Your SlideShare is downloading. ×
5 perdarahan antepartum
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

5 perdarahan antepartum

8,120

Published on

0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
8,120
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
222
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. PERDARAHAN ANTEPARTUM DR ELIZABETH S GIRSANG, SPOG
  • 2.  PLACENTA PREVIA SOLUTIO PLACENTA
  • 3. PLASENTA PREVIA
  • 4. Definisi: plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim (SBR) demikian rupa sehingga menutupi seluruh atau sebagian dari ostium uteri internum (OUI)
  • 5. Plasenta Previa
  • 6. Klasifikasi: 1. Plasenta previa totalis atau komplit. plasenta yg menutupi seluruh OUI 2. Plasenta previa parsialis. plasenta yg menutupi sebagian OUI 3. Plasenta previa marginalis. plasenta yg tepinya berada pada pinggir OUI 4. Plasenta letak rendah. plasenta yg berimplantasi pd SBR demikian rupa sehingga tepi bawahnya berada pd jaraknya ± 2 cm dari OUI. Jarak > 2cm dianggap plasenta normal.
  • 7. Klasifikasi
  • 8. Insiden:  Paritas tinggi  Usia di atas 30 thn  Kehamilan ganda  Uterus bercacat  RSUP 1,7-2,9%  Negara maju < 1%  Penggunaan USG → insiden tinggi
  • 9. Etiologi:  Blastokistaberimplantasi pada SBR  Vaskularisasi desidua yg tidak memadai → akibat proses radang atau atrofi:  Paritas tinggi  Usia lanjut  Cacat rahim : bekas SC, miomektomi, dll  Perempuan perokok  Plasenta yg terlalu besar
  • 10. Patofisiologi:  Kehamilan lanjut → mulai terbentuknya SBR → tapak plasenta mengalami pelepasan  Melebarnya isthmus uteri mjd SBR → plasenta yg berimplantasi mengalami laserasi akibat pelepasan desidua sebagai tapak plasenta.  Pada waktu serviks mendatar (effacement) dan membuka (dilatation) → tapak plasenta terlepas → perdarahan
  • 11. Patofisiologi Fenomena pembentukan SBR → unavoidable bleeding oleh karena SBR dan serviks tidak mampu berkontraksi dgn kuat karena elemen ototnya sgt minimal. Pembentukan SBR progresif dan bertahap → laserasi baru → perdarahan → causeless and painless. Dinding SBR yg tipis mudah diinvasi oleh pertumbuhan vili dari trofoblas → plasenta melekat lebih kuat pada dinding uterus → plasenta akreta,inkreta atau perkreta → perdarahan pasca persalinan
  • 12. Diagnosis & Gambaran Klinis: 1. Anamnesis  Perdarahan p/v pada kehamilan setelah 28 minggu  Sifat perdarahan causeless, painless dan recurrent. 2. Inspeksi  Perdarahan p/v  Ibu kelihatan anemis/pucat
  • 13. 3. Palpasi abdomen  Sering dijumpai kelainan letak janin  Bagian terbawah janin belum turun, apabila letak kepala, kepala masih floating atau mengolak diatas PAP  Dapat dirasakan suatu bantalan pada SBR terutama pada ibu yg kurus4. Inspekulo  Dengan memakai spekulum, secara hati-hati dilihat dari mana asal perdarahan: uterus, kelainan servik, vagina, erosi, polip atau varises.
  • 14. 5. USG  Dapat ditentukan implantasi plasenta atau jarak tepi plasenta thd ostium  USG transabdominal: 96 - 98%  USG transvaginal : 98 - 100%. Namun bahaya perdarahan.5. Pemeriksaan dalam  Sudah jarang dilakukan berhubung telah tersedia USG  To awake a sleeping tiger.
  • 15. Komplikasi 1. Anemia / syok 2. Plasenta melekat (akreta/perkreta/inkreta) 3. Serviks dan SBR rapuh dan kaya pembuluh darah → robek dan perdarahan yg banyak 4. Kelainan letak anak → tindakan operasi dan konsekuensinya 5. Kelahiran prematur dan gawat janin.
  • 16. Komplikasi6. Komplikasi lain:  Rawatan yg lebih lama  Solusio plasenta (RR 13,8)  Seksio sesarea (RR 3,9)  Kelainan letak janin (RR 2,8)  Perdarahan pasca persalinan (RR 1,7)  Kematian maternal akibat perdarahan (50%)  DIC (15,9%)
  • 17. Prognosis: Lebih baik dibandingkan masa lalu berkat:  Diagnosis dini dan tidak invasif dgn USG.  Ketersediaan darah dan infus cairan  Rawat inap yg lebih radikal  Pe↓ jlh ibu hamil paritas tinggi dan usia tinggi Namun kelahiran prematur tetap tinggi 47%
  • 18. Terapi Ekspektatif Tujuan : agar janin tidak lahir prematur. Penderita dirawat tanpa melakukan pem.dalam. Diagnosis secara non invasif. Pemantauan secara ketat dan baik Syarat-syarat:  Kehamilan preterm dgn perdarahan sedikit yg kemudian berhenti Belum ada tanda-tanda inpartu  KU ibu cukup baik  Janin masih hidup
  • 19. Terapi ekspektatif Rawat inap, tirah baring dan berikan AB profilaksis Pem. USG: implantasi plasenta, usia kehamilan, profil biofisik, letak dan presentasi janin Berikan tokolitik bila ada kontraksi:  MgSO4 4gr IV dosis awal dilanjutkan 4 gr setiap 6 jam  Nifedipin 3x20mg  Betamethason 24 mg IV dosis tunggal utk pematangan paru janin
  • 20. Terapi ekspektatif Uji pematangan paru dgn Tes Kocok dari hasil amniosintesis Bila setelah usia kehamilam > 34 minggu, plasenta masih berada di sekitar OUI → observasi dan konseling kemungkinan keadaan darurat. Bila perdarahan berhenti dan waktu utk mencapai 37 mgg masih lama → pasien dipulangkan utk rawat jalan kecuali rumah pasien di luar kota, atau jarak tempuh ke RS > 2 jam.
  • 21. Terapi Aktif Penyelesaian persalinan dengan segera Wanita hamil > 22 minggu dengan perdarahan p/v yg aktif dan banyak, harus ditatalaksana secara aktif tanpa memandang maturitas janin Indikasi: 1. Perdarahan pada usia kehamilan > 37 mgg 2. Pasien dalam proses persalinan (inpartu) 3. KU jelek pada saat masuk 4. Perdarahan berlanjut ke tingkat yg mengancam nyawa ibu 5. Janin mati atau dgn kelainan kongenital berat,infeksi intrauterin, ketuban sudah pecah
  • 22. Cara persalinan1. Perabdominam (Seksio Sesarea)2. Pervaginam Faktor-faktor yg mempengaruhi sikap dan tindakan persalinan: Jenis plasenta previa Perdarahan: banyak atau sedikit tapi berulang KU ibu hamil Keadaan janin: hidup, gawat atau meninggal Pembukaan jalan lahir Paritas atau jlh anak hidup Fasilitas penolong dan RS
  • 23. Cara Persalinan:Seksio Sesarea Prinsip: menyelamatkan ibu Tujuan:  Melahirkan janin dgn segera shg uterus dapat segera berkontraksi dan menghentikan perdarahan  Menghindarkan kemungkinan terjadinya robekan pada serviks uteri, jk janin dilahirkan p/v Hati-hati: bekas tempat implantasi plasenta sering mjd sumber perdarahan → histerektomi Siapkan darah pengganti Perawatan lanjut pascabedah
  • 24. Cara PersalinanPervaginam Perdarahan akan berhenti jk ada penekanan pada plasenta.Penekanan dapat dilakukan dgn cara: Amniotomi dan akselerasi  Pada plas.previa lateralis/marginalis dgn pembukaan > 3 cm serta presentasi kepala.  Ketuban dipecahkan,plasenta akan mengikuti SBR dan ditekan oleh kepala janin. Jk kontraksi (-) atau lemah → akselerasi dgn infus oksitosin
  • 25. SOLUSIO PLASENTA
  • 26. SOLUTIO PLACENTA  SOLUTIO PLACENTAE  ABRUPTIO PLACENTAE  ABLATIO PLACENTAE  ACCIDENTAL HAEMORRHAGE  PREMATURE SEPARATION OF THE NORMALLY IMPLANTED PLACENTA
  • 27. DEFENISI  TERLEPASNYA SEBAGIAN ATAU SELURUH PERMUKAAN MATERNAL PLASENTA DARI TEMPAT IMPLANTASINYA YG NORMAL PADA LAP DESIDUA ENDOMETRIUM SEBELUM WAKTUNYA YAKNI SEBELUM ANAK LAHIR
  • 28. KLASIFIKASI PLASENTA DAPAT TERLEPAS:  RUPTURA SINUS MARGINALIS  SOLUSIO PLASENTA PARSIALIS  SOLUSIO PLASENTA TOTALIS
  • 29. JENIS PERDARAHAN REVEALED HEMORRHAGE CONCEALED HEMORRHAGE
  • 30. KLINIS SOLUSIO PLASENTA RINGAN  TERLEPAS < 25%, 1/6 BGN  JLH DARAH < 250 ML  WARNA DARAH KEHITAMAN  KOMPLIKASI (-)
  • 31.  SEDANG  25 – 50 %  JLH DARAH 250 -1000ml  NYERI PERUT (+)  DJJ JANIN CEPAT  HIPOTENSI, TAKIKARDI
  • 32.  BERAT > 50%  > 1000 ml  KU PASIEN BURUK, SYOK  JANIN MENINGGAL  KOMPLIKASI KOAGULOPATI DAN GAGAL GINJAL
  • 33. ETIOLOGI FAKTOR RISIKO  PERNAH SOL PLASENTA  KPD  SINDROMA PREEKLAMPSIA  HIPERTENSI KRONIK  MEROKOK  PECANDU KOKAIN  MIOMA DI BELAKANG PLASENTA  GGAN PEMBEKUAN DARAH  ACQUIRED ANTIPHOSPHOLIPID AUTO AB  TRAUMA ABDOMEN DLM KEHAMILAN  PLASENTA SIRKUMVALLATA
  • 34. 5 KATEGORI POPULASI BERISIKO TINGGI UTK SOL PLASENTA1. SOSIO EKONOMI  USIA MUDA, PRIMIPARA, SINGLE PARENT, PENDIDIKAN RENDAH, SOL PLASENTA REKUREN1. FISIK  TRAUMA TUMPUL PADA PERUT1. KEL PADA RAHIM  MIOMA SUBMUKOSUM, UTERUS BERSEPTUM1. PENY IBU  HIPERTENSI, KEL SISITEM PEMBEKUAN DARAH1. SEBAB IATROGENIK  MEROKOK, KOKAIN
  • 35. GEJALA & TANDA 1. PERDARAHAN P/V, WARNA MERAH KEHITAMAN 2. RASA NYERI/MULES TERUS MENERUS GAMBARAN KLINIS BERVARIASI
  • 36. DIAGNOSIS 1. ANAMNESIS RIW PERDARHAN P/V NYERI DAN ULES TERUS MENERUS GERAKAN JANIN BERKURANG/HILANG 2. PEM. FISIK KU : BAIK S/D BURUK (SYOK) UTERUS TEGANG TERUS MENERUS NYERI TEKAN PADA UTERUS DJJ BRADIKARDIA ATAU MENGHILANG 3. KONFIRMASI USG
  • 37. PENATALAKSANAAN PRINSIP : 1. MENCEGAH KEMATIAN IBU 2. MENGHENTIKAN SUMBER PERDARAHAN 3. JK JANIN MASIH HIDUP, MEMPERTAHANKAN DAN MNGUSAHAKAN JANIN LAHIR HIDUP
  • 38. 1. OPTIMALISASI KU IBU : TRANSFUSI DARAH, INFUS2. TERMINASI KEHAMILAN  PARTUS P/V  SECTIO CAESAREA1. MENGURANGI TEK INTARUTERIN → KETUBAN SEGERA DIPECAHKAN.
  • 39. PROGNOSIS  IBU  LUAS DAERAH PLASENTA YG MENGALAMI SOLUSIO  JUMLAH PERDARHAN  DERAJAT HEMOSTASIS YG TERJADI  ADA TIDAKNYA FX PEMBERAT LAIN  WAKTU ANTARA TERJADINYA SOLUSIO DGN PENGELUARAN ISI UTERUS
  • 40.  JANIN  KEADAAN PD SAAT DITEGAKKAN DX SOLUSIO PLASENTA.  JK JANIN MASIH HIDUP, TERGANTUNG PADA WAKTU ANTARA TERJADINYA SOLUSIO DENGAN PENGELUARAN JANIN  ADA TIDAKNYA FASILITAS / KEMAMPUAN RESUSITASI DAN PERAWATAN INTENSIF YG BAIK PASCA PERSALINAN
  • 41. RUPTURA UTERI
  • 42.  ROBEKAN DINDING RAHIM YANG TERJADI DALAM MASA HAMIL ATAU DALAM PERSALINAN MALAPETAKA BESAR BAGI IBU DAN JANIN MALPRAKTIK KEBIDANAN JANIN DAN IBU MENINGGAL AKIBAT PERDARAHAN DAN INFEKSI
  • 43.  ????:  MUTU PELAYANAN OBSTETRIK ↓ ↓  KESADARAN MASYARAKAT VS KESEHATAN REPRODUKSI  KETERLAMBATAN RUJUKAN  LIBERALISASI PENGGUNAAN PEMICU PERSALINAN
  • 44. RISIKO TINGGI PADA:  BEDAH SESAR SEBELUMNYA  PERNAH MIOMEKTOMI  GRANDEMULTIPARA  KELAINAN LETAK  DISPROPORSI KEPALA PANGGUL  DISTOSIA  INDUKSI ATAU STIMULASI PARTUS  EKSTRAKSI BOKONG  EKSTRAKSI CUNAM
  • 45. DEFINISI RUPTURA UTERI KOMPLIT:  ROBEKAN PADA RAHIM DIMANA TERJADI HUB LANGSUNG ANTARA RONGGA AMNION DAN RONGGA PERITONEUM
  • 46.  RUPTURA UTERI INKOMPLIT  HUBUNGAN KEDUA RONGGA MASIH DIBATASI OLEH PERITONEUM VISERALE DEHISENS  PARUT BEKAS BEDAH SESAR KANTONG KETUBAN BELUM ROBEK
  • 47. KLASIFIKASI  KERUSAKAN ATAU ANOMALI YG TELAH ADA SEBELUM HAMIL  PEMBEDAHAN PADA MIOMETRIUM:  HISTEROTOMI,  HISTERORAFIA,  MIOMEKTOMI,  RESEKSIKORNU,  METROPLASTI
  • 48.  TRAUMA UTERUS KOINSIDENTAL:  INSTRUMENTASI SENDOK KURET, SONDE  TRAUMA TUMPUL ATAU TAJAM  SILENT RUPTURE IN PREVIOUS PREGNANCY KELAINAN BAWAAN
  • 49. KLASIFIKASI  KERUSAKAN ATAU ANOMALI UTERUS YG TERJADI DALAM KEHAMILAN  SEBELUM KELAHIRAN ANAK  HISSPONTAN DAN TERUS MENERUS  PEMAKAIAN OKSITOSIN & PROSTAGLANDIN  INSTILASI CAIRAN  PERFORASI DGN KATETER PENGUKUR TEK  TRAUMA LUAR TUMPUL DAN TAJAM  VERSI LUAR  PEMBESARAN RAHIM YG BERLEBIHAN
  • 50.  DALAM PERIODE INTRAPARTUM :  VERSIEKSTRAKSIEKSTRAKSI CUNAM YG SUKAR  EKSTRAKSI BOKONG  ANOMALI JANIN  TEKANAN KUAT PADA UTERUS  KESULITAN MELAKUKAN MANUAL PLASENTA
  • 51.  CACAT RAHIM YANG DIDAPAT  PLASENTA INKRETA ATAU PERKRETA  NEOPLASIA TROFOBLAS GESTASIONAL  ADENOMIOSIS  RETROVERSIO UTERUS GRAVIDUS INKARSERATA
  • 52. INSIDEN  NEGARA BERKEMBANG > > NEGARA MAJU  NEGARA MAJU  1/1.280 PERSALINAN (1931-1950)  1/ 2.250 PERSALINAN (1973 – 1983)  1/15.000 PERSALINAN (1996)  INDONESIA  1/294 HINGGA 1/93 PERSALINAN
  • 53. ETIOLOGI  ANOMALI ATAU KERUSAKAN YG TELAH ADA SEBELUMNA  TRAUMA  KOMPLIKASI PERSALINAN PADA RAHIM YANG MASIH UTUH
  • 54.  RESIKO TINGGI PADA PASIEN:  DISTOSIA  GRANDEMULTIPARA  PENGGUNAAN OKSITOSISN ATAU PG  PASIEN HAMIL YG SEBELUMNYA PERNAH SC ATAU OPERASI LAIN PADA RAHIM  TRIAL OF LABOR
  • 55.  PASIEN PANGGUL SEMPIT SC KLASIK ONCE CAESAREAN SECTION ALWAYS CAESAREAN SECTION
  • 56. PATOFISIOLOGI  HIS:  KORPUS UTERI BERKONTRAKSI DAN MENGALAMI RETRAKSI  DINDING KORPUS ATAU SEGMEN ATAS RAHIM MENJADI LEBIH TEBAL & VOL KORPUS MENJADI LEBIH KECIL  TUBUH JANIN YG MENEMPATI KORPUS TERDORONG KEBAWAH KE SEGEMN BAWAH RAHIM
  • 57.  SBR MENJADI LEBIH LEBAR, DINDING MENIPIS KARENA TERTARIK KEATAS → PHYSIOLOGIC RETRACTION RING JANIN TERDORONG KEBAWAH, MASUK RONGGA PANGGUL , DAN JIKA SERVIKS MENGALAH DAPAT LAHIR NORMAL
  • 58.  BAGIANTERBAWAH JANIN TDK DAPAT TURUN OLEH BERBAGAI SEBAB  VOLUME KORPUS YG TAMBAH MENGECIL PADA WAKTU ADA HIS HARUS DIIMBANGI OLEH PERLUASAN SEGMEN BAWAH RAHIM KE ATAS → PATHOLOGIC RETRACTION RING (LINGKARAN BANDL) → RUI → RUPTUR
  • 59.  ASPEK ANATOMIK  RUPTURA UTERI KOMPLIT KETIGA LAPISAN DDG RAHIM IKUT ROBEK  RUPTURA UTERI INKOMPLIT LAP SEROSA/PERIMETRIUM UTUH
  • 60.  ASPEK SEBAB  RUPTURA UTERI SPONTAN  RUPTURA UTERI VIOLENTA  RUPTURA UTERI TRAUMATIKA ASPEK KEUTUHAN RAHIM  UTERUS UTUH  UTERUS YG BERCACAT
  • 61.  ASPEK WAKTU  DALAM MASA HAMIL  PADA WAKTU BERSALIN ASPEK SIFAT  SILENTRUPTURE  OVERT DAN AKUT
  • 62.  ASPEK PARITAS  NULIPARA  MULTIPARA ASPEK GRADASI  RUPTURAUTERI TIDAK TERJADI MENDADAK
  • 63. GAMBARAN KLINIS  HB DAN TEKANAN DARAH YG MENURUN  NADI CEPAT  TANDA TANDA HIPOVOLEMIA  PERNAFASAN YG SULIT  NYERI ABDOMEN
  • 64.  PALPASI:  IBUMERASA SANGAT NYERI  BAGIAN TUBUH JANIN MUDAH TERABA DIBAWAH DINDING ABDOMEN IBU AUSKULTASI  TIDAKTERDENGAR DJJ  DESELERASI PATOLOGIK
  • 65. DIAGNOSIS  RUPTURA UTERI IMMINES:  RING VAN BANDL SEMAKIN TINGGI  IBU GELISAH  HIS KUAT YG BERKELANJUTAN  TANDA-TANDA GAWAT JANIN  RUPTURA UTERI: KHAS !!!
  • 66.  RUPTURA KOMPLIT  JARIJARI TANGAN DALAM BISA MERABA PERMUKAAN RAHIM DAN DINDING PERUT YANG LICIN  DAPAT MERABA PINGGIR ROBEKAN  DAPAT MEMEGANG USUS HALUS ATAU OMENTUM  UJUNG JARI JARI TANGAN LUAR MUDAH MERABA UJUNG-UJUNG JARI TANGAN DALAM
  • 67. KOMPLIKASI  SYOK HIPOVOLEMIK  SEPSIS KEMATIAN MATERNAL & PERINATAL  MORBIDITAS DAN KECACATAN TINGGI
  • 68. PENANGANAN PREVENTION IS BETTER THAN CURE
  • 69.  PASIEN RESIKO TINGGI DIRUJUK KE RUMAH SAKIT DGN FASILITAS CUKUP BILA TERJADI RUPTURA UTERI  HISTEREKTOMI  RESUSITASI  ANTIBIOTIKA
  • 70. PROGNOSIS  TERGANTUNG PADA  UTERUS UTUH  BEKAS SC  DEHISENS  KECEPATAN PASIEN MENDAPAT BANTUAN
  • 71. TERIMA KASIH

×