Your SlideShare is downloading. ×

Kimia 1

435

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
435
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
22
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKAA. Strategi Pembelajaran Secara bahasa, strategi bisa diartikan sebagai ’siasat’, ’kiat’, ’trik’, atau’cara’ (Fathurrohman dan Sutikno, 2007). Sedangkan secara umum, strategimempunyai pengertian garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usahamencapai tujuan yang telah ditentukan (Djamarah, 2006; Fathurrohman danSutikno, 2007). Strategi merupakan usaha untuk memperoleh kesuksesan dankeberhasilan dalam mencapai tujuan. Dalam dunia pendidikan strategi dapatdiartikan sebagai a plan, method, or series of activities designed to achieves aparticular educational goal (David dalam Depdiknas, 2008). Adapun strategi belajar mengajar dapat diartikan sebagai pola umumkegiatan guru murid dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untukmencapai tujuan yang telah digariskan (Djamarah, 2006; Fathurrohman danSutikno, 2007). Atau dengan kata lain, strategi belajar mengajar merupakansejumlah langkah yang direkayasa sedemikian rupa untuk mencapai tujuanpengajaran tertentu (Fathurrohman dan Sutikno, 2007). Menurut Depdiknas(2008), strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan)termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya ataukekuatan dalam pembelajaran yang disusun untuk mencapai tujuan tertentu.Dalam hal ini adalah tujuan pembelajaran. Dilain pihak Dick & Carey (1985) 8
  • 2. 9menyatakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu set materi dan prosedurpembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasilbelajar pada siswa (Depdiknas, 2008). Strategi pembelajaran (belajar-mengajar)merupakan cara dan urutan yang ditempuh seorang guru dalam mengajar agarberhasil atau tujuan pembelajaran tercapai (Arifin, dkk. 2000). Arti penting strategi pembelajaran adalah kunci peningkatan jaminankualitas pembelajaran. Strategi pembelajaran aktif merupakan satu alternatifyang memungkinkan untuk melakukan kontekstualisasi guna menciptakanpartisipasi aktif peserta didik dalam proses pembelajaran, yang pada gilirannyamendorong kemudahan peningkatan jaminan kualitas guru (Munthe, 2009). Untuk melaksanakan tugas secara profesional, guru memerlukanwawasan yang mantap tentang kemungkinan-kemungkinan strategi belajarmengajar yang sesuai dengan tujuan belajar yang telah dirumuskan. MenurutMansyur (Djamarah, 2006; Fathurrohman dan Sutikno, 2007), batasan belajarmengajar yang bersifat umum mempunyai empat dasar strategi, yakni:a. Mengidentifikasi serta menetapkan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan sesuai tuntutan dan perubahan zaman.b. Mempertimbangkan dan memilah sistem belajar mengajar yang tepat untuk mencapai sasaran yang akurat.c. Memilih dan menetapkan prosedur, metode dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan guru dalam menunaikan kegiatan mengajar.
  • 3. 10d. Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau kriteria serta standar keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar. Strategi/metode/teknik pembelajaran mutlak harus sesuai, serasi, danselaras dengan materi/bahan ajar dan kompetensi yang ingin dicapai guru danmurid seperti ditunjukkan pada Gambar 2.1. Strategi pembelajaran adalah alatatau media, bukan tujuan pembelajaran (Munthe, 2009) MATERI EVALUASI Pembelajaran KOMPETENSI STRATEGIGambar 2.1 Hubungan Strategi Pembelajaran dengan Materi, Kompetensi, dan Evaluasi Pembelajaran Strategi pembelajaran dikatakan tepat jika sesuai dengankecenderungan kompetensi sebagai totalitas hasil belajar yang akandikembangkan, yakni apakah lebih bersifat kognitif, afektif, atau psikomotorik. Tingkat berpikir yang berbeda membutuhkan strategi pembelajaran yangtepat (seperti yang dpat dilihat pada Tabel 2.1). Pengembangan berpikir(kognitif, afektif, atau psikomotorik) ini menjadi tujuan pembelajaran dari mata
  • 4. 11pelajaran tertentu. Pengembangan hasil belajar ini dapat dikelompokkan kedalam ranah atau domain kognisi. Benyamin Bloom menjelaskan bahwadomain kognisi (cognitive) terdiri atas 6 tingkatan, mulai dari yang sederhanasampai yang sangat kompleks, yaitu knowledge (pengetahuan), comprehension(pemahaman), aplication (penerapan), analysis (analisis), synthesis (sintesis),dan evaluation (penilaian). Jika studi sosial memiliki nilai-nilai seperti kepribadian, yang menjaditujuan pembelajaran, maka ia dimasukkan ke dalam kelompok domain afeksi(affective). David R. Krathwohl (dalam Munthe, 2009) menjelaskan bahwadomain afeksi atau affective terdiri atas 5 level. Tingkat domain itu dimulai dariyang sederhana sampai yang sangat kompleks, yaitu receiving, responding,valuing, organization, dan characterization. Kemampuan tingkat yang lebihtinggi akan sekaligus memenuhi kemampuan di bawahnya. Demikian halnya dengan domain psikomotorik (psychomotor) yangmengembangkan kemampuan motorik, mulai dari yang sederhana sampai yangsangat kompleks.. Jika sebuah kompetensi mengandung pengembangan totalitashasil belajar yang meliputi berbagai domain, maka ia juga membutuhkanberbagai strategi pembelajaran yang tepat.
  • 5. 12 Tabel 2.1 Kesesuaian Ranah dan Tingkat Hasil Belajar dengan Strategi Pembelajaran (Munthe, 2009) Domain Level Methode or Strategy 1. Knowledge • Lecture, programmed instruction, drill and practice 2. Comrehension • Lecture, modularized intruction, programmed intruction 3. Application • Discussion, simulation and games, CAI, modularized, instruction, field experience, laboratoryCognitive 4. Analysis • Discussion, independent/group project, simulation, field experience, role playing, laboratory 5. Synthesis • Independent/group project, field experience, role playing, laboratory 6. Evaluation • Independent/group project, field experience, laboratory • Lecture, discussion, modularized intruction, field 1. Receiving experience • Discussion, simulation, modularized intruction, 2. Responding role playing, field experienceAffective • Discussion, independent/group project, simulation, 3. Valuing role playing, field experience • Discussion, independent/group project, field 4. Organization experience • Independent project, field experience. 5. Characterization 1. Perception • Demonstration (lecture), drill and practice 2. Set • Demonstration (lecture), drill and practice 3. Guided • Peer (teaching), games, role playing, field Response experience, drill and practicePsychomotor • Games, role playing, field experience, drill and 4. Mechanism practice 5. Complex Overt • Games, field experience Response 6. Adaptation • Independent project, games, field experience • Independent project, games, field experience 7. Origination
  • 6. 13 Strategi pembelajaran yang disusun juga harus sesuai dengan pendekatan yang akan digunakan. Pendekatan pembelajaran dalam pendidikan diciptakan orang berorientasi pada aspek hasil belajar yang diharapkan dapat dimiliki seseorang setelah melaksanakan pembelajaran. Beberapa pendekatan pembelajaran di antaranya adalah pendekatan konsep dari J. Bruner, pendekatan pengorganisasian konsep dari David Ausubel, pendekatan tingkat perkembangan intelektual dari Piaget, serta pendekatan Induktif-Deduktif dari Hilda Taba, pendekatan pemecahan masalah (Problem Solving Approach), dan pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat yang berorientasi pada paham bahwa belajar pada dasarnya adalah pengembangan intelektual (Arifin, 2003).B. Representasi Kimia Representasi adalah perbuatan mewakili, keadaan mewakili, perwakilan(KBBI, 2002). Menurut Johnstone dalam Chittleborough (2004), konsep kimiapada umumnya dapat direpresentasikan pada tiga level yang berbeda, yaitu:1. Level makroskopik: riil dan dapat dilihat, seperti fenomena kimia yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam laboratorium yang dapat diamati langsung.2. Level sub-mikroskopik: berdasarkan observasi riil tetapi masih memerlukan teori untuk menjelaskan apa yang terjadi pada level molekuler dan
  • 7. 14 menggunakan representasi model teoritis, seperti partikel sub-mikroskopik yang tidak dapat dilihat secara langsung.3. Level simbolik: representasi dari suatu kenyataan, seperti representasi simbol dari atom, molekul, dan senyawa, baik dalam bentuk gambar, aljabar, maupun bentuk-bentuk hasil pengolahan komputer. Ketiga level representasi kimia ini saling berhubungan dan berkontribusidalam pembentukan makna dan pemahaman siswa terhadap kimia. Berdasarkanhal tersebut, representasi kimia bisa digambarkan seperti Gambar 2.2. Makroskopik Riil yang dapat diindera Sub-Mikroskopik Simbolik Riil dan Representasi Representasi dari teori model Gambar 2.2. Representasi Ilmu Kimia Beberapa literatur menunjukkan bahwa dua aspek dari representasi kimia adalah penyebab kesulitan dalam belajar kimia. Pertama, khususnya simbolik dan molekuler (sub-mikroskopik) adalah abstrak dan tidak dapat dimengerti oleh intuisi (Ben-Zvi, Eylon & Silberstein dalam Wu, 2000). Kedua, kemampuan siswa untuk memvisualisasikan representasi. Hal ini dihubungkan dengan pemahaman mereka mengenai suatu konsep (Keig &
  • 8. 15 Rubba dalam Wu, 2000). Contohnya adalah mengubah rumus kimia dari air (H2O) menjadi rumus sturukturnya.C. Intertekstualitas Ilmu Kimia Fenomena kimia yang dapat diamati secara makroskopik biasanyadijelaskan dengan level sub-mikroskopik dan simbolik dari representasi kimia.Akibatnya, kemampuan siswa untuk memahami masing-masing level representasikimia dan kemampuan untuk mentransfer dari satu level ke level yang lain adalahaspek yang penting untuk dapat mengerti dan menyimpulkan suatu penjelasan.Penggunaan secara simultan dari representasi kimia (level makroskopik, sub-mikroskopik, dan simbolik) terbukti telah mengurangi konsep alternatif(miskonsepsi) siswa dalam pengajaran dan pembelajaran konsep kimia (Russell etal. dalam Treagust et al., 2003). Hubungan intertekstualitas kimia merupakan pertautan antara representasikimia, pengalaman kehidupan sehari-hari dan kejadian-kejadian di kelas yangdilakukan siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Dengan menerapkanhubungan intertekstualitas kimia, diharapkan siswa dapat memahami konsep-konsep kimia secara lebih utuh. Pemahaman konsep-konsep kimia tersebut dapatdibangun pada suatu rangkaian yang saling berhubungan dari konsep yang telahdipegang siswa. Hal tersebut sejalan dengan teori belajar bermakna yangdikemukakan oleh Ausubel. Menurut Ausubel, belajar bermakna terjadi apabilaada suatu proses yang mengaitkan informasi baru pada konsep yang relevan yang
  • 9. 16telah ada sebelumnya pada stuktur kognitif seseorang (Arifin, 2003). Jadi, dalambelajar bermakna informasi baru diasimilasikan pada subsumer-subsumer relevanyang telah ada dalam struktur kognitif (Dahar, 1996). Tanpa hubungan yang jelasantara kejadian dan representasi, siswa tidak dapat mengasimilasi pengetahuandasar baru ke dalam kerangka konsep mereka (Russell et al. dalam Treagust etal., 2003). Oleh karena itu, dalam pembelajaran kimia, belajar bermakna harusberpusat pada siswa dan dihubungkan dengan kejadian-kejadian sebagaimanadisebutkan menurut konstruktivisme (dalam Budiningsih, 2005) yangberanggapan bahwa pengetahuan bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataanyang sedang dipelajari, melainkan sebagai konstruksi kognitif seseorang terhadapobjek, pengalaman, maupun lingkungnnya. Pengetahuan bukanlah sesuatu yangsudah ada dan tersedia dan sementara orang lain tinggal menerimanya.Pengetahuan adalah sebagai suatu pembentukan yang terus menerus olehseseorang yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman-pemahaman baru. Karli (dalam Adisusilo) menyatakan konstruktivisme adalahsalah satu pandangan tentang proses pembelajaran yang menyatakan bahwa dalamproses belajar (perolehan pengetahuan) diawali dengan terjadinya konflik kognitifyang hanya dapat diatasi melalui pengetahuan diri dan pada akhir proses belajarpengetahuan akan dibangun oleh anak melalui pengalamannya dari hasil interkasidengan lingkungannya. Pendekatan konstruktivisme menghendakai siswa harusmembangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri. Guru dapat membantuproses ini dengan cara mengajar yang membuat informasi lebih bermakna dengan
  • 10. 17memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkansendiri ide-ide mereka. Guru dapat memberi siswa tangga yang dapat membantusiswa mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, namun harus diupayakanagar siswa sendiri yang memanjat tangga tersebut. Artinya guru hanya berperansebagai fasilitator siswa dalam memperoleh pengetahuan. Pengetahuan yang akandimiliki siswa bermula dari keaktifan siswa untuk mencari dan menemukan.Pengetahuan tidak akan diperoleh dari siswa yang pasif. Untuk membangun suatupengetahuan baru, siswa akan menyesuaikan suatu pengetahuan baru denganpengetahuan lama yang telah dimilikinya melalaui berinterksi sosial dengan siswayang lain. Kedekatan teori belajar bermakna Ausubel dengan konstruktivisme adalahkeduanya menekankan pentingnya mengasosiasikan pengalaman, fenomena, danfakta-fakta baru kedalam sistem pengertian yang telah dimiliki, keduanyamenekankan pentingnya asimilasi pengalaman baru ke dalam konsep ataupengertian yang sudah dimiliki siswa, dan keduanya mengasumsikan adanyakeaktifan siswa dalam belajar.D. Deskripsi Materi Interaksi antar Partikel Interaksi antar partikel adalah interaksi yang melibatkan atom, ion, danmolekul. Interaksi antar partikel terdiri dari ikatan logam (interaksi yang terjadiantara atom dengan atom), gaya ion-ion (interaksi yang terjadi antara ion yangsatu dengan ion yang lain), gaya antar molekul (interaksi antara molekul yang
  • 11. 18satu dengan molekul yang lain), dan gaya ion dengan molekul. Yang menjadifokus penelitian ini adalah gaya ion-ion, gaya van der Waals (gaya dipol-dipol,gaya dipol-dipol terimbas, gaya dispersi London), ikatan hidrogen, dan gaya iondengan molekul. a. Gaya Ion-Ion Gaya ion-ion terjadi karena adanya bakutarik elektrostatik di antara ion-ion yang berlawanan muatan. Ion positif dan ion negatif terbentuk karena adanya serah terima elektron. Gaya ini terdapat pada senyawa ion. Contohnya garam natrium fluoride, NaF. Selain pada satu jenis senyawa ion, gaya ion-ion juga terdapat pada campuran lelehan garam. Misalnya pada pembuatan logam aluminium, yaitu pada tahap reduksi aluminium oksida yang dilakukan melalui elektrolisis menurut proses Hall-Heroult. Aluminium oksida mempunyai titik leleh yang sangat tinggi, yaitu lebih dari 2000°C. Oleh karena itu, elektrolisis lelehan aluminium oksida dilarutkan dalam lelehan kriolit (Na3AlF6) dalam bejana dari baja berlapis grafit yang sekaligus berfungsi sebagai katode. Dengan cara itu, elektrolisis dapat dilangsungkan pada suhu 950°C. . b. Gaya antar Molekul Gaya yang terjadi antara satu molekul dengan molekul yang lain disebut dengan interaksi antar molekul (intermolecular forces) atau gaya antar molekul. Gaya ini yang menyebabkan suatu gas dapat mencair dan
  • 12. 19membeku. Gaya atau ikatan antar molekul sangat berbeda dengan ikatandi dalam suatu molekul (intramolecular forces), yaitu ikatan kovalen.Ikatan antar molekul terjadi karena adanya antaraksi antara molekulsebagai hasil dari muatan parsial. Ada beberapa jenis gaya antar molekul,yaitu: ikatan hidrogen dan gaya van der Waals (gaya dipol-dipol, gayadipol-dipol terimbas, dan dispersi London). Ikatan hidrogen termasuk kedalam antaraksi dipol-dipol yang istimewa. Oleh karena itu, ikatanhidrogen akan dibahas secara terpisah dari gaya dipol-dipol.1. Ikatan Hidrogen Bukti awal adanya ikatan hidrogen berasal dari kajian mengenai titik didih senyawa. Biasanya, titik didih sederet senyawa yang serupa yang mengandung unsur-unsur dalam golongan yang sama meningkat dengan meningkatnya massa molekul. Tetapi senyawa hidrogen unsur- unsur golongan 5A, 6A, dan 7A tidak mengikuti kecenderungan ini. Dalam setiap deret ini, senyawa yang paling ringan (NH3, H2O, dan HF) memiliki titik didih tertinggi, bertentangan dengan dugaan yang didasarkan pada massa molekul seperti ditunjukkan pada Gambar 2.3. Alasannya adalah adanya ikatan hidrogen yang meluas antara molekul-molekul dalam senyawa tersebut.
  • 13. 20 Gambar 2.3 Kurva Titik didih Senyawa-senyawa Hidrogen.Terlihat bahwa titik didih senyawa yang terbentuk oleh unsur periode kedua (N, O, F) menyimpang dari senyawa unsur segolongannya. Ikatan hidrogen terbentuk bila atom hidrogen terikat padaatom elektronegatif seperti fluorin, oksigen, atau nitrogen. Secaraumum, ikatan hidrogen dapat digambarkan sebagai berikut:Keterangan: A dan B adalah N, O, atau F ... adalah ikatan hydrogen : adalah pasangan elektron bebas - adalah ikatan antara atom Fakta bahwa beberapa senyawa organik dengan gugus hidroksi–OH atau gugus amino –NH2 relatif lebih larut dalam air dibandingkandengan pelarut anorganik lain disebabkan karena pembentukan ikatanhidrogen dengan molekul air. Dimerisasi asam karboksilat sepertiasama asetat CH3COOH juga merupakan contoh adanya ikatanhidrogen seperti ditunjukkan pada Gambar 2.4.
  • 14. 21 Gambar 2.4 Ikatan Hidrogen pada Dimerisasi Asam Karboksilat(Takeuchi, 2006)2. Gaya van der Waals Gaya dorong pembentukan ikatan hidrogen adalahdistribusi muatan yang tak seragam dalam molekul, atau polaritasmolekul (dipol permanen). Polaritas molekul adalah sebab agregasimolekul menjadi cair atau padat. Namun, molekul non polar semacammetana CH4, hidrogen H2 atau helium He dapat juga dicairkan, danpada suhu yang sangat rendah, mungkin juga dipadatkan. Hal iniberarti bahwa ada gaya agreagasi antar molekul dan atom ini. Gayasemacam ini disebut dengan gaya van der Waals. Ikatan hidrogen yang diuraikan di atas adalah salah satujenis gaya antar molekul, yaitu gaya tarik dipol-dipol istimewa. Gayaantar molekul yang lain adalah gaya van der Waals yang terdiri darigaya tarik dipol-dipol, gaya tarik dipol-dipol terimbas dan gayadispersi London.
  • 15. 22a. Gaya Dipol-Dipol Saat molekul-molekul yang memiliki dipol berdekatan satu sama lain, ujung positif satu molekul akan tertarik ke ujung negatif molekul lainnya. Gaya tarik yang terjadi tersebut dinamakan gaya tarik dipol-dipol (Gambar 2.5). Gaya dipol baru efektif jika molekul- molekul polar sangat berdekatan. Gambar 2.5 Gaya Dipol-dipol pada Padatan (a) dan Cairan (b) Jika dibandingkan senyawa-senyawa polar dengan massa molekul dan ukuran yang hampir sama, semakin besar momen dipolnya, semakin polar molekulnya dan semakin besar pula gaya dipol-dipolnya. Semakin besar momen dipolnya, semakin tinggi pula titik didihnya (Sumarna, 2006). Ikatan Kovalen terjadi karena adanya penggunaan bersama pasangan elektron oleh atom-atom yang berikatan. Contohnya HCl yang merupakan molekul polar. Pasangan elektron ikatan pada molekul HCl, lebih tertarik ke arah atom Cl yang lebih elektronegatif dibandingkan dengan atom H sehingga terjadi pengkutuban muatan yang dinamakan dipol.
  • 16. 23b. Gaya Tarik Dipol-Dipol Terimbas Jika molekul polar ditempatkan di dekat suatu atom atau molekul nonpolar, distribusi elektron pada atom atau molekul nonpolar itu akan terganggu dengan gaya yang dilakukan oleh molekul polar tersebut. Akibatnya, atom atau molekul nonpolar tersebut mempunyai dipol. Dipol yang dihasilkan dalam atom atau molekul nonpolar itu disebut dipol terinduksi (induced dipole) sebab pemisahan muatan positif dan negatif dalam atom atau molekul nonpolar itu disebabkan terinduksi oleh suatu molekul polar. Interaksi tarik-menarik antara molekul polar dan dipol terinduksi disebut interaksi dipol-dipol terinduksi (terimbas). Contohnya adalah gas oksigen yang terlarut dalam air seperti ditunjukkan oleh Gambar 2.6. Gas Oksigen (O2) adalah molekul nonpolar yang akan terimbas oleh adanya molekul air (H2O) yang polar. Gambar 2.6 Ikan Hidup dalam Air Menunjukkan Adanya Oksigen dalam Air
  • 17. 24c. Gaya Dispersi London Kebolehpolaran (polarizability) berperan penting dalam gaya antar molekul. Kebolehpolaran adalah kemudahan terganggunya distribusi elektron dalam suatu atom atau molekul nonpolar. Kebolehpolaran memungkinkan gas-gas yang mengandung atom atau molekul nonpolar (misalnya O2) diperoleh dalam bentuk cairnya, seperti ditunjukkan pada Gambar 2.7. Gambar 2.7 Oksigen Cair pada Suhu 90,20 K Dalam molekul oksigen, elektron-elektron bergerak pada jarak tertentu dari inti. Pada saat tertentu mungkin saja molekul itu memiliki momen dipol yang dihasilkan oleh letak tertentu elektron-elektron tersebut. Momen dipol ini disebut dipol sesaat karena dipol ini hanya berlangsung selama sepersekian detik yang sangat singkat. Pada saat berikutnya elektron-elektron itu berada pada tempat yang berbeda dan molekul itu memiliki dipol sesaat yang baru, dan seterusnya. Tetapi, jika dirata-ratakan terhadap waktu (yaitu, waktu yang diperlukan untuk melakukan pengukuran momen dipol), molekul tersebut tidak
  • 18. 25memiliki momen dipol karena dipol-dipol sesaat salingmenghilangkan satu sama lain. Dalam kumpulan molekul oksigen,dipol sesaat satu molekul oksigen dapat menginduksi dipol pada setiapmolekul oksigen tetangga terdekatnya. Pada saat berikutnya, dipolsesaat yang berbeda dapat menciptakan dipol-dipol sementara padamolekul-molekul oksigen di sekitarnya. Hal penting di sini adalahbahwa interaksi semacam ini menghasilkan tarik-menarik antaramolekul-molekul oksigen. Tafsiran mekanika kuantum terhadap dipol-dipol sesaat ini dikemukakan pada tahun 1930 oleh Fritz London,seorang fisikawan Jerman. London menunjukkan bahwa besarnyatarik-menarik ini berbanding lurus dengan kebolehpolaran atom ataumolekul. Seperti yang kita harapkan, gaya tarik-menarik yang timbulsebagai hasil dipol-dipol yang terinduksi sementara dalam atom ataumolekul, yang disebut gaya dispersi (dispersion force), mungkincukup lemah. Hal ini terbukti pada oksigen yang memiliki titik didihhanya 90,20 K. Gaya dispersi biasanya meningkat dengan meningkatnya massamolekul relatif karena molekul-molekul dengan massa molekul relatifyang lebih besar berarti bahwa atom yang lebih besar distribusielektronnya lebih mudah diganggu karena elektron-elektronnya kurangterikat pada inti (Chang, 2005). Selain itu, kekuatan gaya dispersiLondon juga dipengaruhi oleh struktur molekulnya. Semakin banyak
  • 19. 26cabangnya, maka gaya dispersinya semakin lemah. Misalnya molekul-molekul hidrokarbon n-propana C3H8, dan n-heksana C6H14, yangstrukturnya ditunjukkan pada Gambar 2.9: H H H H C C C H H H H n-Propana H H H H H H H C C C C C C H H H H H H H n-Heksana Gambar 2.8 Struktur n-Propana dan n-HeksanaSetiap molekul-molekul tersebut secara keseluruhan bersifat nonpolar.Dalam cairannya masing-masing, molekul-molekulnya akan salingtarik-menarik dengan gaya London. Tetapi gaya tarik yang mengikatmolekul-molekul heksana dalam cairannya lebih kuat daripada yangmengikat molekul-molekul propana dalam cairannya. Hal tersebutterbukti dengan nilai titik didih heksana (68,7°C) yang lebih besardaripada nilai titik didih propana (-42,1°C). Alasannya beranjak darisejumlah tempat sepanjang rantai yang dapat tertarik oleh molekul-molekul lain yang mengelilinginya. Heksana mempunyai rantai lebihpanjang dibandingkan propana, oleh karena itu, gaya tarik antaramolekul heksana dengan molekul heksana yang lain akan lebih terasaoleh sekitarnya (Brady, 1999).
  • 20. 27c. Gaya Ion dengan Molekul Gaya ion dengan suatu molekul terdiri dari gaya ion-dipol (gaya yang terjadi antara ion dengan molekul polar) dan gaya ion- dipol terimbas (gaya yang terjadi antara ion dengan molekul nonpolar). 1. Gaya Ion-Dipol Ketika ion dekat dengan molekul polar (dipol) keduanya akan berinteraksi satu sama lain, maka dihasilkan gaya ion-dipol. Contoh terpenting yang dapat diambil adalah ketika senyawa ionik dilarutkan di dalam air. Ion-ion akan terpisah karena antaraksi antara ion dan ujung muatan yang berlawanan dari molekul air dapat mengatasi antaraksi antara ion-ion itu sendiri. Salah satu contoh senyawa ion tersebut adalah garam NaCl. Ketika garam NaCl dilarutkan ke dalam air, ion-ion Na+ dan Cl- dikelilingi oleh molekul air (Gambar 2.8). Gambar 2.9 Gaya ion-dipol A. ion Na+ dengan Molekul Air, dan B. Ion Cl- dengan Molekul Air
  • 21. 282. Gaya Ion-Dipol Terimbas Jika ion ditempatkan di dekat suatu atom atau molekul nonpolar, distribusi elektron pada atom atau molekul nonpolar itu akan terganggu dengan gaya yang dilakukan oleh ion tersebut. Dipol yang dihasilkan dalam atom atau molekul nonpolar itu disebut dipol terimbas, sebab pemisahan muatan positif dan negatif dalam atom atau molekul nonpolar itu disebabkan terimbas oleh suatu ion. Interaksi tarik-menarik antara ion dan dipol terimbas disebut interaksi ion-dipol terimbas. Gaya ini berperan penting dalam biologi yaitu pada inisiasi pengikatan ion Fe2+ yang terdapat pada hemoglobin dengan molekul oksigen yang terdapat di dalam aliran darah. Gaya ini juga berperan dalam melarutkan garam di dalam pelarut yang sedikit polar seperti LiCl di dalam etanol (Silberberg, 2007).

×