• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
18388 21459-1-pb
 

18388 21459-1-pb

on

  • 129 views

 

Statistics

Views

Total Views
129
Views on SlideShare
129
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
0
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    18388 21459-1-pb 18388 21459-1-pb Document Transcript

    • 32PENGARUH SHOPPING LIFE STYLE DAN FASHION INVOLVEMENTTERHADAP IMPULSE BUYING BEHAVIOR MASYARAKAT HIGHINCOME SURABAYAEdwin Japarianto dan Sugiono SugihartoFakultas Ekonomi, Universitas Kristen PetraJl. Siwalankerto 121-131, Surabaya 60236Email: edwinj@petra.ac.id; sugiono@petra.ac.idAbstrak: Dinamika perekonomian bisnis ritel di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, sehingga akanmemicu perkembangan gaya hidup dan pola belanja masyarakat (konsumen) yang memiliki ekspektasi makin tinggi,meminta lebih banyak, menginginkan kualitas yang lebih baik dan konsisten. Permasalahan yang dihadapi, komsumen highincome menunjukkan pola pengeluaran belanja yang fluktuatif, sering kali melesat dari perencanaan keuangan yang telahdibuat. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh shopping life style dan fashion involvement terhadap perilakuimpulse buying pada masyarakat high income Surabaya. Penelitian ini menggunakan sampel yang tinggal di Surabaya,memiliki pendapatan sendiri, memiliki pengeluaran ≥ Rp 1,250,000.00, pernah berbelanja di Galaxy Mall , Lendmarc danGrand City. Teknik analisis yang digunakan adalah Regresi Linier berganda, yang akan mempermudah untuk melihatperanan Shopping lifestyle dan fashion involvement terhadap perilaku impulse buying yang akan diuji. Hasil pengujianmenunjukkan bahwa Hedonic Shopping Value dan Fashion Involvement berpengaruh terhadap perilaku Impulse Buyingpada Masyarakat High Income Surabaya.Kata kunci: shopping life style, fashion involvement, impulse buying.Abstract: Dynamics of the retailing business economy in Indonesia develop rapidly, so that it triggers the customers’shopping lifestyle and their fashion involvement as well. They have higher expectation, demand more and desire betterquality product consistently. But in the other side there are some problems. For instance the prosperity consumers spendtheir money fluctuatively and oftenly out their financial plan. The purpose of this research is proving, whether shoppinglifestyle and fashion involvement will influence the impulse buying behavior of Surabaya’s high income community. Assampling, this study used the population of Surabaya that usually spend their money more or equal to Rp.1.250.000 permonth, and ever go shopping at Galaxy mall, Lendmarc and Grand City. The technical analysis to examining the role ofshopping lifestyle and fashion involvement toward the impulse buying behavior is Multi linear Regression. The examinationresult showed that Hedonic Shopping Value and Fashion Involvement influenced the Impulse Buying Behavior ofSurabaya’s High Income Society.Kaywords: shopping life style, fashion involvement, impulse buying.PENDAHULUANSeiring dengan perkembangan jaman yangsemakin modern menyebabkan banyaknya pem-bangunan mall atau shopping centre. IndonesiaTourism News melansir bahwa kehadiran mall diSurabaya telah mengukuhkan jati diri sebagai kotaperdagangan. Selain itu, dengan kehadiran malldiharapkan dapat menjadi daya tarik wisata. KiniSurabaya telah memiliki setidaknya 32 shopping malldan diperkirakan akan terus bertambah tiap tahunnya.Kelahiran shopping mall di Surabaya diawali denganadanya Tunjungan Plaza, yang disusul Delta Plazadan Surabaya Mall pada tahun 1986. Kehadiran tigashopping mall tersebut secara perlahan diikuti pusat-pusat perbelanjaan modern lainnya hingga mencapaibooming pada periode tahun 2005-2008 (IndonesiaTourism News, 2008). Bertambahnya shopping centredi Surabaya dari tahun ke tahun menjadikan peluangbisnis bagi para pelaku bisnis terutama dibidangfashion karena banyak pengunjung yang berkunjungke shopping centre, dimana sebagian besar pengun-jung yang berkunjung karena ingin berbelanjapakaian. Fenomena tersebut menyebabkan kebanyak-an mall yang ada menjual berbagai jenis fashion baikuntuk pria maupun wanita yang berada di boutique,factory outlet ataupun di department store yangmempunyai fasilitas pelayanan dan mutu yang sesuaidengan standart yang diterapkan tiap toko. Fashionadalah jenis tenant utama dari sebuah shopping centreatau mall, berupa toko baju anak, pria dan wanitayang berbentuk butik atau ready–to–wear, termasuktoko aksesoris dan kosmetika (Indonesia ShoppingCenters, 30 Januari 2009), ketika melihat pakaianyang dipajang di etalase toko yang menarik menurutpengunjung tersebut maka pengunjung tadi akanmembeli pakaian yang di inginkan meskipun harusmengeluarkan uang lebih demi mendapatkan pakaian
    • Japarianto: PengaruhShopping LifeStyledan Fashion Involvement 33yang diinginkan. Pernyataan tersebut di dasari olehpersentase masyarakat Surabaya yang datang ber-kunjung di mall untuk berbelanja sebesar 51% di-bandingkan aktivitas lainnya (“29 Proyek ManantangKrisis Global”, Maret 2009).Bagi masyarakat high income berbelanja halyang sudah menjadi lifestyle mereka adalah merekaakan rela mengorbankan sesuatu demi mendapatkanproduk yang mereka senangi. Hal tersebut didukungdengan survey yang dilakukan penulis dengan di-temukannya 94% masyarakat Surabaya yang highincome lebih sering berbelanja di mall high classdibandingkan dengan mall lainnya. Hal ini didukungdengan pernyataan Leon Tan yang mengatakanbahwa “bayang-bayang resesi global, baik secaralangsung atau tidak langsung, ikut mempengaruhipola berpikir dan lifestyle kita, termasuk dalam caraberbelanja. Bagaimanapun, krisis tak berarti harusmenghentikan aktivitas shopping lifestyle kita”. (Tan,2009, p. iii)Masyarakat high income akan membeli pakaianyang sedang dicari dengan harga, kualitas, serta modeyang diinginkan. Pernyataan tersebut didukung olehhasil pra penelitian yang dilakukan oleh penulisdengan menemukan bahwa masyarakat high incomeyang berkunjung cenderung berbelanja pakaian(94%), sepatu (71%), tas (55%), elektronik (33%),acceccoris (10%). Kecenderungan perilaku seperti inimerupakan peluang yang ditangkap para pemiliktenant untuk menjual pakaian yang di senangi olehpara pengunjung yang berasal dari masyarakat highincome yang lebih mementingkan kualitas, model,merk daripada harga yang tercantum adalah fashioninvolvement yang terjadiKetika masyarakat dari kelas high income me-lihat produk yang sulit dicari ditemukan maka ia akanmembeli produk tersebut meskipun ia tidak meren-canakan pembelian tersebut yang menyebabkanterjadinya impulse buying,Dari latar belakang tersebut rumusan masalahyang diambil adalah: Apakah shopping lifestyle danfashion involvement berpengaruh terhadap impulsebuying behaviour pada masyarakat high income diSurabaya?TINJAUAN PUSTAKAShopping LifestyleShopping lifestyle mengacu pada pola konsumsiyang mencerminkan pilihan seseorang tentang bagai-mana cara menghabiskan waktu dan uang. Dalam artiekonomi, shopping lifestyle menunjukkan cara yangdipilih oleh seseorang untuk mengalokasikan pen-dapatan, baik dari segi alokasi dana untuk berbagaiproduk dan layanan, serta alternatif-alternatif tertentudalam pembedaan kategori serupa (Zablocki danKanter, 1976, p. 269-297).Cathy J. Cobb dan Wayne D. Hoyer (1986)mengungkapkan bahwa konsumen diminta untukmenunjukkan sejauh mana mereka sepakat atau tidaksetuju dengan pernyataan yang berkaitan denganshopping lifestyle (misalnya, sikap terhadap merknasional, dirasakan pengaruh iklan, harga kesadaran).Betty Jackson (2004) mengatakan shoppinglifestyle merupakan ekspresi tentang lifestyle dalamberbelanja yang mencerminkan perbedaan statussosial.Cobb dan Hoyer (1986) mengemukakan bahwauntuk mengetahui hubungan shopping lifestyleterhadap impulse buying behavior adalah denganmenggunakan indikator: Menanggapi untuk membeli setiap tawaran iklanmengenai produk fashion Membeli pakaian model terbaru ketika melihatnyadi Galaxy Mall Berbelanja merk yang paling terkenal Yakin bahwa merk (produk kategori) terkenalyang di beli terbaik dalam hal kualitas Sering membeli berbagai merk (produk kategori)daripada merk yang biasa di beli Yakin ada dari merk lain (kategori produk) yangsama seperti yang di beliBerdasarkan beberapa definisi di atas, dapatdisimpulkan bahwa shopping lifestyle adalah caraseseorang untuk mengalokasikan waktu dan uanguntuk berbagai produk, layanan, teknologi, fashion,hiburan dan pendidikan. Shopping lifestyle ini jugaditentukan oleh beberapa faktor antara lain sikapterhadap merek, pengaruh iklan dan kepribadian.Fashion InvolvementMenurut O’Cass, involvement adalah minat ataubagian motivasional yang ditimbulkan oleh stimulusatau situasi tertentu, dan ditujukan melalui ciri pe-nampilan (O’Cass, 2004 dalam Park 2005). Sedang-kan menurut Zaichkowsky, involvement didefinisikansebagai hubungan seseorang terhadap sebuah objekberdasarkan kebutuhan, nilai, dan ketertarikan(Zaichkowsky, 1985, pp. 341-352).Involvement dapat dipandang sebagai motivasiuntuk memproses informasi (Mitchell, 1979, pp. 191-196). Selama involvement meningkatkan produk,konsumen akan memperhatikan iklan yang ber-hubungan dengan produk tersebut, memberikan lebihbanyak upaya untuk memahami iklan tersebut dan
    • JURNAL MANAJEMEN PEMASARAN, VOL. 6, NO. 1, April 2011: 32-4134memfokuskan perhatian pada informasi produk yangterkait di dalamnya, di sisi lain, seseorang mungkintidak akan mau repot untuk memperhatikan informasiyang diberikan (Celsi dan Olson, 1988, pp. 210-224).Begitu pula dengan fashion, banyak orang terlibatdengan fashion, menghabiskan waktu dan uang untukgaya terbaru, sedangkan yang lain (sering kali priamemenuhi syarat di kategori ini) menemukan bahwaberbelanja pakaian adalah sebuah tugas.Dalam pemasaran fashion, fashion involvementmengacu pada ketertarikan perhatian dengan kategoriproduk fashion (seperti pakaian). Fashion involve-ment digunakan terutama untuk meramalkan variabeltingkah laku yang berhubungan dengan produkpakaian seperti keterlibatan produk, perilaku pem-belian, dan karakteristik konsumen (Browne andKaldenberg, 1997; Fairhurst,1989; Flynnand Golds-mith, 1993 dalam Park 2006). Sebagai contoh,O’Cass (2004) dalam Park (2006) menemukanbahwa fashion involvement pada pakaian ber-hubungan sangat erat dengan karakteristik pribadi(yaitu wanita dan kaum muda) dan pengetahuanfashion, yang mana pada gilirannya mempengaruhikepercayaan konsumen di dalam membuat keputusanpembelian. Dalam Kim (2005) mengemukakan bahwauntuk mengetahui hubungan fashion involvementterhadap impulse buying behavior adalah denganmenggunakan indicator: Mempunyai satu atau lebih pakaian dengan modelyang terbaru (trend) Fashion adalah satu hal penting yang mendukungaktifitas Lebih suka apabila model pakaian yang diguna-kan berbeda dengan yang lain Pakaian menunjukkan karakteristik Dapat mengetahui banyak tentang seseorangdengan pakaian yang digunakan Ketika memakai pakaian favorit, membuat oranglain tertarik melihatnya Mencoba produk fashion terlebih dahulu sebelummembelinya Mengetahui adanya fashion terbaru dibandingkandengan orang lainBerdasarkan beberapa definisi di atas dapatdisimpulkan bahwa fashion involvement adalahketerlibatan seseorang dengan suatu produk pakaiankarena kebutuhan, kepentingan, ketertarikan dan nilaiterhadap produk tersebut. Dalam membuat keputusanpembelian pada fashion involvement ditentukan olehbeberapa faktor yaitu karakteristik konsumen,pengetahuan tentang fashion, dan perilaku pembelian.Impulse BuyingPemahaman tentang konsep pembelian impulsif(impulse buying) dan pembelian tidak direncanakan(unplanned buying) oleh beberapa peneliti tidakdibedakan. Philipps dan Bradshow (1993), dalamBayley dan Nancarrow (1998) tidak membedakanantara unplanned buying dengan impulsive buying,tetapi memberikan perhatian penting kepada perisetpelanggan harus memfokuskan pada interaksi antarapoint-of-sale dengan pembeli yang sering diabaikan.Engel dan Blacwell (1982), mendefinisikan unplan-ned buying adalah suatu tindakan pembelian yangdibuat tanpa direncanakan sebelumnya atau ke-putusan pembelian dilakukan pada saat berada didalam toko. Coob dan Hayer (1986), mengkla-sifikasikan suatu pembelian impulsif terjadi apabilatidak terhadap tujuan pembelian merek tertentu ataukategori produk tertentu pada saat masuk ke dalamtoko. Beberapa peneliti pemasaran beranggapanbahwa impulse sinonim dengan unplanned ketikapara psikolog dan ekonom memfokuskan pada aspekirasional atau pembeli impulsif murni (Bayley danNancarrow, 1998).Keputusan pembelian yang dilakukan belumtentu direncanakan, terdapat pembelian yang tidakdirencanakan (impulsive buying) akibat adanya rang-sangan lingkungan belanja. Implikasi dari lingkunganbelanja terhadap perilaku pembelian mendukungasumsi bahwa jasa layanan fisik menyediakan ling-kungan yang mempengaruhi perilaku konsumen,dihubungkan dengan karakteristik lingkungan kon-sumsi fisik (Bitner, Booms, dan Tetreault, 1990).Menurut penelitian Engel (1995), pembelianberdasar impulse mungkin memiliki satu atau lebihkarakteristik ini (p. 156):a. Spontanitas. Pembelian ini tidak diharapkan danmemotivasi konsumen untuk membeli sekarang,sering sebagai respons terhadap stimulasi visualyang langsung di tempat penjualan.b. Kekuatan, kompulsi, dan intensitas. Mungkin adamotivasi untuk mengesampingkan semua yanglain dan bertindak dengan seketika.c. Kegairahan dan stimulasi. Desakan mendadakuntuk membeli sering disertai dengan emosi yangdicirikan sebagai “menggairahkan”, “menggetar-kan,” atau “ liar.”d. Ketidakpedulian akan akibat. Desakan untukmembeli dapat menjadi begitu sulit ditolaksehingga akibat yang mungkin negatif diabaikan.
    • Japarianto: PengaruhShopping LifeStyledan Fashion Involvement 35Tipe-tipe Impulse BuyingBerdasarkan penelitian yang dilakukan sebelum-nya, pembelian yang tidak terencana (impulse buying)dapat diklasifasikan dalam empat tipe: plannedimpulse buying, reminded impulse buying, suggestionimpulse buying, dan pure impulse buying (Miller,2002; Stern, 1962; yang dikutip dalam Hodge, 2004).a. Pure Impulse Buying merupakan pembelian se-cara impulse yang dilakukan karena adanyaluapan emosi dari konsumen sehinga melakukanpembelian terhadap produk di luar kebiasaanpembeliannya.b. Reminder Impulse Buying merupakan pembelianyang terjadi karen konsumen tiba-tiba teringatuntuk melakukan pembelian produk tersebut.Dengan demikian konsumen telah pernah melaku-kan pembelian sebelumnya atau telah pernahmelihat produk tersebut dalam iklan.c. Suggestion Impulse Buying merupakan pembelianyang terjadi pada saat konsumen melihat produk,melihat tata cara pemakaian atau kegunaannya,dan memutuskan untuk melakukan pembelian..d. Planned Impulse Buying merupakan pembelianyang terjadi ketika konsumen membeli produkberdasarkan harga spesial dan produk-produk ter-tentu. Dengan demikian planned impulse buyingmerupakan pembelian yang dilakukan tanpadirencanakan dan tidak tengah memerlukannyadengan segera.Hubungan Antar KonsepPakaian merupakan kulit luar yang menegaskanidentitas kita kepada lingkungan sosial, pakaianmenjadi media efektif untuk menunjukan status,kedudukan, kekuasaan, lifestyle dari masa ke masadan shopping menjadi salah satu lifestyle yang palingdigemari, untuk memenuhi lifestyle ini masyarakatrela mengorbankan sesuatu demi mencapainya danhal tersebut cenderung mengakibatkan impulsebuying. Ketika terjadi pembelian impulsif akanmemberikan pengalaman emosional lebih dari padarasional, sehingga tidak dilihat sebagai suatu sugesti,dengan dasar ini maka pembelian impulsif lebihdipandang sebagai keputusan rasional dibandingirasional dan hubungan sembilan karakteristik produkyang mungkin dapat mempengaruhi pembelianimpulsif, yaitu harga rendah, kebutuhan tambahanproduk atau merk, distribusi massa, self service, iklanmassa, display produk yang menonjol, umur produkyang pendek, ukuran kecil, dan mudah disimpan.Pakaian sangat terkait dengan keterlibatan kekarakteristik pribadi (yakni perempuan dan muda)dan pengetahuan tentang fashion, yang pada giliran-nya dipengaruhi oleh keyakinan konsumen dalammembuat keputusan pembelian. Selain itu, hubunganyang positif antara tingkat keterlibatan dan modepembelian pakaian adalah konsumen dengan highfahion involvement lebih menyukai kepada pembelianpakaian.Oleh karena itu, diasumsikan bahwa konsu-men dengan higher fashion involvement lebih me-nyukai menggunakan fashion oriented impulsebuying.Model PemikiranHipotesis Penelitiana. Terdapat pengaruh antara shopping lifestyle danfashion involvement terhadap impulse buyingbehavior.METODE PENELITIANDefinisi Operasional Variabel Penelitiana. Shopping Lifestyle (X1) merupakan gaya hidupcustomer pada kategori fashion (seperti pakaian)yang diukur melalui indikator: Setiap tawaran iklan mengenai produk fashion,saya cenderung menanggapi untuk membeli-nya Saya cenderung membeli pakaian model ter-baru ketika saya melihatnya di Surabaya Saya cenderung berbelanja fashion merekterkenal Saya yakin bahwa merk produk fashion ter-kenal yang saya beli terbaik dalam hal kualitas Saya sering membeli berbagai merk fashionyang berbeda daripada merk yang biasa sayabeli Saya yakin ada fashion merk lain yang samakualitasnya seperti yang saya belib. Fashion Involvement (X2) merupakan ketertarikanperhatian pelanggan pada kategori fashion yangdiukur melalui pernyataan: Saya mempunyai satu atau lebih pakaiandengan model yang terbaru (trend)Shopping LifestyleFashionInvolvementImpulseBuyingBehavior
    • JURNAL MANAJEMEN PEMASARAN, VOL. 6, NO. 1, April 2011: 32-4136 Fashion adalah satu hal penting yang men-dukung aktifitas saya Saya lebih suka apabila model pakaian yangsaya gunakan berbeda dengan yang lain Pakaian yang saya miliki menunjukkan karak-teristik saya Saya dapat mengetahui banyak tentang sese-orang dari pakaian yang digunakan Ketika saya memakai pakaian favorit saya,orang lain melihat akan melihat ke arah saya Saya cenderung untuk mencoba produkfashion terlebih dahulu sebelum membelinya Saya cenderung lebih mengetahui adanyafashion terbaru dibandingkan dengan oranglainc. Impulse Buying (Y) adalah pembelian yang tidakdirencanakan, dimana karakteristiknya adalahpengambilan keputusannya dilakukan dalam waktuyang relatif cepat; dan adanya keinginan untukmemiliki secara cepat. Variabel ini diukur denganindikator: Bila ada tawaran khusus, saya cenderung ber-belanja banyak Saya cenderung membeli pakaian model ter-baru walaupun mungkin tidak sesuai dengansaya Saat berbelanja produk fashion, saya cen-derung berbelanja tanpa berpikir panjang dulusebelumnya Setelah memasuki shopping center, saya se-gera memasuki sebuah toko fashion untukmembeli sesuatu Saya cenderung terobsesi untuk membelanja-kan uang yang saya bawa sebagian atauseluruhnya untuk produk fashion Saya cenderung membeli produk fashionmeskipun saya tidak begitu membutuhkannyaMetode dan Instrumen Pengumpulan DataMetode pengumpulan data ialah teknik ataucara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untukmengumpulkan data. Metode menunjuk suatu katayang abstrak dan tidak diwujudkan dalam benda,tetapi hanya dapat dilihatkan penggunaannya melaluiangket, wawancara, pengamatan, uji tes, dokumen-tasi, dan lainnya. Dalam penelitian ini, metodepengumpulan data dilakukan dengan menggunakanangket. Instrumen yang digunakan adalah question-naire.Kuisioner dari penelitian ini merupakan kuisio-ner yang menggunakan skala Likert, untuk meng-klasifikasi variable-variabel yang akan diukur dalampenelitian tersebut. Skala Likert ini biasa digunakanuntuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi sese-orang atau kelompok tentang kejadian atau gejalasocial. Dengan menggunakan skala Likert, makavariabel yang diukur dan dijabarkan menjadi sub-variabel, kemudian sub-variabel dijabarkan lagimenjadi indicator-indikator yang dapat diukur. Akhir-nya indicator-indikator yang dapat terukur ini dapatdijadikan titik tolak untuk membuat item instrumentyang berupa pertanyaan ataun pertanyaan yang perludijawab oleh responden (Riduwan, 2004, p. 86).Penyebaran kuisioner dilakukan pada bulan Mei2011-Juli 2011.Populasi PenelitianMenurut Kuncoro (2003) populasi adalah ke-lompok yang lengkap, yang biasanya dapat berupaorang, obyek, transaksi, ataupun kejadian dimanapeneliti tertarik dan ingin untuk menjadikannya obyekpenelitian (p.103). Populasi dari penelitian ini adalahseluruh masyarakat high income Surabaya.Teknik Penarikan SampelSebuah sampel adalah bagian dari populasi.Teknik penentuan sampel adalah dengan metode nonprobability sampling (Nasir, 1999, p. 325) Jenismetode non probability sampling yang digunakanadalah judgemental sampling yaitu memberikanbatasan-batasan tentang responden yang memenuhikriteria sebagai berikut: Responden tinggal di Surabaya Responden memiliki pendapatan sendiri Responden memiliki pengeluaran ≥ Rp 1,250,000 Responden pernah berbelanja di Galaxy Mall,Lend mark dan Grand CityJumlah responden didapatkan dengan meng-gunakan rumus Yamane yang melakukan penentuanukuran sampel didasarkan atas kesalahan 10%dengan kepercayaan 95% terhadap populasi. Penen-tuan jumlah sampel dengan menggunakan rumusYamane dipilih karena praktis dan telah terbuktikeakuratannya. Rumus Yamane adalah sebagaiberikut:1dNNn 2)((1)Keterangan:n : jumlah sampel yang dicariN : Ukuran Populasi (Jumlah penduduk SurabayaUsia 15 tahun ke atas yang bekerja = 1,250,690)(Sumber: BPS Propinsi Jawa Timur, Sakernasdan Susenas Tahun 2004-2009).
    • Japarianto: PengaruhShopping LifeStyledan Fashion Involvement 37d : nilai presisi (dalam penelitian ini, peneliti me-milih taraf signifikansi 10%).Berdasarkan rumus tersebut dan dengan meng-gunakan beberapa asumsi tertentu, Yamane dapatmembuat tabel dengan perhitungan sebagai berikut:1dNNn 2)(11069025016902501n 2).(,,,,9507126902501n.,,,n = 99.9920 yang dibulatkan menjadi 100 respondenMetode Analisa Dataa. Analisis Regresi Linier BergandaAnalisis Regresi Linier Berganda digunakanuntuk mengetahui pengaruh yang diberikan olehvariabel bebas terhadap variabel terikat. Formula yangdigunakan adalah:Y = o + 1X1 + 2X2 (Ghazali, 2004, p.80) (2)Keterangan:Y = Impulse buying behavior0 = Konstanta.1 dan 2= Koefisien regresiX1 = Shopping lifestyleX2 = Fashion involvementb. Pengujian HipotesisPengujian hipotesis dilakukan dengan meng-gunakan uji F dan uji t Uji FPengujian ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana variasi variabel bebas yang digunakanmampu menjelaskan variabel tergantungnya.Dapat juga diartikan apakah model regresi linierberganda yang digunakan sesuai atau tidak Uji t (Pengujian Parsial)Uji t bertujuan untuk melihat pengaruh variabelbebas secara parsial (sendiri-sendiri) terhadapvariabel terikat. Untuk mengetahui apakah adapengaruh secara parsial variabel bebas terhadapvariabel terikatUji Asumsi Klasik1. Uji Multikolonieritas Uji Multikolonieritas bertujuan untuk mengujiapakah model regresi ditemukan adanya kore-lasi antar variabel bebas (independen).2. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apa-kah dalam model regresi terjadi ketidaksamaanvariance dari residual satu pengamatan kepengamatan yang lain. Jika variance dariresidual satu pengamatan ke pengamatan laintetap, maka disebut homoskedastisitas dan jikaberbeda disebut heteroskedastisitas.3. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apa-kah dalam model regresi, variabel penggangguatau residual memiliki distribusi normal.Seperti diketahui bahwa uji t dan F meng-asumsikan bahwa nilai residual mengikutidistribusi normal.ANALISA DATADeskripsi Tanggapan Responden Terhadap Vari-abel Bebas dan Variabel Terikata. Shopping Lifestyle (X1)Tabel 1. Tanggapan Responden Mengenai ShoppinglifestyleIndikator BTB (%) TTB (%)Tawaran iklan 28,2% 71,8%Model terbaru 16,4% 83,6%Merk terkenal 27,3% 70,0%Kualitas terbaik 11,8% 88,2%Beli merk berbeda 14,5% 85,5%Merk lain sama 13,6% 86,4%Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besarresponden memberikan penilaian yang baik terhadapatribut-atribut shoping lifestyle. Hal ini mencerminkanbahwa shopping lifestyle yang terdiri dari setiaptawaran iklan mengenai produk fashion, saya cen-derung menanggapi untuk membelinya, cenderungmembeli pakaian model terbaru ketika saya melihat-nya di shopping center Surabaya, cenderung ber-belanja fashion merk terkenal, yakin bahwa merkproduk fashion terkenal yang saya beli terbaik dalamhal kualitas, sering membeli berbagai merk fashionyang berbeda daripada merk yang biasa saya beli danyakin ada fashion merk lain yang sama kualitasnyaseperti yang saya beli dapat mempengaruhi respondenuntuk melakukan impulse buying.b. Fashion Involvement (X2)Tabel 2 menunjukkan bahwa sebagian besarresponden memberikan penilaian yang baik terhadapatribut-atribut fashion involvement. Hal ini mencermin-
    • JURNAL MANAJEMEN PEMASARAN, VOL. 6, NO. 1, April 2011: 32-4138kan bahwa fashion involvement yang terdiri darimempunyai satu atau lebih pakaian dengan modelyang terbaru (trend), Fashion adalah satu hal pentingyang mendukung aktifitas, lebih suka apabila modelpakaian yang saya gunakan berbeda dengan yanglain, Pakaian yang saya miliki menunjukkan karak-teristik, mengetahui banyak tentang seseorang daripakaian yang digunakan, memakai pakaian favoritsaya, orang lain melihat akan melihat ke arah saya,cenderung untuk mencoba produk fashion terlebihdahulu sebelum membelinya, dan cenderung lebihmengetahui adanya fashion terbaru dibandingkandengan orang lain dapat mempengaruhi respondenuntuk melakukan impulse buying.Tabel 2. Tanggapan Responden Mengenai FashionInvolvementIndikator BTB (%) TTB (%)Trend 7,3 92,7Fashion hal penting 7,3 94,5Berbeda dari yang lain 7,3 92,7Karakteristik saya 5,5 94,5Mengetahui orang 16,4 83,6Orang melihat saya 10,0 90,0Mencoba terlebih dulu 7,3 92,7Tahu fashion terbaru 12,7 87,3Sumber: Lampiranc. Impulse Buying (Y)Tabel3.TanggapanRespondenMengenaiImpulseBuyingIndikator BTB (%) TTB (%)Tawaran khusus 20,9% 79,1%Model terbaru 62,7% 37,3%Tanpa berpikir 50,0% 50,0%Langsung memasuki 50,0% 50,0%Terobsesi berbelanja 50,0% 50,0%Tidak butuh 42,7% 57,3%Sumber: LampiranTabel 3 menunjukkan bahwa sebagian besarresponden memberikan penilaian yang cukup baikterhadap atribut-atribut impulse buying. Hal ini men-cerminkan bahwa impulse buying yang terdiri daribila ada tawaran khusus, saya cenderung berbelanjabanyak, cenderung membeli pakaian model terbaruwalaupun mungkin tidak sesuai dengan saya, saatberbelanja produk fashion, saya cenderung berbelanjatanpa berpikir panjang dulu sebelumnya, setelahmemasuki Shopping center, saya langsung memasukisebuah toko fashion untuk membeli sesuatu, cen-derung terobsesi untuk membelanjakan uang yangsaya bawa sebagian atau seluruhnya untuk produkfashion dan cenderung membeli produk fashionmeskipun saya tidak begitu membutuhkannya tidaksemuanya disetujui oleh responden.Analisa Regresi Linier BergandaUji Asumsi KlasikMultikolinieritasTabel 4. Hasil Uji MultikolinieritasVariabel Bebas VIFShopping Lifestyle 1.163Fashion Involvement 1.163Berdasarkan Tabel 4 dapat dilihat bahwa nilaiVIF untuk variabel shopping lifestyle dan fashioninvolvement semuanya kurang dari 10, hal ini meng-indikasikan tidak terjadi multikolinieritas sehinggaasumsi non multikolinieritas terpenuhi.HeteroskedastisitasGambar1.GrafikPlotAntara ZPREDdenganSRESIDGrafik plot pada Gambar 1 menunjukkan tidakada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atasdan di bawah angka 0 pada sumbu Y. Berdasarkanhasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa tidakterjadi heteroskedastisitas, sehingga asumsi nonheteroskedastisitas terpenuhi.NormalitasPada Gambar 2 dapat dilihat bahwa residualmenyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arahgaris diagonal, dan diambil kesimpulan bahwa modelregresi memenuhi asumsi normalitas.420-2-4Regression Studentized Residual210-1-2-3RegressionStandardizedPredictedValueDependent Variable: Impulse BuyingScatterplot
    • Japarianto: PengaruhShopping LifeStyledan Fashion Involvement 39Gambar 2. Grafik Normal Probability PlotAnalisis ModelBerikut ini adalah hasil analisis regresi linierberganda seperti pada Tabel 5.Tabel 5. Hasil Analisis Regresi Linier BergandaModel Koefisien t Sig. tKonstanta -1.456Shopping Lifestyle (X1) 0.636 6.243 0.000Fashion Involvement (X2) 0.518 3.971 0.000R = 0.666R Square = 0.443F = 42.612Sig. F = 0.000Ringkasan hasil analisis regresi linier bergandapada Tabel 5 diuraikan sebagai berikut:a. Koefisien regresi (βi)1. Tanda positif pada nilai koefisien regresimelambangkan hubungan yang searah antaraX1 dan Y, artinya apabila shopping lifestyleresponden semakin tinggi, maka impulsebuying responden juga akan mengalamipeningkatan dengan variabel lainnya tetap.2. Tanda positif pada nilai koefisien regresimelambangkan hubungan yang searah antaraX2 dan Y, artinya apabila fashion involvementresponden semakin tinggi, maka impulsebuying responden juga akan mengalamipeningkatan variabel lainnya tetap.Koefisien DeterminasiKoefisien Determinasi (R2) sebesar 0.443 yangmemiliki arti bahwa peran variabel bebas X1 dan X2untuk menjelaskan variabel terikat Y adalah sebesar44.3% dan sisanya 55.7% dijelaskan oleh variabellain di luar variabel bebas yang digunakan dalampenelitian ini.Koefisien KorelasiKoefisien korelasi (R) sebesar 0.666 menunjuk-kan bahwa hubungan variabel bebas X1 dan X2dengan variabel terikat Y adalah kuat. Nilai koefisienR yang positif menunjukkan pengaruh hubunganyang searah atau jika nilai variabel bebas naik makanilai variabel terikat juga naik.Pembuktian HipotesisUji FBerdasarkan nilai statistik pada Tabel 5 dapatdilihat bahwa nilai F hitung = 42.612. Nilai F table(df1=2; df2=107) adalah 3.081. Nilai F hitung > Ftable, maka H0 ditolak dan H1 diterima dan dapatdisimpulkan bahwa variabel bebas X1 dan X2 secarasimultan (bersama-sama) berpengaruh signifikanterhadap variabel terikat (Y).Dari hasil uji F di atas maka disimpulkan untukmenolak hipotesis nol. Dengan demikian hipotesispenelitian diterima, dengan kata lain shopping lifestyledan fashion involvement secara simultan (bersama-sama) mempunyai pengaruh besar terhadap impulsebuying responden.Uji tPada Tabel 5 diketahui untuk variabel shoppinglifestyle nilai t hitung adalah 6.243, nilai t tabel(df=107; α = 0.05/2) = 1.982. Nilai t hitung > nilai ttabel, maka disimpulkan bahwa shopping lifestylesecara parsial (sendiri-sendiri) mempunyai pengaruhsignifikan terhadap impulse buying responden. Hal iniberarti peningkatan atau penurunan variabel shoppinglifestyle yang dilakukan responden memberikanpengaruh besar terhadap impulse buying.Pada Tabel 5 diketahui untuk variabel fashioninvolvement nilai t hitung adalah 3.971, nilai t tabel(df=107; α = 0.05/2) = 1.982. Nilai t hitung > nilai ttabel, maka disimpulkan bahwa fashion involvementsecara parsial (sendiri-sendiri) mempunyai pengaruhsignifikan terhadap impulse buying. Hal ini berartipeningkatan atau penurunan variabel fashion invol-vement yang dilakukan responden memberikanpengaruh besar terhadap impulse buying.1.00.80.60.40.20.0Observed Cum Prob1.00.80.60.40.20.0ExpectedCumProbDependent Variable: Impulse BuyingNormal P-P Plot of Regression Standardized Residual
    • JURNAL MANAJEMEN PEMASARAN, VOL. 6, NO. 1, April 2011: 32-4140Koefisien Determinasi ParsialTabel 6. Kuadrat Koefisien Korelasi ParsialVariabel r r 2Shopping Lifestyle 0.517 0.267Fashion Involvement 0.358 0.128Sumber: LampiranVariabel yang mempunyai pengaruh palingdominan terhadap impulse buying adalah yang nilaikuadrat korelasi parsialnya terbesar. Dari 2 variabelbebas diketahui bahwa variabel shopping lifestylemempunyai nilai kuadrat korelasi parsial terbesaryaitu 0.267, yang artinya bahwa variabel shoppinglifestyle mempengaruhi impulse buying paling besardibanding variabel yang lain, yaitu sebesar 26.7%KESIMPULAN DAN SARANKesimpulanBerdasarkan pada hasil pembahasan mengenaishopping lifestyle, fashion involvement terhadapimpulse buying behavior, dapat disimpulkan beberapahal yaitu:a. Shopping lifestyle berpengaruh signifikan terhadapimpulse buying behavior pada masyarakat highincome di Galaxy Mall Surabayab. Fashion involvement berpengaruh signifikanterhadap impulse buying behavior padamasyarakat high income di Galaxy Mall Surabayac. Shopping lifestyle memiliki pengaruh yang palingdominan diantara variabel lain yang ada terhadapimpulse buying behavior pada masyarakat highincome di Galaxy Mall SurabayaSaranBerdasarkan kesimpulan yang diperoleh, makapenulis memberikan saran-saran bagi pihak-pihakyang berkepentingan dalam penelitian ini, antara lain:a. Hendaknya fashion involvement selalu diperhati-kan dengan memberikan masukan tentang produkfashion yang sesuai karakteristik pengunjungkarena dapat mempengaruhi impulse buyingbehavior pada masyarakat high income di GalaxyMall Surabaya.b. Shopping lifestyle hendaknya terus dipertahankanoleh pihak Galaxy Mall Surabaya dengan tetapmenjaga kualitas terbaik dari merk produk fashionkarena variabel tersebut merupakan variabeldominan dalam mempengaruhi impulse buyingbehavior pada masyarakat high income di GalaxyMall Surabaya.c. Bagi peneliti lain dapat melakukan penelitiandengan topik sama, namun perlu menambahkanfaktor lain seperti pre-decision stage dan post-decision stage karena dari hasil penelitian inimasih dipengaruhi oleh faktor-faktor lain.DAFTAR PUSTAKAAndrew, M., 1979, Involvement: A potentially impor-tant mediator of consumer behavior. In advancesin consumer research, ed. William L. Wilkie,6 (Provo, Utah: Association for ConsumerResearch), pp. 191-196.Bayley, G. & Nancarrow, C., 1998, Impulse purchas-ing: a qualitative exploration of the phenol-menon. Qualitative market research: An Inter-natinal Journal, 1(2), pp. 99-114.Benjamin D.Z. & Kanter, M.R., 1976, The differen-tiation of life-styles. Annual Reviews of Socio-logy, pp. 269-297.Browne, B.A. & Kaldenberg, D.O., 1997, Concep-tualizing self-monitoring: links to meterialismand product involvement, Journal of Con-sumer Marketing, 14(1), pp. 31-44.Cobb J.C. & Hoyer W.D., 1986, Planned versusimpulsepurchasebehaviour.JournalofRetailing,62(4), pp. 384-409.Douglas, M.T. & Baron, C., Isherwood, 1979, Theworld of goods, (New York: Basic Books).Engel, James F., Blackwell, R.D. & Miniard, P.W.,1995, Perilaku konsumen, Jilid 1 (Edisi ke-enam), Jakarta: Binarupa Aksara.Fairhurst, A.E., Good, L.K. & Gentry, J.W., 1989,Fashion involvement: an instrument validationprocedure. Clothing and Textiles Researchjournal, 7(3), pp. 10-14.Flynn, L. & Goldsmith, R., 1993, A causal model ofconsumer involvement: replication and critique,Journal of Social Behavior and Personality,8(6), pp. 129-42.Goldsmith, R.E. & Emmert, J., 1991, Measuringproduct category involvement: a multitrait-multimethod study, Journal of Business Research,23(4), pp. 363-71.Hatane, S., 2005, Respons lingkungan berbelanjasebagai stimulus pembelian, Journal Mana-jemen dan Kewirausahaan, 7(2), pp. 152-170.Hausman, A., 2000, A multi- method investigation ofconsumer motivations in impulse buyingbehavior, Journal of Consumer Marketing,17(15), pp. 403-419.Kacen, J.J., & Lee, J.A., 2002, The influence of cultureon consumer impulsive buying behavior,Journal of Consumer Psychology,12(2), pp.163-76.
    • Japarianto: PengaruhShopping LifeStyledan Fashion Involvement 41Kapferer, J.N. & Laurent, G., 1985, Measuring con-sumer involvement profile, Journal of Market-ing. 22(1), pp. 41-53.Kim, H., 2005, Consumer profiles of apparel productinvolvement and values. Journal of FashionMarketing and Management, 9(2), pp. 207-220.Kollat, D.T. & Willett, Ronald, P., Februari 1967,Customer Impulse Purchasing Behavior, Jour-nal of Marketing Research, 4(2), pp. 21-31.Kotler, Philip, & Amstrong, G., 2004, Dasar-dasarPemasaran, Bagian 1, Jakarta: Prenhallindo.Martin, C., 1998, Relationship marketing: a high-involvement product attribute approach. Jour-nal of Product and Brand Management, 7(1),6-26.Mowen, J.C. & Minor, M., 2002, Consumer beha-viour (5thEdition) Upper saddle river: Pre-tience Hall, Inc.O’Cass, A., 2004, Fashion clothing consumption:antecedents and consequences of fashionclothing involvement, European Journal ofMarketing, 38(7), pp. 869-82.Park, Joo, Kim & Forney, 2005, A structural model offashion oriented impulse buying behavior,Journal of Fashion Marketing and Mana-gement, 10(4), 433-446.Prayoga, L., 2008 March 12, Mall untuk wisata,Kenapa Tidak?, Indonesia Tourism News, 11.Prima, G.A., 2009, January 30). Anchor tenant, fromhttp://www.griya.asri.prima.mht.Richard, L.C. & Jerry, C.O., September 1988, Therole of involvement in attention and compre-hension processes, Journal of Consumer Rese-arch, 15(9), pp. 210-224.Ronald, W.S., 1995, Studi kelayakan galaxy mallditinjau dari aspek pasar dan keuangan, (TANo. 419/EM/1995). Unpublished under-graduate thesis, Universitas Kristen Petra,Surabaya.Rook, D.W. and Fisher, R.J., 1995, Normativeinfluence on impulse buying behavior, Journalof Consumer Research, 22, pp. 305-313.Seo, J., Hathcote, J.M. and Sweaney, A.L., 2001,Casualwear shopping behavior of college menin Georgia, USA, Journal of Fashion Market-ing and Management, 5(3), pp. 208-222.Stern, H., April 1962, The significance of impulsebuying today, Journal of Marketing, Vol.26(4), pp. 59-62.Tan, L., April 2009, The new way of lifestyle, GrandIndonesia Magazine, 4.Zaichkowsky, J.L., Desember 1985, Measuring theInvolvement Construct in Marketing. Journalof Consumer Research, 12(12), pp. 341-352.Zumar, D., March 2009, 82 Persen, KonsumenDoyan Sambangi Mal. Retrieved April 01,2009, from http://www.pewarta-kabarindone-sia.blogspot.com.