Pulsa = Rupiah?
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Pulsa = Rupiah?

on

  • 126 views

 

Statistics

Views

Total Views
126
Views on SlideShare
125
Embed Views
1

Actions

Likes
0
Downloads
1
Comments
0

1 Embed 1

http://www.slideee.com 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Pulsa = Rupiah? Pulsa = Rupiah? Document Transcript

  • Pulsa = Rupiah ? Oleh: H. Wahidi Istilah voucher atau isi ulang (recharge/top-up) dalam telekomunikasi selular khususnya kartu prabayar (prepaid) telah dikenal luas. Masyarakat pemakai kartu prabayar telah terbiasa membeli voucher dan melakukan isi ulang untuk menambah pulsa yang akan digunakannya untuk menelpon, mengirim pesan singkat (SMS), mengakses data/internet maupun layanan telekomunikasi lainnya. Dalam perkembangannya, nilai yang tercantum dalam suatu pulsa dianggap memiliki nilai tertentu layaknya mata uang yang dapat digunakan dalam suatu transaksi. Dari pemahaman inilah banyak pihak ketiga menawarkan kepada penyelenggara telekomunikasi (operator) dengan berbagai layanan untuk dijual kepada pelanggan. Kemudian pihak ketiga tersebut meminta bagian dari hasil penjualan (revenue sharing) kepada operator sesuai proporsi tertentu yang disepakati. Tulisan berikut ini akan mengulas suatu gambaran dan wacana mengenai penggunaan pulsa untuk suatu transaksi layanan yang di luar bisnis inti operator (non-core). Pengertian layanan non-core ini khususnya yang berasal dari pihak ketiga dengan konsep bagi hasil, seperti konten premium. Kita awali dari jual beli voucher, mulai dari operator selular ke jaringan penjual (dealer s.d. outlet) sampai ke pelanggan sebagaimana tergambar dalam ilustrasi sederhana berikut ini: Misalkan operator selular menerbitkan dan menjual voucher seharga Rp10.000 dengan nilai pulsa 10.000 (biasa ditulis 10k). Voucher tersebut didistribusikan melalui jaringan penjual, mulai dari dealer sampai dengan outlet. Karena pelanggan membelinya sesuai harga bandrol, Rp10.000, tentunya penjual juga membelinya dari operator dengan harga pokok yang lebih rendah misalkan sebesar Rp9.500. Dari transaksi jual beli voucher ini, maka operator, penjual dan pelanggan akan mendapatkan: Penjual mendapatkan marjin sebesar Rp500 (5% dari harga jual). Namun marjin sebesar itu terdistribusi pada sejumlah penjual, umumnya mereka mendapatkan marjin sebesar 1%-2% saja; Dealer s.d. Outlet Operator Selular Pelanggan Voucher 10k Voucher 10k Pulsa 10k Pembelian Rp10.000 Harga Pokok Rp9.500 Usage (Voice,SMS,Data) 10k Cash Flow Rp9.500 Revenue Rp10.000 Marjin Rp500 (5%)
  • Pelanggan mendapatkan isi ulang senilai Rp10.000 yang dapat digunakan (usage) untuk menelpon, misalkan dengan mengaktifkan layanan TalkMania, bicara seharian siang-malam seharga Rp5.000 (@Rp2.500) dan Rp5.000 untuk InternetMania unlimited seharian; Operator mendapatkan uang masuk (cash-in) sebesar Rp9.500 dari penjualan dan mengklaim pendapatan (revenue) senilai Rp10.000 dari usage pelanggan. Catatan: untuk menyederhanakan simulasi tersebut aspek pajak belum diperhitungkan. Bagaimana bilamana pulsa dianggap sebagai alat pembayaran dan dapat digunakan untuk transaksi layanan non-core? Bagaimana bila Content Provider (CP) menawarkan kerja-sama konten premium dengan operator? Apa yang akan terjadi, seperti berita yang masih hangat tentang “sedot pulsa”? Misalkan CP bekerjasama dengan operator dengan bagi hasil 50:50. Kemudian CP mengirim SMS premium kepada pelanggan dengan tarif Rp2.000/SMS. Maka dengan 5 kali pengiriman maka habislah pulsa Rp10.000 yang dimiliki pelanggan. Sebagai gambarannya dapat dilihat pada ilustrasi berikut ini: Bila ternyata pelanggan merasa tidak berlangganan, maka pulsanya akan hilang sebesar Rp10.000. Yang seharusnya dengan pulsa tersebut pelanggan dapat menikmati layanan TalkMania dan InternetMania. Demikian pula operator, walau sekilas pendapatannya tidak berkurang, revenue yang dibukukan tetap Rp10.000 namun cash-flow berkurang. Sebelumnya operator menerima cash-in sebesar Rp9.500 dari penjual (cash-out pembelian voucher). Namun kemudian operator harus membayar (cash-out) kepada CP sebesar Rp5.000, sehingga saldo kas menjadi hanya Rp4.500, berkurang drastis 50% lebih atau hanya 45% dari nilai voucher. Sedangkan CP akan menerima bagi hasil sebesar Rp5.000, atau 50% dari nilai voucher. Walaupun CP tanpa mengeluarkan kas (cash out) sedikit pun kepada operator. Tidak seperti penjual yang mengeluarkan kas untuk membeli voucher. Namun penjual voucher hanya menerima marjin sekitar 1% - 2% saja dari nilai voucher. Dealer s.d.Outlet Operator Selular Pelanggan Content Provider Voucher 10k Voucher 10k Pulsa10k Revenue Rp10.000 Pembelian Rp10.000 Harga Beli Rp9.500 Konten premium Rp10.000 Cash-out Rp5.000 Cash Flow Rp9.500 Rp5.000 Rp4.500 (45%) Cash-in Rp5.000 (50%) Marjin Rp500 (5%)
  • Hal ini terjadi karena dalam bisnis konten tersebut pulsa dianggap sama dengan rupiah yang dapat menjadi alat pembayaran untuk transaksi konten. Padahal Bank Indonesia telah menegaskan bahwa pulsa tidak dapat digunakan sebagai alat bayar sebagaimana yang telah di atur dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor: 7/52/PBI/2005 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran Dengan Menggunakan Kartu. Menurut peraturan tersebut operator dapat memberikan layanan Kartu Prabayar di mana pelanggan menyetorkan terlebih dahulu sejumlah uang kepada operator yang kemudian nilai uang tersebut dimasukkan menjadi nilai uang dalam kartu, yang dinyatakan dalam satuan Rupiah dan dapat digunakan untuk melakukan transaksi pembayaran dengan cara mengurangi secara langsung nilai uang pada kartu tersebut. Inilah yang merupakan model bisnis baru di dunia telekomunikasi. Untuk pembelian layanan telekomunikasi yang bersifat non-core, seperti konten, maka pelanggan dapat membayar dari uangnya sendiri yang tersimpan dalam layanan kartu yang saat ini kita kenal di perusahaan kita dengan nama Telkomsel Cash (TCASH). TCASH telah mendapatkan ijin dari Bank Indonesia sebagai layanan bagi pelanggan selular yang akan melakukan transaksi menggunakan ponsel. Transaksi yang dapat dilayani tidak hanya untuk pembayaran namun juga pengiriman uang (remittance). TCASH dapat menjadi solusi ke depan dalam pengembangan new business yang memerlukan media pembayaran. Dalam contoh transaksi konten di atas maka CP akan mendapatkan pemasukan dari pelanggan yang berminat membeli konten yang mana dananya telah tersedia dalam akun TCASH pelanggan. Jadi bukan diambil dari nilai pulsa pelanggan. Ini sesuai dengan peraturan Bank Indonesia. Melalui platform TCASH, dari bisnis konten tersebut operator tidak akan mengeluarkan kas lagi, justru akan mendapat berbagai pendapatan baru (new revenue stream) seperti pendapatan transaksi TCASH, pendapatan aktivasi konten pada jaringan operator dan pendapatan dari biaya promosi kepada pelanggan (mobile ads). Dengan demikian model old-business (seperti penjualan voucher) akan berjalan normal dan tidak bercampur dengan model new-business (seperti penjualan konten dan lainnya). Dan yang lebih penting kedua model bisnis ini dapat terus berkembang dan taat asas (compliance) dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.  File: D:Documents and SettingshelmiwahMy DocumentsJobJurnalPulsa 11-11-11.doc