MODEL PEMBELAJARAN ABAD 21

180,093 views
179,767 views

Published on

MODEL PEMBELAJARAN ABAD 21

5 Comments
25 Likes
Statistics
Notes
  • trimakasih sangat bermanfaat
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Terima kasih banyak info yang diperoleh
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Terima kasih kerana berkongsi ilmu
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • فتاح سه‌شنبه 1 آذر 1384 :: 05:33 ق.ظ پر تنهایی من در قفسم جا مانده ...چه کنم قفسم بی کس و تنها مانده آبان ماه ۸۴ داراب هرشب تماشــــا مــــــی کنم اوراق تنهایی خود با گریه حاشا مــی کنم صبر و شکـــــیبایی خود من اهل سازش نیـــستم بند نوازش نیـــــستم بر بام هســـتی می زنم تصویر رســــوایی خود من در قفس ماتم کنم دست عبادت نـــــم کنم تا بنگرم در این قـــفس زشتی و زیبایی خــــود در گوشه ای از این زمین از ظلم و از بیداد کین دائم تماشا می کنم زجـــر تماشـــــایی خـــود من فرد پیدا نیسـتم جایی هـــــویدا نیـــــستم فریــــاد یا رب می زنم در ســــوگ پیدایـی خود من عسره ی تنهایی ام بینـــای نا بیــــنایی ام هفت آســمان پشت سرم دارم ز بیــنایی خود من مـــوج دریای غــــــمم در بین دریاها کــــمم تن را به ساحــل مــــی زنم با موج دریایی خود هرجا شب آید می خزم چون که تب آید می پزم سامان نمی یابد سرِ ســــرگرم ســــودایی خود پایـــــی نـدارم تا برم این ناله هـــــا بر آســـــمان شرمنده ام پیش خدا از دســت بی پایی خـــــود 19 نظر از فتاح بحرانی چه کنم قفسم بی کس تنها مانده www.fbahrani.blogsky.com
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • izin share mas
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
No Downloads
Views
Total views
180,093
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
57
Actions
Shares
0
Downloads
2,575
Comments
5
Likes
25
Embeds 0
No embeds

No notes for slide
  • The ultimate point of education ist o prepare studetns for the ffective functioning in nonschool settings. Yet research, extensive asnd spanning decades, shows that individuals fo no predictably transfer knowledge to new situation where transfer should occur:
    school to everyday
    everyday to school
    one dicsipline to another
    transmit societies knowledge is school’s puropose. - encourages lecture teaching - control in hands of teacher undercuts students academic development and cognitive management skills, including goal setting, planning, evaluating, monitoring... - lectures produce the right answer approach to teaching
    arises out of behavior theory and results in a curriculum of disconnected items no understanding of context or where things fit together
    students carry ideas and constructs into all situations - if not fully examined, students tend to revert to old ideas when confronted with out of school situations.
    Context gives meaning to learning
    In a response to these potential problems indentified with traditional instructional designs, came the birth of the constuctivists. These theorists believe that the most significant outcomes in learning come from engaging the student in activity. If the student is engaged in activity, the learning switches from passive to generative. Giving the student the ability to activiely participate in the learning allows the student to "construct" their own learning perspective instead of the perspective handed to them by the teacher. One particular instuctional design that is in line with the constructivist theory is that of anchored instruction.
  • U MATERI YANG SMA/TETAP (DENGAN REDAKSI YANG BERBEDA|)
    MATERI BERUAH
  • MODEL PEMBELAJARAN ABAD 21

    1. 1. PEMBELAJARAN ABAD 21: kurikulumnya 2013
    2. 2. AYONG & WASIS FREEE GRADES ARE TERRIBLE!! FREEE GRADES ARE TERRIBLE!! FREEE GRADES ARE TERRIBLE!! FREEE GRADES ARE TERRIBLE!!
    3. 3. GURU ABAD 21 OLEH : NANANG RIJONO
    4. 4. GURU ABAD 21 OLEH : NANANG RIJONO GURU DI MASA LALU SENANTIASA CERAMAH MELULU DARI SENIN HINGGA SABTU MENGAJAR DENGAN MEMBACA BUKU KADANG NGOMEL-MARAH 2TAK TENTU MENJUAL LKS 10.000 YANG BELI DAPAT NILAI 7 LUMAYAN … BISA UNTUK BELI SUSU
    5. 5. GURU ABAD 21 GURU YANG BERUBAH SENANTIASA RESAH DAN GELISAH DI SUDUT SEKOLAH LIHAT MURID BOSAN DENGAR CERAMAH SAMPAI BAJUNYA BASAH YANG DIPELAJARI HANYA SAMPAH TAPI GURUNYA TAK MERASA BERSALAH KARENA MURID LULUS UN SEMUANYAH
    6. 6. GURU ABAD 21 GURU YANG IDEAL SELALU INOVATIF & TIDAK TAKUT GAGAL PENUH IDE & TAK PERNAH GARUK2 KEPALA YANG TAK GATAL MENGUASAI DUNIA MAYA - DIGITAL MENGGUNAKAN ICT UNTUK BELAJAL SEHINGGA MURID BELAJAR MAKSIMAL WALAU TIDAK DIBAYAL
    7. 7. GURU ABAD 21 GURU TERTAHAN DI AKHIRAT KETIKA DIINTEROGASI MALAIKAT SILABUS, RPP, PENILAIAN TAK MEMBUAT DATANG DI SEKOLAH SERING TELAT MOTIVASI BELAJAR TIDAK KUAT NUNTUT TUNJANGAN & INSENTIF DIBAYAR CEPAT TERPAKSA NUNGGU DI AKHIRAT BAGIAN BARAT
    8. 8. GURU ABAD 21 GURU CALON PENGHUNI SORGA MENGUASAI TEKNOLOGI INFORMATIKA UNTUK TINGKATKAN KUALITAS KERJANYA SELALU BERBAGI ILMU SUKARELA AGAR DICATAT SEBAGAI PAHALA KETIKA MASIH DI DUNIA BEKAL MASUK SORGA MALAIKAT TAK BANYAK TANYA PINTU SORGA TELAH TERBUKA TINGGAL MELANGKAH SAJA Samarinda, 14 September 2012
    9. 9. Applause! Untuk Kita, Guru!
    10. 10. Guru yang BIASA… hanya MENGATAKAN Guru yang BAIK … hanya MENJELASKAN GURU YANG SANGAT BAIK … bisa MENDEMONSTRASIKAN GURU YANG hebat … mampu MENGINSPIRASI William Arthur Wards Guru yang BIASA… hanya MENGATAKAN Guru yang BAIK … hanya MENJELASKAN GURU YANG SANGAT BAIK … bisa MENDEMONSTRASIKAN GURU YANG hebat … mampu MENGINSPIRASI William Arthur Wards KATA EYANGKU: ING NGARSO SUNG TULADHA (Di depan guru memberi contoh/mendemonstrasikan) ING MADYA MANGUN KARSA (di tengah-tengah guru memotivasi & menginspirasi) TUT WURI HANDAYANI (di belakang guru menuntun) R.M. SUWARDI SURYANINGRAT KATA EYANGKU: ING NGARSO SUNG TULADHA (Di depan guru memberi contoh/mendemonstrasikan) ING MADYA MANGUN KARSA (di tengah-tengah guru memotivasi & menginspirasi) TUT WURI HANDAYANI (di belakang guru menuntun) R.M. SUWARDI SURYANINGRAT
    11. 11. PEMBELAJARAN ABAD 21
    12. 12. 21st century learning, or the “21st Century Skills” movement as it is commonly known, refers to a growing global movement to redefine the goals of education, to transform how learning is practiced each day, and to expand the range of measures in student achievement, all in order to meet the new demands of the 21st Century.
    13. 13. GERAKAN PEMBELAJARAN ABAD 31 ATAU “GERAKAN KECAKAPAN ABAD 21” SEBAGAIMANA DIKETAHUI UMUM MERUJUK KEPADA SUATU GERAKAN GLOBAL YANG SEDANG BERKEMBANG UNTUK MENDEFINISIKAN KEMBALI TUJUAN-TUJUAN PENDIDIKAN , MENTRANSFORMASI CARA BELAJAR YANG DIPRAKTIKKAN SETIAP HARI DAN MEMPERLUAS RENTANG PENGUKURAN DALAM HASIL BELAJAR SISWA, YANG SELURUHNYA BERTUJUAN UNTUK MENGHADAPI KEBUTUHAN BARU ABAD 21.
    14. 14. the core content of a field of knowledge while also mastering a broad portfolio of essentials in learning, innovation, technology, and careers skills needed for work and life” the core content of a field of knowledge while also mastering a broad portfolio of essentials in learning, innovation, technology, and careers skills needed for work and life” (Trilling & Fadel)
    15. 15. “AGAR MENJADI KONTRIBUTOR YANG PRODUKTIF KEPAFA MASYARAKAT DALAM ABAD 21, ANDA HARUS BISA BELAJAR DENGAN CEPAT INTI MATERI DARI BIDANG PENGETAHUAN , DI SAMPING JUGA MENGUASAI SUATU PORTOFOLIO ESENSIAL YANG LUAS DALAM PEMBELAJARAN , INOVASI, TEKNOLOGI, DAN KECAKAPAN KARIR YANG DIPERLUKAN UNTUK BEKERJA DAN HIDUP”
    16. 16. Teachers need to prepare students for the jobs that have not yet been created, for the new products that have not yet been invented, and for the new skills to build towards creativity and innovation Teachers need to prepare students for the jobs that have not yet been created, for the new products that have not yet been invented, and for the new skills to build towards creativity and innovation (Trilling & Fadel)
    17. 17. (Trilling & Fadel) PARA GURU HARUS MENYIAPKAN PARA SISWA UNTUK : •PEKERJAAN YANG BELUM DICIPTAKAN, •PRODUK-PRODUK BARU YANG BELUM DITEMUKAN, DAN •KECAKAPAN-KECAKAPAN BARU UNTUK MEMBANGUN KE DEPAN.
    18. 18.  English, reading or language arts  World languages  Arts  Mathematics  Economics  Science  Geography  History  Government and civics CORE SUBJECTS
    19. 19.  BAHASA INGGRIS, MEMBACA ATAU BAHASA SENI  BAHASA-BAHASA DUNIA  KESENIAN  MATEMATIKA  ILMU EKONOMI  SAINS  GEOGRAFI  SEJARAH  PEMERINTAHAN & KEWARGANEGARAAN MATA PELAJARANINTI
    20. 20.  Global awareness  Financial, economic, business & entrepreneurial literacy  Civic literacy  Health literacy  Environmental literacy 21ST CENTURY THEMES
    21. 21.  Kesadaran Global  Melek Finansial, Ekonomi, Bisnis & Kewirausahaan  Melek Kesehatan  Melek Lingkungan TEMA-TEMA ABAD21
    22. 22.  Creativity and innovation skills  Critical thinking and problem solving skills  Communication and collaboration skills LEARNING ANDINNOVATION SKILLS
    23. 23.  Kreativitas & Kecakapan Inovasi  Kecakapan Berfikir Kritis & Pemecahan Masalah  Kecakapan Komunikasi & Kolaborasi KECAKAPAN BELAJAR& INOVASIS
    24. 24. Information Literacy Media Literacy ICT Literacy INFORMATION, MEDIA AND TECHNOLOGY SKILLS (DIGITAL LITERACY)
    25. 25. Melek Informasi Melek Media Melek ICT KECAKAPAN INFORMASI, MEDIA AD, DAN TEKNOLOGI (MELEKDIGITAL )
    26. 26.  Flexibility & Adaptability  Initiative & Self-direction  Social & Cross-cultural Skills  Productivity & Accountability  Leadership & Responsibility LIFE ANDCAREER SKILLS
    27. 27.  Flexibilitas & Kemampuan Beradaptasi  Inisiatif & Pengarahan Diri Sendiri  Kecakapan Sosial & Lintas Budaya  Produktivitas & Akuntabilitas  Kepemimpian & Tanggung Jawab LKECAKAPAN HIDUP& KARIR
    28. 28. • Authentic learning - learning from real world problems and questions • Mental model building - using physical and virtual models to refine understanding • Internal motivation - identifying and employing positive emotional connections in learning 21ST CENTURY LEARNING METHODS
    29. 29. • Pembelajaran Otentik – belajar dasri permasalahan dan pertanyaan dari dunia nyata • Pembentukan Mental model - menggunakan model fisik dan virtual untuk memurnikan pemahaman. • Motivasi Internal - mengidentifikasi dan mempergunakan hubungan emosional yang positif dalam belajar./ METODE PEMBELAJARAN ABAD21
    30. 30. • Multi-modal learning - applying multiple learning methods for diverse learning styles • Social learning - using the power of social interaction to improve learning impact • International learning - using the world around you to improve teaching and learning skills. 21ST CENTURY LEARNING METHODS
    31. 31. • Pembelajaran Multi-modal – menerapkam metode pembelajaran amak/multimetode untuk gaya belajar yang berbeda. • Pembelajaran Sosial – menggunakan kekuatan interaksi sosial untuk mengambangkan dampak belajar. • Pembelajaran Internasional – menggunakan dunia sekitar kita untuk mengembangkan kecakapan mengajar dan belajar. 21ST CENTURY LEARNING METHODS
    32. 32. RODA GURURODA GURURODA SISWARODA SISWA DUDUKAN GURU DUDUKAN GURUDUDUKAN SISWADUDUKAN SISWA PERTANYAANPERTANYAAN PENILAIAN & ASESMEWN PENILAIAN & ASESMEWN PROBLEMPROBLEM KEMUD I KEMUD IPENGATUR /WAKTU/ KECEPATAN PENGATUR /WAKTU/ KECEPATAN GIR & PERALATAN BELAJAR GIR & PERALATAN BELAJAR
    33. 33. PEMBELAJARAN TRANSFORMASIONAL
    34. 34. Dr. Wasis D Dwiyogo, M.Pd
    35. 35. Wasis D Dwiyogo Transformasi manusia
    36. 36. TRANSFORMASI sebuah proses perubahan yang mendasar pada diri manusia. Dalam bentuk hasil belajar Wasis D. Dwiyogo
    37. 37. THE TRANSFORMATIONAL LEARNING THEORY • The Transformational Learning Theory originally developed by Jack Mezirow is described as being “constructivist, an orientation which holds that the way learners interpret and reinterpret their sense experience is, central to making meaning and hence learning” (Mezirow, 1991). Wasis D. Dwiyogo
    38. 38. TEORI PEMBELAJARAN TRANSFORMASIONAL • TeOri Pembelajaran Transformasional awalnya dikembangkan oleh Mezirow is dapat diuraikan sebagai “ (teori belajar) konstruktivis, suatu orientasi yang berlandasan tentang cara siswa MENAFSIRKAN, DAN MENAFSIRKAN KEMBALI PENGALAMAN YANG MEREKA RASAKAN, SEBAGAI PUSAT PEMAKNAAN YANG DIBUAT, DAN
    39. 39. TRANSFORMASI • To transform means to change in form, appearance or structure; meta-morphoses; to change condition, nature or character; to change into another substance.” Dinyatakan selanjutnya bahwa: „That is, while all transformation is change, not all change is transformation. Transformation is a change in kind; not a change in degree.” (Daszko, Macur & Sheinberg (2004) menulis bahwa dalam Webster Dictionary) • transformasi berarti (a) merubah bentuk, penampilan atau struktur; (b) mengubah kondisi, hakikat atau karakteristik; bahkan (c) mengganti substansi. • Dengan demikian semua transformasi adalah perubahan, tetapi tidak semua perubahan adalah transformasi. Perubahan lebih bersifat superfisial, sedangkan transformasi lebih bersifat substansial.Wasis D. Dwiyogo
    40. 40. TRANSFORMASI TEKNOLOGI • Bumi 4,5 M tahun lalu • Kehidupan 3,5 M tahun lalu • Species Manusia 2 Juta tahun lalu • Manusia modern 35 – 50 ribu tahun lalu • Pertanian 12 ribu tahun lalu • Bajak 5 ribu tahun lalu • Roda 5 ribu tahun lalu • Tenaga uap 250 tahun lalu • Komputer 40 50 tahun lalu • Sekarang Komunikasi instan
    41. 41. KOMUNIKASI • Otak pertama 500 juta tahun lalu • Kemampuan berbicara35 – 50 tahun lalu • Kemampuan menulis 6 ribu tahun lalu • Alfabet 4 ribu tahun lalu • Percetakan 1040 Masehi • Telepon 1876 • Gambar bergerak 1894 • Televisi 1926 • Transistor 1948
    42. 42. EVOLUSI & REVOLUSI TEKNOLOGI PEMANFAATANNYA DALAM PEMBELAJARAN 1900 teknologi DAUN LONTAR KERTAS AUDIO AUDIO VISUAL KOMPUTER INTERNET MOBILE 1920 1940 1980 1990 2000
    43. 43. PAPAN TULIS 1910AN RADIO (1920AN) TELEVISI (1940AN) KOMPUTER (1980AN) LAPTOP (2000AN) PAPAN PINTAR (2000AN) IPAD (2000AN) TELPON PINTAR (2000AN)
    44. 44. Dr. Wasis D Dwiyogo, M.Pd
    45. 45. Transformasi belajar Amerika Dr. Wasis D Dwiyogo, M.Pd
    46. 46. • BELAJAR •Behaviorisme: • didasarkan pada perubahan perilaku yang dapat diobservasi. •Kognitivisme: • didasarkan pada proses berpikir yang terjadi di kepala orang yang belajar, terjadnya perubahan perilaku karena ada pengaitan struktur kognitif yang baru dengan pernah dimilikinya •Konstruktivisme: • didasarkan pada premis bahwa belajar terjadi karena orang yang belajar membangun sendiri pengetahuannya melalui pengalaman individual dan skemata. Wasis D. Dwiyogo
    47. 47. Stimulus Respon Black box Stimulus Stimulus Hadiah Hukuman TEORI BELAJAR BEHAVIORISME Wasis D. Dwiyogo
    48. 48. Stimulus Respon Stimulus Stimulus TEORI BELAJAR KOGNITIVISME PROSES Wasis D. Dwiyogo
    49. 49. TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME AKTIF MEMBANGUN SENDIRI Lingkungan Lingkungan Wasis D. Dwiyogo
    50. 50. Pemrosesan Informasi L I N G K U N G A N L I N G K U N G A N META KOGNISI REGISTER SENSORI MEMORI JANGKA PANJANG MEMORI JANGKA PENDEK MEMORI JANGKA PANJANG JIKA, MAKA Jaringan Proposisi Pengetahuan Deklaratif Pengetahuan Prosedural Pengulangan Pengkodean Pelacakan hilanghilang Hilang (lupa) Hilang (lupa) Lupa (kadang hilang) Lupa (kadang hilang) PERHATIAN PERSEPSI pengulangan HARAPAN RESPON
    51. 51. TIGA a LIRN TEORI BELAJAR AKTIF MEMBANGUN SENDIRI Wasis D. Dwiyogo
    52. 52. TEORI BELAJAR TRANSFORMASIONAL
    53. 53. BELAJAR TRANSFORMASIONAL Wasis D. Dwiyogo Dalam kaitan ini belajar dipahami sebagai sebuah proses pemberian makna baru terhadap pengalaman untuk mengarahkan tindakan mendatang (Mezirow & Associates,1990).
    54. 54. REPRESENTASI PENGETAHUAN • Anderson (1980) • Pengetahuan deklaratif • Norman & Rumelhart (1975) • Pengetahuan deklaratif • Pengetahuan prosedural • Newel & Simon (1972) • Pengetahuan deklaratif • Pengetahuan prosedural
    55. 55. SYARAT TRANSFORMASI Wasis D. Dwiyogo
    56. 56. HASIL BELAJAR KETERAMPILAN INTELEKTUAL & STRATEGI KOGNITIF • AKADEMIK • Fakta • Konsep • Prinsip • Prosedur • NON AKADEMIK • Problem Solving • Creative thinking • Decision making • Collaboration • Learning how to learn
    57. 57. TRANSFORMASI PENDIDIKAN & PELATIHAN Mapel Prodi Institusi DuniaNyata DuniaNyataD unia N yata Dunia Nyata Transfer & Reduksi Transfer & Reduksi
    58. 58. SKEMA KETERKAITAN ANTARA PENDIDIKAN DI KELUARGA, MASYARAKAT, DAN SEKOLAH DALAM MEMBANGUN PERADABAN BANGSA SEKOLAH MASY/LIMGK AKELUARGA MEMBANGUN PERADABAN BANGSA PENDIDIKAN PENDIDIKAN
    59. 59. PRINCIPLES • Adult exhibit two kinds of learning: instrumental (e.g., cause/effect) and communicative (e.g., feelings) • Learning involves change to meaning structures (perspectives and schemes). • Change to meaning structures occurs through reflection about content, process or premises. • Learning can involve: refining/elaborating meaning schemes, learning new schemes, transforming schemes, or transforming perspectives.Wasis D. Dwiyogo
    60. 60. PRINCIPLES 1 • Adult exhibit two kinds of learning: instrumental (e.g., cause/effect) and communicative (e.g., feelings) • Orang dewasa (guru) menunjukkan dua jenis belajar; instrumental dan komunikatif Wasis D. Dwiyogo
    61. 61. PRINCIPLES 2 • Learning involves change to meaning structures (perspectives and schemes). •Belajar melibatkan perubahan terhadap struktur makna (perspektif dan skemata)Wasis D. Dwiyogo
    62. 62. PRINCIPLES 3 • Change to meaning structures occurs through reflection about content, process or premises. • Perubahan struktur makna terjadi melalui refleksi terhadap materi, proses san premis-premis Wasis D. Dwiyogo
    63. 63. PRINCIPLES 4 • Learning can involve: refining/elaborating meaning schemes, learning new schemes, transforming schemes, or transforming perspectives. • Pembelajaran dapat meliputi : pemurnian / pengelaborasian skwema belajar, belajar skema baru, merombak skema atau perspektif Wasis D. Dwiyogo
    64. 64. PEMBELAJARAN TRANSFORMATIONAL Wasis D. Dwiyogo mampu menghasilkan perubahan yang relatif menetap pada diri siswa.
    65. 65. STRATEGI PEMBELAJARAN TRANFORMASIONAL • 1.  An activating event that typically exposes a discrepancy  between what  a person has always assumed to be true and  what has just been experienced, heard, or read. • MENUNJUKKAN SEJUMLAH PERISTIWA YANG SAMA SEKALI BERBEDA DARI APA YANG SELAMA INI DIYAKINI, DIALAMI, DIDENGAR, ATAU DIBACA SESEORANG YANG BERSANGKUTAN.  Wasis D. Dwiyogo
    66. 66. •STRATEGI PEMBELAJARAN TRANFORMASIONAL • 2. Articulating assumptions, that is, recognizing underlying  assumptions that have been uncritically assimilated and are  largely unconscious.  • MENGUNGKAP MAKNA YANG SESUNGGUHNYA DARI ANGGAPAN- ANGGAPAN YANG SELAMA INI DIIKUTI ORANG SECARA BEGITU SAJA ATAU YANG UMUMNYA TAK DISADARI ORANG. Wasis D. Dwiyogo
    67. 67. STRATEGI PEMBELAJARAN TRANFORMASIONAL • 3. Critical self-reflection, questioning and examining  assumptions in terms of where they came from, the  consequences of holding them, and why they are important. • MELAKUKAN PERENUNGAN SECARA KRITIS DALAM ARTI MEMPERTANYAKAN ATAU MENGUJI KEBENARAN ASUMSI-ASUMSI YANG ADA BERKENAAN DENGAN DARI MANA ASAL ASUMSI ITU, APA SEBETULNYA AKIBAT YANG BAKAL TERJADI JIKA MENGIKUTINYA, DAN MENGAPA ASUMSI ITU DIPANDANG BEGITU PENTING.  Wasis D. Dwiyogo
    68. 68. STRATEGI PEMBELAJARAN TRANFORMASIONAL • 4. Being open to alternative viewpoints. • BERSIKAP TERBUKA ATAU MEMBUKA DIRI TERHADAP PANDANGAN LAIN YANG BERBEDA, Wasis D. Dwiyogo
    69. 69. STRATEGI PEMBELAJARAN TRANFORMASIONAL • 5. Engaging in discourse, where evidence is weighed,  arguments assessed, alterna-tive perspectives explored, and  knowledge constructed by consensus.  • MELIBATKAN SESEORANG PADA PEMBICARAAN-PEMBICARAAN YANG BERBUKTI, ALASAN-ALASAN YANG TERUJI, PANDANGAN-PANDANGAN ALTERNATIF YANG TERTELUSURI, DAN PENGETAHUAN-PENGETAHUAN YANG DISEPAKATI. Wasis D. Dwiyogo
    70. 70. STRATEGI PEMBELAJARAN TRANFORMASIONAL • 6. Revising assumptions and perspectives to make them more  open and better justified. • MELAKUKAN PERUBAHAN DENGAN SENGAJA ASUMSI-ASUMSI ATAU PANDANGAN-PANDANGAN YANG TELAH DIMILIKI SESEORANG ATAU MASYARAKAT SEHINGGA SIKAP MEREKA MENJADI LEBIH TERBUKA DAN LEBIH BIJAK. Wasis D. Dwiyogo
    71. 71. STRATEGI PEMBELAJARAN TRANFORMASIONAL • 7. Acting on revisions, behaving, talking, and thinking in a  way that is congruent with transformed assumptions or  perspectives • BETUL-BETUL MELAKUKAN TINDAKAN PERBAIKAN, ATAU BERTINDAK, BERBICARA, DAN BERFIKIR YANG BETUL- BETUL SEJALAN DENGAN ASUMSI- ASUMSI ATAU PANDANGAN- PANDANGAN YANG TELAH DITRANSFORMASI. Wasis D. Dwiyogo
    72. 72. KURIKULUM 2013
    73. 73. 3 ALIRAN TEORI BELAJAR • BEHAVIORISM • COGNITIVISM • CONSTRUCTIVISM
    74. 74. Behaviorism • FAMOUS BEHAVIORISTS – SKINNER, PAVLOV • OVERT BEHAVIORS THAT CAN BE MEASURED • SEQUENCE OF CUES TEACH OBJECTIVES – USE OF POSITIVE AND NEGATIVE FEEDBACK • COMMON APPLICATIONS: – BEHAVIOR MODIFICATION, REINFORCEMENT SCHEDULES • FOCUS ON REPEATING NEW BEHAVIOR PATTERNS UNTIL THEY BECOME AUTOMATIC
    75. 75. Behaviorisme • FTOKOH BEHAVIORIST TERKEMUKA: – SKINNER, PAVLOV • PERILAKU TERTUTUP (OVERT BEHAVIORS) ITU DAPAT DIUKUR • ISYARAT-ISYARAT YANG BERURUTAN MEMNGARAHKAN KEPADA TUJUAN PEMBELAJARAN – PENGGUNAAN UMPAN BALIK POSITIVF DAN NEGATIF • PENERAPANNYA SECARA UMUM TEORI INI: – PERUBAHAN PERILAKU, , PEMBERIAN PENGUATAN • BERFOKUS OPADA POLA-POLA PERILAKU BARU YANG DIULANG-ULANG SAMPAI MENJADI OTOMATIS.
    76. 76. BEHAVIORISM Strengths vs. Weaknesses • Teaching facts, simple procedures, concepts, and rules • Most successful when learning cues are same as the desired performance • Difficult to transfer learning to novel situations • Unpredictable result when stimulus is absent • No problem solving strategies
    77. 77. BEHAVIORISME SKEKUATAN vs. KELEMAHAN • Mengjarkan fakta, prosedur, konsep dan hukum sederhana, • Paling banyak berhasil ketika isyarat yang diberikan sama sengan program yang diinginkan.nc • Sulit untuk transfer belajar ke situasi baru yang berbeda. • Hasil tidak dapat diprediksikan jika stimulus tidak ada. • Bukan strategi untuk pemecahan masalah.
    78. 78. COGNITIVISM • HOW WE THINK IS IMPORTANT IS TO HOW WE LEARN. • THERE IS AN OBJECTIVE REALITY— A BEST WAY TO DO SOMETHING • WE CREATE A MENTAL MAP OF REALITY AND USE THAT MAP TO MAKE DECISIONS. • TO LEARN WE BUILD MENTAL MAPS (SCHEMAS) THAT ARE CONSISTENT WITH AND MODELED AFTER THOSE OF AN EXPERT. • FOCUS ON INTERNAL KNOWLEDGE STRUCTURE, INFORMATION PROCESSING, SHORT TERM, LONG TERM MEMORY
    79. 79. KOGNITIVISME • BAGAIMANA KITA BERFIKIR ITU SANGAT PENTING YAITU BAGAIMANA KITA BELAJAR • ADA SATU REALITAS YANG OBJEKTIF — CARA MENGERJAKAN SESUATU. • KITA MENCIPTAKAN PETA MENTAL DARI REALITAS DAN MENGGUNAKANNYA UNTUK MEMBUAT BERBAGAI KEPUTUSAN. • UNTUK BELAJAR KITA MEMBANGUN PETA MENTAL (SKEMATA) YANG KONSIUSTEN DENGAN DAN YANG DIMODELKAN SESUDAHNYA OLEH AHLI. • BERFOKUS PADA STRUKTUR PENGETAHUAN INTERNAL, PEMROSESAN INFORMASI, MEMORI JANGKA PENDEK DAN PANJANG.
    80. 80. cOGNITIVISME Strengths vs. Weaknesses • Skill transfer • Effective to teach – Complex behaviors – The best way to perform a task – Single way to perform within a specific population (company, military) – Rules or ways to think • Creates uniform behaviors • Assumes behavior is the only or best way
    81. 81. KOGNITIVISME KEKUATAN vs. KELEMAHAN • Transfer keterampilan • Efectif untuk mengajar: – Perilaku yang kompleks – Cara terbaik untuk menampilkan suatu tugas. – Cara tunggal untuk menunjukkan dalam suatu populasi yang spesifik 9PERUSAHAAN, MILITER)rpikir • Menciptakan perilaku yang seragam • Mengasumsikan perilaku sebagai satu-satunya atau cara terbaik
    82. 82. CONSTRUCTIVISM • WELL-KNOWN NAMES: – PIAGET, DEWEY, VYGOTSKY • COMMON TERMS: – INQUIRY-BASED, LEARNING BY DOING, HANDS-ON, COLLABORATIVE • ASSUMPTIONS: (BASED ON MERRILL) – KNOWLEDGE IS CONSTRUCTED FROM EXPERIENCE – LEARNING IS PERSONAL INTERPRETATION AND AN ACTIVE PROCESS – LEARNING SHOULD BE SITUATED IN REALISTIC SETTINGS – TESTING SHOULD BE INTEGRATED IN TASK, NOT SEPARATE EVENT – PROCESS IS PARAMOUNT – THERE IS NOT ONE INDIVIDUAL, UNIQUE REALITY BUT SHARED REALITY WITHOUT WHICH INTELLECTUAL ANARCHY WOULD PREVAIL
    83. 83. kONSTRUkTIVISMe • TOKOHH YANG TERKEAL – PIAGET, DEWEY, VYGOTSKY • ISTILAH-ISTILAH UMUM: – INQUIRY-BASED, LEARNING BY DOING, HANDS-ON, COLLABORATIVE • ASUMPSI/ANGGAPAN: (MENURUT MERRILL) – KPENGETAHUAN DIKONSTRUKSIKAN DARI PNGALAMAN- PENGELAMAN – BELAJAR ADALAH INTERPRETASI PERSONAL DAN PROSES YANG AKTIF. – BELAJAR HARUS DITEMPATKAN DALAM SETTING YANG REALISTIK. – PENGUJIAN (TES) HARUS DIINTEGRASIKAN DENGAN TUGAS- BUGAS, BUKAN SEBAGAI PERISTIWA YANG TERPISAH. – PROSES ADALAH SEBUAH PENDAKIAN PEGUNUNGAN (PROCESS IS PARAMOUNT ) – TIDAK ADA SATU REALITAS INDIVIDUAL DAN UNIK, MELAINKAN REALITAS YANG DIBAGIKANB, SEHINGGA TANPANYA AKAN TERJADI ANARKI INTELEKTUAL.
    84. 84. CONSTRUCTIVISM Strengths vs. Weaknesses • Effective to teach: – “real life” situations – solve novel problems – problem solving skills with multiple solutions • Supports development of metacognitive skills • Inefficient to teach: • Recall of facts • Memorization • Situations where there is a single way to perform • Difficult to evaluate learning objectively
    85. 85. KONSTRUCTIVISME KEKUATAN VS. KELEMAHAN • Effective to teach: – “real life” situations – solve novel problems – problem solving skills with multiple solutions • Supports development of metacognitive skills • Inefficient to teach: • Recall of facts • Memorization • Situations where there is a single way to perform • Difficult to evaluate learning objectively
    86. 86. he Classroom approach aviorism Vs. ConstructivQuestion: If a wooden block is dropped, what will happen? Answer: The block will drop down!!!! Answer: Depends where it has been dropped… 3. If in Space then it will float in vacuum. 1. It will drop down on the Earth. 2. It will float on the Water. CONSTRUCTIVE ANSWER
    87. 87. PENDEKATAN LELAS: viorisme Vs. KonstruktivPERTANYAAN : Apabila sebuah balok kayu dijatuhkan, apa yang akan terjadi? JAWAB Balok akan jatuh ke bawah!!!! JAWAB: Tergsantung dimana balok itu dijatuhkan …… 3.Jhika di Ruang Angkasa, balok akan melayang di ruang hampa.. 1. Ibalaaok jatuh ke bawah jika di Bumi. 2. Balok akan mengapung jika di Air. JAWABAN KONSTRUCTIVE
    88. 88. The Classroom approach: Behaviorism Vs. Constructivism ObjectiveObjective ConstructiveConstructive Breaks task into small manageable chunks Avoid oversimplification of instruction Predetermined Contents real-world, case-based learning Controlled learning Instruction should foster learning
    89. 89. PENDEKATAN KELAS Behaviorisme Vs. Konstruktivisme TUJUAN PEMBELAJARANTUJUAN PEMBELAJARAN KONSTRUCTIFKONSTRUCTIF Memecah tugas menjadi bagian-bagian kecil yang bisa ditangani Menghindari pembelajaran yang disederhanakan secara berlebihan Matrei Pelajaran yang ditentukan ulang Belajar dunia-nyata, berbasis kasus Pembelajaran yang dikendalikan Pembelajaran yang akan mempercepat belajar
    90. 90. ASUMSI TRADISIONAL TENTANG BELAJAR • Siswa sebagai penerima pasif informasi • Belajar memperkuat hubungan stimulus- respon • Siswa adalah “lembaran yang kosong” • Pengetahuan bebas konteks • transfer pengetahuan dapat diprediksi • Latihan melalui kegiatan mengabstraksi • Mengerjakan ltugas atihan secara terpisakh
    91. 91. PRINSIP-PRINSIP KONSTRUKTIVISME • Belajar sebagai mencari makna. • Belajar terjadi dalam suatu konteks • Pembelajaran untuk “membentuk” mental model siswa. • Tujuan belajar adalam mengkonstruksi pengetahuan. (bukan “benar” vs. “salah”) (Source: Zolar, M. Constructivism 101. NC Quest Program, University of North Carolina at Wilmington.)
    92. 92. STRATEGI PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK • Inquiry learning • Discovery learning • Situational learning • Problem-based learning • Cognitive Apprenticeship (Source: Zolar, M. Constructivism 101. NC Quest Program, University of North Carolina at Wilmington.)
    93. 93. MODEL MENGAJAR • BEHAVIORISME MODEL GAGNE NANANG RIJONO 2010 • KOGNITIVISME • KONSTRUKSIONISME • POSTMODERNISME ACTIVE LEARNING MODEL
    94. 94. GAGNÉ’S NINE EVENTS OF INSTRUCTION 1.GAIN ATTENTION - CURIOSITY MOTIVATES STUDENTS TO LEARN. 2.INFORM LEARNERS OF OBJECTIVES - THESE OBJECTIVES SHOULD FORM THE BASIS FOR ASSESSMENT. 3.STIMULATE RECALL OF PRIOR LEARNING - ASSOCIATING NEW INFORMATION WITH PRIOR KNOWLEDGE CAN FACILITATE THE LEARNING PROCESS.
    95. 95. GAGNÉ’S NINE EVENTS OF INSTRUCTION 4. PRESENT THE CONTENT - THIS EVENT OF INSTRUCTION IS WHERE THE NEW CONTENT IS ACTUALLY PRESENTED TO THE LEARNER. 5. EXAMPLES, NON-EXAMPLES, CASE STUDIES, GRAPHICAL REPRESENTATIONS, MNEMONICS, AND ANALOGIES. 6. ELICIT PERFORMANCE (PRACTICE) - ELICITING PERFORMANCE PROVIDES AN OPPORTUNITY FOR LEARNERS TO CONFIRM THEIR CORRECT UNDERSTANDING, AND THE REPETITION FURTHER INCREASES THE LIKELIHOOD OF RETENTION.
    96. 96. Gagné’s Nine Events of Instruction 7. PROVIDE FEEDBACK - GUIDANCE AND ANSWERS PROVIDED AT THIS STAGE ARE CALLED FORMATIVE FEEDBACK. 8. ASSESS PERFORMANCE - TAKE A FINAL ASSESSMENT. 9. ENHANCE RETENTION AND TRANSFER TO THE JOB - EFFECTIVE EDUCATION WILL HAVE A "PERFORMANCE" FOCUS.
    97. 97. Nine Instructional Events • Gagne proposed a sequence of nine learning events that incorporate most of the learning outcomes. He promoted the idea that effective instruction should be systematic and move through a series of steps to meet certain learning purposes. Event Purpose/Example 1. Gain attention of learners Interest/motivation/curiosity - show pictures of triangles 2. State objectives Clarify expectations and relevance - what is an equilateral triangle? 3. Stimulate memory of prior relevant learning Access existing cognitive structures to enhance meaningful learning - review definitions of triangles
    98. 98. Nine Instructional Events Event Purpose/Example 4. Present new stimulus/ information Provide/present the new material to be learned - give definition of equilateral triangle 5. Provide guidance to learners Discovery learning, labs, demonstrations, examples, reflective questioning - show example of how to create equilateral triangle 6. Elicit performance Learners produce some output based on new learning…practice a skill, discussion, group activity, etc. - ask students to create 5 different examples
    99. 99. Nine instructional events • continued Event Purpose/Example 7. Provide feedback Teacher has opportunity to reinforce and correct performances-check all examples 8. Assess performance Test to see if stated objectives have been met - provide scores 9. Reinforce retention and transfer Store in long-term memory, apply learning to real life situations and in other contexts - show pictures of objects and ask students to identify equilaterals
    100. 100. 106
    101. 101. KURIKULUM 2013 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 29 NOVEMBER 2012 108108 Bahan Uji Publik
    102. 102. STRATEGI PENINGKATAN EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN Sistem Nilai: -Universal -Nasional -Lokal Efektivitas Pemahama n Efektivitas Interaksi Efektivitas Penyerapan Transformasi Nilai Iklim akademik, budaya sekolah/ kampus, .... Pembelajaran yang mengedepankan pengalaman personal melalui Observasi (menyimak, melihat, membaca, mendengar), Bertanya, Asosiasi, Menyimpulkan, Mengkomunikasikan, .... Manajemen dan Kepemimpina n Penilaian pada kemampuan proses, nilai dan pengetahuan, serta kemampuan menilai sendiri Kesinambungan Pembelajaran secara horisontal dan vertikal 109109
    103. 103. Pembelajaran KURIKULUM SEBAGAI INTEGRATOR SISTEM NILAI, PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN Sistem Nilai Kompetensi: -Sikap -Keterampilan -Pengetahuan Pengetahuan & Keterampilan Aktualisasi (Action) Internalisasi (Reflection) Watak/ Perilaku Individu Kurikulum PTK dan dukungan lain: SarPras,... -PRODUKTIF -INOVATIF -PEDULI -... Watak/Perilaku Kolektif 110110
    104. 104. ELEMEN PERUBAHAN ELEMEN PERUBAHAN 111111
    105. 105. ELEMEN PERUBAHAN ELEMEN DESKRIPSI SD SMP SMA SMK KOMPETENSI LULUSAN • ADANYA PENINGKATAN DAN KESEIMBANGAN SOFT SKILLS DAN HARD SKILLS YANG MELIPUTI ASPEK KOMPETENSI SIKAP, KETERAMPILAN, DAN PENGETAHUAN KEDUDUKAN MATA PELAJARAN (ISI) • KOMPETENSI YANG SEMULA DITURUNKAN DARI MATAPELAJARAN BERUBAH MENJADI MATAPELAJARAN DIKEMBANGKAN DARI KOMPETENSI. PENDEKATAN (ISI) KOMPETENSI DIKEMBANGKAN MELALUI: • TEMATIK INTEGRATIF DALAM SEMUA MATA PELAJARAN • MATA PELAJARAN • MATA PELAJARAN WAJIB DAN PILIHAN • MATA PELAJARAN WAJIB, PILIHAN, DAN VOKASI 112112
    106. 106. ELEMEN PERUBAHAN ELEMEN DESKRIPSI SD SMP SMA SMK STRUKTUR KURIKULUM (MATAPELAJA RAN DAN ALOKASI WAKTU) (ISI) • HOLISTIK DAN INTEGRATIF BERFOKUS KEPADA ALAM, SOSIAL DAN BUDAYA • PEMBELAJARAN DILAKSANAKAN DENGAN PENDEKATAN SAINS • JUMLAH MATAPELAJARA N DARI 10 MENJADI 6 • JUMLAH JAM BERTAMBAH 4 JP/MINGGU • TIK MENJADI MEDIA SEMUA MATAPELAJARAN • PENGEMBANGAN DIRI TERINTEGRASI PADA SETIAP MATAPELAJARAN DAN EKSTRA- KURIKULER • JUMLAH MATAPELAJARAN DARI 12 MENJADI 10 • JUMLAH JAM BERTAMBAH 6 JP/MINGGU AKIBAT • PERUBAHAN SISTEM: ADA MATA- PELAJARAN WAJIB DAN ADA MATA- PELAJARAN PILIHAN • TERJADI PENGURANG AN MATA- PELAJARAN YANG HARUS DIIKUTI SISWA • JUMLAH JAM BERTAMBAH 2 JP/MINGGU AKIBAT • PENYESUAIAN JENIS KEAHLIAN BERDASARKAN SPEKTRUM KEBUTUHAN SAAT INI • PENYERAGAMAN MATA- PELAJARAN DASAR UMUM • PRODUKTIF DISESUAIKAN DENGAN TREN PERKEMBANGAN INDUSTRI • PENGELOMPOK- AN MATA- PELAJARN PRODUKTIF 113113
    107. 107. ELEMEN PERUBAHAN ELEMEN DESKRIPSI SD SMP SMA SMK PROSES PEMBELAJAR AN • STANDAR PROSES YANG SEMULA TERFOKUS PADA EKSPLORASI, ELABORASI, DAN KONFIRMASI DILENGKAPI DENGAN MENGAMATI, MENANYA, MENGOLAH, MENALAR, MENYAJIKAN, MENYIMPULKAN, DAN MENCIPTA. • BELAJAR TIDAK HANYA TERJADI DI RUANG KELAS, TETAPI JUGA DI LINGKUNGAN SEKOLAH DAN MASYARAKAT • GURU BUKAN SATU-SATUNYA SUMBER BELAJAR. • SIKAP TIDAK DIAJARKAN SECARA VERBAL, TETAPI MELALUI CONTOH DAN TELADAN • TEMATIK DAN TERPADU • IPA DAN IPS MASING- MASING DIAJARKAN SECARA TERPADU • ADANYA MATA PELAJARAN WAJIB DAN PILIHAN SESUAI DENGAN BAKAT DAN MINATNYA • KOMPETENSI KETERAMPILAN YANG SESUAI DENGAN STANDAR INDUSTRI 114114
    108. 108. ELEMEN DESKRIPSI SD SMP SMA SMK PENILAIAN • PENILAIAN BERBASIS KOMPETENSI • PERGESERAN DARI PENILAIAN MELALUI TES [MENGUKUR KOMPETENSI PENGETAHUAN BERDASARKAN HASIL SAJA], MENUJU PENILAIAN OTENTIK [MENGUKUR SEMUA KOMPETENSI SIKAP, KETERAMPILAN, DAN PENGETAHUAN BERDASARKAN PROSES DAN HASIL] • MEMPERKUAT PAP (PENILAIAN ACUAN PATOKAN) YAITU PENCAPAIAN HASIL BELAJAR DIDASARKAN PADA POSISI SKOR YANG DIPEROLEHNYA TERHADAP SKOR IDEAL (MAKSIMAL) • PENILAIAN TIDAK HANYA PADA LEVEL KD, TETAPI JUGA KOMPETENSI INTI DAN SKL • MENDORONG PEMANFAATAN PORTOFOLIO YANG DIBUAT SISWA SEBAGAI INSTRUMEN UTAMA PENILAIAN EKSTRAKURIKU LER • PRAMUKA (WAJIB) • UKS • PMR • PRAMUKA (WAJIB) • OSIS • UKS • PMR Elemen Perubahan 115115
    109. 109. RUANG LINGKUP SKL Dunia (Peradaban) Global Negara Sosial-Ekonomi-Budaya Sat PendidikanPeserta Didik Faktual Konseptual Prosedural Meta- kognitif SD SM P SMA/K PT SD SMP SMA/KPT 116116
    110. 110. GRADASI ANTAR SATUAN PENDIDIKAN MEMPERHATIKAN; 1.PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS ANAK 2.LINGKUP DAN KEDALAMAN MATERI 3.KESINAMBUNGAN 4.FUNGSI SATUAN PENDIDIKAN 5.LINGKUNGAN STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) - RINCI 117117
    111. 111. GRADASI ANTAR SATUAN PENDIDIKAN MEMPERHATIKAN; 1.PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS ANAK 2.LINGKUP DAN KEDALAMAN MATERI 3.KESINAMBUNGAN 4.FUNGSI SATUAN PENDIDIKAN 5.LINGKUNGAN STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) - RINGKAS 118118
    112. 112. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN – DOMAIN SIKAP DIKDAS:SD DIKDAS:SMP DIKMEN:SMA/K MEMILIKI PERILAKU YANG MENCERMINKAN SIKAP ORANG BERIMAN, BERAKHLAK MULIA, PERCAYA DIRI, DAN BERTANGGUNG JAWAB DALAM BERINTERAKSI SECARA EFEKTIF DENGAN LINGKUNGAN SOSIAL DAN ALAM DI SEKITAR RUMAH, SEKOLAH, DAN TEMPAT BERMAIN MEMILIKI PERILAKU YANG MENCERMINKAN SIKAP ORANG BERIMAN, BERAKHLAK MULIA, PERCAYA DIRI, DAN BERTANGGUNG JAWAB DALAM BERINTERAKSI SECARA EFEKTIF DENGAN LINGKUNGAN SOSIAL DAN ALAM DALAM JANGKAUAN PERGAULAN DAN KEBERADAANNYA MEMILIKI PERILAKU YANG MENCERMINKAN SIKAP ORANG BERIMAN, BERAKHLAK MULIA, PERCAYA DIRI, DAN BERTANGGUNG JAWAB DALAM BERINTERAKSI SECARA EFEKTIF DENGAN LINGKUNGAN SOSIAL DAN ALAM SERTA DALAM MENEMPATKAN DIRINYA SEBAGAI CERMINAN BANGSA DALAM PERGAULAN DUNIA 119119
    113. 113. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN – DOMAIN KETERAMPILAN SD SMP SMA/K MEMILIKI KEMAMPUAN PIKIR DAN TINDAK YANG EFEKTIF DAN KREATIF DALAM RANAH ABSTRAK DAN KONKRET SESUAI DENGAN YANG DITUGASKAN KEPADANYA. MEMILIKI KEMAMPUAN PIKIR DAN TINDAK YANG EFEKTIF DAN KREATIF DALAM RANAH ABSTRAK DAN KONKRET SESUAI DENGAN YANG DIPELAJARI DI SEKOLAH ATAU SUMBER LAIN YANG SAMA DENGAN YANG DIPEROLEH DARI SEKOLAH MEMILIKI KEMAMPUAN PIKIR DAN TINDAK YANG EFEKTIF DAN KREATIF DALAM RANAH ABSTRAK DAN KONKRET TERKAIT DENGAN PENGEMBANGAN DARI YANG DIPELAJARINYA DI SEKOLAH SECARA MANDIRI 120120
    114. 114. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN – DOMAIN PENGETAHUAN SD SMP SMA/K MEMILIKI PENGETAHUAN FAKTUAL DAN KONSEPTUAL DALAM ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI, SENI, DAN BUDAYA DENGAN WAWASAN KEMANUSIAAN, KEBANGSAAN, KENEGARAAN, DAN PERADABAN TERKAIT FENOMENA DAN KEJADIAN DI LINGKUNGAN RUMAH, SEKOLAH, DAN TEMPAT MEMILIKI PENGETAHUAN FAKTUAL, KONSEPTUAL DAN PROSEDURAL DALAM ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI, SENI, DAN BUDAYA DENGAN WAWASAN KEMANUSIAAN, KEBANGSAAN, KENEGARAAN, DAN PERADABAN TERKAIT FENOMENA DAN KEJADIAN YANG TAMPAK MATA MEMILIKI PENGETAHUAN PROSEDURAL DAN METAKOGNITIF DALAM ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI, SENI, DAN BUDAYA DENGAN WAWASAN KEMANUSIAAN, KEBANGSAAN, KENEGARAAN, DAN PERADABAN TERKAIT PENYEBAB FENOMENA DAN KEJADIAN 121121
    115. 115. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN KOMPETENSI INTI KELAS I MEMILIKI [MELALUI MENERIMA, MENJALANKAN, MENGHARGAI, MENGHAYATI, MENGAMALKAN] PERILAKU YANG MENCERMINKAN SIKAP ORANG BERIMAN, BERAKHLAK MULIA, PERCAYA DIRI, DAN BERTANGGUNG JAWAB DALAM BERINTERAKSI SECARA EFEKTIF DENGAN LINGKUNGAN SOSIAL DAN ALAM , DI SEKITAR RUMAH, SEKOLAH, DAN TEMPAT BERMAIN MENERIMA DAN MENJALANKAN AJARAN AGAMA DAN KEPERCAYAAN YANG DIANUTNYA. MEMILIKI PERILAKU JUJUR, DISIPLIN, TANGGUNG JAWAB, SANTUN, PEDULI, DAN PERCAYA DIRI DALAM BERINTERAKSI DENGAN KELUARGA, TEMAN, DAN GURU. 122122 CONTOH SKL DAN KOMPETENSI INTI DUNTUK KELAS I SD KI #1 KI #2
    116. 116. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN KOMPETENSI INTI KELAS I MEMILIKI [MELALUI MENGAMATI, MENANYA, MENCOBA, MENGOLAH, MENYAJI, MENALAR, MENCIPTA] KEMAMPUAN PIKIR DAN TINDAK YANG EFEKTIF DAN KREATIF DALAM RANAH ABSTRAK DAN KONKRET SESUAI DENGAN YANG DITUGASKAN KEPADANYA. MENYAJIKAN PENGETAHUAN FAKTUAL DALAM BAHASA YANG JELAS DAN LOGIS, DALAM KARYA YANG ESTETIS, DALAM GERAKAN YANG MENCERMINKAN ANAK SEHAT, DAN DALAM TINDAKAN YANG MENCERMINKAN PERILAKU ANAK BERIMAN DAN BERAKHLAK MULIA. 123123 KI #4 CONTOH SKL DAN KOMPETENSI INTI DUNTUK KELAS I SD
    117. 117. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN KOMPETENSI INTI KELAS I MEMILIKI [MELALUI MENGETAHUI, MEMAHAMI, MENERAPKAN, MENGANALISIS, MENGEVALUASI] PENGETAHUAN FAKTUAL DAN KONSEPTUAL DALAM ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI,SENI, BUDAYA DENGAN WAWASAN KEMANUSIAAN, KEBANGSAAN, KENEGARAAN, DAN PERADABAN TERKAIT FENOMENA DAN KEJADIAN DI LINGKUNGAN RUMAH, SEKOLAH, DAN TEMPAT BERMAIN MEMAHAMI PENGETAHUAN FAKTUAL DENGAN CARA MENGAMATI BERDASARKAN RASA INGIN TAHU TENTANG DIRINYA, MAKHLUK CIPTAAN TUHAN DAN KEGIATANNYA, DAN BENDA-BENDA YANG DIJUMPAINYA DI RUMAH DAN DI SEKOLAH 124124 KI #3 CONTOH SKL DAN KOMPETENSI INTI DUNTUK KELAS I SD
    118. 118. Penguatan Proses 5 125125
    119. 119. Pembelajaran dan Inovasi • Kreatif dan inovasi • Berfikir kritis menyelesaikan masalah • Komunikasi dan kolaborasi Informasi, Media and Teknologi • Melek informasi • Melek Media • Melek TIK Kehidupan dan Karir • Fleksibel dan adaptif • Berinisiatif dan mandiri • Keterampilan sosial dan budaya • Produktif dan akuntabel • Kepemimpinan&tanggung jawab Sumber: 21st Century Skills, Education, Competitiveness. Partnership for 21st Century, 2008 Kerangka Kompetensi Abad 21 Kerangka ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran tidak cukup hanya untuk meningkatkan pengetahuan [melalui core subjects] saja, harus dilengkapi: -Berkemampuan kreatif - kritis -Berkarakter kuat [bertanggung jawab, sosial, toleran, produktif, adaptif,...] Disamping itu didukung dengan kemampuan memanfaatkan informasi dan berkomunikasi Partnership: Perusahaan, Asosiasi Pendidikan, Yayasan,..126126
    120. 120. Sumber: 21st Century Skills, Education, Competitiveness. Partnership for 21st Century, 2008 Kerangka Kompetensi Abad 21 •Mendukung Keseimbangan penilaian: tes standar serta penilaian normatif dan sumatif •Menekankan pada pemanfaatan umpan balik berdasarkan kinerja peserta didik •Membolehkan pengembangan portofolio siswa •Menciptakan latihan pembelajaran, dukungan SDM dan infrastruktur •Memungkinkan pendidik untuk berkolaborasi, berbagi pengalaman dan integrasinya di kelas •Memungkinkan peserta didik untuk belajar yang relevan dengan konteks dunia •Mendukung perluasan keterlibatan komunitas dalam pembelajaran, baik langsung Perlunya mempersiapkan proses penilaian yang tidak hanya tes saja, tetapi dilengkapi dengan penilaian lain termasuk portofolio siswa. Disamping itu dierlukan dukungan lingkungan pendidikan yang memadai 127127
    121. 121. 128 Proses Pembelajaran yang Mendukung Kreativitas Dyers, J.H. et al [2011], Innovators DNA, Harvard Business Review: •2/3 dari kemampuan kreativitas seseorang diperoleh melalui pendidikan, 1/3 sisanya berasal dari genetik. •Kebalikannya berlaku untuk kemampuan intelijensia yaitu: 1/3 dari pendidikan, 2/3 sisanya dari genetik. •Kemampuan kreativitas diperoleh melalui: - Observing [mengamati] - Questioning [menanya] - Associating [menalar] - Experimenting [mencoba] - Networking [Membentuk jejaring] Personal Inter-personal PERLUNYA MERUMUSKAN KURIKULUM BERBASIS PROSES PEMBELAJARAN YANG MENGEDEPANKAN PENGALAMAN PERSONAL MELALUI PROSES MENGAMATI, MENANYA, MENALAR, DAN MENCOBA [OBSERVATION BASED LEARNING] UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS PESERTA DIDIK. DISAMPING ITU, DIBIASAKAN BAGI PESERTA DIDIK UNTUK BEKERJA DALAM JEJARINGAN MELALUI COLLABORATIVE LEARNING 128128 PEMBELAJARAN BERBASIS INTELEJENSIA TIDAK AKAN MEMBERIKAN HASIL SIGINIFIKAN (HANYA PENINGKATAN 50%) DIBANDINGKAN YANG BERBASIS KREATIVITAS (SAMPAI 200%)
    122. 122. 129 Proses Pembelajaran yang Mendukung Kreativitas Dyers, J.H. et al [2011], Innovators DNA, Harvard Business Review: •2/3 dari kemampuan kreativitas seseorang diperoleh melalui pendidikan, 1/3 sisanya berasal dari genetik. •Kebalikannya berlaku untuk kemampuan intelijensia yaitu: 1/3 dari pendidikan, 2/3 sisanya dari genetik. •Kemampuan kreativitas diperoleh melalui: - Observing [mengamati] - Questioning [menanya] - Associating [menalar] - Experimenting [mencoba] - Networking [Membentuk jejaring] Personal Inter-personal PERLUNYA MERUMUSKAN KURIKULUM BERBASIS PROSES PEMBELAJARAN YANG MENGEDEPANKAN PENGALAMAN PERSONAL MELALUI PROSES MENGAMATI, MENANYA, MENALAR, DAN MENCOBA [OBSERVATION BASED LEARNING] UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS PESERTA DIDIK. DISAMPING ITU, DIBIASAKAN BAGI PESERTA DIDIK UNTUK BEKERJA DALAM JEJARINGAN MELALUI COLLABORATIVE LEARNING 129129 PEMBELAJARAN BERBASIS INTELEJENSIA TIDAK AKAN MEMBERIKAN HASIL SIGINIFIKAN (HANYA PENINGKATAN 50%) DIBANDINGKAN YANG BERBASIS KREATIVITAS (SAMPAI 200%) PEMBELAJARAN BERBASIS INTELEJENSIA TIDAK AKAN MEMBERIKAN HASIL SIGINIFIKAN (HANYA PENINGKATAN 50%) DIBANDINGKAN YANG BERBASIS KREATIVITAS (SAMPAI 200%)
    123. 123. 130 Proses Pembelajaran yang Mendukung Kreativitas Dyers, J.H. et al [2011], Innovators DNA, Harvard Business Review: •2/3 dari kemampuan kreativitas seseorang diperoleh melalui pendidikan, 1/3 sisanya berasal dari genetik. •Kebalikannya berlaku untuk kemampuan intelijensia yaitu: 1/3 dari pendidikan, 2/3 sisanya dari genetik. •Kemampuan kreativitas diperoleh melalui: - Observing [mengamati] - Questioning [menanya] - Associating [menalar] - Experimenting [mencoba] - Networking [Membentuk jejaring] Personal PERLUNYA MERUMUSKAN KURIKULUM BERBASIS PROSES PEMBELAJARAN YANG MENGEDEPANKAN PENGALAMAN PERSONAL MELALUI PROSES MENGAMATI, MENANYA, MENALAR, DAN MENCOBA [OBSERVATION BASED LEARNING] UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS PESERTA DIDIK. DISAMPING ITU, DIBIASAKAN BAGI PESERTA DIDIK UNTUK BEKERJA DALAM JEJARINGAN MELALUI COLLABORATIVE LEARNING 130130 PEMBELAJARAN BERBASIS INTELEJENSIA TIDAK AKAN MEMBERIKAN HASIL SIGINIFIKAN (HANYA PENINGKATAN 50%) DIBANDINGKAN YANG BERBASIS KREATIVITAS (SAMPAI 200%)
    124. 124. 131 Proses Penilaian yang Mendukung Kreativitas SHARP, C. 2004. DEVELOPING YOUNG CHILDREN’S CREATIVITY: WHAT CAN WE LEARN FROM RESEARCH?: GURU DAPAT MEMBUAT PESERTA DIDIK BERANI BERPERILAKU KREATIF MELALUI: • TUGAS YANG TIDAK HANYA MEMILIKI SATU JAWABAN TERTENTU YANG BENAR [BANYAK/SEMUA JAWABAN BENAR], • MENTOLERIR JAWABAN YANG NYELENEH, • MENEKANKAN PADA PROSES BUKAN HANYA HASIL SAJA, • MEMBERANIKAN PESERTA DIDIK UNTUK MENCOBA, UNTUK MENENTUKAN SENDIRI YANG KURANG JELAS/LENGKAP INFORMASINYA, UNTUK MEMILIKI INTERPRETASI SENDIRI TERKAIT DENGAN PENGETAHUAN ATAU KEJADIAN YANG DIAMATINYA • MEMBERIKAN KESEIMBANGAN ANTARA YANG TERSTRUKTUR DAN YANG SPONTAN/EKSPRESIF PERLUNYA MERUMUSKAN KURIKULUM YANG MENCAKUP PROSES PENILAIAN YANG MENEKANKAN PADA PROSES DAN HASIL SEHINGGA DIPERLUKAN PENILAIAN BERBASIS PORTOFOLIO (PERTANYAAN YANG TIDAK MEMILIKI JAWABAN TUNGGAL, MEMBERI NILAI BAGI JAWABAN NYELENEH, MENILAI PROSES PENGERJAANNYA BUKAN HANYA HASILNYA, PENILAIAN SPONTANITAS/EKSPRESIF, DLL) 131131
    125. 125. 132 Proses Penilaian yang Mendukung Kreativitas SHARP, C. 2004. DEVELOPING YOUNG CHILDREN’S CREATIVITY: WHAT CAN WE LEARN FROM RESEARCH?: GURU DAPAT MEMBUAT PESERTA DIDIK BERANI BERPERILAKU KREATIF MELALUI: • TUGAS YANG TIDAK HANYA MEMILIKI SATU JAWABAN TERTENTU YANG BENAR [BANYAK/SEMUA JAWABAN BENAR], • MENTOLERIR JAWABAN YANG NYELENEH, • MENEKANKAN PADA PROSES BUKAN HANYA HASIL SAJA, • MEMBERANIKAN PESERTA DIDIK UNTUK MENCOBA, UNTUK MENENTUKAN SENDIRI YANG KURANG JELAS/LENGKAP INFORMASINYA, UNTUK MEMILIKI INTERPRETASI SENDIRI TERKAIT DENGAN PENGETAHUAN ATAU KEJADIAN YANG DIAMATINYA • MEMBERIKAN KESEIMBANGAN ANTARA YANG TERSTRUKTUR DAN YANG SPONTAN/EKSPRESIF PERLUNYA MERUMUSKAN KURIKULUM YANG MENCAKUP PROSES PENILAIAN YANG MENEKANKAN PADA PROSES DAN HASIL SEHINGGA DIPERLUKAN PENILAIAN BERBASIS PORTOFOLIO (PERTANYAAN YANG TIDAK MEMILIKI JAWABAN TUNGGAL, MEMBERI NILAI BAGI JAWABAN NYELENEH, MENILAI PROSES PENGERJAANNYA BUKAN HANYA HASILNYA, PENILAIAN SPONTANITAS/EKSPRESIF, DLL) 132132
    126. 126. 133 Proses Penilaian yang Mendukung Kreativitas SHARP, C. 2004. DEVELOPING YOUNG CHILDREN’S CREATIVITY: WHAT CAN WE LEARN FROM RESEARCH?: GURU DAPAT MEMBUAT PESERTA DIDIK BERANI BERPERILAKU KREATIF MELALUI: • TUGAS YANG TIDAK HANYA MEMILIKI SATU JAWABAN TERTENTU YANG BENAR [BANYAK/SEMUA JAWABAN BENAR], • MENTOLERIR JAWABAN YANG NYELENEH, • MENEKANKAN PADA PROSES BUKAN HANYA HASIL SAJA, • MEMBERANIKAN PESERTA DIDIK UNTUK MENCOBA, UNTUK MENENTUKAN SENDIRI YANG KURANG JELAS/LENGKAP INFORMASINYA, UNTUK MEMILIKI INTERPRETASI SENDIRI TERKAIT DENGAN PENGETAHUAN ATAU KEJADIAN YANG DIAMATINYA • MEMBERIKAN KESEIMBANGAN ANTARA YANG TERSTRUKTUR DAN YANG SPONTAN/EKSPRESIF PERLUNYA MERUMUSKAN KURIKULUM YANG MENCAKUP PROSES PENILAIAN YANG MENEKANKAN PADA PROSES DAN HASIL SEHINGGA DIPERLUKAN PENILAIAN BERBASIS PORTOFOLIO (PERTANYAAN YANG TIDAK MEMILIKI JAWABAN TUNGGAL, MEMBERI NILAI BAGI JAWABAN NYELENEH, MENILAI PROSES PENGERJAANNYA BUKAN HANYA HASILNYA, PENILAIAN SPONTANITAS/EKSPRESIF, DLL) 133133
    127. 127. PROSES KARAKTERISTIK PENGUATAN PEMBELAJAR AN MENGGUNAKAN PENDEKATAN SAINTIFIK MELALUI MENGAMATI, MENANYA, MENCOBA, MENALAR,.... MENGGUNAKAN ILMU PENGETAHUAN SEBAGAI PENGGERAK PEMBELAJARAN UNTUK SEMUA MATA PELAJARAN MENUNTUN SISWA UNTUK MENCARI TAHU, BUKAN DIBERI TAHU [DISCOVERY LEARNING] MENEKANKAN KEMAMPUAN BERBAHASA SEBAGAI ALAT KOMUNIKASI, PEMBAWA PENGETAHUAN DAN BERFIKIR LOGIS, SISTEMATIS, DAN KREATIF PENILAIAN MENGUKUR TINGKAT BERFIKIR SISWA MULAI DARI RENDAH SAMPAI TINGGI MENEKANKAN PADA PERTANYAAN YANG MEBUTUHKAN PEMIKIRAN MENDALAM [BUKAN SEKEDAR HAFALAN] MENGUKUR PROSES KERJA SISWA, BUKAN HANYA HASIL KERJA SISWA MENGGUNAKAN PORTOFOLIO PEMBELAJARAN SISWA Langkah Penguatan Proses 134134
    128. 128. PROSES KARAKTERISTIK PENGUATAN PEMBELAJAR AN MENGGUNAKAN PENDEKATAN SAINTIFIK MELALUI MENGAMATI, MENANYA, MENCOBA, MENALAR,.... MENGGUNAKAN ILMU PENGETAHUAN SEBAGAI PENGGERAK PEMBELAJARAN UNTUK SEMUA MATA PELAJARAN MENUNTUN SISWA UNTUK MENCARI TAHU, BUKAN DIBERI TAHU [DISCOVERY LEARNING] MENEKANKAN KEMAMPUAN BERBAHASA SEBAGAI ALAT KOMUNIKASI, PEMBAWA PENGETAHUAN DAN BERFIKIR LOGIS, SISTEMATIS, DAN KREATIF Langkah Penguatan Proses 135135
    129. 129. PROSES KARAKTERISTIK PENGUATAN PENILAIAN MENGUKUR TINGKAT BERFIKIR SISWA MULAI DARI RENDAH SAMPAI TINGGI MENEKANKAN PADA PERTANYAAN YANG MEBUTUHKAN PEMIKIRAN MENDALAM [BUKAN SEKEDAR HAFALAN] MENGUKUR PROSES KERJA SISWA, BUKAN HANYA HASIL KERJA SISWA MENGGUNAKAN PORTOFOLIO PEMBELAJARAN SISWA Langkah Penguatan Proses 136136
    130. 130. INGAT KURIKULUM 2013: • KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK) • BERBASIS SAINS (INQUIRY BASED) • MENGEMBANGKAN SIKAP I& KARAKTER • MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN BERFIKIR • MENGGUNAKAN MULTI MEDIA / TIK • PENAMBAHAN JAM BELAJAR UNTUK MENGAKTIFKAN SISWA
    131. 131. IMPLIKASI KURIKULUM 2013 GURU HARUS: • MEMAHAMI DAN MAMPU MENERJEMAHKAN SILABUS (YANG DIBUAT PUSKURBUK) SECARA TEPAT DAN KONTEKSTUAL --- SELANJUTNYA DITUANGKAN KE DALAM RPP.
    132. 132. IMPLIKASI KURIKULUM 2013 GURU HARUS: • MERANCANG TUGAS & KEGIATANN UNTUK MENGAKTIFKAN BELAJAR --- DITUANGKAN DALAM LKS • GURU MEMILIH BAHAN BELAHAR DAN MEDIA BERBASIS TIK ----MEMBUAT MODUL ATAU BAHAN BELAJAR NON CETAK
    133. 133. IMPLIKASI KURIKULUM 2013 PENGAWAS/TPK HARUS: • SEBELUMNYA GURRU MELALUI KKG/MGMP/ WORKSHOP/IHT DIAJAK MEMBANGKAN SK & KAD (KTSP) DENGAN KI & KD (KUR 2013), SEHINGGA: • TAHu isi materi yang sama/tetap (dengan redaksi berbedA) • MATERI YANG BERUBAH SEDIKIT • MATERI BARU
    134. 134. IMPLIKASI KURIKULUM 2013 PENGAWAS/TPK HARUS: • MENGAJAK GURU MEMBEDAH KI DAN KD DARI KURIKULUM 2013, SEHINGGA : • DIKETAHUI ISI/SUBSTANSI NYA • KEGIATAN BELAJAR YANG PERLU DILAKUKAN DI KELAS • MEDIA TIK YANG DIPERLUKAN
    135. 135. IMPLIKASI KURIKULUM 2013 PENGAWAS/TPK HARUS: • MEMBEDAH SILABUS NASIONAL (DARI PUSKURBUK) UNTUK MENYAMAKAN PERSEPSI TENTANG “APA YANG WAJIB DIBERIKAN KEPADA SISWA (MINIMAL): • SEHINGGA TIDAK TERJADI PENYEMPITAN MATERI ATAU PENGURANGAN KEGIATAN BELAJAR YANG SUDAH DIGARISKAN PUSAT
    136. 136. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL ( IPS ) SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)/MADRASAH TSANAWIYAH (MTs) KELAS VII KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR 1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya 1.1. Menghargai karunia Tuhan YME yang telah menciptakan waktu dengan segala perubahannya 1.2. Menghargai ajaran agama dalam berfikir dan berperilaku sebagai penduduk Indonesia dengan mempertimbangkan kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam masyarakatMenghargai karunia Tuhan YME yang telah menciptakan manusia dan lingkungannya
    137. 137. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL ( IPS ) SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)/MADRASAH TSANAWIYAH (MTs) KELAS VII KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR 2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya 2.1. Meniru perilaku jujur, disiplin bertanggung jawab, peduli, santun dan percaya diri sebagaimana ditunjukkan oleh tokoh-tokoh pada masa hindu Buddha dan Islam dalam kehidupannya sekaranG.
    138. 138. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL ( IPS ) SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)/MADRASAH TSANAWIYAH (MTs) KELAS VII KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR 3. Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural)berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata 3.1. Memahami aspek keruangan dan konektivitas antar ruang dan waktu dalam lingkup regional serta perubahan dan keberlanjutan kehidupan manusia (ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan politik)
    139. 139. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL ( IPS ) SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)/MADRASAH TSANAWIYAH (MTs) KELAS VII KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR 4. Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori .1. Menyajikan hasil pengamatan tentang hasil-hasil kebudayaan dan fikiran masyarakat Indonesia pada masa praaksara, masa hindu buddha dan masa Islam dalam aspek geografis, ekonomi, budaya dan politik yang masih hidup dalam masyarakat sekarang
    140. 140. KI#1 KD 1.1. KI#2 KI#3 KI#3 KD 2.1. KD 3.1. KD 4.1 KD 1.2. KD 1.3. KD 2.2. KD 3.2. KD 3.3. KD 3.4. KD 4.2 KD 4.3
    141. 141. KI#1 KD 1.1. KI#2 KI#3 KI#3 KD 2.1. KD 3.1. KD 4.1 KD 1.2. KD 1.3. KD 2.2. KD 3.2. KD 3.3. KD 3.4. KD 4.2 KD 4.3
    142. 142. KI#1 KD 1.1. KI#2 KI#3 KI#3 KD 2.1. KD 3.1. KD 4.1 KD 1.2. KD 1.3. KD 2.2. KD 3.2. KD 3.3. KD 3.4. KD 4.2 KD 4.3
    143. 143. KI#1 KD 1.1. KI#2 KI#3 KI#3 KD 2.1. KD 3.1. KD 4.1 KD 1.2. KD 1.3. KD 2.2. KD 3.2. KD 3.3. KD 3.4. KD 4.2 KD 4.3
    144. 144. PEMBELAJARANNYA •P •K • . •SKI2KI1 ` KI43 KI3
    145. 145. TAKSONOMI BLOOM (1999) 1MENGINGAT 2. MEMAHAMI 3. MENERAPKAN 4. MENGANALISIS 5. MENGEVALUASI 6. KREATIVITAS META- KOGNITIF PROSEDUR AL KONSEPTU AL FAKTIAL
    146. 146. KETERAMPILAN KOGNITIF (BERFIKIR & ILMIAH) OBSERVING (mengamati) ASSOCIATING (menalar) QUESTIONING (Menanya) Networking (JEJARING) EXPERIMENTING (mencoba) KREATI VITAS KREATI VITAS
    147. 147. SIKAP / KARAKTER • BERAGAMA/RELIGIUS • JUJUR, DISIPLIN, TANGGUNGJAWAB, PEDULI, SANTUN, RAMAH LINGKUNGAN, GOTONG ROYONG, KERJASAMA, CINTA DAMAI, RESPONSIF DAN PRO-AKTIF, BERINTERAKSI SECARA EFEKTIF
    148. 148. LAMPIRAN • IPS - SMP • PRAKARYA & KEWIRAUSAHAAN - SMA
    149. 149. LAMPIRAN • PERBANDINGAN IPS - SMP • PPERBANDINGAN EKONOMI/ AKUNTANSI - SMA
    150. 150. 158

    ×