Your SlideShare is downloading. ×
Makalah cangkang kapsul
Makalah cangkang kapsul
Makalah cangkang kapsul
Makalah cangkang kapsul
Makalah cangkang kapsul
Makalah cangkang kapsul
Makalah cangkang kapsul
Makalah cangkang kapsul
Makalah cangkang kapsul
Makalah cangkang kapsul
Makalah cangkang kapsul
Makalah cangkang kapsul
Makalah cangkang kapsul
Makalah cangkang kapsul
Makalah cangkang kapsul
Makalah cangkang kapsul
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Makalah cangkang kapsul

4,247

Published on

0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
4,247
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
60
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Gelatin adalah produk alami yang diperoleh dari hidrolisis parsial kolagen. Gelatin merupakan protien yang larut yang bisa bersifat sebagai gelling agent (bahan pembuat gel) atau sebagai non gelling agent. Sumber bahan baku gelatin dapat berasal dari sapi (tulang dan kulit jangat), babi (hanya (kulit) dan ikan (kulit). Karena gelatin merupakan produk alami, maka diklasifikasikan sebagai bahan bangan bukan bahan tambahan pangan. Gelatin sangat penting dalam rangka diversifikasi bahan makanan, karena nilai gizinya yang tinggi yaitu terutama akan tingginya kadar protein khususnya asam amino dan rendahnya kadar lemak. Gelatin juga sangat penting untuk bahan pembuatan kapsul pada obat. Indonesia menggunakan kapsul keras, bahan baku untuk membuat kapsul keras adalah gelatin. Kapsul keras (hard capsule) merupakan pengembangan obat yang isinya dalam bentuk serbuk. Bahan baku utama untuk membuat kapsul keras adalah gelatin. Gelatin kering mengandung kira-kira 84 - 86 % protein, 8 - 12 % air dan 2 - 4 % mineral, dari 10 asam amino essensial yang dibutuhkan tubuh, gelatin mengandung 9 asam amino essensial, satu asam amino essensial yang hampir tidak terkandung dalam gelatin yaitu triptofan (Fauzi, 2007). Gelatin mempunyai sifat mudah larut dengan air liur dan juga kenyal. Umumnya gelatin diproduksi dari bahan yang kaya akan kolagen baik tulang maupun kulit. Kulit dan tulang dapat diperoleh dari hewan seperti babi atau sapi. Akan tetapi, apabila gelatin dibuat dengan menggunakan kulit atau tulang sapi akan memerlukan proses lama dan butuh bahan kimia untuk penetral lebih banyak sehingga memerlukan biaya yang sangat mahal (Fauzi, 2007). Babi merupakan salah satu bahan baku yang sangat mudah dimanfaatkan untuk bahan baku gelatin. Mengingat babi mudah dibudidayakan pada kondisi yang fleksibel dan kandungan kolagen dalam babi sangat besar, maka banyak perusahaan atau masyarakat yang menggunakan babi sebagai bahan baku pembuatan gelatin (Anonim, 2009).
  • 2. Banyaknya pembuatan gelatin dari bahan baku babi membuat sebagian orang khususnya yang beragama Islam menjadi khawatir akan kehalalan dari produk tersebut (Jannah, 2008). Selain itu Negara Indonesia sendiri tidak bisa memproduksi gelatin di dalam negeri, melainkan harus banyak mengimpor dari Negara tetangga. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2007, jumlah impor gelatin mencapai 2.715.782 kg senilai 9.535.128 dolar AS (BPS, 2009). Mengingat banyaknya produsen luar negeri yang sering menggunakan bahan baku babi untuk memproduksi gelatin, maka kehalalan dari produk tersebut diragukan. Oleh karena itu diperlukan berbagai solusi alternatif untuk mengatasi masalah tersebut. Di Indonesia yang mayoritas warganya menganut agam Islam, penggunaan cangkang kapsul yang bahan bakunya dari babi tentu sangat dihindari. Masa kini, para peneliti sedang meupayakan agar terciptanya inovasi dalam pembuatan cangkang kapsul agar didapatkan bahan baku alternatif selain dari hewan babi dengan bahan baku yang mudah didapat dan dengan kualitas yang sama bahkan jauh lenih baik. I.2. Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan sediaan kapsul dan jenis-jenisnya ? 2. Apa kelebihan dan kekurangan sediaan kapsul ? 2. Mengapa gelati dari ubikayu dapat dijadikan alternatif bahan baku cangkang kapsul selain dari gelatin babi ? 3. Bagaimana proses pengolahan amilopektin ubi kayu menjadi cangkang kapsul I. 3. Tujuan Pembaca mampu memahami kelebihan dan kekurangan kapsul serta proses pembuatan cangkang kapsul dari bahan baku berupa gelatin dari ubi kayu
  • 3. BAB II ISI II. 1. Pengertian Kapsul Kapsul adalah sediaaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Cangkang pada umumnya terbuat dari gelatin, bisa juga dari pati atau bahan lain yang sesuai. ( Farmakope Indonesia ed. IV ). Kapsul terbagi atas kapsul cangkang keras (capsulae durae,hard capsule) dan kapsul cangkang lunak (capsulae molles). Cangkang kapsul dibuat dari Gelatin dengan atau tanpa zat tambahan lain. Cangkang dapat pula dibuat dari Metilsselulosa atau bahan lain yang cocok. Capsulae Gelatinosae operculatae atau kapsul keras. dibuat dari campuran gelatin, gula, dan air dan merupakan cangkang kapsul yang bening tak bewarna dan tak berasa. Kapsul lunak merupakan satu kesatuan berbentuk bulat atau silindris (pearl) atau bulat telur (globula) yang dibuat dari gelatin (kadang disebut dengan gel lunak) atau bahan lain yang sesuai. Biasanya lebih tebal dari pada cangkang kapsul keras dan dapat diplastisasi dengan penambahan senyawa poliol, seperti sorbitol atau gliserin. (Anief, 2007). II. 2. Macam-macam Kapsul a. Capsulae Gelatinosae opercultae (kapsul keras). Kapsul keras terdiri dari wadah dan tutup. Cangkang kapsul keras dibuat dari campuran Gelatin, gula dan air dan merupakan cangkang kapsul yang bening tak berwarna dan tak berasa. Ukuran kapsul keras menurut besarnya dapat diberi nomor urut dari besar ke kecil sebagai berikut : no. 000; 00; 0; 1; 2; 3. Kapsul harus disimpan pada tempat yang tidak lembab dan sebaiknya disimpan di wadah yang diberi zat pengering. Kapsul dapat diberi warna macam-macam agar menarik dan dapat dibedakan dengan kapsul yang mengandung obat lain. Kapsul keras sering digunakan di apotik dalam pelayanan campuran obat yang ditulis dokter (Anief, 2007). b. Soft capsule atau kapsul lunak
  • 4. Merupakan kapsul tertutup dan berisi obat yang pembuatan dan pengisian obatnya dilakukan dengan alat khusus. Cangkang kapsul lunak dibuat dari Gelatin ditambah Gliserin atau alkohol polihidris seperti Sorbitol untuk melunakan gelatinnya. Kapsul ini biasanya mengandung air 6 – 13%, diisi dengan bahan cairan bukan air seperti polietilglikol (PEG) berbobot molekul rendah, atau juga dapat diisi dengan bahan padat , serbuk atau zat padat kering. Kapsul cangkang lunak memiliki bermacam-macam bentuk dan biasanya dapat dipakai untuk rute oral, vaginal, rektal atau topikal. Kapsul lunak dapat pula diberi warna macam- macam (Anief, 2007). II. 3. Keuntungan dan Kerugian Sediaan Kapsul a. Keuntungan Bentuk Sediaan Kapsul Bentuk menarik dan praktis Tidak berasa sehingga bisa menutup rasa dan bau dari obat yang kurang enak. Mudah ditelan dan cepat hancur /larut didalam perut, sehingga bahan cepat segera diabsorbsi (diserap) usus. Dokter dapat memberikan resep dengan kombinasi dari bermacam-macam bahan obat dan dengan dosis yang berbeda-beda menurut kebutuhan seorang pasien. Kapsul dapat diisi dengan cepat tidak memerlukan bahan penolong seperti pada pembuatan pil atau tablet yang mungkin mempengaruhi absorbsi bahan obatnya. b. Kerugian Bentuk Sediaan Kapsul Tidak bisa untuk zat-zat mudah menguap sebab pori-pori cangkang tidak menahan penguapan Tidak untuk zat-zat yang higroskopis Tidak untuk zat-zat yang bereaksi dengan cangkang kapsul Tidak untuk Balita Tidak bisa dibagi ( misal ½ kapsul)
  • 5. Faktor-Faktor yang Merusak Cangkang Kapsul Cangkang kapsul dapat rusak jika kapsul tersebut : 1. Mengandung zat-zat yang mudah mencair ( higroskopis) Zat ini tidak hanya menghisap lembab udara tetapi juga akan menyerap air dari kapsulnya sendiri hingga menjadi rapuh dan mudah pecah. Penambahan lactosa atau amylum (bahan inert netral) akan menghambat proses ini. Contohnya kapsul yang mengandung KI, NaI, NaNO2 dan sebagainya. 2. Mengandung campuran eutecticum Zat yang dicampur akan memiliki titik lebur lebih rendah daripada titik lebur semula, sehingga menyebabkan kapsul rusak/lembek. Contohnya kapsul yang mengandung Asetosal dengan Hexamin atau Camphor dengan menthol. Hal ini dapat dihambat dengan mencampur masing-masing dengan bahan inert baru keduanya dicampur. 3. Mengandung minyak menguap, kreosot dan alkohol. 4. Penyimpanan yang salah Di tempat lembab, cangkang menjadi lunak dan lengket serta sukar dibuka karena kapsul tersebut menghisap air dari udara yang lembab tersebut.Di tempat terlalu kering, kapsul akan kehilangan air sehingga menjadi rapuh dan mudah pecah. Mengingat sifat kapsul tersebut maka sebaiknya kapsul disimpan : Dalam ruang yang tidak terlalu lembab atau dingin kering Dalam botol gelas tertutup rapat dan diberi silika (pengering) Dalam wadah plastik yang diberi pengering II. 5. Pengolahan Cangkang Kapsul Dar Bahan Baku Amilopektin dari Ubi Kayu Gelatin adalah suatu jenis protein yang diekstraksi dari jaringan kolagen kulit, tulang, atau ligamen (jaringan ikat) hewan. Gelatin digunakan sebagai bahan baku utama untuk membuat kapsul. Kapsul sangat penting sekali di dunia medis, yaitu digunakan sebagai pembungkus obat. Kapsul yang terbuat dari gelatin sangat sempurna dan fleksibel. Kapsul yang terbuat dari gelatin mudah larut dalam air liur dan rasanya kenyal sehingga obat yang rasanya pahit tidak terasa di lidah.
  • 6. Konsumen yang mengkonsumsi obat dengan kapsul lebih nyaman daripada menggunakan tablet. Gelatin yang dibuat sebagai bahan baku kapsul masih diragukan kehalalannya, karena gelatin yang digunakan diproduksi dari tulang atau kulit babi. Sehingga bagi umat muslim produk tersebut dianggap haram. Solusi untuk mengganti gelatin pada pembuatan kapsul adalah dengan menggunakan amilopektin yang berasal dari pati ubi kayu. Ubi kayu merupakan tanaman produktif yang sangat potensi ditanam di seluruh wilayah yang ada di Indonesia karena bisa tumbuh di wilayah tropis. Ubi kayu bisa dimanfaatkan untuk menggantikan fungsi gelatin dalam pembuatan kapsul karena kandungan amilopektin yang sangat tinggi. Ubi kayu mempunyai kandungan amilopektin sebesar 25–30 kg per ton (Wagiono, 2006). Amilopektin merupakan suatu biomassa yang bisa mempunyai bentuk granula. Amilopektin bisa diperoleh dengan cara memanaskan ubi kayu yang berbentuk serbuk dan dimasukkan enzim α-amilase. Enzim akan bekerja memisahkan zat pati yang ada pada ubi kayu yang nantinya dilakukan proses lebih lanjut. Zat pati bisa diperoleh pada semua tumbuhan. Kadar amilopektin tertinggi terdapat pada ubi kayu, ubi jalar, tepung sagu, biji jagung, biji sorgum, gandum, kentang, ganyong, garut, dan umbi dahlia. Untuk mengeluarkan amilopektin ubi kayu dilakukan perlakuan awal (pretreatment) yakni melakukan penggilingan pada ubi kayu sehingga struktur menjadi seperti serbuk. Ubi kayu merupakan bahan makanan pokok masyarakat yang sudah lumrah dikonsumsi. Masyarakat umumnya tidak bisa memanfaatkan ubi kayu dengan baik. Kebanyakan mereka hanya mengelola menjadi kripik, kue, tepung, bioetanol dan ubi rebus. Ubi kayu berpotensi untuk dijadikan sebagai pengganti fungsi gelatin pada pembuatan kapsul karena menggandung amilopektin yang sangat tinggi. Amilopektin dapat diperoleh dari pati ubi kayu. Komposisi kimia konversi ubi kayu menjadi pati dapat di lihat pada : Tabel 1.1. Komposisi Kimia Konversi Ubi Kayu Menjadi Pati
  • 7. Sumber : Lidia Sari E, Indriyani M, Friska S. Pengaruh Perbedaan Suhu Tepung Tapai Ubi Kayu Terhadap Mutu Fisik dan Kimia yang Dihasilkan. Jurnal Ilmu- Ilmu Pertanian Indonesia. Volume 8, No. 2, 2006Hlm. 141-146. ISSN 1411-0067. Pati merupakan homopolimer glukosa dengan ikatan α-glikosidik. Pati terdiri dari dua fraksi yang dapat dipisahkan dengan air dingin. Fraksi terlarut tersebut disebut amilopektin dan fraksi tidak terlarut disebut amilosa (Jannah,2008). Untuk menggantikan fungsi gelatin, digunakan pati yang mempunyai fraksi tidak terlarut, yaitu amilopektin. Amilopektin dalam ubi kayu mempunyai bentuk granula. Granula amilopektin akan membengkak apabila ditambah volumenya dengan air. Peningkatan volume dengan air pada suhu antara 550C dan 650C merupakan pembengkakan yang disebut dengan keadaan gelatinasi. Penambahan air dapat dilakukan di luar seperti halnya pada pembuatan kanji atau puding. Setelah penambahan air maka terbentuklah suatu suspensi yang apabila dipanaskan akan terjadi perubahan berupa pembentukan struktur gelatinasi. Mula-mula suspensi amilopektin akan terlihat keruh, tetapi lama-kelamaan akan berubah menjadi jernih pada suhu tertentu. Terjadinya translusi larutan amilopektin tersebut akan diikuti pembengkakan granula. Energi kinetik molekul pada molekul air berubah menjadi lebih kuat sehingga timbul gaya tarik menarik antar molekul amilopektin di dalam granula yang menyebabkan air masuk di dalam granula. Untuk lebih jernih dilakukan penyaringan dengan karbon aktif sehingga dapat diperoleh suspensi amilopektin yang jernih. Ditinjau dari bentuk struktur, gelatin dan glukosa yang dipanaskan memiliki bentuk yang hampir sama sehingga glukosa yang dipanaskan memiliki sifat mirip dengan gelatin. Gelatin mempunyai bentuk ikatan dengan asam amino
  • 8. essensial yang kental sehingga dapat menciptakan kekenyalan yang sangat sempurna. Glukosa ketika dipanaskan membentuk struktur amilopektin yang mana antar glukosa berkumpul membentuk ikatan hidrogen yang sangat kuat, sehingga mempunyai bentuk kental seperti gelatin. Keduanya membentuk struktur siklo seperti cincin. Bedanya struktur gelatin siklo diputus oleh ikatan asam amino. Keduanya memiliki struktur yang mirip. Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan dengan gambar berikut. Untuk menggeluarkan amilopektin pada ubi kayu dilakukan perlakuan awal (pretreatment) yakni melakukan penggilingan pada ubi kayu sehingga struktur menjadi seperti serbuk. Berikut merupakan langkah – langkah pengolahan amilopektin untuk dijadikan sebagai pengganti gelatin pada pembuatan kapsul dengan menggunakan bahan baku ubi kayu : a. Proses Pretreatment Proses pretreatment adalah sutu perlakuan awal terhadap ubi kayu segar agar pati bisa diambil. Prosesnya adalah sebagai berikut : 1. Mengupas ubi kayu segar. 2. Menggiling ubi kayu dengan menggunakan mesin penggiling. 3. Menyaring hasil penggilingan untuk memperoleh bubur ubi kayu. 4. Memasukkan bubur ubi kayu ke dalam tangki. 5. Menambahkan air sampai pada setengah volume tangki. 6. Dipanaskan di atas tungku.
  • 9. 7. Ditambahkan enzim α-amilase pada tangki yang berada pada suhu kurang lebih 60-66 0 C (Liquifaksi). 8. Pati yang sudah terbentuk sudah berupa bubur. Pada kondisi tersebut zat pati akan terbentuk, dan zat pati siap untuk diencerkan dengan air. b. Proses Pengenceran Proses pengenceran adalah proses yang dilakukan untuk menambah volume granula sehingga nantinya granula bisa membesar ketika dipanaskan. Proses pengenceran adalah sebagai berikut : 1. Bubur pati tersebut kita perlakukan dengan cara menambahkan sedikit air yaitu sekitar 30% dari jumlah volume bubur. 2. Dipanaskan sampai suhu 650C. 3. Bubur akan sedikit demi sedikit akan memadat. 4. Setelah itu taruh bubur di dalam loyang atau sejenis panci. 5. Setelah agak dingin, tambahkan air sedikit demi sedikit seperti halnya membuat puding sehingga terbentuk suatu suspensi. 6. Kemudian dipanaskan pada suhu 550C. 7. Pati akan mengalami gelatinasi (Transluen). c. Pemisahan 1. Pati yang sudah mengalami gelatinasi dipisahkan dengan ditambahkan air dingin.
  • 10. 2. Akan terbentuk fase terlarut dan tidak larut. Yang tidak larut adalah amilosa,sedangkan yang terlarut adalah amilopektin. 3. Selanjutnya adalah memisahkan amilopektin dengan air, yaitu dengan cara penguapan menggunakan Fresh Dryer. 4. Setelah terpisahkan air dengan pati amilopektin akan terbentuk serbuk. 5. Serbuk diuapkan sebentar dan siap untuk digunakan sebagai pengganti fungsi gelatin. d. Pencampuran Terhadap Pembuatan Kapsul Setelah terbentuk struktur gelatinasi yang kuat, maka amilopektin siap untuk menggantikan gelatin sebagai penguat. Proses pencampuran adalah setelah bahan- bahan pembentuk kapsul sudah siap. Tahapannya adalah sebagai berikut: 1. Pembuatan larutan amilopektin dengan melarutkan 20-45% amilopektin ke dalam air dingin yang telah dimineralisasi. 2. Bahan tambahan seperti pengawet dan pewarna dicampurkan kedalam larutan amilopektin sehingga membentuk campuran homogen. 3. Bahan dasar ini dicampur dan dimasukkan ke dalam pencetak cangkang kapsul sehingga cangkang kapsul terbentuk. 4. Kemudian dilakukan sortir pada cangkang kapsul. Cangkang kapsul yang sudah jadi akan diperiksa sesuai dengan standar Cgmp. Selain pemeriksaan itu dimensi kapsul seperti ketebalan, diameter, dan tinggi kapsul akan diperiksa untuk memastikan cangkang kapsul siap digunakan pada proses pengisian kapsul.
  • 11. 5. Kapsul bisa terbentuk dan siap diisi dengan bahan obat.
  • 12. BAB III PENUTUP III. 1. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Kapsul adalah sediaaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Cangkang pada umumnya terbuat dari gelatin, bisa juga dari pati atau bahan lain yang sesuai. 2. Ada 2 macam kapsul berdasarkan cangkangnya, saitu kapsul keras dan lunak. Kapsul keras terdiri dari wadah dan tutup. Cangkang kapsul keras dibuat dari campuran Gelatin, gula dan air dan merupakan cangkang kapsul yang bening tak berwarna dan tak berasa. Ukuran kapsul keras menurut besarnya dapat diberi nomor urut dari besar ke kecil sebagai berikut : no. 000; 00; 0; 1; 2; 3. Sedangkan kapsul lunak merupakan kapsul tertutup dan berisi obat yang pembuatan dan pengisian obatnya dilakukan dengan alat khusus. Cangkang kapsul lunak dibuat dari Gelatin ditambah Gliserin atau alkohol polihidris seperti Sorbitol untuk melunakan gelatinnya 3. Pembuatan kapsul dengan bahan baku ubi kayu sangat berpotensi karenamenggandung amilopektin yang sangat tinggi. Ubi kayu mengandung amilopektin yang cukup besar yang mana ubi kayu masih mempunyai nilai ekonomis rendah. Amilopektin diperoleh dari pati ubi kayu. Kalau ditinjau dari berbagai teori, amilopektin mempunyai bentuk granula yang dapat mengembang apabila ditambahkan air. Mengembangnya granula pada amilopektin merupakan suatu bentuk yang mempunyai sifat seperti gelatin. Oleh karena itu amilopektin dari ubi kayu sangat efektif untuk dijadikan sebagai bahan pengganti gelatin pada pembuatan kapsul. 4. Proses pengolahan amilopektin untuk dijadikan sebagai bahan pengganti gelatin pada pembuatan kapsul dari ubi kayu meliputi proses pretreatmen dengan tujuan agar ubi kayu bisa dipisahkan zat patinya, selanjutnya adalah proses pengenceran dengan tujuan agar amilopektin yang sudah terbentuk struktur granulanya bisa dikembangkan sehingga terbentuk gelatin, selanjutnya adalah proses penguatan
  • 13. dengan tujuan agar amilopektin dapat bertahan lama dalam bentuk struktur gelatinasi. III. 2. Saran Penelitian lebih lanjut pembuatan cangkang kapsul perlu didukung oleh BPOM maupun perusahaan yang memperoduksi sediaan kapsul karena ubi kayu merupakan bahan baku yang mudah didapat, murah serta halal.
  • 14. DAFTAR PUSTAKA Anief, Moh. 2007. Farmasetika. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Baily, A. J., & Paul. (1998). Journal of The Society of Leather Technologysts And Chemists. pp.104 - 110 , 6. BPS. (2009, Mei 13). Impor Gelatin. Dipetik Mei Kamis, 2009, dari www.republikaonline.com Departemen Pertanian. 2005. Data Base Pemasaran International Ubi Kayu. Dipetik Mei Kamis, 2009, dari www.republikaonline.com Effendy. 2010. Pembuatan Cangkang Kapsul. (online). (http://cloudcyber.blogspot.com/2010/01/proses-pembuatan-cangkang- kapsul.html , diakses pada 05/05/2014 pukul 22 : 45) Fauzi, R. (2007, Oktober 30). Gelatin. Dipetik Mei 14, 2009, dari www.chem- istry.com Hakim, Agus Lukman, Vritta Amroini V dan Muhammad Rizal P. 2010. Jurnal Pemanfaatan Ubi Kayu Sebagai Pengganti Gelatin dalam Pembuatan Cangkang Kapsul yang Terjamin Halal. Malang : Universitas Negeri Malang. Jannah, A. (2008). Gelatin. Malang: UIN. Lidia Sari E,dkk. 2006. Jurnal Pengaruh Perbedaan Suhu Tepung Tapai UbiKayu Terhadap Mutu Fisik dan Kimia yang Dihasilkan. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia. Volume 8, No. 2, 2006 Hlm. 141-146. ISSN 1411- 0067.
  • 15. KATA PENGANTAR Puji syukur saya ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya saya masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa saya ucapkan kepada semua yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini. Saya menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman semua. Indralaya, 6 Mei 2014 Penulis
  • 16. TUGAS BIOKIMIA KLINIK MAKALAH PEMBUATAN CANGKANG KAPSUL DARI GELATIN UBI KAYU NAMA : ELVARINA PERMATA SARI NIM : 081201006056 JURUSAN / KELOMPOK : FARMASI / B DOSEN PEMBIMBING :Dr.rer.nat MARDIYANTO, MSi, Apt PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2014

×