Pendekatan konseling trait n factors

4,560 views
4,370 views

Published on

0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
4,560
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
99
Actions
Shares
0
Downloads
102
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pendekatan konseling trait n factors

  1. 1. 1PENDEKATAN KOSENLING TRAIT N FACTORSBAB IPENDAHULUANLatar BelakangPendekatan trait & factor merupakan pendekatan konseling yang berpusatpada konselor, dan konselor lebih berperan aktif dalam membantu klien. traitadalah suatu ciri yang khas bagi seseorang dalam berpikir, berperasaan, danberprilaku, seperti intelegensi (berpikir), iba hati (berperasaan), dan agresif(berprilaku). Konseling Trait-Factor berpegang pada pandangan yang sama danmenggunakan tes-tes psikologis untuk menanalisis atau mendiagnosis seseorangmengenai ciri-ciri dimensi/aspek kepribadian tertentu, yang diketahui mempunyairelevansi terhadap keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam jabatan danmengikuti suatu program studi. Namun, dikarenakan konselor trait & factormendapat predikat sebagai “Directivist” yang dianggap memaksakankeinginannya atas klien yang tidak memiliki daya. Maka diharapkan denganadanya makalah ini, konselor dalam melaksakan konseling melalui pendekatankonseling trait & factor, tidak salah arah dan memaksakan diri dalam membantumasalah klien.Rumusan MasalahRumusan masalah dalam makalah ini yaituApa konsep utama dari pendekatan konseling trait & factor?Apa tujuan dari konseling trait & factor?Apa peran konselor dan konseli dalam konseling trait & factor?Bagaimana proses, teknik, dan tahap dari pendekatan konseling trait & factor?Apa kelebihan dan kelemahan dari pendekatan konseling trait & factor?TujuanTujuan disusunnya makalah ini tidak lain yaitu untuk membantu para calokonselor dalam memahami, mengetahui, dan mengerti tentang pendekatankonseling trait & factor sehingga tidak salah atau asal-asalan dalam membantuklien yang mengalami masalah.
  2. 2. 2BAB IIPEMBAHASANA. KONSEP UTAMA TRAIT & FACTORModel pendekatan Trait & Factors dalam konseling memiliki beberapanama lain. Pendekatan ini sering dikenal dengan nama pendekatan rasional,dengan demikian masuk pada kelompok aspek kognitif. Minnesota Point Of Viewdalam konseling sering digunakan untuk menunjuk pendekatan trait & factorsyang pada dasarnya dikaitkan dengan sumber pengenalnya yaitu University ofMennesota, tempat dimana Edmund Griffith Williamson sebagai tokoh pendiriutamanya mengembangkan model konseling tersebut. Selain itu teori trait &factor disebut juga “Directive Counseling” yaitu konseling yang berpusat padakonselor, dan konselor lebih berperan aktif dalam membantu klien.Ancangan trait & factor mulanya merupakan ancangan konselingvokasional, tatapi pada perkembangannya menjadi lebih peduli padaperkembangan total individu, bukan pada masalah-masalah vokasional saja.seiring perkembangan konseling trait & factor, Pepensky & Pepinsky (Burks,1979) mengidentifikasikannya menjadi tiga tahap. Tahap pertama, ditandaidengan kepedulian ancangan ini pada cara-cara untuk mengukur atribusi klien,seperti aptitude, abilities, interests, attitude, dan personality yang menjadipredictor bagi keberhasilan seseorang dalam pendidikan dan jabatn. Tahap keduamerupakan tahap pengembangan model proses konseling, dan konsep diagnosisyang berdifferensiasi diperluas, mencakup masalah-masalah penyesuaian kliendiluar pendidikan dan jabatan. Williamson, pada tahun 40-an tersebutmenganjurkan agar konselor klinik mendiagnosa siswa yang normal dan tidak danmendiagnosa dalam seluruh latar kehidupan klien. Tahap ketiga, yangkulminasinya pada tahun-tahun setelah perang dunia II, dikenal sebagai masastudi faktorisasi, studi analisa factor diterapkan bagi mempelajari macam-macamsifat individu.Burks dan Stefflre menambahkan tahap perkembangan ke empat, yaitutahap teoritik dan filosofik. Seiring berkembangnya ancangan client-centered(yang sekarang menjadi person centered), konselor trait & factor mendapat
  3. 3. 3predikat sebagai “Directivist” yang dianggap memaksakan keinginannya atasklien yang tidak memiliki daya. Mereka juga dikritik berkenaan dengan kurangnetralnya terhadap nilai (value). Pada waktu itu, Williamson menulis banyakartikel yang dimaksudkan agar konselor tidak ragu-ragu dalam memengaruhisiswa yang mengarah pada system nilai yang kehidupan intelektualnya dominan.Ia mengatakan bahwa tidak ada kriterium tunggal bagi kehidupan yang baik,tetapi ada berbagai pilihan bagi pilahan yang rasional.Model konseling Williamson bersifat rasional, logis dan intelektual, tetapidasar falsafahnya bukan dengan istilah personalisme, individu individu didekatisatu sosok yang utuh dan secara keseluruhan perlu dipertimbangkan:perkembangan intelek, sosial, emosional, dan kewarganegaraannya. MenurutWilliamson, individu dapat berkembang secara optimal hanya mungkin melaluipendidikan, termasuk pandangan optimis dalam pendidikan, dan konseling padahakikatnya sama dengan pendidikan, tujuan yang ingin dicapai melaluipendidikan juga merupakan tujuan konseling. Pendidikan maupun konseling harusdiarahkan untuk membantu perkembangan individu seoptimal mungkin secarakeseluruhan, bukan salah satu aspek saja, misalnya intelek saja.Ancangan ini memberikan perhatian utama pada sifat-sifat (traits) yangunik pada setiap individu. Traits adalah kategori-kategori yang digunakan untukmemberikan (mendeskripsikan) perbedaan individu dalam bertingkah laku (Burks,1979). Batasan lain mengenai trait, pada dasarnya memiliki definisi sama tetapidalam rumusan berbeda, dikemukakan oleh Eysenck. Ia mengartikan sifat sebagaiprinsip pengatur yang dapat disimpulkan melalui pengamatan perilaku.Williamson sendiri mengatakan bahwa kepribadian terdiri dari system sifat ataufactor yang saling bergantung, seperti kemampuan, minat, sikap, dan temperamen.Untuk mengetahui macam sifat pada individu dan pengaruh terhadapperilakunya, ancangan trait & factor menggunakan metode-metode sebagaiberikut:a. Metode bivariate, lazim berupa eksperimenb. Metode multivariate, melalui analisis factorc. Metode klinik, pengamatan dan penyimpulan dalam suatu wawancara.
  4. 4. 4B. HAKIKAT MANUSIAMenurut Williamson ada 5 hal pokok mengenai hakikat manusia yangdiantaranya yaitu:1. Manusia dilahirkan dengan membawa potensi baik dan buruk. Tidak adaindividu yang lahir membawa potensi baik semata dan sebaliknya juga tidakada individu yang lahir semata-mata penuh dengan muatan sifat yang buruk.Kedua sifat itu dimiliki oleh manusia, tetapi sifat mana yang akanberkembang tergantung pada interaksinya dengan manusia lain ataulingkungannya. Williamson berkata bahwa makna hidup adalah mencarikebenaran, kebaikan, dan menolak atau paling tidak mengontrol keburukanatau kejahatan. Tingkat menjadi manusia yang utuh (full human being)ditentukan oleh derajat kewaspadaan dan kontrol diri seseorang yang dicapaidan dikembangkan dalam hubungannya dengan orang lain.2. Manusia bergantung dan hanya akan berkembang secara optimal ditengah-tengah masyarakatnya. Manusia memerlukan bantuan orang lain dalammengembangkan potensi dirinya (aktualisasi diri) dan tidak dapat hidupsepenuhnya dengan melepaskan diri dari masyarakat.3. Manusia ingin mencapai kehidupan yang baik (good life). Memperolehkehidupan yang baik dan lebih baik lagi merupakan kepedulian setiaporang.Bapak yang bekerja keras untuk mencari nafkah, karyawan berlomba-lomba memeroleh kenaikan pangkat dan sebagainya menjadi cermin bahwamanusia ingin memeroleh kehidupan yang baik.4. Manusia banyak berhadapan dengan “pengintrodusir” konsep hidup yangbaik, yang menghadapkannya pada pilihan-pilihan. Dalam keluarga, individuberkenalan dengan konsep hidup yang baik yang diajarkan oleh orang tuanya.Di sekolah, dia memperoleh konsep hidup yang baik dari gurunya, dan dimasyarakat, dia memperolehnya dari teman dan masyarakat yang lain.Banyaknya pengintrodusir tersebut mungkin mengahalangi individu dalamproses pencariannya. Dan adalah mungkin bahwa pencarian itu sendiriternyata menjadi kehidupan yang baik, kemauan berusahanya itu sudahmerupakan kebaikan.5. Hubungan manusia berkaitan dengan konsep alam semesta (the universe).
  5. 5. 5Dari pernyataan Wiliamson tentang hakikat manusia, masih ada lagipokok-pokok hakikat manusia yang lain. Pokok-pokok hakikat manusia tersebutdiantaranya:1. Manusia adalah makluk yang unik2. Manusia memiliki sejumlah kesamaan sifat yang umum3. Aktif dan berpotensi.C. HAKIKAT KONSELINGHakikat konseling menurut Williamson bahwa konseling lebih luasdaripada psikoterapi. Alasannya, psikoterapi sering dibatasi oleh: (1) aspekperkembangan pribadi yang bersifat emotional, (2) sering kali konflik diridipandang terlepas dari kehidupan nyata klien, sering kali terbatas pada penilaianklien terhadap pengalaman-pengalaman pribadinya dan bukan actual behaviornyadi dalam situasi sosialnya. Sebaliknya, konseling memberikan perhatian padainteraksi pribadi dengan lingkungan sosial dan kebudayaan. Konselingmemperhatikan keduanya, baik isi penyesuaian diri maupun sikap individuterhadap penyesuaian dirinya. Konseling berusaha memadukan pendidikan,bimbingan vokasional, dinamika kepribadian dalam hubungan antar pribadi.Williamson mengajukan batasan konseling yang bermacam-macamsebagai hasil dari perkembangan konsepsinya.a. Konseling adalah satu proses yang bersifat pribadi dan individu yangdirancang untuk membantu untuk mempelajari bahan ajaran (subject materi)di sekolah, seperti mengembangkan sifat-sifat kewarganegaraan, nilai-nilaisosial, pribadi dan kebiasaan yang baik, dll.b. Konseling adalah bantuan yang bersifat individual, personal yang diliputioleh suasana permisif dalam mengembangkan keterampilan dan mencapaiself-understanding dan self-direction yang secara sosial dibenarkan.c. Konseling adalah suatu jenis khusus dari hubungan kemanusiaan yang relatifsingkat antara “mentor” (konselor) yang mempunyai pengalaman luas dalammasalah perkembangan manusia beserta cara/teknik memfasilitasinya dengan“learning” (klien) yang menghadapi kesulitan dalam usahanya mengarahkandan membina perkembangannya lebih lanjut.
  6. 6. 6d. Konseling adalah suatu cara/teknik untuk memfasilitasi individu bagimendapatkan identitasnya, mempermudah keinginanya memahami dirisendiri, dan dalam mewujudkan aspirasinya.D. MASALAH DAN FAKTOR PENYEBAB1. Jenis MasalahPengkategorian masalah yang selama ini banyak dikenal adalahpengkategorian secara sosiologis dan psikologis. Pengkategorian secarasosiologis, misalnya membagi macam-macam masalah seperti masalahpendidikan, masalah keluarga, ekonomi, pergaulan dan sebagainya. Sedangkanpengkategorian secara psikologis yang terkenal ada dua, yaitu model Bordin danmodel Pepinsky & Pepinsky. Pengkategorian masalah menurut Bordin adalah:a. Dependence (bergantung)b. Lack of information (kurang informasi)c. Self-conflict (konflik diri)d. Choice anxiety (takut memilih)e. No problem (bukan masalah-masalah diatas)Pengkategorian masalah menurut Pepinsky:a. Lack of assurance (kurang percaya pada diri sendiri)b. Lack of information (kurang informasi)c. Dependence (bergantung)d. Self-conflict (konflik diri)2. Faktor PenyebabMasalah-masalah yang telah dijabarkan di atas, dapat timbul karena faktor-faktor internal maupun faktor eksternal. Adapun faktor internalnya antara lain:- Individu banyak dipengaruhi kehidupan emosi, sehingga kemampuan berpikirrasionalnya terhambat- Potensi-potensinya kurang berkembang atau tidak mendapat kesempatanberkembang secara penuh- Kurang memiliki control- Memiliki kekurangan tertentu, baik cacat fisik maupun mental, dan yangmerupakan faktor keturunan.
  7. 7. 7Sedangkan faktor eksternalnya antara lain yaitu- Perlakuan orang tua: sikap orang tua yang terlalu menenkan, menolakmaupun melindungi merupakan sumber timbulnya masalah- Kondisi lingkungan dan masyarakatnya (meliputi lingkungan fisik dan sosial)- Pengalaman atau sejarah pribadi yang menimbulkan trauma- Ada tidaknya kesempatan mengembangkan diri baik yang menyangkutsituasinya maupun pendukung (orangnya).E. PRIBADI YANG IDEALPribadi ideal adalah apabila pribadi tersebut mampu menggunakankemampuan berfikir rasionalnya untuk memecahkan masalah-masalah kehidupansecara bijaksana. Selain itu pribadi yang bersangkutan dapat memahami kekuatandan kelemahan dirinya serta mampu dan mau mengembangkan segala potensinyasecara penuh (khususnya potensi baiknya), memiliki motivasi untukmeningkatkan atau menyempurnakan diri, memiliki kontrol diri untuk menyeleksipengaruh yang baik dan buruk, dan dapat menyesuaikan diri ditengah-tengahmasyarakatnya sehingga dia dapat digolongkan sebagai masyarakat yang baik.F. TUJUAN KONSELINGMenurut pendekatan Trait and factor konseling bertujuan sebagai berikut:a. Self-clarification (kejelasan diri)b. Self-understanding (pemahaman diri)c. Self-acceptance (penerimaan diri)d. Self-direction (pengarahan diri)e. Self-actualization (perwujudan diri)G. PERAN KONSELORPeranan konselor dalam proses konseling ini yaitu- Dapat menempatkan diri sebagai seorang guru,- Menerima sebagian tanggung jawab atas keselamatan klien (walaupunpenanggung jawab utamanya adalah klien yang bersangkutan),- Bersedia mengarahkan klien ke arah yang lebih baik,
  8. 8. 8- Tidak netral sepenuhnya terhadap nilai (value),- Yakin terhadap asumsi-asumsi konseling yang efektif (diuraikantersendiri).H. PERAN KONSELIPeranan konseli dalam proses konseling trait and factor ini yaitu- Sedapat mungkin dating secara sukarela, tetapi jika klien tersebutdikirim-berdasarkan pengalaman-tidak terlalu berbeda efektivitasnya- Bersedia belajar memahami dirinya sendiri dan mengarahkan diri denganmengubah respon-responnya yang kurang tepat- Menggunakan kemampuan berpikirnya untuk lebih memperbaiki dirinyasehingga dapat mencapai kehidupan yang rasional dan memuaskan- Bekerjasama dengan konselor dan bersedia mengikuti arahan konselordalam hal proses pengubahan.I. SITUASI HUBUNGANKonseling trait and factors ditandai dengan ciri-ciri situasi hubungansebagai berikut:a. Konseling merupakan suatu thinking relationship yang lebih mementingkanperanan berpikir rasional, tetapi tidak meninggalkan aspek emosionalseseorangb. Konseling berlangsung dalam situasi hubungan yang bersifat pribadi,bersahabat, akrab, dan empatikc. Konseling yang berlangsung dapat bersifat remidiatif maupun developmentald. Setiap pihak (konselor-klien) melakukan perannya secara proporsional.J. PROSES KONSELINGPeranan konselor menurut teori ini adalah memberitahukan konseli tentangberbagai kemampuanya yang diperoleh konselor melalui testing. Berdasarkantesting pula konselor mengetahui kelemahan dan kekuatan kepribadian konseli.Pendekatan teori ini seri deisebut kognitif rasional karena peranan konselor dalamkonseling ialah memberitahukan, memberi informasi, dan mengarahkan konseli.
  9. 9. 9Williamson menyatakan bahwa hubungan konseling merupakan hubungan yangsangat akrab, sangat bersifat pribadi dalam hubungan tatap muka, kemudiankonselor bukan hanya membantu individu atas apa saja yang sesuai denganpotensinya, tetapi konselor harus mempengaruhi klien berkembang ke satu arahyang terbaik baginya. Langkah-langkah dalam proses konseling ini yaitu (1)Penyambutan dan topik netral; (2) Tahap Analisa; (3) Tahap sintesa; (4) Tahapprognosa; (5) Pencarian alternatif; (6) Pengambilan keputusan; (7) Implementasi;(8) Penutup.K. TAHAP-TAHAP KONSELINGTahap-tahap konseling pada konseling trait and factor meliputi:1. AnalisisAnalisis merupakan tahap atau langkah mengungkap data tentang diripribadi klien beserta lingkungannya. Tujuan tahap analisis adalah untukmemperoleh pemahaman tentang diri siswa/klien dalam hubungannya dengansyarat-syarat yang diperlukan untuk memperoleh penyesuaian diri baik untukmasa sekarang maupun masa yang akan datang. Syarat data yang terkumpul harusvalid, relevan, dan komprehensif. Data yang dikumpulkan diklasifikasikanmenjadi dua macam:a. Data vertical (menyangkut diri klien):- Data fisik: kesehatan, ciri-ciri fisik, penampilan fisik, dsb.- Data psikis: bakat, minat, sikap, cita-cita, hobi, kebiasaan, dsb.b. Data Horisontal (berkaitan denga latar belakang atau lingkungan klien):- Data keluarga, kehidupan di sekolah, tempat kerja, teman, dsb.2. SintesisSintesis merupakan tahap atau langkah menghimpun, menyeleksi, danmenghubung-hubungkan atau menggolong-golongkan data yang disusun secararingkas tetapi tetap komprehensif sehingga diperoleh pemahaman yang lebih jelastentang diri klien.3. DiagnosisDiagnosis merupakan tahap mempertegas hakikat masalah danmenemukan faktor penyebabnya.
  10. 10. 104. PrognosisPrognosis memperkirakan kemungkinan yang akan terjadi pada masa yangakan datang atau konsekuensi bila ada perubahan atau tidak ada perubahan padadiri klien.5. KonselingKonseling merupakan tahap mengembangkan alternatif pemecahanmasalah, menentukan, dan melaksanakannya.Dalam kaitan ini ada lima sifatkonseling, yaitu :1. Belajar terpimpin menuju pengertian diri2. Mendidik/mengajar kembali untuk mencapai tujuan kepribadiannya danpenyesuaian hidupnya.3. Bantuan pribadi agar klien mengerti dan terampil dalam menerapkan prinsipdan teknik yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.4. Konseling yang mencakup hubungan dan teknik yang bersifatmenyembuhkan5. Mendidik kembali yang sifatnya sebagai katarsis atau penyaluran6. Follow-upFollow-up merupakan tahap menentukan langkah-langkah lanjutanberdasarkan telaah atas pelaksanaan alternatif yang telah dipilih.L. TEKNIK-TEKNIK KONSELINGTeknik-teknik dalam konseling trait and factor berpegang pada prinsipadanya individual differences, maka dalam teknik konseling tidak ada teknik-teknik tertentu yang cocok untuk setiap siswa. Teknik-teknik tertentu hanya cocokuntuk siswa tertentu dengan masalah tertentu pula. Oleh karena itu, dalammembantu siswa, dituntut adanya fleksibilitas dan kecanggihan konselor dalammembuat variasi teknik, bahkan terbuka bagi konselor membuat modifikasi-modifikasi.Teknik-teknik konseling yang dikemukakan Williamson ada limamacam yaitu1. Establishing Rapport (Menciptakan Hubungan Baik)Dalam menciptakan hubungan yang baik dengan konseli, konselorperlu menciptakan suasana hangat, nyaman, menyenangkan, ramah dan akrab
  11. 11. 11(tetapi tidak perlu merendah, cukup pada posisi sejajar antara konselordengan klien), dan menghilangkan kemungkinan situasi yang bersifatmengancam (seperti konselor dengan muka yang garang sehingga membuatkonseli merasa terancam).Ada beberapa faktor penting dan terkait dengan keperluan penciptaanrapport tersebut:- Reputasi konselor, khususnya reputasi dalam kompetensi (competencyreputation), konselor harus memiliki nama baik dimata siswa,- Penghargaan dan perhatian konselor terhadap individu,- Kemampuan konselor dalam menyimpan rahasia (confidentiality),termasuk kerahasiaan hasil-hasil konseling atas siswa-siswa terdahulu.2. Cultivating Self-Understanding (Mempertajam Pemahaman Diri)Konselor perlu berusaha agar klien lebih mampu memahami dirinyayang mencakup segala kelebihan maupun kekurangannya, dan dibantu untukmenggunakan kekuatan dan mengatasi kekurangannya. Untuk itu, dapatdimengerti kalau misalnya konselor dituntut untuk menginterpretasikan dataklien, termasuk data hasil testing. Sudah barang tentu cara menerangkannyaharus dengan kata-kata sederhana yang jelas dan mudah difahami klien.3. Advicing Or Planning A Program of Action (Memberi NasehatAtauMembantu Merencanakan Program Tindakan)Dalam melaksanakan hal ini, konselor memulai dari apa yang menjadipilihan klien, tujuannya, pandangannya, dan sikapnya; kemudianmengemukakan alternatif-alternatif untuk dibahas segi-segi positif dannegatifnya, manfaat dan kerugiannya. Dalam hal ini, konselor menyampaikannasehat-nasehat secukupnya dengan pensikapan bahwa hal itu bersikapsementara karena fakta dan data yang diketahui konselor, betapapun tetapterbatas. Oleh karena itu, klien perlu didorong untuk menyampaikan ide-idenya sendiri untuk dipertimbangkan dan konselor memberikan saran-saranbagi pengambilan keputusan dan pelaksanaanya.Ada tiga cara dalammemberikan nasehat yaitu
  12. 12. 121. Dirrective Advice (nasehat langsung), dimana konselor secara terbukadan jelas menyatakan pendapatnya. Cara ini dilakukan apabila klienmemang tidak mengetahui betul apa yang harus diperbuat/diinginkan.2. Persuasive, dilakukan apabila klien telah mampu menunjukan alas an yanglogis atas pilihan-pilihannya tetapi belum menentukan pilihan.3. Eksplanatory(penjelasan), yang merupakan metode yang palingdikehendaki dan memuaskan.4. Carrying Out The Plan (Melaksanakan Rencana)Mengikuti pilihan atau keputusan klien, konselor dapat memberikanbantuan langsung bagi implementasi atau pelaksanaannya. Bantuannya antaralain berupa, rencana atau program pendidikan dan pelatihan atau usaha-usahaperbaikan lainnya yang lebih dapat menyempurnakan keberhasilan tindakan.Contoh: apabila dalam keputusannya klien akan menemui gurunya, makaklien diajak mendiskusikan kapan hal itu dilakukan, dimana, dengan cara apa,dengan siapa dan sebagainya.5. Refferal (Pengiriman Pada Ahli Lain)Pada kenyataanya tidak ada konselor yang ahli dalam memecahkansegala permasalahan siswa, yang karena itu konselor perlu menyadariketerbatasan dirinya. Apabila konselor tidak mampu, konselor tidakdiperkenankan untuk memaksakan diriatau berbuat coba-coba. Konselor perlumengirimkan kliennya pada ahli lain yang lebih mampu.M. KELEBIHAN DAN KELEMAHANKelebihan:1. Teori ciri dan sifat menerapkan pendekatan ilmiah pada konseling2. Penekanan pada penggunaan data tes objektif, membawa kepada upayaperbaikan dalam pengembangan tes dan penggunanya, serta perbaikan dalampengumpulan data lingkungan.3. Penekanan yang diberikan pada diagnose mengandung makna sebagaisuatu perhatian terhadap masalah dan sumbernya mengarahkan kepada upayapengkreasian teknik-teknik untuk mengatasinya.4. Penekanan pada aspek kognitif merupakan upaya menyeimbangkan
  13. 13. 13pandangan lain yang lebih menekankan afektif atau emosional.Kelemahan:a. Kurang diindahkan adanya pengaruh dari perasaan, keinginan, dambaananeka nilai budaya (cultural values), nilai-nalai kehudupan (personal values),dan cita-cita hidup, terhadap perkembangan jabatan anak dan remaja(vocational development) serta pilihan program/bidang studi dan bidangpekerjaan (vocational choice).b. Kurang diperhatikan peran keluarga dekat, yang ikut mempengaruhirangkaian pilihan anak dengan cara mengungkapkan harapan, dambaan danmemberikan pertimbangan untung-rugi sambil menunjuk pada tradisikeluarga; tuntutan mengingat ekonomi keluarga; serta keterbatasan yangkonkrit dalam kemampuan finansial, dan sebagainya.c. Kurang diperhitungkannya perubahan-perubahan dalam kehidupanmasyarakat, yang ikut memperluas atau membatasi jumlah pilihan yangtersedia bagi seseorang.d. Kurang disadari bahwa konstelasi kualifikasi yang dituntut untuk mencapaisukses di suatu bidang pekerjaan atau program studi dapat berubah selamatahun-tahun yang akan datang.e. Pola ciri-ciri kepribadian tertentu pasti sangat membatasi jumlahkesempatan yang terbuka bagi seseorang, karena orang dari berbagai pola cirikepribadian dapat mencapai sukses di bidang pekerjaan yang sama.
  14. 14. 14BAB IIIPENUTUPKesimpulanPendekatan konseling trait & factor dikembangkan dan didirikan oleh E.G.Williamson. adalah suatu ciri yang khas bagi seseorang dalam berpikir,berperasaan, dan berprilaku, seperti intelegensi (berpikir), iba hati (berperasaan),dan agresif (berprilaku). Teori Trait-Factor adalah pandangan yang mengatakanbahwa kepsibadian seseorang dapat dilukiskan dengan mengidentifikasikanjumlah ciri, sejauh tampak dari hasil testing psikologis yang mengukur masing-masing dimensi kepribadian itu. Tujuan dari konseling trait & factor yaitu Self-clarification (kejelasan diri), Self-understanding (pemahaman diri), Self-acceptance (penerimaan diri), Self-direction (pengarahan diri), Self-actualization(perwujudan diri).Sedangkan tahap konselingnya yaitu analisis, sintesis, diagnosis,prognosis, konseling, dan follow-up. Dan tekniknya adalah Establishing Rapport(Menciptakan Hubungan Baik), Cultivating Self-Understanding (MempertajamPemahaman Diri), Advicing Or Planning A Program of Action (Memberi NasehatAtau Membantu Merencanakan Program Tindakan), Carrying Out The Plan(Melaksanakan Rencana), Refferal (Pengiriman Pada Ahli Lain).
  15. 15. 15DAFTAR RUJUKANhttp://apadefinisinya.blogspot.com/2009/02/teori-konseling-trait-factor.html,Online pk. 18.10 (28/03/2011)http://www.zonependidikan.co.cc/2010/05/konseling-trait-factor.html, Online pk.18.10 (28/03/2011)Lutfi & Sudjiono. 1991. Konseling Individu Trait And Factors. Malang: IKIP-Malang.

×