Pendidikan karakter-di SMA N 1 Kemabang

9,943 views
9,777 views

Published on

by Drs. Nur Kholiq

Published in: Education
1 Comment
2 Likes
Statistics
Notes
  • suatu bangsa memang harus memilki karakter yang menginspirasi semua warga negara. Dengan karakter yang jelas dan menjadi ciri budaya bangsa akan mampu mengangkat citra bangsa dalam pergaulan dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia. Karakter bangsa Indonesia yang menjadi acuan adalah Bagaimana bangsa indonesia menerapkan dalam kehidupan sehari-hari tidak terlepaskan dengan 4 pilar, yakni : Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
No Downloads
Views
Total views
9,943
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
7
Actions
Shares
0
Downloads
400
Comments
1
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pendidikan karakter-di SMA N 1 Kemabang

  1. 1. MEMBANGUN KEBERADAPAN BANGSA MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER DI SMA NEGERI 1 KEMBANGI. Pendahuluan Pendidikan merupakan pilar tegaknya suatu bangsa; Melalui pendidikanlah bangsaakan tegak mampu menjaga martabat. Pendidikan nasional mempunyai visi terwujudnyasystem pendidikan sebaga pranata social yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakansemua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehinggamampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Dengan visi pendidikan tersebut, pendidikan nasional mempunyai misi sebagai berikut: 1. Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia ; 2. Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar ; 3. Meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral ; 4. Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar nasional dan global dan 5. Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan RI. Dalam UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, disebutkan“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak sertaperadaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang berimandan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Selain itu juga bertujuan untuk pembentukan karakter peserta didik yang terwujuddalam kesatuan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Karena karakter merupakansesuatu yang mengkualifikasi seorang pribadi. Karakter menjadi identitas yang mengatasi
  2. 2. pengalaman kontingen yang selalu berubah, dan dari kematangan karakter inilah kualitasseorang pribadi diukur. Pendidikan karakter sebagai sebuah paedagogi memiliki tujuan agar setiap pribadisemakin menghayati individualitasnya, maupun menggapai kebebasan yang dimilikinya,sehingga ia dapat semakin bertumbuh sebagai pribadi maupun warga negara yang bebas danbertanggung jawab, bahkan sampai pada tingkat tanggung jawab moral integral ataskebersamaam hidup dengan warga yang lain. Dan pendidikan karakter telah menjaditanggung jawab bersama orang tua, guru dan anggota masyarakat, yang datang bersama-samauntuk mendukung pembangunan karakter yang positif.Apa Pendidikan Karakter Itu?Pendidikan karakter adalah pendidikan yang tujuannya membentuk kepribadian pesertadidiknya supaya memiliki karakter yang baik.Model pendidikan karakter merupakan jawaban atas sistem pendidikan di Indonesia yanglebih menekankan aspek kognitif ketimbang aspek kecerdasan emosi, sosial, motorik,kreativitas, imajinasi, dan spiritual.Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam prosespembentukan pribadi ialah pedagog Jerman FW Foerster (1869-1966). Pendidikan karaktermerupakan reaksi atas kejumudan pedagogi natural Rousseauian dan instrumentalismepedagogis Deweyan.Lebih dari itu, pedagogi puerocentris lewat perayaan atas spontanitas anak-anak (EdouardClaparède, Ovide Decroly, Maria Montessori) yang mewarnai Eropa dan Amerika Serikatawal abad ke-19 kian dianggap tak mencukupi lagi bagi formasi intelektual dan kulturalseorang pribadi.Tujuan pendidikan adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuanesensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Bagi Foerster, karaktermerupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Karakter menjadi identitas yangmengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Dari kematangan karakter inilah,kualitas seorang pribadi diukur.
  3. 3. Empat karakterMenurut Foerster ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter. Pertama, keteraturaninterior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedomannormatif setiap tindakan.Kedua, koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidakmudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Koherensi merupakan dasaryang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkankredibilitas seseorang.Ketiga, otonomi. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadinilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpaterpengaruh atau desakan pihak lain.Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang gunamengingini apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatanatas komitmen yang dipilih.Kematangan keempat karakter ini, lanjut Foerster, memungkinkan manusia melewati tahapindividualitas menuju personalitas. ”Orang-orang modern sering mencampuradukkan antaraindividualitas dan personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara independensieksterior dan interior.” Karakter inilah yang menentukan forma seorang pribadi dalam segalatindakannya.Pengalaman IndonesiaDi tengah kebangkrutan moral bangsa, maraknya tindak kekerasan, inkoherensi politisi atasretorika politik, dan perilaku keseharian, pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-religius menjadi relevan untuk diterapkan.Pendidikan karakter ala Foerster yang berkembang pada awal abad ke-19 merupakanperjalanan panjang pemikiran umat manusia untuk mendudukkan kembali idealismekemanusiaan yang lama hilang ditelan arus positivisme. Karena itu, pendidikan karakter tetapmengandaikan pedagogi yang kental dengan rigorisme ilmiah dan sarat muatanpuerocentrisme yang menghargai aktivitas manusia.
  4. 4. Tradisi pendidikan di Indonesia tampaknya belum matang untuk memeluk pendidikankarakter sebagai kinerja budaya dan religius dalam kehidupan bermasyarakat. Pedagogi aktifDeweyan baru muncul lewat pengalaman sekolah Mangunan tahun 1990-an.Kebiasaan berpikir kritis melalui pendasaran logika yang kuat dalam setiap argumentasi jugabelum menjadi habitus. Guru hanya mengajarkan apa yang harus dihapalkan. Merekamembuat anak didik menjadi beo yang dalam setiap ujian cuma mengulang apa yangdikatakan guru.Loncatan sejarahApakah mungkin sebuah loncatan sejarah dapat terjadi dalam tradisi pendidikan kita?Mungkinkah pendidikan karakter diterapkan di Indonesia tanpa melewati tahap-tahappositivisme dan naturalisme lebih dahulu?Pendidikan karakter yang digagas Foerster tidak menghapus pentingnya peran metodologieksperimental maupun relevansi pedagogi naturalis Rousseauian yang merayakan spontanitasdalam pendidikan anak-anak. Yang ingin ditebas arus ”idealisme” pendidikan adalahdeterminisme dan naturalisme yang mendasari paham mereka tentang manusia.Bertentangan dengan determinisme, melalui pendidikan karakter manusia mempercayakandirinya pada dunia nilai (bildung). Sebab, nilai merupakan kekuatan penggerak perubahansejarah. Kemampuan membentuk diri dan mengaktualisasikan nilai-nilai etis merupakan cirihakiki manusia. Karena itu, mereka mampu menjadi agen perubahan sejarah.Jika nilai merupakan motor penggerak sejarah, aktualisasi atasnya akan merupakan sebuahpergulatan dinamis terus-menerus. Manusia, apa pun kultur yang melingkupinya, tetap agenbagi perjalanan sejarahnya sendiri. Karena itu, loncatan sejarah masih bisa terjadi di negerikita. Pendidikan karakter masih memiliki tempat bagi optimisme idealis pendidikan di negerikita, terlebih karena bangsa kita kaya akan tradisi religius dan budaya.Manusia yang memiliki religiusitas kuat akan semakin termotivasi untuk menjadi agenperubahan dalam masyarakat, bertanggung jawab atas penghargaan hidup orang lain danmampu berbagi nilai-nilai kerohanian bersama yang mengatasi keterbatasan eksistensi naturalmanusia yang mudah tercabik oleh berbagai macam konflik yang tak jarang malahmengatasnamakan religiusitas itu sendiri.
  5. 5. Di tengah kebangkrutan moral bangsa, maraknya tindak kekerasan, inkoherensi politisi atasretorika politik, dan perilaku keseharian, pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-religius menjadi relevan untuk diterapkan.Pendidikan karakter ala Foerster yang berkembang pada awal abad ke-19 merupakanperjalanan panjang pemikiran umat manusia untuk mendudukkan kembali idealismekemanusiaan yang lama hilang ditelan arus positivisme. Karena itu, pendidikan karakter tetapmengandaikan pedagogi yang kental dengan rigorisme ilmiah dan sarat muatanpuerocentrisme yang menghargai aktivitas manusia.Tradisi pendidikan di Indonesia tampaknya belum matang untuk memeluk pendidikankarakter sebagai kinerja budaya dan religius dalam kehidupan bermasyarakat. Pedagogi aktifDeweyan baru muncul lewat pengalaman sekolah Mangunan tahun 1990-an.Kebiasaan berpikir kritis melalui pendasaran logika yang kuat dalam setiap argumentasi jugabelum menjadi habitus. Guru hanya mengajarkan apa yang harus dihapalkan. Merekamembuat anak didik menjadi beo yang dalam setiap ujian cuma mengulang apa yangdikatakan guru.Terdapat sembilan pilar karakter nilai-nilai luhur universal yang ditanamkan kepada anaksejak dini usia prasekolah. Pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaaan-Nya; Kedua,kemandirian dan tanggungjawab; Ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; Keempat, hormatdan santun; Kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama;Keenam, percaya diri dan pekerja keras; Ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; Kedelapan,baik dan rendah hati, dan; Kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.Kesembilan pilar karakter diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistikmenggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing thegood bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing thegood harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintaikebajikan menjadi engine yang selalu bekerja membuat orang mau selalu berbuat sesuatukebaikan. Orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilakukebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan acting the good berubah menjadikebiasaan.
  6. 6. Penanaman Pendidikan Karakter di SMA Negeri 1 Kembang Awalnya, model pendidikan karakter dikembangkan untuk anak-anak usia diniseperti TK atau pra sekolah. Pembangunan karakter di usia itu memang sangat menentukan.Pembentukan otak di usia itu biasanya mencapai 90 persen. Sayangnya, data pemerintahmenyebutkan, hanya 15 persen dari 12,23 juta anak usia dini yang bisa bersekolah di TKRumusan karakter tak hanya diaplikasikan dalam metode pengajaran, tapi juga kurikulumdan diintegrasikan dalam satuan pelajaran. Nah bagaimana penerapan pendidikan karakteryang dapat dilakukan di SMA Negeri 1 Kembang ? Seiring dengan MISI SMA yaitu menjadikan SMA Negeri 1 Kembang sebagaiLembaga Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) yang Profesional dan Mandiri DalamMewujudkan Lulusan yang Kompeten, Berdedikasi, kasih sayang, peduli dan berakhlakmulia, maka berikut ini adalah budaya- budaya yang telah dan akan dilakukan di SMANegeri 1 Kembang dalam membangun karakter siswa.1. Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Setiap akhir tahun ajaran , setiap sekolah membuka Penerimaan Siswa Baru ,demikian juga dengan SMKN 36 Jakarta. Namun ada hal lain yang diungkap disini berkaitan dengan pembangunan karakter yang dilakukan di SMKN 36 Jakarta. Yaitu pada saat mendaftar anak harus berani masuk mendaftar sendiri tanpa didampingi orang tuanya. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan karakter kemandirian dan kebaranian siswa.2. MOS
  7. 7. Masa Orientasi Siswa (MOS) dilakukan pada awal tahun ajaran baru setelah pelaksanaan Penerimaan Siswa Baru . Kegiatan MOS bertujuan untuk memperkenalkan siswa baru pada lingkungan baru agar dapat beradaptasi , membentuk sikap dan karakter yang dibutuhkan oleh sekolah maupun industry , memupuk sikap kreativitas dan semangat berkarya, serta menumbuhkan sikap dan karakter kepemimpinan.3. Pelatihan Baris Berbaris Adapun tujuannya, yaitu dapat menanamkan rasa nasionalisme, rasa persatuan dan kesatuan dikalangan generasi muda, dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang pemuda, serta dapat memupuk jiwa generasi muda yang tangguh dan meningkatkan animo pelajar dalam hal baris-berbaris.4. Latihan Dasar Kepemimpinan Sekolah (LDKS)
  8. 8. Sekolah merupakan salah satu sarana yang tepat untuk membangun system pengkaderan yang terpadu. Lingkungan sekolah dalam konteks wawasan wiyata mandala merupakan lingkungan yang kondusif untuk membentuk kader-kader pemimpin bangssa dimasa depan. Lewat pembelajaran kontektual yang sedang digalakkan , pendidikan politik secara konseptual akan terasa sangat signifikan. Pemehaman dasar politik, organisasi dan kepemimpinan dikalanga siswa perlu ditanamkan sejak dini. Hal itu penting dilakukan mengingat siswa merupakan generasi muda yang menjadi tumpuan dan harapan bangsa dimasa depan.5. OSIS OSIS merupakan satu-satunya wadah untuk menampung dan menyalurkan kreativitas baik melalui kegiatan kokurikuler maupun ekstrakurikuler dalam menunjang tercapainya keberhasilan kegiata kurikuler bertujuan meningkatkan peran serta inisiatif siswa untuk:  Mempertebal ketaqwaan tehadap Tuhan Yang Maha Esa;  Menjaga dan menciptakan sekolah sebagai Wiyatamandala (lingkungan pendidikan)agar terhindar dari usaha dan pengaruh yang bertentangan dengan tujuan pendidkan nasional sehingga terciptanya suasana kehidupan belajar mengajar yang efektif dan efisien, serta tertanamnya rasa hormat dan cinta terhadap orang tua, guru, dan almamater dikalangan siswa.  Menumbuhkan daya tangkal pada diri siswa, agar menjujung tinggi kebudayaan nasional dan mampu menjaring pengaruh kebudayaan yang datang dari luar yang bertentangan dengan kepribadian Indonesia.  Meningkatkan persepsi, apresiasi, dan kreasi seni dalam rangka tercapainya keselarasan, dan keseimbangan antara kehidupan lahiriah dan kepuasan batiniah serta menumbuhkan rasa indah dan halus sebagai dasar pembentukan kepribadian dan budi pekerti luhur.  Menumbuhkan dan membina sikap berbangsa dan bernegara.  Meneruskan dan mengembangkan semangat, serta nilai-nilai 45; dan  Meningkatkan kesegaran jasmani dan daya kreasi guna tercapainya keseimbangan antara pertumbuhan jasmani dan rohani.Ge an bakat dan kema6. Apel Pagi . Saat pelaksanaan apel pagi , para Pembina secara bergiliran tampil sebagai pemimpin apel dapat menyampaikan pengarahan khusus. Hal-hal yang diarahkan kepada siswa,
  9. 9. umumnya mengenai disiplin, etika, dan akademik. Dapat pula menyampaikan pengumuman penting secara lisan yang menyangkut perencanaan dan persiapan kegiatan sekolah. Seringkali para Pembina perlu mengulang kembali apa maksud dan tujuan pentingnya dilaksanakannya apel pagi, dalam menggalang kebersamaan dan menegakkan disiplin. Apel yang dilakukan secara rutin, merupakan salah satu cara pembentukan karakter penegakan disiplin siswa, disamping perlu didukung mekanisme penertiban administrasi.7. Upacara Bendera Upacara bendera biasa dialakukan pada hari Senin, dan hari-hari besar Nasional. Upacara sebenarnya juga bagian dari interaksi edukatif dan instrument/alat yang cukup efektif untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai karakter tertentu mengaktualkan potensi- potensi peserta didik. Nilai-nilai tersebut diantaranya :  Potensi Kepemimpinan Setiap siswa secara bergilir diberi kesempatan untuk tampil memimpin upacara. Sebagai pemimpin upacara dituntut untuk melakukan aba-aba/tindakan-tindakan tertentu, dalam satu tahun ajaran seorang siswa dapat memperoleh 2 – 3 kali memimpim teman-temannya  Tertib Sosial Normatif lmperatif Ada aba-aba dan tata cara yang baku yang memimpin maupun yang dipimpin. Ketika seseorang berperan memimpin harus bisa memainkan peran sesuai posisinya. Begitu juga yang berposisi yang dipimpin. Dari sini diharapkan tumbuh kesadaran bahwa pada setiap kelompok sosial demi tertib sosial terdapat aturan-aturan/norma-norma
  10. 10. yang bersifat imperative/memaksa sebagai konsekuensi seseorang memasuki suatu kelompok sosial. Rasa Percaya Diri Pengalaman membuktikan sebagian siswa masih mengalami demam tampil/ndredeg ketika harus tampil memimpin. Namun, umumnya hilang ketika giliran kedua atau seterusnya. Kebersamaan/Jiwa Korsa/Esprit de Carps Dalam posisi upacara, untuk melanjutkan ke gerakan/aba-aba berikutnya ditempuh jika aba-aba/perintah sebelumnya telah sepenuhnya dilaksanakan. Manakala ada satu/ sebagian siswa lalai/tidak mematuhi aba-aba, maka “tersanderalah” seluruhnya. Melalui pembiasaan yang demikian, diharapkan tumbuh kesadaran akan kebersamaan. Diri seseorang adalah bagian dari kelompok-(nya). Tanggungjawab Ada sejumlah hal yang harus dilaporkan seperti jumlah, kurang, hadir, dan keterangan masing-masing yang berhalangan hadir. Pemimpin harus secara akurat melaporkannya kepada guru. Yang demikian dimaksudkan untuk menumbuh- kembangkan sikap koreksi dan tanggungjawab Tenggang Rasa Sekali lagi pengalaman membuktikan meski seseorang sebelumnya sudah mempersiapkan diri namun ketika tampil memimpin acapkali masih melakukan kekeliruan. Temyata berperan sebagai pemimpin tak semudah yang menerima/melaksanakan aba-aba. Pengalaman-pengalaman seperti ini akan menumbuh-kembangkan kesadaran tenggang rasa. Loyalitas Kritis Berjiwa Merdeka Ketika sang pemimpin melakukan kesalahan (misal : dalam memberi aba-aba, laporan, gerakan tertentu) maka anak buah (teman-teman sekelasnya) yang dalam posisi dipimpin wajib memberikan koreksi dengan ucapan “ulangi” pernyataan korektif tersebut dilakukan sebanyak kesalahan yang dilakukan pemimpin dan baru tidak dilakukan lagi manakala sudah benar. Dari tradisi yang demikian diharapkan tertanam kesadaran sikap loyal sekaligus kritis bukan mentalitas “yes man” atau loyalitas tanpa reserves. Anak buah dan/atau staf yang loyal adalah yang bisa mendukung sekaligus mengingatkan/mengoreksi. Loyalitas yang benar adalah loyalitas kepada person/pribadi orang yang kebetulan menjabat. Kepatuhan yang sehat dan rasional adalah kepatuhan bersyarat yaitu selama
  11. 11. perintah/kebijakan pimpinan tidak keluar dan merusak misi organisasi dan secara hakiki bisa dipertanggungjawabkan secara horisontal (kepada sesama manusia) maupun vertikal (kepada Tuhan). Karena itu kita juga harus bisa membedakan wilayah kedinasan/wilayah publik dengan wilayah privat/pribadi. Jika ini terwujud maka tidak hanya oleh negara secara formal melainkan juga secara riil dimiliki setiap masyarakat. Setiap warga negara dalam kondisi seperti ini secara teoritik kesalahan-kesalahan kolektif dapat dihindarkan, baik dalam konteks organisasi yang kecil maupun besar (negara).8. Tadarusan sebelum KBM Tadarusan yang dilakukan siswa setiap pagi di sekolah, memiliki tujuan untuk membentuk karakter siswa yang bertaqwa kepada Allah SWT, dan menjadikannya memiliki hati yang lembut, mudah menerima nasehat kebaikan serta tidak mudah terpancing emosi yang berakibat pada tawuran pelajar.9. Mengidupkan Ekstra kurikuler Ekstrakurikuler adalah kegiatan non akademik yang memberi wadah /kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kreatifitasnya sesuai dengan bakat dan minatnya masing-masing (ada sekitar 34 jenis ekskul yang terangkum dalam buku panduan ekskul), dan Sport and Art yaitu kegiatan seni dan olahraga. Kegiatan Pramuka, Paskibraka dan kegiatan ekstra kurikuler lainnya yang menumbuhkan kecintaan kepada bangsa merupakan pendidikan budaya dan karakter bangsa yang selama ini telah diimplementasikan dan menjadi sesuatu kesatuan dari
  12. 12. kurikulum pendidikan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. "Pendidikan budaya dan karakter bangsa ini cenderung pada implementasi, harus dipraktekkan sehingga titik beratnya bukan pada teori. Karena itu, pendidikan ini seperti "hidden curiculum", mengungkapkan bahwa nilai-nilai terkait dengan pendidikan budaya dan karakter bangsa sudah ada sejak lama. "Kebiasaan mengucapkan salam kepada guru saat datang dan pulang dari sekolah, mengucapkan doa sebelum memulai pelajaran, atau kegiatan yang menumbuhkan kecintaan kepada bangsa seperti Pramuka, kegiatan Paskibra dan lain- lain," katanya. Oleh karena itu kegiatan yang menumbuh kembangkan pendidikan budaya dan karakter bangsa seperti pramuka, usaha kesehatan sekolah (UKS) dan ektrakurikuler lainnya seperti menari, musik angklung dan lainnya harus dihidupkan lagi di sekolah-sekolah. Soal implementasinya yang mulai mengendur bisa saja terjadi, tetapi masih banyak sekolah-sekolah yang mampu memadukan antara kegiatan belajar mengajar dengan implementasi dalam kehidupan sosial sehari-hari di sekolah.10. Senam Kesegaran Jasmani Olah raga senam tiap hari jumat dapat dimanfaatkan selain untuk berolah raga mencari kebugaran, juga bisa dimanfaatkan untuk sosialisasi atau silaturahmi antar murid, guru dan karyawan. Sehingga dapat bertukar fikiran/tukar pengalaman, dan yang lebih penting lagi yaitu untuk melepaskan kepenatan, karena dengan berolahraga dialam terbuka kita dapat menghirup udara segar sehingga dapat menghilangkan rasa jenuh atau strees dan bahkan bisa bersorak dan berteriak dengan lepas.
  13. 13. 11. Apresiasif Konstruktif Beberapa kebiasaan atau budaya yang perlu ditumbuh kembangkan di antaranya adalah budaya apresiasif konstruktif. Siapa pun yang dapat memberikan kontribusi positif di lingkungannya perlu diberikan apresiasi. Semisal peserta didik yang mendapat rangking 1 di kelasnya diberikan beasiswa selama 3 bulan, demikian juga untuk para peserta didik yang menang dalam lomba baik di tingkat Kota Madya, Propinsi, dan Nasional di berikan apresiasi yang sesuai. Kebiasaan memberikan apresiasi itu akan membangun lingkungan untuk tumbuh suburnya orang berprestasi. Kalau lingkungan sendiri tidak mendukung seseorang berprestasi maka nanti akan terus menerus negatif.12. Objektif Komprehensif, Yakni dengan mentradisikan, bahwa melihat segala sesuatu secara utuh menyeluruh. Selanjutnya, menumbuhkan rasa penasaran intelektual (intellectual curiosity) dan kesediaan untuk belajar dari orang lain. Tidak perlu gengsi untuk belajar ke yang lebih muda misalnya jika menemui suatu persoalan. Tidak perlu malu bertanya, malu bertanya sesat di jalan.13. Menghidupkan Kembali Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Di sekolah justru yang penting adalah bagaimana memasukkannya dalam proses belajar mengajar bukan semata meningkatkan kegiatan ekstrakulikuler. "Hal ini bisa terjadi jika guru menyadari dirinya bukan sekedar mengajar tetapi mendidik sehingga ketika
  14. 14. mengajar mata pelajaran apapun dia akan mengkaitkannya dengan pendidikan karakter. Misalnya, ulangan tidak boleh nyontek, harus jujur pada diri sendiri dan mampu mengukur kemampuan. Peran guru adalah untuk mengingatkan murid tentang semua hal itu sangat penting. Menurut dia, sejak masih dibangku kuliah, para calon guru seharusnya sudah menguasai pendidikan budaya dan karakter bangsa ini sehingga mereka menyadari bahwa tugasnya mengajar adalah mendidik anak untuk menjadi akhlak mulia bukan sekedar mengajar.14. Peran Guru Untuk menuju akhlak mulia dan hal itu bisa diterapkan secara menyeluruh dalam setiap mata pelajaran, bukan menjadi pendidikan yang terpisah. "Dengan demikian implementasinya tidak perlu ada modul karena guru harus melakukan pendekatan yang strategis bagaimana mengelola kelas, berkomunikasi dengan baik pada anak didik, mengembangkan kepribadian anak dengan baik. "UU Sisdiknas sudah mengamanatkan bahwa pendidikan itu agar anak memiliki akhlak mulia jadi berarti dalam hal syarat kelulusanpun menentukan. Anak yang tidak memiliki akhlak mulia, meskipun pinter jangan dibiarkan lulus. "Guru dan siswa harus paham bahwa kejujuran, kedisiplinan, ketekunan, toleransi adalah kendaraan . DAFTAR PUSTAKAAce, S. 1995. Keterkaitan dan Kesepadanan Antara Struktur Pendidikan Dengan Struktur Tenaga Kerja Terdidik. Kajian Dikbud No. 002 . Balitbang Dikbud.Aqip, Z. 2007.Profesionalisme Guru dan Pengawas Sekolah. Yrama Widya.Christine Fald. Rumah, Sekolah Unggulan Karakter Pemimpin.2007. Majalah Nebula.Jakarta.Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Kurikulum SMK Edisi 2004. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan. 2004.Departemen Pendidikan Nasional. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SMKN 36 Jakarta, Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Propinsi DKI Jakarta.
  15. 15. Hilda Sabri Sulistyo, 2010. Membangun Karakter dan Budaya di Sekolah. Harian Bisnis Indonesia. Jakarta.Ratna Megawangi. 2008. Pendidikan Karakter. http//www. JakartaSiti Juwairiyah, 2007. Makalah Penerapan Metode Belajar Aktif Sebagai Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Kelas 6 SD, Probolinggo.Sonhadji Kh, A. 2000. Alternatif Penyempurnaan Pembaharuan Penyelenggaraan Pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan. Makalah disajikan pada: Studi Tentang Pengkajian Pendidikan Kejuruan dan Teknologi, pada tanggal 23 Oktober 2000 di Jakarta, Departemen Pendidikan Nasional, Badan Penelitian dan Pengembangan, Pusat Penelitian Kebijakan.Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003. 2005 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) . Bandung: CV Nuansa Mulia.

×