Your SlideShare is downloading. ×
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Pengembengan kurikulum smk
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Pengembengan kurikulum smk

7,347

Published on

0 Comments
6 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
7,347
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
314
Comments
0
Likes
6
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. 45 BAB II PENGEMBANGAN KURIKULUM PROGRAM PRODUKTIF SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN A. Konsep Kurikulum 1. Pengertian Kurikulum Kurikulum merupakan kajian yang sangat luas, banyak sekali pengertian– pengertian kurikulum yang diungkapkan oleh para ahli, mulai dari pengertian kurikulum secara sempit sampai kepada pengertian kurikulum secara luas. Pengertian kurikulum secara sempit adalah sejumiah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa. Pendapat ini senada dengan yang diungkapkan oleh Zais (1976:11) yang mendefinisikan kurikulum sebagai “….course of subject matters to mastered”, maksudnya bahwa kurikulum memuat materi pelajaran yang harus, disampaikan oleh guru kepada siswa hingga tuntas. Menurut Zais komponen kurikulum terdiri atas: (1) Tujuan (aim, goals and objectives); (2) isi atau materi (content); (3) Proses Belajar (learning); (4) evaluasi. Beauchamp dalam Sukmadinata (2000:5) mengemukakan, ”kurikulum adalah dokumen tertulis yang berisi beberapa unsur”. Menurut Saylor, Alexander dan Lewis (1981:3) berpendapat tentang kurikulum, yaitu “We define curriculum as a plan or providing sets of learning opportunities for person to educate”. Kemudian Hamalik (2001:65), Nasution (1982:10) mengemukakan pendapatnya tentang kurikulum, yaitu “sebagai program pendidikan yang disediakan oleh lembaga pendidikan (sekolah) bagi siswa, berdasarkan program pendidikan
  • 2. 46 tersebut siswa melakukan kegiatan pembelajaran, sehingga mendorong perkembangan dan pertumbuhannya sesuai dengan tujuan pendidikan”. Hal ini sejalan dengan Finch dan Crunkilton (1999:11), yang menyatakan bahwa “curriculum includes course and experiences associated with preparation for life and earning a living”. Selanjutnya Tyler (1949:1) secara komprehensif melalui buku kecilnya, mengemukakan beberapa pemikiran rasional berkenaan dengan kurikulum melalui empat pertanyaan esensial yang harus selalu dijawab oleh perencanaan pendidikan, pengembang kurikulum, dan guru yaitu, adalah: 1. What educational purpose should the school seek to attain? 2. What educational experiences can be provided that are likely to attain these purpose? 3. How can these educational experiences be effectively organized? 4. How can we determine whether these purpose are being attained? Pengertian-pengertian tersebut ada yang mengandung persamaan tetapi banyak pula yang mengandung perbedaan. Perbedaan dan persamaan definisi tersebut dipengaruhi oleh latar belakang filosofi, teori yang dikembangkan dari filosofi tersebut, dan tujuan. Definisi kurikulum yang dikembangkan dari filosofi positivisme berbeda definisi dengan yang dikembangkan dari filosofi fenomenologi. Demikian pula dengan tujuan dilakukannya suatu kurikulum. Suatu hal yang sama adalah pengembangan dan evaluator kurikulum dalam tradisi manapun memiliki kebebasan yang lebih terbatas dalam menentukan fokus kajian dan tujuan suatu kegiatan pengembangan dan evaluasi. Berdasarkan beberapa pengertian yang telah dikemukakan di atas, dapat disimpulkan terdapat beberapa persamaan pendapat bahwa kurikulum berisi pengalaman belajar yang disediakan bagi siswa, kemudian kurikulum dapat
  • 3. 47 dikelompokkan pada kurikulum sebagai rencana (dokumen), kurikulum sebagai pengalaman belajar, dan kurikulum sebagai hasil belajar. Konsep-konsep kurikulum memiliki fungsi yang berbeda dan akan berdampak pada perlakuan terhadap proses kurikulum. Tanner&Tanner (1980:37) dalam Kamarga (2004:27-28) menggambarkan bagaimana pandangan terhadap konsep kurikulum akan menghasilkan fungsi yang berbeda, sebagai berikut: Tabel 2.1 Konsep Kurikulum Berdasarkan Fungsi Conception of Curriculum Controlling Mode Function Cumulatie tradition of organized knowledge • Permanent studies • Essential studies and skills • Established disciplines • Cultural inheritance • Skilled learner Mode of thought • Disciplinary inquiry • Reflective thinking • Specialized knowledge production • Personal-social problem solving Race experience Cultural norms for thingkin and acting Cultural assimilation Guided experience • Community life • Felt needs • Effective living • Self-realization Planner learning environment (eclectic) Facilitate educative process Cognitive/affective content and process (eclectic) Gain knowledge, develop skills, alter affective process Instructional plan Stated intentions for instruction (eclectic) Instructional ends Identification of ends Attaintment of measurable ends Technological system of production • Activity analysis • Behavioral objectives • Interactional of components • System analysis • Preparation for specific adult activities • Controlled behavior; behavior as ends • Employment of means for actualizing interaction • Quantitative analysis of specific components for effective production. Restruction of knowledge and experience Reflective thinking; race experience related to life experience Control of knowledge and experience; personal-social problem solving and growth Berdasarkan tabel di atas, kurikulum yang digunakan dalam pendidikan kejuruan termasuk pada konsepsi kurikulum sebagai Technological system of
  • 4. 48 production. Konsepsi tersebut mengarahkan agar kurikulum disusun dan dikembangkan berdasarkan kajian aktivitas (learning experience) yang mengarah pada Behavioral objectives, melalui serangkaian interaksi antar berbagai komponen dalam satu kesatuan sistem. Berdasarkan konsepsi tersebut di atas tujuan kurikulum pendidikan kejuruan khususnya SMK adalah menyiapkan berbagai kegiatan bagi golongan tertentu sesuai dengan kebutuhan (pekerjaan), pengalaman belajar dikontrol melalui perubahan perilaku-perilaku yang dapat diamati. 2. Model-Model Kurikulum Sukmadinata (2003:81) mengelompokkan model-model kurikulum menjadi empat model, yaitu “model kurikulum subjek akademik, model kurikulum humanistik, model kurikulum rekonstruksi sosial, dan model kurikulum teknologi”. Model-model kurikulum tersebut merupakan “muara” dari desain kurikulum yang dikembangkan hingga saat ini. Untuk melihat karakteristik setiap model disajikan dalam pejelasan berikut ini. a. Kurikulum Subjek Akademik Model Kurikulum Subjek Akademis bersifat transmisi dan mengarahkan kurikulum pada pengelompokkan separated subject curriculum, isi kurikulumnya memuat sejumlah mata pelajaran yang terpisah-pisah, pokok bahasan disesuaikan dengan perkembangan ilmu, metoda yang banyak digunakan adalah hapalan dan percobaan, evaluasi lebih ditekankan pada penguasaan kognitif, siswa dipandang sebagai calon orang dewasa.
  • 5. 49 b. Kurikulum Humanistik Kurikulum model kurikulum Humanistik, kurikulum ini mengarahkan pada mekanisme pendemokrasian pendidikan, isi kurikulum lebih menekankan untuk bagaimana membangun kehidupan melalui miniatur kehidupan yang ada pada dunia pendidikan (sekolah), materi disampaikan secara terbuka dengan tingkat partisipasi peserta didik yang tinggi. Siswa dipandang sebagai anak yang diciptakan sempurna sebagai seorang anak. c. Kurikulum Rekonstruksi Sosial Model kurikulum Rekonstruksi sosial, adalah kurikulum yang menekankan pada bagaimana kurikulum dapat membangun kembali tatanan sosial yang hancur akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta asimilasi budaya yang tanpa batas. Isi kurikulumnya lebih berorientasi pada fenomena sosial, mata pelajaran disampaikan dengan cara merekonstruksi struktur kognitif dan mengaitkannya dengan fenomena sosial yang sering dihadapi peserta didik, peserta didik dipandang sebagai mahluk sosial yang kecil. d. Kurikulum Teknologis Model Kurikulum teknologis atau sering juga disebut sebagai kurikulum kompetensi, kurikulum mengarahkan pada pemuatan isi sesuai dengan tuntutan kehidupan (pekerjaan), isi kurikulum disesuaikan dengan tututan pekerjaan hidup (life skills), mata pelajaran disusun berdasarkan karakteristik kompetensi yang perlu dikuasai, model pembelajaran tuntas lebih banyak digunakan pada model kurikulum ini, evaluasi pembelajaran diarahkan pada penguasaan keterampilan hidup, dan siswa dipandang sebagai calon orang dewasa.
  • 6. 50 Seller-Miller (1985) menempatkan model kurikulum tekologis/kompetensi satu ruang dengan model kurikulum subjek akademik pada posisi orientasi Transmission. Penekanan kesamaannya terdapat dalam aspek penentuan scope dan squence pada konten kurikulum, tuntutan materi yang harus disampaikan masih berorientasi separated subject curriculum. Perbedaannya terletak pada evaluasinya, evaluasi kurikulum subjek akademik berorientasi melihat kemampuan penguasaan konten yang lebih menekankan pada aspek kognisi, kemudian evaluasi kurikulum teknologis lebih menekankan pada jugdment kualitas unjuk kerja life skills yang ditampilkan oleh peserta didik. Oleh karena itu model kurikulum teknologis banyak dikembangkan di SMK. Sejalan dengan penempatan kurikulum SMK pada posisi kurikulum teknologis, Seller-Miller (1985) menempatkan pada orientasi kurikulum Transmisi, kemudian Schubert (1986) menempatkan posisi kurikulum SMK pada paradigma kurikulum empirical-analytic science paradigm. Orientasi kurikulum ditulis yang Seller-Miller (1985) pada bagian pertama buku Curriculum Perspectives and Practice, menguraikan tentang teori-teori, keyakinan dan beberapa asumsi yang menggarisbawahi tiga orientasi kurikulum yakni orientasi Transmission, Transaction, dan Transformation. Ketiga orientasi tersebut disajikan pada tabel 2.2 berikut:
  • 7. 51 Tabel 2.2 Metaorientasi kurikulum Transmisi Transaksi Transformasi Pengertian Mentarnsmisikan fakta, skil dan nilai bagi siswa Proses merekonstruk pengetahuan baru melalui proses dialog Memfokuskan pada perubahan individu dan sosial Paradigma Sain atomistik Metode ilmiah (induktif) Romantic element, Social change orientation Filosopi Logical positivism Pragmatisme Transendentalisme, mysticisme, “perenialisme” Psikologi bahavioristk Cognitive developmental theories Humanistic, dan transpersonal psychology Sosial Pilosopi dan Nilai-nilai tradisional - Small is bautiful Istilah metaorientasi, dengan istilah lainnya seperti posisi kurikulum dan orientasi kurikulum menempati posisi yang sama dan saling menggantikan. Istilah-istilah tersebut didefinisikan Seller-Miller (1985:4) yaitu ”are the basic beliefs about what schools should do and how student learn”. Fungsi kurikulum pada posisi transmisi dijelaskan Seller-Miller (1985:5) sebagai ”....of education is to transmit facts, skills, and value to students”, artinya bahwa kurikulum pada posisi transmisi menekankan pada aspek penguasaan ”mastery”, berorientasi subjek matters sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Filosofi orientasi transmisi menurut Seller-Miller (1985:6) adalah ”the philosophical roots of this position as logical positivism”, filosofi logika positivisme adalah sebagai ”the transmission position can be linked with analytic philoshopy” (Seller-Miller, 1985:17). Filosofi analitik dalam istilah lain sering disebut sebagai logical atomism, logical positivism, dan scientific empiricism. Definisi khusus mengenai filosofi analitik dituliskan oleh Barrett (1979:36) dalam Seller-Miller (1985:19) bahwa ”that proceeds by piecemeal decompositioon of
  • 8. 52 any complex subject into its logically ultimate components”. Oleh karena itu filosofi analitik terfokus pada penggunaan logika dan bahasa yang tepat, dimana segala sesuatu perlu didefinisikan secara jelas sehingga orang dapat berkomunikasi dengan lebih mudah, dan lebih menekankan pada analisis dan verifikasi untuk setiap bagian Posisi transmisi sangat dipengaruhi oleh bentuk filosofi politik konservatif yang menyukai nilai tradisional seperti; etika kerja, dan sikap patriotisme. Kemudian posisi transmisi dipengaruhi juga oleh filosofi ekonomi konservatif yaitu laissez-faire capitalism. Ekonomi konservatif menganjurkan pemerintah untuk secara minimum mengintervensi sistem ekonomi, oleh karena itu sistem ekonomi seperti; produksi barang dan jasa akan berjalan dikontrol oleh minat individu dan kompetisi pasar. Pada posisi transmisi, ”isi kurikulum merefleksikan paradigma atomistis dimana kenyataan pecah menjadi elemen-elemen terpisah”. (Seller-Miller, 1985:6). Isi kurikulum merupakan desain dunia empiris, dan desain kegiatan sosial yang tujuan utamanya adalah menanamkan norma-norma sosial pada diri siswa melalui penguasaan setiap mata pelajaran. Dasar psikologi posisi transmisi adalah “behaviorisme” menekankan pada menganalisis kegiatan manusia yang digunakan dalam memprediksi dan mengontrol perilaku. Pengalaman belajar diberikan kepada siswa dengan mempelajari bagian-bagian kecil materi secara tuntas, peran guru dalam posisi ini cenderung memberikan petunjuk selama proses transfer of skills.
  • 9. 53 Pendekatan pembelajaran menggunakan konsep Mastery learning (pembelajaran tuntas), dengan menerapkan pendekatan Mastery learning dalam proses pembelajaran dapat menggambarkan peran guru dalam merencanakan dan mengurutkan bahan belajar siswa melalui unit-unit materi, guru juga mendiagnosis untuk mendapatkan umpan balik dari siswa sehingga belajar dapat terlaksana dengan baik. Evaluasi difokuskan pada tes prestasi untuk mengindikasikan apakah siswa sudah menguasai suatu mata pelajaran. Penerapan posisi transmisi saat ini dalam pendidikan adalah pada: subject/discipline, competency-based education, dan cultural transmission. Indonesia telah lama menganut kurikulum yang berorientasi transmisi khususnya untuk penerapan pada SMK, hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan kejuruan yaitu untuk menghasilkan lulusan yang siap memasuki dunia kerja. Secara umum orientasi kurikulum yang diterapkan di Indonesia mengadopsi ketiga orientasi tersebut, sebagai muaranya adalah produk kurikulumnya. Kebijakan kurikulum Tahun 2006, lebih dikenal dengan istilah KTSP, jika melihat pada SI maka dapat disimpulkan bahwa orientasi KTSP adalah transmisi, kemudian pada aspek pembelajaran mengedepankan transaksi dan transformasi. Refleksi penerapan kurikulum yang berorientasi transmisi adalah kurikulum berbasis kompetensi, dimana pendekatan kompetensi telah menjadi “trend” kurikulum pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.
  • 10. 54 B. Pengembangan Kurikulum Pengembangan kurikulum merupakan langkah antisipasi para pemikir pendidikan (ahli kurikulum) dalam mengimbangi berkembang pesatnya kemajuan zaman, ditandai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, teknologi, seni, psikologi, sosial kemasyarakatan, politik, ekonomi, dan lain sebagainya. Sehingga pada akhirnya dapat memberikan gambaran mengenai arah dan tujuan dari produk kurikulum yang ada dan akan diimplementasikan oleh implementator kurikulum. Hal ini sejalan dengan pernyataan Oliva (1992:12), bahwa “Curriculum is a product of its time, cure and respond to changed by social forces, philosophy position, psychology principles, educational leadership at a moment in history”. Berkaitan dengan pernyataan tersebut, mengandung makna bahwa kurikulum itu akan dan harus berubah (adanya pengembangan) sejalan dengan perubahan yang terjadi dalam setiap bidang kehidupan. Dasar pengembangan kurikulum adalah untuk mengikuti perubahan sistem sosial, filosofi masyarakat, pandangan terhadap psikologi, dan kebijakan-kebijakan yang terkait dengan pendidikan. 1. Landasan Pengembangan Kurikulum Langkah-langkah dalam pengembangan kurikulum perlu di awali dari perumusan dan penetapan landasan-landasan pengembangan kurikulum. Landasan-landasan pengembangan kurikulum merupakan dasar dari pemikiran awal konsep suatu desain kurikulum baik dari segi rencana, ataupun produk kurikulum.
  • 11. 55 Terdapat empat landasan pengembangan kurikulum yaitu landasan filosofis, landasan psikologis, landasan sosial, dan landasan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni. a. Landasan Filosofi Pentingnya nilai-nilai filosofis dijadikan landasan dalam kurikulum dan pengembangan kurikulum, karena menurut Ornstein dan Hunkins (1988:26), ”filsafat memberikan suatu acuan atau pedoman nilai-nilai dan arah bagaimana pendidikan tersebut berlangsung yang diorganisasikan melalui kurikulum”. Ornstein dan Hunkins (1988:23), mengemukakan bahwa; ”1) filosofis menyediakan kerangka dasar dalam merumuskan tujuan, 2) membantu memberikan arah mengenai nilai, metode, pengalaman belajar dan konten, dan 3) memberikan kerangka berfikir mengenai tujuan, isi dan pengorganisasian pendidikan”. Keterkaitan antara kurikulum dengan filosopis seperti digambarkan oleh Orstein dan Hunkins sejalan dengan pendapat Zais (1976:105), yaitu: ”Philosophy and curriculum in a very real sense are variant approaches to the same problem. Both are concerned with the central question: what can man become?, the only diference is that philoshopy ask the question, while curriculum ask “in macrocosm-Man”. Oliva (1992:193), mengelompokkan empat aliran filsafat yang sering digunakan sebagai landasan pengembangan kurikulum, yaitu “rekontruksionisme, progresivisme, esensialisme, dan perenialisme”. Pada perkembangannya beberapa ahli tidak puas dengan salah satu aliran filsafat, mereka mencoba menggabungkan beberapa aliran, usaha-usaha tersebut dikategorikan sebagai eklektisme. Keempat
  • 12. 56 aliran filsafat tersebut digambarkan oleh oliva dalam suatu garis kontinum sebagai berikut: Kurikulum SMK banyak dipengaruhi oleh filsafat perenialisme, dan filsafat esensialisme. Aliran-aliran filsafat tersebut cukup memberikan warna dalam kurikulum. Pengaruh aliran-aliran filsafat terhadap kurikulum mencakup aspek ontologi, epistemologi, maupun aksiologi. Kurikulum SMK Tahun 2004 dan Tahun 2006 diorganisasikan dengan menganut asas pengembangan potensi intelektual dengan menyeimbangkan pada nilai-nilai hakiki yang universal (Perenialisme). Kompetensi keahlian teknik kendaraan ringan sebagai fokus kajian dalam penelitian ini, melalui kompetensi keahlian ini memberikan atau mewariskan nilai-nilai absolut masa lalu sejak ditemukannnya teknologi transportasi dalam wujud kendaraan (mobil). Implikasinya, bahwa peran sekolah mewariskan pengetahuan (kompetensi- kompetensi) yang perlu dikuasai oleh peserta didik guna memahami mobil seperti Rekontruksionisme Progresivisme Esensialisme perenialism Modern Tradisional/Konsernatif Gambar. 2.1 Aliran Filsfat Kurikulum
  • 13. 57 yang dipahami oleh pencipta (pabrik), agar selaras apa yang dijadikan SOP dan spesifikasi antara pabrik dan masyarakat. Dalam mencapai kompetensi pada pekerjaan tertentu dapat dicapai dengan baik (tuntas), maka kurikulum perlu mengorganisasikan pengetahuan dan kompetensi tersebut secara terurai atau terinci dan saling terkait, dengan maksud agar performance dan produk yang dihasilkan dapat terukur dan dapat diamati. Walaupun pengorganisasian kurikulum diuraikan atau dirinci tetapi sesungguhnya hal tersebut dipandang sebagai satu keutuhan. (esensialisme). Implikasinya pada tujuan pendidikan adalah membantu anak menyingkap dan menanamkan kebenaran-kebenaran hakiki dan tujuan pembelajarannya adalah mendidik pribadi siswa yang rasional dan memupuk kecerdasan intelektual, peran guru membantu siswa berfikir rasional dan mengajarkan nilai-nilai tradisional, fokus kurikulum terletak pada materi-materi klasik dan analisis literatur dalam hal ini kurikulum bersifat konstan dan situasional, pengetahuan ditekankan pada penguasaan fakta-fakta dengan tanpa batas waktu. b. Landasan Psikologi Landasan psikologi dalam pengembangan kurikulum, memberikan perhatian dengan menegakkan pola-pola kebiasaan manusia untuk dapat memahami dan memperkirakan perilaku. Mereka juga berusaha mencari faktor- faktor yang menentukan perilaku dalam karakteristik keturunan, sebagai bentuk pengaruh lingkungan. Desain kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan segi-segi perkembangan psikologis yang memiliki keunikan dan dinamika sendiri. Menurut
  • 14. 58 Sukmadinata dalam Mansyur (2007:81), terdapat dua hal yang perlu memahami tentang keunikan dinamika perkembangan peserta didik dalam pengembangan kurikulum, yaitu; ”1). bagaimana karakteristik perkembangannya (landasan psikologi perkembangan), dan 2). bagaimana peserta didik belajar (landasan psikologi belajar)”. Konsep psikologi perkembangan menjelaskan perkembangan karakteristik dan kemampuan-kemampuan yang dimiliki individu mulai masa bayi hingga dewasa, sedangkan psikologi belajar mengarahkan berbagai konsep- konsep belajar yang cocok untuk peserta didik. Oleh karena itu, kontribusi landasan psikologi pada desain kurikulum dan pengembangannya melalui prinsip- prinsip umum tentang belajar, yaitu: 1. Pembelajaran dikatakan efektif ketika pelajar menjadi aktif termasuk dalam lingkungan belajar 2. Situasi belajar dikatakan efektif meminta pengakuan pada tujuan tertentu 3. Pembelajaran sangat mempengaruhi belajar dimasa lalu sikap dan nilai 4. Pembelajaran dikatakan efektif ketika siswa diijinkan untuk bekerja dalam situasi yang menyenangkan. c. Landasan Sosial Budaya Landasan sosial dan budaya meliputi kajian sistematis pada kelompok dan lembaga kebudayaan dengan rujukan kontribusinya pada proses dan pertumbuhan sistem pendidikan. Pada landasan sosial budaya para pengembang kurikulum perlu memperhatikan keragaman kondisi, kecenderungan dan kecepatan perubahan, dinamika masyarakat, serta gejolak-gejolak sosial budaya yang ada dan terjadi di masyarakat.
  • 15. 59 Hamalik (2000:58) menuliskan bahwa ”perubahan kurikulum adalah perubahan sosial”. Kemudian Hughes, dalam pengantar buku Curriculum Development Design (1993:v) karya Murray Print, menyatakan bahwa kurikulum merupakan konstruk dari sebuah masyarakat. Lebih jauh dia mengatakan: ”At one level, curriculum is an idea, a construc of society. It is a statement of what society values: what it want to continue, what it want to change, what it want to renew. Of course, even this conception of society as having as entity, a capacity to make choice, is continuous” Dari pernyataan tersebut berimplikasi, bahwa desain kurikulum perlu disusun dan diimplementasikan dengan memperhatikan kondisi perkembangan sosial budaya peserta didik. Hal ini ditujukan agar lulusan dapat menghadapi hidup dan kehidupannya pada berbagai lingkungan sosial budaya pada masanya kelak. Perkembangan sosial dan budaya tidak berdiri sendiri, tetapi selalu terkait dan dipengaruhi oleh bidang-bidang lain, seperti ekonomi, politik, hukum, bahkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. d. Landasan Organisatoris Pengorganisasian kurikulum menurut Hamid (2004:3) ”….dapat dilihat berdasarkan fase pengembangannya, yaitu; fase konstruksi kurikulum, fase implementasi kurikulum, dan fase evaluasi kurikulum”. Fase konstruksi kurikulum ditandai dengan pemantapan ide kurikulum dengan merumuskan jawaban kurikulum terhadap masalah-masalah pendidikan, mengidentifikasi dan mengkaji model kurikulum yang tepat untuk menjawab ide kurikulum, menetapkan model kurikulum yang akan digunakan untuk mengembangkan
  • 16. 60 dokumen kurikulum, mengembangkan komponen dan isi kurikulum, fase ini dianggap final apabila dokumen kurikulum sudah dicetak. Fase implementasi kurikulum ditandai dengan adanya proses penyamaan persepsi antara pengembang kurikulum dengan pelaksana kurikulum (guru dan kelompok administrator dan masyarakat). Dan Fase ketiga adalah evaluasi kurikulum, fase ini dilaksanakan mulai pada fase konstruksi kurikulum yaitu dalam hal validitas ide, menilai ketepatan model yang digunakan, dan ketepatan pengembangan komponen dan isi kurikulum, juga dilakukan pada fase implementasi kurikulum yaitu dalam hal melihat data kesiapan lapangan, adanya kesesuaian ide antara pengembang dan pelaksana kurikulum, dan adanya data hasil belajar siswa yang bersesuaian dengan ide kurikulum. Bentuk-bentuk pengorganisasian kurikulum, adalah sebagai berikut: (1) Subject Centered, merupakan bentuk kurikulum yang dipusatkan pada isi atau materi yang akan diajarkan, kurikulum disusun atas sejumlah mata pelajaran yang disusun dan diajarkan secara terpisah-pisah, dalam istilah lain subject centred lebih dikenal dengan model subjek akademik. Contohnya: PPKn, Geografi, dan Sejarah diajarkan secara terpisah. (2) Learner Centered, merupakan bentuk pengorganisasian kurikulum yang memusatkan perhatian pada kebutuhan dan perkembangan siswa. Proses pembelajaran pada learned centered, guru berperan sebagai fasilitator untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan. Contohnya pada mata pelajaran keterampilan, matematika, atau mata pelajaran lainnya.
  • 17. 61 (3) Problem Centred, adalah bentuk kurikulum yang disusun memfokuskan pada masalah-masalah sosial yang sedang dan akan dihadapi siswa dikemudian hari. Urutan bahan disusun berdasarkan kebutuhan, kepentingan dan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Bentuk pengorganisasian kurikulum dapat menggunakan metode jejaring, misalnya masalah banjir yang dibahas dari ilmu geografi, PPKn, IPA, Sejarah. (4) Core Design, adalah bentuk kurikulum yang didasarkan pada materi – materi inti/pokok, sedangkan materi – materi lain dikembangkan disekitar core tersebut. Bentuk pengorganisasian kurikulum ini hampir identik dengan problem centered, perbedaannya terletak pada penentuan core-nya, tidak harus berupa masalah yang harus dipecahkan melainkan dapat berupa konten yang bukan menjadi masalah. Kurikulum ini dapat diimplementasikan oleh guru-guru yang mempunyai wawasan luas dan bukan spesialis. Contohnya pada pelajaran-pelajaran yang diberikan pada sekolah dasar di kelas rendah, dan pelajaran-pelajaran umum pada jenjang sekolah menengah dan perguruan tinggi yang bersifat pembinaan mental spiritual. Kurikulum SMK berpusat pada subject centered, yaitu berupa mata pelajaran yang terpisah pisah, yang secara logis materi yang diberikan adalah mata pelajaran yang dianggap penting dapat mengembangkan kemampuan matematika, fisika, bahasa, kimia (adaptif) yang diajarkan dan materi yang berkenaan dengan emosi, seperti seni rupa, olah raga, agama (normatif), diberikan untuk mendukung pencapaian penguasaan kompetensi kejuruan (produktif).
  • 18. 62 Implikasinya guru hendaknya merupakan orang yang menguasai suatu cabang ilmu, ahli (a master teacher) yang bertugas membimbing untuk memudahkan siswa menyimpulkan materi. Pada kurikulum SMK terdapat label mata pelajaran yang terkesan terpisah-pisah, meskipun pada kenyataannya tidak demikian. Langkah-langkah dalam pengembangan kurikulum SMK yaitu diawali orientasi atau fokus pada pekerjaan, kemudian dirinci kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan untuk mengerjakan pekerjaan tersebut, langkah selanjutnya adalah menentukan materi atau bahan belajar yang dibutuhkan untuk mencapai kompetensi-kompetensi tersebut dengan menunjukkan performance, menentukan sumber belajar dan membuat instrumen evaluasi. Materi atau bahan belajar yang dibutuhkan tidak ditafsirkan sebagai mata pelajaran, tetapi mata pelajaran merupakan label dari kumpulan materi atau bahan yang dibutuhkan untuk membantu mencapai kompetensi yang diharapkan. Program pembelajaran mencerminkan kondisi yang sesungguhnya di tempat kerja pada pekerjaan yang dipelajarinya. Implikasinya bahwa pembelajaran di kelas atau di tempat praktek merupakan miniatur dari kondisi tempat kerja sesungguhnya, begitu juga dengan proses dan hasil pembelajaran sesuai dengan yang dituntut oleh pihak industri. Materi yang harus dipelajari dan dikuasai adalah konsep dasar berkenaan dengan praktik pekerjaan tersebut, materi-materi tersebut dipelajari secara terpisah dalam kategorinya masing-masing tetapi sebagai satu kesatuan sistemik materi yang perlu dipelajari, mengacu pada kerja sistem ada saling ketergantungan, dan saling memberikan pengaruh.
  • 19. 63 e. Landasan Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni Pengembangan kurikulum dibutuhkan untuk mendukung perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Dukungan tersebut dimaksudkan agar proses difusi perkembangan IPTEKs melalui lembaga-lembaga pendidikan (sekolah), dapat berjalan dengan baik. Salah satu produknya adalah teknologi, teknologi disini tidak hanya mencakup pada teknologi dalam bentuk hardware dan teknologi tinggi, tetapi termasuk juga software dan sistem teknologi. Melalui proses pengembangan kurikulum yang dilandasi oleh perkembangan IPTEKs dapat diperkenalkan sejak dini dan dipergunakan sebagai tuntutan pekerjaan. Perencanaan program pendidikan ataupun pengembangan kurikulum yang baik harus didasarkan atas kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip ilmu dan menggunakan model teknologi (sistem) tertentu, sehingga program atau desain kurikulum yang dihasilkan dapat tersusun sistematis, dan relevan dengan tuntutan masyarakat. Tahap implementasi dan tahap evaluasi kurikulum atau program pendidikan juga harus memperhatikan kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan seni serta didukung oleh teknologi yang sesuai, sehingga dapat terlaksana secara efisien dan efektif. 2. Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum Proses pengembangan kurikulum selain mempertimbangkan landasan- landasan pengembangan kurikulum, juga perlu memperhatikan beberapa prinsip dalam pengembangan kurikulum. Menurut Sukmadinata (2001, 150-151) prinsip- prinsip tersebut diantaranya;
  • 20. 64 1. Prinsip relevansi, ada dua macam prinsip relevansi yaitu kurikulum itu harus relevan ke dalam dalam arti relvan di dalam isi kurikulum tersebut dan kurikulum tersebut harus relevan ke luar artinya kurikulum tersebut harus memuat sejumlah informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. 2. Prinsip fleksibilitas, kurikulum hendaknya memiliki sifat lentur dan fleksibel, untuk menjangkau kebutuhan masyarakat akan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang sangat pesat dari hari ke hari. 3. Prinsip kontinuitas, yaitu harus berkesinambungan , tidak putus-putus, sehingga pada setiap jenjang pendidikan dapat terlihat hubungan yang jelas diantara semua jenjang pendidikan tersebut. 4. Prinsip praktis, prinsip mengandung arti bahwa kurikulum tersebut harus mudah dipahami dan dilaksanakan, dengan menggunakan peralatan dan biaya yang terjangkau, dalam beberapa literatur prinsip ini ada juga yang memberikan istilah prinsip efisisensi, hal ini dikarenakan sifat yang diberikannya. 5. Prinsip efektivitas, walaupun kurikulum tersebut harus mudah dan terjangkau tetapi tetap dengan mengedepankan efektivitas dalam pencapaian tujuan. 3. Model-Model Pengembangan Kurikulum Model-model pengembangan kurikulum yang disajikan dalam tulisan ini, dipilih beberapa model-model yang sesuai dengan topik kajian. Pemilihan model- model pengembangan kurikulum dikaitkan dengan pokok permasalahan desain
  • 21. 65 kurikulum program produktif di SMK khususnya pada Kompetensi Keahlian Teknik Kendaraan Ringan yang bagaimana yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Model yang disajikan diantaranya adalah model Tyler, Model Transmisi Gagne dan Briggs, Model Desain Sistem Pelatihan Berbasis Kompetensi Blank, dan Model Sistematik Romiszowski. Selain model-model tersebut di atas masih banyak lagi. a. Model Tyler Secara khusus model Tyler dapat dilihat pada buku kecilnya yang berjudul “The Basic Principles of Curriculum and Instruction” yang terkenal sejak tahun diterbitkannya sampai dengan sekarang. Tyler mengembangkan model yang sederhana yang terbagi dalam empat langkah, yaitu: Langkah 1: Objective, Langkah 2: Selection of learning experiences, Langkah 3: Organizing of learning experiences, dan Langkah 4: Evaluation. Dalam merumuskan “objectives” Tyler menggunakan tiga sumber, yaitu: Studi of learners, Studi of contemporary life in society, Suggestions from subject specialist. Ketiga sumber tersebut disaring melalui “philoshopocal and psychological screening”, a. Philoshopocal Screen: (penentuan tujuan dengan penyaringan) 1. memanusiakan manusia 2. partisipasi yang luas dan memperhatikan perbedaan 3. menekankan intelegensi sebagai metoda pemecahan masalah
  • 22. 66 b. Psychological Screen: 1. secara psikologi, belajar memungkinkan kita dapat membedakan perubahan pada diri manusia yang diharapkan sebagai hasil dari proses belajar. 2. secara psikologi, belajar memungkinkan kita dapat membedakan tujuan yang feasible. 3. secara psikologi, belajar memberikan kita beberapa ide jangka panjang untuk mencapai tujuan. Kriteria hasil pengalaman belajar: 1. dapat mengembangkan keahlian dalam berfikir 2. dapat membantu memperoleh kembali informasi 3. dapat mengembangkan sikap sosial 4. dapat membantu pengembangan keinginan Kritikan utama pada model Tyler adalah model tersebut terlalu sederhana dan elemen-elemennya tidak cukup terlihat adanya hubungan dan seolah-olah dibuat terpisah. b. Model Transmisi Gagne dan Briggs Gagne dan Briggs (1979) dalam bukunya Principles of Instructional Design, menggambarkan suatu model pengembangan kurikulum berdasarkan teknologi pendidikan. Model transmisi yang dikembangkan dilandasi oleh konsep-konsep sebagai berikut: 1). menekankan perbedaan individual. Hal ini terlihat pada program pembelajaran yang menggunakan self-instructional, program Branching, dan konsep product testing yang menggunakan hardware. 2).
  • 23. 67 menekankan pada psikologi perkembangan; berkaitan dengan perilaku siswa dan teori belajar yang ditekankan pada hubungan penguatan dengan mesin pengajaran, dan 3). menekankan pada penggunaan media; berupa media ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersifat fisik dan non-fisik. Gagne, menganjurkan pendekatan sistem untuk merancang desain pengajaran berdasarkan alur berfikir logis, sistematis, empiris, dan selalu mengedepankan data/ fakta. Terdapat 12 langkah pengembangan model kurikulum yaitu; analisis kebutuhan, analisis tujuan, analisis cara memenuhi kebutuhan, merancang komponen pengajaran, analisis sumber belajar dan pengontrolan, tindakan untuk menghilangkan pengontrolan, menyeleksi/ mengembangkan instrumen perilaku siswa, uji lapangan dan evaluasi formatif, revisi, evaluasi sumatif, dan instalasi operasioal. c. Model Desain Sistem Pelatihan Berbasis Kompetensi Blank Program pelatihan berbasis kompetensi mengandung tiga unsur pokok, yaitu; pemilihan kompetensi yang sesuai, menentukan indikator-indikator evaluasi untuk menentukan keberhasilan pencapaian kompetensi, dan pengembangan sistem pengajaran. Para pengembang kurikulum perlu memahami perangkat kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap siswa, dan perangkat kompetensi yang hendak dicapai agar dideskripsikan secara tertulis dan jelas. Desain pembelajaran yang dituliskan oleh Blank (1982:11), berkaitan dengan implementasi PBK, memiliki karakteristik, yaitu: pengajaran bersifat individual, pengalaman belajar siswa dikontrol, pengajaran merupakan pendekatan sistem, orientasi pada hasil belajar, dan pengajaran dilaksanakan
  • 24. 68 secara modular. Lebih lanjut Blank (1982:26), menawarkan 12 langkah pengembangan kurikulum, yang terbagi kedalam dua tahapan yaitu tahap menganalisis kompetensi yang diperlukan dalam pekerjaan dan tahap mengembangkan program pelatihan untuk membantu peserta didik dalam menguasai kompetensi kerja sesuai dengan perangkat kompetensi yang telah dideskripsikan. Ke dua belas langkah tersebut, adalah: Identify and Describe Specific Occupation, Identify Essential Student Prerequisites, Identify and Verify Job Tasks, Analyze Job Tasks and Add Necessary Knowledge Tasks, Write Terminal Performance Objectives, Sequence Tasks and Terminal Performance Objectives, Develop Performance Tests, Develop Written Test, Develop Draft of Learning Guides, Try Out, Field-Test, and Revise Learning Guides, Develop System to Manage Learning, dan Implement and Evaluate Training Programs. Langkah-langkah di atas membantu membuat perancang kurikulum untuk mendesain apa yang dipelajari siswa, bagaimana siswa belajar, kapan siswa belajar dari satu tugas ke tugas yang lain, dan bagaimana siswa belajar untuk setiap tugasnya. Implikasi yang didapatkan yaitu adanya beberapa prosedur untuk mengembangkan desain kurikulum untuk menjawab kebutuhan apa yang diperlukan untuk menguasai pekerjaan. Ringkasnya langkah yang dituliskan oleh Blank di atas dapat disederhanakan dengan: (1) merinci secara tepat apa yang harus dipelajari siswa, (2) menyediakan pengajaran dengan kualitas yang paling baik, (3) menolong siswa untuk dapat mempelajari setiap tugasnya sebelum melanjutkan ke tugas berikutnya, dan kemudian (4) meminta kepada setiap peserta didik untuk mendemonstrasikan kompetensi yang telah dicapainya.
  • 25. 69 d. Model Sistematik Romiszowski Model sistematik menerapkan salah satu pendekatan sistem (system Approach). Pendekatan sistematik dalam mengembangkan suatu kurikulum adalah suatu pendekatan yang menitikberatkan pada struktur dan keteraturan yang direncanakan sejak awal untuk menghasilkan hal-hal yang spesifik. Menurut Hamalik Oemar (2000:68-70), “model sistematik ini dapat digunakan untuk mengembangkan program pendidikan kurikulum, desain pembelajaran, dan desain program pelatihan”. Pengembangan kurikulum secara sistemik dalam tulisan ini berdasarkan pada pemikirannya J. Romiszowski. Prosedur pengembangan kurikulum model sistematik dilakukan dengan 14 langkah, sebagai berikut: Deskripsi Tugas, Analisis Tugas, Menetapkan Kemampuan, Spesifikasi Kemampuan, Kebutuhan Pendidikan dan Latihan, Perumusan Tujuan Kompetensi/Kemampuan, Kriteria Keberhasilan, Organisasi dan Isi, Pemilihan Strategi Pengajaran, Uji Coba Program, Evaluasi, Implementasi Program, Monitoring, dan Perbaikan dan Penyesuaian (feedback). Penggunaan model kurikulum sistemik dapat menjadi sebuah tawaran alternatif dalam penyusunan kurikulum di setiap tingkat satuan pendidikan khususnya pada Sekolah Menengah Kejuruan, penerapan model ini akan menjadikan suatu ciri khas satuan pendidikan melalui penyusunan desain KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) sebagai kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan.
  • 26. 70 Selain dari beberapa model pengembangan kurikulum yang dituliskan di atas, masih terdapat beberapa model lainnya seperti model kurikulum The Behavioral Analysis Model, The Computer Based Model, dll. 4. Pengembangan Kurikulum SMK a. Konsep Sistem Definisi sistem menurut Hennry Pratt F (1961:315), adalah ”.....its related phases may be so regarded; also a communication or transportation system or economis system, and its related character is identified by harmony in operation and the integration of its structure”. Definisi sistem ini masih bersifat umum, secara spesifik definisi sistem dituliskan oleh Kohler Eric (1972:423), Webster (1969:378), dan Winardi (1980:2), yang menyatakan bahwa; “sistem merupakan sekumpulan elemen-elemen yang saling berhubungan membentuk suatu struktur hubungan internal dan eksternal untuk mencapai sasaran atau tujuan tertentu”. Sejalan dengan pendapat di atas Finch & Crunkilton (1999:26) menuliskan sistem “an organized way of doing something, and as a collection of elements, interacting with each other to achieve a common goal” Berdasarkan definisi tentang sistem seperti tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa sebuah sistem mewakili suatu keseluruhan tertentu yang dapat dikaji secara relatif berdiri sendiri. Pada pendekatan sistem terlihat pula hubungan antara komponen (sub- sistem) pada sesuatu keseluruhan yang dianggap sentral, atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa relasi suatu bagian-bagian akan menggambarkan suatu
  • 27. 71 keseluruhan, dan sebuah sistem bukan merupakan hal yang konkrit melainkan sebuah sistem akan menghubungkan kita dengan sesuatu dunia pikiran yang memiliki kerangka pemikiran konseptual logis. Winardi (1980:149), menuliskan bahwa sistem memiliki fungsi sebagai sebagai alat logis (metodologis) untuk menjelaskan serta mempelajari kompleksitas terorganisasi dari pada keseluruhan-keseluruhan dan juga berfungsi sebagai alat research untuk mencapai koordinasi untuk mentransfer keteraturan sistem secara umum guna kebutuhan sistem secara spesifik. Gambaran mengenai hubungan antara sistem dengan sub-sistem, dan sub- sub sistem dapat dianalogikan melalui gambar berikut ini: Gambar 2.2 Hubungan Komponen-Komponen Sistem Jika gambar tersebut dihubungkan dengan “mobil sebagai suatu sistem” dan objek kompetensi yang dipelajari di SMK pada Kompetensi Keahlian Teknik Kendaraan Ringan, maka mobil terdiri dari sub-sistem engine, chasis, sistem pemindah tenaga, sistem kelistrikan, body/karesori, dan lain sebagainya. Contoh sub-sub sistemnya dapat dilihat, misalnya engine terdiri dari sistem bahan bakar, A B e f d C SISTEM
  • 28. 72 sistem pengapian, sistem pelumasan, sistem pendinginan, sistem langkah kerja torak, sistem mekanisme kerja katup, dan lain-lain. Jumlah elemen pada suatu sistem atau sub-sistem atau sub-sub sistem tidak menjadikan ukuran, melainkan disesuaikan dengan sejumlah sistem yang terkait dengan sentral sistem dan hal ini sangat ditunjang oleh penguasaan seseorang tentang sistem tersebut, sehingga dapat diuraikan dengan jelas, semakin detail seseorang membagi setiap elemen sistem, maka semakin jelas struktur bangunan sistem yang hendak dikembangkan. Secara parsial sistem dapat dikaji mandiri, maksudnya adalah sebuah sistem sentral dapat ditentukan batasannya berdasarkan kebutuhan (kebutuhan analisis atau level pengambilan keputusan), hal ini sejalan dengan teori Black Box. Teori ini mengatakan bahwa suatu sistem dapat dijelaskan dengan membandingkan antara masukan (input) dengan keluaran (output), sedangkan penjelasan mengenai proses yang terjadi dapat diabaikan, mekanisme ini biasanya dikendalikan oleh tahap feedback, tahap ini yang akan menjadi control dalam mengkondisikan masukan agar menghasilkan keluaran yang sejalan dengan tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini dapat divisualkan sebagai berikut: Gambar. 2.3 Teori Black Box INPUT BLACK BOX OUTPUT
  • 29. 73 Sistem dapat digunakan sebagai konsep untuk berpikir dalam memperbaiki pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, sehingga melalui sistem kita dapat melihat atau mengukur hasil-hasil usaha yang dilakukan dengan membandingkan antara input dan output melalui media feedback sebagai bahan masukan bagi komponen input dalam sebuah sistem sentral (sentral spesifik). Sebagai contoh kerja sistem pendinginan air pada engine, seperti yang diilustrasikan pada gambar 2.4 di atas; bahwa sebuah input dalam sistem pendinginan pada engine adalah air (suhu dan kualitas air) tersimpan pada suatu ruangan yang disebut water jacket, dan di dalam radiator, dan di dalam reservoir tank. Engine adalah suatu alat yang akan memproses input dalam pengaturan temperatur engine. Outputnya adalah ukuran panas yang terserap oleh air pada water jacket. Feedback dilakukan oleh alat yang disebut Thermostat, alat ini akan mengukur suhu air yang bergerak pada water jacket, jika air masih dalam keadaan panas yang diijinkan “dingin”, maka thermostat akan membuka saluran by pas, namun jika suhu air sudah dalam keadaan panas, maka thermostat akan memberikan umpan balik kepada radiator dengan memberikan perintah untuk segera mendinginkan air dengan jalan menutup saluran by pas, sehingga air panas Desired temperature thermostat controls Heating/ cooling unit Actual temperature Gb. 2.4. Climate control system
  • 30. 74 tersebut masuk ke dalam radiator, yang kemudian pada akhirnya masuk kembali ke engine melalui saluran water jacket untuk menyerap panas engine berikutnya melalui lower hose radiator Berkaitan dengan sistem sebagai alat berfikir dapat ditarik kesimpulan bahwa, seorang mekanik otomotif (lulusan SMK) dapat berfikir mengikuti pola sistem yang sudah dibangun melalui contoh diatas, sehingga perawatan engine suatu kendaraan dapat dengan mudah dilakukan dengan memahami cara kerja thermostat dengan baik, melalui pengecekan, penyetelan, ataupun penggantian kompoenen yang sudah tidak berfungsi dengan baik. Finch & Crunkilton (1999:27-29), menyebutkan jika konsep sistem dapat diterima sebagai kerangka pikir yang digunakan untuk mengembangkan desain kurikulum dan desain pembelajaran, untuk itu pertama kali perlu dibedakan antara komponen-komponen kurikulum dengan komponen-komponen pembelajaran. Penggunaan pendekatan sistem dalam sistem pendidikan, terdapat beberapa gambaran komponen, misalnya; sistem perencanaan, sistem instruksional, sistem implementasi, sistem kurikulum, sistem penilaian, dan lain-lain. Finch & Crunkliton (1999:29) menegaskan mengenai penggunaan pendekatan sistem dalam pendidikan di SMK, yaitu “penerapan konsep sistem pada pendidikan kejuruan, sangat bermanfaat salah satunya untuk menguji sistem implementasi competence based education”. Berkaitan dengan pendidikan, konsep sistem khususnya sistem diklat di SMK dapat dilihat dari komponen raw input, instrumental input, environmental input, process dan output, serta feedback. Komponen-komponen tersebut disajikan dalam bagan berikut ini:
  • 31. 75 Proses pembelajaran yang bermutu di SMK, perlu ditunjang oleh beberapa komponen terstandar, seperti; instrumental input, environmental input, komponen proses serta mutu inputnya sendiri sejalan dengan jiwa delapan Standar Nasional Pendidikan (PP Nomor 19 Tahun 2005). Standar-Standar tersebut diorganisasikan melalui desain KTSP sebagai acuan operasional implementasi kurikulum yang berpedoman pada standar yang dibuat BSNP. Melalui kebijakan tersebut maka kurikulum sekolah dikembangkan secara berdiversifikasi dengan mengacu kepada tuntutan daerah/sekolah dan standar minimum yang ditetapkan secara nasional. Raw Input: Siswa/ Calon Siswa Proses pembelajaran (diklat) Output: Kompetensi Lulusan Instrumental Input: 1. Pengelolaan pendidikan 2. Desain kurikulum 3. Silabus dan RPP 4. Pendidik dan Tenaga Kependidikan 5. Sarana dan prasarana 6. Biaya Pendidikan 7. Penilaian Pendidikan Environmental Input: 1. Lingkungan sekolah 2. Lingkungan masyarakat 3. Institusi pasangan (DU/DI) Bagan 2.5 Pendidikan Berdasarkan Sistem (dikembangkan dari Romiszowski, 1981:8) feed back feed back feed back Feedback: 1.nilai 2.perubahan sikap 3.kemampuan kerja feed back
  • 32. 76 b.Pengembangan Kurikulum Produktif SMK Pendidikan di SMK merupakan proses pendidikan yang ”identik” dengan sistem pelatihan di industri, oleh karena itu dalam penyelenggaraannya harus dilakukan dan dikembangkan secara sistemik guna mendukung sistem produksi industri. Pengembangan kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan program produktif bertujuan untuk mendapat bentuk kurikulum yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja sebagai upaya proyeksi bagi lulusan yang akan siap bekerja. Kegiatan ini merupakan tranformasi kompetensi yang diperlukan oleh lapangan pekerjaan yang belum tercantum dalam kurikulum atau belum secara spesifik terurai dalam dokumen kurikulum yang ada, sehingga kurikulum program produktif dapat digunakan sebagai alternatif panduan/pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan dan latihan di SMK. Pengembangan kurikulum SMK dilakukan dalam rangka menjalankan fungsinya kepada masyarakat. Harapan masyarakat seperti dikatakan Daeng Sudirwo (2002;5), bahwa “kurikulum SMK haruslah dapat mengantisipasi kebutuhan tenaga kerja, sehingga lulusannya memiliki kemampuan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja”. Pengembangan desain kurikulum SMK ditempuh dengan melakukan langkah mengidentifikasi SKL yang telah ditetapkan oleh BSNP, kemudian mengidentifikasi standar kompetensi dan kompetensi dasar dengan mengacu pada standar isi yang telah ditetapkan oleh BSNP, kemudian guru dan pihak-pihak terkait merumuskan indikator pancapaian standar kompetensi dan kompetensi
  • 33. 77 dasar, menetapkan alat evaluasi (uji kompetensi), merumuskan materi/bahan ajar, metode, media dan sumber-sumber belajar yang dibutuhkan. Menurut Buku I Kurikulum SMK Tahun 2004 langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam pengembangan kurikulum, yaitu mulai dari aspek a). penajaman kompetensi keahlian, langkah ini diawali dengan merumuskan dan menambahkan kompetensi khusus sesuai kebutuhan tenaga kerja yang belum tertuang dalam kurikulum nasional dan merumuskan deskripsi pembelajaran. b). penyesuaian substansi atau materi kurikulum, langkah ini dilakukan dengan menganalisis dan merumuskan substansi/materi yang perlu di tambah, ditata ulang (sekuensi) substansi/materi yang ada dengan hasil penambahan, dan c). penyesuaian model pembelajaran, langkah ini dilakukan dengan menganalisis kebutuhan siswa dan karakteristik tempat pembelajaran, penyesuaian strategi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa dan karakteristik tempat pembelajaran. Dengan melakukan langkah-langkah di atas, diharapkan dapat menghasilkan dokumen kurikulum program produktif SMK, langkah selanjutnya adalah melakukan proses legalisasi kurikulum yaitu dengan mengkosultasikan pada dinas pendidikan Kota/Kabupaten, Institusi pasangan, Dewan Sekolah dan Kepala Sekolah, selanjutnya dilakukan uji coba kelayakan. Setelah proses legalisasi maka selanjutnya draft kurikulum dijadikan pedoman atau panduan dalam penyelenggaraan pendidikan dan latihan di SMK. Langkah-langkah pengembangan kurikulum program diklat di SMK, mengacu pada dokumen Kurikulum SMK tahun 2004 disajikan dalam gambar:
  • 34. 78 Kebutuhan Tenaga Kerja Re-Engineering SMK Penyesuaian Kompetensi/ Materi Penajaman Program Pembukaan/ Penutupan Program Keahlian Siswa BaruKTSP SMK SKKNI Dokumen Kurikulum SMK yang pernah ada Kurikulum Diklat Industri Implementasi Kurikulum (Proses Pemelajaran) Penyusunan Program Pemelajaran Pelaksanaan Pemelajaran Penilaian Pemelajaran Penyiapan Bahan Ajar Penyiapan Soal Peserta Didik Tenaga Pendidik Fasilitas Institusi Pasangan Manajemen Rencana Induk Pengembangan Sekolah (RIPS) Feed Back UJI KOMPETENSILULUSANDunia Usaha/ Industri Gambar 2.6. Alur Pengembangan kurikulum diklat SMK yang dikembangkan dari pedoman Buku II kurikulum SMK tahun 2004 KURIKULUM PROG. PRODUKTIF SNP PSB Desain Program Pembelajaran
  • 35. 79 Karakteristik penyusunan dan pengembangan kurikulum SMK menitikberatkan pada: 1. Pengembangan desain kurikulum program produktif diarahkan pada pengaturan dan pengelolaan sejumlah kompetensi kejuruan (kompetensi dasar kejuruan dan kompetensi kejuruan) sebagai acuan SK/KD yang wajib dikuasai siswa dengan mendekati level pencapaian yang ditetapkan oleh DU/DI sebagai prasyarat untuk mengerjakan ocupational/Job. 2. Job analisis, hasil job anlisis akan menghasilkan sejumlah kompetensi yang harus dicapai oleh peserta diklat, kompetensi ini dibuat disesuaikan dengan kebutuhan dari lapangan, dimana aspek kreativitas dan inovasi sangat dibutuhkan dalam mencapai kompetensi-kompetensi tersebut. 3. Adatabilitas, hal ini dimaksudkan sebagai pemikiran untuk melakukan perluasan konsep dasar kejuruan yang kuat, artinya perluasan tersebut dilakukan dengan berdasarkan data yang dibutuhkan untuk pengembangan SMK, sehingga akan meningkatkan intelektual dan mental emosional. 4. Pengorganisasian materi pada kurikulum SMK disusun dengan memperhatikan sekuensi dari pencapaian kompetensi-kompetensi (learning hierarchy), sehingga peserta diklat dapat mengaplikasikannya secara teknis dan bersifat naturalis untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan. 5. Fleksibel, disini dimaksudkan sebagai sifat keluwesan dalam mengatur sistem pembelajaran dan jadwal akademik yang disusun, materi ajar yang akan diberikan disesuai dengan kebutuhan lapangan atau pekerjaan yang akan dihadapi, sehingga akan mencapai kebermaknaan dalam belajar
  • 36. 80 6. Pengukuran dan penilaian dilakukan secara menyeluruh dan komprehensif dengan sangat memperhatikan aspek perkembangan kognitif, afektif dan psikomotoriknya sehingga secara keseluruhan akan tampak sebagai intelektual skills dari hasil belajarnya. Senada dengan pengembangan kurikulum SMK di atas. Sukmadinata (2004:93), merumuskan langkah penyusunan desain kurikulum SMK sebagai berikut; 1). merumuskan tujuan, 2). merumuskan kompetensi, 3). merumuskan pembelajaran dan bahan pembelajaran, 4). menghitung waktu pembelajaran, 5). menentukan struktur dan sebaran mata pelajaran. Langkah-langkah pengembangan kurikulum SMK tersebut, untuk lebih jelasnya disajikan dalam bagan sebagai berikut: Desain Kurikulum Program Produktif Bagan. 2.7 Langkah-Langkah Pengembangan Kurikulum SMK 1. rumusan tujuan program keahlian, 2. rumusan kompetensi, 3. rumusan pembelajaran dan bahan pembelajaran, 4. waktu pembelajaran, 5. struktur dan sebaran mata pelajaran Ujicoba Implementasi Kurikulum Evaluasi Kurikulum Program Produktif Identifikasi dan Analisis Kebutuhan Pendidikan feedback
  • 37. 81 Bagan di atas, disajikan menggunakan alur kerja sistem. Frame work sistemik yang digunakan para pengembang kurikulum dalam mengembangkan desain kurikulum diyakini akan menghasilkan desain kurikulum yang komprehensif, memperlihatkan saling keterhubungan antar komponen kurikulum, dan dapat teramati dan terukur. Hal ini didukung oleh pernyataan Hamalik (2000:68-70), bahwa “model kurikulum sistematik dapat digunakan untuk mengembangkan program pendidikan kurikulum, desain pembelajaran, dan desian program pelatihan”. Salah satu model kurikulum sistemik adalah model kurikulum rancangan Romiszowski. Desain kurikulum sistemik Romiszowski (1981:20) dikembangkan melalui 14 langkah, yaitu: Deskripsi Tugas, Analisis Tugas, Menetapkan Kemampuan, Spesifikasi Kemampuan, Kebutuhan Pendidikan dan Latihan, Perumusan Tujuan Kompetensi/Kemampuan, Kriteria Keberhasilan, Isi dan struktur program, Pemilihan Strategi Pembelajaran, Uji Coba Program, Evaluasi, Implementasi Program, Monitoring, dan Perbaikan dan Penyesuaian (feedback). Oleh karena itu, untuk kebutuhan penelitian ini, dalam proses pengembangan desain kurikulum program produktif pada SMK Kompetensi Keahlian Teknik Kendaraan Ringan, mengacu pada 1). kebijakan yang ditetapkan Departemen Pendidikan Nasional, 2). prosedur pengembangan kurikulum yang ditawarkan oleh Sukmadinata (2004:93), dan kemudian dikemas dengan 3). penyusunan desain program kurikulum sistemik dari Romiszowski, yang disederhanakan oleh Hamalik (2000:71).
  • 38. 82 C. Pendidikan Menengah Kejuruan 1. Landasan Pendidikan Menengah Kejuruan Buku I Kurikulum SMK tahun 2004 menuliskan tiga landasan pendidikan menengah kejuruan yaitu landasan filosofis, landasan ekonomis, dan landasan yuridis. Landasan Filosofis, Pendidikan menjadi bermakna apabila secara pragmatis dapat mendidik manusia dapat hidup sesuai dengan jamannya. Oleh karena itu pendidikan kejuruan perlu mengajar dan melatih peserta didik untuk menguasai kompetensi dan kemampuan lain yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan sebagai modal untuk pengembangan dirinya dikemudian hari. Landasan Ekonomis pendidikan kejuruan dijalankan atas dasar prinsip investasi SDM (human capital investment). Landasan yuridis; UUD 1945, UU RI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Kepmendikbud no.323/U/1997 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Sistem Ganda Pada SMK, dan ketentuan- ketentuan lain yang berhubungan dengan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan di SMK. a. Landasan Filosofis Landasan filosofis pendidikan menengah kejuruan ditinjau dari tiga aspek yaitu; ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Kajian ontologi pendidikan kejuruan dimaksudkan bahwa landasan pendidikan kejuruan perlu mempertimbangkan realitas, apakah yang akan dikembangkan pada diri peserta didik itu tunggal seperti rohani atau materi, atau aspek yang dikembangkan bersifat pluralistik. Oleh karena itu pada hakekatnya pendidikan menengah kejuruan perlu mengembangkan potensi yang ada pada
  • 39. 83 peserta didik baik aspek rohani, materi, sosial, individual, fisik dan psikis. Hal tersebut sejalan dengan tujuan pendidikan nasional dalam UU Sisdiknas No.20 tahun 2003 Pasal 3. Implikasi dari UU tersebut adalah hakekat kenyataan (realitas) dalam ruang lingkup peserta didik yang akan dikembangkan adalah menitikberatkan pada penguasaan suatu bidang pekerjaan tertentu, sehingga pengembangan aspek rohani maupun materi, fisik maupun psikis, sosial maupun individual pada diri peserta didik dilakukan berkenaan dengan suatu pekerjaan yang akan dihadapi oleh peserta didik secara utuh. Hal positif yang dapat diambil adalah bahwa peserta didik dari awal sudah memfokuskan pada suatu pekerjaan, sehingga mereka dapat menguasai dengan tuntas pekerjaan tersebut selama menempuh proses pembelajaran di SMK. Dilema yang terjadi pada kajian ontologis terhadap pendidikan kejuruan adalah bahwa di dalam proses pembelajaran, aspek minat dan keinginan peserta didik untuk mempelajari dan menguasai bidang tertentu di luar kompetensi keahlian yang dipelajarinya kurang diperhatikan, misalnya menjadi mekanik otomotif. Solusi dari dilema tersebut, bahwa peserta didik dari semenjak awal sebelum memasuki SMK khususnya Kompetensi Keahlian Teknik Kendaraan Ringan diberikan penjelasan atau keterangan secara rinci sehingga peserta didik dan masyarakat (orang tua) mendapatkan gambaran apa yang akan dipelajari dan kedepannya bagaimana. Kajian epistemologi berkaitan dengan kajian ontologi, kajian ini mencakup cara yang harus dilakukan agar realitas itu dapat dipahami oleh peserta didik, yaitu berkenaan dengan batas-batas pengetahuan dan kompetensi apa yang
  • 40. 84 harus dimiliki peserta didik?, sumber-sumber belajar apa yang dapat dimanfaatkan peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan dan kompetensinya?, dan sarana apa saja yang dapat digunakan untuk memperoleh sumber belajar tersebut?. Kurikulum yang diterapkan di SMK menempatkan kompetensi sebagai pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak (Puskur, 2003). Kompetensi yang dikembangkan harus dilihat sebagai satu keutuhan potensi, untuk mengembangkan potensi tersebut dalam kurikulum ditetapkan indikator pencapaian hasil pembelajaran yang terukur dan dapat diamati. Oleh karena itu pendidikan kejuruan perlu mengajar dan melatih peserta didik untuk menguasai kompetensi dan kemampuan lain yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan sebagai modal untuk pengembangan dirinya dikemudian hari. Potensi-potensi peserta didik yang dikembangkan meliputi beberapa kecakapan hidup, diantaranya adalah: thingking skill, personal skill, social skill, academic skill, dan vocational skill. (Bafadal;2002). Untuk dapat mengembangkan kecekapan-kecakapan tersebut (Puskur; 2003) mencanangkan pembelajaran dan penilaian berbasis kelas yaitu dengan penilaian portofolio, unjuk kerja, proyek dan produk. Proses pembelajaran khususnya yang dilakukan oleh guru untuk dapat memberikan makna epistemologi pada diri peserta didik, perlu dilakukan dengan menggunakan multi metode dan multi strategi dalam situasai yang menyenangkan, sehingga potensi-potensi peserta didik sebagai hakekat realita yang akan dikembangkan khususnya oleh guru secara ontology dapat berkembang dengan baik secara utuh. Pembelajaran dengan menggunaan
  • 41. 85 pendekatan ini kemudian diintroduksi sebagai pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (Ella:2003). Kajian aksiologi erat kaitannya dengan aspek relevansi pendidikan dan pembelajaran. Pertimbangan relevansi kaitannya dengan aspek manfaat dalam pendidikan perlu dilakukan secara komprehensif; peningkatan iman dan taqwa; peningkatan potensi; kecerdasan; minat peserta didik; keragaman potensi daerah dan lingkungan; tuntutan pembangunan daerah dan nasional; tuntutan dunia kerja; perkembangan ipteks; agama; dinamika perkembangan global; persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan (Pasal 36 UU No 20 Tahun 2003). Berdasarkan kajian ontologi, epistemologi, dan aksilogi berimplikasi pada peran pendidikan kejuruan (SMK) melalui kurikulum dan program pembelajaran perlu memperhatikan tujuan pendidikan, harapan peserta didik, tuntutan masyarakat/industri, dan tuntutan pembangunan baik daerah maupun nasional. Oleh karena itu penyelenggaraan pendidikan dapat sejalan dengan berbagai tuntutan tersebut, sehingga diharapkan output atau lulusannya dapat terserap oleh dunia kerja dan lebih jauh dapat memberikan peluang untuk membuka lapangan kerja baru dengan orientasi kewirausahaan. Berdasarkan dokumen kurikulum SMK tahun 2004 bagian I (h.2), dituliskan bahwa ”dalam penyusunan kurikulum SMK perlu mempertimbangkan perkembangan psikologis peserta didik dan perkembangan/kondisi sosial budaya masyarakat”. Sejalan dengan pernyataan tersebut, pertama, secara umum, manusia mengalami perkembangan psikologis sesuai dengan perkembangan usia, latar belakang pendidikan, ekonomi keluarga, lingkungan pergaulan, yang
  • 42. 86 mengakibatkan perbedaan fisik, intelektual, emosional, dan spiritual. Oleh karena itu penanaman pondasi kejiwaan yang kuat diperlukan peserta didik agar berani menghadapi tantangan, mampu beradaptasi dan mengatasi berbagai masalah kehidupan yang selalu berubah, serta mampu meningkatkan diri untuk mengikuti pendidikan yang lebih tinggi. Kedua, berkaitan dengan kondisi sosial budaya dimana pendidikan menengah kejuruan harus selalu berpegang teguh kepada keharmonisan hubungan antara sesama individu dengan masyarakat luas yang dilandasai dengan akhlak dan budi pekerti yang luhur, serta menjaga keharmonisan antar sistem pendidikan dengan sistem lainnya (ekonomi, sosial, religi, moral hukum, dll), sehingga pendidikan kejuruan diharapkan dapat mengantisipasi berbagai perubahan, kebutuhan masyarakat dengan tidak meninggalkan akar budaya bangsa secara berdiversifikasi. Oleh karena itu secara umum bahwa pendidikan khususnya pendidikan menengah kejuruan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Hal ini dipertegas oleh Sumaatmaja (2000:39), bahwa: ”Kepedulian dan tanggung jawab terhadap pendidikan itu, bukan hanya terarah kepada orang tua, guru, sekolah, pemerintah, dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya, melainkan meliputi juga masyarakat yang secara langsung atau tidak langsung memanfaatkan SDM hasil pendidikan itu”. Dan pada akhirnya setiap kompetensi keahlian yang ada di SMK dapat diterima dan diapresiasi secara positif oleh berbagai kalangan (DU/DI).
  • 43. 87 b. Landasan Ekonomis Pendidikan menengah kejuruan adalah pendidikan yang menyiapkan peserta didik menjadi manusia produktif, yang langsung dapat bekerja dibidangnya setelah melalui pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi, dengan demikian pembukaan kompetensi keahlian di SMK harus responsif terhadap pasar kerja. Dalam konteks penyiapan SDM yang produktif untuk bekerja bukan berarti menganggap manusia semata-mata sebagai faktor produksi tetapi juga perlu diperhatikan sebagai sumber daya yang perlu terus dikembangkan, hal ini dikarenakan pembangunan ekonomi memerlukan kesadaran SDM sebagai warga negara yang produktif. Pernyataan ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh Calhoun&Finch (1982) dalam Sumilah A (2004:24) bahwa ”Vocational education can develop a marketable his ability to perform skills that extent his utility as a tool of production” . Pendidikan kejuruan harus dijalankan atas dasar prinsip investasi SDM (human capital investment), semakin tinggi kualitas pendidikan dan pelatihan yang diperoleh seseorang, akan semakin produktif orang tersebut, sehingga selain meningkatkan produktivitas nasional, meningkatkan pula daya saing tenaga kerja di pasar global. Untuk tujuan tersebut SMK harus mengadopsi nilai-nilai yang diterapkan dalam melaksanakan pekerjaan yaitu, disiplin, taat azas, efektif, dan efisien.
  • 44. 88 c. Landasan Yuridis Landasan pendidikan menengah kejuruan berikutnya adalah landasan yuridis. Secara yuridis pendidikan menengah kejuruan menurut Buku I Kurikulum SMK Tahun 2004, bahwa pendidikan menengah kejuruan dilandasi oleh; 1. UUD 1945, mengamanatkan kepada pemerintah melalui usaha penyelenggaraan sistem pendidikan nasional untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang 2. UU Sistem Pendidikan Nasional No.20 tahun 2003 Pasal 15, menjelaskan bahwa SMK merupakan ”pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama dalam bidang pekerjaan tertentu”. Dan Pasal 38 yang menyatakan bahwa kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh pemerintah melalui penetapan BSNP. 3. Kepmendikbud no.323/U/1997 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Sistem Ganda di SMK. 4. PP No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, 5. Permendiknas No.22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, 6. Permendiknas No.23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensli Lulusan, 7. Permendiknas No.24 tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Permendiknas No.22 dan No.23 Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan. 8. Ketentuan-ketentuan lain yang berhubungan dengan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan di SMK.
  • 45. 89 2. Karakteristik, Tuntutan, dan Tujuan SMK a. Karakteristik SMK Karakteristik SMK ditinjau dari aspek lembaga, peserta didik, maupun kurikulumnya, merupakan gambaran komprehensif mengenai peluang dan tantangan dalam pengembangan kurikulum SMK, dalam rangka meningkatkan kualitas layanan pembelajaran serta meningkatkan kualitas dan kualifikasi lulusan agar dapat terserap dalam dunia kerja. Pada konteks ekonomi: SMK harus berbasis pada kebutuhan manusia, mengutamakan peningkatan SDM, pada konteks ketenagakerjaan: SMK harus memperhatikan kesempatan kerja (service atau product) yang diperlukan masyarakat, Bersifat pendidikan dan pelatihan yang mampu mengembangkan skill siswa, dan adanya mekanisme penyesuaian antara manusia dan pekerjaan. Berdasarkan UU Sisdiknas No.20 Tahun 2003, Pasal 15: Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang menyiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Selaras dengan hal tersebut, Hamalik Oemar (1990:72), menyatakan bahwa pendidik kejuruan adalah ”suatu bentuk pengembangan bakat, pendidikan dasar keterampilan, dan kebiasaan- kebiasaan yang mengarah pada dunia kerja yang dipandang sebagai latihan keterampilan”. Namun meskipun siswa SMK difokuskan untuk bekerja tetapi masih diberikan kesempatan untuk melanjutkan studi dengan ciri masih diberikannya basic science di SMK (normatif dan adaptif) Karakteristik Sekolah Kejuruan menurut Sibuea (2002), adalah sebagai berikut:
  • 46. 90 1. Berorientasi pada pencapaian penampilan kerja di lapangan kerja 2. Fokus pengembangan kurikulum pada aspek kognitif, afektif, dam psikomotor, dengan sasaran agar lulusan dapat menerapkan kemampuannya di lapangan kerja. 3. Standar sukses di sekolah dan di lapangan kerja. 4. Peka (responsive) terhadap perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam dunia kerja. 5. Menjalin hubungan dengan masyarakat dalam ketenagakerjaan ataupun dalam penyelenggaraan pendidikan. 6. Dukungan logistic dan pembiayaan harus memadai untuk menyediakan fasilitas praktek yang betul-betul sesuai dengan kebutuhan dunia industri. 7. Prediksi perubahan Ipteks di sekolah kejuruan relatif lebih cepat dibandingkan dengan sekolah umum. Ditinjau dari karakteristik peserta didik. Siswa di SMK berada pada rentang usia 15-18 tahun yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) berdasarkan perkembangan biologis berada pada masa pubertas, fungsi reproduksi, dan terjadinya perubahan suara, 2) berdasarkan perkembangan psikologi mampu menyadari kekurangan dan kelebihan yang dihadapi dengan sikap sewajarnya, menyadari hak orang lain, dan mulai terbentuknya kepribadian menuju kemantapan, 3) berdasarkan konsep tugas perkembangan, mampu memahami pentingnya peranan teman sebaya, membangun hubungan yang baru dan matang, pengaruh dari kekuasaan persetujuan kelompok, dan mencapai peranan sosial sesuai dengan jenis kelaminnya, dan menurut Piaget (1964:..) berada pada tahap Operasional Formal, artinya perkembangan kognitif mampu menghimpun pikirannya sendiri menjadi suatu konsep dan mampu menghimpun konsep pikiran orang lain atau disebut juga tahap mengembangkan daya. Berdasarkan beberapa ciri di atas, dapat disimpulkan bahwa siswa di SMK adalah: 1) manusia dewasa yang bertubuh kecil, 2) mampu dididik dan dilatih karena memiliki potensi, 3) manusia yang sedang berkembang, dan 4) manusia
  • 47. 91 yang selalu ingin tahu. Siswa di SMK memiliki kecenderungan untuk mencari identitas atau jati diri dan ini sangat perlu diperhatikan oleh para pendidik, sehingga peserta didik dapat berkembang secara optimum. Sejalan dengan pernyataan tersebut di atas Syamsudin A.M (2000:132), menuliskan bahwa: “Kalau individu mampu mengatasi berbagai tuntutan yang dihadapinya secara integratif, maka ia akan menemukan identitas yang akan dibawanya menjelang masa dewasanya, sebaliknya kalau ia gagal akan berada pada krisis identitas (identity crisis) yang berkepanjangan”. Penanaman pondasi kejiwaan yang kuat diperlukan peserta didik agar berani menghadapi tantangan, mampu beradaptasi dan mengatasi berbagai masalah kehidupan yang selalu berubah, serta mampu meningkatkan diri untuk mengikuti pendidikan yang lebih tinggiFokus pendidikan kejuruan adalah mempertahankan budaya dengan teknologi yang ada, mengembangkan budaya dengan teknologi masa depan, memperhatikan perubahan masyarakat yang mengakibatkan perubahan struktur lapangan kerja, perubahan struktur lapangan kerja akan mempengaruhi sikap terhadap jenis pekerjaannya, dan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja. Selanjutnya menurut UU SPN Tahun 2003 Pasal 12 mengenai hak peserta didik di dalam proses penyelenggaran pendidikan adalah sebagai berikut seperti disajikan dalam tabel 2.3 berikut ini: Tabel 2.3 Hak Peserta Didik Ayat Isi b mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya. e pindah ke program pendidikan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara f menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing- masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan.
  • 48. 92 b. Tuntutan terhadap SMK Pendidikan di SMK perlu dirancang suatu sistem diklat yang realistik dan spesifik melalui penyelenggaraan diklat jangka pendek dengan terus fokus meningkatkan relevansi dengan dengan dunia kerja, termasuk menyelenggarakan sistem diklat yang permeabel dan fleksibel. Sistem diklat yang permeabel dan fleksibel menuntut program pendidikan yang memiliki karakteristik sebagai berikut: 1. Jenis program dikembangkan berdasarkan tuntutan kebutuhan dunia kerja (deman driven) 2. Program pembelajaran yang dikembangkan dan dilaksanakan mengacu pada pencapaian kompetensi yang telah distandarkan. 3. Program diklat dirancang untuk dapat diselenggarakan oleh berbagai jenis lembaga diklat 4. Kemampuan yang telah dimiliki oleh calon peserta diklat diatur melalui mekanisme Recognition of Prior Learning (RPL) dan Recogition of Current Competence (RCC). 5. Program diklat dirancang secara terintegrasi antara program pembelajaran di sekolah dengan pelatihan di dunia kerja. 6. Program diklat memberikan keseimbangan focus antara sector formal dan informal. (Supriadi, Dedi, 2002:608) Tuntutan pendidikan dan pembelajaran di SMK disampaikan pula oleh berbagai ahli sebagai berikut: 1. Orientasi Pendidikan diarahkan untuk dapat bekerja pada bidang tertentu, dan Program Pendidikan dan Pembelajaran diarahkan untuk memberikan bekal dan keterampilan dasar 2. Sarana dan prasarana disesuaikan dengan orientasi pekerjaan pada bidang. 3. Abdul muin Sibuea (2002), Kurikulum kejuruan ditujukan untuk memberikan keterampilan khusus bagi siswa sehingga dapat bekerja sesuai dengan bidangnya dalam dunia kerja
  • 49. 93 4. Kurikulum dikembangkan berdasarkan kecakapan hidup, kompetensi, berbasis luas, dan berbasis produksi. 5. Lubis (1997) dan McNeil (1996) mengemukakan bahwa SMK perlu untuk meningkatkan relevansi dengan dunia kerja, untuk kebutuhan tersebut diperlukan pendekatan cluster of-skill, yakni siswa dilatih dalam beberapa jabatan. Lebih lajut McNeil (1996) orientasi pendidikan kejuruan ke depan tidak harus fokus pada teknologi tinggi, pada beberapa studi menunjukkan hingga tahun 2001 hanya 7% bidang pekerjaan baru membutuhkan teknologi tinggi, tetapi diarahkan pada kebutuhan operator (juru) 6. Hamalik (1990) menggunakan konsep keterpaduan yaitu membentuk tenaga kerja yang produktif (pendekatan tenaga kerja), mengarahkan pendidikan ke wawasan lingkungan (pendekatan ekologi), mengarahkan pada perkembangan masa depan (Futurologi), dan memberikan dasar nilai dan norma dalam membentuk tenaga kerja yang berkepribadian, berwatak, tangguh, dan penuh tanggung jawab. c. Tujuan SMK Tujuan SMK terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus, sesuai dengan Buku Bagian I Landasan, Program dan Pengembangan Kurikulum SMK tahun 2004, yaitu: Tujuan umum: 1. meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Tuhan Yang Mahas Esa. 2. mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi warga negara yang berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab.
  • 50. 94 3. mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki wawasan kebangsaan, memahami dan menghargai keanekaragaman budaya bangsa Indonesia. 4. mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan hidup, dengan secara aktif turut memlihara dan melestarikan lingkungan hidup, serta memanfaatkan sumber daya alam dengan efektif dan efisien. Tujuan Khusus: 1. menyiapkan agar peserta didik menjadi manusia produktif, mampu bekerja mandiri, mengisi lowongan pekerjaan yang ada di dunia usaha dan dunia industri sebagai tenaga kerja tingkat menengahsesuai dengan kompetensi dalam kompetensi keahlian yang dipilihnya; 2. menyiapkan peserta didik agar mampu memilih karier, ulet dan gigih dalam berkompetisi, beradaptasi di lingkungan kerja, dan mengembangkan sikap professional; 3. membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, agar mampu mengembangkan diri dikemudian hari baik secara mandiri maupun melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi; 4. membekali peserta didik dengan kompetensi-kompetensi yang sesuai dengan kompetensi keahlian yang dipilih. Berdasarkan pada rumusan tujuan SMK di atas, maka kurikulum SMK merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua kegiatan pengalaman belajar yang disediakan bagi siswa SMK yang didalamnya terintegrasi sejumlah ilmu pengetahuan dan sejumlah aktivitas yang diberikan kepada peserta didik. 3. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Sekolah Menengah Kejuruan a. Komponen-Komponen KTSP 1). Visi, Misi, dan Tujuan Visi, dan Misi Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan harus berorientasi ke depan, dikembangkan bersama oleh seluruh warga sekolah. Visi dan misi merupakan perpaduan antara langkah strategis dan sesuatu yang dicita-citakan,
  • 51. 95 dinyatakan dalam kalimat yang padat bermakna, dapat dijabarkan ke dalam tujuan dan indikator keberhasilannya, berbasis nilai, dan membumi (kontekstual). Penyusunan tujuan dalam KTSP melalui tiga tahap yaitu; tahap 1) hasil belajar siswa, dengan merumuskan apa yang harus dicapai siswa berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap setelah mereka menamatkan sekolah. 2) suasana pembelajaran, dirumuskan dengan mempertimbangkan suasana pembelajaran seperti apa yang dikehendaki untuk mencapai hasil belajar itu, dan 3) suasana sekolah, dimana sekolah ditempatkan sebagai lembaga/organisasi pembelajaran dengan merumuskan seperti apa yang diinginkan untuk mewujudkan hasil belajar bagi siswa. 2). Struktur dan Muatan KTSP Struktur dan Muatan KTSP pada jenjang pendidikan menengah meliputi lima kelompok mata pelajaran, yaitu; kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi, estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, oleh raga dan kesehatan. Muatan KTSP mencakup; mata pelajaran, muatan lokal, kegiatan pengembangan diri, pengaturan beban belajar, kenaikan kelas, penjurusan, dan kelulusan, pendidikan kecakapan hidup, pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global, serta penyusunan Kalender Pendidikan. Setiap satuan pendidikan dapat menyusun kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah, karakteristik sekolah, kebutuhan peserta didik dan masyarakat, dengan memperhatikan kalender pendidikan sebagaimana tercantum dalam Standar Isi.
  • 52. 96 b. Penyusunan KTSP Penyusunan KTSP pendidikan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan Provinsi. Tim penyusun KTSP SMK terdiri atas guru, konselor, kepala sekolah, komite sekolah, dan nara sumber. Kegiatan penyusunan dilakukan dalam rapat kerja dan/atau lokakarya sekolah dan/atau kelompok sekolah yang diselenggarakan sebelum tahun pelajaran baru. Tahap kegiatan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan secara garis besar meliputi: penyiapan dan penyusunan draf, revieu dan revisi, serta finalisasi. Langkah yang lebih rinci dari masing-masing kegiatan diatur dan diselenggarakan oleh tim penyusun. Dokumen kurikulum tingkat satuan pendidikan SMK dinyatakan berlaku oleh kepala sekolah serta diketahui oleh komite sekolah dan dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang pendidikan. Pengembangan dan penyusunan KTSP secara operasional perlu memperhatikan dan mengacu beberapa aspek di bawah ini, yaitu: 1. Peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia. Keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia menjadi dasar pembentukan kepribadian peserta didik secara utuh. Kurikulum disusun yang memungkinkan semua mata pelajaran dapat menunjang peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia. 2. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik. Kurikulum disusun agar memungkinkan pengembangan keragaman potensi, minat, kecerdasan
  • 53. 97 intelektual, emosional, spritual, dan kinestetik peserta didik secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya. 3. Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan. Daerah memiliki keragaman potensi, kebutuhan, tantangan, dan keragaman karakteristik lingkungan, oleh karena itu kurikulum harus memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan lulusan yang dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan daerah. 4. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional. Pengembangan kurikulum harus memperhatikan keseimbangan tuntutan pembangunan daerah dan nasional. 5. Tuntutan dunia kerja. Kurikulum harus memuat kecakapan hidup untuk membekali peserta didik memasuki dunia kerja sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik dan kebutuhan dunia kerja, khususnya bagi mereka yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. 6. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Kurikulum harus dikembangkan secara berkala dan berkesinambungan sejalan dengan perkembangan Ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. 7. Agama. Kurikulum harus dikembangkan untuk meningkatkan toleransi dan kerukunan umat beragama, dan memperhatikan norma agama yang berlaku di lingkungan sekolah 8. Dinamika perkembangan global. Kurikulum harus dikembangkan agar peserta didik mampu bersaing secara global dan dapat hidup berdampingan dengan bangsa lain.
  • 54. 98 9. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. Kurikulum harus mendorong wawasan dan sikap kebangsaan dan persatuan nasional untuk memperkuat keutuhan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. 10. Kondisi sosial budaya masyarakat setempat. Kurikulum harus dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian keragaman budaya. 11. Kesetaraan jender. Kurikulum harus diarahkan kepada pendidikan yang berkeadilan dan mendorong tumbuh kembangnya kesetaraan jender. 12. Karakteristik satuan pendidikan. Kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan visi, misi, tujuan, kondisi, dan ciri khas satuan pendidikan. Penentuan mata pelajaran beserta alokasi waktu tertera pada struktur kurikulum yang tercantum dalam Standar Isi, khusus yang belum tercantum (kurikulum produktif SMK) dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan standar jumlah jam total yang telah ditetapkan dalam SI. Isi KTSP perlu mengakomodir muatan lokal, dimana muatan lokal ini merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Pengembangan diri perlu dipertimbangkan dalam penentuan mata pelajaran. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan,
  • 55. 99 bakat, minat, setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan/atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karier peserta didik. Khusus untuk sekolah menengah kejuruan pengembangan diri terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan bimbingan karier. Pengembangan diri untuk satuan pendidikan khusus menekankan pada peningkatan kecakapan hidup dan kemandirian sesuai dengan kebutuhan peserta didik Beban belajar sistem paket digunakan oleh SMK kategori standar dan beban belajar sistem kredit semester (SKS) digunakan oleh SMK kategori mandiri. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. Pemanfaatan jam pembelajaran tambahan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dalam mencapai tuntutan kompetensi. Alokasi waktu untuk pembelajaran praktik, diatur sebagai berikut; dua jam kegiatan praktik di sekolah setara dengan satu jam tatap muka, empat jam praktik di luar sekolah setara dengan satu jam tatap muka. Kurikulum SMK dapat memasukkan pendidikan kecakapan hidup, yang mencakup kecakapan pribadi, kecakapan sosial, kecakapan akademik dan/atau kecakapan vokasional. Pendidikan kecakapan hidup dapat merupakan bagian dari pendidikan semua mata pelajaran. Pendidikan kecakapan hidup dapat diperoleh
  • 56. 100 peserta didik dari satuan pendidikan yang bersangkutan dan atau dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal yang sudah memperoleh akreditasi. Kurikulum untuk semua tingkat satuan pendidikan dapat memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global dapat merupakan bagian dari semua mata pelajaran. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal yang sudah memperoleh akreditasi. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Terdapat lima tahapan pengembangan silabus: perencanaan, pelaksanaan, perbaikan, pemantapan, dan penilaian pelaksanaan. Komponen silabus sekurang-kurangnya terdiri dari; identitas, standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, pengalaman belajar, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat. Prinsip-prinsip pengembangan Silabus: Ilmiah, Relevan, Sistematis, Konsisten, Memadai, Aktual dan Konseptual, Fleksibel, dan Menyeluruh, dan Relevan dimana cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik. c. Struktur Kurikulum Kompetensi Keahlian Teknik Kendaraan Ringan Kurikulum SMK berisi mata pelajaran wajib, mata pelajaran kejuruan, muatan lokal, dan pengembangan diri. 1). Mata pelajaran wajib terdiri atas Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa, Matematika, IPA, IPS,
  • 57. 101 Seni dan Budaya, Pendidikan Jasmani dan Olahraga, dan Keterampilan kejuruan. Mata pelajaran ini bertujuan untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya sekaligus manusia kerja. 2). Mata pelajaran kejuruan terdiri atas beberapa mata pelajaran yang bertujuan untuk menunjang pembentukan kompetensi kejuruan dan pengembangan kemampuan menyesuaikan diri dalam bidang keahliannya. Struktur kurikulum SMK terbagi ke dalam kelompok normatif, adaptif, dan produktif. Normatif, merupakan kelompok mata diklat yang memberikan norma-norma kehidupan dalam pekerjaan, sebagai bekal untuk menjadi manusia yang berkepribadian utuh dalam mengenal tuhan dan segala ciptaan-Nya, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Adaptif, berisi mata diklat yang menitikberatkan pada pemberian kesempatan kepada peserta didik untuk memahami dan menguasai konsepdan prinsip dasar ilmu dan teknologi yang dapat diterapkan dalam kehidpuan sehari-hari dan atau dapat melandasai kompetensi untuk bekerja, ketiga produktif, merupakan kelompok mata diklat yang membekali peserta didik agar memiliki kompetensi kerja sesuai dengan SKKNI. Kelompok mata pelajaran di SMK berdasarkan pembagian struktur isi kurikulum normatif, adaptif, dan produktif. Normatif meliputi; pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan, dan seni Budaya. Adaptif terdiri atas mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS, Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi, dan Kewirausahaan. Dan produktif terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang dikelompokkan dalam Dasar Kompetensi Kejuruan dan Kompetensi Kejuruan. Konsekuensi dari konsep tersebut maka, dilapangan guru-guru akan
  • 58. 102 berinteraksi secara harmonis tentang bahan yang akan diajarkan, guru produktif akan menyampaikan sejumlah target pencapaian kompetensi, kemudian direspon oleh guru-guru normatif dan adaptif, untuk memberikan penyesuaian yang saling memperkuat dalam pencapaian ketuntasan kompetensi. Berdasarkan konsep di atas, maka dapat dikatakan bahwa inti (core) dari kurikulum SMK terletak pada program produktifnya, sedangkan program lainnya seperti adaptif dan normatif mengitari di sekeliling core untuk memberikan penyesuaian. Oleh karena itu, secara konseptual strategi tersebut dapat memecahkan persoalan pembelajaran khususnya dalam mencapai ketuntasan kompetensi kejuruan, tetapi kenyataannya kesadaran akan konsep tersebut tidak merata sampai kepada semua guru/tenaga pendidik, sehingga menimbulkan kondisi pembelajaran di sekolah belum memperlihatkan keterkaitan antara program diklat, juga antara gurunya juga tidak terjadi hubungan yang harmonis dalam rangka penyesuaian materi ajar. Untuk mengantisipasi masalah berkenaan dengan pemahaman mengenai pengelompokkan kurikulum SMK dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa pendekatan sebagai berikut: 1. Diadakannya pelatihan bagi guru-guru di SMK tentang kurikulum diklat, pelatihan ini bisa dilakukan kerjasama dengan lembaga lain yang berkompeten, misal P4TK, atau dapat dilakukan melalui IHT. 2. Koordinasi guru-guru di sekolah harus ditingkatkan melalui pembantu kepala sekolah yang membawahi bidang kurikulum dan ketua kompetensi keahlian, sehingga akan terjadi interaksi secara harmonis.
  • 59. 103 3. SMK harus mau dan mampu melakukan investasi sejumlah sarana dan parasarana yang dibutuhkan dalam implementasi kurikulum. 4. Perlunya melakukan penyaringan terhadap enrollment siswa yang akan masuk berkenaan dengan minat dan bakatnya, selain itu juga selayaknya menyaring guru/tenaga pendidik/ instruktur tentang penguasaan kompetensi-kompetensi yang harus dimilikinya. Jenis pekerjaan yang disusun untuk kompetensi keahlian teknik kendaraan ringan disesuaikan dengan kebutuhan dan standar indutri otomotif (bengkel service). Jenis pekerjaan mekanik otomotif kemudian di rinci menjadi kompetensi-kompetensi kerja, kompetensi kerja tersebut dalam kurikulum SMK dirinci kembali ke dalam beberapa Standar kompetensi dan Kompetensi Dasar (SKKD), kemudian menyusun indikator pencapaian kompetensi. SKKD merupakan pernyataan tentang apa-apa saja yang harus mampu dilakukan oleh seseorang di tempat kerja, SKKD dijabarkan secara terperinci untuk memperjelas bagaimana seseorang dapat memperoleh keterampilan, pengetahuan dan perilaku yang dibutuhkan. Perolehan keterampilan, pengetahuan dan perilaku terdapat di dalam berbagai materi pelajaran dan penilaian. SKKD dibuat sedemikian rupa sehingga seseorang dapat menerapkan pada kondisi standar di dalam industri perawatan dan perbaikan kendaraan ringan, baik untuk kategori bengkel ATPM, binaan ATPM ataupun bengkel umum. Penetapan standar digunakan untuk memenuhi kebutuhan di bisnis otomotif yang spesifik. Standar kerja tersebut selanjutnya dimasukan ke dalam
  • 60. 104 elemen dan kriteria unjuk kerja, batasan variabel dan panduan penilaian juga memberikan informasi penting yang detil dan spesifik untuk mencapai standar. Pengelompokkan standar kompetensi untuk perawatan dan perbaikan kendaraan ringan di bagi menjadi lima kelompok kompetensi. Kelompok - kelompok ini terdiri dari kompetensi-kompetensi yang berhubungan dengan bagian tertentu dari kendaraan. Lima kelompok kompetensi tersebut dibagi menjadi dua kategori utama: (1). Kompetensi Umum, Kompetensi yang umumnya dibutuhkan oleh semua orang yang bekerja pada semua sektor perawatan dan perbaikan kendaraan ringan. (2). Kompetensi Khusus, dibutuhkan pada area yang khusus dari perawatan dan perbaikan kendaraan ringan berdasarkan kebutuhan pekerjaan dan tempat kerja: Engine, Power Train, Chasis & Suspension, dan Electrical. Sistem pemberian kode standar kompetensi yaitu setiap Standar Kompetensi nasional diberi kode nasional yang ditunjukkan dengan 4 huruf, 5 angka dan 1 huruf OPKR-00-000B (Otomotif Perbaikan Kendaraan Ringan), dimana kode dengan nomor menunjukkan kelompokknya, seperti; 10:General, 20:Engine, 30:Power Train, 40:Chasis & Suspension, dan 50:Electrical. Dan 3 angka selanjutnya (000) adalah nomor urut dari standar – standar di dalam grup. Contohnya dapat dilihat pada bagian lampiran. d. Pendekatan Pembelajaran Pendekatan pembelajaran merupakan titik tolak atau sudut pandang terhadap suatu proses pembelajaran. Istilah ini menggambarkan pandangan
  • 61. 105 terjadinya suatu proses yang sifatnya masih umum, oleh karenanya pendekatan pembelajaran perlu dikembangkan menjadi strategi dan metode pembelajaran berdasarkan pendekatan pembelajaran yang digunakan. Roy Killen (1998) dalam Sanjaya Wina (2006:127) menyebutkan terdapat dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitu ”pendekatan yang berpusat pada guru dan pedekatan yang berpusat pada siswa”. Sebagai contoh pendekatan yang berpusat pada guru dapat dilakukan melalui penerapan strategi pembelajaran langsung dan pembelajaran ekspository, sedangkan pendekatan yang berpusat pada siswa dapat dilakukan dengan menerapkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiri. Berkaitan dengan pendekatan pembelajaran di SMK, materi pembelajaran di SMK dikelompokkan pada materi dasar kompetensi kejuruan dan kompetensi kejuruan yang disusun oleh kompetensi keahlian untuk memenuhi standar kompetensi kerja di dunia kerja. Pendekatan pembelajaran yang diterapkan di SMK menggunakan beberapa pendekatan, yaitu; a. berbasis luas dan mendasar, dengan pembelajaran ini peserta diklat dapat mempelajari sejumlah ilmu pengetahuan yang dibutuhkan dalam memenuhi tuntutan pekerjaan. b. berbasis kompetensi, dengan pembelajaran ini peserta diklat dapat memperoleh pengalaman belajar yang secara langsung dapat mendekatkan dirinya pada dunia kerja yang akan dihadapinya setelah lulus. c. pembelajaran tuntas, dengan pembelajaran ini diharapkan peserta diklat dapat mencapai tingkat penguasaan kompetensi yang diprasyaratkan secara tuntas, sehingga dapat memenuhi standar prosedur bahan/alat, standar hasil yang
  • 62. 106 sudah ditetapkan, pengalaman belajar yang diperoleh akan lebih bermakna, dan ketuntasan disesuaikan dengan kemampuan belajar siswanya.. Konsekuensi dari hal pembelajaran harus menggunakan modular system. d. berbasis normatif dan adaftif, artinya menjadikan peserta diklat menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, memiliki sikap tanggung-jawab dan disiplin, memiliki ilmu pengetahuan, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian sebagai warga negara dan berkomunikasi dengan baik. e. berbasis produksi, dengan pembelajaran ini akan menghasilkan produk atau barang jadi yang dapat dipasarkan secara langsung, dapat menumbuhkan semangat kewirausahaan, membangun jaringan dengan masyarakat industri. e. Sistem Penilaian Hasil Belajar Penilaian merupakan suatu proses pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa yang diperoleh melalui pengukuran untuk menganalisis atau menjelaskan unjuk kerja atau prestasi siswa dalam mengerjakan tugas-tugas yang terkait. (Sapria,2003:39). Implementasi PP No. 19 tentang Standar Nasional Pendidikan membawa implikasi terhadap sistem penilaian, termasuk model dan teknik penilaian yang digunakan. Penilaian hasil belajar dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan dan pemerintah. Penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh pendidik dan satuan pendidikan termasuk penilaian internal (internal assessment), sedangkan yang diselenggarakan pemerintah termasuk penilaian eksternal (external assessment). Penilaian internal adalah penilaian yang direncanakan dan dilakukan oleh guru pada proses
  • 63. 107 pembelajaran berlangsung dalam rangka penjaminan mutu. Penilaian oleh Satuan Pendidikan dilakukan untuk menilai pencapaian standar kompetensi lulusan sebagai dasar pertimbangan untuk menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. Penilaian eksternal merupakan penilaian yang dilakukan oleh pemerintah sebagai pengendali mutu, seperti ujian nasional. Berkaitan dengan hal di atas, penilaian yang diterapkan pada kurikulum berbasis kompetensi yaitu: 1). Penilaian Kelas Penilaian kelas adalah suatu bentuk kegiatan guru yang terkait dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran tertentu. Untuk itu, diperlukan data sebagai informasi yang diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan. Dalam hal ini, keputusan berhubungan dengan sudah atau belum berhasilnya peserta didik dalam menguasai suatu kompetensi. Penilaian kelas dilaksanakan secara terpadu selama pembelajaran berlangsung melalui berbagai cara, seperti unjuk kerja (performance), penilaian sikap, penilaian tertulis (paper and pencil test), penilaian proyek, penilaian produk, penilaian melalui kumpulan hasil kerja/karya peserta didik (portofolio), dan penilaian diri untuk menentukan level pencapaian kompetensi. Manfaat penilaian kelas menurut Sapria (2003:39-44), antara lain sebagai berikut 1. Untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan dan kelemahannya dalam proses pencapaian kompetensi. 2. Untuk memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami peserta didik sehingga dapat dilakukan pengayaan dan remedial.
  • 64. 108 3. Untuk umpan balik bagi guru dalam memperbaiki metode, pendekatan, kegiatan, dan sumber belajar yang digunakan. 4. Untuk masukan bagi guru guna merancang kegiatan belajar. 5. Untuk memberikan informasi kepada orangtua dan komite sekolah tentang efektivitas pendidikan. 6. Untuk memberi umpan balik bagi pengambil kebijakan dalam mempertimbangkan konsep penilaian kelas yang baik untuk digunakan Kriteria penilaian kelas meliputi; (a) validitas, artinya menilai apa yang seharusnya dinilai untuk mengukur kompetensi.(b). reliabilitas, artinya konsistensi (keajegan) hasil penilaian. (c). penilaian terfokus pada pencapaian kompetensi (rangkaian kemampuan). (d). keseluruhan/komprehensif, penilaian harus menyeluruh dengan menggunakan beragam cara dan alat untuk menggambarkan profil kemampuan peserta didik. (e). penilaian dilaksanakan secara obyektif, terencana, berkesinambungan, dan menerapkan kriteria yang jelas, dan (f). penilaian dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran. 2). Penilaian pada Pendidikan Sistem Ganda Penilaian kompetensi pada PSG (uji kompetensi) melibatkan pihak sekolah, Asosiasi Profesi/LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi), dan pihak lain terutama DU/DI. Idealnya lembaga yang menyelenggarakan uji kompetensi ini bersifat independen, yakni lembaga yang tidak diintervensi oleh unsur atau lembaga lain. 3). Teknik Penilaian Beragam teknik dapat dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar peserta didik, baik yang berhubungan dengan proses belajar maupun hasil belajar. Teknik pengumpulan informasi tersebut pada prinsipnya adalah cara penilaian kemajuan belajar peserta didik berdasarkan standar
  • 65. 109 kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai. Penilaian kompetensi dasar dilakukan berdasarkan indikator-indikator pencapaian kompetensi yang memuat satu ranah atau lebih. Ada tujuh teknik yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar siswa, yaitu penilaian unjuk kerja, sikap, tertulis, proyek, produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri. Hamalik (2001:149) menambahkan beberapa sumber informasi yang dapat digunakan dalam setiap teknik evaluasi yang digunakan yaitu: ”1) hasil assessment siswa, 2) kuisioner dan wawancara dengan siswa, 3) observasi pelaksanaan pembelajaran, 4) umpan balik dari staf pengajar yang langsung terlibat dalam pembelajaran, dan 5) umpan balik dari orang yang tidak langsung terlibat dalam pembelajaran.” Penetapan indikator pencapaian kompetensi, indikator merupakan ukuran, karakteristik, ciri-ciri, perbuatan atau proses yang menunjukkan ketercapaian suatu kompetensi dasar. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur, seperti: mengidentifikasi, menghitung, membedakan, menyimpulkan, menceritakan kembali, mempraktikkan, mendemonstrasikan, dan mendeskripsikan standar kompetensi. Indikator pencapaian kompetensi dikembangkan oleh guru dengan memperhatikan perkembangan dan kemampuan peserta didik. Setiap kompetensi dasar dapat dikembangkan menjadi dua atau lebih indikator pencapaian kompetensi. Hal ini sesuai dengan keluasan dan kedalaman KD yang terkait. 4). Pelaporan Hasil Penilaian Kelas Laporan kemajuan hasil belajar peserta didik dibuat sebagai pertanggungjawaban lembaga sekolah kepada wali peserta didik, komite sekolah,
  • 66. 110 masyarakat, dan instansi terkait lainnya. Laporan kemajuan hasil belajar peserta didik merupakan sarana komunikasi dan sarana kerja sama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat yang bermanfaat baik bagi kemajuan belajar peserta didik maupun pengembangan sekolah. Bentuk laporan kemajuan belajar peserta didik dapat disajikan dalam data kuantitatif dan kualitatif. Informasi data kuantitatif disajikan dalam angka (Skor), misalnya seorang peserta didik mendapat nilai enam pada mata pelajaran matematika, apabila peserta didik ataupun orang tua yang kurang memahami makna angka tersebut dapat berkonsultasi dengan guru dan melihat buku nilai. Hal ini perlu dilakukan agar orang tua dapat menindaklanjuti apakah anaknya perlu mendapatkan bantuan selama proses belajar dalam setiap bidang mata pelajaran yang telah diterimanya sebagai persiapan lebih baik dalam menerima materi pembelajaran selanjutnya.

×