Makalah Terapan Teori Motivasi Humanistik Abraham Maslow

10,602 views
10,353 views

Published on

Makalah Terapan Teori belajar dan Pembelajaran

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
10,602
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
168
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Makalah Terapan Teori Motivasi Humanistik Abraham Maslow

  1. 1. MAKALAH TERAPAN Penerapan Teori Belajar Humanistik Abraham Maslow tentang MotivasidalamMeningkatkan Motivasi Belajar terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam pada Siswa Sekolah Dasar Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Teori Belajar dan Pembelajaran Dosen Pengampu: Imron Rosyidi, M.Th, M.Ed OLEH: SETYO DWI PUTRANTO (12110014) JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG TAHUN 2013
  2. 2. Penerapan Teori Belajar Humanistik Abraham Maslow tentang Motivasi dalam Meningkatkan Motivasi Belajar terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam pada Siswa Sekolah Dasar Oleh: Setyo Dwi Putranto (12110014) A. Merasakan Masalah Seorang pendidik atau guru, memiliki peranan yang besar dalam mewujudkan keberhasilan proses belajar di kelas. Diversitas siswa yang ada di kelas seharusnya mampu dikelola dengan dengan baik oleh guru. Selain mengelola kelas, seorang guru juga diharapkan mampu menjadi fasilitator bagi siswanya. Dimana guru dituntut untuk mampu memberikan pelayanan kepada kebutuhan yang berkaitan dengan proses belajar para siswa. Guru juga diharapkan menjadi motivator bagi para siswa dalam rangka mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki sehingga siswa dapat mengaktualisasikan dirinya semaksimal mungkin. Realitas yang terjadi, banyak sekali guru tidak mampu memahami keadaan peserta didiknya. Guru kurang tanggap terhadap permasalahan yang sedang dialami siswa. Sikap guru yang cenderung memaksakan kehendak pribadi dalam menyampaikan pelajaran serta tidak menghiraukan kebutuhan siswa akan berdampak pada tidak tercapainya tujuan belajar yang diinginkan. Beberapa guru justru tidak memeberikan kenyamanan pada peserta didik di kelas. Guru menjadi fasilitator yang buruk dan tidak memberikan sesuatu yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Kebanyakan guru juga tidak mampu menjadi motivator yang baik sehingga siswa tidak dapat mengaktualisasi dirinya. B. Eksplorasi dan Analisis Masalah Maslow mengembangkan teori tentang bagaimana semua motivasi saling berkaitan. Ia menyebut teorinya sebagai “hierarki kebutuhan”. Kebutuhan ini mempunyai tingkat yang berbeda-beda. Ketika satu tingkat kebutuhan terpenuhi atau mendominasi, orang tidak lagi mendapat motivasi dari kebutuhan tersebut. Selanjutnya orang akan berusaha memenuhi kebutuhan tingkat berikutnya. Maslow membagi tingkat kebutuhan manusia menjadi sebagai berikut: (1) Kebutuhan fisiologis: kebutuhan yang dasariah, misalnya rasa lapar, haus, tempat berteduh, seks, da lainnya. (2)Kebutuhan akan rasa aman: mencakup antara lain keselamatan dan perlindungan terhadap kerugian fisik dan emosional. (3)Kebutuhan sosial: mencakup kebutuhan akan rasa memiliki dan dimiliki, kasih sayang, diterima-baik, dan persahabatan. (4)Kebutuhan akan penghargaan: mencakup faktor penghormatan internal seperti harga diri, otonomi, dan prestasi; serta faktor eksternal seperti status, pengakuan, dan perhatian. (5)Kebutuhan akan aktualisasi diri: mencakup hasrat untuk makin menjadi diri sepenuh kemampuannya sendiri, menjadi apa saja menurut kemampuannya. Maslow menyebut teori Hierarki Kebutuhan-nya sendiri sebagai sintesis atau perpaduan teori yang holistik dinamis. Disebut demikian karena Maslow mendasarkan teorinya dengan mengikuti tradisi fungsional James dan Dewey, yang dipadu dengan unsur-unsur kepercayaan Wertheimer, Goldstein, 1
  3. 3. danpsikologi Gestalt, dan dengan dinamisme Freud, Fromm, Horney, Reich, Jung, dan Adler.1 1. Kebutuhan fisiologis Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan manusia yang paling mendasar untuk mempertahankan hidupnya secara fisik, yaitu kebutuhan akan makanan, minuman, tempat tinggal, seks, tidur, istirahat, dan udara. Seseorang yang mengalami kekurangan makanan, harga diri, dan cinta, pertama-tama akan mencari makanan terlebih dahulu. Bagi orang yang berada dalam keadaan lapar berat dan membahayakan, tak ada minat lain kecuali makanan. Bagi masyarakat sejahtera jenis-jenis kebutuhan ini umumnya telah terpenuhi. Ketika kebutuhan dasar ini terpuaskan, dengan segera kebutuhan-kebutuhan lain (yang lebih tinggi tingkatnya) akan muncul dan mendominasi perilaku manusia.2 Tak teragukan lagi bahwa kebutuhan fisiologis ini adalah kebutuhan yang paling kuat dan mendesak. Ini berarti bahwa pada diri manusia yang sangat merasa kekurangan segala-galanya dalam kehidupannya, besar sekali kemungkinan bahwa motivasi yang paling besar ialah kebutuhan fisiologis dan bukan yang lain-lainnya. Dengan kata lain, seorang individu yang melarat kehidupannya, mungkin sekali akan selalu termotivasi oleh kebutuhan-kebutuhan ini.3 Maslow menggambarkan bahwa bagi manusia yang selalu dan sangat kelaparan atau kehausan, utopia dapat dirumuskan sebagai suatu tempat yang penuh makanan dan minuman. Ia cenderung berpikir bahwa seandainya makanannya terjamin sepanjang hidupnya, maka sempurnalah kebahagiaannya. Orang seperti itu hanya hidup untuk makan saja.4 2. Kebutuhan akan rasa aman Segera setelah kebutuhan dasar terpuaskan, muncullah apa yang digambarkan Maslow sebagai kebutuhan akan rasa aman atau keselamatan. Kebutuhan ini menampilkan diri dalam kategori kebutuhan akan kemantapan, perlindungan, kebebasan dari rasa takut, cemas dan kekalutan; kebutuhan akan struktur, ketertiban, hukum, batas-batas, dan sebagainya. Kebutuhan ini dapat kita amati pada seorang anak. Biasanya seorang anak membutuhkan suatu dunia atau lingkungan yang dapat diramalkan. Seorang anak menyukai konsistensi dan kerutinan sampai batas-batas tertentu. Jika hal-hal itu tidak ditemukan, maka ia akan menjadi cemas dan merasa tidak aman. Orang yang merasa tidak aman memiliki kebutuhan akan keteraturan dan stabilitas serta akan berusaha keras menghindari hal-hal yang bersifat asing dan tidak diharapkan.5 1 Abraham H. Maslow, Motivasi dan Kepribadian: Teori Motivasi dengan Ancangan Hirarki Kebutuhan Manusia,terjemahan oleh Nurul Iman (Jakarta: PT. Pustaka Binaman Pressindo, 1984), h. 39 2 Frank G. Goble, Mazhab Ketiga: Psikologi Humanistik Abraham, terjemahanoleh A. Supratiknya (Yogyakarta: Kanisius, 1987), h. 71-72 3 J. Winardi, Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), h. 14 4 Abraham H. Maslow,Op. cit, h. 41-42 5 Frank G. Goble, Op. cit, h. 73 2
  4. 4. 3. Kebutuhan sosial Setelah terpuaskan kebutuhan akan rasa aman, maka kebutuhan sosial yang mencakup kebutuhan akan rasa memiliki-dimiliki, saling percaya, cinta, dan kasih sayang akan menjadi motivator penting bagi perilaku. Pada tingkat kebutuhan ini, dan belum pernah sebelumnya, orang akan sangat merasakan tiadanya sahabat, kekasih, isteri, suami, atau anakanak. Ia haus akan relasi yang penuh arti dan penuh kasih dengan orang lain pada umumnya. Ia membutuhkan terutama tempat (peranan) di tengah kelompok atau lingkungannya, dan akan berusaha keras untuk mencapai dan mempertahankannya. Orang di posisi kebutuhan ini bahkan mungkin telah lupa bahwa tatkala masih memuaskan kebutuhan akan makanan, ia pernah meremehkan cinta sebagai hal yang tidak nyata, tidak perlu, dan tidak penting. Sekarang ia akan sangat merasakan perihnya rasa kesepian itu, pengucilan sosial, penolakan, tiadanya keramahan, dan keadaan yang tak menentu.6 4. Kebutuhan akan penghargaan Menurut Maslow, semua orang dalam masyarakat (kecuali beberapa kasus yang patologis) mempunyai kebutuhan atau menginginkan penilaian diri yang mantap, mempunyai dasar yang kuat, dan biasanya bermutu tinggi, akan rasa hormat diri atau harga diri. Karenanya, Maslow membedakan kebutuhan ini menjadi kebutuhan akan penghargaan secara internal dan eksternal. Yang pertama (internal) mencakup kebutuhan akan harga diri, kepercayaan diri, kompetensi, penguasaan, kecukupan, prestasi, ketidaktergantungan, dan kebebasan (kemerdekaan). Yang kedua (eksternal) menyangkut penghargaan dari orang lain, prestise, pengakuan, penerimaan, ketenaran, martabat, perhatian, kedudukan, apresiasi atau nama baik. Orang yang memiliki cukup harga diri akan lebih percaya diri. Dengan demikian ia akan lebih berpotensi dan produktif. Sebaliknya harga diri yang kurang akan menyebabkan rasa rendah diri, rasa tidak berdaya, bahkan rasa putus asa serta perilaku yang neurotik. Kebebasan atau kemerdekaan pada tingkat kebutuhan ini adalah kebutuhan akan rasa ketidakterikatan oleh hal-hal yang menghambat perwujudan diri. Kebutuhan ini tidak bisa ditukar dengan sebungkus nasi goreng atau sejumlah uang karena kebutuhan akan hal-hal itu telah terpuaskan.7 5. Kebutuhan akan aktualisasi diri Menurut Maslow, setiap orang harus berkembang sepenuh kemampuannya. Kebutuhan manusia untuk bertumbuh, berkembang, dan menggunakan kemampuannya disebut Maslow sebagai aktualisasi diri. Maslow juga menyebut aktualisasi diri sebagai hasrat untuk makin menjadi diri sepenuh kemampuan sendiri, menjadi apa menurut kemampuan yang dimiliki. Kebutuhan akan aktualisasi diri ini biasanya muncul setelah kebutuhan akan cinta dan akan penghargaan terpuaskan secara memadai.8 Kebutuhan akan aktualisasi diri ini merupakan aspek terpenting dalam teori motivasi Maslow. Dewasa ini bahkan sejumlah pemikir 6 Ibid, h. 74 Abraham H. Maslow,Op. cit, h. 76-77 8 Frank G. Goble,Op. cit,h. 77 7 3
  5. 5. menjadikan kebutuhan ini sebagai titik tolak prioritas untuk membina manusia berkepribadian unggul. C. Penyajian Masalah Berdasarkan pada masalah yang telah dipaparkan serta salah satu teori motivasi humanistik yaitu mengenai Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow, maka pembahasan pada masalah ini adalah bagaimana penerapan teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow dalam meningkatkan motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada siswa Sekolah Dasar. D. Pemecahan masalah Pertama-tama harus selalu diingat bahwa bagi orang yang sangat kelaparan, tidak ada perhatian lain kecuali makanan. Seorang guru jangan berharap terlalu banyak perhatian dari siswa yang kelaparan. Berbeda dari kebutuhan-kebutuhan tingkat berikutnya, kebutuhan pokok ini hanya bisa dipenuhi oleh pemicu kekurangannya. Rasa lapar hanya dapat dipuaskan dengan makanan. Seberapapun menariknya pembelajaran di kelas, dia tidak kan bisa konsentrasi terhadap pelajaran yang sedang diikutinya. Untuk memotivasi siswa seperti ini, tentu saja makanan solusinya. Guru sebaiknya memahami kondisi siswa yang sedang kelaparan. Mungkin saja sebelum berangkat sekolah, siswa tersebut belum sempat sarapan di rumah. Hal ini bisa disebabkan karena orang tua di rumah tidak sempat masak ketika waktu pagi karena harus segera persiapan untuk berangkat kerja atau mungkin orang tua sudah membuat masakan untuk sarapan namun si anak terlambat bangun pagi sehingga di atidak punya waktu yang cukup untuk sarapan. Ketika dia sampai di sekolah, dia tidak mempunyai waktu untuk pergi ke kantin atau tidak punya uang saku untuk membeli makanan. Dalam hal ini, seorang guru hendaknya memberikan kelonggaran waktu dan juga memberikan uan atau meminjami uang untuk siswa tersebut agar dapat mengisi perutnya di kantin. Dalam proses belajar mengajar, kebutuhan akan rasa aman menampilkan diri dalam perilaku siswa yang mendambakan situasi menyenangkan, damai, tentram, tertib, dan di mana tidak terjadi hal-hal yang tak disangka-sangka, atau berbahaya. Untuk dapat memotivasi siswa, seorang guru harus memahami apa yang menjadi kebutuhan siswanya. Bila yang mereka butuhkan adalah rasa aman dalam belajar, mereka akan termotivasi oleh tawaran keamanan. Di sekolah dasar biasanya dijumpai adanya genk-genk yang memberikan tekanan-tekanan kepada siswa di luar genknya. Jika hal tersebut terjadi di dalam kelas, maka akan menimbulkan rasa tidak aman pada diri siswa. Siswa akan merasa ketakutan untuk mengikuti proses pembelajaran di kelas jika para anggota genk menguasai kelas. Jika dibiarkan secara terus menerus, sangat dimungkinkan siswa tidak nyaman di kelas dan tujuan belajar siswa tidak dapat tercapai. Guru harus mampu bersikap tegas pada kasus seperti ini. Dominasi anggota genk di dalam kelas harus diambil alih sepenuhnya oleh guru. Seharusnya guru juga memberi peraturan-peraturan yang tegas untuk menjaga stabilitas kelas. Guru juga wajib menjamin keamanan seluruh siswa dari setiap gangguan yang mengancam. Setiap individu menginginkan dirinya bergabung dengan kelompok tertentu. Tidak terkecuali dengan seorang siswa, dia juga ingin berasosiasi 4
  6. 6. dengan siswa yang lain, diterima, berbagi, dan menerima sikap persahabatan dan afeksi. Walaupun banyak guru, memahami adanya kebutuhan tersebut, kadang mereka terlalu acuh dalam pengelolaan kelas terutama dalam hal kekeluargaan dan kebersamaan siswa di kelas. Padahal kemungkinan ada sebagian dari mereka yang sulit bergaul atau memulai pembicaraan dengan temannya yang lain karena tidak adanya kedekatan emosional. Mereka juga ingin mendapat perhatian sebagaimana teman-temannya yang lain sehingga rasa memiliki (sense of belonging) dapat muncul.Seharusnya siswa pada level kebutuhan ini diberikan perhatian supaya mampu berinteraksi dengan baik dan mempunyai rasa saling memiliki terhadap teman-temannya serta lingkungan sekelilingnya. Kebutuhan siswa yang besar terhadap penghargaan sangat jarang sekali untuk dapat dipenuhi. Pemberian pujian terhadap hal-hal yang dianggap membanggakan baginya seringkali ditanggapi dengan biasa saja oleh guru. Memberi penghargaan ataupun pujian ini penting supaya siswa tidak malas untuk berkarya lagi. Dalam realita sering dijumpai banyak anak yang awalnya terlihat menonjol namun lama kelamaan mereka semakin malas. Mereka menjadi malas karena mereka menganggap apa yang mereka lakukan adalah siasia karena tidak ada apresiasi atau pengakuan terhadap apa yang telah mereka lakukan. Maka dari itu, jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang baik untuk memberikan pengakuan kepada prestasi siswa meskipun kecil. Hal ini bisa menjadi motivator yang kuat pada siswa. Bila pada level kebutuhan sebelumnya, siswa dimotivasi oleh kekurangan, siswa di level akhir ini dimotivasi oleh kebutuhannya untuk mengembangkan serta mengaktualisasikan kemampuan-kemampuan dan kapasitas-kapasitasnya secara penuh. Bahkan istilah motivasi kurang tepat lagi untuk diterapkan pada siswa yang berada di tahap aktualisasi diri. Mereka amat spontan, bersikap wajar, dan apa yang mereka lakukan adalah sekedar untuk mewujudkan diri mereka yang sebenarnya. Mereka sudah sangat paham dan sadar terhadap apa yang seharusnya mereka lakukan. Tugas guru hanya tinggal memfasilitasi apa yang mereka butuhkan dalam pembelajaran. E. Refleksi Berdasarkan dari uraian yang telah dipaparkan mengenai rumusan masalah, teori dan pemecahan masalah, maka dapat diambil kesimpulan bahwa yang perlu dilakukan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa dengan penerapan Hierarki Maslow adalah sebagai berikut: 1) Pemenuhan kebutuhan dasar siswa harus di dahulukan karena kebutuhan ini sangat mendesak dan hendaknya guru memberikan kesempatan atau bantuan kepada siswa untuk memenuhinya. 2) Kebutuhan akan keamanan di kelas menjadi tanggung jawab guru. Tugas guru memberikan peraturan dan jaminan atas keselamatan siswa serta kenyamanan kelas. 3) Terkait dengan kebutuhan sosial siswa, guru hendaknya memberikan perhatian supaya siswa mampu berinteraksi dengan baik dan mempunyai rasa saling memiliki terhadap teman-temannya serta lingkungan sekelilingnya. 4) Prestasi siswa sekecil apapun perlu diberikan apresiasi. Memberikan penghargaan kepada siswa mampu memotivasi siswa untuk meningkatkan prestasinya. 5) Ketika siswa sudah di tahap aktualisasi diri, guru hanya tinggal emberikan fasilitas yang diperlukanuntuk mengembangkan dirinya secara lebih jauh, bukan lagi motivasi 5
  7. 7. DAFTAR PUSTAKA Goble, Frank G., Mazhab Ketiga: Psikologi Humanistik Abraham Maslow(judul asli:The Third Force, The Psychology of Abraham Maslow), diterjemahkan oleh Drs. A. Supratiknya, Kanisius, Yogyakarta, 1987 Maslow, Abraham H., Motivasi dan Kepribadian: Teori Motivasi denganAncangan Hirarki Kebutuhan Manusia (judul asli: Motivation andPersonality),diterjemahkan oleh Nurul Iman,PT. Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta, 1984 Winardi, J., Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen,PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002 6

×