Your SlideShare is downloading. ×
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
GUIDANCE AND COUNSELING
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

GUIDANCE AND COUNSELING

3,804

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
3,804
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
110
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. GUIDANCEANDCOUNSELING  Disusun Oleh :  Drs. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si (Penanggung Jawab Keilmuan)  Drs. H. Suismanto, M. Ag.
  • 2. KOMPETENSI Mahasiswa memahami bimbingan dan konseling di sekolah/Madrasah (BKS/M) sebagai bagian dari profesi keguruan dan Memiliki pengetahuan dan ketrampilan dasar melaksanakan konseling individu
  • 3. INDIKATOR1. Mampu menjelaskan BKS/M2. Mampu menjelaskan dan mempraktekkan dasar-dasar konseling3. Mengalami perubahan sikap/perilaku/nilai-nilai tentang bks dan kemampuan problem solving
  • 4. MATERI POKOK (I)1. Pengantar: Pengertian Bimbingan dan konseling, Relevansi dan Peran BK dalam Pendidikan2. Fungsi dan Tujuan BKS/M3. Prinsip dan Asas BKS/M4. Pola Umum BKS (Pola 17)5. Pengelolaan BKS/M6. Permasalahan dalam BKS/M
  • 5. MATERI POKOK (II)1. Hubungan dan Proses Konseling2. Kualifikasi Konselor3. Karakteristik Konseli/Klien4. Pemahaman dan Penyikapan Terhadap Kasus (Studi Kasus)5. Teknik konseling6. Teori/Pendekatan Konseling: Psikoanalisa, Behavioral, Client- Centered, REBT dan Islam
  • 6. REFERENSIDewa Ketut Sukardi. 2000. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta. Bab I – V, VIIIGladding, Samuel T. 2000. Counseling: A Comprehensive Profession. Upper Saddle River New Jersey: Prentice Hall, Inc.Hallen, A. 2005. Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Quantum Teaching. Bab I – VIHamdani Bakran Adz-Dzaky. Konseling dan Psikoterapi Islam. 2004. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru. Bab II, IV, VI, VIILatipun. 2001. Psikologi Konseling. Malang: UMM Press. Bab IV – VIISofyan S. Wilis. 2004. Konseling Individual. Teori dan Praktek. Bandung: Alfabeta. Bab II, IV, V, VIII….
  • 7. EVALUASI1. ujian akhir = 302. ujian mid semester = 253. tugas-tugas = 254. Sikap, kehadiran dan tampilan = 20------------------------------------------------ + 100
  • 8. TIME LINE (I)NO PERTEMUAN MATERI1. Ke – 1 Pengantar2. Ke – 2 Fungsi , Tujuan, Prinsip dan Asas BK3. Ke – 3 Pola Umum BKS/M (Pola 17)4. Ke – 4 Pola Umum BKS/M & Pengelolaan BKS/M5. Ke – 5 Pengelolaan BKS/M6. Ke – 6 Permasalahan BKS/M7. Ke – 7 UTS
  • 9. TIME LINE (II)NO PERTEMUAN MATERI8. Ke – 8 Hubungan dan Proses Konseling9. Ke – 9 Kualitas Konselor10. Ke –10 Karakteristik Klien11. Ke -- 11 Studi Kasus Siswa11. Ke – 12 Teknik – Teknik Konseling12. Ke – 13 Pendekatan Psikoanalisa, Behavioral & Client Centered13. Ke – 14 Pendekatan Client-Centered, REBT, Islam
  • 10. PETA KONSEP BK BK WAWASAN BK DI SEKOLAH DASAR- DASAR KONSELING Fungsi dan Tujuan Hubungan dan Proses Konseling Prinsip dan Asas Kualitas Konselor Pola Umum BK Karakteristik Klien Pengelolaan BK Teknik- Teknik Konseling Permasalahan BK Teori / Pendekatan Konseling
  • 11. BIMBINGAN DAN KONSELING PENGANTAR
  • 12. PENGERTIAN BIMBINGAN DAN KONSELING Pada awalnya dikenal dengan istilah bimbingan dan penyuluhan yang merupakan terjemahan dari guidance and counseling Oleh Tatang Mahmud th 1953 Selanjutnya istilah penyuluhan banyak dipakai di bidang lain yang cenderung diartikan sebagai pemberian informasi atau penerangan, ceramah, pemutaran film Prof. Dr. H. Tohari Musnamar : Wawanwuruk. Sehingga kembali ke istilah asli: bimb & konseling
  • 13. BIMBINGAN Terjemahan dari “guidance” dari kk “to guide” : menunjukkan, membimbing, menuntun atau membantu  secara umum bimbingan adalah suatu bantuan atau tuntunan suatu proses yang berkesinambungan dan sistematis untuk membantu individu mengembangkan kemampuan dan potensi dirinya sehingga mencapai perkembangan yang optimal dan mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan secara layak
  • 14. Pengertian Bimbingan Proses pemberian bantuan kepada seseorang atau sekelompok orang secara terus-menerus dan sistematis oleh guru pembimbing (konselor) agar individu atau sekelompok individu menjadi pribadi yang mandiri. Kemandirian mencakup pada lima fungsi pokok yang hendaknya dijalankan oleh pribadi yang mandiri.
  • 15. Lanjutan Kelima fungsi pokok itu ialah : (1) mengenal diri sendiri dan lingkungannya sebagaimana adanya, (2) menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis, (3) mengambil keputusan, (4) mengarahkan diri sendiri, (5) mewujudkan diri sendiri
  • 16. Pengertian Bimbingan B = Bantuan I = Individu M = Mandiri B = Bahan I = Interaksi N = Nasihat G = Gagasan A = Asuhan N = Norma
  • 17.  Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu agar individu itu mandiri, dengan mempergunakan berbagai bahan, interaksi, nasehat dan gagasan, dalam suasana asuhan, dan berdasarkan norma-norma yang berlaku
  • 18. KONSELING Dari kata “to counsel”: memberi saran atau nasihat Selalu dirangkaikan dengan istilah bimbingan  bimb dan kons merupakan kegiatan integral; konseling sebagai salah satu teknik bimbingan Adalah hubungan membantu yang spesifik antara konselor dan klien/konseli dalam rangka pemecahan masalah klien sehingga tercapai perubahan perilaku menjadi lebih baik
  • 19. Pengertian Konseling K = kontak O = orang N = meNangani S = maSalah E = expert (ahli) L = laras I = integrasi N = norma G= Guna
  • 20.  M. Shaleh dan arya S tempat orang menyelesaikan masalah untuk mencapai perubahan perilaku yang lebih baik
  • 21.  Konseling adalah kontak antara dua orang (konselor dan klien) untuk menangani masalah klien, dalam suasana keahlian yang laras dan terintegrasi, berdasarkan norma-norma yang berlaku, untuk tujuan-tujuan bagi klien
  • 22. Pengertian Penyuluhan P = pertemuan E = empat mata N = klien Y = penyuluh U = usaha L = laras (selaras, serasi dan seimbang) U = unik H = human (manusiawi) A = ahli N = norma
  • 23.  Penyuluhan adalah pertemuan empat mata antara klien dan penyuluh yang sedang menempuh usaha, dengan cara yang laras, unik dan manusiawi, yang bersifat keahlian, berdasarkan norma- norma yang berlaku
  • 24. PSIKOTERAPI Berhubungan dengan masalah – masalah berat: konflik, pengalaman- pengalaman traumatis masa lalu Bertujuan untuk rekonstruksi kepribadian Jangka panjang Inpatient dan outpatient setting Sifat hubungan: superior dan demokratis
  • 25. RELEVANSI BK (I) A. FAKTOR PERKEMBANGAN PENDIDIKAN – Demokratisasi pendidikan menyebabkan sekolah menjadi heterogen sehingga memungkinkan timbulnya kesulitan penyesuaian diri  well adjusted >< mal adjusted – Perubahan sistem pendidikan dalam berbagai komponennya menuntut kemampuan penyesuaian diri yang tinggi – Perluasan program pendidikan secara vertikal: terbuka kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, horisontal: banyak jurusan dan internal:meningkatnya kesukaran hidup
  • 26.  Career day : Hari Karir
  • 27. RELEVANSI BK (III)C. FAKTOR PSIKOLOGIS SISWA  Siswa adalah individu yang masih dalam tahap perkembangan menuju kedewasaan  adanya individual differences yang tidak semua bisa diakomodir dalam proses pembelajaran di kelas
  • 28. MENGAPA MHS KI PERLU MEMPELAJARI BK ? Sebagai calon guru  tugas guru tidak hanya sebagai pengajar tapi juga pendidik yang harus memberikan teladan dan bimbingan kepada siswa Untuk melaksanakan hal tersebut agar hasilnya optimal perlu kerja sama dengan pihak lain yang kompeten  BK adalah salah satunya Dalam struk org BKS guru mata pelajaran merupakan salah satu personel dalam pengelolaan BK Guru KI harus bisa jadi guru favorit yaitu bisa jadi 3 T: Teladan, Teman, Tempat Curhat  kemampuan konseling akan sangat membantu
  • 29. PERAN /KEDUDUKAN BKPendidikan meliputi 3 bidang kegiatan: Bidang administrasi & supervisi Bidang instruksional / akademik Pembinaan pribadi BK mensupport bidang pembinaan pribadi
  • 30. TUJUAN BK Dalam rangka menemukan pribadi Mengenal lingkungan Merencanakan masa depan
  • 31. FUNGSI BK1. Fungsi Pemahaman diri sendiri, lingkungan mikro dan makro2. Fungsi Pencegahan Terhindar dari masalah/penyimpangan perilaku3. Fungsi Pengentasan membantu problem solving siswa4. Fungsi Pemeliharaan dan Pengembangan menjaga kondisi yang positif dan mengembangkan potensi diri
  • 32.  SENSE OF DIRECTION SADAR ARAH UNDERSTANDING PEMAHAMAN DIRI/LINGKUNGAN COURAGE TABAH CHARITY  MURAH HATI/PEMAAAF ESTEEM PRIDE/ SELF CONFIDENCE SELF ACCEPTANCE
  • 33.  FRUSTASSION AGRESSION INCERTAINITYI LONELESSURE
  • 34. Bimbingan dan KonselingSekolahPRINSIP DAN ASASPrinsip: seperangkat landasanpraktis atau aturan mainAsas:dasar pertimbangan
  • 35. PRINSIP-PRINSIP Penting untuk menghindari malpraktek BK Terdiri dari prinsip umum dan khusus Prinsip-prinsip umum: 1. Ingat tingkah laku didasari oleh kepribadian yang kompleks dan unik 2. Kenali perbedaan individu 3. Fokus pada individu 4. Rujuk pada yang kompeten jika tak mampu 5. Mulailah dengan need assesment
  • 36. Prinsip-Prinsip Umum(lanjutan)6. Fleksibel sesuai kebutuhan7. Sejalan dengan program pendidikan di sekolah ybs8. Dipimpin oleh ahli, mampu kerjasama dan resourceful9. Evaluasi rutin
  • 37. Prinsip-Prinsip KhususMencakup prinsip yang berkenaan dengan: sasaran layanan, permasalahan individu, program layanan pelaksanaan pelayanan
  • 38. • Sasaran layanan:1. BK for all2. Berurusan dengan keunikan dan kedinamisan individu3. Perhatian terhadap tahap dan aspek perkembangan individu4. Fokus utama pada perbedaan individu
  • 39. • Permasalahan individu1. Berurusan dengan pengaruh imbal balik antara kondisi psikologis dan lingkungan2. Fokus pada faktor penyebab masalah, yaitu sosial, ekonomi dan budaya
  • 40. • Program layanan1. Integratif2. Fleksibel3. Berkelanjutan4. Evaluasi rutin dan terarah
  • 41. • Pelaksanaan layanan1. Mengarah pada kemandirian individu2. Pengambilan keputusan yang independen3. Penanganan secara profesional4. Kerjasama penting5. Pengembangan berdasar evaluasi
  • 42. Asas – Asas BK1. Rahasia: just 4 me2. Suka rela: bagi siswa mau datang sendiri, bagi petugas sebagai panggilan jiwa3. Terbuka: dalam mengemukakan masalah4. Here & now: apa yang harus dilakukan sekarang agar masalah teratasi / dapat dicegah5. Mandiri: siswa mampu mengarahkan diri sendiri, tidak tergantung pada orang lain
  • 43. Asas – Asas BK (lanjutan)6. Kegiatan: ada upaya-upaya yang harus dilakukan siswa secara nyata7. Dinamis: ada perubahan yang lebih baik8. Terpadu: pada diri siswa dan pada isi dan proses layanan yang diberikan9. Normatif: sesuai dengan norma-norma yang berlaku10. Keahlian: layanan secara teratur, sistematik, dengan teknik dan alat yang layak serta oleh petugas yang mendapat diklat yang memadai.
  • 44. Asas – Asas BK (lanjutan)11. Alih tangan: petugas BK bukan dukun!!!12. Tut wuri handayani: iklim yang harus tercipta di lingkungan sekolah, tidak hanya dirasakan ketika punya masalah / menghadap pembimbing ---
  • 45. POLA UMUM BK Dikenal dengan nama Pola 17 Mencakup bidang bimbingan, jenis layanan dan kegiatan pendukung
  • 46. BIDANG BIMBINGAN Sosial Pribadi Karir Belajar
  • 47. Bidang Bimbingan Pribadi Religius Mengenal jati diri Mandiri Gaya hidup sehat
  • 48. Orientasi Permasalahan Kelompok Permasalahan (Roos L. Mooney) 330 masalah  11 kel. mas. Perkembangan jasmani dan kesehatan PJK Keuangan, keadaan lingk & pekerjaan KLP Kegiatan Sosial dan rekreasi KSR Hub muda-mudi, pacaran & perkawinan HPP Hubungan sosial kejiwaan HSK Hubungan pribadi kejiwaan HPK Moral dan agama MDA Keadaan rumah dan keluarga KRK Masa depan pendidikan dan pekerjaan MPP Penyesuaian thd tugas-tugas sekolah PTS Kurikulum sekolah dan prosed pengajrn KPP
  • 49. Bidang Bimbingan Sosial Kemampuan berkomunikasi efektif Interaksi sosial secara etis Hubungan sehat dengan teman sebaya Kemampuan memenuhi tuntutan luar secara dinamis dan bertanggunggjawab Orientasi hidup berkeluarga
  • 50.  Peer group (teman sebaya) Play group (teman bermain) Sahabat karib (qorib) Klik
  • 51. Angket kelompok belajar Azhar afandi  shaleh alasan M.Shaleh  anang alasan sering ketemu Anang  masrurah alasan rajin ehem Masrurah  ani alasan sak kos Ani  atien alasan rasa cantik
  • 52.  Gitik lurah Pasemon mantri Esem bupati Sasmitaning narendra
  • 53. Bimbingan belajar Belajar yang efektif Hambatan-hambatan dalam belajar faktor yang mempengaruhi belajar Internal fsik, psikologis Eksternal motivasi eksternal
  • 54. Bidang Bimbingan Karir Dunia kerja dan usaha memperoleh penghasilan Kecenderungan dan perencanaan karir Informasi seluk beluk pekerjaan Sikap positif dan obyektif terhadap pilihan karir
  • 55.  Khodijah BK untuk guru/tu Konperensi Kasus (Case conference) Motivasi intrinsik (lebih bagus
  • 56. Alasan pilihan Jurusan/pertimbangan apa yang dipakai IQ Minat Pelajaran disukai Prestasi Ikut-ikutan Tuntutan ortu
  • 57. JENIS – JENIS LAYANAN Layanan orientasi Layanan informasi Layanan penempatan dan penyaluran Layanan belajar Layanan konseling individu Layanan konseling kelompok Layanan bimbingan kelompok
  • 58. Layanan Orientasi Memahami lingkungan baru Untuk siswa baru dan ortu/wali siswa Hasil: siswa mudah menyesuaikan diri, ortu /wali paham sikon sekolah Fungsi pemahaman dan pencegahan Materi: sekolah dan fasilitasnya, peraturan sekolah, hak dan kewajiban siswa, organisasi siswa, akademik, BK
  • 59. Layanan Penempatan danPenyaluran Memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat Kelas, kelompok belajar, jurusan/prodi, dan lain-lain Fungsi pencegahan dan pemeliharaan Materi: penempatan kelas, jurusan/prodi, ekskul, kelompok sebaya serta kelompok-kelompok dan program khusus lainnya.
  • 60. Layanan Konseling Individu Tatap muka untuk problem solving Fungsi: pengentasan Materi: seluruh masalah siswa dari ke empat bidang bimbingan
  • 61. Layanan Konseling Kelompok Problem solving melalui dinamika kelompok Fungsi pengentasan Tujuan: melatih bicara di depan orang banyak, toleransi, pengembangan bakat dan minat, problem solving kelompok. Materi: masalah masing-masing anggota kelompok
  • 62. Layanan Informasi Siswa dan significant others menerima dan memahami informasi Bekal hidup siswa Fungsi pemahaman dan pencegahan Materi: akademik, upaya-upaya pengembangan pribadi, karir dan jabatan, etika
  • 63. Layanan Belajar Pengembangan motivasi, sikap dan kebiasaan belajar yang baik, efektif dan efisien Fungsi pemeliharaan dan pengembangan Materi: identifikasi siswa yang bermasalah dalam belajar, ketrampilan belajar, program remedial dan pengayaan
  • 64. Layanan Bimbingan Kelompok Sejumlah siswa secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari narasumber tertentu sebagai bahan acuan Membahas topik-topik penting sehingga dapat meningkatkan kemampuan interaksi sosial Fungsi pemahaman dan pengembangan
  • 65. KEGIATAN PENDUKUNGMeliputi: Apllikasi instrumentasi BK Himpunan data Konferensi Kasus Kunjungan Rumah Alih tangan kasus
  • 66. Aplikasi Instrumentasi BK Bertujuan untuk mengumpulkan data tentang siswa dan lingkungannya Menggunakan teknik test dan non-test Teknik tes:inteligensi, bakat, prestasi, kepribadian Teknik non-test: angket, observasi, wawancara, sosiometri, dokumentasi.
  • 67. Himpunan Data Kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan untuk pengembangan siswa Diselenggarakan secara sistematis, komprehensif, terpadu dan terjaga keamanannya Berguna untuk lebih memahami siswa ketika memberikan bimbingan dan layanan
  • 68. Konferensi Kasus Membahas masalah siswa dalam forum diskusi dengan pihak-pihak yang terkait Diselenggarakan secara terbatas dan tertutup Untuk menjaring data dan memperoleh alternatif pemecahan masalah Berguna untuk menjalin kerjasama dengan berbagai pihak dalam menangani masalah siswa
  • 69. Kunjungan Rumah Untuk memperoleh data dan membahas masalah siswa melalui kunjungan rumah Butuh kerjasama dengan ortu Data tentang kondisi rumah tangga ortu siswa, fasilitas belajar yang dimiliki, pendapat ortu dan anggota keluarga lain tentang siswa, dan lain-lain
  • 70. Alih Tangan Kasus Pelimpahan penanganan masalah siswa kepada pihak lain Pola: dari petugas BK kepada ahli lain, guru mata pelajaran, wali kelas kepada petugas BK, dari petugas BK ke guru mata pelajaran
  • 71. PERMASALAHANDALAM BKS
  • 72. PENGERTIAN BK BELUMDIKENAL LUASBUKTI-BUKTI: Profesi konselor sekolah belum diakui karena pendidikan dan pengalaman variatif SK pengangkatan sebagai guru bidang studi Sikap Guru dan Kepsek: tidak supportif dan apresiatif
  • 73. MISPERSEPSI TENTANG BK(Rochman Natawijaya, dlm SofyanWillis th 2004): Bimbingan identik dengan pendidikan < > BK adalah alat mencapai tujuan pendidikan BK hanya untuk siswa yang maladjustment < > BK for all!! BK berarti bimbingan vokasional < > BK membantu semua aspek kepribadian siswa
  • 74.  BK adalah usaha memberi nasehat < > memberi kesempatan mencapai pemahaman diri BK menghendaki kepatuhan perilaku < > penyesuaian diri yang baik BK adalah tugas para ahli < > tidak semua tugas bimbingan adalah tugas para ahli
  • 75. AKIBAT MISPERSEPSI Mengecilkan peran BKS shg kurang berminat melaksanakan program dan menambah pengetahuan Jika pendidikan sudah terlaksana dengan baik tidak perlu diadakan BKS Semua guru bisa menjadi konselor sekolah meski tanpa pendidikan khusus
  • 76. Sofyan Willis (2004): Mengutamakan siswa bermasalah, mengabaikan siswa tak bermasalah BK laksana kantor polisi BK adalah keranjang sampah Kurang bisa dikomunikasikan dengan baik kepada rekan sejawat dan kepsek Kurang profesional
  • 77.  Tempat penampungan guru-guru yang kekurangan jam mengajar BK dapat dilakukan siapa saja karena hanya sekedar memberi nasehat, peringatan atau ancaman
  • 78. HUBUNGAN DANPROSESKONSELING
  • 79. Pengertian Konseling
  • 80. Karakteristik Hubungan dalamKonseling Bermakna Afektif Integrasi Pribadi Persetujuan Bersama Kebutuhan Struktur Kerjasama Konselor mudah di dekati, klien merasa aman Perubahan
  • 81. Karakteristik Hubungan dalamKonseling Afektif Intens Ada Pertumbuhan dan Perubahan Menjaga Privasi Supportif Jujur
  • 82. Mengembangkan HubunganKonseling Adalah upaya konselor untuk meningkatkan keterlibatan dan keterbukaan klien Dengan menciptakan rapport: hubungan yang ditandai dengan keharmonisan, kesesuaian, kecocokan dan saling tarik menarik Caranya: empati, terbuka, menerima tanpa syarat, menghormati dan menghargai, mampu membaca komunikasi nonverbal klien, ikhlas, rela dan jujur
  • 83. Yang perlu dipelihara Kehangatan Empati Keterlibatan klien
  • 84. Proses Konseling: 3 Tahap Tahap Awal Tahap pertengahan (Tahap Kerja) Tahap Akhir (Tahap Tindakan)
  • 85. Tahap Awal Membangun hub yang melibatkan klien Memperjelas dan mendefinisikan masalah Membuat penaksiran dan penjajakan Negosiasi kontrak
  • 86. Tahap Pertengahan (Kerja) Penjelajahan masalah klien Memberikan bantuanTujuan:• Eksplorasi masalah, isu dan kepedulian klien lebih jauh• Menjaga agar hub konseling selalu terpelihara• Menjaga agar proses konseling berjalan sesuai kontrak
  • 87. Tahap Akhir (Tindakan)Ditandai beberapa hal: Kecemasan klien menurun Perubahan perilaku dan sikap menjadi lebih positif Adanya rencana hidup yang jelasTujuan: Memutuskan perubahan sikap dan perilaku yang memadai Terjadinya transfer of learning pada diri klien Melaksanakan perubahan perilaku Mengakhiri hub konseling
  • 88. PENANGANAN KASUS SISWA
  • 89. Pengertian Kasus Kesatuan kondisi yang di dalamnya terkandung satu atau sejumlah masalah yang dialami oleh seorang individu (atau kelompok,keluarga,lembaga). Masalah tsb dapat berkenan dengan berbagai aspek perkembangan dan kehidupan individu dalam kaitannya dengan dimensi kemanusiaannya.
  • 90. CIRI-CIRI KASUSTidak disukai adanyaIngin dihilangkan keberadaannyaDapat menimbulkan kerugian dan/atau kesulitanBAGAIMANA PANDANGAN ANDATERHADAP KETIGA CIRI TERSEBUT?
  • 91. MENGHADAPI KASUS PENYIKAPAN PEMAHAMAN PENANGANAN
  • 92. KASUS Seorang siswa SMA kelas III-IPS. Laki-laki menunjukkan gejala jarang masuk sekolah, sering melanggar tata tertib sekolah, dan prestasi belajarnya rendah Siswa tersebut sering membolos,terutama kalau akan menghadapi mata pelajaran matematika. Pada akhir tahun yang lalu siswa tersebut termasuk salah seorang siswa yang dipermasalahkan untuk kenaikan kelasnya. Di rumah siswa tersebut tidak mempunyai tempat belajar sendiri; dia belajar ditempat tidur.
  • 93. Ia banyak membantu kegiatan keluargasehingga seringkali terlambat masuksekolah.Data lain menunjukkan bahwa siswa tersebutadalah anak keenam dari sebelasbersaudara. Tiga orang saudaranya sudahberada di PT, dan salah seorang adiknyajuga di kelas III-IPA di sekolah yang sama.Siswa tersebut sebenarnya kurang berminatterhadap bidang studi IPS. Dalammenyelesaikan salah satu tugas rumahnyapernah terjadi bentrok dengan salah seoranggurunya.
  • 94. PEMAHAMAN KASUSPemahaman yang mendalam untuk mengetahui seluk beluk kasusSuatu kasus seperti gunung es yang terapung di lautanRincian permasalahanSebab-sebabKemungkinan akibat
  • 95. PENANGANAN KASUS Pengenalan awal tentang kasus Pengembangan ide-ide tentang rincian masalah yang terkandung dalam kasus Penjelajahan lebih lanjut tentang segala seluk beluk kasus Mengusahakan upaya-upaya kasus untuk mengatasi atau memecahkan sumber pokok permasalahan
  • 96.  Penanganan kasus dapat dipandang sebagai upaya khusus untuk secara langsung menangani sumber pokok permasalahan Tujuan utama teratasinya atau terpecahkannya permasalahan Pertanyaan pokok “Upaya apakah yang perlu dilakukan agar kasus tersebut dapat diatasi?” Penanganan kasus menghendaki strategi dan teknik-teknik yang sifatnya khas sesuai dengan pokok permasalahan yang akan ditangani.
  • 97. CARA MENGENALI PERMASALAHAN Deskripsi awal kasus Ide-ide tentang rincian permasalahan,kemungkinan sebab dan kemungkinan akibat Upaya dan hasil penjelajahan lebih lanjut terhadap setiap permasalahan yg terkandung pada kasus tersebut Upaya penanganan secara khusus thd permasalahan pokok yg menjadi sumber permasalahan pada umumnya
  • 98. KASUS Seorang siswa SMA kelas III-IPS. Laki-laki menunjukkan gejala jarang masuk sekolah, sering melanggar tata tertib sekolah, dan prestasi belajarnya rendah Siswa tersebut sering membolos,terutama kalau akan menghadapi mata pelajaran matematika. Pada akhir tahun yang lalu siswa tersebut termasuk salah seorang siswa yang dipermasalahkan untuk kenaikan kelasnya. Di rumah siswa tersebut tidak mempunyai tempat belajar sendiri; dia belajar ditempat tidur.
  • 99. Ia banyak membantu kegiatan keluargasehingga seringkali terlambat masuksekolah.Data lain menunjukkan bahwa siswa tersebutadalah anak keenam dari sebelasbersaudara. Tiga orang saudaranya sudahberada di PT, dan salah seorang adiknyajuga di kelas III-IPA di sekolah yang sama.Siswa tersebut sebenarnya kurang berminatterhadap bidang studi IPS. Dalammenyelesaikan salah satu tugas rumahnyapernah terjadi bentrok dengan salah seoranggurunya.
  • 100. PELIBATAN PIHAK DAN SUMBER SERTA UNSUR DALAM PENANGAN KASUS Harus seijin orang yg mengalami masalah Bersifat sukarela dan tidak menimbulkan kerugian bagi pihak,sumber dan unsur lain yg dilibatkan Bermanfaat secara efektif dan efisien Dapat disinkronisasi, dipantau dan dikontrol Sesuai dengan asas-asas BK Peranan masing-masing pihak dijelaskan secara rinci bagi pihak,sumber,unsur maupun orang yang mengalami masalah
  • 101. PENYIKAPAN TERHADAP KASUS Penyikapan secara menyeluruh yang mencakup segenap aspek permasalahan yang ada di dalam kasus dan segenap langkah ataupun pentahapan pada sepanjang proses penanganan kasus secara menyeluruh mulai ------------------------------------ akhir
  • 102. KETERKAITAN KONSELOR SECARA MENYELURUH Penanganan kasus dalam arti umum Pengenalan awal terhadap kasus Pengembangan ide-ide tentang rincian masalah,kemungkinan sebab dan akibat Penjelajahan kasus Penanganan kasus dalam arti khusus Penyikapan terhadap kasus
  • 103. UNSUR-UNSUR PENYIPAKAN Kognisi  Wawasan - kasus dan berbagai  Keyakinan permasalahan  Pemahaman - pemahaman dan penanganan  Penghayatan kasus  Pertimbangan dan pemikiran konselor tentang keberadaan manusia  Hakikat dimensi kemanusiaan dan pengembangan  Pengaruh lingkungan  Penerapan pelayanan BK
  • 104. Afeksi Suasana perasaan Emosi dan kecenderungan bersikap berkenaan dengan keberadaan manusia dengan kasus tersebutPerlakuan Tindakan terhadap kasus yang ditangani Sejak diserahkannya kasus sampai berakhirnya keterlibatan penanganan
  • 105. UNSUR KOGNISI YANG MENDASARI PENYIKAPAN Keyakinan dan penghayatan bahwa manusia ditakdirkan sebagai mahluk yg paling indah dan berderajat paling tinggi Keyakinan dan penghayatan bahwa keindahan dan derajat paling tinggi itu terwujud dalam bentuk kesenangan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat dalam arti yg seluas- luasnya
  • 106.  Pemahaman dan penghayatan bahwa keempat dimensi kemanusiaan perlu dikembangkan secara serempak dan optimal menuju perwujudan manusia seutuhnya Pemahaman dan penghayatan bahwa dalam perjalanan hidupnya seseorang dapat mengalami berbagai permasalahan yang mengganggu perkembangan keempat dimensi kemanusiaan Pemahaman dan penghayatan bahwa faktor lingkungan, disamping faktor dalam dimensi kemanusiaan, sangat besar pengaruhnya thd pengembangan dimens-dimensi itu sendiri, dan thd timbulnya permasalahan pada diri seseorang
  • 107.  Pemahaman dan penghayatan bahwa pelayanan BK, bersama pelayanan pendidikan pada umumnya mampu memberikan bantuan kepada orang yg sedang mengalami perkembangan dan mengalami masalah demi teratasi masalah mereka Pemahaman dan penghayatan bahwa seseorang yg sedang mengalami masalah tidak seharusnya dianggap terlibat masalah kriminal atau perdata,atau sedang menderita penyakit jasmani atau rohani, atau orang tidak normal
  • 108.  Pemahaman dan penghayatan bahwa permasalahan seseorang yg sebenarnya besar kemungkinan tidak tepat sama dengan yang tampak pada pendeskripsian awal. Oleh karena itu diperlukan upaya pendalaman lebih lanjut. Pemahaman dan penghayatan bahwa diperlukan strategi dan teknik-teknik khusus untuk memecahkan masalah Pemahaman dan penghayatan bahwa dalam menangani permasalahan perlu dilibatkan berbagai pihak, sumber dan unsur untuk secara efektif dan efisien mengatasi masalah
  • 109. POLA TINGKAH LAKU AFEKTIF Memberikan penghargaan dan penghormatan yg setinggi-tingginya thd kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun kelompok Berupaya sesuai dengan keahlian, mengembangkan keempat dimensi kemanusiaan secara selaras,serasi dan seimbang menuju perwujudan manusia seutuhnya
  • 110.  Merasa prihatin dan menaruh simpati kepada orang yang mengalami masalah Berusaha seoptimal mungkin menerapkan keahlian yg dimiliki untuk membantu yang bermasalah Bersikap positif thd orang-orang yang mengalami masalah Bertindak hati-hati,teliti,tekun dan bertanggungjawab dalam menangani permasalahan seseorang
  • 111.  Dengan penuh kesabaran mengembangkan wawasan,ide-ide, strategi dan teknik serta menerapkan secara tepat thd permasalahan yg dihadapi seseorang Tidak menahan permasalahan seseorang untuk ditangani sendiri saja,melainkan melibatkan pihak,sumber dan unsur lain Tidak menutup kemungkinanmengalihkan penanganan masalah kepada pihak lain,jika ternyata pihak lain lebih ahli
  • 112. PERLAKUKAN TERHADAP KASUS DAN UPAYA PENANGANAN Menerima kasus yg dipercayakan kepadanya dengan penuh rasa tanggungjawab Mengembangkan wawasan tentang kasus itu secara lebih rinci,tentang kemungkinan sebab timbulnya setiap permasalahan, dan kemungkinan akibat-akibat yang akan timbul bila tidak tertangani
  • 113.  Mengembangkan strategi dan menerapkan teknik-teknik yang tepat untuk mengatasi sumber-sumber pokok permasalahan Melibatkan berbagai pihak,sumber dan unsur apabila diyakini hal tersebut akan membantu pemecahan masalah Mengkaji kemajuan upaya pemecahan masalah: sampai seberapa jauh upaya tersebut telah membuahkan hasil
  • 114. TUGAS1.Bagaimana pandangan anda terhadap ketiga ciri kasus berikut ini: a. tidak disukai adanya; b. ingin dihilangkan keberadaannya; c. dapat menimbulkan kerugian dan/atau kesulitan Diskusikan dan kemukakan beberpa contoh masalah dan terapkanlah ciri-ciri tsb thd masalah yang menjadi contoh Anda itu
  • 115. 2. Carilah sebuah kasus yang Anda ketahui pernah terjadi. a. Deskripsikanlah kasus itu secara singkat b. Tunjukkanlah masalah-masalah yang terkandung dalam kasus itu dan kaitkan dengan keempat dimensi kemanusiaan c. Konsep atau ide apakah yang Anda mun- culkan berkenaan dengan: (1) rincian setiap masalah (2) kemungkinan sebab-sebab (3) kemungkinan akibat yang akan timbul apabila masalah itu tidak teratasi
  • 116. 3. Apa yang akan terjadi apabila konselor menganggap bahwa kasus yang dihadapkan kepadanya merupakan: a. kasus yang ringan? b. kasus yang berat ?4. Konselor dituntut untuk bersikap positip terhadap kasus. Apa yang akan terjadi jika konselor bersikap negatif terhadap kasus? Jelaskan dengan disertai contoh.
  • 117. KUALIFIKASIKONSELORKarakteristik apa saja yang perludimiliki oleh seorang konselor ???
  • 118. Mencakup AspekKepribadian danKeahlian
  • 119. Untuk Kondisi Indonesia Beriman dan bertaqwa Menyenangi manusia Komunikator yang terampil; pendengar yang baik Memiliki ilmu dan wawasan tentang manusia, sosial – budaya Fleksibel, tenang dan sabar Menguasai ketrampilan teknik, memiliki intuisi Memahami etika profesi Respek, jujur, asli, menghargai, tidak menilai Empati, memahami, menerima, hangat, bersahabat Fasilitator, motivator Emosi stabil, pikiran jernih, cepat dan mampu Objektif, rasional, logis konkrit Konsisten, tanggung jawab
  • 120. TEKNIK – TEKNIKKONSELING Istilah lain: ketrampilan konseling, strategi konseling Pengertian:cara yang digunakan oleh seorang konselor dalam hub konseling untuk membantu klien agar berkembang potensinya dan mampu mengatasi masalah yang dihadapi
  • 121. Seorang Konselor Menguasai teknik konseling adalah mutlak sebab merupakan kunci mencapai tujuan konseling Yang efektif: mampu merespon dengan teknik yang benar, sesuai keadaan klien saat itu Respon yang baik: dapat menyentuh, merangsang, dan mendorong klien sehingga menjadi lebih terbuka, merasa bebas untuk curhat Respon konselor mencakup perilaku verbal dan non verbal
  • 122. 1. Perilaku Attending Disebut juga perilaku menghampiri klien Mencakup kontak mata, bhs tubuh dan bhs lisan Attending yang baik mencakup tiga hal tersebut Memudahkan klien terlibat pembicaraan dan terbuka Contoh: menganggukkan kepala, tersenyum, wajah tenang dan ceria, jarak agak dekat, mendengarkan
  • 123. 2. Empati Adalah merasakan apa yang dirasakan klien, merasa dan berpikir bersama klien dan BUKAN untuk atau tentang klien Dilakukan bersamaan dengan attending Ada dua macam: primer dan tingkat tinggi Empati primer hanya memahami perasaan, pikiran, keinginan dan pengalaman klien. Bertujuan agar klien mau terlibat pembicaraan dan terbuka Contoh: “saya dapat memahami keputusanmu” Empati tingkat tinggi: paham secara lebih mendalam dan menyentuh klien sehingga klien mau mengungkapkan hal terdalam dari dirinya Contoh: “saya dapat memahami keputusanmu. Memang ada saat dimana kita harus mengambil sebuah keputusan”
  • 124. 3. Refleksi Adalah memantulkan kembali perasaan, pikiran dan pengalaman klien sbg hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan nonverbalnya. Klien: “saya sudah berkali-kali menasehati dia, tapi tetap tak mau berubah. Mulai dari cara yang halus sampai yang kasar semuanya sudah saya lakukan.” Konselor: “tampaknya kamu jengkel ya…” Klien: “saya tidak tahu lagi harus ditaruh dimana muka saya ini….”
  • 125. 4. Eksplorasi Ketrampilan menggali perasaan, pengalaman dan pikiran klien. “oya tadi kamu bilang kamu merasa tertekan. Perasaan tertekan yang bagaimana yang kamu maksudkan?” “sepertinya kamu pernah mengalami hal yang berat. Bisakah kau jelaskan lebih jauh tentang itu? “saya bisa memahami mengapa kau berbuat begitu. Mungkin ada alasan lain yang membuat kau melakukan hal itu?
  • 126. 5. Parafrase
  • 127. KonselingPsikoanalisa
  • 128. Teori Topografi kepribadian: alam sadar, prasadar dan bawah sadar Struktur Kepribadian: id, ego, super ego Tahap perkembangan: fase oral, anal, falik,- laten - ,genital Dinamika kepribadian: instink ingin dipenuhi, muncul kecemasan, reaksi pertahanan diri
  • 129. Hakekat manusia Mahluk biologis instinktif, perilaku didorong oleh bawah sadar Masa kanak-kanak penting bagi pembentukan kepribadian dewasa
  • 130. Perilaku Bermasalah Penggunaan mekanisme pertahanan ego yang berlebih-lebihan Ketidakseimbangan id, ego dan super ego: id tidak bisa dikendalikan atau superego selalu mengekang Residu pengalaman masa kanak-kanak
  • 131. Tujuan Konseling Memperkuat ego: mampu memenuhi keinginan id tanpa konflik dengan super ego Menyadari dan bisa menerima isi bawah sadar
  • 132. Tahap-Tahap Konseling Tahap pembukaan Pengembangan transferensi Bekerja melalui transferensi Resolusi
  • 133. Teknik Spesifik Asosiasi bebas Interpretasi mimpi Analisis transferensi Analisis resistensi
  • 134. Peran Konselor Konselor sebagai ahli, mendorong transferen dan mengeksplorasi ketidaksadaran, melakukan interpretasi
  • 135. Konseling Behavioral
  • 136. Teori Kepribadian Teori Kondisioning Klasik: terbentuknya perilaku karena pembiasaan, yaitu adanya asosiasi antara stimulus alami dan bersyarat setelah pemasangan yang berulang-ulang Teori Kondisioning Operan perilaku terbentuk karena konsekuensi yang menyertai jika menyenangkan diulang dan dipertahankan  reinforcement jika tidak menyenangkan akan melemah atau hilang  punishment Teori Belajar Observasional: belajar dengan
  • 137. Hakekat Manusia Manusia berpotensi untuk segala jenis perilaku Perilaku terbentuk karena proses belajar dari lingkungan Manusia mampu belajar perilaku yang baru
  • 138. Perilaku Bermasalah Hasil dari proses belajar yang salah Perilaku negatif /tidak tepat yang sering mendapat penguatan sehingga dipertahankan menjadi sebuah kebiasaan Perilaku yang salah penyesuaian / tidak memberikan kepuasan bagi individu
  • 139. Tujuan Konseling Menurunkan/menghilangkan perilaku negatif/ yang tidak diharapkan Meningkatkan perilaku yang positif/sesuai harapan Belajar ketrampilan berperilaku yang baru
  • 140. Tahap Konseling Mendefinisikan problem: kapan, dimana, bagaimana dan terkait dengan siapa problem itu muncul? Mempelajari sejarah bagaimana klien mengatasi problem di masa lalu dan kemungkinan masalah saat ini bersifat organis Menentukan tujuan khusus Menentukan metode yang terbaik untuk berubah
  • 141. Teknik Spesifik Desensitisasi sistematik: menghilangkan kecemasan secara bertahap Terapi implosif: membayangkan stimulus yang menimbulkan kecemasan Latihan perilaku asertif Teknik aversif: time- out, overcorrection, covert sensitization Modeling Kontrak perilaku: kesepakatan mengubah perilaku tertentu
  • 142. Peran Konselor Aktif selama konseling Sebagai guru, instruktur, pemberi penguat, fasilitator
  • 143. Konseling Person -Centered(Berpusat padaPribadi)
  • 144. Dasar Teori Kepribadian terdiri dari self, medan fenomenal dan organisme Self adalah persepsi dan nilai-nilai individu tentang diri dan hal lain yang berhub dengan dirinya; terdiri dari real self dan ideal self Medan fenomenal: keseluruhan pengalaman yang diterima seseorang baik yang disadari maupun yang tidak disadari; hanya bisa dipahami dengan menggunakan internal frame of reference org tersebut Organisme: keseluruhan totalitas individu baik secara fisik maupun mental Kepribadian akan berkembang baik jika mendapat unconditional positive regard Kepribadian yang sehat: fully functioning person
  • 145. Hakekat Manusia Punya kecenderungan mengaktualisasikan diri, Bermartabat, berharga dan menjunjung tinggi nilai-nilai Baik dan bisa dipercaya Perilaku terbentuk sesuai medan fenomenalnya  realitas subyektif
  • 146. Perilaku Bermasalah Orang yang tidak memperoleh unconditional positive regard Inkongruensi pengalaman dengan self
  • 147. Tujuan Konseling Eksplorasi diri, keterbukaan terhadap diri sendiri dan orang lain, realistik dan mampu mengarahkan diri sendiri, lebih bisa menerima diri sendiri dan orang lain, dan lingkungan; berfokus pada keadaan yang sekarang dan di sini
  • 148. Tahap KonselingDari segi konselor Membangun hubungan terapeutik Tahap lanjut sesuai efektivitas hub dan kebutuhan klienDari segi klien Klien datang dalam kondisi inkongruen, cemas atau maladaptif Mengharap bantuan konselor Bersikap kaku, mengemukakan masalah secara permukaan Membuka diri, rileks, lebih bisa bersikap matang dan mampu aktualisasi diri
  • 149. Teknik Spesifik Penerimaan, mengklarifikasi pernyataan klien, refleksi/menyatakan kembali perasaan yang diungkap klien, empati, penghargaan positif, kongruensi, membuka diri, mendengarkan baik secara aktif maupun pasif, memberi pernyataan/pertanyaan yang terbuka, membuat ringkasan
  • 150. Peran Konselor Fasilitator Sebagai teknik
  • 151. ISLAM DAN FASE-FASEPERKEMBANGANHIDUP MANUSIAPerspektif Bimbingan KeluargaIslami
  • 152. Fase-Fase Kehidupan Manusia1. Alam Ruh, alam sebelum jasad manusia diciptakan2. Alam Rahim, tempat menyempurnakan jasad manusia dan penentuan kadar nasibnya di dunia3. Alam Dunia, alam tempat ujian bagi manusia, siapakah di antara mereka yang paling baik amalnya4. Alam Kubur, alam tempat menyimpan amal manusia. Di alam ini Allah menyediakan dua keadaan,yakni nikmat atau azab kubur5. Alam akhirat, alam tempat pembalasan amal-amal manusia. Di alam ini Allah menentukan keputusan dua tempat untuk manusia, apakah ia akan
  • 153. Tujuan Penciptaan Manusia1. Sebagai khalifah Allah di bumi ( Q.S. Al Baqoroh : 30)2. Sebagai Hamba Allah, yang hanya beribadah kepada-Nya.( Q.S. Adzariyat :56) Keduanya merupakan Amanah yang dibebankan kepada manusia yang harus dilaksanakan sesuai tuntunan AllahJika dilaksananakan, niscaya manfaat/hikmah akan kembali kepada manusia. Sebagaimana ada tujuan di balik wujud manusia yang dilengkapi Allah dengan organ-organ tubuh seperti pendengaran, penglihatan, jantung, paru- paru, darah , hati, pikiran dan perasaan yang mana manfaatnya adalah untuk manusia sendiri.
  • 154. Potensi-Potensi Manusia(Fitrah)Yang dimaksud Potensi /fitroh di sini adalah fitrah sebagai unsur-unsur dan sistem yang dianugerahkan Allah kepada setiap manusia, yang meliputi : -Potensi Jasmani -Potensi Rohani -Potensi Nafs, dan -Potensi Iman
  • 155. Fitrah Jasmani -sbg wadah fitrah rohani -Mencakup: sistem jaringan tubuh, alat-alat indra, dan alat kelaminFitrah Rohani -Sebagai esensi pribadi manusia -Berada di alam materi & immateri -Memiliki daya mengembangkan proses biologis -Lebih abadi drpd fitrah jasmani -Suci dan memperjuangkan dimensi-dimensispiritual -Mampu bereksistensi dan dapat menjadi tingkahlaku aktual bila telah menyatu dengan fitrah jasmani
  • 156. Fitrah Nafs -Sbg paduan integral antara fitrah jasmani (biologis) dng fitrah rohani (psikologis) -Ia memiliki tiga komponen pokok yaitu : kalbu, akal dan nafsu, yg saling berinteraksi dan terwujud dlm bentuk kepribadian -Terdapat tiga macam nafs, yaitu, amarah, lawwamah, dan muthmainnahFitrah Iman Esensi: mengakui keesaan Allah & tunduk kepada- Nya Fungsi: memberi bentuk dan arah bagi fitrah jasmani,rohani dan nafs
  • 157. Perkembangan Hidup Manusia1. Pra Lahir2. Kehidupan di Dunia a. Fase Bayi (0-2 th) b. Fase Kanak-kanak (2-7 th) c. Fase Tamyiz (7-10 th) d. Fase Amrad (10-15 th) e. Fase Taklif (15-40 th) f. Fase Futuh (40-60 th) g. Fase Lansia (60 – lebih th)3. Kehidupan Hari Akhir
  • 158.  Q.S Al Haj: 5 Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka (ketahuilah) Sesungguhnya kami Telah menjadikan kamu dari tanah, Kemudian dari setetes mani, Kemudian dari segumpal darah, Kemudian dari segumpal daging yang Sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepada kamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa yang kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, Kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi, Kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya Telah diketahuinya. dan kamu lihat bumi Ini kering, Kemudian apabila Telah kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.
  • 159.  Q.S. Al Mu’min : 67 Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah Kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, Kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, Kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), Kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).
  • 160. Perkembangan Pra Lahir1. Penciptaan ruh. (Q.s Al A‟raf :172,Al Hadid:8, Al Insan:1) Kehidupan manusia dimulai dari penciptaan ruh. Ruh diciptakan segera setelah penciptaan Adam (ruh bersifat suci/berpotensi positif/ percaya kepada Allah, dan abadi).2. Penciptaan jasad (Q.s. Al Imran:6,Az Zumar:6,Ar Ra‟d:8,Al Qiamah:37,Al Mursalat:21 Pertemuan antara sel sperma dan sel telur berproses melalui nuthfah, ‘alaqah, dan mudghah. Jasad bersifat suci dan berubah/dapat dipengaruhi oleh lingkungan
  • 161.  Rosulullah Saw. Bersabda: sesungguhnya setiap kamu dikumpulkan kejadiannya; dalam rahim ibunya selama 40 hari 40 malam berupa “darah”(alaqah),dalam waktu yang sama (40 hari 40 malam) kemudian menjadi “daging” (mudhhah),dalam waktu yang sama pula (40 hari 40 malam) kemudian diutus Malaikat kepadanya untuk memberitahukan empat perkara, kemudian ditetapkan (1) rizkinya (2) ajalnya, (3) amalnya, (4) celaka atau bahagianya. Kemudian ditiupkan kepadanya roh. Sesungguhnya salah seorang diantara kamu ada yang melakukan pekerjaan ahli surga hingga tidak ada jarak di antara dia dan surga itu kecuali sehasta saja, maka lebih dahululah takdir Allah atasnya, kemudian dia melakukan pekerjaan ahli neraka, maka iapun masuk neraka. Dan sungguh salah seorang di antara kalian melakukan pekerjaan ahli neraka sehingga tidak ada jarak antara dia dengan neraka kecuali sehasta saja, maka dahululah ketentuan Allah atasnya, kemudian dia melakukan pekerjaan ahli surga, maka iapun masuk surga (H.R Bukhori)
  • 162. 3. Pembentukan Jiwa Manusia (An Nahl:78, As Sajdah:32) Pada usia 120 hari, Malaikat atas perintah Allah SWT. Meniupkan ruh-Nya (the Spirit of God) ke jasad manusia Pertemuan ruh dan jasad menghasilkan jiwa (yang terdiri atas akal, kalbu, dan nafsu). Akal mampu memperoleh pengetahuan indrawi (sudah) dan pengetahuan nalar (belum). Kalbu mampu memperoleh pengetahuan melalui cita rasa (merasakan sesuatu, dst) Nafsu mendorong manusia berbuat dan hindari sst, namun pada kesempatan aktualisasinya blm tampak.Jadi: jiwa telah terbentuk dan berfungsi.
  • 163. Apa yang dilakukan orangtua berpengaruh atas anak?Awalnya: Hubungan seks yang sah dan tidak sah (menikah/ tidak menikah, meminta perlindungan Allah) berpengaruh terhadap kualitas dasar anakFisik: makanan/zat lain yang dikonsumsi ortu (rokok, obat)  anak yang sehat/rentanPsikis (afeksi/emosi dan kognisi): perasaan dan intensitas pemikiran orangtua (bisa direkayasa dengan berkomunikasi dengan anak, musik klasik)  anak yang lebih cerdas emosi dan intelektualnyaSpiritual: kedekatan kepada Allah (shalat, puasa)  anak yang cerdas spiritual/qalbu
  • 164. Fase Bayi (0-2 tahun)Fungsi indra Pada fase ini, seseorang sering mendengar namanya disebut.Nama-nama yang baik: (a) penghambaan ke Allah, (b) nama-nama Nabi, (c) nama yang memiliki gambaran yang positifNama-nama yang buruk: (a) penghambaan thd selain Allah, (b) nama-2 Allah, © nama-2 setan, (d) nama-2 yang memberi gambaran negatif, (e) nama tokoh sejarah yang antagonistisKegunaan Nama : (a) stimulus yang terus menerus yang mempengaruhi persepsi sso terhadap dirinya, (b) mempengaruhi motivasi seseorang, (d) doa orang lain untuk si pemilik nama.
  • 165. Fungsi ruh/spiritual: adzan sebagai penegasan kesaksian atas keesaan Allah dan nama sebagai doaFungsi akal/kognitif: stimulasi yang kaya (warna, suara) akan berpengaruh terhadap kemampuan kognitif anakFungsi kalbu/afeksi: rasa nyaman akan menghasil-kan trust terhadap orang tua (disusui ibu, tidur bersama ibu)
  • 166. FASE KANAK-KANAK (2-7 tahun)Ciri utama fase ini adalah eksplorasi.Fisik: Anak suka melihat segala sesuatu yang baru (binatang, tumbuhan, mainan, dsb) dan mencobanya.Akal/Kognitif: Anak bertanya begitu banyak hal, termasuk mengapa. Pada fase ini anak sudah dapat belajar menulis dan membaca.Kalbu/Afektif:Anak memasuki fase tempertantrums (fase suka menarik perhatian dengan marah/mengamuk).Ruh/Spiritual: Apa yang dilihat dapat semata- mata bersifat fisik, tapi dapat pula dimaknai/ dipersepsi secara spiritual (o orang lain). Mis, pada ikan berwarna- warni terdapat kesadaran bahwa ia ciptaan Allah hati berkerangka tauhid
  • 167. FASE TAMYIZ (7-10 tahun)Persiapan menjadi „abdullah (hamba Allah): -Memiliki pengetahuan ttg. cara menjalin hubungan dengan Allah -Memiliki kemampuan untuk menjalin hubungan dengan Allah (shalat, puasa, dsb) -Mampu membedakan yang baik dan yang buruk (pahala dan dosa) -Mampu membedakan tingkatan hukum (wajib, sunnat, sunnat muakkad, mubah, makruh, halal, haram) -Pengenalan konsekuensi positif lebih didahulukan daripada konsekuensi negatif. -Anak belajar tentang tanggung jawab terhadap Alloh.
  • 168. FASE AMRAD (10-15 tahun)Persiapan menjadi khalifah fil ardh:1. Memiliki kemampuan & kebutuhan untuk mengenali diri sendiri  Fase pencarian identitas diri2. Punya kemampuan mengontrol dan mengarahkan diri3. Memiliki pengetahuan dan ketrampilan teknis dalam bidang yang bermanfaat bagi orang banyak (Nabi berdagang)4. Memiliki kesadaran untuk bertanggung jawab terhadap semua makhluk
  • 169. 5. Memiliki kemampuan menjalin relasi dengan dan memberi sumbangan kepada sesama manusia (Nabi ikut berperang)6. Mampu untuk berpikir abstrak, di samping menerima pengetahuan yang empiris dan rasional7. Orang berada dalam fase latihan/persiapan untuk menjadi dewasa yang mampu melakukan peran sosial dan ekonomi.8. Anak belajar tentang tanggung jawab terhadap diri dan sesama makhluk.
  • 170. FASE TAKLIF (15-40 tahun)Saat untuk melakukan peran sebagai „ abdullah (hamba Allah) dengan memperbanyak amal ibadahSaat melakukan peran sebagai khalifah fil ardh dengan melakukan amar ma‟ruf pada diri sendiri, keluarga, masyarakat, belajar/bekerjaCatatan: Kesuksesan fase tamyiz dan amrad pengaruhi keberhasilan fase taktifFisik: Kuat dan siap melakukan berbagai tindakanSosial: Mampu melakukan peran sebagai anggota masyarakatKognitif: Memiliki kemampuan berpikir dalam berbagai tingkatan (mengetahui, memahami, analisis, sintesis)Emosi: Memiliki kemampuan mengenali dan mengontrol emosiSpiritual: Mampu melakukan tugas ibadah kepada Allah
  • 171. FASE FUTUH (40 – 60 Tahun) Keberhasilan menjalani fase taktif dapat dicek pada usia 40 tahun Keberhasilan dalam menjalankan tugas-tugas akan berpengaruh pada kemampuan kognitif, emosi, spiritual yang meningkat. Spiritual: orang lebih mudah untuk memahami segala sesuatu sampai ke tingkat hakikatnya Kognitif: Memahami segala sesuatu lebih kontemplatif Emosi/afektif: Perasaan cintanya kepada sesama semakin kuat
  • 172. Fase futuh adalah fase yang menunjukkan cermin keberhasilan/kegagalan menjalani fase taklif/dewasa.Kegagalan menjalani fase ini dapat dicek terutama pada aspek spiritual dan afektif.Spiritual: Lebih melayani hawa nafsunya sendiri (korupsi, fenomena perselingkuhan)Emosi/afektif: Semakin mementingkan diri/serakah
  • 173. FASE LANSIA (60 – dst)Fisik:Mengalami penurunan, minimal untuk orang yang terus menerus melatikukan latihan fisik sampai tuaKognitif:+: Kemampuan berpikir semakin matang bila digunakan-: Mengalami penurunan ingatan bila tak digunakanEmosi/Afektif:+: Rasa sayang dan cinta sangat tulus- : Muncul perilaku kekanak-kanakan (-)/Sosial:+: Rasa bermakna bagi banyak orang- : Merasa kesepian (hilangnya kawan-kawan lama, lepas dari dunia pekerjaan)Spiritual:+: Sangat dekat dengan Allah dan siap mati- : Takut sakit saat mati dan siksa setelah kematian
  • 174.  Kehidupan dalam Kubur  Kehidupan di Surga-NerakaKeduanya sangat dipengaruhi apa yang dilakukan manusia semenjak fase taklif hingga akhir kehidupannya.Kesadaran akan adanya hari akhir (yang berisi konsekuensi perbuatan selama hidup di dunia) berpengaruh terhadap kehisupan seseorang selama di dunia

×