Uploaded on

 

More in: Education
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
2,114
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
58
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. EFEK OBAT Oleh : Danang Yulianto, S.Si., Apt.
  • 2. Efek ialah perubahan fungsi struktur atau proses sebagai akibat kerja obat. KERJA → EFEK (RESPON) Dikenal 2 macam efek : 1. Efek normal 2. Efek abnormal
  • 3. Efek normal ialah efek yang timbul pada sebagian besar (kebanyakan) individu Efek abnormal ialah efek yang timbul pada sebagian kecil individu atau kelompok individu tertentu. Kedua macam efek tersebut dapat terjadi pada dosis lazim yang dipergunakan dalam terapi
  • 4. Efek Normal Obat dalam dosis terapi dapat menimbulkan lebih dari satu macam efek yang dibedakan menjadi : 1. Efek utama (primer) 2. Efek samping
  • 5. 1. Efek Primer ialah efek yang sesuai dengan tujuan pengobatan. Misal : Morfin untuk menghilangkan rasa sakit Eter untuk menginduksi anastesi
  • 6. 2. Efek samping ialah efek yang tidak menjadi tujuan utama pengobatan. Efek ini bisa menguntungkan atau merugikan tergantung pada kondisi dan situasi pasien Misal : Antihistamin (difenhidramin). Tujuan untuk melawan kerja histamin.
  • 7. Antihistamin → menimbulkan rasa kantuk Menguntungkan……????? Ya…bagi pasien yang membutuhkan istirahat Merugikan….????? Ya…pada pekerjaan yang butuh kewaspadaan seperti pengemudi kendaraan bermotor.
  • 8. Efek utama dapat menimbulkan efek sekunder, yaitu efek yang tidak diinginkan dan merupakan reaksi organisme (tubuh) terhadap efek primer obat. Misal : Tetrasiklin peroral → dapat menimbulkan diare Mengapa …..????
  • 9. Tetrasiklin → antibiotik spektrum luas Tetrasiklin dalam saluran cerna membunuh flora normal usus yang membantu fungsi normal pencernaan Flora normal usus terbunuh → fungsi normal saluran cerna terganggu → diare
  • 10. Efek Abnormal Dapat berupa toleransi atau intoleransi 1. Toleransi ialah peristiwa yang terjadi jika dibutuhkan dosis yang lebih tinggi untuk menimbulkan efek yang sama dengan yang dihasilkan oleh dosis terapi normal. Dibedakan menjadi toleransi semu dan toleransi sejati.
  • 11. Toleransi Semu Timbul akibat obat diberikan dengan cara tertentu Misal : seorang individu toleran terhadap obat (racun) jika diberikan secara peroral, tetapi tidak toleran jika racun diberikan dengan cara lain misal disuntikkan.
  • 12. Toleransi Sejati Timbul jika obat diberikan secara oral maupun parenteral Dapat disebabkan perubahan disposisi obat yang berakibat berkurangnya intensitas dan lamanya kontak kontak antara obat-jaringan sasaran (reseptor) atau perubahan sifat dan fungsi sasaran sedemikian sehingga jaringan kurang peka terhadap obat.
  • 13. Toleransi sejati meliputi toleransi alami dan toleransi yang diperoleh a. Toleransi alami ialah toleransi yang terlihat pada berbagai spesies hewan dan juga pada berbagai suku bangsa Meliputi : toleransi spesies dan toleransi rasial
  • 14. Toleransi spesies Contoh : kelinci toleran terhadap dosis tinggi atropin karena mempunyai atropin esterase → mampu menghidrolisis atropin Toleransi rasial Efedrin → kantong konjungtiva orang Kaukasia →dilatasi pupil Pada orang negro → tidak berefek
  • 15. b. Toleransi yang diperoleh ialah toleransi yang timbul setelah individu menggunakan obat secara berulang-ulang Contoh : barbiturat, xantin Toleransi yang timbul beberapa saat setelah pemberian obat → takhifilaksis (toleransi akut) contoh : efedrin, amfetamin
  • 16. 2. Intoleransi suatu penyimpangan respon terhadap dosis tertentu obat. Dibedakan menjadi intoleransi kuantitatif dan kualitatif
  • 17. A. Intoleransi Kuantitatif Beberapa individu hiperresponsif terhadap obat → dapat merespon dosis obat yang lebih rendah dari dosis terapi B. Intoleransi Kualitatif Gejala dan tanda yang tampak sama sekali berbeda dari gejala yang timbul setelah pemberian obat dosis toksik Meliputi : idiosinkrasi, anafilaksis, alergi
  • 18. Idiosinkrasi Merupakan efek abnormal dan terjadi secara individu, familial atau rasial. Contoh : Primakuin → hemodialisis pada sekelompok orang kulit berwarna, sekelompok orang Yunani dan Mediterania → kekurangan glukosa-6fosfat dehidrogenase
  • 19. Anafilaksis Reaksi alergi yang terjadi dalam waktu singkat setelah pemberian obat. Dapat menimbulkan syok → syok anafilaksis → berakibat fatal
  • 20. Alergi Beberapa individu → obat dapat menimbulkan zat anti (antibody) Pemeberian obat berikutnya → terjadi reaksi antara obat (antigen) dengan zat antibody → melepaskan histamin → timbul gangguan pada kulit (gatal-gatal) dan asma bronkhial Reaksi berlangsung lambat Contoh obat : Penisillin
  • 21. EFEK TOKSIK Efek yang timbul jika obat digunakan berulang-ulang dan dalam dosis tinggi. Klasifikasi → berkaitan dengan organ / sistem yang menjadi sasaran obat yang bersangkutan.
  • 22. Toksisitas hemopetik Efek seperti anemia sampai berbagai diskrasias darah aeperti lekopenia, granulositopenia, agranulositosis, trombositopenia. Contoh obat : …..??? kloramfenikol
  • 23. Hepatotoksisitas Obat → menimbulkan kerusakan hati → merusak sel-sel hati Contoh obat yang menimbulkan kerusakan hati : …..??? Parasetamol, klorpromazin, karbon tetraklorida
  • 24. Nefrotoksisitas Toksik pada ginjal Antibiotik neomisin tidak pernah diberikan secara parenteral → toksisitasnya pada ginjal Benttuk terasetilasi sulfonamida dapat mengendap pada saluran air kemih → jika air kemih bereaksi asam → timbul batu ginjal
  • 25. Toksisitas perilaku Obat reserpin → menimbulkan kecenderungan bunuh diri Amfetamin → menyebabkan disorientasi, bingung, dan kesukaran berkonsentrasi
  • 26. Teratogenisitas Obat sedatif thalidomide → mengakibatkan anomali perkembangan janin Tragedi thalidomide → mengharuskan dilakukannnya uji teratogenisitas terhadap setiap obat baru
  • 27. Ketergantungan Obat seperti opiat, alkohol, barbiturat → dapat menyebabkan timbul ketergantungan psikologik dan fisiologis jika diberikan secara berulang-ulang
  • 28. Uji Toksisitas Obat 1. Uji Toksisitas Akut Untuk menentukan efek toksik suatu senyawa (misal zat tambahan makanan) yang akan terjadi pada waktu singkat setelah pemejanan pada berbagai tingkatan dosis Sekurang-kerungnya menggunakan 2 jenis hewan uji rodent dan nirrodent, jantan maupun betina
  • 29. Biasanya pengamatan dilakukan selama 24 jam dan maksimum sampai 3-7 hari setelah pemejanan dengan dosis tunggal Pengamatan seperti gejala klinis, jumlah hewan yang mati, histopatologi organ Diperoleh data kuantitatif LD50 dan data kualitatif seperti penampakan klinis dan morfologi efek toksik senyawa uji
  • 30. 2. Uji Toksisitas Subkronik Uji ketoksikan suatu senyawa yang diberikan dengan dosis berulang pada hewan uji tertentu kurang dari 3 bulan Tujuan → untuk mengungkapkan spektrum efek toksik senyawa uji dan kaitannya dengan takaran dosis Pemeriksaan perubahan berat badan, hemaologi, gejala klinis, histopatologi organ
  • 31. 3. Uji Toksisitas Kronik Serupa dengan uji toksisitas subkronik → perbedaannya pada lama pemejanan senyawa uji lebih dari 3 bulan (selama sebagian besar masa hidup hewan uji) Akan menutupi hasil uji ketoksikan akut dan subkronik → kedua uji ini memiliki keterbatasan nilai prediktif Mengapa……???
  • 32. Karena : 1. Zat kimia mungkin menghasilkan respon toksik berbeda bila diberikan secara berulang selama waktu yang panjang 2. Selama proses menua → faktor kepekaan jaringan, perubahan kapasitas metabolik, penyakit → mungkin mempengaruhi derajat dan sifat efek toksik
  • 33. Tujuan uji ketoksikan kronik : 1. Melihat perubahan secara kasar misalnya perubahan berat badan, rontoknya bulu, perubahan tingkah laku hewan 2. Efek senyawa uji terhadap organ hati, ginjal, jantung
  • 34. Matur Nuwun Terima Kasih