11
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Belajar
Menurut Winkel (Riyati,2007:24) belajar adalah suatu aktivitas
mental/psik...
12
dan keluarga) dan faktor lingkungan non-sosial (gedung, sekolah, tempat
tinggal, alat belajar, cuaca dan waktu belajar)...
13
2. Cara mengatur dan mengolah informasi tersebut (dominasi otak)
Gaya belajar seseorang merupakan kombinasi dari keduan...
14
tugas. Mereka ingat apa yang telah ditulis, bahkan jika mereka tidak membacanya
lebih dari sekali. Pembelajar yang vi s...
15
3. Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.
4. Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).
5. Ajak anak...
16
pada yang dilihat
5) Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
6) Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan ...
17
mengulang sendiri dengan keras apa yang dikatakan pendidik. Mereka tentu saja
menyimak, hanya saja mereka suka mendenga...
18
11) Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka. Menggunakan
kata-kata yang mengandung aksi
Strategi untuk mempe...
19
2.3 Pendekatan Kontekstual
2.3.1 Pengertian Pendekatan kontekstual
Pendekatan kontekstual sudah lama dikembangkan oleh ...
20
yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan
(Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama dalam Sup...
21
c. menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam
belajar.
2. Menemukan (Inquiry)
Inquiry merupakan su...
22
4) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa,
5) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa,
6) memfokuskan perhati...
23
siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki
sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan demiki...
24
b. Membutuhkan waktu yang agak lama dalam proses kegiatan belajar
mengajarnya.
2.4 Pemahaman Konsep
Dalam Kamus Besar B...
25
Indikator dari kemampuan pemahaman konsep berdasarkan Tim PPPG
Matematika (Jannah, 2007:18) adalah:
1. menyatakan ulang...
26
2.5 Pendekatan Kontekstual dengan Gaya Belajar-VAK
Penggabungan antara pendekatan kontekstual dengan gaya belajar-VAK
m...
27
menunjukkan bawa pada setiap siklus terjadi peningkaran hasil belajar dan
peningkatan aktivitas siswa.
Rizki Gurdayanti...
28
2.7 Hipotesis
Berdasarkan latar belakang masalah, landasan teori, dan kajian-kajian
yang relevan, maka hipotesis dalam ...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

VAK dengan pemahaman konsep

2,988

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
2,988
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
128
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

VAK dengan pemahaman konsep

  1. 1. 11 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Belajar Menurut Winkel (Riyati,2007:24) belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Sedangkan menurut Gagne dalam Dahar (Riyati,2007:24) belajar adalah suatu proses di mana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman. Dengan belajar tindakan perilaku siswa akan berubah ke arah yang lebih baik. Berhasil baik atau tidaknya belajar tergantung dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut terdiri dari faktor internal, eksternal dan pendekatan belajar. 1. Faktor internal adalah faktor dari dalam diri siswa, yaitu keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa meliputi aspek fisiologis (kondisi tubuh dan panca indera), dan aspek psikologis antara lain: intelegensi dalam sikap, misalnya dalam beradaptasi dengan teman, bakat dalam mengerjakan soal, minat dalam mengikuti pelajaran serta punya kemauan besar untuk belajar dan mempunyai motivasi untuk belajar baik individu maupun dalam kelompok. 2. Faktor eksternal adalah faktor dari luar diri siswa, yaitu kondisi lingkungan di sekitar siswa meliputi faktor lingkungan sosial (pendidik, teman, masyarakat,
  2. 2. 12 dan keluarga) dan faktor lingkungan non-sosial (gedung, sekolah, tempat tinggal, alat belajar, cuaca dan waktu belajar). 2.2 Gaya Belajar 2.2.1 Pengertian Gaya Belajar Gaya belajar adalah cara yang cenderung digunakan oleh seseorang untuk menerima informasi dari lingkungan dan memproses informasi tersebut. Gaya belajar setiap orang dipengaruhi oleh faktor alamiah (pembawaan) yang tidak dapat diubah dan faktor lingkungan yang dapat dilatih dan disesuaikan. Rita Dunn dalam DePorter (Purnasari, 2009), seorang pelopor dibidang gaya belajar telah menemukan banyak variabel yang mempengaruhi cara belajar orang. Hal itu mencakup faktor-faktor fisik, emosional, sosiologis, dan lingkungan. Misalnya, sebagian orang dapat belajar paling baik dengan berkelompok, sedangkan yang lainnya lebih memilih adanya figur otoriter seperti pendidik dan orang tua, yang lain merasa bahwa bekerja sendirilah cara yang paling efektif bagi mereka. Sebagaian orang memerlukan musik sebagai latar belakangnya, sedangkan yang lainnya tidak dapat berkonsentrasi, kecuali dalam ruangan yang sepi. Ada orang-orang yang memerlukan lingkungan kerja yang teratur dan rapih, tapi ada yang lainnya lebih suka menggelar semua supaya semua dapat terlihat. Para peneliti gaya belajar membuat kesepakatan secara umum bahwa ada dua kategori utama mengenai gaya belajar seseorang, yaitu: 1. Bagaimana menyerap informasi dengan mudah (modalitas)
  3. 3. 13 2. Cara mengatur dan mengolah informasi tersebut (dominasi otak) Gaya belajar seseorang merupakan kombinasi dari keduanya, baik dalam menyerap informasi dan kemudian mengatur serta mengolah informasi tersebut (Okrani M., 2009). 2.2.2 Gaya Belajar-VAK Gaya belajar-VAK menggunakan tiga indera utama penerima: Visual, Auditory, dan Kinestetik (gerakan) untuk menentukan gaya belajar yang dominan. VAK (Visual-Auditory-Kinestetik) berasal dari dunia belajar cepat dan populer karena kesederhanaannya. Seseorang akan mempunyai satu atau dua gaya VAK yang dominan, hal inilah yang dapat dikembangkan sebagai cara belajar yang efektif bagi seseorang dalam mempelajari informasi baru. Menurut ahli teori VAK, perlunya menyajikan informasi dengan menggunakan ketiga gaya. Hal ini memungkinkan semua pelajar mempunyai kesempatan untuk terlibat, tidak peduli apa gaya pilihan mereka. Hal tersebut diperkuat oleh hasil penelitian Dr. Vernon Magnesen dalam DePorter (Purnasari, 2008), yaitu “Kita belajar: 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar, 79% dari apa yang kita katakan, dan 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan”. Berikut adalah penjelasan masing-masing tentang VAK: 1. Visual Pembelajar visual memiliki dua saluran yaitu linguistik dan spasial. Pelajar vi sual -l i ngui st i k belajar melalui bahasa tertulis, seperti baca dan menulis
  4. 4. 14 tugas. Mereka ingat apa yang telah ditulis, bahkan jika mereka tidak membacanya lebih dari sekali. Pembelajar yang vi sua l -spasi al biasanya memiliki kesulitan dengan bahasa tertulis dan lebih baik dengan grafik, demonstrasi, video, dan bahan visual lainnya. Mereka mudah memvisualisasikan wajah dan tempat dengan menggunakan imajinasi mereka dan jarang tersesat di lingkungan baru. Pada intinya pelajar visual menggunakan apa yang mereka lihat untuk menyerap informasi yang didapatnya. Berikut adalah karakteristik khas pelajar visual (Halikin, 2009): 1) Bicara agak cepat 2) Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi 3) Tidak mudah terganggu oleh keributan 4) Mengingat yang dilihat, daripada yang didengar 5) Lebih suka membaca daripada dibacakan 6) Pembaca cepat dan tekun 7) Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata 8) Lebih suka melakukan demonstrasi daripada pidato 9) Lebih suka musik daripada seni 10) Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya. Strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual : 1. Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta. 2. Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.
  5. 5. 15 3. Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi. 4. Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video). 5. Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar. DePorter (2010:216) menyatakan bahwa, “Pelajar visual akan terdorong untuk membuat banyak simbol dan gambar dalam catatan mereka. Dalam pelajaran matematika dan ilmu pengetahuan, tabel dan grafik akan memperdalam pemahaman mereka. Peta pikiran dapat menjadi alat yang bagus bagi pelajar visual dalam mata pelajaran apapun. Karena para pelajar visual belajar terbaik saat mereka mulai dengan “gambaran keseluruhan”, melakukan tinjauan umum mengenai bahan pelajaran akan sangat membantu. Misal dengan membaca bahan secara sekilas, akan memberikan gambaran umum mengenai bahan bacaan sebelum mereka terjun ke dalam perinciannya”. 2. Auditory Gaya belajar ini lebih mengandalkan pendengaran untuk bisa memahami dan mengingat suatu informasi, seperti musik, nada, irama, dan dialog internal. Pelajar auditori sering berbicara sendiri. Mereka memiliki kesulitan dengan membaca dan menulis tugas. Mereka sering berbuat lebih baik berbicara dengan seorang rekan atau tape recorder dan mendengarkan apa yang dikatakan. Berikut karakteristi khas pelajar auditori (Halikin, 2009): 1) Saat bekerja suka bicara kepada diri sendiri 2) Penampilan rapi 3) Mudah terganggu oleh keributan 4) Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari
  6. 6. 16 pada yang dilihat 5) Senang membaca dengan keras dan mendengarkan 6) Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca 7) Biasanya ia pembicara yang fasih 8) Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya 9) Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik 10) Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual 11) Berbicara dalam irama yang terpola 12) Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori : 1. Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga. 2. Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras. 3. Gunakan musik untuk mengajarkan anak. 4. Diskusikan ide dengan anak secara verbal. 5. Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur. DePorter (2010:216) menyatakan bahwa, “Mendengarkan, contoh, dan cerita serta mengulang informasi adalah cara-cara belajar utama mereka. Para pelajar auditory mungkin lebih suka merekam pada kaset daripada mencatat, karena mereka suka mendengarkan informasi berulang-ulang. Mereka mungkin
  7. 7. 17 mengulang sendiri dengan keras apa yang dikatakan pendidik. Mereka tentu saja menyimak, hanya saja mereka suka mendengarkanya lagi”. 3. Kinestetik Yaitu lebih mengandalkan kepada sentuhan seperti gerak dan emosi untuk dapat mengingat suatu informasi. Mereka memiliki dua saluran yaitu kinestetik (gerakan) dan taktil (sentuhan). Mereka cenderung kehilangan konsentrasi jika ada sedikit atau tidak ada stimulasi eksternal atau gerakan. Ketika mendengarkan ceramah mereka tidak selalu mencatat. Ketika membaca, mereka suka untuk mengamati materi terlebih dahulu, dan kemudian fokus pada rincian (mendapatkan gambaran besar pertama). Berikut karakteristik khas pelajar kinestesti (Haliki, 2009): 1) Berbicara perlahan 2) Penampilan rapi 3) Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan 4) Belajar melalui memanipulasi dan praktek 5) Menghafal dengan cara berjalan dan melihat 6) Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca 7) Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita 8) Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca 9) Menyukai permainan yang menyibukkan 10) Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu
  8. 8. 18 11) Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka. Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi Strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik: 1. Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam. 2. Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru). 3. Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar. 4. Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan. 5. Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik. Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. DePorter (2010:216) menyatakan bahwa, “Pelajar-pelajar kinestetik menyukai proyek terapan. Lakon pendek dan lucu dapat membantu mereka. Para pelajar kinestetika suka belajar melalui gerakan dan paling baik menghafal informasi dengan mengasosiasikan gerakan dengan setiap fakta”. Melalui kombinasi yang baik antara visual-auditory-kinestetik dalam belajar, akan mempermudah siswa menyerap, menyaring, dan mengolah informasi serta dalam memahami konsep-konsep matematis yang mereka dapatkan selama proses belajar berlangsung.
  9. 9. 19 2.3 Pendekatan Kontekstual 2.3.1 Pengertian Pendekatan kontekstual Pendekatan kontekstual sudah lama dikembangkan oleh John Dewey pada tahun 1916, yaitu sebagai filosofi belajar yang menekankan pada pengembangan minat dan pengalaman siswa. Kontekstual dikembangkan oleh The Washington State Consortium for Contextual Teaching and Learning, yang bergerak dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat. Pendekatan kontekstual lahir karena kesadaran bahwa kelas-kelas di Indonesia tidak produktif. Sehari-hari kelas-kelas di sekolah diisi dengan “pemaksaan” terhadap siswa untuk belajar dengan cara menerima dan menghapal. Dalam kelas kontekstual, tugas pendidik adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, pendidik lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas pendidik mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan suatu yang baru bagi siswa. Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu pendidik mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini, hasil belajar diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Landasan filosofi pendekatan kontekstual adalah kontruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghapal. Siswa harus mengkontruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri. Bahwa pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta. Fakta atau proposisi
  10. 10. 20 yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan (Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama dalam Supinah, 2008:8). 2.3.2 Komponen/Prinsip Pendekatan Kontekstual Pendekatan kontekstual adalah sebuah strategi yang membantu pendidik menghubungkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapnnya dalam kehidupan sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pendekatan kontekstual, yakni: konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquary), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment). Terdapat tujuh prinsip pembelajaran yang harus dikembangkan oleh pendidik (Dwi,2005:19-21), yaitu: 1. Konstruktivisme (Constructivism) Proses pembelajaran mengarahkan siswa untuk membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif. Siswa dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Sedangkan pendidik bertugas untuk memfasilitasi sehingga pengetahuan menjadi bermakna dan relevan bagi siswa. Tugas pendidik adalah memfasilitasi proses tersebut dengan: a. menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa, b. memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri,
  11. 11. 21 c. menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar. 2. Menemukan (Inquiry) Inquiry merupakan suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis dan analisis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Sasaran utama pembelajaran dengan inquiry adalah: a. Keterlibatan siswa secara maksimal, yang melibatkan mental intelektual sosial emosional siswa. b. Keterarahan kegiatan secara logis dan sistematis pada tujuan pembelajaran. c. Mengembangkan sikap percaya diri siswa tentang apa yang ditemukannya dalam proses inquiry. 3. Bertanya (Questioning) Bertanya merupakan salah satu kegiatan pembelajaran yang berlangsung secara informatif untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. Kegiatan bertanya akan mendorong siswa sebagai partisipan aktif dalam proses pembelajaran. Kegiatan ini menurut Nurhadi (2002) berguna untuk: 1) menggali informasi, baik administratif maupun akademis, 2) mengecek pemahaman siswa, 3) membangkitkan respon kepada siswa,
  12. 12. 22 4) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa, 5) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa, 6) memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki pendidik, 7) membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, 8) menyegarkan kembali pengetahuan siswa. 4. Masyarakat Belajar (Learning Community) Konsep Learning Community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari „sharing‟ antar teman, antar kelompok, dan antar yang tahu ke yang belum tahu. „Masyarakat belajar‟ bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Dalam masyarakat belajar, dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar. Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya. 5. Pemodelan (Modeling) Pemodelan dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu maksudnya adalah adanya model yang ditiru. Model yang dimaksud bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, contoh: cara melakukan pengukuran yang benar. Model tak hanya dari pendidik tapi juga dari siswa atau ahli. 6. Refleksi (Reflection) Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima. Pengetahuan yang dimilki siswa diperluas melalui konteks pembelajaran, yang kemudian diperluas sedikit demi sedikit. Pendidik membantu
  13. 13. 23 siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan demikian siswa merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru dipelajarinya. 7. Penilaian Sebenarnya (Authentic Assessment) Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Penilaian yang dilakukan bukan hanya karena bisa menjawab serangkaian pertanyaan di atas kertas, tapi juga kemampuannya dalam mengaplikasikannya, inilah yang disebut authenthic. Hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa antara lain: proyek kegiatan dan laporannya, presentasi atau penampilan siswa, demonstrasi, dan tes tulis. Kelebihan Pendekatan Kontekstual Mencermati pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual di atas, maka kelebihan yang bisa dikemukakan antara lain: a. Siswa lebih termotivasi karena materi yang disajikan terkait dengan kehidupan sehari-hari. b. Materi yang disajikan lebih lama membekas di pikiran siswa karena siswa dilibatkan aktif dalam pembelajaran. c. Siswa berpikir alternatif dalam pemodelan. Kekurangan Pendekatan Kontekstual a. Tidak semua topik atau pokok bahasan bisa disajikan dengan kontekstual, atau kadang mengalami kesulitan dalam mengaitkannya.
  14. 14. 24 b. Membutuhkan waktu yang agak lama dalam proses kegiatan belajar mengajarnya. 2.4 Pemahaman Konsep Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, paham berarti mengerti benar (akan), tahu benar (akan); pemahaman berarti proses, perbuatan, cara memahami atau memahamkan. Sedangkan menurut Suherman (Jannah, 2007:8) konsep adalah ide abstrak yang memungkinkan kita dapat mengelompokkan objek ke dalam contoh dan non contoh. Berdasarkan Kurikulum 2004 Matematika SMP Depdiknas menetapkan (Shadiq, 2009:13) terdapat tiga aspek penilaian matematika yaitu: 1. Pemahaman konsep 2. Penalaran dan komunikasi 3. Pemecahan masalah. Sejalan dengan pernyataan tersebut, pada kurikulum 2004 Standar Kompetensi Pembelajaran Matematika SMP/MTS (dalam Tim PPPG Matematika, 2005 : 86) dinyatakan bahwa kemampuan yang perlu diperhatikan dalam penilaian pembelajaran matematika antara lain adalah pemahaman konsep dan prosedur (algoritma). Dijelaskan pada dokumen Peraturan Dirjen Dikdasmen No. 506/C/PP/2004 (Shadiq, 2009:13), bahwa pemahaman konsep merupakan kompetensi yang ditunjukkan siswa dalam memahami konsep dan dalam melakukan prosedur (algoritma) secara luwes, akurat, efisien, dan tepat.
  15. 15. 25 Indikator dari kemampuan pemahaman konsep berdasarkan Tim PPPG Matematika (Jannah, 2007:18) adalah: 1. menyatakan ulang sebuah konsep; 2. mengklasifikasi objek menurut sifat-sifat tertentu sesuai dengan konsepnya; 3. memberi contoh dan non contoh dari konsep; 4. menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis; 5. mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup dari suatu konsep; 6. menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur tertentu; 7. mengaplikasikan konsep atau alogaritma ke pemecahan masalah. Indikator kemampuan pemahapan konsep dalam penelitian ini berdasarkan Peraturan Dirjen Dikdasmen No. 506/C/PP/2004 (Shadiq, 2009:13) yaitu: 1. Menyatakan ulang sebuah konsep. 2. Mengklasifikasi objek-objek menurut sifat-sifat tertentu (sesuai dengan konsepnya). 3. Memberi contoh dan non contoh dari konsep. 4. Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis. 5. Mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah. 6. Megembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep. Selanjutnya, indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah menurut Peraturan Dirjen Dikdasmen No. 506/C/PP/2004
  16. 16. 26 2.5 Pendekatan Kontekstual dengan Gaya Belajar-VAK Penggabungan antara pendekatan kontekstual dengan gaya belajar-VAK menjadi sebuah jembatan agar pembelajaran pendekatan kontekstual dapat digunakan secara maksimal. Dalam pembelajaran kontekstual, pendidik dituntut untuk dapat memahami karakteristik belajar siswa sehingga siswa dapat belajar dengan gaya belajarnya masing-masing. Hal inilah yang sering dilupakan pendidik dalam pembelajaran konvensional, sehingga yang terjadi adalah apa yang dikatakan Oleh Paulo Freire sebagai pemaksaan kehendak. Dalam penelitian ini akan dilihat gaya belajar-VAK masing-masing siswa untuk pembentukkan kelompok dalam pembelajaran pendekatan kontekstual. Hal ini agar setiap siswa dalam kelompok dapat bekerjasama dan saling melengkapi dengan baik. Salah satu contohnya, siswa yang bergaya belajar visual sulit dalam mengungkapkan ide-ide, hal ini dapat dilengkapi oleh temannya yang bergaya belajar auditory, dimana pembelajar auditory adalah seorang yang pembicara fasih. 2.6 Penelitian yang Relevan Adapun penelitian yang relevan dengan penelitian ini yaitu penelitian yang dilakukan oleh: Agustina Dwi Saputri (2005), meneliti penerapan pembelajaran matematika kontekstual pada materi teorema phytagoras untuk meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa MTs AL Ashor Semarang. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian tindakkan kelas. Hasil penelitian
  17. 17. 27 menunjukkan bawa pada setiap siklus terjadi peningkaran hasil belajar dan peningkatan aktivitas siswa. Rizki Gurdayanti (2010), meneliti pembelajaran matematika dengan menerapkan model pembelajaran pencapaian konsep untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa SMP. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimen. Penelitian dilakukan di SMP Negeri 26 Bandung pada pokok bahasan bangun ruang. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa dan daya serap klasikal yang lebih besar. Dina Maulida (2008), meneliti pengaruh gaya belajar-VAK terhadap prestasi belajar siswa kelas I Penjualan SMK Muhammadiyah 2 Malang. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksplanasi dengan metode pengumpulan data menggunakan keusioner dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara gaya belajar terhadap prestasi belajar. Splichatun (2007), meneliti implementasi pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan pemahaman konsep dan motivasi belajar siswa SMP. Penilitian dilakukan di SMP Negeri 3 Lembang dan merupakan penelitian tindakkan kelas. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa siswa mengalami peningkatan pemahaman konsep setelah mendapat pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual dan implementasi pendekatan kontekstual dapat meningkatkan motivasi siswa terhadap pelajaran matematika.
  18. 18. 28 2.7 Hipotesis Berdasarkan latar belakang masalah, landasan teori, dan kajian-kajian yang relevan, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah “Adanya Perbedaan Peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa antara pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan kontekstual dengan gaya belajar-VAK dengan siswa yang menggunakan metode ekspositori”.

×