umihanik.blogspot.com


             Ilusi Perencanaan dan Penganggaran Pembangunan 
                                 Umi ...
umihanik.blogspot.com


perencanaan  yang  dirumuskan  oleh  Albert  Waterston  dapat  saya  jadikan  pegangan.  Dia 
meny...
umihanik.blogspot.com


di daerah secara kontinyu. Jadi di Bappenas nanti akan ada desk‐desk khusus wilayah, propinsi, dan...
Email Address                        : umihanik@gmail.com
Instant Messaging (with appointment) : umi.hanik@yahoo.com
Onlin...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Ilusi perencanaan dan penganggaran pembangunan umi hanik

641 views

Published on

Published in: Education
4 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • maaf pak osa baru direspon,
    terkait delivery process, ini yang membedakan antara monitoring & evaluasi (monev) dengan audit
    seringkali audit dianggap sama dengan monev

    birokrasi/administrasi anggaran yg panjang saya maksudkan disini adalah banyaknya regulasi2 anggaran yg terbit menyebabkan daerah atau kementerian/departemen disibukkan dengan administrasi yang menumpuk, contohnya permendagri 13 utk penggunaan dana apbd

    jika demikian alih2 mau quality...yang ada business as usual atau copy-paste anggaran tahun lalu dan tidak ada evaluasi

    kalo boleh tau profesi pak osa apa?
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Mbak Umi,
    argumentasi kamu benar. Seorang IT consultant dari Batam yang saya temui di ICT Exhibition di JCC bulan lalu dimana dia selalu menjual accounting software untuk APBD ke kabupaten2 ( diantaranya Tangerang dan di Sumatra), mengatakan hal yang sama. Sebenarnya menurut ybs pada bulan April SKPD nya sudah harus mampu propose budget tersebut ke DPRD. Dengan demikian realisasi belanja daerah dapat dimulai di Q3. Saya menemukan kasus yang sama juga di beberapa kabupaten di NAD dan Riau.

    Kalau Anda saat ini di WB maka this would be your duty to help the institutions/govt accelerating the disbursement of such issues ya mbak.
    Delivery process yang Anda sebutkan diatas kan sebenarnya dapat terlihat dari indikator yang sudah dicamkan sebelumnya.....Kalau birokrasi anggaran itu apa yang dimaksud ? Apakah itu menyangkut funds allocation or the quality of project preparation itself ?

    Selamat berakhir pekan ya
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Halo pak osa,
    thanks sudah berkenan baca dan komentari,
    itu kita belum bicara kualitas realisasi lho pak..
    umumnya sekitar 80% bisa tercapai, cuman kecenderungannya hingga tw 3 realisasi masih sangat rendah (sekitar 35%an) dan sisanya dikejar di tw 4,

    makanya pak osa mungkin seringkali ngerasain hotel2 mendadak fully booked menjelang dan sepanjang tw 4, airport penuh sesak dengan aparat2 dan birokrat yang mau monitoring ke daerah/studi banding, dll, atau mendadak ada renovasi trotoar atau pagar yang kita rasa tak perlu, dll

    istilah bekennya ngejar pencairan :)

    saya melihat ada birokrasi yang panjang terkait administrasi penganggaran kita, jadi monev yang idealnya merupakan alat untuk mengukur konsistensi sekaligus kualitas rencana dan realisasi akhirnya hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan administratif saja

    singkatnya monev hanya menjadi pencatat dari input (misalnya) uang negara yang dibelanjakan sebanyak Rp 100; outputnya = Rp 100, yang akhirnya tidak mampu melihat delivery processnya

    nampaknya solusi yang diperlukan adl deregulasi administrasi dan birokrasi anggaran

    salam, umi
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Mbak Umi,
    Tulisan Anda cukup menggelitik dan baru saya temukan/baca....OK sekarang ....menurut Anda rencana dan realisasi di pos pos tertentu di APBN itu berapa sih tingkat pencapaiannya di akhir tahun anggaran, apakah 75 % atau 90 %...dan ...bagaimana agar menjadi 98 % begitu ?

    Teriring salam selalu
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
641
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
4
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Ilusi perencanaan dan penganggaran pembangunan umi hanik

  1. 1. umihanik.blogspot.com Ilusi Perencanaan dan Penganggaran Pembangunan  Umi Hanik    Sejak  berakhirnya  perang  dunia  kedua  wacana  dan  berbagai  literatur  tentang  perencanaan  pembangunan  cukup  ramai  diperbincangkan  dan  menjadi  bahan  yang  tak  kering  untuk  dikupas.  Umumnya  perbincangan  berkutat seputar bagaimana perencanaan  dapat diimplementasikan.  Atau  secara  eksplisit  bagaimana  perencanaan  dapat  dilaksanakan  sesuai  dengan  yang  ditulis  dan  direncanakan oleh para perencana yang sudah capek‐capek sampai rambut rontok demi menyusun  dokumen perencanaan yang terbaik bagi negeri.    Telah  menjadi  isue  lama  juga,  dan  hal  ini  juga  sudah  dicoba  dicarikan  solusinya  dalam  berbagai  diskursus mulai dari sambil minum es kelapa muda di pelataran masjid sunda kelapa, di kantin PJP  Bappenas, Pujasera DPR, di lantai 13 BEJ, talang betutu, bahkan sampai seminar dan simposium di  berbagai hotel berbintang, termasuk di berbagai daerah. Ini‐pun baru tahap yang saya pernah ikut  terlibat langsung, belum lagi yang dilakukan para senior planner dan para petinggi lainnya. Berbagai  advisory dan tool yang paling sakti dan ampuh‐pun telah dicoba, ya akhirnya kita hanya bisa pasrah  dan menemukan satu kesepakatan dan kesimpulan menarik bahwa ‘konsistensi antara perencanaan  dan realisasi pembangunan’ adalah memang bukan budaya asli kita. Kita butuh waktu agak panjang  untuk  dapat  mengadopsi  budaya  asing  ‘konsisten’  tersebut.  Hehe,  kurang  lebih  seperti  itu  kelakar  untuk menggambarkan betapa susahnya untuk konsisten pada rencana dan realisasi.     Boleh  sedikit  berbesar  hati  karena  ternyata  Indonesia  tidak  sendirian,  menurut  referensi  yang  ada  umumnya seluruh negara yang ada di dunia mengalami kendala yang sama utamanya negara‐negara  berkembang. Jangankan untuk lingkup negara yang cukup besar, untuk lingkup individu saja jika kita  mau  jujur  seringkali  kita  tidak  bisa  konsisten  dengan  rencana‐rencana  yang  sudah  kita  tetapkan,  bahkan  seringkali  dan  banyak  yang  hidup  tanpa  rencana  yang  jelas.  Follow  with  the  flow  aja,  mengalir  seperti  air,  dan  ikut  kemana  arah  angin  berhembus  saja,  toh  takkan  lari  gunung  dikejar,  garam di laut asam di gunung ketemu juga di cobekan, apalagi jika kita hidup ditengah filosofi jawa  yang  sangat  kental  yang  serba  ‘nerimo  ing  pandum’,  dan  falsafah  hidup  lainnya  dimana  kita  tidak  banyak dituntut untuk berencana.     Arthur  Lewis  dan  Albert  Waterson  setidaknya  mengidentifikasi  masalah  ketidakkonsistenan  dalam  rencana  dan  realisasi  ini  disebabkan  oleh  enam  hal  utama  yakni  :  1)  Seringkali  dokumen  rencana  yang ada hanya menjadi komoditas politik yang utopis; 2) Tidak mendapatkan dukungan politik dan  kurangnya  kestabilan  politik;  3)  Minimnya  koordinasi  antar  stakeholder  pembangunan;  4)  Kurang  dukungan data statistik dan informasi yang komprehensif untuk mendukung perencanan yang ideal  tapi realistis; 5) Lemahnya kapasitas SDM yang ada; dan 6) Administrasi pemerintahan yang belum  tertata dengan baik.    Para ahli‐pun yang telah mempelajari berbagai contoh dan best practise yang ada, agak sulit untuk  dapat  merumuskan  formula  yang  mujarab  untuk  mengatasi  persoalan  di  atas.  Akhirnya  para  ahli  hanya banyak berfokus pada teori‐teori dan prinsip perencanaan dibanding pada aspek praktiknya.  Ya  wajar  juga,  para  ahli  toh  juga  manusia  yang  punya  keterbatasan.  Tapi  paling  tidak  definisi  umihanik.blogspot.com
  2. 2. umihanik.blogspot.com perencanaan  yang  dirumuskan  oleh  Albert  Waterston  dapat  saya  jadikan  pegangan.  Dia  menyebutkan  bahwa  perencanaan  pembangunan  adalah  melihat  ke  depan  mengambil  pilihan  berbagai  alternatif  dari  kegiatan  untuk  mencapai  tujuan  masa  depan  tersebut  dengan  terus  mengikuti agar supaya pelaksanaannya tidak menyimpang dari tujuan.    Keyword‐nya adalah “terus mengikuti supaya pelaksanaannya tidak menyimpang”, dalam bayangan  saya  ini  sudah  masuk  kepada  wilayah  monitoring  dan  evaluasi  perencanaan  pembangunan  untuk  selanjutnya  saya  sebut  monev.  Jadi  solusi  konsistensi  ini  terletak  pada  optimalnya  peran  monev.  Namun demikian sebelum kita bicara lebih jauh tentang monev, sebagai informasi saja desain monev  yang  ada  saat  ini  dengan  berbagai  regulasinya  harus  kita  akui  tak  kalah  ruwetnya  dengan  benang  kusut, butuh waktu dan tenaga ekstra tersendiri untuk mengurainya. Namun dalam mimpi atau ilusi  saya siang tadi, tampaknya dua masalah tersebut dapat begitu mudahnya diselesaikan. Bagaimana  caranya?    Dulu pada saat pemerintahan Gus Dur  beredar rumor akan dibentuk dewan  perencanaan nasional  untuk  menggantikan  Bappenas.  Kecanggihan  intelektual  Gus  Dur  yang  pada  saat  itu  belum  bisa  ditangkap  secara  harafiah,  dianggap  sebagai  keputusan  yang  absurd  dan  ngawur  karena  hanya  mengandalkan bisikan‐bisikan murahan. Peran Bappenas yang banyak dipertanyakan, tidak dianggap  sebagai  signal.  Berlanjut  hingga  berlangsungnya  reformasi  anggaran  (UU  17/2003).  Bappenas  limbung  dan  kebingungan.  Daerah  tambah  bingung  lagi.  Akhirnya  Bappenas  diselamatkan  oleh  UU  25/2004.  Inipun  belum  selesai  karena  pengaturan  atau  kesepahaman  tentang  pembagian  peranan  atau koordinasi perencanaan daerah dengan pusat juga masih belum tuntas. Belum lagi perdebatan  dan pertentangan tentang peranan Bappenas paska era desentralisasi.     Nah, dalam mimpi saya siang tadi mengisyaratkan Bappenas dengan gagah beraninya mereformasi  struktur  dan  organisasinya  secara  total  dengan  pendekatan  ke‐desentralisasi‐an  melalui  spatial  planning. Maksudnya begini, struktur organisasi didesain terinci berdasarkan kewilayahan. Misalkan  untuk Unit Kerja Eselon (UKE) I akan ada tiga yakni mencakup : 1) Kedeputian Bidang Perencanaan  Pembangunan  Wilayah  Indonesia  Timur;  2)  Wilayah  Indonesia  Tengah;  dan  3)  Wilayah  Indonesia  Barat. Adapun UKE II‐nya akan fokus pada propinsi di wilayah tersebut, demikian seterusnya diikuti  oleh  Kasubdit  yang  akan  mengkoordinasi  beberapa  kabupaten,  sedangkan  staf  akan  fokus  pada  penanganan  satu  kabupaten.  Tupoksi  yang  melekat  di  tiap2  UKE  adalah  mulai  dari  aspek  perencanaan,  penganggaran,  strategi  pembiayaan,  administrasi  pembangunan,  pelayanan  dasar,  infrastruktur, penanggulangan kemiskinan, pertahanan keamanan, agama dan kebudayaan, dll.    Staf  perencana  hanya  akan  fokus  untuk  menangani  satu  kabupaten  saja.  Dalam  menjalankan  pekerjaannya atau tupoksinya kitab wajib pegangan dia adalah RPJMN, RKP, RPJMD, RKPD, RTRWN,  RTRWD,  RKAPD,  Renja  K/L,  RKAK/L,  dll  pokoknya  seluruh  dokumen  rencana  dan  anggaran  pembangunan  yang  ada  di  pusat,  kementerian/lembaga,  dan  daerah.  Staf  harus  menguasai  betul  karakter  wilayah  kabupaten  yang  menjadi  tanggungjawab  dia.  Untuk  menjaga  konsistensi  rencana  dan  realisasi  anggaran  serta  menjamin  tercapainya  target  pembangunan  pusat  dan  daerah,  secara  berkala  Bappenas  mengadakan  trilateral  meeting  dengan  melibatkan  daerah/kabupaten  (yang  menjadi  tanggungjawabnya)  dan  sektor  atau  K/L  terkait.  Staf  tersebut  juga  akan  menjadi  penghubung  antara  kabupaten  dengan  stakeholder  pembangunan  di  pusat,  selain  itu  staf  juga  bertanggungjawab untuk memberikan bimbingan teknis dan capacity building terhadap sumberdaya  umihanik.blogspot.com
  3. 3. umihanik.blogspot.com di daerah secara kontinyu. Jadi di Bappenas nanti akan ada desk‐desk khusus wilayah, propinsi, dan  kabupaten  dengan  isue  lintas  sektor.  Hal  ini  juga  berlaku  sama  ketika  dalam  proses  penyusunan  rencana pembangunan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).     Hajat  besar  tahunan  Bappenas  ‐  Musrenbangnas  ‐  baru  saja  berlalu,  outputnya  jelas  RKP  atau  Rencana Kerja Pembangunan pemerintah untuk tahun 2010. Demikian juga dengan Nota Keuangan  RAPBN 2010 juga tengah digodog. Apa isinya? Mungkin saja tidak jauh berbeda dengan tahun‐tahun  sebelumnya, tapi pertanyaan yang utama adalah apakah semua rencana yang ada akan terealisasi?  Apakah  rencana‐rencana  tersebut  akan  dapat  dilaksanakan  secara  optimal?  Jujur  saya  tidak  yakin,  makanya  saya  sampai  bermimpi  segala.  Memang  saya  belum  sempat  mencari  referensi  dan  teori  yang memadai untuk mendukung ‘kebenaran’ mimpi saya tersebut. Jika ada yang punya barangkali  berkenan untuk berbagi? Please feel free.     Akhirnya, semoga saja pemikiran yang muncul dari mimpi ini tidak sekedar menjadi ilusi. Desain yang  lebih detail saya masih belum sempat  pikirkan, tapi paling tidak ini telah menginspirasi  saya untuk  studi pendalaman di program doktoral nanti. Hehe, boleh kan bercita‐cita? Setidaknya sumbangsih  pemikiran  saya  buat  optimalnya  pembangunan  bangsa  ini  tidak  berhenti  hanya  di  tataran  ilusi.  Semoga berkenan dan terima kasih telah bersedia meluangkan waktu untuk membaca mimpi‐mimpi  dan ilusi saya.  umihanik.blogspot.com
  4. 4. Email Address : umihanik@gmail.com Instant Messaging (with appointment) : umi.hanik@yahoo.com Online Page : http://umihanik.blogspot.com/ Facebook : http://www.facebook.com/umi.hanik1 Twitter : http://twitter.com/umihanik Citizenship : Indonesian Professional Histories 1. The World Bank, Jakarta Office, May 2009 – Present; Monitoring & Evaluation (M&E) Specialist for BOS KITA (Knowledge Improvement for Transparency and Accountability) Program 2. The House Of Representatives (DPR RI), November 2007 – June 2009; Expert Staff for Commission VI, XI, and Budget Committee, In charge for National Awakening Party 3. National Development Planning Agency (Bappenas), April 2008 – March 2009; M&E Specialist as a Technical Assistance for the Deputy of Development Performance Evaluation (DPE); under the AusAID-World Bank and GRS II CIDA activities 4. National Development Planning Agency (Bappenas), February 2006 – February 2008; M&E Specialist for PMU (Project Management Unit) of PNPM SPADA (Support for Poor and Disadvantage Area) Program 5. PT. Sinergi Pakarya Sejahtera (Sinergi Consulting), November 2005 – present; Associate Researcher for strategic project concerning planning and public policy research 6. National Development Planning Agency (Bappenas), March 2002 – October 2005; Assistant Specialist for State Minister Advisor on Macro Economics Studies Educational Background Aug 1997 - Nov 2001, Bachelor of Economics, Faculty of Economics, University of Jember Aug 2007-Jan 2010, Master of Economics, Faculty of Economics, University of Indonesia Summary Of Economics Legislation Advisory 1. Government Budget-Adjustment 2008 (APBN-P 2008) Law Draft, 2008 2. Transformation of Indonesian Export Bank to Export Financing Board (LPEI) Law Draft, 2008 3. Interruption material submission for the legislators during the interpellation of BLBI, 2008 4. Research development to support the inisiation of the interpellation for food inflation, 2008 5. Tax Package Draft Law (RUU KUP, PPh, PPN and PPn BM), 2008 6. Economic Crisis Mitigation Package Draft Law (Perpu 2, 3, 4/2008), 2008 7. RAPBN 2009 Law Draft, 2008 8. Fiscal stimulus package Law Draft to mitigate the economic crisis for the budget year of 2009 9. Free Trade Zone Law Draft, 2009 10. Research development to support the substance of interpellation for BBM subsidy issue in the Budget Year of 2009, 2009 11. Other research and writing activities to support press conferences, discussion, public hearing. Organization Background, Social And Community Involvement 1. 2009 – Present, Board of Forming Committee for the Indonesian Development Evaluation Community (InDEC) 2. 2009-present, member of Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) 3. 2009–present, Treasurer for Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren Al-Hidayah Batu 4. 2004-present, Tresurer for The University of Jember Alumni Association, Jakarta Branch 5. March 2008-Present, Committee for the Indonesian Moslem Student Movement (PMII) Alumni Association, National Committee 6. April 2008-June 2009, General Secretary for Expert Forum FKB DPR RI (FORTA) 7. August 2000–July2001, Chairman of Student Executive Board Faculty of Economic (FoE), University of Jember (UoJ) 8. 2000-2001, Member of Indonesian Economics Student Senate Association (ISMEI) 9. 2000–2001, Head of External Affairs for the University Student English Forum (USEF), UoJ 10. 1999–2000, Head of Women Empowerment, Indonesian Moslem Student Movement (PMII), Economics Branch, UoJ 11. 1998–2001, Reporter and writer for Campus Magazine ‘Tegalboto’ and News Paper ‘Tawang Alun’, UoJ 12. 1997–2000, Presidium Committee for Islam and Environment Research Forum, FoE, UoJ Personal Information Single, Moslem, Interested in writing, teaching, blogrolling-walking, and listening to top 40 music

×