REAKTUALISASI PANCASILA SEBAGAI JALAN UTAMA                     KEBANGKITAN INDONESIA                               Oleh :...
akibat kesepakatan perdagangan bebas (free trade) antara pemerintah dengan beberapanegara seakan melengkapi kekhawatiran a...
kini dihilangkan dari kurikulum pendidikan perlu dihidupkan kembali dan jangan hanyamenjadi bagian dari mata pelajaran lai...
1945 serta menutup peluang munculnya faham keagamaan yang ekstrim. Sosialisasi empatpilar kehidupan bernegara (Pancasila, ...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Reaktualisasi pancasila sebagai jalan utama kebangkitan indonesia

850

Published on

Rek

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
850
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
47
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Reaktualisasi pancasila sebagai jalan utama kebangkitan indonesia

  1. 1. REAKTUALISASI PANCASILA SEBAGAI JALAN UTAMA KEBANGKITAN INDONESIA Oleh : Twedy Noviady Ginting1 Peringatan Hari Lahirnya Pancasila 1 Juni 2012 sepatutnya menjadi „oase‟ di tengah-tengah kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara yang memprihatinkan. Berbagai peristiwayang terjadi akhir-akhir ini memunculkan keprihatinan mendalam bagi kehidupan kolektifkita sebagai sebuah bangsa. Berbagai aksi destruktif ormas-ormas yang mengusung „bendera‟keagamaan dan primordial hingga pengebirian hak-hak kaum minoritas untuk beribadahmencerminkan adanya krisis kebangsaan dalam masyarakat yang berbhineka ini. Krisis kebangsaan tersebut mencerminkan pula telah terjadinya pengingkaranterhadap ideologi negara, yakni Pancasila. Ideologi yang disampaikan oleh Presiden pertamaRI Soekarno pada hari lahirnya Pancasila tanggal 1 Juni 1945 itu telah menjaminkebhinekaan yang ada di masyarakat Indonesia. Keberagaman yang muncul di Indonesiamerupakan konsekuensi logis dari latar belakang historis dan geografis nusantara. Nenekmoyang kita pun telah menyadari hal tersebut sehingga pujangga besar Majapahit, MpuTantular, membuat slogan “Bhineka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satujua. Para founding fathers pun mengakomodir slogan Mpu Tantular tersebut dandilekatkan pada lambang Negara Indonesia, Garuda Pancasila. Pancasila dalam beberapasilanya juga sangat akomodatif terhadap keberagaman yang ada di masyarakat Indonesia.Lalu mengapa kini banyak muncul konflik berdarah serta gerakan politik yang bertujuanmerusak keberagaman masyarakat ?Liberalisme Ekstrim versus Fundamentalisme Ekstrim Rupa-rupanya ideologi negara yang sangat sesuai dengan kondisi obyektif bangsa initelah dilupakan oleh sebagian komponen bangsa. Di era reformasi ini yang menjaminkebebasan berpendapat ternyata menimbulkan konsekuensi negatif yaitu banyak bermunculanideologi-ideologi yang menafikan kebhinekaan, bahkan bertujuan mengganti ideologi negarayang diwariskan oleh founding fathers. Selain kemunculan ideologi-ideologi yang berbasiskan pada fundamentalisme agamayang anti kebhinekaan serta memicu berbagai tindak kekerasan, era reformasi juga telahmelahirkan efek negatif lainnya, yakni merasuknya faham liberalisme ekstrim dalamkehidupan ekonomi, politik, sosial dan budaya masyarakat Indonesia. Liberalisasi tidakterkendali di ranah ekonomi hampir menjerumuskan bangsa ini menjadi sekedar “bangsakuli” yang menyediakan sumber daya alam, tenaga kerja serta pasar bagi kepentinganekonomi pihak asing. Dominasi asing dalam pengelolaan sumber daya nasional, jumlahnominal utang luar dan dalam negeri yang membengkak, serta kehancuran industri nasional1 Ketua Presidium GMNI periode 2011 - 2013
  2. 2. akibat kesepakatan perdagangan bebas (free trade) antara pemerintah dengan beberapanegara seakan melengkapi kekhawatiran akan terjerumusnya bangsa ini menjadi “kuli dinegeri sendiri” serta “kuli diantara bangsa-bangsa”. Liberalisasi ekstrim juga merasuk dalam bidang politik, sosial dan budaya yangmewujud pada pola oligarki politik dan pemburu rente di kalangan elit politik, sertamewabahnya “penyakit” hedonisme dan konsumerisme dalam kehidupan anak bangsa.Amandemen UUD 1945 yang akhirnya melahirkan “UUD 2002” telah memberi “lampuhijau” bagi penetrasi liberalisme ekstrim dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Masifnya penerapan sistem liberal secara tidak langsung telah menyuburkan pulafaham fundamentalisme agama yang ekstrim. Berbagai ekses dari liberalisme sepertiterjajahnya ekonomi nasional oleh korporasi asing, krisis kesejahteraan yang semakin akut,merajalelanya korupsi dalam kompetisi politik telah memicu ketidakpercayaan sebagiankalangan kepada ideologi atau dasar negara yang mereka anggap tidak mampu menangkalpengaruh liberalisme. Akhirnya pilihan mereka jatuh pada ideologi-ideologi fundamentalisme ekstrim yangdianggap bisa melawan hegemoni liberalisme ekstrim dalam semua aspek kehidupan. Namunyang menyedihkan adalah, gerakan-gerakan kaum fundamentalis ini juga tidak kalahmembahayakannya dengan liberalisme, karena sebagian dari mereka memiliki metodeperjuangan absurd, seperti aksi-aksi teror bom, perlawanan bersenjata, gerakan “cuci otak”serta perbuatan kriminal lainnya. Selain itu gerakan fundamentalis juga kian lekat denganaksi-aksi intimidatif yang ditujukan pada kaum minoritas dan dapat diartikan juga sebagaipenolakan terhadap kebhinekaan bangsa.Reaktualisasi Pancasila Kehadiran ideologi liberalisme ekstrim dan fundamentalisme ekstrim yang membawamalapetaka bagi kehidupan bangsa sesungguhnya dapat dihindari apabila pemegang otoritaskekuasaan negeri ini menjalankan Pancasila dan UUD 1945 secara konsisten. Kemunculanberagam kelompok yang berideologi fundamentalis dan menghalalkan kekerasan merupakandampak dari ketidakkonsistenan aparatur Negara dalam mengimplementasikan Pancasila danUUD 1945. Di sisi lain, arus liberalisasi tidak dapat mereka bendung. Hal itulah yangmenyebabkan kaum fundamentalis seakan mendapat peluang untuk hadir di tengah merekayang menjadi korban liberalisasi serta merasa tidak menemukan ekspresi perlawanan yangmemadai dari ideologi Pancasila terhadap liberalisme. Solusi dari semua itu adalah reaktualisasi Pancasila sebagai ideologi negara untukmerealisasikan cita-cita kemerdekaan dan tujuan nasional bangsa Indonesia serta menjaminkebhinekaan untuk menangkal pengaruh negatif dari ideologi-ideologi asing yang tidaksesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Peringatan 67 tahun hari Lahir Pancasila, 111tahun kelahiran dan 42 tahun wafatnya Bung Karno Sang Penggali Pancasila harus menjadimomentum dalam rangka memprioritaskan agenda reaktualisasi Pancasila sebagai pandanganhidup berbangsa dan bernegara. Harus ada proses internalisasi, enkulturasi dan sosialisasinilai-nilai Pancasila dalam semua lapisan masyarakat Indonesia. Pendidikan Pancasila yang
  3. 3. kini dihilangkan dari kurikulum pendidikan perlu dihidupkan kembali dan jangan hanyamenjadi bagian dari mata pelajaran lain. Sehingga melalui proses pendidikan kesadaran dankebanggaan berbangsa Indonesia tumbuh, khususnya nation and character building,kesadaran bela negara, kemampuan menyaring pengaruh budaya dari luar, penghargaan ataskekayaan dan kreativitas bangsa. Namun perlu dihindari cara-cara dogmatis yang pernahdilakukan rezim Orde Baru dulu. Kita harus mampu mewujudkan cita-cita Pancasila yakni cita-cita kemerdekaandengan dua pilar utama. Pertama, kemerdekaan ekonomi dan politik dalam bentukkemandirian dan kemampuan untuk berdikari secara ekonomi dan politik. Kedua,kemerdekaan eksistensial berupa kemampuan untuk mewujudkan dirinya sendiri, untukmenjalani hidup sendiri lepas dari ketergantungan dengan orang atau pihak lain. Wujud daricita-cita moral ini diungkapkan dalam bentuk menjadi tuan atas diri sendiri dan menjadi tuanatas miliknya sendiri2. Pancasila dioperasionalisasikan terutama mengembangkannya sebagai sebuah sistemekonomi yang bertumpu pada kekuatan rakyat Indonesia. Dalam membangun sistem ekonomiPancasila, ekonomi Indonesia harus dibangun tanpa menggantungkan pada kekuatan ekonomiasing, baik utang luar negeri maupun produk impor. Modal asing hanyalah faktor pendukungekonomi nasional bukan tulang punggung pembangunan ekonomi nasional. Kekuatanekonomi Indonesia adalah pada rakyat, baik tenaga kerjanya, alat produksinya, maupunpasarnya yang potensial. Oleh karena itu, ekonomi Indonesia harus tertuju pada penguatankekuatan ekonomi rakyat yang berupa modal, menajemen, keterampilan, teknologi,kemitraan, informasi dan pengembangan pasar. Yang tak kalah penting adalah konsistensi seluruh lembaga Negara dalammengimplementasikan Pancasila sebagai dasar Negara yang final. Terlebih kedudukanPancasila telah memiliki legitimasi filosofis, yuridis dan politis yakni kesepakatan TheFounding Fathers kita pada tanggal 18 Agustus 1945 yang telah menetapkan Pancasilasebagai dasar filsafat negara, sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia serta tercantumdalam tertib hukum Indonesia. Sehingga Pancasila sebagai Staatsfundamental norm(Notonagoro, 1975) memiliki konsekuensi bahwa nilai-nilai Pancasila secara yuridis harusdiderivasikan ke dalam UUD Negara Republik Indonesia dan seluruh peraturan perundang-undangan lainnya. Nilai-nilai Pancasila juga harus tercermin dalam setiap kebijakan pemerintah.Pancasila harus menjadi tolak-ukur filosofis dan ideologis bagi pembuatan dan pelaksanaansemua kebijakan publik yang didasarkan atas kondisi, potensi, dan posisi riil wilayahRepublik Indonesia. Sehingga keberpihakan Negara kepada kesejahteraan rakyat dapatdirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia menanti hadirnya Negara dalam kehidupan mereka. Konsekunsinya,perubahan haluan dari liberalisme menuju pada substansi Pancasila 1 Juni 1945 mutlakdibutuhkan guna mencapai tujuan-tujuan nasional yang termaktub dalam Pembukaan UUD2 Kasenda, Peter.2010. “Soekarno Muda”. Komunitas Bambu, Jakarta.
  4. 4. 1945 serta menutup peluang munculnya faham keagamaan yang ekstrim. Sosialisasi empatpilar kehidupan bernegara (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika) yangdilakukan lembaga Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) tentu kitasambut baik. Tetapi hendaknya hal tersebut perlu kita dorong menjadi gerakan bersamasehingga tidak berhenti sebatas slogan atau jargon kosong tanpa konkretisasi. Semogaperingatan Hari Lahir Pancasila kali ini dapat menjadi awal kebangkitan bangsa dari segalakrisis kesejahteraan dan kebangsaan yang mendera kita selama ini menuju Indonesia yangkita cita-citakan, Indonesia yang adil dan makmur.

×