Filsafat ilmu
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Filsafat ilmu

on

  • 4,348 views

 

Statistics

Views

Total Views
4,348
Views on SlideShare
4,300
Embed Views
48

Actions

Likes
2
Downloads
171
Comments
1

3 Embeds 48

http://pascasarjanapepklk.blogspot.com 42
http://www.pascasarjanapepklk.blogspot.com 5
http://pascasarjanapepklk.blogspot.de 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Filsafat ilmu Filsafat ilmu Document Transcript

  • Filsafat IlmuPosted on 13 Januari 2008A. Pengertian Filsafat IlmuUntuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini dikemukakan pengertian filsafatilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam Filsafat Ilmu, yang disusun oleh Ismaun (2001)Robert Ackerman “philosophy of science in one aspect as a critique of current scientific opinionsby comparison to proven past views, but such aphilosophy of science is clearly not a disciplineautonomous of actual scientific paractice”. (Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauankritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukansuatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual.Lewis White Beck “Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientificthinking and tries to determine the value and significance of scientific enterprise as a whole.(Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencobamenemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan)A. Cornelius Benjamin “That philosopic disipline which is the systematic study of the nature ofscience, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the generalscheme of intellectual discipines. (Cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaahsistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual.)Michael V. Berry “The study of the inner logic if scientific theories, and the relations betweenexperiment and theory, i.e. of scientific methods”. (Penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.)May Brodbeck “Philosophy of science is the ethically and philosophically neutral analysis,description, and clarifications of science.” (Analisis yang netral secara etis dan filsafati,pelukisan dan penjelasan mengenai landasan – landasan ilmu.Peter Caws “Philosophy of science is a part of philosophy, which attempts to do for science whatphilosophy in general does for the whole of human experience. Philosophy does two sorts ofthing: on the other hand, it constructs theories about man and the universe, and offers them asgrounds for belief and action; on the other, it examines critically everything that may be offeredas a ground for belief or action, including its own theories, with a view to the elimination ofinconsistency and error. (Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuatbagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafatmelakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia dan alamsemesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan; di lainpihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasanbagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusanketakajegan dan kesalahanStephen R. Toulmin “As a discipline, the philosophy of science attempts, first, to elucidate theelements involved in the process of scientific inquiry observational procedures, patens ofargument, methods of representation and calculation, metaphysical presuppositions, and so onand then to veluate the grounds of their validity from the points of view of formal logic, practicalmethodology and metaphysics”. (Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur-prosedurpengamatan, pola-pola perbinacangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, pra-anggapan-pra-anggapan metafisis, dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasanbagi kesalahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika).Berdasarkan pendapat di atas kita memperoleh gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan telaahkefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi
  • ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagiandari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti :Obyek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimanahubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ?(Landasan ontologis)Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimanaprosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendakan pengetahuan yang benar?Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/saranaapa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasanepistemologis)Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara carapenggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaahberdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakanoperasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ? (Landasan aksiologis).(Jujun S. Suriasumantri, 1982)B. Fungsi Filsafat IlmuFilsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu, fungsi filsafat ilmukiranya tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yakni :Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada.Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafatlainnya.Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia.Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupanMenjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan itusendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya. Disarikan dari Agraha Suhandi (1989)Sedangkan Ismaun (2001) mengemukakan fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikanlandasan filosofik dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu danmembekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwafilsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaitu berupayamendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan theory of explanation yakniberupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secara sederhana.C.Substansi Filsafat IlmuTelaah tentang substansi Filsafat Ilmu, Ismaun (2001) memaparkannya dalam empat bagian,yaitu substansi yang berkenaan dengan: (1) fakta atau kenyataan, (2) kebenaran (truth), (3)konfirmasi dan (4) logika inferensi.1.Fakta atau kenyataanFakta atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam, bergantung dari sudut pandangfilosofis yang melandasinya.Positivistik berpandangan bahwa sesuatu yang nyata bila ada korespondensi antara yang sensualsatu dengan sensual lainnya.Fenomenologik memiliki dua arah perkembangan mengenai pengertian kenyataan ini. Pertama,menjurus ke arah teori korespondensi yaitu adanya korespondensi antara ide dengan fenomena.Kedua, menjurus ke arah koherensi moralitas, kesesuaian antara fenomena dengan sistem nilai.Rasionalistik menganggap suatu sebagai nyata, bila ada koherensi antara empirik dengan skemarasional, dan
  • Realisme-metafisik berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada koherensi antara empiridengan obyektif.Pragmatisme memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi.Di sisi lain, Lorens Bagus (1996) memberikan penjelasan tentang fakta obyektif dan faktailmiah. Fakta obyektif yaitu peristiwa, fenomen atau bagian realitas yang merupakan obyekkegiatan atau pengetahuan praktis manusia. Sedangkan fakta ilmiah merupakan refleksi terhadapfakta obyektif dalam kesadaran manusia. Yang dimaksud refleksi adalah deskripsi fakta obyektifdalam bahasa tertentu. Fakta ilmiah merupakan dasar bagi bangunan teoritis. Tanpa fakta-faktaini bangunan teoritis itu mustahil. Fakta ilmiah tidak terpisahkan dari bahasa yang diungkapkandalam istilah-istilah dan kumpulan fakta ilmiah membentuk suatu deskripsi ilmiah.2. Kebenaran (truth)Sesungguhnya, terdapat berbagai teori tentang rumusan kebenaran. Namun secara tradisional,kita mengenal 3 teori kebenaran yaitu koherensi, korespondensi dan pragmatik (Jujun S.Suriasumantri, 1982). Sementara, Michel William mengenalkan 5 teori kebenaran dalam ilmu,yaitu : kebenaran koherensi, kebenaran korespondensi, kebenaran performatif, kebenaranpragmatik dan kebenaran proposisi. Bahkan, Noeng Muhadjir menambahkannya satu teori lagiyaitu kebenaran paradigmatik. (Ismaun; 2001)a. Kebenaran koherensiKebenaran koherensi yaitu adanya kesesuaian atau keharmonisan antara sesuatu yang laindengan sesuatu yang memiliki hirarki yang lebih tinggi dari sesuatu unsur tersebut, baik berupaskema, sistem, atau pun nilai. Koherensi ini bisa pada tatanan sensual rasional mau pun padadataran transendental.b.Kebenaran korespondensiBerfikir benar korespondensial adalah berfikir tentang terbuktinya sesuatu itu relevan dengansesuatu lain. Koresponsdensi relevan dibuktikan adanya kejadian sejalan atau berlawanan arahantara fakta dengan fakta yang diharapkan, antara fakta dengan belief yang diyakini, yangsifatnya spesifikc.Kebenaran performatifKetika pemikiran manusia menyatukan segalanya dalam tampilan aktual dan menyatukanapapun yang ada dibaliknya, baik yang praktis yang teoritik, maupun yang filosofik, orangmengetengahkan kebenaran tampilan aktual. Sesuatu benar bila memang dapat diaktualkandalam tindakan.d.Kebenaran pragmatikYang benar adalah yang konkret, yang individual dan yang spesifik dan memiliki kegunaanpraktis.e.Kebenaran proposisiProposisi adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks, yang merentang dariyang subyektif individual sampai yang obyektif. Suatu kebenaran dapat diperoleh bila proposisi-proposisinya benar. Dalam logika Aristoteles, proposisi benar adalah bila sesuai dengan
  • persyaratan formal suatu proposisi. Pendapat lain yaitu dari Euclides, bahwa proposisi benartidak dilihat dari benar formalnya, melainkan dilihat dari benar materialnya.f.Kebenaran struktural paradigmatikSesungguhnya kebenaran struktural paradigmatik ini merupakan perkembangan dari kebenarankorespondensi. Sampai sekarang analisis regresi, analisis faktor, dan analisis statistik lanjutlainnya masih dimaknai pada korespondensi unsur satu dengan lainnya. Padahal semestinyakeseluruhan struktural tata hubungan itu yang dimaknai, karena akan mampu memberieksplanasi atau inferensi yang lebih menyeluruh.3.KonfirmasiFungsi ilmu adalah menjelaskan, memprediksi proses dan produk yang akan datang, ataumemberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi absolut atauprobalistik. Menampilkan konfirmasi absolut biasanya menggunakan asumsi, postulat, atauaxioma yang sudah dipastikan benar. Tetapi tidak salah bila mengeksplisitkan asumsi danpostulatnya. Sedangkan untuk membuat penjelasan, prediksi atau pemaknaan untuk mengejarkepastian probabilistik dapat ditempuh secara induktif, deduktif, ataupun reflektif.4.Logika inferensiLogika inferensi yang berpengaruh lama sampai perempat akhir abad XX adalah logikamatematika, yang menguasai positivisme. Positivistik menampilkan kebenaran korespondensiantara fakta. Fenomenologi Russel menampilkan korespondensi antara yang dipercaya denganfakta. Belief pada Russel memang memuat moral, tapi masih bersifat spesifik, belum ada skemamoral yang jelas, tidak general sehingga inferensi penelitian berupa kesimpulan kasus ataukesimpulan ideografik.Post-positivistik dan rasionalistik menampilkan kebenaran koheren antara rasional, koherenantara fakta dengan skema rasio, Fenomena Bogdan dan Guba menampilkan kebenarankoherensi antara fakta dengan skema moral. Realisme metafisik Popper menampilkan kebenaranstruktural paradigmatik rasional universal dan Noeng Muhadjir mengenalkan realisme metafisikdengan menampilkan kebenaranan struktural paradigmatik moral transensden. (Ismaun,200:9)Di lain pihak, Jujun Suriasumantri (1982:46-49) menjelaskan bahwa penarikan kesimpulan barudianggap sahih kalau penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu, yakniberdasarkan logika. Secara garis besarnya, logika terbagi ke dalam 2 bagian, yaitu logika induksidan logika deduksi.D. Corak dan Ragam Filsafat IlmuIsmaun (2001:1) mengungkapkan beberapa corak ragam filsafat ilmu, diantaranya:Filsafat ilmu-ilmu sosial yang berkembang dalam tiga ragam, yaitu : (1) meta ideologi, (2) metafisik dan (3) metodologi disiplin ilmu.Filsafat teknologi yang bergeser dari C-E (conditions-Ends) menjadi means. Teknologi bukanlagi dilihat sebagai ends, melainkan sebagai kepanjangan ide manusia.Filsafat seni/estetika mutakhir menempatkan produk seni atau keindahan sebagai salah satu tri-partit, yakni kebudayaan, produk domain kognitif dan produk alasan praktis.Produk domain kognitif murni tampil memenuhi kriteria: nyata, benar, dan logis. Bila etikdimasukkan, maka perlu ditambah koheren dengan moral. Produk alasan praktis tampil
  • memenuhi kriteria oprasional, efisien dan produktif. Bila etik dimasukkan perlu ditambahhuman.manusiawi, tidak mengeksploitasi orang lain, atau lebih diekstensikan lagi menjadi tidakmerusak lingkungan.Daftar PustakaAchmad Sanusi,.(1998), Filsafah Ilmu, Teori Keilmuan, dan Metode Penelitian : Memungut danMeramu Mutiara-Mutiara yang Tercecer, Makalah, Bandung: PPS-IKIP Bandung.Achmad Sanusi, (1999), Titik Balik Paradigma Wacana Ilmu : Implikasinya Bagi Pendidikan,Makalah, Jakarta : MajelisPendidikan Tinggi Muhammadiyah.Agraha Suhandi, Drs., SHm.,(1992), Filsafat Sebagai Seni untuk Bertanya, (Diktat Kuliah),Bandung : Fakultas Sastra Unpad Bandung.Filsafat_Ilmu, <http://members.tripod.com/aljawad/artikel/filsafat_ilmu.htm”>Ismaun, (2001), Filsafat Ilmu, (Diktat Kuliah), Bandung : UPI Bandung.Jujun S. Suriasumantri, (1982), Filsafah Ilmu : Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: SinarHarapan.Mantiq, <http://media.isnet.org./islam/etc/mantiq.htm”>.Moh. Nazir, (1983), Metode Penelitian, Jakarta : Ghalia IndonesiaMuhammad Imaduddin Abdulrahim, (1988), Kuliah Tawhid, Bandung : Yayasan Pembina SariInsani (Yaasin)