Rasa Tidak Punya di Hadapan Allah22 Oktober 2001 (alm. PB online, get it back by WayBackMachine)Cak Nun menjadi sosok panu...
sangka lagi, salah sangka lagi. Tapi itu mudah-mudahan merupakan terminal ilmu yangmeningkat. Ini tadi metaforik, kalau sa...
Bagaimana bisa begitu?Ya, manajemen. Manajemen psikologi, manajemen mental, manajemen kejiwaan. Lho,memang begitu saya. Ka...
tidak sesuai yang bertentangan dengan keyakinan saya. Itu saja. Mahasiswa saya kritik,saya tentang, biar mereka jumlahnya ...
pengajian) Saya oke, sekarang ada anak-anak bercengkarama, anak 20. Terus di sini adatape terus saya melingkar begini. Ya ...
Anda juga memperhatikan dan menggali pengalaman sekecil apapaun?Kalau pakai bahasanya Markeso, kalau ditanya siapa gurumu ...
yang menyediakan perpusatakaan untuk saya, komputer, segala macam. Saya mau bicaraapa tinggal set... set... set... set... ...
kita cuma satu, Allah. Wakil bintang cuma satu, nabi-nabi. Itu saja. Kalau saya, sih apa.Saya cuma makelar kecil-kecilan.A...
saya. Saya bukan orang yang sok seniman yang mau bebas, ingin petualangan. Mau koksaya terikat. Tapi buktinya, yang jelas,...
sendiri. Anda tidak perlu memaksakan dia untuk keluar atau memaksakan semingggukeluar berapa kali. Sebab dia sudah bekerja...
Anda pernah ingin jadi wanita?Kadang-kadang. Saya tidak pernah merasa jadi laki-laki atau jadi perempuan. Sayamanusia. Jad...
untuk menangis. Berarti laki-laki oleh Tuhan tidak disediakan air mata. Air mata laki-lakiuntuk apa? Mau dikeluarkan dari ...
mengajarnya begini, males datangnya, terlambat begini, begini, pokoknya saya protes.Kelas V protesnya memuncak. Terus saya...
Makanya yang pribadi tidak bisa total. Misalnya istri saya, katakanlah ya, misalnya pacarsaya, saya punya pacar terus dia ...
Kalau tentang mistik?Mistik itu bukan barang obyektif, mistik itu realitas. Lain dengan klenik. Klenik itusesuatu yang tid...
berarti Anda bisa tidak makan. Kan mati? Minum teh juga bisa haram. Naik haji juga bisaharam. Tapi itu interpretasi fiqih ...
cewek pada ngumumin ukuran BH segala macam. Karena itu saya suka kesel sama Tuhan,aduh, kalau bikin cewek mbok jangan cake...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Rasa Tidak Punya di Hadapan Allah

2,051 views

Published on

Published in: Spiritual
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
2,051
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Rasa Tidak Punya di Hadapan Allah

  1. 1. Rasa Tidak Punya di Hadapan Allah22 Oktober 2001 (alm. PB online, get it back by WayBackMachine)Cak Nun menjadi sosok panutan sebagai santri modern dengan pemikiran membeset. Iaberani menghantam apa yang dianggapnya tak benar, kendati itu opini umum.Senjatanya ilmu memadamkan, yang tiga kali lebih dahsyat dari ilmu membakar. Betapapun, ia tipe perenung, pemburu abstraksi di balik realitas. Mencari kyai gondrongberjeans ini gampang-gampang susah. Yang mesti diladeninya berjibun, dari kota kekota. Tapi dengan kepintarannya mengelola jadwal, wawancara berlangsung juga.Setelah mengantar teman mainnya ketika kecil, Markeso, ke terminal bis dengan sedantuanya berwarna putih, kami berempat (Cak Nun, “sekretarisnya” Imam,Julie Erikania dan Widya Saraswati) menuju Jokteng Kulon, ketempat lesehan murah dimana para seniman Yogya biasa ngumpul. Ini memang jalan keluar terbaik, karenarumah penyair ini selalu penuh dengan anak muda dan tidak memungkinkan untukwawancara. Jam menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Udara Yogya yang dinginterus enak bercampur teh gula batu manis kental. Emha menggemari adonan ini, baugot di depan kami seperti hilang begitu saja, larut bersama angin.Apa sebenarnya yang Anda cari?Mencari....apa yang saya cari. Tiap hari bisa berubah. Berubah artinya berkembang.Mungkin hari ini saya....oh ternyata saya mencari pohon. Pantas saya kok bersikerasmasuk hutan, ternyata cara mencari pohon. Tahun depan mungkin....ah, ternyata bukanpohonnya. Yang saya cari itu daunnya. Pantas saya begitu ini sama warna hijau sejakdulu. Tahun depannya lagi, aduh......, ternyata bukan daunnya yang saya cari. Yang sayacari adalah warna hijau, zatnya. Tahun depannya lagi ternyata bukan zatnya, yang sayacari adalah satu gerak rahasia yang membikin unsur-unsur dalam tanah itu bisa menjadikehijauan yang indah seperti itu. Jadi ternyata yang saya cari bukan pohonnya, bukandaunnya, tetapi sesuatu yang abstrak yang tidak kelihatan, yang bisa memungkinkanpertumbuhan itu. Misalnya begitu. Jadi saya selalu mencari apa yang saya cari.Dan menemukan setiap kali mencari?Oh, kalau sudah menemukan itu namanya ma’rifatullah. Itu namanya sudahsampai di surga. Tidak asyik lagi kalau sudah menemukan. Itu pasti saya akan salah
  2. 2. sangka lagi, salah sangka lagi. Tapi itu mudah-mudahan merupakan terminal ilmu yangmeningkat. Ini tadi metaforik, kalau saya ngomong hutan. Demikian juga kalau sayaketemu masyarakat, saya mesti ikut seminar arsitektur, itu semua adalah apa yang sayasebut pohon, daun dan seterusnya. Nah, itu yang primer. Yang lain-lain sekunder, kok.Apa itu yang sekunder?Ya misalnya, apakah saya punya rumah atau tidak, apakah saya terkenal atau tidak,apakah saya jadi pejabat atau tidak, apakah saya punya karier atau tidak. Itu semuamenjadi sekunder. Apakah saya bisa menjadi seniman besar atau tidak, itu menjadisekunder. Bukan tidak penting, tapi sekunder. Karena itu saya tidak pernah menguruskarier saya. Kalau saya urus itu, saya sudah di Jakarta. Di sana tata sistem telahmempersiapkan ruang untuk saya sejak 15 tahun yang lalu. Tapi saya tidakmemanfaatkan. Karena bagi saya yang primer adalah mencari ilmu, mencaripengetahuan sejati. Tapi apakah saya kaya atau miskin menjadi nomor dua.Pernah merasakan jenuh atau bosan dalam mencari?Ya, dong! Jenuh, mangkel, marah, jengkel, putus asa, frustasi, bisa saja, toh. Itu semuamakhluk-makhluk sekunder. Orang harus ... karena dia manusia, karena dia punya statusdan realitas yang dijatahkan Tuhan sedemikian rupa, karena dia manusia, maka dia lebihbesar dari unsur-unsur yang dia alami. Orang silakan bersedih, karena itu manusia. Tapiorang itu hakekatnya dan keharusannya lebih besar dari kesedihannya. Jadi kesedihanitu .....oh, saya sedih. Saya bahagia...oh saya bahagia ini. Saya mangkel sama orang,saya marah besar karena suatu proses. Tapi saya bilang, saya sangat marah. Hati sayalho, tapi. Jadi, karena saya toleran sama hati saya, tapi juga toleran sama Anda, sayaberdiri di tengah-tengah. Saya juga harus menghormati hati Anda tapi harusmenghormati Anda juga. Jadi hati saya tidak menguasai saya lantas saya marah,cemberut, atau apa. Tidak! Saya bilang, hati saya lagi marah. Jadi anda harus menunggubeberapa jam sampai dia sembuh, syukur Anda membantu menyembuhkannya. Sayatidak marah sama dia. Saya tertawa, tetap guyon. Tapi harap diingat bahwa hati sayamarah.
  3. 3. Bagaimana bisa begitu?Ya, manajemen. Manajemen psikologi, manajemen mental, manajemen kejiwaan. Lho,memang begitu saya. Kalau saya marah selama ini, kecuali pas saya sangat lemah,kecuali saya pas tidak punya energi ruhani yang cukup gitu ya. Selama ini saya kalaumarah tidak sebagai ekspresi pribadi. Marah saya selama ini adalah metode sosial gitu.Artinya, oh ini orang memang perlu dimarahi. Maka saya marahi dia. Jadi saya marahbukan karena saya ingin marah atau tidak ingin marah sama dia, tapi karena orang itubutuh dimarahi. Jadi itu metode pergaulan.Anda didatangi orang untuk berguru, mendengarkan, itu mulai kapan?Yo, gak iso tak critakno iku. Ya apa, ya? (Ya tak bisa saya ceritakan itu. Gimana, ya?) Itusebenarnya historis kok. Rumah saya di desa di Jombang itu menjadi pos sosial. Entahanak-anak belajar bersama, entah anak-anak olah raga, entah anak-anak bikinkepanitiaan. Pokoknya dari urusan olah raga sampai konsultasi hukum juga di rumah.Konsultasi soal hama wereng juga ke rumah. Jadi kalau Anda mencari lewat Sosiologimungkin ada yang namanya tipologi kepemimpinan tradisional. Saya bukan pemimpin,tapi mungkin Anda melacaknya lewat acuan itu. Pemimpin-pemimpin tradisional di desaitu harus bisa memecahkan persoalan apa saja. Ayah ibu saya adalah tipologi semacamitu. Saya, kami dibesarkan dalam iklim seperti itu. Karena itu lima belas saudara sayatidak satupun yang tidak terjun dalam bidang pendidikan. Habis tidak ada yang berbakatlain-lainnya sih. Dagang, saya tidak tega. Saya pernah kok dagang. Pernah tapi tidaktega, habis menang terus. Negoisasi menang. Wah.....mesakke (kasihan) itu sama Cina diNgasem itu. Begitu menang, wah malah lara dhewe aku. Aduh kasihan. Kalau saya harusbegini, untuk apa sih saya harus menang dari orang itu. Saya tidak bahagia denganmenjadi pemenang. Karena itu saya secara filosofis, kalau saya ditanya apa yang murnidari gagasan saya, saya tuh tidak setuju dengan prinsip kalah menang. Kecuali dalamolah raga. Orang tidak pernah bisa menang pada orang lain pada akhirnya. Orang hanyabisa menang pada dirinya sendiri. Dan itu ajaran yang paling kuno. Jadi untuk apa sayamesti menang sama orang lain. Tidak mengerti saya, tidak bahagia. Makanya sayamending kalah saja, tidak apa-apa. Sebab dalam kekalahan saya menemukankemenangan yang lebih tinggi. Saya bukan pemberontak terhadap orang lain. Mungkinsaya dilihat, kadang-kadang suka protes. Yang saya protes bukan orang lain, yang sayalakukan adalah mengungkapkan ketidaksetujuan terhadap prinsip-prinsip tertentu yang
  4. 4. tidak sesuai yang bertentangan dengan keyakinan saya. Itu saja. Mahasiswa saya kritik,saya tentang, biar mereka jumlahnya tiga ribu empat ribu di depan saya. meskipun ituarus opini umum, saya harus tentang. Tinggal caranya saja bagaimana. Dan itu ilmunyaadalah ilmu meredam. Ilmu memadamkan itu tiga kali lipat lebih sukar daripda ilmumembakar. Juga menggerakkan massa itu sepertiganya menahan massa, menghentikan.Jadi, kalau saya kembalikan ke soal historis itu tadi, sejak kecil kami dibesarkan dalamatmosfir seperti itu. Tapi saya juga tidak merasa menjadi apa-apa di depan mereka.Saya tidak punya kelompok, tidak pernah punya organisasi, tidak pernah jadi ketuasegala macam. Saya tidak pernah membatasi apakah mereka mau di tempat saya, tigabulan monggo, setahun monggo, sehari monggo, saya tidak pernah membatasi. Sayaharus siap untuk didatangi dan ditinggalkan. Saya tidak boleh bahagia karena didatangiatau sedih karena ditinggalkan. Bagi saya datang dan pergi itu mekanisme alam biasa.Tapi tidak wajar rumah Anda menjadi seperti terminal Ya, memang tidak wajar. Danpada saat-saat tertentu saya juga merasa terjajah oleh itu.Lalu bagaimana Anda memperoleh privacy?Akhirnya privacy saya ada di dalam diri saya. Anda tahu, saya sekarang tidak punyakamar. Saya menulis di tengah anak-anak itu. Saya sejak dulu memang sudah berlatihuntuk itu. Biar ramainya kayak apa, ya tidak apa-apa. Dulu saya mengetik di pangkuankayak gini, sambil menemui tamu. Bukan hebat bukan apa, itu soal latihan saja. Danorang yang datang itu kan tidak bisa juga saya tentukan. Itu tergantung mereka.Tergantung mereka mau jam empat pagi datang, ya silakan.Anda punya kamar tidur?Sekarang jadi musholla. Saya tidur di ruang tengah, atau di ruang depan seenaknya.Kadang malah tidur di luar itu enak sekali. Ya memang saya butuhkan privacy, tapi batasdan luas volume privacy ini bagi tiap orang berbeda-beda. Ada penulis yang jika menulisharus sepi betul tidak ada orang. Itu baik saja dan tidak salah. Nah, saya tidak punyaposisi sosial untuk mendapatkan itu, tidak punya posisi sosial untuk memungkinkan itu.Kalau sedang ingin sendiri tanpa diganggu orang lain?Tidur atau shalat. Atau mendengarkan ngaji tadi itu. (Ketika dalam perjalanan darirumahnya menuju terminal dan tempat lesehan. Emha memutar kaset blues dan
  5. 5. pengajian) Saya oke, sekarang ada anak-anak bercengkarama, anak 20. Terus di sini adatape terus saya melingkar begini. Ya sudah toh, private toh? Kalau sudah memejamkanmata, siapa yang berani membuka mata saya. Tidak kan? Sudah private itu. Ruangnyacukup seluas tubuh saya ini. Saya malah lebih aman begitu. Jadi di situ saya bisa privatetapi saya tetap punya integritas sosial. Misalnya kalau saya meninggalkan orang untukkepentingan pribadi saya. Okelah, pribadi saya saya taruh di tengah-tengah orang, sayabatasi betul jangan sampai pribadi saya di diintervensi, tapi saya juga tetap ada ditengah-tengah orang.Anda terganggu dengan kesalah-pahaman?Dulu terganggu tapi sekarang tidak. Karena itu wajib hukumnya. Orang pasti salahpaham karena matanya terbatas, ilmunya terbatas, wawasannya terbatas, pandangannyaterbatas. Tidak pernah ada hari, detik, di mana orang tidak salah paham kepada oranglain. Kalau saya punya kesempatan untuk menjelaskannya maka saya akan menjelaskan,terutama kalau dia bertanya pada saya. Kalau tidak, bukan salah saya. Kalau saya rugikarena itu, Tuhan yang memberi ganti rugi. Saya percaya itu, saya membuktikan itu dansaya mengalami itu sejak kecil.Apa masksudnya Tuhan mengganti kerugian?Setiap kerugian saya, diganti dong. Tuhan kasih ganti rugi, entah dalam waktu enambulan entah dalam waktu setahun, sehari, seminggu. Saya boleh difitnah orang macam-macam, tapi lihat saja saya akan mendapat ganti rezeki yang setingkat atau bahkanlebih dari itu. Tidak harus uang dibayar uang. Rezeki itu bermacam-macam. Tiap apayang kita alami adalah rezeki. Setiap kali ini harus ditanggapi, setiap kali saya haruslahir kembali. Setiap pengalaman itu melahirkan saya kembali. Pengalaman itu kayakkaca, terus saya lahir lagi, ada kaca saya lahir lagi. Tapi kelahirannya tergantung padakita. Dalam Islam itu namanya khalifah. Seorang khalifah itu adalah manusia plus.Manusia yang bukan hanya seekor makhluk yang butuh makan minum, tapi lebih dari itu.Dia aktif, dia kreatif, dia merekayasa, dia berpikir, dia berdialektika, dia berdialogdengan alam, dengan pengalaman dan seterusnya. Kalau dia tidak melakukan itu, bukankhalifah. Dia cukup jadi binatang saja.
  6. 6. Anda juga memperhatikan dan menggali pengalaman sekecil apapaun?Kalau pakai bahasanya Markeso, kalau ditanya siapa gurumu dulu sehingga kamu bisamenangani segala macam mesin, dia bilang guru saya adalah kerusakan yang saya hadapiitu. Jadi saya harus belajar setiap kali. Belajarnya ya setiap apa yang menjadi tugassaya. Saya punya kepercayaan begini. Kalau Tuhan memberi saya tugas, berarti diamenberi saya fasilitas. Saya percaya kalau saya disuruh ngomong X saya tinggal cari dimana ini X-nya. Ada berbagai jalan. Kalau yang konvensional cari literaturnya. Atautanya kepada orang lain, atau menggagas-gagas sendiri. Untuk tahu semuanya beraparibu buku yang saya harus baca. Apalagi mendadak begitu. Saya sering entah ceramahentah seminar itu saya baru tahu judulnya ketika saya naik atau saya dijemput, atausetelah moderator menyebut. Saya ini miskin secara intelektual. Saya ini bodoh. Sayasangat miskin. Yang saya kaya itu materi. Saya bisa menghidupi banyak orang, saya bisamembantu yayasan, sekolahan. Saya bisa membelikan mobil orang. Saya memberikanrumah. Kaya, saya. Iya, kalau di bidang materi. Tapi di bidang intelektual spiritiual sayasangat miskin.Hanya perasaan Anda saja barangkali?Bukan perasaaan saya. Lha wong memang yang punya ilmu itu Tuhan. Yang punya ilmuTuhan. Saya tidak perlu takut akan kekeringan segala macam, karena saya memangselalu kering. Kenapa takut kering? Kalau miskin kan tidak takut miskin. Saya selalukering, yang basah itu Tuhan. Samodra itu ibarat Tuhan, saya tinggal mencari di manaletak pantai. Nah, metodenya seperti tadi. Dia bisa baca literatur, bisa baca bahan dikoran, di perpustakaan. Nah itu tidak mungkin bisa saya lakukan dengan frekuensi kerjakayak begini. Kalau saya seminggu harus tampil 20 kali, kapan saya ke perpustakaan?Apalagi di kota yang beda-beda. Kapan saya menerobos. Caranya buka Qur’an.Itu jalan yang bagi saya paling mungkin. Bukan saya mengagung-agungkan. Habis maucari kemana? Nah, cara saya membuka Qur’an juga tidak bisa pakai sistematikamodern dengan indeks, misalnya. Bisa juga sih, kadang-kadang diperlukan data-dataformal. Tapi saya kadang-kadang tidak sempat itu. Saya tengah-tengah menulis sudahharus berangkat, acara di mana gitu. Ya saya Bismillahirrahmanirrahiim saja. Saya bukaQur’an , seet... kalau kira-kira sudah mantep saya buka saja. Sejauh yang sayaalami ketemu begitu. Pokoknya, apa yang akan saya omongkan ketemu di situ. Tapitidak dipercaya, dong, sama ulama-ulama: apaan tuh? Tapi saya mengandalkankepercayaan saya. Karena saya tidak sempat. Kecuali kalau ada funding organization
  7. 7. yang menyediakan perpusatakaan untuk saya, komputer, segala macam. Saya mau bicaraapa tinggal set... set... set... set... data sudah beres semua saya tinggal ambil bukunyaini, ini, ini. Ya duit untuk beli semua itu mending saya pakai untuk membiayai Markesobuka bengkel, dong. Dan urgensi untuk itu, tuntutan untuk itu sangat banyak. Sekolah didesa saya kan defisit terus karena orang desa tidak bisa bayar uang sekolah untukanaknya, maka saya harus support terus misalnya. Kalau saya punya uang jatah untukkomputer, sebelum dibeliin itu pasti sudah lari untuk keperluan-keperluan yang kayakgitu. Adik saya kan belum selesai semua, atau yayasan, sekolahan, pengembanganmasyarakat, atau siapa yang di sekitar saya. Makanya saya kaya raya di bidang itu.Orang melihat kelebihan-kelebihan Anda. Apakah Anda melihat ada kelemahan?Maka saya akan hilang begitu saya melihat kelebihan. Saya akan kehilangan, begitu sayamerasa mempunyai kelebihan, begitu saya merasa bahwa saya memiliki sesuatu. Apayang selama ini terungkap dari saya, hakekatnya itu bukan milik saya. Saya selalu bukanhanya mengatakan itu, tapi selalu terus harus menanamkan kesadaran itu setiap saat.Begitu saya merasa memiliki sesuatu, merasa pandai, merasa memiliki ini, saya menjadihilang. Manusia itu cuma medium dari kehendak dan ilmu Tuhan.Itu pada kelebihan. Bagaimana kalau pada kelemahan?Kelemahan itu takdir Tuhan, kodrat Tuhan. Tuhan itu kan hebat. Tapi bagaimana Tuhantampak kehebatannya kalau tidak diciptakan hamba-hamba yang lemah, begitu kan?Bagaimana cahaya bisa tampak kalau tidak dengan kegelapan.Tuhan egois dong?Memang. Dan dia berhak untuk itu. Dia yang bikin. Semua hanya dia yang mampu. MikeTyson itu kan modalnya 90 persen dari Tuhan, seharusnya Tuhan terima 4,5 juta dolarAS.Tidak Anda nikmati menjadi panutan orang?Kenikmatan saya adalah rasa tidak punya saya di depan Allah. Itu nikmatnya bukan main.Kalau jadi panutan itu kenikmatan kecil-kecil kayak orang mendengarkan lagu. Tapi sayatidak menikmati, saya tidak senang jadi bintang. Saya menghalangi saya untuk jadiZainuddin MZ. Saya tidak mau jadi tanjidor. Disuruh nyeneng-neyenengin orang. Bintang
  8. 8. kita cuma satu, Allah. Wakil bintang cuma satu, nabi-nabi. Itu saja. Kalau saya, sih apa.Saya cuma makelar kecil-kecilan.Anda membayangkan nanti sauatu hari akan berhenti menjadi sesuatu?Oh tidak. Saya tidak akan menjadi apa-apa. Saya akan hilang. Saya akan hilang, karenaperjalanan saya tidak di dunia ini. Ya, ini kan peran-peran sosial saja, akting saja.Keaktoran saja. Itu bisa berubah-ubah.Ada peranan yang paling disukai?Peranan yang paling saya sukai adalah improvisatoris seperti ini. Kalau dalam sepak bolaperan yang boleh maju boleh mundur. Boleh jadi kiper. Jadi semacam destroyer, yaitupemain yang carangan kalau dalam wayang. Tidak pakem gitu.Menurut Anda, Anda ini apa?Kadang-kadang jadi penyair, kadang-kadang jadi kyai, tergantung apa yang dibutuhkan.Karena itu saya tidak mengurus karier, tidak mau disekat.Anda tak mau terikat oleh apapun?Kalau memang pada suatu hari saya harus terikat di suatu ruang, ya tidak apa-apa. Tapibuktinya saya sampai sekarang tidak boleh oleh orang lain untuk terikat. Mesti berpindahke kamar yang bermacam-macam. Ya terserah aja.Berarti hidup Anda diatur orang lain dong?Ya, sekarang siapa menunggangi siapa, siapa mengatur siapa.Jangan-jangan tunggang-tunggangan?Hidup kan begitu. Itu proses mekanisme yang tidak pernah tidur. Terus menerus,tunggang menunggangi. Ketika saya sudah mulai merasa ditunggangi, dan itu tidakpositif untuk umat, untuk mereka yang menunggangi saya, saya coba ubah. Ya itu tadi,hidup itu memang tunggang-tunggangan.Tapi Anda memang orang yang tidak mau terikat ya, oleh istri sekalipun?Oleh istri? Mau. Mau. Saya sangat terikat oleh istri saya. Keluar dua jam itu saja sudah...ha... mau kok saya. Terikat oleh apa lagi saya? Kantor? Mau saya. Kerja di mana mau
  9. 9. saya. Saya bukan orang yang sok seniman yang mau bebas, ingin petualangan. Mau koksaya terikat. Tapi buktinya, yang jelas, sampai sekarang belum ada itu ikatan.Anda sampai menjadi duda kembang* itu apa karena tidak mau diikat?Tidak, saya taat di rumah. Saya taat. Saya menjadi duda kembang justru untukmeningkatkan cinta kami. Kalau dulu saya menjadi menantunya mertua saya, sekarangsaya menjadi anak orangtua istri saya. Saya bukan lagi menjadi menantu mereka, tapimereka sudah manjadi bapak ibu saya. Sudah meningkat kualitasnya. Kalau dulu diaadalah istri saya, sekarang dia adalah adik saya. Sudah lebih dekat, toh? Kalau istri kanorang lain, kalau adik kan bukan orang lain. Kalau istri sama suami bisa berontak, bisamarah. Tapi kalau adik, saya akan selalu memaafkan, saya selalu menasehatinya denganarif, tanpa emosi seperti kalau saya jadi suami. Kalau jadi suami saya punya harga dirisebagai suami, saya sebagai laki-laki. Dia adalah saudara saya, dia adalah sahabat saya,kadang-kadang dia adalah guru saya. Saya juga taat sekali sama anak saya. Umurnyasebelas tahun. Saya sama anak saya taat sekali. Bukan di taat sama saya.Maksud Anda?Karena dia sangat saya didik untuk bisa saya taati. Saya taat sama dia. Kalau diamenyuruh saya pulang, saya pulang. Menyuruh saya tidur, saya tidur. Karena saya sudahpercaya sama dia.Padahal tempatnya jauh?Ya, jauh itu kan soal geografis.Berapa tahun Anda menduda?Sudah lama, tiga tahun. Sejak 87.Selama tiga tahun itu Anda punya pacar?Wah, definisi pacar itu yang tidak jelas. Teman wanita saya banyak, banyak sekali.Tapi Anda merasakan bedanya ketika punya istri dan tidak?Ada bedanya. Tapi dibikin tidak ada bedanya, itu soal manajemen. Semua adametabolisme. Kalau Anda makan Anda tidak perlu merencanakan kapan Anda berak. Diaberak dengan sendirinya. Kapan sperma keluar itu ada metabolismenya. Ada credonya
  10. 10. sendiri. Anda tidak perlu memaksakan dia untuk keluar atau memaksakan semingggukeluar berapa kali. Sebab dia sudah bekerja dengan sendirinya. Itu soal cara mengatur,kok.Tapi rasa sepi, rasa butuh itu kan muncul begitu saja?Kalau rasa kesepian saya bukan di bidang itu. Kesepian saya adalah kesepian abadi darihakekat manusia. Misalnya, Anda tidak mungkin dipahami oleh orangtua Anda secarapenuh. Dalam keadaan tidak dipahami itu oranng seperti terkurung dalam kegelapan.Nah, itu yang namanya kesepian. Berjuta-juta orang yang membaca tulisan saya tidaksungguh-sungguh tahu apa yang saya maksudkan. Mereka juga tidak bisa memahamihidup saya: itu kesepian. Karena apa? Karena bagi mereka saya itu hidup di dalamkegelapan. Mereka tidak bisa melihat, misalnya. Itu yang namanya kesepian.Kalau kitapunya idealisme X dan orang lain Y semua, itu Anda kesepian. Itu lebih sepi dari padaAnda tidak punya istri.Apa itu berarti tidak punya keinginan beristri lagi?Bisa dikatakan punya, bisa dikatakan tidak punya. Saya gampang kok. Kadang-kadangsaya ingiiin, tapi kadang-kadang saya juga ingin membujang sepanjang hidup. Dan itu....... itu sekunder kok. Tidak penting.Pada saat mana keinginan-keinginan semacam itu timbul?Ketika sentimentil, dan saya sadari ini Emha sedang sentimentil. Terus saya umum-umumkan saya sedang sentimentil. Saya nikmati. Tapi kalau saya kemudian sudahmenghadapi sesuatu yang menabrak, sentimentalitas saya taruh di lemari.Sentimentalnya lempar saja, sekarang saya hadapisebagai saya. Saya dengan Emha ada bedanya. Emha dengan Ainun ada bedanya. Ainundengan Najib ada bedanya. Kan begitu? Soal peran saja kok. Bahkan kalau kita bicarakosmofilosofi, kita ini Tuhan yang sedang memerankan dirinya untui konteks tertentu.Bagaimana pandangan Anda tentang wanita?Waduh, waduh. Saya harus merekonstruksi lagi apa yang pernah saya temukan. Jadiwanita itu enak, dimuliakan Tuhan.
  11. 11. Anda pernah ingin jadi wanita?Kadang-kadang. Saya tidak pernah merasa jadi laki-laki atau jadi perempuan. Sayamanusia. Jadi perspektif yang saya pilih, nomor satu saya adalah manusia. BenazirBhutto pidato, yang pidato bukan wanita tapi kecerdasan dan kepahlawanan. Karena itusaya agak bingung dengan feminisme. Gerakan, ya gerakan kemanusiaan saja. Itu satu-satunya cara untuk menyamakan atau untuk tidak mendiskriminasikan wanita di bawahkaum lelaki. Begitu Anda masih beda-bedakan, antara laki-laki oleh hirarki budaya ataufeodalisme budaya, antara laki-laki dan wanita. Itu cuma status biologis dan psikologiskecil-kecilan saja. Tapi yang jelas setiap laki-laki punya unsur kewanitaaan, dan setiapwanita punya unsur kelelakian. Karena itu epistemologi, dan filsafat dan pengetahuanmanusia bingung menentukan mana sebenarnya substansi laki-laki dan mana substansiwanita. Dan itulah kesalahan gerakan feminis, itulah kesalahan gerakan diskriminasi laki-laki, dan itulah kesalahan ilmu pengetahuan. Apa sebabnya saya bilang kesalahan?Sekarang ilustrasi budayanya saja. Kalau ada orang jujur, sportif, berani, dia disebutjantan. Wah, itu laki-laki betul. Kalau ada orang yang pengecut, lembek, curang,disebut: wah betina lu! Ini kesalahan epistemologis, kesalahan filsafat. Ini kalau sayajadi wanita saya akan marah. Marah besar saya itu. Enak saja kalau curang disebutbetina.Kan dunia milik laki-laki?Tidak! Dunia milik manusia. Bahwa realitanya direbut laki-laki silakan, kita semuamemperjuangkan. Saya tidak mengatakan bahwa wantia mesti berebut itu, karenaberarti saya bersikap sebagai laki-laki. Saya tidak menyarankan wanita supaya berjuang.Mari kita berjuang bersama-sama sebagai manusia menumbuhkan kembali keadilan dankebenaran. Itu salah satu paham manusia. Kalau laki-laki menangis, penilaian Andabagaimana? Tidak apa-apa. Menangis itu hak manusia dan itu naluri manusia. Kenapa?Anda pernah menangis?Kalau bertengkar dengan istri saya, saya shalat menangis tidak karu-karuan. Kalau Andasudah terbuka hijabnya sama Tuhan, tiap hari menangis. Kenapa? Menangis itu manusia,menangis itu urusannya manusia, bukan urusannya wanita. Bukan laki-laki bukanperempuan. Nothing to do, itu manusia.Memangnya laki-laki tidak punya air mata?Berarti ada mekanisme biologios yang berbeda, kalau hanya wanita saja yang pantas
  12. 12. untuk menangis. Berarti laki-laki oleh Tuhan tidak disediakan air mata. Air mata laki-lakiuntuk apa? Mau dikeluarkan dari bawah terus?Apa yang membuat Anda sedih?Saya sedih kalau ada hal-hal yang tidak masuk akal. Misalnya saya melihat, dan sayatahu persis dan saya membuktikan dan saya mengalami manusia itu sangat canggih.Otaknya itu seperti sejuta komputer. Manusia itu begitu hebat diciptakan oleh Tuhan.Makanya dia disebut makhluk tertinggi: malaikat kalah, jin kalah. Lha kok kalau malamsaya lihat di TV tuh begini-begini. Singkong dan keju....singkong dan keju....(Emhamenggoyangkan tubuhnya seperti gaya penyanyi di TV) saya kan sedih. Tidak masuk akalbagi saya. Sebab manusia itu begitu canggih kalau dia mengaktifkan, memanfaatkanakalnya, nalurinya segala macam. Lha kok tiap malam kayak begitu, dan itu mayoritaslagi. Dan disenangi oleh begitu banyak orang. Kan sedih saya?Waktu masih kecil, Anda pingin jadi apa?Tidak begitu jelas, apa cita-cita saya. Saya tidak pernah punya cita-cita yang jelas.Artinya cita-cita dalam format, tata nilai modern itu, ya: apakah jadi penyair? Apakahjadi presiden? Apa jadi menteri? Tidak jelas saya. Yang setiap hari mengisi hidup sayaadalah bahwa saya harus melakukan ini, ini, ini. Gatal saya. Tiap hari diisi oleh obsesi,wah, saya mesti ngerjain ini-ini. Wah, mesti ini. Saya tidak sempat mikir hasilnya apagitu. Saya jadi apa dengan itu, saya tidak pernah memikir. Tapi saya bisa ngerjain apa?Jadi bukan to be atau to have tapi to do. Sempat saya enam-tujuh jam tidak kerja, sayamulai masuk angin. Dan itu siksaan yang luar biasa. Kesedihan yang luar biasa. Hutangrasanya.Saya punya hutang kepada Tuhan, kepada hidup saya, kepada potensi-potensiyang Tuhan berikan kepada saya.Kecilnya di Jombang sampai umur berapa?Sampai SD kelas V. Terus saya bertengkar untuk kedua kalinya sama guru saya, terussaya pindah. Kalau bertengkar yang pertama, saya kelas satu. Saya naik ke meja, sayaloncat, leher guru saya terus saya tekek (cekik) begini, kan. (Sambil memperagakandengan lehernya sendiri) Akhirnya sedemikian rupa sehingga saya terkencing-kencing.Wah, baju baru padahal barusan dibeliin di pasar. Celana coklat pramuka. Santo, namaguru saya itu. Saya pulang. Saya tiap hari lapor sama ibu-bapak saya, wah ini
  13. 13. mengajarnya begini, males datangnya, terlambat begini, begini, pokoknya saya protes.Kelas V protesnya memuncak. Terus saya dipindah ke Gontor, ke SD Gontor, Madrasah.Jadi pagi sekolah SD, antara jam 12 sampai jam dua saya menggembalakan kambing. Itutadi, saya sejak kecil di Jombang menggembalakan kambing. Terus jam dua sampai jamsetengah enam sore, sekolah lagi.Itu sampai berapa tahun?Ya, sampai tamat. Setelah tamat, saya masuk pesantren, dua setengah tahun. Duasetengah tahun saya keluar, diusir ke Yogya karena teman-teman demonstrasi. Merekakeliling membawa itu. Tapi yang nomor satu harus bertanggung jawab, kan saya. Jadisiang demonstrasi, malam saya dipanggil, diadili jam dua malam sampai subuh. Dansehabis subuh saya juga harus bersiap-siap masukin pakaian. Jam setengah tujuh pergi,pulang. Dan saya ....tidak merasakan apa-apa, itu susahnya saya. Tidak merasakan apa-apa. Saya tidak gelo, saya tidak merasa gimana. Saya juga tidak ingin sekolah lagi. Sayatidak merasakan apa-apa. Yang panik orangtua saya. Ayah saya panik. Akhirnya diamengajar saya. Justru ilmu-ilmu pesantren tradisional itu, yang mengajari ayah saya. DiGontor, kan tidak tradisional. Nah, baru dari sana, saya disekolahkan di Yogya. Saya disini.... korupsi ijazah, raport SMP. Kan, saya tidak punya raport SMP. Karena saya belumtamat kelas III. Saya harus punya ijazah SMP baru masuk SMA. Nyogoknya dengan bolavoli dan net voli. Jadi saya ini tidak sah. Ijazah saya semua itu tidak sah. Karena korup.Saya masuk SMP di sini kira-kira empat bulan ikut ujian, terus masuk SMA. Selesai SMA,saya sempat keluar waktu SMA, terus masuk lagi. Ya, begitulah, bertengkar terus samaguru. Terus demi ibu saya, saya masuk lagi. Ibu saya menangis-nangis, supayasaya.....sudah deh, kalau mau tidak sekolah nanti sesudah tamat SMA. Kemudian sayatamat, terus masuk Ekonomi UGM.Pertama jatuh cinta usia berapa?Waduh, susah ini. Waduh kapan? (“Cinta dalam pengertian apa dulu?”tanya Imam, sekretarisnya, ikut nimbrung melihat Emha terdiam untuk beberapa saat)..Cinta dalam pengertian eksklusif, begitu ya? Unsur-unsur yang merupakan bagian dariyang disebut cinta, mungkin pernah saya rasakan. Tapi saya tidak pernah bisa menjaditotalitas. Sebab saya sudah terlanjur menjadi....terlanjur begini, integral denganlingkungan sosial. Jadi cinta saya mungkin lebih bersifat universal dari pada personal.
  14. 14. Makanya yang pribadi tidak bisa total. Misalnya istri saya, katakanlah ya, misalnya pacarsaya, saya punya pacar terus dia hubungan dengan laki-laki lain, sikap saya itu tidakpersonal, obyektif. Sikap saya itu sikap memberi ruang, Kalau memang kamu senang,tidak apa, terus, tapi asal serius. Kalau memang kalian mau kawin, apa yang bisa sayalakukan akan saya lakukan. Kalau kalian perlu modal, saya coba ikut carikan. Kalaubegitu tidak pernah patah hati dong. Menindas perasaan sekali itu? Iya. Sampai anak sayaternyata begitu juga. Wah, anak saya itu mulia. Sama saya itu begitu menampung,begitu toleran, demokratis. Saya ngeri juga kadang-kadang, menangis juga. Mbok kamutidak usah terlalu demokratis, saya bilang. Duh, mbok ya sudah. Anak kecil itu mbok yamanja, terus agak menuntut sedikit. Masak anak kecil begitu toleran.Laki-laki?Laki-laki. Begitu toleran. Kalau saya pulang, dia datang, kan saya nyediain duit, banyaksekali. Kamu mau beli apa? Udah deh, terserah saja, asal jangan beli toko, saya bilang.Itu dia, harus empat lima kalilah, untuk “iya”. Dia tidak mau. Kalau sudahsaya ajak naik becak ke toko. Dia akan selalu bertanya, “Iki tenan po dhuwe duit?Ah, ora usahlah.” Ini betul-betul punya uang. “Ah, tak usahlah!”Dia toleran betul.Tadi Anda sempat omong hantu, memang Anda percaya, ya?Ya, kita menyebutnya hantu, tapi apa sebenarnya rumusannya., apa sebenarnya rumusdari realitas yang kita sebut hantu itu? Itu mungkin kita berbeda-beda. hantu itu bisajuga refleksi subyektif saja dari halusinasi-halusinasi. Bisa juga merupakan bagian daridimensi yang kita tidak mengenalinya. Kita hanya kadang-kadang saja sampai kepadamomentum dan kondisi untuk bersentuhan dengan dimensi itu. Ini kalau menjelaskansecara ilmu pengetahuan. Atau dia betul-betul semacam makhluk hidup. Ketiga-tiganyamungkin. Itu sama dengan facsimili, siaran TV. Itu sangat mungkin, persentuhan dengandimensi itu. Itu mungkin bisa dijelaskan dengan fisika atau kimia, ya. Bisa juga diamakhluk sungguhan, misalnya jin. Kita kan cuma tahu tiga atau empat dimensi palingpol, sedangkan dimensi hidup ini tidak terhingga jumlahnya. So kenapa kita sok-sokmengklaim ini tidak ada, itu ada.
  15. 15. Kalau tentang mistik?Mistik itu bukan barang obyektif, mistik itu realitas. Lain dengan klenik. Klenik itusesuatu yang tidak ada Anda anggap ada. Ini seperti tipologi hantu yang pertama, ituklenik. Apa yang sebenarya tidak ada, Anda anggap ada, itu klenik, tahayul namanya.Seperti celana jeans merk Levi’s, ituklenik. Yang Anda beli sebenarnya apa sih?Apa yang diumum-umumkan bahwa itu gengsi, bahwa itu modis, bahwa itu trendi, gituya, itu kan tahayul. Tidak realistis sebenarnya. Dan manusia modern ini menjadikonsumen klenik yang luar biasa mahal, misalnya. Jadi kalau orang mau hantem klenik,saya malah milihnya yang klenik-klenik di toko-toko itu. Isinya Malioboro itu kleniksemua. 90 persen, menurut saya. Orang tanpa Malioboro bisa hidup kok.Kalau masalah hari baik dan hari buruk?Ya, ada hari baik hari buruk. Cuma belum tentu seperti yang dibilang Bataljemur atauoleh perhitungan-perhitungan klenik itu. Ada hari buruk hari baik, dalam arti ada cuaca-cuaca yang berbeda-beda dari jengkal waktu dan ruang. Seperti kalau dalam politik,revolusi atau ledakan terjadi hanya kalau ada perkawinan antara isyu dan momentum.Ah, terus, kalau ini tadi, hari baik hari buruk, ya itu ada. Ya kalau pagi kan saat yangterbaik bagi saya untuk menulis gitu, misalnya. Tapi kalau sore-sore, awak habis bekerjakesana kemari, ini penuh polusi segala macam, saya menulis tidak begitu jernih. Jadiperhitungan Jawa jangan lantas disalahkan, yang salah mungkin interpretasinya. Caramenghitungnya. Realitasnya tentu ada, jelas dong ada hari baik hari buruk, ada saat klopdengan atmosfir alam ada saat tidak. Bukan hanya hari tapi saya menjumpai ada. Sayapada hari-hari tertentu tidak melakukan hal-hal tertentu, berdasarkan riset terhadaphidup saya sendiri. Bukan mau klenik-klenikan, kalau baca Bataljemur saya tidak pakai,tapi berdasarkan riset saya sendiri dan orang lain tidak tahu. Artinya itu tidak bisadiobyektivisir. Hidup ini luas. Kenapa pemain sepak bola yang menurut perhitunganrasional jelas bisa menjadi bintang malah memble. Piala dunia itu membuktikamkelemahan ilmu-ilmu baku modern. Ada banyak faktor, dimensi, unsur yang duniasepakbola modern belum pernah menyentuhnya, karena itu mereka selalu salah sangka.Akhirnya bilang Dewi Fortuna, wah angin baik, wah off day. Ya toh, wah bola itu bundar,apa itu. Itu namanya barang gaib. Dan bagi setiap orang gaib itu berbeda. Hukum makansaja bisa berbeda-beda, kok. Coba tanya saja sama ulama, hukumnya makan apa, kanhalal, minum teh halal. Padahal hukumnya makan itu wajib. Sebab kalau tidak wajib
  16. 16. berarti Anda bisa tidak makan. Kan mati? Minum teh juga bisa haram. Naik haji juga bisaharam. Tapi itu interpretasi fiqih saya, tidak berlaku. Makanya saya tidak mau jadibudaknya mereka. Saya juga tidak mau disetir oleh masyarakat, oleh umat. Tidak bolehbegini begitu. Kalau pagi-pagi begini di pasar (Emha merunduk memeluk tubuh sepertiorang kedinginan) nanti dibilang, “Gimana ini mubaligh kok begitu.” Sayatidak mau disetir sama masyarakat, tidak boleh bergaul sama ini, ini, istri saya harusberjilbab segala macam. Saya akan memberontak dengan segala resikonya. Kapan sayasembahyang kepada masyarakat? Saya shalat kepada Allah, saya berpedoman kepadamata Allah. Dan ini mungkin jawaban yang paling inti dari yang Anda tanyakan.Kalau dengan sikap itu Anda lalu dituduh masyarakat sebagai sok seniman, soknyentrik bagaimana?Ya kalau dia hanya mampu berpikir itu, saya tidak punya hak untuk menuntut lebih dariitu. Dan dia sendiri yang harus menjawab. Kalau dia memang puas dengan kesimpulanseperti itu yang salah bukan saya. Nanti dia ditanya sama Tuhan kok kamu tidakmengembangkan wawasan kamu? Ya, bukan salah saya. Jadi saya tidak nuntut orang.Kalau orang buta warna melihat TV berwarna cuma hitam putih, saya bilang apa? Itu soalmata dia kok. Kalau dengar gosip tentang Anda bagaimana reaksinya? Ya saya anu....nikmati, “Oh, iya toh? Wah ....edan, gile gue pacaran sama bintang film.Gile!” Tidak penting itu. Saya nikmati bukan saya nikmati gosipnya itu, tapi bagisaya itu komedi saja. Itu ilustrasi hidup. Nasib.Pandangan tentang perzinahan?Oh, kalau itu mutlak.Dalam kehidupan Anda semacam ini, bagaimana mengatasi kebutuhan seksual?Lho kan saya sudah bilang., orang kalau makan kan berak sendiri.Sebagai manusia kankebutuhan....Itu kan....makhluk itu, butuh ruang dan waktu. Jadi jangan kasih ruangdan waktu dia. Sedih itu sering. Hanya sedikit saya kasih ruang dan waktu. Apa mungkinterjadi kesedihan tanpa ruang dan waktu. Teori itu efektif untuk konsultasi-konsultasi dirumah atau di mana saja. Gampang kok, supaya kamu tidak stress itu jangan kasih ruangdan waktu dia. Jadi kamu sediain reserve kerjaan yang banyak. Sehingga begitu adagejala mau diintervensi stress cepat bertindak. Dan tidak akan eksis kesedihan itu atauapapun saja kalau tidak dikasih ruang dan waktu. Karena itu saya menyesal cewek-
  17. 17. cewek pada ngumumin ukuran BH segala macam. Karena itu saya suka kesel sama Tuhan,aduh, kalau bikin cewek mbok jangan cakep-cakep kayak gitu, aduh, manatahan.... Yaitu soal mengeliminir saja.Caranya bagaimana?Dengan bekerja. Anda tahu frekuensi kerja saya. Sampai badan saya kurus kayak begini.,tua....Atau gini, latihan. Saya orang yang tidak ekstrim. Saya juga harus punya rasademokrasi terhadap nafsu seks. Dia tidak boleh saya halangi begitu saja. Jadi harusdi..... ibarat es gitu harus dithuthuk erlahan-lahan supaya menjadi air. Jadi saya nikmatiitu di jalan cewek cakep. Saya nikmati. Sambil bekerja otak saya, bahwa itu kalau sayaterus-terusin hanya begitu, kok. Kalau saya terusin ya cuma begitu itu. Saya sudah tahupersis. Dan sedetik sesudah saya sampai di puncak gunung Fujiyama itu saya menyesal.Jadi saya sudah ekstase sebelumnya gitu lho. Sudah sampai saya sebelumnya. Jadi sayamenyesal. Ya kadang-kadang, iseng-iseng, sabar ya sabar. Tugasnya lain-lain di mukabumi ini. Asal bisa mengkomedikan. Saya mungkin pakai ludruk kalau begitu. Naluriorang Surabaya, orang Jawa Timur itu kan kesedihan dikomedikan.TIARA, 2 September 1990

×