Tgt circ
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Tgt circ

on

  • 1,367 views

 

Statistics

Views

Total Views
1,367
Views on SlideShare
1,367
Embed Views
0

Actions

Likes
1
Downloads
56
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Tgt circ Tgt circ Document Transcript

  • BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Pada zaman sekarang ini pendidikan sudah mengalami perubahan yang sangat pesat. Berbagai cara pembelajaran atau model pembelajaran juga telah banyak digunakan dalam proses pembelajaran. Supaya terwujud pembelajaran yang dapat menuntun peserta didik mencapai tujuan yang telah ditetapkan, maka tugas guru adalah mengusahakan suasana kelas selama pembelajaran berlangsung berada pada kondisi yang menyenangkan dan menarik perhatian siswa. Hal ini dikarenakan belajar akan efektif apabila dilakukan dalam keadaan yang menyenangkan. Matematika adalah mata pelajaran yang memiliki peranan penting dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan memajukan daya pikir manusia. Mata pelajaran matematika diberikan kepada peserta didik dari SD sampai dengan SMA supaya membekali peserta didik untuk berpikir logis, sistematis, kritis, kreatif serta kemampuan untuk bekerjasama. Banyak masalah yang dihadapi dalam pembelajaran matematika, oleh karena itu guru seharusnya memberikan motivasi dalam pembelajaran matematika. Pembelajaran hendaknya juga menyesuaikan karakter peserta didik. Matematika membutuhkan model pembelajaran dengan pendekatan yang nyata. Model pembelajaran efektif dalam proses pembelajaran matematika antara lain adalah yang dapat menumbuhkan kreatifitas peserta didik. Peserta didik SD dan SMP senang dalam bentuk permainan dan pertandingan, sehingga guru dapat menggunakan model pembelajaran yang mempunyai unsur permainan dan pertandingan. Model pembelajaran Teams GamesTournament (TGT) salah satu alternatif yang dapat digunakan guru SD dan SMP, karena model pembelajaran ini sesuai dengan karakter peserta didik SD dan SMP yang senang dengan permainan dan pertandingan. Model pembelajaran TGT juga memiliki dinamika motivasi yang tingga sehingga diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. 1.2.Rumusan Masalah 1. 2. 3. 4. Bagaimana pengertian model pembelajaran Kooperatif? Bagaimana pengertian model pembelajaran Teams Games-Turnament(TGT)? Bagaimana langkah-langkah model pembelajaran Teams Games-Tournament(TGT)? Bagaimana penerapan model pembelajaran Teams Games-Turnament(TGT) dalam proses pembelajaran? 5. Bagaimana kelebihan dan kekurangan model pembelajaran Teams GamesTurnament(TGT) dalam proses pembelajaran?
  • 1.3.Tujuan 1. Untuk mengetahui pengertian model pembelajaran Kooperatif? 2. Untuk mengetahui pengertian model pembelajaran Teams Games-Turnament(TGT)? 3. Untuk mengetahui langkah-langkah model pembelajaran Teams GamesTournament(TGT)? 4. Untuk mengetahui penerapan model pembelajaran Teams Games-Turnament(TGT) dalam proses pembelajaran? 5. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan model pembelajaran Teams GamesTurnament(TGT) dalam proses pembelajaran? BAB II PEMBAHASAN 2.1.Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif atau cooperative learning adalah salah satupembelajarandengancarapesertadidikbelajardanbekerjadalamkelompokkelompokkecilsertakolaboratif yang anggotanyaterdiridariempatsampaienam orang denganstrukturkelompok yang bersifatheterogen. Dalampembelajarankooperatifakanterciptasebuahinteraksi yang lebihluas, yaituinteraksidankomunikasi yang dilakukanantara guru denganpesertadidik, pesertadidikdenganpesertadidik,danpesertadidikdengan guru. Pembelajarankooperatiftidaksamadengansekedarbelajardalamkelompok. Ada unsurdasarpembelajarankooperatif yang membedakandenganpembelajarankelompok yang dilakukanasal-asalan.Pelaksanaanprinsipdasarpokok sistem pembelajarankooperatifdenganbenarakanmemungkinkan guru mengelolakelasdengan lebihefektif. Dalam proses pembelajarantidakharusbelajardari guru kepadapesertadidik. Pesrtadidikdapatsalingmembelajarkansesamapesertadidiklainnya.Pembelajaranolehrekanseba yalebihefektifdaripadapembelajaranoleh guru. Strategipembelajarankooperatifmerupakanserangkaiankegiatanpembelajaran yang dilakukanolehpesertadidik di dalamkelompok, untukmencapaitujuanpembelajarantelahditetapkan.Terdapatempathalpentingdalamstrategipe mbelajarankooperatif, yaitu: (1) adanyapesertadidikdalamkelompok, (2) adanyaaturan main dalamkelompok, (3) adanyaupayabelajardalamkelompok, (4) adanyakompetensi yang harusdicapaiolehkelompok. Pembelajarankooperatifmewadahibagaimanapesertadidikdapatbekerjasamadalamkelompok, tujuankelompokadalahtujuanbersama. Situasikooperatifmerupakanbagiandaripesertadidikuntukmencapaitujuankelompok, pesertadidikharusmerasakanbahwamerekaakanmencapaitujuan, makapesertadidik lain
  • dalamkelompoknyamemilikikebersamaan, artinyatiapanggotakelompokbersikapkooperatifdengansesamaanggotakelompoknya. Pembelajaran kooperatif memiliki beberapa metode atau pendekatan, diantaranya:STAD (Student Team Achievement Division), Jigshaw, InvestigasiKelompok (Group Investigation), Model Make a Tach(MembuatPasangan), TPS (Think Pair And Share), TGT (Teams Games and Tournament), NHT (Numbered Heads Together). 2.2.Pengertian Model PembelajaranTeams Games Tournaments (TGT) Metode TGT dikembangkan pertama kali oleh David De Vries dan Keith Edward. Metode ini merupakan suatu pendekatan kerja sama antarkelompok dengan mengembangkan kerja sama antarpersonal. Dalam pembelajaran TGT pesertadidikmemainkanpermainandengananggotaanggotatim lain untukmemperolehskorbagitimmerekamasing-masing. Permainandapatdisusun guru dalambentukkuisberupapertanyaan-pertanyaan yang berkaitandenganmateripelajaran.Kadang-kadangdapatjugadiselingidenganpertanyaan yang berkaitandengankelompok. Pembelajaran kooperatif dengan metode TGT ini memiliki kesamaan dengan metode STAD dalam pembentukan kelompok dan penyampaian materi kecualisatuhal, TGT menggunakanturnamenakademikdanmenggunakankuis-kuisdan sistem skorkemajuanindividu, dimanaparapesertadidikberlombasebagaiwakiltimmerekadengantim lain yang kinerjaakademiksebelumnyasetaramereka. Teman satu tim atau kelompok akan saling membantu dalam mempersiapkan diri untuk permainan dengan mempelajari lembar kegiatan dan menjelaskan masalah-masalah satu sama lain, tetapi sewaktu peserta didik sedang bermain dalam game atau permainan, teman yang lain tidak boleh membantu, dan guru perlu memastikan telah terjadi tanggung jawab individual. Dalam pembelajarankooperatiftipe TGT ini pesertadidiksebelumnya telah belajarsecara individual, untukselanjutnyabelajar kembali dalamkelompokmasing-masing. Dan kemudian mengadakanturnamenataulombadengananggotakelompoklainnyasesuaidengantingkatkemamp uannya. TGT adalah salah satu pembelajaran kooperatif yang menempatkan peserta didik dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang peserta didik yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku kata atau ras yang berbeda. Guru menyajikanmateridanpesertadidikbekerjadalamkelompokmerekamasing-masing. Dalamkerjakelompok guru memberikan LKPDkepadasetiapkelompok. Tugas yang diberikandikerjakanbersamadengananggotakelompoknya.Apabilaadadarianggotakelompok yang tidakmengertidengantugas yang diberikan, makaanggotakelompok yang lain bertanggungjawabuntukmemberikanjawabanataumenjelaskannya, sebelummengajukanpertanyaantersebutkepada guru. Kemudahanpenerapan TGT inidisebabkandalampelaksanaanyatidakadanyafasilitaspendukung yang harustersediasepertiperalatanatauruangankhusus.Selainmudahditerapkandalampenerapannya TGT jugamelibatkanaktivitasseluruhpesertadidikuntukmemperolehkonsep yang diinginkan.
  • 2.3.Langkah-langkah Model PembelajaranTeams Games Tournaments (TGT) Secara umum ada 5 komponen utama dalam penerapan model TGT, yaitu: 1. Penyajian Kelas (Class Presentations) Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas atau sering juga disebut dengan presentasi kelas (class presentations). Gurumenyampaikantujuanpembelajaran, pokokmateridanpenjelasansingkattentang LKS yang dibagikankepadakelompok. Kegiatan ini biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah yang dipimpin oleh guru. Pada saat penyajian kelas ini peserta didik harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, karena akan membantu peserta didik bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game atau permainan karena skor game atau permainan akan menentukan skor kelompok. 1. Belajar dalam Kelompok (Teams) Guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok berdasarkan kriteria kemampuan (prestasi) peserta didik dari ulangan harian sebelumnya, jenis kelamin, etnikdanras. Kelompok biasanya terdiri dari 5 sampai 6 orang peserta didik. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game atau permainan. Setelah guru memberikan penyajian kelas, kelompok (tim atau kelompok belajar) bertugas untuk mempelajari lembar kerja. Dalam belajar kelompok ini kegiatan peserta didik adalah mendiskusikan masalah-masalah, membandingkan jawaban, memeriksa, dan memperbaiki kesalahan-kesalahan konsep temannya jika teman satu kelompok melakukan kesalahan. 1. Permainan (Games) Game atau permainan terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan materi, dan dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat peserta didik dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game atau permainan terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Game atau permainan ini dimainkan pada meja turnamen atau lomba oleh 3 orang peserta didik yang mewakili tim atau kelompoknya masing-masing. Peserta didik memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Peserta didik yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Skor ini yang nantinya dikumpulkan peserta didik untuk turnamen atau lomba mingguan. 1. Pertandingan atau Lomba (Tournament) Turnamen atau lomba adalah struktur belajar, dimana game atau permainan terjadi. Biasanya turnamen atau lomba dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja peserta didik (LKPD). Turnamen atau lomba pertama guru membagi peserta didik ke dalam beberapa meja
  • turnamen atau lomba. Tiga peserta didik tertinggi prestasinya dikelompokkan pada meja I, tiga peserta didik selanjutnya pada meja II dan seterusnya. 1. Penghargaan Kelompok (Team Recognition) Setelah turnamen atau lomba berakhir, guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing tim atau kelompok akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Tim atau kelompok mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 50 atau lebih, “Great Team” apabila rata-rata mencapai 5040 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 40 kebawah. Hal ini dapat menyenangkan para peserta didik atas prestasi yang telah mereka buat. 2.4.Penggunaan Model Pembelajaran dalam Proses PembelajaranTeams Games Tournament (TGT) Model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dapat diterapkan dalam berbagai macam mata pelajaran. Terutama bagi peserta didik tingkat SD dan SMP yang masih suka bermain. Model pembelajaran ini pernah dipraktekkan pada kelas IV SD. Kegiatan pembelajaran dilakukan sesuai pembelajaran TGT dengan bernuansa CTL yang diantanranya menggunakan metode ceramah, diskusi, dan model pembelajaran kooperatif serta pemecahan masalah dengan memperhatikan fase-fase yang ada di dalamnya dan karakteris materi yang akan disampaikan. Pembelajaran dilakukan di laboratorium bahasa yang ada di sekolah, untuk melaksanakan pembelajaran dengan berbantuan CD pembelajaran. Hasil yang diperoleh dari proses pembelajaran TGT pada peserta didik kelas IV SD berbantuan media animasi grafis berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa pada kelas sebesar 80% serta berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa pada kelas dengan bantuan alat peraga. Model pembelajaran TGT juga pernah dilakukan dalam pembelajaran toksikologi, khususnya kelas yang tingkatnya sudah lebih tinggi. Hasil belajar mahasiswa dengan menggunakan salah satu metode pembelajaran ini memberikan hasil yang lebih baik jika dibandingkan pembelajaran sebelumnya yang hanya menggunakan metode ceramah dan resitasi. Mahasiswa lebih antusias dan bersemangat untuk mengeluarkan pendapatnya, yang berarti mahasiswa lebih banyak belajar untuk dapat beragumentasi. Mahasiswa yang kurang mampu akan dapat memperoleh bagian dari kelompoknya dan akan berusaha belajar dengan baik, karena semua anggota kelompok harus aktif. 2.5.KelebihandanKekurangan Model PembelajaranTeams Games Tournaments (TGT) Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah sebagai berikut: 1. Model TGT tidak hanya membuat peserta didik yang cerdas (berkemampuan akademis tinggi) lebih menonjol dalam pembelajaran, tetapi peserta didik yang
  • berkemampuan akademi lebih rendah juga ikut aktif dan mempunyai peranan yang penting dalam kelompoknya. 2. Dengan model pembelajaran ini, akan menumbuhkan rasa kebersamaan dan saling menghargai sesama anggota kelompoknya. 3. Dalam model pembelajaran ini, membuat peserta didik lebih bersemangat dalam mengikuti pelajaran. Karena dalam pembelajaran ini, guru menjanjikan sebuah penghargaan pada peserta didik atau kelompok terbaik. 4. Dalam pembelajaran peserta didik ini membuat peserta didik menjadi lebih senang dalam mengikuti pelajaran karena ada kegiatan permainan berupa tournamen dalam model ini. Kelemahan dalam model pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah sebagai berikut: 1. Dalam model pembelajaran ini, harus menggunakan waktu yang sangat lama. 2. Dalam model pembelajaran ini, guru dituntut untuk pandai memilih materi pelajaran yang cocok untuk model ini. 3. Guru harus mempersiapkan model ini dengan baik sebelum diterapkan. Misalnya membuat soal untuk setiap meja turnamen atau lomba, dan guru harus tahu urutan akademis peserta didik dari yang tertinggi hingga terendah. BAB III PENUTUP 3.1.Kesimpulan Pembelajaran kooperatif atau cooperative learning adalah salah pembelajaran dengan cara peserta didik belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil serta kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Pembelajaran kooperatif memiliki beberapa metode atau pendekatan, diantaranya:STAD (Student Team Achievement Division), Jigshaw, Investigasi Kelompok (Group Investigation), Model Make a Tach (Membuat Pasangan), TPS (Think Pair And Share), TGT (Teams Games and Tournament), NHT (Numbered Heads Together). TGT merupakan model pembelajaran dengan memainkan permainan dengan anggota-amggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing. Setiap kelompok terdiri dari 5 sampai 6 orang peserta didik yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku kata atau ras yang berbeda. Guru menyajikan materi, dan peserta didik bekerja dalam kelompok mereka masing-masing.
  • Model pembelajaran TGT terdiri dari lima langkah tahapan, yaitu tahap penyajian kelas (class precentation), belajar dalam kelompok (teams), permaianan (games), pertandingan dan turnamen (tournament), dan penghargaan kelompok (team recognition). Dalam pelaksanaannya model pembelajaran TGT berjalan dengan baik dan memberikan hasil yang positif terhadap hasil pembelajara. Model pembelajaran TGT memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya antara lain dapat menumbuhkan kerjasama antaranggota kelompok, lebih bersemangat dan senang mengikuti pembelajaran. Sedangkan kekurangannya antara lain membutuhkan waktu yang lama dan guru dituntut memilih materi yang cocok. 3.2.Saran 1. Dalam model pembelajaran kooperatif tipe TGT, guru sebaiknya mempersiapkan materi, LKS, dan kartu soal sehari sebelum dimulainya proses pembelajaran. 2. Guru diharapkan dapat mengembangkan kreatifitas dalam pembelajaran dan menggunakan media pembelajaran sehingga keaktifan siswa dapat lebih ditingkatkan. 3. Pengontrolan waktu harus diperhatikan sehingga kegiatan pembelajaran lebih efektif dan lebih dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan maksimal. DaftarPustaka Rusman.2011.Model-Model PembelajaranMengembangkanProfesionalGuru.Jakarta: RajawaliPers Sinambela, Masdiana.2009.Model Belajar Teams Games Tournament (TGT) untukMengefektifkanPerkuliahanToksikologi.http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/41094144 .pdf. (14 September 2012). Purwat, Heni. Keefektifan Pembelajaran Matematika Berbasis Penerapan TGT Berbantuan Animasi Grafis pada Materi Pecahan Kelas IV. ejurnal.ikippgrismg.ac.id/indeks.php/aksioma/issue/archive (14 September 2012) Micheal M van Wyk dkk. The Effects Of Teams-Games-TournamentsOn Achievement, Retention, And Attitudes Of Economics Education Students. springer.com. ( 18 September 2012) Dr.B.Padmaja Rani dkk. Architecting Secure Web Services using Model Driven Agile Modeling. Springer.com (18 September 2012)
  • http://desykartikaputri.wordpress.com/2013/01/02/makalah-model-pembelajaran-tgt-teamsgames-tournament/ Kelompok biasanya terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihatdari prestasi akademik, jenis kelamin dan ras atau etnik. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game.3) GameGame terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yangdidapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu bernomor dan mencobamenjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Skor ini yang nantinya dikumpulkan siswa untuk turnamen mingguan.4) TurnamenBiasanya turnamen dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah gurumelakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. Turnamen pertama guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Tiga siswa tertinggi prestasinya dikelompokkan pada meja I, tiga siswa selanjutnya pada meja II dan seterusnya. Contoh aturan Permainan:  Pemain pertama mengambil kartu bernomor dan menemukan pertanyaan yang sesuaidengan lembar permainan.  Membaca pertanyaan tersebut dengan keras.  Memberi Jawaban.  Penantang Pertama: Setuju dengan pembaca atau menantang dan  memberi jawaban, demikian juga penantang kedua.  Mencocokkan jawaban.  Pemain yang menjawab benar akan menyimpan kartu tersebut. Apabila  ada penantang yang menjawab salah ia akan mengembalikan kartu yang  dimenangkan sebelumnya (bila ada) ke tumpukan kartu. Apabila tidak ada  satupun jawaban yang benar, kartu tersebut dikembalikkan ke tumpukan.  Langkah ini dilakukan sampai akhir pelajaran, atau tumpukan kartu telah habis. Pada akhir turnamen hitunglah banyaknya kartu yang diperoleh tiap siswa,siswa yang memperoleh skor tertinggi mendapat poin 60, tingkatan berikutnyamasing-masing 50, 40 dan 20.5) Team recognize (penghargaan kelompok)Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masingmasing team akanmendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan.Team mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 45 atau lebih, “Great Team”apabila rata-rata mencapai 40-45 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-40
  • 4 . I mp l e me n t a s i Pe mb e l aj a r a n T GT Dalam pengimplementasian yang hal yang harus diperhatikan yaitu.1 ) P e mb e l aj a r a n t er p u sat p a d a si s w a 2)Proses pembelajaran dengan suasana berkompetisi 3)Pembelajaran bersifat aktif ( siswa berlomba untuk dapat menyelesaikan persoalan)4)Pembelajaran diterapkan dengan mengelompokkan siswa menjadi tim-tim5 ) D a l a m ko mp e t i si d i t e r a p ka n s ys t e m p o i nt 6)Dalam kompetisi disesuaikan dengan kemampuan siswa atau dikenal kesetaraandalam kinerja akademik 7)Kemajuan kelompok dapak diikuti oleh seluruh kelas melalui jurnal kelas yangditerbitkan secara mingguan8)Dalam pemberian bimbingan guru mengacu pada jurnal9)Adanya system penghargaan bagi siswa yang memperoleh point banyak 5.Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran TGT Metode pembelajaran kooperatif Team Games Tournament (TGT) ini mempunyaikelebihan dan kekurangan. Menurut Suarjana (2000:10) dalam Istiqomah (2006), yangmerupakan kelebihan dari pembelajaran TGT antara lain:1) Lebih meningkatkan pencurahan waktu untuk tugas2) Mengedepankan penerimaan terhadap perbedaan individu3) Dengan waktu yang sedikit dapat menguasai materi secara mendalam4) Proses belajar mengajar berlangsung dengan keaktifan dari siswa5) Mendidik siswa untuk berlatih bersosialisasi dengan orang lain6) Motivasi belajar lebih tinggi7) Hasil belajar lebih baik 8) Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransiSedangkan kelemahan TGT adalah:1) Bagi guruSulitnya pengelompokan siswa yang mempunyai kemampuan heterogen dari segiK r i t e r i a ( R e r a t a K e l o m p o k ) P r e d i k a t 3 0 s a m p a i 3 9 G o o d t e a m 4 0 s a m p a i 4 4 G r e a t t e a m 4 5 s a m p a i 4 9 S u p e r t e a m 5 0 k e a t a s T i m i s t i m e w a akademis. Kelemahan ini akan dapat diatasi jika guru yang bertindak sebagai pemegangkendali teliti dalam menentukan pembagian kelompok Waktu yang dihabiskan untuk diskusi oleh siswa cukup banyak sehingga melewati waktuyang sudah ditetapkan. Kesulitan ini dapat diatasi jika guru mampu menguasai kelas secaramenyeluruh2) Bagi siswaMasih adanya siswa berkemampuan tinggi kurang terbiasa dan sulit memberikan penjelasankepada siswa lainnya. Untuk mengatasi kelemahan ini, tugas guru adalah membimbingdengan baik siswa yang mempunyai kemampuan akademik tinggi agar dapat dan mampumenularkan pengetahuannya kepada siswa yang lain
  • [Makalah] Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT 8:53 PM Tri mawarningsih Nhingz, BLOG--Akhir-akhir ini sepertinya akan banyak share makalah tentang model pembelajaran kooperatif, karena sedang proses presentasi untuk mata kulyah Evaluasi. Oh yah kemarin aku sudah posting makalah model pembelajaran kooperatif STAD yah. Nah sekarang, aku share makalah model pembelajaran koopratif TGT yah, semoga bermanfaat yah! BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Banyak ahli berpendapat bahwa model pembelajaran kooperatif unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Pembelajaran kooperatif juga menurut mereka memberikan efek terhadap sikap penerimaan perbedaan antar-individu, baik ras, keragaman budaya, gender, sosial-ekonomi, dll. Selain itu yang terpenting, pembelajaran kooperatif mengajarkan keterampilan bekerja sama dalam kelompok atau teamwork. Keterampilan ini sangat dibutuhkan anak saat nanti lepas ke tengah masyarakat. Menurut Saco (2006), dalam TGT siswa memainkan permainan-permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing. Permainan dapat disusun guru dalam bentuk kuis berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi pelajaran. Kadang-kadang dapat juga diselingi dengan pertanyaan yang berkaitan dengan kelompok Menurut Davied Devrie dan keith Edward (1995) ,merupakan pembelajaran pertama dari John Hopkins.dalam model ini kelas dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yng beranggotakan 3 sampain dengan 5 siswa yang berbeda-beda tingkat kemampuan,jenis kelamin,dan latar belakang etniknya.kemudian siswa akan bekerjasama dalam kelompokkelompok kecilnya,pembelajaran ini hamper sama seperti STAD dalam setiap hal kecuali satu. Menurut Nur dan Wikandari (2000), menjelaskan bahwa TGT telah digunakan dalam berbagai macam mata pelajaran dan paling cocok digunakan untuk mengajar pembelajaran
  • yang dirumuskanndengan tajam dengan satu jawaban benar seperti perhitungan,dan penerapan berarti matematika dan fakta-fakta serta konsep IPA. Dari beberapa pengertian diatas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok yang beranggotakan 3-5 siswa yang memiliki kemampuan,melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan, melibatkan siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforment. TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok – kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku kata atau ras yang berbeda. Guru menyajikan materi, dan siswa bekerja dalam kelompok mereka masing – masing. B. Rumusan Masalah Rumusan Masalah Pada makalah iniyaitu sebagai beriku : 1. Bagaimana Deskripsi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Kooperatif Tipe Teams Games Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) ? 2. Jelaskan Analisis dari Model Pembelajaran Tournament (TGT) ? C. Tujuan 1. Mengetahui Deskripsi Model Pembelajaran Tournament (TGT). 2. Mengetahui Analisis dari Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) . BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Deskripsi Model Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) Saptono, 2008 (dalam Hakim, 2009) menyatakan bahwa Model Pembelajaran Kooperatif merupakan pembelajaran yang menitikberatkan pada pengelompokkan siswa dengan tingkat kemampuan akademik yang berbeda ke dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4-6 orang dengan struktur kelompok yang heterogen.
  • Model pembelajaran kooperatif ada berbagai macam dan salah satunya yaitu modelpembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament).Model ini pada mulanya dikembangkan oleh David DeVries dan Keith Edwards. Model Pembelajaran TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompokkelompok belajar yang beranggotakan 4 sampai 6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku kata atau ras yang berbeda. Penerapan Model TGT dalam pelaksanaanya tidak memerlukan fasilitas pendukung khusus seperti peralatan atau ruangan khusus. Selain mudah diterapkan dalam penerapannya TGT juga melibatkan aktivitas seluruh siswa untuk memperoleh konsep yang diinginkan. Kegiatan tutor sebaya terlihat ketika siswa melaksanakan turnamen yaitu setelah masing-masing anggota kelompok membuat soal dan jawabannya, untuk selanjutnya saling mengajukan pertanyaan dan belajar bersama. Sedangkan untuk memotivasi belajar siswa dalam TGT terdapat unsur reinforcement. Model Pembelajaran Kooperatif Team Games Tournament (TGT) mempunyai banyak manfaat antara lain sebagai alternatif untuk menciptakan kondisi yang variatif dalam kegiatan belajar mengajar, dapat membantu guru untuk menyelesaikan masalah dalam pembelajaran, seperti rendahnya minat belajar siswa, rendahnya aktivitas proses belajar siswa ataupun rendahnya hasil belajar siswa dan melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, juga melibatkan peran siswa sebagai ”tutor sebaya”. Ditinjau dari kompetensi yang dapat dikembangkan dalam Model Pembelajaran TGT yaitu sebagai berikut. 1. Pengetahuan (knowledge) yaitu kesadaran dalam aspek kognitif, dengan menggunakan TGT pengetahuan siswa mengenai materi pelajaran akan lebih mendalam karena dalam TGT ada unsur tutor sebaya. 2. Pemahaman (understanding) yaitu menyangkut kognitif dan afektif yang dimiliki oleh individu. Di samping memahami materi pelajaran dengan TGT siswa juga dilatih untuk memahami perasaan orang lain. 3. Kemampuan (skill) adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Kompetensi ini dapat dengan mudah diperoleh siswa, karena dalam TGT dapat mengembangkan banyak kompetensi diantaranya membuat pertanyaan dan menjelaskan kepada siswa lain. 4. Nilai (value) adalah suatu standar perilaku yang diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang. Kompetensi ini pada TGT terkandung dalam kejujuran dalam merahasiakan soal masing-masing individu, keterbukaan dalam memberikan penjelasan
  • kepada teman lain dan demokrasinya terlihat ketika berdiskusi untuk menyatukan pendapat yang berbeda. 5. Sikap (attitude) yaitu perasaan (senang-tidak senang, suka-tidak suka) atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang akan datang dari luar. Kompetensi sikap diperoleh siswa karena dalam TGT siswa belajar dengan kelompok masing-masing tanpa ada tekanan dari guru, sehingga siswa merasa senang dan santai. 6. Minat (interest) adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan. Adanya turnamen dalam TGT meningkatkan minat belajar siswa untuk mempelajari materi pelajaran. Model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) juga memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai berikut. Kelebihan Model Pembelajaran TGT yaitu: a) dapat mendorong dan mengkondisikan berkembangnya sikap dan keterampilan sosial siswa, meningkatkan hasil belajar, serta aktivitas siswa, b) lebih meningkatkan pencurahan waktu untuk tugas, c) mengedepankan penerimaan terhadap perbedaan individu, d) dengan waktu yang sedikit dapat menguasai materi secara mendalam, e) proses belajar mengajar berlangsung dengan keaktifan dari siswa, f) mendidik siswa untuk berlatih bersosialisasi dengan orang lain, g) motivasi belajar lebih tinggi, dan h) meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi. Sedangkan kelemahan TGT yaitu sebagai berikut. a. Bagi guru Sulitnya pengelompokan siswa yang mempunyai kemampuan heterogen dari segi akademis. Kelemahan ini akan dapat diatasi jika guru yang bertindak sebagai pemegang kendali teliti dalam menentukan pembagian kelompok. Waktu yang dihabiskan untuk diskusi oleh siswa cukup banyak sehingga melewati waktu yang sudah ditetapkan. Kesulitan ini dapat diatasi jika guru mampu menguasai kelas secara menyeluruh. b. Bagi siswa Masih adanya siswa berkemampuan tinggi kurang terbiasa dan sulit memberikan penjelasan kepada siswa lainnya. Untuk mengatasi kelemahan ini, tugas guru adalah membimbing
  • dengan baik siswa yang mempunyai kemampuan akademik tinggi agar dapat dan mampu menularkan pengetahuannya kepada siswa yang lain. B. Analisis Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) Dalam Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament terdapat unsurunsur yang sangat penting yaitu sebagai berikut. 1. Syarat-Syarat Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) Syarat-syarat Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) terdiri dari sintaks, sistem sosial, prinsip reaksi, sistem pendukung, dampak instruksional dan dampak pengiring. a. Sintaks (Syntax) Menurut Slavin (dalam Purwati, 2010) ada 5 komponen utama dalam TGT yang secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut. Langkah 1 : Tahap Menyampaikan Informasi (Presentasi Klasikal) Pada fase ini guru menyajikan materi pelajaran seperti biasa, bisa dengan ceramah, diskusi, demonstrasi atau eksperimen bergantung pada karakteristik materi yang sedang disampaikan dan ketersediaan media di sekolah yang bersangkutan. Pada kesempatan ini guru harus memberitahu siswa agar cermat mengikuti proses pembelajaran karena informasi yang diterimanya pada fase ini sangat bermanfaat untuk bisa menjawab kuis pada fase berikutnya dan skor kuis yang akan diperoleh sangat menentukan skor tim mereka. Langkah 2: Tahap Pembentukan Tim atau Pengorganisasian Siswa (Kelompok) Pada fase ini, guru membentuk kelompok-kelompok kecil beranggotakan 4-6 orang siswa, terdiri dari siswa berkemampuan tinggi, sedang dan kurang. Fungsi kelompok disini adalah untuk mengarahkan semua anggota untuk belajar mengkaji materi yang disampaikan oleh guru, berdiskusi, membantu anggota yang kemampuan akademiknya kurang sehingga mereka secara tim nantinya siap untuk mengikuti kuis. Kekompakkan kerjasama tim akan mampu meningkatkan hubungan antar sesama anggota tim, rasa percaya diri, dan keakraban antar siswa. Langkah 3: Tahap Permainan (Game Tournament) Pada fase ini, guru membuat suatu bentuk permainan.Materinya terdiri dari sejumlah pertanyaan yang relevan dengan materi ajar yang disampaikan oleh guru pada fase sebelumnya untuk menguji kemajuan pengetahuan siswa setelah memperoleh informasi secara klasikal dan hasil latihan di kelompoknya. Dalam permainan ini, posisi meja turnamen diatur sebagai berikut (Sumber: Slavin dalam Purwati, 2010).
  • Siswa dari suatu kelompok ditempatkan pada meja tournament berdasarkan tingkat kemampuan mereka. Pada meja 1 ditempatkan wakil-wakil siswa yang berkemampuan akademik tinggi, pada meja 2 dan 3 ditempatkan siswa yang berkemampuan rata-rata, sedangkan pada meja 4 ditempatkan oleh para siswa yang berkemampuan rendah. Selanjutnya, para siswa akan mengalami perubahan posisi dari satu meja ke meja yang lain tergantung dari kemampuan mereka dalam mengikuti lomba atau tournament. Pemenang pertama pada suatu meja bisa berpindah meja yang berkualifikasi lebih tinggi, pemenang kedua tetap tinggal di meja semula, sedangkan siswa yang memperoleh skor terendah akan bergeser ke meja yang ditempati oleh siswa yang berkualifikasi lebih rendah. Dengan cara ini maka penempatan siswa pada saat awal akan dapat bergeser naik atau turun sampai menempati posisi yang sesuai dengan tingkat kemampuan yang sesungguhnya mereka miliki. Peraturan permainan Permainan diawali dengan memberitahukan aturan permainan kepada siswa.Setelah itu dilanjutkan dengan membagikan kartu-kartu soal untuk bermain (kartu soal dan kunci ditaruh terbalik diatas meja sehingga soal dan kunci tidak terbaca).Permainan pada tiap meja turnamen dilakukan dengan aturan sebagai berikut Slavin, 1995 (dalam Kurniawan, 2008). 1. Tiap meja terdiri dari 4-6 orang siswa yang berasal dari kelompok yang berbeda/heterogen. 2. Setiap pemain dalam tiap meja menentukan terlebih dahulu pembaca soal dan pemain pertama dengan cara undian. Pemain yang menang undian mengambil kartu undian yang berisi nomor soal dan diberikan kepada pembaca soal. Pembaca soal akan membacakan soal sesuai dengan nomor undian yang diambil oleh pemain. 3. Soal dikerjakan secara mandiri oleh penantang dan pemain sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dalam soal. Setelah waktu untuk mengerjakan soal selesai, maka pemain akan membacakan hasil pekerjaannya yang akan ditanggapi oleh penantang. 4. Pembaca soal akan membuka kunci jawaban dan skor hanya diberikan kepada pemain yang menjawab benar atau penantang yang memberikan jawaban benar. Jika semua jawaban pemain salah, maka kartu dibiarkan saja. 5. Permainan dilanjutkan dengan kartu soal berikutnya sampai semua kartu soal habis dibacakan, dan posisi pemain diputar searah jarum jam agar setiap peserta dalam satu meja turnamen dapat berperan sebagai pembaca soal, pemain dan penantang.
  • 6. Dalam permainan, pembaca soal hanya bertugas untuk membaca soal dan membuka kunci jawaban, tidak boleh ikut menjawab atau memberikan jawaban kepada peserta yang lain. 7. Setelah semua kartu selesai terjawab, setiap pemain dalam satu meja menghitung jumlah kartu yang diperoleh dan menentukan berapa poin yang diperoleh berdasarkan tabel yang telah disediakan. 8. Setiap pemain kembali kepada kelompok asalnya dan melaporkan poin yang diperoleh kepada ketua kelompok. Ketua kelompok memasukkan poin yang diperoleh oleh anggota kelompoknya pada tabel yang telah disediakan, kemudian menentukan kriteria penghargaan yang diterima oleh kelompoknya. Langkah 4: Tahap Pemberian Penghargaan Kelompok Skor kelompok diperoleh dengan cara menjumlahkan skor anggota setiap kelompok, kemudian dicari rata-ratanya. Berdasarkan skor rata-rata kelompok akan diperoleh gambaran perbedaan prestasinya. Dari skor rata-rata kelompok ini guru dapat memberikan penghargaan kepada setiap kelompok berdasarkan kriteria seperti pada tabel berikut. Kriteria Penghargaan untuk Kelompok No Kriteria (Rata-rata Kelompok) Predikat 1 X<15 2 15≤X<20 Kelompok Cukup 3 20≤X<25 Kelompok Baik 4 25≤X - Kelompok Sangat Baik Skor rata-rata kelompok yang lebih kecil dari 15 sengaja tidak diberikan predikat untuk memacu kelompok agar lebih giat belajar pada topik-topik berikutnya. Dari sintaks pembelajaran di atas tampak bahwa pengetahuan tidak bersumber dari guru, akan tetapi siswalah yang secara aktif membangun pengetahuan mereka sendiri bersama anggota kelompoknya sesuai dengan prinsip-prinsip teori belajar konstruktivisme. Dengan demikian, guru hanya berperan sebagai fasilitator agar terjamin kondisi yang baik untuk pembelajaran. b. Prinsip Reaksi (Principles of Reactions)
  • Prinsip reaksi merupakan pola kegiatan yang menggambarkan bagaimana seharusnya guru memberikan respon terhadap siswa.Dalam model pembelajaran kooperatif tipe TGT, peran guru adalah sebagai berikut. a) Membangun ikatan emosional, yaitu dengan menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan dalam kegiatan pembelajaran. b) Berperan sebagai pendamping, pembimbing, fasilitator dan motivator, bukan menempatkan diri sebagai sumber pengetahuan utama bagi siswa. c) Harus mampu menciptakan suasana psikologis yang dapat membangkitkan respon siswa. d) Menekankan pentingnya bekerjasama secara kooperatif dalam kelompok masing- masing untuk mencapai tujuan pembelajaran, termasuk upaya meningkatkan keterampilan kooperatif siswa. e) Memberikan bantuan terbatas pada siswa yang membutuhkan bantuan. Bantuan tersebut dapat berupa pertanyan untuk membuka wawasan siswa. c. Sistem Sosial (The Social System) Sistem sosial adalah pola hubungan guru dengan siswa pada saat terjadinya proses pembelajaran. Dalam model pembelajaran kooperatif tipe TGT, pola hubungan antara guru dan siswa yaitu terjadi interaksi dua arah, yang artinya interaksi yang terjadi antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa yang lain. Proses pembelajaran dalam model TGT lebih berpusat pada siswa (student centered approach) karena siswa tidak dianggap sebagai objek belajar yang dapat diatur dan dibatasi oleh kemauan guru, melainkan siswa ditempatkan sebagai subjek yang belajar sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan yang dimiliki sehingga siswa dapat mengembangkan potensi dirinya. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan siswa dalam TGT yang belajar bersama secara berkelompok dan melibatkan siswa sebagai tutor sebaya tanpa adanya tekanan dari guru. Dengan pembelajaran seperti itu, maka akan tercipta suasana belajar yang menyenangkan sehingga memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan rasa tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar. d. Sistem Pendukung (Support System) Model pembelajaran TGT dalam pelaksanaannya memerlukan sarana, bahan, dan alat yang dapat menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan sehingga dapat merubah lingkungan belajar yang semula membosankan menjadi lebih menarik dan dapat menumbuhkan semangat belajar siswa. Tetapi tidak memerlukan fasilitas pendukung khusus
  • seperti peralatan khusus atau ruangan khusus melainkan hanya meja-meja yang akan dipakai pada saat gametournament, buku-buku yang menyangkut materi yang dipelajari, Lembar Percobaan, LKS dan buku penunjang yang relevan. e. Dampak Instruksional (Intructional Effect) dan Dampak Pengiring (Nurturant Effect) 1. Dampak Instruksional (Instruksional Effect) Dampak pembelajaran yang diperoleh dari penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT, yaitu sebagai berikut. a) Kemampuan konstruksi pengetahuan Dalam TGT siswa melakukan aktivitas dalam kelompok-kelompok kecil dan berinteraksi dalam sebuah permainan yang melibatkan siswa sebagai tutor sebaya. Dengan aktivitas semacam ini dan dilaksanakan secara rutin, kemampuan siswa dalam konstruksi pengetahuan secara mandiri akan meningkat. b) Penguasaan bahan ajar Dalam model TGT, informasi (pengetahuan) dikonstruksi sendiri oleh siswa melalui aktivitas belajar yang dilakukan oleh kelompok. Pengetahuan yang dikonstruksi sendiri dapat bertahan lama dalam memori siswa sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. c) Kemampuan berpikir kritis Dalam model pembelajaran TGT, siswa dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang merangsang pikiran siswa sehingga kemampuan berpikir kritis siswa dapat berkembang dengan optimal. d) Keterampilan kooperatif Pembelajaran dengan TGT memberikan kesempatan kepada siswa dengan berbagai latar belakang kemampuan, jenis kelamin dan suku kata atau ras yang berbeda untuk bekerja sama, saling tergantung dan belajar menghargai satu sama lainnya. Kondisi semacam ini memungkinkan berkembangnya keterampilan-keterampilan untuk bekerja sama yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. DAMPAK PENGIRING (NURTURANT EFFECT) Dampak pengiring yang diperoleh dari penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT, yaitu sebagai berikut. a) Minat (interest) Minat yaitu kecenderungan seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan.Adanya turnamen dalam TGT meningkatkan minat belajar siswa untuk mempelajari materi pelajaran.
  • b) Kemandirian atau otonomi dalam belajar Dalam pembelajaran yang menggunakan TGT, siswa tidak menerima pengetahuan secara pasif dari gurunya, tetapi siswa berupaya sendiri mengkonstruksi sendiri pengetahuannya dalam kelompok-kelompok kecil. Kondisi semacam ini akan menumbuhkan kemandirian atau otonomi siswa dalam belajar. c) Nilai (value) Pada TGT terkandung nilai kejujuran dalam merahasiakan soal masing-masing individu, keterbukaan dalam memberikan penjelasan kepada teman lain dan demokrasinya terlihat ketika berdiskusi untuk menyatukan pendapat yang berbeda. d) Sikap Positif terhadap suatu mata pelajaran tertentu Adanya suasana persaingan yang kompetitif antar kelompok akan membuat siswa terlibat aktif dalam pembelajaran, baik dalam mempelajari bahan ajar dan membangun pengetahuan sendiri. Kondisi ini akan membuat pembelajaran menjadi menyenangkan. Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT, maka akan dapat menumbuhkan sikap positif terhadap suatu mata pelajaran tertentu. 2. Pendekatan Pada Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran (Sanjaya, 2006:127). Pendekatan yang digunakan pada model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) adalah sebagai berikut. a. Pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) Hal ini dapat dilihat dari kegiatan siswa dalam TGT yang belajar bersama secara berkelompok dan melibatkan siswa sebagai tutor sebaya. b. Pendekatan Liberal (Liberal approaches) Pendekatan ini memberikan kesempatan luas pada siswa untuk mengembangkan strategi dan keterampilan belajarnya sendiri. c. Pendekatan bervariasi Pendekatan ini merupakan pendekatan yang bertolak dari konsepsi bahwa permasalahan yang dihadapi anak didik dalam belajar adalah bervariasi (Bahri Djamarah, 2006).Dalam model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat digunakan pendekatan yang bervariasi yang disesuaikan dengan kondisi siswa. Sehingga dengan cara tersebut akan menjamin keterlibatan total semua siswa dan merupakan upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam diskusi kelompok.
  • 3. Strategi Pada Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) Pada Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) strategi yang digunakan adalah strategi pembelajaran kooperatif yaitu strategi pembelajaran kelompok yang mampu meningkatkan prestasi belajar siswa sekaligus dapat meningkatkan kemampuan hubungan sosial, menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain, meningkatkan harga diri, dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam belajar berpikir, memecahkan masalah serta mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan (Sanjaya, 2006). 4. Metode Pada Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) Metode yang dapat digunakan pada Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) ada berbagai macam, beberapa diantaranya yaitu sebagai berikut. a. Metode Ceramah Menurut Arikunto (dalam Djamarah, 2005), metode ceramah adalah sebuah cara melaksanakan pembelajaran yang dilakukan guru secara monolog dan berlangsung satu arah, yaitu dari guru ke siswa. Pada model pembelajaran TGT, metode ceramah dapat digunakan pada menjelaskan diawal pelajaran, menyimpulkan materi pembelajaran dan mengkonfimasi bila ada jawaban siswa yang perlu diperbaiki. b. Metode kerja kelompok Metode kerja kelompok adalah metode mengajar dengan mengkondisikan peserta didik dalam suatu kelompok sebagai suatu kesatuan dan diberikan tugas untuk dibahas dalam kelompok tersebut (Sriyono, 1992:121).Pada model pembelajaran TGT, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 4-6 orang untuk menyelesaikan permasalahan tertentu. c. Metode Diskusi Pada model pembelajaran TGT, siswa melakukan diskusi dengan anggota kelompok masingmasing untuk memecahkan suatu permasalahan. d. Metode demostrasi Metode demonstrasi adalah metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan (Sanjaya, 2006:152). Pada Model TGT dapat diterapkan pada saat guru mnyajikan informasi. f. Metode problem solving
  • Metode problem solving adalah suatu cara mengajar yang menghadapkan siswa kepada suatu masalah agar dipecahkan atau diselesaikan (Sriyono, 1992:118). Pada model pembelajaran TGT, siswa dihadapkan pada suatu masalah yang terdapat pada LKS atau permasalahan yang diberikan oleh guru untuk dipecahkan dalam kelompok masing-masing. h. Metode Pemberian tugas Metode pemberian tugas dapat diartikan sebagai suatu format interaksi belajar mengajar yang ditandai dengan adanya satu atau lebih tugas yang diberikan oleh guru, tugas tersebut dapat diselesaikan secara individu atau secara berkelompok sesuai dengan perintahnya (Sriyono, 1992).Pada model pembelajaran TGT, guru memberikan tugas kepada kelompok masing-masing untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikannya. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan 1. Model Pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 4 sampai 6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku kata atau ras yang berbeda. Model ini dikembangkan oleh David DeVries dan Keith Edwards. 2. Analisis model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) , sebagai berikut. a. Syarat-syarat model pembelajaran kooperatif tipe TGT. a) Sintaks, yaitu presentasi klasikal, pembentukan tim dan pengorganisasian siswa, permainan (Games Tournament) dan pemberian penghargaan b) Prinsip reaksi, yaitu membangun ikatan emosional, berperan bukan sebagai sumber utama dan menekankan pembelajaran kooperatif. c) Sistem sosial, yaitu intekasi dua arah dan berpusat pada siswa. d) Sistem pendukung, yaitu meja untuk turnamen, LKS, Lembar Percobaan dan buku penunjang yang relevan. e) Memiliki dampak instruksional dan dampak pengiring. b. Pendekatan yang digunakan pada Model Pembelajaran TGT yaitu pendekatan berorientasi pada siswa, pendekatan liberal dan pendekatan bervariasi. c. Strategi yang digunakan pada Model pembelajaran TGT adalah strategi pembelajaran kooperatif.
  • d. Metode yang digunakan pada Model Pembelajaran TGT ada berbagai macam beberapa diantaranya yaitu metode ceramah, kerja kelompok, diskusi, demosntrasi,problem solving, pemberian tugas, dan eksperimen. B. Saran 1. Sebaiknya ketika guru akan melakukan model pembelajaran Kooperatif tipe TGT, musti memperhatikan keterampilan serta kecerdasan siswa secara Detail. 2. Sebaiknya ketika guru akan melakukan model pembelajaran Kooperatif tipe TGT, musti mempersiapkan Tingkatan soal yang berbeda pada saat langkah Tournament dilakukan. 3. Sebaiknya ketika guru akan melakukan model pembelajaran Kooperatif tipe TGT, musti memperhatikankelengkapan Alat yang Ada. 4. Sebaiknya ketika guru akan melakukan model pembelajaran Kooperatif tipe TGT, musti memperhatikanWaktu yang tersedia. 5. Sebaiknya ketika guru akan melakukan model pembelajaran Kooperatif tipe TGT, musti mempersiapkan soal-soal quis dalam bentuk kartu bernomor. DAFTAR PUSTAKA Isjoni. 2009. Pembelajaran Kooperaatif, Meningkatkan Kecerdasan Komunikasiantar peserta Didik. Yogyakarta:Pustaka Pelajar Trianto. 2009. Mendesai Model Pembelajaran Inovativ Progresif Konsep, Landasan dan Implementasinya pada KTSP. Kencana : 2009 Sanjana, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana http://tarynugrohotappuy.blogspot.com/2013/04/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html http://heny-christz.blogspot.com/2011/11/model-pembelajaran-kooperatif-tipe-tgt.html Model Pembelajaran Selasa, 14 Agustus 2012 CIRC MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE COOPERATIVE INTEGRATED READING COMPOTITON (CIRC) AND
  • A. Pengertian Model Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Compotition ( CIRC ) CIRC singkatan dari Cooperative Integrated Reading and Compotition, termasuk salah satu model pembelajaran cooperative learning yang pada mulanya merupakan pengajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis (Steven dan Slavin dalam Nur, 2000:8) yaitu sebuah program komprehensif atau luas dan lengkap untuk pengajaran membaca dan menulis untuk kelas-kelas tinggi sekolah dasar. Namun, CIRC telah berkembang bukan hanya dipakai pada pelajaran bahasa tetapi juga pelajaran eksak seperti pelajaran matematika. Pembelajaran CIRC dikembangkan oleh Stevans, Madden, Slavin dan Farnish. Pembelajaran kooperatif tipe CIRC dari segi bahasa dapat diartikan sebagai suatu model pembelajaran kooperatif yang mengintegrasikan suatu bacaan secara menyeluruh kemudian mengkomposisikannya menjadi bagian-bagian yang penting. Jadi CIRC merupakan program yang komprehensif untuk mengajari pembelajaran membaca, menulis, dan seni berbahasa pada kelas yang lebih tinggi di sekolah dasar. B. Komponen-Komponen dalam Model Pembelajaran CIRC Model pembelajaran CIRC menurut Slavin dalam Suyitno (2005: 3-4) memiliki delapan komponen. Kedelapan komponen tersebut antara lain: 1) Teams, yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4 atau 5 siswa. 2) Placement test, misalnya diperoleh dari rata-rata nilai ulangan harian sebelumnya atau berdasarkan nilai rapor agar guru mengetahui kelebihan dan kelemahan siswa pada bidang tertentu. 3) Student creative, melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya. 4) Team study, yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberikan bantuan kepada kelompok yang membutuhkannya. 5) Team scorer and team recognition, yaitu pemberian skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan penghargaan terhadap kelompok yang berhasil secara cemerlang dan kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas. 6) Teaching group, yakni memberikan materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok. 7) Facts test, yaitu pelaksanaan test atau ulangan berdasarkan fakta yang diperoleh siswa.
  • 8) Whole-class units, yaitu pemberian rangkuman materi oleh guru di akhir waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah. C. Kegiatan Pokok Model Pembelajaran CIRC Kegiatan pokok dalam CIRC untuk menyelesaikan soal pemecahan masalah meliputi rangkaian kegiatan bersama yang spesifik, yaitu: a) Salah satu anggota atau beberapa kelompok membaca soal. b) Membuat prediksi atau menafsirkan isi soal pemecahan masalah. c) Saling membuat ikhtisar/rencana penyelesaian soal pemecahan masalah. d) Menuliskan penyelesaian soal pemecahan masalah secara urut, dan e) Saling merevisi dan mengedit pekerjaan/penyelesaian (Suyitno, 2005:4) Model pembelajaran CIRC atau pembelajaran terpadu menurut pertama kali dikembangkan oleh (Steven and Slavin, 1981), dengan langkah-langkah: 1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen. 2. Guru memberikan wacana sesuai dengan topik pembelajaran. 3. Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberikan tanggapan terhadap wacana dan ditulis pada lembar kertas. 4. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok. 5. Guru memberikan penguatan 6. Guru dan siswa bersama-sama membuat kesimpulan 7. Penutup. Dari setiap fase tersebut di atas dapat kita perhatikan dengan jelas sebagai berikut: 1. Fase Pertama, Pengenalan konsep. Fase ini guru mulai mengenalkan tentang suatu konsep atau istilah baru yang mengacu pada hasil penemuan selama eksplorasi. Pengenalan bisa didapat dari keterangan guru, buku paket, atau media lainnya. 2. Fase Kedua, Eksplorasi dan aplikasi. Fase ini memberikan peluang pada siswa untuk mengungkap pengetahuan awalnya, mengembangkan pengetahuan baru, dan menjelaskan fenomena yang mereka alami dengan bimbingan guru minimal. Hal ini menyebabkan terjadinya konflik kognitif pada diri mereka dan berusaha melakukan pengujian dan berdiskusi untuk menjelaskan hasil observasinya. Pada dasarnya, tujuan fase ini untuk membangkitkan minat, rasa ingin tahu serta
  • menerapkan konsepsi awal siswa terhadap kegiatan pembelajaran dengan memulai dari hal yang kongkrit. Selama proses ini siswa belajar melalui tindakan-tindakan mereka sendiri dan reaksi-reaksi dalam situasi baru yang masih berhubungan, juga terbukti menjadi sangat efektif untuk menggiring siswa merancang eksperimen, demonstrasi untuk diujikannya. 3. Fase Ketiga, Publikasi. Pada fase ini Siswa mampu mengkomunikasikan hasil temuan-temuan, membuktikan, memperagakan tentang materi yang dibahas. Penemuan itu dapat bersifat sebagai sesuatu yang baru atau sekedar membuktikan hasil pengamatannya.. Siswa dapat memberikan pembuktian terkaan gagasan-gagasan barunya untuk diketahui oleh teman-teman sekelasnya. Siswa siap menerima kritikan, saran atau sebaliknya saling memperkuat argumen. Cara untuk menentukan anggota kelompoknya adalah sebagai berikut: 1. Menentukan peringkat siswa Dengan cara mencari informasi tentang skor rata-rata nilai siswa pada tes sebelumnya atau nilai raport. Kemudian diurutkan dengan cara menyusun peringkat dari yang berkemampuan akademik tinggi sampai terendah. 2. Menentukan jumlah kelompok Jumlah kelompok ditentukan dengan memperhatikan banyak anggota setiap kelompok dan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut. 3. Penyusunan anggota kelompok Pengelompokkan ditentukan atas dasar susunan peringkat siswa yang telah dibuat. Setiap kelompok diusahakan beranggotakan siswa-siswa yang mempunyai kemampuan beragam, sehingga mempunyai kemampuan rata-rata yang seimbang. Roger bahwa dan tidak David semua Johnson kerja dalam kelompok Anita Lie dianggap (2008 cooperative :31) menyatakan learning. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima model pembelajaran gotong royong harus ditetapkan. Kelima model tersebut yaitu: 1. Saling ketergantungan positif Untuk menyusun menciptakan tugas menyelesaikan kelompok sedemikian tugasnya rupa sendiri kerja yang sehingga agar yang efektif, setiap lain anggota bisa pengajar perlu kelompok harus mencapai tujuan
  • mereka. Dengan bertanggung cara jawab ini, untuk mau tidak menyelesaikan mau setiap tugasnya agar anggota yang merasa lain bisa berhasil. 2. Tanggung jawab perseorangan Unsur Jika ini merupakan tugas dan Pembelajaran untuk akibat pola kooperatif melakukan langsung penilaian setiap yang dibuat siswa terbaik. dari menurut akan Kunci merasa yang pertama. prosedur Model bertanggung keberhasilan model jawab pembelajaran kerja kelompok adalah persiapan guru dalam penyusunan tugasnya. 3. Tatap muka Setiap kelompok muka dan berdiskusi. pembelajar anggota. untuk Hasil pemikiran saling satu Kegiatan mengenal dan Inti dan kelompok satu sama lebih sinergi mengisi perlu memberikan kaya ini para dalam semua daripada adalah kekurangan diberi lain bertemu menguntungkan akan dari untuk akan yang kepala saja. menerima ini sinergi kelebihan, anggota kesempatan interaksi beberapa kepala memanfaatkan para diberiakan membentuk pemikiran dari perbedaan, Jadi, harus hasil menghargai masingmasing. kesempatan kegiatan untuk tatap muka dan interaksi pribadi. 4. Komunikasi antar anggota Keterampilan merupakan menjadi berkomunikasi proses panjang. komunikator bermanfaat dan yang perlu dalam Pembelajaran andal dalam ditempuh untuk kelompok tidak waktu bisa sekejap. memperkaya ini juga diharapkan Proses langsung ini sangat pengalaman belajar kelompok untuk dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa. 5. Evaluasi proses kelompok Guru perlu mengevaluasi menjadwalkan proses kerja waktu kelompok khusus dan bagi hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi tidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok, tetapi bisa beberapa kali siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran kooperatif diadakan selang
  • D. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran CIRC Secara khusus, Slavin dalam Suyitno (2005:6) menyebutkan kelebihan model pembelajaran CIRC sebagai berikut: a) CIRC amat tepat untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah. b) Dominasi guru dalam pembelajaran berkurang. c) Siswa termotivasi pada hasil secara teliti, karena bekerja dalam kelompok. d) Para siswa dapat memahami makna soal dan saling mengecek pekerjaannya. e) Membantu siswa yang lemah. Kekurangan model CIRC adalah: a) Pada saat persentasi hanya siswa yang aktif tampil. b) Tidak semua siswa bisa mengerjakan soal dengan teliti. E. Penerapan Model Pembelajaran CIRC Penerapan model pembelajaran CIRC untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dapat ditempuh dengan: 1. Guru menerangkan suatu pokok bahasan matematika kepada siswa, pada penelitian ini digunakan LKS yang berisi materi yang akan diajarkan pada setiap pertemuan. 2. Guru memberikan latihan soal. 3. Guru siap melatih siswa untuk meningkatkan keterampilan siswanya dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah melalui penerapan model CIRC. 4. Guru membentuk kelompok-kelompok belajar siswa yang heterogen. 5. Guru mempersiapkan soal pemecahan masalah dalam bentuk kartu masalah dan membagikannya kepada setiap kelompok. 6. Guru memberitahukan agar dalam setiap kelompok terjadi serangkaian kegiatan bersama yang spesifik. 7. Setiap kelompok bekerja berdasarkan kegiatan pokok CIRC. Guru mengawasi kerja kelompok.
  • 8. 9. Ketua kelompok melaporkan keberhasilan atau hambatan kelompoknya. Ketua kelompok harus dapat menetapkan bahwa setiap anggota telah memahami, dan dapat mengerjakan soal pemecahan masalah yang diberikan. 10. Guru meminta kepada perwakilan kelompok untuk menyajikan temuannya. 11. Guru bertindak sebagai nara sumber atau fasilitator. 12. Guru memberikan tugas/PR secara individual. 13. Guru membubarkan kelompok dan siswa kembali ke tempat duduknya. 14. Guru mengulang secara klasikal tentang strategi penyelesaian soal pemecahan masalah. 15. Guru memberikan kuis. DAFTAR PUSTAKA Suriansyah, A. Dkk. 2009. Bahan Ajar Cetak Strategi Pembelajaran. Banjarmasin Suyitno, Amin. 2005. Mengadopsi Pembelajaran CIRC dalam Meningkatkan Keterampilan Siswa Menyelesaikan Soal Cerita. Seminar Nasional F.MIPA UNNES. MODEL PEMBELAJARAN TEAMS GAMES TOURNAMENTS ( TGT ) Posted by ekocin on Juni 17, 2011 MODEL PEMBELAJARAN TEAMS GAMES TOURNAMENTS ( TGT )
  • 1. A. Gambaran Mengenai Team Games Tournament (TGT) Model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar. Teams games tournament (TGT) pada mulanya dikembangkan oleh Davied Devries dan Keith Edward, ini merupakan metode pembelajaran pertama dari Johns Hopkins. Dalam model ini kelas terbagi dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 3 sampai dengan 5 siswa yang berbeda-beda tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan latar belakang etniknya, kemudian siswa akan bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecilnya. Pembelajaran dalam Teams games tournament (TGT) hampir sama seperti STAD dalam setiap hal kecuali satu, sebagai ganti kuis dan sistem skor perbaikan individu, TGT menggunakan turnamen permainan akademik. Dalam turnamen itu siswa bertanding mewakili timnya dengan anggota tim lain yang setara dalam kinerja akademik mereka yang lalu. Nur & Wikandari (2000) menjelaskan bahwa Teams games tournament TGT telah digunakan dalam berbagai macam mata pelajaran, dan paling cocok digunakan untuk mengajar tujuan pembelajaranyang dirumuskan dengan tajam dengan satu jawaban benar, seperti perhitungan dan penerapan berciri matematika, dan fakta-fakta serta konsep IPA. 1. B. Pendekatan Kelompok Kecil dalam Teams Games Tournament Pendekatan yang digunakan dalam Teams games tournament adalah pendekatan secara kelompok yaitu dengan membentuk kelompok-kelompok kecil dalam pembelajaran. Pembentukan kelompok kecil akan membuat siswa semakin aktif dalam pembelajaran. Ciri dari pendekatan secara berkelompok dapat ditinjau dari segi. 1) Tujuan Pengajaran dalam Kelompok Kecil Tujuan pembelajaran dalam kelompok kecil yaitu; (a) member kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah secara rasional, (b) mengembangkan sikap social dan semangat bergotong royong (c) mendinamisasikan kegiatan kelompok dalam belajar sehingga setiap kelompok merasa memiliki tanggung jawab, dan (d) mengembangkan kemampuan kepemimpinan dalam kelompok tersebut (Dimyati dan Mundjiono, 2006). 2) Siswa dalam Pembelajaran Kelompok Kecil Agar kelompok kecil dapat berperan konstruktif dan produktif dalam pembelajaran diharapkan; (a) anggota kelompok sadar diri menjadi anggota kelompok, (b) siswa sebagai anggota kelompok memiliki rasa tanggung jawab, (c) setiap anggota kelompok membina hubungan yang baik dan mendorong timbulnya semangat tim, dan (d) kelompok mewujudkan suatu kerja yang kompak (Dimyati dan Mundjiono, 2006). 3) Guru dalam Pembelajaran Kelompok
  • Peranan guru dalam pembelajaran kelompok yaitu; (a) pembentukan kelompok (c) perencanaan tugas kelompok, (d) pelaksanaan, dan (d) evalusi hasil belajar kelompok. 1. C. Komponen dan Pelaksanaan Team Game Tournament dalam Pembelajaran Ada lima komponen utama dalam TGT,yaitu: 1. Penyajian kelas Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin guru. Pada saat penyajian kelas ini , siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang diberikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena skor game akan menentukan skor kelompok. 2. Kelompok ( team ) Kelompok biasanya terdiri atas empat sampai dengan lima orang siswa. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game. 3. Game Game terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapatkan skor. 4. Turnamen Untuk memulai turnamen masing-masing peserta mengambil nomor undian. Siswa yang mendapatkan nomor terbesar sebagai reader 1, terbesar kedua sebagai chalennger 1, terbesar ketiga sebagai chalenger 2, terbesar keempat sebagai chalenger 3. Dan kalau jumlah peserta dalam kelompok itu lima orang maka yang mendapatkan nomor terendah sebagai reader2. Reader 1 tugasnya membaca soal dan menjawab soal pada kesempatan yang pertama. Chalenger 1 tugasnya menjawab soal yang dibacakan oleh reader1 apabila menurut chalenger 1 jawaban reader 1 salah. Chalenger 2 tugasnya adalah menjawab soal yang dibacakan oleh reader 1 tadi apabila jawaban reader 1 dan chalenger 1 menurut chalenger 2 salah. Chalenger 3 tugasnya adalah menjawab soal yang dibacakan oleh reader 1 apabila jawaban reader1, chalenger 1, chalenger 2 menurut chalenger 3 salah. Reader 2 tugasnya adalah membacakan kunci jawaban . Permainan dilanjutkan pada soal nomor dua. Posisi peserta berubah searah jarum jam. Yang tadi menjadi chalenger 1 sekarang menjadi reader1, chalenger 2 menjadi chalenger 1, chalenger3 menjadi chalenger 2, reader 2 menjadi chalenger 3 dan reader 1 menjadi reader2. Hal itu terus dilakukan sebanyak jumlah soal yang disediakan guru. 5. Penghargaan kelompok (team recognise)
  • Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Kriteria ( Rerata Kelompok ) ≥ 45 40 – 45 30 – 40 1. D. Predikat Super Team Great Team Good Team Implementasi Model Pembelajaran TGT Dalam pengimplementasian yang hal yang harus diperhatikan yaitu. 1) Pembelajaran terpusat pada siswa 2) Proses pembelajaran dengan suasana berkompetisi 3) Pembelajaran bersifat aktif ( siswa berlomba untuk dapat menyelesaikan persoalan) 4) Pembelajaran diterapkan dengan mengelompokkan siswa menjadi tim-tim 5) Dalam kompetisi diterapkan system point 6) Dalam kompetisi disesuaikan dengan kemampuan siswa atau dikenal kesetaraan dalam kinerja akademik 7) Kemajuan kelompok dapak diikuti oleh seluruh kelas melalui jurnal kelas yang diterbitkan secara mingguan 8) Dalam pemberian bimbingan guru mengacu pada jurnal 9) Adanya system penghargaan bagi siswa yang memperoleh point banyak 1. E. Kelemahan dan Kelebihan Model Pembelajaran TGT Riset tentang pengaruh pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran telah banyak dilakukan oleh pakar pembelajaran maupun oleh para guru di sekolah. Dari tinjuan psikologis, terdapat dasar teoritis yang kuat untuk memprediksi bahwa metode-metode pembelajaran kooperatif yang menggunakan tujuan kelompok dan tanggung jawab individual akan meningkatkan pencapaian prestasi siswa. Dua teori utama yang mendukung pembelajaran kooperatif adalah teori motivasi dan teori kognitif. Dari pespektif motivasional, struktur tujuan kooperatif menciptakan sebuah situasi di mana satu-satunya cara anggota kelompok bisa meraih tujuan pribadi mereka adalah jika kelompok mereka sukses. Oleh karena itu, mereka harus membantu teman satu timnya untuk melakukan apa pun agar kelompok berhasil dan mendorong anggota satu timnya untuk melakukan usaha maksimal.
  • Sedangkan dari perspektif teori kognitif, Slavin (2008) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif menekankan pada pengaruh dari kerja sama terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Asumsi dasar dari teori pembangunan kognitif adalah bahwa interaksi di antara para siswa berkaitan dengan tugas-tugas yang sesuai mengingkatkan penguasaan mereka terhadap konsep kritik. Pengelompokan siswa yang heterogen mendorong interaksi yang kritis dan saling mendukung bagi pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan atau kognitif. Penelitian psikologi kognitif menemukan bahwa jika informasi ingin dipertahankan di dalam memori dan berhubungan dengan informasi yang sudah ada di dalam memori, orang yang belajar harus terlibat dalam semacam pengaturan kembali kognitif, atau elaborasi dari materi. Salah satu cara elaborasi yang paling efektif adalah menjelaskan materinya kepada orang lain. Namun demikian, tidak ada satupun model pembelajaran yang cocok untuk semua materi, situasi dan anak. Setiap model pembelajaran memiliki karakteristik yang menjadi penekanan dalam proses implementasinya dan sangat mendukung ketercapaian tujuan pembelajaran. Secara psikologis, lingkungan belajar yang diciptakan guru dapat direspon beragama oleh siswa sesuai dengan modalitas mereka. Dalam hal ini, pembelajaran kooperatif dengan teknik TGT, memiliki keunggulan dan kelemahan dalam implementasinya terutama dalam hal pencapaian hasil belajar dan efek psikologis bagi siswa. Slavin (2008), melaporkan beberapa laporan hasil riset tentang pengaruh pembelajaran kooperatif terhadap pencapaian belajar siswa yang secara inplisit mengemukakan keunggulan dan kelemahan pembelajaran TGT, sebagai berikut: Para siswa di dalam kelas-kelas yang menggunakan TGT memperoleh teman yang secara signifikan lebih banyak dari kelompok rasial mereka dari pada siswa yang ada dalam kelas tradisional. Meningkatkan perasaan/persepsi siswa bahwa hasil yang mereka peroleh tergantung dari kinerja dan bukannya pada keberuntungan. TGT meningkatkan harga diri sosial pada siswa tetapi tidak untuk rasa harga diri akademik mereka. TGT meningkatkan kekooperatifan terhadap yang lain (kerja sama verbal dan nonberbal, kompetisi yang lebih sedikit) Keterlibatan siswa lebih tinggi dalam belajar bersama, tetapi menggunakan waktu yang lebih banyak. TGT meningkatkan kehadiran siswa di sekolah pada remaja-remaja dengan gangguan emosional, lebih sedikit yang menerima skors atau perlakuan lain. Sebuah catatan yang harus diperhatikan oleh guru dalam pembelajaran TGT adalah bahwa nilai kelompok tidaklah mencerminkan nilai individual siswa. Dengan demikian, guru harus merancang alat penilaian khusus untuk mengevaluasi tingkat pencapaian belajar siswa secara individual. Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran TGT Metode pembelajaran kooperatif Team Games Tournament (TGT) ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Menurut Suarjana (2000:10) dalam Istiqomah (2006), yang merupakan kelebihan dari pembelajaran TGT antara lain: 1) Lebih meningkatkan pencurahan waktu untuk tugas 2) Mengedepankan penerimaan terhadap perbedaan individu
  • 3) Dengan waktu yang sedikit dapat menguasai materi secara mendalam 4) Proses belajar mengajar berlangsung dengan keaktifan dari siswa 5) Mendidik siswa untuk berlatih bersosialisasi dengan orang lain 6) Motivasi belajar lebih tinggi 7) Hasil belajar lebih baik 8) Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi Sedangkan kelemahan TGT adalah: 1. Bagi Guru Sulitnya pengelompokan siswa yang mempunyai kemampuan heterogen dari segi akademis. Kelemahan ini akan dapat diatasi jika guru yang bertindak sebagai pemegang kendali teliti dalam menentukan pembagian kelompok waktu yang dihabiskan untuk diskusi oleh siswa cukup banyak sehingga melewati waktu yang sudah ditetapkan. Kesulitan ini dapat diatasi jika guru mampu menguasai kelas secara menyeluruh. 1. Bagi Siswa Masih adanya siswa berkemampuan tinggi kurang terbiasa dan sulit memberikan penjelasan kepada siswa lainnya. Untuk mengatasi kelemahan ini, tugas guru adalah membimbing dengan baik siswa yang mempunyai kemampuan akademik tinggi agar dapat dan mampu menularkan pengetahuannya kepada siswa yang lain. Kesimpulan Dari pembahasan materi model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) tersebut, maka dapat disimpulkan 1. Dengan model pembelajaran TGT ( Teams Games Tournaments ) dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Karena siswa dapat belajar lebih rileks, serta dapat menumbuhkan tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar. 2. Dengan model pembelajaran TGT ( Teams Games Tournaments ) dapat menambah wawasan tentang berbagai model pembelajaran serta dapat meningkatkan kompetensi guru. Pengertian Model Pembelajaran CIRC Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif – kelompok. Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition-CIRC (Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis) merupakan model pembelajaran khusus Mata pelajaran Bahasa Indonesia dalam rangka membaca dan menemukan ide pokok, pokok pikiran atau,tema sebuah
  • wacana/kliping. Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) ini dapat dikategorikan pembelajaran terpadu. Menurut Fogarty (1991), berdasarkan sifat keterpaduannya, pembelajaran terpadu dapat dikelompokkan menjadi: 1) model dalam satu disiplin ilmu yang meliputi model connected (keterhubungan) dan model nested (terangkai); 2) model antar bidang studi yang meliputi model sequenced (urutan), model shared (perpaduan), model webbed (jaring laba-laba), model theaded (bergalur) dan model integreted (terpadu); 3) model dalam lintas siswa. Dalam pembelajaran CIRC atau pembelajaran terpadu setiap siswa bertanggung jawab terhadap tugas kelompok. Setiap anggota kelompok saling mengeluarkan ide-ide untuk memahami suatu konsep dan menyelesaikan tugas (task), sehingga terbentuk pemahaman yang dan pengalaman belajar yang lama. Model pembelajaran ini terus mengalami perkembangan mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga sekolah menengah. Proses pembelajaran ini mendidik siswa berinteraksi sosial dengan lingkungan. Prinsip belajar terpadu ini sejalan dengan empat pilar pendidikan yang digariskan UNESCO dalam kegiatan pembelajaran. Empat pilar itu adalah ”belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar untuk berbuat (learning to do), belajar untuk menjadi diri sendiri (learning to be), dan belajar hidup dalam kebersamaan (Learning to live together), (Depdiknas, 2002). B. Langkah Langkah Pembelajaran CIRC Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut : 1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang siswa secara heterogen. 2. Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran. 3. Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas. 4. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok. 5. Guru dan siswa membuat kesimpulan bersama. 6. Penutup. Dari setiap fase tersebut di atas dapat kita perhatikan dengan jelas sebagai berikut: a. Fase Pertama, Pengenalan konsep. Fase ini guru mulai mengenalkan tentang suatu konsep atau istilah baru yang mengacu pada hasil penemuan selama eksplorasi. Pengenalan bisa didapat dari keterangan guru, buku paket, atau media lainnya. b. Fase Kedua, Eksplorasi dan aplikasi. Fase ini memberikan peluang pada siswa untuk mengungkap pengetahuan awalnya, mengembangkan pengetahuan baru, dan menjelaskan fenomena yang mereka alami dengan bimbingan guru minimal. Hal ini menyebabkan terjadinya konflik kognitif pada diri mereka dan berusaha melakukan pengujian dan berdiskusi untuk menjelaskan hasil observasinya. Pada dasarnya, tujuan fase ini untuk membangkitkan minat, rasa ingin tahu serta menerapkan konsepsi awal siswa terhadap kegiatan pembelajaran dengan memulai dari hal yang kongkrit. Selama proses ini siswa belajar melalui tindakan-tindakan mereka sendiri dan reaksi-reaksi dalam situasi baru yang masih berhubungan, juga terbukti menjadi sangat efektif untuk menggiring
  • siswa merancang eksperimen, demonstrasi untuk diujikannya. c. Fase Ketiga, Publikasi. Pada fase ini Siswa mampu mengkomunikasikan hasil temuan-temuan, membuktikan, memperagakan tentang materi yang dibahas. Penemuan itu dapat bersifat sebagai sesuatu yang baru atau sekedar membuktikan hasil pengamatannya.. Siswa dapat memberikan pembuktian terkaan gagasan-gagasan barunya untuk diketahui oleh teman-teman sekelasnya. Siswa siap menerima kritikan, saran atau sebaliknya saling memperkuat argumen. C. Kelebihan Model Pembelajaran CIRC Kelebihan dari model pembelajaran terpadu atau (CIRC) antara lain: 1) Pengalaman dan kegiatan belajar anak didik akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan anak; 2) kegiatan yang dipilih sesuai dengan dan bertolak dari minat siswa dan kebutuhan anak; 3) seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi anak didik sehingga hasil belajar anak didik akan dapat bertahan lebih lama; 4) pembelajaran terpadu dapat menumbuh-kembangkan keterampilan berpikir anak; 5) pembelajaran terpadu menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis (bermanfaat) sesuai dengan permasalahan yang sering ditemuai dalam lingkungan anak; 6) pembelajaran terpadu dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa kearah belajar yang dinamis, optimal dan tepat guna; 7) menumbuhkembangkan interaksi sosial anak seperti kerjasama, toleransi, komunikasi dan respek terhadap gagasan orang lain; 8) membangkitkan motivasi belajar, memperluas wawasan dan aspirasi guru dalam mengajar (Saifulloh, 2003). D. Kekurangan Model Pembelajaran CIRC Kerurangan dari model pembelajaran CIRC tersebut antara lain: Dalam model pembelajaran ini hanya dapat dipakai untuk mata pelajaran yang menggunakan bahasa, sehingga model ini tidak dapat dipakai untuk mata pelajaran seperti: matematika dan mata pelajaran lain yang menggunakan prinsip menghitung. E. Kesimpulan Model pembelajaran ini sangat bagus dipakai karena dengan menggunakan model ini siswa dapat memahami secara langsung peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan dengan materi yang dijelaskan. Makalah Model Pembelajaran CIRC (COOPERATIVEINTEGRATED READING AND COMPOSITION ) Posted on January 2, 2013 by desykartikaputri
  • BAB I PENDAHULUAN 1. A. LATAR BELAKANG Tujuan pendidikan pada hakekatnya adalah suatu proses terus menerus manusia untuk menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi sepanjang hayat karena itu siswa harus benar-benar dilatih dan dibiasakan berfikir secara mandiri. Metematika merupakan pengetahuan yang mempunyai peran sangat besar baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan lain. Dengan adanya pendidikan matematika di sekolah dapat mempersiapkan anak didik agar menggunakan matematika secara fungsional dalam kehidupan sehari-hari dan di dalam menghadapi ilmu pengetahuan lain. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang penting diajarkan pada pendidikan dasar atau pendidikan menengah. Dalam pedoman penyusunan kurikulum matematika pada pendidikan dasar, antara lain agar siswa memahami konsep matematika secara luwes, akurat, efisien, dan tepat serta sikap menghargai kegunaan maematika dalam kehidupan yaitu memiliki rasa ingin tahu atau kritis, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri alam pemecahan masalah. Adapun untuk pelajaran matematika, penilaiaan diarahkan untuk mengukur kemampuan, diantaranya: 1. Pemahaman konsep, siswa mampu mendifinsikan konsep, mengidentifikasi dan member contoh atau bukan contoh dari sikap. 2. Prosedur, siswa mampu mengenali prosedur atau proses penghitungan yang benar dan tidak benar. 3. Komunikasi, siswa mampu menyatakan dan menafsirkan gagasan matematika secara lisan, tertulis dan mampu mendemontrasikan. 4. Penalaran, siswa mampu memberikan alasan induktif dan deduktif. 5. Pemecahan masalah, siswa mampu memahmi masalah, memilih stategi penyelesaian. Indikasi masalah dalam matematika adalah agar siswa mampu memecahkan masalah yang dihadapai dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mempelajari matematika siswa selalu dihadapkan pada maslah matematika yang tersetruktur, sistematis dan logis, yang membiasakan siswa untuk mangatasi masalah yang timbul secara mandiri dalam kehidupannya tanpa harus meminta bantuan kepada orang lain. Kemampuan pemecahan masalah matematika pada siswa dapat diketahui melalui soal-soal yang berbentuk uraian, karena soal yang berbentuk uraian kita dapat melihat langkah-langkah yang dilakukansiswa dalam menyelesaiakan permasalahan, sehingga pemahaman siswa akan memecahkan masalah dapat diukur. Bentuk lain alam pemecahan masalah dalam pembelajaran ini adalah soal cerita. Berdasarkan buku-buku penunjang pembelajaran matematika yang mengacu pada kurikulum, banyak dijumpai soal-soal cerita hampir pada setiap materi pokok. Karena soal cerita merupakan soal yag dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari dan lebih ditekankan pada ketajaman intelektual anak sesuai dengan kenyataan yang mereka hadapai. Banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami setiap kalimat dalam soal cerita, misal apa yang diketahui dan yang ditanyakan, kurangbisa
  • menghubungkan secara fungsional unsur-unsur yang diketahui utuk menyelesaikan masalah, serta memisalkan unsur sesuai dengan aturan yang berlaku. 1. 2. 3. 4. 5. B. RUMUSAN MASALAH Apa yang di maksud dengan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC ? Bagaimana langkah-langkah metode model pembelajaran kooperatif tipe CIRC ? Apa saja kekurangan dan kelebihan dari metode model pembelajaran kooperatif tipe CIRC ? Apa materi yang cocok untuk di terapkan dengan metode model pembelajaran kooperatif tipe CIRC ? 1. C. TUJUAN PEMBELAJARAN 2. Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan pembelajaran kooperatif tipe CIRC. 3. Untuk mengetahui bagaimana langkah-langkah dalam menerapkan metode pembelajaran koperatif tipe CIRC. 4. Untuk mengetahui apa saja kekurangan dan kelebihan metode pembelajaran koperatif tipe CIRC. 5. Untuk mengetahui materi yang cocok menggunakan metode pembelajaran koperatif tipe CIRC. BAB II PEMBAHASAN 1. A. PENGERTIAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVEINTEGRATED READING AND COMPOSITION Menurut Etin Solihatin dan Raharjo Cooperative Learning mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau prilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih dimana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri. Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang menuliskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar. Serta berfungsi sebagai pedoman bagi para perencana pembelajaran dan bagi para pendidik dalam merencanakan dan melaksanankan aktifitas belajar mengajar. Roger dan David Johnson dalam Anita Lie menyatakan bahwa tidak semua kerja kelompok dianggap cooperative learning. Untuk mencapai hasil yang maksimal ada lima unsur model pembelajaran gotong royong harus ditetapkan. Kelima unsur tersebut antara lain : 1. Saling ketergantungan positif
  • Untuk menciptakan kerja kelompok yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka, dengan cara ini mau tidak mau setiap anggota merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya agar yang lain bisa berhasil. 1. Tanggung jawab perseorangan Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran koparatif setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Kunci keberhasilan model pembelajaran kerja kelompok adalah persiapan guru dalam menyusun tugasnya. 1. Tatap muka Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. 1. Komunikasi antar anggota Ketrampilan berkomunikasi dalam kelompok ini juga merupakan proses panjang. Pembelajar tidak bisa diharapkan langsung menjadi komunikator yang andal dalam waktu sekejap. Proses ini sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa. 1. Evaluasi proses kelompok Guru perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dan lebih efektif. Waktu evaluasi tidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok, tetapi bisa diadakan selang beberapa kali siswa terlibat dalam pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif mencakup kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan suatu masalah atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan bersama lainnya. Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tiga tujuan pembelajaran yang penting yaitu: 1. Hasil belajar akademik Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tudas-tugas akademik. Banyak ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep yang sulit. 1. Penerimaan terhadap perbedaan individu Efek penting ini adalah penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, kelas sosial, kemampuan maupun ketidakmampuan. 1. Pengembangan ketrampilan sosial
  • Model pembelajaran kooperatif bertujuan untuk mengajarkan kepada siswa ketrampilan kerjasama dan kolaborasi. Dalam model pembelajaran CIRC, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen yang terdiri atas 4 atau 5 siswa. Dalam kelompok ini tidak dibedakan atas jenis kelamin, atau tingkat kecerdasan siswa. Jadi dalam kelompok ini sebaiknya ada siswa yang pandai, sedang atau lemah, dan masing-masing siswa sebaiknya merasa cocok satu sama lain. Dengan pembelajaran kelompok, diharapkan para siswa dapat meningkatkan pikiran kritisnya, kreatif, dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi. Sebelum di bentuk kelompok, siswa dijarkan bagaimana bekerjasama dengan suatu kelompok. Siswa diajari menjadi pendengar yang baik, dapat memberikan penjelasan kepada teman sekelompok, berdiskusi, mendorong teman lain untuk bekerja sama menghargai pendapat orang lain dan sebagainya. Salah satu ciri pembelajaran kooperatif adalah kemampuan siswa untuk bekerja sama dalam kelompok kecil yang heterogen. Siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan ketrampilannya, sedangkan siswa yang lemah akan terbantu dalam memahami permasalahan yang diselesaikan dalam kelompok tersebut. 1. B. KOMPONEN – KOMPONEN DALAM PEMBELAJARAN CIRC Model pembelajaran CIRC menurut slavin dalam suyitno memiliki delapan komponen, delapan komponen tersebut anyara lain: 1) Teams yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4 atau 5 siswa, 2) Plcement tes misalnya diperoleh dari rata-rata nilai ulangan harian sebelumnya atau berdasarkan nilai rapor agar guru mengetahui kelebihan dan kekurangan siswa pada bidang tertentu, 3) Student creative melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya, 4) Team study yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberikan bantuan kepada kelompok yang membutuhkannya, 5) Team scorer and team recognition yaitu memberikan skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria penghargaan terhadap kelompok yang berhasil secara cemerlang dan kelompok yang di pandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas, 6) Teaching group memberikan materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok, 7) Facts test pelaksanaan test ulangn berdasarkan fakta yang diperoleh siswa 8) Whole-class units yaitu pemberian rangkuman materi oleh guru diakhir waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah.
  • 1. C. KEGIATAN POKOK PEMBELAJARAN CIRC Kegiatan pokok dalam CIRC untuk menyelesaikan soal pemecahan masalah meliputi rangkain kegiatan bersama yang spesifik, yaitu: 1. Salah satu anggota atau beberapa kelompok membaca soal, 2. Membuat prediksi atau menafsirkan isi soal pemecahan masalah, termasuk penulisan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan, 3. Saling membuat rencana penyelesaian soal pemecahan masalah, 4. Menuliskan penyelesaian soal pemecahan masalah secara urut, 5. Saling merevisi dan mengedit pekerjaannya. 1. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CIRC Penerapan model pembelajaran CIRC untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dapat ditempuh dengan: 1) Guru menerangkan suatu pokok bahasan matematika kepada siswa yang berisi materi yang akan diajarkan pada setiap pertemuan 2) Guru memberikan latihan soal 3) Guru siap melatih siswa untuk meningkatkan ketrampilan siswanya dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah melalui penerapan model CIRC 4) Guru membentuk kelompok-kelompok belajar siswa yang heterogen 5) Guru mempersiapkan soal pemecahan masalah dalam bentuk kartu masalah dan membagikannya pada setiap kelompok 6) Setiap kelompok bekerja berdasarkan kegiatan pokok CIRC, guru mengawasinya 7) Ketua kelompok melaporkan keberhasilan atau hambatan kelompoknya 8) Ketua kelompok harus dapat menetapkan bahawa setiap anggota telah memahami, dan dapat mengerjakan soal pemecahan masalah 9) Guru bertindak sebagai fasilitator 10) Guru memberikan tugas/PR secara individual 11) Guru membubarkan kelompok dan siswa kembali ke tempat duduknya 12) Guru mengulang secara klasikal tentang strategi penyelesaian soal pemecahan masalah 13) Guru memberikan kuis
  • Kelebihan model pembelajaran CIRC: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Siswa dapat memberikan tanggapannya secara bebas. Dilatih untuk dapat bekerjasama dan menghargai pendapat orang lain. Dominasi guru dalam pembelajaran berkurang Para siswa dapat memahami soal dan mengecek pekerjaannya Membantu siswa yang lemah Meningkatkan hasil belajar khususnya dalam menyelesaikan soal yang berbentuk pemecahan masalah. Kekurangan model pembelajaran CIRC: 1. Pada saat presentasi hanya siswa aktif yang tampil 2. Persiapan yang perlu dilakukan yang akan menggunakan model pembelajaran koperatif cukup rumit 3. Pengelolaan kelas dan pengorganisasian peserta didik lebih sulit. 1. E. EVALUASI MATERI YANG COCOK UNTUK SMP/SMA DENGAN METODE CIRC Beberapa materi matematika yang cocok di gunakan model CIRC adalah pemfaktoran bentuk aljabar,menyelesaikan bilangan (bulat, pecahan, dll). Segi empat (persegi panjang, jajar genjang, persegi, belah ketupat, dan layang-layang). Dalam metode ini, siswa yang mendapat peringkat dalam kelas bukan berarti dianggap sebagai tombak paling utama, namun semua anggota berpengaruh. Akan tetapi dalam CIRC ini, seseorang yang mempunyai bobot lebih di bagi secaramerata dalam setiap kelompok. Agar keseimbangan dalam pengertian materinya dapat diterima dengan sama. BAB III PENUTUP 1. A. SIMPULAN Berdasarkan uraian hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa: 1) Melalui Cooperative learning tipe CIRC dapat meningkatkan ketrampilan siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita. 2) Melalui Cooperative learning tipe CIRC dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita. 1. B. SARAN
  • Beberapa saran yang diberikan oleh seorang guru adalah: 1) Guru matematika harus dapat mengemas proses pembelajaran yang menyenangkan namun tetap menantang. 2) Guru harus kreatif, inovatif, dan selalu meningkatkan profesionalisnya. 3) Salah satu proses pembelajaran dalam rangka mengoptimalkan hasil belajar matematika dan meningkatkan ketrampilan siswa yaitu dengan menerapkan tipe CIRC dalam pembelajaran.