5. relevansi teori-psikologi-dari-piaget

  • 6,589 views
Uploaded on

 

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
No Downloads

Views

Total Views
6,589
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
111
Comments
0
Likes
1

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. Teori Psikologi dalam Pembelajaran Bahasa Inggris*)A. Pendahuluan Manusia berkomunikasi dengan kuantitas yang tidak terhingga dalamkehidupanya sehari-hari. Segela aktivitas manusia tidak akan pernah terjadi tanpa adanyaproses komunikasi, baik komunikasi verbal maupun non-verbal dalam rangkamenyampaikan gagasan, pikiran, persaan dan pendapatnya. Sejak dimulai dari banguntidur hingga tidur kembali di malam hari, bisa dibayangkan berapa kali seseorangmendengar dan berbicara, berapa lama ia membaca koran atau membaca berbagai macamiklan komersial di jalan-jalan, berapa lama ia menulis surat, laporan, tulisan ilmiah dansebagainya, berapa kali dan berapa lama dosen menjelaskan kuliah di dalam kelas danberapa lama dan berapa kali pula mahasiswa mendengarkan dan menanyakan hal-ihwalperkuliahan kepada dosen atau teman sekelasnya. Jika dihitung ternyata banyak sekaliwaktu yang digunakan seseorang untuk berkomunikasi dalam aktivitasnya selama satuhari. Secara garis besar ada dua macam bentuk komunikasi, yaitu komunikasi verbaldan komunikasi non-verbal. Komunikasi verbal adalah suatu bentuk komunikasi untukmenyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan yang dimiliki seseorang kepada orang lainsecara lisan. Sedangkan bentuk komunikasi yang kedua adalah bentuk komunikasi yangtidak diucapkan secara lisan, tetapi komunikasi itu terjadi melalui tanda-tandakomunikatif, misalnya tulisan, gerak tubuh, rambu-rambu (misalnya rambu-rambu lalulintas) dan sebagainya. Jenis komunikasi yang kedua tampaknya tidak banyak perbedaanantara satu tempat dan tempat yang lain atau antara satu negara dengan negara yang lainkarena bentuk komunikasi yang kedua ini lebih banyak terjadi karena adanya konsensusatau bahkan proses ratifikasi antarnegara, misalnya komunikasi dalam bentuk rambu-rambu lalu-lintas. Merahnya lampu pengatur di perempatan jalan, berarti para penggunajalan itu harus berhenti, lampu kuning berarti harus hati-hati, dan lampu hijau berarti
  • 2. boleh berjalan kembali. Masih banyak lagi komunikasi non-verbal lainnya yang banyakberlaku di berbagai negara. Tetapi hal itu tidak bisa dengan mudah terjadi dalam bentukkomunikasi verbal, karena bentuk komunikasi ini berkaitan erat dengan bahasa yangdigunakan sebagai alat komunikasi. Peserta didik di sekolah dasar atau menengah dan bahkan mahasiswa di perguruantinggi di Indonesia akan bisa belajar dengan baik jika bahasa yang digunakan oleh gurudan dosen untuk menjelaskan materi pelajaran di kelas adalah bahasa Indonesia. Hal inibisa terjadi karena bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional yang digunakan sebagaialat komunikasi verbal oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Tetapi kenyataan akanberbeda jika bahasa yang digunakan untuk menjelaskan bahan ajar itu adalah bahasaInggris, karena bahasa Inggris berposisi sebagai bahasa asing yang tidak banyak dikuasaisebagai alat komunikasi bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Posisi bahasa Inggris sebagai bahasa asing bagi masyarakat Indonesia membuatbahasa ini tidak banyak dikuasai oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Tidak sedikitpeserta didik maupun mahasiswa yang banyak mengalami kesulitan untuk bisaberkomunikasi dengan bahasa ini. Mereka menganggap bahasa ini sebagai bahasa yangsulit dipelajari karena beberapa alasan, misalnya bunyi verbal bahasa Inggris yangtampak sangat berbeda dengan tanda tulisannya. Hal ini berbeda dengan bunyi verbalbahasa Indonesia yang tidak banyak berbeda dengan tanda tulisannya. Alasan lain adalahpenguasaan kosa kata bahasa Inggris oleh peserta didik yang sangat terbatas danpenguasaan grammar yang terbatas pula. Alasan lain yang sangat krusial adalah strategiyang digunakan oleh guru dalam mengajarkan bahasa ini (desain pembelajaran danmetode mengajar) terkesan monoton dan kurang memberi tantangan bagi siswa untukbisa menguasai bahasa Inggris ini dengan baik. Guru kurang memahami karakteristikpeserta didik karena lemahnya kemampuan psikologis guru untuk mampumengidentifikasi kebutuhan peserta didik dalam belajar bahasa. Berkaitan dengan masalah terakhir dalam mengajarkan bahasa Inggris di sekolah,terutama bagi peserta didik di sekolah dasar dan menengah, guru diharuskan mempunyaikemampuan strategis psikologis untuk mengidentifikasi bagaimana dan kapan para
  • 3. peserta didik mampu belajar bahasa Inggris dengan baik. Kemampuan ini akanmemudahkan bagi guru untuk menciptakan strategi, metode dan media pembelajaranyang tepat, sehingga peserta didik merasa tertarik dan tertantang untuk bisa menguasaibahasa Inggris ini dengan baik. Belajar dan mengajar bahasa asing jelas membutuhkanstrategi yang berbeda dengan ketika peserta didik belajar dan guru mengajarkan bahasaIndonesia sebagai bahasa ibu atau bahasa nasional. Guru perlu memahami aspek-aspekpsikologis peserta didik agar mampu menciptkan proses pembelajaran yang lebihbermakna. Untuk bisa memahami aspek-aspek psikologis peserta didik dalam belajarbahasa, maka diperlukan pengetahuan guru yang memadai terhadap teori-teori psikologiyang relevan untuk mengajar bahasa. Pengetahuan guru terhadap teori-teori psikologijuga akan mengarahkan guru untuk mampu mengidentifikasi kapan dan dengan carabagaimana peserta didik bisa belajar bahasa dengan baik. Dengan demikian,pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing selain dilakukan berdasarkanpertimbangan filosofis-teoritis juga dilakukan berdasarkan pertimbangan psikologis.B. Pertimbangan Filosofis-teoritis Pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing, terutama di lingkunganpendidikan formal, dilakukan melalui dua pertimbangan sekaligus, yaitu pertimbanganfilosofis-teoritis dan pertimbangan psikologis. Pertimbangan filosofis-teoritisdilaksanakan berdasarkan asumsi bahwa bahasa Inggris sebagai alat komunikasi harusdiajarkan kepada pembelajar bahasa non-penutur asli (non-native speaker) sesuai dengankaidah bahasa yang berlaku dimana bahasa Inggris itu digunakan oleh penutur asli(native speaker). Bahasa, seperti juga bahasa Inggris, adalah terikat dengan budayamasyarakat penutur asli bahasa itu sendiri. Peserta didik harus dididik dan dilatih untukmengetahui dan menempuh tahap-tahap pembicaraan yang terstruktur sesuai denganbudaya penutur asli bahasa Inggris. Bahasa sebagai alat komunikasi pada dasarnya banyak menggunakan tanda-tanda(signs) berupa bunyi dan huruf. Keduanya tentu tidak diucapkan atau ditulis secara acaktanpa aturan baku; ada aturan yang harus dipatuhi agar tanda tersebut dimengerti oranglain. Aturan tersebut adalah code yang dalam linguistik disebut tata bahasa atau
  • 4. grammar. Bunyi dan tulisan yang digunakan menurut aturan yang berlaku di masyarakatdalam konteks budaya yang sama. Dengan demikian, bahasa disebut juga sebagai sebuahsistem semiotika sosial (Halliday, 1978). Ini adalah salah satu cara dalam memandangbahasa, yaitu bahasa sebagai suatu sumber yang digunakan oleh masyarakat sebagaisebagai alat interaksi sosial. Sekarang kita lihat bagaimana bahasa bisa digunakansedemikian rupa sehingga manusia normal tidak dapat hidup bermasyarakat tanpa bahasa. Pendekatan filosofis-teoritis menempatkan bahasa sebagai seperangkat aturan (setof rules) yang memang sudah ada dalam otak manusia (Chomsky, 1965). Ketikaseperangkat aturan yang dibawa sejak lahir tersebut dihadapkan pada data atau bahasayang didengar disekitarnya, maka ‘perangkat’ yang ada di otak akan menyesuaikan atau‘dicetak’ sesuai dengan bahasa tersebut. Ini adalah cara memandang bahasa dari sudutpsikologi. Yang perlu dicatat adalah bahwa kedua cara pandang, yakni dari segisemiotika sosial dan psikologi tidak bertentangan, bahkan keduanya saling mengisi.C. Pertimbangan Psikologis Pertimbangan psikologis berangkat dari asumsi bahwa bahasa harus diajarkankepada para peserta didik sesuai dengan metode dan strategi tertentu, sehingga belajarbahasa menjadi suatu aktivitas yang menyenangkan dan menarik bagi peserta didik.Strategi untuk menciptakan proses pembelajaran bahasa yang menarik danmenyenangkan bagi peserta didik bisa dilaksanakan dengan optimal jika guru banyakmemahami aspek-aspek psikologis peserta didik dalam belajar bahasa. Penguasaan teori psikologi yang baik oleh guru sangat membantu untuk bisamemahami aspek-aspek psikologis peserta didik dalam belajar. Peran teori psikologidalam pembelajaran bahasa ini lebih banyak dipelajari dalam bidang psikolinguistik.Cameron (dalam Helena, 2004) telah banyak mengulas teori psikologi dari tiga ahliterkemuka , yaitu Piaget, Vygotsky dan Bruner yang menjadi acuan dalam pendidikanbahasa masa kini. Teori psikologi dari tiga ahli ini ternyata mempunyai relevansi dankontribusi yang sangat baik dalam pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing.
  • 5. Secara singkat relevansi dan kontribusi ketiga teori psikologi ini dalam pembelajaranbahasa akan dibahas pada bagian berikut tulisan ini.1. Teori Psikologi PiagetPiaget dalam teorinya memandang anak sebagai individu (pembelajar) yang aktif.Perhatian utama Piaget tertuju kepada bagaimana anak-anak dapat mengambil perandalam lingkungannya dan bagaimana lingkungan sekitar berpengaruh padaperkembangan mentalnya. Menurut Piaget (dalam Helena, 2004), anak senantiasaberinteraksi dengan sekitarnya dan selalu berusaha mengatasi masalah-masalah yangdihadapinya di lingkungan itu. Melalui kegiatan yang dimaksudkan untuk memecahkanmasalah itulah pembelajaran terjadi. Piaget tidak memberikan penekanan terhadappentingnya bahasa dalam perkembangan kognoitif anak. Bagi Piaget bukanperkembangan bahasa pertama yang paling fundamental dalam perkembangan kognitifmelainkan aktivitas atau action. Menurut psikologi Piaget, dua macam perkembangan dapat terjadi sebagai hasildari beraktivitas, yaitu asimilasi dan akomodasi. Suatu perkembangan disebut asimilasijika aktivitas terjadi tanpa menghasilkan perubahan pada anak, sedangkan akomodasiterjadi jika anak menyesuaikan diri terhadap hal-hal yang ada di lingkungannya.Misalnya menurut contoh Cameron (2001), ketika anak sudah bisa menggunakan sendokdan kemudian diberi garpu dan dia menggunakan garpu (alat makan baru) sebagaimana iamenggunakan sendok yang berfungsi sebagai alat makan yang dikenal sebelumnya,berarti ia telah melakukan asimilasi. Akan tetapi, ketika ia sadar bahwa dengan garpu iamemiliki kesempatan untuk makan dengan cara menusukkan garpu ke makanan danbukan cuma menyendoknya. Dengan demikian, anak itu telah melakukan akomodasi. Pada mulanya asimilasi dan akomodasi merupakan proses adaptasi perilaku yangkemudian menjadi proses berpikir. Akomodasi merupakan konsep penting yangkemudian dipertimbangkan dalam dunia pembelajaran bahasa yang dikenal dengansebutan restructuring. Istilah ini mengacu kepada reorganisasi representasi mental dalamsebuah bahasa (McLaughlin, 1992). Maksudnya, anak telah memiliki pola-pola bahasa
  • 6. dalam pikirannya, tetapi ketika dihadapkan kepada fakta bahasa (pola) baru dan faktabaru tersebut memiliki potensi untuk berkomunikasi dengan cara berbeda, maka anakmelakukan penyesuaian dengan pola-pola baru. Menurut pandangan Piaget, pikiran anak berkembang perlahan-lahan seiringdengan pertumbuhan pengetahuan dan keterampilan intelektualnya hingga sampai ketahap berpikir logis dan formal. Akan tetapi, pertumbuhan ditandai dengan perubahan-perubahan mendasar tertentu yang menyebabkan anak mampu melampaui serangkaiantahapan yang dimaksud. Pada setiap tahap, anak mampu berpikir memikirkan hal-haltertentu, tetapi tidak atau belum mampu memikirkan hal-hal yang lain. Jadi, menurutPiaget, berpikir melibatkan hal-hal yang abstrak dan menggunakan jalur logika belummampu dilakukan anak sebelum ia berusia 11 tahun atau lebih. Pendapat ini banyak dikritik karena ketika diakhir tahun 70an dan di awal tahun80an diterapkan kebijakan bahwa anak-anak harus terlebih dahulu melakukan srangkaiankegiatan yang menyiapkan mereka untuk menulis kalimat yang memakan waktu lama,anak akan kehilangan kesempatan untuk mengalami proses yang holistik ataumenyeluruh. Proses holistik tersebut ialah proses yang menyadarkan anak bahwa tujuanmenulis adalah komunikasi dan bukan berlatih menulis bentuk huruf semata. Aspekkomunikasi inilah yang merupakan aspek sosial dari kegiatan menulis, dan aspek ini yangterabaikan oleh Piaget. Piaget lebih memperhatikan anak dalam dunianya sendiri, danbukan anak yang berkomunikasi dengan orang dewasa atau dengan anak lain. Ada pendapat Piaget yang penting, yaitu anak sebagai pembelajar dan pemikiryang aktif, yang membangun pengetahuannya dengan ‘bergulat’ dengan benda-bendaatau gagasan-gagasan. Jika kita mengambil gagasan Piaget bahwa anak beradaptasidengan lingkungannya, kita dapat melihat bagaimana lingkungan dapat menjadi settinguntuk perkembangan. Lingkungan menawarkan berbagai kesempatan kepada anak untukbertindak. Oleh karenanya, lingkungan kelas, misalnya, dapat menjadi ajang kegiatan dankreativitas yang menyebabkan pembelajaran terjadi. Berdasarkan pendapat ini,pembelajaran bahasapun dapat terjadi jika lingkungan kelas maupun sekitarnya
  • 7. dimanfaatkan sedemikian rupa agar menawarkan berbagai kesempatan bagi keterlibatandan kreativitas peserta didik.2. Teori Psikologi Vygotsky Pakar psikologi lain, Vygotsky (1962, 1978), memberikan pandangan berbedadengan Piaget terutama pandangannya tentang pentingnya faktor sosial dalamperkembangan anak. Vygotsky memandang pentingnya bahasa dan orang lain dalamdunia anak-anak. Meskipun Vygotsky dikenal sebagai tokoh yang memfokuskan kepadaperkembangan sosial yang disebut sebagai sosiokultural, dia tidak mengabaikan individuatau perkembangan kognitif individu. perkembangan bahasa pertama anak tahun kedua didalam hidupnya dipercaya sebagai pendorong terjadinya pergeseran dalam perkembangankognitifnya. Bahasa memberi anak sebuah alat baru sehingga memberi kesempatan barukepada anak untuk melakukan berbagai hal, untuk menata informasi denganmenggunakan simbol-simbol. Anak-anak sering terlihat berbicara sendiri dan mengaturdirinya sendiri ketika ia berbuat sesuatu atau bermain. Ini disebut sebagai private speech.Ketika anak menjadi semakin besar, bicaranya semakin lirih, dan mulai membedakanmana kegiatan bicara yang ditujukan ke orang lain dan mana yang ke dirinya sendiri. Yang mendasari teori Vygtsky adalah pengamatan bahwa perkembangan danpembelajaran terjadi di dalam konteks sosial, yakni di dunia yang penuh dengan orangyang berinteraksi dengan anak sejak anak itu lahir. Ini berbeda dengan Piaget yangmemandang anak sebagai pembelajar yang aktif di dunia yang penuh orang. Orang-oranginilah yang sangat berperan dalam membantu anak belajar dengan menunjukkan benda-benda, dengan berbicara sambil bermain, dengan membacakan ceritera, denganmengajukan pertanyaan dan sebagainya. Dengan kata lain, orang dewasa menjadiperantara bagi anak dan dunia sekitarnya. Kemampuan belajar lewat instruksi dan perantara adalah ciri inteligensi manusia.Dengan pertolongan orang dewasa, anak dapat melakukan dan memahami lebih banyakhal dibandingkan dengan jika anak hanya belajar sendiri. Konsep inilah yang disebutVygotsky sebagai Zone of Proximal Development (ZPD). ZPD memberi makna baru
  • 8. terhadap ‘kecerdasan’. Kecerdasan tidak diukur dari apa yang dapat dilakukan anakdengan bantuan yang semestinya. Belajar melakukan sesuatu dan belajar berpikirterbantu dengan berinteraksi dengan orang dewasa. Menurut Vygotsky, pertama-tama anak melakukan segala sesuatu dalam kontekssosial dengan orang lain dan bahasa membantu proses ini dalam banyak hal. Lambatlaun, anak semakin menjauhkan diri dari ketergantungannya kepada orang dewasa danmenuju kemandirian bertindak dan berpikir. Pergeseran dari berpikir dan berbicaranyaring sambil melakukan sesuatu ke tahap berpikir dalam hati tanpa suara disebutinternalisasi. Menurut Wretsch (dalam Helena, 2004) internalisasi bagi Vygotskybukanya transfer, melainkan sebuah transformasi. Maksudnya, mampu berpikir tentangsesuatu yang secara kualitatif berbeda dengan mampu berbuat sesuatu. Dalam prosesinternalisasi, kegiatan interpersonal seperti bercakap-cakap atau berkegiatan bersama,kemudian menjadi interpersonal, yaitu kegiatan mental yang dilakukan oleh seorangindividu. Banyak gagasan Vygotsky yang dapat membantu dalam membangun kerangkaberpikir untuk mengajar bahasa asing bagi anak-anak. Untuk membuat keputusan apayang bisa dilakukan guru agar mendukung pembelajaran kita dapat menggunakangagasan bahwa orang dewasa menjadi perantara. “Lalu … apalagi yang dapat dipelajarianak-anak?”. Ini dapat berdampak pada bagaimana menyiapkan pelajaran atau bagaimanaguru harus berbicara dengan peserta didik setiap saat. ZPD dapat menjadi pemandudalam memilih dan menyusun pengalaman pembelajaran bagi peserta didik untukmembantu mereka maju dari tahap interpersonal ke intrapersonal. Kita membantu pesertadidik agar internalisasi terjadi sehingga bahasa baru yang diajarkan menjadi bagian daripengetahuan dan keterampilan berbahasa anak.3. Teori Psikologi Bruner Menurut Bruner (dalam Helena, 2004) bahasa adalah alat yang paling pentingbagi pertumbuhan kognitif anak. Bruner meneliti bagaimana orang dewasa menggunakanbahasa untuk menjembatani dunia sekitar dengan anak-anak dan membantu mereka
  • 9. memecahkan masalah. Pembicaraan atau “omongan” yang mendukung anak dalammelakukan kegiatan disebut scaffolding talk. Scaffolding talk atau omongan guru yangdigunakan untuk menyelenggarakan kegiatan di kelas, dapat berlangsung mulai darimemeriksa presensi sampai membubarkan kelas. Ketika scaffolding talk itu terjadi dalampembelajaran bahasa Inggris, maka semua itu juga harus dilakukan dalam bahasa Inggrispula. Dalam sebuah ekxperimen yang dilakukan terhadap ibu-ibu dan anak-anak diAmerika, orang tua yang melakukan scaffolding talk secara efektif biasa melakukan hal-hal sebagai berikut: • Mereka membuat anak tertarik kepada tugas-tugas yang diberikan; • Mereka membuat tugas menjadi lebih sederhana, seringkali dengan memecah- mecah tugas menjadi langkah-langkah yang lebih kecil; • Mereka mampu mengarahkan anak kepada penyelesaian tugas dengan mengingatkan anak tentang tujuan utamanya; • Mereka menunjukkan apa-apa yang penting untuk dikerjakan, atau menunjukkan bagaimana melakukan bagian-bagian dari tugas itu; • Mereka menunjukkan bagaimana tugas itu dapat dilakukan dengan sebaik- baiknya.Wood (1998) menyarankan bahwa guru dapat mendukung (scaffold) pembelajaran(bahasa Inggris sebagai bahasa asing) kepada anak dengan berbagai cara sebagai berikut: Guru dapat membantu peserta didik Dengan cara ……… ……….. Menunjukkan apa yang relevan - memberi saran - memuji yang perlu dipuji - memfokuskan kegiatan Menggunakan strategi yang berguna - mendorong adanya latihan - membuat aturan yang jelas dan Eksplisit Mengingat seluruh tugas dan - mengingatkan tujuannya
  • 10. - memberi model - memberi kegiatan menyeluruh dan bagian-bagian kegiatannya.Setiap strategi ini dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa. Prinsip “membantupeserta didik untuk memperhatikan hal-hal yang penting” dapat selalu diterapkan dalamberbagai kesempatan dan ini mendukung pendapat Schmidt (dalam Helena, 2004)mengenai apa yang disebut dengan noticing. Ketika guru mengarahkan perhatian anak agar selalu mengingat tugas utamanya,sebenarnya guru membantu peserta didik melakukan sesuatu yang belum dapat merekalakukan sendiri. Ketika anak sedang asyik memperhatikan bagian-bagian dari tugas atauaspek-aspek bahasa, ada kemungkinan mereka lupa akan tujuan komunikatif bahasakarena terbatasnya kemampuan mereka dalam hal memperhatikan. Tugas guru adalahmenjaga agar perhatian anak kepada hal-hal yang penting tidak “terbelokkan” ke hal ataukegiatan yang dimaksudkan sebagai penunjang. Gagasan Bruner yang lain yang sangat relevan dan berguna bagi pembelajaranbahasa adalah mengenai format and routine. Kedua hal ini mengacu pada kebiasaan-kebiasaan yang memungkinkan kegiatan scaffolding terjadi. Scaffolding adalah aktivitasguru, baik secara fisik maupun verbal, yang dilakukan secara rutin sehingga anak menjaditerbiasa dengan kegiatan atau ungkapan-ungkapan guru waktu pelajaran berlangsung.Jadi, ketika anak terbiasa dengan pola kegiatan atau bahasa guru, mereka merasa“nyaman” dan percaya diri dan mereka menjadi siap untuk menerima hal-hal yang baru.Caontoh yang paling menonjol yang diberikan Bruner adalah kebiasaan membaca ceriteraatau story reading yang dilakukan orang tua di Amerika kepada anak-anaknya. Tentusaja, ketika anak bertambah usia, buku cerita yang digunakan juga berubah, tetapi formatkegiatannya masih serupa. Dalam kegiatan ini, orang dewasalah yang banyak bicara baikketika membaca ceritera (yang sering diberi ilustrasi gambar-gambar) maupun sambilmemberi pertanyaam atau instruksi kepada anak-anak, seperti “Coba lihat ini…
  • 11. hidungnya besar, kan?”. Dengan cara ini keterlibatan anak dalam berbicara akanmeningkat pula. Jika orang tua atau guru banyak melakukan pembacaan ceritera, makaguru akan banyak melakukan pengulangan ungkapan-ungkapan yang semakin lamasemakin canggih yang dipahami oleh peserta didik. Kegiatan membaca certera iniditunjang oleh orang dewasa agar anak dapat berpartisipasi sesuai dengan tingkatkemampuannya. Dengan kata lain penggunaan bahasa yang dilakukan secara rutin menjadi mudahditebak; anak mudah menebak apa yang dikatakan guru dan anak akan dapat lebih mudahmerespon perkataan guru. Di sini terdapat “ruang” tempat anak dapat mempraktikkanbahasanya sendiri. “Ruang untuk tumbuh” atau space of growth ini menjadi zone ofproximal development (ZPD) sebagaimana ada dalam teori Vygotsky. Menurut Bruner,kegiatan rutin dan penyesuaian-penyesuain inilah yang menyediakan tempat bagiperkembangan bahasa dan kognitif anak. Jika gagasan ini diterapkan di dalam kelas, dapat dilihat bagaimana kegiatan rutinyang terjadi di setiap hari dapat menjadi ajang terbentuknya perkembangan bahasa.Misalnya saja ketika guru melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan pengalamanpembelajaran dan memerlukan partisipasi peserta didik untuk membagi gunting dansebagainya, guru sebaiknya menggunakan bahasa Inggris sperti, “John, please give outthe scissors. Martha, give out the paper.” Kepada peserta didik yang kurang pandai.Kepada anak yang lebih pandai, instruksinya bisa lebih rumit, misalnya “Sam, please askeveryday if they want white paper or black paper”. Jika ini sering dilakukan makapeserta didik akan semakin memahami instruksi-instruksi lama dan belajar memahamiinstruksi baru melalui konteks. Meningkatnya kesulitan instruksi inilah yang memberikanruang untuk pertumbuhan. Ketika bahasa yang digunakan guru berada dalam lingkupZPD anak, ia dapat memahaminya sehingga proses internalisasi dapat berlangsung.Kesimpulannya, hal-hal yang rutin termasuk ungkapan-ungkapan, seperti instruksi,membuka kesempatan bagi berkembangnya keterampilan bahasa.4. Implikasi Praktis
  • 12. Teori psikologi yang diuraikan di atas berimplikasi atau berdampak langsungterhadap apa yang selayaknya dilakukan oleh guru dalam mengajar bahasa Inggrissebagai bahasa asing di kelas. Dari teori Piaget dapat disimpulkan bahwa pembelajaran memang terjadibertahap, tetapi ini bukan berarti bahwa pembelajaran yang holistik tidak dapat terjadijika tahap-tahap pembelajaran tersebut tidak dilalui secara sistematis. Dengan kata lain,dalam merencanakan kegiatan belajar mengajar guru bisa saja menyusun materi dari yangpaling mudah hingga yang paling sulit menurut versi atau pandangan guru. Akan tetapi,dalam komunikasi nyata seringkali apa yang dianggap sulit secara teoritis justru banyakdigunakan dan anak dapat memperolehnya dengan mudah karena materi tersebut seringdidengarnya lewat televisi. Frasa-frasa yang secara gramatikal termasuk “canggih”seperti fried chicken, video rental, sea food, American Idol, MTV Hit Lists, MTV CribsCyber Cafe, shopping mall, supermarket, hand-and-body lotion, thinner, eye shadow,body suit, laundry dan sebagainya menjadi mudah bagi peserta didik dan mereka dapatmenggunakkanya sesuai konteks. Kemampuan ini menunjukkan bahwa mereka merasanyaman menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Inggris bukan sebagai hasilmenganalisis dan memahami struktur frasanya, melainkan karena kata-kata tersebutsudah menjadi bagian rutin masyarakat. Di jaman televisi yang banyak menampilkanbahasa Inggris, anak-anak remaja bisa dengan mudah mempelajari ungkapan-ungkapanseperti It’s cool, isn’t it?, Come on, guys…, Stay tuned! Check it out! dan sebagainya. Di sisi lain bisa dilihat juga bahwa pola kalimat simple present tense termasukpola kalimat yang paling sederhana dan mudah dihapal. Akan tetapi, penggunaan simplepresent tense dalam komunikasi baik lisan maupun tulis sulit dikatakan mudah atausederhana. Buku-buku ajar yang beredar di pasaran banyak mengandung kesalahanpenggunaan pola ini; pola kalimatnya benar, tetapi konteks penggunaannya tidak sesuai.Adalah menjadi tugas guru untuk memanfaatkan potensi anak sebagai pemikir untuktidak hanya menghafal rumus melainkan menggunakan rumus dalam konteks yang tepatlewat berbagai kegiatan pembiasaan.
  • 13. Teori Vygotsky tentang Zone of Proximal Development menekankan betapaperang guru sangat dibutuhkan dalam rangka terjadinya pembelajaran yang optimal.Dikatakan bahwa anak atau peserta didik memiliki kapasitas atau potensi untuk belajarsendiri (seperti teori Piaget), tetapi belajar yang optimal terjadi karena anak mendapatpertolongan dari orang dewasa yang ada di sekitarnya. Pembelajaran terjadi karenaadanya interaksi dengan lingkungan sosialnya. Penelitian Halliday mengenai bagaimanaanak kecil ber(tukar) makna (learning how to mean) memberikan ilustrasi yang bernilaiterhadap teori Vygotsky ini. Bahasan ini menunjukkan betapa pentingnya bagi guru untuk merencanakankegiatan belajar mengajar yang seksama. Rencana tersebut secara eksplisit perlumencantumkan kegiatan apa yang akan dilakukan atau pengalaman pembelajaran apayang akan diberikan dan untuk tujuan apa. Rencana pengajaran tersebut diharapkansecara serius mempertimbangkan jenis-jenis interaksi di dalam kelas yang menjadikankelas sebagai ZPD. Implikasinya ialah bahwa guru memang masih perlu menjelaskanpola kalimat, melakukan drill jika perlu melatih ucapan, tetapi sebagian besar waktusebaiknya dimanfaatkan semaksimal mungkin agar terjadi macam interaksi. Teori Burner juga mendukung gagasan Vygotsky. Gagasan Bruner tentangscaffolding atau memberikan kegiatan-kegiatan pendukung dalam upaya terjadinyainternalisasi sangat relevan dengan pendidikan bahasa. Di bidang ini, kegiatanscaffolding secara verbal merupakan keniscayaan jika pendidikan bahasa dimaksudkansebagai pendidikan komunikasi. Sayangnya, justru scaffolding talk atau “omongan” guruyang diharapkan menyertai seluruh proses pembelajaran bahasa Inggris sering tidakmuncul di dalam kelas. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa guru berbahasa Inggrishanya kalau sedang membaca bacaan, pertanyaan yang ada di buku dan instruksi-instruksi tertulis. Kegiatan lain diselenggarakan dalam bahasa Indonesia. Misalnya,memeriksa kehadiran peserta didik, mengatur atau mengelola kelas, memberi komentar-komentar; semuanya dilakukan dalam bahasa Indonesia. Padahal, justru ungkapan-ungkapan bahasa Inggris yang “bukan pelajaran” inilah yang potensial untuk membangunZPD, menanamkan kebiasaan, dan memungkinkan terjadinya internalisasi.
  • 14. Implikasinya, jika guru berharap agar peserta didik dapat berkomunikasi dalambahasa Inggris dengan baik, maka guru harus bebahasa Inggris di kelas sebab scaffoldingtalk atau “omongan yang bukan pelajaran” inilah yang bisa menciptakan pembiasaanuntuk berkomunikasi berbahasa Inggris bagi peserta didik. Kelemahan umum guru-gurubahasa Inggris di Indonesia dalam hal melakukan scaffolding talk perlu disadari denganbenar, karena kenyataanya guru-guru yang mengajar bahasa Inggris tetapi di dalam kelasjustru lebih banyak berbicara dalam bahasa Indonesia. Keaadaan ini memang terdengarironis. Akan tetapi ini tidak berarti bahwa kurikulum harus menyesuaikan dengankeadaan guru. Dengan kurikulum ini guru didorong untuk meningkatkan dirinya karenabelajar bahasa berlangsung seumur hidup. Implikasi lain, terutama teori Vygotsky, tampaknya terjadi pula pada pandanganpara pengikut konstruktivisme dalam pembelajaran (bahasa). Seperti telah disinggung didepan bahwa menurut teori Vygotsky, anak-anak dibesarkan di dalam suatu settingkelompok sosial. Vygotsky memandang pentingnya kultur dan pentingnya konteks sosialbagi perkembangan kognitif. Menurut Vygotsky, atau dengan cara pandangkonstruktivisme ini, anak-anak atau peserta didik dengan pertolongan orang dewasa dapatmenguasai konsep-konsep atau gagasan-gagasan yang mereka tidak bisa pahami sendiri.Annie Susany (2002) menyatakan bahwa dalam visi konstruktivisme terdapat empatpandangan utama yang diyakini oleh para pendukungnya, yaitu:a) Belajar dan berkembang adalah bersifat sosial, sehingga belajar merupakan suatu kegiatan kolaboratif;b) “The Zone of Proximal Development” dapat bertindak sebagai suatu pegangan untuk rencana kurikuler dan mata pelajaran;c) Pengajaran di sekolah seyogyanya terjadi dalam suatu konteks yang bermakna (meaningful context) dan tidak bisa dipisahkan dari pengajaran serta pengetahuan yang dikembangkan oleh para peserta didik dan “dunia nyata”;d) Pengalaman-pengalaman di luar sekolah hendaknya dihubungkan dengan pengalaman- pengalaman para peserta didik (anak-anak) di dalam lingkungan sekolah.
  • 15. ZPD dalam hal ini merupakan suatu gagasan yang memandang bahwa potensiperkembangan kognitif seseorang terbatas pada suatu waktu tertentu saja. ZPD ini bisadikembangkan secara terus menerus dan memerlukan interaksi sosial. ZPD menurutVygotsky sebagai jarak antara tingkat perkembangan dengan tingkat potensiperkembangan yang dimiliki seseorang. Berdasarkan pada konsep ini, seorang guru bisamenawarkan suatu tujuan yang mungkin sulit dicapai oleh para peserta didik atau anak-anak dan kemudian mereka ini berusaha untuk mencapainya sendiri atau dengan bantuananak-anak lain yang lebih dewasa. Vigotsky memandang bermain sebagai faktor atausarana yang sangat penting dalam belajar. Berdasarkan prinsisp-prinsip teori Vygotsky seperti telah dibicarakan di atas,terdapat sejumlah kegiatan dalam kelas bahasa (termasuk kelas bahasa Inggris sebagaibahasa asing) yang bisa dijadikan tempat atau kesempatan untuk menerapkan gagasankonstruktivisme ini. Beberapa contoh kegiatan itu misalnya:a) Kegiatan workshop membaca dan menulis Di dalam workshop, peserta didik atau anak-anak yang kurang menguasai pokokbahasan akan lebih dahulu mendengarkan dan belajar dari mereka yang lebih mampu.Setelah mendengarkan dan mengikuti penjelasan tentang subject matter, maka pesertadidik yang belum mampu itu akan mencoba melakukan sendiri atau dibantu dengan yanglebih mampu. Secara bertahap akhirnya mereka akan bisa melakukannya sendiri.b) Kegiatan belajar empat keterampilan bahasa Dalam belajar atau proses pengajaran bahasa, keempat kemampuan dasar;listening, speaking, reading, dan writing, dilakukan di dalam kelas. Peserta didik-pesertadidik yang kurang menguasai bisa disatukan dengan yang lebih menguasai materipelajaran bahasa. Dengan demikian terjadi semacam proses belajar dari teman secaratidak langsung.c) Kegiatan belajar berdasarkan situasi
  • 16. Situasi tidak selalu cocok dengan kebutuhan belajar. Bagaimana caramengatasinya? Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah melalui pendekatan dankegiatan konstruktivistik, misalnya hal ini bisa dilakukan di daerah-daerah terpencil yangkekurangan guru. Peserta didik yang pandai diminta membantu guru untuk mengajarkanpengetahuan yang telah dimiliki (dikuasai) kepada peserta didik lain yang belummenguasainya.d) Kegiatan belajar kolaboratif Belajar kolaboratif bisa terjadi di dalam kelas (suasana intra kurikuler) maupunekstra kurikuler. Bentuk belajar kolaboratif ini bisa dilakukan dalam kelas writing bagipeserta didik SMP, SMA atau bahkan mahasiswa di PT. Peserta didik atau mahasiswadiminta untuk mencari dua atau tiga “kolaborator” yang akan saling mengoreksipekerjaan masing-masing untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungandengan mekanik penulisan (mechanic writing), kesalahan-kesalahan kecil, dan tidakdalam content (yang merupakan wewenang guru atau dosen untuk melakukannya).e) Kegiatan instruksi yang memberikan bantuan (anchored instruction). Instruksi bisa berbentuk task-based yang dilakukan melalui sistem konsultasidengan guru. Dengan demikian, suatu tugas tidak hanya dimulai dari suatu instruksi yangkaku dan diserahkan sepenuhnya kepada peserta didik, akan tetapi tugas yang diberikanharus memberikan peluang bagi peserta didik untuk berdiskusi atau berkonsultasi dengangurunya ketika mereka itu sedang menyelesaikan tugasnya. Instruksi tidak lagi murniinstruksi melainkan ada unsur kolaboratif antara peserta didik dengan guru.f) Kegiatan games, simulasi, instruksi kasus atau problem solving. Dalam kelas bahasa kegiatan ini sangat tepat diterapkan dalam kelas speaking.Kegiatan ini unsur kolaborasi dan saling bantu masih tetap ditonjolkan di antara parapeserta didik.
  • 17. Pada kenyataanya pendekatan konstruktivistik ini tidak hanya bisa diterapkan dikelas-kelas bahasa, tetapi dapat pula dilakukan di kelas-kelas MIPA, kelas komputer,akuntansi dan lain-lain yang menekankan kegiatan kolaboratif antara peserta didikdengan peserta didik atau peserta didik dengan guru.D. Penutup Teori psikologi mempunyai peranan yang sangat penting dalam membantu gurudalam mendesain proses pembelajaran bahasa Inggris sebagai asing. Pemahaman guruterhadap berbagai teori psikologi sangat diperlukan dalam rangka mendesain prosespembelajaran, sehingga mereka mampu menciptakan proses pembelajaran yangbermakna (menarik, menyenangkan dan menimbulkan motivasi) bagi peserta didik.Ketika hal ini bisa diwujudkan, maka tujuan pembelajaran yang sudah ditentukansebelumnya akan lebih mudah untuk diwujudkan pula. Dapat disimpulkan pula bahwa di dalam pendekatan konstruktivistik terdapatbeberapa pokok pikiran yang menjadikannya berbeda dengan pendekatan pedagogiklainnya. Pendekatan konstruktivistik ini dapat dijabarkan dalam beberapa hal, yaitumemandang kultur sebagai sumber pengajaran; memandang pihak lain sebagai stake-holders dalam pengembangan pengetahuan; memandang peserta didik sebagai seseorangyang mempunyai potensi yang mesti dikembangkan; dan menempatkan ZPD, sepertidalam teori Vygotsky, sebagai komponen vital dalam proses belajar. Denganmengembangluaskan ZPD, peserta didik pada tinkat pendidikan apapun akan bisamengembangkan dirinya secara terus menerus melalui lingkungannya. DAFTAR REFERENSIAnnie Susiany S. 2002. Bahasa Inggris. Materi Penataran Tertulis Pengayaan Guru SMU. Bandung: PPPG Tertulis.Bruner, J. 1990. Acts of Meaning. Cambridge: Havard University Press.Cameron. 2001. Teaching Languages to Young Learners. UK: Cambridge University Press.
  • 18. Chomsky, N. 1965. Aspects of the Theory of Syntax. Cambridge: MIT Press.Halliday, M.A.K. 1978. Language as Social Semiotic. London: Edward Arnold.Helena I.R. Agustien. 2004. Landasan Filosofis Teoritis Pendidikan Bahasa Inggris. Jakarta: Dirjend Dikdasmen Depdiknas.Rodi Hartono,M.Pd. *)Dosen bahasa Inggris di STAIN Kerinci dan Mahasiswa Program Doktor Universitas Negeri Padang