eksplorasi batubara
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

eksplorasi batubara

on

  • 5,009 views

 

Statistics

Views

Total Views
5,009
Views on SlideShare
5,009
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
145
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

eksplorasi batubara eksplorasi batubara Document Transcript

  • APLIKASI REMOTE SENSING DALAM KEGIATAN EKSPLORASI BATUBARA Disusun oleh: Nama : Fithriyani Fauziyyah Npm : 270110090043/B Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran Jatinangor 2011
  • BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Kegiatan pemetaan potensi batubara selama ini seperti yang kita ketahui dilakukan dengancara survey lapangan (eksplorasi). Penginderaan jauh memberikan peluang yang lebih besar untukmelakukan identifikasi lokasi sebaran atau singkapan batubara sehingga mempersempit tahap surveyeksplorasi. Data penginderaan jauh berupa citra satelit Landsat7 Enhanced Thematic Mapper Plus(ETM+) serta data Data SpaceShutle DEM – SRTM NASA. Dengan teknologi Remote Sensing,diharapkan agar mendapatkan informasi mengenai lokasi-lokasi yang ditafsir mengandung bahantambang berupa batubara melalui citra satelit, yang akan dipergunakan dalam tahap eksplorasi danmempersempit survey. Informasi yang penting bagi pengusaha batubara adalah lokasi keberadaan dan potensibatubara tersebut. Metode yang digunakan selama ini adalah metode konvensional dalam melakukansurvey lapangan atau yang sering disebut dengan tahap eksplorasi. Aksessibilitas di daerah penelitiancukup sulit, karena merupakan daerah dominan vegetasi rapat dan tertutup oleh hutan, serta aksesjalan yang kurang mendukung untuk bisa dengan mudah melakukan survey lapangan. Datapenginderaan jauh memberikan peluang yang lebih besar untuk melakukan identifikasi lokasi sebaranatau singkapan batubara sehingga mempersempit tahap survey eksplorasi. Masalah-masalah yang terkait dengan survey lapagan dan aksessibilitas dapat diatasi denganteknologi penginderaan jauh. Data penginderaan jauh dapat memberikan efisiensi yang tinggi baikdari segi biaya maupun waktu, karena tidak membutuhkan banyak survey kecuali untuk verifikasiatau kecocokkan lapangan sehingga survey-survey yang dilakukan lebih terarah (Helmi, 2007)1.2 Batasan Masalah Dalam makalah ini yang akan dibahas mengenai dibatasi pada identifikasi awal dalammenentukan lokasi potensi tambang batubara dengan memanfaatkan citra satelit Landsat7 ETM+
  • tahun 2003 dan Space Shutle DEM – SRTM 92m NASA tahun 2000, melalui proses analisa digitalpenginderaan jauh.1.3 Tujuan Makalah ini dibuat untuk memebuhi tugas mata kuliah Geologi Eksplorasi1.4 Manfaat Melalui pengolahan citra satelit, maka diharapkan bermanfaat untuk : 1. Kemudahan dalam melakukan proses identifikasi lokasi potensi tambang batubara. 2. Memperoleh pola atau cara untuk melakukan identifikasi awal lokasi potensi tambang batubara.
  • BAB II TINJAUAN PUSTAKA2.1 Remote Sensing dalam Eksplorasi Batubara Pengindraan Jauh berasal dari kata remote sensing memiliki pengertian bahwa Pengindraanjauh merupakan suatu ilmu dan seni untuk memperoleh data dan informasi dari suatu objekdipermukaan bumi dengan menggunakan alat yang tidak berhubungan langsung dengan objek yangdikajinya. Penggunaan data penginderaan jauh dalam eksplorasi mineral merupakan salah satu cara yangpaling banyak dilakukan dalam bidang geologi. Penelitian Geologi sekitar daerah tambang denganbantuan data Landsat untuk prospek pertambangan, mepelajari “Liniament” (merupakan indikasisuatu patahan), yaitu untuk mengetahui secara jelas lokasi dan terjadinya mineralisasi atau endapanbatuan bahan tambang. . Inventarisasi Sumber Daya Alam dan lingkungan merupakan perolehan informasi spasialsumber daya alam berdasarkan hasil midentifikasi obyek-obyek permukaan bumi. (GokmariaSitanggang, 2000) Penginderaan Jauh merupakan ilmu dan seni untuk memperoleh infomasi tentangsuatu obyek, daerah atau fenomena melalui analisa data yang diperoleh dengan suatu alat tanpakontak langsung dengan obyek,daerah atau fenomena yang dikaji. (Lillisand and Kiefer, 1979). Penerapan ilmu geologi didalam industri batubara digunakan untuk menentukan keadaanlokasi dan pengembangan sumberdaya yang ada pada keadaan tertentu, serta merencananakanbagaimana mengekstraksi batubara secara ekonomis. Tujuan eksplorasi batubara pada umumnyaadalah untuk menemukan suatu daerah baru yang mengandung batubara dalam jumlah tertentudengan kualitas yang baik. (Muchjidin). Penyelidikan umum (prospeksi) merupakan langkah pertama usaha pertambangan. Pada tahappenyelidikan umum ini kegiatan ditujukan untuk mencari dan menemukan endapan bahan galian danmempelajari keadaan geologi secara umum untuk daerah yang bersangkutan berdasarkan data
  • permukaan. Setelah itu dilanjutkan dengan penyelidikan eksplorasi yang menyelidiki geologi secaralebih teliti baik kearah vertikal maupun horizontal. Setelah itu dilanjutkan dengan studi kelayakan danpersiapan penambangan. (Dr. Ir. Irwandy Arif, M.Sc.)2.2 Pengenalan Landsat 7- ETM + Landsat 7 adalah satelit remote sensing yang dioperasikan oleh USGS (United StatesGeological Survei), berorbit polar pada ketinggian orbit 705 Km, dengan membawa sensor ETM+yang dapat menghasilkan citra multispektral dan pankhromatik yang masing-masing memiliki resolusispasial 30 m dan 15 m. Karakteristik Sensor Landsat 7 ETM+ Karakteristik panjang gelombang, resolusi dan fungsinya pada sensor LANDSAT 7 ETM+
  • 2.3 Space Shuttle SRTM DEM Digital Elevasi Method (DEM) adalah gambaran bentuk permukaan bumi yang menyajikanketinggian tertentu secara digital. DEM dapat dibuat dengan menggunakan peta ketinggian (kontur),tetapi resolusi dan ketelitiannya lebih rendah dibandingkan dengan Shuttle Radar TopographyMission (SRTM) DEM.2.4 Shuttle Radar Topography Mission (SRTM) Shuttle Radar Topography Mission (SRTM) adalah suatu proyek kerjasama antara NationalImagery and Mapping Agency (NIMA) dan National Aeronautics and Space Administration( NASA),untuk mendapatkan gambaran bentuk permukaan bumi resolusi tinggi dengan meluncurkansebuahpesawat dilengkapi dengan system radar interferometry. Menggunakan Spaceborne Imaging Radar(SIR-C) dan X-Band Synthetic Aperture Radar (XSAR), SRTM diluncurkan pertama kali padatanggal 11 Februari 2000. Misi yang dijalankan adalah pengambilan / record permukaan bumi dalambentuk threedimension (3D) selama 11 hari mengorbid.Lebih dari 12 terabytes data yang sudah
  • didapat diproses dibagi oleh Jet Laboratory Propulsion ( JPL) di Pasadena sebelum data tersebut digunakan.  Data SRTM dibagi atas 3 resolusi : ◦ Resolusi 30 m, khusus untuk kawasan Amerika Serikat. ◦ Resolusi 90 m, untuk kawasan lain di dunia. ◦ Resolusi 90 m, untuk SRTM-GTOPO30  Kelebihan SRTM DEM ◦ Mudah didapat, karena free untuk seluruh area di Indonesia. ◦ Kualitas yang bagus, lebih bagus karena dengan DEM Fill. ◦ Informasi yang didapat lebih banyak, sampai dengan bangunan kota. ◦ Hampir sama dengan DEM RBI skala 1 : 25.000. ◦ perekaman dapat dilakukan pada siang ataupun malam hari ◦ perekaman data SRTM tidak terpengaruh oleh keadaan cuaca setempat.2.5 Pengumpulan Data  Citra Landsat 7 ETM+ daerah kecamatan Gunung Bintang Awai, perekaman tahun 2003 dengan Resolusi Spasial 30m x 30m.  Space Shuttle SRTM DEM perekaman tahun 2000 dengan Resolusi 92m.  Peta Topografi Rupa Bumi Indonesia (RBI) Lembar 1714 – 34 Sungai Missim skala 1 : 50.000 diterbitkan oleh BAKOSURTANAL.
  • Citra Landsat7 ETM+ dengan Band Composit 4-5-72.6 Interpretasi dan Deliniasi Lokasi Batubara Interpretasi citra satelit Landsat7 ETM+ dan data SRTM DEM dilakukan secara visual untuk mengidentifikasi lokasi potensi batubara berdasarkan unsur-unsur interpretasi seperti tekstur, pola dan bentuk dari permukaan tanah di lokasi penelitian.
  •  Deliniasi Lokasi Batubara Setelah proses interpretasi citra sacara visual dengan memperhatikakesamaan bentukpola dan tekstur yang terdapat pada lokasi penelitian, selanjutnya dilakukan deliniasi pada lokasi-lokasi tersebut.2.7 Penentuan Sampel Area Ditentukan sampel area atau titik koordinat tertentu untuk verifikasi lapangan padalokasi sebaran batubara untuk dilakukan uji ketelitian dilapangan. Sehingga dihasilkan petalokasi sebaran batubara.2.8 Analisa Pengolahan Citra Komposit  Citra komposit yang merupakan perpaduan dari beberapa saluran atau band yang ada pada citra satelit Landsat7 ETM+.
  •  Penyusunan citra komposit dimaksudkan untuk memperoleh gambaran visual yang lebih baik.  Citra Landsat7 ETM+ tahun perekaman 2003 yang sudah di FCC (False Color Composit), dengan kombinasi band 4, band 5 dan band 7 (RGB) kombinasi dari band-band tersebut digunakan untuk interpretasi citra dalam mengidentifikasi lokasi yang berpotensi mengandung batubara.  Band 4 merupakan saluran inframerah dekat yang cukup baik untuk karakteristik vegetasi.  band 5 merupakan saluran inframerah tengah yang cukup baik untuk menonjolkan kondisi kelembaban tanah.  band 7 merupakan saluran inframerah termal untuk menonjolkan tanah terbuka dan keperluan lain yang berhubungan dengan gejala termal.  Perpaduan antara band 5 dan band 7 berguna untuk mendeteksi batuan dan defosit mineral.2.9 Analisa Interpretasi Lokasi Potensi Batubara  Sebagai dasar dalam melakukan interpretasi adalah unsur-unsur interpretasi citra seperti pola, bentuk, selain itu diperhatikan juga arah patahan, lipatan, dan tekstur.  Suatu lokasi yang teridentifikasi mengandung batubara pada citra satelit Landsat7 ETM+.  Kesulitan yang dihadapi saat melakukan interpretasi adalah faktor topografi lokasi penelitian yang tidak begitu menonjol.  Kondisi tutupan awan tidak terlalu mengganggu proses interpretasi dan citra satelit Landsat7 ETM+ perekaman tahun 2003 dapat dikatakan bersih dari tutupan awan.
  • BAB III KESIMPULAN Pengolahan data citra satelit Landsat7 ETM+ akan menghasilkan tutupan lahan dari lokasi penelitian sehingga belum dapat membantu dalam proses interpretasi lokasi kandungan batubara. Fusi citra satelit Landsat7 ETM+ dan data Space Shuttle SRTM DEM akan menghasilkan pemodelan topografi 3 dimensi, sehingga visualisasi topografi permukaan bumi akan terlihat jelas dan mempermudah analisa lokasi-lokasi sebaran batubara Interpretasi citra satelit Landsat7 ETM+ dan data SRTM DEM dilakukan secara visual untuk mengidentifikasi lokasi potensi sebaran batubara berdasarkan unsur- unsur interpretasi, sehingga untuk pola-pola yang sejenis diduga mempunyai ciri-ciri megandung batubara. Melalui analisa tingkat kepercayaan interpretasi dapat dicapai sebesar 80%, dimana dari 10 lokasi terduga berpotensi mengandung batubara, 8 lokasi yang terdapat batubara dan 2 lokasi yang tidak terdapat batubara.
  • BAB IV DAFTAR PUSTAKA1. Alfi Satriadi, 1999, Tesis, Pemanfaatan Citra Landsat TM Untuk Kajian Geologi,Jurusan Ilmu-Ilmu Matematika dan Pengetahuan Alam Universitas Gajah MadaYogyakarta.2. Benget May, 1999, Tugas Akhir , Pemanfaatan Citra Satelit dan SIG DalamMenentukan Kawasan Potensial Minyak Bumi dan Tinjauan AsspekLingkungannya.Jurusan Teknik Geodesi Institut Teknologi Bandung.3. Irwandi Arif, 1995, Perencanaan dan Tambang Terbuka, Bandung, InstitutTeknologi Bandung Press.4. Lo C.P,1996, Penginderaan Jauh Terapan, Universitas Indonesia.