• Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
No Downloads

Views

Total Views
1,400
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1

Actions

Shares
Downloads
10
Comments
0
Likes
2

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kista merupakan gangguan saluran reproduksi yang ditemukan pada wanita usia produksi. Penyakit ini awalnya tanpa gejala dan tanpa menimbulkan keluhan, Penderita baru merasakan adanya gejala pada stadium lanjut sehingga merupakan salah satu penyebab kematian kanker ginekologi. Sebagai ketetapan yang dimaksudkan dengan kesehatan reproduksi adalah kemampuan seorang wanita untuk memanfaatkan alat reproduksi dan mengatur kesuburannya (fertilitas) dapat menjalani kehamilan dan persalinan secara aman serta mendapatkan bayi tanpa resiko apapun atau well health mother and well born baby dan selanjutnya mengembalikankesehatan dalam batas normal (Wiknjosastro,2009). Banyak penyakit yang menyerang sistem reproduksi memiliki efek negative pada kualitas wanita dan keluarga. Tanda dan gejalanya terjadi menarche lebih awal, periode menstruasi yang tidak teratur, siklus menstruasi yang pendek, paritas yang rendah, dan riwayat inertilitas.Kista adalah setiap rongga atau kantong tertutup, baik normal maupun abnormal, yang dilapisi epitel, biasanya mengandung cairan atau materisemi padat( Wiknjosastro,2009). Gangguan menstruasi yang sering terjadi pada wanita biasanya dismenorhea, haid yang tidak teratur dengan volume pengeluaran darah yang berlebihan sehingga bisa berdampak anemia. Nyeri yang berlebihan saat haid juga dapat terjadi akibat adanya masa pada organ reproduksi seperti kista atau mioma Pada
  • 2. 2 dasarnya tumbuhnya kista di dalam tubuh merupakan hal yang tidak dapat di hindari disebabkan karena tumbuhnya kista merupakan fungsional yang dijalankan tubuh.Untuk kista fungsional tidak menyebabkan gejala apapun, tidak besifat kanker dan akan hilang sendirinya seiring berjalannya waktu namun demikian beberapa hal dapat kita lakukan untuk meminimalisir berkembangnya penyakit kista, yaitu dengan mengatur pola hidup sehat, biasanya di lakukan tindakan operasi laparoscopy, laparotomi (Wiknjosastro, 2009). Merurut WHO Sejak tahun 2001 diperkirakan jumlah penderita kista ovarium di Indonesia sebanyak 23.400 orang dan diperkirakan yang meninggal sebanyak 13.900 orang (59,4%). Sulitnya mendeteksi penyakit ini menyebabkan 60 – 70% pasien datang pada stadium 1, berdasarkan pertimbangan dan faktor tersebut karsinoma ovarium disebut silent killer karena baru diketahui stadium lanjut (Wiknjosastro, 2009). Menurut data dari Indonesia pada tahun 2008 terdapat 428 kasus penderita kista ovarium, dimana terdapat 20% diantaranya meninggal dunia dan 60% di antaranya adalah wanita karier yang telah berrumah tangga. Sedangkan pada tahun 2009 terdata 768 kasus penderita kista, dan 25% di antaranya meninggal dunia, dan 70% di antaranya wanita karier yang telah berumah tangga. Ovarium mengandung sel yang mampu bertumbuh dan berkembang.Namun, jika pertumbuhan dan perkembangan sel tersebut berlebihan maka akan menjadi jaringan abnormal yang besar dalam bentuk jinak dengan konsistensi yang padat atau kistik. Oleh karena tempat ovarium ada di dalam abdomen (perut), gejalanya
  • 3. 3 akan muncul bila tumornya telah membesar atau terjadi gangguan lainnya (Manuaba, 2009). Penyakit ini dapat dicegah dengan mengatur pola hidup sehat dengan menu seimbang tidak merokok serta berolahraga secara teratur. Selain itu untuk menurunkan resiko keganasan kista ovarium adalah dengan menggunakan alat kontrapsepsi hormonal (Wiknjosastro, 2009). Berdasarkan hal tersebut diatas, maka penulis tertarik untuk mengambil judul “Asuhan Kebidanan Gangguan Reproduksi pada Ny N dengan KistaOvarii di RSUD Dr. Soesilo Slawi dan Ny. N dengan Kista Ovarii di RSUD Kardinah Tegal Tahun2014”. B. Tujuan Penulis Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini mempunyai 2 tujuan yaitu : 1. Tujuan umum penulis Mampu memperoleh dalam pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien dengan post laparatomi indikasi kista ovarium di ruang Mawar RSUD Kardinah 2. Tujuan khusus penulis a. Memperoleh dalam pengkajian analisis data dan perumusan diagnosa keperawatan pada klien dengan post laparatomi indikasi kista ovarium di ruang Mawar RSUD Kardinah.
  • 4. 4 b. Memperoleh dalam menetapkan diagnosa keperawatan pada klien dengan post laparatomi indikasi kista ovarium di ruang Mawar RSUD Kardinah. c. Memperoleh dalam menetapkan perencanaan keperawatan pada klien dengan post laparatomi indikasi kista ovarium di ruang Mawar RSUD Kardinah. d. Memperoleh dalam pelaksanaan perencanaan keperawatan pada klien dengan post laparatomi indikasi kista ovarium di ruang Mawar RSUD Kardinah. e. Memperoleh dalam melakukan evaluasi pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien post laparatomi indikasi kista ovarium di ruang Mawar RSUD Kardinah. f. Memperoleh pengalaman nyata dalam mendokumentasikan pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien dengan post laparatomi indikasi kista ovarium di ruang Mawar RSUD Kardinah. g. Melakukan pembahasan kasus post laparatomi indikasi kista ovarium dikaitkan dengan teori dan konsep keperawatan. C. Manfaat Penelitian Penulisan karya tulis ilmiah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak di antaranya adalah:
  • 5. 5 1. Klien dan Keluarga Klien Memberikan pengetahuan tentang penyakit kista ovarium sehingga keluarga mengetahui tanda dan gejala serta bahaya kista ovarium serta perawatan dan penanganan kista ovarium. 2. Perawat Hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan bagi perawat lahan tentang asuhan keperawatan pada klien dengan post laparatomi indikasi kista ovarium sehingga dapat dujadikan masukan dalam memberikan asuhan keperawatan. 3. RSU Kardinah Dengan adanya peneliti dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi lahan dalam meningkatkan mutu pelayanan medik khususnya “Asuhan Keperawatan Pada Klien Post Laparatomi dengan Indikasi Kista ovarium”. 4. Institusi Akademik Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan bagi mahasiswa akademik keperawatan tentang kasus post laparatomi dengan indikasi kista ovarium dan asuhan keperawatan yang diberikan sehingga dapat dijadikan masukan dalam memperkaya daftar pustaka dan dapat dikembangkan bagi peneliti selanjutnya.
  • 6. 6 5. Penulis Dapat memperdalam ilmu serta menambah pengetahuan dan pengalaman dalam melaksanakan Asuhan Keperawatan pada klien dengan post laparatomi indikasi kista ovarium di ruang Mawar RSUD Kardinah.
  • 7. 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. DEFINISI Kista ovarium adalah suatu benjolan yang berada di ovarium yang dapat mengakibatkan pembesaran pada abdomen bagian bawah dimana pada kehamilan yang disertai kista ovarium seolah-olah terjadi perlekatan ruang bila kehamilan mulai membesar. Indung telur merupakan sumber hormonal perempuan yang paling utama, sehingga mempunyai peranan dalam mengatur proses menstruasi. Indung telur mengeluarkan telur ( ovum ) setiap bulan silih berganti kanan dan kiri. ( Prawirohardjo ,2009). Kista yang berada di dalam atau permukaan ovarium (indung telur) disebut kista ovarium atau tumor ovarium. Kista ovarium sering terjadi pada wanita di masa reproduksinya. Sebagian besar kista terbentuk karena perubahan kadar hormon yang terjadi selama siklus haid, produksi dan pelepasan sel telur dari ovarium ( Prawirohardjo ,2009). Ovarium biasa disebut dengan indung telur. Ovarium memiliki ukuran kurang lebih sebesar ibu jari tangan. Kira-kira 4 cm, lebar dan tebal kira-kira 1,5 cm. ovarium terdiri dari dua bagian yaitu bagian luar (cortex) dan bagian dalam (medulla). Pada cortex terdapat folikel-folikel primordial. Pada medulla terdapat pembuluh darah, urat saraf dan pembuluh limpa (Kusmiyati , dkk., 2009).
  • 8. 8 B. PENYEBAB Kista ovarium disebabkan oleh 2 gangguan (pembentukan) hormon yaitu pada mekanisme umpanbalik ovarium dan hipotalamus. Estrogen merupakan sekresi yang berperan sebagai respon hipersekresi folikel stimulasi hormon. Dalam menggunakan obat- obatan yang merangsang pada ovulasi atau misalkan pola hidup yang tidak sehat itu bisa menyebabkan suatu hormone yang pada akhirnya dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormone (Nugroho, 2010). C. KLASIFIKASI Menurut Wiknjosastro (2009), klasifikasi tumor-tumor ovarium terdiri dari : 1. Tumor Non Neoplastik a. Tumor akibat radangTumor lain 1) Kista folikel Kista folikel berasal dari folikel de Graaf yang tidak sampai berovulasi. 2) Kista korpus luteum Pembelahan ovariium pada kista korpus luteum memberi gambaran yang khas. Dinding kista terdiri dari lapisan berwarna kuning, terdiri atas sel-sel luteum yang berasal dari sel-sel teka. 3) Kista lutein Tumbuhnya kista akibat dari pengaruh hormon koriogonadotropin yang berlebihan, dan dengan hilangnya mola atau koriokarsinoma, ovarium mengecil spontan.
  • 9. 9 4) Kista inklusif germinal Kista ini terjadi karena invaginasi dan isolasi bagian-bagian kecil dari epitel germinativum pada permukaan ovarium. 5) Kista endometrium 6) Kista stein-leventhal 2. Tumor Neoplastik Jinak a. Tumor Kistik 1) Kistoma ovarium simpleks Kista ini mempunyai permukaan yang rata dan halus, biasanya bertangkai, bilateral dan dapat menjadi besar. Dinding kista tipis dan cairan di dalam kista jernih, serus dan berwarna kuning. 2) Kista denoma ovarium serosum Ciri khas pada kista denoma ovarium serosum adalah pertumbuhan kapiler dalam rongga sebesar 50%, dan keluar pada permukaan kista sebesar 5%. Isi kista cair, kuning, dan kadang-kadang coklat karena campuran darah. Tidak jarang kistanya sendri kecil, tetapi permukaannya penuh dengan pertumbuhan papiler (solid papilloma). 3) Kista denoma ovarium musinosum Dinding kista ini agak tebal dan berwarna putih keabu-abuan. Di dalamnya terdapat cairan lendir yang khas, kental seperti gelatin, melekat dan berwarna kuning sampai coklat tergantung dari percampurannya dengan darah.
  • 10. 10 4) Kista endometrioid Kista endometrioid bersifat inilateral dengan permukaan licin, pada dinding dalam terdapat satu lapisan sel-sel yang menyerupai lapisan epitel endometrium. 5) Kista dermoid Kista dermoid adalah satu teratoma kistik yang jinak di mana struktur-struktur ektodermal dengan diferensiasi sempurna, seperti epitel kulit, rambut, gigi dan produk glandula sebasea berwarna putih kuning menyerupai lemak terlihat lebih menonjol daripada elemen-elemen endoterm dan mesoderm. b. Solid 1) Fibroma, leiomioma, fibroadenoma, papiloma, angioma, limfangioma. 2) Tumor brenner 3) Tumor sisa adrenal (maskulinovo-blastoma) Menurut Nugroho (2010), klasifikasi kista terdiri dari : 1. Tipe Kista Normal Yang termasuk dalam kista normal adalah kista fungsional. Kista tersebut merupakan jenis kista ovarium yang paling banyak ditemukan. Kista ini berasal dari sel telur dan korpus luteum, terjadi bersamaan dengan siklus menstruasi yang normal.
  • 11. 11 Kista fungsional akan tumbuh setiap bulan dan akan pecah pada masa subur, untuk melepaskan sel telur yang pada waktunya siap dibuahi oleh sperma. Setelah pecah, kista fungsional akan menjadi kista folikuler dan akan hilang saat menstruasi. Kista fungsional terdiri dari kista folikel dan kista luteum. Keduanya tidak mengganggu, tidak menimbulkan gejala dan dapat menghilang dengan sendiri dalam waktu 6-8 minggu. 2. Tipe Kista Abnormal a. Kistadenoma Kistadenoma merupakan kista yang berasal dari bagian luar sel indung telur. Biasanya bersifat jinak, tetapi dapat membesar dan dapat menimbulkan nyeri. b. Kista Coklat (endometrioma) Kista Coklat merupakan endometrium yang tidak pada tempatnya. Kista ini berisi timbunan darah yang berwarna coklat kehitaman. c. Kista Dermoid Kista Dermoid merupakan kista yang berisi berbagai jenis bagian tubuh seperti kulit, kuku, rambut, gigi dan lemak. Kista dapat ditemukan di kedua bagian indung telur. Biasanya berukuran kecil dan tidak menimbulkan gejala.
  • 12. 12 d. Kista Endometriosis Kista Endometriosis merupakan kista yang terjadi karena ada bagian endometrium yang berada di luar rahim. Kista ini berkembang bersamaan dengan tumbuhnya lapisan endometrium setiap bulan sehingga menimbulkan nyeri hebat. e. Kista Hemorrhage Kista Hemorrhage merupakan kista fungsional yang disertai perdarahan sehingga menimbulkan nyeri di salah satu sisi perut bagian bawah. f. Kista Lutein Kista Lutein merupakan kista yang sering terjadi saat kehamilan. Beberapa tipe kista lutein antara lain : 1) Kista Granulosa Lutein Kista Granulose Lutein merupakan kista yang terjadi di dalam korpus luteum ovarium yang fungsional. Kista yang timbul pada permulaan kehamilan ini dapat membesar akibat dari penimbunan darah yang berlebihan saat menstruasi dan bukan akibat dari tumor. Diameternya yang mencapai 5-6 cm menyebabkan rasa tidak enak di daerah panggul. Jika pecah, akan terjadi perdarahan di rongga perut. Pada wanita yang tidak hamil, kista ini menyebabkan menstruasi terlambat, diikuti perdarahan yang tidak teratur.
  • 13. 13 2) Kista Theca Lutein Kista Theca Lutein merupakan kista yang berisi cairan bening dan berwarna seperti jerami. Timbulnya kista ini berkaitan dengan tumor ovarium dan terapi hormonal. 3) Kista Polikistik Ovarium Kista polikistik ovarium merupakan kista yang terjadi karena kista tidak dapat pecah dan melepaskan sel telur secara kontinyu. Biasanya terjadi setiap bulan. Ovarium akan membesar karena bertumpuknya kista ini. Untuk kista polikistik ovarium yang menetap (persisten), operasi harus dilakukan untuk mengangkat kista tersebut agar tidak menimbulkan gangguan dan rasa sakit. D. PATOFISIOLOGI Menurut Endang (2008), patofisiologi kista ovarium sebagai berikut : 1. Kista Non Neoplasma a. Kista Non Fungsional Kista inkulasi dalam konteks yang dalam timbul ivaginasi dan permukaan epitelium yang berkurang. Biasanya tunggal atau multiple, berbentuk variabel dan terbatas pada cuboidal yang tipis, endometri atau epitelium tuba berkurang 1 sentimeter sampai beberapa sentimeter.
  • 14. 14 b. Kista Fungsional 1) Kista Folikuler Kista di bentuk ketika folikel yang matang menjadi ruptur atau folikel yang tidak direabsorbsi cairan folikuler di antara siklus menstruasi. Bila ruptur menyebabkan nyeri akut pada pelvis, evaluasi lebih lanjut dengan USG ata laparaskopi. 2) Kista Korpus Luteum Kista korpus luteum terjadi karena bertambahnya sekresi progesteron setelah ovulasi. Ditandai dengan keterlambatan menstruasi atau menstruasi yang panjang, nyeri abdomen pada bagian bawah pelvis. 3) Kista Tuba Lutein Ditemui pada kehamilan mola, terjadi pada 50 % dari semua kehamilan dibentuk sebagai hasil lamanya stimulasi ovarium dan berlebihnya HCG. 4) Kista Stein Laventhal Kista ini disebabkan karena peningkatan kadar LH yang menyebabkan hiperstimulis ovarium dengan produk kista yang banyak
  • 15. 15 2. Kista Neoplasma Jinak a. Kistoma Ovari Simpleks Kista ini bertangkai dan dapat menyebabkan torsi (putaran tangkai). Kista ini adalah kista jenis kista denoma serosum yang kehilangan kelenjarnya karena tekanan cairan dalam kista. b. Kistoderma ovari musinosum Kista ini berasal dari suatu teratoma yang pertumbuhannya satu elemn mengalahkan elemen yang lain atau berasal dari epitel germinativum. c. Kistoderoma ovari serosum Kista ini berasal dari epitel permukaan ovarium (germinal ovarium). Bila kista ini terdapat implantasi pada peritonium disertai asites maka dianggap sebagai neoplasma yang ganas dan 30 % sampai 50 % akan mengalami keganasan. d. Kista Endometroid Kista endometroid bersifat unilateral dengan permukaan licin, pada dinding dalam terdapat satu lapisan sel – sel yang menyerupai lapisan epitel endometrium. e. Kista Dermoid Berasal dari teratoma kistik yang jinak dimana struktur – struktur ektoderma dengan deferensiasi sempuran seperti epitel kulit, rambut, gigi dan produk glandula sebastea putih menyerupai lemak yang terlihat lebih menonjol daripada elemen – elemen aktoderm.
  • 16. 16 E. PATHWAY Etiologi:  Ketidakseimbangan hormon ostrogen dan progesterone  Pertumbuhan folikel tidak seimbang  Degenerasi Ovarium  Inveksi Ovarium Gangguan Reproduksi Diagnosa:  Anamnesa  Pemeriksaan Fikik  Pemeriksaan Penunjang Tanda dan Gelaja:  Tanpa Gejala  Nyeri saat mentruasi  Nyeri di perut bagian bawah  Nyeri saat berhubungan seksual  Nyeri saat berkemih atau BAB  Siklus mentruasi tidak teratur Komplikasi:  Pembenjolan perut  Pola haid berubah  Pendarahan  Torsio(putaran tangkai)  Infeksi  Dinding kista robek  Perubahan keganasan Kista Ovarium Kista Fungisional Kista non Fungisional Konservatif: Observasi 1-2 Bulan Keluhan Tetap:  Aktivitas hormon  Discomfort Laparatom i Laparoskopi Ovarian cystecto my Salpingo- oophorect omy Perawatan Post Operasi:  Obat Analgetik  Mobilisasi  Personal hygiene Penyulit Post Operasi:  Nyeri  Perdarahan  Infeksi
  • 17. 17 F. MANIFESTASI KLINIK Banyak kista ovarium yang tidak menimbulkan gejala dan tanda, terutama kista ovarium yang kecil. Sebagian besar gejala dan tanda adalah akibat dari pertumbuhan, aktivitas endokrin, atau komplikasi tumor-tumor tersebut. Kista ovarium tidak menghasilkan gejala, kecuali kista itu pecah atau terpelintir. Hal ini menyebabkan sakit perut, distensi dan kaku. Kista yang besar dan berjumlah banyak dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada panggul, sakit pinggang, rasa sakit saat berhubungan seksual, serta perdarahan uterus yang abnormal. Kista ovarium yang terpelintir mengakibatkan sakit perut yang akut seperti serangan apendisitis. Selain itu kista dapat menyebabkan menstruasi pada wanita terlambat diikuti dengan perpanjangan dan perdarahan ireguler ( Wiknjasastro, 2009 ). G. PEMERIKSAAN PENUNJANG Menurut Wiknjosastro (2009), pemastian diagnostik untuk kista ovarium dapat dilakukan dengan pemeriksaan : 1. Pemeriksaan secra berkala dan teratur, minimal setahun sekali jika pada pemeriksaan pertama kista ovarium yang tidak terlalu besar ditemukan,dengan batasan 5 sentimeter, maka harus dilakukan follow up setiap tiga kali sekali. 2. Pemeriksaan dengan USG Kadang meskipun dengan alat bantu USG jenis kista tidak dapat dibedakan secara pasti, oleh karena itu diperlukan juga pemeriksaan
  • 18. 18 anamnesis untuk menanyakan riwayat penyakitnya, seperti bagaimana menstruasi apakah ada nyeri atau tidak dan sebagainya. 3. Pemeriksaan fisik dan laboratorium Kista ovarium yang mengarah pada kanker memang dapat diperkirakan melalui USG karena gambaran tersebut dapat terlihat. Misalnya dinding yang menebal atau tidak beraturan.Pertumbuhan dalam kista yang mengarah pada kista kanker dapat diketahui, selain itu pemeriksaan ini tidak spesifik. jika ditemukan kista berdiameter lebih dari lima sentimeter atau kurang dari hasil USG menunjukan kecurigaan kearah kanker dan tumor marker-nya diperiksa tinggi, maka pemeriksaan kearah kanker harus dipikirkan.Seandainya kista tersebut adalah kanker, maka harus dilakukan follow up dan obat- obatan kemoterapi harus diberikan berdasarkan jenis sel- sel dan stadiumnya. Jika ternyata kista ovarium tersebut menjadi kanker indung telur, tindakan operasi harus segera dilakukan semua itu harus dilakukan dengan hati- hati jangan sampai kista ovarium tersebut pecah karena kista yang pecah dapat menyebar. H. PENATALAKSANAAN a. Observasi Jika kista tidak menimbulkan gejala, maka cukup dimonitor (dipantau) selama 1-2 bulan, karena kista fungsional akan menghilang dengan
  • 19. 19 sendirinya setelah satu atau dua siklus haid. Tindakan ini diambil jika tidak curiga ganas (kanker) (Wiknjosastro, 2009). b. Terapi bedah atau operasi Bila tumor ovarium disertai gejala akut misalnya torsi, maka tindaka operasi harus dilakukan pada waktu itu juga, bila tidak ada gejala akut, tindakan operasi harus dipersiapkan terlebih dahulu dengan seksama. Kista berukuran besar dan menetap setelah berbulan-bulan biasanya memerlukan operasi pengangkatan. Selain itu, wanita menopause yang memiliki kista ovarium juga disarankan operasi pengangkatan untuk meminimalisir resiko terjadinya kanker ovarium. Wanita usia 50-70 tahun memiliki resiko cukup besar terkena kenker jenis ini. Bila hanya kistanya yang diangkat, maka operasi ini disebut ovarian cystectomy. Bila pembedahan mengangkat seluruh ovarium termasuk tuba fallopi, maka disebut salpingo-oophorectomy. Tumor ovarium neoplastik memerlukan operasi dan tumor non neoplastik tidak. Jika menghadapi tumor ovarium yang tidak memberi gejala/keluhan pada penderita dan yang besarnya tidak melebihi jeruk nipis dengan diameter kurang dari 5 cm, kemungkinan besar tumor tersebut adalah kista folikel atau kista korpus luteum. Tidak jarang tumor-tumor tersebut mengalami pengecilan secara spontan dan menghilang, sehingga pada pemeriksaan ulangan setelah beberapa minggu dapat ditemukan ovarium yang kira-kira besarnya normal. Oleh sebab itu, dalam hal ini hendaknya diambil sikap menunggu selama 2
  • 20. 20 sampai 3 bulan. Jika selama waktu observasi dilihat peningkatan dalam pertumbuhan tumor tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kemungkinan besar tumor tersebut bersifat neoplastik, dan dapat dipertimbangkan satu pengobatan operatif (Wiknjosastro, 2009). c. Tindakan operasi Pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas ialah pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovum yang mengandung tumor (kistektomi). Akan tetapi, jika tumornya besar atau ada komplikasi, perlu dilakukan pengangkatan ovarium, biasanya disertasi dengan pengangkatan tuba (salpingo-ooforektomi). Pada operasi kedua ovarium harus diperiksa untuk mengetahui apakah tumor ditemuka pada satu atau pada dua ovarium. Pada operasi tumor ovarium yang diangkat harus segera dibuka, untuk mengetahui apakah ada keganasan atau tidak. Jika keadaan meragukan, perlu pada waktu operasi dilakukan pemeriksaan sediaan yang dibekukan (frozen section) oleh seorang ahli patologi anatomik untuk mendapatkan kepastian apakah tumor ganas atau tidak (Wiknjosastro, 2009). I. KOMPLIKASI Menurut Wiknjosastro (2009), adapun komplikasi yang terjadi pada kista ovarium yaitu : 1. Perdarahan ke dalam kista Biasanya terjadi sedikit- sedikit hingga berangsur- angsur menyebabkan kista membesar, pembesaran luka dan hanya menimbulkan
  • 21. 21 gejala- gejala klinik yang minimal, akan tetapi jika perdarahan terjadi dalam jumlah yang banyak akan terjadi distensi yang cepat dari kista yang menimbulkan nyeri diperut. 2. `Infeksi pada kista Jika terjadi didekat tumor ada sumber kuman patogen. 3. Torsio ( Putaran tangkai ) Torsio atau putaran tangkai trjadi pada tumor bertangkai dengan diameter 5 cm atau lebih, torsi meliputi ovarium, tuba fallopi atau aligamentum roduntum pada uterus. Jika dipertahankan torsi ini dapat berkembang menjadi infark peritonitis dan kematian.torsi biasanya unilateral dan dikaitkan dengan kista, karsinoma TOA, masa yang tidak melekat atau yang dapat muncul pada wanita usia reproduksi gejalanya meliputi nyeri mendadak dan hebat dikuadrat abdomen bawah, mual dan muntah dapat terjadi demam leukositosis. 4. Perubahan keganasan Setelah tumor diangkat perlu dilakukan pemeriksaan mikroskopis yang seksama terhadap kemungkinan perubahan kegansannya,adanya asites dalam hal ini mencurigakan masa kista ovarium berkembang setelah masa menapouse sehingga bisa kemungkinan untuk berubah menjadi kanker. 5. Robek dinding kista Terjadi pada torsi tangkai, akan tetapi dapat pula terjadi akibat trauma, seperti jatuh atau pukulan pada perut, dan lebih sering pada
  • 22. 22 waktu melakukan bersetubuh, jika robekan kista disertai hemoragi yang timbul secara akut, maka perdarahan bebas berlangsung keuterus ke dalam rongga peritoneum dan menimbulkan rasa nyeri terus- menerus disertatai tanda- tanda akut. 6. LAPARATOMI 1. Pengertian Laparatomi adalah suatu tindakan pembedahan yang dilakukan dengan cara membuka cavum pada abdomen yang bertujuan untuk mengangkat tumir adneksa (Manuaba, 2005). 2. Indikasi Menurut Wiknjosastro (2009), beberapa indikasi yang dilakukan pada tindakan laparatomi, yaitu: a. Folikel matang berfungsi pada program fertilisasi in-viro. b. Biopsi ovarium pada keadaan tertentu (kelainan kromosom atau bawaan, curiga keganasan) c. Kistektomi, terdapat pada kista coklat (endometrioma), kista dermoid dan kista ovarium lain. d. Ovariolisis, pada perlekatan periovarium 3. Persiapan Pra Laparatomi Menurut Wiknjosastro (2009), adapun persiapan yang dilakukan sebelum pasien menjalani laparatomi, yaitu : a. Melakukan penilaian kondisi klien.
  • 23. 23 b. Sekurang – kurangnya 6 jam sebelum dilakukan tindakan laparatomi klien tidak di izinkan makan dan minum. c. Pemberian obat tidur agar kualitas tidur klien baik. d. Pemasangan kateter, agar kendung kencing tetap kosong saat dilakukan operasi. 4. Perawatan Post Laparatomi Menurut Wiknjosastro (2009), penanganan yang perlu dilakukan pada klien post laparatomi antara lain : 1) Balutan dari kamar operasi dapat dibuka pada hari pertama pasca operasi . 2) Klien harus mandi shower bila memungkinkan. 3) Luka mengeluarkan eksudat cair atau tembus ke pakain, pembalutan luka harus di ulang bila tidak kemungkinan luka akan terbuka. 4) Luka harus dikaji setelah operasi dan kemudian setiap hari selama masa pasca operasi sampai ibu diperolehkan pulang atau rujuk. 5) Bila luka perlu dibalut ulang, balutan yang di gunakan harus yang sesuai dan tidak lengket. 5. Komplikasi Post Laparatomi Menurut Wiknjosastro (2009), komplikasi yang mungkin timbul dalam masa ini ialah sebagai berikut: a. Syok b. Hemoragi c. Gangguan jalan kencing
  • 24. 24 1) Retensio urine 2) Infeksi jalan kencing 3) Distensi perut d. Infeksi e. Terbukanya luka operasi dan eviserasi f. Tromboflebitis 7. ASUHAN KEPERAWATAN 1. PENGKAJIAN Pada pengkajian pasien pembedahan di rawat inap dilakukan secara komperhensif di mana seluruh hal yang berhubungan dengan pembedahan pasien perlu dilakukan secara seksama. Berikut ini adalah hal-hal yang garus diidentifikasi saat melakukan pengkajian umum (Muttaqin, 2009). Pengkajian umum merupakan pengumpulan semua informasi yang akurat dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi pasien, baik yang bersifat subyektif maupun obyektif (Hidayati, 2012). a. Data Subyektif 1) Biodata, mencakup biodata pasien/klien, antara lain : a) Nama : nama Jelas dan lengkap. b) Umur : dicatat dalam hitungan tahun. c) Pekerjaan : mengetahui kemungkinan pengaruh pekerjaan terhadap permasalahan kesehatan klien.
  • 25. 25 d) Alamat e) Identitas penanggung jawab : untuk mengetahui keluarga yang bertanggungjawab atas diri klien. 2) Keluhan Utama Ditanyakan keluhan yang sangat dirasakan sehingga mengganggu kesehatan dan mendorong klien untuk memeriksakannya. 3) Riwayat Perkawinan Ditanyakan untuk mengetahui apakah klien sudah berkeluarga atau belum, sebab ini berpengaruh pada kondisi pasien. 4) Riwayat Kesehatan a. Riwayat kesehatan sekarang Ditanyakan untuk mengetahui keadaan pasien sekarang yang berhubungan dengan penyakit/masalah klien, seperti adanya benjolan di perut bagian bawah sehingga dapat mengganggu BAB dan BAK. b. Riwayat kesehatan yang lalu Ditanyakan untuk mengetahui adanya riwayat penyakit akun/kronis seperti DM, penyakit jantung, hipertensi pada pasien yang dapat menimbulkan komplikasi atau memperberat keadaan pada waktu memberikan pelayanan atau tindakan, sehingga dapat diantisipasi sebelumnya. c. Riwayat kesehatan keluarga
  • 26. 26 Ditanyakan untuk mengetahui adanya kemungkinan pengaruh penyakit terhadap kesehatan klien, yaitu keluarga yang pernah menderita penyakit tumor atau penyakit keturunan. 5) Riwayat Obstetri Ditanyakan riwayat haid untuk mengetahui perilaku yang berhubungan dengan menstruasi apakah siklus haid teratur atau tidak, banyak darah yang keluar, disertai nyeri atau tidak, kapan siklus haid terakhir normal, serta terjadinya gangguan perdarahan misalnya hipermenorea, metroraghia, dysmenorea. 6) Riwayat KB Ditanyakan untuk mengetahui kapan, berapa lama, keluhan dan jenis kontrasepsi yang pernah digunakan. 7) Riwayat Kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu Ditanyakan untuk mengetahui berapa kali ibu pernah hamil, melahirkan dan adakah komplikasinya. 8) Pola kebutuhan sehari-hari (1) Nutrisi Data ini perlu ditanyakan untuk mengetahui pola makan sehari-hari klien karena akan berpengaruh pada status kesehatan.
  • 27. 27 (2) Eliminasi Diperlukan untuk mengetahui adanya gangguan dalam pola miksi dan defekasi terutama pada penderita karsinoma ovarium. (3) Istirahat Untuk mengetahui kecukupan istirahat ibu. (4) Aktivitas Untuk mengetahui berat ringannya aktivitas ibu sehari- hari. (5) Personal Hygiene Untuk mengetahui sejauh mana pasien menjaga kebersihan diri karena akan berpengaruh pada perawatan luka pasca operasi untuk menghindari infeksi. (6) Pola seksual Untuk mengetahui apakah pasien mengalami gangguan pada saat melakukan hubungan seksual 9) Riwayat Psikososial Untuk mengetahui tanggapan klien terhadap kondisi yang dialami, taat menjalankan ibadah atau tidak, pengetahuan ibu tentang kondisi yang dialami, mekanisme pemecahan masalah. 10) Lingkungan Tempat Tinggal Untuk mengetahui ibu tinggal denga siapa saja dan hewan peliharaan yang dimiliki.
  • 28. 28 b. Data Obyektif 1) Pemeriksaan Umum a) Keadaan Umum Untuk mengetahui bagaimana keadaan pasien dilihat secara umum, baik dan buruk. b) Kesadaran Untuk mengetahui bagaimana keadaan tingkat kesadaran pasien, misalnya composmentis (sadar penuh). c) Tekanan darah Untuk mengetahui bagaimana keadaan tekanan darah, karena akan berpengaruh pada kondisi pasien, khususnya dalam persiapan operasi. d) Suhu Untuk mengetahui keadaan suhu pasien, suhu tubuh yang melebihi 370 C ada kemungkinan terjadi infeksi. e) Pernafasan Untuk mengetahui frekuensi pernafasan pasien dan mendeteksi apakah ada kelinan atau tidak. f) Nadi atau denyut nadi Denyut nadi Untuk mengetahui denyut jantung ibu. g) Berat badan Berat badan untuk mengetahui kenaikan berat badan setelah mengalami pembesaran kistoma.
  • 29. 29 2) Pemeriksaan Fisik a) Kepala : Bentuk kepala, kulit kepala bersih atau tidak, rambut rontok atau tidak. b) Muka : pucat/tidak, oedema/tidak c) Mata : conjungtiva pucat/tidak, sclera kuning/tidak. d) Hidung : bersih/tidak, ada polip/tidak e) Mulit : bersih/tidak, ada stomatitis/tidak, ada caries/tidak. f) Telinga : bersih/tidak g) Leher : adakah pembesaran kelenjar tyroid atau vena jugularis h) Dada : simetris/tidak, pernafasan teratur/tidak i) Perut : nyeri tekan/tidak, ada pembesaran hepar/tidak. j) Genetalia : bersih/tidak, ada varises/tidak, ada odema/tidak. k) Ekstremitas : simetris/tidak, odema/tidak, varises/tidak. 3) Pemeriksaan Penunjang a) Pemeriksaan Laboratorium Pada pemeriksaan ini yang perlu dikaji adalah pemeriksaan sekret (yang meliputi : Trichomas, Candida /
  • 30. 30 jamur, bakteri batang, bakteri kokus, epitel, leukosit, eritrosit, epitel dan pH) dan hematologi, misalnya : Hb (hemoglobin) b) Foto Rontgen Berfungsi untuk mengetahui ada tidaknya hidrotorak dan mengetahui keadaan jantung, paru dan costa. c) USG Untuk mengetahui letak dan batas tumor, kandung kencing, apakah tumor solid atau kistik dan membedakan cairan rongga perut yang bebas dan tidak. 2. DIAGNOSA KEPERAWATAN Menurut Doenges (2000). a. Perubahan jaringan perifer berhubungan dengan hipovolemi, penurunan aliran darah, statis vena, inflamasi jaringan pasca operasi. b. Nyeri berhubungan dengan insisi bedah. c. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan ketidaknyamanan dan keadaan pasca operasi. d. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan trauma mekanis, manipulasi bedah. e. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat (penurunan Hb, malnutrisi) dan prosedur invatif. f. Defisit perawatan diri (mandi, gosok gigi, keramas/kebersihan) berhubungan dengan ketidakmampuan general.
  • 31. 31 g. Kurang pengetahuan tentang kebutuhan pengobatan berhubungan kurangnya informasi. 3. FOKUS INTERVENSI Menurut Doenges (2000), fokus intervensi secara umum meliputi : a. Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan hipovolemi, penurunan aliran darah, statis vena, inflamasi jaringan pasca operasi. 1) Kriteria Hasil a) Tanda-tanda vital dalam batas normal b) Menunjukan perfuasi adekuat c) Pengisian kapiler baik 2) Intervensi a) Pantau tanda vital, perhatikan pengisian kapiler Rasional : Indikator keadekuatan perfusi sistemik, kebutuhan cairan atau darah dan terjadinya komplikasi. b) Ubah posisi pasien dan dorong batuk sering dan latihan napas dalam. Rasional : Mencegah statis sekresi dan komplikasi pernapasan. c) Hindari posisi fowler tinggi dan tekanan di bawah lutut atau menyilangkan kaki. Rasional : Menimbulkan statis vena dengan meningkatkan kongesti pelvik dan pengumpulan darah dalam ekstermitas.
  • 32. 32 d) Bantu atau instruksikan latihan kaki dan telapak dan ambulasi sesegera mungkin. Rasional : Gerakan meningkatkan sirkulasi dan mencegah komplikasi statis. e) Periksa tanda Hormon, Perhatikan eritema, pembengkakan ekstremitas, atau keluhan nyeri dada tiba-tiba pada dispnea. Rasional : Mungkin indikasi terjadinya tromboflebitis atau emboli paru. f) Berikan cairan IV, produk darah. Rasional : Menggantikan kehilangan darah mempertahankan volume sirkulasi dan perfusi jaringan. b. Nyeri berhubungan dengan insisi bedah 1) Kriteria Hasil : a) Mengekspresikan penurunan nyeri b) Tampak rileks mampu tidur atau istirahat 2) Intervensi : a) Kaji tanda-tanda vital, perhatikan takikardia, hipertensi dan peningkatan pernapasan bahkan jika pasien menyangkal adanya rasa sakit. Rasional : Dapat mengindikasikan rasa sakit akut dan ketidaknyamanan. b) Kaji penyebab ketidaknyamanan yang mungkin selain dari prosedur operasi.
  • 33. 33 Rasional : Ketidaknyamanan mungkin disebabkan penekanan pada kateter indwelling yang tidak tetap, jalur parenteral. c) Kaji skala nyeri, perhatikan lokasi, lamanya dan intensitas (skala 0-10). Rasional : Sediakan informasi mengenai kebutuhan atau efektifitas. d) Lakukan reposisi sesuai petunjuk, misalnya semi-fowler, Rasional : Mungkin mengurangi rasa sakit dan meningkatkan sirkulasi, posisi semi fowler dapat mengurangi tegangan otot abdominal dan otot punggung artitis, sedangkan miring mengurangi tekanan dorsal. e) Dorong penggunaan teknik relaksasi, misalnya latihan napas dalam bimbingan imajinasi, visualisasi. Rasional : Lepaskan tegangan emosional dan otot, tingkatkan perasaan kontrol yang mungkin dapat meningkatkan kemampuan koping. f) Kolaborasi pemberian analgetik Rasional : Analgetik IV akan dengan segera mencapai pusat rasa sakit, menimbulkan penghilangan yang lebih efektif dengan obat dosis kecil.
  • 34. 34 c. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan ketidaknyamanan dan keadaan pasca operasi. 1) Kriteria Hasil Pasien mempunyai bunyi napas normal dan pola inhalasi atau ekshalasi menunjukkan ventilasi adekuat. 2) Intervensi a) Auskultasi suara napas, catat adanya ronki atau mengi Rasional : Menandakan adanya akumulasi sekret atau pembersihan jalan napas yang tidak efektif. b) Bantu pasien untuk melakukan batuk efektif, miring kiri atau kanan dan napas dalam. Rasional : Memudahkan gerakan sekret dan pembersihan paru, menurunkan resiko komplikasi pernapasan. c) Observasi frekuensi dan kedalaman pernapasan, pemakaian otototot bantu pernapasan, perluasan rongga dada, retraksi atau pernapasan cuping hidung, warna kulit dan aliran darah. Rasional : Dilakukan untuk memastikan efektifitas pernapasan sehingga upaya memperbaikinya dapat segera dilakukan. d) Pantau tanda-tanda vital secara terus menerus Rasional : Meningkatnya pernapasan, taki kardia, dan atau bradikardia menunjukkan kemungkinan terjadinya hipoksia.
  • 35. 35 e) Lakukan penghisapan lendir jika diperlukan Rasional : Obstruksi jalan napas dapat terjadi karena adanya mukus dalam tenggorokan atau trakea. f) Berikan oksigen tambahan yang dilembabkan jika diperlukan. Rasional : Mungkin dibutuhkan selama periode distres pernapasan atau adanya tarida-tanda hipoksia. g) Pantau hasil analisis gas darah atau eksimetri nadi. Rasional : Memantau keefektifan pola napas atau terapi. d. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan trauma mekanis, manipulasi bedah. 1) Kriteria Hasil Mengosongkan kandung kemih secara teratur dan tuntas. 2) Intervensi : a) Perhatikan pola berkemih dan awasi keluaran urine Rasional : Dapat mengindikasikan retensi urine bila berkemih dengan sering dalam jurnlah sedikit atau kurang (<100 m1). b) Berikan tindakan berkemih rutin, contoh privasi, posisi normal, aliran air pada baskom. Rasional : Memudahkan upaya berkemih c) Kaji karakteristik urine, perhatikan warna, kejernihan, bau.
  • 36. 36 Rasional : Retensi urine dan kemungkinan adanya kateter intermiten atau tidak menetap meningkatkan resiko infeksi, khususnya bila pasien mempunyai jahitan perineal. d) Berikan perawatan kebersihan vulva, perineal dan perawatan kateter (bila ada). Rasional : Meningkatkar kebersihan menurunkan resiko ISK asenden. e. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat (penurunan Hb, malnutrisi) dan prosedur invatif. 1) Kriteria Hasil Meningkatkan penyembuhan luka dengan benar, bebas tanda- tanda infeksi. 2) Intervensi a) Identifikasi individu yang berisi keadaan terhadap infeksi nosokomial Rasional : Meningkatkan kerjasama dengan cara hidup dan berusaha mengurangi rasa terisolasi. b) Observasi luka, dan adanya informasi Rasional : Perkembangan infeksi dapat memperlambat pemulihan. c) Monitor tanda-tanda vital, perhatikan peningkatan suhu Rasional : Demam 38° C segera setelah pembedahan dapat menandakan infeksi.
  • 37. 37 d) Pertahankan perawatan luka aseptik dan balutan kering Rasional : Melindungi pasien dari kontaminasi silang selama penggantian balutan, balutan basah bertindak sebagai sumbu retrugrad, menyerap konta minan eksternal. e) Kultur terhadap kecurigaan drainase atau sekresi, kultur baik dan bagian tengah dan tepi luar luka dan dapatkan kultur anaerobik sesuai indikasi. Rasional : Organisme multipel mungkin ada pada luka terbuka dan setelah insisi bedah bakteri anaerobik misal Bacteri ordes fragillis, hanya dapat terdeteksi melalui kultur anaerobik. f) Kolaborasi Femberian antibiotik Rasional : Diberikan secara profilaktik dan untuk mengatasi infeksi. f. Defisit perawatan diri (mandi, gosok gigi, keramas/kebersihan) berhubungan dengan ketidakmampuan general. 1) Kriteria Hasil : a) Menunjukan aktivitas perawatan diri dalam tingkat kemampuan pribadi. b) Mendemonstrasikan perubahan teknik atau gaya hidup untuk memenuhi kebutuhan diri. c) Menggunakan sumber-sumber secara efektif
  • 38. 38 2) Intervensi : a) Kaji kemampuan saat ini (skala 0-4) dan hambatan untuk partisipasi dalam perawatan. Rasional : Mengidentifikasi kebutuhan intervensi yang dibutuhkan b) Dorong perawatan diri Rasional : Melakukan untuk dirinya sendiri akan meningkatkan perasaan harga diri. c) Gunakan perlengkapan khusus sesuai dengan kebutuhan Rasional : Meningkatkan kemampuan untuk mengindahkan atau menunjukkan aktivitas dengan aman. d) Dorong atau bantu dalam perawatan mulut atau gigi setiap hari. Rasional : Mengurangi resiko penyakit gigi atau kehilangan gigi. e) Ikut sertakan klien dalam formulasi rencana perawatan pada tingkat kemampuan Rasional : Meningkatkan perasaan kontrol dan meningkatkan kerjasama dan perkembangan kemandirian. f) Berikan dan tingkatkan keleluasaan pribadi, termasuk selama mandi Rasional : Kesederhanaan dapat mengarah pada keengganan ikut serta dalam perawatan atau menunjukkan aktivitas pada
  • 39. 39 saat munculnya orang lain. g. Kurang pengetahuan tentang kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi. 1) Kriteria hasil Pasien dan atau orang terdekat menyatakan pemahamannya tentang kebutuhan pengobatan. Rasional : Pengalaman dini dan pengobatan terjadinya komplikasi seperti infeksi dapat mencegah situasi yang mengancam hidup 4. EVALUASI Hasil yang diharapkan : a. Subyektif 1) Klien mengatakan nyeri berkurang dan dapat tidur atau istirahat 2) Klien mengatakan dapat berkemih secara teratur dan tuntas 3) Klien mengatakan mampu beraktivitas secara mandiri 4) Klien dan keluarga mengatakan sudah memahami tentang perawatan di rumah dan instruksi untuk kontrol b. Obyektif 1) Tanda-tanda vital dalam batas normal 2) Pengisian kapiler baik 3) Skala nyeri dalam batas normal 4) Klien terlihat nyaman
  • 40. 40 5) Pola inhalasi dan ekshilasi menunjukan ventilasi adekuat 6) Tidak terdapat tanda-tanda infeksi pada luka post operasi 7) Klien terlihat melakukan aktivitas perawatan diri dalam tingkat kemampuan pribadi c. Asessment Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan masalah teratasi. d. Planning Melanjutkan intervensi sesuai dengan keadaan yang dikeluhkan klien.
  • 41. 41 DAFTAR PUSTAKA Christensen dan Kenney. 2009. Proses Keperawatan – Aplikasi Model Konseptual. Jakarta : EGC. Doenges, E. Marilynn. 2000. Rencana Asuham Keperawatan. Jakarta : EGC. El Manan. 2011. Kamus Pintar Kesehatan Wanita. Yogyakarta : Buku Biru. Heffner dan Schust. 2006. At a Glance Sistem Reproduksi. Jakarta : Erlangga. Hidayat, Alimul Aziz. 2009. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia – Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika. Manuaba. 2009. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita, Edisi 2. Jakarta : EGC. Manuaba. 2005. Dasar – Dasar Teknik Operasi Ginekologi. Jakarta : EGC. Muttaqin dan Sari. 2009. Asuhan Keperawatan Perioperatif : Konsep, Proses, dan Aplikasi. Jakarta : Salemba Medika. Nugroho,Taufan. 2010. Buku Ajar Ginekologi. Yogyakarta : Nuha Medika. NS, Sallika. 2010. Serba – Serbi Kesehatan Perempuan. Jakarta : Bukune. Potter dan Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Edisi 4. Jakarta : EGC. Setiati, Eni. 2009. Wasapada 4 Kanker Ganas Pembunuh Wanita. Yogyakarta : Andi Offset. Wiknjosastro, H.2009. Ilmu Kandungan. Jakarta: YBP-SP.