MAKALAH
PEngantar ilmu lingkungan
“rendahnya mobilitas penduduk di indonesia”

Disusun Oleh:
Chenes aprilia

4401411147

S...
BAB l
Pendahuluan

1.1 Latar Belakang
Indonesia termasuk negara berkembang dengan penduduknya yang padat.Saat ini penduduk...
Pada dasarnya manusia melakukan mobilitas dengan suatu tujuan yaitu untuk meningkatkan
kualitas hidupnya mulai dengan peme...
dinilai dapat mewujudkan terciptanya sishankamrata. Terhadap sumber daya alam, redistribusi
penduduk dianggap dapat mening...
BAB II
Pembahasan

2.1 Mobilitas Penduduk
Mobilitas penduduk mempunyai pengertian pergerakan penduduk dari satu daerah ke ...
2. Faktor – faktor yang terdapat di daerah tujuan
3. Penghalang antara
4. Faktor – faktor pribadi
Keputusan bermigrasi dal...
Artinya migran masuk di suatu daerah bisa terdiri dari kelompok seleksi positif (dipengaruhi
oleh faktor positif di daerah...
Keanekaragaman penduduk menunjukkan adanya kelompok-kelompok yang mempunyai
keahlian dalam pekerjaan-pekerjaan tertentu.
3...
membawa dampak negatif bagi daerah yang ditinggalkan. Oleh karenanya, migrasi diduga dapat
mengganggu dan memperlambat pro...
Sulawesi. Mobilisasi penduduk itu terjadi umumnya disebabkan karena faktor-faktor ekonomi.
Karena itu, pemerintah pusat pe...
bentuk mobilitas tersebut diatas juga dipengaruhi oleh berbagai factor maupun tidak langsung, antara
lain sifat tekun dan ...
mempengaruhi seseorang untuk bermigran adalah situasinya memperoleh pekerjaan di daerah asal dan
kemungkinan untuk mempero...
2.6. Sumber Data Mobilitas Penduduk dan Analisis
Pada umumnya ada tida sumber data mobilitas penduduk yaitu: Sensus pendud...
catatan mobilitas permanent lebih lengkap dibanding dengan mobilitas penduduk non permanent.
Orang-orang yang pindah domis...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Makalah pelatihan ilmu lingkungan

323

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
323
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
8
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Makalah pelatihan ilmu lingkungan"

  1. 1. MAKALAH PEngantar ilmu lingkungan “rendahnya mobilitas penduduk di indonesia” Disusun Oleh: Chenes aprilia 4401411147 Sri Wiji 4401411142 Witri Anah Sari 4401411128 UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2011
  2. 2. BAB l Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Indonesia termasuk negara berkembang dengan penduduknya yang padat.Saat ini penduduk Indonesia mencapai 241 juta jiwa dengan luas wilayah Indonesia sekitar 1919440 km2.Di samping jumlah penduduknya yang besar, karakteristik penduduk Indonesia yang kurang menguntungkan adalah persebarannya yang tidak merata. Sekitar 60% penduduk Indonesia mengelompok di Pulau Jawa dan Madura yang luasnya hanya 6,9% dari luas seluruh daratan Indonesia. Dari berbagai suku dan latar belakang budaya yang berbeda penduduk Indonesia berada di pulau Jawa.Dengan ketidakmerataan persebaran Indonesia ini menyebabkan perbedaan prosentase angka kepadatan penduduk di setiap pulau yang ada di Indonesia. Dalam setiap daerah banyak sekali faktor yang mempengaruhi atau menarik orang untuk menetap di daerah tersebut serta ada pula faktor-faktor lain yang memaksa mereka meninggalkan daerah tersebut. Beberapa faktor itu mempunyai pengaruh yang sama terhadap beberapa orang, sedangkan ada faktor yang berpengaruh berbeda terhadap seseorang. Oleh karenanya akan terdapat perbedaan sikap antara setiap migran dan calon migran terhadap faktor + dan - yang terdapat baik di daerah asal maupun daerah tujuan. Ketersediaanya sumber daya alam sangat mempengaruhi kepadatan penduduk di Indonesia. Usaha pemerintah untuk pemerataan penduduk di Indonesia nampaknya kurang berhasil dikarenakan masih banyaknya penduduk yang melakukan urbanisasi dari desa ke kota. Karena adanya anggapan masyarakat desa bahwa di kota banyak peluang pekerjaan,sehingga mereka berbondong-bondong pindah ke kota dengan tujuan untuk memperbaiki nasib. Misalnya banyak dari penduduk desa yang pindah ke Ibu Kota Jakarta. Mobilitas penduduk telah berlangsung sejak terciptanya manusia pertama kali.Manusia melakukan perburuan maupun meramu tumbuh-tumbuhan yang berguna untuk kelangsungan hidupnya.Sebelum mulai menatap mereka melakukan aktiitas di bidang pertanian yang mulai dengan pola berpindah-pindah kemudian melakukan pertanian menetap.
  3. 3. Pada dasarnya manusia melakukan mobilitas dengan suatu tujuan yaitu untuk meningkatkan kualitas hidupnya mulai dengan pemenuhan kebutuhan pangan sekunder lainnya. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa seseorang akan melakukan mobilitas dengan tujuan untuk memperoleh pekerjaan akan pendapatan. Dengan demikian daerah tujuan mobilitas penduduk merupakan derah dimana terdapat peluang yang lebih besar untuk memperoleh pekerrjaan yang lebih baik, atau peningkatan pendapatan.Sehingga kesempatan kerja yang tersedia disuatu daerah merupakan salah satu factor pendorong adanya mobilitas penduduk.Selanjutnya, jika kebutuhan dasarnya telah dapat terpenuhi maka mobilitas dilakukan dengan tujuan memenuhi kebutuhan sekunder, termasuk wisata dan lain-lain. Ketimpangan persebaran penduduk di Indonesia erat kaitannya dengan kebijaksanaan Pemerintah Belanda di Indonesia pada abad ke-l9. Mereka mempersiapkan Indonesia sebagai penghasil bahan mentah untuk industri-industri yang berada di Eropa, terutama di negeri Belanda. Bahan mentah seperti karet, kopi, teh,tembakau dll. Yang di butuhkan di pulau Jawa. Pada abad ke 19 sebagian investasi dan aktivitas pemerintah Kolonial Belanda dipusatkan di Pulau Jawa karena di samping letaknya yang strategis, kaadaan lahan yang subur sangat menguntungkan bagi usaha pertanian maupun perkebunan. Pembangunan yang dilaksanakan di Jawa membutuhkan banyak tenaga kerja. Di samping tingkat pertumbuhan penduduk alami yang tinggi, juga banyak migran masuk ke Pulau Jawa. Ketimpangan persebaran penduduk di Indonesia sangat menghambat proses pembangunan, oleh karenanya redistribusi penduduk (baik melalui program transmigrasi maupun program untuk merangsang dan mengarahkan migrasi swakarsa) menjadi salah satu faktor yang dapat mempercepat pembangunan. Redistribusi penduduk ini mempunyai nilai yang sangat penting dari berbagai segi. Dari segi ekonomi, redistribusi penduduk berarti menyediakan tenaga kerja serta keterampilan baik untuk perluasan produksi di daerah-daerah maupun pembukaan lapangan kerja baru. Di samping itu, akan timbul integrasi ekonomi dan pertumbuhan ekonomi, baik nasional maupun daerah. Ditinjau dari aspek idiologi, redistribusi penduduk berfungsi untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Dari aspek politik, hal ini akan merupakan alat penunjang pembauran etnik, mempersempit kesenjangan kelas maupun wilayah, serta dapat meningkatkan hubungan antarkelompok. Dilihat dari segi hankam, redistribusi penduduk juga
  4. 4. dinilai dapat mewujudkan terciptanya sishankamrata. Terhadap sumber daya alam, redistribusi penduduk dianggap dapat meningkatkan pengamanan dan sekaligus pemanfaatannya. 1.2. Rumusan masalah  Bagaimana kondisi pemerataan penduduk di Indonesis?  Mengapa ketidakmerataan penduduk dapat terjadi ?  Faktor apa saja yang menyebabkan ketidakmerataan penyebaran penduduk Indonesia?  Apa yang dimaksud dengan mobilitas penduduk?  Langkah apa yang dapat diambil pemerintah untuk menciptakan pemerataan penduduk di Indonesia? 1.3 Tujuan  Untuk menganalisis lebih jauh masalah kependudukan di Indonesia terutama ektidakmerataannya penduduk di Indonesia.  Untuk mengetahui faktor yang menyebabkan ketidakmerataan penduduk di Indonesia.  Untuk mengetahui cara penanggulangan masalah ketidakmerataan penduduk di Indonesia.  Untuk mengetahui hasil nyata dari upaya pemerintah dalam menaggulangi masalah pemerataan penduduk.
  5. 5. BAB II Pembahasan 2.1 Mobilitas Penduduk Mobilitas penduduk mempunyai pengertian pergerakan penduduk dari satu daerah ke daerah lain. Baik untuk sementara maupun untuk jangka waktu yang lama atau menetap seperti mobilitas ulang-alik (komunitas) dan migrasi. Mobilitas penduduk adalah perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat yang lain. Mobilitas yaitu perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain. Mobilitas dibedakan 2 yaitu; mobilitas non permanent (tidak tetap) dan mobilityas tetap (tetap).Apabila perpindahan bertujuan untuk menetap di daerah tujuan maka disebut migrasi.Jadi migrasi artinya perpindahan penduduk dari satu daerah ke daerahlainuntuk menetap. 2.1.1 Proses Keputusan Migrasi Manusia bukanlah makhluk yang berpindah-pindah, namun manusia merupakan makhluk yang tidak pernah diam. Perpindahan merupakan bagian dari proses adaptasinya dengan lingkungan sosial, ekonomi, kebudayaan, dan ekologi. Oleh karenanya, mobilitas penduduk dalam pelbagai wujudnya jarang mencerminkan adaptasi dalam pengertian yang sederhana. Mobilitas penduduk di suatu wilayah terjadi karena adanya faktor yang mendorong dan menarik dalam suatu wilayah. Kondisi sosial ekonomi di daerah asal yang tidak memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan seseorang menyebabkan orang tersebut ingin pergi ke daerah lain yang dapat memenuhi kebutuhannya. Jadi antara daerah asal dan daerah tujuan terdapat perbedaan nilai kefaedahan wilayah. Daerah tujuan harus mempunyai nilai kefaedahan wilayah yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah asal untuk dapat menimbulkan mobilitas penduduk. Dengan kata lain, jika dikaitkan dengan pembangunan, dapat dikemukakan bahwa ketimpangan pembangunan antar daerah merupakan faktor yang menjadi pemicu mobilitas penduduk. Terdapat empat kelompok faktor yang mempengaruhi orang mengambil keputusan untuk bermigrasi dan proses migrasi, yaitu : 1. Faktor-faktor yang terdapat di daerah asal
  6. 6. 2. Faktor – faktor yang terdapat di daerah tujuan 3. Penghalang antara 4. Faktor – faktor pribadi Keputusan bermigrasi dalam konteks ini merupakan hasil perbandingan faktor-faktor yang terdapat di daerah asal dan di daerah tujuan. Selanjutnya, diantara dua tempat itu selalu terdapat sejumlah rintangan yang dalam keadaan-keadaan tertentu tidak terlalu berat, tetapi dalam keadaan-keadaan lain tidak dapat diatasi. Sejumlah rintangan yang sama tentu dapat menimbulkan pengaruh yang berbeda-beda pada orang yang satu dengan yang lainnya, yang akan mempengaruhi keputusan bermigrasi. Akhirnya masih banyak faktor pribadi yang berpengaruh terhadap seseorang yang akan pindah, faktor-faktor itu dapat mempermudah atau memperlambat migrasi. 2.1.2. Karakteristik Migran Sebagai akibat dari proses yang mendasari dalam pengambilan keputusan bermigrasi, migran memiliki beberapa karakteristik khusus yang perlu dipahami dalam memahami fenomena migrasi itu sendiri. 1. Migrasi itu selektif Migran umumnya bukanlah ‘orang-orang sembarangan’ di daerah asalnya. Reaksi orang berbeda terhadap faktor-faktor yang bersifat positif maupun negatif yang terdapat di tempat asal dan tempat tujuan. Selain itu, kemampuan mereka untuk mengatasi rintangan-rintangan antara daerah asal dengan daerah tujuan itu tidak sama. Sifat selektif tersebut terdiri dari selektif positif dan selektif negatif. Sifat positif berarti bahwa migrasi itu melibatkan orang-orang yang berkualitas tinggi dan negatif adalah sebaliknya. 2. Jika migran-migran itu diperhatikan secara keseluruhan, seleksi itu cenderung bersifat bimodal atau dua bentuk.
  7. 7. Artinya migran masuk di suatu daerah bisa terdiri dari kelompok seleksi positif (dipengaruhi oleh faktor positif di daerah tujuan) dan kelompok seleksi negatif (didorong oleh faktor negatif di daerah asal). 3. Tingkat seleksi positif bertambah sebanding dengan kesulitan dari rintangan-rintangan yang menghambat Semakin tinggi kesulitan dalam menghadapi rintangan-rintangan dari daerah asal ke daerah tujuan, maka migran yang masuk ke suatu daerah tujuan cenderung merupakan migran hasil seleksi positif. 4. Ada kecenderungan bahwa migran mempunyai ciri-ciri diantara ciri-ciri penduduk daerah asal dan ciri-ciri penduduk daerah tujuan Bahkan sebelum meninggalkan tempat asalnya, para migran cenderung sudah mengambil beberapa sifat dari penduduk di daerah tujuan, akan tetapi mereka tidak dapat melepaskan sama sekali beberapa dari ciri yang telah dimilikinya di daerah asalnya. Hal ini disebabkan karena mereka dalam beberapa hal sudah menyukai penduduk di tempat yang mereka tuju, tempat mereka menemukan beberapa faktor positif. Sifat mereka tidak lagi sepenuhnya seperti penduduk di tempat asal, karena ada faktor-faktor negatif tertentu yang menyebabkan mereka pindah. 2.1.3. Volume Migrasi 1. Volume migrasi di dalam suatu wilayah tertentu bervariasi sesuai dengan tingkat keanekaragaman daerah-daerah di dalam wilayah itu Keanekaragaman daerah-daerah di dalam suatu wilayah tertentu, akan cenderung membuka peluang pekerjaan/berusaha yang berbeda-beda pada masing-masing daerah, dan akan cenderung meningkatkan volume migrasi 2. Besarnya volume migrasi sebanding dengan keanekaragaman orang
  8. 8. Keanekaragaman penduduk menunjukkan adanya kelompok-kelompok yang mempunyai keahlian dalam pekerjaan-pekerjaan tertentu. 3. Volume migrasi berkaitan dengan kesulitan mengatasi penghalang antara Hal ini terkait dengan kemampuan migran mengatasi penghalang antara tersebut 4. Volume migrasi bervariasi sebanding dengan fluktuasi ekonomi, dan volume migrasi sebanding dengan kemajuan keadaan di suatu negara atau wilayah Semakin maju perekonomian suatu wilayah, migrasi cenderung akan meningkat. Oleh karenanya, fluktuasi ekonomi juga akan menyebabkan fluktuasi dan variasi dalam volume migrasi 5. Volume migrasi makin cenderung meningkat, kecuali bila diadakan rintangan yang ketat Volume migrasi cenderung terus meningkat berdasarkan beberapa alasan, antara lain karena meningkatnya keanekaragaman daerah dan keanekaragamman penduduk serta berkurangnya faktor-faktor penghalang antara. 2.1.4. Dampak Migrasi Terhadap Pembangunan Daerah Kaitan antara pembangunan dan migrasi, serta dampak kaitan itu telah lama menjadi perhatian para ahli dan perencana pembangunan. Terdapat pandangan yang menyatakan bahwa kegiatan pembangunan yang menentukan arah dan volume migrasi, tetapi disisi lain terdapat juga pandangan yang menyatakan arah dan volume migrasi yang menentukan laju pembangunan. Selanjutnya, dalam konteks dampak kaitan tersebut, terdapat pandangan yang menyatakan bahwa mobilitas atau migrasi pekerja dapat mendorong pembangunan, tetapi juga terdapat pandangan bahwa migrasi pekerja ini dapat mengganggu proses pembangunan. Pandangan negatif menyatakan bahwa migrasi keluar golongan angkatan kerja potensial berusia muda dan berpendidikan dari pedesaan atau suatu daerah ke kota atau ke daerah lain, cenderung
  9. 9. membawa dampak negatif bagi daerah yang ditinggalkan. Oleh karenanya, migrasi diduga dapat mengganggu dan memperlambat proses pembangunan wilayah. Brain drain tidak hanya memunculkan masalah langkanya angkatan kerja penggerak pembangunan, tetapi juga dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi daerah. Di daerah tujuan (kota), mobilitas pekerja tidak hanya mempersulit penataan kota, tetapi juga memunculkan kelebihan angkatan kerja yang kemudian memunculkan masalah pengangguran, pekerja miskin di sektor informal, kemiskinan dan kampung kumuh di kota. Pandangan positif menyatakan bahwa dampak negatif sebagaiaman yang dikemukakan sebelumnya tidak sepenuhnya berlaku di negara-negara sedang berkembang. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mobilitas atau migrasi pekerja merupakan salah satu strategi yang tersedia bagi rumah tangga pedesaan/miskin, untuk turut meraih dan menikmati kue pembangunan yang cenderung menumpuk di kota/daerah yang lebih maju. Dengan mengalokasikan sumberdaya manusia yang ada, rumah tangga pedesaan/miskin berusaha memanfaatkan kesempatankesempatan yang ada di luar daerahnya. Hasil kerja di luar daerah sedapat mungkin ditabung kemudian dikirimkan dan dimanfaatkan di daerah asalnya. Kiriman (remittances) dari para migran pekerja mempunyai dampak positif bagi rumah tangga pedesaan/miskin dan ekonomi pedesaan/daerah-daerah yang kurang berkembang. Pada tahap awal, remitan dari pekerja migran memang sebagian besar hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dari keluarga yang ditinggalkan. Namun demikian, pada tahap-tahap lebih lanjut, remitan mulai banyak dimanfaatkan untuk kegiatan produktif, untuk digunakan sebagai modal berusaha. Contoh mobilitas penduduk di Indonesia yaitu Kaltim yang menjadi daerah transit tenaga kerja Indonesia (TKI) ke Malaysia harus menerima mobilisasi penduduk yang tidak terkendali ketika ada pemulangan TKI secara besar-besaran dari Tawao, Malaysia. Dari ribuan tenaga kerja yang dipulangkan, umumnya mereka tidak bergerak langsung menuju daerahnya masing-masing, tetapi bermukim cukup lama di kawasan Nunukan, dan daerah-daerah lain terdekat di perbatasan utara Kaltim. Serbuan penduduk semacam ini selalu memberi dampak yang kurang baik bagi Kaltim secara keseluruhan.Karena itu kata Abdussamad, untuk menghindari hal-hal semacam ini diperlukan tanggungjawab bersama untuk mencegah dan menghindari berulangnya kejadian-kejadian serupa. Provinsi yang menjadi penyumbang mobilisasi penduduk ke Malaysia melalui jalur Nunukan – Tawao tersebut diantaranya Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan provinsi-provinsi di
  10. 10. Sulawesi. Mobilisasi penduduk itu terjadi umumnya disebabkan karena faktor-faktor ekonomi. Karena itu, pemerintah pusat perlu segera merumuskan konsep yang paling ideal untuk menata komposisi kependudukan di Indonesia.Sementara itu, Kasubdit. Penataan Penyebaran Penduduk Departemen Dalam Negeri, Sri Wahyuni mengatakan saat ini sedang dilakukan pematangan mengenai Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pedoman Penataan dan Penyebaran Penduduk di Daerah Perbatasan Antarnegara dan pemantapan Rancangan Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Pengelolaan Mobilitas penduduk Non-Permanen. 2.2Bentuk-bentuk Mobilitas Penduduk Mobilitas tradisional, dimana penduduk melakukan mobilitas atas dasar untuk memenuhi kebutuhan primer terutama pangan. Aktivitas mobilitas tradisional merupakan arus desa ke kota yang termasuk dalam pengertina urbanisasi. Mobilitas pra-modern, yang merupakan transisi drai mobilitas tradisional menuju mobilitas modern.Dalam hal ini penduduk mulai melakukan mobilitas dengan tujuan yang lebih luas bukan hanya sekedar untuk cukuppangan. Aktivitas dari desa ke kota sangat meningkat disertai dengan mobilitas antar kota dan juga mobilitas dari kota ke luar kota (pedesaan). Sehingga terjadi dengan apa yang disebut urbanisasi modern. Penduduk mobilitas atau migrasi dengan tujuanyang lebih luas termasuk kesenangan dan kenyamanan.Mobilitas modern, dimana mobiolitas penduduk telah mmelampaui batas-batas Negara dengan berbgai macam-macam tujuan baik kegiatan perdagangan maupun berwiraswasta. Mobilitas canggih atau super-modern, dimana mobilitas dilakukan telah melampaui pengertian berwiraswasta secara wajar yang dapatt dimasukkan dalam kategori berfoyafoya dengan konsumsi yang berlebihan, Bentuk mobilitas penduduk dapat dipahami berkaitan dengan keberhasilan dalam aktivitas ekonomi yang meliputi 2 komponen yaitu kesempatan kerja (produktifitas) dan pendapatan (atau dana), keterkaitan antara mobilitas penduduk, pekerjaan dan dana dinyatakan dalam sebuah model yang tertinggal dibawah; Mobilitas Penduduk Mobilitas dana dan informasi. Mobilitas kerja dan produktifitas.Ketiga komponen mobilitas tersebut dapat di pandang sebagai indicator kualitas kehidupan masyarakat. Contoh kasus Bali, mobilitas penduduk terutama wisatawan asing mengakibatkan mobilitas dana dan informasi disertai dengan munculnya berbagai kesempatan kerja. Sehingga dapat dinyatakan mobilitas penduduk merupakan komponen utama yang menunjang peningkatan kualitas kehidupan terutama dari segi ekonomi di pulau Bali. Selanjutnya dinyatakan bahwa kualitas kehidupan masyarakat di tentukan oleh keterkaitan antara ketiga komponen mobilitas tri tunggal yang dapat dinyatakan dalam bentuk model berikut: Akhirnya, didasari pula bahwa ketiga
  11. 11. bentuk mobilitas tersebut diatas juga dipengaruhi oleh berbagai factor maupun tidak langsung, antara lain sifat tekun dan ulet, serta lebih berani menghadapi resiko. 2.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi mobilitas Penduduk Faktor dari sejarah asal yang disebut faktor pendorong seperti adanya bencana alam, panen gagal, lapangan kerja terbatas, keamanan terganggu, kurangnya sarana pendidikan.Faktor yang ada di daerah tujuan yang disebut faktor penarik seperti, tersedianya lapangan kerja, upah tinggi, tersedia sarana pendidikan kesehatan dan hiburan. Faktor yang terletak diantara daerah asal dan daerah tujuan yang disebut penghalang yang termasuk faktor ini misalnya jarak jenis alat transport dan biaya transport jarak yang tidak jauh dan mudahnya transportasi mendorog mobilitas penduduk. Yang terdapat pada diri seseorang disebut faktor individu.Faktor ini sangat mempengaruhi keinginan seseorang untuk melakukan mobilitas atau tidak. Contoh faktor individu ini antara lain: umur, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. 2.4. Mobilitas Penduduk Non Permanen (Sirkuler) Mobilitas penduduk sirkuler atau mobilitas non permanent adalah gerak penduduk dari suatu wilayah menuju ke wilayah lain dengan tidak ada niatan menetap di daerah tujuan. Sebagai contoh, di Indonesia (menurut batasan sensus penduduk) mobilitas penduduk sirkuler dapat didefinisikan sebagai gerak penduduk yang melintas batas propinsi menuju ke propinsi lain dalam jangka waktu kurang enam bulan. Hal ini sesuai dengan paradigma geografis yang didasarkan atas konsep ruang (space) dan waktu (time).Data mobilitas penduduk sirkuler sukar didapat. Hal ini disebabkan para pelaku mobilitas sirkuler tidak memberitahu kepergian mereka kepada kantor desa di daerah asal, begitu juga dengan kedatangan mereka di daerah tujuan. Meskipun deminian, dengan segala keterbatasan data, mobilitas penduduk Indonesia, baik permanent maupun nonpermanent (sirkuler) diduga frekuensinya akan terus meningkat dan semakin lama semakin cepat. Menurut Ananta (1995), suatu revolusi mobilitas tampaknya juga telah terjadi di Indonesia. Hal ini dipengaruhi oleh tersedianya prasarana transport dan komunikasi yang mewadai dan modern. 2.5. Perilaku Mobilitas Penduduk Perilaku nmobilitas penduduk oleh Ravenstain disebut dengan hukum-hukum migrasi sebagai berikut: Para migrant cenderung memilih tempat terdekat sebagai daerah tujuan. Faktor paling dominant yang
  12. 12. mempengaruhi seseorang untuk bermigran adalah situasinya memperoleh pekerjaan di daerah asal dan kemungkinan untuk memperoleh pekerjaan dan pendapatan yang lebih baik di daerah tujuan.Daerah tujuan mempunyai nilai kefaedahan wilayah (place utility) lebih tinggi disbanding dengan daerah asal.Berita-berita dari sanak saudara atau teman yang telah berpindah ke daerah lain merupakan informasi yang sangat penting bagi orang-orang yang ingin bermigrasi. Informasi negative dari daerah tujuan mengurangi niat penduduk (migrant potensial) untuk bermigrasi.Semakin tinggi pengaruh kekotaan terhadap seseorang, semakin besat tingkat mobilitasnya.Semakin tinggi pendapatan seseorang, semakin tinggi frukuensi mobilitasnya.Para migrant cenderung memilih daerah tempat teman atau sanak saudara bertempat tinggal di daerah tujuan.Jadi arah dan arus mobilitas penduduk menuju ke arah asal datangnya informasi.Pola migrant bagi seseorang maupun sekelompok penduduk sulit diperkirakan.Hal ini karena bnyak dipegaruhi oleh kejadian yang mendadak seperti bencana alam, peperangan atau epodemi.Penduduk yang masih muda dan belum kawin lebih banyak melakkan mobilitas dari pada mereka yang berstatus kawin.Penduduk yang berpendidikan tinggi biasanya lebih banyak melaksanakan mobilitas dari pada yang berpendidikan rendah.Setelah para pelaku mobilitas sampai di daerah tujuan (terutama di kota) beberapa perilaku mereka (terutama sikap mereka terhadap masyarakat kota) dapat dipostulasikan sebagai berikut: Pada mulanya para pelaku mobilitas memilih daerah tujuan dimana teman atau sanak saudara bertempat tinggal di daerah tersebut. Pada masa penyesuaian diri di kota, para migrant terdahulu membantu mereka dalam menyediakan tempat menginap, membatu mencari pekerjaan, dan membantu bila kekurangan uang, dan lain-lain. Kepuasan terhadap kehidupan di masyarakat baru tergantung pada hubungan social para pelaku hubungan social para pelaku mobilitas dengan masyarakat tersebut.Kepuasan terhadap kehidupan di kota tergantung pada kemampuan perseorangan untuk mendapatkan pekerjaan dan adanya kesempatan bagi anak-anak untuk berkembang. Setelah menyesuaikan diri dengan kehidupan kota, para pelaku mobilitas pindah ke tempat tinggal dan memilih daerah tempat tinggal dipengrahi oleh daerah tempat bekerja. Keinginan untuk kembali ke daerah asal adalah fungsi kepuasan mereka dengan kehidupan di kota. Mereka tidak enggan bertempat tinggal pada tempat dengan kondisi yang serba kurang asal dapat memperoleh kesempatan ekonomi yang tinggi.Kehidupan masyarakat di kota adalah sedemikian rupa; hal ini menyebabkan para migrant cepat belajar untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Perilaku migrant adalah perilaku diantara orang kota dan orang desa. Walaupun seorang migrant telah bertempat tinggal di daerah asal (umumnya tempat kelahiran) tetap enjadi “home” yang pertama dan tinggal di daerah lain sebagai “home” yang ke dua. Jadi seorang migrant adalah bi local population.
  13. 13. 2.6. Sumber Data Mobilitas Penduduk dan Analisis Pada umumnya ada tida sumber data mobilitas penduduk yaitu: Sensus penduduk, registrasi penduduk dan survey penduduk. Data kependudukan yang didapat dari hasil registrasi penduduk kurang dapat dipercaya. Misalnya penduduk yang meninggalkan desanya seharusnya melapor kepergiannya kepada kepalada desa, tepai karena letak kantor desa jauh dari tempat tinggal orang tersebut, ia tidak melaporkan kepergiannya. Disamping itu dengan membaiknya situasi keamanan, para petugas keamanan tidak pernah menanyakan surat keterangan jalan bagi yang bepergian, begitu pula bagi yangdatang di suatu daerah. Diantara ketiga sumber data mobilitas penduduk data yang didapat dari sensus penduduk dan survey penduduk yang paling lengkap, hanya kelemahannya data yang didapat dari sensus penduduk hanya meliputi mobilitas penduduk yang bersifat permanent saja. Dan hasil registrasi penduduk dan survey penduduk diperoleh data baik mobilitass permanent maupun nonpermanent, hanya kelemahannya tidak semua mobilitas penduduk dapat dicatat.Sumber data penduduk beserta permasalahannya:Sensus Penduduk. Di Indonesia pelaksanaan sensus penduduk sebelum tahun 2000 dinagi menjadi dua yaitu sensus lengkap dan sensus sample. Sensus lengkap adalah pencacahan seluruh penduduk dengan responden kepala rumah tangga.Responden ini memberikan informasi mengenai karateristik demografi anggota rumah tangganya.Pertanyaan yang diajukan sangat sederhana. Sebagi contoh, pertanyaan yang diajukan pada sensus penduduk tahun 1990 untuk sensus lengkap adalah sebagai berikut: Nama –nama anggota rumah tangga dan masing-masing dari mereka ditanyakan melalui: Hubungan dengan kepala rumah tangga. Umur (tahun) Jenis kelamin.Status Perkawinan (BPS, 1989).Untuk hal-hal yang spesifik, misalnya ketenaga kerjaan kesehata, pendidikan, ekonomi, pertanian, dan mobilitas penduduk ditanyakan dalam sensus sample. Pencacahan sample yaitu pencacahan penduduk yang tinggal dalam rumah tangga terpilih. Untuk pencacahan sample telah dipilih sejumlah wilayah, kemudian dari wilayah tersebut dipilih dari sejumlah rumah tangga (BPS, 1989). Tidak banyak informasi mengenai mobilitas penduduk yang dapat diperoleh dari sensus penduduk.Hal in dapat dimengerti mengingat tujuan dari sensus adalah untuk mengumpulkan informasi yang bersifat umum mengenai keadaan social ekonomi dan demografi penduduk di suatu Negara.Tidak dapat tempat yang tersedia dalam questioner.Untuk menanyakan aspek tertentu secara medalam.Walaupun ada kelemahan-kelemahan, menurut Sundrum (1976), data migrasi penduduk dari hasil sensus penduduk tahun 1971 merupakan data migrasi terbaik di Asia. Registrasi Penduduk. Registrasi penduduk mencatat kejadian-kejadian (events) kependudukan yang terjadi pada setiap saat, misalnya kelahiran, kematian, mobilitas penduduk keluar, dan mobilitas penduduk masuk, baik itu permanent maupun non permanent
  14. 14. catatan mobilitas permanent lebih lengkap dibanding dengan mobilitas penduduk non permanent. Orang-orang yang pindah domisili harus mempunyai surat pindah dari daerah asal. Selanjutnya disampaikan pada kantor kelurahan/desa dimana mereka akan menetap. Pada waktu situasi keamanan terganggu seperti pada peristiwa Gerakan Tiga Puluh September PKI (G.30.S PKI), seseorang yang bepergian ke daerah lain, melapor ke kantor kepala desa untuk meminta surat keterangan perjalanan dan dalam surat itu dicantumkan bahwa yang membawa surat ini tidak terlibat dalma G.30.S PKI. Di Indonesia sejak tahun 2003 diadakan penataan administrasi kependudukan diantaranya penertiban terhadap migrant permanent dan nonpermanent yang dating dan catat dengan resmi dan sangat kecil kemungkinannya terjadi kelewat cacah, atau tercacah lebih dari satu kali. Survei Penduduk. Data mobilitas penduduk juga didapatkan dari penelitian survey yang dilaksanakan di suatu wilayah.Mislnya survey ini lebih bervariasi daripada data yang didapat dari sensus penduduk dan registrasi penduduk.Umumnya penelitian mobilitas penduduk yang dilaksanakan oleh instansi, lembaga tertentu atau perseorangan berskala mikro. Biasanya yang diteliti aspek-aspek ekonomi, proses dan dampak mobilitas terhadap tingkat ekonomi rumah tangga daerah asal BAB III Penutup 3.1. Kesimpulan

×