Your SlideShare is downloading. ×
Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning
Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning
Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning
Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning
Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning
Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning
Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning
Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning
Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning
Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning
Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning
Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning
Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning
Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning
Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning
Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning
Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning
Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning
Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning
Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning
Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning
Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning
Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning
Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning
Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning
Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning

14,845

Published on

Published in: Real Estate
0 Comments
7 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
14,845
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
887
Comments
0
Likes
7
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP Melalui Penerapan Metode Accelerated Learning Proposal Penelitian diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Penelitian yang diampu oleh Prof.Dr.H.Nanang Priatna, M.Pd. A Leading and Outstanding University oleh: Umdatus Sholikhah 1001044 JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG 2012
  • 2. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam pembelajaran matematika terdapat beberapa kemampuan matematis yang harus dimiliki oleh siswa. Salah satu kemampuan matematis tersebut adalah kemampuan komunikasi. Dalam memunculkan ide baik secara lisan maupun tulisan dibutuhkan komunikasi yang baik sehingga ide-ide tersebut dapat dipahami oleh orang lain. Salah satu upaya dalam mengembangkan kemampuan komunikasi adalah dengan menyelenggarakan proses pendidikan yang berkualitas. Pengertian pendidikan menurut UU RI No.20 tahun 2003 adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan poses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan untuk tujuan pendidikan sendiri yaitu terdapat pada UU RI No.20 tahun 2003 Bab II pasal 3, yaitu bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan-tujuan di atas dapat tercapai secara optimal jika proses pembelajaran yang dilakukan berjalan sebagaimana mestinya. Namun, tidak bisa dipungkiri juga bahwa kemampuan siswa yang satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan. Hal ini termasuk pada kemampuan komunikasi. Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang dapat melatih siswa untuk mengkomunikasikan idenya. Hal tersebut diakibatkan karena bahasa matematika memiliki perbedaan dengan bahasa yang lain. Komunikasi sangat diperlukan dalam proses pembelajaran. Guru menggunakan komunikasi untuk menjelaskan materi yang akan disampaikan kepada siswa. Sedangkan siswa mengunakan komunikasi untuk mengungkapkan ide-ide terkait konsep materi ajar. Menurut konsep komunikasi, pembelajaran adalah proses komunikasi fungsional antar siswa dengan guru dan siswa dengan siswa, dalam rangka perubahan sikap dan pola pikir yang akan menjadi kebiasaan bagi siswa yang bersangkutan (Suherman, 2001)
  • 3. Kemampuan komunikasi matematis termasuk kedalam daya matematika, National Council Teachers of matematics (NCTM) (Sumarmo, 2010) menyatakan, daya matematika adalah kemampuan untuk mengeksplorasi, menyusun konjektur dan memberikan alasan logis, kemampuan untuk menyelesaikan masalah non rutin, mengomunikasikan ide mengenai matematika dan menggunakan matematika sebagai alat komunikasi, menghubungkan ide-ide dalam matematika, antar matematika, dan kegiatan intelektual lainnya. Kemampuan komunikasi matematis memiliki peranan yang penting dalam pelajaran matematika. Pentingnya kemampuan komunikasi dalam matematika dapat dilihat dari tujuan kurikulum yang berlaku di Indonesia pada saat ini yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) (Altuntas, 2010). Bahwa pembelajaran matematika yang diajarka disekolah bertujuan agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut. 1. memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah, 2. menggunakan penalaran pada pola dan sikap, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika, 3. memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh, 4. mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah, dan 5. memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam memecahkan masalah. Fakta di lapangan menunjukkakn bahwa kemampuan komunikasi matematis khususnya siswa SMP di Indonesia masih tergolong rendah. Menurut Nugraha (2010: 54), kemampuan komunikasi matematis siswa masih rendah, hal ini terbukti dari hasil penelitian eksperimen yang dilakukannya bahwa tidak terdapat perbedaan peningkatan kemampuan komunikasi matematis siawa yang signifikan. Dengan kata lain, pengaruh perlakuan yang diberikan tidak memiliki perbedaan yang signifikan dalam peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa.
  • 4. Berdasarkan observasi yang dilakukan di SMP Negeri 1 Bandung. Nugraha (2010: 54), siswa jarang melakukan diskusi kelompok. Dalam kegiatan diskusi ada beberapa siswa yang kesulitan dalam menyampaikan hasil pemikirannya, siswa kurang memahami apa yang disampaikan siswa lain, siswa hanya mampu menyelesaikan soal sejenis dengan soal yang sudah diselesaikan oleh guru. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi matematis beberapa siswa SMP Negeri 1 Bandung masih kurang. Menurut Tim MKPBM (2001: 169), kemungkinan salah satu penyebab siswa tidak menyenangi pelajaran matematika adalah cara mengajar guru yang tidak sesuai dengan siswa. Guru mengajar dengan metode yang cukup sulit dimengerti oleh siswa, bahkan malah mempersulit siswa yang bisa memahami materi dan mengkomunikasikan kembali materi yang telah siswa dapatkan. Salah satu metode yang diperkirakan dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa adalah Accelerated Learning. Metode Accelerated Learning merupakan cara efektif yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa. Siswa bisa belajar dan memahami materi lebih cepat serta mengingat lebih lama. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Simaremare(2009: 2) bahwa “Accelerated Learning adalah sebuah upaya meningkatkan kemampuan belajar siswa sehingga siswa bisa belajar dan memahami materi lebih cepat serta mengingat lebih lama”. Dalam hal ini pula, proses belajar lebih menyenangkan sehingga terjadi interaksi antar siswa dan guru yang aktif sehingga proses pembelajaran lebih berjalan efektif dan optimal. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP Melalui Penerapan Metode Accelerated Learning” B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Apakah kemampuan komunikasi matematis siswa yang mendapatkan pembelajaran matematika dengan menggunakan metode Accelerated Learning lebih baik daripada siswa yang mendapatkan pembelajaran matematika dengan menggunakan metode ekspositori? 2. Bagaimana respons siswa terhadap pembelajaran menggunakan metode Accelerated Learning ? matematika dengan
  • 5. C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka tujuan penelitian ini adalah untuk: 1. Mengetahui apakah peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang mendapatkan pembelajaran matematika dengan menggunakan metode accelerated learning lebih baik daripada siswa yang mendapatkan pembelajaran matematika dengan menggunakan metode ekspositori. 2. Mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan metode accelerated learning D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Bagi siswa Diharapkan dengan penerapan metode accelerated learning dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa dan menumbuhkan semangat belajar siswa. 2. Bagi guru Dapat memperluas wawasan guru mengenai pembelajaran matematika dengan menggunakan metode accelerated learning, dan metode accelerated learning dapat dijadikan alternatif model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa. 3. Bagi peneliti Dapat menambah pengetahuan, wawasan dan pengalaman sehingga dapat dipraktikan dan dijadikan alternatif model pembelajaran matematika E. Definisi Operasional Untuk menghindari terjadinya pemahaman yang berbeda tentang istilah-istilah yang digunakan dan juga memudahkan peneliti dalam menjelaskan yang sedang dibicarakan, maka perlu adanya penjelasan mengenai istilah-istilah dalam variabel penelitian ini. 1. Accelerated learning merupakan proses belajar aktif, siswa telah mengetahui fakta-fakta mengenai dirinya, teknik-teknik belajar yang sesuai dengan
  • 6. preferensinya sehingga siswa dapat belajar dan memahami materi lebih cepat serta mengingat lebih lama. 2. Kemampuan komunikasi matematis adalah kemampuan siswa dalam mengkomunikasikan ide matematis, baik secara lisan maupun tulisan. Indikator kemampuan komunikasi matematis yang digunakan adalah sebagai berikut. 1) Membuat situasi matematika dan menyediakan ide dan keterangan dalam bentuk tulisan 2) Menggunakan situasi masalah dan menyatakan solusi masalah 3) Menginterpretasikan ide matematika 4) Menggunakan representasi untuk menyatakan konsep matematika secara menyeluruh. 3. Pembelajaran dengan ekspositori adalah pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari guru kepada sekelompok siswa dengan maksud siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal.
  • 7. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Komunikasi Matematis Secara umum komunikasi dapat diartikan sebagai suatu peristiwa saling menyampaikan informasi dari komunikator kepada komunikan dalam suatu komunitas. Dalam matematika, berkomunikasi mencankup ketrampilan/kemampuan untuk membaca, menulis, menelaah dan merespon suatu informasi. Dalam komunikasi matematika, siswa dilibatkan secara aktif untuk berbagi ide dengan siswa lain dalam mengerjakan soal-soal matematika. Sebagaimana dikatakan (Syaban: 2008) bahwa: “Komunikasi matematika merupakan refleksi pemahaman matematik dan merupakan bagian dari daya matematik. Siswa-siswa mempelajari matematika seakan-akan mereka berbicara dan menulis tentang apa yang mereka sedang kerjakan. Mereka dilibatkan secara aktif dalam mengerjakan matematika, ketika mereka diminta untuk memikirkan ide-ide mereka, atau berbicara dengan dan mendengarkan siswa lain, dalam berbagi ide, strategi dan solusi.” Jadi dalam pembelajaran matematika, ketika sebuah konsep informasi matematika diberikan oleh seorang guru kepada siswa ataupun siswa dilibatkan secara aktif dalam mengerjakan matematika, memikirkan ide-ide mereka, menulis, atau berbicara dengan dan mendengarkan siswa lain, dalam berbagi ide, maka saat itu sedang terjadi transformasi informasi matematika dari komunikator kepada komunikan, atau sedang terjadi komunikasi matematika. Komunikasi dalam pembelajaran matematika adalah penting. Komunikasi dalam matematika menolong guru memahami kemampuan siswa dalam menginterpretasi dan mengekspresikan pemahamannya tentang konsep dan proses matematika yang mereka pelajari. Lindquist (NCTM, 1996) berpendapat, “Jika kita sepakat bahwa matematika itu merupakan suatu bahasa dan bahasa tersebut sebagai bahasan terbaik dalam komunitasnya, maka mudah dipahami bahwa komunikasi merupakan esensi dari mengajar dan belajar matematika. ”Jadi jelaslah bahwa
  • 8. komunikasi dalam matematika merupakan kemampuan mendasar yang harus dimiliki pelaku dan pengguna matematika selama belajar dan mengajar matematika. Indikator komunikasi matematis menurut NCTM (1989 : 214) antara lain: a) Kemampuan mengekspresikan ide-ide matematis melalui lisan, tulisan, dan mendemonstrasikannya serta menggambarkannya secara visual. b) Kemampuan memahami, mengiterpretasikan, dan mengevaluasi ide-ide matematis baik secara lisan, tulisan, maupun dalam bentuk visual lainnya. c) Kemampuan dalam menggunakan istilah-istilah, notasi-notasi matematika dan struktur-strukturnya untuk menyajikan ide-ide, menggambarkan hubunganhubungan dengan model-model situasi. Aspek-Aspek Komunikasi Matematika, Baroody (Ansari: 2003) mengatakan bahwa pembelajaran harus dapat membantu siswa mengkomunikasikan ide matematika melalui lima aspek komunikasi yaitu representing (refresentasi), listening (mendengar), reading (membaca), discussing (diskusi) dan writing (menulis). a) Representing (Refresentasi) Refresentasi adalah : (1) bentuk baru sebagai hasil translasi dari suatu masalah atau ide, (2) translasi suatu diagram atau model fisik ke dalam simbol atau kata-kata (NCTM, 1989: 26). Misalnya, refresentasi bentuk perbandingan ke dalam beberapa model kongkrit, dan refresentasi suatu diagram ke dalam bentuk simbol atau kata-kata. Refresentasi dapat membantu anak menjelaskan konsep atau ide, dan memudahkan anak mendapatkan strategi pemecahan masalah (Ansari, 2003:21) b) Listening (mendengar) Mendengar merupakan aspek penting dalam suatu komunikasi. Seseorang tidak akan memahami suatu informasi dengan baik apabila tidak mendengar yang diinformasikan. Dalam kegiatan pembelajaran mendengar merupakan aspek penting. (Ansari, 2003: 23) mengatakan bahwa mendengar merupakan aspek penting dalam komunikasi. Siswa tidak akan mampu berkomentar dengan baik apabila tidak mampu mengambil inti sari dari suatu topik diskusi. Siswa sebaiknya mendengar dengan hati-hati manakala ada pertanyaan dan komentar teman-temannya. Baroody ( Ansari, 2003: 23) mengatakan bahwa mendengar secara hati-hati terhadap pertanyaan teman
  • 9. dalam suatu grup juga dapat membantu siswa mengkonstruksi lebih lengkap pengetahuan matematika dan mengatur strategi jawaban yang lebih efektif. Pentingnya mendengar juga dapat mendorong siswa berfikir tentang jawaban pertanyaan. c)Reading (membaca) Salah satu bentuk komunikasi matematika adalah kegiatan membaca matematika. Membaca matematika memiliki peran sentral dalam pembelajaran matematika. Sebab, kegiatan membaca mendorong siswa belajar bermakna secara aktif. Istilah membaca diartikan sebagai serangkaian keterampilan untuk menyusun intisari informasi dari suatu teks. Kemampuan mengemukakan idea matematika dari suatu teks, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan merupakan bagian penting dari standar komunikasi matematika yang perlu dimiliki siswa. Sebab, seorang pembaca dikatakan memahami teks tersebut secara bermakna apabila ia dapat mengemukakan idea dalam teks secara benar dalam bahasanya sendiri. Karena itu, untuk memeriksa apakah siswa telah memiliki kemampuan mambaca teks matematika secara bermakna, maka dapat diestimasi melalui kemampuan siswa menyampaikan secara lisan atau menuliskan kembali idea matematika dengan bahasanya sendiri. d) Discussing (diskusi) Salah satu wahana berkomunikasi adalah diskusi. Dalam diskusi akan terjadi transfer informasi antar komunikan, antar anggota kelompok diskusi tersebut. Diskusi merupakan lanjutan dari membaca dan mendengar. Siswa akan mampu menjadi peserta diskusi yang baik, dapat berperan aktif dalam diskusi, dapat mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya apabila mempunyai kemampuan membaca, mendengar dan mempunyai keberanian memadai. Diskusi dapat menguntungkan, melalui diskusi siswa dapat memberikan wawasan baru bagi pesertanya, juga diskusi dapat menananmkan dan meningkatkan cara berfikir kritis. e) Writing (menulis). Salah satu kemampuan yang berkontribusi terhadap kemampuan komunikasi matematika adalah menulis. Dengan menulis siswa dapat mengungkapkan atau merefleksikan pikirannya lewat tulisan ( dituangkan di
  • 10. atas kertas/alat tulis lainnya). Dengan menulis siswa secara aktif membangun hubungan antara yang ia pelajari dengan apa yang sudah ia ketahui. Merujuk uraian-uraian diatas, kemampuan siwa dalam refresentasi, mendengar, membaca, diskusi dan menulis dapat membantu siswa untuk memperjelas pemikiran mereka dan dapat mempertajam kemampuan komunikasi matematikanya. B. Metode Accelerated Learning Accelerated pembelajaran. yang artinya Jadi, dipercepat. the Konsep dipercepat, Accelerated dasar dan Learning pembelajaran Learning artinya ini artinya pembelajaran berlangsung secara cepat, menyenangkan dan memuaskan. Metode Accelerated Learning merupakan cara efektif yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa. Siswa bisa belajar dan memahami materi lebih cepat serta mengingat lebih lama. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Simaremare(2009: 2) bahwa “Accelerated Learning adalah sebuah upaya meningkatkan kemampuan belajar siswa sehingga siswa bisa belajar dan memahami materi lebih cepat serta mengingat lebih lama”. Dalam hal ini pula, proses belajar lebih menyenangkan sehingga terjadi interaksi antar siswa dan guru yang aktif sehingga proses pembelajaran lebih berjalan efektif dan optimal. Implementasi Accelerated Learning didasari oleh beberapa prinsip penting yaitu :  Keterlibatan total individu akan meningkatkan hasil belajar  Belajar bukan merupakan proses yang bersifat pasif dalam menyimpan pengetahuan tapi proses aktif menciptakan pengetahuam  Kolaborasi diantara siswa akan meningkatkan hasil belajar.  Belajar yang berpusat pada aktivitas jauh lebih baik dari pada belajar yang hanya menekankan pada aktivitas presentasi semata.  Peristiwa belajar yang menekankan pada belajar aktivitas jauh lebih efektif dari pada belajar yang menekankan pada aktivitas presentasi Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut menurut Meier Accelerated Learning memiliki beberapa karakteristik utama yaitu : implemetasi
  • 11.  Flexible – luwes  Joyful – menyenangkan  Multi-pathed – multi jalur  Ends-centered – berpusat pada tujuan  Collaborative – kolaboratif  Humanistic – manusiawi  Multi-sensory – multi sensor  Nurturing – menumbuhkan  Activity-centered – berpusat pada aktivitas Implentasi Accelerated Learning dalam aktivitas belajar dan pelatihan memerlukan adanya perubahan yang bersifat sistemik dan holistik. C. Metode Ekspositori Metode ekspositori adalah metode pembelajaran yang digunakan dengan memberikan keterangan terlebih dahulu definisi, prinsip dan konsep materi pelajaran serta memberikan contoh-contoh latihan pemecahan masalah dalam bentuk ceramah, demonstrasi, tanya jawab dan penugasan. Siswa mengikuti pola yang ditetapkan oleh guru secara cermat. Penggunaan metode ekspositori merupakan metode pembelajaran mengarah kepada tersampaikannya isi pelajaran kepada siswa secara langsung. seperti kita ketahui pada metode ceramah pusat pengajarnya terletak pada guru, guru yang banyak bicara menyampaikan materi pelajaran (informasi), sedangkan pekerjaan murid pada umumnya mencatat dan sebagian kecil bertanya. dominasi guru pada metode ekspositori ini banyak dikurangi. Guru tidak terus bicara, Apakah siswa atau mahasiswa itu mengerti atau tidak, tetapi guru memberikan informasi hanya pada saat-saat atau bagian bagian yang diperlukan; misalnya pada permulaan pengajaran, pada topik yang baru, pada waktu memberikan contoh-contoh soal dan sebagainya. Karena itu dilihat dari terpusatnya kepada guru, metoda lebih murni dari metoda ekspositori. Pada metode ini, setelah guru beberapa saat memberikan informasi (ceramah) guru mulai dengan menerangkan suatu konsep mendemonstrasikan keterampilannya mengenai pola atau aturan atau dalil tentang konsep itu, siswa bertanya, guru memeriksa (mengecek) apakah siswa sudah mengerti atau belum. Kegiatan selanjutnya ialah guru memberikan contoh-contoh soal aplikasi konsep
  • 12. selanjutnya merninta murid untuk menyelesaikan soal-soal di papan tulis atau di mejanya. Siswa mungkin bekerja individual atau bekerja sama dengan teman yang duduk di sampingnya, dan sedikit ada tanya jawab. Dan kegiatan terakhir ialah siswa mencatat materi yang telah diterangkan yang mungkin dilengkapi dengan soal-soal pekerjaan rumah. Jadi metode ekspositori ini sama dengan cara mengajar yang biasa (tradisional) kita pakai pada pengajaran matematika. David P.Ausubel berpendapat bahwa metode ekspositori yang baik adalah cara mengajar yang paling efektif daan efisien dalam menanamkan belajar bermakna. Pada tahun lima puluhan banyak pendidik matematika berpendapat bahwa metode ekspositori (ceramah) itu hanya menyebabkan siswa belajar menghafal yang tidak banyak makna (tanpa banyak mengerti). Karena pengajaran matematika (modern) meng utamakan antara lain kepada pengertian daripada kepada caranvil menyelesaikan soal, maka pada tahun enampuiuhan metode itu diganti sebagian oleh metode baru misalnya dengan laboraturium, penemuan,dan permainan. Tetapi D.P. Ausubel percaya bahwa cara ekspositori (ceramah) itu tidak sejelek seperti yang dituduhkan orang. Malahan sebaliknya ia percaya bahwa cara ceramah itu merupakan cara mengajar yang paling efektif dan efisien yang dapat menyebabkan siswa belajar secara bermakna. Sebaiknya. metode baru seperti laboratorium, penemuan, permainan dan semacamnya itu : dapat menyebabkan pengajaran tidak efektif, tidak efisien, dan bila tidak hati-hati dapat ngawur. Karena itu ia berperdapat cara-cara ini supaya jarang dipakai. Meskipun demikian ia menyetujui pengajaran yang menggunakan metode: pemecahan masalah, inkuiri, dan metode belajar yang dapat menumbuhkan berfikir kreatif dan kritis; mengajarkan materi yang berguna bagi menghadapi kehidupan, Peningkatan kebudayaan dan ketrampilan dasar pada umumnya. Ausubel membedakan antara belajar menerima dan belajar menemukan. a) Belajar menerima (reception learning), materi yang disajikan kepada siswa ada dalam bentuk akhir,dan b) Belajar menemukan (discovery learning): pola, dalil atau aturan harus ditemukan siswa. Ia juga membedakan antara : a) Belajar menghafal (rote learning),dan
  • 13. b) Belajar dengan bermakna (meaningful lerning): disini yang diutamakan prosesnya, hasilnya nomor dua. D. Kaitan Metode Accelerated Learning dengan kemampuan Komunikasi matematis siswa Indikator kemampuan komunikasi matematis yang telah diuraikan di atas secara teori dapat ditingkatkan melalui pembelajaran dengan menggunakan metode accelerated learning. Hal ini dikarenakan tahapan-tahapan pembelajaran dalam metode accelerated learning, meliputi: siswa dikondisikan untuk siap belajar, menuntut keaktifan siswa dalam membangun pemahamannya terhadap materi yang diberikan sehingga siswa mampu memahami sekaligus mengkomunikasikan sendiri, terjadinya komunikasi, baik antara siswa dengan guru maupun siswa dengan siswa. Sehingga siswa dapat membuat kesimpulan tentang apa yang telah dipelajarinya. Dapat ditarik kesimpulan bahwa proses pembelajaran melalui metode accelerated learning berakibat pada peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa. E. Studi yang Relevan Hasil studi yang relevan yang ditemukan dilapangan diantaranya : 1) Penlitian tindakan kelas yang dilakukan Simaremare (2009) menyatakan hasil belajar siswa pada sistem persamaan linear dua variabel di kelas VIII B SMPN 2 Kaimana setelah dilakukan metode accelerated learning meningkat. 2) Peneltian tindakan kelas yang dilakukan Dina Damayanti (2012) menyatakan hasil bahwa penerapan metode accelerated learning berhasil meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa. F. Hipotesis Penelitian Berdasarkan kajian pustaka dan rumusan masalah, hipotesis penelitian ini adalah Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP Melalui Penerapan Metode Accelerated Learning lebih baik, jika dibandingkan dengan metode ekspositori.
  • 14. BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan subjek penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di SMPN 15 Bandung. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMPN 15 Bandung. Pertimbangan yang diambil yaitu pola fikir siswa sudah masuk pada tahap operasi formal. Pengambilan sampel dilakukan secara acak menurut kelompok (kelas) dari seluruh kelas VIII SMPN 15 Bandung. Dipilih dua kelas untuk dijadikan kelas eksperimen dan kelas kontrol. B. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan adalah randomized pre test-post test control group design. Dalam penelitian ini diambil sampel dua kelas yang homogen secara acak. Perlakuan Kelas pertama akan menjadi kelas eksperimen dan kelas kedua menjadi kelas kontrol. Kelas pertama, diberikan pembelajaran dengan metode accelerated learning,
  • 15. sedangkan kelas kedua dengan pembelajaran ekspositori (X2). Dengan demikian desain eksperimen dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut : A1 O X1 O A2 O X2 O Gambar 3.1 Desain Penelitian yang Dikembangkan Keterangan: A1 = Kelas Eksperimen A2 = Kelas Kontrol O = Tes awal (pre test) O = Test akhir (post test) X1=Pembelajaran Matematika dengan menggunakan metode accelerated learning X2=Pembelajaran Matematika dengan menggunakan Ekspositori. C. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kuasi eksperimen. Penggunaan metode ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Dalam hal ini variabel bebasnya adalah penerapan accelerated learning, sedangkan variabel terikatnya adalah kemampuan komunikasi matematis siswa. Jenis eksperimen ini disebut kuasi karena bukan merupakan ekperimen murni tetapi seperti murni. Pada penelitian eksperimen murni kelompok subjek penelitian ditentukan secara acak, sehingga akan diperoleh kesetaraan kelompok yang berada dalam batas-batas fluktuasi acak. Namun, dalam dunia pendidikan khususnya dalam pebelajaran, pelaksanaan penelitian tidak selalu memungkinkan untuk melakukan seleksi subjek secara acak, karena subjek secara alami telah terbentuk dalam satu kelompok utuh (naturally formed intact group), seperti kelompok siswa dalam satu kelas. Jadi penelitian kuasi eksperimen menggunakan seluruh subjek dalam satu kelas. D. Instrument penelitian Sebagai upaya untuk mendapatkan data dan informasi yang lengkap mengenai hal yang ingin dikaji melalui penelitian, maka dibuatlah instrumen yang meliputi instrumen tes maupun non-tes. Seluruh instrumen peneliti tersebut digunakan untuk mendapatkan data kualitatif dan kuantitatif dalam penelitian. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
  • 16. 1. Instrumen Tes Instrumen tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah pretes dan postes mengenai kemampuan komunikasi matematis siswa. Soal pretes dan postes diberiakan kepada kelas kontrol dan kelas eksperimen. Bentuk tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes subjekif(bentuk uraian). Pertimbangannya yaitu melalui tes ini siswa lebih mampu mengungkap kemampuan komunikasi matematisnya. Seperti yang dikemukakan oleh Ruseffendi (Irvan, 2008) bahwa keunggulan dari tes berbentuk uraian adalah dapat menimbulkan sifat kreatif pada diri siswa dan hanya siswa yang telah meanguasai materi yang dapat memberikan jawaban yang baik dan benar. Sehingga dari tes ini dapat dilihat apakah indikator-indikator kemampuan komunikasi matematis sudah dikuasai oleh siswa atau belum. Dilakukan pengujian instrumen sebelum diteskan. Hal ini bertujuan agar soal yang diberikan memiliki kualitas yang baik. Berikut ini pengujian yang dilakukan diantaranya. 1) Validitas soal Suatu alat evaluasi dapat dikatakan valid apabila alat tersebut mampu mengevaluasi apa yang seharusnya dievaluasi. Pada penelitian ini digunakan korelasi produk moment memakai angka kasar (raw score) dalam menentukan koefisien validitas soal. Untuk validitas soal, dilakukan pengujian validitas tiap butir dan validitas banding. Rumus korelasi produk moment dengan menggunakan angka kasar (raw score) adalah rxy  n  xy  ( x)( y ) (n  x 2  ( x)2 )(n  y 2  ( y ) 2 ) n = banyak testi = koefisien korelasi antara variabel X dengan variable Y. x  X  X , simpangan terhadap rata-rata dari setiap data pada kelompok variabel X. y  Y  Y , simpangan terhadap rata-rata dari setiap data pada kelompok variabel Y. Menurut J.P. Guilford (Erman Suherman, 2003: 113), koefisien validitas rxy dibagi ke dalam kategori-kategori seperti berikut ini.
  • 17. 0,90  rxy  1,00 validitas sangat tinggi (sangat baik), 0,70  rxy  0,90 validitas tinggi (baik), 0, 40  rxy  0,70 validitas sedang (cukup), 0, 20  rxy  0, 40 validitas rendah (kurang), 0,00  rxy  0, 20 validitas sangat rendah, dan rxy  0,00 tidak valid. 2) Reliabilitas soal Reliabilitas suatu alat evaluasi adalah suatu alat yang membarikan hasil yang tetap sama (konsisten). Hasil evaluasi itu harus tetap sama (relatif sama) jika pengukuran diberikan pada subjek yang sama meskipun dilakukan oleh orang yang berbeda, waktu yang berbeda, dan tempat yang berbeda pula. Tidak terpengaruh oleh pelaku, situasi, dan kondisi. Alat evaluasi yang reliabilitasnya tinggi disebut alat evaluasi yang reliabel. Pengujian reliabilitas soal tipe objektif dan tipe uraian. Pada penelitian ini menggunakan rumus KR-20 untuk soal tipe objektif yaitu 2  n   st   pi qi  r11     st 2  n 1    dengan: n = banyaknya butir soal Koefisien relibilitas soal tipe uraian dihitung dengan menggunakan rumus Cronbach Alpha, yaitu: 2  n    si  r11    1 2  st   n 1   Tolak ukur untuk menginterpretasikan derajat reliabilitas alat evaluasi dapat digunakan tolak ukur yang dibuat oleh J.P. Guilford (Erman Suherman, 2003: 139) sebagai berikut. r11  0, 20 0, 20  r11  0, 40 derajat reliabilitas sangat rendah derajat reliabilitas rendah
  • 18. 0, 40  r11  0,70 derajat reliabilitas sedang 0,70  rxy  0,90 derajat reliabilitas tinggi 0,90  rxy  1,00 derajat reliabilitas sangat tinggi 3) Daya Pembeda soal Daya pembeda (DP) dari suatu butir soal menyatakan suatu kemampuan yang dimiliki oleh butir soal tersebut dalam membedakan antara testi yang mengetahui jawabannya dengan benar (pandai) dengan testi yang tidak dapat menjawab soal tersebut (atau testi yang menjawab salah). Dalam hal ini, daya pembeda sebuah butir soal merupakan kemampuan yang dimiliki oleh butir soal itu untuk membedakan antara testi ( siswa ) yang pandai (kemampuan tinggi) dengan siswa yang berkemampuan rendah. Dalam pengujian daya pembeda ini dilakukan pada dua tipe soal yaitu tipe objektif dan tipe uraian Rumus untuk menentukan daya pembeda soal tipe objektif adalah DP  DP  JBA  JBB JS A atau JBA  JBB JS B dengan: JBA = jumlah siswa kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar, atau jumlah benar untuk kelompok atas, JBB = jumlah siswa kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan benar, atau jumlah benar untuk kelompok bawah, JS A = jumlah siswa kelompok atas (higher group atau upper group), JS B = jumlah siswa kelompok bawah (lower group). Rumus untuk menentukan daya pembeda soal tipe uraian adalah
  • 19. DP  XA  XB SMI dengan: X A = rata-rata skor kelompok atas untuk soal itu, X B = rata-rata skor kelompok bawah untuk soal itu, SMI = skor maksimal ideal (bobot). Klasifikasi interpretasi untuk daya pembeda yang benyak digunakan adalah: DP  0,00 sangat jelek 0,00  DP  0,20 jelek 0,20  DP  0,40 sedang 0,40  DP  0,70 tinggi 0,70  DP  1,00 sangat tinggi 4) Derajat/Indeks Kesukaran soal Suatu hasil dari alat evaluasi dikatakan baik akan menghasilkan skor atau nilai yang membentuk distribusi normal. Jika soal tersebut terlalu sukar, maka frekuensi distribusi yang paling banyak terletak pada skor yang rendah karena sebagian yang besar mendapat nilai yang jelek. Sebaliknya jika soal yang diberikan terlalu mudah, maka frekuensi distribusi yang paling banyak pada skor yang tinggi, karena sebagian besar siswa mendapat nilai baik. Derajat kesukaran suatu butir soal dinyatakan dengan bilangan yang disebut indeks kesukaran. Bilangan tersebut adalah bilangan real pada interval 0,00 sampai dengan 1,00. Soal dengan indeks kesukaran mendekati 0,00 berarti butir soal tersebut terlalu sukar, sebaliknya soal dengan indeks kesukaran 1,00 berarti soal tersebut terlalu mudah. Pengujian indeks kesukaran ini dilakukan pada dua tipe soal yaitu tipe objektif dan tipe uraian. Rumus untuk menentukan indeks kesukaran butir soal, yaitu
  • 20. IK  JBA  JBB JS A  JS B Klasifikasi indeks kesukaran yang paling banyak digunakan adalah IK  0, 00 soal terlalu sukar 0, 00  IK  0,30 soal sukar 0,30  IK  0, 70 0, 70  IK  1, 00 soal sedang soal mudah IK  1, 00 soal terlalu mudah 2. Angket respon siswa Angket digunakan untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran menggunakan pembelajaran accelerated learning pada pembelajaran berbasis masalah yang dilakukan setelah berakhirnya kegiatan pembelajaran. Angket ini berisi tentang respon siswa terhadap pelajaran matematika, model dan metode pembelajaran matematika yang digunakan. 3. Jurnal Harian Siswa Data yang diperoleh dari jurnal dianalisis dengan mengelompokkan respom siswa ke dalam kelompok respon positif dan negatif. 4. Lembar observasi Observasi dilakukan saat pembelajaran berlangsung. Observasi ini bertujuan untuk mengetahui proses pembelajaran, interaksi, dan keaktifan siswa, serta kejadian dan kegiatan pembelajaran. Selain itu, observasi ini digunakan untuk melihat aktivitas atau kinerja guru (peneliti) dalam proses pembelajaran sehingga diperoleh gambaran pembelajaran yang dilakukan termasuk kekurangan atau hambatan dalam proses pembelajaran. E. Prosedur Penelitian 1. Tahap Perencanaan a) Mendidentifikasi masalah yang akan diteliti b) Menyusun instrumen penelitian berupa soal, angket, lembar observasi dan jurnal harian siswa. c) Melakukan uji kelayakan instrumen. d) Pemilihan instrumen yang akan digunakan dalam penelitian.
  • 21. 2. Tahap Pelaksanaan a) Melaksanakan pretes pada kelas kontrol dan kelas eksperimen b) Melaksanakan pembelajaran dengan metode accelerated learning pada kelas ekperimen dan pembelajaran dengan metode ekspositori pada kelas kontol. Pengisian lembar observasi dan jurnal harian siswa dilakukan pada tahap pembelajaran ini. c) Melaksanakan postes pada kelas kontrol dan kelas eksperimen. d) Penyebaran angket pada sampel. 3. Tahap Analisis a) Mengumpulkan data hasil penelitian, berupa hasil tes, lembar observasi, jurnal harian siswa dan angket. b) Mengolah dan menganalisis hasil data kuantitatif (hasil tes). c) Mengolah dan menganalisis hasil data kualitatif (hasil angket, lembar observasi dan jurnal harian siswa). F. Analisis data Untuk dapat menjawab rumusan masalah dalam penelitian ini, maka data yang diperoleh dalam penelitian ini harus diolah terlebih dahulu. Terdapat dua jenis data yang diperoleh dalam penelitian ini, yaitu data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitaif diperoleh dari hasil pretest, posttest dan gain, sedangkan data kualitatif diperoleh dari hasil pengisian angket, jurnal harian siswa dan lembar observasi. 1. Analisis terhadap data kuantitatif Data kuantitatif yang diperoleh berupa kelompok hasil pretes dan postes kedua kelas eksperimen dan kelas kontol. Data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk menjawab hipotesis yang diajukan. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji statistik. Data peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa dari kelas eksperimen dan kelas kontol diperoleh dari indeks gain. Peningkatan yang terjadi, sebelum sesudah pembelajaran dihitung dengan rumus g-faktor (N-Gain) menurut Hake (Dahlia, 2008:43) sebagai berikut :
  • 22. Kriteria indeks gain menurut Hake (Dahlia, 2008:43) disjikan dalam tabel TABEL 3.1 Interpretasi Gain Besarnya gain (g) g 0,3 0,7 g < 0,7 g < 0,3 Interpretasi Tinggi Sedang Rendah Langkah-langkah dalam melakukan uji statistik data hasil tes adalah sebagai berikut : a) Uji normalitas Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas ini dilakukan terhadap skor pretes, postes dan indeks gain pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hipotesis yang digunakan: H0 = Data berdistribusi normal; H1 = Data tidak berdistribusi normal. Untuk uji normalitas perhitungan dilakukan menggunakan SPSS versi 17.0, dengan pedoman untuk mengambil kesimpulan adalah:  Signifikansi < 0,05 distribusi adalah tidak normal (tidak simetris).  Signifikansi 0,05, distribusi adalah normal (simetris). Nilai signifikansi pada SPSS dapat dilihat pada tabel Test of Normality di kolom Kolmogorov-Smirnov dan atau Shapiro Wilk. Atau bila menguji data dengan plot, data berditribusi normal bila data berada di sekitar garis. b) Uji homogenitas varians Uji homogenitas dua variansi digunakan jika data dari kedua kelas tersebut berdistribusi normal. Uji homogenitas varians bertujuan untuk mengetahui apakah kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki varians yang homogen atau tidak. Hipotesis yang digunakan adalah H0 = = (Variannya homogen)
  • 23. H1 = (Variannya tidak homogen) Dengan, : variansi kelas kontrol : variansi kelas eksperimen Untuk uji homogenitas perhitungan dilakukan menggunakan SPSS versi 17.0, dengan pedoman untuk mengambil kesimpulan adalah:  Nilai signifikansi < 0,05, data berasal dari populasi yang tidak memiliki varians yang sama (tidak homogen).  Nilai signifikansi 0,05, data berasal dari populasi yang memiliki varians yang sama (homogen). Nilai signifikansi pada SPSS dapat dilihat pada tabel Test of Homogeinity of variance di baris Based on Mean c) Uji perbedaan dua rata-rata Uji perbedaan duia rata-rata bertujuan untuk mengetahui perbedaan rata-rata yang signifikan antara kemampuan komunikasi mateamatis siswa kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Jika data dari kedua kelas berdistribusi normal dan memiliki varians yang homogen, maka dilanjutkan dengan uji perbedaan dua rata-rata. 2. Analisis terhadap data kualitatif a) Jurnal harian siswa Jurnal adalah sebuah tulisan berupa karangan siswa mengenai kesan, peasan atau aspirasinya terhadap pelajaran yang dilakukan. Pengelolaan data yang diperoleh dari jurnal dianalisis dengan mengelompokkan respon siswa ke dalam kelompok respon positif dan negatif. Jurnal harian diberikan pada setiap akhir pertemuan. b) Lembar Observasi Lembar Observasi yang digunakan pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui atau mengukur aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Hal-hal yang tidak terlaksana pada proses pembelajaran diperbaiki pada proses pembelajaran selanjutnya. c) Angket
  • 24. Angket adalah suatu alat pengumpul data yang berupa serangkaian pertanyaan atau pernyataan yang diajukan kepada siswa. Angket digunakan untuk mengukur aspek afektif siswa. Angket yang diberikan memuat pernyataan yang disajikan dalam dua jenis pernyataan, yaitu pernyataan positif dan pernyataan negative. Setiap pilihan siswa diberi skor tertentu. untuk pernyataan negatif, skor 5 diberikan untuk siswa yang menjawab sangat tidak setuju ( STS), skor 4 untuk siswa yang menjawab tidak setuju (TS), skor 2 untuk siswa yang menjawab setuju (S) dan skor 1 untuk siswa yang menjawab SS. Sebaliknya, ntuk pernyataan positif, apabila siswa menjawab sangat setuju (SS) maka diberi skor 5, apabila menjawab setuju (S) maka diberi skor 4, apabila siswa menjawab tidak setuju (TS) maka diberi skor 2 dan apabila siswa menjawab sangat tidak setuju (STS) maka diberi skor 1. Angket diberikan setelah seluruh pembelajaran dilakukan (pertemuan terakhir) pada kelas eksperimen. Angket bertujuan untuk mengetahui kesan siswa dalam pembelajaran yang telah dilakukan dengan metode accelerated learning. Data angket siswa yang terkumpul selanjutnya ditabulasi kemudian dilakukan perhitungan dengan persentase yang rumusnya sebagai berikut: Keterangan : p = persentase jawaban f = frekuensi jawaban n = banyaknya responden Setelah diperoleh persentasenya, dilakukan penafsiran data atau interpretasi data angket dengan mengadaptasi interpretasi menurut kriteria Hendro sebagai berikut: Tabel 3.2 Penafsiran Hasil Angket Persentase Tafsiran Kualitatif Tak seorangpun Sebagian kecil
  • 25. Hampir setengahnya Setengahnya Sebagian besar Hampir seluruhnya Seluruhnya Setelah angket terkumpul dan diolah dengan menggunakan cara penskoran skala Likert, seorang subjek dapat digolongkan pada kelompok responden yang memiliki sikap positif dan sikap negatif. Menurut Suherman (2003, 191), hal tersebut dapat dilakukan dengan cara menghitung rerata skor subjek. Jika nilai reratanya lebih besar dari 3, maka responden bersikap positif, dan sebaliknya jika nilai reratanya kurang dari 3, maka responden bersikap negatif. Rerata skor subjek makin mendekati 5, berarti sikapnya semakin positif, dan sebaliknya jika mendekati 1, berarti sikapnya semakin negatif. DAFTAR PUSTAKA Baihaki, E.(2008). Accelerated Learning: Pendekatan Baru Pembelajaran. Bandung : tidak diterbitkan.
  • 26. Balitbang Kemdiknas. (2009). PISA (Programme for International student Assesment). [Online] Tersedia: http://litbangkemdiknas. Net/detail.php?id= [4 Januari 2012] Damayanti, Dina(2012). Penerapan Metode Accelerated Learning dalam Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP. Bandung: tidak diterbitka. Fadli. (2010). Accelerated Learning. . Bandung : tidak diterbitkan.[Online] [4 januari 2012] Nuralif, Siti. (2012), Penerapan Accelerated Learning Pada Model Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa SMP. Bandung: tidakditerbitkan. Meier, D (2002) the Accelerated Learning Handbook. [Online]. Tersedia: PEMBELAJARAN AKSELERASI (ACCELERATED LEARNING) « Fadlibae Weblog's.htm. [4 januari 2012] Simaremare, R. (2009). Penerapan metode untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa Bandung : tidak untuk diterbitkan Suherman, E (2010). Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Matematika. [Online]. Tersedia: http://educara.e-fkpiunla.net [2 januari 2012]

×