Your SlideShare is downloading. ×
Apakah perusahaan kecil perlu menerapkan pembukuan
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Introducing the official SlideShare app

Stunning, full-screen experience for iPhone and Android

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

Apakah perusahaan kecil perlu menerapkan pembukuan

1,504
views

Published on

Published in: Business

1 Comment
2 Likes
Statistics
Notes
  • JASA PENGURUSAN PERIZINAN EXPORT IMPORTIR
    “Corporate Legal services”
    http://www.saranaijin.com
    Komplek Ruko Segitiga Atrium Blok A1 Lt 2 Jl. Senen Raya No. 135 Jakarta Pusat 10410
    Tep: +(62) 21- 34833034 Fax : +(62) 21- 34833038
    Mobile: 081585427167
    Pin BB 285200BC
    Email: legal@saranaizin.com

    JASA PERNGURUSAN PERIZINAN EXPORT IMPORTIR
    - URUS API-P (ANGKA PENGENAL IMPORTIR PRODUSEN)
    - URUS API-U (ANGKA PENGENAL IMPORTIR UMUM)
    - URUS API PERUBAHAN
    - URUS APIP (Produsen) PMA BKPM
    - URUS APIU (Umum) PMA BKPM
    - URUS NIK EXPORT IMPORT
    - URUS NPIK
    - URUS IT ELEKTRONIKA
    - IT PAKAIAN JADI
    - IT ALAS KAKI
    - IT MAKANAN DAN MINUMAN
    IT OBAT TRADISINAL DAN HERBAL
    - URUS IP PLASTIK, IP BESI/BAJA, IP TEKSTIL
    - URUS PI BARANG MODAL BUKAN BARU
    - URUS ETPIK
    - URUS SKPLBI BARANG / LABEL PRODUK IMPORTIR
    - URUS POSTEL
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
No Downloads
Views
Total Views
1,504
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
49
Comments
1
Likes
2
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Apakah Perusahaan Kecil PerluMenerapkan Pembukuan-Akuntansi? Pertanyaan “apakah perusahaan (kecil) saya perlu menerapkan pembukuan-akuntansi” ini sangat sering diajukan oleh pengusaha kecil (UKM), misalnya: salon kecantikan, toko kelontong, penjahit pakaian (tailor), konveksi, bengkel, gerai cellular, bistro, sampai e-commerce dan bisnis online dadakan yang belakangan menjamur via Facebook dan media sosial lainnya.Pertanyaan serupa yang cukup sering ditanyakan adalah: “kapan perusahaan sayamemerlukan pembukuan dan akuntansi?”Jika anda—orang accounting—yang ditanya, kira-kira apa jawaban anda? Apakah perusahaankecil seperti itu perlu pembukuan dan akuntansi? Kapan suatu usaha memerlukan pembukuandan akuntansi?Obviously. Di satu sisi, kita—sebagai orang accounting—sudah pasti menyarankan merekauntuk menerapkan akuntansi, minimal pembukuan. Iya kan?Di sisi lainnya, saya yakin, para pelaku usaha kecil rata-rata sudah tahu bahwa, menerapkanpembukuan dan akuntansi adalah bagus. Dari buku, majalah, radio, televisi, koran, media online,pasti mereka pernah baca/dengar.Anehnya, entah mengapa, sampai saat ini sebagian besar pengusaha kecil seolah-olah takterbujuk oleh anjuran itu, dan masih saja menganggap bahwa….Proses Pembukuan/Akuntansi Merepotkan, MengkonsumsiBiaya dan WaktuBukan anggapan yang salah. Proses menjalankan pembukuan—terlebih akuntansi—memangmerepotkan, mengkonsumsi biaya dan waktu. Mari kita gunakan ‘kaca-mata’ pengusaha,sejenak:1. Biaya – Proses pembukuan dan akuntansi adalah pekerjaan teknikal. Tidak semua orang bisamenjalankannya. Untuk bisa, perlu melalui proses pembelajaran khusus (workshop, kursus, ataubelajar akuntansi di bangku kuliah). Mereka yang tidak bisa, terpaksa merekrut-dan-menggajipegawai pembukuan/accounting. Atau, menggunakan jasa pembukuan/akuntansi dari pihakketiga (konsultan). Dan itu, bisa jadi beban (biaya) serius bagi para pelaku usaha kecil.
  • 2. Misalnya: revenue (mereka menyebutnya “omset”) usaha salon kecantikan hanya 15 juta,dengan keuntungan rata-rata 5 juta per bulan. Kalau bayar konsultannya sampai 2 juta/bulan,habislah untungnya. Merekrut dan menggaji pegawai accounting Rp 2 – 3 juta/bulan, ya samasaja.2. Waktu – Katakanlah pengusahanya memiliki latar belakang pendidikan akuntansi, sehinggatidak perlu merekrut (dan menggaji) pegawai accounting atau pakai konsultan, semua dikerjakansendiri. Tetap saja proses akuntansi mengkonsumsi waktu. Apalagi bagi pengusaha kecil yangtidak menguasai akuntansi, sudah pasti sangat merepotkan. Dalam pandangan umum,pembukuan dan akuntansi sifatnya administrative belaka, tidak menghasilkan uang. Bagi banyakpegusaha kecil, waktu mereka akan jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk membuatbarang-dagangan atau melayani pelanggan (ketimbang melakukan pekerjaan administrativemacam pembukuan dan akuntansi).Itu sebabnya mengapa jarang ada perusahaan kecil yang mau menerapkan pembukuan(terlebih-lebih akuntansi) secara serius. Dari sekian banyak usaha kecil yang pernah sayatangani, kalaupun ada pencatatan (dan pengarsipan bukti transaksi), biasanya masih berantakan.Pencatatan dilakukan—sekedarnya saja—oleh pegawai yang tidak memiliki skill yang cukup.Itupun masih dianggap aktivitas sambilan, setelah pekerjaan lainnya selesai.“Memangnya akuntansi bisa membuat aku dapat banyak pelanggan, dapat supply bahanbaku murah, sehingga menjadi untung?”…tanya saudara sepupu saya (pengusaha handicraft di Yogayakarta sana), antara skeptis dansinis.Jujur saja, saya tidak tahu jawabannya. Lha wong saya bukan pengusaha, cuma lulusan SMEA,mantan pegawai accounting abal-abal. Lagipula, saya tidak pintar menjelaskan sesuatu—apalagidebat. I definitely am not.Tapi saya ingin share satu kasus yang mungkin bisa dijadikan bahan pertimbangan olehpengusaha kecil. Siapa tahu, ada manfaatnya. Jika tertarik, silahkan lanjutkan membaca…Mengapa Usaha Kecil Rentan Terhadap Kebangkrutan?Sekitar 2 tahun lalu, salah satu klien saya, pengusaha (menengah) yang cukup sukses,menanyakan tentang bagaimana caranya mengelola uang pinjaman agar kelak tidakmenimbulkan masalah bagi perusahaanya (baik dari aspek keuangan maupun perpajakan).Tadinya saya pikir dia meminjam uang bank untuk menambah modal kerja. Ternyata tidak.Justru dia yang meminjamkan uang kepada adiknya, pengusaha konveksi sekaligus bistro (outletpakaian jadi) yang kondisi keuangannya kembang kempis, nyaris bangkrut.
  • 3. Selesai memberikan masukan seperlunya, waktunya mendengarkan keluh-kesah kliendalam menjalankan usaha. Ini sudah menjadi semacam rutinitas bagi saya.Klien saya itu mengeluhkan betapa capeknya dia meminjamkan uang kepada adiknya. Dikasihpinjaman 1 M habis dalam setahun. Pinjam 500 juta, tidak seberapa lama habis lagi. Begitu terusberkali-kali.“Ya mau bagaimana lagi?” kata klien saya itu setengah putus-asa.Terlebih-lebih adik, membantu tetangga yang sedang ditimpa kesusahanpun baik,malahan wajib (dalam banyak kasus). Hanya saja, pada kondisi-kondisi tertentu bisa jadibantuan itu (terutama uang) justru menjerumuskan orang yang kita bantu. Contohnya? Ya, kliensaya itu. Bantuan kas yang terus-menerus membuat si adik tak pernah menyadari kalaupengelolaan usaha konveksinya, selama ini, tidak beres.In general, perusahaan yang meminjam kas berkali-kali (darimanapun sumbernya),sesungguhnya, tidak sedang mengalami masalah uang, tetapi masalah pengelolaan uang—yangbisa jadi berawal dari ketidakberesan dalam pengelolaan operasional.Hutang/pinjaman kas, tidak menyembuhkan penyakit keuangan maupun operasional. Jikadianalogikan dengan penderita typus, cairan infus memang bisa membuat dia tetap bertahanhidup, tetapi tidak membebaskannya dari rongrongan virus. Selain asupan infus, hal terpentingyang dibutuhkan adalah antibiotic. Setuju?Demikian halnya dengan perusahaan yang sedang kesulitan keuangan; pinjaman kas hanyabisa membuat mampu memenuhi kewajiban jangka pendek (membayar tagihan-tagihan jatuhtempo), sehingga bisa ‘stay-in-business’, untuk sementara waktu. Jika pengelolaan keuangan danoperasional tidak diperbaiki, maka akan terlilit masalah yang sama begitu kas pinjamannyahabis.Itulah yang saya sampaikan ke klien. Atas rekomendasi kakaknya, beberapa hari kemudian siadik (pemilik konveksi dan bistro yang kembang-kempis) menghubungi saya—untuk konsultasi.Hal pertama yang saya sampaikan adalah: pentingnya menerapkan akuntansi dengan serius,setidaknya pembukuan. Tetapi (sudah saya duga), dia menggunakan mindset yang sama sepertiadik sepupu saya: pembukuan dan akuntansi lebih banyak merepotkan (dan membebani)ketimbang membantu.“Ada solusi lain, pak?” dia bertanya.Saya katakan “tidak ada.” Percuma jika saya jelaskan—apa itu fungsi pembukuan danakuntansi panjang lebar—dengan cara klise.Sebagai gantinya, saya menanyakan apa hambatan terberat yang dia hadapi selamamenjalankan usaha.
  • 4. Jawabannya: “Saya selalu kesulitan kas”.Ketika saya tanya apakah perusahaan dalam posisi untung atau rugi, dia mengatakan “kayaknyasih rugi.” Dan, ketika saya menanyakan “berapa kerugian bulan lalu?” dia tidak tahu berapapersisnya.Saya tidak kaget—itu kondisi yang khas di lingkungan usaha kecil; tidak banyak pengusahakecil yang tahu persis berapa keuntungan yang mereka peroleh (atau kerugian yang merekaderita) setiap bulannya. Lebih parahnya (dan ini mayoritas), mereka bahkan tidak tahu persisapakah perusahaannya sedang untung atau rugi. Yang mereka pakai adalah ‘sense’ (“kira-kirauntung” atau “kira-kira rugi”), dari ketersediaan kas: • Jika kas melimpah (bisa membayar dengan lancar), berarti untung • Jika kas sedikit (mengalami kesulitan membayar), berarti rugiSoal menggunakan instinct dan sense, tidak perlu diragukan lagi. Mereka (para pengusaha)memiliki keistimewaan dalam menggunakan instinct. Sehingga dalam mengambil keputusan,asalkan ‘make (business) sense’, mereka jalan.Mereka jarang mengarahkan perhatian pada hal-hal yang detail, apalagi angka-angka kecil, lebihmemilih mencurahkan perhatian pada hal-hal yang lebih besar, khususnya business strategy(menarik pelanggan, memenangkan kompetisi, mencari supplier bagus, cari pinjaman modalkerja, dan sejenisnya).Apakah itu buruk, kaitannya dengan pengelolaan keuangan?First of all. Yang namanya usaha, ada pasang surutnya, ‘peak-and-valley’, ‘high-and-lowseason‘. Dan sudah pasti, kondisi ini berpengaruh terhadap tingkat laba/rugi, ketersediaan kas,dan lancar-tidaknya operasional perusahaan. • Pada tingkat profitabilitas yang tinggi (terlepas apakah si pengusahanya tahu berapa persisnya), risiko yang timbul akibat lebih banyak menghandalkan sense (ketimbang detail), tidak terlalu terasa. Konkretnya, gangguan kas maupun operasional nyaris tidak ada, sehingga mereka berpikir “we are fine”. Padahal, bisa jadi itu hanya kondisi sementara—sebelum gelombang surut datang. • Giliran gelombang sedang surut (low season), tingkat laba perusahaan menurun (atau bahkan merugi), ketersediaan kas menipis dan tersendat, operasional perusahaan mulai terganggu. Apakah sense mereka sudah tidak tajam lagi? Oh masih. Rata-rata pengusaha memiliki ‘sense-of-crisis’ yang tinggi. Jika tidak, mana mungkin mereka panik mencari pinjaman kesana-kemari. Mereka ‘merasakan’ adanya ketidakberesan, tetapi dalam banyak kasus (pengusaha konveksi di atas misalnya), mereka tidak tahu; apa persisnya yang tidak beres, di bagian mana persisnya ketidakberesan terjadi.Untuk tahu apa PERSIS-nya yang tidak beres dan dimana terjadi, INSTINCT dan SENSE SAJATIDAK CUKUP. Diperlukan perhatian khusus hingga ke hal-hal detail. Jika mau bicara ekstrim,angka satu rupiahpun penting untuk diketahui; darimana berasal dan kemana perginya.
  • 5. • Untuk menelusuri (tracking) uang masuk dari mana dan digunakan untuk apa, apakah digunakan dengan efektif atau dihambur-hamburkan, perlu minimal MENERAPKAN PEMBUKUAN. Apa itu pembukuan? Bagaimana prosesnya? Saya akan bahas sebentar lagi. • Untuk mengetahui apa yang tidak beres/apa yang beres dalam pengelolaan keuangan dan dimana persisnya terjadi, perlu MENERAPKAN AKUNTANSI KEUANGAN. Apa itu akuntansi keuangan? Bagaimana prosesnya? Saya akan bahas sebentar lagi. • Untuk mengetahui apa yang tidak beres/apa yang yang beres dalam pengelolaan operasional dan dimana persisnya terjadi, perlu MENERAPKAN AKUNTANSI MANAJEMEN. Apa itu akuntansi manajemen? Bagaimana prosesnya? Saya akan bahas sebentar lagi.Minimal 3 hal itu yang harus diperhatikan hingga ke hal yang paling detail, untuk bisamengendalikan kondisi keuangan dan operasional perusahaan. Tidak bisa lagi mengandalkansense dan instinct.Mereka yang tetap mengandalkan instinct-dan-sense dalam segala kondisi—dan ogahmenerapkan pembukuan/akuntansi—sudah pasti mengalami kesulitan untuk keluar darigangguan keuangan. Sayangnya, tidak banyak pengusaha kecil yang bisa lolos dari masalahkeuangan, sehingga lebih banyak yang bangkrut ketimbang yang ‘stay-in-business’ dalam jangkawaktu panjang.Sebagai pembanding….Mengapa Korporasi Besar Relative Lebih StabilDibandingkan Usaha KecilAktivis dan pengamat ekonomi boleh menggiring opini publik—melalui media masa—denganmengatakan bahwa, “usaha kecil lebih tahan terhadap gangguan ekonomi.” Bisa jadi apa yangpara pengamat katakan itu benar—setidaknya jika dikaitkan dengan gangguan ekonomi makro,tetapi tidak dalam scope kondisi keuangan perusahaan itu sendiri.Hasil pandangan mata saya sendiri setiap hari—bergelut dengan laporan keuangan mereka setiaphari, terlibat dalam cost reduction exercise, mengevaluasi sistim pengendalian intern,menyiapkan due diligent akuisisi—menemukan kenyataan bahwa: korporasi besar relative lebihstabil dibandingkan usaha kecil. Ini kenyataan.Jika anda pengusaha kecil, silahkan rasakan sendiri bagaimana kondisi keuangan danoperasional perusahaan anda? Mulus atau ngos-ngosan setiap hari?Tidak perlu dijawab. Saya sudah tahu. Dan itu typical, lumrah, terjadi dimana-mana dari Sabangsampai Merauke.
  • 6. Pertanyaannya: mengapa korporasi besar relative lebih stabil dibandingkan usaha kecil?Mirip seperti pembalap off-road yang berpacu di alam bebas, harus melewati berbagai macamrintangan untuk sampai di garis finish.1. Korporasi Besar – Ibarat pembalap off-road PRO yang sudah kenyang pengalaman.Mungkinkah mereka gagal mencapai garis finish? Bisa saja, tetapi kemungkinannya kecil.Masih lebih besar peluang berhasilnya. • Apakah karena mereka tidak menemui hambatan di perjalanan? Namanya juga off-road, sudah pasti ada banyak rintangan. • Apakah karena mereka menggunakan 4WD powered vehicle yang CC-nya sangat besar? Pada umumnya, IYA, dan memang ada pengaruhnya, tetapi bukan itu kunci utama keberhasilannya.Saya kenal beberapa PRO OFF-ROADers (pengusaha yang sudah berpengalaman, termasukmantan boss saya). Yang pasti sekali, mereka turun ke lintasan balap dengan persiapan yangmatang dan dilengkapi peralatan yang cukup. Mengajak navigator yang siap dengan peta dankompas di tangan.Disepanjang lintasan pacu, sang pembalap fokus untuk mengatur laju-gerak mesin mobil yangdikendarainya. Sementara sang navigator fokus untuk mengamati peta lintasan dan melihatkompas. Hasilnya?Mereka lebih sering berada dalam lintasan (on-track) ketimbang nyasar ke luar kemana-mana,karena sang navigator selalu memandu sang pembalap, sesekali dia berteriak “banting kanan”atau “kiri” untuk menghindari kubangan atau batu besar. Beberapa dari mereka (meskipunjarang) pernah jauh keluar lintasan—mungkin karena pembalapnya rada ugal dan bandel. Bila ituterjadi, biasanya mereka berhenti sejenak, melihat peta dan kompas bersama-sama, berembuguntuk mencari jalan kembali ke lintasan. Dan memang berhasil. Begitu cara kerja pembalap off-road yang PRO.2. Usaha Kecil – Ibarat pembalap off-road amatiran. Nekat berangkat sendiri karena TIDAKMAMPU membayar navigator. Sudah tanpa navigator, tidak membawa peta dan kompas pula.Modalnya cuma nekat. Pakai instinct dan sense-pun, keduanya juga belum cukup terasah, masihtumpul (By the way: Instinct business itu bukan bawaan lahir, tapi hasil akumulasi pengalaman-panjang yang mengendap di bawah alam-sadar, dan muncul ke permukaan ketika dibutuhkan).Kemungkinan berhasil melewati rintangan? Sangat rendah. Yang mereka lakukan hanya‘mengira-ngira’ arah lintasan, sehingga kemungkinan terjebak lubang atau terhalang batu, sangattinggi. Dan… ketika tersesat keluar lintasan, yang mereka lakukan hanya ‘mengira-ngira’ lalumenginjak pedal gas sekencang mungkin, sambil berharap bisa kembali ke lintasan. Iya kalaupersediaan bensin tidak terbatas, bagimana kalau bensin habis sebelum sampai ke garis finish?Dan itu, most likely. Kalau pinjam istilahnya IFRS, “more than probable”.
  • 7. Idealnya, setiap pembalap (amatir dan pro) turun ke medan balap dengan persiapan dan peralatanyang memadai. Demikian halnya dengan mereka yang terjun untuk menjalankan roda usaha.Oke. Hidup memang tidak seindah itu. Pada kenyataannya, kondisi ideal tidak selalu bisa kitahadirkan (atau capai). Tetapi dengan pertimbangan yang sedikit lebih matang, mau bersusah-payah dan kerepotan, mestinya bisa menghadirkan kondisi yang setidaknya masih lebih baikketimbang buruk samasekali.Pertanyaannya: apa navigator, peta lintasan dan kompasnya roda usaha?Pembukuan dan Akuntansi Menjaga Perusahaan AgaraTetap On-TrackPengusaha kecil tidak mampu bayar konsultan untuk dijadikan navigator (“muahaal!” katamereka), sangat masuk-akal dan bisa dimengerti. Tetapi mereka bisa merekrut pegawaipembukuan atau accounting yang tentu costnya lebih murah.Untuk bisa tetap on-track mereka juga bisa membuat budget sederhana, menerapkan pembukuan,sebagai peta-lintasan dan kompas.Iya. Bagi pengelolaan keuangan dan operasional,“Pembukuan dan akuntansi adalah peta dan kompasnya perusahaan”Untuk yang tidak berlatarbelakang pendidikan akuntansi, saya jelaskan sedikit apa itupembukuan dan akuntansi, dan apa fungsi mereka masing-masing—dari perspektif pengusahakecil (bukan dari perspektif regulator, investor atau lantai bursa saham).1. PEMBUKUAN – Sederhahanya, “pembukuan” adalah istilah yang digunakan untuk mewakiliaktivitas: mengumpulan bukti transaksi (nota) —> mencatat (menjurnal)—> mengelompokan(ke dalam akun-akun buku besar sesuai aktivitas)—> menyusunan laporan keuangan.Proses pembukuan, dilakukan oleh seorang pegawai pembukuan yang memiliki skill khususpembukuan (lumrah disebut “bookkeeper”). Tidak perlu sarjana akuntansi. D3 akuntansi (bahkanlulusan SMK Akuntansi) pun sudah cukup, sehingga tidak harus berbayar super-mahal.Data yang dihasilkan dari proses pembukuan (pengumpulan bukti transkasi, pencatatan,pengelompokan, dan penyusunan laporan keuangan) minimal bisa digunakan untukmengelola 3 elemen penting ini: • Mengelola Modal Kerja Berupa Kas – Apakah persediaan kas cukup untuk membiayai operasional hari ini, satu minggu, satu bulan atau satu kuartal ke depan. Lebih jauh lagi,
  • 8. bisa melihat dari mana datangnya kas, untuk apa kas digunakan, apakah kas digunakan secara efisien atau tidak. • Mengelola Modal Kerja Non Kas – Modal kerja non-kas meliputi: (a) Piutang: data pembukuan bisa digunakan untuk mengetahui berapa jumlah piutang hari ini, satu minggu ini, dan satu bulan ini. Dari total itu, berapa piutang yang jatuh tempo (akan cair) dan siapa saja pelanggannya—sehingga pengusaha bisa mengkoordinasikan penagihan dengan tepat waktu. (b) Utang: di sisi lainnya, pengusaha juga bisa tahu berapa nilai utang yang jatuh tempo (harus dibayar) hari ini, minggu ini dan bulan ini—sehingga bisa merencanakan pembayaran dengan lebih teratur (tanpa mengecewakan supplier). (c) Persediaan: data pembukuan juga bisa menjadi alat pengelola persediaan; berapa jumlah persediaan yang ada hari ini, akhir minggu ini, akhir bulan ini—apakah cukup atau berlebih-lebihan. • Mengola Aktiva Tetap – Disamping bangunan dan kendaraan operasional yang relative lebih mudah untuk dikelola, pada jenis usaha tertentu mesin dan peralatan adalah aset vital yang membuat perusahaan bisa beroperasi dengan lancar. Memastikan peralatan ini tidak hilang atau rusak adalah penting. Pembukuan menyediakan data pasti atas aset-aset ini, sehingga bisa diawasi dengan lebih mudah.Dengan menggunakan data pembukuan saja, minimal pengusaha sudah bisa mengetahui: (a)darimana dan kemana kas mengalir; (b) apakah perusahaan dalam kondisi untung/rugi danberapa; (c) berapa besar kekayaan perusahaan; (d) berapa besarnya kewajiban (utang)perusahaan. Secara global, informasi itu bisa diperoleh hanya dengan membaca laporankeuangan. Untuk menelusuri sampai ke detail, bisa melihat catatan transaksi yang sudahdikelompoka secara sistematis dalam buku besar. Dari informasi-informasi itu pengusaha sudahbisa mengetahui apakah perusahaan ‘on-track’ atau tidak.2. AKUNTANSI – Pembukuan hanya sebagian dari cakupan proses akuntansi secarakeseluruhan. Selain proses pembukuan (pengumpulan bukti transaksi, pencatatan,pengelompokan dan penyusunan laporan keuangan), akuntansi juga melakukan proses-prosesanalisa untuk pengambilan keputusan yang sifatnya lebih strategis. Proses akuntansi biasanyadilakukan oleh seorang akuntan atau konsultan yang bisa menjadi navigator dalam menjalan rodaopersional perusahaan.Oke. Akuntansi itu sendiri terbagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu:a. Akuntansi Keuangan – Dalam akuntansi keuangan, data hasil proses pembukuan (yangsudah saya bahas di atas) dianalisa lebih jauh untuk mengetahui: apakah transaksi telah diprosessesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Melalui proses audit, pengusaha bisa menemukantransaksi-transaksi aneh yang bisa jadi merupakan gejala awal adanya penyelewengan (fraud)—yang jika tidak terdeteksi bisa menimbulkan kerugian besar bagi perushaan.b. Akuntansi Manajemen – Mengguanakan data yang dihasilkan dari proses pembukuanditambah dengan data cost, lalu dibandingkan dengan budget, pengusaha bisa memperolehinformasi untuk digunakan sebagai dalam pengambilan-keputusan yang sifatnya lebih strategis.Misalnya:
  • 9. • Dari data kas (laporan arus kas dan detailnya), pengusaha bisa mengetahui apakah kas teralokasikan ke aktivitas-aktivitas yang bernilai-tambah atau bukan, dengan cara membandingkan antara budget (rencana) dengan realisasinya. • Dari data penjualan (di laporan laba-rugi) dan persediaan (neraca), pengusaha bisa tahu mana produk yang menghasilkan profit tinggi (sehingga perlu dikembangkan) dan mana yang tidak (mungkin lebih baik dihentikan produksinya). Lebih jauh lagi, pengusaha juga bisa tahu mana channel pemasaran yang efektif dan mana yang tidak—sehingga tahu strategi pemasaran seperti apa yang diperlukan ke depannya. • Dari data piutang (neraca), pengusaha bisa tahu pelanggan mana yang tepat waktu dalam membayar, malas membayar, sulit ditagih dan gagal tagih—sehingga bisa menilai pelanggan mana yang perlu diberi insentif kredit berjangkawaktu lebih panjang dan mana yang harus diketatkan. Bahkan pengusaha bisa tahu mana pelanggan yang profitable mana yang tidak—sehingga tahu harus berbuat apa terhadap mereka. • Dan lain sebagainya.c. Akuntansi Pajak – Sudah menjadi rahasia umum bahwa pajak adalah salah satu bebanperusahaan yang jika salah-kelola bisa menimbulkan masalah yang sulit diatasi. Dengan dataakuntansi pajak, pengusaha bisa melakukan kendali yang lebih efektif terhadap setiap unsurpajak yang timbul dari transaksi-transaksi yang dilakukan oleh perushaan selama beroperasi.Misalnya: dengan membuat tax planning.Kesimpulan: Kapan Perusahaan Perlu MenerapkanPembukuan dan Akuntansi?Akuntansi dan pembukuan, oleh pengusaha kecil, cenderung dianggap sebagai beban, sesuatuyang merepotkan—sehingga tidak banyak usaha kecil yang mau menerpkan keduanya secaraserius. Pengalaman saya selama ini menunjukan; pengusaha kecil baru menyadari pentingnyamenerapkan pembukuan dan akuntansi setelah mereka mengalami masalah keuangan.Jika diterapkan secara serius, saya pribadi berani menjamin: beban gaji untuk pegawaibookkeeper/accounting atau fee untuk konsultan, sangat kecil jika dibandingkan dengan manfaatyang diperoleh dari proses pembukuan dan akuntansi yang diterapkan. Kerepotan yangditimbulkan akibat proses pembukuan dan akuntansi, tidak seberapa jika dibandingkan dengankerepotan yang timbul jika tidak menerapkan.Bagaimanapun juga, khususnya kepada perusahaan kecil (UKM), saya tidak pernah memaksamereka untuk menerapkan pembukuan dan akuntansi. Keputusan natara menerapkan-atau-tidak,adalah ’trade-off’ untuk dipilih antara: • Repotnya menerapkan pembukuan-akuntansi serta beban yang ditimbulkannya; dengan • Potensi manfaat yang akan diperoleh.
  • 10. Jadi, kapan suatu perusahaan perlu menerapkan pembukuan dan akuntansi?Suatu perusahaan belum perlu menerapkan pembukuan dan akuntansi, bila PENGUSAHA (ataupengelolanya) BISA TAHU SECARA PERSIS: • Berapa keuntungan/kerugian perusahaan • Berapa profit margin perusahaan • Berapa penjualan hari ini, minggu ini, bulan ini. • Produk mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan • Channel pemasaran mana yang efektif dan mana yang tidak • Berapa biaya bahan baku, tenaga kerja, overhead dan biaya umum lainnya • Aktivitas mana yang efisien dan mana yang boros • Berapa saldo kas hari ini, minggu ini, bulan ini. • Dari mana dan kemana kas mengalir • Siapa saja pelanggan yang belum bayar, berapa piutang (tagihan) ke pelanggan hari ini, minggu ini, bulan ini dan kapan jatuh temponya • Berapa persediaan hari ini, minggu ini, bulan ini • Persediaan mana yang lancar dan mana yang negndon digudang berbulan-bulan • Siapa saja supplier yang belum dibayar, berapa utang ke supplier hari ini, minggu ini, bulan ini dan kapan jatuh temponya. • Berapa saldo utang bank dan kreditur lainnya dan kapan jatuh temponya • Berapa kewajiban pajak yang timbul hari ini, atas obyek apa, dan kapan harus dibayarTANPA MENGALAMI KESULITAN dan pemerintah/pihak otoritas lainnya belummewajibkan.Catatan Untuk Teman-Teman di AccountingSalah-satu alasan mengapa pengusaha kecil enggan merekrut bookkeeper (terlebih-lebihakuntan) adalah karena mereka menemukan kenyataan bahwa: belum banyak pegawaiaccounting yang bisa menjalankan fungsinya dengan penuh. Sebagian besar hanya sampai padaproses pencatatan dan penyusunan laporan keuangan ‘THOK’, belum sampai melakukan analisayang bisa dijadikan bahan pengambilan keputusan.Itu sebabnya, banyak pengusaha kecil yang menganggap MANFAAT yang diperoleh darimenerapkan pembukuan dan akuntansi BELUM SEBANDING dengan BIAYA danKEREPOTAN yang ditimbulkan.Semoga kedepannya semakin banyak pegawai accounting yang bisa menjalankan fungsinyadengan lebih penuh, sehingga pengusaha tidak merasa sia-sia. Dengan terus memperdalam ilmuakuntansi dan belajar mengenai proses suatu usaha (bisnis), saya optimis semua orangaccounting (management dan public accountant), BISA. Selamat berakhir pekan.