10 djs kehamilan dgn penyakit infeksi
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Like this? Share it with your network

Share

10 djs kehamilan dgn penyakit infeksi

on

  • 3,572 views

 

Statistics

Views

Total Views
3,572
Views on SlideShare
3,572
Embed Views
0

Actions

Likes
1
Downloads
63
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

10 djs kehamilan dgn penyakit infeksi Presentation Transcript

  • 1. ALEX M LUMBANRAJA
  • 2. A.  Toxoplasmosis Penularan infeksi toxoplasmosis yang disebabkan oleh parasit intraselular ini (Toxoplasma) terjadi melalui binatang (misalnya kotoran binatang yang memakan daging mentah). Infeksi ini dapat menimbulkan kelainan kongenital pada bayi berupa triad (kelainan neurologik), hidrosefalus, kalsifikasi periventriculer, chorioretinitis. Diagnosa dilakukan secara test immunologik. : 1. Ig.M meninggi 2. Ig.G masih positif untuk beberapa tahun. Pencegahan : 1. Cuci tangan setelah memegang kucing 2. Masaklah daging sampai cukup matang (≥ 66 °C) 3. Hati-hati terhadap kotoran binatang pengerat.
  • 3. STANDAR PENANGANAN TOXOPLASMOSIS DALAM KEHAMILAN 1.  Nama Penyakit Toxoplasmosis : suatu penyakit menular yang berasal dari binatang dan disebabkan parasit toxoplasmagondii. Di AS insidensi toxoplasmosis pada kehamilan adalah 1 : 900.2.  Kriteria Diagnostik a. 90 % asimtomatik b. Gejala dan tanda : pembesaran KGB c. Serologi Ig.M Toxoplasma (+), Ig.G Toxoplasma (+)3. Diagnosa Banding a. Infeksi mononucleusis EBV b. Infeksi citomegalovirus c. Infeksi virus lain
  • 4. 4.   Pemeriksaan Penunjang a. Laboratorium b. Urine/darah rutin c. Test serologi Ig.G dan Ig.M d. Pemeriksaan sediaan langsung Toxoplasma gondii5.   Konsultasi a. Bagian Penyakit Dalam (Subbagian Infeksi) b. Bagian Parasitologi 6.   Perawatan Rumah Sakit Biasanya tidak diperlukan 7.  Terapi a. Pyrimetamin sulfadiazine tidak dianjurkan untuk hamil trimester I b. Spiramisin 2 – 3 gr / hari 4 kali / hari selama 3 minggu
  • 5. 8.   Penyulit Pada ibu keguguran mengakibatkan janin lahir mati, cacat janin berupa kebutaan, ketulian, retardasi mental, hidrosefalus, kalsifikasi serebral, chorioretinitis.9.  Informed Consent : Perlu 10. Lama Rawatan : - 11. Masa Pemulihan : biasanya sembuh setelah 3 minggu pengobatan. 12. Output a. Sembuh total b. Pada janin menimbulkan cacat janin sampai kematian janin.
  • 6. B. Trichomonas Vaginalis Infeksi kini dapat menimbulkan sekret vagina kental berwarna hijau dan terasa gatal. Diagnosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan secara preparat apus yang menunjukkan adanya tiga jenis protozoa. 1. T. Vaginalis 2. Entamoeba histolytica 3. Giardia lamblia Infeksi ini terdapat pada kira-kira 12 – 30 % ibu hamil. Komplikasi : PROM dan PJT, persalinan prematur. Terapi dilakukan dengan memberikan Metronidazole sebanyak 2 gr dosis tunggal atau 3 x 250 mg selama satu minggu.
  • 7. C.  Candida Alibcans (Candidiasis) Infeksi dengan jamur candida albicans disebut candidiasis yang dapat terjadi pada kira-kira 15 % ibu hamil dan lebih sering terjadi pada ibu hamil penderita diabetes. Diagnosa : 1. Keluhan rasa gatal 2. Keputihan seperti tepung kurang air 3. Preparat apusan KOH Pengobatan dilakukan dengan memberikan topical antifungus. Obat-obatan oral antifungus tidak boleh diberikan dalam kehamilan.
  • 8. D.  Malaria Penyebabnya adalah sejenis protozoa Plasmodium falcifarum. Komplikasi yang dapat terjadi pada ibu hamil adalah : abortus, KJDK, partus prematurus, PJT, gawat janin (fetal distress), bayi lahir mati (still birth) dan kematian perinatal. Diagnosa : 1. Gejala demam, menggigil, berkeringat 2. Buat preparat apus waktu demam Pengobatan : 1. Berikan obat anti malaria 2. Chloroquin Untuk malaria resisten chloroquin secara berhati-hati diberikan preparat kinina.
  • 9. E. Amoebiasis Penyebabnya adalah Entamoeba histolytica. Gejala : diare darah bercampur lendir dengan tenesmus. Komplikasi yang dapat terjadi pada ibu hamil adalah : partus prematurus, bayi lahir mati (still birth). Pengobatan : Berikan Metronidazole 3 x 750 mg selama 7 hari.
  • 10. F.  Ascariasis Penyebabnya adalah Nematoda. Penyebaran larva terjadi melalui usus ibu ke limfatik maternal dan aliran darah, kemudian masuk ke plasenta lalu tembus ke dalam sirkualsi darah janin, dan kemudian masuk ke dalamusus janin. Pada ibu hamil dapat menyebabkan KJDK atau PJT.G.  Infeksi Akibat Cacing Whipworm (Trichoris trichiura) dan Pinworm (Enterobius vermicularis) tidak bisa melewati plasenta, tetapi Hookworm (Ancylostoma duodenale,Necator americanus) dapat melalui plasenta.
  • 11. H. Infeksi Virus Infeksi virus HIV dapat disertai dengan infeksi Candida Albicans. Kemungkinan terjadi penularan perinatal berkisar antara 25 – 35 % : 1. Infeksi pada trimester I dapat menyebabkan terjadinya abortus. 2. Infeksi intrapartum lebih sering terjadi pada anak I dari gemelli. 3. Tidak dianjurkan untuk memberikan ASI pada bayi. 4. Anak dari penderita HIV harus dapat pemeriksaan darah secara teratur. Pengobatan : belum ada cara pengobatan yang tepat. Untuk pencegahan transmisi vertikal terhadap janin diberikan AZT(zidovudine).
  • 12. STANDAR PENANGANAN PENYAKIT AIDS DALAM KEHAMILAN 1.  Nama Penyakit Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) Merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan Virus HumanImmuno-deficiency Virus (HIV).2. Kriteria Diagnostik a. Biasanya asimptomatik. b. Pada beberapa kasus menunjukkan gejala infeksi monukleosis berupa demam, rasa letih, mialgia sakit menelan, pembesaran kelenjar getah bening, kadang dijumpai gejala meningitis eseptik, ensefalopati HIV, mielopati vaskuler, wasting syndrome. c. Tahap akhir adalah AIDS. Laboratorium : CD4 < 400 /mm3
  • 13. 3.  Diagnosa Banding a. Infeksi b. Penyakit kronis : Colitis, DM, KP, dan lain-lain.4.  Pemeriksaan Penunjang Laboratorium : Urine/darah rutin ; Jumlah limfosit CD4 ; Normal > 400 /mm 3 Ratio CD4/CD8 > 1 ; Uji serologi ; Isolasi virus Uji diagnostik ; Test tuberculin ; Foto thorax5. Konsultasi a. Bagian Penyakit Dalam (Subbagian Infeksi) b. Tim penanggulangan AIDS Rumah Sakit 6.   Perawatan Rumah Sakit Pada kasus berat dan dengan penyakit.
  • 14. 7.   Terapi Sampai sekarang belum ada pengobatan. a. Penanganan antepartum 1) Bila CD4 < 400 /ul diberikan obat antiviral : a) Zidovudine b) Didanosine dan Zalcitabine Jika CD4 < 200 /ul, obat profilaksis pneumonia pneumocystic carini harus diberikan. c) Zidovudine Cotrimoksazol 960 mg 1 – 2 x / hari, 3 hari / minggu. d) Pentamidine aerosol 300 mg 1 x sebulan 2) Berikan vaksinasi terhadap pneumococcus, hepatitis. 3) Lakukan pap smir mengingat tingginya insidensi displasia. 4) Usia kehamilan 14 minggu sudah harus ditawarkan pemberian Zidorudine untuk mencegah transmisi vertikal. Dosis : 100 mg 5xkali perhari diberikan sampai persalinan.
  • 15. Pemberian obat dihentikan bila : 1) Hb < 8 gr%, thromb. < 100.000, granulosit < 750, SGPT / SGOT > 5 x normal. 2) Adanya masalah serius pada jantung, maupun saluran nafas, susunan syaraf, saluran cerna. 3) Jika timbul infeksi oportunitis ditangani dgn konsultasi ke Subbagian Infeksi Bagian Penyakit Dalam.b. Penanganan intrapartum 1) Cara persalinan disesuaikan dengan indikasi obstetrik. 2) Hindari penggunaan elektroda terhadap kulit kepala janin 3) Tunda Amniotomi 4) Hindari terjadinya penularan sewaktu menolong persalinan.c. Penanganan intrapartum Penanganan neonatus oleh Bagian Anak.
  • 16. 8.  Penyulit Timbul infeksi oportunistik berupa : Pneumonia Pneumocystic Cranii ; Toxoplasmosis ; Candidiasis ; Tuberkulosis ; Keganasan ; Herpes zoster, herpes simpleks9. Informed Consent : Perlu 10. Lama Rawatan : Tergantung pada beratnya penyakit dan adanya komplikasi. 11. Masa Pemulihan : Biasanya perbaikan bersifat sementara, ditentukan oleh status CD4, bila rendah timbul berbagai komplikasi, sering bersifat rekuren. 12. Output a. Belum ada pengobatan b. Biasanya akan menyebabkan kematian akibat komplikasi.
  • 17. STANDAR PENANGANAN INFLUENZA DALAM KEHAMILAN 1.  Nama Penyakit Influenza : suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza, baik type A maupun B. biasanya type A memberi gejala yang lebih berat.2. Kriteria Diagnostik Gejala dan tanda klinis : a. Timbul demam 1 – 3 hari setelah terpapar / terhirup virus. b. Penyakit ini mudah dikenali bila terhadap pada musim influenza. c. Penyakit ini biasanya sembuh sendiri dalam waktu 1 minggu.3.   Diagnosa Banding Semua penyakit infeksi selaput lendir yang menimbulkan demam.
  • 18. 4.   Pemeriksaan Penunjang a. Laboratorium : Urin rutin ; Darah rutin ; Pemeriksaan serologis virus ; Pemeriksaan kultur hapus dari tenggorokan b. Foto thorax5.   Konsultasi Bila keadaan penyakit berat dan disertai komplikasi, dikonsultasikan ke Bagian Penyakit Dalam (Subbagian Infeksi).6.  Perawatan Rumah Sakit Rawat inap untuk kasus berat yang disertai komplikasi.7.  Terapi a. Kebanyakan sembuh sendiri b. Istirahat c. Rehidrasi (minum yang banyak) d. Roborantia e. Antibiotika bila ada infeksi sekunder.
  • 19. 8.   Penyulit Radang paru : pada kasus komplikasi berat dapat menimbulkan kematian. Tidak ada pengaruh virus influenza terhadap fetus. Pada kehamilantrimester II dan III, tetapi kurang baik pada trimester I.9. Informed Consent : Perlu, terutama influenza berat pada kehamilan trimester I. 10. Lama Rawatan : Bervariasi, tergantung pada derajat berat dan komplikasi penyakit. Biasanya setelah bebas gejala ditambah masa observasi dua hari. 11. Masa Pemulihan : Tergantung berat ringannya infeksi dan adanya komplikasi. 12. Output Sembuh total.
  • 20. I. Hepatitis 1. Hepatitis A a. Penularan dapat terjadi melalui fecal-oral b. Infeksi VHA blm terbukti teratogenik c. Pencegahan: IgG 0,02 ml/kgBB 2.  Hepatitis B a. Penularannya terjadi karena hubungan seks dan darah. b. Pemeriksaan : diagnosis test serologik c. Transmisi ibu-anak: kehamilan,persalinan & nifas d. 2 x 24 jam setelah neonatus lahir, segera diberikan HBIG dan vaksin HB (Menurut James R. Scoot).
  • 21. Tranmisi Vertikal Hepatitis B Dari Para Ibu Yang Memiliki HBS AG PositifStatus Maternal Persentase Infeksi NeonatalHBA AG Positif 90 %HBS AG Negatif 19 – 20 %Anti HBS Positif 0 – 10 %HBV Akut pada Trimester I 10 – 20 %HBV Akut pada Trimester III 90 – 100 %dalam satu bulan persalinanHepatitis C : sering bersifat kronik → Chirhosis Hepatis.Cara penularan ke janin:1.Kebocoran plasenta2.Tertelannya cairan amnion yg terinfeksi3.Abrasi pada kulit janin4.Tertelannya darah selama persalinan
  • 22. J.   Virus Herpes Simpleks Terdapat lesi klasik pada kulit dan selaput mukosa yang kemudianmenetap pada akar posterior ganglia dari sumsum tulang belakang. Lima puluh persen dari penyakit ini akan kambuh kembali. 1. Diagnosis Dilakukan dengan cara menguji serologik virus HSV-1 dan HSV-2, anamnesa dan kultur. Tujuh puluh persen infeksi HSV berasal dari ibu hamil penderita Herpes Simpeks Asimptomatik. 2. Pencegahan a. Lakukan anamnese dan pemeriksaan teliti b. Lakukan SC bila terdapat lesi yang aktif di daerah vulva – vagina c. Pada KPD dengan lesi genital, dilakukan SC dalam 6 jam KPD d. Boleh diberikan obat acyclovir dan pengobatan lainnya pada KPD e. Bayi yang baru lahir harus dipisahkan dari ibunya f. Berikan obat anti virus pada ibunya.
  • 23. STANDAR PENANGANAN HERPES SIMPLEKS DALAM KEHAMILAN 1.   Nama Penyakit Herpes Genitalia : suatu PMS akibat infeksi virus herpes simplex type II.2. Kriteria Diagnostik a. Herpes Primer b. Herpes Inisial Non Primer c. Herpes Rekuren d. Reaktivitas Virus Asimptomatik3. Diagnosa Banding a. Varicella – Zoster b. Variola c. Behcet’s disease d. Dermatitis kontak e. Penyakit autoimun
  • 24. 4.   Pemeriksaan Penunjang a. Kultur viral b. Pemeriksaan serologis c. Sitologi dengan apusan Tzanec dan apusan Papanicolaou dijumpai sel raksasa dengan badan inklusi intraseluler.5. Konsultasi Bila perlu dikonsulkan ke Bagian Penyakit Kulit dan Kelamin. 6. Perawatan Rumah Sakit Biasanya tidak perlu perawatan rumah sakit.7. Terapi a. Penanganan Antepartum 1) Infeksi awal 2) Infeksi rekuren 3) Ketuban Pecah Dini (KPD)
  • 25. b.  Penanganan Intrapartum Bila infeksi primer dengan lesi aktif dijumpai pada masa persalinan maka terminasi kehamilan dilakukan dengan seksio sesaria elektif. Pada kasus rekuren tanpa lesi aktif dilakukan persalinan pervaginam. Namun biladijumpai lesi aktif maka dianjurkan seksio sesaria. Lesi yang berada agak jauhsaluran genitalia, misalnya pada daerah perianal, bokong, paha danpunggung dapat melahirkan secara pervaginam dengan syarat daerahdaerah persalinan harus dilindungi dengan kain steril.c.   Penanganan Postpartum Penanganan rooming in dan menyusui dapat diperkenankan namunhubungan / kontak harus dijaga. Bayi diobservasi selama 7 – 14 hari, jika adatanda infeksi neonatal, diberikan obat antivirus.
  • 26. 8. Penyulit Pada janin dapat timbul : a. Infeksi herpes neonatal, bahkan pada syaraf. b. Herpes kongenital c. Kelainan kongenital berupa kelainan kulit, mata dan syaraf, jaringan parut, chohrioretinitis, displasia retina, microphthalmia dan microsefali.9. Informed Consent : Perlu10.Lama Rawatan : -11.Masa Pemulihan : Biasanya lesi akan menghilang 9 – 15 hari pada infeksi primer dan lebih singkat pada infeksi rekuren.12.Output Sembuh, Infeksi rekuren, Kelainan janin sampai kematian janin.
  • 27. K.  Cytomegalo Virus Kemungkian terjadinya Cytomegalo Virus pada ibu hamil dengan gejala asimptomatik adalah 0,5 – 2,5 %. Cara penularan infeksi ini pada perinatal adalah : 1. Melalui plasenta (1 %) 2. Melalui intrapartum, pemberian ASI 3. Bila jarang terdapat infeksi yang berat. Infeksi dapat terjadi pada anak / janin : 1. Pada saat ibu mengalami infeksi primer (30 – 40 %) 2. Pada trimester I dan II, pada 25 % janin timbul “sequelae”, sedangkan bila infeksi terjadi pada trimester III, sering tidak memberikan sequelae. Gejala klinik yang tampak adalah : 1. 10 % menunjukkan gejala berat 2. 90 % menderita infeksi asimptomatik 3. 15 % mengalami komplikasi terlambat (late complications).
  • 28. Diagnosis :1.  Diikutkan dengan cara kultur dan pemeriksaan serologik2.  CMV  Ig.M  terdapat  pada  infeksi  primer  (80  %)  dan  20  %  pada  infeksi kambuhan (recurrent). Penanganan infeksi Cytomegalo Virus : Jika dijumpai infeksi primer maka 30 % kemungkinan janin tertular dan 6 – 7 %  kemungkinan  janin  cacat.  Pada  keadaan  infeksi  Cytomegalo  Virus  masih belum ditemukan pengobatannya. 
  • 29. STANDAR PENANGANAN CYTOMEGALO VIRUS DALAM KEHAMILAN 1. Nama Penyakit Infeksi  Cytomegalo  Virus  :  suatu  penyakit  menular  yang  disebabkan  oleh  infeksi  virus  DNA  Cytomegalo  Virus.  Bila  terserang  infeksi  terutama  pada  trimester I dan II perinatal dapat menimbulkan kelainan kongenital. 2. Kriteria Diagnostik Lebih dari 95 % ibu hamil yang terinfeksi bersifat asimptomatik.  Pada kasus yang timbul gejala menyerupai gejala pada penyakit infectious  mononucleosis. 3. Diagnosa Banding a. Infectious mononucleosis oleh EBV b. Toxoplasmosis yang didapat  c. Hepatitis viral  d. Infeksi virus lain dan mycoplasma e. Anemia hemolitik idiopatik f. Thrombositopenia idiopatik.
  • 30. 4. Pemeriksaan Penunjang a. Laboratorium : Urine rutin ; Darah rutin ; Tes fungsi hati ; Tes serologi  virus Ig.M dan Ig.G CMV ; Kultur apusan tenggorok serviks.  b. Foto thorax c. Amniosintesis untuk isolasi virus (sering terjadi hasil negatif palsu) d. USG 5.   Konsultasi Pada  keadaan  berat  dan  disertai  dengan  komplikasi,  dikonsulkan  ke Bagian Penyakit Dalam (Subbagian Infeksi).  6. Perawatan Rumah Sakit : Hanya untuk kasus berat dan disertai infeksi. 7.   Terapi a. Tidak ada pengobatan spesifik b. Istirahat c. Roborantia d. Pemberian Human Cytomegalo Virus Immunoglobulin Intravenous  (CMV -IVIG, Cytogram)
  • 31. 8.   Penyulit Penyakit pada ibu : Pneumonia interstisial  ; Myocarditis ; Polineuritis ; Anemia ; Purpura thrombositopenia ; Ensefalitis ; Hepatitis ; Arthritis  Penyakit pada janin : Penyakit CMV kongenital, BBLR, kelainan kongenital,  retardasi  mental,  ketulian,  thrombositopenia,  hepatosplenomegali, mikroencefalopati, chorioretinitis, kalsifikasi serebral, kematian janin.  9. Informed Consent : Perlu  10.Lama Rawatan : Bervariasi,  tergantung  pada  beratnya  penyakit  dan  komplikasi.  Biasanya  bebas gejala ditambah 2 hari observasi.  11.Masa Pemulihan : Bergantung berat penyakit dan komplikasinya. 12.Output : Sembuh total ; Kematian ibu atau janin ; Cacat bawaan 
  • 32. L. Varicella Varicella  (chicken  pox)  dan  herpes  zoster  yang  disebabkan  oleh  virus herpes  dapat  terjadi  pada  ibu  hamil  dan  90  %  diantara  ibu  hamil  tersebut dapat memberikan reaksi seropositif. 1. Ibu hamil sangat sensitif terjadinya penularan varicella 2. Pada infeksi berat, terjadi mortalitas anak yang mencapai angka 10 %. a. Mencari gejala klinik b. Melakuakn test serologik, kultur c. Mencari resiko infeksi pada bayi (varicella kongenital) 3. Pengobatan dengan memberikan Acyclovir sangat membantu.   Pencegahan : 1. Pemberian varicella zoster immunoglobulin (VZIG) 125 U /10 kg kepada  ibu  yang  belum  pernah  menderita  varicella  zoster  nemun  terpapar          dengan virus varicella zoster (masih kontroversial) 2. Untuk bayi yang lahir dari ibu yang terkena dalam 5 hari sebelum dan      2 hari sesudah persalinan dapat diberikan 125 unit VZIG. Vaksinasi varicella kontraindikasi bagi ibu hamil.
  • 33. STANDAR PENANGANAN VARICELLA DALAM KEHAMILAN 1. Nama Penyakit Varicella  :  merupakan  suatu  penyakit  dengan  ruam  papulovesikuler  yang  menular akibat virus varicella zoster, sedangkan zoster merupakan erupsi  akibat reaktivasi virus pada akar ganglia dorsalis. 2. Kriteria Diagnostik Berdasarkan  dari  gejala  dan  tanda  klinis  :  varicella  biasanya  muncul setelah  10  –  12  hari  paparan,  timbul  gejala  demam,  malaise  dan  ruam gatal  terutama  pada  badan  berupa  macalopapel  yang  berkembang  menjadi  vesikel dan akhirnya krusta. Lesi baru tetap muncul selama 3 – 5 hari. Zoster : merupakan lesi kulit yang nyeri dan gatal, rasa terbakar pada area  distribusi  satu  atau  lebih  akar  syaraf  sensorik.  Erupsi  biasanya  unilateral  tapi kadang dapat menyeberang garis tengah badan. 3. Diagnosa Banding Penyakit  papulovesikuler,  misalnya  :  dermatitis  vesikolobulosa,  phemfigus  vulgaris, infeksi viral lainnya. 
  • 34. 4. Pemeriksaan Penunjang Laboratorium : Urin / darah rutin ; Test serologi varicella zoster. 5. Konsultasi Bila perlu konsultasi ke Bagian Penyakit Dalam (Subbagian Infeksi) 6. Perawatan Rumah Sakit : Bila terjadi komplikasi.7. Terapi a.  Penyakit biasanya akan sembuh sendiri b.  Istirahat, hidrasi  c.  Roborantia d.  Antivirus acyclovir 5 x 400 – 800 mg / hari peroral  e.  Parenteral 5 – 10 mg / kg setiap 8 jam selama 7 hari f.   Varicella zoster immunoglobulin kelihatannya kurang bermanfaat g.  Obat simptomatik, analgetika h.  Pencegahan vaksinasi sebelum hamil.
  • 35. 8.   Penyulit Ibu : Pneumonia  ; Ensefalitis  Janin :  Varicella  kongenital  ;  Kelainan  kongenital,  jaringan  parut  kulit, hipoplasia  anggota  gerak,  atrofi  otot,  jari  rudimenter,  mikrosefali,  kalsifikasi  intrakranial,  atrofikortikal,  katarak,  chorioretinitis,  mikropthalmia,  retardasi  psikomotor. 9. Informed Consent : Perlu  10.Lama Rawatan : tergantung berat dan komplikasi penyakit. 11.Masa Pemulihan : Biasanya  lesi  akan  mengering  selama  1  –  2  minggu  kemudian,  dan berbentuk krusta akan terlepas sendiri setelah 3 – 4 minggu. 12.Output a. Sembuh total  b. Dapat menimbulkan kematian ibu bila ada komplikasi c. Pada janin dapat menimbulkan cacat bawaan.