Tugas i wangkatanii

56
-1

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
56
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
1
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Tugas i wangkatanii

  1. 1. Kata ‘longgar’ mungkin kurang pas untuk Islam. Pasalnya Islam punya landasan yang sudah ditetapkan yaitu al-qur’an dan ql-hadist. Mungkin lebih tepatnya, walaupun berlandaskan al-qur’an dan al-hadist namun dalam prakteknya Islam mengikuti perkembangan jaman, kecuali dalam hal ibadah yang tidak berubah setelah Nabi Muhammad wafat. Maksudnya, ketika berhadapan dengan suatu hal yang tidak ada pada jaman Nabi Muhammad, kita diperbolehkan untuk mengikuti ijtihad para ulama salaf dengan dasar ilmu. Artinya tidak mengikuti dengan taqlid. Dalam hal teknologi pun begitu, walau pada kenyataannya ada saja beberapa ulama yang berpendapat bahwa sebaiknya tidak menggunakan teknologi. Hal ini kurang pas, selama tidak melalaikan dalam ibadah mengapa tidak kita manfaatkan untuk hal yang lebih baik, khususnya hal-hal berbau dakwah. Mungkin respon terhadap artikel tidak banyak dijelaskan dalam tulisan ini. Tulisan ini hanya mencoba menuliskan kembali tentang Islam itu tidak sulit, dengan bahasa yang lebih sederhana. Dalam Shahih Bukhari hadits ke-39; - - Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya agama itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agama melainkan ia akan dikalahkan. Oleh karena itu kerjakanlah dengan semestinya, atau mendekati semestinya dan bergembiralah (dengan pahala Allah) dan mohonlah pertolongan di waktu pagi, petang dan sebagian malam" Dalam hadist tersebut, dikatakan bahwa kita-lah yang membuatnya menjadi terasa susah. Karena nafsu dan keinginan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah yang tanpa kontrol, sehingga membuat-buat cara sendiri tanpa melihat hadist dan qur’an kembali. Tentang masalahah (lihat artikel paragraph ke-5), penulis sendiri kurang sependapat dengan perkataan Najmuddin Al-Thufi. “legislasi Islam mestinya justru berporos pada kepentingan publik”. Tentang maslahah sendiri, kenyataannya banyak dari hukum-hukum syaria’at yang mempunyai unsur kemaslahatan bagi kita. Namun bukan berarti jika suatu syaria’at berdasarkan akal tidak mempunyai kemaslahatan atau bertentangan dengan kemaslahatan, hukum tersebut menjadi batal. Contoh sederhana,
  2. 2. Babi haram. Berdasarkan penelitian didapat bahwa daging babi mengandung cacing pita yang bisa membahayakan si pemakan. Jika suatu saat diciptakan alat yang dapat menghilangkan cacing tersebut dari daging babi, bukan berarti kita boleh memakannya. Hal ini harus dikembalikan pada hukum dasar Islam yaitu al-qur’an dan al-hadist. Bagianmana dari kita yang mampu mengetahui mengapa Allah membuat hukum ini dan itu? Bahkan akal manusia saja tidak bisa menerima kenapa jika kita batal wudhu karena buang angin harus diulang kembali dari tangan, bukan membersihkan si pelaku? Islam tidak sepenuhnya rasional, mungkin lebih tepatnya ada sebagian darinya yang bisa diterima secara akal dan sebagian besarnya harus diterima dengan keimanan. Seseorang beriman sendiri, artinya dia menerima segala konsekuensinya (menjauhi hal-hal yang bisa menggoyahkan iman walaupun itu menyenangkan) tanpa memandangnya sebagai beban. Lalu siapa yang bisa menilai Islam kaffah itu seperti apa? Selama kita mengamalkan al-qur’an dan al-hadist, selama amalan yang kita lakukan tidak dilebih- lebihkan, selama ibadah yang kita lakukan tidak dibuat-buat semoga saja Islam yang kita sandang adalah Islam yang kaffah. Wallahualam.

×