PSIKOLOGI PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS KUNINGAN 2010 DISUSUN OLEH : UCUP SUPRIYATNA, KELAS...
BAB I  PENDAHULUAN <ul><li>PENGANTAR  </li></ul><ul><li>ASPEK-ASPEK PENDIDIKAN  </li></ul><ul><li>DEFINISI PENDIDIKAN </li...
A.  PENGANTAR <ul><li>Manfaat Psikologi Pendidikan </li></ul><ul><li>Psikologi Pendidikan = Ilmu Terapan </li></ul><ul><li...
B.  ASPEK-ASPEK PENDIDIKAN   <ul><li>Pendidikan Informal </li></ul><ul><li>Pendidikan Formal </li></ul><ul><li>Pendidikan ...
B.  ASPEK-ASPEK PENDIDIKAN 1.  Pendidikan Informal “ Proses belajar yang relatif tak disadari yang kemudian menjadi kecapa...
B.  ASPEK-ASPEK PENDIDIKAN 2.  Pendidikan Formal “ Pendidikan yang dilaksanakan dengan sengaja dengan tujuan dan bahan aja...
B.  ASPEK-ASPEK PENDIDIKAN 3.  Pendidikan Non Formal “ Pendidikan yang dilaksanakan dengan sengaja tetapi tidak memenuhi s...
C.  DEFINISI PENDIDIKAN <ul><li>Definisi Awam </li></ul><ul><li>Definisi Psikologi </li></ul><ul><li>Definisi Uu Sisdiknas...
C.  DEFINISI PENDIDIKAN   1.  Definisi Awam “ Suatu cara untuk mengembangkan ketrampilan, kebiasaan dan sikap-sikap yang d...
C.  DEFINISI PENDIDIKAN   2.  Definisi Psikologi <ul><li>PROSES </li></ul>“ Mencakup segala bentuk aktivitas yang akan mem...
D.  SEJARAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN <ul><li>DEMOCRITUS </li></ul><ul><li>PLATO&ARISTOTELES </li></ul><ul><li>ARISTOTELES </li...
E.  KONTRIBUSI PSIKOLOGI PENDIDIKAN BAGI TEORI & PRAKTEK PENDIDIKAN <ul><li>Kontribusi Bagi Proses Pendidikan </li></ul><u...
E.  KONTRIBUSI PSIKOLOGI PENDIDIKAN BAGI TEORI & PRAKTEK PENDIDIKAN 1.  Kontribusi Bagi Proses Pendidikan <ul><li>Pengguna...
E.  KONTRIBUSI PSIKOLOGI PENDIDIKAN BAGI TEORI & PRAKTEK PENDIDIKAN 2.  Kontribusi Bagi Peserta Didik <ul><li>Mengerti hak...
E.  KONTRIBUSI PSIKOLOGI PENDIDIKAN BAGI TEORI & PRAKTEK PENDIDIKAN 3.  Kontribusi Bagi Pendidik <ul><li>Pendidik lebih te...
F.  METODE-METODE DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN   <ul><li>Introspeksi </li></ul><ul><li>Observasi </li></ul><ul><li>Metode Kl...
F.  METODE-METODE DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN 1.  Instrospeksi Melakukan pengamatan ke dalam diri sendiri/ self observation...
F.  METODE-METODE DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN 2.  Observasi Kegiatan melihat sesuatu di luar diri sehingga yang diperoleh m...
F.  METODE-METODE DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN 3.  Metode Klinis <ul><li>Digunakan untuk mengumpulkan data secara lebih rinc...
F.  METODE-METODE DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN 4.  Metode Diferensial Digunakan untuk meneliti perbedaan-perbedaan individua...
F.  METODE-METODE DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN 5.  Metode Ilmiah  Merupakan prosedur yang sistematik dalam memecahkan permas...
F.  METODE-METODE DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN 6.  Metode Eksperimen Melakukan pengontrolan secara ketat terhadap faktor-fak...
BAB II  BAKAT & INTELEGENSI <ul><li>PENDAHULUAN </li></ul><ul><li>INTELEGENSI </li></ul><ul><li>BAKAT </li></ul><ul><li>LI...
A.  PENDAHULUAN   <ul><li>Bakat & intelegensi merupakan kemampuan mental individu </li></ul>
B.  INTELEGENSI <ul><li>Sejarah Intelegensi  </li></ul><ul><li>Pengertian Intelegensi  </li></ul><ul><li>Teori-teori Intel...
B.  INTELEGENSI   1.  Sejarah Intelegensi <ul><li>Wundt(Jerman), Galton(Inggris), Cattel(AS)   tes untuk anak-anak. Hasil...
B.  INTELEGENSI 2.  Pengertian Intelegensi    TERMAN    Suatu kemampuan untuk berpikir  berdasarkan atas gagasan yang ab...
B.  INTELEGENSI 3.  Teori-teori Intelegensi CHARLES SPEARMAN      Dua faktor intelegensi, yaitu:    Faktor G: mencakup s...
B.  INTELEGENSI 3.  Teori-teori Intelegensi THURSTONE    Intelegensi beroperasi pada empat tingkat  trial & error yaitu :...
B.  INTELEGENSI 3.  Teori-teori Intelegensi <ul><li>KEMAMPUAN KONSEPTUAL THURSTONE: </li></ul><ul><li>Verbal Comprehention...
B.  INTELEGENSI 4.  Pengukuran Intelegensi <ul><li>KUALITATIF    Perbedaan intelegensi disebabkan karena kualitas individ...
B.  INTELEGENSI 4.  Pengukuran Intelegensi ALFRED BINET     TES STANFORD BINET IQ  =  MA CA X 100 IQ = Intelligence Quoti...
B.  INTELEGENSI 4.  Pengukuran Intelegensi Klasifikasi IQ Menurut Stanford-Binet
B.  INTELEGENSI 4.  Pengukuran Intelegensi DAVID WECHSLER     Wechsler-Bellevue Intellegence Scale  (1939)    Wechsler I...
B.  INTELEGENSI 4.  Pengukuran Intelegensi   Klasifikasi IQ Menurut Wechsler
B.  INTELEGENSI 5.  Kurve Normal Dalam Intelegensi
C.  BAKAT <ul><li>Sejarah Bakat </li></ul><ul><li>Pengertian Bakat </li></ul><ul><li>Bakat & Intelegensi </li></ul><ul><li...
C. Bakat   1. Sejarah Bakat Pendidikan = Bakat  Ideal Aplikasi Bakat  pendidikan & lapangan kerja Thorndike  Tiga jenis in...
C. Bakat   2. Pengertian Bakat Crow dan Crow : Bakat merupakan kualitas yang dimiliki  oleh semua orang dalam tingkat yang...
C. Bakat   2. Pengertian Bakat Woodworth dan Marquis : bakat adalah prestasi yang dapat  diramalkan dan dapat diukur melal...
C. Bakat   2. Pengertian Bakat <ul><li>Guilford : bakat adalah kemampuan kinerja yang mencakup  </li></ul><ul><li>dimensi ...
C. Bakat   3. Bakat dan Intelegensi <ul><li>Binet dan Weschler menekankan pada  berfungsinyaseluruh kemampuan mental indiv...
C. Bakat   4. Pengukuran Bakat Prosedur pengukuran bakat (Suryabrata, 1995) : a.  Analisis jabatan/lapangan b.  Deskripsi ...
D.  LINGKUNGAN &  HEREDITAS <ul><li>Studi terhadap keluarga </li></ul><ul><li>Studi terhadap anak kembar </li></ul>
D.  Lingkungan &  Hereditas 1.  Studi terhadap Keluarga <ul><li>Galton  orang tua IQ tinggi = IQ anak tinggi  </li></ul><u...
D.  Lingkungan &  Hereditas 2.  Studi terhadap Anak Kembar <ul><li>Penelitian Hardy dan Heyes, 1988: </li></ul><ul><li>Kem...
E.  KELAS SOSIAL <ul><li>Havighurst    kelas sosial & intelegensi, laki-laki & perempuan </li></ul><ul><li>Makin tinggi k...
F.  DIKOTOMI DESA-KOTA <ul><li>Crow & Crow (1989)    intelegensi anak kota    anak desa </li></ul><ul><li>Colleman, dkk ...
G.  JENIS KELAMIN <ul><li>Intelegensi laki-laki = perempuan (Cage & Berliner, 1979;Crow & Crow, 1989) </li></ul>
G.  JENIS KELAMIN <ul><li>Perbedaan laki-laki & perempuan (Cage & Berliner, 1979): </li></ul><ul><li>Kemampuan verbal (p  ...
BAB III KEMAMPUAN KHUSUS INDIVIDU & ANTISIPASI PENDIDIKAN <ul><li>PENDAHULUAN </li></ul><ul><li>PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT <...
A.  PENDAHULUAN <ul><li>Aplikasi konsep-konsep bakat & intelegensi pada lapangan pendidikan </li></ul><ul><li>Pendidikan h...
B.  PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT <ul><li>Kondisi di manca negara(AS, Jepang, Inggris, Korea, Taiwan) dan di Indonesia </li></u...
B.  PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT   1.  Di Mancanegara dan Indonesia <ul><li>1958; Amerika mencoba memikirkan pendidikan untuk ...
B.  PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT   1.  Di Mancanegara dan Indonesia <ul><li>Korea. Pengembangan pendidikan anak berbakat melal...
B.  PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT   1.  Di Mancanegara dan Indonesia <ul><li>Taiwan. Faktor dalam pengembangan pendidikan di ta...
B.  PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT   1.  Di Mancanegara dan Indonesia <ul><li>Indonesia.  </li></ul><ul><li>1974, beasiswa bagi ...
B.  PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT   2.  Anak Berbakat <ul><li>Keberbakatan: beberapa anak berbakat (child giftted) yang memilik...
B.  PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT   3.  Identifikasi Anak Berbakat   <ul><li>Penjaringan Anak Berbakat.  </li></ul><ul><li>A. D...
B.  PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT   3.  Identifikasi Anak Berbakat   <ul><li>Penyaringan Anak Berbakat </li></ul><ul><li>Tujuan...
B.  PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT 4.  Model Identifikasi Renzulli IQ > Rata-rata Task comitment Kreativitas THREE-RINGS INTERAC...
B.  PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT   4.  Model Identifikasi Triandis Sekolah Teman Sebaya Keluarga Intelegensi Kreativitas Keule...
B.  PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT   5.  Layanan Pend.Anak Berbakat   <ul><li>Menurut Ward, Kitano & Kirby (dalam Semiawan, 1994...
C.  MENTAL RETARDATION <ul><li>Karakteristik MR </li></ul><ul><li>Kategori MR </li></ul><ul><li>Faktor-faktor penyebab MR ...
C.  MENTAL RETARDATION 1.  Karakteristik MR   <ul><li>Menurut PPDGJ III: </li></ul><ul><li>a.  IQ = 75 ke bawah </li></ul>...
C.  MENTAL RETARDATION 2.  Kategori MR 1).  Ditinjau dari skala IQ a.  Mild MR  - Stanford Binet : 52 - 67  - Wechsler : 5...
C.  MENTAL RETARDATION 2.  Kategori MR c.  Severe MR - Stanford Binet : 20 - 35 - Wechsler : 25 - 39 d.  Profound MR - Sta...
C.  MENTAL RETARDATION 2.  Kategori MR 2).  Ditinjau dari istilah dalam psikologi dan kesehatan: a.  Debil : IQ 50 - 75 b....
C.  MENTAL RETARDATION 3.  Faktor Penyebab MR <ul><li>Sebab Biologis </li></ul><ul><li>A). Pranatal: infeksi, detoksifikas...
D.  EXCEPTIONAL PEOPLE <ul><li>Pengertian </li></ul><ul><li>Kategori individu khusus </li></ul>
D.  EXCEPTIONAL PEOPLE 1.  Pengertian <ul><li>Individu yang secara jelas/signifikan dan sifatnya menetap berbeda dari yang...
D.  EXCEPTIONAL PEOPLE 2.  Kategori  Exceptional People <ul><li>Kategori Harring (1982): </li></ul><ul><li>Sensory Handica...
D.  EXCEPTIONAL PEOPLE 2.  Kategori  Exceptional People Kategori Indonesia: a.  Tuna Netra (SLB A) b.  Tuna Wicara & Tuna ...
BAB IV PERENCANAAN KEGIATAN BELAJAR-MENGAJAR <ul><li>PENDAHULUAN </li></ul><ul><li>TUJUAN INSTRUKSIONAL </li></ul><ul><li>...
A.  PENDAHULUAN <ul><li>“ Apa yang akan saya lakukan?” </li></ul><ul><li>“ Perubahan apa yang saya inginkan dari siswa-sis...
B.  TUJUAN INSTRUKSIONAL <ul><li>Guru yang efektif </li></ul><ul><li>Model tujuan instruksional yang bertujuan </li></ul><...
C. MODEL INSTRUKSIONAL Penentuan tujuan-tujuan spesifik Penilaian Pendahuluan Pengajaran Evaluasi Model Instruksional yang...
C. MODEL INSTRUKSIONAL Penentuan tujuan-tujuan spesifik Penilaian Pendahuluan Pengajaran Evaluasi Jika tujuan tidak tercap...
D. KURIKULUM <ul><li>Definisi kurikulum </li></ul><ul><li>Model pemilihan tujuan (Tyler) </li></ul>
D. KURIKULUM 1.  Definisi Kurikulum Kurikulum ialah keseluruhan hasil belajar yang direncanakan dan di bawah tanggung jawa...
D. KURIKULUM 2.  Model Pemilihan Tujuan (Ralph Tyler) <ul><li>Komponen-komponen dalam kurikulum (Model Tyler): </li></ul><...
BAB V PROSES BELAJAR <ul><li>KOMUNIKASI </li></ul><ul><li>PEMBELAJARAN AKTIF </li></ul>
A.  KOMUNIKASI <ul><li>Pengertian komunikasi </li></ul><ul><li>Unsur-unsur dalam komunikasi </li></ul><ul><li>Model proses...
A.  KOMUNIKASI 1.  Pengertian Komunikasi Berasal dari bahasa Latin “ communicere ” = “memberitahukan”, “berpartisipasi”, “...
A.  KOMUNIKASI 1.  Pengertian Komunikasi <ul><li>Komunikasi primer - sekunder  </li></ul><ul><li>Komunikasi langsung - tid...
A.  KOMUNIKASI 2. Unsur-unsur dalam Komunikasi <ul><li>Komunikator (pemberi informasi, berita atau pesan) dan  </li></ul><...
A.  KOMUNIKASI 3. Model Proses Persuasi Pesan-pesan Persuasi Alternatif proses psikologis laten Pembahasan yang terjadi da...
A.  KOMUNIKASI 3.  Model Proses Persuasi Pesan yang persuasif Batasan(Batasan kembali proses sosbud kelompok) Membentuk ba...
A.  KOMUNIKASI 4. Komunikasi Dalam Proses Belajar-Mengajar  <ul><li>Tiga fungsi sosial pendidik dalam pendidikan: </li></u...
A.  KOMUNIKASI   4. Komunikasi Dalam Proses Belajar-Mengajar <ul><li>Tiga tipe kemampuan seseorang memperoleh  </li></ul><...
A.  KOMUNIKASI   4. Komunikasi Dalam Proses Belajar-Mengajar <ul><li>Metode untuk memperoleh umpan balik dalam komunikasi ...
B.  PEMBELAJARAN AKTIF <ul><li>Latar belakang& pengertian </li></ul><ul><li>Untuk apa </li></ul><ul><li>Mengapa </li></ul>...
B.  PEMBELAJARAN AKTIF 1. Latar Belakang & Pengertian Upaya untuk meningkatkan layanan pendidikan : Secara Kuantitatif Sec...
B.  PEMBELAJARAN AKTIF 1. Latar Belakang & Pengertian <ul><li>CBSA (Raka Joni, 1993): </li></ul><ul><li>Melihat kegiatan b...
B.  PEMBELAJARAN AKTIF 2. Untuk Apa Tuntutan masa depan kreatif ekspresif memiliki prakasa tanggung jawab
B.  PEMBELAJARAN AKTIF 3.  Mengapa <ul><li>Memberikan umpan bagaiman peserta didik belajar membentuk sikap yang diperlukan...
B.  PEMBELAJARAN AKTIF 4.  Bagaimana <ul><li>Yang perlu diperhatikan: </li></ul><ul><li>Persiapan pembelajaran aktif yang ...
B.  PEMBELAJARAN AKTIF 4.  Bagaimana <ul><li>Ramalan.Perkiraan secara anlogi atau dengan menggunakan konsep yang telah dip...
B.  PEMBELAJARAN AKTIF 4.  Penilaian Pembelajaran Aktif yang Bermakna  <ul><li>Yang perlu diperhatikan: </li></ul><ul><li>...
BAB VI EVALUASI BELAJAR <ul><li>PENDAHULUAN </li></ul><ul><li>FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN </li></ul><ul><li>ANALISIS TAKSON...
A.  PENDAHULUAN <ul><li>Usaha melakukan evaluasi terhadap hasil belajar siswa </li></ul><ul><li>Penilaian dan prediksi ter...
A.  PENDAHULUAN 1.  Usaha Melakukan Evaluasi Terhadap Hasil    Belajar Siswa <ul><li>Cara-cara yang dilakukan untuk menila...
A.  PENDAHULUAN 2.  Penilaian Dan Prediksi Terhadap Penguasaan    Materi Pada Siswa   <ul><li>Penilai berusaha menentukan ...
B.  FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN <ul><li>Dasar psikologis </li></ul><ul><li>Dasar didaktis </li></ul><ul><li>Dasar administr...
B. FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN   1. Dasar Psikologis   Evaluasi pendidikan  berguna sebagai bahan orientasi untuk menghadap...
B. FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN   1. Dasar Psikologis   a. Di pandang dari segi anak didik <ul><li>Anak-anak belum dapat  “m...
B. FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN   1. Dasar Psikologis   b. Di pandang dari segi pendidik Orang membutuhkan untuk mengetahui ...
B. FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN   2. Dasar Didaktis   a. Ditinjau dari segi anak didik Pengetahuan tentang kemajuan-kemajuan...
B. FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN   2. Dasar Didaktis   b. Ditinjau dari segi pendidik <ul><li>Guru dapat mengetahui keberhasi...
B. FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN   2. Dasar Administratif Memberikan data untuk menentukan status anak didik  dalam kelasnya ...
C.  ANALISIS TAKSONOMIS <ul><li>Segi kognitif ( Tokoh : Bloom) </li></ul><ul><li>Segi afektif (Tokoh : Krathwohl) </li></u...
C.  ANALISIS TAKSONOMIS 1.  SEGI KOGNITIF (Bloom) <ul><li>Memperhatikan </li></ul><ul><li>Merespon </li></ul><ul><li>Mengh...
C.  ANALISIS TAKSONOMIS 2.. SEGI AFEKTIF (Krathwohl) <ul><li>Memperhatikan </li></ul><ul><li>Merespon </li></ul><ul><li>Me...
C.  ANALISIS TAKSONOMIS 3. SEGI PSIKOMOTORIS (E.J. Simpson) <ul><li>Persepsi </li></ul><ul><li>Set </li></ul><ul><li>Respo...
D.  TEKNIK PENILAIAN <ul><li>Tes subjektif </li></ul><ul><li>Tes objektif </li></ul>
D.  TEKNIK PENILAIAN 1. Tes Subjektif <ul><li>Kelemahan Tes subjektif : </li></ul><ul><li>Sukar dinilai secara tepat </li>...
D.  TEKNIK PENILAIAN 1. Tes Subjektif <ul><li>Tes subjektif dapat digunakann dalam situasi : </li></ul><ul><li>Mengkaji pe...
D.  TEKNIK PENILAIAN 2. Tes  Objektif Tes benar-salah atau tes Ya-Tidak (True-False Test, Yes-No Test) <ul><li>KEKUATAN  K...
D.  TEKNIK PENILAIAN 2. Tes  Objektif Tes Pilihan Ganda (Multiple Choice Test)
D.  TEKNIK PENILAIAN 2. Tes  Objektif   Matching Test
D.  TEKNIK PENILAIAN 2. Tes  Objektif Tes Isian
DAFTAR PUSTAKA <ul><li>Makalah Psikologi Pendidikan , M. Fakhrurrozi & Praesti Sedjo, Universitas Gunadarma, Jakarta </li>...
TERIMA KASIH
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Tugas psikologi.pendidikan

26,795

Published on

tugas Individual, Makalah Psikologi Pendidikan. Dosen: Akhmad Sudrajat, M.PDi

3 Comments
1 Like
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
26,795
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
617
Comments
3
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Tugas psikologi.pendidikan

  1. 1. PSIKOLOGI PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS KUNINGAN 2010 DISUSUN OLEH : UCUP SUPRIYATNA, KELAS I C (LANJUTAN)
  2. 2. BAB I PENDAHULUAN <ul><li>PENGANTAR </li></ul><ul><li>ASPEK-ASPEK PENDIDIKAN </li></ul><ul><li>DEFINISI PENDIDIKAN </li></ul><ul><li>SEJARAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN </li></ul><ul><li>KONTRIBUSI PSIKOLOGI PENDIDIKAN BAGI TEORI & PRAKTEK PENDIDIKAN </li></ul><ul><li>METODE-METODE DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN </li></ul>
  3. 3. A. PENGANTAR <ul><li>Manfaat Psikologi Pendidikan </li></ul><ul><li>Psikologi Pendidikan = Ilmu Terapan </li></ul><ul><li>Long Life Education </li></ul>
  4. 4. B. ASPEK-ASPEK PENDIDIKAN <ul><li>Pendidikan Informal </li></ul><ul><li>Pendidikan Formal </li></ul><ul><li>Pendidikan Non-formal </li></ul>
  5. 5. B. ASPEK-ASPEK PENDIDIKAN 1. Pendidikan Informal “ Proses belajar yang relatif tak disadari yang kemudian menjadi kecapakan dan sikap hidup sehari-hari” Contoh: pendidikan di rumah, tempat ibadah, lapangan permainan, perpustakaan, radio, televisi, dsb.
  6. 6. B. ASPEK-ASPEK PENDIDIKAN 2. Pendidikan Formal “ Pendidikan yang dilaksanakan dengan sengaja dengan tujuan dan bahan ajar yang dirumuskan secara jelas dan diklasifikasikan secara tegas”. Contoh: jenjang pendidikan sekolah (TK, SD, SMP, SMA, PT)
  7. 7. B. ASPEK-ASPEK PENDIDIKAN 3. Pendidikan Non Formal “ Pendidikan yang dilaksanakan dengan sengaja tetapi tidak memenuhi syarat untuk termasuk dalam jenjang pendidikan formal”. Contoh: kursus menjahit, memasak, bahasa, musik, dsb.
  8. 8. C. DEFINISI PENDIDIKAN <ul><li>Definisi Awam </li></ul><ul><li>Definisi Psikologi </li></ul><ul><li>Definisi Uu Sisdiknas No.2/2003 </li></ul>
  9. 9. C. DEFINISI PENDIDIKAN 1. Definisi Awam “ Suatu cara untuk mengembangkan ketrampilan, kebiasaan dan sikap-sikap yang diharapkan dapat membuat seseorang menjadi warga negara yang baik”. “ Tujuannya untuk mengembangkan atau mengubah kognisi, afeksi dan konasi seseorang”.
  10. 10. C. DEFINISI PENDIDIKAN 2. Definisi Psikologi <ul><li>PROSES </li></ul>“ Mencakup segala bentuk aktivitas yang akan memudahkan dalam kehidupan bermasyarakat” <ul><li>HASIL </li></ul>“ Mencakup segala perubahan yang terjadi sebagai konsekuensi atau akibat dari partisipasi individu dalam kegiatan belajar
  11. 11. D. SEJARAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN <ul><li>DEMOCRITUS </li></ul><ul><li>PLATO&ARISTOTELES </li></ul><ul><li>ARISTOTELES </li></ul><ul><li>JOHN AMOS COMENICUS </li></ul><ul><li>ROUSSEAU </li></ul><ul><li>JOHN LOCKE </li></ul><ul><li>JOHN HEINRICH PESTALOZZI </li></ul><ul><li>FRANCIS GALTON </li></ul><ul><li>STANLEY HALL </li></ul><ul><li>WILLIAM JAMES </li></ul><ul><li>CATTEL </li></ul><ul><li>BINET </li></ul><ul><li>ABAD KE-20 </li></ul>
  12. 12. E. KONTRIBUSI PSIKOLOGI PENDIDIKAN BAGI TEORI & PRAKTEK PENDIDIKAN <ul><li>Kontribusi Bagi Proses Pendidikan </li></ul><ul><li>Kontribusi Bagi Peserta Didik </li></ul><ul><li>Kontribusi Bagi Pendidik </li></ul>
  13. 13. E. KONTRIBUSI PSIKOLOGI PENDIDIKAN BAGI TEORI & PRAKTEK PENDIDIKAN 1. Kontribusi Bagi Proses Pendidikan <ul><li>Penggunaan audio visual aids </li></ul><ul><li>Membantu dalam pengelolaan sekolah </li></ul><ul><li>Membantu dalam penyusunan jadwal pelajaran </li></ul><ul><li>Membantu terhadap produksi buku pelajaran </li></ul><ul><li>Memberi dasar bagi penyusunan kurikulum </li></ul>
  14. 14. E. KONTRIBUSI PSIKOLOGI PENDIDIKAN BAGI TEORI & PRAKTEK PENDIDIKAN 2. Kontribusi Bagi Peserta Didik <ul><li>Mengerti hakekat belajar </li></ul><ul><li>Pendidikan yang lebih kooperatif dan demokratif bagi siswa </li></ul><ul><li>Membantu perkembangan kepribadian siswa melalui kegiatan ekstra/intra kurikuler </li></ul>
  15. 15. E. KONTRIBUSI PSIKOLOGI PENDIDIKAN BAGI TEORI & PRAKTEK PENDIDIKAN 3. Kontribusi Bagi Pendidik <ul><li>Pendidik lebih terbuka terhadap perbedaan individu </li></ul><ul><li>Mengetahui metode mengajar yang efektif </li></ul><ul><li>Memahami permasalahan anak didik </li></ul><ul><li>Membantu dalam evaluasi belajar </li></ul><ul><li>Meningkatkan kemampuan meneliti </li></ul><ul><li>Mengarahkan pendidik dalam menangani anak-anak khusus </li></ul>
  16. 16. F. METODE-METODE DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN <ul><li>Introspeksi </li></ul><ul><li>Observasi </li></ul><ul><li>Metode Klinis </li></ul><ul><li>Metode Diferensial </li></ul><ul><li>Metode Ilmiah </li></ul><ul><li>Metode Eksperimen </li></ul>
  17. 17. F. METODE-METODE DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN 1. Instrospeksi Melakukan pengamatan ke dalam diri sendiri/ self observation yaitu dengan melihat keadaan mental pada waktu tertentu.
  18. 18. F. METODE-METODE DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN 2. Observasi Kegiatan melihat sesuatu di luar diri sehingga yang diperoleh merupakan data overt behavior (perilaku yang tampak).
  19. 19. F. METODE-METODE DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN 3. Metode Klinis <ul><li>Digunakan untuk mengumpulkan data secara lebih rinci mengenai perilaku penyesuaian dan kasus-kasus perilaku menyimpang. </li></ul><ul><li>Studi Kasus Klinis </li></ul><ul><li>Studi Kasus Perkembangan </li></ul><ul><li>Longitudinal </li></ul><ul><li>Cross-Sectional </li></ul>
  20. 20. F. METODE-METODE DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN 4. Metode Diferensial Digunakan untuk meneliti perbedaan-perbedaan individual yang terdapat di antara anak didik. Menggunakan berbagai macam teknik pengukuran (contoh: tes, angket,dsb) serta menggunakan statistik untuk menganalisis.
  21. 21. F. METODE-METODE DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN 5. Metode Ilmiah Merupakan prosedur yang sistematik dalam memecahkan permasalahan dan merupakan suatu pendekatan objektif yang terbuka untuk dikritik,dikonfirmasikan, dimodifikasi atau bahkan mungkin ditolak kebenarannya oleh penelitian berikutnya. Digunakan untuk menyelesaikan permasalahan perilaku yang lebih kompleks yang harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
  22. 22. F. METODE-METODE DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN 6. Metode Eksperimen Melakukan pengontrolan secara ketat terhadap faktor-faktor atau variabel-variabel yang diperkirakan dapat mencemari atau mengotori hasil penelitian.
  23. 23. BAB II BAKAT & INTELEGENSI <ul><li>PENDAHULUAN </li></ul><ul><li>INTELEGENSI </li></ul><ul><li>BAKAT </li></ul><ul><li>LINGKUNGAN & HEREDITAS </li></ul><ul><li>KELAS SOSIAL & IMPLIKASINYA DALAM PENDIDIKAN </li></ul><ul><li>DIKOTOMI DESA-KOTA </li></ul><ul><li>JENIS KELAMIN </li></ul>
  24. 24. A. PENDAHULUAN <ul><li>Bakat & intelegensi merupakan kemampuan mental individu </li></ul>
  25. 25. B. INTELEGENSI <ul><li>Sejarah Intelegensi </li></ul><ul><li>Pengertian Intelegensi </li></ul><ul><li>Teori-teori Intelegensi </li></ul><ul><li>Pengukuran Intelegensi </li></ul><ul><li>Kurve Normal Dalam Intelegensi </li></ul>
  26. 26. B. INTELEGENSI 1. Sejarah Intelegensi <ul><li>Wundt(Jerman), Galton(Inggris), Cattel(AS)  tes untuk anak-anak. Hasilnya:ada perbedaan ketepatan dan kecepatan individu dalam mengerjkan tes. </li></ul><ul><li>Pra 1800-an  tes hanya untuk mengukur satu kemampuan </li></ul><ul><li>1880  Ebbinghause menemukan berbagai tes memori </li></ul><ul><li>Alfred Binet & Theopile Simon  membedakan intelegensi anak normal dengan anak lemah pikir  Tes Binet-Simon </li></ul><ul><li>Tes Binet  direvisi 1916 menjadi Tes Stanford Binet </li></ul>
  27. 27. B. INTELEGENSI 2. Pengertian Intelegensi  TERMAN  Suatu kemampuan untuk berpikir berdasarkan atas gagasan yang abstrak.  BINET  Intelegensi mencakup 4 hal yaitu:pemahaman, hasil penemuan, arahan dan pembahasan.  STREN  Kapasitas umum dari individu yang secara sadar dapat menyesuaikan jiwa yang umum dengan masalah dan kondisi hidup baru.  THORNDIKE  Daya kekuatan respon yang baik dari sudut pandang kebenaran dan kenyataan. Tiga aspek intelegensi: ketinggian, keluasan dan kecepatan.
  28. 28. B. INTELEGENSI 3. Teori-teori Intelegensi CHARLES SPEARMAN  Dua faktor intelegensi, yaitu:  Faktor G: mencakup semua kegiatan intelektual dan dimiliki oleh semua orang.  Faktor S: mencakup semua faktor khsusus tertentu yang relevan dengan tugas tertentu.
  29. 29. B. INTELEGENSI 3. Teori-teori Intelegensi THURSTONE  Intelegensi beroperasi pada empat tingkat trial & error yaitu :  Perilaku nyata (trial & error)  Perseptual (trial & error)  Ideational  Konseptual  dijadikan acuan bagi pengukuran intelegensi
  30. 30. B. INTELEGENSI 3. Teori-teori Intelegensi <ul><li>KEMAMPUAN KONSEPTUAL THURSTONE: </li></ul><ul><li>Verbal Comprehention (V) </li></ul><ul><li>Number (N) </li></ul><ul><li>Spatial Relation (S) </li></ul><ul><li>Word Fluency (W) </li></ul><ul><li>Memory (M) </li></ul><ul><li>Reasoning (R) </li></ul>
  31. 31. B. INTELEGENSI 4. Pengukuran Intelegensi <ul><li>KUALITATIF  Perbedaan intelegensi disebabkan karena kualitas individu yang berbeda. </li></ul><ul><li>KUANTITATIF  Perbedaan intelegensi disebabkan karena terdapat perbedaan kuantitas individu. </li></ul>
  32. 32. B. INTELEGENSI 4. Pengukuran Intelegensi ALFRED BINET  TES STANFORD BINET IQ = MA CA X 100 IQ = Intelligence Quotient MA = Mental Age CA = Chronological Age
  33. 33. B. INTELEGENSI 4. Pengukuran Intelegensi Klasifikasi IQ Menurut Stanford-Binet
  34. 34. B. INTELEGENSI 4. Pengukuran Intelegensi DAVID WECHSLER  Wechsler-Bellevue Intellegence Scale (1939)  Wechsler Intellegence Scale for Children (1949)  Wechsler Adult Intellegence Scale (1955)
  35. 35. B. INTELEGENSI 4. Pengukuran Intelegensi Klasifikasi IQ Menurut Wechsler
  36. 36. B. INTELEGENSI 5. Kurve Normal Dalam Intelegensi
  37. 37. C. BAKAT <ul><li>Sejarah Bakat </li></ul><ul><li>Pengertian Bakat </li></ul><ul><li>Bakat & Intelegensi </li></ul><ul><li>Pengukuran Bakat </li></ul>
  38. 38. C. Bakat 1. Sejarah Bakat Pendidikan = Bakat Ideal Aplikasi Bakat pendidikan & lapangan kerja Thorndike Tiga jenis intelegensi :  Abstrak  Mekanis  Sosial Spearman Teori faktor G & faktor S dalam intelegensi
  39. 39. C. Bakat 2. Pengertian Bakat Crow dan Crow : Bakat merupakan kualitas yang dimiliki oleh semua orang dalam tingkat yang beragam William B. Michael : bakat adalah kapasitas seseorang dalam melakukan tugas, yang dedikit sekali dipengaruhi atau tergantung dari latihan Brigham : Bakat kondisi, kualitas, atau sekumpulan kualitas yang dititik beratkan pada apa yang dapat dilakukan individu (segi performance /kinerja) setelah individu mendapat latihan .   
  40. 40. C. Bakat 2. Pengertian Bakat Woodworth dan Marquis : bakat adalah prestasi yang dapat diramalkan dan dapat diukur melalui tes khusus. Bakat merupakan kemampuan yang memiliki tiga arti, yaitu: 1. Achievement Kemampuan aktual 2. Capacity Kemampuan potensial 3. Aptitude Kualitas  
  41. 41. C. Bakat 2. Pengertian Bakat <ul><li>Guilford : bakat adalah kemampuan kinerja yang mencakup </li></ul><ul><li>dimensi perseptual, dimensi psikomotor, dan dimensi intelektual </li></ul><ul><li>Suryabrata : Analisis mengenai bakat selalu merupakan analisis </li></ul><ul><li>mengenai tingkah laku. Tingkah laku mengandung tiga aspek : </li></ul><ul><li>aspek tindakan ( performance/act ) </li></ul><ul><li>aspek sebab atau akibatnya ( a person causes a result ) </li></ul><ul><li>aspek ekspresif </li></ul>  Aspek kedua banyak dibahas terutama bila dikaitkan dengan bakat
  42. 42. C. Bakat 3. Bakat dan Intelegensi <ul><li>Binet dan Weschler menekankan pada berfungsinyaseluruh kemampuan mental individu. </li></ul><ul><li>Hasil tes intelegensi bisa mengukur bakat. </li></ul><ul><li>Pengukuran intelegensi bersifat meramalkan tentang keberhasilan seseorang dalam menyelesaikan beberapa tugas pekerjaan yang memerlukan kemampuan mental. </li></ul><ul><li>Pengukuran bakat bertujuan menunjukkan kemampuan yang berhasil dalam bidang khusus. </li></ul>
  43. 43. C. Bakat 4. Pengukuran Bakat Prosedur pengukuran bakat (Suryabrata, 1995) : a. Analisis jabatan/lapangan b. Deskripsi jabatan/lapangan studi c. Menemukan persyaratan yang diperlukan d. Menyusun alat pengungkap bakat, biasanya berbentuk tes
  44. 44. D. LINGKUNGAN & HEREDITAS <ul><li>Studi terhadap keluarga </li></ul><ul><li>Studi terhadap anak kembar </li></ul>
  45. 45. D. Lingkungan & Hereditas 1. Studi terhadap Keluarga <ul><li>Galton orang tua IQ tinggi = IQ anak tinggi </li></ul><ul><li>Asumsi dulu: IQ dipengaruhi faktor keturunan </li></ul><ul><li>Asumsi sekarang: IQ kemungkinan dipengaruhi faktor lingkungan </li></ul>
  46. 46. D. Lingkungan & Hereditas 2. Studi terhadap Anak Kembar <ul><li>Penelitian Hardy dan Heyes, 1988: </li></ul><ul><li>Kembar monozigotik dibesarkan bersama: </li></ul><ul><li> IQ hampir sama faktor nature berperan besar </li></ul><ul><li> IQ yang berbeda jauh faktor nuture berperan besar </li></ul><ul><li>Kembar monozigotik dibesarkan, terpisah </li></ul><ul><li> IQ hampir sama faktor nature berperan kecil </li></ul><ul><li> IQ yang berbeda jauh faktor nuture berperan kecil </li></ul>
  47. 47. E. KELAS SOSIAL <ul><li>Havighurst  kelas sosial & intelegensi, laki-laki & perempuan </li></ul><ul><li>Makin tinggi kelas sosial, makin tinggi tingkat intelegensi </li></ul><ul><li>Tidak ada perbedaan laki-laki & perempuan </li></ul>
  48. 48. F. DIKOTOMI DESA-KOTA <ul><li>Crow & Crow (1989)  intelegensi anak kota  anak desa </li></ul><ul><li>Colleman, dkk  prestasi anak metropolitan  anak non metropolitan </li></ul>
  49. 49. G. JENIS KELAMIN <ul><li>Intelegensi laki-laki = perempuan (Cage & Berliner, 1979;Crow & Crow, 1989) </li></ul>
  50. 50. G. JENIS KELAMIN <ul><li>Perbedaan laki-laki & perempuan (Cage & Berliner, 1979): </li></ul><ul><li>Kemampuan verbal (p  l) </li></ul><ul><li>Kemampuan matematika (l  p) </li></ul><ul><li>Kemampuan spasial (l  p) </li></ul><ul><li>Problem solving (l  p) </li></ul><ul><li>Orientasi prestasi </li></ul>
  51. 51. BAB III KEMAMPUAN KHUSUS INDIVIDU & ANTISIPASI PENDIDIKAN <ul><li>PENDAHULUAN </li></ul><ul><li>PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT </li></ul><ul><li>PENDIDIKAN BAGI SLOW LEARNER </li></ul><ul><li>PENDIDIKAN ANAK KHUSUS </li></ul>
  52. 52. A. PENDAHULUAN <ul><li>Aplikasi konsep-konsep bakat & intelegensi pada lapangan pendidikan </li></ul><ul><li>Pendidikan harus sesuai dengan kondisi peserta didik </li></ul>
  53. 53. B. PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT <ul><li>Kondisi di manca negara(AS, Jepang, Inggris, Korea, Taiwan) dan di Indonesia </li></ul><ul><li>Anak berbakat </li></ul><ul><li>Identifikasi anak berbakat </li></ul><ul><li>Model identifikasi </li></ul><ul><li>Layanan pendidikan anak berbakat </li></ul>
  54. 54. B. PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT 1. Di Mancanegara dan Indonesia <ul><li>1958; Amerika mencoba memikirkan pendidikan untuk menjaring anak berbakat. Aplikasi teori psikologi (teori belajar dan konsep kognitif) dan pengkajian teknologi merupakan hal yang berpengaruh terhadap masalah bakat dan aktualisasi diri di AS. </li></ul><ul><li>Jepang menggunakan “Sistem Nasional Pendidikan Universal” untuk mengidentifikasi anak berbakat. </li></ul><ul><li>Inggris tidak mengenal pengelompokkan Gifted & Talented. Hal itu akan membuat anak di luar kelompok itu merasa inferior secara intelektual. Identifikasi anak berbakat merupakan tugas guru </li></ul>
  55. 55. B. PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT 1. Di Mancanegara dan Indonesia <ul><li>Korea. Pengembangan pendidikan anak berbakat melalui dua tingkat: </li></ul><ul><li>a. Tingkat Nasional </li></ul><ul><li>b. Tingkat Swasta </li></ul><ul><li>Untuk penjaringan anak berbakat dengan: </li></ul><ul><li>a. Akselerasi </li></ul><ul><li>b. Undang-undang (1996) yang mengatur beragam ukuran untuk menjamin adanya suatu bentuk belajar mengajar yang berbeda-beda yang diarahkan pada diversifikasi, kebutuhan individual pengajar dan untuk memaksimalkan pengembangan potensi individu. </li></ul>
  56. 56. B. PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT 1. Di Mancanegara dan Indonesia <ul><li>Taiwan. Faktor dalam pengembangan pendidikan di taiwan: kebutuhan nasional akan pendidikan bagi Gifted & Talented, kebutuhan akan pengembangan individual dan kebutuhan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. </li></ul><ul><li>Taiwan SEL (Special Education Laws) 1984, mengartikan Gifted & Talented meliputi individu yang memiliki satu atau lebih kualitas di bawah ini: </li></ul><ul><li>a. Gifted dalam kemampuan umum </li></ul><ul><li>b. Gifted dalam bakat akademik </li></ul><ul><li>c. Gifted dalam talent khusus </li></ul>
  57. 57. B. PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT 1. Di Mancanegara dan Indonesia <ul><li>Indonesia. </li></ul><ul><li>1974, beasiswa bagi anak unggulan yang tidak mampu </li></ul><ul><li>1980, pilot project untuk identifikasi dan seleksi anak berbakat. Prosesnya: </li></ul><ul><li>1. Penjaringan umum 20-25 % anak berbakat dari populasi sekolah. Berdasarkan penilaian guru, nilai rapor dan tes IQ. </li></ul><ul><li>2. Proses seleksi dengan baterai tes IQ, tes kreativitas, skala perilaku siswa dan tes hasil belajar. </li></ul><ul><li>1989, UU No.2/1989 (Sisdiknas) ps 8:”Warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh perhatian khusus. </li></ul>
  58. 58. B. PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT 2. Anak Berbakat <ul><li>Keberbakatan: beberapa anak berbakat (child giftted) yang memilik kinerja dengan tingkat potensi aktivitas manusia yang bernilai dan secara konsisten luar biasa. (Paul Witty) </li></ul><ul><li>Gifted (berbakat): 1.memiliki suatu derajat kemampuan intelektual yang tinggi, IQ > 140 atau lebih; 2.memiliki satu bakat non-intelektual, misalnya musik atau olahraga sampai pada tingkat tinggi sekali. </li></ul><ul><li>Talent: suatu bentuk kemampuan khusus, seperti kemungkinan musikal yang diwarisi orang tua dan memungkinkan seseorang memperoleh keuntungan dari hasil latihannya sampai tingkat yang tinggi (bakat) (sumber:Chaplin, 1995). </li></ul>
  59. 59. B. PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT 3. Identifikasi Anak Berbakat <ul><li>Penjaringan Anak Berbakat. </li></ul><ul><li>A. Didasarkan pada anggapan bahwa dalam skala makro terdapat 1 % dari seluruh populasi adalah anak berbakat unggul (Ward dalam Semiawan, 1994). </li></ul><ul><li>B. Pada populasi anak berbakat terdapat 10 % dengan IQ = 120-137 (moderately gifted) </li></ul><ul><li>C. Sampel identifikasi awal = 15 - 25 % (Penelitian Balitbang dalam Semiawan, 1994) </li></ul>
  60. 60. B. PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT 3. Identifikasi Anak Berbakat <ul><li>Penyaringan Anak Berbakat </li></ul><ul><li>Tujuan: memberikan dasar terhadap penilaian pada kemampuan, sifat, sikap atau perilaku seseorang. Penyaringan berguna bagi peramalan tentang kinerja tertentu pada masa yang akan datang. </li></ul><ul><li>Identifikasi anak berbakat harus meliputi semua aspek secara komprehensif yaitu IQ, kreativitas, motivasi dan kepemimpinan. Berbagai kemampuan tersebut merupakan manifestasi dari berbagai bakat sebagai kapasitas mental (Semiawan, 1994) </li></ul>
  61. 61. B. PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT 4. Model Identifikasi Renzulli IQ > Rata-rata Task comitment Kreativitas THREE-RINGS INTERACTION
  62. 62. B. PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT 4. Model Identifikasi Triandis Sekolah Teman Sebaya Keluarga Intelegensi Kreativitas Keuletan Anak cerdas tinggi
  63. 63. B. PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT 5. Layanan Pend.Anak Berbakat <ul><li>Menurut Ward, Kitano & Kirby (dalam Semiawan, 1994): </li></ul><ul><li>Pendidikan anak berbakat seyogyanya berbeda dengan menekankan pada aspek intelektual. </li></ul><ul><li>Diwarnai kecepatan dan tingkat kompleksitas sesuai kemampuan anak berbakat di atas rata-rata. </li></ul><ul><li>Penekanan pada perkembangan kreatif dan proses berpikir tinggi. </li></ul><ul><li>Penekanan pada orientasi penemuan dan pendekatan induktif. </li></ul><ul><li>Memerlukan pertimbangan khsusus dalam pendidikan. </li></ul><ul><li>Kurikulum berdiferensiasi (Semiawan, 1994) </li></ul>
  64. 64. C. MENTAL RETARDATION <ul><li>Karakteristik MR </li></ul><ul><li>Kategori MR </li></ul><ul><li>Faktor-faktor penyebab MR </li></ul>
  65. 65. C. MENTAL RETARDATION 1. Karakteristik MR <ul><li>Menurut PPDGJ III: </li></ul><ul><li>a. IQ = 75 ke bawah </li></ul><ul><li>b. Kesulitan dalam memenuhi tuntutan sosial </li></ul><ul><li>c. Adaptive behavior buruk </li></ul><ul><li>MR merupakan fenomena sosiokultural yang kompleks karena melibatkan hal-hal yang kompleks: </li></ul><ul><li>hubungan antar keluarga </li></ul><ul><li>menjadi beban semua orang </li></ul><ul><li>hambatan bagi pembangunan </li></ul>
  66. 66. C. MENTAL RETARDATION 2. Kategori MR 1). Ditinjau dari skala IQ a. Mild MR - Stanford Binet : 52 - 67 - Wechsler : 55 - 69 b. Moderate MR - Stanford Binet : 36 - 51 - Wechsler : 40 - 54
  67. 67. C. MENTAL RETARDATION 2. Kategori MR c. Severe MR - Stanford Binet : 20 - 35 - Wechsler : 25 - 39 d. Profound MR - Stanford Binet : <= 19 - Wechsler : <= 24
  68. 68. C. MENTAL RETARDATION 2. Kategori MR 2). Ditinjau dari istilah dalam psikologi dan kesehatan: a. Debil : IQ 50 - 75 b. Imbicil : IQ 25 - 49 c. Idiot : IQ < 25 3). Ditinjau dari istilah dalam pendidikan: a. Dull : IQ 75 - 85 b. Educable : IQ 50 - 74 c. Trainable : IQ 25 - 49 d. Hanya mampu rawat : IQ < 25
  69. 69. C. MENTAL RETARDATION 3. Faktor Penyebab MR <ul><li>Sebab Biologis </li></ul><ul><li>A). Pranatal: infeksi, detoksifikasi, virus rubella, oabt, AIDS, herphes simplex, siphilis, hypoxia, radiasi, kelainan metabolisme. </li></ul><ul><li>B). Masa pranatal dengan penyebab tidak jelas: microcephallus, hydrocephallus, meningocelle, kelainan kromosom, BB < minimum, bayi dari ibu psikosis </li></ul><ul><li>Sebab Psikologi dan sosial </li></ul><ul><li>Disebabkan karena dibesarkan dalam lingkungan primitif (masa pekanya terlewati tanpa adanya stimulasi) </li></ul>
  70. 70. D. EXCEPTIONAL PEOPLE <ul><li>Pengertian </li></ul><ul><li>Kategori individu khusus </li></ul>
  71. 71. D. EXCEPTIONAL PEOPLE 1. Pengertian <ul><li>Individu yang secara jelas/signifikan dan sifatnya menetap berbeda dari yang normal dan mengalami hambatan untuk mencapai suskes dalam aktivitas sosial, personal dan pendidikan yang sangat dasar (Harring, 1982). </li></ul><ul><li>Beberapa istilah terkait: </li></ul><ul><li>Disabled </li></ul><ul><li>Impaired </li></ul><ul><li>Disordered </li></ul><ul><li>Handicaped </li></ul><ul><li>Exceptional </li></ul>
  72. 72. D. EXCEPTIONAL PEOPLE 2. Kategori Exceptional People <ul><li>Kategori Harring (1982): </li></ul><ul><li>Sensory Handicapped </li></ul><ul><li>Mental Deviation </li></ul><ul><li>Communication Disorder </li></ul><ul><li>Learning Disabilities </li></ul><ul><li>Behavioral Disorders </li></ul><ul><li>Physical Handicaps </li></ul>
  73. 73. D. EXCEPTIONAL PEOPLE 2. Kategori Exceptional People Kategori Indonesia: a. Tuna Netra (SLB A) b. Tuna Wicara & Tuna Rungu (SLB B) c. Tuna Grahita (SLB C) d. Tuna Daksa (SLB D) e. Tuna Laras (SLB E) f. Berbakat/gifted (SLB F)
  74. 74. BAB IV PERENCANAAN KEGIATAN BELAJAR-MENGAJAR <ul><li>PENDAHULUAN </li></ul><ul><li>TUJUAN INSTRUKSIONAL </li></ul><ul><li>MODEL INSTRUKSIONAL </li></ul><ul><li>KURIKULUM </li></ul><ul><li>MODEL PEMILIHAN TUJUAN </li></ul>
  75. 75. A. PENDAHULUAN <ul><li>“ Apa yang akan saya lakukan?” </li></ul><ul><li>“ Perubahan apa yang saya inginkan dari siswa-siswa saya?” </li></ul>
  76. 76. B. TUJUAN INSTRUKSIONAL <ul><li>Guru yang efektif </li></ul><ul><li>Model tujuan instruksional yang bertujuan </li></ul><ul><li>Keuntungan model tujuan instruksional yang bertujuan </li></ul>
  77. 77. C. MODEL INSTRUKSIONAL Penentuan tujuan-tujuan spesifik Penilaian Pendahuluan Pengajaran Evaluasi Model Instruksional yang Beracuan Tujuan
  78. 78. C. MODEL INSTRUKSIONAL Penentuan tujuan-tujuan spesifik Penilaian Pendahuluan Pengajaran Evaluasi Jika tujuan tidak tercapai, perbaiki Jika tujuan tercapai, kembangkan Langkah-langkah yang ditentukan oleh evaluasi hasil
  79. 79. D. KURIKULUM <ul><li>Definisi kurikulum </li></ul><ul><li>Model pemilihan tujuan (Tyler) </li></ul>
  80. 80. D. KURIKULUM 1. Definisi Kurikulum Kurikulum ialah keseluruhan hasil belajar yang direncanakan dan di bawah tanggung jawab sekolah.
  81. 81. D. KURIKULUM 2. Model Pemilihan Tujuan (Ralph Tyler) <ul><li>Komponen-komponen dalam kurikulum (Model Tyler): </li></ul><ul><li>Siswa </li></ul><ul><li>Masyarakat </li></ul><ul><li>Bidang studi </li></ul><ul><li>Ketiga kategori ini saling berhubungan dan saling melengkapi. </li></ul>
  82. 82. BAB V PROSES BELAJAR <ul><li>KOMUNIKASI </li></ul><ul><li>PEMBELAJARAN AKTIF </li></ul>
  83. 83. A. KOMUNIKASI <ul><li>Pengertian komunikasi </li></ul><ul><li>Unsur-unsur dalam komunikasi </li></ul><ul><li>Model proses persuasi </li></ul><ul><li>Komunikasi dalam proses belajar-mengajar </li></ul>
  84. 84. A. KOMUNIKASI 1. Pengertian Komunikasi Berasal dari bahasa Latin “ communicere ” = “memberitahukan”, “berpartisipasi”, “menjadi milik bersama” Susanto (1973): komunikasi berarti memberitahukan (dan menyebarkan) untuk menggugah partisipasi agar hal-hal yang diberitahukan itu menjadi milik bersama ( commoness ). Hovland, Janis, Kelly: komunikasi merupakan suatu proses dimana individu (komuniaktor)mentransmisikan stimulus (yang biasanya verbal) untuk mengubah perilaku individu lainnya.
  85. 85. A. KOMUNIKASI 1. Pengertian Komunikasi <ul><li>Komunikasi primer - sekunder </li></ul><ul><li>Komunikasi langsung - tidak langsung </li></ul><ul><li>Komunikasi dua arah </li></ul>
  86. 86. A. KOMUNIKASI 2. Unsur-unsur dalam Komunikasi <ul><li>Komunikator (pemberi informasi, berita atau pesan) dan </li></ul><ul><li>Komunikan / receiver (penerima informasi, berita atau pesan). </li></ul><ul><li>Informasi, berita dan pesan. </li></ul><ul><li>Media, alat, saluran, metode/cara penyampaian informasi bertia/pesan </li></ul>
  87. 87. A. KOMUNIKASI 3. Model Proses Persuasi Pesan-pesan Persuasi Alternatif proses psikologis laten Pembahasan yang terjadi dalam wujud tindakan Model Psikodinamika
  88. 88. A. KOMUNIKASI 3. Model Proses Persuasi Pesan yang persuasif Batasan(Batasan kembali proses sosbud kelompok) Membentuk batasan(definisi untuk perilaku sos.bagi anggota kelompok Menghasilkan perubahan perilaku Model Sosial Budaya
  89. 89. A. KOMUNIKASI 4. Komunikasi Dalam Proses Belajar-Mengajar <ul><li>Tiga fungsi sosial pendidik dalam pendidikan: </li></ul><ul><li>Fungsi sebagai komunikator </li></ul><ul><li>Fungsi sebagai inovator </li></ul><ul><li>Fungsi sebagai emansipator </li></ul>
  90. 90. A. KOMUNIKASI 4. Komunikasi Dalam Proses Belajar-Mengajar <ul><li>Tiga tipe kemampuan seseorang memperoleh </li></ul><ul><li>atau menerima tanggapan : </li></ul><ul><li>Tipe Visual </li></ul><ul><li>Tipe Auditif </li></ul><ul><li>Tipe Motoris </li></ul>
  91. 91. A. KOMUNIKASI 4. Komunikasi Dalam Proses Belajar-Mengajar <ul><li>Metode untuk memperoleh umpan balik dalam komunikasi </li></ul><ul><li>proses belajar dan mengajar : </li></ul><ul><li>Metode tanya jawab </li></ul><ul><li>Metode diskusi dan seminar </li></ul><ul><li>Metode tugas </li></ul><ul><li>Simulasi atau permainan </li></ul>
  92. 92. B. PEMBELAJARAN AKTIF <ul><li>Latar belakang& pengertian </li></ul><ul><li>Untuk apa </li></ul><ul><li>Mengapa </li></ul><ul><li>Bagaimana </li></ul><ul><li>Penilaian pembelajaran aktif yang bermakna </li></ul>
  93. 93. B. PEMBELAJARAN AKTIF 1. Latar Belakang & Pengertian Upaya untuk meningkatkan layanan pendidikan : Secara Kuantitatif Secara Kualitatif Pendidikan yang semakin merata. Peningkatan mutu proses belajar mengajar
  94. 94. B. PEMBELAJARAN AKTIF 1. Latar Belakang & Pengertian <ul><li>CBSA (Raka Joni, 1993): </li></ul><ul><li>Melihat kegiatan belajar mengajar sebagai pemberian makna secara konstruktivistik terhadap pengalaman bagi peserta didik. </li></ul><ul><li>Pengendalian kegiatan belajar harus meletakkan dasar bagi pembentukan prakarsa dan tanggungjawab peserta didik ke arah belajar sepanjang hayat. </li></ul>
  95. 95. B. PEMBELAJARAN AKTIF 2. Untuk Apa Tuntutan masa depan kreatif ekspresif memiliki prakasa tanggung jawab
  96. 96. B. PEMBELAJARAN AKTIF 3. Mengapa <ul><li>Memberikan umpan bagaiman peserta didik belajar membentuk sikap yang diperlukan, mengelola perolehannya untuk menjadi bekal dan dasar bagi pengalaman belajar berikutnya, atas prakarsa sendiri. </li></ul><ul><li>Memberikan sumbangan terhadap perkembangan mental peserta didik. </li></ul>
  97. 97. B. PEMBELAJARAN AKTIF 4. Bagaimana <ul><li>Yang perlu diperhatikan: </li></ul><ul><li>Persiapan pembelajaran aktif yang bermakna dan kondusif </li></ul><ul><li>Mengandung unsur pengamatan terhadap objek yang dipelajari dengan memperhatikan keseimbangan otak kanan dan kiri. </li></ul><ul><li>Interpretasi. Mencatat ciri khas dari suatu objek tahap perkembangan atau kejadian untuk menghubungi pengamatan yang satu dengan yang lain. </li></ul>
  98. 98. B. PEMBELAJARAN AKTIF 4. Bagaimana <ul><li>Ramalan.Perkiraan secara anlogi atau dengan menggunakan konsep yang telah dipelajari dalam situasi baru maupun menggunakan pengalaman baru. </li></ul><ul><li>Eksperimen dan atau penerapan konsep/teori </li></ul>
  99. 99. B. PEMBELAJARAN AKTIF 4. Penilaian Pembelajaran Aktif yang Bermakna <ul><li>Yang perlu diperhatikan: </li></ul><ul><li>Peserta didik harus menyadari kriteria apa yang akan di capai dan penting untuknya. </li></ul><ul><li>Tujuan apa yang akan dicapai dan sejauh mana ia telah mencapai tujuan dalam sasaran yang berkesinambungan. </li></ul>
  100. 100. BAB VI EVALUASI BELAJAR <ul><li>PENDAHULUAN </li></ul><ul><li>FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN </li></ul><ul><li>ANALISIS TAKSONOMIS </li></ul><ul><li>TEKNIK PENILAIAN </li></ul>
  101. 101. A. PENDAHULUAN <ul><li>Usaha melakukan evaluasi terhadap hasil belajar siswa </li></ul><ul><li>Penilaian dan prediksi terhadap penguasaan materi pada siswa </li></ul>
  102. 102. A. PENDAHULUAN 1. Usaha Melakukan Evaluasi Terhadap Hasil Belajar Siswa <ul><li>Cara-cara yang dilakukan untuk menilai hasil belajar siswa : </li></ul><ul><li>Ujian/ testing </li></ul><ul><li>Melakukan tugas tertentu </li></ul><ul><li>Membuat karangan </li></ul><ul><li>mereproduksi materi yang telah diajarkan </li></ul><ul><li>wawancara, dan sebagainya </li></ul>
  103. 103. A. PENDAHULUAN 2. Penilaian Dan Prediksi Terhadap Penguasaan Materi Pada Siswa <ul><li>Penilai berusaha menentukan atau memperkirakan sejauh mana </li></ul><ul><li>peserta didik mengalami kemajuan ke arah tujuan (pendidikan) </li></ul><ul><li>yang harus dicapai dan/atau untuk menentukan apakah peserta </li></ul><ul><li>didik telah memenuhi syarat dalam suatu kategori tertentu.] </li></ul><ul><li>Penilaian hasil-hasil pendidikan biasanya disebut rapor] </li></ul><ul><li>Bentuk-bentuk rapor] : </li></ul><ul><li> Mempergunakan lambang A, B, C, D, E </li></ul><ul><li> Skala 11 tingkat misl: mulai 0-10 atau 0 sampai 100 </li></ul>
  104. 104. B. FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN <ul><li>Dasar psikologis </li></ul><ul><li>Dasar didaktis </li></ul><ul><li>Dasar administratif </li></ul>
  105. 105. B. FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN 1. Dasar Psikologis Evaluasi pendidikan berguna sebagai bahan orientasi untuk menghadapi usaha-usaha yang lebih jauh a . Di pandang dari segi anak didik b. Di pandang dari segi pendidik
  106. 106. B. FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN 1. Dasar Psikologis a. Di pandang dari segi anak didik <ul><li>Anak-anak belum dapat “mandiri pribadi” </li></ul>Butuh pendapat orang dewasa dalam menentukan sikap ,tingkah lakunya dan orientasi dalam suatu sikap tertentu <ul><li>Anak membutuhkan status diantara teman-temannya </li></ul>
  107. 107. B. FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN 1. Dasar Psikologis b. Di pandang dari segi pendidik Orang membutuhkan untuk mengetahui sejaumana usahanya telah mencapai tujuan sebagai pedoman dan dasar untuk menentukan langkah-langkah lebih lanjut Guru butuh untuk mengetahui hasil usahanya sebagai pedoman dalam menjalankan usaha-usaha lebih lanjut.
  108. 108. B. FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN 2. Dasar Didaktis a. Ditinjau dari segi anak didik Pengetahuan tentang kemajuan-kemajuan yang telah dicapai umumnya berpengaruh baik terhadap pekerjaan-pekerjaan selanjutnya
  109. 109. B. FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN 2. Dasar Didaktis b. Ditinjau dari segi pendidik <ul><li>Guru dapat mengetahui keberhasilan dan kegagalan </li></ul><ul><li>Membantu menilai readiness (kesiapan) anak dalam belajar </li></ul><ul><li>Mengetahui status anak dalam kelasnya </li></ul><ul><li>Membantu menempatkan murid dalam suatu kelompok yang tepati </li></ul><ul><li>Membantu memperbaiki metode belajar dan mengajar </li></ul><ul><li>membantu dalam memberikan pelajaran tambahan </li></ul>
  110. 110. B. FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN 2. Dasar Administratif Memberikan data untuk menentukan status anak didik dalam kelasnya Memberikan ihtisar hasil usaha yang telah dilakukan oleh suatu lembaga Merupakan inti laporan tentang kemajuan murid-murid kepada orangtua, atau pejabat pemerintah , guru-guru dan murid.   
  111. 111. C. ANALISIS TAKSONOMIS <ul><li>Segi kognitif ( Tokoh : Bloom) </li></ul><ul><li>Segi afektif (Tokoh : Krathwohl) </li></ul><ul><li>Segi psikomotoris (Tokoh : E.J. Simpson) </li></ul>
  112. 112. C. ANALISIS TAKSONOMIS 1. SEGI KOGNITIF (Bloom) <ul><li>Memperhatikan </li></ul><ul><li>Merespon </li></ul><ul><li>Menghayati Nilai </li></ul><ul><li>Mengorganisasikan </li></ul><ul><li>Mempribadikan nilai atau seperangkat nilai </li></ul>
  113. 113. C. ANALISIS TAKSONOMIS 2.. SEGI AFEKTIF (Krathwohl) <ul><li>Memperhatikan </li></ul><ul><li>Merespon </li></ul><ul><li>Menghayati nilai </li></ul><ul><li>Mengorganisasikan </li></ul><ul><li>Memperhatikan nilai atau seperangkat nilai </li></ul>
  114. 114. C. ANALISIS TAKSONOMIS 3. SEGI PSIKOMOTORIS (E.J. Simpson) <ul><li>Persepsi </li></ul><ul><li>Set </li></ul><ul><li>Respon Terbimbing </li></ul><ul><li>Respon Mekanistis </li></ul><ul><li>Respon Kompleks </li></ul>
  115. 115. D. TEKNIK PENILAIAN <ul><li>Tes subjektif </li></ul><ul><li>Tes objektif </li></ul>
  116. 116. D. TEKNIK PENILAIAN 1. Tes Subjektif <ul><li>Kelemahan Tes subjektif : </li></ul><ul><li>Sukar dinilai secara tepat </li></ul><ul><li>Sukar untuk komprehensif </li></ul><ul><li>Kecenderungan pendidik memberikan nilai seperti biasa </li></ul><ul><li>reliabilitas, validitas, dan objektivitas rendah </li></ul>
  117. 117. D. TEKNIK PENILAIAN 1. Tes Subjektif <ul><li>Tes subjektif dapat digunakann dalam situasi : </li></ul><ul><li>Mengkaji pendapat siswa tentang suatu persoalan </li></ul><ul><li>Mengetahui hasil yang diperoleh anak didik setelah mengadakan suatu kegiatan </li></ul><ul><li>Mengetahui kemampuan mengarang </li></ul><ul><li>menyelidiki kecakapan pemecahan masalah </li></ul>
  118. 118. D. TEKNIK PENILAIAN 2. Tes Objektif Tes benar-salah atau tes Ya-Tidak (True-False Test, Yes-No Test) <ul><li>KEKUATAN KELEMAHAN </li></ul><ul><li>Mudah disusun  Mendorong untuk menerka, </li></ul><ul><li>Komprehensif dapat mengerjakan tanpa belajar </li></ul><ul><li>Dapat dinilai cepat  Reliabilitas rendah </li></ul><ul><li>praktis  Menimbulkan kekeburan, dan </li></ul><ul><li> objktif sukar dicari item yang </li></ul><ul><li> benar-benar salah </li></ul>
  119. 119. D. TEKNIK PENILAIAN 2. Tes Objektif Tes Pilihan Ganda (Multiple Choice Test)
  120. 120. D. TEKNIK PENILAIAN 2. Tes Objektif Matching Test
  121. 121. D. TEKNIK PENILAIAN 2. Tes Objektif Tes Isian
  122. 122. DAFTAR PUSTAKA <ul><li>Makalah Psikologi Pendidikan , M. Fakhrurrozi & Praesti Sedjo, Universitas Gunadarma, Jakarta </li></ul>
  123. 123. TERIMA KASIH
  1. A particular slide catching your eye?

    Clipping is a handy way to collect important slides you want to go back to later.

×