan hidup. Demikian juga untuk kerja.Kompetensi pada sekolah umum kedua jenis pendidikan lebih bersifat keilmuan misalnya tersebut.Perbedaan antara sekolah matematika, bahasa, fisika, kimia, umum dengan sekolah kejuruan hanya ekonomi, sosiologi dan semacamnya, berbeda pada penekanannya terkait sedangkan pada sekolah kejuruan dengan misi tersebut.Pendidikan umum lebih bersifat kemampuan seseorang mempersiapkan peserta didik untuk untuk melakukan pekerjaan berkembangnya kemampuan tertentu.Kemampuan untuk melakukan akademiknya secara tugas atau pekerjaan tersebut disebut vertikal.Konsekuensinya sekolah umum dengan kompetensi. harus mengembangkan kemampuan peserta didik secara akademik sebagai 68
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 fondasi melanjutkan sekolah. Di sisi manusia produktif yang langsung lain sekolah kejuruan menyiapkan berdampak pada ekomoni suatu peserta didik untuk bekerja menjadi bangsa. Perbedaan misi dari kedua jenis kehidupan untuk mempertahankan sekolah ini berimplikasi pada hidupnya. Sehingga kurikulum sekolah perbedaan penekanan yang bisa dilihat kejuruan disamping harus menyiapkan pada struktur dan isi kurikulumnya.Di peserta didik agar setelah lulus mereka samping perbedaan ini, kedua jenis mampu bekerja, juga harus mampu sekolah juga memiliki persamaan, yaitu mengembangkan potensi peserta didik keduanya menyiapkan peserta didik secara utuh untuk menghadapi untuk menghadapi kehidupan di kehidupan. masyarakat secara umum dan mencari Permasalahan Filsafat Pendidikan moral, dan tidak sesuai lagi dengan Filsafat pendidikan merupakan kemajuan teknologi. dasar pijakan dalam mengembangkan Landasan dasar konsep-konsep dasar dalam pengembangan potensi peserta didik pengembangan kurikulum dan secara utuh hanya bisa dilaksanakan pembelajaran.Ada berbagai aliran bila prinsip idealisme diterapkan pada filsafat yang biasanya digunakan pembelajaran karena aliran filsafat ini pijakan asas pendidikan, terutama memiliki orientasi pendidikan kejuruan, yaitu realisme, transenden.Landasan inipun tidak idealisme, progresivisme, dan cukup mampu mengembangkan rekonstruksionisme.Prinsip- peserta didik secara utuh yang harus prinsipfalsafah realisme diadopsi pada menghadapi tuntutan riil seberapa pendidikan berbasis kompetensi pada kemanfaatannya dalam kehidupan sekolah kejuruan, dengan tujuan manusia.Dalam menghadapi dunia menjawab tantangan penyiapan tenaga yang berkembang pesat, sekolah harus kerja terampil dan profesional melalui menyiapkan peserta didik menjadi pendidikan yang terukur target dan kreatif berani melakukan perubahan sasarannya.Filsafat realisme ini sesuai melalui faham rekonstruksionisme yang dengan misi pendidikan kejuruan memberi ruang pada aspirasi berbasis kompetensi yang memiliki pengembangan kreativitas peserta ukuran kompetensi dunia kerja.Namun, didik.Dengan demikian pendidikan di negara-negara maju pendidikan kejuruan tidak cukup hanya berbasis kompetensi dikritik oleh para mengajarkan keterampilan teknik dan pembaharu pendidikan karena kejuruan tetapi juga harus dianggap tidak manusiawi. Sistem ini dikembalikan kepada prinsip dasarnya, dianggap membentuk manusia seperti yaitu sebagai upaya mengembangkan mesin, lepas dari fitrah manusia dan manusia secara utuh.Kontek ke kurang peduli pada pengembangan Indonesiaan yang diperlukan oleh kecakapan berpikir, berolah rasa dan masyarakat bagaimanapun filsafat seni, kurang mampu mengembangkan Pancasila mampu memberi warna keIndonesiaan. 69
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Landasan Sosiologis dan Di Indonesia pendidikan berbasis Ketenagakerjaan kompetensi menemukan Tenaga kerja yang dihasilkan mementumnya pada akhir tahun 1970 oleh sekolah kejuruan formal di an dan awal 1980 an, karena Indonesia tidak mampu diserap pemeritah menyediakan biaya yang seluruhnya untuk menjadi tenaga kerja cukup untuk melengkapi alat/mesin dan produktif karena jumlah lapangan kerja menyediakan biaya praktik kejuruan yang terbatas. Sebaik apapun kualitas yang memadahi. Namun saat ini lulusan sekolah kejuruan,bila jumlah sekolah kejuruan disiapkan untuk lapangan kerja yang tersedia terbatas menuju ke tiga tujuan yaitu bekerja, maka akanterjadi pengangguran. melanjutkan sekolah, dan wirausaha. Secara ideal-teoretik, jumlah siswa Kebijakan ini berimplikasi pada yang dididik pada sekolah kejuruan pengurangan jumlah jam mata seharusnya sebanding dengan jumlah pelajaran produktif terutama praktik yang diperlukan oleh dunia kerja. dan ditambah pada jumlah mata Namun kebijakan pemerintah yang pelajaran matematika, fisika, dan membangun sekolah-sekolah kejuruan bahasa Inggris. Dampak yang menjadi 70% dibanding sekolah umum dirasakan oleh dunia kerja bahwa yang hanya ditargetkan kurang-lebih tenaga kerja lulusan SMK dianggap 30% justru akan menambah menurun kesiapan kerjanya. pengangguran bagi lulusan sekolah Perubahan perilaku masyarakat, kejuruan. Dengan demikian kalau budaya, dan sistem ekonomi karena kebijakan tersebut diteruskan, perlu kemajuan dan perkembangan juga ada solusi secara simultan dari dua mempengaruhi dunia pendidikan arah, yaitu penciptaan lapangan kerja kejuruan. Situasi global sudah merasuk oleh pemerintah dan peningkatan masyarakat domestik Indonesia. kualitas pendidikan kejuruan dan Sementara masyarakat yang karena vokasi. tingkat kesejahteraannya sudah baik BPS mencatat total jumlah lebih mementingkan keamanan, pengangguran terbuka secara nasional kenyamanan, kesehatan dibanding pada Februari 2009 mencapai 9,26 juta masyarakat yang lain. Hal ini akan orang atau 8,14% dari total angkatan berdampak pada dibukanya peluang kerja. Cara mengatasinya antara lain usaha pada pariwisata, kesehatan, dan dengan meningkatkan pertumbuhan hiburan sehingga program keahlian ekonomi di atas 6% agar bisa dibuka pada sekolah kejuruan yang relevan lapangan kerja baru. Pengangguran dengan bidang pekerjaa ini bisa kadang-kadang juga dianggap sebagai dibuka. Demikian pula sistem ekonomi akibat dari ketidakcocokkan antara saat ini yang lebih banyak kemampuan lulusan sekolah dengan mengeksplorasi kemampuan berpikir, kemampuan yang diperlukan oleh akan berimplikasi pada isi kurikulum dunia kerja. Salah satu cara yang dan sistem penyampaian materi di banyak dilakukan oleh negara-negara kelas. maju untuk mengatasi hal ini adalah Kemajuan teknologi informasi melalui sistem pendidikan kejuruan mempengaruhi struktur dunia kerja dan yang berbasis kompetensi. menciptakan lapangan kerja baru meskipun ada yang berdampak pada 70
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 penutupan lapangan kerja yang sudah kesehatan.Akselerasi perubahan dunia ada.Kemajuan juga berdampak pada kerja karena teknologi dan kehidupan semakin naiknya tingkat kesejahteraan masyarakat ini perlu direspon melalui masyarakat sampai dengan melebihi upaya penyiapan tenaga kerja yang kebutuhan fisiknya sehingga berbasis dunia kerja pada segala berdampak pada perkembangan bidang pekerjaan atau kejuruan dan industri lainnya, seperti pada bidang model-model pendidikan dan pariwisata, seni hiburan dan pelatihannya perlu dikembangkan. Landasan Psikologis mengenalkan tiga macam hukum Pada tingkat kelas (classroom belajar, yaitu hukum akibat, hukum practice) guru harus melaksanakan kesiapan, dan hukum latihan pembelajaran untuk murid- (exercise).Hukum akibat adalah muridnya.Ada banyak teori belajar “strengthening or weakening of a yang telah berkembang sampai saat connection based on the ini. Guru dalam mengajar di kelas consequences brought about by the sudah seharusnya menganut beberapa connection”.Kuat dan lemahnya teori tersebut. Ada tiga arus utama koneksi berdasarkan pada kosekuensi (meanstreams) teori belajar yaitu yang diakibatkan oleh koneksi behaviorisme, kognitivisme, and itu.Selanjutnya adalah hukum kesiapan konstruktivisme.Tetapi pada classroom (readiness) yaitu kecenderungan syarat practice biasanya guru tidak hanya bekerja atau melaksanakan agar menggunakan satu teori. supaya koneksi dapat Teori behaviorisme juga disebut dilakukan.Selanjutnya adalah hukum teori asosiasi yang terdiri dari tiga teori latihan (law of exercise). Hukum ini dalam keluarga teori behavioristik, yaitu terkait dengan tingkah laku koneksionisme, bahaviorisme, dan pengulangan dari koneksi yang yakin reinforcement dengan “practice makes (penguatan).Koneksionisme adalah perfect”.Program pelatihan agar anak teori belajar yang berdasarkan pada memiliki keterampilan baik manual, koneksi dari berbagai elemen sistem intelektual maupun berpikir mengikuti syaraf yang menyebabkan munculnya prinsip dari teori behaviorisme. suatu tingkah-laku.Thorndike yang mengembangkan teori ini dengan 71
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Stimulasi Proses Memori receptors dalam Sensor: Jangka Memori Perhatian & Encoding Jangka lingkungan visual Pendek pengenalan retrieval Panjang belajar audio pola Memori Kerja lupa lupa Gb. 1.Model Pengolahan Informasi pada Manusia (Adaptasi dari McCown & Roop, 1992:213) Kognitivisme secara umum MJPj dapat tetap di MJPj masuk lagi ke mempunyai pengertian bahwa melalui MJPd melalui penarikan kembali. interaksi dan perkembangan kognisi Teori belajar konstruktivisme diri seseorang dapat memperoleh memiliki akar filosofi subjektivisme and pengetahuan dan terkait pada relativisme, suatu konsep yang bagaimana pebelajar mengetahui dan menganggap bahwa realitas terpisah bagaimana menggunakan cara yang dari pengalaman dan hanya dapat efektif dan efisien menurut teori diketahui melalui pengalaman dan pengolahan informasi. Berikut gambar menghasilkan realitas yang khas alur dari proses pengolahan informasi secara personal (Doolitle & Camp, pada teori pengolahan informasi. 1999). Teori konstruktivisme Lingkungan belajar merupakan mendasarkan pada empat prinsip sumber informasi dari sistem utama dari von Glasserfeld (1989:182), pengolahan informasi.Reseptor yaitu “knowledge is not passively menerima informasi dari hasil received but actively built up by the perekaman melalui kegiatan melihat, cognizing subject” dan “the function of mendengar, merasakan, mencium, dan cognition is adaptive and serves the mengecap.Hasil yang ditangkap oleh organization of the experiential world, receptor kemudian di tangkap oleh not the discovery of ontological reality”. prosesor untuk diolahnamun tidak Von Glasserfeld akhirnya menambah semua informasi bisa diproses karena lagi dua prinsip dari konstruktivisme, ada yang hilang melalui peristiwa yaitu “cognition organizes and makes lupa.Informasi yang mendapatkan sense of one’s experience, and is not a perhatian pebelajar masuk ke memori process both in biological/neurological jangka pendek (MJPd).Informasi yang constructivism, and in social, cultural, sampai pada MJPd ada kemungkinan and language-based interactions (von hilang, tetap di simpan di memori Glasserfeld, 1998).Berdasarkan empat jangka pendek, memancing respons, prinsip ini, atau ditransfer melalui proses elaborasi Ernest (1994) memberikan pada memori jangka panjang jenis-jenis konstruktivisme menjadi (MJPj).Informasi yang tersimpan pada empat, yaitu konstruktivisme teori 72
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 pengolahan informasi, konstruktivisme pada empat prinsip konstruktivisme trivial, konstruktivisme radikal, dari von Glasserfeld.Fungsi kogntifi konstruktivisme sosial.Teori adalah adaptif dan melayani organisasi pengolahan informasi termasuk dunia pengalaman, bukan menemukan konstruktivisme karena menerima realitas ontologis.Selanjutnya ada prinsip pertama dari von Glasserfeld bentuk lain, yaitu konstruktivisme dan oleh Doolitle & Camp (1999) sosial, yang berpendapat bahwa disebut konstruktivisme kognitif. pengetahuan selalu terjadi di dalam Konstruktivisme trivial menerima konteks sosio cultural, “Truth is not to prinsip pertama tetapi menolak prinsip be found inside the head of an kedua dengan eloborasi bahwa proses individual person, it is born between pengolahan informasi merupakan people collectively searching for truth, kegiatan membangun pengetahuan in the process of their dialogic melalui sistem electro-chemical nerve. interaction” (Baktin, 1984: 110). Konstruktivisme radikal menyandarkan Pendidikan Berbasis Kompetensi oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Pendidikan berbasis kompetensi Kejuruan. Sejak awal SMK di Indonesia dimulai sejak Kurikulum menggunakan Standar Kompetensi Berbasis Kompetensi (KBK) dikenalkan Nasional Indonesia (SKKNI) yang di SMK di Indonesia sejak tahun 1998, dikembangkan oleh Depnakertrans meskipun pelaksanaannya masih (saat itu).Setelah BSNP selesai belum efektif karena standar mengembangkan SKKNI, kompetensi belum dikembangkan Kemendiknas memberlakukan bahwa secara nasional. Tahun 2002 standar SKKNI untuk semua sekolah harus kompetensi nasional telah ditetapkan menggunakan SKKNI yang untuk beberapa bidang keahlian dan dikembangkan oleh mulai dipakai dasar dalam BSNP.Permasalahan yang muncul di pengembangan kurikulum di SMK dan lapangan adalah banyak rumusan sejak itu penerapan kurikulum KBK kompetensi yang tidak bisa digunakan lebih terarah. Namun begitu karena pada sekolah kejuruan karena pada banyak keterbatasan dalam umumnya menggunakan rumusan pelaksanaannya, maka penerapan kompetensi yang bersifat akademik KBK di SMK belum efektif. keilmuan.Sementara rumusan Pendidikan berbasis kompetensi kompetensi pada sekolah kejuruan juga diterapkan pada semua jenjang berupa rumusan tentang kemampuan pendidikan dari SD, SMP, dan SMA melakukan suatu pekerjaan tertentu tidak lama setelah PBK sedang seperti di dunia kerja.Permasalahan ini diujicobakan pada sekolah kejuruan. perlu dicarikan solusi agar tidak ada Dengan kata lain ada dua konsep kebingunan di kalangan pendidik tentang PBK di Indonesia, yaitu konsep kejuruan.Misalnya membuat panduan yang dikembangkan untuk sekolah khusus untuk rumusan kompetensi umum dan konsep yang dikembangkan dasar pada pendidikan kejuruan. Pembelajaran Berbasis Kompetensi Konsep tentang belajar dan pada Bidang Kejuruan mengajar sudah mengalami perubahan 73
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 dari waktu ke waktu. Keyakinan guru menjadi values, apalagi menjadi terhadap konsep belajar dan mengajar keyakinan (beliefs).Teori dan konsep akan mempengaruhi pendekatan dan pengembangan profesionalitas guru strategi mengajarnya. Bila seorang perlu dipelajari oleh pihak-pihak terkait guru mengiktui filosofi Platonist bahwa dan diterapkan untuk peningkatan ilmu pengetahuan adalah fixed dan keprofesionalan guru. tidak berubah, maka keyakinan Disebutkan dalam pasal 61 terhadap pebelajar dengan ayat 3 UU Nomor 20 tahun 2003 metafora‘tabula rasa”atau “blank slate”. tentang Sisdiknas bahwa pendidikan Konsekuensi selanjutnya adalah nasional harus mampu menghasilkan bahwa mengajar merupakan upaya lulusan yang memiliki karakteristik: guru memindahkan ilmu (body of beriman dan bertakwa kepada Tuhan knowledge) kepada siswa.Dengan YME, berakhlak mulia, sehat, warga demikian pembelajaran pada berilmu, cakap, kreatif, mandiri, warga classroom practice siswa pasif dan negara yang demokratis dan gurunya senderung aktif.Sebaliknya bertanggungjawab.Program pendidikan bila guru memiliki keyakinan pada sistem persekolahan harus Protagorasian, yaitu menganggap mampu membentuk lulusan yang bahwa ilmu pengetahuan bersifat memiliki karakteristik tersebut di atas, dinamis dan tergantung pada usaha termasuk dalam hal ini pendidikan manusia, maka mengajar adalah kejuruan.Selain karakteristik lulusan upaya membelajarkan peserta didik, diatas lulusan pendidikan kejuruan dan guru akan berusaha membuat harus mampu menjadi manusia pembelajaran menjadi aktif. Dengan produktif dan bekerja di dunia kata lain proses pembelajaran dan kerja.Pembelajaran berbasis interaksi kelas tergantung kepada kompetensi pada pendidikan kejuruan konsep dan keyakinan guru terhadap harus mampu menghasilkan lulusan belajar dan mengajar. yang selain professional dalam bidang Permasalahan yang muncul kejuruan juga mampu menjadi orang adalah tidak mudah mengubah yang bertakwa, berakhlak mulia keyakinan guru terhadap konsep mandiri, dan bertanggungjawab seperti tentang mengajar.Pengubahan beliefs yang diamanahkan oleh Undang- guru terhadap sistem yang selama ini undang Sisdiknas. dipraktikkan menjadi yang baru Pembelajaran pendidikan kejuruan memerlukan waktu lama dan berbasis kompetensi secara khusus memerlukan dukungan sosial dan untuk membekali peserta didik dengan struktural.Dukungan lingkungan sosial kompetensi-kompetensi berbasis duni penting supaya upaya guru untuk kerja sesuai dengan program keahlian mengubah beliefs dan practice-nya yang dipilih melalui latihan berhasil.Dukungan struktural adalah (training).Training bersifat jangka dukungan dari pimpinan dan institusi pendek, bidang spesifik dan yang memiliki otoritas dalam mengatur mementingkan hasil yang guru.Guru yang sering mendapatkan terukur.Kompetensi keras (hard skills) pelatihan tentang pembelajaran pada umumnya bisa dicapai melalui mungkin saja baru pada taraf memiliki pendekatan training ini. pengetahuan belum terinternalisasikan 74
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Lulusan SMK dipersiapkan ketercapaian tujuan dari kegiatan memasuki lapangan kerja untuk pembelajaran. Sedangkan efisien menjadi tenaga kerja yang produktif memberikan manfaat biaya yang tidak yang akanmempunyai dampak pada tinggi pada pelaksanaan pembelajaran. peningkatan kemampuan ekonomi Hasil kegiatan pendidikan bangsa. Outcomes pendidikan biasanya tidak bisa diketahui langsung kejuruan meliputi keberhasilan di dunia dan tidak akurat, tetapi dapat diketauhi kerja, keberhasilan di pendidikan yang pada waktu yang panjang. Oleh karena lebih tinggi, dan kebahagiaan hidup di itu meskipun banyak sikap dan karakter masyarakat. Oleh karena itu yang tidak mudah diukur, guru tetap pendidikan kejuruan tidak hanya harus melakukan pendidikan dan membekali peserta didiknya untuk mendidikan kepada peserta didiknya menguasai hard competences atau dengan harapan hasilnya hard skills tetapi juga soft akandirasakan ketika mereka hidup di competences. Prinsip-prinsip masyarakat. Yang bisa diamati pada pendidikanakan mampu membekali tahap pembelajaran adalah adanya peserta didik dengan attitudes dan soft potensi yang berkembang ke arah yang skills. Pendidikan menekankan pada lebih baik dan selalu ada perubahan proses bukan hasil. Dengan proses dan peningkatan selama proses yang benar akan dapat dijamin efisien, pembelajaran, dan hal semacam ini ketepatan waktu dan hasil yang efektif. bisa diamati dan diukur. Efektif artinya proses menjamin Pengembangan Isi Kurikulum yang tidak terisi oleh lulusan Pada awaltulisan ini telah pendidikan kejuruan dan vokasi, dijelaskan bahwa pendidikan kejuruan sementara pengangguran banyak, juga harus dikembangkan dengan dasar bisa disebabkan kompetensi yang sosiologis dalam merespon perubahan dikembangkan di dunia pendidikan sosial dan ekonomi. Prinsip pendidikan tidak sesuai dengan kompetensi yang yang mampu merespon kebutuhan ada di lapangan kerja. Tumbuhnya tenaga kerja yang kompeten ini bisa peluang kerja yang disebabkan oleh dipenuhi melalui penerapan bidang munculnya ipteks baru juga sering tidak pendidikan berbasis kompetensi dunia bisa dipenuhi oleh kualifikasi dan kerja. Oleh kerena itu, relevansi antara kesesuain keahlian lulusan sekolah dunia pendidikan dengan dunia kerja kejuruan dengan keahlian yang menjadi sangat penting ketika diperlukan. merancang model pendidikan kejuruan Perubahan masyarakat yang dan vokasi berbasis kompetensi. dikarenakan meningkatnya Problematika mismatch antara kesejahteraan akan mengubah perilaku demand dunia kerja dan supply dari masyarakat yang mementingkatan bidang pendidikan diperkirakan terkait kesehatan, kesenangan dan hiburan, dengan perencanaan kurikulum yang akan mempengaruhi tumbuhnya jenis dirancang dengan tidak memperhatikan pekerjaan dan berkembangnya prinsip pengembangan kurikulum spektrum kejuruan. Perkembangan pendidikan kejuruan dan vokasi yang teknologi yang mempengarusi proses benar. Masih adanya peluang kerja produksi dan sistem ekonomi yang 75
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 banyak memerlukan kemampuan kemampuan dalam tiga macam kinerja, pekerja yang lebih tinggi yang lebih yaitu: ”building and applying memiliki kemampuan berpikir tingkat knowledge, sharing knowledge, and tinggi akan juga berimplikasi pada isi maintaing knowledge”. kurikulum (CRRI & CRKRA, 2000). Oleh karena itu model Perubahan sistem pendidikan berbasis kompetensi untuk ketenagakerjaan di perusahaan yang berbagai bidang kejuruan dan vokasi harus menghadapi kompetisi saat ini yang memenuhi prinsip-prinsip akan mengubah pola rekrutmen dan pendidikan kejuruan dan mempunyai persyaratan tenaga kerja yang akan dasar teori dan konsep yang kuat, perlu dipilih yang menurut Pulakos, Dorsey & dikembangkan. Borman (2003: 165) meliputi Konsep tentang Kompetensi Selama ini telah berkembangan Kata kompetensi memiliki konsep tentang hard secara umum berarti sebagai competences/skills (kompetensi lunak) kemampuan atau keahlian untuk dan soft competences/skills melakukan suatu pekerjaan atau (kompetensi lunak). Hard skills lebih aktifitas.”Competence” is defined as a mudah dipelajari dan diajarkan combination of relevant skills, dibandingkan dengan soft skills. konwledge and understanding and Meskipun begitu guru sebagai ability to apply them”. (National pendidikan memiliki kwajiban Vocational Qualifications (NVQs), mengajarkan dan mengembangkan United Kingdom).(Dit. Dikmenjur, soft skills ini. Misalnya dengan melalui 2002:3). Definisi tentang kompetensi berbagai saluran pendidikan; secara juga diberikan oleh Spencer & Spencer formal, informal, hidden maupun formal (1993:9-11) dalam model ”gunung es” curriculum atau lewat pemodelan nya yang meliputi lima dimensi dalam perilaku tokoh teladan. kompetensi, yakni: (1) motif (motive); Isi kurikulum pendidikan (2) pembawaan (trait); (3) konsep diri berbasis kompetensi pada dasarnya (self-concept); (4) pengetahuan berdasarkan pada Standar Kompetensi (knowledges); dan (5) keterampilan yang dikembangkan oleh pemerintah. (skills). Standar Kompetensi yang digunakan Pada model ini dijelaskan bahwa pada dunia pendidikan adalah standar dimensi pengetahuan dan keterampilan kompetensi yang dikembangkan oleh bersifat tampak di permukaan (surface) Badan Standasisasi Nasional dan lebih mudah dikembangkan Pendidikan (BSNP). Menurut BSNP, melalui pembelajaran (teachable). Standar Kompetensi Kerja Nasional Pembelajaran dan latihan merupakan Indonesia (SKKNI) adalah rumusan cara yang paling efektif untuk kemampuan kerja yang mencakup menumbuhkembangkan dimensi ini. aspek pengetahuan, ketrampilan Sebaliknya dimensi motif, pembawaan, dan/atau keahlian serta sikap kerja dan konsep diri merupakan dimensi yang relevan dengan pelaksanaan mendasar, dan lebih sulit tugas dan syarat jabatan yang dimiliki dikembangkan baik melalui pelatihan seseorang untuk menduduki jabatan maupun pembelajaran (non-teachable). 76
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 tertentu yang berlaku secara Nasional kelompok, (e) menggunakan ide-ide (www.BNSP.go.id). dan teknik matematika, (f) Setiap standar kompetensi memecahkan masarah, (g) mengandung kompetensi kunci yaitu menggunakan teknorogi (SKKNI, keterampilan umum yang diperlukan 2003). agar kriteria unjuk kerja tercapai pada PP Nomor 19 tahun 2005 tingkatan kinerja yang dipersyaratkan tentang Standar Nasional Pendidikan untuk peran/fungsi pada suatu dalam BAB V pasar 25 standar pekerjaan.Adapun kompetensi kunci kompetensi lulusan digunakan sebagai meliputi: (a) mengumpulkan, pedoman penilaian dalam penentuan mengorganisir dan menganalisa kelulusan peserta didik dari satuan informasi, (b) mengkomunikasikan ide- pendidikan, kompetensi lulusan ide dan informasi, (c) merencanakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan mengorganisir aktifitas-aktifitas, (d) dan (2) mencakup sikap, pengetahuan, bekerja dengan orang lain dan dan keterampilan. Competency-Based Assessment criteria) yang ditetapkan pada standar (CBA) kompetensi (Depdiknas, 2004). Menurut Depdiknas, 2004, Menurut Australias National tujuan penilaian hasil belajar berbasis Training Framework (NTF), kompetensi antara lain: (a) competency-based assessment menyediakan acuan atau referensi didefinisikan ; whether a person has penilaian hasil belajar peserta didik the skills, knowledge and experience yang sesuai dengan kurikulum SMK required to perform specific tasks in the berbasis kompetensi (competency- workplace, or to gain credit towards a base curriculum), (b) meningkatkan vocational education and training mutu pelaksanaan penilaian hasil qualiflcation or course. Assessment is belajar peserta didik baik yang based on industry determined langsung berkaitan dengan proses competency standards. Beberapa pembelajaran di sekolah dan di kriteria penilaian kelas menurut industri, maupun yang berkaitan Depdiknas, 2007, meriputi; (a) validitas, dengan penilaian penguasaan (b) reliabilitas, (c) terfokus pada kompetensi, (c) mengembangkan kompetensi, (d) komprehensif, (e) model penilaian berbasis kompetensi, obyektif, dan (d) mendidik. Sedangkan dan (d) melaksanakan uji kompetensi teknik penilaian dapat dilakukan lulusan. Penilaian hasil belajar dalam dengan cara; (a) penilaian unjuk kerja, sistem pembelajaran kompetensi pada (b) penilaian sikap, (c) penilaian dasarnya merupakan proses terturis, (d) penilaian proyek, (e) penentuan untuk memastikan peserta penilaian produk, (f) penggunaan didik apakah sudah kompeten atau portofolio, dan (g) penilaian diri. belum kompeten. Penentuan tersebut Menurut Gonczi (1998), metode dilakukan dengan cara penilaian kompetensi dapat dilakukan membandingkan bukti-bukti hasil dengan cara: (a) norm-referenced belajar (learning evidence) yang standards, (b) task-referenced diperoleh seorang peserta didik standards, (c) criterion-referenced dengan kriteria kinerja (performance standards. Masih menurut Gonczi 77
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 (1998) metode penilaian berbasis bidang keahlian kejuruan yang memiliki kompetensi antara lain; (1) pencil and karakteristik pekerjaan (tasks) yang paper test, (2) multiple choice test, (3) berbeda-beda.Penilaian performance written response test, (4) oral (kinerja), lebih banyak digunakan pada assessment, (5) performance pendidikan kejuruan karena sesuai bila assessment, (6) work-based untuk pengukuran kemampuan assessment. Konep Gonczi ini bisa seseorang melakukan pekerjaannya disesuaikan dengan masing-masing sesuai bidang keahliannya. Uji Kompetensi dan Sertifikasi kumpulan para ahli pada bidang Kompetensi kejuruan tertentu atau Asosiasi Ahli Pendidikan berbasis kompetensi bukan berupa ijazah dari sekolah. pada bidang kejuruan menghasilkan Asosiasi ini mewakili DUDI dalam lulusan yang mempunyai kompetensi melakukan uji kompetensi sebelum sesuai dengan persyarakat tenaga pengakuan terhadap apa yang dikuasai kerja yang ditentukan oleh dunia kerja oleh lulusan pendidikan kejuruan itu dan industri (DUDI).Sekolah hanya diberikan. Oleh karena itu Uji bertugas mendidik peserta didik Kompetensi tidak boleh dilakukan oleh memiliki kompetensi dunia kerja sekolah penyelenggara sendiri, kecuali tersebut, dan siap memegang hanya untuk mengukur perkembangan pekerjaan di DUDI bila telah selesai peserta didik.Uji kompetensi dilakukan melaksanakan program oleh institusi yang memiliki pendidikan.Secara formal lulusan yang kewenangan dan kemampuan untuk kompeten tersebut memerlukan melakukan uji kompetensi.Sedangkan pengakuan dari pengguna kemampuan diberikan oleh Asosiasi (user).Pengakuan itu harus berasal dari Profesi atau Asosiasi Ahli. Metode Penelitian Pada tahap ini pendekatan yang Tujuan penelitian ini digunakan adalah pendekatan adalahmenghasilkan model pendidikan kuantitatif.Melalui kajian teori-teori yang berbasis kompetensi pada bidang relevan dan data empiris prasurvey kejuruan dengan menggunakan kemudian dilakukan analisis komparatif prosedur penelitian untuk mencari kesenjangan antara pengembangan.Richey dan Klein yang ideal dengan yang dilaksanakan (2007:41) menyatakan bahwa saat ini.Pengamatan awal dilakukan “because so many methods are diSMKN 2 Wonosari, SMKN 1 Depok, typically used, design and development SMKN 4 Yogyakarta, SMKN 5 research tends to be complex. Often Yogyakarta, SMKN 2 Pengasih, dan the methods used span both qualitative SMK Muhammadiyah 3 and quantitative strategies”. Karena Yogyakarta.Instrumen yang digunakan kerumitan dan luasnya permasalahan adalah angket dan pedoman dan kegiatan dalam penelitian wawancara. pengembangan, maka penelitian ini Kesenjangan akan difokuskan menggunakan pendekatan penelitian pada dasar filosofi, pembelajaran, campuran antara kualitatif dan asesmen, dan uji kompetensi antara kuantitatif (mixed research konsep dan teori dengan penerapan di approach).Prosedur penelitian R & D tingkat kelas. Analisi data dilakukan dilakukan seperti pada gambar 1. dengan metode deskriptif kualitatif, 78
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 dengan mengolah data kualitatif untuk mengelompokkan, mereduksi, dan dideskripsikan secara kualitatif.Analisis mengkomparasikan. data kualitatif dilakukan dengan Hasil Penelitian mendasari pada orientasi pendidikan Hasil penelitian ini berupa model harus kontekstual dan bermanfaat bagi konseptual sistem pendidikan berbasis manusia dan perkembangan kompetensi pada bidang kejuruan manusia.Para lulusan PBKJ selain (MPKJ). Model PBKJ ini terdiri dari memiliki karakteristik di atas juga harus beberapa sub sistem atau komponen dengan mudah mampu menyesuaikan model yaitu: model pengembangan dengan perubahan dan membentuk kurikulum, model pembelajaran, model manusia kritis yang harus berani asesmen pembelajaran, dan model uji melakukan perubahan. Filosofi kompetensi seperti ditunjukkan pada Pancasila akam memberi warna gambar 2. kekhasan Indonesia antara lain Kurikulum pendidikan kejuruan kebersamaan, empati sosial, toleransi, dimulai dari Standar Kompetensi dan ber ketakwaan kepada Tuhan Lulusan (SKL), yang merupakan Yang Maha Esa. karakteristik dan kemampuan lulusan Selain model PBKJ, penelitian yang dikehendaki.SKL kemudian pada tahap pertama (tahun pertama) dirumuskan menjadi tujuan menghasilkan panduan atau rambu- pendidikan.Pada pendidikan kejuruan rambu untuk pengembangan sub-sub memiliki misi menyiapkan lulusan siap komponen model pengembangan masuk dunia kerja untuk bekerja.Selain kurikulum, model pembelajaran, model itu lulusan juga memiliki hak dan asesmen, dan model uji kompetensi. kemampuan untuk melanjutkan Prosedur penelitian dan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi pengembangan dalam penelitian atau membuka usaha sendiri untuk digambarkan dalam bagan sebagai menjadi wirausaha. Ketiga hal yang berikut: merupakan karakteristik output ini harus bisa dipenuhi. Hasil pendidikan kejuruan harus juga berorientasi pada tercapainya kriteria outcome. Kriteria outcomes memenuhi antara lain tujuan Sisdiknas, berhasil dalam karir bila sudah bekerja, berhasil di PT bila melanjutkan sekolah, dan berhasil menjadi wirausaha. Untuk mencapai tujuan PBKJ yang meliputi output dan outcome perlu dicari dasar filosofi, model pembelajaran, model asesmen, dan model uji kompetensi. Dasar filosofi berdasar kajian teori adalah realisme, idealisme, progresivisme, rekonstruksionisme, dan Pancasila.Realisme mendasari pada pendekatan pendidikan kompetensi yang harus terukur.Idealisme mendasari pada pendidikan berbasis kompetensi yang mempunyai misi pembentukan manusia seutuhnya.Pragmatisme 79
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 TAHUN PERTAMA Studi DRAFT MODEL Analisis komparatif: KONSEPTUAL; Literatur KESENJANGAN EXPERT JUDMENT & Empiris TAHUN KEDUA Evaluasi dan Expert Model Konseptual Revisi Judgment (FGD) PBKJ Perangkat Model: Uji Coba terbatas Kurikulum, Pembelajaran, Uji kompetensi Uji Coba lebih luas x Evaluasi x Penyempurnaan Model Hipotetik TAHAP UJI LAPANGAN/VALIDASI dan DISEMINASI Validasi Model Implementasi model Model Final (Kelp.Eksp.& Kontrol IV. HASIL PENELITIAN Gambar 2. Prosedur Penelitian Model PBKJ 80
    • i Catatan: garis Catatan: garis tan aris SKL Dunia Usaha/Industri (Du/Di) Kurikulum Berbasis Competency Based Competency Based- UJI KOMPETENSI Kompetensi Teaching and Assessment DAN SERTIFIKASI Learning KEAHLIAN Asosiasi Profesi/Lembaga FT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 Sertifikasi Profesi (LSP) realist, idealist, Aktif, inovatif, kreatif, PAP: (1) progressivist, efektif, menyenangkan Performance berbasis pada Assessment, reconstructionist, Output: behaviorist, cognitivist, (2)Porfolio Pancasila Assessment, (3) Self (1) Memenuhi constructivist philosophies principles A t (4) P Kriteria SKL (2) Memiliki MODEL Kompetensi Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik Mesin Competency Based Education & Training UJI DUDI KOMPETENSI (3) Berhasil UN81 OUTCOME (1). Berhasil dalam Karir (2). Berhasil di PT (3). Berhasil dalam Usaha (4). Bahagia hidup putus-putus (-----) = hubungan dengan luar kelas Gambar 3. Model Konseptual PendidikanBerbasis Kompetensi pada Bidang Kejuruan (PBKJ) ISSN: 2086-8987
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Panduan Pengembangan Komponen 1. Pengembangan Model Modl PBKJ Kurikulum PBKJ Penelitian pada tahap ini Keterkaitan antara dasar ditargetkan untuk menghasilkan model filosofis, sosiologis, dan PBKJ dan Panduan pengembangan psikologis. komponen-komponen model PBKJ. Filosofi (Realist), Sosiologis: mengatasi Psychologis: Idealist, progresif, pengangguran; Behaviorist, rekonstructionist, perubahan masyarakat; cognitivist, ipteks, sistem ekonomi Pancasila constructivist KURIKULUM PBKJ: hakekat ilmu Isi Kurikulum: Media dan Metode & Pendekatan sumber belajar strategi, Penilaian 2. Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Kompetensi LEVEL Aspek-aspek kurikulum Tujuan/Fungsi Filosofi Realisme Pendidikan berbasis kompetensi Idealisme Membentuk manusia seutuhnya Pragmatisme Membentuk manusia dan karya yg bermanfaat Rekonstruksionisme Mengembangkan kreativitas Pancasila Lulusan yang berkemampuan sesuai amanah Sisdiknas. Teori Behaviorisme Mengembangkan manual skills,intellectual skills, dan thinking skills kognitivisme Mengembangkan kemampuan menghafal, memahami keterkaitan, apply skills, apply generic skills. konstruktivisme Kemampuan problem solving, kemandirian dan pengembangan konsep, soft skills. Metodologi Metode/strategi Berbagai metode/strategi (tampak tricle down teori mengajar belajar) Fungsi Media Media membantu guru dalam menjelaskan konsep (fungsi penjelas) Media mengembangkan skills (Behavioris); memperkuat kepekaan sensor, memperkuat memori (Kognitivis), menciptakan lingkungan (konstruktivis) Pemilihan prinsip Asesmen proses dan produk; jenis dan instrumen, teknik asesmen penilaian dsb. Classroom RPP dan Pelaksanaan Skenario pencapaian tujuan pembelajaran (tricle down practices Pembelajaran dari filosofi, teori, dan metodologi). Isi pembelajaran (sociological bases) Rencana assessment for learning(tampak tricle down dari filosofi, teori, dan metodologi) Media yang membantu guru dan siswa, menciptakan lingkungan belajar, atau melatih keterampilan (tampak tricle down dari teori belajar) 16 82
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Kesimpulan c. Psikologis: behaviorisme 1. Model Pendidikan Berbasis (habituasi manual, intelektual, Kompetensi bidang Kejuruan terdiri sikap); kognitivisme dari empat komponen model yaitu: (pengembangan kecerdasan model pengembangan kurikulum kognitif); konstruktivisme PBKJ, model pembelajaran PBKJ, (pengembangan kemampuan model sesmen pembelajaran PBKJ, pemecahan masalah, dan model Uji kompetensi PBKJ. pengembangan karakter). Dasar 2. Model Pengembangan Kurikulum psikologi memberikan dasar pada PBKJ mempunyai dasar filosofi, pengembangan media dan sosiologi, dan psikologi. sumber belajar, metode dan a. Filosofis: eklektisistik dari strategi pembelajaran. realisme, idelisme, pragmatisme, d. Ada empat level dalam rekonstruksionisme, dan pengembangan pembelajaran di Pancasila. kelas: yaitu filosofi, teori, b. Sosiologis:menghadapi metodologi, dan praktik di kelas. pengangguran, perubahan Classroom practices pada tingkat masyarakat, ipteks, dan sistem kelas harus mencerminkan ekonomi, manajemen produksi rembesan ke bawah (tricle down) dan tenaga kerja yang dari dasar filosofi (epistemology), berimplikasi pada isi dan sistem teori belajar, dan metode belajar- pembelajaran. mengajar. DAFTAR PUSTAKA kurikulum)Sub Direktorat Australian Council for Educational KPS(Kurikulum dan Program Research (2005). The Potential Studi) Impact of Competency Based Centre of Regional Research & Approaches on Literacy Innovation (CRRI) & Centre for Education. Diambil pada tanggal Research dan Learning in 8 Februari 2005, dari Regional Australia (CRLRA). http://www.gu.edu.au/school/cls/c (2000). The Knowledge based learinghouse/1995- enonomy: implication for com/content12.html vocational education and training. Baktin, M.M. (1984). Problems of Kingswood, NSW: CRRI-UWS & Dostoevsky’s poetics. CRLRA U Tasmania. Minneapolis, MN.: University of Depdikbud.(1997). Keputusan Menteri Minnesotta Press. Pendidikan dan Kebudayaan Borg, W.R & Gall, M.D. (1989). Republik Indonesia Nomor 0490/ Educational Rsearch: An 1992 tentang Sekolah Menengah Introduction Fourth Edition. New Kejuruan. York. Longman. Depdiknas (2004) Pelayanan Buku panduan pengembangan Profesional Kurikulum KBK, kurikulum berbasis kompetensi Jakarta Pendidikan tinggi(Sebuah Depdiknas, Sistem Standardisasi alternatif penyusunan Kompetensi dan Sertifikasi. 2005. 17 83
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Jakarta: Direktorat Jenderal for Vocational Education Manajemen Pendidikan Dasar Research Ltd. dan menengah Direktorat McCown, R. R. & Roop, P. Pembinaan SMK. (1992).Educational Psychology Depdiknas. (2004). Kurukulum SMK and Classroom Practice: A edisi 2004. Jakarta: Direktorat Partnership. Boston: Allyn and Jenderal Pendidikan Menengah Bacon. dan Kejuruan Peraturan Pemerintah Republik Depdiknas.(2004). Pedoman Indonesia Nomor 17 Tahun Pelaksanaan Penilaian Hasil 2010 tentang Pengelolaan dan Peserta Didlk SMK. Penyelenggaraan Pendidikan. Depdiknas.2004. Kurikulum SMK edisi Pulakos, Elaine D., Dorsey, Devid W., 2004, bagian 2, Pedoman & Borman, Walter C. (2003). Pelaksanaan Penilaian Hasil Hiring knowledge-based Eelajar Peerta Diklat SMK. competition dalam Jackon, Depdiknas. 2007. Model Penilaian Susan E, Hitt, Michael A, & Kelas, Kurikulum Tingkat Satuan DeNisi, Angelo S., Managing Pendidikan SMK. Badan Standar Knowledge for Sustained Nasional Pendidikan/BSNP. Competitivse Advantage. San Depdiknas.(2003). Undang-undang RI Fransisco, CA: Jossey-Bass. Nomor 20, Tahun 2003, Richey, R. C., & Klein, J. D. tentang Sistem Pendidikan (2009).Design and development Nasional. research. New York: Routledge. Direktorat PSMK. (10 Mei Reigeluth, Charles M., & Moore, Julie. 2008).Kewirausahaan dalam (1999). Cognitive education and kurikulam SMK. Makalah the cognitive domain, dalam disajikan dalam Seminar Reigeluth, Charless M., Nasional Wirausaha Kuliner, di Instructional-Design Theories Jurusan Teknologi Industri , and Models: a new paradigm of Fakultas Teknik , Universitas instructional theory, h.51-66. Negeri Malang. Mahwah NJ: Lawrence Doolitle, P. E. & Camp, W. G. (1999). Erlbaum. Constructivism: The career and Spencer, Lyle M., and Spencer, Singe technical education perspective. M. (1993). Copetence at work: Journal of Vocational and models for superior Technical Education, 16(1). performance. New York: John Ernest, P. (1994). Varieties of Wiley & Sons, Inc. constructivism: Their von Glasserfeld, E. (1989). Constructivism in metaphors, epistemologies, and education.In Husen T, dan pedagogical implications. Postlethwaite, N. (Eds.).International Hiroshima Journal of Encyclopeedia of Education. Oxford: Mathematics Education, 2, h. 1- Perganon. 14. von Glasserfeld, E. (1998). Why constructivism Gonczi, A., (1998). Developing a must be radical. Dalam M. Larochele, competent workforce: Adult N. Bednarz. & J. Garrison training strategies for vocational (Eds.), Constructivism and Education, educators and trainers. h. 23-28.Cambridge: Cambridge Leadbrook SA: National Centre University Press. 18 84
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 PENERAPAN METODE TUTORIAL UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI TEORI PEMESINAN SEBAGAI PENUNJANG PELAKSANAAN PRAKTIK PEMESINAN Paryanto Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY Abstrak Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah: (1) untuk merumuskan tahapan proses penerapan metode tutorial untuk meningkatkan kompetensi teori pemesinan sebagai penunjang pelaksanaan praktik pemesinan; (2) untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar antara kelas yang menerapkan metode tutorial dengan kelas yang tidak menerapkan metode tutorial. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian quasi eksperimen dengan desain pretest-posttest control design.. Penelitian dilaksanakan pada pembelajaran mata kuliah praktik Proses Pemesinan 3 yang diselenggarakan di semester ganjil yaitu semester 3. Objek dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester 3 Pendidikan Teknik Mesin yang mengikuti mata kuliah Proses Pemesinan Lanjut kelompok C1 dan D2. Kelas C1 dijadikan sebagai kelas kontrol dan kelas D2 menjadi kelas eksperimen. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, dokumentasi, wawancara dan tes. Teknik analisis data dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif. Penelitian yang telah dilaksanakan mendapatkan hasil: (1) tahapan proses penerapan metode tutorial adalah persiapan perangkat pembelajaran (job praktik, media pembelajaran, kesiapan alat dan mesin, kesiapan bahan praktik, RPP, dan Silabus), persiapan materi tutorial (perhitungan roda gigi lurus, roda gigi miring/helix, roda gigi payung, dan gigi rack lurus), penentuan jadwal tutorial (materi yang akan disampaikan tiap pertemuan), pelaksanaan tutorial sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, evaluasi kegiatan; (2) terdapat perbedaan prestasi belajar mahasiswa pada kelas yang menerapkan metode tutorial dengan kelas yang tidak menggunakan metode tutorial sebesar 42,85 %. Kata kunci: Metode Tutorial, Proses Pemesinan. Pendahuluan benar mampu menanamkan dasar- dasar yang kuat tentang praktik Matakuliah Proses Pemesinan permesinan. Dengan penguasaan merupakan matakuliah praktik yang materi yang memadai akan menunjang mengajarkan keterampilan / mahasiswa dalam pelaksanaan praktik. kompetensi di bidang pemesinan. Keberhasilan mahasiswa menguasai Kompetensi tersebut berpegang pada kompetensi pada matakuliah ini akan prinsip-prinsip pemotongan logam turut meningkatkan kualitas hasil dengan mesin-mesin perkakas baik pendidikan yang dihasilkan. konvensional maupun non- Agar proses pembelajaran konvensional, sehingga memerlukan praktik dapat berjalan dengan baik, langkah-langkah kerja yang runtut dan tentunya mahasiswa harus menguasai jelas dalam pelaksanaan praktik serta pengetahuan atau kompetensi di membutuhkan pengetahuan bidang teori pemesinan, sebagai perhitungan parameter pemotongan. penunjang palaksanaan pembelajaran Dengan demikian mata kuliah ini praktik pemesinan. Kemampuan yang memiliki peran strategis yang akan dimaksud adalah kemampuan dalam menentukan ciri khas permesinan. Oleh merencanakan langkah kerja, alat dan karena itu, pembelajaran harus benar- mesin mesin yang akan digunakan, 85
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 tindakan keselamatan kerja yang harus secara keseluruhan termasuk katagori dijalankan, serta menentukan rendah. Disamping permasalahan parameter pemotongan yang akan tersebut kemampuan mahasiswa dalam digunakan. Kenyataan yang masih kerjasama tim, kemampuan dijumpai selama ini dalam berkomunikasi, dan kemandirian dalam pembelajaran praktik pemesinan, praktik masih perlu mendapatkan diantaranya : (1) mahasiswa kurang penekanan.Situasi pembelajaran memiliki pertimbangan teoritis atau seperti ini jelas jauh dari harapan atau prosedur proses produksi. Hal ini tujuan pembelajaran yang sangat tampak dari tingkat kesalahan menghargai kualitas, ketelitian, ukuran/kegagalan ukuran yang masih ketepatan dimensi dan waktu. banyak terjadi, (2) mahasiswa jarang Permasalahan-permasalahan atau tidak terbiasa merencanakan yang timbul dalam pembelajaran terlebih dulu langkah-langkah kerja tersebut memerlukan upaya serius secara rinci dan tertulis. Mahasiswa untuk mengatasinya agar dicapai langsung mengerjakan tugasnya pembelajaran yang berkualitas. Dari menggunakan mesin perkakas dengan hasil perenungan serta diskusi dengan tanpa rencana kerja tertulis. Hal ini beberapa dosen, disimpulkan bahwa berakibat tingkat kesalahan pengerjaan permasalahan tersebut bukan semata- masih banyak terjadi tanpa mampu mata disebabkan oleh mahasiswa diantisipasi, karena tidak menggunakan namun dapat pula diakibatkan oleh prosedur langkah kerja yang runtut dan metode pembelajaran yang belum benar. Disamping itu bila terjadi mampu mengoptimalkan potensi kesalahan sulit untuk dilakukan mahasiswa. Permasalahan juga timbul pelacakan, (3) mahasiswa jarang dari dosen yang mengajar. Selama ini memperhitungkan waktu produksi untuk para dosen pengajar matakuliah ini membuat suatu komponen benda kerja. belum memiliki kesamaan metode yang Mahasiswa menganggap bahwa yang jitu dalam proses pembelajaran yang penting dari semua job tersebut selesai dilaksanakan. Hal ini memungkinkan tanpa perlu mengestimasi waktu terjadinya ketidakselarasan antar dosen produksi masing-masing job, (4) yang mengajar matakuliah yang sama kemampuana mahasiswa dalam terutama dalam memberikan menentukan parameter pemotongan penjelasan terhadap hal-hal yang masih sangat rendah, hal ini terlihat menyangkut dengan masalah praktik jelas pada saat mereka menyusun work yang akan dijalani oleh mahasiswa. preparation (5) kemampuan mahasiswa Bahkan dalam pelaksanaannya, untuk mengerjakan pekerjaan sejenis ternyata apa yang diajarkan dalam dengan variasi dimensi juga rendah., matakuliah teori proses pemesinan (6) mahasiswa malas sekali untuk belum bisa mendukung dalam membaca atau mencari beberapa pelaksanaan praktik. Hanya sebagian sumber/literatur yang berhubungan kecil mahasiswa yang memahami betul dengan teori pemesinan, (7) dari hasil tentang teori-teori pemesinan yang praktik terlihat bahwa tingkat kegagalan kemudian mampu mengaplikasikan ukuran masih tinggi, kesalahan dalam pembelajaran praktik. prosedur penggunaan mesin masih Berdasarkan hasil pemikiran terjadi serta nilai yang didapatkan serta diskusi dengan rekan sejawat, 86
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 salah satu alternatif pembelajaran yang terbuka terhadap pembaharuan, layak diujiterapkan dan dipandang bersedia menanggapi dan mengahargai mampu berbagai permasalahan diatas, pendapat orang lain, bersedia menguji serta mampu mengakomodir coba gagasan positif yang berasal dari perkembangan belajar individu teman sejawat, ahli pendidikan, mahasiswa adalah dengan peneliti, dan tidak mudah putus asa, menggunakan metode memiliki rasa tanggungjawab dan tutorial.Pembelajaran menggunakan percaya diri dalam melaksanakan tugas metode tutorial ini selaras dengan sehari-hari dan bersedia bekerjasama prinsip pembelajaran konstruktivisme dengan sejawat, pimpinan dan pihak yang menempatkan siswa sebagai lain yang berminat terhadap subyek belajar yang harus secara aktif pendidikan. Pada akhirnya mengkonstruksi pengetahuannya. dosen/pengajar akan terdorong untuk Dengan demikian diharapkan berkolaborasi dengan teman sejawat kompetensi siswa dalam teori maupun pihak lain untuk selalu pemesinan makin meningkat. memikirkan peningkatan efektifitas Penerapan metode tutorial pembelajaran. diharapkan pembelajaran dapat Berdasarkan permasalahan berjalan dengan efektif. Karena dengan yang timbul dalam pembelajaran praktik tutorial ini, mahasiswa akan Proses Pemesinan di Jurusan mendapatkan panduan dan bimbingan Pendidikan Teknik Mesin UNY tersebut, khusus oleh beberapa dosen, serta dapat dirumuskan permasalahan akan mendapatkan beberapa latihan penelitian sebagai berikut: (1) soal sehingga mahasiswa akan betul- bagaimanakah tahapan proses betul memahami dan menguasai penerapan metode tutorial untuk kompetensi yang diharapkan. Dengan meningkatkan kompetensi teori tutorial ini diharapkan terjadi pemesinan sebagai penunjang pembelajaran yang aktif, partisipatif, pelaksanaan praktik pemesinan ?; (2) kolaboratif, runtut, tuntas dan bagaimanakah perbedaan prestasi bermakna. belajar antara kelas yang menerapkan Penerapan metode ini juga metode tutorial dengan kelas yang tidak diharapkan dapat menimbulkan sikap menerapkan metode tutorial? profesional dosen/pengajar yang Landasan Teori bantuan, petunjuk, arahan, dan motivasi agar para siswa belajar secara Tutorial atau tutoring adalah efisien dan efektif. Subyek atau tenaga bantuan atau bimbingan belajar yang yang memberikan bimbingan dalam bersifat akademik oleh tutor kepada kegiatan tutorial dikenal sebagai tutor. mahasiswa (tutee) untuk membantu Tutor dapat berasal dari guru atau kelancaran proses belajar madiri pengajar, pelatih, pejabat struktural, mahasiswa secara perorangan atau atau bahkan siswa yang dipilih dan kelompok berkaitan dengan materi ajar. ditugaskan guru untuk membantu Hamalik (2003: 12) menyatakan bahwa teman-temannya dalam belajar di tutorial adalah bimbingan pembelajaran kelas. Tutorial dilaksanakan secara dalam bentuk pemberian bimbingan, 87
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 tatap muka atau jarak jauh berdasarkan berperan antara lain untuk: (1) konsep belajar mandiri. memberikan umpan balik kepada Konsep belajar mandiri dalam mahasiswa, (2) memberikan tutorial mengandung pengertian, bahwa pengajaran, baik secara tatap muka tutorial merupakan bantuan belajar maupun melalui alat komunikasi, dan dalam upaya memicu dan memacu (3) memberikan dukungan dan kemandirian, disiplin, dan inisiatif diri bimbingan, termasuk memotivasi dan mahasiswa dalam belajar dengan membantu mahasiswa minimalisasi intervensi dari pihak mengembangkan keterampilan pembelajar yang dikenal sebagai belajarnya (Race, 1990: 35). Tutor.Prinsip pokok tutorial adalah Agar tutorial tidak terjebak “kemandirian mahasiswa” (student’s dalam situasi perkuliahan biasa, terbina independency).Tutorial tidak ada, jika hubungan bersetara, mampu kemandirian tidak ada. Jika mahasiswa memainkan peran-peran di atas, dan tidak belajar di rumah, dan datang ke tutorial berjalan efektif, tutor perlu tutorial dengan ‘kepala kosong’, maka menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang terjadi adalah “perkuliahan” biasa, yang berfungsi untuk: (1) bukan tutorial. Dengan demikian, membangkitkan minat mahasiswa secara konseptual tutorial perlu terhadap materi yang sedang dibahas, dibedakan secara tegas dengan (2) menguji pemahaman mahasiswa “kuliah” (lecturing) yang umum berlaku terhadap materi pelajaran, (3) di perguruan tinggi tatap muka, di mana memancing mahasiswa agar peran dosen sangat besar. berpartisipasi aktif dalam kegiatan Tutorial berfungsi sebagai tutorial, (4) mendiagnosis kelemahan- pemacu sekaligus pemicu proses kelemahan mahasiswa, dan (5) belajar mahasiswa sehingga menuntun mahasiswa untuk dapat mahasiswa memiliki kemauan dan menjawab masalah yang sedang kemampuan untuk mengamati, berpikir, dihadapi (Hyman, dalam Suroso, 1992). bersikap, dan berbuat dalam Tutor juga menstimulasi mahasiswa menghadapi suatu konsep ilmu untk terlibat aktif dalam pembahasan: pengetahuan dan teknologi sebagai (1) masalah yang ditemukan hasil suatu proses belajar (Tim mahasiswa dalam mempelajari modul; Universitas Terbuka, 1999: 23). Tujuan (2) kompetensi atau konsep esensial utama tutorial adalah menyiapkan matakuliah; (3) persoalan yang terkait mahasiswa agar mampu belajar dengan unjuk kerja (praktik/praktikum) mandiri sehingga tutor memegang mahasiswa di dalam/di luar kelas peranan yang sangat penting dalam tutorial; dan (4) masalah yang berkaitan proses belajar mahasiswa dalam dengan profesi keguruan yang sistem belajar jarak jauh. Menurut ditemukan ketika mahasiswa Bruce (1972: 154), tutor bukanlah satu- menjalankan tugas sehari-hari sebagai satunya sumber informasi bagi guru. mahasiswa, namun dia dapat berperan Beberapa prinsip dasar tutorial sebagai fasilitator yang memberikan yang sebaiknya dipahami oleh tutor bimbingan dan panduan agar agar penyelenggaraan tutorial yang mahasiswa dapat belajar sendiri untuk efektif, dan tidak terjebak pada situasi memahami materi pelajaran. Tutor perkuliahan biasa, adalah: 88
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 1. interaksi tutor-tutee sebaiknya mengembangkan pola interaksi berlangsung pada tingkat tutee-tutee. metakognitif, yaitu tingkatan berpikir 9. tutor perlu melakukan pelacakan yang menekankan pada lebih jauh (probing) terhadap setiap pembentukan keterampilan kebenaran jawaban atau pendapat “learning how to learn” atau “think tutee, untuk lebih meyakinkan tutee how to think” (mengapa demikian, atas kebenaran jawaban atau bagaimana hal itu bisa terjadi, dsb). pendapat yang dikemukakan tutee. 2. tutor harus membimbing tutee (Anda yakin demikian, mengapa, dengan teliti dalam keseluruhan apa alasannya?). langkah proses belajar yang dijalani 10. tutor seyogianya mampu membuat oleh tutee. variasi stimulasi/rangsangan untuk 3. tutor harus mampu mendorong belajar, sehingga tutee tidak tutee sampai pada taraf pengertian merasa bosan, jenuh, dan/atau (understanding) yang mendalam putus asa. sehingga mampu menghasilkan 11. tutor selayaknya memantau kualitas pengetahuan (create) yang tahan kemajuan belajar tutee dengan lama. mengarahkan kajian sampai pada 4. tutor seyogianya menghindarkan taraf pengertian yang mendalam diri dari pemberian informasi (indepth understanding). semata (transfer of 12. tutur perlu menyadari kemungkinan knowledge/information), dan munculnya potensi masalah menantang tutee untuk menggali interpersonal dalam kelompok, informasi/pengetahuan sendiri dari dengan segera melakukan berbagai sumber belajar dan intervensi skala kecil untuk pengalaman lapangan. memelihara efektivitas proses kerja 5. tutor sebaiknya menghindarkan diri dan dinamika kelompok. tutor perlu dari upaya memberikan pendapat senantiasa bekerjasama (power terhadap kebenaran dan kualitas with) dengan tutee, dan selalu komentar atau sumbang pikiran bertanggungjawab atas proses (brainstroming) tutee. belajar dalam kelompok. Akan 6. tutor harus mampu menumbuhkan tetapi, sewaktu-waktu tutor juga diskusi, komentar dan kritik harus lepas tangan (power off) bila antartutee, sehingga dapat proses belajar tutee telah berjalan meningkatkan kemampuan dengan baik. intelektual, psikomotorik, sikap (http://en.wikipedia.org/wiki/Tutor) demokrasi, kerjasama, dan interaksi Proses pembelajaran pada antartutee. hakekatnya untuk mengembangkan 7. segala kuputusan dalam tutorial aktivitas dan kreativitas peserta didik, sebaiknya diambil melalui proses melalui berbagai interaksi dan dinamika kelompok di mana setiap pengalaman belajar. Banyak cara untuk tutee dalam kelompok memberikan menciptakan suasana belajar yang sumbang pikirannya. kondusif, di mana para peserta didik 8. tutor sebaiknya menghindari pola dapat mengembangkan aktivitas dan interaksi tutor-tutee, dan kreativitas belajarnya secara optimal, sesuai dengan dengan kemampuan 89
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 belajarnya masing-masing. Kualitas potensi peserta didik, karena pembelajaran sangat ditentukan oleh manifestasi pengembangan potensi aktivitas dan kreatvitas dosen dalam akan membangun self concept memotivasi belajar siswa, di samping yang menunjang kesehatan mental. kompetensi-kompetensi 5. Inquiry approach. Melalui keprofesionalannya. Dalam hal ini pendekatan ini peserta didik diberi motivasi yang tinggi dari peserta didik kesempatan untuk menggunakan akan berpengaruh besar pada proses mental dalam menemukan peningkatkan keaktifan siswa dalam konsep atau prinsip ilmiah, serta belajar. meningkatkan potensi Dalam upaya meningkatkan intelektualnya. aktivitas dan kreativitas pembelajaran, 6. Pictorial riddle approach. Mulyasa (2006: 168), mengemukakan Pendekatan ini merupakan metode bahwa di samping penyelenggaraan untuk mengembangkan motivasi lingkungan yang kreatif, dosen dapat dan minat peserta didik dalam menggunakan pendekatan sebagai diskusi kelompok kecil. Pendekatan berikut: ini sangat membantu meningkatkan 1. Self esteem approach. Dalam kemampuan berpikir kritis dan pendekatan ini dosen dituntut untuk kreatif. lebih mencurahkan perhatiannya 7. Synetics approach. Pada pada pengembangan self esteem hakekatnya pendekatan ini (kesadaran akan harga diri), dosen memusatkan perhatian pada tidak hanya mengarahkan peserta kompetensi peserta didik untuk didik untuk mempelajari materi mengembangkan berbagai bentuk ilmiah saja, tetapi pengembangan metaphor untuk membuka sikap harus mendapatkan perhatian intelegensinya dan secara profesional. mengembangkan kreativitasnya. 2. Creative approach. Beberapa saran Kegiatan dimulai dengan kegiatan untuk pendekatan ini adalah kelompok yang tidak rasional, dikembangkannya problem solving, kemudian berkembang menuju brain stroning, inquiry, dan role pada penemuan dan pemecahan playing. masalah secara rasional . 3. Value clarification and moral Menurut Paul B. Diedrich development approach. Dalam (Sardiman A.M, 2005 : 101) terdapat pendekatan ini pribadi menjadi delapan jenis aktivitas siswa antara sasaran utama, pendekatan holistic lain: dan humanistic menjadi ciri utama 1. Visual activities, yang termasuk di dalam mengembangkan potensi dalamnya misalnya, membaca, manusia menuju self actualization. memperhatikan gambar Dalam situasi yang demikian demonstrasi, percobaan, pekerjaan pengembangakn intelektual akan orang lain. mengiringi perkembangan pribadi 2. Oral activities, seperti: menyatakan, peserta didik. merumuskan, bertanya, memberi 4. Multiple talent approach. saran, mengeluarkan pendapat, Pendekatan ini mementingkan mengadakan wawancara, diskusi, upaya pengembangan seluruh interupsi. 90
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 3. Listening activities, sebagai contoh, apa yang bisa dilakukan untuk mendengarkan: uraian, meningkatkan partisipasi anak percakapan, diskusi, musik, pidato. tersebut. 4. Writing activities, seperti misalnya 2. Siapkan siswa secara tepat. menulis cerita, karangan, laporan, Persyaratan awal apa yang angket, menyalin. diperlukan anak untuk mempelajari 5. Drawing activities, misalnya: tugas belajar yang baru. menggambar, membuat grafik, 3. Sesuaikan pengajaran dengan peta, diagram. kebutuhan-kebutuhan individual 6. Motor activities, yang termasuk di siswa. Hal ini sangat penting untuk dalamnya antara lain: melakukan meningkatkan usaha dan keinginan percobaan, membuat konstruksi, siswa untuk berperan secara aktif model mereparasi, bermain, dalam kegiatan belajar mengajar. berkebun, beternak. Memahami uraian tentang 7. Mental activities, sebagai contoh aktivitas dan kreativitas peserta didik misalnya: menanggap, mengingat, dalam belajar sangat tergantung pada memecahkan soal, menganalisa, aktivitas dan kreativitas dosen dalam melihat hubungan, mengambil mengembangkan pembelajaran, dan keputusan. menciptakan lingkungan belajar yang 8. Emotional activities, seperti kondusif. Dosen dapat menggunakan misalnya, menaruh minat, merasa berbagai pendekatan dalam bosan, gembira, bersemangat, meningkatkan aktivitas dan kreativitas bergairah, berani, tenang, gugup. peserta didik, mengetahui jenis-jenis Sardiman A.M. (2005 : 26-27) aktivitas siswa, dan juga mengerti menjelaskan ada beberapa cara untuk bagaimana cara untuk meningkatkan meningkatkan keaktifan siswa dalam keaktifan siswa dalam belajar. belajar, antara lain: Sehingga dengan adanya peningkatan 1. Kenalilah dan bantulah anak-anak keaktifan siswa dalam belajar akan yang kurang terlibat. Selidiki apa sangat memungkinkan terjadi yang menyebabkannya dan usaha peningkatan prestasi siswa-siswanya. Metode Penelitian design. Adapun desain penelitian tersebut dapat dilihat pada gambar di Penelitian ini menggunakan bawah ini: jenis penelitian quasi eksperimen dengan desain pretest-posttest control R O1 X O2 R O3 O4 Gambar 1. Pretest-Posttest Control. Design (Sugiyono, 2010 : 112) Keterangan : R = kelas kontrol dan kelas uji coba diambil secara random O1 = pretest kelas uji coba O2 = posttest kelas uji coba O3 = pretest kelas kontrol O4 = posttest kelas kontrol 91
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Penelitian ini dilaksanakan di catatan-catatan penting yang Jurusan Pendidikan Teknik Mesin berhubungan dengan masalah Fakultas Teknik Universitas Negeri pembelajaran dikelas, observasi untuk Yogyakarta. Pelaksanaan penelitian mengadakan pencatatan secara selama enam bulan mulai bulan Juni- sistematis mengenai tingkah laku November 2011.Objek penelitian ini secara langsung kelompok ataupun adalah mahasiswa semester 3 individu, wawancara digunakan untuk Pendidikan Teknik Mesin yang mengungkap data tentang pelaksanaan mengikuti mata kuliah Proses pembelajaran.Data yang terkumpul Pemesinan Lanjut kelompok C1 dan kemudian dianalisis dengan analisis D2. Kelas C1 dijadikan sebagai kelas diskriptif kuantitatif. Analisis diskriptif kontrol dan kelas D2 menjadi kelas digunakan untuk menilai peningkatan eksperimen. keaktifan dan kemandirian belajar Teknik pengumpulan data mahasiswa. Analisis kuantitatif dalam penelitian ini meliputi penilaian digunakan untuk menilai peningkatan dengan menggunakan metode tes dan prestasi mahasiswa, yang meliputi pemberian tugas untuk mengetahui perhitungan nilai rerata, standar prestasi belajar mahasiswa, deviasi, dan prosentase. dokumentasi untuk mendapatkan Hasil dan Pembahasan gigi miring/helix, roda gigi payung, Penelitian ini dilaksanakan pada dan gigi rack lurus). mata kuliah Proses Pemesinan Lanjut 3. Penentuan jadwal tutorial (materi kelas D2 sebagai kelas eksperimen dan yang akan disampaikan tiap kelas C1 sebagai kelas kontrol. Proses pertemuan). tutorial dilaksanakan selama 60 menit 4. Pelaksanaan tutorial sesuai dengan sebelum praktik dimulai, dan jadwal yang telah ditentukan (Tabel dilaksanakan selama 6 kali pertemuan. 1). Secara rinci pelaksanaan kegiatan ini 5. Evaluasi kegiatan. sebagai berikut: Pretest dilaksanakan pada 1. Persiapan perangkat pembelajaran pertemuan minggu pertama baik pada (job praktik, media pembelajaran, kelas eksperimen maupun kelas kesiapan alat dan mesin, kesiapan kontrol. Hasil pre test yang telah bahan praktik, RPP, dan Silabus). dilaksanakan dapat dilihat pada tabel 2. 2. Persiapan materi tutorial (perhitungan roda gigi lurus, roda Tabel 1. Jadwal pelaksanaan tutorial No Pertemuan Materi 1 Minggu I Pre tes 2 Minggu II Roda Gigi Lurus 3 Minggu III Gigi Rack Lurus 4 Minggu IV Roda Gigi Miring/Helix 5 Minggu V Roda Gigi Payung 6 Minggu VI Post tes 92
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Tabel 2.a. Hasil pretest kelas eksperimen No NIM Nilai No NIM Nilai 1 10508134021 45 11 10508134031 45 2 10508134022 35 12 10508134032 60 3 10508134023 35 13 10508134033 55 4 10508134024 40 14 10508134034 50 5 10508134025 45 15 10508134035 35 6 10508134026 45 16 10508134036 30 7 10508134027 50 17 10508134037 30 8 10508134028 35 18 10508134038 45 9 10508134029 35 19 10508134039 45 10 10508134030 55 20 8508134029 35 Tabel 2.b. Hasil pretets kelas kontrol No NIM Nilai No NIM Nilai 1 10503244001 40 11 10508134011 35 2 10503244002 55 12 10508134012 35 3 10503244003 45 13 10508134013 50 4 10503244004 35 14 10508134015 45 5 10503244005 65 15 10508134016 60 6 10503244007 45 16 10508134017 45 7 10503244008 30 17 10508134018 30 8 10503244009 65 18 10508134019 50 9 10503244010 60 19 10508134020 30 10 10503249002 45 20 10503249003 45 Berdasarkan tabel di atas, dilaksanakan kegiatan tutorial selama 4 didapatkan rata-rata nilai pre tes untuk kali pertemuan, kemudian dilakukan kelas eksperimen 42,5, sedangkan post tes. Hasil post tes yang telah untuk kelas kontrol 45,5. Setelah dilaksanakan dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3.a. Hasil post tes kelas eksperimen No NIM Nilai No NIM Nilai 1 10508134021 80 11 10508134031 75 2 10508134022 65 12 10508134032 85 3 10508134023 70 13 10508134033 85 4 10508134024 75 14 10508134034 80 5 10508134025 85 15 10508134035 80 6 10508134026 80 16 10508134036 65 7 10508134027 85 17 10508134037 75 8 10508134028 75 18 10508134038 80 9 10508134029 70 19 10508134039 85 10 10508134030 80 20 8508134029 75 93
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Tabel 3.b. Hasil post tes kelas kontrol No NIM Nilai No NIM Nilai 1 10503244001 55 11 10508134011 45 2 10503244002 55 12 10508134012 50 3 10503244003 60 13 10508134013 55 4 10503244004 45 14 10508134015 60 5 10503244005 65 15 10508134016 70 6 10503244007 45 16 10508134017 50 7 10503244008 50 17 10508134018 45 8 10503244009 65 18 10508134019 50 9 10503244010 60 19 10508134020 50 10 10503249002 55 20 10503249003 55 Berdasarkan hasil post tes yang penelitian ini dilakukan secara telah dilaksanakan, didapatkan rata- random dengan kemampuan awal rata nilai kelas eksperimen sebesar yang tidak jauh berbeda, hal ini 77,5, sedangkan rata-rata nilai kelas terbukti dari hasil pre tes yang telah kontrol sebesar 54,25. Berdasarkan dilaksanakan. Nilai pre tes kelas data tersebut, jelas bahwa ada eksperimen sebesar 42,5, perbedaan prestasi mahasiswa pada sedangkan untuk kelas kontrol 45,5. kelas kontrol dan kelas eksperimen Hasil ini menunjukkan bahwa kedua setelah dilaksanakan kegiatan tutorial. kelas yang dipilih memiliki Perbedaan prestasi antara kelas kontrol kemampuan yang hampir sama, dan kelas eksperimen sebesar 42,85 namun secara konkrit lebih tinggi %. sedikit kelas kontrol. Berdasarkan hasil penelitian 2. Berdasarkan nilai post tes yang yang telah didapatkan, maka dapat telah didapatkan, nilai rata-rata diberikan beberapa pembahasan kelas eksperimen sebesar 77,5, sedangkan rata-rata nilai kelas sebagi berikut: kontrol sebesar 54,25. Berdasarkan 1. Pelaksanaan tutorial dilaksanakan nilai tersebut jelas terlihat ada pada kelas eksperimen yaitu kelas perbedaan prestasi antara kelas D2 yang terdiri dari mahasiswa yang diberlakukan tutorial dengan program studi D3, sedangkan untuk kelas yang tidak diberlakukan, yaitu kelas kontrol dipilih kelas C1 yang sebesar 42,85%. Tutorial dilakukan terdiri dari mahasiswa program dengan pembimbingan yang intensif kepada mahasiswa studi S1. Prosedur pelaksanaan terhadap materi-materi yang telah tutorial pada kelas eksperimen ditentukan, dan dilaksanakan dilaksanakan sesuai dengan rincian selama 4 kali pertemuan. Materi yang telah ditentukan di atas. untuk minggu depan diberikan Sedangkan pada kelas kontrol kepada mahasiswa pada minggu ini metode yang digunakan dalam yaitu dengan memberikan pembelajarannya dengan metode fotocopian lembaran materi kepada mahasiswa. Sehingga mahasiswa yang biasa dijalankan, yaitu dengan diwajibkan membacanya terlebih penjelasan job kemudian langsung dahulu di rumah, dengan harapan praktik. Pemilihan kelas dalam pada pertemuan berikutnya 94
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 mahasiswa sudah memiliki materi yang telah disampaikan di gambaran tentang materi yang kelas. Setelah dilakukan pos tes, akan disampaikan. Disamping terbukti bahwa penerapan metode proses pembimbingan tersebut, tutorial pada mata kulian Proses mahasiswa juga diberikan tugas- Pemesinan Lanjut mampu tugas yang harus mereka kerjakan meningkatkan prestasi mahasiswa di rumah, dengan harapan terkait dengan kompetensi teori mahasiswa lebih mudah mengingat pemesinan. 3) Penentuan jadwal tutorial Simpulan (materi yang akan disampaikan 1. Tahapan proses penerapan metode tiap pertemuan). tutorial sebagai berikut: 4) Pelaksanaan tutorial sesuai 1) Persiapan perangkat dengan jadwal yang telah pembelajaran (job praktik, ditentukan. media pembelajaran, kesiapan 5) Evaluasi kegiatan. alat dan mesin, kesiapan bahan 2. Terdapat perbedaan prestasi praktik, RPP, dan Silabus). belajar mahasiswa pada kelas yang 2) Persiapan materi tutorial menerapkan metode tutorial (perhitungan roda gigi lurus, dengan kelas yang tidak roda gigi miring/helix, roda gigi menggunakan metode tutorial payung, dan gigi rack lurus). sebesar 42,85 %. Daftar Pustaka Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan Bruce, L.A. (1972). A study of the R&D. Bandung : Alfabeta relationship between the Suroso, A.S. (1992). Studi analisis SCIS teachers’ attitude persepsi dan kompetensi toward the Teacher Student tutor tentang penggunaan Relationship and Question teknik bertanya dalam Types.Journal of Research kegiatan tutorial UT. Jakarta: in Science Teaching, 8(2), Pusat Penelitian hal.154-167. Kelembagaan, Lembaga Mulyasa, E. (2006). Kurikulum Berbasis Penelitian Universitas Kompetensi. Bandung: Terbuka. Remaja Rosdakarya. Oemar Hamalik, (2003). Evaluasi Tim Universitas Terbuka. (1999). kurikulum. Bandung : Model-model tutorial. Dalam Remaja Rosdakarya PAU-PPAI UT, Bahan ajar Race, P. (1990).The open learning program akreditasi tutor handbook: Selecting, Universitas Terbuika (PAT- designing and supporting UT). Jakarta: PAU-PPAI UT. open learning materials. ------------------ London: Kogan Page. http://en.wikipedia.org/wiki/T Sardiman AM. (2005). Interaksi dan utor motivasi belajar mengajar. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. 95
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 PENGEMBANGAN MODUL UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MAHASISWA PADA MATA KULIAH TEORI PENGELASAN DI JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN FT UNY Riswan Dwi Djatmiko Jurusan Pendidikan Teknik Mesin Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Bentuk Modul Teori Pengelasan Logam, 2) Kualitas Modul Teori Pengelasan Logam dan 3) Kelayakan Modul Teori Pengelasan Logam yang sesuai Kurikulum Jurusan Pendidikan Tekni Mesin FT UNY. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan obyek pengembangan adalah modul Teori Pengelasan Logam. Prosedur penelitian yang digunakan berdasarkan prosedur penelitian pengembangan yang dikenalkan oleh Borg & Gall. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa: 1) Modul berbentuk self content terdiri 12 buah. Modul 1 s.d 3 berisi kompetensi dasar Konsep dasar pengelasan. Modul 4-6 berisi kompetensi dasar Proses, Parameter, dan Prosedur las SMAW. Modul 7-9 berisi kompetensi dasar Proses, Parameter, dan Prosedur las GMAW. Modul 10-12 berisi kompetensi dasar Proses, Parameter, dan Prosedur las GTAW, 2) Kualitas modul ditinjau dari materi dan bentuk termasuk kategori sangat berkualitas, dan 3) Kelayakan modul dilihat dari kemudahan penggunaan dalam kategori sangat layak dan efektivitas termasuk kategori layak. Kata kunci: Pengembangan modul, Peningkatan prestasi. Guru dan Ahli Madya di bidang Pendahuluan Fabrikasi Logam yang di dalamnya Pengelasan logam merupakan terdapat keahlian pengelasan logam. pekerjaan yang mempunyai prospek Peran yang strategis ini harus yang sangat bagus di dalam dunia diselenggarakan dengan serius, dosen industri. Seorang Ahli Madya di bidang dan instruktur wajib memiliki las yang biasanya menduduki pengetahuan dan ketrampilan di bidang Supervisor pekerjaan las di industri pembentukan bahan & pengelasan mendapatkan gaji minimal 5 juta rupiah logam, peralatannya harus bekerja setiap bulannya, namun untuk dengan baik, bahan harus cukup melakukan pekerjaan tersebut tidaklah tersedia untuk keperluan praktik, dan mudah, untuk melakukan tugasnya yang tak kalah penting adalah strategi, dengan baik, dia harus menguasai metode, dan media pembelajaran yang pengetahuan bahan dasar, bahan handal agar penyerapan materi dapat tambah, prosedur pengelasan, diwujudkan dengan baik. prosedur pemeriksaan sambungan las, Kondisi di atas merupakan repair, dan trampil melakukan keadaan yang ideal, kenyataannya pengelasan. beberapa faktor sudah terpenuhi Jurusan Pendidikan Teknik Mesin dengan baik, misalnya ada beberapa FT UNY, khususnya option Fabrikasi dosen yang sudah memiliki sertifikat las merupakan lembaga yang mencetak international dan sejumlah peralatan las 96
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 sudah memenuhi standar peralatan. disiapkan secara lengkap. Jika dilihat Kendati demikian masih banyak beberapa hasil penelitian strategi kendala di lapangan ketika proses pembelajaran dengan modul dapat pembelajaran berlangsung, diantaranya meningkatkan prestasi belajar dan adalah raw input (mahasiswa sebagai aktifitas siswa sebagaimana hasil subyek pembelajaran) belum penelitian Suryaningsih (1999:46), mempunyai kemampuan dasar yang menyimpulkan bahwa pengajaran sama, sangat heterogen, karena dengan menggunakan modul dapat berasal dari SMU dan SMK, bahkan membuat prestasi belajar menjadi lebih ada yang berasal dari MA sehingga baik. Sehubungan dengan hal itu untuk menyulitkan pemberian materi mengatasi prestasi belajar mahasiswa pembelajaran. yang rendah pada mata kuliah Teori Pengelasan sebagaimana disebutkan Di samping permasalahan di di atas, diperlukan pengembangan atas, karakter mahasiswa yang modul mata kuliah tersebut melalui cenderung kurang aktif, walaupun penelitian. dosen dalam mengajar sudah menggunakan media digital yang cukup Permasalahan yang mendasar bagus, namun mahasiswa jarang yang dalam penelitian ini adalah mahasiswa memberikan respon yang baik, mereka sebagai raw input proses pembelajaran jarang bertanya, hanya beberapa orang mempunyai karakter kurang mandiri, yang mencatat penjelasan dosen, dan motivasi rendah, minat kurang, dan ketika diuji dengan test, nilainya kurang kurang aktif sehingga prestasi mereka bagus. Berdasarkan data nilai semester kurang bagus, oleh karenanya 2 tahun 2010 khususnya mata kuliah diperlukan pengembangan Modul Teori Teori Pengelasan Logam, rerata nilai Pengelasan. Rumusan masalah midtest hanya sebesar 63. Hal ini penelitian ini adalah: 1) Bagaimanakah sangat memprihatinkan. bentuk Modul Teori Pengelasan Logam yang sesuai Kurikulum Jurusan Berdasarkan observasi awal, Pendidikan Tekni Mesin FT UNY?, 2) terungkap bahwa rendahnya prestasi Bagaimanakah kualitas Modul Teori mata kuliah Teori Pengelasan Logam Pengelasan Logam yang sesuai tersebut dikarenakan konsep-konsep Kurikulum Jurusan Pendidikan Tekni materi pembelajaran tidak dikuasai Mesin FT UNY?, dan 3) Bagaimanakah dengan baik, akibat mereka tidak Kelayakan Modul Teori Pengelasan memiliki catatan atau bahan Logam yang sesuai Kurikulum Jurusan perkuliahan yang lengkap dan mereka Pendidikan Tekni Mesin FT UNY? cenderung tidak berusaha untuk melengkapinya. Hasil observasi ini Permasalahan yang mendasar menunjukkan bahwa motivasi, minat, yang terjadi pada mata kuliah Teori dan kemandirian belajar mereka sangat Pengelasan Logam adalah mahasiswa rendah. sebagai raw input proses pembelajaran mempunyai karakter yang kurang Berkaitan dengan permasalahan mandiri, motivasi rendah, minat kurang, tersebut, diperlukan strategi dan kurang aktif sehingga prestasi pembelajaran yang dapat memotivasi mereka kurang bagus, oleh karenanya mahasiswa agar mau belajar mandiri diperlukan strategi pemberian materi dari materi pembelajaran yang sudah 97
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 perkuliahan yang dapat mengatasi hal Dari beberapa pendapat, isi tersebut. Alternatif yang cukup bagus modul terdiri dari: 1) Tujuan dalam mengatasi masalah tersebut pembelajaran, 2) Diskripsi modul, 3) adalah mengembangkan modul Petunjuk penggunaan modul, 4) Materi perkuliahan Teori Pengelasan Logam pembelajaran, 5) Soal, dan 6) kunci yang disampaikan kepada mahasiswa jawaban. melalui kaidah-kaidah pemberian 2. Pengaruh Modul Terhadap Prestasi modul. Belajar Proses pembelajaran dipengaruhi Proses pembelajaran oleh Instrumental input dan mempunyai peran yang sangat penting environmental input. Environmental dalam pembentukan dan perubahan input berkaitan dengan lingkungan di perilaku peserta didik. Pembentukan mana mahasiswa berada, sedangkan aspek kognitif, affektive, dan instrumental input adalah masukan psikomotor di pengaruhi oleh berbagai yang berhubungan dengan sarana dan faktor. Menurut Purwanto, proses prasarana yang meliputi: kurikulum, pembelajaran dipengaruhi oleh metode, media, strategi pembelajaran, instrumental input dan evironmental dan lain-lain. input (2003:106). Instrumental input 1. Modul Teori Pengelasan Logam merupakan masukan yang berasal dari sarana dan prasarana yang meliputi Bahan ajar yang berbentuk kurikulum, metode pembelajaran, dan modul memiliki karakteristik tersendiri media termasuk modul. jika dibandingkan dengan bahan ajar jenis lain. Modul disusun berdasarkan Modul sebagai media konsep mastery learning. Konsep ini mempunyai beberapa kelebihan, menekankan penguasaan bahan ajar diantaranya adalah: 1) Hasil belajar secara tuntas, oleh karenanya dapat diketahui secara cepat dan pencapaian ketuntasan setiap individu sesuai dengan tingkat kemampuan dimungkinkan berbeda dengan lainnya. peserta didik, 2) Beban materi yang Vembriarto berpendapat bahwa modul dipelajari oleh peserta didik merata di merupakan pemberian bahan ajar setiap tatapmuka, 3) Dapat secara mandiri (individual) dan meningkatkan motivasi peserta didik, dimungkinkan peserta didik menguasai dan 4) Modul merupakan media materi ajar sebelum beralih kepada pembelajaran yang efektif dan efisien materi ajar berikutnya (1976: 22). (Setyosari, 1990: 10). Modul yang merupakan salah Berdasarkan landasan teori di satu jenis media pembelajaran atas diduga dengan pengembangan mempuyai dua bentuk, yaitu self modul dan penerapannya pada contain dan non self contain. Bentuk mahasiswa yang mengikuti mata kuliah self contain berisi semua informasi Teori Pengelasan dapat meningkatkan yang dibutuhkan dalam pembelajaran, prestasi belajar mereka. sedangkan non self contain isi modul Metode Penelitian masih harus dilengkapi oleh mahasiswa melalui tugas yang diberikan oleh Penelitian dilakukan di Jurusan dosen. Pendidikan Teknik Mesin UNY yang 98
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 pelaksanaannya pada bulan April 2) Perencanaan, 3) Validasi produk sampai dengan September 2011. awal, 4) Revisi produk awal, 5) Uji coba Waktu tersebut merupakan waktu terbatas, Revisi tahap ke dua, 6) Uji pelaksanaan pembelajaran mata kuliah coba luas, 7) Revisi produk final, dan 8) Teori Pengelasan Logam yang Desiminasi dan implementasi produk. diberikan pada Semester 2. 2. Instrumen Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk Instrumen dalam penelitian mengembangkan modul pengelasan. berfungsi untuk mendapatkan data Desain yang digunakan adalah desain tentang kualitas dan kelayakan modul konseptual yang dikembangkan oleh Teori Pengelasan Logam yang diteliti Borg & Gall. Adapun tahapan penelitian dan dikembangkan. Instrumen ini terdiri pengembangan ini adalah sebagai dari instrumen untuk ahli materi, berikut: 1) Studi pendahuluan dan instrumen untuk ahli media, instrumen pengumpulan data; 2) Perencanaan; 3) untuk uji terbatas, dan instrumen untuk Mengembangkan produk awal; 4) uji luas. Validasi produk; 5) Revisi produk awal; 6) Uji coba terbatas; 7) Revisi tahap ke 3. Kriteri Kelayakan Modul dua; 8) Uji coba luas; 9) Revisi produk Analisis yang digunakan dalam final; dan 10) Desiminasi dan penelitian ini adalah analisis deskriptif, implementasi produk hasil sedangkan untuk menjawab rumusan pengembangan (1983:775). masalah digunakan analisis kualitatif 1. Prosedur Penelitian yang memaparkan bentuk modul Teori Pengelasan Logam dengan kriteria Langkah penelitian yang sebagai berikut: dilakukan sesuai dengan prosedur penelitian dan pengembangan yang direkomendasikan oleh Borg dan Gall sebagai berikut: 1) Studi pendahuluan, Tabel 1 Kriteria Kelayakan Modul No Rerata Sekor Kriteria 1 81 – 100 Sangat Layak 2 61 – 80 Layak 3 41 – 60 Cukup Layak 4 21 – 40 Kurang Layak 5 0 – 20 Tidak Layak Pengelasan. Kualitas materi yang Hasil Penelitian diukur dalam penelitian ini meliputi: 1) 1. Kualitas Modul Kesesuaian modul dengan silabi mata Kualitas modul dilihat dari kualitas kuliah Teori Pengelasan, 2) Kesesuaian materi dan bentuk modul Teori modul dengan ilmu pengelasan logam, 3) Keruntutan materi modul, dan 4) 99
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Kesesuaian soal/tugas dengan materi modul sebesar 103. Jika tabel tersebut modul. Kualitas bentuk modul diukur ditampilkan dengan skala 100 pada berdasarkan 1) Kelengkapan modul, 2) diagram batang dapat dilihat pada Kejelasan tujuan pembelajaran, 3) Gambar 1. Rerata sekor kualitas modul Kejelasan pengorganisasian materi, sebesar 89,56. Rerata dengan nilai ini dan 4) Kualitas tampilan. menunjukkan bahwa modul Teori Pengelasan merupakan modul yang Hasil penelitian menunjukkan layak digunakan untuk bahan ajar. secara keseluruhan sekor kualitas Rerata Kriteria Sekor Sangat 81-100 Berkualitas 61-80 Berkualitas Cukup 41-60 Bekualitas Kurang 21-40 Berkualitas Tidak 0-20 Bekualitas Gambar 1. Diagram Batang Kualitas Modul Jurusan Pendidikan Teknik Mesin, 2. Kelayakan Modul khususnya pada mata kuliah Teori Kelayakan modul dalam Pengelasan. penelitian ini diukur dari kemudahan a. Kemudahan dan Kemenarikan penggunaan dan kemenarikan modul Modul serta efektivitas modul. Kemudahan penggunaan dan kemenarikan modul Kemudahan dan kemenarikan dilihat dari pendapat mahasiswa yang modul Teori Pengelasan diukur melalui menggunakan modul Teori Pengelasan empat indikator, yaitu: 1) Kemudahan secara langsung. melaksanakan petunjuk modul, 2) Kemudahan mempelajari modul, 3) Efektivitas modul diungkap Keterbacaan gambar, tabel, dan huruf, dengan quasi ekperimen dengan dan 4) Kemenarikan modul. Gambar 2 desain posttest only non equivalent menjelaskan bahwa secara controll group desain. Desain ini keseluruhan kemudahan penggunaan diterapkan pada dua kelompok/kelas. modul masuk kategori layak karena Kelompok pertama diberi perlakuan sekor rerata total sebesar 89,6 yang dengan modul, sedangkan kelompok berarti modul sangat mudah digunakan kedua tidak diberikan modul atau / sangat layak digunakan. proses pembelajaran konvensional sebagaimana biasa diterapkan di 100
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 KEMUDAHAN DAN KEMENARIKAN MODUL 91.0 90.5 Rerata 90.0 Sekor Kriteria 89.5 Series1 Sangat 89.0 81-100 Layak 88.5 61-80 Layak 88.0 Kemenarikan Cukup petunjuk modul materi modul gambar, tabel, melaksanakan mempelajari Kemudahan Keterbacaan 41-60 Kemudahan Layak dan huruf modul Kurang 21-40 Layak 0-20 Tidak Layak Gambar 2. Diagram Batang Kemudahan dan Kemenarikan Modul menggunakan modul mencapai 74,71 b. Efektivitas Modul atau di atas 70, ini berarti modul yang Efektivitas modul diukur dari digunakan masuk kategori layak. Di tingkat ketercapaian prestasi belajar samping itu jika dibandingkan dengan mahasiswa pada mata kuliah Teori kelompok kontrol mahasiswa yang Pengelasan. Kriteria efektifitas belajar Teori Pengelasan dengan ditentukan pada Tabel 1. Ketercapaian modul lebih baik. Hal ini terlihat pada prestasi belajar Teori Pengelasan dapat selisih sekor prestasi belajar sebesar dilihat pada Gambar 3. 7,18 atau sebesar 7,18 %. Gambar 3 menunjukkan bahwa rerata prestasi belajar mahasiswa yang Efektifitas Modul 76.0 74.0 Rerata Kriteria Sekor 72.0 Sangat 81-100 Layak 70.0 61-80 Layak 68.0 Series1 Cukup 66.0 41-60 Layak 64.0 Kurang 21-40 Layak 62.0 Kelompok Kelompok 0-20 Tidak Layak Eksperimen Kontrol Gambar 3. Diagram Batang Efektifitas Modul 101
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Simpulan dan Saran Daftar Pustaka 1. Simpulan Borg Walter R and Gall Meridith Damien. 1983. Educational a. Modul berbentuk self content terdiri Research : An Introduction. 12 buah. Modul 1 s.d 3 berisi London : Longman, Inc. kompetensi dasar Konsep dasar pengelasan. Modul 4-6 berisi Cece Wijaya, Djadja Djadjuri, A.Tabrani kompetensi dasar Proses, Parameter, Rusyan. 1992. Upaya dan Prosedur las SMAW. Modul 7-9 Pembaharuan dalam berisi kompetensi dasar Proses, Pendidikan dan Pengajaran. Parameter, dan Prosedur las GMAW. Bandung : Remaja Rosdakarya Modul 10-12 berisi kompetensi dasar Offset. Proses, Parameter, dan Prosedur las Mulyasa, E. 2002. Kurikulum Berbasis GTAW Kompetensi, Konsep b. Kualitas modul ditinjau dari materi Karakteristik, dan Implementasi. dan bentuk termasuk kategori sangat Bandung : Remaja Rosdakarya. berkualitas Uno. B. Hamzah. 2006. Perencanaan c. Kelayakan modul dilihat dari Pembelajaran. Jakarta : PT. kemudahan penggunaan dalam Bumi Aksara kategori sangat layak dan efektivitas Vembriarto. 1976. Pengantar termasuk kategori layak Pengajaran Modul. Yogyakarta : 2. Saran Yayasan Pendidikan Paramita a. Sebaiknya perlu diteliti Wina Sanjaya. 2006. Strategi bagaimanakah penerapan modul hasil Pembelajaran Berorientasi penelitian ini. Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana. b. Hasil penelitian ini sebaiknya digunakan oleh dosen pengampu mata kuliah Teori Pengelasan Logam agar kualitas pembelajaran bisa ditingkatkan. 102
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 STUDENT CENTERED LEARNING PADA PEMBELAJARAN TEKNIK PEMESINAN CNC Oleh: Bernardus Sentot Wijanarka Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta Email: (bsentot@gmail.com) Abstrak Pengembangan proses pembelajaran teknik pemesinan CNC yang mengakomodasi siswa untuk belajar secara individual sesuai dengan kecepatan masing- masing dengan menggunakan prinsip belajar berpusat pada siswa (student centered learning) sangat diperlukan agar pembelajaran menjadi efektif. Pembelajaran berpusat pada siswa dikembangkan dengan menggunakan kombinasi model pembelajaran yang ada yang meliputi model pembelajaran tuntas (mastery learning), model pembelajaran berbasis kompetensi, model pembelajaran berbasis komputer dan model experential learning. Teori belajar yang mendasari pengembangan proses pembelajaran adalah teori konstruktivistik. Pembelajaran berpusat pada siswa meliputi tahap-tahap: menyiapkan sarana pembelajaran (bahan ajar, sarana, dan media), pengarahan guru, demonstrasi ketrampilan yang akan dicapai oleh siswa secara berkelompok, pelaksanaan praktikum secara mandiri menggunakan media simulator, pelaksanaan praktik di mesin CNC yang sesungguhnya, mengerjakan soal dan latihan secara mandiri, dan melanjutkan pembelajaran pada materi berikutnya. Kata kunci: pembelajaran, kejuruan, CNC. program komputer melalui sistem Pendahuluan kontrol numerik. Beberapa mata pelajaran dan Pada saat ini teknologi di mata kuliah baru pada kurikulum bidang manufaktur berkembang SMK dan perguruan tinggi teknik sangat pesat, sehingga mesin CNC muncul mengikuti perkembangan banyak sekali digunakan dalam jaman. Kemajuan teknologi kompu- industri pemesinan untuk mempro- ter dan industri telah banyak meng- duksi komponen dengan tingkat ubah kemampuan dan keterampilan kerumitan dan presisi tinggi calon tenaga kerja lulusan SMK (Subagio dan Atmaja, 2011:105). maupun lulusan perguruan tinggi Menurut Mike Lynch vokasi bidang keahlian teknik (http://www.cncci.com/resources/ pemesinan. Mesin perkakas manual articles/CNC%20vs%manual.htm) konvensional ysng dulu digunakan di pada saat ini lebih dari 80% per- Industri pada saat ini sebagian besar usahaan yang membuat berbagai telah diganti dengan mesin perkakas macam produk memiliki setidaknya yang dikendalikan oleh komputer satu mesin CNC. Menyikapi kondisi karena produktifitas dan keakurat- tersebut, maka pihak lembaga pen- annya tinggi. Mesin tersebut ialah didikan teknik mendapat tantangan mesin perkakas CNC (Computer untuk menyiapkan peserta didiknya Numerically Controlled), yaitu mesin agar memiliki kompetensi yang perkakas yang dikendalikan dengan memadai untuk bekerja, melalui 103
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 pembelajaran yang sesuai dengan kerja, menjalan-kan program CNC kebutuhan dunia kerja dan industri. untuk membuat produk, dan Pelatihan menjadi operator melakukan pengukuran produk hasil dan pemrogram mesin perkakas proses pemesinan. Operator mesin CNC meliputi melakukan seting, CNC ialah seseorang yang perlu mengoperasikan, dan memonitor tahu bagaimana menjalankan mesin proses pengerjaannya. Keterampilan CNC bukan merencanakan atau perencanaan, pengontrolan, pemro- mendesain program CNC graman, dan seting mesin CNC (http://www.amatrol.com/programs). harus diajarkan kepada peserta Berdasarkan paparan di atas, pelatihan(http://www. siemens.com/ maka sangat perlu dirancang proses cnc4you). Dengan demikian pe- pembelajaran untuk bidang keahlian laksanaan proses pem-belajaran teknik pemesinan CNC agar peserta kompetensi teknik peme-sinan CNC didik mampu menguasai pengope- lebih cenderung pada pengetahuan rasian dan pemrograman mesin yaitu procedure knowledge dari pada CNC secara tuntas. Proses keterampilan tangan. Berner pembelajaran yang dikembangkan (2008:177) menganalisis bahwa hendaknya bisa menjamin setiap telah terjadi perubahan yang berke- peserta didik mengalami dan lanjutan dari proses belajar dalam mempelajari semua sub kompetensi hal pengetahuan, sosial, dan bidang keahlian pemesinan CNC. emosional untuk menjadi operator Dengan demikian perlu mesin perkakas. Materi dan cara dikembangkan pembelajaran teknik siswa belajar akan menjadi bagian pemesinan CNC yang mengako- dari pemahaman diri mereka sendiri, modasi siswa untuk belajar secara identitas pekerjaan di masa yang individual sesuai dengan kecepatan akan datang, dan perasaan masing-masing dengan menggu- mengenai sesuatu yang diketa- nakan prinsip belajar berpusat pada huinya. Pekerjaan di perusahaan siswa (student centered learning). manufaktur yang menggunakan Pembahasan mesin CNC ditangani oleh insinyur, programer, dan operator (Bureau of Sesuai dengan UU No. 20 Labor Statistics, 2010). Insinyur tahun 2003 tentang Sistem (Engineer) dalam bidang mesin CNC Pendidikan Nasional yang dimaksud bertugas untuk merencanakan dan dengan pendidikan adalah usaha membuat software. Programer CNC sadar dan terencana untuk bertugas untuk membuat program mewujudkan suasana belajar dan CNC berdasarkan gambar kerja proses pembelajaran agar peserta yang dirancang oleh bagian didik secara aktif mengembangkan perencana. Operator mesin CNC potensi dirinya untuk memiliki bertugas untuk melakukan seting kekuatan spiritual keagamaan, mesin dan asesorisnya, memasuk- pengendalian diri, kepribadian, kan program di mesin, melakukan kecerdasan, akhlak mulia, serta seting pahat, memasang benda keterampilan yang diperlukan dirinya, 104
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 masyarakat, bangsa dan negara. doing dapat menjadikan pembe- Visi pendidikan nasional adalah lajaran bermakna dan dapat terwujudnya sistem pendidikan dikembangkan menjadi pembela- sebagai pranata sosial yang kuat jaran berbasis produksi. dan berwibawa untuk Individualized learning memungkin- memberdayakan semua warga ne- kan siswa belajar dengan kecepatan gara Indonesia berkembang menjadi masing-masing dengan pembe- manusia yang berkualitas sehingga lajaran sistem modular. Kedua mampu dan proaktif menjawab prinsip tersebut sesuai dengan tantangan jaman yang selalu filsafat konstruktivistik bahwa berubah (Permendiknas No. 41 pengetahuan siswa dibangun secara tahun 2007). aktif, individual, dan personal, dan Prosser mengemukakan enam didasarkan pada pengetahuan yang belas teorema tentang pendidikan sudah ada (Pardjono, 2008: 6). kejuruan. Teorema yang pertama Dalam proses belajar siswalah yang dan kedua berhubungan langsung harus mendapatkan tekanan, dan dengan proses pembelajaran di mereka harus aktif mengembangkan pendidikan kejuruan, yaitu : pengetahuan mereka bukannya guru (1) Vocational education will be atau orang lain (Suparno, 1997: 81). efficient in proportion as the environment in which the learner 1. Model- model Pembelajaranuntuk is trained is replica of the Prinsip Pembelajaran Berpusat environment in which he must pada Siswa subsequently work, dan (2) Kompetensi yang dimiliki Effective vocational training can seseorang dalam bidang teknik only be given where the training jobs are carried on in the same pemesinan CNC adalah meliputi way, with the same operations, kompetensi dalam ranah kognitif, the same tools, and the same psikomotorik, dan afektif. machines as in the occupation it Berdasarkan hal tersebut, dalam self (Camp dan Johnson, 2005: paparan berikut akan dikaji tentang 37). model pembelajaran tuntas (mastery Pembelajaran berbasis kom- learning model), model petensi menganut prinsip pembe- pembelajaran berbasis kompetensi, lajaran tuntas untuk penguasaan model pembelajaran berbasis dalam sikap, pengetahuan, dan komputer, dan model pembelajaran keterampilan, sehingga siswa dapat experientiallearning sebagai model- bekerja sesuai dengan kompetensi model pembelajaran yang bisa profesi yang dituntut oleh dunia kerja. digunakan untuk pengembangan Agar siswa bisa belajar secara pembelajaran teknik pemesinan tuntas, mulai kurikulum SMK tahun CNC. 2004 ditegaskan bahwa dalam a. Model pembelajaran tuntas proses pembelajaran digunakan (Mastery Learning Model) prinsip learning by doing dan Kurikulum SMK Edisi 2004 individualized learning. Learning by (Depdiknas, 2004) mengarahkan 105
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 proses pembelajaran berbasis berbeda-beda untuk setiap individu kompetensi. siswa. Pembelajaranberbasiskompetensiha Menurut Bloom (McIlrath dan rusmenganutprinsippembelajarantun Huitt,1995:1), prinsip dasar tas(mastery learning) pembelajaran tuntas sehingga untukdapatmenguasaisikap(attitude), semua siswa dapat mencapai tujuan ilmupengetahuan(knowledge), pembelajaran adalah: (1) siswa danketerampilan(skills) agar diberikan waktu yang cukup untuk dapatbekerjasesuaidenganprofesiny mempelajari bahan ajar yang aseperti yang diajarkan, dan (2) siswa diberi dituntutolehsuatukompetensi.Agar pembelajaran yang berkualitas. dapatbelajarsecaratuntas, Maksud pembelajaran berkualitas perludikembangkanprinsippembelaja adalah: (1) mengatur bahan ajar ransebagaiberikut: (1) Learning by menjadi unit-unit belajar yang lebih doing kecil, (2) membuat tujuan (belajarmelaluiaktivitas/kegiatannyat pembelajaran khusus untuk setiap a, yang unit, (3) membuat asesmen formatif memberikanpengalamanbelajarberm dan sumatif yang memadai, (4) akna) yang merencanakan dan mengimplemen- dikembangkanmenjadipembelajaran tasikan strategi pembelajaran berbasisproduksi, dan (2) kelompok, dengan alokasi waktu Individualized learning yang cukup, kesempatan untuk (pembelajarandenganmemperhatika berlatih, pengulangan pembelajaran nkeunikansetiapindividu) yang untuk perbaikan (corrective dilaksanakandengansistem modular. reinstruction) untuk semua siswa Model pembelajaran tuntas dalam mencapai level ketuntasan (Mastery Learning model) yang diharapkan. Tahap-tahap dikembangkan oleh Carrol dan pembelajaran untuk model Bloom pada tahun 1971 (Joyce dkk, pembelajaran tuntas yaitu: orientasi, 2009: 409). Menurut pandangan penyajian, latihan terstruktur, latihan Carrol waktu adalah variabel yang terbimbing, dan latihan mandiri paling penting dalam pembelajaran (Wena, 2009: 184-185). di sekolah. Model pembelajaran Berdasarkan paparan tersebut, digambarkan dengan persamaan maka model pembelajaran sederhana (McIlrath dan kompetensi teknik pemesinan CNC Huitt,1995:1), yaitu: School bisa menggunakan prinsip belajar Learning = f(time spent/time tuntas dengan cara pelaksanaan needed), yang berarti pembelajaran pembelajaran dalam kelompok dan di sekolah adalah fungsi dari waktu individual. Untuk mendukung proses yang digunakan dibagi waktu yang belajar tersebut keseluruhan bahan diperlukan). Semua siswa dapat ajar di buat menjadi unit-unit yang menguasai kompetensi yang lebih kecil yang berisi tujuan diajarkan dengan waktu yang pembelajaran khusus dengan cara membuat modul pembelajaran. 106
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Modul tersebut berisi beberapa unit (2001:5-13). Model pembelajaran materi yang masing-masing memiliki konseptual untuk pembelajaran tujuan pembelajaran khusus. berbasis kompetensi yang disusun Dengan demikian, pelaksanaan oleh departemen pendidikan pembelajaran dalam kelompok dan Amerika Serikat tahun 2001 adalah individual dapat dilaksanakan sesuai seperti pada Gambar 1. Model dengan sifat pembelajaran untuk pembelajaran berbasis kompetensi mengajarkan keterampilan. digambarkan sebagai sebuah b. Model pembelajaran berbasis tangga dengan setiap anak tangga kompetensi mempengaruhi anak tangga di Kurikulum SMK dan atasnya atau di bawahnya. Anak perguruan tinggi yang saat ini tangga yang terbawah adalah diterapkan adalah kurikulum Foundation;anak tangga kedua berbasis kompetensi. Standar keterampilan, yaitu kemampuan dan kompetensi yang menjadi dasar pengetahuan yang dikembangkan untuk pembentukan kompetensi dalam proses belajar. Anak tangga adalah SKKD yang mengacu pada ketiga adalah kompetensi yang SKKNI untuk bidang keahlian teknik diperoleh melalui pembelajaran dan pemesinan. Berdasarkan hal pengalaman, dan yang terakhir tetsebut maka seharusnya SMK dan adalah demonstration (unjuk kerja) perguruan tinggi vokasi menerapkan sebagai hasil menerapkan model pembelajaran berbasis kompetensi-kompetensi yang kompetensi. diperoleh. Pada level teratas inilah Bahasan mengenai model pembelajaran berdasarkan unjuk pembelajaran berbasis kompetensi kerja bisa dinilai (assessed). dikemukakan oleh Voorhees Gambar 1.Model Pembelajaran Berbasis Kompetensi (Voorhees, 2001:9) c. Model menyelesaikantugas- pembelajaranberbasiskomputer tugasrutindengancepatdanotomatik, TeknologiInformasidanKomu mengaksesdanmena-nganiinformasi, nikasi (TIK) modeling dankontrol, interaktivitas, dapatmembantubelajarsiswadalam: danmemperluassekolahkerumahsis menyajikaninformasi, wa (Muijsdan Reynolds, 2008: 346- 107
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 351). Pemanfaatan TIK distance learning, intelligent tutoring, dalampembelajarandapatmenjadisist dansimulations and virtual reality. empembelajaranmandiriataudigabun Diantarasemuapenggunaanteknologi gkandengan proses tersebut yang terbaikdalamlearning pembelajaranlangsung yang outcome, learning environment, mengandalkankehadiran guru transfer of training, cost, (Wena, 2009:202). Ada tiga model daneffectinessadalahsimulations and penyampaianmateripembelajaranber virtual reality.Virtual reality dan basiskomputer, yaitu: intelligent tutoring systems paling latihandanpraktik, tutorial, cocokuntukpembelajaran proses dansimulasi (Wena, 2009:221). yang kompleks yang Dengandemikiandapatdikatakanpen berhubungandenganpengoperasian ggunaan TIK sangatfleksibel di mesinperkakas, dalam proses pembelajaran. Guru mesinindustridanperalatan. Mesin dansiswadapatmemilihbeberapakeu CNC adalahmesin yang ntungandaritersedianyakomputerseb sangatkompleks, agaisumberbelajaratau media karenamerupakangabunganantaram belajarbaik di sekolahmaupun di esinperkakaskonvensionaldansistem rumah. kontrolnumerik yang MenurutNoe (2008:303-304) dikendalikankomputer, beberapametode yang sehinggaperangkatlunakmesin CNC digunakandalampelatihanmengguna virtual dalam bentuk simulator mesin kanteknologiinformasidankomunikasi CNC ialah: computer based training, CD- sangatsesuaiuntukpembelajarankom ROM, internet, intranet, e-learning, petensiteknikpemesinan CNC. Technology Delivery Mechanism (online,Ipod,simulation) Trainer/Instructor x Content learner learner learner Experts Resource Materials Website Gambar 2.Lingkungan Pembelajaran Berbasis Teknologi (Noe,2008:272) Model pembelajaran berbasis awalnya adalah mengajarkan cara komputer ini bisa dipadukan dengan mengoperasikan perangkat lunak pembelajaran langsung dengan simulator atau mesin virtual, panduan guru. Fungsi guru pada menyampaikan teori dasar, 108
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 memantau kegiatan belajar siswa, pembelajaran berbasis TIK adalah dan sebagai fasilitator dalam seperti Gambar 2. keseluruhan proses pembelajaran. d. Model Pembelajaran Experiential Keuntungan pembelajaran dengan Learning menggunakan komputer adalah: Model pembelajaran ini belajar dengan kecepatan masing- berhubungan dengan gaya belajar masing, interaktif, memiliki siswa. Gambaran hubungan antara konsistensi isi, memiliki konsistensi model dan gaya belajar adalah penyampaian materi, dapat diakses seperti Gambar 3 di bawah. Model dimana saja, memberikan umpan pembelajaran experiential learning balik langsung, memiliki sistem dikembangkan oleh Kolb panduan yang terintegrasi, menarik berdasarkan hasil kerja keras seluruh indera, dapat menguji dan Dewey, Kurt Lewin, dan Piaget menentukan ketuntasan, dan dapat (Kolb, 1984:4-15). menjaga privasi (Noe, 2008: 272- 274). Lingkungan belajar untuk Gambar 3.Model Pembelajaran Experiential Learning pada Kolb’s Learning Styles (Alan Chapman,2005: http://www.businessballs.com/kolblearningstyles.htm) Teori belajar Kolb Model pembelajaran ini merupakan menggunakan empat gaya belajar dasar dari pembelajaran learning by yang berbeda, yang didasarkan doing yang disarankan oleh pada siklus belajar empat tahap kurikulum berbasis kompetensi di (bisa ditafsirkan sebagai training sekolah kejuruan (Depdiknas,2004). cycle). Model Kolb menawarkan Hal tersebut terlihat dari awal siklus dua cara untuk memahami berbagai belajar yaitu pengalaman nyata gaya individu belajar, dan juga (concrete experience), sesuai penjelasan tentang siklus dengan proses pembelajaran pada pengalaman belajar (experiential pendidikan kejuruan yang menitik learning) yang berlaku untuk semua. 109
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 beratkan pada belajar praktik untuk secara simultan. Pembelajaran memperoleh pengalaman nyata. harus memungkinkan siswa belajar Berdasarkan karakteristik dengan aktif sesuai kecepatan pembelajaran kompetensi kejuruan masing- masing dan teknik pemesinan CNC dalam mengakomodasi pembelajaran SKKNI dan SKKD yang meliputi teori learning by doing. Pembelajaran dan praktik, maka terlihat bahwa dengan praktik sejalan dengan untuk keperluan pengembangan pendapat Kolb (1984) dalam model modul dan pembelajaran kompetensi pembelajaran experiential learning tersebut tidak bisa menggunakan dengansiklus belajar: concrete satu macam model pembelajaran. experience (feeling), reflective Perpaduan beberapa model yang observation (watching), abstract sudah ada untuk dikembangkan conseptualisation (thinking), dan menjadi rancangan proses active experimentation (doing). pembelajaran yang baru sesuai Proses belajar aktif dan dengan karakteristik kompetensi pembelajaran learning by doing bisa yang spesifik sangat diperlukan. terlaksana dengan pembelajaran Perpaduan antara model menggunakan modul dan sarana pembelajaran yang saat ini belajar yang mencukupi. Modul dilaksanakan, model pembelajaran pembelajaran sangat mendukung belajar tuntas, model pembelajaran proses belajar aktif siswa untuk berbasis kompetensi, model memperoleh pengalaman konkrit pembelajaran berbasis komputer, sesuai dengan teori belajar dan model experiensial learning konstrukvistik. diharapkan dapat dikembangkan Proses pembelajaran yang proses pembelajaran kompetensi berisi kombinasi model-model kejuruan teknik pemesinan CNC pembelajaran yang sudah ada yang efektif. sebaiknya memungkinkan waktu belajar siswa dalam pembelajaran 2. Student Centered Learningpada praktik teknik pemesinan CNC dapat Pembelajaran Teknik Pemesinan ditambah di luar laboratorium CNC sekolah dengan memanfaatkan Teori belajar yang mendasari perangkat lunak simulator mesin pengembangan proses CNC. Simulator ini pada prinsipnya pembelajaran kompetensi teknik memiliki cara kerja yang identik pemesinan CNC adalah teori dengan mesin CNC yang belajar konstruktivistik. Suparno sesungguhya (media virtual reality) (1997:62) dan Atherton (2009) yang ada di laboratorium sekolah mengatakan bahwa pada atau di industri. Sebagai dampaknya konstruktivisme kegiatan belajar adalah pada saat ini bukan hanya adalah kegiatan yang aktif. lembaga pendidikan kejuruan/vokasi Pembelajaran teknik pemesinan harus memiliki peralatan yang sama CNC terdiri dari kegiatan belajar atau mirip dengan dunia kerja teori dan praktik yang dilaksanakan seperti yang disarankan oleh Teori 110
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Prosser, akan tetapi saat ini dapat memadai di luar laboratorium diwujudkan peserta didik memiliki dengan menggunakan komputer peralatan yang mirip atau miniatur yang pada saat ini telah tersedia dari peralatan yang dimiliki oleh secara luas dengan harga yang industri yang sesuai dengan bidang sangat terjangkau. Kerangka berpikir keahliannya, sehingga dapat pengembangan pembelajaran teknik menjadi sarana belajar mandiri di pemesinan CNC yang saat ini manapun. Proses belajar praktikum dilaksanakan dan rancangan proses dapat terwujud bukan hanya di pembelajaran yang dikembangkan ruang laboratorium, akan tetapi dapat dilihat pada Gambar 4. dapat dilakukan dengan sangat Guru Job sheet kelompok Siswa belum kompeten Pembelajaran CNC Siswa belum untuk standar kompetensi (klasikal 16 siswa, kompeten seting, mengoperasikan, dan 2-4 kelompok memprogram CNC praktik) Hand Mesin CNC (3 -4 buah) out untuk 16 siswa (a) Job sheet Soal dan Tugas Guru individual individual Siswa memiliki Pembelajaran CNC Siswa belum kompetensi sesuai (kelompok 8 siswa, kompeten standar kompetensi : individual)/lab seting, mengoperasikan, Modul dan memprogram CNC Mesin CNC Simulator Mesin (1 buah)/lab CNC/siswa (b) Gambar 4. Konsep Pengembangan Pembelajaran: (a) Pembelajaran Kompetensi Kejuruan Teknik Pemesinan CNC yang Saat Ini Dilaksanakan, (b) Pembe-lajaran Teknik Pemesinan CNC Menggunakan Modul serta Sarana Belajar yang Dikembangkan 111
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Pelaksanaan pembelajaran berpusat pada siswa adalah yang memungkinkan siswa dan guru sepertiGambar 5 di bawah. berinteraksi dengan sumber belajar, sehingga terlaksana pembelajaran Siswa/ 8 orang Modul (Materi, pre tes, (Belum Kompeten) soal latihan, tugas) Job sheet Guru Sarana (Mesin Frais CNC, dan Mesin CNC Virtual) Guru Menjelaskan Media Tujuan pembelajaran Buku Referensi Modul Materi 1 Manual Mesin Guru Menjelaskan Siswa Mengerjakan Modul Materi 1 pre tes Siswa membaca modul Materi 1 Guru mendemonstra- Siswa memperhatikan sikan keterampilan yang demonstrasi guru, dan akan dipelajari praktik bergantian Siswa praktik di Guru mesin CNC Siswa praktik di mesin mengob- (bergantian dengan simulator mesin CNC servasi siswa yang lain) sesuai dengan instruksi di modul Siswa mengerjakan Hasil soal latihan dan pengerjaan : tugas lembar jawaban, tampilan simulasi, benda Siswa menguasai kerja hasil tujuan praktik pembelajaraan modul materi 1/ kompetensi meningkat Mempelajari Modul Materi berikutnya (2,3,4,5) 112
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Gambar 5. Tahap-tahap Pembelajaran Teknik Pemesinan CNC Menggunakan Modul Pembelajaran Teknik Pemesinan CNC sebagai sarana keterlaksanaan prinsip belajar berpusat pada siswa. Journal Vocations and Simpulan Learning, 2,177-194 Berdasarkan paparan di atas, Bureau of Labor Statistic. (2010). dapat diambil simpulan seba-gai Occupational Outlook berikut: Handbook 2010-11 Edition. 1. Pembelajaranberpusatpadasiswa Diambil pada tanggal 28 Juli (student centered learning) 2010, dari menerapkankombinasi model http://www.bls.gov/oco/ocos28 pembelajarantuntas, model 6.htm pembelajaranberbasiskompe-tensi, Camp, W.G.,& Johnson, C.L. (2005). model pembelajaranber-basis Evolution of a Theoretical komputerdan model Framework for Secondary Vocational Education and pembelajaranexperentiallear-ning. Career and Technical 2. Pembelajaran berpusat pada Education over the Past siswa meliputi tahap-tahap: Century. Dalam Gregson, J.A, menyiapkan sarana pembe-lajaran dan Allen, J.M.(Eds). (modul, sarana, dan media), Leadership in Career and pengarahan guru, demonstrasi Technical Education: ketrampilan yang akan dicapai oleh Beginning The 21st Century, pp(29-62). Columbus Ohio: siswa secara berkelompok, UCWHRE. pelaksanaan praktikum secara mandiri menggunakan media Depdiknas. (2003). Undang-Undang RI Nomor 20, Tahun 2003, simulator, pelaksanaan praktik di tentang Sistem Pendidikan mesin CNC yang sesungguhnya, Nasional. mengerjakan soal dan latihan secara Depdiknas. (2004). Kurikulum SMK mandiri, dan melanjutkan Edisi 2004. pembelajaran pada materi berikutnya. Depdiknas. (2009). Standar Kompetensi dan Kompetensi Daftar Pustaka Dasar (SKKD) SMK Atherton, J .S. (2009). Learning Depdiknas. (2009). Permendiknas and Teaching; Piagets No. 28, Tahun 2009, tentang developmental theory. Diambil Standar Kompetensi Kejuruan pada tanggal 18 Desember Sekolah Menengah Kejuruan 2009, dari (SMK)/Madrasah Aliyah http://www.learningandteachin Kejuruan (MAK). g.info/learning/piaget.htm Joyce, B., Weil, M., & Calhoun, E. Berner, B. (2009). Learning Control: (2009). Models of Teaching Sense-Making, CNC Machines, (8th ed.). (terjemahan oleh and Changes in Vocational Achmad Fawaid dan Ateilla Training for Industrial Work , Mirza). New Jersey: Pearson 113
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Education Inc.(Buku asli Subagio, DG, & Atmaja, T.D. diterbitkan tahun 2009). (2011). Penggunaan Kolb, D.A. (1984). Experiential Perangkat Lunak Open Learning. New Jersey: Source untuk Sistem Open Prentice Hall. Inc Architecture pada Mesin McIlrath, D.,& Huitt, W. (1995 Milling CNC. Journal of December). The Teaching Mechatronics, Electrical Learning Process: A Power, and Vehicular Discussion of Models. Technology, Vol. 02, No. 2, Educational Psychology pp 105-112. Interactive. Valdosta, GA: Suparno, P. (1997). Filsafat Valdosta State University. Konstruktivisme dalam Diambil pada tanggal 10 Pendidikan. Yogyakarta: Nopember 2011, dari Kanisius. http://teach.valdosta.edu/whuitt /papers/modeltch.html. Voorhees, R.A.(2001). Noe, R.A. (2008). Employee Competency-Based Learning Training & Development. Models: A Necessary Future. Fourth edition. Boston: New Directons for McGraw-Hill. Institutional Research, no. 10, Pardjono. (2008). Urgensi Summer, John Wiley & Sons. Penerapan Konstruktivisme Wena, M. (2009). Strategi dalam Pendidikan Kejuruan. Pembelajaran Inovatif Pidato Pengukuhan Guru Kontemporer. Bumi Aksara: Besar Universitas Negeri Jakarta. Yogyakarta. 114
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS DALAM BAHASA INGGRIS MELALUI PEMBELAJARAN DENGAN METODE PENILAIAN PORTOFOLIO Oleh: Sudiyatno Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan model penilaian portofolio dalam pembelajaran Bahasa Inggris Teknik. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen, berrtempat di Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY pada semester gasal tahun ajaran 2007/2008. Pengambilan data awal dilakukan melalui pre-test di awal perkuliahan dari mahasiswa kelompok kontrol (n=37) dan kelompok eksperimen (n=27). Selama perkuliahan, terhadap kelompok eksperimen diterapkan metode penilaian portofolio dan terhadap mahasiswa kelompok kontrol dikenakan model penilaian konvensional. Pada pertengahan semester diberikan tes penguasaan tenses dan pola kalimat aktif dan pasif dan dilakukan penilaian kemampuan menulis terhadap mahasiswa dengan memberikan tes membuat artikel dalam Bahasa Inggris. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis deskriptif dan uji kesamaan rata-rata dua pihak dengan taraf signifikansi 5%. Hasil analisis data menunjukkan bahwa 1). Kemampuan awal kedua grup tidak berbeda (sama), thitung sebesar -1,684; 2). Setelah perlakuan, tingkat penguasaan tenses kedua grup berbeda secara signifikan (thitung sebesar -2,188); 3). Kelompok eksperimen lebih produktif dalam menulis artikel. Hasil uji kesamaan rata-rata menunjukkan bahwa dalam kemampuan menulis dalam Bahasa Inggris antara mahasiswa kelompok kontrol (rerata skor = 3,1) dengan mahasiswa kelompok eksperimen (rerata skor = 4,9) berbeda secara signifikan (thitung sebesar -7,956). Artinya penerapan model penilaian portofolio telah memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan model penilaian konvensional. Kata kunci: penilaian portofolio, Bahasa Inggris, kemampuan menulis, quasi eksperimen Pendahuluan processor, 4) effective 1. Latar Belakang comunicator/producer, 5) Proses penilaian hasil belajar collaboative/coopertive worker, 6) di perguruan tinggi menghadapi self-regualted learner, 7) community beberapa tantangan seiring dengan contributor/responsible citizen, and pesatnya kemajuan ilmu 8) tolerant learner/culturally diverse pengetahuan dan teknologi. Tingkat learner. kemampuan lulusan harus Penilaian hasil belajar secara senantiasa ditingkatkan, jika tradisional/konvensional (model menginginkan mereka terserap oleh paper-and-pencil) sudah kurang lapangan kerja. Ada 8 kualifikasi tepat lagi untuk mengukur ke-8 lulusan perguruan tinggi menurut kualifikasi lulusan di atas. Apalagi Marzano (1994: 44), yaitu: 1) jika proses pembelajarannya juga knowledgeable person, 2) complex menekankan pencapaian thinker, 3) skilled information kemampuan pada tingkatan yang 115
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 tinggi pada aspek afektif dan berdasarkan hasil-hasil penilaian motorik/skill. Oleh karena itu akhir- yang berkelanjutan dan valid, dapat akhir ini penggunaan model diselenggarakan evaluasi dan penilaian berbasis kinerja berdasarkan rekomendasinya dapat (performance-based assessment) disusun progam-program untuk mengukur luaran (outcome) pembelajaran yang sesuai dengan dari suatu proses pembelajaran kebutuhan peserta didiknya. Dengan semakin populer. Hal ini sejalan pula demikian pembelajaran menjadi dengan kebijakan Pemerintah lebih efektif, dan semua pihak tentang penyelenggaraan merasakan kemanfaatannya. pendidikan berbasis standar Program studi S1 Pendidikan kompetensi lulusan (SKL) yang saat Teknik Mesin dan D3 Teknik Mesin, ini sedang dijalankan. FT UNY, menyelenggarakan Salah satu mata kuliah teori perkuliahan Bahasa Inggris Teknik yang diajarkan di Jurusan dengan bobot 2 sks yang diajarkan Pendidikan Teknik Mesin adalah pada semester 1. Salah satu Bahasa Inggris Teknik. Tujuan yang kompetensi yang ingin dicapai dari ingin dicapai dari perkuliahan ini mata kuliah ini adalah kemampuan adalah memberikan bekal menulis dalam Bahasa Inggris pada kemampuan berkomunikasi dalam bidang keteknikan. Selama ini dalam Bahasa Inggris baik secara lisan proses pembelajarannya, penilaian (verbal) maupun secara tertulis. hasil belajarnya masih konvensional Untuk mendukung tercapainya yang biasanya dalam bentuk pilihan tujuan tersebut, diperlukan metode ganda, jawaban “benar/salah”, pengajaran dan teknik penilaian jawaban pendek ataupun yang tepat. Cobb (2004: 386) menjodohkan. Beberapa kelemahan berpendapat bahwa: “Assessment is yang ada dalam penilaian yang a critical component of effective menggunakan tes objektif di teaching and learning. Effective antaranya (1) ketergantungan yang instruction begins with purposeful terlalu besar pada pola acuan assessments”. normatif dan numerik. Melalui penerapan metode Hal di atas mengakibatkan penilaian yang tepat dan adanya proses pembelajaran kurang optimal. hasil penilaian yang benar, akan Terbukti pada lemahnya sangat bermanfaat bagi semua kemampuan lulusan dalam stakeholders. Pendidik akan penguasaan kemampuan dalam mendapatkan progress report Bahasa Inggris. Akibat lebih lanjut tentang pencapaian hasil mereka mengalami banyak kesulitan pembelajarannya. Peserta didik di tempat kerja, karena banyak akan mendapat umpan balik yang referensi, instruksi kerja, manual dan memotivasi untuk berprestasi. prosedur operasional yang Pengelola mendapatkan informasi menggunakan Bahasa Inggris. Salah yang cukup berkaitan dengan satu cara untuk meningkatkan outcomes dari sistem pembelajaran kualias hasil pembelajaran adalah yang dijalankannya. Selanjutnya melalui pemilihan metode penilaian 116
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 yang tepat. Menurut Olina dan berbahasa Inggris dibandingkan Sullivan (2002: 61), penilaian kelas ketika seseorang ingin lancar dalam dapat berpengaruh besar terhadap percakapan. Untuk dapat memahami kinerja dan motivasi siswa. Banyak bacaan berbahasa Inggris, penelitian yang telah menunjukkan seseorang minimal harus memiliki bahwa pemilihan metode penilaian perbendaharaan kata yang cukup, yang tepat dengan feedback yang memahami jenis dan fungsi baik dapat membantu siswa untuk kata/struktur kalimat dan tata memonitor kemajuan belajarnya, bahasa. Menurut Adjat Sakri (1985: menjaga motivasi dan self-efficacy 12) proses menerjemahkan melalui sebagai pembelajar. tiga tahap: 1). Memahami Kemampuan menulis dalam keseluruhan teks, 2). Memahami Bahasa Inggris merupakan bagian, 3). Mengupas isi alenia demi keterampilan yang melibatkan alenia. Kemampuan berbahasa proses kognitif dan memerlukan secara verbal dituntut untuk kreatifitas, maka membutuhkan menguasai keterampilan lainnya, model pembelajaran dan penilaian yaitu dalam menangkap materi tersendiri. Model penilaian pembicaraan (listening) dan dalam konvensional yang cenderung menyampaikan informasi secara mengukur kemampaun kognitif verbal (pronounciation). tidaklah tepat untuk mengukur Pendidikan keterampilan kemampuan menulis seseorang (skill) termasuk dalam jenis dalam Bahasa Inggris. Oleh karena pendidikan kejuruan (vocational itu penelitian penerapan education) yang bertujuan untuk pembelajaran yang menggunakan mengembangkan keterampilan di model penilaian portofolio menjadi bidang tertentu. Menurut Prosser penting dan mendesak untuk yang dikutip oleh Sarbiran (2002: 12) dilakukan agar kemajuan-kemajuan menyatakan bahwa paling tidak ada mahasiswa dalam belajarnya dapat 4 prinsip, jika suatu proses secara tepat terukur. Kemudian pendidikan kejuruan dapat berjalan dosen dapat mengdiagnosis secara optimal. Di antaranya adalah kesulitan/permasalahan yang jika tugas-tugas yang diberikan dihadapi mahasiswa dan selanjutnya selama proses belajar sesuai/ dapat menempatkan dan memiliki kesamaan dengan memperlakukan mahasiswa secara keterampilan yang dibutuhkan di tepat, sehingga keberhasilan belajar lapangan atau dunia kerja. dapat dengan mudah dicapai. Ada penekanan–penekanan penguasaan keterampilan yang berbeda ketika seseorang ingin mahir dalam memahami teks Landasan Teori Penilaian di kelas adalah suatu bentuk kegiatan pendidik yang 2. Penilaian Kelas dan Portofolio terkait dengan pengambilan 117
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 keputusan tentang pencapaian seorang peserta didik sebaiknya kompetensi atau hasil belajar tidak dibandingkan dengan peserta peserta didik yang mengikuti proses didik lainnya, tetapi dengan hasil pembelajaran tertentu. Untuk itu, yang dimiliki peserta didik tersebut diperlukan data sebagai informasi sebelumnya. Dengan demikian yang diandalkan sebagai dasar dapat diketahui sejauhmana pengambilan keputusan. Dalam hal kemajuan belajar yang telah ini, keputusan berhubungan dengan dicapainya. sudah atau belum berhasilnya Penilaian portofolio pada peserta didik dalam mencapai suatu dasarnya menilai karya-karya siswa kompetensi. Jadi, penilaian kelas secara individu pada satu periode merupakan bagian penting dan untuk suatu mata pelajaran. Akhir menjadi salah satu pilar dalam suatu priode hasil karya tersebut pelaksanaan kurikulum yang dikumpulkan dan dinilai oleh guru berbasis kompetensi. dan peserta didik. Berdasarkan Penilaian kelas merupakan informasi perkembangan tersebut, suatu proses yang dilakukan melalui guru dan peserta didik sendiri dapat langkah-langkah perencanaan, menilai perkembangan kemampuan penyusunan alat penilaian, peserta didik dan terus melakukan pengumpulan informasi melalui perbaikan. Dengan demikian, sejumlah bukti yang menunjukkan portofolio dapat memperlihatkan pencapaian hasil belajar peserta perkembangan kemajuan belajar didik. Pengolahan, dan penggunaan peserta didik melalui karya-karyanya, informasi tentang hasil belajar antara lain dapat berupa: karangan, peserta didik. Penilaian kelas surat, komposisi musik, gambar, foto, dilaksanakan melalui berbagai cara, lukisan, resensi buku/ literatur, seperti unjuk kerja/kinerja laporan proyek, laporan penelitian, (performance), penilaian sikap, ringkasan, dsb. penilaian tertulis (paper and pencil Teknik penilaian portofolio di test), penilaian proyek, penilaian dalam kelas memerlukan langkah- produk, penilaian melalui kumpulan langkah sebagai berikut: hasil kerja/karya peserta didik a. Jelaskan kepada peserta didik (portfolio), dan penilaian diri (self bahwa penggunaan portofolio, assessment). tidak hanya merupakan Penilaian hasil belajar, baik kumpulan hasil kerja peserta formal maupun informal, sebaiknya didik yang digunakan oleh diadakan dalam suasana yang pendidik untuk penilaian, tetapi menyenangkan, sehingga digunakan juga oleh peserta memungkinkan peserta didik untuk didik sendiri, dan dapat dinilai menunjukkan apa yang dipahami dengan uang (mempunyai nilai dan mampu dikerjakannya. Hindari jual bagi mata diklat produktif). anak didik belajar maupun Dengan melihat portofolionya mengerjakan tes dalam suasana peserta didik dapat mengetahui yang tegang atau tidak kemampuan, keterampilan, dan menyenangkan. Hasil belajar 118
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 minatnya. Proses ini tidak akan aspek yang akan dinilai, terjadi secara spontan, tetapi misalnya: penggunaan tata membutuhkan waktu bagi bahasa, pemilihan kosa-kata, peserta didik untuk belajar kelengkapan gagasan, dan meyakini hasil penilaian mereka sistematika penulisan. Dengan sendiri. demikian, peserta didik b. Tentukan bersama peserta didik mengetahui harapan (standar) sampel-sampel portofolio apa guru dan berusaha mencapai saja yang akan dibuat. Portofolio standar tersebut antara peserta didik yang satu f. Mintalah peserta didik menilai karyanya dan yang lain bisa sama bisa secara berkesinambungan. Guru dapat berbeda. Misalnya, untuk membimbing peserta didik tentang kemampuan menulis peserta bagaimana cara menilai dengan didik mengumpulkan karangan- memberi keterangan tentang kelebihan karangannya. Sedangkan untuk atau kekurangan. Hal ini dapat kemampuan menggambar, dilakukan pada saat membahas peserta didik mengumpulkan portofolio. gambar-gambar buatannya. g. Setelah suatu karya dinilai dan Untuk mata diklat produktif dapat ternyata nilainya belum memuat berupa kertas kerja, laporan, standar kompetensi, kepada produk kerja (baju, masakan, peserta didik dapat diberi patung dan lain-lain), rekaman kesempatan untuk memperbaiki video dan bukti-bukti lainnya lagi. Namun, antara peserta didik sesuai dengan proyek yang akan dan guru perlu dibuat “kontrak” dilakukan. atau perjanjian mengenai jangka c. Kumpulkan dan simpanlah karya- waktu perbaikan, misalnya karya tiap peserta didik dalam setelah 2 minggu karya yang satu map atau folder di rumah telah diperbaiki harus diserahkan masing-masing atau loker kepada guru. masing-masing di sekolah. Kegiatan menulis melibatkan d. Berilah tanggal pembuatan pada dua proses, yaitu proses koginitif setiap bahan informasi dan kreatif (Anak Agung I.N.A. : perkembangan peserta didik 2005: 37). Secara kognitif, kegiatan sehingga dapat terlihat menulis merupakan proses transaksi perbedaan kualitas dari waktu ke antara skema penulis yang terdiri waktu. atas berbagai macam informasi, baik e. Sebaiknya tentukan aspek-aspek linguistik/kebahasaan maupun non yang akan dinilai dari sampel lingustik, dengan tulisan (simbol- portofolio beserta simbol sebagai representasi ujaran) pembobotannya bersama para yang mengandung potensi makna. peserta didik sebelum mereka Informasi linguistik meliputi membuat karyanya . Diskusikan kemampuan berbahasa, khususnya cara penilaian kualitas karya para struktur kalimat, kosa kata dan gaya. peserta didik. Contoh; untuk Informasi non linguistik meliputi kemampuan menulis karangan pengetahuan dan pengalaman yang 119
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 bersangkutan untuk dituangkan Pada tahapan revisi, penulis kedalam tulisan. melakukan kegiatan melihat ulang Secara kreatif, proses terhahap karya tulisnya dan menulis dicirikan oleh munculnya melakukan perbaikan-perbaikan ide-ide baru yang selanjutnya yang diperlukan. Perbaikan yang dirangkai secara unik dalam suatu dilakukan dapat pada aspek ide, bentuk karya tulis. Proses menulis urutan logika atau ketatabahasaan. yang melibatkan proses kognitif dan Ketiga tahapan di atas, sering kreatif, merupakan proses yang berjalan secara tidak linier, tetapi berulang dan tidak linier. Secara bolak-balik sepanjang waktu umum, ada tiga tahapan dalam penulisan. prose menulis, yaitu pramenulis, Suatu karya tulis yang baik aktivitas menulis dan revisi. Pada setidak-tidaknya mengandung lima tahap pramenulis, seseorang dapat komponen, yaitu: 1) kualitas isi (ide), melakukan kegiatan diskusi, 2) organisasi ide, 3) penggunaan membaca, menganalisis wacana, struktur kalimat, 4) pemilihan kosa mencari dan merangkai ide-ide dan kata dan gaya, dan 5) penggunaan mengungkapkan unsur-unsur mekanika. Penilaian terhadap kebahasaan yang relevan. kemampuan menulis dalam Bahasa Pada tahapan menulis, Inggris dalam penelitian ini dilakukan kegiatan utamanya adalah secara otentik. Artinya ada tugas mengembangkan ide-ide dan membuat suatu karya tulis (writing menuangkannya dalam susunan task) dan adanya kriteria penilaian kata dan kalimat. Semakin kompleks yang rinci dalam bentuk rubrik suatu topik, membutuhkan semakin penilaian. banyak pengembangan ide dan keterampilan mengorganisasikan kata-kata dan kalimat-kalimatnya. Metode Penelitian biasanya, seperti yang sekarang Penelitian tentang pengaruh berjalan (konvensional). penerapan metode penilaian Penelitian ini dilaksanakan portofolio terhadap pencapaian pada tahun ajaran 2007/2008 kemampuan menulis dalam Bahasa selama satu semester di semester Inggris Teknik berbentuk penelitian gasal. Penelitian ini mengambil eksperimen. Subjek penelitian tempat di Jurusan Pendidikan Teknik dibedakan atas kelompok Mesin, Fakultas Teknik, Universitas eksperimen dan kelompok kontrol. Negeri Yogyakarta. Pada kelompok eksperimen, kepada Dalam penelitian ini yang para mahasiswa diterapkan metode menjadi subjek penelitian adalah penilaian portofolio. Pada kelompok mahasiswa baru Jurusan Pendidikan Teknik Mesin angkatan 2006/2007 kontrol, para mahasiswa tidak yang mengikuti perkuliahan Bahasa mendapatkan perlakuan apapun, Inggris Teknik di semester 1. Jumlah artinya penilaian hasil belajar populasi mahasiswa baru ini yang mereka dilakukan sebagaimana terdiri atas mahasiswa program 120
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 reguler dan non reguler berjumlah Pada penelitian ini proses 180 mahasiswa yang terbagi dalam pengumpulan data dilakukan 6 kelas. Sampel penelitian dipilih sebanyak dua kali, di awal, dan di secara acak, satu kelas dipilih tengah semester. Pada awal sebagai kelompok eksperimen (27 semester, data yang dikumpulkan mahasiswa angkatan 2007) dan satu berupa kemampuan awal dari kelas sebagai kelompok kontrol (37 masing-masing siswa baik dalam mahasiswa angkatan 2007). kelompok eksperimen maupun Pada kelompok ekseperimen, kelompok kontrol. Pada tengah mahasiswa dinilai dengan model semester, kepada para siswa dari penilaian portofolio selama mereka kedua kelompok tersebut diberikan mengikuti kuliah Bahasa Inggris tes untuk mengukur pencapaian Teknik dengan materi pembuatan kompetensi kemampuan menulis karya tulis. Model penilaian ini dalam Bahasa Inggris. Hasil merupakan proses pemberian skor pengukuran ini akan dijadikan data oleh dosen dengan menggunakan untuk mengetahui adakah rubrik penilaian terhadap proses perbedaan dalam kemampuan pengerjaan tugas-tugas menulis menulis dalam Bahasa Inggris dalam Bahasa Inggris dan hasilnya antara kelompok eksperimen setelah diselesaikan oleh dengan kelompok kontrol. mahasiswa. Pada tiap tugas, Dalam penelitian ini alat yang mahasiswa akana mendapatkan akan digunakan untuk mengukur umpan balik untuk menjadi bahan kemampuan menulis dalam Bahasa refleksi dan penilaian diri. Prinsipnya Inggris adalah berbentuk tes yang penilaian ini dapat dilakukan dilengkapi dengan rubrik penilaian sepanjang waktu dalam satu analitik. Tes kemampuan menulis ini semester, sesuai dengan tahapan disusun berdasarkan pedoman pada pencapaian kompetensi. Tabel1. Tabel 1. Kisi-kisi Penilaian Karya Tulis dalam Bahasa Inggris No. Dimensi Komponen a. Relevansi topik dengan substansi tugas 1 Isi b. Pengembangan thesis stetement c. Wawasan tentang topik a. Susunan ide-ide 2 Organisasi b. Pengungkapan ide-ide a. Kompleksitas dan efektifitas kalimat 3 Struktur Kalimat b. Akurasi penggunaan tata bahasa a. Keluasan kosakata 4 Kosakata/gaya b. Ketepatan penggunaan kata dan idiom c. Ketepatan bentuk-bentuk kata a. Kepatuhan pada konvensi/aturan penulisan 5 Mekanik b. Ketepatan penggunaan tanda-tanda baca c. Kebenaran ejaan Dalam penelitian kuasi pencapaian kemampuan menulis eksperimen ini bertujuan untuk dalam Bahasa Inggris antara mengetahui apakah ada perbedaan mahasiswa yang dalam perkuliahan 121
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Bahasa Inggris Teknik dinilai secara antara dua rerata menggunakan uji-t, konvensional dengan mahasiswa yaitu menguji kesamaan dua rata- yang dinilai dengan model portofolio. rata: uji dua pihak (Sudjana, 1992: Uji statistik untuk melihat perbedaan 239). Hasil Penelitian dan Pembahasan (30 mahasiswa) pada saat mereka memulai perkuliahan Bahasa Inggris 1. Hasil Penilaian Awal (Pre-Test) Teknik (pertemuan ke-2). Instrumen Pengambilan data penilaian yang digunakan adalah berupa tes awal ini dimaksudkan untuk isian terbuka. Hasil penilaian ini mengetahui kemampuan mahasiswa dapat dilihat pada gambar di bawah dari kelompok eksperimen (26 ini, mahasiswa) dan kelompok kontrol Hasil Pre-test 16 14 Jumlah Mahasiswa 12 Jmlh Mhs (Kontrol) Jmlh Mhs (Eksp.) 10 8 6 4 2 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Skor Gambar 1. Nilai Hasil Pre-Test Kelompok Kontrol dan Eksperimen Pada Gambar 1. di atas terlihat α)dengan dk sebesar 54 dengan bahwa dari 10 soal yang diberikan, taraf α sebesar 5%, diperoleh angka baik pada kelompok kontrol maupun t(1 – α), (n1+n2-2) sebesar 2,01. eksperimen, jawaban sebagian Dengan demikian Ho diterima, besar dari mereka salah. Rerata nilai sehingga nilai rerata hasil pre-test mahasiswa kelompok kontrol kelompok kontrol dan kelompok sebesar 0,87 dan rerata nilai eksperimen tidak berbeda secara mahasiswa kelompok eksperimen signifikan. Artinya tingkat kemampuan sebesar 1,50. Jika dihitung harga t menulis dalam Bahasa Inggris baik (untuk mengetahui tingkat mahasiswa dari kelompok kontrol maupun signifikansinya), maka diperoleh eksperimen pada awal perkuliahan adalah harga thitung sebesar 1,49. Harga t(1 – sama. 122
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 2. Hasil Penilaian Akhir (Post- tenses terlihat pada kelompok Test) kontrol masih banyak yang nilainya sangat rendah (dari nilai maksimal Pengambilan data penilaian 10). Sedangkan pada kelompok akhir ini dimaksudkan untuk eksperimen, terlihat cukup banyak mengetahui kemampuan mahasiswa yang mendapatkan nilai lebih dari 5. dari kelompok eksperimen (27 Rerata nilai mahasiswa kelompok mahasiswa) dan kelompok kontrol kontrol sebesar 3,1 dan rerata nilai (37 mahasiswa) pada saat mereka mahasiswa kelompok eksperimen dipertengahan perkuliahan Bahasa sebesar 4,9. Jika dihitung harga t Inggris Teknik (pertemuan ke-2). (untuk mengetahui tingkat Ada dua jenis instrumen yang signifikansinya) dengan rumus 3.1 digunakan, yaitu tes kemampuan di dan 3.2, maka diperoleh harga thitung bidang tenses dan tes membuat sebesar -2,188. Harga t(1 – α) artikel dalam Bahasa Inggris. Hasil dengan dk sebesar 62 dengan taraf tes kemampuan di bidang tenses α sebesar 5%, diperoleh harga t(1 – terlihat bahwa dari soal membuat α), (n1+n2-2) sebesar 2,1. kalimat dalam berbagai macam Post-test (Artikel) 3.5 3 kontrol eksp. 2.5 Rerata Nilai 2 1.5 1 0.5 0 Jmlh par. isi org struktur kosa kata mekanik skor total Komponen Penilaian Gambar 2. Nilai Hasil Post-Test Kelompok Kontrol dan Eksperimen Dengan demikian Ho ditolak, eksperimen pada pertengahan sehingga nilai rerata hasil post-test perkuliahan adalah tidak sama. kelompok kontrol dan kelompok Pada Gambar 2. di atas eksperimen berbeda secara terlihat bahwa dari soal membuat signifikan. Artinya tingkat artikel dalam Bahasa Inggris terlihat kemampuan menulis dalam berbagai pada kelompok kontrol masih tenses antara mahasiswa dari banyak yang nilainya rendah pada kelompok kontrol dengan semua komponen (dibawah 2 dari nilai maksimal 4). Sedangkan pada 123
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 kelompok eksperimen, sebagian α sebesar 5%, diperoleh harga t(1 – besar mendapatkan nilai lebih dari 2. α), (n1+n2-2) sebesar 2,1. Dengan Rerata nilai mahasiswa kelompok demikian Ho ditolak, sehingga nilai kontrol sebesar 0,99 dan rerata nilai rerata hasil post-test kelompok mahasiswa kelompok eksperimen kontrol dan kelompok eksperimen sebesar 2.11. Jika dihitung harga t berbeda secara signifikan. Artinya (untuk mengetahui tingkat tingkat kemampuan menulis dalam signifikansinya) dengan rumus 3.1 Bahasa Inggris baik mahasiswa dari dan 3.2, maka diperoleh harga thitung kelompok kontrol maupun sebesar -7,965. Harga t(1 – α) eksperimen pada pertengahan dengan dk sebesar 62 dengan taraf perkuliahan adalah berbeda. Pembahasan dijadikan portofolio yang dievaluasi disertai komentar-komentar a. Pemahaman Tenses perbaikan. Ternyata hasilnya cukup Kesulitan utama yang bagus, terbukti pada kelompok dihadapi mahasiswa dalam belajar eksperimen ada peningkatan yang Bahasa Inggris adalah berubah- cukup berarti dari rata-rata 1,5 ubahnya struktur kalimat Bahasa menjadi 4,9. Inggris akibat perubahan waktu Penyebab lain yang sering penggunaan. Terutama perubahan membuat mahasiswa frustasi dalam kata kerja yang termasuk kelompok belajar Bahasa Inggris adalah tidak beraturan (irregular verb). Hal kemampuan dalam mengidentifikasi ini disebabkan antara lain, 1). jenis kata (parts of speech). Hal ini kurangnya praktek, sehingga apa berakibat pada kesulitan dalam yang sudah dipelajari sewaktu di memahami isi teks. Keluhan yang SMK/SMA terlupakan, 2). model sering muncul adalah mereka sudah evaluasi hasil belajar yang sering mendapat arti kata per kata dari berupa tes obyektif (pilihan ganda), kamus, tetapi tetap saja sulit sehingga mahasiswa cenderung mendapatkan pemahaman dari teks mengandalkan pengetahuan yang telah diterjemahkan. Untuk (ingatan) yang cenderung mudah mengatasi permasalahan ini, dalam hilang. penelitian ini mahasiswa dilatih Pada penelitian ini ada jenis menuliskan contoh kalimat dengan tenses yang rata-rata mahasiswa perubahan kata-kata berdasarkan menguasai dengan baik, yaitu jenisnya. Contoh, mahasiswa Present Continuous Tense. Lebih diminta membuat kalimat dengan tepatnya lagi adalah dalam hal kata sifat ”long” dirubah menjadi menuliskan kalimat aktif dalam kalimat dengan kata benda ”length” bentuk Present Continuous Tense. dan membuat kalimat dengan kata Dalam penelitian ini mahasiswa kerja ”lengthen”. dilatih untuk menuliskan kalimat- kalimat dalam dalam berbagai b. Pemahaman Kalimat Aktif/Pasif tenses sekaligus dan karyanya 124
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Mahasiswa sering mahasiswa dilatih untuk membuat mengalami kesulitan dalam kalimat pasif dalam berbagai tenses menuliskan bentuk kalimat pasif. sekaligus. Salah satu penyebabnya adalah Berdasarkan hasil post-test kekurangfahaman mereka dalam yang berupa tes menyusun kalimat mengidentifikasi mana subyek dan aktif dan pasif dalam berbagai obyek dalam suatu kalimat dan tenses, terlihat kemajuan yang perubahan atau penambahan to be. cukup berarti pada kelompok Apalagi jika kalimat itu cukup eksperimen. Kesalahan yang masih panjang (compound sentences atau sering muncul adalah kesesuaian complex senternces). Untuk subyek dengan to be, seperti contoh membantu mahasiswa mengatasi hasil penulisan di bawah ini. permasalahan ini, pada penelitian ini Gambar 3. Contoh Hasil Kerja Mahasiswa Pada penelitian ini tidak masalah tenses maupun kalimat dibedakan mahasiswa lulusan dari pasif adalah mereka yang lulusan SMA dengan yang lulusan dari SMK. SMK dan SMA swasta. Demikian juga tidak dibedakan mahasiswa yang berasala dari c. Keterampilan Menulis sekolah negeri dengan yang berasal dari swasta. Namun demikian Pada penelitian ini setelah diteliti lebih lanjut difokuskan pada upaya kebanyakan yang masih mengalami meningkatkan kemampuan menulis kesulitan yang berat, baik dalam dalam Bahasa Inggris. Ada lima 125
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 komponen yang diukur dalam komponen dan deskripsinya pada menilai karya tulis mahasiswa yang Tabel 2 berikut ini. berupa artikel deskriptif. Kelima Tabel 2. Komponen-komponen dalam Penilaian Karya Tulis No. Komponen Deskripsi a. Relevansi topik dengan substansi tugas 1 Isi b. Pengembangan thesis stetement c. Wawasan tentang topik a. Susunan ide-ide 2 Organisasi b. Pengungkapan ide-ide a. Kompleksitas dan efektifitas kalimat 3 Struktur Kalimat b. Akurasi penggunaan tata bahasa a. Keluasan kosakata 4 Kosakata/gaya b. Ketepatan penggunaan kata dan idiom c. Ketepatan bentuk-bentuk kata a. Kepatuhan pada konvensi/aturan penulisan 5 Mekanik b. Ketepatan penggunaan tanda-tanda baca c. Kebenaran ejaan Tabel 3. Rerata Skor Penilaian Karya Tulis No. Komponen Rerata Keterangan Skor Penilaian 1 Isi 2,33 Topik kurang relevan dengan substnasi tugas, wawasan tentang topik terbatas, dukungan detail kurang 2 Organisasi 2,22 Susunan ide-ide melompat-lompat, pengungkapan tidak lancar, ide-ide utamanya tidak dapat ditelusur. 3 Struktur 2,04 Menggunakan lebih banyak kalimat Kalimat sederhana, namun juga tidak efektif, banyak kesalahan dalam tense, word order, articles, pronouns dan prepositions 4 Kosakata/ 1,81 Kosakata kurang, banyak penggunaan kata gaya yang tidak tepat, beberapa kesalahan bentuk kata, makna menjadi kabur. 5 Mekanik 1,96 Cukup banyak kesalahan dalam menggunakan konvensi penulisan, banyak kesalahan ejaan, mengganggu makna. 126
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Berdasarkan hasil penilaian substansi dan penguasaan alur terhadap karya tulis dalam Bahasa logika, mereka cukup menguasai. Inggris mahasiswa kelompok Hanya saja karena faktor kelemahan eksperimen, terlihat bahwa rata-rata dalam menuangkan dalam struktur skor nilai pada komponen “isi” dan kalimat Bahasa Inggris, maka karya “organisasi” relatif lebih baik tulis mereka menjadi kurang baik. dibandingkan dengan tiga komponen Sebagai contoh pada karya tulis lainnya (lihat Tabel 3). Hal ini mahasiswa di bawah ini. menunjukkan bahwa secara Gambar 4. Contoh Paragraf Karya Tulis Mahasiswa Berdasarkan rerata jumlah Inggris, para mahasiswa terlihat paragraf yang dihasilkan oleh lamban karena faktor ketakutan mahasiswa kelompok eksperimen untuk berbuat salah. Melalui sebanyak 2,98, ternyata lebih pendampingan pada saat mereka banyak dibandingkan dengan rerata latihan menulis dan adanya koreksi jumlah paragraf kelompok kontrol bersama antara dosen dengan yang dihasilkan hanya 1,99. mahasiswa, maka pada kelompok Dengan kata lain mahasiswa eksperimen terlihat lebih berani. kelompok eksperimen lebih produktif Oleh karena itu mereka sedikit lebih dalam menulis dalam Bahasa Inggris produktif dalam menuangkan ide- dibandingkan dengan mahasiswa idenya ke dalam bentuk karya tulis. kelompok kontrol. Ada kecenderungan dalam setiap latihan menulis dalam Bahasa 127
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Kesimpulan dengan model portofolio secara umum lebih baik dan lebih Berdasarkan hasil-hasil produktif dibandingkan dengan penelitian dan pembahasan dapat karya tulis mahasiswa yang dinilai ditarik beberapa kesimpulan, di secara konvensional. antaranya adalah: 3. Model penilaian portofolio pada 1. Pemahaman mahasiswa dalam pembelajaran Bahasa Inggris membuat kalimat berbahasa telah memberikan sumbangan Inggris dalam berbagai tenses yang signifikan dalam cukup baik. Kelemahan yang meningkatkan kemampuan masih terlihat cukup menonjol mahasiswa dalam menulis artikel adalah terlihat pada kemampuan dalam Bahasa Inggris. menulis dalam bentuk kalimat pasif. 2. Kemampuan mahasiswa dalam membuat karya tulis dalam Bahasa Inggris yang dinilai Nopember 2006, dari Daftar Pustaka http://proquest.umi.com/pqdwe Adjat Sakri, 1985, Ihwal b. Menerjemahkan, Bandung: Olina, Z. dan Sullivan, H.J., 2002, Penerbit ITB Effects of classroom Anak Agung Istri Ngurah Marhaeni. evaluation strategies on (2005). Pengaruh Asesmen student achievement and Portofolio dan Motivasi attitudes, Educatiional Berprestasi dalam Belajar Technology, Research and Bahasa Inggris terhadap Development, Vo. 50, No. 3. Kemampuan Menulis dalam pp 61-75. diambil pada 2 Bahasa Inggris, Disertasi Februari 2007 dari doktor, tidak diterbitkan, http://proquest.umi.com/pqdwe Universitas Negeri Jakarta, b Jakarta. Sarbiran, 2002, Optimalisasi dan Cobb, Charlene. (2004), Effective Implementasi Peran instruction begins with Pendidikan Kejuruan dalam purposful assessments, The Era Desentralisasi Reading Teacher, Vol. 47, No. Pendididikan, Pidato Dies 4 ,pp. 386-388. diambil pada XXXVIII Universitas Negeri 6 Desember 2007, dari Yogyakarta 21 Mei 2002, http://proquest.umi.com/pqdwe Yogyakarta: Universitas b. Negeri Yogyakara Marzano, R.J., (1994). Lessons from the field about outcome-based Sudjana, 1992, Metoda Statistika, performance assessment, Edisi 5, Bandung: Penerbit Educational Leadership, 51, 5, Tarsito 44-50. Diambil pada 21 128
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 REKONSTRUKSI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (Kajian Evaluasi Pembelajaran di Fakultas Teknik UNY) Oleh: Syukri Fathudin Achmad Widodo Juusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY Email :syukri@uny.ac.id / CP : 08122898408 Abstrak Matakuliah Pengembangan Kepribadian ( MPK) di perguruan tinggi umum ( PTU) adalah matakuliah wajib diikuti oleh semua mahasiswa baik program diploma, maupun sarjana. Mata kuliah ini terdiri Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan. Urgensi MPK relevan dalam pengembangan karakter kedewasaan peserta didik, dan mestinya hasil evaluasi pembelajaran mata kuliah ini bukan satu-satunya indicator tercapainya kesuksesan seorang peserta didik dalam studi dan hidup dimasyarakat. Tantangan terbesar MPK adalah bagaimana menyajikan materi secara dinamis, menarik sehingga peserta didik mampu meninternalisasikan dan meimplementasikannnya dalam kehidupan sehari-hari. Mata kuliah Pendidikan Agama Islam ( PAI) memiliki visi utama membangun tata nilai kehidupan pemeluknya untuk menjadi manusia yang bertaqwa, berpikir rasional dan dinamis sehingga mampu menjadi insan yang berkarakter ,cerdas, terampil dan berakhlak mulia. Dalam makalah ini akan disajikan 1) rekonstruksi pembelajaran pendidikan agama Islam di Fakultas Teknik UNY, 2) pengembangan kompetensi dosen Pendidikan Agama Islam. Kata kunci: rekonstruksi, pembelajaran, agama Islam Pendahuluan Pendidikan Agama Islam ( PAI) adalah rumpun mata kuliah Dalam Pidato Dies UNY ke-48 pengembangan kepribadian ( MPK) pada 21 mei 2012, Sri Sultan dikembangkan pusat mata kuliah Hamengku Buwono X, menyatakan : universiter (PMKU) dalam koordinasi Pendidikan karakter merupakan upaya Lembaga Pengembangan dan yang harus melibatkan semua pihak, Penjaminan Mutu Pendidikan ( LPPMP) baik keluarga, sekolah dan lingkungan UNY. sekolah, serta masyarakat luas. Dilihat dari posisinya merupakan Pendidikan karakter disekolah tdak mata kuliah yang membekali peserta hanya pembelajaran pengetahuan didik berupa kemampuan dasar tentang semata, tetapi lebih penanaman moral, pemahaman, penghayatan dan nilai-nilai estetika, budi pekerti luhur. pengalaman nilai-nilai dasar Penerapan pendidikan karakter harus kemanusiaan, sebagai makhluk Allah, implicit disetiap mata pelajaran, sebagai pribadi, anggota keluarga, disamping mata ajar khusus untuk masyarakat, warga negara dan sebagai mendidik karakter seperti pendidikan bagian dari alam. agama, sejarah, moral Pancasila ( Sri Pendidikan Agama Islam di Sultan Hamengku Buwono X, 2012) . Perguruan Tinggi Umum (PTU) Dari pemaparan diatas jelaslah bahwa berguna untuk membantu terbinanya mata kuliah Pendidikan Agama Islam mahasiswa yang beriman dan bertaqwa begitu memiliki peran strategis sebagai kepada Allah SWT, berbudi pekerti upaya pembentukan karakter peserta luhur, berpikir filosofis, bersikap didik ( mahasiswa). rasional dan dinamis, berpandangan 129
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 luas ikut serta mewujudkan Indonesia yang dapat diamati budi pekerti yang yang utuh aman, sejahtera yang baik (akhlakul karimah) diridhoi Allah SWT. Apabila dilihat dari b. Mahasiswa tidak mengerjakan tugas nilai gunanya, nampaknya sungguh perkuliahan di rumah dan mereka tidak sangat indah dan idealis, tetapi jika mempersiapkan diri sebelum mengikuti dilihat dari proses pelaksanaannya, perkuliahan. Hal ini menyebabkan menimbulkan pertanyaan besar? , banyak mahasiswa merasa proses Mungkinkah merubah karakter perkuliahan terlalu cepat kepribadian, watak dan akhlak seseorang hanya dalam waktu satu c. Tugas kelompok masih belum semester ?Wallahu’alam bis shoab. optimal. Tugas kebanyakan bukan Sedangkan visi dan misinya sebagai kompilasi dari berbagai sumber dan berikut masih dijumpai copy paste. Tugas Visi : Menjadikan ajaran Islam sebagai kelompok biasanya hanya dikerjakan sumber nilai, dan pedoman yang oleh sebagian anggota kelompok. mengantarkan mahasiswa dalam d. Media yang digunakan selama mengembangkan profesi dan proses pembelajaran kadang terbatas kepribadian Islami hanya dengan power point atau OHP. Misi : Terbinanya mahasiswa yang Analisis informasi tahap evaluasi beriman, bertaqwa, berilmu, dan ini menghasilkan simpulan sebagai berakhlak mulia, serta menjadikan berikut: ajaran Islam sebagai landasan berpikir dan berperilaku dalam pengembangan a. Diktat atau kumpulan materi profesi. perkuliahan yang disiapkan dosen Begitu strategisnya mata kuliah ini penting sekali artinya bagi proses maka proses pembelajarannya secara perkuliahan. Fotokopi slide power point formal tidak hanya tanggung jawab belum mencukupi bagi mahasiswa. dosen PAI semata yang hanya b. Diktat tersedia, strategi perkuliahan ditempuh pada semester awal serta dapat diubah misalnya dengan diskusi berbobot hanya 3 sks, melainkan dosen kelompok ataupun penugasan yang lain lain dapat pula mengintegrasikan nilai- c. Tingkat keagamaan (religious) yang nilai keagamaan ( religius) dengan beragam menjadikan saya melakukan mata kuliah yang diampunya. Sungguh pre test diawal kuliah pekerjaan yang mulia dan bernilai ibadah tentunya. d. Strategi dan media perkuliahan perlu divariasi agar lebih menarik dan 1. Rekonstruksi pembelajaran memotivasi mahasiswa. pendidikan agama Islam e. Mahasiswa perlu dikondisikan untuk Hasil evaluasi pembelajaran aktif dalam perkuliahan dan juga belajar matakuliah pendidikan agama Islam di luar jam kuliah, khususnya mengikuti pada akhir semester gasal 2011/2012 tutorial Pend.Agama Islam sebagai berikut: f. Motivasi mahasiswa rendah mungkin a. Hasil belajar mahasiswa secara karena beragamnya tingkat keagamaan umum cukup baik. Salah satu aspek (religious) 130
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 g. Cara evaluasi yang dilakukan hanya sintesis perlu dicapai sehingga berdasarkan nilai kehadiran kuliah menunjukkan perkembangan (partisipasi kuliah), tugas, ujian mahasiswa secara utuh. midsemester, tutorial PAI dan ujian Berdasarkan hasil evaluasi akhir semester. Cara evaluasi seperti standar kompetensi ditentukan dan ini menyebabkan nilai akhir mahasiswa dirumuskan kembali menjadi: kurang memuaskan. Mahasiswa memahami konsep Pend.Agama Islam( PAI) serta segala 2. Tahap rekonstruksi aspek dan aktivitas yang terkait PAI a. Langkah 1: menentukan standar kompetensi b. Langkah 2: menentukan kompetensi Evaluasi menunjukkan bahwa dasar standar kompetensi matakuliah tidak Selanjutnya standar kompetensi tercapai secara optimal. Pencapaian dijabarkan dalam tujuan yang spesifik kompetensi pada tingkat rendah yaitu yaitu 12 kompetensi dasar yang harus mengingat. Kemampuan yang lebih dicapai. tinggi yaitu penerapan, analisis, dan Tabel 1. Kompetensi dasar matakuliah pendidikan Agama Islam No. Kompetensi Dasar 1. Mendiskipsikan manusia dan agama 2. Mendiskipsikan dan memahami addinul Islam 3. Memahani dan mengamalkan sumber ajaran Islam 4. Memahami dan mengamalkan kerangka dasar ajaran Islam 5. Memahami dan menerapkan akhlaq, etika dan moral 6. Menjelaskan politik Islam dan masyarakat madani 7. Mendiskripsikan pendidikan Islam 8. Memahami dan menerapkan kerukunan antarumat beragama 9. Menjelaskan konsep gender dalam Islam 10. Memahami pernikahan dalam Islam 11. Menjelaskan fundamentalisme dalam Islam 12 Menjelaskan kebudayaan Islam c. Langkah 3: menyusun materi memahami materi secara perkuliahan tuntas.Rekonstruksi materi yang Berdasarkan tujuan khusus dilakukan salah satunya yaitu: yang telah dirumuskan disusun materi 1) Pembuatan modul materi perkuliahan. Materi perkuliahan ini perkuliahan untuk memberi dapat menggunakan diktat dosen PAI kesempatan mahasiswa maju sesuai UNY, buku teks PAI Depag, jurnal dengan kecepatannya masing- penelitian, kumpulan artikel. Materi masing. perkuliahan selama ini disampaikan 2) Materi perkuliahan diambilkan dari dalam bentuk slide power point hal-hal yang up to date dan problem sehingga mahasiswa merasa kesulitan based berkaitan dengan obyek 131
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 perkuliahan, misalnya nikah sirri, kelompok dengan kelompok terorisme, cuci otak dll. merupakan salah satu strategi active 3) Materi perkuliahan ada yang perlu learning dimana tugas-tugas yang dikemas dalam bentuk animasi. berbeda diberikan pada kelompok 4) Materi tertentu perlu realita dan mahasiswa yang berbeda. Setiap contoh konkret perkembangan kelompok mengajarkan kepada 5) Pelaksanaan ujian tengah semester mahasiswa lain yang dia pelajari. yang pada awalnya dilaksanakan Setiap kelompok ditugaskan untuk pada pertemuan ke-10 diubah ke-9. mendiskusikan materi yang diberikan dan berkewajiban d. Langkah 4: Strategi Instruksional mempresentasikan hasil diskusi Berdasarkan hasil evaluasi dalam kelompoknya. kemudian dilakukan rekonstruksi 7) Metode tanya jawab diterapkan agar strategi instruksional yaitu: kelas menjadi lebih hidup dan dan 1) Mulai awal semester sudah lebih aktif, memberi kesempatan disepakati kontrak perkuliahan kepada mahasiswa untuk bertanya antara dosen dan mahasiswa. sehingga dosen mengetahui hal-hal 2) Menekankan dan melatih belajar yang belum dimengerti oleh aktif kepada mahasiswa di dalam mahasiswa, serta komunikasi dan kelas. interaksi yang terjadi tidak hanya 3) Memberikan tugas kepada satu arah. mahasiswa untuk dikerjakan di luar 8) Penggunaan berbagai media sesuai jam kuliah dan memonitor apakah dengan tujuan dan materi mahasiswa mengerjakan atau tidak. perkuliahan. salah satu cara untuk memonitor siapa mahasiswa yang aktif yaitu e. Langkah 5: Penilaian hasil belajar dengan presentasi tugas dan Rekonstruksi penilaian hasil dilakukan penilaian antar belajar yaitu: teman(peer assessement) 1) Soal-soal tes dan ujian disesuaikan 4) Menggunakan strategi pembelajaran dengan kompetensi yang dharapkan bervariasi yaitu ceramah interaktif, akan dicapai mahasiswa. diskusi, dan tanya jawab. 2) Menguji kompetensi tingkat yang 5) Metode ceramah masih digunakan lebih tinggi yaitu penerapan, analisis, untuk proses pemberian motivasi dan sintesis. oleh dosen kepada mahasiswa, 3) Komposisi persentase penilaian menyimpulkan konsep-konsep diubah yaitu keaktifan (25%); tugas penting yang dipelajari sehingga (20%); ujian tengah semester (25%) memungkinkan mahasiswa melihat dan ujian akhir semester (30%). lebih jelas hubungan antara materi 4) Nilai keaktifan diperoleh terutama satu dengan yang lain. didasarkan pada academic record 6) Metode diskusi diterapkan terutama selama proses perkuliahan dengan strategi group to group. Dua berlangsung. atau tiga kelompok memperoleh 5) Nilai tidak akan dikeluarkan apabila materi diskusi sama. Strategi Group kehadiran kurang dari 75%. to group atau yang dalam bahasa Indonesia bermakna pertukaran 132
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 3. Pengembangan materi PAI dan serta sifat-sifat watak kepribadian pengembangan kompetensi dosen manusia. Lebih jauh pendidikan agama Pengembangan Pendidikan Islam bukan merupakan kegiatan yang Agama Islam ini nampaknya menuntut terpisah dari aspek-aspek kehidupan para pengajarnya untuk mampu masyarakat luas yang berlangsung mengintegrasikan nilai-nilai ilahiyah – dalam konteks keselarasan maupun duniaiyah dalam proses pendidikan dan keseimbangan dengan kegiatan- pengajaranya dalam satu semester itu. kegiatan, baik perorangan maupun Pendidikan Agama Islam di kelembagaannya dan dalam posisi Perguruan Tinggi Umum (PTU) sepertin yang saling memperkokoh atau halnya di Universitas Negeri memperkuat antara yang satu dengan Yogyakarta berguna untuk membantu yang lain. Kampus hanya merupakan terbinanya mahasiswa yang beriman salah satu konstributor dalam rangka dan bertaqwa kepaa Allah SWT, membangun manusia yang dewasa berbudi pekerti luhur, berpikir filosofis, dalam berpikir dan berperilaku. bersikap rasional dan dinamis, Di luar kampus banyak pihak berpandangan luas ikut serta yang tidak kalah penting peranannya, mewujudkan Indonesia yang utuh yang ikut memberikan konstribusi aman, sejahtera yang diridhoi Allah pelaksanaan pendidikan agama SWT. (seperti rumah/keluarga, kawan Tujuan pendidikan agama lebih bermain dan suasana kehidupan merupakan suatu upaya untuk beragama di membangkitkan intuisi agama dan masyarakat/lingkungannya). Dengan kesiapan rohani dalam mencapai demikian keterlibatan pranata sosial pengalaman transendental. Dengan kemasyarakatan yang lain ikut demikian tujuan utamanya bukanlah memberikan andil bagi keberhasilannya sekedar mengalihkan pengetahuan dan baik dari sisi kuantitas maupun kualitas keterampilan (sebagai isi pendidikan), pendidikan agama itu sendiri. melainkan lebih merupakan suatu Selain itu dalam pelaksanaan ikhtiar untuk menggugah fitroh pendidikan agama Islam di Perguruan insaniyah (to stir upcertain innate Tinggi, juga diperlukan suasana powers), sehingga peserta didik bisa interaksi antara dosen dan peserta menjadi penganut atau pemeluk agama didik yang sifatnya lebih mendalam yang taat dan baik (muslim paripurna). lahir dan batin. Figur dosen agama Sedangkan pendidikan pada umumnya, Islam tidak sekedar sebagai penyampai bertujuan lebih menitikberatkan pada materi kuliah tetapi lebih dari itu ia pemberian pengetahuan dan adalah sumber inspirasi “spiritual” dan ketrampilan khusus dan secara ketat sekaligus sebagai pembimbing berhubungan dengan pertumbuhan sehingga terjalin hubungan pribadi serta pemilahan areal kerja yang antara dosen dan peserta didik yang diperlukan dalam masyarakat.Dalam cukup dekat dan mampu melahirkan hal ini hubungan interaksi lebih bersifat terpaduan bimbingan rohani dan akhlak kognitif-psikomotorik, dan kurang dengan materi pembelajarannya. banyak menyentuh ke alaman rohani Karena itu fungsi dan peran dosen agama tidak cukup hanya 133
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 bermodal “profesional” sesuai undang- belajar mengajar” sehingga tenggelam undang guru dan dosen mencakup, dalam persoalan teknis-mekanis. kompetensi kepribadian, pegagogik, Sementara persoalan yang lebih social dan professional semata-mata mendasar yang berhubungan dengan namun perlu didukung oleh kekuatan aspek “paedagoginya” kurang banyak “moral”. disentuh. Demikian pula tentang mutu Padahal fungsi utama pendidikan pendidikan agama Islam dan agama Islam di Perguruan Tinggi pencapaian prestasi peserta didiknya Umum (PTU) adalah memberikan tidak dapat begitu saja diukur lewat landasan yang mampu menggugah tabel-tabel statistik.Mutu dan kesadaran dan mendorong peserta keberhasilan pendidikan agama Islam didik melakukan perbuatan yang harus dapat diukur dengan totalitas mendukung pembentukan pribadi peserta didik sebagai pribadi. muslim yang kuat (pemeluk agama Perilaku dan kesalehan yang yang taat), landasan itu meliputi: ditampilkan dalam keseharian lebih a. Landasan motivasional, yaitu penting dibandingkan dengan pemupukan sifat positif peserta didik pencapaian nilai A atau 9. dalam hal untuk menerima ajaran agamanya ini, mutu maupun pencapaian dan sekaligus bertanggung jawab pendidikan agama perlu diorientasikan terhadap pengalamannya dalam kepada ( Malik Fadjar, 1998) : kehidupan sehari-hari. a. Tercapainya sasaran kualitas b. Landasan etik, yaitu tertanamnya pribadi, baik sebagai muslim norma-norma keagamaan peserta maupun sebagai manusia Indonesia didik sehingga perbuatannya selalu yang ciri-cirinya dijadikan tujuan diacu oleh isi, jiwa dan semangat pendidikan nasional. akhlakul kharimah ( budi pekerti b. Integrasi pendidikan agama Islam yang baik) dengan keseluruhan proses maupun c. Landasan moral, yaitu tersusunnya institusi pendidikan yang lain tata nilai (value sistem) dalam diri c. Tercapainya internalisasi nilai-nilai peserta didik yang bersumber dari dan norma-norma keagamaan yang ajaran agamanya sehingga memiliki fungsional secara moral untuk daya tahan dalam menghadapi mengembangkan keseluruhan setiap tantangan dan perubahan. sistem sosial budaya. d. Dalam memberikan landasan itu d. Penyadaran pribadi akan tuntutan tidak cukup hanya dilihat dari hari depannya dan transformasi persoalan pengajaran atau didaktik sosial budaya yang terus metodiknya melainkan harus masuk berlangsung. ke dalam persoalan paedagogiknya. e. Pembentukan wilayah ijtihaiyah e. Berdasarkan acuan paedadogisnya, (intelektual) disamping penyerapan penanaman motivasi, etik dan moral ajaran secara aktif. itu pada dasarnya adalah Pelaksanaan pendidikan agama menanamkan suatu perangkat nilai, Islam cenderung lebih banyak digarap yaitu iman, amal dan taqwa. Melalui dari sisi pengajaran atau didaktik materi mata kuliah Pendidikan metodiknya.Dosen hanya Agama Islam.Dosen agama membicarakan persoalan “proses mempunyai tugas pokok untuk 134
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 menanamkan nilai-nilai yang dapat Rekonstruksi pembelajaran disentuh dalam diri peserta didik Pendidikan Agama Islam adalah melalui materi pengajaran yang sebuah usaha (ikhtiar) yang secara disajikannya. Dengan demikian akademik dituntut sebuah keseriusan dosen pendidikan agama harus dan keikhlasan bagi mereka yang mendalami nilai-nilai yang terpanggil untuk membangun manusia merupakan landasan motivasional, yang paripurna. Dosen memberikan etis, moral dari materi wahana berpikir kepada mahasiswa perkuliahannya serta memahami secara dewasa, bijak dan keteladanan. pula konfigurasi nilai-nilai tersebut. Mahasiswa merespon dengan sadar Dengan menguasai materi dan sabar sehingga keduanya saling pembelajaran secara mendalam berinteraksi, komunikasi dalam dosen agama dapat meningkatkan suasana akademik. Juga masyarakat kegiatan mengajarnya menjadi memberi apresiasi dukungan moral kegiatan “mendidik”. Hanya dengan bagi kelangsungan suasana kehidupan melalui langkah-langkah paedagogis yang religius dan bermartabat kegiatan pendidikan agama lewat sistem formal (kampus) akan Dafar Pustaka mampu secara sadar dan rencana Ajat Sudrajat dkk ( 2009), Din Al Islam, berbuat sesuatu menuju ke Pendidikan Agama Islam di “kesadaran beragama” bagi peserta Perguruan Tinggi Umum, didiknya. Yogyakarta, UNY press f. Kesinambungan pendidikan agama A.Malik Fadjar (1998). Visi Pembaruan tidak terletak pada banyak ataupun Pendidikan Islam, Jakarta, LP3NI. tingginya materi yang disajikan, Achmadi (2000), Islam Paradigma Ilmu apalagi alokasinya juga terbatas ( Pendidikan, Yogyakarta,Aditya hanya satu semester). Dengan Media demikian masalah “metodologi” yaitu Blanchard, Allan (2001). Contextual masalah penguasaan teori dan teaching and learning. @ praktek tentang cara pendekatan B.E.S.T. yang tepat dan cermat guna Djaelan Husnan (2011), Standarisasi mencapai tujuan adalah merupakan Pendidikan Agama Islam di faktor yang sangat menentukan. Perguruan Tinggi Umum, paper Pembelajaran pendidikan agama pelatihan dosen PAI di PTU, 14- merupakan suatu mata kuliah yang 16 Nopember 2011, Dikti bersifat khas, maka diperlukan Kemendikbud RI adanya metodik khusus. Mulyasa.(2003). Kurikulum berbasis Metodik khusus ini dibangun kompetensi. Bandung: PT. melalui pemanduan dari berbagai unit Remaja Rosdakarya metode pengajaran yang ada, yang paling ideal adalah “metode integratif” Sri Sultan Hamengku Buwono X ( yakni memasukkan metode suatu mata 2012), Membangun Insan Yang kuliah ke dalam mata kuliah yang lain, Berkarakter dan Bermartabat, hanya saja tidak mudah diterapkan. Pidato Dies UNY ke-48 ( Enam Windu) pada 21 Mei 2012 Penutup 135
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Syukri Fathudin Achmad Widodo learning dalam pembelajaran (2004). Diktat Pendidikan Agama Pendidikan Agama Islam, Jurnal Islam, FT, UNY Humanika – UPT MKU UNY ------------------------------- (2005) -------------------------------- ( 2010) Peningkatan mutu Pendidikan Pengembangan pendidikan Agama Islam (PAI) melalui karakter melalui reposisi kurikulum berbasis kompetensi, pembelajaran pendidikan agama Jurnal Humanika- UPT MKU UNY Islam, prociding seminar nasional dies natalis UNY ke-46 tahun ---------------------------------(2006), 2010 Menerapkan metode cooperative 136
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BAHAN TEKNIK BERBASIS PROGRAM FLASH Oleh : Tiwan Jurusan Pendidikan Teknik Mesin Fakultas Teknik UNYAbstrak Penelitian ini mengkaji pembuatan dan penerapan media berbasis program flashpada pembelajaran Bahan Teknik Dasar. Penelitian ini didasari pada pengamatan selamaproses pembelajaran bahan teknik selama ini. Pada proses pembelajaran bahan teknikmahasiswa belum optimal dalam memahami buku referensi sehingga pemahaman terhadapmateri yang masih relatif rendah. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkajipembuatan dn penerapan media belajar berbasis program flash pada pembelajaran BahanTeknik Dasar sebagai upaya peningkatan perangkat pembelajaran di Jurusan PendidikanTeknikMesin FT UNY. Penelitian dilakukan dengan pendekatan penelitian research and development (Rand D).Tempat penelitian di Jurusan Pendidikan Teknik Mesin Universitas NegeriYogyakarta. Waktu penelitian dimulai dari bulan September sampai dengan November2010. Yang menjadi responden dalam penelitian adalah dosen pengampu Bahan TeknikDasar, pengampu Media Pembelajaran dan mahasiswa kelas A dan C angkatan 2010Jurusan Pendidikan Teknik Mesin. Langkah-langkah penelitian yang dilaksanakan sesuaidengan penelitian research and development. Pengumpulan data dengan instrumen angketdan tes hasil belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pembelajaran Bahan Teknik Dasardirancang berdasarkan kurikulum, silabus dan materi ajar yang tertulis pada modul BahanTeknik Dasar. Materi ajar yang terpilih di desain dalam bentuk storyboard yang kemudiandibuat pada media adobe flash CS 3. Media belajar di desain dengan mengkombinasikannarasi, teks, gambar, animasi dan video. Pembuatan media belajar Bahan Teknik Dasardengan program adobe flash CS 3 mengkuti tahapan-tahapan yaitu: analisis kompetensi,analisis bahan ajar, desain media, produksi, editing, pembuatan prototipe media, uji cobadan validasi. Berdasarkan validasi dari ahli dan tanggapan mahasiswa media belajar BahanTeknik Dasar dinilai dalam kategori baik untuk aspek relevansi materi dengan nilai 3,25 dan3,13, sedangkan pada aspek relevansi media dinilai cukup baik dengan nilai 2,91 dan 2,96.Hal ini menunjukkan bila media belajar yang dibuat layak untuk digunakan dalam prosespembelajaran Bahan Teknik Dasar.Terdapat perbedaan pencapaian hasil belajar antarakelas yang menggunakan media flash dan yang tidak menggunakan dalam pembelajaranBahan Teknik Dasar. Penyertaan media pembelajaran pada pembelajaran Bahan TeknikDasar memiliki pengaruh yang positif pada pencapaian prestasi belajar. Hal ini mengartikanbahwa penyertaan media belajar Bahan Teknik Dasar dapat meningkatkan pencapaian nilaidalam belajar Bahan Teknik Dasar.Kata kunci : Media belajar, Program Flash, Bahan Teknik Dasar, Perangkat PembelajaranLatar Belakang perkembangan global dalam bidang ilmu Pendidikan merupakan sarana pengetahuan dan teknologi.Bidangtransferpengetahuan, ketrampilan, sikap, tersebutmenentukan arah dan bentukdan perilaku pada anak didik. Untuk pendidikan di Indonesia. Penyiapan dankeperluan tersebut maka sistem penyelenggaraan pendidikan yang baikpenyelenggaraan pendidikan, metode akan meningkatkan daya saing bangsa..pembelajaran, dan materi ajar benar- Pada pembelajaran Bahan Teknikbenar perlu dipersiapkan secara matang ada beberapa permasalahan yang timbulsehingga tujuan pendidikan yang optimal sehingga hasil pembelajaran tidakdapat dicapai.Perkembangan pendidikan optimal. Dari pengamatan PBM tampaktidak bisa dilepaskan dari pengaruh bahwa motivasi mahasiswa dalam 1 137
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987mengikuti pelajaran masih kurang.Hal ini 1. Bagaimanakah rancangan mediaterlihat dari antusiasme, kesadaran dan pembelajaran Bahan Teknik dengankemauan kuat untuk bertanya, program flash?mengutarakan ide sebagai upaya 2. Bagaimanakah proses pembuatanmemahami materi masih rendah.Keaktifan media pembelajaran Bahan Teknikmahasiswa dalam mengikuti pelajaran Dasar dengan program flash?juga belum optimal.Mahasiswa jarang 3. Bagaimanakah tanggapanmengajukan pertanyaan atau mahasiswaterhadapmedia flash yangmengutarakan idenya walaupun dosen diterapkan dalam proses belajarberulang kali mengajukan mengajar Bahan Teknik Dasar?pertanyaan.Keaktifan mahasiswa untuk 4. Bagaimanakah pengaruh implementasi mediamembaca buku referensi juga masih flash terhadap hasil belajar mahasiswa?rendah. Sebagian besar mahasiswamasuk ruang kelas belum mempelajari Kajian Pustakamateri yang dianjurkan, padahal padapetemuan sebelumnya sudah dihimbau Belajar menurut bahasa (1990:583)untuk membaca materi tersebut.. adalah “usaha (berlatih) dan sebagai Berdasarkan pengamatan selama ini upaya mendapatkan kepandaian”. Ahmadpermasalahan yang menonjol adalah Fauzi (2004:44) yang mengemukakankemampuan mahasiswa untuk memahami belajar adalah “Suatu proses di manamateri kuliah masih rendah dikarenakan suatu tingkah laku ditimbulkan ataumerasa kesulitan dalam memahami buku diperbaiki melalui serentetan reaksi atasteks yang ada, apalagi pada saat belajar situasi (atau rangsang) yang terjadi”.di rumah. Oleh karena itu perlu untuk Slameto (1991:2) mengemukakanmengembangkan perangkat pembelajaran pendapat dari Gronback yangyang berupa pembuatan media mengatakan “Learning is show by apembelajaran Bahan teknik yang interaktif behavior as a result of experiencesebagai salah satu alternatif dalam upaya Selanjutnya Moh.Uzer Usman dan Lilispeningkatan pemahaman mahasiswa Setiawati (2002:4) mengartikan “belajarpada pembelajaran Bahan Teknik di sebagai perubahan tingkah laku pada diriJurusan Pendidikan Teknik Mesin FT individu berkat adanya interaksi antaraUNY. Upaya untuk meningkatkan individu dengan individu dan individupemahaman yaitu dengan dengan lingkungan sehingga mereka lebihmengembangkan perangkat pembelajaran mampu berinteraksi denganyang berupamedia pemnbelajaran Bahan lingkungannya”. Selanjutnya NanaTeknik dengan basis program flash. Sudjana (1987 : 28) mengatakan “belajarProgram flash dipilih karena dapat adalah proses yang aktif, belajar adalahmemberi peluang kreatifitas yang luas mereaksi terhadap semua situasi yanguntuk mendesain media pembelajaran ada di sekitar individu. Belajar adalahyang interaktif, yang dapat mendorong proses yang diarahkan kepada tujuan,keaktifan dan kreatifitas proses berbuat melalui berbagaimahasiswa.Berdasarkan latar belakang pengalaman. Belajar adalah prosestersebut maka dapat dirumuskan melihat, mengamati, memahami sesuatu.”permasalahan dalam penelitian ini adalah Dari beberapa pengertian belajar: yang telah dikemukakan oleh para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu perubahan tingkah laku individu dari hasil pengalaman dan 138
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987latihan.Perubahan tingkah laku tersebut, adalah hubungan atau interaksi manusia;baik dalam aspek pengetahuannya realia; gambar bergerak atau tidak; tulisan(kognitif), keterampilannya (psikomotor), dan suara yang direkam. Kelima bentukmaupun sikapnya (afektif). Proses stimulus ini akan membantu pembelajarbelajar mengajar merupakan aktivitas mempelajari mata pelajaran tertentu.yang dilakukan oleh pendidik dan peserta Namun demikian tidaklah mudahdidik secara sinergis untuk mendapatkan mendapatkan kelima bentuk itu dalamperubahan baru dalam hal pengetahuan, satu waktu atau tempat.ketrampilan dan sikap. Perubahan yang Klasifikasi media menurut Vernon Sdiperoleh kearah pada kemajuan dan Gerlach (1980:247) adalah;bersifat positif.Pendidik sebagaicoordinator dan sumber belajar yang 1. Real object, orang, kejadian, objekberperan sebagi agen perubahan.Peserta tertentu, dlldidik sebagai pribadi aktif yang berusaha 2. Verbal presentation, media otak, kata-secara sadar untuk mendapatkan kata yang diproyeksikan melalui slide,perubahan pengetahuan, ketrampilan transparansi, cetakan di papan tulis,kearah yang lebih maju dan positif. majalah, dll. Menurut Arsyad (2002), kata 3. Graphic presentation, bagan, grafis,media berasal dari bahasa latin medius peta, diagram. Lukisan yang sengajayang secara harfiah berarti ‘tengah’, untuk mengkomunikasikan ide,‘perantara’, atau ‘pengantar’. Menurut ketrampilan atau sikap.Bovee dalam Ouda Teda Ena (2001), 4. Still picture, potret bermacam-macamMedia adalah sebuah alat yang objek atau peristiwa.mempunyai fungsi menyampaikan 5. Motion picture, film atau video daripesan.Media pembelajaran adalah pemotretan benda dan kejadiansebuah alat yang berfungsi untuk sebenarnya, maupun film dari hasilmenyampaikan pesan pembelajaran. pemotretan gambar.Pembelajaran adalah sebuah proses 6. Audio recording, rekaman suara saja.komunikasi antara pembelajar, pengajar 7. Programma, istilah pengajarandan bahan ajar. berprogram, yaitu segmen dari Komunikasi tidak dapat berjalan informasi verbal, visual, atau audiotanpa bantuan sarana penyampai pesan dengan sengaja dibuat untukatau media (Ouda Teda Ena, 2001). merangsang adanya respon dari siswaGerlach dan Erly (1971) dalam Arsyad dan ada juga dipersiapkan dengan(2002) mengatakan bahwa media apabila menggunakan komputer atau mesindipahami secara garis besar adalah belajar.manusia, materi, atau kejadian yang 8. Simulation, peniruan dari situasi yangmembangun kondisi yang membuat siswa sengaja diadakan untuk mendekatimampu memperoleh pengetahuaan, serta menyerupai kejadian atauketerampilan, atau sikap. Secara lebih keadaan sebenarnya.khusus, pengertian media dalam proses Multimedia flash termasuk jenisbelajar mengajar cenderung diartikan media animasi yang mempunyaisebagai alat-alat grafis, photografis, atau interacting skrip. Flash bisa dibuatelektronis untuk menangkap, memproses, dengan sejumlah materi tertentu dandan menyusun kembali informasi visual didesain sedemikian rupa sehinggaatau verbal. pengguna bisa berinteraksi secara Bentuk-bentuk stimulus bisa langsung ketika memakainya. Melaluidipergunakan sebagai media diantaranya media flash dapat digambar suatu bentuk 139
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987tertentu dan membuatnya bergerak. produk tersebut supaya dapat berfungsi diKemampuan flash untuk menggambar masayarakat luas, maka diperlukandan menggerakkan inilah yang penelitian untuk menguji keefektifanmenjadikan perangkat lunak Flash mulai produk tersebut.banyak digunakan untuk menjadi media Pada penelitian pengembanganpembelajaran. Dengan flash dapat model konseptual ada beberapadisimulasikan atau dianimasikan suatu komponen langkah yang harusmodel tertentu yang dengan metode ini diperhatikan. Dalam penelitianini, keterserapan materi belajar oleh siswa pengembangan model konseptualmenjadi lebih maksimal. melibatkan enam komponen yaitu : 1. Konsep Simulasi adalah sebuah aktivitas Pengembangan konseppembelajaran dengan menyuguhkan dilakukan dengan identifikasi masalah,elemen-elemen, proses-proses, atau merumuskan tujuan, analisiskondisi tertentu, biasanya diiringi dengan kebutuhan, analisis karakteristikbatasan/ aturan dan tujuan yang spesifik, mahasiswa, merencanakan dandan pada kebanyakan simulasi, pengguna menyusun bahan perkuliahan.dapat mencoba kemungkinan-kemungkinan dari setiap keputusan lebih 2. Desaincepat dari yang bisa mereka dapatkan Desain produk media dilakukanmelalui situasi nyata. Inilah kelebihan melalui 2 tahap yaitu mendesain fisik,simulasi. Dengan flash dapat dibuat suatu fungsi, logika dan alur kerja.Desain fisikanimasi atau mensimulasikan beberapa yang diperhatikan tata tulis, penyajianmodel pembelajaran menggantikan praktik tulisan, besarnya font, gambar-gambar,lapangan (tentunya praktik langsung lebih grafik dan tata letak.Media juga harusbaik), dapat digunakan secara bersama dilihat fungsinnya yaitu untukdengan ongkos yang murah. Dengan mempermudah dalam memahamibegitu pembelajaran yang berbasis pada materi pembelajaran bahanmodel aliran induktif yakni penanaman teknik.Modul juga harus menyajikanpemahaman dimulai dari sesuatu yang logika berfikir yang runtut dan benar,konkret kemudian semakin meningkat berdasarkan audiensi yaitu mahasiswadengan menggunakan simbol-simbol jurusan Pendidikan Teknik(abstrak) dapat dilakukan dengan tidak Mesin.Demkian juga modulbergantung dengan model nyata, memberikan penjelasan alur kerja darimelainkan dengan menggunakan animasi modul yang berupa tahapanatau simulasi. pembelajaran dan persyaratan mahasiswa yang belajar.Metode Penelitian 3. Pengumpulan bahan Penelitian ini termasuk pada Pada tahap ini berupapenelitian pengembangan.Metode penguimpulan bahan kuliah yangpenelitian yang digunakan adalah R & D diperlukan untuk pembuatan(Research and Development).Metode produk.Bahan-bahan diperoleh daripenelitian ini digunakan untuk buku-buku teks atau artikel-artikel yangmenghasilkan produk tertentu dan dimuat dalam jurnal atau websitemenguji keefektifan produk tersebut.Untuk internet.Materi diusahakan dari materidapat menghasilkan produk tertentu yang terbaru.digunakan penelitian yang bersifat analisiskebutuhan dan untuk menguji keefektifan 4.Pembuatan 140
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Pembuatan media adalah menyu- Bahan Teknik Dasar.Media pembelajaran sun naskah materi kuliah yang diramu ini diberikan pada mahasiswa jurusan menjadi sebuah media yang menarik Pendidikan Teknik Mesin pada semester 1 dengan program flash. saat menempuh mata kuliah Bahan Teknik Dasar. Pengembangan isi media5. Uji coba pembelajaran ini diarahkan sedemikian Uji coba merupakan kegiatan untuk rupa, sehingga materi pembelajaran yang melihat sejauh mana produk yang terkandung didalamnya disusun dibuat dapat mencapai sasaran dan berdasarkan topik-topik selektif untuk tjuan. Produk yang baik memenuhi dua mencapai kompetensi dasar pada criteria: criteria perkuliahan dan criteria pemahaman, pengertian dan penguasaan penampilan. Uji coba dilakukan 3 kali : aplikasi bahan teknik. Adapun kompetensi pertama uji ahli dengan responden yang diharapkan pada pembelajaran para ahli media, bidang studi dan Bahan Teknik Dasar adalah sebagai pendidikan; kedua Uji terbatas berikut : dilakukan terhadap kelompok kecil 1. Menjelaskan klasifikasi bahan sebagai pengguna roduk ketiga Uji teknik lapangan. 2. Menjelaskan sifat-sifat bahan teknikHasil dan Pembahasan 3. Menjelaskan diagram phasa 4. Menjelaskan standarisasi bahanStruktur Media Pembelajaran Bahan teknikTeknik Dasar 5. Menjelaskan macam-macam dan Media pembelajaran “Bahan penggunaan logam ferroTeknik Dasar” merupakan perangkat 6. Menjelaskan macam-macam dandalam pembelajaran Bahan Teknik Dasar, penggunaan logam non ferroberdasarkan kurikulum tahun 2009. Media 7. Menjelaskan macam-macam danpembelajaran ini merupakan salah satu penggunaan bahan teknik nonsatu perangkat pembelajaran yang logam.digunakan dalam proses pembelajaran 8. Menjelaskan kriteria pemilihanbahan teknik dasar di samping modul bahan teknik dalam aplikasinyabelajar yang telah dikembangkan terlebih 9. Menjelaskan terjadinya korosi dandahulu. Penggunaan media pembelajaran pencegahannya.ini bertujuan untuk mengkondisikan suatu Struktur pembuatn mediametode pembelajaran yang pembelajaran bahan teknik dasar merujukmengoptimalkan daya tangkap pada perancangan dan pembuatan mediamahasiswa dalam belajar. Dengan media pembelajaran berbantuan computerpembelajaran ini diharapkan mahasiswa dengan menggunakan program Flashdapat optimal dalam menerima pesan CS3.pada proses pembelajaran. Dalam Adapun struktur pembuatan mediapelaksanaan pembelajarnnya media pembelajaran mengacu pada tahapan-pembelajaran ini sebagai pendamping dari tahapan sebagai berikut:modul kuliah dan disertai dengan 1. Memilih kata-kata yang relevan,beberapa metode pembelajaran seperti 2. Memilih gambar-gambar yang relevan,ceramah, diskusi dan pemberian tugas, 3. Menata kata-kata yang dipilih ke Pembuatan Media pembelajaran dalam model mental verbal,Bahan Teknik Dasar dikembangkan dari 4. Menata gambar-gambar yang dipilih kekurikulum, silabi dan modul mata kuliah dalam model mental visual, 141
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-89875. Memadukan representasi verbal animasi dan narasi lebih baik daripada dan visual dengan pengetahuan dari animasi dan teks on screen, jika yang sudah ada sebelumnya. gambar-gambar dan kata-kata disajikan secara visual (animasi danPemilihan, penataan, pemaduan, dan teks), maka saluran visualpengelompokan penting agar siswa secara (pictorial) bisa menderita kelebihanruntut dapat memproses semua beban tetapi saluran auditori takinformasi. Tetapi ini saja tidak cukup, termanfaatkan. Jika kata-katadesain konstruksi materi menurut disajikan secara auditori, merekapenelitian Mayer perlu dipresentasikan bisa diproses dalam saluran auditoridengan 5 prinsip yaitu (verbal), sehingga saluran visual1. Prinsip keterdekatan ruang, kata- (pictorial) bisa memproses hanya kata dan gambar-gambar yang gambar-gambar. menunjang lebih baik 5. Prinsip Redundansi, animasi dan dipresentasikan secara berdekatan, narasi lebih baik disajikan untuk siswa siswa tidak perlu terlalu menguras dari pada animasi, narasi, dan teks. sumber-sumber kognitif untuk secara Penambahan teks akan serta merta visual mencari informasi. Ini akan menguras sumber visual siswa, mempermudah pemrosesan akftif. padahal pembebanan yang terlalu2. Prinsip keterdekatan waktu, kata- berlebihan sangat berat pada kata dan gambar-gambar yang memori kerja. Lebih baik teks tidak berhubungan disajikan secara disertakan karena sudah ada narasi simultan (berbarengan) dari pada yang akan diproses dengan sumber secara suksesif (bergantian), auditori (verbal), jika harus penyajian dalam waktu bersamaan, menyertakan teks, maka teks jangan siswa lebih mungkin bisa membentuk sama dengan yang telah dinarasikan representasi mental atas keduanya dan perlu dimunculkan sedikit demi dalam memori kerja pada waktu sedikit. bersamaan. Tahapan Pembuatan Media3. Prinsip Koherensi, materi ekstra pembelajaran lebih baik disisihkan daripada dimasukkan, siswa terganggu jika Pembuatan media pembelajaran kata-kata dan gambar-gambar bahan teknik dasar merupakan proses menarik, namun tidak relevan penyusunan materi pembelajaran yang ditambahkan ke presentasi multimedia, dikemas secara sistematis dalam bentuk siswa terganggu jika suara dan musik program computer sehingga siap menarik, namun tidak relevan digunakan untuk proses belajar ditambahkan pada presentasi mengajar. Pembuatan media multimedia. Penambahan materi pembelajaran bahan teknik dasar ekstra baik berupa animasi, suara, mengacu pada kompetensi yang terdapat dan lain-lain yang tidak perlu turut di dalam silabus menurut Kurikulum memperebutkan sumber-sumber Pendidikan teknik Mesin FT UNY tahun kognitif, dan menyita sebagian 2009. kapasitas kognitif, karenanya Adapun tahapan pembuatan kapasitas ini perlu dikosongkan dan media pembelajaran bahan teknik dasar dialokasikan sepenuhnya untuk adalah sebagai berikut: materi-materi inti. 1. Identifikasi kompetensi4. Prinsip Modalitas, materi dalam bentuk 142
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Pada tahap ini merupakan mengambil langsung di lapangan dengankegiatan menganalisis kompetensi untuk menggunakan alat, seperti:menentukan jumlah dan topik media kamera.Sedangkan pengumpulan datapembelajaran yang dibutuhkan untuk tidak langsung, diperoleh dari berbagaimencapai suatu kompetensi dalam media, seperti: buku, dan internet. Teksmempelajari matakuliah bahan teknik merupakan kajian teori yang dibuatdasar.Penetapan topik media menjadi lebih ringkas sebagai penjelaspembelajaran didasarkan pada setiap gambar atau animasi yang akankompetensi yang terdapat silabus menurut ditampilkan. Suara yang dikumpulkankurikulum Pendidikan teknik Mesin tahun adalah jenis instrumen musik yang2009. digunakan sebagai musik pengiring media dimana musik ini bertujuan agar media2. Analisis Bahan Ajar menjadi lebih menarik. Sedangkan video Pada tahap ini dilakukan kajian ini dikhususkan untuk penjelasan padapada bahan ajar yang akan dituangkan materi tertentu yang dapat lebih jelasdalam bentuk media belajar. Bahan ajar dengan tayangan video.dianalisa berdasarkan kepentingan yangdapat dituangkan dalam bentuk media Ketiga, membuat story board.Story boardyang dapat membantu memperjelas dari adalah rancangan atau desain yangbahan ajar yang ada.Sebagai bahan ajar digunakan sebagai dasar dalamyang menjadi acuan adalah modul Bahan pembuatan media. Dalam story board iniTeknik Dasar yang telah disiapkan dibuat rancangan bagaimana lay outsebelumnya.Topik-topik yang dituangkan tampilan yang akan dibuat, penempatandalam media belajar didasarkan pada gambar dan animasi yang didesainkompetensi dan topic-topik yang ada pada dengan semenarik mungkin.modul Bahan Teknik Dasar.3. Desain media 4. Produksi Langkah awal dalam proses Setelah data yang berupa gambar,pembuatan media adalah menyiapkan teks, video dan suara terkumpul, tahapperangkat, materi dan data-data yang selanjutnya adalah memproduksi mediadiperlukan. Kegiatan ini terdiri dari yang terdiri dari kegiatan membuatmenentukan proses-proses hidrosfer yang animasi proses-proses hidrosfer,dianimasikan, mengumpulkan data membuat animasi teks, video, memilih(gambar, objek, suara, dan video), dan musik, background.Kemudianmembuat story board. Kegiatan-kegiatan mengintegrasikan data-data tersebut keyang dilakukan dalam tahapan ini adalah: dalam bentuk satu media. ProsesPertama, menentukan materi yang produksi ini didasarkan pada story boarddianimasikan. Berdasarkan analisa materi, yang telah dibuat sebelumnya. Untukdiperoleh beberapa materi yang mengintegrasikan data-data tersebut,memerlukan penjelasan secara detail, peneliti menggunakan program softwaremaksudnya adalah menjelaskan materi Adobe flash CS 3 yang merupakandengan menunjukkan contoh program software untuk membuat animasisebenarnya.. dan mengintegrasikan teks, gambar, suara, video, dan animasi menjadi satuKedua, mengumpulkan data yang medi pembelajaran berantua computer.dibutuhkan. Data yang dikumpulkan,diperoleh dari pengambilan secara 5. Editinglangsung maupun tidak langsung. Data Editing dilakukan setelah prosesdiperoleh secara langsung dengan cara produksi dilakukan. Pada tahap ini 143
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987dilakukan pengoreksian dan perbaikan memiliki pengalaman dalam bidang mediaterhadap hasil produksi.Pengoreksian pembelajaran dengan latar belakangdilakukan untuk mengetahui kesesuaian dosen yang memiliki pengalaman dalamproduk dengan story board dan mengembangkan dan mengampumengetahui kesesuain teks, gambar matakuliah media pembelajaran. Secaramaupun animasi terhadap konsep teori khusus, criteria yang harus dimiliki olehyang ada. Kemudian berbagai kesalahan- ahli media dalam pengembangan inikesalahan tersebut dilakukan perbaikan adalah: (1) mengenal fitur-fitur pembuatansehingga sampai dihasilkan produk objek; (2) mengetahui prinsip-prinsipsetengah jadi animasi seperti paham tentang frame by frame, motion guide, motion tween,6. Prototipe media animasi suara, cara menggambar, dan (3) Prototipe media merupakan mengenal tombol-tombol interaktif baikproduk berupa CD pembelajaran jenis maupun modelnya. Ahli materi yaitusetengah jadi yang telah dibackup dari orang yang memiliki pengalaman dalamhard disk dan belum divalidasi oleh subjek bidang pembelajaran matakuliah Bahanvalidasi. Selanjutnya prototipe media ini Teknik Dasar di Jurusan Pendidikanakan diteliti kembali melalui proses Teknik Mesin FT UNY.validasi dan uji coba produk. Jika dalamproses tersebut ditemukan kesalahan 9. Revisimaka akan dilakukan perbaikan sampai Revisi atau perbaikan merupakandiperoleh hasil yang sempurna. proses penyempurnaan media pembelajaran setelah memperoleh7. Uji coba masukan dari kegiatan uji coba dan Uji coba media pembelajaran validasi. Sesuai dengan masukan yangadalah kegiatan penggunaan media diperoleh dari kegiatan sebelumnya, makapembelajaran pada peserta terbatas, perbaikan media pembelajaran harusuntuk mengetahui keterlaksanaan dan mencakup aspek aspek pentingmanfaat media pembelajaran dalam penyusunan media pembelajaran,pembelajaran sebelum media diantaranya yaitu:pembelajaran tersebut digunakan secara a. Pengorganisasian materi pembelajaran;umum.Dari hasil uji coba diharapkan b. Penggunaan metode instruksional;diperoleh masukan sebagai bahan c. Penggunaan bahasa;penyempurnaan media pembelajaran d.Pengorganisasian tex, narasi, gambar,yang diuji cobakan.Terdapat 2 macam uji animasi dan lay out.coba yaitu uji coba dalam kelompok kecildan uji coba lapangan.Uji coba kelompok Kelayakan Media pembelajaran Bahankecil adalah uji coba yang dilakukan Teknik Dasarhanya kepada 2 - 4 pesertadidik.Sedangkan uji coba lapangan adalah 1. Validasi oleh ahliuji coba yang dilakukan kepada pesertadengan jumlah 37 peserta didik. Untuk memvalidasi media pembelajaran Bahan Teknik Dasar8. Validasi dimintakan pada ahli media dan ahli Validasi produk dilakukan untuk materi yang diungkap melalui pengisianmengetahui tingkat kevalidan instrument. Instrumen yang diberikanproduk.Validasi hasil produk dilakukan memuat dua aspek yaitu relevansi materioleh 2 subjek validasi yang terdiri dari dan relevansi media yang terdiri dariseorang ahli media dan seorang ahli indikator untuk mengungkap tentangmateri.Ahli media yaitu orang yang persyaratan pembuatan media 144
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987pembelajaran yang sesuai dengan Berdasarkan tabel 1 terlihat bilapedoman pembuatan media tanggapan terhadap media pembelajaranpembelajaran. Pada aspek relevansi Bahan Teknik Dasar oleh ahli pada aspekmateri terdiri dari indikator-indikator pada relevansi media memiliki rerata total 3,25instrumen mengungkap tentang: dan pada aspek relevansi media memilikiketepatan isi materi (relevansi silabus), rerata total 2,91 dari skala 4. Hal iniketepatan tujuan, relevansi kompetensi, menyatakan bila Media pembelajarankelengkapan materi, keruntutan materi, Bahan Teknik Dasar sudah cukup layakkejelasan materi dan tingkat kesulitan untuk digunakan sebagai bahan ajar padamateri. Pada aspek relevansi media terdiri pembelajaran Mata Kuliah Bahan Teknikdari indicator yang mengungkap tentang: Dasar ditinjau dari relevansi materi dankomposisi gambar dan teks, komposisi relevansi media. Media pembelajaranwarna, ilustarasi music, tampilan animasi, Bahan Teknik Dasar sebagai bahan ajarketepatan penggunaan animasi, sudah layak untuk membekali mahasiswakemudahan dalam menggunakan media, dalam mencapai kompetensi Bahankesesuaian dengan peserta didik. Hasil Teknik Dasar.validasi terhadap media pembelajaranBahan Teknik Dasar oleh ahli materi danahli media dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Validasi media pembelajaran Bahan Teknik Dasar oleh ahli No Aspek Indikator Nilai Rerata Ketepatan isi materi (relevansi 1 3,5 silabus) 2 Ketepatan tujuan 3,5 3 Relevansi Kompetensi 3,5 4 Kelengkapan Materi 3 5 Relevansi Materi Keruntutan materi 3 6 Kejelasan materi 3 7 Tingkat kesulitan materi 3,5 Kesesuaian dengan peserta 8 didik 3 Rerata total 3,25 1 Komposisi gambar dan teks 3 2 Komposisi warna 3 3 Ilustarasi musik 2,5 4 Relevansi Media Tampilan animasi 2,5 5 Ketepatan penggunaan animasi 3 Kemudahan dalam 6 menggunakan media 3,5 Rerata total 2,91 Merujuk data pada tabel 1 dapat , masing-masing indicator memiliki nilaidketahui bila pada aspek relevansi materi rata-rata terendah 3. Data ini 145
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987menunjukkan bahwa dari aspek materi, rata terendah 2,5 pada indicator ilustrasimedia pembelajaran sudah mendapat music dan tampilan animasi. Hal iniapresiasi baik.Angka tersebut menyatakan menunjukkan bila media pembelajaranbila materi yang disusun pada media yang dibuat masih rendah dalam halpembelajaran Bahan Teknik Dasar sudah ilustrasi music dan tampilanbaik dan sesuai dengan silbus dan animasi.Untuk pengembangantuntutan kompetensi.Materi disajikan selanjutnya pada indicator ini perlusecara runtut, terorganisir dan sesuai mendapat perhatian dan penekanandengan kapasitas mahasiswa.Media dalam pembuatan media pembelajaranpembelajaran dilengkapi dengan latihan- agar lebih menarik.latihan yang dapat digunakan sebagaipengukur ketercapaian tujuan belajar. 2. Tanggapan Oleh MahasiswaDengan menggunakan media Demikian juga untuk mengungkappembelajaran ini mahasiswa dapat tanggapan mahasiswa terhadap mediameningkatkan pemahaman dalam proses pembelajaran Bahan Teknik digunakanpembelajaran. instrument yang memuat dua aspek yaitu Bila ditinjau dari aspek relevansi relevansi materi dan relevansi media.media menurut table 1 memiliki nilai rata- Tabel 2. Tanggapan Mahasiswa terhadap media pembelajaran Bahan Teknik Dasar No Aspek Indikator Nilai Rerata Ketepatan isi materi (relevansi 1 3,24 silabus) 2 Ketepatan tujuan 3,46 3 Relevansi Kompetensi 3,16 4 Kelengkapan Materi 2,98 5 Relevansi Materi Keruntutan materi 3,07 6 Kejelasan materi 2,92 7 Tingkat kesulitan materi 3,02 Kesesuaian dengan peserta 8 didik 3,19 Rerata total 3,13 1 Komposisi gambar dan teks 3,18 2 Komposisi warna 3,18 3 Ilustarasi musik 2,65 4 Relevansi Media Tampilan animasi 2,71 5 Ketepatan penggunaan animasi 3,05 Kemudahan dalam 6 menggunakan media 3,37 Rerata total 2,96Mahasiswa yang diberi angket instrument media pembelajaran. Tanggapanadalah mahasiswa yang sedang terhadap media pembelajaran Bahanmenempuh Mata Kuliah Bahan Teknik Teknik Dasar oleh mahasiswa dapatDasar yang pada awal kuliah telah diberi dilihat pada table 2. 146
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Berdasarkan table 2 terlihat bila Untuk mengungkap pencapaiantanggapan media pembelajaran Bahan prestasi mahasiswa pada pembelajaranTeknik Dasar oleh mahasiswa pada aspek Bahan Teknik Dasar dilakukan prosesrelevansi materi memiliki rerata total yang pembelajaran kelompok mahasiswa yanglebih rendah yaitu 3,13 dari skala 4. Hal ini menggunakan media pembelajaran danmenyatakan bila Media pembelajaran yang tidak menggunakan mediaBahan Teknik Dasar ditanggapi oleh pembelajaran. Untuk itu dilakukan metodemahasiswa sebagai bahan pembelajaran quasi eksperimen, dengan mendisain satuMata Kuliah Bahan Teknik Dasar dalam kelas eksperimen dan satu kelas control.kategori baik. Media pembelajaran Bahan Kelas eksperimen dan kelas controlTeknik Dasar sebagai bahan mendapat perlakuan yang sama dalampembelajaran sudah memiliki kelayakan pembelajaran, baik dari silabus metodeyang baik bagi mahasiswa dalam penyampaian, tugas dan referensi yangmempelajari Bahan Teknik Dasar. dianjurkan. Perbedaannya hanya terletak Pada aspek relevansi media pada kelas eksperimen diberi mediamahasiswa memberikan nilai rata-rata pembelajaran Bahan Teknik dasar2,96 yang berarti tanggapan mahasiswa sedangkan kelas control tidak diberi.terhadap aspek relevansi media dalam Untuk mengetahui kemampuan awalkategori cukup baik. Seperti halnya mahasiswa tentang penguasaanpenilaian ahli ternyata hamper sama kompetensi Bahan Teknik Dasardengan tanggapan mahasiswa. Indikator dilakukan dengan Pre Test. Untuk melihatyang memiliki nilai rendah yaitu ilustrasi pencapaian prestasi setelah perlakuanmusic dengan nilai 2,65 dan tampilan maka dilakukan dengan Post Test. Postanimasi dengan nilai 2,71. Kenyataan Test dilakukan setelah mahasiswatersebut menyatakan bila media menempuh atau mempelajari separoh daripembelajaran Bahan Teknik Dasar belum materi keseluruhan, tepatnya setelahmemiliki daya tarik yang optimal bagi menempuh tujuh kali pertemuan ataumahasiswa, dan ini dapar dlebih tatap muka di kelas.dioptimalkan lagi.Pencapaian Prestasi Mahasiswa PadaPembelajaran Bahan Teknik Dasar Tabel 3.. Nilai Post Test Bahan Teknik Dasar Kelas Eksperimen Kelas Frekuensi Frekuensi No Interval absolut relatif 1 41 - 50 1 2,70 2 51 - 60 1 2,70 3 61 - 70 9 24,32 4 71 - 80 7 18,91 5 81 - 90 15 40,84 6 91 - 100 4 10,81 37 100 147
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 16 14 12 Frekuensi 10 8 6 4 2 0 41 - 50 51 - 60 61 - 70 71 - 80 81 - 90 91 - 100 Interval Nilai Gambar 1. Grafik Nilai Postest Kelas Eksperimen Nilai Post Test yang dicapai oleh Nilai Post Test yang dicapai olehkelas eksperimen dapat dilihat pada tabel kelas kontrol dapat dilihat pada tabel 4.3. Pencapaian nilai Post Test untuk kelas Pencapaian nilai Post Test untuk kelaseksperimen memiliki rentang terendah 47 kontrol memiliki rentang terendah 41 dandan tertinggi 96 dari skala 100. Nilai rata- tertinggi 88 dari skala 100. Nilai rata-ratarata kelas yang dicapai adalah 77,70 kelas yang dicapai adalah 64,10 dengandengan simpangan baku 11,54. simpangan baku 12,31. Tabel 4. Nilai Post Test Bahan Teknik Dasar Kelas Kontrol Kelas Frekuensi Frekuensi No Interval absolut relatif 1 41 - 50 5 13,51 2 51 - 60 8 21,62 3 61 - 70 12 32,43 4 71 - 80 10 27,02 5 81 - 90 2 5,40 6 91 - 100 0 0 37 100.00 12 Frekuensi 10 8 6 4 2 0 41 - 50 51 - 60 61 - 70 71 - 80 81 - 90 91 - 100 Interval Nilai Gambar 2. Grafik Nilai Postes Kelas Kontrol Untuk mengetahui apakah kelas pencapaian prestasi yang sama atau tidakeksperimen dan kelas kontrol memiliki maka dilakukan uji statistik dengan uji t. 148
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987Dari hail uji statistik diperoleh t hitung kurikulum, silabus dan materi ajarsebesar 4,8998. Harga t tabel untuk N1 = yang tertulis pada modul Bahan37 dan N2 = 37, pada taraf signifikansi 5 Teknik Dasar. Materi ajar yang terpilih di desain dalam bentuk storyboard% diperoleh t = 1,6684. Berdasarkan yang kemudian dibuat pada mediakriteri uji t menyatakan Ho : Tidak ada adobe flash CS 3. Media belajar diperbedaan pencapaian prestasi antara desain dengan mengkombinasikankelas eksperimen dan kelas kontrol narasi, teks, gambar, animasi danapabila -t tabel< t hitung< t tabel atau -1,6684< t video.hitung< 1,6684. Hasil perhitungan 2. Pembuatan media belajar Bahanmenunjukkan t hitung > t tabel, yaitu Teknik Dasar dengan program adobe4.8998> 1,6684, berarti hopotesis yang flash CS 3 mengkuti tahapan-tahapanmenyatakan tidak ada perbedaan yaitu: analisis kompetensi, analisispencapaian prestasi antara kelas bahan ajar, desain media, produksi, editing, pembuatan prototipe media,eksperimen dan kelas kontrol ditolak. Hal uji coba dan validasi.ini berarti menunjukkan sebaliknya yaituada perbedaan pencapaian prestasi kelas 3. Berdasarkan validasi dari ahli daneksperimen dan kelas kontrol di terima. tanggapan mahasiswa media belajar Berdasarkan hasil uji statistik yang Bahan Teknik Dasar dinilai dalam kategori baik untuk aspek relevansidilakukan ternyata ada perbedaan materi dengan nilai 3,25 dan 3,13,pencapaian prestasi antara kelas yang sedangkan pada aspek relevansidiberi media pembelajaran dengan kelas media dinilai cukup baik dengan nilaiyang tidak diberi media pembelajaran. 2,91 dan 2,96. Hal ini menunjukkanBerdasarkan tabel 3 dan 4 dapat diketahui bila media belajar yang dibuat layakbila kelas yang diberi media pembelajaran untuk digunakan dalam prosesmemperoleh pencapaian yang lebih tinngi pembelajaran Bahan Teknik Dasar.Hal ini bearti pemberian media 4. Terdapat perbedaan pencapaian hasilpembelajaran pada pembelajaran Bahan belajar antara kelas yangTeknik Dasar memberikan dampak yang menggunakan media flash dan yangpositif. Kondisi ini dapat diterima dan tidak menggunakan dalamdipahami dengan pemberian media pembelajaran Bahan Teknik Dasar. Penyertaan media pembelajaranpembelajaran mahasiswa memiliki pada pembelajaran Bahan Teknikpemahaman yang lebih baik dalam Dasar memiliki pengaruh yang positifmempelajari Bahan Teknik Dasar. .Dalam pada pencapaian prestasi belajar. Halproses belajar memiliki kesempatan untuk ini mengartikan bahwa penyertaanmendapat pengalaman belajar yang lebih media belajar Bahan Teknik Dasardan diterima oleh indera belajar yang lebih dapat meningkatkan pencapaian nilaikomplek, sehingga pemahaman terhadap dalam belajar Bahan Teknik Dasar.materi belajar lebih kuat. Mahasiswa yangtidak diberi media pembelajaran Daftar Pustakacenderung lebih perhatian dan antusiasdalam belajar. .Agnew,W.P, Kellermen, A.S, Meyer,J,M, (1996),”Multimedia in theSimpulan Classroom”, Allyn and Bacon, Boston, USA. Berdasarkan hasil dan Ahmad Fauzi, (2004), Psikologi Umum,pembahasan yang telah dipaparkan maka Bandung: CV Pustaka Setia,dapat diambil simpulan sebagai berikut: Cet.ke-2,1. Media pembelajaran Bahan Teknik Dasar dirancang berdasarkan 149
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987Azhar Arsyad. (2007). Media Flash + CD, Penerbit: Pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Informatika Grafindo Persada. Sardiman A. M, (1988), Interaksi danEna, Ouda Teda.( 2001). Membuat Media Motivasi Belajar Mengajar, Pembelajaran Interaktif dengan Jakarta: CV. Rajawali, PirantiLunak Presentasi. Slameto, (1991), Belajar dan Faktor-faktor Yogyakarta: Indonesian yang Mempengaruhinya, Language and Culture Intensive Jakarta: Rineka Cipta, CourseUniversitas Sanata Dharma. Sugiyono (2009),”Metode Penelitian www.ialf.edu/kipbipa/papers/ou Pendidikan, Pendekatan datedaena.doc Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D”, AlfaBeta, Bandung.Hamzah B. Uno.(2006). Perencanaan Pembelajaran.Jakarta: PT. Sutopo, Hadi.A, (2003),”Multimedia Bumi Aksara. Interaktif Dengan Flash”, Graha Ilmu, Yogyakarta.Locatis, N.C, Atkinson,F.D,”Media And Technology For Education And The Liang Gie, (2004), Cara Belajar Yang Training”, Charles E. Merril Baik Bagi Mahasiswa, Publising Company A Bell & Yogyakarta: Gajah Mada Press Howell Company,Columbus, Tim Penyusun Kamus Pusat Ohio.1984 Pengembangan dan PembinaanOemar Hamalik. (2004). Perencanaan Bahasa ,(1990), Kamus Besar Pengajaran Berdasarkan Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pendekatan Sistem. Jakarta: Balai Pustaka, , h. 583. Bumi Aksara Vernon S. Gerlach , (1980), Teaching andPriyanto Hidayatullah dkk, (2008), Making Media Publisher: Prentice Hall Educational Animation Using.. 150
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 ANALISIS IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN MULTIMEDIA BERBASIS WEB TEHADAP MOTIVASI BELAJAR Erni Munastiwi Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) D.I. Yogyakarta Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh secara simultan implementasi model pembelajaran multi media berbasis web terhadap motivasi belajar peserta didik/ siswa pada mata pelajaran kewirausahaan, dan (2) dampak implementasi model pembelajaran multi media berbasis web terhadap motivasi belajar pesrta didik/ siswa pada mata pelajaran kewirausahaan. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XI Teknik Komputer Jaringan (TKJ) A Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Pundong. Sampel adalah himpunan atau bagian dari unit populasi. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik purposive sampling, yaitu peneliti telah menyusun kriteria-kriteria yang digunakan dalam pengambilan sampel. Kriteria tersebut meliputi siswa kelas XI TKJ A yang berjenis kelamin pria dan wanita. Peneliti menggunakan kriteria ini dikarenakan siswa kelas XI TKJ A merupakan siswa yang mempunyai prestasi lebih baik dibandingkan siswa kelas XI lainnya. Teknik analisa data meliputi uji normalitas menggunakan teknik Kolmogorov Smirnov, analisis regresi linier berganda untuk mencari pengaruh, dan hubungan dari beberapa variabel independen terhadap variabel dependen, uji F statistik untuk mencari pengaruh dari variabel independen yang digunakan secara bersama-sama (simultan) terhadap variabel dependen, koefisien determinasi digunakan untuk mengukur seberapa besar variasi perubahan variabel dependen yang mampu dijelaskan oleh variabel independen dalam model, uji asumsi klasik: model regresi yang baik adalah model regresi yang menghasilkan estimator linier tidak bias ( Best Linier Unbias Estimator/ BLUE). Kondisi ini akan terjadi jika dipenuhi beberapa asumsi, yang disebut dengan asumsi klasik terdiri a. multikolinearitas artinya antar variabel independen yang terdapat dalam model memiliki hubungan yang sempurna; b. heteroskedastisitas: artinya varians variabel dalam model tidak sama (konstan); c. otokorelasi: artinya adanya korelasi antar anggota sampel yang diurutkan berdasarkan waktu. Penyimpangan asumsi biasanya muncul pada observasi yang menggunakan time series. Cara lain untuk mendeteksi adanya otokorelasi dalam model dan lebih akurat menggunakan Uji Lagrange Multiplier. Jika hasil analisis selanjutnya masih terdapat otokorelasi, maka pemerkira OLS (Ordinary Least Square) masih mempunyai sifat tidak bias dalam sampling yang terulang. Kondisi masih konsisten artinya sampel makin membesar (n menuju tidak terhingga) pemerkira akan mendekati parameter. Sebagaimana halnya heteroskedastisitas dalam hal terjadi otokorelasi, maka pemerkira tidak lagi efisien baik dalam sampel besar maupun sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran multimedia berbasis web berpengaruh secara simultan dan berdampak positif karena peserta didik/ siswa dapat memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah, mengubah perilaku/ sikap, mempertajam keahlian interpersonal, dan dapat memelihara pengetahuan. Oleh karena itu, pembelajaran multimedia berbasis web seharusnya mulai dikenalkan dan dimplementasikan di sekolah, sebab dapat meningkatkan kompetensi. Dengan demikian dapat meningkatkan mutu pembelajaran. Kata kunci: pembelajaran, multimedia, motivasi Tujuannya untuk dapat menciptakan Pendahuluan kehidupan bagi peserta didik/ siswa Keberhasilan sebuah negara dalam menuju masa depan yang lebih dapat diukur dari keberhasilan baik sebagai anggota masyarakat dalam pembangunan bidang pendidikan. suatu negara. Tujuan pendidikan sangat Pembangunan dalam bidang pendidikan tergantung pada falsafah hidup suatu adalah usaha membentuk kepribadian bangsa. dan sikap watak peserta didik/siswa. 151
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun proses pembelajaran yang efektif dan 2003 tentang Sistem Pendidikan efisien. Nasional Bab II Pasal 4 dinyatakan Salah satu tingkat satuan bahwa pendidikan nasional bertujuan pendidikan yang memiliki komponen mencerdaskan kehidupan bangsa dan struktur kurikulum mata pelajaran mengembangkan manusia Indonesia kejuruan, dalam hal ini mata pelajaran seutuhnya yaitu manusia yang beriman kewirausahaan adalah Sekolah dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Menengah Kejuruan (SMK). Pendidikan Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, kejuruan bertujuan untuk meningkatkan memiliki pengetahuan dan keterampilan, kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, kesehatan jasmani dan rohani, akhlak mulia, serta keterampilan peserta kepribadian yang mantap dan mandiri didik untuk hidup mandiri dan mengikuti serta rasa tanggung jawab pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kemasyarakatan dan kebangsaan. program kejur uannya. Agar dapat Pelaksanaan pembelajaran merupakan bekerja secara efektif dan efisien serta salah satu faktor yang berpengaruh mengembangkan keahlian dan terhadap usaha-usaha dalam keterampilan, memiliki stamina tinggi, pencapaian tujuan-tujuan pendidikan. menguasai bidang keahlian dan dasar- Tujuan pendidikan dapat dicapai dasar ilmu pengetahuan dan teknologi, apabila proses pembelajaran memiliki etos kerja tinggi, dan mampu dilaksanakan dan dikembangkan sesuai berkomunikasi sesuai dengan tuntutan standar yang tercantum dalam Peraturan pekerjaannya, serta memiliki Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 kemampuan mengembangkan diri. tentang Standar Nasional Pendidikan. Struktur kurikulum Sekolah Standar proses adalah standar Menengah Kejuruan (SMK) berisi mata nasional pendidikan yang berkaitan pelajaran wajib, mata pelajaran kejuruan, dengan pelaksanaan pembelajaran pada muatan lokal, dan pengembangan diri. satuan pendidikan untuk mencapai kompetensi lulusan. Standar proses Mata pelajaran wajib terdiri atas: berisi kriteria minimal proses Pendidikan Agama, Pendidikan pembelajaran pada satuan pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa, Matematika, dasar dan menengah di seluruh wilayah IPA, IPS, Seni dan Budaya, Pendidikan hukum Negara Kesatuan Republik Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Mata Indonesia. Standar proses ini berlaku untuk pelajaran kejuruan terdiri atas: 1. KKPI jenjang pendidikan dasar dan menengah (Keterampilan Komputer dan pada jalur formal, baik pada sistem paket Pengelolaan Informasi), 2. maupun pada sistem kredit semester. Kewirausahaan, 3. Dasar Kompetensi Standar proses meliputi perencanaan Kejuruan, dan 4. Kompetensi Kejuruan. proses pembelajaran, pelaksanaan Mata pelajaran ini bertujuan untuk proses pembelajaran, penilaian hasil membentuk manusia Indonesia pembelajaran, dan pengawasan proses seutuhnya dalam spektrum manusia pembelajaran untuk terlaksananya kerja. 152
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Mata pelajaran kejuruan terdiri sangat berkaitan erat dengan atas beberapa mata pelajaran yang permasalahan hidup seseorang. bertujuan untuk menunjang Kewirausahaan oleh Suryana (2005: 8) pembentukan kompetensi kejuruan dan didefinisikan sebagai suatu kemampuan pengembangan kemampuan kreatif dan inovatif yaitu menciptakan hal menyesuaikan diri dalam bidang yang baru dan berbeda, yang dijadikan keahliannya. Muatan lokal merupakan kiat, dasar, sumber daya, proses dan kegiatan kurikuler untuk perjuangan untuk menciptakan nilai mengembangkan kompetensi yang tambah barang dan jasa yang dilakukan disesuaikan dengan ciri khas, potensi keberanian untuk mengambil resiko. daerah, dan prospek pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan daerah termasuk keunggulan daerah, (SMK) merupakan salah satu tingkat yang materinya tidak dapat satuan pendidikan yang bertujuan dikelompokkan ke dalam mata pelajaran meningkatkan kualitas sumber daya yang ada. Substansi muatan lokal manusia. Diharapkan SMK menghasilkan ditentukan oleh satuan pendidikan sesuai lulusan siap kerja dan atau lulusan yang dengan program keahlian yang dapat menciptakan lapangan kerja diselenggarakan. Pengembangan diri dengan berwirausaha. Pendidik/ guru bukan merupakan mata pelajaran yang merupakan faktor penentu keberhasilan harus diasuh oleh guru. Pengembangan sebuah proses pembelajaran. Ada diri bertujuan memberikan kesempatan beberapa strategi yang dapat digunakan kepada peserta didik untuk oleh pendidik/ guru untuk menumbuhkan mengembangkan dan mengekspresikan motivasi belajar peserta didik/ siswa, diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan diantaranya membangkitkan semangat minat setiap peserta didik sesuai dengan belajar peserta didik/ siswa, membantu kondisi sekolah. Kegiatan kesulitan belajar peserta didik/ siswa, pengembangan diri difasilitasi dan atau menggunakan metode yang bervariasi, dibimbing oleh konselor, guru, atau dan menggunakan media yang baik dan tenaga kependidikan yang dapat sesuai dengan tujuan pembelajaran. dilakukan dalam bentuk kegiatan Pemilihan model dan media ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan pembelajaran menjadi bagian penting diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan yang harus dipilih oleh pendidik/ guru. konseling yang berkenaan dengan Penggunaan model yang kurang tepat masalah diri pribadi dan kehidupan akan berakibat kurang baik terhadap sosial, belajar, dan pembentukan karier prestasi peserta didik/ siswa. peserta didik. Pengembangan diri bagi Model pembelajaran multimedia peserta didik SMK terutama ditujukan berbasis web merupakan salah satu untuk pengembangan kreativitas dan model pembelajaran yang dapat bimbingan karier. menumbuhkan motivasi belajar. Motivasi Kenyataannya, pendidikan sebagai kegiatan yang memberikan kewirausahaan sering diabaikan, dan dorongan kepada seseorang atau diri dipandang sebelah mata, kewirausahaan sendiri untuk mengambil suatu tindakan 153
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 yang dikehendaki. Kaitannya dengan saatnya teknik komputer dijadikan kegiatan belajar, motivasi dapat sebagai salah satu alternatif pilihan dikatakan sebagai keseluruhan daya media pembelajaran yang efektif dan penggerak di dalam diri peserta didik efisien. yang menimbulkan, menjamin Mata pelajaran kewirausahaan kelangsungan dan memberikan arah sangat spesifik karena melibatkan kegiatan belajar, sehingga diharapkan berbagai pihak terkait. Sehingga lebih tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan baik apabila dalam merancang belajar, motivasi sangat diperlukan, pembelajaran dipahami oleh pihak-pihak sebab seseorang yang tidak mempunyai tertentu yang perannya relatif menonjol motivasi dalam belajar, tidak akan dalam proses pembelajaran. Dari mungkin melakukan aktivitas belajar. pengamatan selama ini, diantara mata Oleh karena itu, motivasi pelajaran yang lainnya prestasi belajar merupakan sumber yang memberikan kewirausahaan saat ini sangat rendah. dorongan dari dalam yang dapat Salah satu faktor penyebabnya adalah menggerakkan keinginan dari luar. penyampaian materi pelajaran kurang Sumber penggerak motivasi yang menarik. Kurangnya stategi dan media berasal dari dalam cenderung beranjak pembelajaran yang diterapkan di dalam dari kebiasaan individu (yang telah proses pembelajaran tersebut, sehingga berkembang secara kompleks), peserta didik/ siswa cenderung bosan. sedangkan motivasi yang sumber Untuk itu, diperlukan solusi yang tepat penggeraknya datang dari luar selalu untuk mengatasi permasalah tersebut disertai oleh persetujuan, kemauan, dan sehingga diharapkan dapat berpengaruh kehendak individu. terhadap peserta didik/ siswa dalam Kemajuan di bidang Information belajar kewirausahaan. Comunication Technology (ICT) Salah satu cara untuk berpengaruh terhadap perilaku manusia, meningkatkan keaktifan peserta didik/ mendorong manusia untuk meningkatkan siswa pada pelaksanaan pembelajaran efisiensi pada setiap kegiatannya. Pada kewirausahaan adalah dengan masa-masa mendatang diyakini bahwa pengembangan model pembelajaran tidak ada bidang kehidupan manusia berbasis ICT salah satunya adalah yang tidak memanfaatkan ICT. Salah pembelajaran multimedia berbasis web. satu teknologi yang penting Program ini dapat menampilkan dikembangkan saat ini adalah teknologi informasi berupa tulisan, gambar, video, komputer, karena teknologi komputer dan lainnya sehingga peserta didik/ dapat dipakai sebagai sarana untuk siswa dapat lebih memahami materi yang menyajikan informasi dan dimanfaatkan disampaikan oleh pendidik/ guru. untuk berbagai bidang termasuk bidang Pembelajaran multimedia cocok pendidikan. Sebagai contoh, dengan digunakan dalam proses pembelajaran adanya teknik komputer multimedia pada tingkat satuan pendidikan selain mampu menampilkan gambar atau SMK. Implementasi pembelajaran tulisan diam atau gerak/ suara. Sudah multimedia dalam mata pelajaran 154
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 kewirausahaan tidak hanya terbatas memberikan ilmu pengetahuan. Menurut dalam pengunaannya sebagai alat bantu Kikis (2008: 45), penerapan multimedia dalam mengajar di kelas tetapi juga sebagai inovasi dalam proses belajar dapat dimanfaatkan untuk tugas-tugas mengajar harus didukung oleh akses peserta didik/ siswa. internet secara teratur baik oleh pendidik/ Pendidik/ guru dapat guru maupun peserta didik/ siswa. Dalam memanfaatkan teknologi tersebut untuk menyiapkan semua itu, peran aktif memberikan tugas kepada peserta didik/ pendidik/ guru sangat diperlukan untuk siswa dan pengumpulan tugas melalui membimbing peserta didik/ siswa agar email. Dengan menerapkan model tujuan pembelajaran dapat tercapai. Hal tersebut diharapkan berdampak positif ini disebabkan karena tidak sedikit atau berpengaruh terhadap proses peserta didik/ siswa yang telah memiliki pembelajaran kewirausahaan. Artinya pengetahuan tentang dunia internet akan keterbatasan ruang dan waktu dapat menyalah gunakannya. Dan salah satu teratasi karena peserta didik/ siswa dapat bentuk penyalahgunaan adalah peserta mengumpulkan tugasnya atau pendidik/ didik/ siswa membuka situs-situs yang guru dapat memberikan tugas tanpa berbau pornografi. Oleh karena itu, terhalang oleh keterbatasan ruang dan pengawasan pendidik/ guru juga waktu. Selain itu, pembelajaran merupakan hal yang perlu diperhatikan. multimedia dalam mata pelajaran Tingkat kecerdasan dan kewirausahaan dapat dilakukan dalam keterampilan peserta didik/ siswa dalam bentuk e-learning. Hal ini dimaksudkan memahami mata pelajaran agar pembelajaran yang ada tidak selalu kewirausahaan merupakan modal awal menggunakan buku akan tetapi dapat yang membuat peserta didik/ siswa menggunakan dan memanfaatkan mudah menerima materi yang perkembangan teknologi yaitu internet. disampaikan oleh pendidik/ guru. Dengan Pelaksanaan pembelajaran dalam bentuk tingkat kecerdasan dan keterampilan e-learning menuntut kesiapan sekolah yang tinggi setiap peserta didik/ siswa dalam menyediakan fasilitas sebagai akan mempunyai peluang besar dalam sarana pendukung sekolah yang dapat mencapai keberhasilan dalam menunjang keberhasilan pembelajaran pembelajaran. Berdasarkan uraian multimedia berbasis web. diatas, peneliti tertarik untuk melakukan Penerapan pembelajaran penelitian tentang: Analisis implementasi multimedia berbasis web menuntut model pembelajaran multimedia kesiapan peserta didik/ siswa dalam berbasis web terhadap motivasi belajar menggunakan sarana prasarana. peserta didik/ siswa (studi terhadap mata Peserta didik/ siswa harus mampu pelajaran kewirausahaan di SMKN 1 menggunakan komputer untuk masuk ke Pundong Bantul D.I.Yogyakarta. dunia internet. Di samping itu, peserta Kajian Teori didik/ siswa harus memiliki pengetahuan Multimedia jelajah internet terutama berkaitan Menurut Richard E. Mayer (2009: 3) dengan situs–situs yang bisa mendefinisikan bahwa: multimedia 155
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 sebagai presentasi materi dengan sebagainya); 3) Penciuman: menyajikan menggunakan kata-kata sekaligus instruksi menggunakan siswa apa pun gambar-gambar. Kata-kata yang bisa bau atau rasa (sesuatu yang dimaksud adalah materi yang disajikan terbakar, atau sesuatu yang telah dalam verbal form atau bentuk verbal, disiapkan dengan bumbu terlalu banyak); misalnya menggunakan teks kata-kata 4) Perabaan: menyajikan instruksi yang tercetak atau terucapkan. Yang menggunakan siswa pun dapat dimaksud gambar adalah materi yang menyentuh atau memanipulasi (model, disajikan dalam bentuk pictorial form atau bagian-bagian yang sebenarnya atau bentuk gambar, misalnya grafik, foto, dan peralatan, memiliki studentc melakukan peta). demonstrasi, peran, dan sebagainya). Suyanto (2003: 21) menyatakan Pembelajaran yang multimedia adalah pemanfaatan kom- menggunakan multimedia berbasis web puter untuk membuat dan mengga- lebih mempermudah siswa dalam bungkan teks, grafik, audio, gambar menerima materi pembelajaran. gerak dengan menggabungkan link dan Pembelajaran dapat dilakukan secara tool yang memungkinkan pemakai jarak jauh, di satu lokasi tertentu. melakukan navigasi, berinteraksi, Penggunaan web sebagai alat bantu berkreasi, dan berkomunikasi. dalam pembelajaran memiliki tingkat Dari beberapa pengertian diatas keefektifan. Sebuah pembelajaran dapat dapat ditarik kesimpulan bahwa menggunakan lebih dari satu sistem multimedia adalah penyampaian pembelajaran. Pembelajaran yang informasi secara interaktif dari berhasil adalah pembelajaran yang penggabungan beberapa media yang menggabungkan berbagai sistem berupa teks, gambar, grafis, animasi, pembelajaran. Sistem pembelajaran audio, dan video. gabungan sangat bermanfaat jika Model Pembelajaran pembelajaran yang digunakan adalah William W. Lee dan Diana L. berbasis web/ teknologi. Dalam Owens (2004: 117) menyatakan, bahwa: pembelajaran berbasis web, siswa Terdapat empat pendekatan untuk melihat, mendengarkan, mencium dan belajar. Berikut adalah lima indra, meraba. dikelompokkan menjadi empat Motivasi Belajar pendekatan untuk belajar:1) Visual: Hasyim Ali (2003: 143) menyatakan menyajikan instruksi menggunakan siswa motivasi adalah apa yang menggerakkan pun dapat melihat. Visual termasuk seseorang untuk bertindak dengan cara video, grafik, animasi, dan teks tertulis (di tertentu atau sekurang-kurangnya layar komputer, papan tulis, flip chart, mengembangkan sesuatu transparansi overhead, buku, poster, dan kecenderungan perilaku tertentu, yang sebagainya); 2) Auditory: menyajikan dapat dipicu oleh rangsangan luar, atau instruksi menggunakan siswa pun dapat yang lahir dari dalam diri orang itu mendengarkan (kaset, telekonferensi sendiri’. audio, kuliah, efek suara, musik, dan 156
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Menurut Sardiman A.M (2008: pengetahuan (X5) terhadap motivasi 10) bahwa motivasi dapat juga dikatakan belajar peserta didik/ siswa terbukti sebagai serangkaian usaha untuk benar. Hasil regresi telah memenuhi menyediakan kondisi-kondisi tertentu, prasyarat asumsi klasik yang dinyatakan sehingga seseorang itu mau dan ingin bahwa data telah terdistribusi normal, melakukan sesuatu, dan bila ia tidak tidak terdapat multikolinearitas dan tidak suka, maka berusaha untuk meniadakan terdapat heteroskedasitas. atau mengelakan perasaan tidak suka Hasil analisis menunjukkan tersebut. Jadi motivasi itu dapat dirangkai pembelajaran multimedia berbasis web oleh faktor dari luar tetapi motivasi berdampak positif bagi peserta didik adalah tumbuh di dalam diri seseorang. karena dapat memperoleh pengetahuan, Dari berbagai pendapat memecahkan masalah, mengubah mengenai motivasi yang dikemukakan perilaku/ sikap, mempertajam keahlian diatas, dapat disimpulkan bahwa interpersonal, dan dapat memelihara motivasi adalah suatu kondisi internal pengetahuan. Oleh karena itu, yang mampu menimbulkan dorongan pembelajaran multimedia berbasis web dalam diri manusia untuk melakukan seharusnya mulai dikenalkan dan aktivitas tertentu guna mencapai tujuan. dimplementasikan di sekolah. Pembahasan Agar pembelajaran multimedia Berdasarkan hasil penelitian berbasis web dapat dilaksanakan dengan bahwa data-data yang peneliti gunakan lancar, hendaknya pendidik/ guru sudah telah memenuhi kriteria validitas dan tahu lebih dahulu tentang dunia internet reliabilitas. Oleh karena itu, data-data sebelum menerapkan pembelajaran. tersebut valid dan reliabel. Hasil analisis Beberapa metode pembelajaran dapat regresi dinyatakan bahwa variabel dilakukan diantaranya: diskusi, perolehan pengetahuan (X1), demonstrasi, problem solving, inkuiri, dan kemampuan memecahkan masalah (X2), discoveri. Pendidik/ guru memberikan mengubah perilaku/ sikap (X3), keahlian topik tertentu, kemudian peserta didik/ interpersonal (X4), dan terpeliharanya siswa mencari hal-hal yang berkaitan pengetahuan (X5) secara bersama-sama dengan hal tersebut dengan mencari dan secara individual mempunyai ‘down load’ dari internet. Selain itu pengaruh signifikan terhadap motivasi pendidik/ guru dapat memberikan tugas- belajar peserta didik/ siswa (Y). tugas ringan yang mengharuskan Hubungan kelima variabel independen peserta didik/ siswa mengakses dari terhadap motivasi belajar peserta didik/ internet. Peserta didik/ siswa dapat siswa positif. Dengan demikian hipotesa belajar dari internet tentang hal-hal up to yang menyatakan terdapat pengaruh date yang berkaitan dengan positif dan signifikan dari variabel pengetahuan. Pendidik/ guru memberi perolehan pengetahuan (X1), tugas pada peserta didik/ siswa untuk kemampuan memecahkan masalah (X2), mencari suatu peristiwa terkini dari mengubah perilaku/ sikap (X3), keahlian internet kemudian mendiskusikannya di interpersonal (X4), dan terpeliharanya kelas. 157
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 Metode-metode tersebut dapat lainnya. Free weblog merupakan web dilakukan dengan menggunakan model- yang dapat dikembangkan secara instan model pembelajaran yang bervariasi terdiri dari post dan page. Free weblog sehingga peserta didik/ siswa semakin dapat dikembangkan sebagai media senang, tertarik untuk mempelajari materi pembelajaran berbasis web. pelajaran sehingga proses pembelajaran Berdasarkan kajian teori bahwa metode lebih bermakna. Dengan pemanfaatan freeweblog sebagai media mengimplementasikan pembelajaran pembelajaran berbasis web dapat multimedia berbasis web diharapkan dilakukan dengan cara: 1) membuat post peserta didik/ siswa akan terbiasa sebagai media diskusi, 2) membuat berpikir kritis dan mendorong menjadi halaman sebagai tempat menampilkan pembelajar otodidak. Peserta didik/ siswa suatu mata pelajaran, dan 3) membuat akan terbiasa mencari berbagai informasi sub halaman sebagai tempat dari berbagai sumber untuk belajar. menampilkan suatu pokok bahasan Pembelajaran ini juga mendidik peserta dalam suatu mata pelajaran. didik/ siswa untuk bekerjasama dengan Implementasi pembelajaran mul- peserta didik/ siswa lain dalam kelompok timedia berbasis web telah terbukti dapat kecil/ tim. meningkat prestasi belajar. Mata Pembelajaran multimedia pelajaran Kewirausahaan tidak lagi berbasis web berdampak positif karena dipandang sebelah mata, namun telah pengetahuan dan wawasan peserta mendapat perhatian sama dengan mata didik/ siswa berkembang, mampu pelajaran lain seperti mata pelajaran meningkatkan motivasi dan hasil belajar. matematika. Agar implementasi Oleh karena itu, tujuan pembelajaran pembelajaran multimedia berbasis web akan tercapai dan mutu pendidikan dapat terlaksana perlu dukungan dari meningkat. Keuntungan pembelajaran Kepala Sekolah dan komitmen seluruh multimedia berbasis web adalah dalam warga sekolah. hal fleksibilitas. Pembelajaran multimedia SIMPULAN berbasis web dibangun untuk 1) Hasil analisis menunjukkan imple- menampilkan kumpulan materi, mentasi model pembelajaran sementara forum diskusi atau tanya multimedia berbasis web ber- jawab dapat dilakukan melalui e-mail pengaruh secara simultan bagi atau milist. peserta didik/ siswa. Peserta Disamping itu terdapat model didik/siswa lebih luas memperoleh pembelajaran dalam pembelajaran pengetahuan, lebih mudah multimedia berbasis web yang terpadu, memecahkan masalah, dapat secara berupa portal e-learning yang berisi langsung mengubah perilaku/ sikap, berbagai obyek pembelajaran yang dan mempertajam keahlian inter- diperkaya dengan multimedia serta personal. Oleh karena itu, dipadukan dengan sistem informasi pembelajaran kewirausahaan tidak akademik, evaluasi, komunikasi, diskusi, lagi dipandang sebelah mata. dan berbagai educational tools Pembelajaran multimedia berbasis 158
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 web seharusnya mulai dikenalkan Lee, William W. & Owen, Diana L. dan dimplementasikan di sekolah. (2004). Multimedia-Based 2) Implementasi model pembelajaran Instructional Design. Computer Based Training, Distance multimedia berbasis web berdampak Broadcast Training, Performance- positif bagi peserta didik/ siswa Based Solutions. San karena pengetahuan dan wawasan Fransisco:Preiffer peserta didik/ siswa dapat Mayer, Richard E. (2009). Multi-Media berkembang, dan mampu mening- Learning. New Yok: Cambrige katkan motivasi belajar peserta didik/ University Press siswa serta hasil belajar. Oleh karena Munir. (2009). Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis Teknologi Informasi dan itu, tujuan pembelajaran akan Komunikasi. Bandung: Penerbit tercapai dan mutu pendidikan Alfabeta. meningkat. Keuntungan pembelaja- Nawawi, Hadari. (2009). Administrasi ran multimedia berbasis web adalah Pendidikan. Jakarta: CV Haji dalam hal fleksibilitas. Pembelajaran Masagung. multimedia berbasis web dibangun Prasetyo, Suciati dan IGK Wardani. untuk menampilkan kumpulan materi, (2004). Teori Belajar, Motivasi dan Keterampilan sementara forum diskusi atau tanya Mengajar. Jakarta: UT jawab dapat dilakukan melalui e-mail Sardiman, A. M. (2008). Interaksi dan atau milist. Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafika DAFTAR PUSTAKA Persada. Algifari. (2000). Analisis Regresi: Teori Sugiyono. (2007). Statistika Untuk Kasus dan Solusi. Yogyakarta: Penelitian. Bandung: Alfabeta. BPFE UGM. Suryanto, M. (2003). Multimedia: Alat Allyn & Bacon Slavin, R.E. (2000). Untuk Meningkatkan Keunggulan Educational Psychology: Theory Bersaing. Yogyakarta: Percetakan and Practice. Sixth Edition. Andi. Boston: Allyn & Bacon. Umar, Husein. (2003). Metode Riset Depdiknas. (2003). Undang-Undang RI Perilaku Organisasi. Jakarta: PT Nomor 20, Tahun 2003, Tentang Gramedia Pustaka Utama. Sistem Pendidikan Nasional. Vaughan, T. (2006). Multimedia: Making Hakim, Abdul. (2008). Statistik Induktif: At Work. (Terjemahan Theresia Untuk Bisnis dan Ekonomi. Arie Prabawati & Agnes Yogyakarta: Ekonisia UII. HeniTriyuliana). Mc Graw-Hill Hasyim, Ali. (2003). Motivasi: Upaya Companies, Inc. Peningkatan Prestasi. Yogya: Andi Ofset. Indriantoro, Nur. dan Supomo. (2002). Metodologi Penelitian Bisnis: Untuk Akuntansi dan Manajemen. Yogyakarta: BPFE UGM. Kikis. (2008). Multimedia Learning berbasis Web. Yogya: Andi Ofset. 159
    • Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik MesinFT UNY, Sabtu 2 Juni 2012 ISSN: 2086-8987 REKONSTRUKSI PENDIDIKAN VOKASIONAL DI INDONESIA: Sebuah Pemikiran Tentang SMK Oleh: Agus Budiman Pendidikan Teknik Otomotif FT UNY agusbe_otouny@yahoo.co.id Abstrak Artikel ini merupakan sebuah opini atau pemikiran mengenai rekonstruksi pendidikan vokasional di Indonesia. Ide rekonstruksi tersebut didasarkan pada kondisi pendidikan vokasional yang stagnan di negara ini, sementara di negara lain pendidikan vokasional telah mengalami perubahan. Perbedaan kondisi pendidikan vokasional di semua negara berkorelasi dengan faktor historis di negara tersebut. Dampak perbedaan tersebut menyebabkan implementasi pendidikan vokasional yang berbeda untuk masing-masing negara. Terdapat dua aspek yang memacu terjadinya rekonstruksi pendidikan vokasional, yaitu aspek internal dan aspek eksternal. Aspek internal meliputi empat persoalan, yaitu: (1) lulusan SMK tidak diterima secara langsung di dunia kerja, (2) masa studi SMK tidak relevan dengan ketrampilan yang dibutuhkan oleh industri, (3) pendidikan vokasional dianggap tidak luwes (unpermeable) karena siswa-siswanya tidak dapat berpindah dari satu sekolah ke sekolah lainnya, (4) materi yang diajarkan dalam pendidikan vokasional cenderung ketinggalan jaman (obsolete) atau lebih rendah daripada perkembangan industri. Aspek eksternal yang memacu rekonstruksi pendidikan vokasional meliputi: (1) dampak globalisasi, (2) pengalaman negara lain, seperti: di negara-negara OECD, di Republik Korea, dan di Amerika Latin, (3) teori-teori pengembangan kecakapan vokasional dan teknik (TVSD), dan (4) hasil survei kecil di tiga industri servis kendaraan bermotor di Indonesia. Konstruksi baru pendidikan vokasional yang diusulkan terdiri dari: (1) Sistem dan struktur pendidikan vokasional, dan (2) Kurikulum pendidikan vokasional. Berdasarkan kondisi sistem pendidikan vokasional yang ada di Indonesia, di Jerman, and di Swiss, diusulkan Model Konstruksi 1 dan Model Konstruksi 2. Model Konstruksi 1 pendidikan vokasional adalah sebuah sekolah menengah komprehensif yang di dalamnya pendidikan umum/akademis yang tidak terpisah dengan pendidikan vokasional. Model Konstruksi 2 adalah sekolah umum/akademis dan sekolah vokasional yang terpisah, tetapi masih bisa terjadi perpindahan (permeability) dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Kurikulum pendidikan vokasional yang diusulkan dalam rekonstruksi ini meliputi empat program, yaitu: (1) program pendidikan yang dapat memacu ketrampilan teknik (hard-skills or engineering skills), (2) program pendidikan yang mengembangkan teknologi komputer dan teknologi informasi dan telekomunikasi berbasis mikro-elektronika. (3) program pendidikan yang mengembangkan kecakapan Abad 21, dan (4) program pendidikan yang mengembangkan soft-skill. Kata kunci: rekonstruksi, pendidikan vokasional, konstruksi Model 1, konstruksi Model 2, permeabilitas, kurikulum pendidikan vokasional Pendahuluan regenerasi bangsa, maupun sebagai lembaga penyedia (supplier) calon Pendidikan vokasional di tenaga kerja. Pada tataran filosofis, berbagai negara mempunyai peran pendidikan vokasional di berbagai yang penting, baik sebagai lembaga negara tidak menunjukkan perbedaan pendidikan yang meneruskan 160