• Save
Modul utama
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Like this? Share it with your network

Share

Modul utama

  • 706 views
Uploaded on

 

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
706
On Slideshare
687
From Embeds
19
Number of Embeds
2

Actions

Shares
Downloads
0
Comments
0
Likes
0

Embeds 19

http://localhost 14
http://www.ljj-kesehatan.kemkes.go.id 5

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. KONSEP DASAR KEBIDANAN Modul 2 “ Perkembangan Pelayanan, Pendidikan dan Organisasi Profesi Bidan” Penulis : Emy Suryani, M.Mid PENDIDIKAN JARAK JAUH PENDIDIKAN TINGGI KESEHATAN Pusdiklatnakes, Badan PPSDM Kesehatan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia 2013 Hak cipta © Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
  • 2. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 2 Daftar Isi Cover Daftar isi Modul Daftar istilah Pendahuluan Kegiatan Belajar I (Perkembangan Pelayanan dan Pen- didikan Bidan di luar negeri dan di dalam negeri) Kegiatan Belajar II (Perkembangan Organisasi Profesi Bidan di luar negeri dan di dalam negeri) Test Akhir 1 2 3 7 32 44
  • 3. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 3 Daftar Istilah ACNM : American college of Nurse – Midwives KTB : Kursus Tambahan Bidan NARM : Nort American Registry Midwife NZCOM : New Zealand College of Midwives PBB : Program Pendidikan Bidan SGP : Sekolah Guru Perawat SPK : Sekolah Perawat Kesehatan SPR : Sekolah Pengatur Rawat
  • 4. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 4 Pendahuluan A. Rasional dan Diskripsi Singkat Salam hangat, dan selamat berjumpa di Modul 2 Mata Kuliah Konsep Ke- bidanan. Tahukah Anda ? Bahwa profesi bidan merupakan salah satu profesi yang sudah lama diakui di dunia global, se- jak seorang perempuan melahirkan anaknya di dunia, profesi ini juga ter- lahir ke dunia, sehingga dari masa ke masa profesi ini tumbuh dan berkem- bang seiring dengan perkembangan tuntutan masyarakat terhadap pelay- anan kebidanan. Perkembangan pe- layanan kebidanan menuntut adanya perkembangan pula dalam pendidi- kan bidan dan hal ini tentu saja terjadi pula pada organisasi profesinya baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Pada Modul 2, pada bagian awal Anda akan memahami tentang perkem- bangan pelayanan bidan dilanjutkan dengan perkembangan pendidikan bidan dan pada bagian akhir Anda akan mengikuti Perkembangan Organ- isasi Profesi Bidan. Modul ini dikemas dalam dua kegiatan belajar, yang disusun dengan urutan sebagai berikut: a. Kegiatan Belajar 1: Perkembangan Pelayanan dan Pendidikan Bidan di dalam dan di luar negeri. b. Kegiatan Belajar2: Perkembangan Organisasi Profesi Bidan di dalam dan di luar negeri Setelah mempelajari Modul 2 ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan perkembangan pelayanan, pendidikan dan organisasi profesi bidan baik di dalam maupun di luar negeri. B. Relevansi Anda tentunya akan sependapat den- gan pepatah “Kalau tak kenal maka tak sayang“. Maka sesuai dengan pepatah tersebut, untuk menjadi bidan yang profesional kita harus mengenal dan mengetahui lebih dalam sejarah perkembangan organisasi profesi, pelayanan dan pendidikan bidan agar dapat terinternalisasi sehingga men- jadi bidan yang handal dan tangguh. Perkembangan pelayanan, pendidikan
  • 5. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 5 dan organisasi profesi bidan terjadi karena perubahan situasi dan kondisi baik yang terjadi, baik di luar negeri maupun perubahan yang terjadi di dalam negeri termasuk kebijakan du- nia di bidang kesehatan maupun kebi- jakan bidang kesehatan di Indonesia. Baiklah...mari kita ikuti sejarahnya dan selamat mengikuti perkembangan profesi, pelayanan dan pendidikan bidan baik di dalam negeri maupun di dalam negeri. C. Petunjuk Belajar Untuk memudahkan Anda mengikuti proses pembelajaran dalam modul 2 ini, maka ikutilah langkah-langkah belajar sebagai berikut: 1. Baca dengan seksama materi yang disampaikan dalam modul 2. Kerjakan latihan-latihan / tugas- tugas terkait dengan materi yang dibahas dan diskusikan dengan fasilitator / tutor pada saat keg- iatan tatap muka. 3. Buat ringkasan dari materi yang dibahas untuk memudahkan Anda mengingat. 4. Kerjakan evaluasi proses pembe- lajaran untuk setiap materi yang dibahas dan cocokkan jawaban Anda dengan kunci yang dise- diakan pada akhir setiap modul. 5. Jika anda mengalami kesulitan diskusikan dengan teman Anda dan konsultasikan kepada fasili- tator 6. Keberhasilan proses pembela- jaran Anda dalam mempelajari materi dalam modul ini tergan- tung dari kesungguhan Anda dalam mengerjakan latihan. Un- tuk itu belajarlah dan berlatih se- cara mandiri atau berkelompok dengan teman sejawat Anda. 7. Kalau Anda ingin mendalami materi lebih jauh lagi, akseslah materi dari internet dan bacalah buku-buku acuan pustaka yang dianjurkan. Semoga Anda dapat mengikuti kes- eluruhan kegiatan belajar dalam modul ini dengan baik. Kami yakin Anda mampu menyelesaikan modul ini dengan baik. SELAMAT BELAJAR ! D. Petunjuk Bagi Dosen Pengajar / Fasilitator 1. Pahami capaian pembelajaran dalam modul 2 ini. 2. Motivasi peserta didik untuk membaca dengan seksama materi yang disampaikan dan berikan penjelasan untuk hal- hal yang dianggap sulit. 3. Motivasi peserta didik untuk mengerjakan latihan-latihan / tugas-tugas terkait dengan materi yang dibahas. 4. Identifikasi kesulitan peserta
  • 6. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 6 didik dalam mempelajari modul terutama materi-materi yang dianggap penting. 5. Jika peserta didik mengalami kesulitan, mintalah peserta didik mendiskusikan dalam kelompok atau kelas dan beri- kan kesimpulan. 6. Motivasi peserta didik untuk mengerjakan evaluasi proses pembelajaran untuk setiap ma- teri yang dibahas dan mendis- kusikannya dengan teman sejawat. 7. Bersama peserta didik lakukan penilaian terhadap kemam- puan yang dicapai peserta didik.
  • 7. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 7 Perkembangan Pelayanan dan Pendidikan Bidan Kegiatan Belajar I 1. Menjelaskan Perkembangan pelayanan dan pendidikan bidan di luar negeri 2. Menjelaskan Perkembangan pelayanan dan pendidikan bidan di dalam negeri TUJUANPembelajaran Khusus Setelah menyelesaikan kegiatan belajar 1 di- harapkan Anda bisa menjelaskan perkem- bangan profesi bidan. TUJUANPembelajaran Umum 1. Perkembangan pelayanan dan pendidikan bidan di luar negeri 2. Perkembangan pelayanan dan pendidikan bidan di dalam negeri POKOKMateri
  • 8. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 8 Uraian Materi 1. Perkembangan Pelayanan dan Pendidikan Bidan di Luar Negeri Salam hangat untuk Anda, tahukah Anda bahwa pelayanan bidan sudah di- catat pada saat zamannya raja Fir’aun, dimana pada saat itu semua bayi yang lahir dengan jenis kelamin laki-laki harus dibunuh. Pada zaman tersebut dua orang perempuan bernama Sifra dan Poah dikenal sebagai pendamp- ing atau penolong perempuan-perem- puan yang sedang melahirkan, Sifra dan Poah membantu seorang perem- puan yang sedang bersalin dan meny- elamatkan bayi yang dilahirkan dengan jenis kelamin laki-laki dengan meny- embunyikannya supaya tidak dibunuh. Selain mendampingi dan membantu persalinan, Sifra dan Poah juga mem- berikan perlindungan untuk bayi yang baru saja dilahirkan, hal ini menunjuk- kan bahwa Sifra dan Poah tidak hanya membantu menolong persalinan saja tetapi juga merawat bayi yang baru saja dilahirkan. Memang pada jaman dahulu sesuai dengan sejarah di atas, bidan hanya memberikan pelayanan mulai dari mempersiapkan ibu hamil agar dapat melahirkan secara alamiah, lalu mem- bantu ibu dalam masa persalinan dan membantu merawat bayi yang dila- hirkan. Hal ini diperkuat dengan dite- mukannya Patung Mochica (500SM) yang menggambarkan wanita inpartu (dalam persalinan) dibantu oleh dua orang bidan. Pernyataan Socrates dan Aristoteles juga menguatkan bahwa profesi bidan ada sejak jaman dahulu. Pernyataan Socrates; “midwifery a most respective profession “, sedan- gkan Aristoteles menyatakan sebagai berikut: “she (a midwife) must have cheerfull and plesant, nature, and never be in hurry” TAO TE CHING: “should do good without show and fuss, must take the lead, ensure the mother is helped, yet still free and in charge”. SORANOS: “should be intel- ligent and literate” Pada abad 14 bidan dikatakan seb- agai “penyihir”, berpraktek dengan jampi-jampi, dan kekuatan supranatu- ral (lacking the knowledge and skills for midwifery). Sedangkan pada tahun 1970-an sampai 1980-an persalinan lebih banyak dilakukan di rumah sakit bila dibandingkan dengan persalinan di rumah (home birth) dengan alasan keamanan dan kelengkapan fasilitas, namun demikian mulai tahun 1993 ter- jadi perubahan dimana lebih ke natu- ral childbirth. Maksudnya persalinan merupakan sesuatu yang alamiah dan normal sehingga apabila tidak terjadi penyulit maka pertolongan persali- nan tidak perlu intervensi medis dan memilih persalinan di rumah (home
  • 9. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 9 birth) dengan pendekatan WOMEN CENTRED CARE, CONTROL, CHOICE AND CONTINUITY. Maksudnya perempuan yang menjadi klien bidan dijadikan sebagai partner, bukan se- bagai obyek asuhan (WOMEN CEN- TRED CARE) sehingga segala sesuatu tentang kondisi klien dan asuhan kebi- danan yang akan diterima oleh perem- puan atau klien sudah dibicarakan ber- sama atau didiskusikan. Klien diberikan alternatif pilihan dengan keuntungan dan kerugiannya dan klien akan me- mutuskan mana yang akan dipilihnya (CHOICE). Sebagai contoh mengenai posisi persalinan, setelah klien diberikan penjelasan tentang seberbagai macam posisi persalinan dengan keuntun- gan serta kerugiannya, klienlah yang akan memilih mana yang lebih nya- man dan cocok untuk dirinya. Selanjut- nya bidanlah yang akan memberikan asuhan dan memonitor (CONTROL). Asuhan kebidanan dilakukan secara berkesinambungan sejak masa hamil, bersalin dan nifas (CONTINUITY). Selanjutnya, pada tahun 1994 den- gan adanya International Conference Population and Development (ICPD) di Kairo Mesir, terjadilah pengembangan pelayanan bidan yaitu Safemotherhood (program penyelamatan selama masa reproduksi), Family Planning (Keluarga Berencana), Penyakit Menular Sexual termasuk infeksi saluran .reproduksi, kesehatan reproduksi remaja dan ke- sehatan reproduksi lanjut usia (lansia). Saat ini dengan adanya Millenium De- velopment Goals (MDG’s) pelayanan kebidanan lebih difokuskan untuk mencapai MDG’s pada tahun 2015. Seperti kita ketahui bahwa Millenium Development Goals (MDG’s) merupak- an kesepakatan dari mayoritas kepala negara yang ada di dunia ini untuk mencapai delapan tujuan yaitu: 1. Eradicate extreme poverty dan hun- ger, 2. Achieve universal primary edu- cation, 3. Promote gender equality and empower women, 4. Reduce child mor- tality, 5. Improve maternal health, 6. Combat HIV/AIDS, malaria and other diseases, 7. Ensure enviromental sus- tainability, 8. Develop a global partner- ship for development. Khusus untuk pelayanan kebidanan lebih difokuskan pada tujuan nomor 4 dan 5 yaitu Reduce child mortality, Improve maternal health (penurunan angka kematian anak dan peningkatan derajad kesehatan ibu). Menurut Anda, mengapa pelayanan ke- bidanan difokuskan pada tujuan MDG’s no 4 dan 5 ? Pelayanan Kebidanan difokuskan pada tujuan MDG’s no 4 dan 5, karena tujuan no 4 dan 5 berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi bidan. Berikut ini Anda akan mengikuti perkembangan pelayanan dan pendidi- kan bidan di beberapa negara
  • 10. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 10 a. Spanyol Spanyol merupakan salah satu negara Eropa yang telah lama mengenal profesi bidan. Diceritakan bahwa dalam abad pertengahan, salah satu rajanya (Phillip ke II) ditolong oleh bidanan pada waktu lahir. Pada tahun 1752 dibuat persyaratan bahwa bidan harus lulus ujian, dimana materi ujiannya adalah dari sebuah buku kebidanan berjudul : ”A short Treatise on the art of midwifery”. Pendidikan bidan di i b u k o t a m a d r i d d i m u l a i pada tahun 1789. Bidan dipersiapkan untuk bekerja secara mandiri di masyarakat, terutama di kalangan keluarga petani dan buruh tingkat menengah ke bawah. Bidan tidak boleh memberi obat-obatan dan melakukan tindakan yang menggunakan alat-alat kedokteran/ instrumen. Akan tetapi bidan diperbolehkan untuk menolong pada kelahiran sungsang, gemelli, lahir premature dan melakukan versi luar maupun pengeluaran plasenta secara manual. Pada tahun 1924 sebuah rumah sakit Santa Christina mulai menerima ibu-ibu yang hendak bersalin. Untuk itu dibutuhkan tenaga bidan lebih banyak. Pada tahun 1932 pendidikan bidan disini secara resmi menjadi school of midwives. b. Belanda Negeri Belanda juga merupakan salah satu negara Eropa yang teguh berpendapat bahwa pendidikan bidan harus dilakukan secara terpisah dari pendidikan perawat. Disiplin dua ilmu ini memerlukan sikap dan ketrampilan yang berbeda. Perawat pada umumnya bekerja dalam hirarki rumah sakit di bawah pengawasan dokter, sedangkan bidan diharapkan untuk dapat bekerja secara mandiri di tengah masyarakat. Akademi pendidikan bidan yang pertama dibuka pada tahun 1861 di rumah sakit Universitas Amsterdam. Akademi kedua dibuka pada tahun 1882 di Rotterdam dan yang ketiga pada tahun 1913 di Heerlen. Pada awalnya pendidikan bidan adalah 2 tahun, kemudian menjadi 3 tahun dan kini 4 tahun (1994). Pendidikannya adalah direct-entry dengan dasar lulusan SLTA 13 tahun. Tugas pokok bidan di Belanda adalah menangani ibu dalam keadaan normal saja, sedangkan untuk ibu dalam keadaan yang abnormal dirujuk ke dokter ahli kebidanan. Dokter umum disini tidak menangani kasus kebidanan, Salahsatubidandi Spanyol
  • 11. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 11 sesuai dengan ketentuan dan peraturan pemerintahnya tahun 1970. Berikutnya kita akan menuju ke negara Denmark, mari kita lihat perkembangan pelayanan pendidikan di Denmark ! c. Denmark Denmark juga merupakan negara Eropa lainnya yang berpendapat bahwa bidan merupakan profesi tersendiri. Pendidikan bidan disini dimulai pada tahun 1787 dan pada tahun 1987 yang lalu merayakan berdirinya 200 tahun sekolah bidan. Kini ada dua pendidikan bidan di Denmark. Satu sekolah ada di ibukota Copenhagen dan satu lagi ada di Aalborg, Jutland. Setiap tahun diterima 40 siswa dengan lama pendidikan 3 tahun, direct-entry. Bagi mereka yang sudah perawat, pendidikan bidan adalah 2 tahun. Hal ini mulai menimbulkan berbagai kontrovesi di kalangan bidan sendiri, apakah tidak sebaiknya pendidikan bidan didasarkan atas pendidikan perawat? Tetapi sebagian besar tetap berpendapat tidak. Ada pendidikan post-graduate bagi bidan selama 9 bulan, dalam bidang pendidikan (teaching) atau pengelola (administration). Pada tahun 1973 telah disusun rangkaian pedoman bagi bidan, yang mengelompokkan klien dalam berbagai resiko tinggi (high risk), namun pada kenyataannya sering tidak jelas atau kurang jelas, sehingga diusulkan untuk menga- dakan revisi terhadap pedoman tersebut. Pada tahun 1980 pedoman baru dikeluarkan, yang isinya sama sekali tidak lagi menyinggung ke- lompok resiko. Yang tercantum dalam kata pengantar tentang masa kehamilan adalah sebagai berikut : ”The perinatal period is a normal period of a family’s life. The woman, her family and close friends should be central. The midwife, doctors and any other staff are there only to sup- port the woman, her family”. Penekanan pelayanannya adalah pada kesehatan dan “non-invasive care”. d. Kanada Selanjutnya kita akan menuju Kanada, seperti yang Anda ketahui, Kanada merupakan negara yang SalahuniversitasdiAalborgyang menyediakanjurusankebidanan
  • 12. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 12 sudah maju dan bertetangga dengan USA, akan tetapi pendidikan bidan merupakan suatu hal yang sulit untuk dilaksanakan. Tenaga bidan yang ada disini pada umumnya datang dari luar Kanada atau lulusan dari negara di luar Kanada. Mereka bekerja sebagai perawat dan pelayanan kebidanannya disebut maternity nursing. Hal ini dilakukan demikian, karena di Kanada tidak ada peraturan atau izin praktek bidan. Baru pada tahun 1991 keberadaan bidan atau midwife secara resmi diakui di Kanada. Ontario adalah provinsi pertama di Kanada yang menerbitkan peraturan tentang kebidanan setelah sejarah panjang tentang kebidanan yang illegal dan berakibat pada meningkatnya praktik bidan yang tidak berijin. Seperti Selandia Baru wanitalah yang menginginkan perubahan, mereka berbicara tentang pilihan asuhan dan keputusan yang mereka buat. Di Ontario untuk pendidikan bidan dimulai dari university based direct entry dan lamanya pendidikan 3 tahun. Mereka yang telah mempunyai ijazah bidan sebelumnya diberi kesempatan untuk mengikuti semacam penyesuaian selama 1 tahun, sesudah itu diadakan registrasi dan mendapat ijin praktek bidan. Model Kebidanan yang dipakai di Ontario berdasarkan pada definisi ICM tentang bidan yaitu seorang tenaga yang mempunyai otonomi dalam lingkup persalinan yang normal. Bidan memiliki akses ke- pada rumah sakit maternitas dan wanita mempunyai pilihan atas persalinan di rumah atau di rumah sakit. Selandia Baru dan Kanada sama-sama menerapkan model partnership dalam asuhan kebi- danan. Beberapa aspek di dalam- nya antara lain : hubungan dengan wanita, asuhan berkelanjutan, in- formed choice and consent, praktik bidan yang memiliki otonomi dan fokus pada normalitas kehamilan dan persalinan. Dalam membangun dunia profesi kebidanan yang baru. Selandia Baru dan Kanada membuat satu sistem baru dalam mempersiap- kan bidan-bidan untuk registrasi. Keduanya memulai dengan satu keputusan bahwa bidanlah yang Onatrio,Kanada
  • 13. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 13 dibutuhkan dalam perawatan ma- ternitas. Ruang Lingkup praktik bi- dan di kedua negara tersebut tidak keluar dari jalur yang telah ditetap- kan ICM, yaitu bidan bekerja den- gan otonomi penuh dalam lingkup persalinan normal atau pelayanan maternitas primer. Bidan bekerja dan berkonsultasi dengan ahli ob- stetric bila terjadi komplikasi dan ibu serta bayi memerlukan ban- tuan dari pelayanan maternitas sekunder. Bidan di kedua negara tersebut mempunyai akses fasilitas rumah sakit tanpa harus bekerja di rumah sakit. Mereka bekerja di rumah atau di rumah sakit mater- nitas. Selandia Baru dan Kanada mener- apkan program direct entry selama 3 tahun dalam pendidikan bidan. Sebelumnya, di Selandia Baru ada perawat Kebidanan dimana per- awat dapat menambah pendidi- kannya untuk menjadi seorang bidan, sedangkan di Kanada tidak ada. Bagaimanapun, kedua neg- ara tersebut yakin bahwa untuk mempersiapkan bidan dapat yang dapat bekerja secara otonomi dan dapat memberikan dukungan ke- pada wanita untuk mengontrol persalinannya sendiri. Penting untuk mendidik wanita yang se- belumnya belum pernah berkec- impung dalam sistem kesehatan yang menempatkan kekuatan dan kontrol medis. Karena itu, program direct entry lebih diutamakan. Kedua negara tersebut meng- gunakan dua model pendidikan yaitu pembelajaran teori dan ma- gang. Pembelajaran teori di kelas di fokuskan pada teori dasar yang akan melahirkan bidan –bidan yang dapat mengartikulasikan filosofi- nya sendiri dalam praktik, meman- faatkan penelitian dalam praktik mereka, dan berfikir kritis tentang praktik. Dilengkapi dengan bela- jar magang, dimana mahasiswa bekerja dengan bimbingan dan pengawasan bidan yang berprak- tik dalam waktu yang cukup lama. Bidan tersebut akan menjadi role- model yang penting untuk proses pembelajaran. Satu mahasiswa akan bekerja dengan satu bidan, sehingga mereka tidak dikacaukan dengan bermacam-macam mod- el praktik. Mahasiswa bidan juga akan mulai belajar tentang model partnership. Model ini terdiri dari : partnership antara wanita dan ma- hasiswa bidan; partnership antara program kebidanan dengan pro- fesi kebidanan, serta program ke- bidanan dengan wanita. Dari sini dapat kita lihat bahwa model pendidikan kebidanan yang digunakan oleh Selandia Baru dan Kanada saling terkait satu sama lain sebagai bagian dari pelayan
  • 14. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 14 maternitas. Setiap bagian dari lingkungan tersebut memiliki ber- macam-macam partnership yang saling terintegrasi. Partnership menjaga agar program pendidikan tetap pada tujuan utamanya, yaitu mencetak bidan-bidan yang dapat bekerja secara otonom sebagai pemberi asuhan maternitas primer. Selandia Baru dan Kanada telah sukses dalam menghidupkan kem- bali status bidan dan status wani- ta. Kesesuaian antara pendidikan bidan dan ruang lingkup praktik kebidanan adalah bagian penting dari sukses tersebut. e. Inggris Berikutnya Anda akan melihat bagaimana sistem pendidikan bidan di Inggris. Inggris merupakan negara yang pendidikan bidannya dan praktek kebidanannya sudah mantap, terdapat dua jalur pendidikan bidan yaitu dari perawat atau langsung bidan (seperti Belanda). Buku tentang praktek kebidanan diterbitkan pada tahun 1902 di Inggris dan didesain untuk melindungi masyarakat dan praktisi yang tidak mempunyai kualifikasi. Pada saat itu sebagian besar bidan, buta huruf, bekerja sendiri, menerima bayaran untuk pelayanan yang mereka berikan kepada klien. Meskipun proporsi dari praktek bidan yang mempunyai kualifikasi meningkat dari 30% pada tahun 1905 menjadi 74% di tahun 1915, banyak wanita yang lebih menyukai dukun. Hal ini karena biaya dukun lebih murah, mengikuit tradisi lokal dan memberikan dukungan domestik. Selama tahun 1920-an 50-60 % wanitahanyaditolongolehseorang bidan dalam persalinannya, tetapi dalam keaadaan gawat darurat bidan harus memanggil dokter. Pelayanan dipusatkan pada persalinan dan nifas dan pelayanan antenatal mulai dipromosikan pada tahun 1935. Bidan mandiri terancam oleh klinik lokal dan peningkatan persalinan di rumah sakit. Pada tahun 1930 perawat juga terdaftar memasuki kebidanan karena dari tahun 1916 mereka dapat megikuti kursus pendek kebidanan daripada wanita tanpa kualifiaksi sebagai perawat. Hal ini megakibatkan penurunan status dan kekuatan bidan, karena perawat disosialisasikan utnuk menangani keadaan patologis dari pada keadaan fisiologis. Meskipun direct entry di buka kembali pada awal tahun 1990 semua kursus kebidanan saat ini cenderung untuk dibatasi disekitar kualifikasi perawatan.
  • 15. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 15 Selama tahun 1980, Bidan di Inggris mulai berusaha mendapatkan otonomi yang lebih dan meningkatkan sistem melalui penelitian tentang altenatif pola perawatan. Dengan perkembangan persalinan alternatif, bidan mulai mengembangkan praktek secara mandiri. f. Amerika Marilah... selanjutnya kita tengok sejarah bidan di Amerika. Pada sekitar tahun 1700, para ahli sejarah memperhitungkan bahwa angka kematian ibu di AS adalah sebanyak 95%. Wanita menjalani persalinan tidak dengan rasa bahagia, tetapi dengan perasaan takut pada kematian meskipun beberapa diantara mereka sudah ditolong oleh dokter. Salah satu alasan kenapa dokter banyak terlibat persalinan adalah untuk mengikis praktek sihir yang masih ada saat itu. Wanita mulai melihat masalah-masalah dalam persalinan sebagaisesuatuyangalami,dimana dokter memegang kendali. Dokter banyak memberikan obat -obatan tetapi tidak mengindahkan aspek spiritual. Tahun 1765 pendidikan formal untuk bidan mulai dibuka. Filosofi bahwa kelahiran bayi adalah sesuatu hal yang normal dan tidak dapat dipisahkan oleh kodrat wanita mulai dibangun oleh bidan. Pada akhir abad ke 18 banyak kalangan medis yang berpendapat bahwa secara emosi dan intelektual wanita tidak dapat belajar dan menerapkan metode obstetrik. Pendapat ini digunakan untuk memfitnah bidan, sehingga bidan tidakmempunyaipendukung,tidak mempunyai banyak uang, tidak terorgansisir, dan tidak melihat diri mereka sebagai seorang yang professional. Sejak awal 1900 setengah persalinan di AS ditangani oleh dokter, bidan hanya menangani persalinan wanita yang tidak mampu membayar dokter. Tahun 1915 dokter Joseph de Lee menyatakan bahwa kelahiran bayi adalah proses patologis dan bidan tidak mempunyai peran di dalamnya. Ia memberlakukan prosedur tetap pertolongan persalinan di AS yaitu : memberikan sedatif pada awal inpartu, membiarkan serviks berdilatasi, memberikan ether pada kala II, melakukan episiotomi, melahirkan bayi dengan forsep, ekstraksi plasenta, memberikan uterotonika serta menjahit episiotomi. Akibat prosedur tetap tersebut kematian ibu mencapai angka 600-700 kematian per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1900-1930, dan sebanyak 30-50 % wanita melahirkan di
  • 16. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 16 rumah sakit. Tahun 1940 dokter Grantly Dick meluncurkan buku tentang persalinan alamiah. Hal ini membuat para spesialis obstetris berusaha meningkatkan peran tenaga di luar medis, termasuk bidan. Tahun 1955 American College of Nurse- Midwives (ACNM) dibuka pada tahun 1971 dan seorang bidan di Tenesse mulai menolong persalinan secara mandiri di sebuah institusikesehatan.Padatahun1979 badan pengawasan obat Amerika menyatakan bahwa ibu bersalin yang menerima anastesi dalam dosis tinggi telah melahirkan anak- anak yang mengalami kemunduran perkembangan psikomotor. Hal ini membuat masyarakat tertarik pada proses persalinan alamiah, persalinan di rumah, dan memicu peran bidan. Pada era 1980-an ACNM membuat pedoman alternatif lain dalam pelayanan persalinan dan mengubahpernyataanyangnegatif tentang home birth. Pada tahun 1980-an, dibuat legalisasi tentang praktek profesional bidan. Hasil ini membuat bidan menjadi sebuah profesi dengan lahan praktek yang spesifik dan membutuhkan organisasi yang mengatur profesi tersebut. Hambatan–hambatan yang dirasakan oleh bidan –bidan di Amerika Serikat saat ini antara lain : a. Walaupun ada banyak undang-undang baru, direct entry midwives masih dianggap illegal di beberapa negara bagian b. Lisensi praktek berbeda di tiap negara bagian tidak ada standar nasional. Sehingga tidak ada definisi yang jelas tentang bidan sebagai seorang yang telah terdidik dan memiliki standar kompetensi yang sama. c. Sedikit sekali data yang akurat tentang direct entry midwives dan jumlah data tentang banyaknya persalinan yang mereka tangani. d. Kritiktajamdariprofesimedis kepada direct entry midwives ditambah dengan isolasi dari system pelayanan kesehatan pokok telah mempersulit AmericanCollegeofNurse-Midwives(ACNM)
  • 17. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 17 sebagian besar dari mereka untuk memperoleh dukungan medis yang adekuat bila terjadi keadaan gawat darurat. g. Australia Kebidanan dan keperawatan di Aus- tralia dimulai dengan tradisi dan lati- han yang dipelopori oleh Florence Nightingale pada abad ke 19. Pada tahun 1824 kebidanan masih belum dikenal sebagai bagian dari pendi- dikan medis di Inggris dan Australia. Kebidanan lebih banyak didominasi oleh dokter. Namun demikian, seba- gian besar wanita yang melahirkan tidak dirawat dengan selayaknya oleh masyarakat. Ketidakseimban- gan seksual dan moral di Australia telah membuat prostitusi berkem- bang dengan cepat. Hal ini menye- babkan penduduk wanita banyak yang hamil dan jarang dari mereka yang memperoleh pelayanan dari bidan maupun dokter karena status sosial mereka. Pendidikan Bidan yang pertama kali di Australia dimulai pada tahun 1862. Lulusan pada waktu itu telah dibekali dengan pengetahuan teori dan praktek. Pendidikan diploma kebidanan di mulai pada tahun 1893 dan mulai tahun 1899 hanya bidan yang sekaligus perawat yang telah terlatih yang boleh bekerja di rumah sakit. Pada tahun 1913 sebanyak 30% per- salinan ditolong oleh bidan. Meski- pun ada peningkatan jumlah dokter yang menangani persalinan antara tahun 1900 sampai 1940 tidak ada penurunan yang berarti pada angka kematian ibu. Bidan terus disalahkan atas hal itu. Kenyataannya, wanita kelas menengah ke atas yang ditan- gani oleh dokter dalam persalinan- nya, mempunyai resiko infeksi yang lebih besar daripada wanita miskin yang ditangani oleh bidan. Kebidanan di Australia telah men- galami perkembangan yang pesat sejak 10 tahun terakhir. Dasar pen- didikan telah berubah dari tradi- tional hospital based programme menjadi tertiary course of studies untuk menyesuaikan kebutuhan pe- layanan dari masyarakat. Tidak se- mua institusi pendidikan kebidanan di Australia yang telah melaksana- kan perubahan ini, beberapa masih menggunakan program pendidikan yang berorientasi pada rumah sakit. Kurikulum pendidikan disusun oleh staf akademik berdasarkan pada ke- ahlian dan pengalaman mereka di lapangan kebidanan. Kekurangan yang dapat dilihat dari pendidikan kebidanan di Australia hampir sama dengan pelaksanaan pendidikan bidan di Indonesia. Be- lum ada persamaan persepsi men- genai pengimplementasian kuri-
  • 18. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 18 kulum di masing-masing institusi, sehingga lulusan bidan mempun- yai kompetensi klinik yang berbeda tergantung pada institusi pendidi- kannya. Hal ini ditambah dengan kurangnya kebijaksanaan formal dan tidak adanya standar nasional. Menurut national review of nurse education 1994, tidak ada direct en- try untuk pendidikan bidan di Aus- tralia. Mahasiswa kebidanan harus menjadi perawat dahulu sebelum mengikuti pendidikan bidan, sebab di Australia kebidanan masih men- jadi sub-spesialisasi dalam keper- awatan (maternal and child health). Didalamnya termasuk pendidikan tentang keluarga berencana, kes- ehatan wanita, perawatan ginekolo- gi, perawatan anak, kesehatan anak dan keluarga serta kesehatan neo- natus dan remaja. Adanya peraturan ini semakin mempersempit peran dan ruang kerja bidan. Literatur yang tersedia bagi ma- hasiswa kebidanan masih kurang. Kurikulum yang ada sekarang ini dirasakan hanya sesuai untuk ma- hasiswa pemula saja atau interme- diate, sehingga kadang-kadang mahasiswa yang sudah terlatih di keperawatan kebidanan diberikan porsi yang sama seperti pemula atau sebaliknya. Mahasiswa yang sebelumnya telah mendapat pendi- dikan kebidanan keperawatan akan membawa konsep “sakit”. Transisi dari “sakit “ ke filosofi “sehat” dalam kebidanan sedikit banyak akan me- nyulitkan mahasiswa. h. New Zeland (Selandia Baru) Selandia baru telah mempunyai peraturan mengenai praktisi kebidanan sejak 1904, tetapi lebih dari 100 tahun yang lalu, lingkup praktik bidan telah berubah secara berarti sebagai akibat dari meningkatnya hospitalisasi dan medikalisasi dalam persalinan. Dari tenaga yang bekerja dengan otonomi penuh dalam persalinan normal diawal tahun 1900 secara perlahan bidan menjadi asisten dokter. Dari bekerja di masyarakat, bidan sebagian besar mulai bekerja di rumah sakit pada area tertentu, seperti : klinik antenatal, ruang bersalin, dan ruang nifas. Kehamilan dan persalinan menjadi terpisah. Dalam hal ini bidan kehilangan pandangannya bahwa persalinan adalah kejadian normal dalam kehidupan dan peran mereka sebagai pendamping kejadian tersebut. Disamping itu bidan menjadi ahli dalam memberikan intervensi dan asuhan maternitas yang penuh dengan pengaruh medis. Di Selandia Baru, para wanitalah yang berusaha melawan model asuhan persalinan tersebut, dan menginginkan kembalinya bidan
  • 19. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 19 ‘tradisional” yaitu seseorang yang berada di samping mereka dalam melalui kehamilan sampai dengan 6 minggu setelah persalinan. Mereka menginginkan bidan yang percaya pada kemampuannya untuk menolong kelahiran tanpa intervensi medis , dan memberikan dukungan bahwa persalinan adalah proses yang normal. Wanita-wanita di Selandia Baru ingin mengembalikan kontrol dalam persalinan mereka dan menempatkan diri mereka sebagai pusat kejadian tersebut, bukan objek dari medikalisasi. Pada era 80-an, bidan bekerja sama dengan wanita untuk menegaskan kembaliotonomibidandanbersama- sama sebagai rekanan, mereka telah membawa kebijakan politik yang diperkuat dengan legalisasi tentang profesionalisasi praktik kebidanan. Sebagian besar bidan di Selandia Baru mulai memilih untuk bekerja secara independen dengan tanggung jawab penuh kepada klien dengan asuhannya dalam lingkup yang normal. Lebih dari 10 tahun yang lalu pelayanan maternitas telah berubah secara dramatis. Saat ini 86% wanita mendapatkan pelayanan dari bidan selama kehamilan sampai nifas dan asuhan berkelanjutan yang hanya dapat dilaksanakan pada persalinan di rumah. Sekarang disamping dokter, 63% wanita memilih bidan sebagai satu-satunya perawat maternitas dan hal ini terus meningkat. Ada suatu keinginan dari para wanita agar dirinya menajdi pusat dari pelayanan maternitas. Model kebidanan yang digunakan di Selandia Baru adalah ‘partnership’ (kemitraan) antara bidan dan wanita. Bidan dengan pengetahuan, ketrampilan dan pengalamannya dan wanita dengan pengetahuan tentang kebutuhan dirinya dan keluarganya serta harapan-harapan terhadap kehamilan dan persalinan. Dasar dari model kemitraan adalah komunikasi dan negosiasi. Setelah Anda mempelajari berbagai pelayanan kebidanan di berbagai negara, apakah yang dapat Anda sim- pulkan? Apakah kelebihan dan keter- batasan pendidikan bidan di berbagai negara yang telah dikemukakan? Kita ketahui bahwa pelayanan kebidanan di berbagai negara berkembang sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyara- kat dan disesuaikan dengan sittuasi dan kondisi negara setempat.
  • 20. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 20 2. Perkembangan Pelayanan Bidan di Indonesia Baiklah..untuk selanjutkan akan Anda ikuti perkembangan pelayanan bidan di Indonesia. Seperti pelayanan bidan di berbagai belahan dunia ini, pada awalnya bi- dan hanya mempersiapkan ibu hamil agar dapat melahirkan secara alamiah, membantu ibu dalam masa persalinan dan merawat bayi, demikian pula yang terjadi di Indonesia. Namun karena le- tak geografis Indonesia yang merupak- an negara kepulauan, banyak daerah yang sulit dijangkau oleh tenaga me- dis dan banyaknya kasus resiko tinggi yang tidak dapat ditangani terutama di daerah yang jauh daripelayanan kes- ehatan, hal-hal inilah yang mendorong diberikannya wewenang kepada bidan untuk melaksanakan tindakan kegawat daruratan pada kasus-kasus dengan penyulit terbatas, misalnya manual placenta, forsep kepala letak rendah, infus dan pengobatan sederhana. Ke- wenangan bidan untuk saat ini diatur dalam Permenkes No.1464/Menkes/ PER/2010, namun sebelumnya kita lan- jutkan dulu mengikuti perkembangan pelayanan bidan. Bagaimana....? Apakah Anda masih ter- tarik mengikuti uraian berikut....? Mari kita ikuti sejarah perkembangan pelay- anan bidan selanjutnya ! Bidan di Indonesia diizinkan mem- buka praktek mandiri, seiring dengan perkembangan kesehatan masyarakat. Pelayanan dan fungsi bidan diperluas seiring dengan kebijakan pemerintah mengenai pelayanan kesehatan yang berorientasi pada masyarakat. Pelay- anan.bidan juga .diarahkan kepada individu, keluarga dan masyarakat. Se- lanjutnya pada tahun 1952 diperkenal- kan pelayanan kesehatan ibu dan anak di Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA). Pada tahun 1960 program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) menjadi program layanan bidan di seluruh Puskesmas. Selanjutnya pelayanan Keluarga Beren- cana dikembangkan secara Nasional pada tahun 1974 dan bidan diizinkan memberikan layanan Keluarga Beren- cana (KB) dengan metode sederhana, metode hormonal ( KB pil, suntik, Im- plan) dan IUD (Intra Uterine Device). Pada tahun1990 perkembangan KIA mengarah pada keselamatan keluarga dan pelayanan bidan berkaitan den- gan peningkatan peran wanita dalam mewujudkan kesehatan keluarga. Padasidangkabinettahun1992presiden Suharto mengemukakan perlunya di- didik bidan untuk men- j a d i bidan desa. A d a - Gambarpelayanan Posyandu
  • 21. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 21 pun tugas pokok bidan desa adalah pelaksana layanan KIA, khususnya lay- anan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir termasuk pembi- naan dukun bayi, KB, pembinaan Po- syandu (Pos Pelayanan Terpadu dan mengembangkan pondok bersalin. Nah,.. saudara – saudara sekalian, di atas sudah disampaikan perkembangan pelayanan bidan yang melakukan prak- tek mandiri, bidan yang bekerja di pusk- esmas dan bidan desa, selanjutnya kita pelajari bidan yang bekerja di rumah sakit ! Pelayanan bidan di rumah sakit berori- entasi pada pelayanan kesehatan indi- vidu berupa pelayanan klinik antenatal, gangguan reproduksi, senam hamil, pendidikan perinatal, kamar bersalin, kamar operasi kebidanan, ruang nifas dan ruang perinatal. Pada tahun 1994 dengan adanya ICPD, pelayanan bidan di Indonesia juga terpengaruh yaitu pelayanan bidan lebih menekankan pada kesehatan re- produksi dan memperluas area pelay- anan bidan yang meliputi Safemother- hood (program penyelamatan selama masa reproduksi), Family Planning (Keluarga Berencana), Penyakit Menu- lar Seksual (PMS) termasuk infeksi sal- uran .reproduksi, kesehatan reproduksi remaja dan kesehatan reproduksi lan- jut usia (lansia). Saat ini dengan adanya Millenium Development Goals (MDG’s) pelayanan kebidanan lebih difokus- kan untuk mencapaiMDG’s pada tahun 2015 terutama pencapaian tujuan no- mor 4 yaitu penurunan angka kematian anak dan nomor 7 yaitu peningkatan derajat kesehatan ibu. Saudara-saudara untuk melengkapi pengetahuan Anda tentang perkemban- gan pelayanan Bidan, Anda perlu men- getahui produk peraturan-peraturan pemerintah yang mengatur tentang tu- gas, fungsi dan wewenang bidan. Berikut ini adalah Peraturan-peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) yang mengatur tentang tugas, fungsi dan wewenang bidan: • Permenkes No.5380/IX/1963: wewenang bidan terbatas pada pertolongan persalinan normal secara mandiri dan didampingi oleh tugas lain. • Permenkes No.363/IX/1980 diubah menjadi Permenkes 623/1989: Pembagian we- wenang bidan menjadi we- wenang umum dan khusus. Dalam wewenang khusus bidan melaksanakan tugas dibawah pengawasan dokter. • Permenkes No.572/VI/1996: mengatur registrasi dan prak- tek bidan. Bidan dalam melak- sanakan prakteknya diberi ke- wenangan yang mandiri yaitu mencakup: KIA, KB dan kese- hatan masyarakat.
  • 22. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 22 • Kepmenkes No.900/VII/2002 tentang registrasi dan praktek bidan, penyempurnaan dari Permenkes 572/VI/1996 sehu- bungan dengan berlakunya UU no 32 tahun 1999 tentang oto- nomi daerah. • Permenkes No.1464/Menkes/ PER/2010 tentang izin dan pe- nyelenggaraan praktek bidan yang merupakan penyem- purnaan dari Permenkes No. HK.02.02/Menkes/149/I/2010. Pada saat ini pelayanan bidan di In- donesia mengacu pada Permenkes No.1464/Menkes/PER/2010 pasal 9 yaitu: Bidan dalam menjalankan praktik, berwenang untuk memberikan pelay- anan yang meliputi: pelayanan kese- hatan ibu, pelayanan kesehatan anak, dan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana. Dalam melaksanakan tugas, bidan melakukan kolaborasi, konsultasi, dan rujukan sesuai kondisi pasien. Selanjutnya Anda akan mempelajari pasang surutnya pendidikan bidan di Indonesia. Mari...kita ikuti uraian selan- jutnya! Bersamaan dengan dikembangkannya pendidikan dokter Indonesia pertama (Dokter Jawa), maka pada tahun 1851 Dr. Willem Bosch, seorangdokter militer Belanda membuka pendidikan bidan bagi wanita pribumi di Batavia. Akan tetapi pendidikan ini hanya berlang- sung singkat dan ditutup dua tahun kemudian, karena kurangnya calon/ peminat. T e t a p i p a d a t a h u n 1 8 9 1 d i a d a - kan per- s i a p a n u n t u k dibuka kembali dan baru pada tahun 1902 dilaksanakan lagi pendidikan bi- dan untuk wanita pribumi. Tahun 1904 dibuka pendidikan bidan untuk wanita turunan belanda-Indo di salah satu rumah sakit swasta di Makassar. Bidan yang lulus harus mau ditempat- kan dimana saja tenaganya dibutuh- kan dan mau menolong masyarakat yang tidak atau kurang mampu secara cuma-cuma. Lulusan ini mendapat tunjangan dari pemerintah kurang leb- ih 15-25 Gulden per bulan. Kemudian dinaikkan menjadi 40 gulden per bulan (tahun 1922). Tahun 1911/1912 dimulai pendidikan tenaga keperawatan secara terencana di CBZ ( R S U P ) Semarang dan Bata- via. Calon d i t e r i m a Dr.WillemBoschCBZSemarang
  • 23. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 23 dari HIS (SD 7 tahun) dengan pendi- dikan keperawatan 4 tahun dan pada awalnya hanya menerima peserta didik pria. Dalam tahun 1914 telah diterima juga peserta didik wanita pertama dan bagi perawat wanita yang lulus dapat meneruskan ke pendidikan kebidanan selama 2 tahun. Untuk perawat pria dapat meneruskan pendidikan kepera- watan lanjutan selama 2 tahun jiga. Pada tahun 1935/1938 pemerintah Be- landa mulai mendidik bidan lulusan Mulo (SMP bagian B), dan hampir ber- samaan dibuka sekolah bidan di bebe- rapa kota besar antara lain di RS Ber- salin Budi kemuliaan, RSB Padang Dua di Jakarta dan RSB Mardi Waluyo Se- marang. Pada tahun yang bersamaan dikeluarkan sebuah peraturan yang membedakan lulusan bidan dengan latar belakang pendidikan. Bidan den- gan dasar pendidikan Mulo dan kebi- danan 3 tahun disebut bidan kelas satu (Vroedvrouw cerste Klas) dan Bidan dari lulusan perawat (mantri) disebut bidan kelas dua (vroedvrouw tweede klas). Perbedaan ini menyangkut ke- tentuan gaji pokok dan tunjangan bagi bidan. Pada jaman penjajahan Jepang, pemerintah mendirikan sekolah per- awat ataupun sekolah bidan dengan nama dan dasar yang berbeda dan persyaratan sama dengan zaman pen- jajahan Belanda. Peserta didik kurang berminat memasuki sekolah tersebut dan mendaftar karena terpaksa, karena tidak ada pendidikan lain yang sema- cam ini. Pada tahun 1950-1953 dibuka sekolah bidan dari lulusan SMP dengan batar usia minimal 17 tahun dan lama pen- didikan 3 tahun. Mengingat kebutuhan tenaga untuk menolong persalinan cu- kup banyak, maka dibuka pendidikan pembantu bidan yang disebut penjen- ang kesehatan E atau pembantu bidan yang dilanjutkan sampai dengan tahun 1976 dan setelah itu ditutup. Peserta didik PK/E adalah lulusan SMP plus 2 tahun kebidanan dasar. Banyak dari PK/E kemudian melanjutkan ke pendi- dikan bidan (2 tahun). Tahun 1953 dibuka kursus tambahan bidan (KTB) di Yogyakarta, lamanya kursus antara 7-12 minggu, pada ta- hun 1960 KTB dipindahkan ke Jakarta. Tujuan dari KTB ini adalah untuk mem- perkenalkan kepada lulusan bidan mengenai perkembangan program KIA dalam pelayanan kesehatan ma- syarakat, sebelum lulusan memulai tu- gasnya sebagai bidan terutama bidan di BKIA. Pada tahun 1967 KTB ditutup (discontinued). Tahun 1954 dibuka pendidikan guru bi- dan bersamaan dengan guru perawat dan perawat kesehatan masyarakat di Bandung. Pada awalnya pendidikan ini berlangsung satu tahun, kemu- dian menjadi dua tahun dan terakhir berkembang menjadi tiga tahun. Pada awal tahun 1972 institusi pendidikan ini dilebur menjadi sekolah guru per-
  • 24. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 24 awat (SGP). Pendidikan ini menerima calon dari lulusan sekolah perawat dan sekolah bidan. Pada tahun 1970 dibuka program pen- didikan bidan yang menerima lulusan dari sekolah pengatur rawat (SPR) dit- ambah dua tahun pendidikan bidan yang disebut SPLJK (Sekolah Pendidi- kan Lanjutan Jurusan Kebidanan). Pen- didikan ini tidak dilaksanakan secara merata di semua propinsi. Pada tahun 1974 mengingat jenis tena- ga kesehatan menengah dan bawah sangat banyak (24 kategori), Departe- men Kesehatan melaksanakan penye- derhanaan pendidikan tenaga kesehat- an non-sarjana. Sekolah bidan ditutup dan dibuka sekolah perawat kesehatan (SPK) dengan tujuan adanya tenaga multi purpose di lapangan dimana salah satu tugasnya adalah menolong persalinan normal. Namun karena ad- anya perbedaan falsafah dan kuriku- lum terutama yang berkaitan dengan kemampuan seorang bidan, maka tu- juan pemerintah agar SPK dapat me- nolong persalinan tidak tercapai atau terbukti tidak berhasil. Pada tahun 1981 untuk meningkatkan kemampuan perawat kesehatan (SPK) di dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk kebidanan, dibuka pen- didikan diploma I kesehatan ibu dan anak. Pendidikan ini hanya berlang- sung satu tahun dan tidak dilakukan oleh semua institusi. Pada tahun 1975-1984 tidak ada pen- didikan bidan. Kemudian pada tahun 1985 dibuka lagi program pendidikan bidan (PPB) yang menerima lulusan SPR dan SPK. Pada saat itu dibutuhkan bidan yang memiliki kewenangan un- tuk meningkatkan pelayanan kesehat- an ibu dan anak serta keluarga beren- cana di masyarakat. Lama pendidikan satu tahun dan lulusannya dikemba- likan kepada institusi yang mengirim. Perjalanan pendidikan bidan di Indo- nesia dapat dikatakan tragis bila di- kaitkan dengan perkembangan satu profesi di lingkungan kesehatan, teru- tama dengan ditutupnya pendidikan bidan selama kurun waktu 9 tahun (1975-1984). Namun kondisi ini tidak merubah citra bidan di masyarakat, di- mana bidan masih menempati posisi kedua dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak disamping dokter Obsgyn. Bi- dan tetap diharapkan keberadaannya oleh keluarga khususnya kaum wanita atau para ibu, selama mereka membu- tuhkannya dalam kaitan dengan kese- hatan reproduksi dan terutama keingi- nan mereka menjadi seorang ibu dari anak-anaknya yang sehat sejahtera. Oleh karena itu pada tahun 1989 di- buka crash program pendidikan bidan secara nasional yang memperboleh- kan lulusan SPK untuk langsung masuk program pendidikan bidan. Program ini dikenal sebagai program pendidikan Bidan A (PPB/A). Lama pendidikan satu
  • 25. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 25 tahun dan lulusannya ditempatkan di desa-desa, dengan tujuan untuk mem- berikan pelayanan kesehatan terutama pelayanan kesehatan terhadap ibu dan anak di daerah pedesaan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan keluarga dan menurunkan angka kematian ibu dan anak. Untuk itu pemerintah secara politis menempatkan seorang bidan di tiap desa. Setelah tahun 1996 bidan desa merupakan bidan PTT (Pegawai Tidak Tetap) dan kontrak 3 tahun den- gan pemerintah, yang kemudian dapat diperpanjang 2 kali 3 tahun lagi. Penempatan bidan di desa ini menye- babkan orientasi sebagai tenaga kese- hatan berubah. Bidan di desa harus di- persiapkan sebaik-baiknya tidak hanya kemampuan profesionalnya sebagai bidan tetapi juga kemampuan untuk berkomunikasi, konseling dan kemam- puan untuk menggerakkan masyarakat desa dalam meningkatkan taraf kese- hatan ibu dan anak. Program pendidi- kan bidan (A) diselenggarakan dengan peserta didik cukup besar. Diharapkan pada tahun 1996 sebagian besar desa sudah memiliki minimal seorang bi- dan. Lulusan pendidikan ini kenyatan- nya juga tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan seperti yang diharap- kan sebagai seorang bidan profesional, karena lama pendidikan yang terlalu singkat dan jumlah peserta didik ter- lalu besar dalam kurun waktu satu ta- hun akademik, mengakibatkan kesem- patan peserta didik untuk praktik klinik kebidanan sangat kurang, sehingga tingkat kemampuan yang dimiliki seb- agai seorang bidan juga kurang. Pada tahun 1993 dibuka program pen- didikan bidan program B, yang peserta didiknya dari lulusan Akademi perawat (Akper) dengan lama pendidikan satu tahun. Tujuan program ini adalah un- tuk mempersiapkan tenaga pengajar bidan pada program pendidikan bidan A. Berdasarkan hasil penelitian terha- dap kemampuan klinik kebidanan dari lulusan ini tidak menunjukkan kom- petensi yang diharapkan karena lama pendidikan yang terlalu singkat yaitu hanya 1 tahun. Pendidikan ini hanya berlangsung selama 2 angkatan (1995- 1996), kemudian ditutup. Pada tahun 1993 ini juga dihadapi masalah di- mana jumlah lulusan SPK tidak cukup memenuhi jumlah kebutuhan bidan di desa, antara lain Irian Jaya (sekarang Papua) dan Kalimantan Tengah. Untuk mengatasi masalah tersebut, dibuat program cepat pendidikan bidan yang disebut Program Pendidikan Bidan C (PPB/C) dengan latar belakang pendi- dikan SMP ditambah pendidikan bidan selama tiga tahun yang kemudian dis- elenggarakan di sebelas propinsi dan hanya untuk kebutuhan yang sangat mendesak. Program ini hanya berlang- sung sampai tahun 1997 terkecuali di Irian Jaya dan Kalimantan Tengah. Untuk memenuhi tuntutan profesion- alisme, pada tahun 1996 berdasarkan
  • 26. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 26 Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 4118 tahun 1987 dan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 009/U/1996 di- buka program D-III Kebidanan dengan Institusi Akademi Kebidanan (AKBID) di enam propinsi dengan menerima calon peserta didik dari SMA. Pada ta- hun 2001 tercatat ada 65 institusi yang menyelenggarakan pendidikan Diplo- ma III Kebidanan di seluruh Indonesia. Pada bulan Agustus tahun 2007 ter- catat jumlah Institusi Pendidikan D- III Kebidanan sudah mencapai 338 yang dikelola oleh swasta dan 45 Poltekkes yang dikelola oleh pemer- intah (Depkes). Sebetulnya pada ta- hun 1964 RS St.Carolus sudah mulai melaksanakan pendidikan bidan dari lulusan SMA, lamanya 3,5 tahun, tetapi pendidikan ini tidak berlangsung lama. Dengan jumlah institusi yang cukup besar tersebut dihadapi berbagai ma- salah antara lain jumlah guru bidan yang terbatas. Oleh karena itu, pada tahun 2000 dibuka program Diploma IV Bidan Pendidik yang diselenggara- kan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Pendidikan ini lamanya 2 semester (1 tahun) dan telah menghasilkan 60 orang guru bi- dan pada bulan Maret 2001. Program pendidikan D-IV kini berjumlah 9 insti- tusi dan kemungkinan besar jumlah ini akan bertambah lagi. Sudara-saudara, ternyata jenjang pen- didikan bidan tidak hanya berhenti pada jenjang D-IV, pada saat ini ter- dapat jenjang pendidikan bidan S1 di beberapa universitas yaitu Universi- tas Airlangga (UNAIR) dan Universitas Brawijaya (UNBRAW) dengan peserta didik berasal dari sekolah menengah atas (jalur direct entery) maupun jalur transfer yaitu peserta didik berasal dari lulusan D-III. Bahkan saat ini Universi- tas Padjajaran (UNPAD) sudah menye- lenggarakan sampai ke jenjang S2 den- gan peserta didik berasal dari lulusan D-IV dan lulusannya diberikan gelar Magister Kebidanan. Satu hal lagi yang patut dicatat sejarah pendidikan bidan di Indonesia adalah lahirnya Asosiasi Institusi Pendidikan Kebidananan Indonesia (AIPKIND) yang dideklarasikan di Jakarta pada ta- hun 2008. SalahsatuPoltekkesdiRiau
  • 27. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 27 Nah...apakah yang dapat Anda sim- pulkan dari uraian mengenai perkem- bangan pelayanan dan pendidikan bi- dan di Indonesia? Apakah pemerintah dan masyarakat Indonesia semakin menyadari pentingnya peran seorang bidan? Apakah pendidikan bidan yang ada sekarang ini sudah dapat meng- hasilkan lulusan yang memiliki kualiifi- kasi seorang bidan yang kompeten? Selamat, Anda sudah selesai mempela- jari materi pelayanan dan pendidikan bidan baik yang diluar negeri maupun yang diluar negeri, semoga dengan memahami materi di atas Anda bisa mengetahui perkembangan pelay- anan dan pendidikan bidan dari masa ke masa yang mengalami pasang surut sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat, situasi dan kondisi pada masing-masing negara termasuk di In- donesia. Rangkuman Pada awalnya bidan hanya memberi- kan pelayanan mulai dari memper- siapkan ibu hamil agar dapat melahir- kan secara alamiah, lalu membantu ibu dalam masa persalinan dan mem- bantu merawat bayi yang dilahirkan. Hal ini diperkuat dengan ditemukan- nya beberapa bukti yang mendukung baik berupa patung maupun beberapa tulisan tentang pelayanan bidan. Pelayanan kebidanan terus berkem- bang dinamis seiring dengan peru- bahan yang terjadi secara global baik berupa perubahan tuntutan terhadap pelayanan bidan maupun kebijakan kesehatan dunia yang berpengaruh pula terhadap tugas, peran dan fung- si serta wewenang bidan. Pelayanan bidan di Indonesia juga disesuaikan dengan situasi dan kondisi di Indonesia termasuk adanya kewenangan khusus karena letak geografis Indonesia seba- gai negara kepulauan. Pada saat ini pe- layanan bidan di Indonesia mengacu pada Permenkes No.1464/Menkes/ PER/2010 Pasal 9 yaitu: Bidan dalam menjalankan praktik, berwenang untuk memberikan pelayanan yang meliputi: pelayanan kesehatan ibu, pelayanan
  • 28. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 28 kesehatan anak, dan pelayanan kese- hatan reproduksi perempuan dan kelu- arga berencana. Dalam melaksanakan tugas, bidan melakukan kolaborasi, konsultasi, dan rujukan sesuai kondisi pasien. Seiring dengan perubahan dan perkembangan jaman, mutu pelay- anan kebidanan terus ditingkatkan di seluruh negeri (internasional). Se- bagaimana definisi bidan itu sendiri, pelayanan yang diberikan harus ber- sifat komprehensif dan berkesinam- bungan. Tuntutan dari peningkatan kualitas pelayanan ini tidak lepas dari perkembangan proses pendidikan ke- bidanan itu sendiri. Berdasarkan hal tersebut negara-negara di dunia sudah mengembangkan konsep pendidikan kebidanan dengan pola tertentu yang disepakati. Namun tetap mengacu pada ketetapan WHO dan kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang bidan. Perkembangan pendidikan kebidanan di Indonesia sudah ada sejak jaman kolonial Belanda, dimana pendidikan bidan di Indonesia mengalami pasang surut. Dalam menyelenggarakan pro- gram D III Kebidanan yang cukup besar lingkupnya, diperlukan sumber daya manusia yang cukup sebagai tenaga pengajar, karena itu program Bidan Pendidik juga terus dikembangkan. Pada saat ini jenjang pendidikan bidan sudah mencapai jenjang S1 dan S2. Pengembangan pendidikan kebidanan harus dirancang secara berkesinam- bungan, berjenjang dan berlanjut sesuai dengan prinsip belajar seumur hidup.
  • 29. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 29 Test Formatif JAWABLAH PERTANYAAN DI BAWAH INI ! 1. Pada tahun 1851 dibuka pendidikan bidan bagi wanita pribumi di Batavia oleh seorang dokter militer Belanda yang bernama... A. Gubernur Jenderal Hendrik William Deandels B. Dr. W. Bosch C. Hipocrates D. Soranus E. Albert Einstein 2. Pada tahun 1953 dibuka Kursus Tambahan Bidan (KTB) di Yogyakarta. Seiring dengan dibukanya pelatihan tersebut, didirikan pula wadah untuk memberi- kan pelayanan kebidanan yang bernama... A. Pendidikan Bidan- Bidan B. Puskesmas C. Posyandu D. Balai Kesehatan Ibu dan Anak E. Pendidikan Jarak Jauh 3. Pelayanan di Posyandu mencakup lima kegiatan yaitu ... A. Pemeriksaan kehamilan, pelayanan keluarga berencana, imunisasi, gizi, dan kesehatan lingkungan B. Pemeriksaan kehamilan, pelayanan keluarga berencana, imunisasi, gizi, dan persalinan C. Pemeriksaan kehamilan, pelayanan nifas, imunisasi, gizi, dan persalinan D. Pemeriksaan kehamilan, pelayanan nifas, imunisasi, gizi, dan kesehatan lingkungan E. Pelayanan deteksi dini penyakit-penyakit yang terjadi pada daerah tropis 4. Titik tolak Konferensi Kependudukan Dunia di Kairo pada tahun 1994 yang menekankan pada kesehatan reproduksi (reproductive health), memperluas area garapan pelayanan bidan. Area tersebut adalah sebagai berikut kecua- li....... A. Safe motherhood
  • 30. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 30 B. Keluarga berencana C. Pijat bayi D. Penyakit menular seksual E. Penanganan HIV/AIDS 5. Kewenangan bidan diatur dalam peraturan yang dibuat oleh pemeritah. Pera- turan yang terbaru adalah... A. PP RI nomor 33 tahun 2012 B. Permenkes No. . 900/Menkes/SK/VII/2002 C. Permenkes 1464/Menkes/Per/X/2010 D. Permenkes No. 572/VI/1996 E. Permenkes No.1464 tahun 2010 Tugas Buatlah essai tentang Perkembangan Layanan dan Pendidikan Kebidanan yang ada di Indonesia pada kurun waktu mulai tahun 2001 sampai sekarang. Pandu- an tentang penulisan dan penilaian essay harus Anda lihat pada modul 6 yaitu tentang Panduan Penulisan Essay
  • 31. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 31 Kunci JawabanTest Formatif 1. B 2. D 3. A 4. C 5. E
  • 32. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 32 Perkembangan Organisasi Bidan Kegiatan Belajar II 1. Menjelaskan perkembangan organisasi pro- fesi di luar negeri 2. Menjelaskan perkembangan organisasi pro- fesi di dalam negeri TUJUANPembelajaran Khusus 1. Perkembangan organisasi profesi di luar neg- eri 2. Perkembangan organisasi profesi di dalam negeri POKOKMateri Setelah menyelesaikan kegiatan belajar 2 di- harapkan Anda bisa menjelaskan perkem- bangan organisasi bidan TUJUANPembelajaran Umum
  • 33. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 33 Uraian Materi 1. Perkembangan Organisasi Pro- fesi Bidan di luar negeri Salam hangat untuk Anda, semoga Tu- han masih memberikan berkah-Nya kepada Anda untuk melanjutkan mem- pelajari Perkembangan Organisasi Pro- fesi Bidan di Luar Negeri. Saudar-saudara, untuk organisasi pro- fesi bidan dunia kita mengenal Interna- tional Confederation of Midwives (ICM). The International Confederation of Midwives (ICM) merupakan organisasi p r o f e s i b i d a n d u n i a y a n g m e m - berikan d u k u n - gan dan t e l a h menun- j u k k a n pengua- tan untuk organisasi bidan di berbagai negara di belahan dunia. Pada saat ini ICM telah memiliki anggota lebih da 100 organisasi profesi bidan dari ber- bagai negara di dunia ini. ICM berfungsi bekerja secara global dengan bidan-bidan di seluruh dunia dan organisasi profesi bidan dari berb- agai dunia untuk melindungi hak asasi perempuan dan memberikan akses layanan kebidanan pada masa antena- tal, intranatal maupun post natal dan masa mengasuh anak. Dalam men- jalankan tugasnya ICM banyak beker- jasama dengan organisasi dunia yaitu Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nation (UN), World Health Or- ganization (WHO). Tugas utama ICM tentunya adalah untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak selama proses reproduksi dan pengasuhan anak. Dengan mencanangkan salah satunya dengan program safe-moth- erhood dengan terus memperkuat ak- ses perempuan terhadap layanan kebi- danan yang aman. Adapun Visi dari ICM adalah: ICM membayangkan sebuah dunia di mana setiap wanita subur memi- liki akses ke perawatan bidan un- tuk dirinya sendiri dan bayinya. Sedangkan Misinya: ICM berusaha un- tuk memperkuat asosiasi anggota dan untuk memajukan profesi kebidanan secara global dengan mempromosi- kan bidan otonom sebagai pengasuh yang paling tepat untuk melahirkan anak perempuan dan dalam men- jaga persalinan normal, dalam rang- ka meningkatkan kesehatan re- produksi perempuan, dan kesehatan PresidenICMsaatberpidatopadaacaraWHO SouthEastAsiaRegionalmeetingontheQualityof MidwiferyEducationandServices
  • 34. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 34 bayi mereka dan mereka keluarga. Sedangkan untuk pendidikan bidan, ICM menetapkan kebijakan sebagai berikut: “ICM Standar global untuk pendidikan kebidanan”. Melalui ke- bijakan tersebut dibangun salah satu pilar penting dari upaya ICM untuk memperkuat kebidanan di seluruh dunia dengan mempersiapkan bidan yang memenuhi syarat untuk mem- berikan kualitas, pelayanan kesehatan berbasis bukti tinggi untuk wanita, bayi baru lahir dan melahirkan keluar- ga. Standar pendidikan dikembangkan bersama-sama dengan update kompe- tensi penting untuk praktik kebidanan dasar, yang menentukan isi inti dari setiap program pendidikan kebidanan. Standar tersebut tersedia di Website ICM dalam bahasa Inggris, Perancis dan Spanyol. Setelah mempelajari uraian di atas, apakah Anda telah memahami peran suatu organisasi bagi suatu profesi ter- tentu? Selanjutnya mari Anda ikuti se- jarah organisasi profesi bidan dunia ini dan organisasi profesi bidan di belahan negara lainnya. ICM memahami bahwa para bi- dan telah melakukan upaya untuk memenuhi tuntutan internasional se- lama lebih dari 100 tahun. Ada catatan konferensi bidan ‘yang diadakan di Berlin, Jerman, pada tahun 1900, ke- tika lebih dari 1.000 orang bidan hadir. Peristiwa tersebut diatur pada suatu waktu tanpa penggunaan telepon, komputer, kartu kredit atau pesawat terbang, dan pada saat itu perempuan yang bepergian sendiri adalah suatu hal yang sulit dan tidak selalu dapat diterima. Pada tahun 1919, sekelom- pok bidan Eropa, yang berpusat di An- twerp, Belgia berkumpul dan peristiwa tersebut dijadikan awal terbentuknya Konfederasi Internasional Bidan. Pada saat ini, banyak negara telah memiliki asosiasi nasional bidan, komunikasi di antara mereka me- ningkat dan serangkaian per- temuan rutin pun diluncurkan. Selama 1930-an dan 1940-an, per- jalanan dan komunikasi di Eropa ter- ganggu oleh perang dan kerusuhan. Sayangnya, catatan rinci tentang per- temuan dan dokumen bidan sebelum- nya ‘hancur, namun, keinginan untuk melanjutkan kerja internasional masih kuat. Pada tahun 1954, inisiatif tumbuh lagi dan kali ini lokasinya di London, Inggris. Untuk pertama kalinya, nama ‘Konfederasi Internasional Bidan’ didiri- kan, dan juga gagasan kongres tiga ta- hunan rutin diputuskan. Sejak tahun 1954 rangkaian pertemuan tersebut setiap tiga tahun tetap tak terputus. ICM sekarang memiliki lebih dari 100 anggota - semua asosiasi kebidanan otonom, dari sekitar 100 negara yang mencakup empat wilayah: Afrika, Asia Pasifik, Amerika dan Eropa. Setiap aso- siasi anggota mengirimkan delegasi ke
  • 35. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 35 Dewan ICM, yang merupakan badan secara keseluruhan, masing-masing daerah memilih wakil-wakil ke papan yang lebih kecil, yang mengawasi bis- nis yang berkelanjutan. Konfederasi Dewan ICM memutuskan pada tahun 1999 untuk memindahkan lokasi kan- tor pusat dari London ke Den Haag, di Belanda, dan itu telah berdiri di sana sejak lama. Markas staf permanen telah meningkat dari pengangkatan tahun 1987 dari semula satu tenaga paruh waktu sekretaris eksekutif, meningkat untuk kelompok yang lebih besar saat ini, tenaga yang mengelola organisasi termasuk Sekretaris Jenderal, Program Co-ordinator, Manajer Komunikasi dan bantuan administrasi paruh waktu lain- nya. ICM jurnal, Kebidanan Internasi- onal, sekarang dalam tahun ke-18 nya berkomunikasi “ke, dari dan di antara bidan di seluruh dunia” dan situs ICM di www.internationalmidwives.org telah membantu akses cepat ke ICM berita dan kegiatan sejak tahun 2000. Kongres internasional diadakan setiap tiga tahun. Situs masing-masing dipu- tuskan untuk enam tahun ke depan, dan acara ini diselenggarakan oleh ICM dan co-hostnya adalah salah satu asosiasi anggotanya. Tempat selama 50 tahun terakhir ini antara Yerusa- lem, Kobe, Manila, Santiago, Sydney, Vancouver dan Washington, serta ber- bagai kota di Eropa. Kongres ini telah menjadi fokus utama untuk bisnis rutin bidan global, pertemuan profesional dan ilmiah.Selain itu, pertemuan re- gional dan konferensi yang sering dia- dakan di tahun-tahun antara kongres. Misi ICM adalah untuk “memajukan se- luruh dunia melalui tujuan dan aspirasi bidan dalam pencapaian hasil yang lebih baik bagi perempuan dalam be- berapa tahun mereka melahirkan anak, bayi mereka dan keluarga mereka di mana pun mereka berada”. ICM merupakan organisasi pendukung resmi “Kesehatan Informasi Untuk Semua” tahun 2015, sebuah inisiatif global yang tujuannya meliputi: Pada tahun 2015, setiap bidan akan memiliki akses ke informasi yang mereka butuh- kan untuk belajar, untuk mendiagnosa, untuk memberikan perawatan dan pengobatan yang tepat, dan menyela- matkan nyawa. Nah...bagaimana pendapat Anda ten- tang peran ICM sebagai organisasi bi- dan dunia? Sekarang kita akan menuju Amerika Utara untuk mengenal organ- isasi profesi bidan di sana! The North American Registry Midwife (NARM) mendukung sistem perawatan kesehatan di mana setiap keluarga di Amerika Utara memiliki akses ke bi- dan terampil dan bertanggung jaw- ab. NARM menetapkan standar untuk sertifikasi berbasis kompetensi yang
  • 36. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 36 memungkinkan bidan untuk mendu- kung hak perempuan untuk memilih kelahirannya dan tempat lahir dan un- tuk melibatkan seseorang yang mer- eka kehendaki. NARM mengakui potensi hasil yang lebih baik yang mencakup biaya yang lebih rendah dan intervensi yang lebih sedikit untuk ibu melahirkan dan bayi mereka ketika dihadiri oleh bidan pro- fesional bersertifikat. NARM didedikasikan untuk memaju- kan profesi dengan mendukung upa- ya-upaya advokasi untuk pengakuan hukum di tingkat negara bagian dan federal. NARM mendedikasikan persentase yang signifikan dari ang- garan tahunan untuk pengembangan pelatihan advokasi, menawarkan loka- karya, partisipasi dalam legislasi, kes- ehatan masyarakat, dan konferensi ke- bidanan, menciptakan materi promosi, dan melayani di komite penasehat un- tuk inisiatif tingkat negara bagian dan federal. Selain NARM, di Amerika juga terdapat organisasi bidan yang lain yaitu The American Association of Naturopath- ic Midwife (AANM) adalah organisasi profesional untuk bidan naturopati. Bidan naturopati adalah bidan yang membantu kelahiran paling luas yang dilatih secara alami yang tersedia bagi seorang ibu dan keluarganya. AANM ada untuk mendidik masyarakat ten- tang kebidanan naturopati dan untuk memberikan dukungan klinis, pendi- dikan berkelanjutan, standar perizinan dan program mentoring bagi para anggotanya. Bagaimana dengan organisasi profesi bidan di Kanada? Mari kita ikuti materi di bawah ini! The Canadian Association of Midwife (CAM) adalah organisasi nasional yang mewakili bidan dan profesi kebidanan di Kanada. Misi dari CAM adalah untuk memberikan kepemimpinan dan advo- kasi untuk kebidanan sebagai bagian penting dari sistem perawatan bersalin primer di seluruh provinsi dan wilayah, yang diatur dan didanai publik. CAM mempromosikan pengembangan pro- fesi untuk kepentingan umum dan memberikan kontribusi perspektif ke- bidanan terhadap agenda kebijakan kesehatan nasional. Visi dari Asosiasi Bidan Kanada (CAM) adalah bahwa kebidanan merupak- an dasar pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir, dan bahwa setiap wanita di Kanada akan memiliki akses ke perawatan bidan untuk dirinya dan bayinya. Bagaimana dengan organisasi profesi bidan di Selandia Baru? Mari ikuti ma- teri di bawah ini! New Zealand College of Midwives (NZCOM) adalah organisasi profesion- al dan diakui ‘suara’ nya untuk bidan dan bidan pelajar di Selandia Baru.
  • 37. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 37 Tujuan NZCOM adalah: • Memajukan profesi kebidanan • Berbicara nasional dan regional un- tuk kepentingan bidan dan wanita • Menegakkan Konfederasi Interna- sional Bidan (World Health Organ- isations) tentang definisi dari peran bidan dan ruang lingkup praktek • Menegakkan dan memajukan Kebi- danan Selandia Baru dengan Model kemitraan dengan Perempuan Setelah mengikuti beberapa uraian di atas, dapatkah Anda menyimpulkan seberapa besar peran organisasi pro- fesi internasional bagi perkembangan profesi bidan? Untuk selanjutnya mari kita tinjau bagaimana perkembangan organisasi profesi bidan di Indonesia.
  • 38. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 38 1. PERKEMBANGAN ORGANISASI PROFESIIKATANBIDANINDONESIA (IBI) Ciri dari suatu profesi adalah adanya wa- dah atau organisasi yang berkewajiban melindungi seluruh anggotanya terma- suk meningkatkan kesejahteraan ang- gota. Disamping itu organisasi profesi juga berkewajiban untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan oleh anggotan- ya kepada masyarakat melalui peningka- tan kualitas/profesionalisme bidan. Dalam sejarah Bidan Indonesia menyebutkan bahwa tanggal 24 Juni 1951 dipandang sebagai hari jadi IBI. Pengukuhan hari lahirnya IBI tersebut didasarkan pada hasil konferensi bidan pertama yng diselenggarakan di Jakarta 24 Juni 1951 yang merupakan prakarsa bidan- bidan senior yang berdomisili di Jakarta. Konferensi bidan pertama tersebut telah berhasil meletakkan landasan yang kuat serta arah yang benar bagi perjuangan bidan selanjutnya, yaitu mendirikan sebuah organisasi profesi bernama Ikatan Bidan Indonesia (IBI), berbentuk kesatuan, bersifat nasional, berazaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pada tanggal 15 Oktober 1954 IBI diakui dan sah sebagai satu organisasi profesi yang berbadan hukum dan tertera dalam lembaran Negara NO..J.A.5927 pada Departemen Kehakiman. IBI yang seluruh anggotanya terdiri dari wanita telah bergabung dengan Konggres Wanita Indonesia (KOWANI) pada tahun 1951, hingga kini IBI tetap aktif mendukung program-program KOWANI bersama organisasi wanita lainnya dalam meningkatkan derajat kaum wanita Indonesia. Selain itu sesuai dengan ketentuan Undang-Undang RI No. 8 tahun 1985 tentang wajib lapor bagi organisasi kemasyarakatan, maka IBI terdaftar sebagai lembaga Sosial Masyarakat Indonesia, dengan nomor keanggotaan 133. Pada tahun 1956 IBI diterima sebagai anggota International Confederation of Midwives (ICM) : Sejak menjadi anggota ICM, IBI senantiasa berupaya meningkatkan kinerja lembaganya dan tetap berupaya hadir dalam setiap kongres internasional yang dilaksanakan oleh ICM sekali dalam tiga tahun di Negara-negara yang dipilih secara bergantian. Utusan IBI yang hadir biasanya membawakan makalah tentang perkembangan pelayanan dan pendidikan kebidanan di Indonesia. Disamping itu, IBI juga tetap hadir pada pertemuan regional (regionalmeetings)Asiapasifik.Padatahun 1985 IBI untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah pertemuan ICM Regional Asia Pasifik, diselenggarakan di Hotel Sahid Jaya Jakarta. Anggota ICM yang hadir saat itu adalah Jepang, Australia, New Zeland, Philiphina, Malaysia, Brunei Darussalam dan Indonesia. Pada bulan September tahun 2000 IBI menjadi tuan rumah untuk kedua kalinya pertemuan ke-6 regional Asia Pasifik (6th ICM Asia Pasifik Regional Meeting) yang diikuti oleh 8 negara yaitu Hongkong, Bangladesh, Australia, New Zeland, Jepang, Indonesia, Taiwan dan Thailand yang diselenggarakan di Denpasar, Bali.
  • 39. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 39 Kerjasama IBI dengan sektor atau lembaga pemerintah (Kemenkes, BKKBN, Kementrian Pemberdayan Perempuan, Kemendagri dan lain-lain) maupun pihak swasta telah dirintis sejak IBI berdiri. Begitu pula dengan lembaga internasional terkait seperti WHO, UNICEF, UNFPA. Dewasa ini IBI mempunyai 30 pengurus daerah tingkat propinsi, 318 tingkat cabang di kabupaten dan kotamadya serta 1.243 ranting di tingkat kecamatan. Jumlah anggota yang pada tahun 1954 hanya 6.000 orang, kini telah berjumlah 73.526 orang. Penggantian pengurus IBI dilakukan setiap 3 tahun dalam kurun waktu 1953/1988, kini masa kepengurusan menjadi 5 tahun sejak kongres IBI ke X di Surabaya pada tahun 1988. hingga saat ini IBI telah melaksanakan kongres sebanyak XII sebagai berikut : Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan IBI, kegiatan IBI semakin banyak dan dirasakan adanya kebutuhan untuk membentuk suatu yayasan sebagai sarana penunjang organisasi untuk kesejahteraan anggotanya. Hal ini diteruskan dalam kongres IBI ke VII di Bandung Jawa Barat pada tanggal 5-10 Juni 1978. maka terbentuk yayasan yang diberi nama Yayasan Buah Delima Ikatan Bidan Indonesia dengan Akte Pendiria No. 65 pada tanggal 27 Juli 1982 oleh Notaris R. Dibjo Djojopranoto, SH. Saat ini Yayasan Buah Delima telah berjumlah lebih dari 63 cabang tersebar di seluruh Indonesia. Usaha-usaha yang direncanakan dan dapat dilaksanakan antara lain : • Mendapatkan dana bantuan dari berbagai instansi swasta maupun pemerintah dan sponsor. K O N A S KE TAHUN TEMPAT KETUA TERPILIH I 1953 BANDUNG RUTH ROH SANU II 1955 MALANG Ny. SELO SOEMARJAN III 1957 YOGYAKARTA TUTI SUTJIATI IV 1961 L A W A N G MALANG RUKMINI OENTOENG V 1969 JAKARTA RUKMINI OENTOENG VI 1975 JAKARTA RABIMAR JUZAR BUR VII 1978 JAKARTA RABIMAR JUZAR BUR VIII 1982 BANDUNG SAMIARTI MARTOSE- WOJO IX 1985 MEDAN SAMIARTI MARTOSE- WOJO X 1988 SURABAYA RABIMAR JUZAR BUR XI 1993 UJUNG PAN- DANG NISMA CHAIRIL BAHRI
  • 40. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 40 • Mendirikan rumah bersalin Ikatan bidan Indonesia. • Mendirikan tempat penitipan anak (TPA) • Melatih tenaga pelayanan kesehatan keluarga dan baby sitter. • Mendirikan rumah penampungan bidan- bidan lanjut usia (BULAN), terutama yang tidak bekerja (Panti Werdha). • Koperasi serba usaha • Membina klinik-klinik IBI. IBI juga berpartisipasi dalam kegiatan penelitian dengan profesi-profesi terkait untuk meningkatkan kualitas profesi yang berkaitan dengan perkembangan disiplin keilmuan kebidanan. Perjalanan IBI masih jauh, namun dengan kebulatan tekad dan kebersamaan anggota IBI di seluruh tanah air, IBI akan tetap memantapkan profesi bidan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Setelah mempelajari perkembangan organisasi profesi bidan di Indonesia, menurut pendapat Anda apakah sebagai seorang bidan wajib menjadi anggota IBI dan apa alasannya? Selamat, Anda sudah selesai mempelajari materi organisasi profesi bidan baik yang di luar negeri maupun yang di dalam negeri, semoga dengan memahami materi di atas Anda bisa mengetahui perkembangan organisasi profesi bidan dari masa ke masa sehingga Anda akanlebih menghayati dan mencintai profesi bidan Rangkuman Profesi bidan sudah lahir dan berkem- bang sejak zaman pra-sejarah, dimana kebidanan merupakan salah satu pro- fesi yang tertua di dunia sejak awal peradaban manusia. Seorang bidan lahir sebagai wanita terpercaya untuk mendampingi dan menolong ibu-ibu melahirkan. Peran dan posisi bidan menjadi terhormat di masyarakat ka- rena tugas-tugas yang diembannya sangat mulia dalam upaya memberi- kan semangat dan membesarkan hati ibu-ibu dalam proses persalinan sam- pai sang ibu mampu merawat bayinya dengan baik. Bidan harus mampu memberikan asu- han dan nasehat yang dibutuhkan ke- pada wanita selama masa hamil, per- salinan dan postpartum, memimpin persalinan atas tanggung jawabnya sendiri serta asuhan bayi baru lahir dan anak. Asuhan ini termasuk tinda- kan preventif, pendeteksian kondisi abnormal pada ibu dan bayi serta mengupayakan tindakan medis. Dalam
  • 41. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 41 keadaan darurat bidan juga diberi we- wenang pelayanan kebidanan yang ditujukan untuk penyelamatan jiwa. Organisasi Kebidanan adalah suatu organisasi yang aktifitas pokoknya melakukan pelayanan KIA dan kes- ehatan kepada masyarakat dengan salah satu tujuan yang dicapai adalah membentuk pelayanan yang bermutu dan berkualitas. Organisasi kebidanan sangat penting adanya karena organ- isasi kebidanan merupakan suatu wa- dah , yang menaungi seluruh bidan di dalam atau luar negeri. Dari organisasi kebidanan tersebut maka dapat me- mudahkan penyaluran visi dan misi bidan, untuk mengurangi angka kema- tian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) juga menambah kesejahteraan masyarakat di bidang kesehatan. Di dalam maupun di luar negeri terdapat berbagai macam organisasi kebidanan, yang menunjang persatuan bidan di dalam ataupun di luar negeri.
  • 42. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 42 Test Formatif Jawablah Pertanyaan Di Bawah Ini dengan Benar! 1. Setelah Kemerdekaan RI, pendirian IBI dilatarbelakangi oleh: A. Membela tanah air sebagai wujud persatuan nasional B. Membela kerukunan bidan dan perempuan sebagai kliennya C. Membela kaum perempuan sebagai wujud persatuan nasional D. Mempersatukan profesi bidan sebagai wujud persatuan nasional E. Mempersatukan profesi bidan dan perempuan sebagai wujud persatuan nasional 2. Hari lahirnya IBI : A. 24 Juni 1950 B. 24 Juli 1950 C. 24 Juni 1951 D. 24 Juli 1951 E. 25 Juni 1951 3. IBI menjadi anggota ICM pada tahun: A. 1952 B. 1954 C. 1956 D. 1958 E. 1960 4. ICM singkatan dari: A. International Coalition of Midwives B. International Consolidation of Midwives C. International Configuration of Midwives D. International Consiliation of Midwives E. International Confederation of Midwives 5. Tingginya Angka Kematian Ibu saat zaman pemerintahan Hindia Belanda dikarenakan A. Biaya kelahiran mahal
  • 43. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 43 B. Penolong persalinan adalah dukun C. Bidan hanya bekerja untuk kalangan bangsawan D. Bidan masih sedikit E. Belum adanya organisasi profesi bidan Tugas Tugas: Buatlah essay tentang perkembangan organisasi profesi bidan di luar neg- eri. Untuk dapat mengerjakan essay Anda harus mempelajari Modul 6 tentang Panduan Penulisan Essay
  • 44. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 44 Test Akhir Jawablah Pertanyaan Di Bawah Ini dengan Benar! 1. Pendidikan kebidanan di Indonesia dengan jenjang D III Kebidanan di mulai tahun: A. 1995 B. 1996 C. 1997 D. 1998 E. 1999 2. Pelayanan kebidanan pada awalnya difokuskan pada: A. Pelayanan kehamilan, persalinan,perawatan bayi B. Pelayanan kehamilan, persalinan, perawatan nifas C. Pelayanan kehamilan, persalinan, perawatan ibu dan bayi D. Pelayanan kehamilan, persalinan, nifas dan perawatan bayi E. Pelayanan kehamilan, persalinan, nifas dan kesehatan reproduksi 3. Bidan diberikan wewenang untuk melakukan penanganan kasus pathologis dengan kewenangan yang terbatas dengan pertimbangan: A. Kondisi geografis Indonesia sehingga terbatas akses pelayananan keseha- tan B. Kondisi sosial budaya Indonesia sehingga perempuan lebih memilih bidan C. Kondisi emotional perempuan Indonesia lebih percaya bidan D. Kondisi spiritual, sehingga perempuan memilih bidan E. Kondisi ekonomi dan latar belakang pendidikan bidan 4.Kebijakan pemerintah pelayanan kesehatan difokuskan kepada masyarakat, oleh karena itu pelayanan kebidanan diberikan kepada: A. Individu dan keluarga B. Masyarakat dan individu C. Keluarga dan masyarakat D. Perempuan dan keluarganya E. Individu, keluarga dan masyarakat
  • 45. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 45 5. Program Kesehatan Ibu dan Anaka (KIA) diperkenalkan di Puskesmas tahun: A. 1952 B. 1960 C. 1972 D. 1980 E. 1985 6. Program Kelurga Berencana (KB) diperkenalkan di Puskesmas tahun: A. 1971 B. 1972 C. 1973 D. 1974 E. 1975 7. Pada tahun 1992 presiden mencanangkan program: A. Satu desa satu bidan desa B. Pendidikan bidan minimal Diploma I C. Pendidikan bidan minimal Diploma III D. Program Pendidikan Bidan A dan Bidan B E. Lingkup pelayanan bidan diperluas dengan KB 8. Yang bukan merupakan tugas bidan desa adalah: A. Pembinaan dukun bayi B. Mengambangkan Posyandu C. Mengembangkan pondokbersalin D. Merintas tabungan ibu bersalin E. Pelayanan gangguan sistem reproduksi 9. Yang bukan merupakan tugas bidan yang bertugas di Rumah Sakit: A. Pendidikan perinatal B. Mengembangkan Posyandu C. Pelayanan gangguan sistem reproduksi D. Membantu tindakan medis di kamar operasi E. Membina dukun bersalin 10. ICPD tahun 1994 di Kairo memperluas lingkup kerja bidan, salah satunya yaitu:
  • 46. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 46 A. Safemotherhood B. Pembinaan dukun bayi C. Mengembangkan Posyandu D. Pelayanan Kesehatan Ibu dan anak E. Pengembangan kelas ibu
  • 47. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan Kembali ke : Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Belajar 2 Test Akhir 47 Kunci JawabanTest Formatif dan Akhir Kunci jawaban formatif : 1. D 2. C 3. C 4 .E 5. B Kunci jawaban test akhir 1. B 2. A 3. A 4. E 5. B 6. D 7. A 8. E 9. B 10. A
  • 48. Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 48 Daftar Pustaka Byar, R.1995. Theory for Midwifery practice.Edisi I.Houndmillo: Macmillan. Departemen Kesehatan RI. 1995. Konsep Kebidanan. Jakarta: Departemen Kes- ehatan RI Pyne, RH .1992. Profesional disiplin In Nusing, Midwifery and Health Visiting. Edisi 2.London: ballack well Scientific. Sofyan, Mustika. 2006. Bidan Menyongsong Masa Depan; 50 Tahun Ikatan Bidan Indonesia. Jakarta: PP IBI Varney, Helen. 1997. Varney’s Midwifery. 3rd ed. London: Jones and Bartlett Publish Darma, Agus. 1995. Manajemen Perilaku Organisasi: Pendayagunaan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Erlangga