Mana Duitnya?
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Mana Duitnya?

on

  • 59 views

 

Statistics

Views

Total Views
59
Views on SlideShare
59
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
0
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Mana Duitnya? Mana Duitnya? Document Transcript

  • Mana Duitnya ?! Oleh: H. Wahidi Dalam kolom Opini pada majalah Signal edisi bulan Desember 2011, telah dibahas bahwa pulsa tidak sama dengan rupiah. Oleh karenanya bila pulsa digunakan untuk transaksi bisnis yang bersifat revenue sharing akan menyebabkan uang kas operator selular berkurang (cash out flow) secara signifikan. Lantas bagaimana mengembangkan layanan bisnis baru (new business) yang tidak menyedot uang kas namun justru mendatangkan aliran uang? Jelas, kembali ke norma dagang yang umum, bahwa bisnis apapun kuncinya adalah mendatangkan uang (cash in flow). Dalam uraian berikut ini akan diulas lebih lanjut aspek finansial dari pulsa. Kemudian berlanjut dengan pengenalan konsep pembayaran dalam layanan bisnis baru. Masih terkait dengan kasus pencurian pulsa, apakah dampak dari penyetopan layanan konten premium terhadap pendapatan (revenue) dari penyedia konten (content provider) dan operator selular? (ref. Surat Edaran BRTI No. 177 tertanggal 14 Oktober 2011). Industri konten adalah industri kreatif baik dalam penyediaan konten yang kreatif, demikian pula seharusnya kreatif dalam memasarkannya. Kasus pencurian pulsa merupakan momentum yang sangat baik bagi penyedia konten untuk bangkit mengembangkan kreatifitas pemasaran layanan konten yang tidak lagi menggunakan pulsa. E-commerce sebagai pionir bisnis kreatif seperti Amazon, Apple Store, Android Market dan lainnya telah mengadopsi berbagai cara pembayaran elektronik (e-payment) seperti ATM, e-money (prepaid money), kartu kredit, kartu debet, mobile banking, e-banking, transfer atau paypal. Para penyedia konten dapat mencontoh ini. Jadi, walaupun regulator menyetop penggunaan pulsa namun tersedia berbagai point of sales dan beragam cara bayar sehingga bisnis konten akan tetap hidup dan berkembang. Ada yang akan mencoba penjualan lagu, ringtone atau konten via ATM, mobile/e- banking atau e-money? Mengenai e-money, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan yang tinggi sekitar 20% – 30%. Per Oktober 2011 tercatat 32,27 juta transaksi e-money senilai Rp779,41 milyar. Saat ini terdapat sebelas penerbit e-money seperti Telkomsel (t-cash), XL, Indosat, Telkom (delima), BRI (brizzi), BCA (flazz), Mandiri Prabayar, BNI, Bank Mega, Bank DKI dan SkyeSab. Selanjutnya bagaimana dampak penyetopan layanan konten pada pendapatan operator seluler? Berikut rilis dari operator XL, bahwa pada 2011 pendapatan SMS premium menurun drastis hingga 57%. Namun total pendapatan XL justru meningkat 7% menjadi Rp19 triliun. (Sumber: http://www.detikinet.com). Menarik! Terdapat kemungkinan pengalihan penggunaan pulsa (yang tidak lagi “tersedot/tercuri”) ke penggunaan layanan lainnya seperti percakapan dan/atau internetan yang makin banyak.
  • Mari kita lihat fakta di XL tersebut sebagai referensi pembahasan aspek finansial berikut ini, khususnya terhadap pendapatan prabayar yang merupakan pos pendapatan terbesar. (Catatan: Kontribusi pendapatan prabayar lebih dari 90% dari total pendapatan pasca dan prabayar). Berikut ini contoh yang sederhana, pelanggan membeli voucher 10.000 sebesar Rp10.000 dari penjual (dealer/reseller/outlet). Dengan diskon penjualan sebesar 5%, maka uang yang dibayar penjual dan diterima operator adalah sebesar Rp9.500. Karena harga voucher sudah termasuk PPN, maka operator harus membayar 10% atau Rp1.000 sebagai pajak (tax). Operator akan mencatatnya sebagai berikut: Setelah pembayaran pajak tersebut, maka netto kas operator di banknya menjadi sebesar Rp8.500. Bila pelanggan telah mengaktifkan/mengisi voucher tersebut namun belum dipakai, maka akan tercatat pulsa senilai 10.000 (unearned, sebagai kewajiban operator). Bila kemudian pelanggan menggunakan pulsa tersebut, misalkan senilai 7.500, untuk TalkMania 5.000 dan InternetMania 2.500, maka akan dicatat sebagai pendapatan (earned/revenue) sebagai berikut: Bagaimana bila pelanggan tersebut churn (berhenti), misal karena pengaruh “pencurian pulsa” dan ganti kartu operator lain, kemudian terdapat nilai pulsa yang tersisa senilai 2.500? Maka yang tersisa tersebut tetap diakui sebagai pendapatan senilai 2.500 dan dicatat sebagai berikut: Total yang diakui sebagai pendapatan dalam income statement adalah sebesar senilai 10.000 yang berasal dari 7.500 earned (revenue) dan 2.500 other income (outpayment). Jadi benarkah bilamana layanan konten distop maka pendapatan operator selular akan turun? Pada contoh di atas, dalam hal churn saja maka pendapatan dari pelanggan prabayar tersebut tidak berkurang, akan tetap senilai pulsa. Apalagi bila pulsanya tidak “tersedot/tercuri”, di samping potential benefit pelanggan tidak hilang (customer satisfaction) juga produktifitas operator seperti MoU (minutes of usage) atau konsumsi data akan meningkat. Ada catatan tersendiri mengenai MoU, ternyata konsumsi menelpon di Indonesia masih tergolong rendah. Laporan analis menyebutkan di Indonesia rata-rata MoU sebesar 146 menit/orang/bulan. Bandingkan, di Malaysia: 222 menit, di Thailand: 322 menit, di China: 461 menit atau di US: 951
  • menit. (Sumber: Global Wireless Matrix 4Q11, Bank of America Merrill Lynch). Pelanggan masih dapat distimulasi untuk meningkatkan percakapan dan menjaganya dari berbagai gangguan termasuk dari kasus pencurian pulsa. Jadi peluang meningkatkan MoU masih tinggi, yang berarti juga peluang meningkatkan pendapatan, apalagi didukung oleh kapasitas jaringan yang besar. Bagaimana selanjutnya konsep layanan bisnis baru baik dalam penjualan maupun pembayarannya. Di awal telah disinggung, bisnis harus ada uangnya (norma dasar dagang). Barang/jasa yang dijual dan uang yang masuk/keluar dari penjualannya harus jelas adanya. Pada Signal edisi Desember 2011 lalu, disebutkan antara “old business” yang mana operator mendapatkan uang masuk (cash in flow) dari penjual (dealer) seharusnya tidak bercampur dengan “new business” yang mana terdapat uang yang keluar (cash out flow) untuk layanan bisnis baru. Berikut gambaran ide yang sederhana dan mendasar bagaimana agar “old business” dan “new business” keduanya dapat berkembang dan memberikan nilai tambah (uang masuk tambahan) bagi perusahaan. Pada gambar di atas. Sebelumnya dari “old business” operator mendapatkan uang kas sebesar Rp9.500, yaitu dari penjualan voucher senilai 10.000 kepada penjual (dealer). Kemudian voucher tersebut oleh penjual dijual kepada pembeli sebesar Rp10.000 dan penjual mendapatkan marjin sebesar Rp500. Pelanggan mengaktifkan voucher tersebut (sebagai pulsa) dan digunakan untuk berbagai keperluan menelpon, kirim SMS dan internetan, sampai pulsa itu habis. Dari penggunaan tersebut (usage) dicatat oleh operator sebagai pendapatan senilai 10.000.
  • Kemudian dengan berkembangnya teknologi, terdapat peluang untuk menjual berbagai layanan bisnis baru, misalkan RBT, game dan berbagai konten/aplikasi lainnya. Penyedia konten dapat menjual layanan-layanan tersebut pada berbagai point of sales misalkan via internet, aplikasi HP, bundling, mengadakan sales event di pusat belanja HP atau di pameran-pameran. Pembayaran layanan bisnis baru tersebut tidak dengan pulsa namun dilakukan secara tunai maupun non-tunai melaui e-payment seperti ATM, e-banking, mobile banking, e-money atau e-payment lainnya. Untuk konten yang mengharuskan koneksi ke jaringan operator, contoh RBT, maka penyedia konten harus membayar aktivasi layanan tersebut kepada operator. Contoh sederhana, penyedia konten menjual RBT seharga Rp5.000. Dari deposit uangnya, pelanggan membelinya dengan harga Rp5.000. Pendapatan penyedia konten dari penjualan tersebut adalah sebesar Rp5.000 dan langsung dibukukan pada rekeningnya di bank. Dari uang tersebut sebagian dibayarkan untuk jasa bank misal Rp500 dan Rp1.500 kepada operator untuk biaya aktifasi. Dengan model bisnis ini, maka operator akan memperoleh sumber uang (new fresh money) dan pendapatan baru (new revenue stream) sebesar Rp1.500. Maka uang kas operator di bank akan menjadi sebesar Rp11.000 yang berasal dari arus kas “old business” sebesar Rp9.500 dan Rp1.500 dari “new business”. Total pendapatan (revenue) operator pun bertambah menjadi 11.500, yaitu sebesar 10.000 dari “old business” dan 1.500 dari “new business”. Dengan model bisnis baru ini, maka pendapatan operator meningkat sebesar 15%. Operator dapat juga menggali pendapatan lainnya dari berbagai layanan bisnis baru, misalkan mobile ads, m-remittance, penyewaan site dan properti (BTS, kantor pelayanan). Bahkan di negara maju penyewaan jaringan/network menjadikan banyak bermunculan MVNO (mobile virtual network operator) sehingga layanan telepon makin tersedia luas dan makin ekonomis dengan berbagai layanan yang kreatif .  File: D:Documents and SettingshelmiwahMy DocumentsJobJurnalPulsa_20-02-12rev.doc