Like this? Share it with your network

Share
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
No Downloads

Views

Total Views
3,231
On Slideshare
3,177
From Embeds
54
Number of Embeds
2

Actions

Shares
Downloads
57
Comments
0
Likes
1

Embeds 54

http://amaterasulovers.blogspot.com 53
http://www.blogger.com 1

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. 0PENDEKATAN KONSELING REBTBAB IPENDAHULUANA. Latar belakangKonseling Rasional Emotif Behavior merupakan salah satu diantarapendekatan konseling yang dipakai dalam praktik konseling. Konseling RasionalEmotif Behavior dikembangkan oleh Alber Ellis sejak taun 1955.KonselingRasional Emotif Behavior tergolong pada ancangan konseling yang berorientasikognitif. Konseling Rasional-Emotif Therapy salah satu bentuk konseling aktif-direktif yang menyerupai proses pendidikan (education) dan pengajaran(teaching) dengan mempertahankan dimensi pikiran daripada perasaan (Corey,1982). Perkembangan dan modifikasi selalu terjadi, semula ia menekankan unsureRasional-kognitif, kemudian diperluas dengan memasukkan unsure perilaku.Oleh karena itulah, sebagai konselor atau calon konselor hendaknyamenguasai konsep-konsep dasar, perkembangan tingkah laku manusia dan kondisibagi timbulnya pengubahan serta pengubahan tingkah laku yang dikmbangkanoleh pengembangnya serta mampu menerapkan dalam situasi praktik konselingkhususnya konseling dengan pendekatan Rasional Emotif Behavior Teraphy yangakan dibahas dalam makalah ini.B. Rumusan Masalah1. Bagaimanakah konsep-konsep menurut pendekatan konseling REBT?2. Bagaimanakah hakikat manusia menurut pendekatan konseling REBT?3. Bagaimanakah aplikasi pendekatan REBT dalam konseling?4. Apa kelemahan dan kelebihan dari pendekatan konseling REBT?C. Tujuan1. Untuk mengetahui konsep-konsep menurut pendekatan konseling REBT.2. Untuk mengetahui hakikat manusia menurut pendekatan REBT.3. Untuk mengetahui aplikasi pendekatan REBT dalam konseling
  • 2. 14. Untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan pendekatan konseling REBT.BAB IIPEMBAHASANKonseling Rasional-Emotif-Behavior sebagai salah satu pendekatan dalamkonseling individu dan kelompok, dikembangkan oleh Alber Ellis sejak taun1955. Albert Ellis lahir di Pittsburg, Pensylvania tahun 1913.sebagai pakarpsikologis klinis, ia memulai karirnya di bidang konseling perkawinan, keluargadan seks. Konseling Rational-Emotif Behavior lahir bermula dari ketidakpuasanEllis terhadap praktek konseling tradisional yang dinilai kurang efisien, khusunyaancangan psikoanalitik klasik yang pernah ditekuni. Berdasar temuan-temuaneksperimen dan klinisnya, Ellis memperkenalkan pendekatan baru yang lebihpraktis, yaitu konseling Rasional Emotif Behavior. Ancangan ini menjadi popularberbarengan dengan dipublikasian buku perdanya:”Reason an Emotion inPsychotherapy” pada tahun 1962.Konseling Rasional Emotif Behavior tergolong pada ancangan konselingyang berorientasi kognitif-sejajar dengan konseling realitas yang dikembangkanoleh Glesser- dengan beberapa cirri menonjol, yaitu: bersifat didaktis, aktif,direktif, menekankan situasi sekarang dan berfikir yang lebih rasional sertamenekankan pada segi aksi klien. Dari situlah maka konseling Rasional EmotifBehavior tak ubahnya merupakan proses pemerolehan pemahaman yang sekaligustampak pada perbuatan atau perilaku klien.Konseling Rasional-Emotif Therapy salah satu bentuk konseling aktif-direktif yang menyerupai proses pendidikan (education) dan pengajaran(teaching) dengan mempertahankan dimensi pikiran daripada perasaan (Corey,1982). Perkembangan dan modifikasi selalu terjadi, semula ia menekankan unsureRasional-kognitif, kemudian diperluas dengan memasukkan unsure perilaku.Selanjutnya Ellis tertarik dengan teori belajar (conditioning) dan berupayamenerapkannya agar klien secara langsung bisa mengubah perilakunya sendiri(deconditioning), yang akhirnya REBTbanyak memakai teknik-teknik konselingbehavioral seperti: relaksasi, didaktik, redukasi, berkhayal, konfrontasi. Ancangan
  • 3. 2ini telah mengalami evolusi sehingga menjelma menjadi ancangan yangkomprehensif dan eklektif yang menekankan unsure-unsur berfikir, menilai,menimbang), menganalisis, memutuskan, dan melakukan (Corey, 1982).TEORI KEPRIBADIANHal penting yang perlu diperhatikan bagi pendekatan ini adalah teorikepribadian yang dikenal dengan teori A-B-C-D-E yang merupakan suatukesatuan proses yang terjadi dalam diri individu dan tidak terpisah-pisah. Tigapilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu Antecedent event (A), Belief(B), dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenaldengan konsep atau teori ABC.Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami ataumemapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku,atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksimasuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.Belief(B) yaitukeyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatuperistiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional(rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atauiB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinanyang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi produktif. Keyakinanyang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yangsalah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak produktif.Emotionalconsequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksiindividu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannyadengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsungdari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan(B) baik yang rB maupun yang iB.Desputing (D) merupakan penerapan prinsip-prinsip ilmiah untuk menentang pikiran yang cenderung mengalahkan diri sendiridan mengalahkan nilai-nilai irasional yang tidak bisa dibuktikan. Hasil akhir dariproses A-B-C-D berupa Effect (E) perilaku kognitif dan emotif. Bilamana A-B-C-D berlangsung dalam proses berpikir yang rasional maka hasil akhirnya berupa
  • 4. 3perilaku positif, sebaliknya jika proses berpikir yang irasional maka hasilakhirnya berupa tingkah laku negatif.HAKIKAT MANUSIAAlbert Ellis merumuskan siapa manusia itu, ada delapan hal pokok, secararingkas dikemukakan pada bagian berikut.1. Manusia adalah makluk yang berpotensi2. Manusia adalah makluk berfikir, merasa, dan berbuat3. Manusia adalah makluk mudah kena pengaruh (cultural influencibility)4. Perilaku verbal dan berfikir manusia5. Sumber perilaku manusia ditentukan oleh nilai atau ide-ide (pandangan)6. Manusia memiliki verbalisasi diri dan gangguan7. Manusia memiliki kemampuan konfrontasi dan indoktrinasi8. Manusia adalah makhluk yang unikPERKEMBANGAN TINGKAH LAKU MENYIMPANGa. Gejala tingkah laku menyimpangPerkembangan kepribadian yang normal dan pokok-pokok pikiran tentanghak manusia merupakan titik tolak pengkategorian pribadi menyimpang atautingkah laku bermasalah menurut Ellis. Ia memisahkan individu yang bermasalahyang ditunjukkan adanya gangguan emosionalkarena keyakinannya terhadap ide-ide irasional akan pikiran-pikiran logik. Ide-ide tersebut diajarkan oleh lingkungan(orang tua, orang dewasa, masyarakat, dan kebudayaan) sehingga ide-ide tersebutdiserap dan diindoktrinasi secara terus menerus menjadi keyakinannya, akhirnyatampak pada perilakunya sekarang. Ellis bersama penganutnya berpendapatbahwa gejala gangguan kepribadian yang berupa neurosis atau psychosis adalahbersumber pada sikap dan cara-cara berfikir yang irasional, baik terhadap dirinyasendiri maupun terhadap lingkunagannya sehingga menimbulkan gangguanemosional yang dinampakkan pada perilaku negatif berikut: (1) Terlarang(inhibited), (2) Bermusuhan, (3) pertahanan (defensive), (4) Berdosa, (5) Tidakberguna, (6) Kaku, (7) Cemas, (8) tidak terkontrol, dan (9) Tidak bahagia. Gejala-gejala tersebut sering kali tampak pada cara individu berbicara. Hal itu sebagaipenampakan tingkah laku individu yang mengalahkan diri (self-defeating),
  • 5. 4penolakan (avoidance), penundaan (procrastination), sering membuat kesalahan(endless repetition of mistake), kesedihan dan ketidaksenangan, takhayul(superstition) tidak toleran (intolerance), ingin selalu sempurna (perfectionism),mengutuk diri (self blame), dan menghindar dari potensi actual (avoidance ofactualizing growth potensials)b. Faktor-faktor penyebabNeurosis diidentifikasi sebagai pikiran dan perilaku yang irasional, dengangejala-gejala yang menampak dan dapat timbul karena penyebab pokok berikutini:a. Kecenderungan umum individu berfikir dengan tidak jujur (croodly),merasa tidak tepat dan bertindak secara tidak fungsional, yang umumnyamerupakan unsure bawaan.b. Kecenderungan khusus individu yang bertindak merusak diri sendiri.Kedua penyebab pokok masalah tersebut di atas, tidak lain merupakan ide-ide irasional. Ellis mengemukakan ada dua belas ide irasional atau ilogikyang sekaligus merupakan penyebab utama timbulnya masalah (Nelson,1982) yang rinciannya di sebutkan sebagai berikut:1. Tuntutan selalu dicintai dan didukung2. Tuntutan kompetensi secara sempurna3. Tuntutan menghukum orang lain4. Ketidaksenangan atas kejadian yang tidak diharapkan5. Tuntutan penyebab eksternal6. Perhatian pada hal-hal yang berbahaya7. Lari dari kesulitan dan tanggung jawab8. Keharusan bergantung9. Kebahagiaan bukan didapat dari kemalasan10. Melebihkan kontrol masa lalu11. Terlalu peduli atau hanyut ulah orang lain12. Tuntutan jawaban persis atas suatu masalahPRIBADI SEHAT
  • 6. 5Pribadi sehat yaitu bilamana individu mampu menggunakan kemampuanberfikir rasional untuk memecahkan dan menghadapi masalah-masalah hidupnyasecara bijak. Selain itu individu mampu memanfaatkan segala kelebihan danketerbatasan dirinya serta mampu mengaktualisasikan diri, lebih percaya diri, dantidak bergantung kepada orang lain serta dapat menyesuaikan diri di tengah-tengah lingkungannya. Secara “implicit” akan dirinci dalam tujuan konseling,yaitu adanya minat diri, arah-diri, toleran, penerimaan terhadap ketertekanan,fleksibilitas, berfikir ilmiah, komitmen, berani mengambil resiko, penerimaan diri.Rumusan pribadi sehat menurut REBT, secara umum, mempunyai ciri-ciri:(1) Kekuatan nalar atas emosi.(2) Emosi/perasaan yang pantas (appropriate).(3) Perilaku berencana.Ellis telah mengembangkan rumusan filsafat hidup pokok-pokok pikirantentang hakikat manusia yang rasional berikut ini:1. Memfokuskan self-respect daripada other-respect.2. Ketidakbahagiaan individu bukan karena sebab peristiwa atau kejadian,melainkan pandangan individu terhadap suatu peristiwa.3. Tindakan yang dilakukan oleh seseorang jangan dipandang buruk, salah,cela, melainkan pandanglah seseorang itu karena terganggu psikologisnyaatau emosinya.4. Seharusnya seseorang berusaha mengubah untuk menjadi orang lain danlebih baik menelusuri kembali keberadaannya.5. Lebih terbuka dalam menghadapi sesuatu yang membahayakan ataumengerikan dengan segera mengalihkan pikiran-pikiran tersebut.6. Mampu menghadapi masalah hidup dan berusaha mencari jalan keluarnya.7. Dalam menangani situasi hidup lebih baik berdiri di atas kaki sendiri.8. Seseorang harus menerima ketidaksempurnaannya dan keterbatasannya,dengan keterbatasan manusiawi, daripada terus menerus mencarikeempurnaan yang tak pernah dicapainya.9. Di dalam mencapai kebahagiaan hidup senatiasa melalui usaha keras,berjuang, dan akhirnya pasrah.
  • 7. 610. Seseorang harus belajar dari masa lalunya, tetapi jangan terpaku padaperistiwa masa lalu.11. Seseorang memandang kekurangan orang lain sebagai kekurangan merekasendiri, dan jangan memandang dirinya sendiri sebagai kekurangan oranglain.12. Seseorang hendaknya bisa mengendalikan terhadap emosi.KONDISI PENGUBAHANa) Tujuan Umum1) Memperbaiki dan mengubah sikap, persepsi, cara berfikir, keyakinan,dan pandangan-pandangan irasional dan ilogis menjadi rasional danlogis agar klien dapat mengembangkan diri, meningkatkanaktualisasinya seoptimal mungkin melalui perilaku kognitif dan afektifyang positif.2) Menghilangkan gangguan emosional yang merusak diri sendiri,seperti: rasa benci, rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas,was-was, dan marah sebagai konsekuensi keyakinan yang kelirudengan jalan mengajar dan melatih klien untuk menghadapi kenyataan-kenyataan hidup secara rasional dan membangkitkan kepercayaan,serta nilai-nilai kemampuan diri sendiri .b) Tujuan KhususDisamping tujuan di atas, Ellis merinci tujuan khusus dalam rangkamencapai pribadi sehat sebagai berikut:1) Self-Interest – Social Interestyaitu memberikan kemungkinan kepada konseli untuk mereorganisasikanpersepsinya sendiri terhadap dirinya sehingga menumbuhkan diri sekaligus minatsosial individu.2) Self-DirectionYaitu mendorong konseli untuk mengarahkan dirinya sendiri, dalam arti bahwaklien harus menghadapi kenyataan-kenyataan hidupnya dengan tanggung jawabsendiri bukan bergantung atau minta bantuan orang lain.
  • 8. 73) ToleranceYaitu mendorong dan membangkitkan rasa toleransi konseli terhadap orang lain,meskipun ia bersalah. Menghargai orang lain sangat diperlukan karena tidak adaorang yang sempurna di dunia ini.4) Acceptance of uncertainlyMemberikan pemahaman yang rasional kepada konseli untuk menghadapikenyataan-kenyataan hidup secara logis dan tidak emosional.5) FlexibleYaitu mendorong konseli agar luwes dalam bertindak secara intelektual, terbukaterhadap suatu masalah sehingga dapat diperoleh cara-caranya pemecahannyayang mendatangkan kepuasaan kepada diri konseli sendiri.6) CommitmentYaitu membangkitkan sikap objektivitas dan komitmen konseli untuk menjagakeseimbangan dalam lingkungannya.7) Scientific thinkingYaitu berpikir rasional dan objektif, bukan hanya terhadap orang lain melainkanjuga terhadap dirinya.8) Risk thinkingYaitu mendorong dan membangkitkan sikap keberanian dalam diri sendriri(konseli untuk mengubah nasibnya melalui kehidupan nyata, meskipun belumtentu berhasil) keberanian ini sangat penting dalam menanamkan kepercayaan dirikepada konseli untuk menghadapi masa depan.9) Self acceptancePenerimaan diri terhadap kemampuan dan keyakinan diri sendiri dengan rasagembira dan senang secara eksistensial adalah sikap positif dan merupakansasaran bagi konseling rasional-emotif behavior pula.Peran KonselorSeperti kita ketahui, kegiatan utama konseling rasional-emotif behavioradalah membebeaskan konseli dari ide-ide dan pemikiran-pemikiran yang tidak
  • 9. 8logis dan belajar mensubtitusikan ide-ide yang logis dalam dirinya. Hal ini berartidibantu dengan jalan melatih dan mengajarnya untuk menginternalisasi nilai-nilaidan pandangan hidup yang rasional. Dalam hal ini konselor berperan sebagai: (1)Guru, yakni mengajar konseli untuk mengubah pola berpikir yang irasionalkearah pemikiran yang rasional, (2) ahli bahasa, peran ini diperlukan sekaliterutama membantu konseli untuk menggunakan bahasa dengan baik pada saatdiperlukan menyimpulkan pikiran-pikiran yang logik, (3) modeling, konselorhendaknya menjadi model-contoh, panutan bagi konseli terutama bagaimanamengoperasionalisasikan pola berfikir yang rasional, (4) penasihat, peran inidiperlukan bagi konselor berorientasi kognitif, terutama menunjukkan pemikiran-pemikiran konseli yang ilogik, (5) counter-propagandist, diperlukan untukmenantang self-defeating konseli (merusak diri). Dalam fungsinya konselorbertugas mendorong, memberikan persuasi, dan pada saat-saat tertentumenugaskan konseli untuk ambil alih peran konselor sebagai counter-propagandisdankonseli sendirilah yang self-defeating dalam dirinya sendiri.Berikut ini disajikan tugas-tugas spesifik konselor REB, yaitu:Langkah pertama,konselor perlu memperhatikan dan menunjukkan kepadakonseli bahwa masalah atau kesulitan yang dihadapinya sangat berhubungandengan keyakinannya yang irasional dan menunjukkan bagaimana konseli harusmengembangkan nilai dan sikapnya dengan mencoba memberikan wawasandengan menunjukkan berbagai istilah seperti: should, ought, dan must. Dalam halini konseli harus belajar memisahkan keyakinannya yang rasional dengankeyakinan yang irasional.Langkah kedua, setelah konseli menyadari keadaan diri yang sebenarnya,bahwagangguan emosional dalam dirinya disebabkan oleh sikap, persepsi dan penilaianterhadap dirinya yang tidak rasional maka konselor menunjukkan kepada konselibahwa berpikir yang ilogis sebenarnya adalah sumber dan gangguan terhadapkepribadiannya, dan hal tersebut dapat diubah dengan membuat dan mengubahkeyakinannya dan pandangan-pandangan baru yang logik dan rasional.Langkah ketiga, konselor mencoba mengarahkan konseli untuk berfikir danmembebaskan dari ide-ide yang irasional. Pada langkah ini konselor harusmenolong konseli untuk memahami hubungan antara ide-ide yang merusak
  • 10. 9dirinya sendiri dan pandangan yang tidak realistik yang membawa ke arah prosesmenyalahkan diri sendiri.Langkah keempat, dalam proses konseling, konselor menantang konseli untukmengembangkan filosofi hidupnya yang rasional dan mencoba untuk menolakkeyakinan-keyakinan yang irasional.Peran KonseliPeran konseli dalam REB hampir sama dengan seorang ”siswa”. Proseskonseling dapat dipandang sebagai proses ”reedukatif” yang mana klien belajarcara mengaplikasikan pemikiran logis untuk memecahkan masalahnya.Pengalaman yang harus dimiliki konseli adalah pengalaman masa kini dan di sini(here and noe experience) dan kemampuan konseli untuk mengubah pola pikirdan emosinya yang keliru. Adapun pengalaman yang sentral adalah bagaimana iamenemukan kesadaran diri dan pemahaman (insight).Situasi hubunganPendekatan konseling apapun isu personal memegang peran penting.Namun pengertian personal dalam REBT agak berbeda dengan modelkonselinglain. Menurut REBT-personal warmth, affection, dan hubunganpersonal- antara konselor dan hubungan personal yang bersifat intensif adalahfaktor sekunder. REB mensyaratkan bahwa hubungan konseling perlumenciptakan hubungan baik antara konseli dan konselor (good rapport). Adapunsifat-sifat hubungan yang dianggap penting, yaitu:1. pertautan hubungan yang baik (good rapport)2. gaya hubungan dalam REB harus aktif, direktif, dan objektif3. dalam hubungan konseling, REB menekankan pentingnya full tolerance,dan unconditioning positive regard4. secara terus menerus konselor perlu menerima diri konseli sebagai seorangworthwhile human being (manusia hidup berharkat dan bernilai), karenathe client exist dan bukan karena the client accomplishment.MEKANISME PERUBAHAN
  • 11. 10Konseling rasional-emotif behavior sebagai suatu proses yang rasional. Didalam proses tersebut, konselor harus menciptakan suasana yang hangat danpenuh pengertian, dan yang paling penting adalah menumbuhkan pengertiankonseli bahwa mereka harus berfikir secara rasional-intelektual menurut dirinyasendiri.1. Prosedur atau tahap-tahap KonselingEllis mengajukan prosedur umum dalam konseling, individu maupunkelompok, yang juga bisa disebut tahap-tahap konseling ataupun prnsip-prinsipkonseling. Tahap-tahap konseling terdiri dari empat tahap yang dapat digunakansecara fleksibel, bergantung pada kebutuhan klien. Keempat tahapan tersebutmerupakan urut-urutan logis yang menggambarkan langkah-langkah yang lazimdalam dunia psikoterapi dan atau di dunia pengetahuan (Hansen, 1982).I. Tahap pembinaan hubunganHubunngan baik –good rapport- antara konselor dan klien memang merupakansuatu prasyarat keberhasilan konseling. Untuk dapat menciptakan hubungan baikkonselor perlu: Menerapkan sikap dasar (penerimaan, suasana hangat, ramah, akrab, danpenuh toleran) Menciptakan suasana pendukung (suasana informal objekif, dan suasanarapport) Membuka sesi pertama atau perbincangan awal (menanyakan kerisauan,meminta respon atau keterangan dan menggalinya)II. Tahap pengelolaan pemikiran dan pandanganTahap ini secara konsekuensial peran konselor ialah: Mengidentifikasi, menerangkan, dan menunjukkan masalah (A-B-C) yangdihadapi klien dengan keyakinan personalnya Mengajar dan memberikan informasi (menjelaskan kepada klien selukbeluk kerisauannya, yaitu menjelaskan B-Bir dan Br-, serta peranan A danC di dalamnya).
  • 12. 11 Mendiskusikan masalah (menunjukkan arah perubahan –dari Bir ke Br-mendiskusikan dan menetapkan tujuan konseling yang bersangkutan yaituapa yang akan dicapai dalam konseling).III.Tahap pengelolaan emotif dan afektifSebagai tahap kedua di atas,konselor memusatkan perhatiannya pada ”menggarapemosi atau afeksi” konseli sebagai kondisi pendukung kemantapan perubahan Birke arah Br. Dalam tahap ini konselor ialah: Meminta kesepakatan penuh kepada klien atas arah perubahan dan”perubahan-perubahan kecil” yang telah terjadi pada konseli. Memelihara suasana konseling, misalnya dengan menerapkan teknikhumor, atau membacakan puisi atau kata-kata mutiara, menunjukkankarikatur yang cocok, atau bernyanyi bersama konseli Melaksanakan teknik-teknik relaksasi, seperti pelenturan otot, teriakankuat, mengheningkan cipta atau ajojing di tempat.IV. Tahap pengelolaan tingkah lakuJikalau sudah ditampakkanoleh konseli isyarat bahwa ia (1) sepakat atasarah perubahan, (2) ada pernyataan telah terjadi sejumlah perubahan kognitifmaupun afektif sekalipun kecil, dan (3) sikap emosional dihadapkan padaperubahan perilaku ketika konselor siap masuk pada tahap pengelolaan perilakutampak konseli. Pada tahap ini konselor (1) menganjurkan konseli untuk berbuatdan memberikan nasihat, (2) menunjukkan contoh perilaku cocok, pantas, atauteknik modeling serta mengajak konseli mengikuti contoh, (3) mengajak konselidalam latihan-latihan ke asertifan, dan (4) mengajak dan ”menuntun” konselimerumuskan kalimat-kalimat rasional untuk ”atribut” dirinya, atau ”berbisik diri”.Kegiatan-kegiatan dalam tahap keempat ini bukanlah sekuensialmelainkan sejumlah kegiatan aplikasi teknik yang dapat dipilih oleh konselorbersama konseli menurut kekhasan masalah konseli.2. Teknik-Teknik KonselingBerdasar pada hakikat konseling rasional-emotif behavior serta tahap-tahapyang dilakukan dalam prosesnya, maka REB mengembangkan dan
  • 13. 12mengaplikasikan teknik-teknik khusus konseling. Menurut pengelompokannya,teknik-teknik yang digunakan oleh REB terdiri atas:a. teknik-teknik emotif-eksperiensial/evokatifTeknik ini dipakai untuk mengurangi atau menghilangkan gangguan-gangguanemosional atau perasaan yang merusak diri sendiri (self-defeating), yakni:1. Teknik assertive trainingYaitu teknik yang dipakai untuk melatih, mendoronng, dan membiasakankonseli agar secara terus menerus menyesuaikan dirinya dengan pola perilakutertentu yang diinginkan. Misalnya, seorang konseli yang pemalu diberikanlatihan berdiri di depan kelas, ditunjuk menjadi ketua kelas, memimpinkelompok diskusi dan sebagainya. Latihan ini dilakukan secara bertahap,sehingga secara tidak langsung perasaan malu konseli berkurang padagilirannya akan hilang. Bila pada tahap tertentu konselor menilai bahwaperasaan malu konseli telah berkurang, maka selanjutnya diberikan informasipenyadaran bahwa sesungguhnya perasaan itu disebabkan oleh penilaian danpersepsinya terhadap dirinya sendiri yang keliru dan irasional.2. Teknik sosiodramaYaitu teknik yang digunakan untuk mengekpresikan berbagai jenisperasaan yang menekan konseli (terutama perasaan negatif) melalui suatusuasana yang didramatisasikan sehingga konseli bebas mengungkapkandirinya sendiri secara lisan, tulis maupun melalui gerakan-gerakan dramatis.Teknik ini dilakukan untuk melatih perilaku verbal dan nonverbal yangdiharapkan dari siswa. Dengan teknik ini diperlukan seorang konselor yangahli dibidang bahasa.3. Teknik self-modelingYaitu teknik yang digunakan dengan meminta konseli berjanji ataumengadakan komitmen dengan konselor untuk menghilangkan perasaan atauperilaku tertentu. Dalam teknik modeling ini konseli diminta terus-menerusmenghindarkan dirinya dari perilaku negatif.
  • 14. 134. Teknik imitasiYaitu teknik yang digunakan dimana konseli diminta untuk menirukansecara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksudmengkonter perilakunya sendiri yang negatif.b. Teknik-teknik kognitifTaknik-teknik berikut ini memegang peran utama dalam pendekatankonseling REB. Teknik ini digunakan untuk mengkonter sistem keyakinan(anggapan) yang irasional konseli serta perilaku-perilakunya yang negatif. Denganteknik ini didorong dan dimodifikasi aspek kognitifnya agar dapat berfikir dengancara rasional dan logis. Dengan demikian konseli dapat berbuat sesuai dengansistem nilai yang diharapkan baik terhadap dirinya sendiri maupunlingkungannya. Berikut ini merupaka teknik-teknik kognitif yang cukup dikenal,yaitu:1) Home work assignmentsTeknik ini merupakan prasyarat bagi konseling selanjutnya. Dalam teknikini konseli diberi tugas-tugas rumah untuk berlatih membiasakan diri sertamenginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menentukan pola perilakuyang diharapkan. Dengan tugas rumah, konseli diharapkan dapat mengurangiatau menghilangkan ide-ide atau perasaan-perasaan irasional dalam situasi-situasi tertentu, mempraktikkan respon-respon tertentu, berkonfrontasi denganself-verbalitasnya yang mendahului, mempelajari bahan-bahan tertentu yangdi ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya (pandangannya) yangkeliru, mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan.2) Teknik BibliotherapyTeknik ini digunakan untuk membongkar akar-akar keyakinan yangirasional dan ilogis dalam diri konseli serta melatih konseli berfikir rasionaldan logis dengan mempelajari bahan-bahan yang dipilih dan ditentukan olehkonselor. Teknik ini dilakukan dengan menugaskan konseli ke perpustakaanatau mempelajari bahan bacaan yang tersedia dirumah.
  • 15. 143) Teknik diskusiTeknik ini hampir sama dengan teknik di atas, namun dilakukan dalamsatu kelompok diskusi. Melalui teknik ini konseli dapat mempelajaripengalaman-pengalaman orang lain serta dapat menimba berbagai informasiyang dapat mempengaruhi dan mengubah keyakinan yang irasional dan tidakobjektif.4) Teknik simulasiTeknik ini digunakan untuk memberi kemungkinan kepada konselimempraktikkan perilaku-perilaku tertentu melalui suatu kondisi simulatif yangmendekati kenyataan.5) Teknik gamingTeknik ini digunakan untuk melatih konseli menempatkan pada perantertentu.6) Teknik paradoxical intentionTeknik ini mempunyai karakteristik yang hampir sama dengan teknikcounter conditioning. Teknik ini didasarkan pada asumsi bahwa seseorangyang memulai memperlihatkan keinginan atau hasrat yang tidak baik dengansendirinya akan menjadi ’jera’ dengan jalan menciptakan kondisi yanghiperitention, yakni mempertinggi hasrat atau keinginan itu sehingga dalamtitik kulminasi tertentu orang tersebut pasti akan bisa menghilangkankeinginannya sama sekali.7) Teknik assertiveTeknik ini digunakan untuk melatih keberanian diri konseli dalammengekspresikan perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan melalui: role-playing, rehearsia, dan social-modeling. Sedang maksud utama teknik iniadalah untuk (a) mendorong kemampuan konseli mengekspresikan seluruh halyang berhubungan dengan emosinya, (b) membangkitkan kemampuan konselidalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhihak orang lain, (c) mendorong kepercayaan serta kemampuan diri sendiri, (d)meningkatkan kemampuan untuk memilih perilaku-perilaku asertive yangcocok untuk dirinya sendiri.
  • 16. 15c. Teknik-teknik behavioristikDalam banyak hal, REBT banyak menggunakan teknik behavioralterutama dalam memodivikasi perilaku-perilaku yang negativ dan konseli denganmengubah akar-akar keyakinannya yang irasional dan ilogis. Teknik-teknik yangdimaksud adalah:1) Teknik reinforcementYaitu teknik yang digunakan untuk mendorong konseli ke arah perilakuyang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian (reward)ataupun hukuman (punishment). Bilamana perilaku konseli mengalamikemajuan dalam arti positif maka dia dipuji ” baik”, sebaliknya bila konselimundur perilakunya dalam arti negatif, maka dikatakan ’tidak baik’. Teknikini dimaksudkan membongkar sistem keyainan irasional konseli danmenginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya.2) Teknik social-modelingYakni teknik yang digunakan untuk membentuk perilaku-perilaku barukonseli. Teknik ini dilakukan agar konseli dapat hidup dalam suatu modelsosial yang diharapkan dengan cara mengimitasi, mengobservasi,menyesuaikan diri dengan sosial model yang dibuat itu. Dalam teknik inikonselor mencoba mengamati bagaimana proses konseli mempersepsi,menyesuaikan diri, dan menginternalisasi norma-norma dalam modelsosialdengan masalah tertentu yang sudah disiapkan oleh konselor.d. Teknik-teknik counter-conditioningTeknik ini digunakan untuk menanggulangi perilaku-perilaku seperti:anxienty, fear, phobies, defensiveness, dan perilaku malasuai lainnya. Dalamteknik ini diindoktrinasikan respon-respon yang menghilangkanperilaku yangbertentangan dengan perasaan yang ingin dihilangkan tadi. Teknik-teknik iniantara lain:a) Teknik Systematic desensitizationDalam teknik ini konselor menciptakan kondisi secara potensialmerupakan penyebab dari munculnya perasaan negatif konseli, namunkondisi tersebut merupakan keadaan yang rileks dari konseli.
  • 17. 16b) Teknik relaksasiTeknik ini relevan dengan yng digunakan oleh REB, bila kondisikonseli sedang berada pada tahap disputing, yakni dalam diri konseliterjadi pertentangan antara keyakinan-keyakinan irasional dan rasional danmenimbulkan ketegangan. Untuk itu diperlukan teknik relaksasi.c) Teknik self-controlTeknik ini digunakan untuk mengidentifikasi perilaku konselidengan cara membangkitkan dan mengembangkan kontrol dirinya. Intidari teknik ini adalah bagaimana konseli dapat mengendalikan diriberdasar peikiran-pemikiran yang rasional untuk menghilangkankeinginan-keinginan, nafsu-nafsu ataupun dorongan negatif.Kelebihan dan kelemahan REBTKelebihan dari REBT antara lain:1. Pendekatan ini cepat sampai kepada masalah yang dihadapi oleh konselidengan itu penanganan dapat dilakukan dengan cepat.2. Kaidah pemikiran logis yang diajarkan kepada konselidapat digunakandalam menghadapi masalah yang lain.3. konseli merasakan diri mereka mempunyai keupayaan intelektual dankemajuan dari cara berfikir.Kelemahan:1. Ada setenga konseli yang begitu terpisah dengan realita (kenyataan),sehingga usaha untuk membawanya ke alam nyata sukar sekali.2. Ada juga konseli yang terlalu berprasangka terhadap logis, sehingga sukaruntuk mereka menerima analisa logis.3. Ada juga sebagian konseli yang memang suka mengalami gangguanemosi, dan tidak mau membuat perubahan dalam dirinya
  • 18. 17BAB IIIPENUTUPKESIMPULANKonseling Rasional-Emotif-Behavior sebagai salah satu pendekatan yangdikembangkan oleh Alber Ellis sejak taun 1955.Konseling Rasional EmotifBehavior tergolong pada ancangan konseling yang berorientasi kognitif denganbeberapa ciri menonjol, yaitu: bersifat didaktis, aktif, direktif, menekankan situasisekarang dan berfikir yang lebih rasional serta menekankan pada segi aksi klien.Dari situlah maka konseling Rasional Emotif Behavior tak ubahnya merupakanproses pemerolehan pemahaman yang sekaligus tampak pada perbuatan atauperilaku klien.Tujuan konseling REBT secara umum adalah memperbaiki danmengubah sikap, persepsi, cara berfikir, keyakinan, dan pandangan-pandanganirasional dan ilogis menjadi rasional dan logis agar klien dapat mengembangkandiri, meningkatkan aktualisasinya seoptimal mungkin melalui perilaku kognitifdan afektif yang positif dan menghilangkan gangguan emosional yang merusakdiri sendiri, seperti: rasa benci, rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas,was-was, dan marah sebagai konsekuensi keyakinan yang keliru dengan jalanmengajar dan melatih klien untuk menghadapi kenyataan-kenyataan hidup secararasional dan membangkitkan kepercayaan, serta nilai-nilai kemampuan dirisendiri.DAFTAR RUJUKANCorey, Gerald. 1999. Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung:Rafika AditamaCorey, Gerald. 2005. Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung:Rafika AditamaFauzan, Lutfi. 1994. Pedekatan-Pendekatan Konseling Individual. Malang: ElangEmas
  • 19. 18http/KONSELING INDIVIDUAL/REBT/Pendekatan Konseling RasionalEmotif.htm